Home » kamera digital

Fuji F200EXR, si kamera saku serba bisa

3 July 2009 2,698 views 5 Komentar
Tech tipsComputer Tricks

Akhirnya diluncurkan juga, kamera digital dari Fuji dengan sensor SuperCCD generasi EXR. Kamera yang bernama Finepix F200EXR ini sepintas mirip dengan pendahulunya, F100fd namun dengan layar yang lebih besar. Kamera ini menjadi kamera pertama dalam jajaran Finepix yang mengadopsi sensor baru EXR, dan diharapkan di bulan-bulan mendatang sensor EXR juga akan dipasangkan pada kamera semi-pro sekelas Finepix S100fs dan kamera super zoom sekelas S8100fd.

Fuji F200 EXR

Bagi yang belum menyimak info soal sensor baru ini, intinya secara singkat bahwa sensor EXR merupakan hasil riset Fuji yang menggabungkan sensor SuperCCD tipe HR dan tipe SR. Tipe HR mampu memberi resolusi tinggi dengan noise yang rendah, biasa dipakai di kamera saku hingga kamera semi-pro, sementara tipe SR adalah jawaranya dynamic-range, digunakan di kamera DSLR Fuji S series. Dengan bersatunya kedua teknologi sensor ini, bisa dibayangkan cukup dengan sebuah sensor bisa didapat kemampuan fotografi digital resolusi tinggi yang noisenya rendah dan punya dynamic range yang lebih baik.

Sebagai pembuka, berikut kutipan fitur utamanya :

  • 12 Megapixel SuperCCD EXR sensor (1/1.6 inch)
  • F3.3-5.1, 5X optical zoom lens, equivalent to 28 - 140 mm
  • Sensor-shift image stabilization
  • 3-inch LCD display with 230,000 pixels
  • Full manual controls + numerous scene modes
  • ISO range of 100 - 12,800
  • Super Intelligent Flash
  • Face Detection 3.0
  • Records movies at 640 x 480 (30 fps) with sound
  • 48MB onboard memory + xD/SD/SDHC card slot
  • Uses NP-50 lithium-ion battery

Di atas kertas memang tidak nampak ada yang menonjol dari deretan fitur diatas (kecuali ISOnya yang bisa mencapai ISO 12.800, wow!) bahkan merk pesaing bisa mengungguli Fuji ini khususnya dalam fitur movie yang rata-rata sudah memakai resolusi HD. Bahkan bila disimak spesifikasi lensanya, meski rentang fokalnya amat efektif (28-140mm), namun tidak demikian halnya dengan bukaan maksimalnya. Ya, Fuji ini layaknya kamera saku generasi sekarang, lebih memilih desain lensa ekonomis yang tidak bisa membuka hingga f/2.8 seperti kamera-kamera generasi sebelum ini. Tapi kita tidak sedang membahas itu, kita sedang ingin mengupas tentang bagaimana sensor EXR ini bisa diandalkan dalam berbagai kondisi pemotretan.

Kita mulai saja. Baik dipilih secara manual ataupun otomatis, sensor EXR seolah bisa berperan sebagai tiga sensor berbeda. Bila mode EXR diset ke auto, kamera akan menentukan sensor EXR harus berperan sebagai apa, tergantung kondisi pemotretan. Peran yang bisa dipilih pada sensor EXR adalah :

  • Fine Capture (resolusi tinggi), artinya sensor berfungsi normal dengan resolusi maksimal 12 MP, cocok untuk pemotretan sehari-hari dengan kondisi cahaya normal (mencukupi). Dengan kata lain, mode ini persis sama seperti memakai kamera digital manapun.
  • Pixel Fusion (sensitivitas tinggi, noise rendah), artinya dengan memilih mode ini setiap piksel yang berdampingan akan digabungkan untuk memberikan sensitivitas 2x lebih tinggi, sehingga noise bisa ditekan lebih rendah. Perhatikan kalau dengan metoda gabungan dua piksel bertetangga ini maka resolusi efektif sensor EXR menjadi 6 MP.
  • Dual Capture (dynamic Range yang lebar), prinsipnya sama seperti fotografi HDR yaitu menggabung dua foto yang berbeda eksposure. Namun bedanya dengan teknik HDR, kita tidak perlu memotret beberapa foto untuk digabung di komputer, cukup sistem internal sensor EXR yang melakukannya. Prinsipnya, setengah dari jumlah piksel di sensor EXR akan menangkap foto dengan eskposure yang lebih tinggi (terang), sementara setengahnya lagi bertugas mengambil foto dengan eksposure lebih rendah (gelap). Kedua foto yang berbeda eksposure tersebut digabung oleh prosesor internal kamera dan hasil akhirnya adalah sebuah foto 6 MP yang punya jangkauan dinamik yang lebar.

Meski kamera ini bisa menentukan secara otomatis mode EXR mana yang cocok untuk situasi pemotretan saat itu, namun tentu sebaiknya sang pemakai kameralah yang menentukan kapan harus memakai mode Fine Capture, kapan harus memakai Pixel Fusion dan kapan harus memakai Dual Capture. Berikut ini adalah beberapa skenario pemotretan yang memungkinkan kita secara spesifik memilih mode sensor EXR secara manual :

  • Mode Fine Capture tentu dipakai bila perlu resolusi tinggi 12 MP, seperti foto yang sarat dengan detail (landscape) atau bila akan dilakukan cropping nantinya. Di mode ini diperlukan cahaya yang mencukupi dan merata, artinya tidak ada perbedaan area yang terlalu gelap atau terang pada satu bidang gambar.
  • Mode Pixel Fusion akan menunjukkan kehebatannya bila dipakai di tempat kurang cahaya. Bilamana diperlukan memotret memakai ISO tinggi dan tanpa lampu kilat,  seperti foto indoor, memotret konser musik, atau di tempat yang penggunaan lampu kilat tidak diijinkan, gunakan saja mode ini.
  • Mode Dual Capture, adalah terobosan baru mendapat foto dengan dynamic range tinggi tanpa harus mengolah lewat software komputer. Mode ini bisa digunakan pada area pemotretan yang punya kontras tinggi, yaitu terdapat area amat terang dan amat gelap pada sebuah bidang foto. Tanpa mode ini, kita akan terpaksa memilih untuk mengorbankan daerah gelap (shadow) demi menyelamatkan daerah terang (highlight) atau sebaliknya.

Kami tidak begitu antusias pada mode pertama, karena mode fine capture adalah mode standar semua kamera saku yang punya resolusi tinggi. Selain membuat ukuran foto jadi besar, resolusi tinggi juga membuat berat saat proses loading dan editing foto di komputer. Bila memakai kamera EXR ini, kami merasa hanya perlu memakai dua mode ‘khusus’ lainnya yaitu mode pixel fusion (anggap saja ini mode malam hari) dan mode dual capture (anggap saja mode siang hari). Betul kalau kedua mode ’siang-malam’ ini akan menghasilkan foto beresolusi 6 MP saja, tapi bagi kebanyakan orang, 6 MP ini sudah amat mencukupi.Sebagai penutup, singkatnya Fuji F200EXR mampu memberi terobosan besar dalam dunia fotografi digital yang selama ini ‘mentok’  saat mendesain sensor kecil yang selalu bermasalah dengan noise yang tinggi dan rendahnya dynamic range. Dalam dimensi yang kecil, kamera berlensa 5x zoom ini bisa berperan banyak yaitu sebagai kamera normal beresolusi tinggi, kamera yang juga handal di ISO tinggi layaknya DSLR, dan kamera HDR yang sanggup memberi dynamic range tinggi tanpa perlu menguasai teknik HDR di komputer.

Related posts:

  1. Fuji HS20 EXR dan F550/500 EXR, dengan sensor EXR 16 MP
  2. Fuji X-S1, kamera premium seri X dengan sensor EXR 2/3 inci
  3. FinePix F300EXR, kamera saku pertama di dunia dengan hybrid-AF
  4. Fujifilm luncurkan kamera prosumer FinePix S200EXR
  5. Panduan lengkap memilih kamera saku superzoom

5 komentar »

  • desta said:

    permisi mohon bantuannya..
    saya ingin membelikan sbuah kamera digital bwt kado adik saya yg mo ultah..
    dia kliatanya tertarik dengan fotografi,skr duduk di kelas 3 SMP.
    setiap ada kgiatan soklah atw temen2ny dia slalu minta pegang kamera.

    dg bujet sktr 1-1,5 jt kira2 apa kamera apa ya mas yg sebaiknya saya beli??
    thx atas sarannya

  • admin KG (author) said:

    Dengan dana segitu sudah cukup untuk memiliki kamera saku kelas pemula, meski tentu fiturnya tidak banyak. Ada beberapa merk yg punya pilihan produk ekonomis spt kodak dan fuji.

  • Adrindra HM. said:

    DH, mohon referensi, jika dibandingkan dengan Canon S90 (vs Fuji F200EXR) ini relatif cenderung bagus yang mana? Tks.

  • ryo sandy said:

    apa sih alasan kamera ini disebut sbg kamera semi pro ??

  • admin KG (author) said:

    Kami tidak menyebut kamera ini sebagai kamera semi-pro, yg kami maksud adalah S100fs yg kini sudah diganti dgn HS20.