Home » kamera DSLR, review

Review : lensa Nikon AF-S 55-200mm VR

3 July 2009 26,461 views 22 Komentar

Nama lengkap lensa ini cukup panjang : AF-S DX VR Zoom-NIKKOR 55-200mm f/4-5.6G IF-ED, dan jangan tertukar dengan lensa sejenis yang versi lama (non VR) yang harganya lumayan terpaut cukup banyak. Dengan  memiliki paket combo lenses : AF-S 18-55mm dan AF-S 55-200mm, kita bisa mendapat rentang zoom populer 18-200mm (setara 28-300mm) tanpa harus memiliki lensa Nikon AF-S 18-200mm VR yang berat itu (baik dalam bobot dan harganya).

Kebanyakan pembeli DSLR (pemula) yang paket dengan lensa kit memang pada akhirnya akan cenderung untuk membeli satu lensa tele ekonomis. Alasan utamanya adalah karena rentang lensa kit yang hanya ‘mentok’ di 55mm terasa amat kurang dalam menjangkau area yang jauh. Dengan memiliki lensa tele yang punya panjang fokal di 55-200mm (yang setara dengan 85-300mm - atau 3,6x zoom), sudah dapat dipenuhi beberapa kebutuhan fotografi tele seperti isolasi objek dalam foto potret, atau juga foto outdoor seperti satwa dan momen olahraga. Khusus pemakai DSLR Nikon, pilihan lensa tele ekonomis 55-200mm tidak hanya dari lensa buatan Nikon saja, melainkan juga tersedia lensa 55-200mm buatan Sigma dan Tamron. Dengan harga yang cuma terpaut sedikit, kami tidak merekomendasikan lensa 55-200mm selain dari lensa Nikon.

Kita mulai dari harga lensanya. Dengan kurs dolar sekarang, lensa buatan tahun 2007 kini dijual sekitar hampir 3 juta rupiah. Apa yang anda harapkan dari lensa seharga 3 juta ini? Melihat harga lensa Nikon 70-200mm yang mencapai belasan juta, dan melihat harga lensa Nikon 70-300mm di atas 5 jutaan, wajar kalau anda bakal meragukan kualitas dari si mungil ini. Tapi jangan salah, dibalik harganya yang murah, lensa ini punya banyak wow-factor yang semestinya dijumpai pada lensa kelas mahal.

Inilah dia headline dari lensa AF-S 55-200mm VR :

  • VR : inilah alasan utama kebanyakan orang memilih lensa ini (daripada versi 55-200mm non VR). Lensa tele tanpa stabilizer (seperti Sigma 55-200mm atau Tamron 55-200mm) tidak akan bisa dipakai secara maksimal.
  • ED : elemen lensa mahal yang berguna untuk menjaga ketajaman (meski hanya ada satu lensa ED, dibanding dengan 2 lensa ED pada lensa AF-S 55-200mm non VR).
  • AF-S : artinya bisa auto fokus di D40, D40x dan D60. Lebih penting lagi, AF-S artinya memakai motor mikro SWM di dalam lensa sehingga kerja auto fokus terasa amat halus, cepat dan akurat. Bandingkan dengan lensa 55-250mm (atau bahkan 18-200mm) dari Canon yang tidak dilengkapi dengan motor USM.
  • IF : proses fokus tidak memutar atau memaju-mundurkan elemen depan lensa, melainkan sepenuhnya proses putaran fokus terjadi di dalam lensa. Mau pasang filter CPL? Bisa..
  • SIC : coating khusus untuk mencegah flare dan ghosting, lumayan lah daripada tidak ada
  • Banyak bonus : lens cap, rear lens cap, soft pouch dan lens-hood (ya, tidak perlu beli lens hood lagi…)

Tentu saja untuk membuat lensa semurah ini ada beberapa ‘penyesuaian’ yang harus dilakukan oleh Nikon, dan inilah hal-hal yang menjadi kompromi guna menekan harga jualnya :

  • bukaan maksimal f/4-f/5.6, jelas bukan tergolong lensa cepat (anda tidak berharap lensa semungil ini punya bukaan konstan f/2.8 kan?)
  • format DX (pemakai kamera format FX tidak mungkin melirik lensa ini…)
  • mounting dan barrel lensa plastik (ringan, sama seperti lensa kit 18-55mm dan lensa 18-135mm)
  • tanpa ring pengatur diafrgama (ditandai dengan kode huruf G)
  • tanpa jendela informasi jarak fokus
  • AF-S tidak bisa instant manual focus override, ditambah dengan jenis motor SWM yang tidak sebagus lensa Nikon yang lebih mahal
  • VR tidak untuk panning (tidak seperti VR generasi II)
  • 7-blades diafrgama (padahal versi non VR punya 9-blades)

Sebelum memulai review, simak dulu spesifikasi dasar dari lensa 55-200mm ini :

  • elemen lensa : 15 lensa dalam 11 grup
  • ukuran filter : 52mm
  • bukaan minimum : f/22 (wide) hingga f/32 (tele)
  • min. focus distance : 1.1 meter (1:4.3 max. reproduction ratio)
  • bobot : hanya 335 gram

Baiklah kita mulai saja review lensa ini, dimulai dari sekilas pandang.

nikon-af-s-55-200-f4-56-vr

Inilah lensa Nikon 55-200mm, pada foto diatas tampak tiga macam posisi lensa. Pada foto sebelah kiri tampak posisi lensa di 55mm (zoom out), tidak tampak ada elemen lensa yang menonjol, artinya lensa berada pada posisi terpendeknya. Pada foto tengah tampak lensa berada di posisi 200mm (zoom in), elemen lensa menonjol keluar dan lensa menjadi tampak jadi lebih panjang. Gambar ketiga foto sebelah kanan menunjukkan lensa yang sudah dilengkapi dengan hood (yang disertakan dalam paket penjualan).

Build quality

Banyak reviewer luar negeri yang mengeluhkan build quality dari lensa ini. Mereka umumnya membandingkan kualitas rancang-bangun lensa ini dengan lensa Nikon lain yang jauh lebih mahal, yang barrel dan mountingnya terbuat dari logam. Sejujurnya kami merasa meski lensa ini berbahan material plastik, namun kesan kokoh dan solid sedikit banyak masih dapat dirasakan.  Putaran zoom terasa ringan namun mantap, sepintas tidak berbeda dengan lensa kit. Namun yang membedakan adalah zoom ring pada lensa ini terasa lebih nyaman berkat grip yang lebih lebar dengan lapisan karet yang lembut. Ring manual fokus seperti halnya pada lensa kit, amat kecil dan berada terlalu ke depan. Lensa ini memang bukan untuk mereka yang menyukai manual fokus, karena ring manual fokus di lensa ini tidak presisi dan memakainya pun repot (karena harus menggeser tuas A-M dahulu). Untungnya saat proses auto fokus, tidak ada elemen lensa yang maju mundur dan berputar (seperti pada lensa kit).

Vibration Reduction/VR

Lensa tele ini memang dilengkapi dengan stabilizer pada lensa yaitu VR, dan terdapat tuas pada lensa untuk mengaktifkan VR ini. Saat kamera berada di tripod,VR disarankan untuk dinonaktifkan. Pada saat tuas VR di posisi on, apabila tombol rana  ditekan setengah, maka sistem VR akan mulai bekerja. Terdengar suara halus dari dalam lensa sebagai tanda bahwa sistem VR mulai bekerja menstabilkan gambar. Karena sistem VR pada lensa bisa langsung di preview di viewfinder, maka kita bisa melihat efek stabilisasi sebelum foto diambil (suatu hal yang tidak bisa dilakukan oleh DSLR dengan sistem stabilizer pada bodi).

vrtest

VR diklaim oleh Nikon efektif bekerja hingga 3 stop, meski dalam kondisi nyata hasilnya bisa bervariasi. Sistem VR di lensa ini adalah VR jenis lama, dimana VR ini tidak cukup cerdas untuk mengenali gerakan panning sehingga disarankan saat panning VR dimatikan saja. Perlu dicatat bahwa mengingat lensa ini punya rentang tele 55-200mm (setara 85-300mm), maka pada nilai shutter rendah fungsi VR pun kadang tidak berhasil. Ingat, di posisi 300mm dibutuhkan shutter 1/300 detik tanpa stabilizer untuk mendapat foto yang bebas blur. Sedikit saja getaran tangan pada lensa tele akan membuat semuanya runyam…

AF-S, SWM dan auto fokus

Kinerja auto fokus  dari motor SWM di lensa ini cukup pas-pasan. Betul kalau suara motor micro ini terdengar halus, namun urusan kecepatan fokus memang bukan andalan utama lensa ini. Motor SWM di lensa ini bukan motor kelas atas seperti lensa AF-S lain yang lebih mahal, sehingga dibutuhkan kesabaran menunggu kamera mendapat fokus yang tepat (dan kadang sesekali kamera harus mengulang proses AF karena kesulitan mengunci fokus). Kami akui soal ini juga tak lepas dari keterbatasan kamera D40 (sebagai kamera untuk melakukan pengujian) yang cuma punya 3 titik AF, namun saat D40 tersebut kami pasangkan dengan lensa 24-70mm, kami rasakan kecepatan fokus lensa full frame itu luar biasa cepat. Maka itu bila ingin lensa yang bisa memotret momen olah raga yang serba cepat, sebaiknya (minimal) gunakan lensa AF-S 70-300mm saja.

Seputar diafragma

Lensa ini punya bukaan maksimal hanya f/4 di posisi 55mm dan mengecil hingga batas kritis f/5.6 di posisi 200mm. Kabar baiknya, dengan posisi zoom-out di 55mm, bukaan maksimum lensa ini yang f/4 ini masih lebih besar daripada posisi zoom-in di 55mm pada lensa kit (yang hanya mampu membuka di f/5.6). Seperti halnya lensa lain, ketajaman maksimal didapat di rentang f/8 hingga f/11, meski pada bukaan maksimal pun ketajaman lensa ini masih amat baik. Lensa inipun tajam pada seluruh panjang fokal, dengan sedikit adanya penurunan ketajaman di posisi tele maksimal 200mm (masih dalam batas toleransi). Bandingkan dengan lensa Sigma 70-300mm yang pada posisi  200mm keatas sudah mengalami penurunan ketajaman yang amat nyata dan hasil fotonya amat soft. Untuk mengetahui batas difraksi lensa ini gunakan bukaan kecil diatas f/16 dan penurunan ketajaman tampak semakin nyata pada f/22.

Pengujian

Berikut adalah contoh foto yang diambil memakai lensa ini.

Pengujian pertama adalah melihat ketajaman di posisi zoom out 55mm (f/4) dan zoom in 200mm (f/5.6). Dua foto dibawah ini menggambarkan betapa di kedua posisi ini tampak ketajaman yang baik berhasil ditampilkan oleh lensa ini.

Posisi zoom-out 55mm f/4

Posisi zoom-out 55mm f/4

Posisi zoom-in di 200mm, f/5.6

Posisi zoom-in di 200mm, f/5.6

Pengujian kedua adalah membandingkan efek bukaan terhadap ketajaman, dimana tes pertama menunjukkan lensa pada bukaan f/5.6 dan tes berikutnya mencoba mengenali difraksi pada bukaan f/22.

Foto berikut adalah contoh bukaan f/5.6, tampak background begitu blur karena memakai bukaan besar, sementara dedaunan di depan tampak tajam.

Bukaan besar (f/5.6)

Bukaan besar (f/5.6)

Ini adalah 100% crop dari foto diatas, tampak dedaunan amat tajam sementara background begitu out-of-focus, sehingga isolasi objek berhasil dilakukan.

100% crop (f/5.6)

100% crop (f/5.6)

Foto berikut adalah contoh bukaan f/22, tampak background masih cukup jelas karena memakai bukaan kecil.

Bukaan kecil (f/22)

Bukaan kecil (f/22)

Ini adalah 100% crop dari foto diatas, tampak dedaunan sudah berkurang ketajamannya karena difraksi lensa,  sementara background tampak masih cukup jelas.

100% crop (f/22)

100% crop (f/22)

Dari pengujian di atas dapat disimpulkan bahwa ketajaman optik lensa ini amat baik mulai dari 55mm hingga 200mm, dengan sedikit adanya penurunan ketajaman pada posisi tele maksimum 200mm. Pada bukaan kecil memang nyata dijumpai softness akibat difraksi, dimana hal ini adalah fenomena fisika yang wajar untuk lensa apapun. Setidaknya fotografer diberi pilihan untuk memakai bukaan besar bila perlu isolasi objek, atau bukaan kecil untuk DoF yang lebar.

Kekurangan

Adapun kekurangan optik dari lensa ini tampaknya masih dapat diterima, bahkan beberapa masih dapat diabaikan. Faktor distorsi amat sangat minim, corner softness pun masih dalam batas wajar, bahkan lensa ini mampu menghandel fringing dengan baik (apalagi bila stop down dari bukaan maksimum). Contoh berikut menunjukkan betapa minimnya fringing pada f/4.

Fringing at f/4

Fringing at f/4

Dua hal yang kami akui cukup merepotkan adalah pengujian manual fokus dan pengujian makro. Manual fokus ring pada lensa ini memang tidak presisi dan untuk memotret makro jarak lensa dan objek setidaknya harus ada satu meter (bila kurang dari itu tidak akan didapat fokus yang tepat). Kemampuan reproduksi rasio yang cuma 1:4.3 juga menunjukkan betapa lensa ini memang tidak ditujukan untuk keperluan makro, kami bahkan merasa lebih mudah memotret makro memakai lensa kit 18-55mm daripada memakai lensa ini.

Manual fokus dan bokeh

Manual fokus dan bokeh

Macro, 200mm, f/8 crop and resize

Macro, 200mm, f/8 crop and resize

Kesimpulan

Nikon memang kami akui berhasil membuat lensa tele murah yang punya kualitas optik yang tidak kalah baiknya dengan lensa yang lebih mahal, meski tentu terdapat kompromi dalam hal material plastik, kecepatan motor SWM dan VRnya. Dengan harga 3 juta anda sudah bisa mendapat lensa tele yang cukup untuk mendukung kegiatan fotografi sehari-hari, dengan bonus sistem VR, lensa ED, motor SWM, lens hood dan grip zoom ring yang nyaman. Lensa ini tentu tidak untuk mereka yang sering memotret di tempat kurang cahaya (gunakan saja AF-S 70-200mm atau AF 80-200mm), tidak juga untuk mereka yang perlu motor AF eksta cepat, atau mereka yang menyukai manual fokus dan/atau pecinta macro. Namun untuk kebutuhan tele sehari-hari, lensa ini sudah lebih dari cukup untuk memuaskan anda.

Related posts:

  1. Review lensa Nikon AF-S 18-300mm VR
  2. Review : lensa Nikon AF-S 18-105mm VR
  3. Review : Lensa Sigma 70-300mm DG OS
  4. Lensa Canon vs Lensa Nikon
  5. Nikon luncurkan lensa DX 55-300mm VR

22 komentar »

  • geblek said:

    tele idaman :) tapi blm kesampaian, masih bingung sama 70-300 dan duet juga blm ngumpul lg stelah hilang akal dg afs35mm

  • admin KG (author) said:

    Pilihan 70-300 setidaknya ada tiga : AF 70-300 lawas, AF-S 70-300VR dan sigma/tamron 70-300. Kalau yg harganya setara dgn 55-200VR adalah sigma 70-300 APO dan terlepas dari ketiadaan stabilizer di lensa tsb, sigma 70-300 APO ini juga lumayan bagus.

  • hirza said:

    nice review thx….

  • bowo said:

    klo di padu ama d90 hasilnya gimana yaa mass..
    jadi ngebet…

  • indra said:

    Saya mau tanya mas, bisa g 55-200mm diatas menggunakan teleconverter. Apakah autofocusnya isa tetep jalan?

  • admin KG (author) said:

    Tele converter akan menurunkan aperture aktual sehingga fungsi auto fokus jadi terganggu bila bukaan terlalu kecil. Maka itu t-con biasanya dipakai di lensa cepat.

  • ezland said:

    tanya mas,
    perbandingannya lensa di atas sama NIKON 70-300mm f/4-5.6 AF G aku liat harganya lebih murah dan dan Nikon 70-210mm f/4 (constant aperture). maklumlah pemula liatnya harga dulu.
    terus minta saran juga untuk lensa tele yang cocok ama kamera gue :D nikon d3000

    salam

  • admin KG (author) said:

    Keduanya lensa lawas dan tidak punya motor AF didalamnya. Utk DSLR seperti D3000 sebaiknya memakai lensa AF-S seperti 55-200mm, 70-300mm VR dan yang terbaru 55-300mm VR.

  • ezland said:

    oh ya, kalo yang 3party request review dong

  • dyan pradikta said:

    mas, klo dipake di D60….buat motret sport gitu cocok ga sih??

  • admin KG (author) said:

    Kalo sport sering perlu AF yg cepat dan ini kurang bisa didukung sama motor AF dilensa 55-200mm yg agak lambat.

  • tephia said:

    mas, kalau dibandingin antara combo 2 lensa AF-S DX VR 18-55mm f/3,5-5,6 G + AF-S DX VR 55-200mm f/4-5,6 G IF ED dengan 1 lensa saja AF-S DX VR 18-200mm f/3,5 - 5,6 G IF ED lebih ok mana? dari sisi harga? ada teman menyarankan lebih baik langsung dg AF-S VR 70-300mm f/4,5-5,6 G IF ED.
    tks.

  • isnan said:

    bang,kalo dipake di nikon d40 n d90 cocok g?
    pemula neh,

  • hans said:

    bang, kalo nikon 18-200mm VRII pernah di review ga??…klo blm di review dong bang….

  • boy said:

    bang, saya pemula untuk slr, minta infonya nikon D3100 apakah terpengaruh dengan lensa VR atau non VR? Maksudnya apakah kamera itu terpengaruh dengan lensanya atau bisa dengan semua lensa? untuk hasil bagaimana, apakah VR atau non VR berbeda hasilnya? makasih infonya

  • admin KG (author) said:

    VR itu fitur dari lensa nikon untuk penstabil getaran tangan saat memotret, tidak ada hubungannya dgn kamera Nikon tipe apa yg dipakai. Kalau lensa kit D3100 sih sudah VR.

  • putra said:

    mas mau nx nih,, sy kn mau beli lens tele tp yg hrg terjangkau (mklum mahasiswa ^^) bgusan mana yach nIkon 70-300mm (non vr) atw Tamron 70-300mm Di LD ?? sy pkex Nikon D3100,,, mohon jawabnx mas…. ^^

  • admin KG (author) said:

    Kami tidak rekomendasikan lensa nikon 70-300 lama (harga 1 juta) karena optiknya jelek. Kalo dana terbatas baiknya ya lensa 55-200 VR ini saja, atau sekarang ada 55-300 VR yg lebih panjang.

  • putra said:

    mksh bxk mas ats jawaban n rekomendasinya,,, akhirnya jadi beli yg 55-200 vr mas,, pengenx sih yg 55-300 vr,, tp kantong g mendukung mas,, hehe… tp setelah lihat 55-200 vr ujuk gigi,, g kalah ama yg 55-300 hehe… wah memuaskan bget mas,,malahan yg 55-200 ad ED nya + lebih enteng,, sekali lg mksh recommended nya mas ^^

  • agung said:

    halo mas, makasih reviewnya ya, saya barusan beli second lensa ini versi VR tentunya. tapi kok saya mengalami kesulitan untuk focusing ya, padahal kondisi cahaya terang benderang. pada posisi zoom out (55mm) lensa tidak bisa digunakan untuk focusing pada objek yang jauh, hanya bisa focusing pada objek yang jaraknya dekat saja. bahkan kemarin waktu saya coba untuk focusing pada posisi 200mm hal yang sama kembali terjadi. apakah ini normal pada lensa ini. ditunggu jawabannya. terimakasih. :)

    salam kenal

  • admin KG (author) said:

    Bisa dipastikan kalau itu tidak normal, apa waktu beli sudah bermasalah begini? Soalnya beli second memang cukup beresiko apalagi kalau tidak dicoba secara lengkap. Biasanya kalau orang beli second cuma dilihat sepintas, tampak mulus lalu tidak dicoba auto fokusnya. Padahal itu yg penting, termasuk apa ada masalah utk mengunci fokus.

  • iwan said:

    mas mau tny nih, kamera saya nikon d3000, kalo mau beli lensa tele bagusnya pake yg 55-200vr atau yg 55-300vr? apa sih bedanya juga plus minusnya? trims sebelumnya.