Home » Fotografi

Mengenal fitur Image Stabilizer pada kamera digital

10 July 2009 1,372 views
Tech tipsComputer Tricks

Prinsip kerja stabilizer

Prinsip kerja stabilizer

Satu hal yang kini banyak dijumpai pada kamera digital generasi baru adalah fitur ‘Image stabilizer’. Panasonic menamai fitur ini dengan istilah ‘Mega OIS’ sementara Canon menyebutnya dengan istilah Image Stabilizer/IS, Pentax dengan Anti Shake/AS, Nikon dengan Vibration Reduction/VR dan Sony dengan Super Steady Shot. Menyusul merk lain seperti Olympus, Kodak dan Fuji juga akhirnya mengikuti tren ini dengan melengkapi kameranya memakai stabilizer. Seberapa pentingkah fitur yang penstabil gambar ini dalam fotografi digital? Mari kita kenali lebih jauh tentang fitur ini.

Pada awalnya fitur stabilizer lahir dari banyaknya kekecewaan konsumen saat mendapati foto yang blur saat diambil dengan speed rendah ataupun posisi fokal lensa yang panjang. Dalam teori fotografi dinyatakan kalau foto yang bebas blur hanya bisa didapat dengan memakai shutter minimal satu per panjang fokal. Jadi saat memotret di posisi fokal lensa 80mm, dibutuhkan kecepatan shutter setidaknya 1/80 detik. Masalahnya saat cahaya sekitar kurang mencukupi, speed kamera bisa turun (misal 1/20 detik) dan resiko foto blur karena getaran tangan mulai muncul. Dengan stabilizer, diharap kamera bisa dipakai pada kecepatan  shutter 3 hingga 4 stop lebih rendah dari kamera tanpa stabilizer. Tentu saja bila kita memakai tripod, permasalahan resiko blur ini sama sekali tidak ada, tapi kan tidak selamanya orang memotret membawa tripod. Dari sinilah muncul ide membuat fitur stabilizer pada kamera, dengan prinsip kerja mekanik yang mendeteksi getaran tangan (melalui gyro sensor) dan mengkompensasi getaran tersebut (secara mekanik) sehingga mendapat foto yang tetap tajam.

Terdapat dua perbedaan prinsip kerja image stabilizer yaitu optical shift dan sensor shift.  Baik kedua standar ini bisa dijumpai pada kamera digital ataupun kamera DSLR. Pada sistem kamera (saku dan prosumer) uniknya satu merk kamera bisa memakai sistem stabilizer yang berbeda-beda di jajaran produknya. Misal Fuji menerapkan sistem sensor shift pada kamera Finepix S1500 namun memakai sistem optical shift pada kamera Finepix S100FS. Pada beberapa kamera tertentu, fitur stabilizer juga bisa diaktifkan saat mengambil gambar video, ini merupakan suatu nilai lebih karena video yang dihasilkan akan tampak lebih baik berkat berkurangnya getaran tangan.

Untuk sistem DSLR, produsen kamera terbagi dalam dua kelompok, yaitu menerapkan stabilizer pada bodi (berbasis sensor shift) dan pada lensa (berbasis lens shift). Merk yang memiliki sistem stabilizer pada bodi adalah Pentax (AS), Sony (Steady Shot) dan Olympus (IS). Untuk Nikon, Canon dan Panasonic (Micro Four Thirds) lebih memilih menerapkan sistem stabilizer pada lensanya. Terdapat untung rugi dari kedua pilihan ini : Sistem stabilizer pada bodi kamera DSLR memungkinkan memotret pada shutter lambat dengan memakai lensa apapun. Artinya semua lensa apapun yang dipasang pada DSLR jenis ini dapat langsung merasakan fitur stabilisasi gambar ini. Kekurangannya, untuk mengkompensasi getaran tangan saat memakai lensa tele, sistem semacam ini masih kurang efektif. Selain itu efek stabilisasi dengan menggerakkan sensor tidak bisa ditampilkan di viewfinder. Sebaliknya, sistem stabilizer pada lensa (VR-Nikon, IS-Canon, MegaOIS-Panasonic) memaksa pemakainya untuk memilih jenis lensa yang dilengkapi stabilizer, bayangkan jika kita perlu memiliki tiga lensa maka biaya yang harus dibayar jadi lebih mahal dibanding stabilizer pada bodi. Terlepas dari soal biaya, keuntungan sistem stabilizer di lensa ini adalah dalam hal kinerjanya yang lebih optimal baik untuk low-light ataupun tele photo.

Banyak dari kita menganggap fitur stabilizer ini begitu canggihnya dan berharap terlalu berlebihan hingga kadang kecewa karena hasil foto tetap blur meski fitur ini sudah diaktifkan.  Padahal tetap saja ada hal-hal yang perlu diperhatikan sehingga fitur ini bekerja efektif, diantaranya :

  • Stabilizer yang ‘asli’ adalah yang memiliki elemen mekanik yang bergerak (optical shift atau sensor shift). Pastikan kamera yang akan dibeli bukan menggunakan stabilizer akal-akalan seperti digital stabilizer yang hanya menaikkan ISO/sensitivitas belaka.
  • Umumnya terdapat 3 modus kerja dari stabilizer : Active, normal dan off. Gunakan sesuai kondisi, active saat kita perlu gambar yang stabil saat membidik (misalnya dengan lensa panjang), normal untuk mengaktifkan stabilizer hanya saat shutter ditekan, dan off saat menggunakan tripod.
  • Stabilizer tidak otomatis membuat setiap foto yang diambil pada kecepatan rendah menjadi bebas blur. Setidaknya, resiko gambar menjadi blur akibat getaran tangan dapat diminimalisir. Perlu diingat bahwa stabilizer tidak dapat dipakai untuk pemotretan dengan shutter amat lambat. Jika kita hendak menggunakan shutter 1/2 detik atau lebih lambat, gunakan saja tripod.
  • Stabilizer hanya untuk mengkompensasi gerakan tangan (handshake) dan bukan gerakan objek (moving object). Objek yang bergerak saat difoto pada shutter lambat tetap akan tampak buram. Untuk itu gunakan sensitivitas / ISO tinggi atau (bila memungkinkan) mintalah si objek untuk diam sejenak.
  • Meski saat memotret fitur stabilizer sudah aktif namun usahakan tetap mempertahankan teknik dasar dalam memotret yang baik seperti menjaga kamera di posisi yang diam/steady, posisi tubuh yang stabil (jangan memotret sambil bergerak) dan menahan nafas saat menekan tombol rana.
  • Mengambil beberapa foto sekaligus secara beruntun (burst mode) bisa memperbesar peluang untuk mendapat foto yang tajam, maka itu untuk mendapat hasil yang terbaik ambillah sedikitnya tiga foto sekaligus lalu pilihlah yang terbaik.
  • Terakhir, jangan lupa mematikan fitur ini saat memotret memakai tripod.

Perlu tidaknya sebuah kamera memiliki fitur stabilizer ini tentunya kembali kepada masing-masing pemakainya. Apalagi kamera (atau lensa) yang dilengkapi sistem ini harganya cenderung lebih mahal dan relatif lebih boros daya baterai. Namun umumnya mereka yang sering memotret dalam kondisi cahaya minim tanpa tripod, atau mereka yang sering memotret dengan lensa panjang akan merasakan manfaat dari fitur ini.

Related posts:

  1. Kamera saku murah meriah di penghujung tahun 2009
  2. Buyer guide : Delapan kamera prosumer super zoom baru
  3. Panduan lengkap memilih kamera saku superzoom
  4. DSLR untuk pemula, pilih yang mana?
  5. Pilihan lensa ekonomis untuk DSLR pemula

Beri komentar disini..

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Fokus pada topik, jangan melakukan SPAM.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.