Nissin Di866

Review : Nissin Di866 Professional Flash

Nissin Di866 adalah produk lampu kilat flagship dari produsen flash alternatif Nissin yang diluncurkan tahun ini. Di866 hadir dalam dua versi yaitu versi Nikon dan versi Canon, dengan dukungan penuh pada mode TTL masing-masing merk. Produk lampu kilat kelas profesional ini menargetkan untuk jadi kompetitor SB-900 dan 580 EX-II dengan harga yang 30% lebih murah. Bila anda sedang berencana mencari lampu kilat profesional namun dana terbatas, simak review ini untuk mengetahui apakah Di866 ini layak untuk dimiliki.

Pengujian yang kami lakukan dilakukan untuk unit Di866 for Nikon, dengan kamera DSLR Nikon D40 dan lensa AF-S 18-105mm VR.

Nissin Di866

Fitur

Di866 merupakan seri tertinggi yang pernah dibuat oleh Nissin, dengan fitur yang lebih lengkap daripada seri sebelumnya Di622. Guide Number Di866 diklaim sebesar 60 (105mm ISO 100). Fitur lain yang membedakan Di866 dengan pesaingnya adalah pemakaian LCD warna dan adanya sub-flash di bagian depan. Sub-flash ini merupakan terobosan menarik karena selama ini bila kita bermain bouncing maka objek tidak mendapat cukup cahaya dari arah depan. Maka itu sub-flash ini hadir untuk membantu menambah cahaya ke arah depan saat lampu utama sedang menembak ke atas. Selain itu, layaknya lampu kilat profesional, Di866 juga sudah mendukung TTL, wireless RF, zoomhead (24-105mm), sensor metering dan multi-flash. TTL sendiri adalah istilah yang menandakan dukungan teknologi kamera yang mampu mengatur daya lampu kilat secara otomatis untuk mendapat eksposur yang sesuai.

Unpacking

Paket penjualan
Paket penjualan Di866

Dalam dus penjualannya, Nissin melengkapi Di866 ini dengan soft-case, kaki bebek/flash stand dan CD manual. Nissin tidak menyediakan buku manual ataupun aneka kabel dalam kemasannya. Di dalam bodi lampu, tersedia magazine baterai AA yang menampung 4 buat baterai, dan Nissin menjual magazine tambahan sebagai aksesori. Di bagian atas lampu tersedia diffuser dan reflektor yang bisa ditarik.

Kesan pertama

Nissin Di866 memakai material bodi berbahan plastik yang terkesan kokoh, dengan bobot total 380 gram (tanpa baterai) dan ukuran secara umum tampak besar. Di bagian depan tersedia lampu utama yang tentu saja bisa diputar ke atas bawah ataupun kiri kanan. Selain itu tersedia lampu sub-flash dan lampu AF-assist berwarna merah. Di bagian belakang ada LCD berukuran 29 x 29 piksel, tombol on-off, tombol empat arah, tombol set dan tombol test. Ada juga lampu pilot yang akan menyala hijau atau merah. Tersembunyi di sebelah AF-assist lamp, terletak dua macam sensor cahaya, yaitu sensor slave flash dan sensor metering/exposure. Di bagian kanan ada magazine baterai, di bagian kiri ada terminal PC kontak, USB port untuk update firmware dan power socket untuk supply daya eksternal.

Penjelasan bagian depan
Penjelasan bagian depan
Penjelasan bagian belakang
Penjelasan bagian belakang
Tampilan LCD
Tampilan LCD

Kami mulai menjelajah Di866 ini dari LCDnya. Setelah baterai terpasang dan tombol on-off ditekan, LCD pun menyala dengan tampilan pertama adalah mode Auto (A). Dengan menekan tombol set, muncullah 6 icon utama yaitu Auto, TTL, Manual, Multi-Flash, Wireless dan Setting. Kami tidak terkejut saat mengetahui kualitas LCD di Di866 ini tergolong pas-pasan (mungkin masih memakai teknologi CSTN) yang refresh-ratenya lambat terutama saat berganti-ganti menu. Namun mengingat layar ini bukan untuk menampilkan foto yang kaya warna, kami pun segera berkompromi dengan LCD ini. Adanya sensor orientasi pada Di866 membuat layar ini otomatis akan menyesuaikan apabila lampu diputar ke kanan atau ke kiri. Hanya saja sesekali kami jumpai sensor justru salah ‘menebak’ posisi orientasi dan layar jadi terbalik. Untungnya fitur ini bisa dinonaktifkan di setting flash.

Pada posisi default, Di866 akan menyesuaikan zoom head dengan posisi zoom lensa, dengan rentang 24-105mm. Zoom head ini cukup responsif, begitu lensa diputar terdengar suara dari dalam unit flash tanda kalau zoom head sedang bekerja. Terdapat indikator di layar LCD Di866 yang menunjukkan posisi zoom saat itu dan kami jumpai angka yang ditampilkan memang sesuai. Zoom head ini juga aktif meskipun posisi lampu sedang bouncing ke atas, sehingga bila ini dirasa mengganggu bisa diset ke posisi off.

Operasi

Struktur menu pada LCD
Struktur menu pada LCD

Terdapat mode Auto dan mode TTL untuk pemakaian normal, dan bila perlu mode dengan kendali manual lebih lanjut tersedia mode manual dan mode Multi Flash. Untuk urusan wireless flash, ada mode khusus untuk itu.

Mode Auto (warna hijau) sebagai mode paling simpel tidak menyediakan setting apapun. Semua setting dilakukan pada kamera dan lampu kilat berfungsi layaknya lampu kilat built-in. Mengingat Di866 adalah profesional flash, adalah hal yang aneh kalau kita hanya memakai mode Auto saat memotret.

Mode TTL (warna biru) bisa dibilang adalah mode Auto yang menyediakan sedikit kendali manual. Di mode ini Di866 memberi kesempatan untuk pengguna merubah nilai Ev (kompensasi power flash) apabila eksposur hasil TTL belum memuaskan kita (under/over). Kita juga bisa merubah flash Ev ini pada setting kamera, dan hasilnya tetap sama seperti kita merubah Ev pada flash. Lucunya saat Ev di kamera dirubah, tampilan di LCD Di866 tidak ikut berubah. Di mode TTL ada setting lanjut yaitu opsi mengaktifkan sub-flash dengan rentang power 1/1 hingga 1/8. Bila sub-flash diaktifkan, begitu lampu diangkat ke posisi bouncing, lambang SUB menyala di LCD. Di mode lanjutan ini kitapun bisa menonaktifkan zoom head, atau mengaturnya secara manual.

nissin-gn

Bila anda suka mengatur output lampu kilat secara manual, atau bila anda memasang Di866 di kamera lama yang belum mengenal teknologi TTL, maka mode Manual pada Di866 ini bisa dioptimalkan. Pertama, tersedia opsi manual power output untuk anda coba mulai dari full power hingga 1/128. Kedua, kita bisa masuk ke setting lanjut dengan menentukan nilai bukaan lensa (F) dan nilai ISO, sementara lampu akan menentukan estimasi jarak maksimal yang bisa dijangkau dengan setting tadi.

Baik di mode TTL atau mode M, ada setting lanjut yang memungkinkan Di866 ini bisa ditrigger sebagai slave flash. Pasangkan Di866 di kaki yang tersedia lalu letakkan terpisah dari kamera (off shoe), aktifkan mode slave dan Di866 akan menyambar saat menerima sinar lampu kilat dari kamera. Tak perlu lagi membeli sensor mata kucing terpisah, dan strobist dasar sudah bisa diwujudkan memakai Di866 ini. Hebatnya, tersedia dua mode slave ini, yaitu Slave Digital (SD) dan Slave Film (SF). Bedanya, SD tidak tertipu akan pre-flash dari kamera digital, sementara SF akan selalu merespon pada cahaya dari lampu kilat apapun yang terdeteksi.

Pengujian

Pengujian pertama adalah untuk melihat karakter warna dan akurasi TTL pada posisi direct flash. Sebagai model kami hadirkan boneka Pooh yang lucu ini.

model

Ada dua versi direct flash yang kami lakukan, pertama direct flash biasa, dan kedua direct flash dengan diffuser bawaan lampu. Perhatikan pada foto yang dihasilkan memakai direct flash tanpa diffuser, hasil foto tampak tidak berbeda dengan foto memakai lampu kilat on-board, dengan ciri foto yang flat namun menghasilkan bayangan tegas. Eksposur secara umum baik, meski terkesan sedikit agak over. Masih menguji direct flash, dengan memakai diffuser di bagian atas lampu, diambillah foto kedua. Tampak pemakaian diffuser membuat sebaran sinar lebih lembut, saturasi warna sedikit naik, eksposur agak turun dan bayangan tegas masih tetap ada.

direct-copy

Pengujian kedua adalah menguji hasil indirect flash/bouncing flash. Pada pengujian ini terdapat dua versi tes, yang pertama murni mengandalakan lampu bouncing, dan tes kedua menguji lampu bouncing plus sub-flash. Pada tes bouncing, berkat sinar yang dipantulkan ke langit-langit, hasil foto tampak lebih menarik tanpa ada bayangan tegas di belakang objek. Namun mengingat sumber cahaya datangnya dari atas, maka area dibawah bayangan hidung jadi sedikit gelap. Lihat juga betapa warna objek jadi lebih kuning karena warna langit-langit akan mempengaruhi hasil foto yang diambil secara bouncing (kebetulan langit-langit rumah cenderung krem). Di pengujian sub-flash, tampak kalau sub-flash ini bekerja sesuai harapan dengan menyediakan penerangan secukupnya ke arah depan, sementara cahaya utama tetap memakai teknik bouncing. Dengan bantuan sub-flash, hilanglah bayangan yang ada di bawah hidung, namun bayangan di belakang objek justru jadi muncul layaknya memakai sistem direct flash. Untungnya sub-flash ini juga bisa menormalkan kesalahan warna (apabila warna langit-langit yang tidak putih murni) yang terjadi saat bouncing tanpa sub-flash.

bounce-copy

Pengujian berikutnya adalah mengetahui dampak kompensasi flash power output terhadap hasil foto. Untuk mudahnya, kami memotret benda yang sama dengan tiga Ev yang berbeda. Kali ini nilai Ev kami coba set di kamera (bukan di lampu) sebesar plus satu stop, normal dan minus satu stop. Tampak Di866 mampu melaksanakan instruksi yang dikirim dari kamera dengan baik, dimana pada Ev plus satu hasil tampak over, dan pada Ev minus satu foto lumayan under. Pada posisi Ev nol foto tampak punya eksposur yang pas, meski tentu tidak ada standar eksposur yang pas dalam fotografi, kecuali melihat histogram tentunya.

ev-copy

Pengujian yang lumayan perlu dilakukan adalah membuktikan kemampuan zoom head yang menjadi ciri lampu kilat kelas atas. Kebetulan lensa kami memiliki batas tele 105mm, dan zoom head ini pun tertinggi juga di posisi 105mm. Kami menguji memotret seekor kucing dengan fokal lensa 105mm, flash mode TTL (tampak zoom head juga di posisi 105mm) dan hasil fotonya mampu memberi eksposur yang tepat. Berikut crop hasil fotonya :

zoom-105mm

Di866 semestinya mampu mendukung mode FP pada kamera DSLR Nikon, sayangnya D40 yang kami pakai tidak memiliki mode FP. Sebagai pengobat kekecewaan, kami lakukan fill-in flash siang hari dengan shutter priority, diset ke 1/500 detik dan f/8. Layaknya pada built-in flash, kamera menolak saat kami menaikkan speed diatas 1/500 detik sehingga terhindar dari masalah tidak sinkronnya shutter dan lampu kilat pada shutter tinggi. Sekedar info, tidak banyak DSLR yang bisa set flash sync hingga 1/500 detik seperti Nikon D40 ini. Dengan fill-in memakai Di866, sinar matahari dari arah belakang objek bisa dikompensasi dengan baik, sementara shutter bisa dijaga cukup tinggi untuk memaksimalkan bukaan lensa.

flash-sync

Tes lainnya adalah menguji fitur slave off shoe dan fitur lanjut seperti slow sync, second curtain (rear sync). Dengan memindahkan ke mode slave, Di866 ikut menembak saat di-trigger memakai flash internal D40. Bahkan Di866 bisa menembak bouncing sekaligus menyalakan sub-flash bersamaan, saat sedang menjadi slave. Fitur slow sync dan rear sync juga berfungsi normal layaknya memakai flash internal. Kami tidak menguji multi-flash mode dan wireless flash mode; namun sebagai info, Di866 ini bisa berkomunikasi dengan baik dengan Nikon Creative Lighting System baik sebagai commander maupun sebagai slave/remote.

wireless

Tambahan, AF assist beam pada Di866 (warna merah) mengambil alih tugas AF beam pada kamera Nikon (berwarna putih). Kami rasakan sinar merah yang dipancarkan Di866 tidak terlalu terang, meski sudah cukup membantu kamera saat mencari fokus dalam gelap.

Kesimpulan

Nissin Di866 mampu memberikan kesan yang baik saat pengujian, baik dari desain, kinerja dan hasil foto. Selain mengandalkan fitur yang lengkap, harga jualnya pun masih terjangkau. Konsistensi TTL tampaknya sudah lebih baik daripada Di622, warna yang dihasilkan juga natural. Penggunaan magazine baterai memudahkan saat perlu berganti baterai dengan cepat. Dukungan konektivitas seperti PC-port, USB untuk update firmware dan power socket juga membuktikan kalau Di866 ini memang kelas profesional. Apalagi fitur wireless yang bisa dipakai dengan CLS Nikon membuat Di866 layaknya SB900 versi murah. Tentu Di866 juga tak lepas dari kekurangan seperti kualitas LCD yang kurang baik, auto orientation sensor yang sesekali salah, dan recycle timenya yang agak lama (3.5 detik). Meski tidak memiliki fitur selengkap SB900, namun dengan harga 3 juta rupiah tentu Di866 ini bisa jadi pengganti SB600 atau SB800 yang sudah mulai jarang di pasaran.

Inilah plus minus Di866 secara umum :

Plus :

  • Kinerja tinggi dan banyak fitur (FP mode, slow sync, rear sync, bracketing, multi flash)
  • Guide number besar
  • Adanya sub-flash yang berguna
  • TTL yang tergolong akurat
  • Zoom head yang responsif (dan efektif)
  • Bisa custom setting
  • Kendali manual cukup banyak (manual zoom, manual eksposure)
  • Bisa berfungsi sebagai slave
  • Bisa menjadi bagian dari Wireless Flash System (Nikon dan Canon)
  • Diffuser dan reflektor on-board yang usable
  • Dukungan upgrade firmware via USB, tersedia port PC dan power

Minus :

  • Kualitas layar LCD rendah
  • Pergantian antar menu terasa lambat
  • Menu tingkat lanjut tersembunyi di dalam menu utama (harus menekan tombol 2 detik)
  • Orientasi sensor LCD yang sesekali salah (tapi bisa dinonaktifkan)
  • Perubahan setting Ev di kamera tidak otomatis merubah display di LCD flash
  • AF-assist beam kurang terang
  • Flash recycle kurang cepat (3.5 detik)
  • Dudukan hot-shoe plastik
  • Keawetan untuk jangka panjang belum teruji

Update :

Penerus produk ini adalah Nissin Di866 mark II dengan kemampuan High Speed flash, motor zoom head yang terdengar lebih pelan (quiet), kaki hot shoe dari bahan logam dan kemampuan wireless yang lebih jauh.

    Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

    11 thoughts on “Review : Nissin Di866 Professional Flash”

    Comments are closed.