Home » kamera digital

Tentang video High Definition

13 February 2011 16,055 views 5 Komentar

Tahun ini calon pembeli kamera digital akan merasa dimanjakan oleh produsen kamera karena hampir semua kamera buatan tahun 2010-2011 sudah memiliki kemampuan merekam video beresolusi High Definition (HD). Agak berbeda dengan tahun-tahun lalu di saat video HD masih merupakan fitur mewah yang hanya dijumpai pada kamera mahal saja. Kini disaat video HD sudah begitu umum, apakah anda sudah memahami seluk-beluk mengenai fitur yang satu ini? Bila belum, semoga artikel ini ada manfaatnya.

sanyo-xacti

Video HD pada kamera digital merupakan babak baru konvergensi kamera foto dan video. Dulu, kamera foto yang bisa merekam video sifatnya hanyalah untuk klip pendek yang kualitasnya jauh dari memadai. Bahkan dulu dikatakan kalau untuk merekam video ya pakailah camcorder, bukannya kamera foto. Tapi seiring meningkatnya evolusi kamera digital, bahkan pada DSLR, serta semakin baiknya teknologi prosesor di dalam kamera, maka fitur video beresolusi tinggi semakin mudah diwujudkan di kamera digital. Bila sudah begini, apakah kita masih membutuhkan camcorder lagi?

Untung rugi video HD

Tidak seperti format SD (Standard Definition) yang biasa kita lihat di TV konvensional (yang memakai aspek rasio 4 banding 3), video HD memiliki aspek rasio 16 banding 9 atau format layar lebar. Ada dua macam format HD yang ditawarkan produsen kamera, yaitu HD 720 (1280 x 720 piksel) dan HD 1080 (1920 x 1080 piksel). Kedua format video HD ini sudah memenuhi standar kualitas video untuk broadcast, bila dilihat dari resolusinya. Dalam industri cakram video, video HD dijadikan standar pada keping Blu-ray yang berkapasitas 25 GB per kepingnya. Ketajaman dan detilnya jauh di atas format SD dengan resolusi VGA (640 x 480 piksel) apalagi yang QVGA (320 x 240 piksel). Format VGA sendiri hampir mendekati kualitas video dari keping DVD (720 x 480 piksel), sedang QVGA hampir menyamai resolusi video jaman era VCD dulu (325 x 288 piksel).

hd-movie

Jadi keuntungan video HD adalah dalam hal kematangan teknologi video, dengan resolusi yang sudah sama dengan kualitas broadcast maupun Blu-ray disc. Maka itu video HD pasti kompatibel dengan beragam TV LCD, LED atau plasma yang memiliki label HDTV. Tapi di sisi lain dengan naiknya resolusi, tentu selain membuat tayangan video menjadi tajam dan detil, juga membawa efek samping yang logis yaitu besarnya ukuran video tersebut. Bila tadinya dengan format VGA sebuah materi video berdurasi 10 menit hanya berukuran 1 GB, maka dengan format HD sebuah video dengan durasi yang sama bisa berukuran sampai 4 GB. Artinya untuk merekam video HD sebuah kamera perlu punya prosesor lebih kencang dan buffer lebih besar untuk menampung tingginya data rate dari video HD. Ditambah lagi kartu memori yang digunakan harus yang punya kemampuan penulisan data yang tinggi. Saat file video HD dipindah ke komputer, kita perlu ruang sisa yang besar pada harddisk dan perlu kinerja prosesor komputer yang tinggi pula untuk melakukan editingnya.

Lebih jauh tentang video HD

Kali ini kami akan mengulas lebih jauh tentang video HD, semoga anda semakin bisa memahami dan bisa menentukan pilihan berdasarkan kebutuhan masing-masing.

HD 720 atau HD 1080?

HD 720 atau resolusi 1280 x 720 piksel merupakan resolusi minimum untuk sebuah video supaya layak disebut sebagai video HD. Sedangkan HD 1080 atau resolusi 1920 x 1080 merupakan resolusi ideal dari sebuah video HD (biasa disebut dengan full HD). Perbedaan keduanya tidak begitu signifikan saat ditonton di layar televisi, namun sangat berbeda dalam ukuran file. Bila tujuan utamanya adalah mengejar kualitas maka tentu HD 1080 jawaban utama, tapi bila sekedar ingin menikmati video HD maka HD 720 sudah sangat mencukupi untuk sehari-hari.

720p-vs-1080p

Contoh di atas menggambarkan bedanya kualitas HD 1080 (kiri) melawan HD 720 (kanan) dimana HD 720 masih nampak kotak-kotak alias kurang detail / kurang halus bila dibanding dengan HD 1080.

Progressive atau Interlaced?

Progressive saja. Interlaced itu teknik scanning jaman dulu yang sudah ditinggalkan. Biasanya produsen akan menuliskan huruf ‘p’ atau ‘i’ di belakang kode HD video. Misal HD 720p atau HD 1080i. Umumnya semua format HD 720 sudah progressive, sedang format HD 1080 masih ada yang interlaced.

interlaced

Gambar di atas menunjukkan ciri dari video interlaced yaitu memiliki garis-garis hasil scanning.

Sensor CCD atau CMOS?

Sensor CCD dan CMOS keduanya bisa dipakai untuk merekam video. Karena sifat fisika dari sensor itu sendiri, maka sensor CCD hanya sanggup mendukung HD 720 sedang CMOS bisa HD 1080. Bahkan sensor CMOS bisa membuat klip video dengan berbagai pilihan frame per detik mulai dari 24 fps, 30 fps dan 60 fps. Sensor CCD punya kelemahan saat merekam titik terang dimana akan terjadi kebocoran piksel yang tampak nyata (istilahnya blooming). Efek ini bisa dilihat di layar saat preview (sebelum merekam) maupun pada hasil rekaman videonya.

rolling-shutter

Sensor CMOS aman dari blooming tapi punya masalah dengan gerakan, dimana kalau kamera (atau obyek) bergerak saat merekam video maka akan terjadi efek skew akibat rolling shutter. Ini terjadi karena proses pengambilan data dari tiap baris piksel di sensor CMOS dilakukan secara berurutan (pada CCD dilakukan sekaligus). Efek rolling shutter akan membuat garis tampak melengkung dan cukup mengganggu, seperti contoh pada gambar di atas.

Kompresi MPEG4-AVC (H.264) atau M-JPEG?

h264Dalam dunia broadcast, MPEG-4 generasi ke 10 (atau H.264) sudah diakui sebagai teknik kompresi standar, menggantikan MPEG-2 yang sudah mulai uzur. Kelebihan kompresi ini adalah efiesiensi yang tinggi sehingga meski sebuah video memakai format full HD 1080 namun masih memiliki ukuran yang relatif kecil. Tidak semua kamera HD menyediakan teknik kompresi ini, umumnya hanya menyediakan kompresi konvensional yaitu Motion JPEG.

Kamera yang memakai codec MPEG-4 AVC akan menyimpan file videonya dengan ekstensi MPG, sedang codec MJPEG akan memberi ekstensi filenya dengan MOV. Sebagai pembanding, untuk melakukan video editing memakai file MPEG-4 masih merupakan kendala tersendiri. Beda dengan mengedit video MOV yang bisa dilakukan pakai program editing apa saja.

Stereo atau mono?

Apalah artinya sebuah video HD bila suaranya jelek. Untuk itu tata suara stereo tetaplah lebih disukai daripada mono. Tidak banyak kamera yang menyediakan microphone stereo built-in, perhatikan lagi spesifikasi dari masing-masing kamera. Tentu saja kamera yang mampu merekam audio stereo memiliki dual mic yaitu kiri dan kanan seperti contoh berikut ini :

stereo

Zoom optik atau digital zoom?

Awalnya, dan saat ini juga masih banyak, kamera tidak bisa melakukan zoom optik saat merekam video. Alasan utamanya karena zoom optik memakai motor yang bunyinya akan ikut terekam dalam video. Kini beberapa kamera sudah mulai membolehkan kita melakukan zoom optik, entah dengan memperbaiki motor zoomnya atau dengan mematikan mic sejenak saat zoom. Kamera yang zoomnya manual (diputar di lensa) tentu tidak masalah dengan bunyi motor ini.

Bila kamera tidak mengizinkan zoom optik, cek apakah ada fitur digital zoom untuk video. Berbeda dengan digital zoom pada foto yang membuat hasilnya jadi jelek, zoom digital pada video hanya melakukan cropping dan semestinya bisa menjaga kualitas video tetap baik.

Kamera biasa atau kamera DSLR/sensor besar?

Ini yang penting. Fitur HD movie disedikan di berbagai macam kamera, mulai dari kamera saku, kamera DSLR dan kamera mirrorless. Meski mengusung resolusi yang sama, tidak semua kamera memiliki ukuran sensor yang sama. Sensor kecil kurang sensitif terhadap cahaya, dan akan noise bila dipaksakan untuk merekam di kondisi kurang cahaya. Sensor besar akan lebih peka menangkap cahaya di kondisi low light sehingga kalaupun terpaksa merekam tanpa bantuan lampu yang memadai, merekam memakai kamera  sensor besar seperti kamera mirrorless (misal Micro Four Thirds) apalagi kamera DSLR akan lebih mudah.

low_light

Selain dalam hal sensitivitas terhadap cahaya, perbedaan sensor antar kamera akan mempengaruhi DoF (depth of field) dari rekaman video. Kamera saku atau kamera dengan sensor kecil akan memberi ruang tajam yang luas, bisa dibilang area yang dekat dan jauh dari kamera akan sama-sama fokus. Untuk itu fitur auto fokus saat merekam video dengan kamera sensor kecil tidak terlalu jadi issue serius. Di lain pihak, kamera sensor besar akan sangat sensitif terhadap fokus. Efek video yang diambil dengan sensor besar akan menyerupai film bioskop (cinematic effect) sehingga tampak profesional (bila dilakukan dengan benar). Namun bila tidak tepat dalam mengatur fokus, maka akan mudah terjadi kasus out of focus yang mengganggu seperti contoh di bawah. Hal ini diperparah dengan kebanyakan DSLR tidak bisa auto fokus saat merekam video, kitalah yang harus mengatur fokusnya secara manual di lensa.

dsc_0023

Kesimpulan

Fitur video HD sudah di depan mata, menjadi standar umum dan tersedia secara luas. Tentukan dulu kebutuhan kita sebelum membeli, karena meski semua kamera sudah mengusung logo HD tapi belum tentu sesuai keinginan kita. Beberapa fakta tak bisa dipungkiri seperti besarnya ukuran file video HD dan betapa repotnya berurusan dengan file-file berukuran besar. Tentukan dengan bijak preferensi anda, apakah cukup HD 720 atau HD 1080, apakah mau H.264 atau MJPEG. Kenali efek blooming (untuk sensor CCD) atau skew (untuk CMOS) dan hindari kondisi perekaman video yang berpotensi menghasilkan efek tersebut. Buatlah prediksi apakah anda akan sering merekam video di dalam ruangan (cenderung gelap) atau di luar yang terang? Terakhir, apakah hasil video yang anda inginkan nantinya seperti film bioskop atau cukup yang biasa-biasa saja. Selamat memilih..

No related posts.

5 komentar »

  • nelson said:

    makasih infonya bro

  • zoelnad said:

    mantap like hd :)

  • Liem Saty said:

    Informasi yang sangat lengkap, terimakasih, setelah membaca posting anda saya jadi tahu banyak…..

  • Dion Jcp said:

    Terimakasih postingannya menambah wawasan saya tentang fitur HD …

    salam kenal

  • setiawanted said:

    makash infonya
    jadi nambah ilmu nih :)