Home » fotografi

Mengatur Eksposur : antara cara otomatis dan manual

5 June 2011 23,555 views 3 Komentar

Banyak yang bilang memotret pakai kamera digital itu mudah, tidak perlu paham teori fotografi pun kita bisa mendapatkan foto yang bagus. Sebaliknya dulu jaman awal ada kamera film, pemakainya harus memahami eksposur dengan dimulai dari memilih jenis ASA film, memakai kecepatan rana berapa dan bukaan lensa berapa. Kalau salah, foto yang dihasilkan bisa terlalu terang atau malah terlalu gelap. Pendapat demikian memang benar, tapi apakah kita selalu pasrah pada kamera kita setiap saat kita memotret? Tentu kita perlu memahami juga dasar eksposur sehingga bisa menentukan kapan waktunya membiarkan kamera yang mengatur semuanya untuk kita, dan kapan waktunya kita yang harus mengambil alih pengaturan eksposur tersebut.

Sebelum kami ulas lebih jauh, secara singkat eksposur itu dikendalikan oleh tiga elemen pokok :

  • kecepatan rana (shutter speed)
  • bukaan lensa (aperture/diafragma)
  • sensitivitas sensor (ISO)

Kebanyakan kamera digital mengatur ketiganya secara otomatis, tanpa perlu campur tangan pemakainya. Tidak banyak kamera digital yang membolehkan pemakainya mengatur tiga komponen di atas secara bebas, kalaupun ada umumnya hanya bisa mengatur nilai ISO. Kamera yang lebih serius, dan tentunya semua kamera DSLR memang lebih membebaskan pemakainya untuk berkreasi sesukanya dan mengatur semuanya secara manual. Pertanyaannya, apakah saat ini masih dibutuhkan pengetahuan kita untuk mengatur kamera secara manual disaat kamera modern kini semakin canggih dan bisa memberi hasil yang baik dengan mode otomatis?

Seputar metering

Tahukah anda apa yang menjadi rahasia mengapa kamera dengan mode otomatisnya itu seakan begitu cerdas bisa menghasilkan foto yang eksposurnya tepat (tidak terlalu terang dan tidak terlalu gelap) meski dipakai dalam berbagai kondisi pencahayaan, baik terang maupun redup? Rahasianya adalah suatu proses yang dinamakan METERING, sebuah proses matematika rumit yang terjadi di dalam prosesor kamera, hanya berlangsung sepersekian detik dan proses ini dialami semua kamera digital dari kamera DSLR sampai kamera ponsel.  Dari hasil perhitungan tadi ditentukanlah tiga komponen eksposur yaitu shutter, diafragma dan ISO. Metering, sesuai namanya, artinya adalah pengukuran. Dalam hal ini yang diukur tentu adalah cahaya yang masuk ke dalam sensor kamera. Tujuannya supaya didapatkan eksposur yang tepat, setidaknya menurut kamera.

Lalu apa salahnya proses diatas? Simpel saja, tidak setiap saat kamera berhasil menentukan eksposur yang tepat. Ada hal-hal khusus yang membuat kamera gagal melakukan pengukuran cahaya. Ingat kalau cahaya yang masuk ke dalam kamera pada intinya adalah cahaya yang datang dari objek, bukan cahaya yang mengenai objek. Cahaya yang mengenai objek namanya incident light sedang yang dipantulkan oleh objek namanya reflected light.

Ilustrasi pengukuran cahaya

Bukankah keduanya sama? Tidak. Ingat kalau tiap benda punya sifat yang berbeda dalam memantulkan cahaya. Kamera didesain untuk bekerja optimal bila melakukan metering terhadap benda yang punya koefisien pantul sekitar 18% atau biasa disebut medium gray. Bila metering dilakukan pada benda yang sangat menyerap cahaya atau sangat memantulkan cahaya, maka metering akan meleset. Benda yang menyerap cahaya diantaranya benda yang berwarna hitam, seperti kain hitam. Sedangkan yang memantulkan seperti kaca, air, benda dari logam dan sebagainya. Setidaknya kita harus tahu sebelum memotret benda-benda yang berpotensi menyerap atau memantulkan cahaya, bahwa ada kemungkinan kamera akan salah dalam menentukan eksposur yang tepat.

Bicara soal eksposur yang tepat menurut kamera, mungkin anda akan penasaran bagaimana kamera bisa memiliki acuan atau standar atau referensi saat menentukan eksposur? Mari kita sederhanakan dulu logika metering. Bayangkan sebuah dunia hitam putih seperti gambar di atas dimana warna hitam itu mewakili gelap, warna putih mewakili terang dan warna abu-abu berada di tengah-tengah. Logika metering akan menyatakan kalau foto dengan eksposur normal adalah yang berada diantara hitam dan putih, alias abu-abu. Jadi apapun yang diukur oleh kamera, prosesor di dalamnya akan mengarahkan pengaturan shutter, apertur dan ISO supaya foto akan memiliki 0 Ev dengan acuan abu-abu tadi.

metering_1

Lebih detilnya bisa dijelaskan seperti ini. Dalam merancang sistem algoritma metering kamera, produsen kamera membuat sistem pembagian wilayah pengukuran cahaya (zona/segmen) untuk mendapatkan sampel informasi terang gelap dan memakai teknik perata-rataan dari hasil pengukuran (averaging), dimana masing-masing zona itu diukur terang gelapnya lalu dilakukanlah proses perata-rataan. Ada beberapa metode metering yang disediakan kamera untuk kita pilih, yaitu Matrix/Evaluative, Center Weighted dan Spot. Umumnya dalam mayoritas pemakaian normal metode  Matrix/Evaluative lebih sering dipakai, karena dengan ini eksposur yang tepat didapat dari perata-rataan seluruh bidang foto sehingga hasilnya akan menjadi middle gray atau middle tone. Bila hanya ingin melakukan pengukuran di sebuah titik kecil, bisa gunakan Spot metering sehingga kamera akan mengukur di sebuah titik kecil dan tidak peduli apakah area di luar titik itu terang atau gelap, yang penting titik itu bisa menjadi sebuah middle tone.

Namun bahayanya disini, misalnya kita mengukur cahaya yang dipantulkan dari benda yang dominan hitam (katakanlah orang hitam berbaju hitam dengan latar dinding yang hitam), maka kamera akan menganggapnya sebagai perwujudan dari kondisi gelap, dan kamera akan menaikan eksposur sehingga si orang hitam ini jadi abu-abu. Yang terjadi selanjutnya, foto yang dihasilkan akan meleset dalam hal warna karena tujuan kita mendapat foto yang serba hitam tadi menjadi foto abu-abu.

Demikian juga sebaliknya, bila objek foto begitu dominan akan warna putih (misal beruang putih di padang es kutub utara), saat diukur oleh kamera maka kamera menyangka objek dihadapannya terlalu terang, dan kamera akan menurunkan eksposur sehingga beruang putih ini menjadi abu-abu. Kalau tidak percaya boleh buktikan sendiri. Dalam mode auto, fotolah benda berwarna hitam total atau putih total dan lihat apakah warna akhirnya?

Jadi metering kamera berpotensi gagal saat memotret dalam kondisi tidak umum seperti banyak memantulkan cahaya, banyak warna hitam atau putih. Metering juga akan salah bila kita ingin mengambil foto yang dramatis seperti sunset atau matahari terbenam.

Bila metering kamera tidak memberikan foto dengan eksposur yang sesuai keinginan kita, ada dua hal yang bisa kita lakukan. Cara termudah adalah lakukan kompensasi eksposur. Metoda ini cukup simpel dan bisa dilakukan di segala macam kamera termasuk kamera ponsel. Caranya dengan menaikkan Ev ke arah positif untuk lebih terang dan ke arah negatif untuk lebih gelap. Namun ada cara lain yang lebih sulit tapi menantang, sekaligus melatih kemampuan kita dalam menentukan eksposur yang tepat, yaitu dengan cara manual.

Kendali eksposur secara manual

Dalam mengatur eksposur secara manual, bukaan diafragma dan kecepatan shutter memegang peranan utama dalam menentukan nilai eksposur. Diafragma menentukan seberapa banyak intensitas cahaya yang dibolehkan untuk masuk ke kamera secara bersamaan, sementara kecepatan shutter menentukan seberapa lama cahaya mengenai sensor sebelum foto diambil. Sebagai pedoman dalam fotografi, dikenal istilah f-stop, yang intinya menyatakan seberapa banyak penambahan atau pengurangan intensitas cahaya yang memasuki kamera (Exposure value/Ev). Setiap kelipatan 1-stop artinya kita menambah cahaya dua kali lipat dari nilai stop sebelumnya, atau mengurangi cahaya setengah dari nilai stop sebelumnya.

Pengaturan bukaan diafragma

Untuk dapat mengatur banyak sedikitnya cahaya yang masuk melalui lensa, diafragma pada lensa kamera bisa membuka dengan besaran diameter yang bisa dirubah. Besar kecilnya bukaan diafragma dinyatakan dalam f-number tertentu, dimana f-number kecil menyatakan bukaaan besar dan f-number yang besar menyatakan bukaan kecil. Selain itu, secara karakteristik optik lensa, bukaan besar akan membuat foto yang DOFnya sempit (background bisa blur), dan bukaan kecil akan membuat DOF lebar (background tajam). Untuk itu pengaturan diafragma membawa dua keuntungan sekaligus, yaitu mengatur intensitas cahaya yang masuk sekaligus mengatur kesan blur dari sebuah background.

Saat mengatur nilai diafragma (aperture), ingatlah bahwa setiap stop ditandai dengan nilai f-number tertentu yang digambarkan dalam deret berikut, urut dari yang besar hingga kecil  :

bukaan semakin besar << f/1.4 – f/2 f/2.8 – f/4 – f/5.6 – f/8 – f/11f/16 – f/22 >> bukaan semakin kecil

Sebagai contoh :

  • jika kita berpindah 1-stop dari f/2 ke f/2.8, maka kita akan mengurangi setengah intensitas cahaya yang masuk ke kamera
  • jika kita berpindah 1-stop dari f/8 ke f/5.6, maka kita akan menambah intensitas cahaya yang masuk ke kamera dua kali lipat dari sebelumnya

Perhatikan kalau kamera modern umumnya memberi keleluasaan untuk merubah diafragma di skala yang lebih kecil, dalam hal ini perubahan f-stop dilakukan pada kelipatan 1/2 hingga 1/3 f-stop sehingga bisa didapat banyak sekali variasi eksposure yang bisa didapat dari mengatur nilai diafragma. Sebagai contoh, diantara f/5.6 hingga f/8 bisa terdapat f/6.3 dan f/7.1 yang memiliki rentang 1/3 stop.

Pengaturan kecepatan shutter

Sama halnya dengan diafragma, setelan kecepatan shutter pun punya pedoman berupa deret yang mewakili 1-stop. Kecepatan buka tutupnya shutter ini dinyatakan dalam satuan detik dan bisa diatur dari sangat cepat (misal 1/8000 detik) hingga sangat lambat (bisa sampai 10 detik). Bila cahaya yang masuk ke kamera sangat banyak, gunakan shutter yang cepat, dan sebaliknya bila sedikit cahaya bisa gunakan shutter lambat. Tapi berhati-hatilah saat memakai shutter lambat karena berpotensi membuat foto yang tidak tajam karena getaran tangan atau obyek yang difoto bergerak.

Berikut adalah variasi kecepatan shutter dengan kelipatan 1-stop, urut dari yang lambat hingga yang cepat ( d =  detik ) :

shutter semakin lambat << 1d – 1/2d 1/4d  – 1/8d – 1/15d 1/30d – 1/60d – 1/125d – 1/250d – 1/500d –1/1000d >> shutter semakin cepat

Sebagai contoh :

  • jika kita berpindah 1-stop dari 1 detik ke 1/2 detik, maka kita akan mengurangi setengah intensitas cahaya yang masuk ke kamera
  • jika kita berpindah 1-stop dari 1/60 detik ke 1/30 detik, maka kita akan menambah intensitas cahaya yang masuk ke kamera dua kali lipat dari sebelumnya

Pengaturan ISO

Sebagai komponen pelengkap, sensitivitas sensor atau ISO juga memegang peranan dalam menentukan eksposur, terutama bila kita sudah tidak lagi bisa merubah shutter dan apertur karena alasan tertentu. Umumnya terjadi saat dalam kondisi kurang cahaya, kita tidak ingin memilih kecepatan shutter yang terlalu lambat karena takut goyang, atau kita tidak bisa membuka diafragma lensa lebih besar lagi (karena keterbatasan lensa) maka bisa diupayakan dengan menaikkan ISO. ISO pun memiliki kelipatan dimana setiap kelipatan ISO dua kalinya maka akan menaikkan eksposur 1 stop.

Rentang ISO adalah seperti deret di bawah ini (makin tinggi makin sensitif terhadap cahaya, tapi hasil foto semakin noise) :

ISO 50 - 100 - 200 - 400 - 800 - 1600 - 3200 - 6400 - 12800 - 25600

Untuk itu kebanyakan nilai ISO yang dipilih adalah yang di angka kecil supaya hasil fotonya rendah noise, tapi bila terpaksa ISO bisa dinaikkan sampai batas tertentu untuk mendapat eksposur yang diinginkan.

Kesimpulan

Dengan semakin canggihnya teknologi kamera jaman sekarang, metering menjadi hal yang tidak perlu kita risaukan. Dalam mode auto, kamera bertugas dengan sangat baik dalam menjamin hasil foto yang dibuatnya akan memiliki eksposur yang tepat. Namun sebagai pemakai kamera, tidak boleh juga kita sepenuhnya pasrah pada nilai eksposur yang diberikan oleh kamera. Kenali keterbatasan kamera saat kita berhadapan dengan situasi tidak umum seperti obyek yang sangat memantulkan atau sangat menyerap cahaya, terlalu kontras dan terlalu banyak unsur hitam atau  putihnya. Bila hasil foto yang didapat belum memuaskan, gunakan kompensasi eksposur dan ulangi pemotretan, lalu bandingkan hasilnya. Akan lebih baik kita sekaligus berlatih (bila kameranya memungkinkan) memakai mode manual dengan mengatur sendiri nilai shutter, apertur dan ISO.

Related posts:

  1. Optimalkan fitur manual pada kamera anda
  2. Kaitan antara ISO dan noise dalam fotografi digital
  3. Basic lighting dalam fotografi digital
  4. Tips memilih mode metering yang tepat
  5. Kenali aneka kesalahan yang dilakukan pemula saat memotret

3 komentar »

  • Dedy Suparyono said:

    Trims untuk artikelnya om Erwin…
    jadi bisa buat pengingat sewaktu saya seringkai lupa..

  • mastegoeh said:

    Uraian yang simpel namun mudah untuk dimengerti … sekaligus ijin untuk copas … mas

  • admin KG (author) said:

    Sama-sama mas Dedy.. kapan kita bisa diskusi lagi nih..?