Home » kamera DSLR, review

Review Nikon D5100, kamera DSLR dengan fitur lengkap dalam bodi yang mungil

19 February 2012 53,510 views 40 Komentar

Dahulu kita kenal Nikon D5000 sebagai pengisi celah antara D3000 (kamera pemula) dan D90 (kamera menengah) di masa lalu. Kini tradisi itu dipertahankan dengan keberadaan D5100 (harga 7 juta) yang mengisi celah antara D3100 (harga 5 jutaan) dan D7000 (harga 11 jutaan). Bagi sebagian orang, D5100 adalah solusi tepat karena dia bisa mendapat kamera yang tidak terlalu basic dan tidak juga terlalu rumit. Tapi sebagian orang lagi beranggapan D5100 adalah kamera tanggung, cukup mahal tapi belum bisa disejajarkan dengan kamera menengah. Kali ini kami hadirkan review D5100 supaya anda bisa menilai sendiri apakah D5100 layak dibandrol seharga 7 juta rupiah.

Tinjauan fisik

Nikon D5100 dijual satu paket bersama lensa kit 18-55mm VR. Dalam dus penjualan selain berisi bodi kamera dan lensa, juga terdapat baterai, charger, tali kamera dan manual. Kamera ini sama seperti D5000 dalam hal layarnya yang bisa dilipat. Hanya saja desain layar lipat D5000 dulu banyak dikritik karena flip down, sehingga Nikon memperbaikinya di D5100 dengan desain LCD menjadi flip kesamping kiri (lebih umum). Sebagai DSLR pemula, D5100 masih memiliki banyak kesamaan dengan adiknya D3100, yaitu bodi plastik, tanpa motor fokus, modul metering 420 piksel RGB yang kuno, viewfinder cermin (bukan prisma), minim tombol akses langsung dan tidak ada layar LCD kecil di bagian atas.

Nikon D5100 dan lensa kit 18-55mm VR yang kami uji adalah buatan Thailand. Kami rasakan kualitas bahan dari bodi D5100 masih sama seperti Nikon lainnya yaitu kokoh, sambungannya rapat dan tidak ada kesan longgar / ringkih. Tidak banyak perbedaan ukuran yang berarti antara D3100 dengan D5100, keduanya sama-sama kecil dan ringan, gripnya terasa agak kekecilan untuk orang bertangan besar pada umumnya.  Kami menyukai lapisan karet di bagian grip dan tumpuan jempol kanan yang memberi kenyamanan ekstra saat menggenggam.

Desain D5100 sepintas mirip dengan DSLR Nikon lain bila dilihat dari depan, tapi begitu dilihat dari belakang barulah tampak sangat banyak perubahan tata letak tombol. Hal ini akibat engsel layar lipat yang kini berada di kiri, sehingga harus mengusir banyak tombol yang biasanya berderet di sebelah kiri. Jadilah tombol MENU dan INFO pindah ke bagian atas, sementara tombol PLAYBACK, ZOOM IN dan ZOOM OUT pindah ke bagian sisi kanan. Bagi yang biasa memakai kamera DSLR Nikon pasti akan merasa aneh saat pertama memakai D5100 karena banyaknya perubahan tata letak tombol. Nikon berupaya melakukan reposisi tombol dengan sisa ruang yang ada di sebelah kanan, kecuali tombol MENU yang perlu dipindah ke kiri atas. Kami pun perlu beradaptasi dengan migrasinya tombol-tombol tersebut. Sisi baiknya juga ada, kami jadi bisa mengoperasikan kamera dengan tangan kanan sementara tangan kiri cukup menggenggam lensanya saja.

Satu hal yang kami sukai dari bodi D5100 adalah layar LCD-nya. Selain ketajaman layar yang sangat baik (900 ribu piksel), kami juga suka desain lipatnya yang fleksibel, dan bisa diputar dengan posisi layar masuk ke dalam bodi untuk melindungi layar saat tidak dipakai. Untuk mengkomposisi gambar, sarana paling utama adalah melihat melalui jendela bidik optik, bila ingin lewat LCD harus menggeser tuas LV (live-view) yang akan dibahas kemudian. Jendela bidik D5100 termasuk biasa saja dengan coverage 95% dengan pembesaran 0.78x. Akan ada sedikit perbedaan framing coverage antara yang dilihat di jendela bidik dan foto aslinya.

Nikon D5100 punya dua sensor remote, satu di bagian depan dan satu di belakang (dekat tombol MENU).  Di bagian atas tampak ada tombol warna merah khusus untuk merekam video. Di sisi kiri ada pintu karet yang bila dibuka akan tampak beberapa port seperti untuk USB (dan multifungsi dengan kabel AV), HDMI, GPS dan mic eksternal. Di sebelah kanan ada pintu SD card yang terasa agak longgar meski saat kondisi tertutup. Di bagian bawah ada pintu untuk melepas baterai. Desain slot baterai sudah semakin baik dengan sistem pengaman sehingga bila tutup baterai dibuka, baterai tidak langsung meluncur lepas dari kamera.

Fitur dan menu

Meski kamera D5100 termasuk dalam golongan kamera pemula namun sudah dibekali dengan fitur yang cukup lengkap. Agak berbeda dengan D3100 yang fiturnya cukup basic, maka pada D5100 beberapa setting yang lebih canggih disertakan juga seperti HDR mode, 14 bit RAW, bracketing, berbagai level Active D-Lighting dan berbagai Effect mode. D5100 juga punya sensor yang lebih tinggi resolusinya (16 MP vs 14 MP), ISO maksimum yang lebih tinggi (6400 vs 3200), burst lebih cepat (4 fps vs 3 fps) dan punya layar LCD yang tajam (900 ribu piksel vs 230 ribu) serta bisa dilipat. Tapi D5100 dan D3100 sama dalam hal modul metering, modul AF dan sama-sama tidak dibekali motor fokus (jadi untuk bisa auto fokus harus pakai lensa Nikon berkode AF-S).

Pada shooting mode selain ada mode standar Auto, P, A, S, M dan Scene Mode, terdapat juga mode Effect yang menarik, meski belum tentu dibutuhkan. Pilihan efek yang ada diantaranya Miniature effect, Night Vision, Low Key, High Key, Sketch, Siluet dan Color swap. Justru fitur yang kami suka di D5100 adalah HDR shooting yang bisa mengambil dua foto dengan berbeda eksposur lalu menggabungkan keduanya dan menghasilkan satu gambar dengan rentang dinamis yang lebih lebar.

Menu di D5100 pun agak berbeda dengan D3100. Menu di D5100 lebih menyamai kamera kelas diatasnya seperti D90 atau D7000 dengan ciri punya berbagai Custom setting yang kompleks dengan kode huruf dan warna. Pada D3100 tidak ada Custom setting karena semua pengaturan dilebur di Shooting menu.

Soal kemampuan rekam video D5100 ini sudah sangat baik dengan full HD movie , berbagai pilihanframe rate,  mode AF-F (fokus kontinu) dan mic eksternal (sayangnya built-in mic masih mono). Tidak ada kemampuan manual eksposur pada D5100 saat merekam video, kita perlu menentukan dulu bukaan dan ISO yang diinginkan sebelum mulai merekam. Kabar baiknya, kita bisa mengatur level sensitivitas microphone bahkan bisa diset ke-off.

Kamera generasi baru seperti D5100 memang sudah bisa mengatur Picture Control untuk hasil JPG yang bervariasi. Dengan begitu maka kita tidak perlu mengolah foto satu persatu di komputer untuk mendapat kontras atau saturasi yang lebih tinggi atau lebih rendah. Terdapat berbagai style yang sudah diatur dari pabrik seperti Standard, Neutral, Vivid dan sebagainya. Bila mau, setiap style bisa diatur lagi parameternya seperti ketajaman, kontras, kecerahan, saturasi dan tone (hue) warna. Dengan demikian maka setiap pemilik kamera D5100 bisa menyimpan style yang berbeda sesuai selera.

Fitur bracketing berguna untuk mengambil tiga gambar yang berbeda setting, biasanya perbedaan terang gelap atau eksposur (AE). Tapi di D5100 fitur ini diperluas menjadi ada beberapa pilihan bracketing yaitu AE, WB dan ADL bracketing. Fitur bracketing ini tidak ditemui di D3100, sementara pada D90 atau yang lebih canggih, fitur ini bisa diakses dengan menekan tombol BKT.

Operasi

Bagaimanapun juga kamera D5100 bukan tergolong kamera kelas menengah. Jadi jangan bayangkan ada tombol khusus misalnya untuk mengganti WB, ISO atau AF mode. Untuk itu perlu menggantinya dengan masuk ke MENU. Untungnya Nikon menyediakan jalan pintas untuk mengganti berbagai setting penting dengan menekan tombol INFO di bagian belakang (tombol ini disimbolkan dengan <i>). Tekan sekali tombol <i> maka di layar akan muncul informasi penting seperti mode apa yang sedang dipakai, berapa shutter-aperture-ISO yang dipilih dan berbagai info penting lainnya (lihat contoh gambar di atas). Untuk mengganti setting disana cukup tekan <i> sekali lagi.

Terdapat berbagai Release mode di D5100, misalnya single frame (S), continuousself timer dan Quiet shutter. Tidak seperti di D3100, opsi Release mode di D5100 harus dicari via MENU. Quiet shutter sendiri akan meredam suara cermin sehingga tidak terlalu terdengar keras.

Hasil foto bisa dilihat dengan menekan tombol playback berwarna biru. Foto yang ditampilkan di layar bisa dibuat full foto atau disertai data teknis pemotretan seperti gambar diatas.

Kinerja

Sebagai kamera DSLR pemula, kami tidak berharap kinerja tinggi dari D5100 ini. Maka begitulah, meski jauh lebih responsif dari kamera non DSLR, D5100 ini masih tergolong biasa saja dalam urusan kinerja. Misalnya shutter speed maksimal ‘hanya’ 1/4000 detik dan flash sync speed hanya 1/200 detik. Untuk urusan burst atau continuous shooting kamera ini hanya sekitar 4 fps saja, tapi toh hanya terpaut sedikit dengan D90 yang bisa 4,5 fps. Lalu dalam hal start upshutter lagshot to shot kamera ini tidak ada komplain apapun, bekerja sesuai harapan. Kabar baiknya, Nikon sudah memakai engine Expeed generasi 2 untuk D5100 yang lebih bertenaga. Terbukti saat mode Active D-Lighting diaktifkan, kamera tidak perlu waktu tambahan untuk memproses foto yang baru diambilnya. Hal ini berbeda dengan kamera generasi sebelumnya yang kalau ADL diaktifkan maka setiap memotret kamera seperti kedodoran untuk memproses ADL pada foto, yang prosesnya sekitar setengah sampai satu detik.

Kemampuan auto fokus D5100 sangat baik, dengan fleksibilitas tinggi berkat 11 titik AF (meski hanya titik tengah yang cross type) dan titik fokusnya bisa dipilih secara manual atau otomatis. Soal servo fokus, D5100 juga bisa mengikuti obyek yang bergerak (dynamic area) dan bahkan bisa mengenali obyek dari warnanya sehingga bisa terus mengikuti gerakan si obyek dan tetap menjaga fokus terbaiknya, meski obyek ini bergerak ke kiri kanan atau ke depan belakang, berkat adanya fitur 3D tracking AF.

Pada bagian atas kamera terdapat satu tuas untuk mengaktifkan mode live-view. Berbeda seperti tuas live-view di D3100 dan D7000 yang berada di bagian belakang kamera, tuas di D5100 ini berada di samping kanan mode dial. Jadi bila ingin memotret dengan melihat preview gambar di layar LCD, geser dulu tuas live-view ini sesuai arah panah, dan bila ingin merekam video barulah tombol warna merah ditekan. Kinerja kamera saat berada di mode live-view tergolong baik, meski untuk auto fokusnya harus beralih dari deteksi fasa (11 titik) ke deteksi kontras. Memang auto fokus saat live-view lebih lambat, tapi kami rasakan dibanding DSLR lain maka D5100 ini cukup cepat dalam mengunci fokus. Keuntungan lain dengan live-view adalah bisa mendeteksi wajah, serta di layar bisa ditampilkan pembesaran dari area tengah bidang yang difoto, berguna buat memotret makro atau saat manual fokus. Pada mode video AF-F, auto fokusnya sudah bisa melakukan continuous focus, artinya kamera akan selalu berusaha mendapat fokus meski obyeknya bergerak. Yang namanya berusaha, kadang berhasil dan kadang gagal. Jadi tetap saja fitur AF-F di mode video ini belum memuaskan. Live-view sendiri mempunyai timer sehingga setelah beberapa menit dia akan mati guna menghemat baterai dan mencegah sensor kepanasan.

Gambar di atas menunjukkan apa yang akan tampil di layar LCD saat masuk ke mode live-view. Secara umum tampilan di layar cukup jelas, cerah dan natural dengan berbagai indikator memeriahkan tampilan layar. Bila indikator ini mengganggu, cukup tekan tombol INFO dan layar akan jadi bersih dari berbagai kode dan angka. Tekan INFO sekali lagi akan memunculkan grid untuk membantu komposisi. Sayangnya tidak ada tampilan live histogram saat live-view di D5100.

Kinerja White Balance di D5100 termasuk akurat untuk Auto WB dan berbagai preset yang ada. Bila tone yang didapat dari pilihan WB kurang sesuai selera kita, bisa juga melakukan pengaturan lanjutan dengan menggeser tone warna di sumbu Amber-Blue atau Green-Magenta sehingga semua spektrum warna (RGB atau CMY) bisa dicapai. Sayangnya kita tidak bisa langsung memasukkan temperatur warna dalam satuan Kelvin seperti kamera lain yang kelasnya lebih canggih.

Sensor dan Hasil foto

Sensor CMOS 16 MP adalah nilai jual utama dari D5100. Kenapa? Karena sensor ini sama persis dengan yang dipakai di kamera D7000 yang terkenal paling bagus hasil fotonya, bahkan pada saat ISO tinggi. Alasan dibalik itu adalah dipakainya teknologi prossor Expeed2 14 bit yang membuat mampu merekam dynamic range lebih lebar dibanding prosesor 12 bit seperti D3100 misalnya. Bila 16 MP dirasa terlalu tinggi, tersedia pilihan 9 MP atau 4 MP di pengaturan Image Size pada MENU.

Seperti kamera lain pada umumnya, untuk menghindari menempelnya debu di sensor, di MENU sudah tersedia fitur sensor cleaning. Ada beberapa opsi pembersihan sensor pilihan seperti gambar diatas, dan proses bersih-bersih ini (yang menggetarkan sensor untuk merontokkan debu) memakan waktu 1 sampai 2 detik.

Kombinasi antara sensor dengan engine 14 bit, mode HDR aktif dan Active D-Lighting bisa menghasilkan foto dengan dynamic range yang lebih baik dari biasanya. Kami mencoba memotret sebuah kondisi umum yang pasti akan sulit untuk mendapat dynamic range yang lengkap dengan cara biasa :

Foto diatas tampak gelap di bagian kursi dan dinding, karena metering kamera berusaha menjaga detil di area terang  (jendela) sehingga area lainnya menjadi gelap. Bila pun kompensasi eksposur dinaikkan maka yang terjadi detil di area terang akan hilang (washout). Maka guna mendapat gambar yang lebih menyerupai mata kita melihat aslinya, kami mencoba gunakan mode HDR dengan masih ditambahActive D-Lighting ke posisi Extra High, maka hasilnya bisa menjadi seperti ini :

Tampak lebih lumayan kan? Detil di jendela dan di kursi serta di dinding didapat dengan berimbang. Lalu kami juga melakukan tes memotret dengan berbagai nilai ISO dan sengaja mengandalkan cahaya seadanya untuk melihat kinerja ISO D5100 dan seberapa parah noisenya di ISO tinggi. Pengujian dilakukan dengan sumber cahaya lingkungan, tanpa flash, resolusi 16 MP, JPEG Fine, WB preset, ADL off dan Noise reduction OFF (kecuali untuk foto terakhir). Inilah obyek yang menjadi bahan pengujian noise test kami :

iso-test-image

Lalu hasilnya bisa dilihat untuk tiap kenaikan ISO dari ISO 800 (kami tidak menguji ISO 100 sampai 400 karena hasil fotonya sama bersihnya), ISO 1600, ISO 3200, ISO 6400 (ISO normal tertinggi), ISO Hi-1 (setara ISO 12800) dan ISO Hi-2 (setara ISO 25600). Untuk ISO Hi-2 kami lakukan dua pengujian, yaitu satu tanpa noise reduction dan keduanya dengan noise reduction di kamera diaktifkan ke posisi High.

Nah, dari hasil crop diatas tampak jelas kalau sensor D5100 memang dahsyat. Paling tidak, sampai ISO 1600 dan cukup cahaya bisa didapat hasil foto yang masih rendah noise. Pada ISO 3200 barulah noise tampak mulai mengganggu, tapi masih cukup layak untuk dilihat. Pada ISO maksimal 6400 noise yang muncul bisa dibilang setara dengan ISO 400 pada kamera saku, dimana detil foto tampak menurun dan noise terlihat lebih berwarna-warni (chroma noise). ISO Hi-1 dan Hi-2 disediakan untuk kebutuhan marketing saja, supaya terdengar keren. Kenyataannya, ISO setinggi ini tidak cocok diberikan pada kamera DSLR dengan sensor APS-C. Upaya mengurangi noise di kamera (atau di komputer) memang berhasil mengurangi chroma noise namun secara bersamaan juga mengurangi detail yang ada pada gambar.

Fitur Effect mode pun beberapa diantaranya menurut kami bakal berguna suatu saat, seperti misalnya memilih satu warna dan lainnya dibuat monokrom tidak lagi dilakukan di komputer, melainkan bisa diatur sebelum memotret. Dengan memilih menjaga warna merah, maka kita bisa membuat warna selain merah jadi monokrom seperti foto berikut ini :

Kesimpulan

Kesimpulannya D5100 memang unggul dalam urusan sensor CMOS-nya, khususnya saat berhadapan dengan kontras tinggi atau saat memakai ISO tinggi. Kombinasi antara Expeed2 14 bit, fitur HDR dan Active D-Lighting akan banyak membantu menyelamatkan detil di area terang sekaligus area gelap. ISO 6400 yang notabene adalah ISO maksimal normal pun masih layak dipakai, plus bonus ada ISO ekspansi sampai ISO 25600 bila terpaksa (dan ada juga effect Night Vision yang bisa memotret di kondisi sangat minim cahaya, tapi hasilnya hitam putih). Efek lainnya pun menarik seperti efek miniatur (toy camera) atau selective color. Kami juga suka dengan layar LCD lipatnya yang tajam dan memudahkan saat memotret atau merekam video dalam berbagai angle. Hasil foto yang bagus dengan fitur lengkap ini toh tidak harus menjadikan kamera ini besar dan berat. D5100 tetap mungil, ringan dan sepintas mirip dengan D3100 yang sama-sama kamera pemula.

Lalu apa komprominya? Sebagai kamera seharga 7 juta, agak sayang memang kalau D5100 ini cuma dianggap kamera pemula yang mungkin akan dipandang sebelah mata oleh sebagian orang. Apalagi di harga 8,4 juta ada Canon EOS 60D kit sebagai pesaing terdekat sederet fitur semi pro, atau di harga 6,5 juta ada Canon EOS 600D kit yang bisa mengganggu penjualan Nikon D5100. Andaikata D5100 punya beberapa tombol akses langsung ke WB, ISO atau AF mode, tentu lebih menyenangkan. Lalu limitasi pilihan lensa yang bisa auto fokus tetap menjadi pengalaman yang tidak enak bagi pemakai D5100 (banyak lensa Nikon lama seperti lensa AF atau AF-D yang bagus dan murah di pasaran, baru atau bekas, kalau dipasang di D5100 hanya bisa manual fokus). Nikon juga belum membolehkan pemakai D5100 untuk mengatur flash eksternal secara wireless (padahal Canon EOS 600D bisa) dan belum bisa memilih nilai Kelvin dari White Balance secara manual (meski preset WB dan color shift di pengaturan WB cukup canggih). Terakhir, Nikon semestinya memberikan kebebasan pemakai D5100 untuk mengatur shutter dan aperture saat merekam video, mengingat fitur video di D5100 sudah sangat baik (bila ditinjau dari resolusi video, mode fokus kontinu AF-F dan pengaturan audionya).

Bila anda menyukai review ini dan ingin membantu kami untuk menghidupi situs ini, anda bisa melakukan donasi atau membeli kamera melalui kami. Caranya bisa dilihat disini.

Related posts:

  1. Nikon D5100 diluncurkan, plus Night Vision dan HDR mode
  2. Nikon Coolpix P300, kamera mungil dengan lensa f/1.8
  3. Nikon D3100, DSLR Nikon pertama dengan fitur full-HD movie
  4. Daftar lengkap kamera DSLR Canon dan Nikon
  5. Nikon D5200 hadir dengan modul AF dan metering yang disempurnakan

40 komentar »

  • Julian said:

    jadi jika dibandingkan dengan canon 600D mana yang lebih diunggulkan.

    saya sebenarnya lebih tertarik dengan Nikon ini, mungkin bisa kasih masukan lensa yang sesuai untuk Nikon ini yang harganya masih terjangkau.

    trm kasih, posting diatas sangat bermanfaat.

  • Bang Dre said:

    Mas review kamera lytro dong. Thanks.

  • admin KG (author) said:

    Secara umum skor mereka draw, cuma harga di pasaran saat ini 600D beberapa ratus ribu lebih murah.

  • alon's said:

    saya pengguna Nikon D5100. saya memilih menggunakan Nikon D5100 daripada Canon 600D karena keunggulannya dalam low light dan penggunaan ISO tinggi yang mumpuni. meski kompensasinya saya harus membeli lensa Nikkor AF-S (motor di body lensa) yang notebene lebih mahal. saya telah melakukan riset kecil2an dengan melihat berbagai review di berbagai website. yang saya suka dan cukup lengkap yaitu di : http://www.cameralabs.com (Canon 600D Vs Nikon D5100). pada hasil foto 600D terdapat color fringing dan pada D5100 tidak. meski tersedia aplikasi bawaan canon untuk menghilangkannya.

    (i’m not nikon fanboy)

  • fidyansyah said:

    harga bulan maret dikisaran berapa ya?

    review D5100 VS 600D dong bro.

  • admin KG (author) said:

    D5100 vs 600D relatif berimbang, cuma harga 600D sekitar 1 juta lebih murah.

  • Tonnys said:

    wahh..saya terlanjur beli nikon D3100, kelihatannya fitur2 di 5100 menarik ya bos…? apalgi HDR nya lngsung dikameranya gak perlu photoshop lagi…
    makasih infonya

  • lowongan kerja said:

    wah… mahal juga kamera ginian yah, harus kuat nabung biar bisa beli.
    makasi untuk reviewnya mas, detail sekali. ini menjadi rujukan buat saya yang ingin mengetahui dunia kamera.

    sekali lagi, makasi.

  • fatality said:

    wah article yg bgs nih mas
    saya pengguna naru nih. bener2 buta ttg DSLR. br belajar gt mksdnya. pertama kali pake Nikon D5100 + 18 mm - 105 mm
    blm pny flash nih mas. ada rekomendasi pake flash apa yah bagusnya?

  • Prasetyo said:

    Untuk D5100, ada penawaran dengan paket pembelian “lensa kit 18-55mm VR” atau “lensa kit 18-55mm Non VR” yang selisih harganya 500 ribu lebih murah untuk Non VR, apakah ada perbedaan besar yang terlihat pada hasil photo apabila menggunakan Lensa Kit 18-55mm Non VR?

    Trims

  • FATALITY said:

    om kalau fitur Active D-Lighting, Auto bracketing, metering (Center-weighted metering, Spot metering), AE-L/AF-L button itu fungsi untuk apa om masing”?

  • Eko said:

    gan,aku mau nyanya ni .
    aku masih amatir bgt ni,klau aku liat di D3100 & D5100 itu perbedaan fisik yang sangat jelas itu di scrol, dimana di D3100 & D5100 hanya mempunyai 1 scrol sangat berbeda pada D90 yg mmpunyai 2 scrol yakni di depan dan belakang,yg depan untuk mngatur diafragma dan blakang untuk mngatur kecepatan, .
    nah yang aku masih bingung untuk D3100 & D5100 itu cara mengatur diafragma’nya lewat mana gan kalau gak ada scrol yang di depan ??
    mohon jawabannya untuk orang amatir ini :)

  • bhay said:

    Mas, baru mbungkus nikon d5100 nih seharga 6,35jt lensa non VR.
    Tapi kok adlnya gak bisa aktif ya? Ada peringatan gitu..

  • admin KG (author) said:

    Pernah coba EOS 600D atau yg sejenis? Dia juga cuma punya satu roda di dekat tombol jepret. Lalu bagaimana mengatur diafragma dan juga shutter di mode manual? Jawabannya adalah kombinasi tombol dan roda. Di D5100 / D3100 kalau mau mengatur bukaan, saat jempol memutar roda pastikan telunjuk menahan tombol yg ada gambarnya bukaan (diafragma). Sama seperti 600D cuma jarinya kebalikan : jempol menahan tombol bukaan, telunjuk yg memutar roda.

  • Eko said:

    oalaaah,iya bro aku udah nyoba ternyata cara pengoprasiannya sma sperti di D3100 n’ DSLR canon lainya, tapi ini aku malah bingung ni lebih baik beli D5100 apa 600D ya,kok aku masih condong ke 600D karna bisa conector werles flash external sma motor auto fokus di mesin’nya,jadi bisa pake lensa apa aja, tapi dari review yg ada katanya sih hasil foto D5100 lebih baik dari 600D, bner gak sih broo ??

  • admin KG (author) said:

    Di semua kamera Canon EOS tidak ada motor fokus karena semua lensa EOS sudah ada motornya. Salah satu yg kalah dari D5100 terhadap 600D adalah tidak adanya fitur wireless trigger untuk flash Nikon.

  • attra said:

    Salam.
    Klo hasil foto D5100 dibandingkan Canon 60D dgn kit yg sama (18-55), mana yg lbh bagus?

  • setia1heri said:

    jadi binung ngambil yg 3100 apa 5100 yah?

    bajet cuma 5 jeti…hhehehe
    nais share masbro :-D

  • akb said:

    mas brow….ane dalam waktu dekat mau beli D5100. Semalam sempat berkeliling ke lebak bulus. Harga sudah cucok. Tapi ada satu hal yg dikit mengganjal. soal garansi. utk kamera bergaransi pabrik lebih miring dibanding kamera bergaransi seperti datascript dsb.

    pertanyataannya; resiko terburuk klo kita beli barang bergaransi pabrik itu apa yah? benarkah hanya cuma sekedar waktu perbaikannya saja yang lama atau ada alasan lain? trus, buat sobat sekalian yg sdh pegang D5100, masalah paling utama kamera ini apa yah? oh ya, klo kamera dalam dua thn pertama itu sering rewel ngak?

    trima kasih en mohon maaf banyak pertanyaan. tapi dibantu yaks

  • admin KG (author) said:

    Maka itu sebisa mungkin beli yg garansi resmi (nikon indo dari alta). Skenario terburuk kalau kamera rusak dalam masa garansi, sedangkan garansi hanya dari toko (bukan pabrik ya), adalah kena biaya kalau diperbaiki di alta, atau dibawa ke toko untuk dicoba diperbaiki oleh toko.

  • nico said:

    mas mau tanya nh:
    dari segi tajam foto dan kualitas bagusan yg mna mas canon 60d atau nokon d5100

    semoga di balas thank’s.

  • admin KG (author) said:

    Dari skor DxO mark sih nilainya bagus D5100. Tapi ingat kalau ketajaman foto itu faktornya banyak, seperti lensa dan seberapa stabil kita saat memotret.

  • sam said:

    kalau delta itu garansi toko ato pabrik?

  • dhoni said:

    salam kenal aja..
    saya pemakai nikon d5100. ya memang niatnya buat hoby aja sih, bukan buat pro. kelemahan utama kamera ini ya spt yg dijelaskan diatas, tombolnya terlalu sedikit. (menurut ken rockwell, perbedaan utama kamera pro dan non pro adl jumlah tombolnya). klo mo ngrubah seting hrs lewat tombol [info] dan berkali tekan tombol selektor. kl pas ada momen cepat, cukup merepotkan.

    selain itu, semuanya cukup baik. cukup bagus kl buat belajar dslr.
    kl mo lihat hasilnya bisa liat di fotoblog sy: http://kalamata.me/
    trims.

  • admin KG (author) said:

    Betul sekali, di kamera nikon pemula seperti D5100 dan D3100 tidak ada tombol langsung buat ganti ISO, WB dll. Mungkin Nikon menganggap pemakai kamera pemula jarang mengganti setting seperti ISO, WB dll. Padahal memberi fitur itu sama sekali tidak sulit, lihat deh di D90 keatas, tombol ISO itu numpang tombol zoom-out (jadi satu tombol dua fungsi).

  • fauzyeah said:

    langsung beli :D !!!! mantap

  • Indri said:

    Mas tanya dong, kalo D5100, cara biar bisa 1x jepret menghasilkan banyak foto sekaligus gmn yaa? Mohon infonya. Terimakasih

  • admin KG (author) said:

    Masuk ke shooting menu lalu cari drive mode. Pindahkan dari S (single) ke continuous (gambar kotak tumpuk tiga).

  • chairul said:

    alhamdulillah.. udah beli d5100.. kl hrg skr ( 2minggu lalu) dibanding canon 600.. posisinya skr 5100 lbh murah sktr 400rb.. garansi alta

    skr msh belajar terusss.. makasih review fitur2 nya

  • Ardian Kusuma Wardana said:

    mantappp,uda beli dapet 5.8 jeti di Surabaya.
    hasilnya g ngecewakan, vdeo mantap,low light tajam, canon 600D mah di babat wkwkw :D

  • achmad faisol abdullah bin ali fikri said:

    Ardian Kusuma Wardana

    aq pngen beli.. itu beli dimana bro? baru kan… trims infonya

  • yohanes usman said:

    Saya punya kamera 5100, mau main di effect tapi belum tau ngatur pemilihan warna dari mana? Mohon bantuanya….

  • sandi said:

    Mas artikelnya kok mirip banget ya dengan artikel ini :
    http://gaptek28.wordpress.com/2012/02/17/review-kamera-dslr-nikon-d5100/
    yang copas yang mana ya

  • admin KG (author) said:

    Tidak ada yg saling copas, karena blog itu dan blog ini masih dikelola oleh orang yg sama :)

  • Eki said:

    Selamat Tahun Baru 2013,Semoga Sukses Selalu Menyertai Mas.
    Oh ya,Mas saya ini Pemula,kepingin beli Nikon 5100D,cuma bingun nih,apa sekalian dg kit 18-55 mm VR + 55-200,atau hanya lensa 18-105 mm VR,cuma katanya lensa 18 - 105 itu kurang bagus,terlalu banyak distorsinya,Gimana Mas?,Mohon Arahan and penjelasannya.tk

  • admin KG (author) said:

    Selamat tahun baru juga. Gak tertarik D5200 nih?

    Lensa 18-105mm VR memang tajam dan cukup handal, tapi ya itu kekurangan utamanya adalah distorsinya yang parah. Jadi kembali ke anda apa sering memotret benda yg punya garis tegas seperti gedung atau interior.

    Kalau saya yg memang pernah pakai 18-55, 55-200 dan 18-105, paling praktis sih pakai 18-105. Tapi kalau bicara fungsi dan hasil sebaiknya tetap membedakan lensa berdasarkan rentang fokalnya, jadi ambil aja yg kit lensa 18-55 lalu beli lagi lensa 55-200 atau 55-300 gitu.

  • Eki said:

    Terima kasih banyak Mas penjelasan Dan sarannya.

  • Eki said:

    Selamat Malam Mas.Saya ingin penjelasan tentang kejelekan,kekurangan Dan Kerugian bila kita beli kamera Nikon D5100 yang bukan garansi resmi Nikon,ok Nikon yang saya dapat hanya garansi toko,Ada juga garansi distributor.Terima Kasih sebelumnya.

  • izal said:

    mas mau tanya nikon 5100 kan gak ada motor servo di bodynya, klo fungsi motor servo pada kamera itu apa ya?
    mohon pencerahaanya mas, thnx

  • monik said:

    saya beli nikon D5 100…berhubung saya suka poto sendiri depan kaca,bagaimana agar hasilnya tdk pecah…pk manual cara setting nya gimana yaa…tks