samyang100mmf28

Mengapa harga lensa bisa begitu mahal?

Bagi yang baru punya sistem kamera interchangeable lenses (misal kamera DSLR atau kamera mirrorless) yang umumnya dipaketkan dengan satu lensa kit, tentu tertarik untuk menambah koleksi lensanya. Tapi bisa jadi anda terheran-heran saat melihat harga lensa di pasaran karena bandrol harga yang dipasang sangat fantastis. Memang sih kita tahu lensa itu adalah gabungan peranti optik-elektronik yang rumit, tapi apakah memang harus semahal itu? Padahal ada juga lensa murah yang hasilnya lumayan.

Perbadaan yang kerap dirasakan tidak masuk akal biasanya terjadi saat kita membandingkan lensa yang mirip, tapi sejatinya berbeda kelas. Misal lensa kit 18-55mm f/3.5-5.6 adalah lensa kelas consumer, harganya sejutaan. Tapi lensa 17-55mm f/2.8 yang fokalnya sangat mirip, adalah lensa profesional, yang harganya diatas 10 jutaan. Masih banyak contoh lainnya, misal antara lensa 55-200mm (2 jutaan) dan 70-200mm f/2.8 (20 jutaan), lensa fix 35mm f/1.8 dan 35mm f/1.4 dan sebagainya.

tamron-70-300-vc

Lensa kelas consumer itu dibuat untuk dibeli oleh banyak orang, sehingga biaya produksi bisa tertutupi dan tidak perlu dijual terlampau mahal. Bahannya umumnya plastik, optiknya tidak terlalu rumit, motor fokus dan sistem anti getarnya yang tidak terlalu canggih dan tidak dilengkapi dengan pelindung cuaca dan debu. Setingkat diatas kelas consumer ada kelas enthusiast alias kelas serius/hobi/menengah. Lensa semacam ini juga banyak yang pakai, tapi umumnya dibeli karena orang ingin kualitas dan performa yang lebih baik dari sekedar lensa murah. Kalau lensa kelas pro hanya dipakai oleh lebih sedikit fotografer, biasanya untuk kebutuhan kerja yang tidak mau kompromi sama kualitas, atau lokasi memotretnya di tempat yang sulit (puncak gunung, medan perang atau banyak gangguan eksternal).

sigma-18-35

Untuk membedah satu persatu penyebab harga lensa itu bisa mahal atau murah, kami sajikan alasan yang masuk akal :

  • biaya produksi, termasuk tempat lensa itu dibuat (Jepang, Cina, Thailand dsb)
  • batas ambang mutu, dimana lensa murah itu syarat lolos QC tidak berat, tapi lensa mahal itu QC lebih ketat
  • desain optik, lensa mahal umumnya punya desain yang kompleks, tapi tidak menurunkan kualitas optiknya
  • elemen lensa dan coating, yang tujuannya untuk menjaga kontras dan ketajaman
  • desain bukaan lensa, dimana lensa dengan bukaan konstan (misal f/2.8) lebih sulit dibuat
  • desain motor auto fokus, apakah memakai gelombang atau memakai motor biasa
  • desain stabilizer (bila ada) yang semakin cerdas mendeteksi getaran dan mengkompensasinya
  • konstruksi secara umum : apakah elemen depan lensa berputar atau memanjang saat memfokus (idealnya tidak)
  • versi : kebanyakan lensa di pasaran adalah versi full frame, tapi ada juga versi kecil untuk APS-C yang lebih murah
  • perlindungan cuaca yang penting bila memang dipakai di tempat yang ekstrim
  • brand image, lensa dibuat oleh Canon/Nikon dsb akan lebih mahal dibanding lensa 3rd party

Saat ini produsen lensa tidak selalu dari merk pembuat kamera. Kita tahu ada merk lensa alternatif seperti Tamron, Sigma, Tokina, Samyang dll.  Walau mereka kerap dipandang sebelah mata, tapi perlu diketahui juga kalau mereka  meluncurkan lensa-lensa yang mahal juga. Jadi harga lensa tidak bisa ditekan bila desain dan peruntukannya memang untuk kelas profesional. Simaklah betapa harga lensa Tamron/Sigma 24-70mm dan 70-200mm juga mahal, walau masih dibawah buatan Canon/Nikon.

Lalu apa kesimpulannya?

Mungkin lebih sekedar tips saja. Kalau mencari lensa murah, jangan berharap banyak akan fiturnya. Jadikan lensa murah ini untuk pemakaian harian yang biasa, atau untuk belajar. Karena murah, kami lihat tidak ada alasan untuk membeli merk alternatif. Nikon 55-200mm adalah lensa murah yang optiknya bagus, Canon 10-22mm adalah lensa wide yang harganya terjangkau.

Nikon AF-S 16-35mm f/4 G ED VR
        Nikon AF-S 16-35mm f/4 G ED VR

Di kelas pro, budget jadi penentu pengambilan keputusan. Pro dengan dana tak terbatas rasanya tidak perlu dibahas disini. Tapi profesional yang sensitif masalah harga bisa mempertimbangkan lensa pro alternatif / 3rd party. Kualitasnya memang sedikit dibawah yang Canon/Nikon tapi harga bisa terpaut banyak. Tapi untuk jangka panjang pikirkan juga apa penghematan yang dilakukan saat ini sepadan dengan resiko di masa depan? Misal saat lensa tersebut mau dijual lagi, harganya tentu beda antara yang Canon/Nikon dengan yang 3rd party. Lalu saat tiba-tiba ada isu inkompatibilitas (ingat tidak ada jaminan lensa 3rd party saat ini akan selalu kompatibel dengan bodi kamera masa depan) maka investasi mahal anda di lensa 3rd party akan jadi tidak bernilai.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

3 thoughts on “Mengapa harga lensa bisa begitu mahal?”

  1. Dear Pengasuh yang terhormat,

    saya punya kamera Nicon D60 yang saya beli tahun 2008 dg harga 6,7 juta. Kamera ini kalau saya buat moto close up gak bagus alias buram, adapun lensa bawanya adalah Nicon DX AF-S NIKKOR 18-55 mm.

    Kalau saya mau beli lensa yang budgetnya dibawah 7,5 juta bisa untuk close up juga bisa untuk photo jauh untuk panoram..kira merk apa PAk?

    Makasih sebelumnya,

    salam,

    NILWAN

    1. Bisa pake lensa micro spt 60mm atau 90mm, tapi itu bukan lensa zoom. Alternatif murah meriah justru datang dari lensa 2 jutaan seperti sigma 70-300mm APO makro.

Comments are closed.