Canon EOS 90D dan EOS M6 mk II diluncurkan

Canon mengumumkan kehadiran dua kamera baru, yaitu satu adalah produk DSLR Canon EOS 90D (penerus EOS 80D) dan satu lagi adalah produk dari mirrorless APS-C yaitu EOS M6 mk II.

Canon EOS 90D hadir sebagai produk yang mengkawinkan dua segmen DSLR APS-C yaitu segmen semi-pro 80D (yang populer untuk foto dan video) dan segmen pro 7D (populer untuk jurnalis dan sport). Jadi konsep EOS 90D adalah tetap memakai layar lipat putar seperti 80D tapi punya kekuatan bodi dan kecepatan yang mendekati seri pro 7D.

Spesifikasi EOS 90D terbilang cukup menarik dengan sensor APS-C 32 MP yang bisa merekam video 4K, memiliki 45 titik AF, ada joystick, bisa memotret sampai 10 fps, prosesor Digic 8 terbaru meski sayangnya hanya memiliki satu Slot SD card. Dari fisik bodinya meski masih sepintas mirip dengan 80D, pada EOS 90D ini tombol dan pengaturannya lebih banyak, weathersealed lebih ditingkatkan dan bisa menggunakan shutter elektronik. Continue reading Canon EOS 90D dan EOS M6 mk II diluncurkan

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Review lensa ultrawide Tamron 17-35mm f2.8-4 Di OSD

Tamron sebagai produsen lensa dari Jepang yang konsisten merilis lensa untuk berbagai kamera khususnya DSLR, terus memberi alternatif menarik untuk fotografer hobi maupun profesi yang mencari harga yang wajar dengan kualitas tak kalah dengan lensa yang harganya lebih mahal. Bila sebelumnya Tamron sudah membuat lensa 35-150mm yang fokal lensa zoomya mencukupi untuk bermacam kebutuhan harian seperti 35mm, 50mm, 85mm dan sebagainya, maka kali ini kami akan mengupas lensa Tamron 17-35mm f/2.8-4 yang termasuk lensa ultra lebar ekonomis untuk DSLR Canon dan Nikon.

Fokal 17mm memberi perspektif dan kesan lebar yang berbeda dari yang kita lihat

Umumnya lensa lebar disukai oleh mereka yang menekuni fotografi pemandangan atau interior. Dari golongan fokal lensa, sebetulnya 35mm sudah termasuk lebar, meski saat ini orang akan lebih terkesan oleh lensa 28mm apalagi 24mm. Tapi bila yang dicari justru fokal lensa yang sangat lebar, maka angka 17mm adalah langkah aman untuk mendapat perspektif dramatis yang ekstra luas. Memang dalam persaingan lensa masa kini, produsen terus membuat lensa yang semakin lebar seperti 16mm, 14mm hingga 10mm untuk full frame, yang berdampak pada harga yang makin mahal sedangkan belum tentu kita butuh sampai selebar itu. Kami ingat dulu itu lensa ultra lebar dari Canon yang umum itu hanya Canon 17-40mm saja, atau Nikon 16-35mm. Maka itu lensa Tamron 17-35mm ini kami lihat punya rentang fokal yang pas, dimulai dari 17mm dan diakhiri hingga 35mm, dan bila ingin meneruskan zoom diatas 35mm langsung pasang lensa Tamron 35-150mm, terus menyambung kalau belum puas ada Tamron 150-600mm, lengkap dan tanpa overlap sedikit pun, mantap..

Dipasang di bodi Nikon D600, perpaduan lensa dan kamera tampak seimbang, pas dan tidak (terlalu) memberatkan saat dibawa.

Baiklah, cukup pendahuluannya, kita langsung masuk ke topik. Kami mencoba lensa yang nama lengkapnya Tamron 17-35mm f/2.8-4 Di OSD dengan mount Nikon, dipasang di D600 full frame. Bila lensa ini dipasang di kamera DSLR APS-C maka akan rugi karena jadi tidak ultra wide lagi. Berikut fakta-fakta lensa ini :

  • untuk dipakai di DSLR, dengan mount Canon atau Nikon
  • berat 460 mm
  • diameter filter 77mm
  • motor fokus OSD (bukan USD)
  • tidak ada penstabil getar VC
  • tidak ada indikator jarak fokus untuk membantu hiperfokal/infinity
  • lensa hanya sedikit memanjang saat diputar zoomnya
  • ada karet pencegah masuknya air di bagian mount belakang

Continue reading Review lensa ultrawide Tamron 17-35mm f2.8-4 Di OSD

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

EOS 6D mk II, DSLR full frame terkini dari Canon

Canon 6D mk II adalah kamera DSLR full frame yang mengisi segmen basic yang tentunya spesifikasi dan fiturnya harus dibedakan dari kakak-kakaknya seperti 5D mk IV, 5DS apalagi 1Dx mk II. Di segmen full frame entry level ini yang dicari adalah keseimbangan antara harga, kinerja, kualitas dan ukuran, dimana profil pemakainya yang sesuai biasanya dari kalangan hobi, atau profesional yang mencari peralatan cadangan (backup). Khusus 6D mk II menawarkan sesuatu yang cukup unik dan jarang ditemui di kamera lain seperti sensor 26 MP (kamera lain umumnya 24 MP), ada fitur 4K timelapse, Bluetooth dan GPS untuk konektivitas lengkap. Sebagai info, 6D mk II diperkenalkan dengan harga $2000 bodi saja (sekitar 26 juta rupiah).

Canon EOS 6D mk-II menawarkan fitur-fitur sebagai berikut :

  • sensor full frame 26 MP
  • 45 titik fokus, semuanya cross type, -3 Ev
  • auto fokus di live view dan video dengan Dual Pixel AF
  • layar LCD sentuh, bisa dilipat dan diputar
  • jendela bidik prisma, 0,71x perbesaran, cakupan 98%
  • memotret kontinu 6,5 fps, bisa sampai 25 RAW+JPG fine (dengan kartu UHS-I high speed)
  • metering dengan 7560 piksel
  • Digic 7, ISO 100-40.000 (bisa dipaksa sampai ISO 50 (low) dan ISO 102.400 (High)
  • WiFi + NFC, Bluetooth dan GPS

Meski tampak besar, tapi 6D mk II cukup ringan (765g dengan baterai) berkat bahan almunium alloy dan polikarbonat resin. Desain DSLR khas Canon dengan ergonomi yang pas dan mantap digenggaman, dan tata letak tombol yang terbukti fungsional. Adanya fitur layar sentuh membantu sekali dalam interaksi kita dengan kamera. Perlindungan cuaca membuatnya bisa diandalkan saat memotret di keadaan hujan atau berdebu.

eos-6d-mark-ii

Kinerja kamera ini termasuk standar dengan 6,5 fps yang bisa diandalkan untuk mendapat momen sehari-hari, buffer juga cukup lega tapi sayangnya tidak ada dukungan ke kartu UHS-II. Adanya fitur Dual Pixel AF membuat 6D mk II ini sama baiknya saat auto fokus dengan mode live view, bahkan tetap bisa Servo AF untuk melacak benda bergerak saat live view. Titik fokus 45 area di 6D mk II cenderung terkonsentrasi di bagian tengah sehingga bisa jadi untuk kebutuhan tertentu malah lebih enak pakai live view saja.

eos-6d-mark-ii-back-d

EOS 6D mk II yang lama ditunggu untuk menyegarkan 6D lama punya banyak peningkatan berarti. Kelebihan Canon adalah menemukan teknologi Dual Pixel AF yang menjadikan kamera DSLR bisa laksana mirrorless saat pakai mode live view, tentunya bukan sekedar live view tapi bisa auto fokus dengan cepat, fokus kontinu dan bisa memfokus dengan menyentuh layar. Kekurangan kamera ini yang banyak disayangkan orang adalah tidak menyediakan kemampuan rekam video 4K, jadi hanya bisa full HD saja.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Nikon D7500, DSLR menengah yang makin matang

Kamera DSLR kelas menengah dari Nikon kembali mendapat penyegaran. Dari D7200 langsung lompat ke nama baru yaitu D7500, Nikon sepertinya ingin memudahkan kita untuk mengingat bahwa D7500 itu ‘mirip’ dengan D500. Memang sih keduanya sama-sama DSLR kelas menengah dengan sensor APS-C yang sama-sama oke untuk diajak kerja cepat maupun outdoor, meski D500 tetap lebih mantap dari spek seperti unggul di kecepatan dan jumlah titik fokus.

Pertanyaan orang kini adalah apakah lebih baik D7200, D7500 atau D500?

Pertama lihat dulu kualitas gambarnya. Ternyata sensor keduanya sama yaitu APS-C 20 MP tanpa low pass filter. Lalu prosesornya juga sama yaitu Expeed  5 sehingga kinerja secara umum dalam memproses data sama kencangnya.

Nikon D7500

Tentu ada pembeda utama antara D7500 dengann D500, yaitu di modul auto fokusnya. Di D7500 masih pakai 51 titik AF (15 cross type) yang sebetulnya sudah mencukupi untuk pemakaian harian. Bagusnya kini ada fitur auto fine tune untuk AF yang meleset, dengan memakai teknologi live view. Shutter unit -ya dirating sampai 150 ribu kali jepret.

Kemampuan lain adalah video 4K meski kena crop 1,5x dari sensornya, dan buffernya bisa menampung 50 foto RAW kontinu, atau 100 lebih foto JPG. Baterainya kini pakai EN-EL15a yang mampu menghandle daya lebih baik, meski sedikit lebih cepat habis dibanding di kamera D7200.

Sayangnya D7500 kini justru tidak  lagi pakai dual slot SD cards seperti seri D7000 lainnya.

Menurut kami Nikon D7500 lebih menarik untuk general shooters, yang tidak mengharuskan kameranya super cepat dan auto fokus yang sangat banyak titik. Kamera ini malah akan disukai oleh orang yang beragam kebutuhan karena sudah mendukung layar sentuh dan video 4K. Harganya juga wajar, bodi saja 1250 USD tentu kompetitif dibanding Canon 80D, Fuji X-T2 atau Sony A6500.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Canon hadirkan duo DSLR entry level baru : EOS 800D dan EOS 77D

Di saat kamera mirrorless terus menggerus pangsa pasar kamera DSLR, Canon tetap berupaya memperbanyak variasi dan regenerasi produk DSLR-nya khususnya di lini kelas bawah yang kerap disebut sebagai seri Rebel. Setelah terus bertahan memakai nama kelipatan 50 seperti 650D, 700D, 750D maka kali ini hadirlah 800D dengan ciri sensor 24 dan 45 titik fokus. Di segmen agak sedikit berbeda hadirlah EOS 77D sebagai penerus dari 760D yang ditujukan untuk dibawah kamera enthusiast seperti 80D.Bingung? Tenang, anda bukan satu-satunya yang bingung dengan nama 77D ini :)

Canon EOS 800D
Canon EOS 800D, atau dinamai Rebel T7i di Amerika

Oke, bagi yang beranggapan kalau kamera DSLR Canon pemula begitu-begitu lagi dan tampak sama, mungkin akan jadi lebih antusias saat membedah spek dari EOS 800D ini, seperti :

  • sensor APS-C 24 MP dengan dual pixel AF, oke untuk auto fokus hybrid saat live view
  • modul auto fokus mantap dengan 45 titik fokus (pertama ditemui di 80D)
  • stabilisasi elektronik untuk rekaman video
  • WiFi, NFC dan Bluetooth
  • 6 fps
  • layar lipat dan sentuh
Bagian belakang dari EOS 77D dengan roda dan tombol fisik yang lengkap
Bagian belakang dari EOS 77D dengan roda dan tombol fisik yang lengkap

Nah, kalau yang dikeluhkan adalah fisik dari 800D semisal hanya ada satu roda kendali, tidak ada jendela LCD kecil di atas dan hal-hal minor lain, mungkin anda perlu menyimak EOS 77D yang dibuat seperti mini 80D. EOS 77D memiliki semua fitur di 800D ditambah dengan dua roda kendali, jendela LCD kecil di atas dan tombol AF-ON. Tapi tetap saja kedua kamera ini masih masuk kelas pemula, cirinya diantaranya adalah bodi yang belum weather sealed, tidak pakai prisma (pakainya penta-mirror) dan tidak ada fitur AF-microadjustement untuk kalibrasi AF lensa.

Bagian atas dari EOS 77D dengan jendela LCD tambahan yang informatif.
Bagian atas dari EOS 77D dengan jendela LCD tambahan yang informatif.

EOS 800D akan dijual di kisaran 10-11 jutaan dan 77D di kisaran 12 jutaan dengan lensa kit baru yang mungil EF-S 18-55mm f/4-5.6 IS STM.

Bila anda menyimak artikel kami 2 tahun lalu, dimana Canon meluncurkan 750D, 760D dan EOS M3, maka kali ini juga persis sama yaitu 800D adalah penerus dari 750D, lalu 77D adalah penerus dari 760D dan EOS M3 ternyata digantikan oleh EOS M6, produk mirrorless baru seperti EOS M5 namun tanpa jendela bidik. EOS M6 ini sepintas mirip sekali dengan EOS M3 tapi kini sudah memakai dual pixel AF yang lebih oke auto fokusnya.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Canon hadirkan DSLR kelas atas EOS 5D generasi ke empat

Di bulan Agustus ini dunia fotografi dibuat kembali bergairah dengan hadirnya DSLR kelas atas Canon EOS 5D generasi ke empat atau mark IV. Kali ini Canon memberi sensor 30 MP dengan ISO 100-32.000 dengan dual pixel AF untuk auto fokus yang lebih mudah saat live view dan video (pertama di temui di EOS 70D). Selain itu tentu ada hal baru yang menarik disini, misalnya fitur 4K video dalam format MJPEG 30 fps. Canon-5D-Mark-IV-650x517

Tapi tentu saja berita besarnya kali ini adalah modul fokus yang dipakai, seperti yang sudah diprediksi akhirnya 5D mk IV ini mewarisi modul dari 1Dx mk II dengan 61 titik fokus (41 diantaranya cross type), dan bisa fokus di keadaan gelap -4 Ev. Kecepatan tembaknya mungkin biasa saja dengan 7 foto per detik tapi ingat resolusi 30 MP punya data yang lebih besar dari sensor 24 MP apalagi 16 MP.

Canon-5D-Mark-IV-Back-650x517

Dari fisik terlihat masih banyak kemiripan dengan 5D mk III dan 5D SR. Layarnya yang berukuran 3,2 inci ini kini sudah mendukung touchscreen dan didalamnya sudah diberikan fitur GPS dan WiFi.

Canon-5D-Mark-IV-Top-650x414

Kamera Canon 5D mk IV akan dijual $3,499 bodi saja atau $4,399 dengan lensa baru 24-70mm f/4L IS USM. Memang tidak murah, tapi profesional yang menunggu hadirnya kamera ini tentu sudah mengerti kebutuhan masing-masing seperti resolusi, dynamic range, ISO tinggi dan video 4K yang diunggulkan di kamera ini. Canon juga di waktu bersamaan meluncurkan lensa update EF 16-35mm f/2.8L III USM dan EF 24-105mm f/4L IS II USM.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Canon EOS 80D resmi diumumkan, apa bedanya dengan 70D?

Saat masih banyak yang mencari Canon 60D di pasaran, dan saat masih banyak yang merasa 70D adalah kamera yang tergolong baru (walau sudah hampir 3 tahun sejak pertama kali dia diumumkan), Canon kini resmi meluncurkan EOS 80D untuk meneruskan tugas 70D mengisi segmen enthusiast/semi pro. Dari segmentasi 80D tetap diposisikan untuk menjadi versi lebih canggih dari Canon Rebel (760D dsb) namun lebih dibawah DSLR kelas pro sensor APS-C yaitu 7D mark II. Apa bedanya EOS 80D ini dengan pendahulunya 70D (yang admin juga pakai sendiri)?

Banyak pihak setuju bahwa Canon EOS 70D adalah kamera yang sangat menarik dari sisi fitur dan harga, juga menjadi contoh evolusi signifikan dari produk sebelumnya yaitu 60D. Di era 70D lah akhirnya DSLR bisa oke juga saat auto fokus untuk live view. Maka itu perubahan apa lagi yang akan diberikan oleh Canon bila saatnya nanti 80D keluar? Nah kini EOS 80D sudah resmi keluar, dan tentunya (seharusnya) meneruskan hal-hal baik di 70D dan meningkatkan kekurangan yang ada di 70D.

canon80dhead

Salah satu titik lemah 70D adalah pada titik fokusnya yang ‘hanya’ 19 titik, walau untuk banyak kebutuhan 19 titik ini sudah cukup, tapi kompetisi khususnya dengan Canon terasa sekali kurangnya karena kamera Nikon pakai 39 titik hingga 51 titik fokus untuk DSLR menengah mereka. Maka wajar kalau 80D akhirnya memberikan modul AF baru dengan 45 titik fokus, walau sedikit kalah jumlah dibanding 51 titik tapi menang di jumlah cross type-nya. Karena 45 titik fokus di 80D semuanya cross type, bahkan titik tengahnya bisa fokus saat gelap hingga -3 Ev.

Hal lain yang sudah bisa diprediksi adalah dipakainya sensor baru 24 MP yang awalnya dikenalkan di 750D/760D. Tapi sensornya tidak persis sama karena di 80D sistem hybrid AF-nya memakai dual pixel AF sedang di 750D memakai hybrid CMOS AF. Dengan sensor 24 MP ini Canon ingin setara dengan Nikon D7200 atau Sony A6300, meningkat dari sebelumnya 20 MP di 70D. Performa ISO di 80D juga ditingkatkan kini bisa mencapai ISO 16.000 berkat prosesor DIGIC6.

canon80drear

Bodi kamera 80D nyaris kembar identik dengan 70D, sedikit sekali bedanya bila dilihat dari luar, namun setelah dicek seksama baru ada sedikit perbedaan khususnya di roda dial, port samping dan tuas live view/movie. Kami belum tahu apakah ada penambahan kekuatan weathersealing dari 70D ke 80D ini, tapi anggaplah keduanya sama-sama dirancang tahan cuaca (hujan, debu dsb). Di dalamnya ada peningkatan seperti jendela bidik lebih besar dengan cakupan 100% lalu juga diberikan modul GPS, WiFi dan NFC. Di mode dial kini ada dual custom slot (C1 dan C2), serta ada berbagai fitur baru seperti untuk membuat timelapse. Colokan mic di samping kiri kini ditemani oleh colokan headphone yang merupakan kabar baik, walau dari sisi videografi secara umum tidak ada kabar baik yang signifikan selain kini bisa merekam dengan 2x frame rate normal. Lupakan dulu soal fitur 4K di kamera seharga $1500 ini ya, mungkin generasi yang berikutnya lagi baru ada.

Hal lain yang menarik dan ditingkatkan dari 80D ini sepertinya terinspirasi dari 760D seperti adanya HDR movie, anti flickr mode dll. Tapi yang jelas sama dengan 760D adalah kemampuan menembak + fokus kontinu saat di mode live view, sesuatu yang semestinya dengan update firmware saja bisa dilakukan di 70D.

Dari uraian diatas memang boleh saja admin berpendapat kalau peningkatan yang diberikan Canon tidak banyak, bahkan sangat boleh kalau semestinya diberi nama EOS 70D mark II saja. Bagi yang punya 70D tidak terlalu banyak alasan untuk upgrade kecuali sangat membutuhkan 45 titik fokus, tapi pemilik 60D atau Rebel series lain yang pakai 9 titik AF boleh mempertimbangkan kamera ini, anda akan menikmati resolusi tinggi 24 MP, auto fokus handal, live view cepat dan layar sentuh yang menyenangkan.

 

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Pentax K-1, DSLR full frame pertama dari Pentax

DSLR full frame kini bukan cuma dominasi Canon dan Nikon, sejak Pentax resmi mengumumkan lahirnya kamera DSLR Pentax K-1. Dengan merilis kamera ini di tahun 2016 tentunya Pentax punya banyak sekali waktu untuk mempelajari plus minus DSLR full frame yang lebih dulu ada dari pemain papan atas seperti Canon dan Nikon, sehingga produk pertama dari Pentax di segmen full frame ini semestinya sudah memperhitungkan kebutuhan fotografer pro seperti fitur-fitur didalamnya atau rancangan bodinya. Dan benar saja, ternyata banyak sekali hal-hal yang mengesankan baik dari spesifikasi, fitur dan juga harga dari Pentax K-1 ini.

Dari spek dasar mungkin kita akan beranggapan kalau Pentax K-1 ini kurang lebih mirip-mirip dengan kamera lain yang sudah ada, sebutlah misalnya sensor dengan resolusi 36 MP, kemampuan ISO 100-204800, ada 33 titik fokus, ada peredam getar di bodi, punya kecepatan tembak 4,5 foto per detik dan bisa rekam video full HD. Tapi agak aneh seandainya Pentax hanya mengandalkan spek dasar lalu berharap untuk berkompetisi dengan pemain lama di dunia full frame. Apalagi sejak dulu Pentax juga dikenal kerap membuat produk yang punya value tinggi, artinya fitur yang ditawarkan dibandingkan harga jualnya melebihi ekspektasi. Contohnya disini Pentax K-1 dibandrol seharga USD 1800 bodi saja, untuk ukuran DSLR full frame di segmen semi pro harga ini sangat menarik, apalagi jika melihat fitur yang diusungnya.

Sensor full frame di dalam K-1 ini bisa bergerak ke kiri kanan, juga berputar (5 axis)
Sensor full frame di dalam K-1 ini bisa bergerak ke kiri kanan, juga berputar (5 axis)

Sensor shift di Pentax K-1 ini adalah generasi kedua yang diklaim bisa bekerja meredam getaran hingga 5 stop berkat 5 axis-nya (X-Y-pitch-yaw-roll). Pentax juga lebih jauh lagi berhasil memanfaatkan kemampuan sensornya yang bisa digeser ini untuk memberi fitur canggih seperti :

  • simulasi anti aliasing (AA) filter, sehingga dengan menggetarkan sensor bisa didapat hasil seperti pakai AA filter, hal ini membuat penggunanya bisa memilih apakah mau pakai AA filter (untuk menekan moire) atau mau hasil tajam maksimal
  • pixel shift resolution system, teknologi menggeser sensor hanya seukuran 1 piksel, untuk mendapatkan empat gambar lalu menggabungkan menjadi satu foto dengan informasi warna RGB yang lengkap (dibandingkan dengan cara biasa dimana satu piksel hanya ‘melihat’ 1 warna (R/G/B) lalu diinterpolasi) dan ini berdampak pada naiknya dynamic range juga, serta mengurangi noise di ISO tinggi
  • auto level compensation, bila saat kita posisikan kamera agak kurang lurus (yang menyebabkan garis horizon jadi tampak miring) maka sensornya akan bergerak mengkompensasi kemiringan itu untuk menjaga foto tetap lurus (setahu saya belum ada kamera lain yang bisa melakukan ini, biasanya kita harus luruskan fotonya di editing)
  • AstroTracer, dengan dibantu penerima GPS dan kompas elektromagnetik didalam kamera, sensor di Pentax K-1 bisa ikut bergerak saat memotret bintang dengan shutter lambat sehingga foto bintang yang didapat tidak menjadi garis melengkung
pentaxk1diagonal
Layar LCD bisa dilipat diagonal/miring

Juga ada hal unik di kamera ini yaitu layar LCD-nya yang bisa dilipat diagonal seperti cotoh diatas. Juga di kamera ini ada beberapa lampu LED mini yang bisa membantu penggunanya saat memotret atau ganti lensa di tempat gelap, karena lampu ini bisa menerangi bodi kamera. Untuk sementara sudah ada beberapa lensa utama seperti HD PENTAX-D FA 15-30mm f/2.8 dan HD PENTAX-D FA 28-105mm f/3.5-5.6 dan berbagai lensa APS-C juga bisa dipakai dengan crop mode, atau memakai lensa Pentax jadul jaman film juga bisa (selagi masih bisa ditemui di pasaran).

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..