Pentax K-1, DSLR full frame pertama dari Pentax

DSLR full frame kini bukan cuma dominasi Canon dan Nikon, sejak Pentax resmi mengumumkan lahirnya kamera DSLR Pentax K-1. Dengan merilis kamera ini di tahun 2016 tentunya Pentax punya banyak sekali waktu untuk mempelajari plus minus DSLR full frame yang lebih dulu ada dari pemain papan atas seperti Canon dan Nikon, sehingga produk pertama dari Pentax di segmen full frame ini semestinya sudah memperhitungkan kebutuhan fotografer pro seperti fitur-fitur didalamnya atau rancangan bodinya. Dan benar saja, ternyata banyak sekali hal-hal yang mengesankan baik dari spesifikasi, fitur dan juga harga dari Pentax K-1 ini.

Dari spek dasar mungkin kita akan beranggapan kalau Pentax K-1 ini kurang lebih mirip-mirip dengan kamera lain yang sudah ada, sebutlah misalnya sensor dengan resolusi 36 MP, kemampuan ISO 100-204800, ada 33 titik fokus, ada peredam getar di bodi, punya kecepatan tembak 4,5 foto per detik dan bisa rekam video full HD. Tapi agak aneh seandainya Pentax hanya mengandalkan spek dasar lalu berharap untuk berkompetisi dengan pemain lama di dunia full frame. Apalagi sejak dulu Pentax juga dikenal kerap membuat produk yang punya value tinggi, artinya fitur yang ditawarkan dibandingkan harga jualnya melebihi ekspektasi. Contohnya disini Pentax K-1 dibandrol seharga USD 1800 bodi saja, untuk ukuran DSLR full frame di segmen semi pro harga ini sangat menarik, apalagi jika melihat fitur yang diusungnya.

Sensor full frame di dalam K-1 ini bisa bergerak ke kiri kanan, juga berputar (5 axis)
Sensor full frame di dalam K-1 ini bisa bergerak ke kiri kanan, juga berputar (5 axis)

Sensor shift di Pentax K-1 ini adalah generasi kedua yang diklaim bisa bekerja meredam getaran hingga 5 stop berkat 5 axis-nya (X-Y-pitch-yaw-roll). Pentax juga lebih jauh lagi berhasil memanfaatkan kemampuan sensornya yang bisa digeser ini untuk memberi fitur canggih seperti :

  • simulasi anti aliasing (AA) filter, sehingga dengan menggetarkan sensor bisa didapat hasil seperti pakai AA filter, hal ini membuat penggunanya bisa memilih apakah mau pakai AA filter (untuk menekan moire) atau mau hasil tajam maksimal
  • pixel shift resolution system, teknologi menggeser sensor hanya seukuran 1 piksel, untuk mendapatkan empat gambar lalu menggabungkan menjadi satu foto dengan informasi warna RGB yang lengkap (dibandingkan dengan cara biasa dimana satu piksel hanya ‘melihat’ 1 warna (R/G/B) lalu diinterpolasi) dan ini berdampak pada naiknya dynamic range juga, serta mengurangi noise di ISO tinggi
  • auto level compensation, bila saat kita posisikan kamera agak kurang lurus (yang menyebabkan garis horizon jadi tampak miring) maka sensornya akan bergerak mengkompensasi kemiringan itu untuk menjaga foto tetap lurus (setahu saya belum ada kamera lain yang bisa melakukan ini, biasanya kita harus luruskan fotonya di editing)
  • AstroTracer, dengan dibantu penerima GPS dan kompas elektromagnetik didalam kamera, sensor di Pentax K-1 bisa ikut bergerak saat memotret bintang dengan shutter lambat sehingga foto bintang yang didapat tidak menjadi garis melengkung
pentaxk1diagonal
Layar LCD bisa dilipat diagonal/miring

Juga ada hal unik di kamera ini yaitu layar LCD-nya yang bisa dilipat diagonal seperti cotoh diatas. Juga di kamera ini ada beberapa lampu LED mini yang bisa membantu penggunanya saat memotret atau ganti lensa di tempat gelap, karena lampu ini bisa menerangi bodi kamera. Untuk sementara sudah ada beberapa lensa utama seperti HD PENTAX-D FA 15-30mm f/2.8 dan HD PENTAX-D FA 28-105mm f/3.5-5.6 dan berbagai lensa APS-C juga bisa dipakai dengan crop mode, atau memakai lensa Pentax jadul jaman film juga bisa (selagi masih bisa ditemui di pasaran).

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Mengapa lensa DSLR bisa dipasang di kamera mirrorless (dengan adapter)

Saat ini kamera mirrorless semakin berjaya, penggunanya semakin banyak. Ukuran yang lebih kecil dari DSLR dibarengi peningkatan fitur membuat mulai banyak yang tertarik mencobanya. Sebagian besar penggunanya tentu akan memakai lensa yang sesuai mount-nya, misal Sony Alpha dengan lensa-lensa E mount atau Olympus dengan lensa Micro 4/3 mount. Tapi ada juga sebagian pengguna mirrorless yang justru memasang lensa DSLR di kamera mirrorless mereka. Mengapa hal ini bisa dilakukan? Kita bahas sama-sama yuk..

Pertama kita mesti melihat dulu lensa DSLR seperti apa yang dipasang di kamera mirrorless. Sebagian besar ternyata adalah lensa lama, alias lensa manual, seperti Canon FD, Nikon AF atau bahkan lensa mount M42. Lensa-lensa ini bisa jadi koleksi lawas, atau didapat di pasar lensa bekas, yang kemudian dipakai di mirrorless. Walau ada juga lensa modern yang dipasang di mirrorless seperti lensa Canon EOS atau Nikon AF-S.

A6000 12-24mm

Apa alasan dibalik semua ini? Tentu jawabannya bisa beragam, misal ingin nostalgia dengan lensa lamanya, atau cari lensa yang terjangkau, atau memang lensa yang diinginkan belum tersedia sehingga terpaksa memasang lensa DSLR. Ingat kalau sistem mirrorless masih tergolong baru, pilihan lensa yang ada memang belum sebanyak sistem DSLR yang sudah berpuluh-puluh tahun ada.

m_FLANGE_2

Bagaimana penjelasan teknis dari fenomena ini? Untuk bisa memahami itu kita perlu tahu dulu desain lensa, bahwa setiap lensa dirancang untuk mengirim gambar ke sensor. Jarak dari belakang lensa ke sensor namanya flange back distance. Di sistem DSLR kira-kira jaraknya 4 cm, dan itu sudah sejak jaman SLR film begitu. Alasannya karena di DSLR ada cermin yang membuat sensor jadi harus agak mundur ke belakang, sehingga semua lensa harus dirancang untuk punya jarak flange back sekitar 4 cm. Di mirrorless yang tentunya tanpa cermin, jarak flange back ini bisa dibuat lebih pendek, sekitar 1-2 cm. Perancang lensa mirroless harus mendesain ulang rancangan lensa karena menyesuaikan flange back yang jauh lebih pendek.

flange DSLR

Selisih jarak ini yang membuka peluang memasang lensa DSLR di mirrorless, dengan adapter. Prinsip adapter memang hanya merubah desain mount, misal mount lensa Nikon supaya bisa masuk ke E-mount di bodi Sony Alpha/NEX. Tapi kegunaan penting lain dari adapter adalah menambah jarak flange back kamera yang tadinya pendek jadi panjang sehingga memungkinkan dipasang lensa DSLR. Bila tidak dipanjangkan, maka fokus dari lensa DSLR akan jatuh dibelakang sensor dan itu artinya kamera tidak akan bisa fokus.

flange mirr

Memasang adapter punya kompromi sendiri. Pertama adalah mayoritas adapter dibuat simpel tanpa chip atau kontak elektronik. Artinya jangan harap lensanya bisa auto fokus, maka itu adapter yang simpel memang dirancang untuk lensa-lensa lama yang manual fokus dan manual aperture. Di kamera pun harus pakai mode M, dan perlu pakai kamera yang ada opsi untuk bisa memotret tanpa lensa. Tidak ada bantuan light meter di kamera, kita harus andalkan histogram untuk akurasi eksposur dan memakai focus peaking (bila ada) untuk manual fokus.

Metabones-Canon-EF-Sony

Tapi untuk anda yang tidak suka cara lama, ada juga adapter yang canggih dengan kemampuan menterjemahkan perintah AF dari kamera (misal kamera Sony A) dan mengkode ulang perintahnya dan dikirimkan ke lensa (misal lensa Canon EOS) sehingga auto fokusnya berfungsi. Tapi adapter semacam ini harganya mahal, pilihannya lebih sedikit dan kadang AF-nya terasa lebih lambat. Ada juga adapter yang dibuat untuk antar sistem dalam satu merk, misal kamera mirrorless Canon EOS-M bisa dipasangkan dengan lensa Canon EF dan auto fokusnya tetap jalan, karena adapternya dibuat oleh Canon juga.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Nikon D5 dan D500 hadir, tercanggih di kelas FX dan DX

Di lini kamera DSLR Nikon, baik di kelas sensor APS-C maupun full frame, keduanya kini punya jagoan tertinggi yang baru yaitu Nikon D500 (penerus D300) untuk kelas APS-C dan D5 (penerus D4) untuk kelas full frame. Keduanya dirancang untuk kebutuhan profesional, D500 lebih kepada fotografer aksi maupun satwa liar sementara D5 untuk foto apa saja yang sifatnya komersil. Ada beberapa kesamaan dari keduanya, khususnya dalam modul Auto Fokus terbaru dengan 153 titik fokus. Kesamaan lain seperti adanya layar sentuh, dual slot memori dan prosesor Expeed 5 terbaru.

D5 back

Nikon D5 ditujukan untuk kebutuhan profesional, kamera tercanggih dari Nikon ini dujual USD 6500 bodi saja, dengan sensor 21 MP FX yang bisa dipaksa hingga ISO 3.276.800 (atau 5 stop diatas ISO maksimum normal di ISO 102.400) yang entah seperti apa hasilnya di tempat gelap. Kecepatan tembaknya mencapi 14 frame per detik, luar biasa. Kemampuan videonya juga sudah UHD dengan resolusi 2840×2160 30p yang bisa disimpan ke kartu CF atau XQD. Kamera dengan berat hampir 1,5 kg ini sudah punya vertical grip terpadu untuk menambah daya tahan baterai.

D500

Nikon D500 adalah jawaban atas penantian panjang pecinta DSLR Nikon DX, atau Nikon dengan sensor APS-C, setelah lama sekali tidak ada kabar untuk regenerasi D300, padahal Canon sudah membuat EOS 7D mk II. Kini akhirnya D500 (bukan D400 seperti yang diprediksi banyak orang) hadir dengan sensor 21 MP APS-C, kecepatan tembak 10 fps, ISO maksimum 51.200 (normal, bisa dipaksa hingga ISO 1.638.400). Karena modul fokusnya sama dengan D5 maka di D500 ini 153 titik fokusnya jadi lebih menyebar hingga ke tepi (akibat ukuran sensor yang lebih kecil dari D5). Buffer kamera D500 luar biasa lega hingga bisa menembak tanpa henti 79 foto RAW dan sudah bisa merekam video 4K. Kamera seharga USD 2000 ini punya dual slot memori SD dan XQD untuk kebutuhan data sangat tinggi.

Kesamaan D5 dan D500 juga terlihat dari rancangan desain bodi dan tombolnya (termasuk joystick), juga sama-sama tidak diberikan lampu kilat built-in, plus ada kesamaan di layar sentuhnya yang berukuran 3,2 inci dengan resolusi tinggi 2,3 juta titik (tapi yang D500 bisa dilipat). Tertarik?

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Review Canon EOS 70D

Canon 70D adalah kamera DSLR kelas menengah pengganti 60D dan diposisikan di bawah 7D dan di atas Canon Rebel (700D, 750D dsb). Diluncurkan pertama kali sekitar 2 tahun yang lalu (2013), kamera ini masih populer sampai saat ini dan dijual di kisaran 11 jutaan bodi saja.

Canon 70D menurut kami termasuk kamera DSLR kelas menengah yang bila ditinjau dari hasil foto maupun dari sisi kinerja, bisa dikatakan 70D itu punya keseimbangan fitur-kinerja-harga yang paling pas. Selain itu tentunya kamera ini mudah dipakai dan ukurannya pas (ergonomi, tombol, grip) dan harganya wajar. Canon EOS 70D punya banyak peningkatan dibanding 60D seperti titik fokus dari 9 titik jadi 19 titik, ada dual pixel AF, fitur HDR, ada Auto ISO yang seperti Nikon, dan layar lipatnya mendukung sistem layar sentuh.

DSC_2385 cr

Sensor di EOS 70D adalah APS-C CMOS 20 MP yang hasil fotonya sudah tergolong baik, tapi tidak terlalu istimewa (dalam hal skor DxO mark atau dalam hal jumlah piksel). Kinerja shoot kontinu juga sedang-sedang saja (7 fps), ISO sampai 12.800 dan bodinya juga masih berbalut plastik, bukan magnesium alloy.  Kami sempat membandingkan 70D dengan 760D (Rebel T6s) karena banyak kesamaan fitur, tapi akhirnya 70D bagaimanapun tetap lebih layak untuk dipilih. Misalnya karena jendela bidik dari prisma yang lebih nyaman, ada fitur HDR, multiple exposure, AF fine tune, konversi RAW ke JPG di kamera hingga fitur videonya yang sudah ditambah opsi kompresi rendah All-I untuk hasil lebih baik, walau ukuran file jadi lebih besar. Sebagai info, fitur movie servo AF dimungkinkan bila lensa yang dipasang adalah berjenis STM, selain itu maka servo AF akan terlihat kurang mulus transisinya.

DSC_2264 sml
Canon 70D tampak belakang dengan berbagai tombol dan roda kendali

Continue reading Review Canon EOS 70D

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Review lensa Canon EF-S 10-18mm IS STM

Setelah punya lensa kit, anggaplah lensa 18-55mm, biasanya orang tanya apa lensa berikutnya yang perlu dibeli. Biasanya saran kami adalah lensa lebar dan/atau lensa tele (misal lensa 55-200mm), tergantung mana yang lebih prioritas. Kalau dana tidak jadi kendala, ya dua-duanya boleh diambil sekaligus karena saling melengkapi. Lensa lebar biasanya jadi prioritas kalau fokal terlebar dari lensa kit yaitu 18mm dirasa kurang lebar (salah satunya akibat crop factor, sekitar 28mm saja). Pilihan lensa lebar untuk sistem APS-C biasanya lensa yang dimulai dari fokal 10,11 atau 12mm. Misal Canon 10-22mm, Nikon 10-24mm, Tokina 11-16mm dan sebagainya. Harga lensa wide memang agak tinggi, kadang sebagian orang urung membeli karena dananya belum mencukupi.

DSC_2286 sml2

Kami agak terkejut saat tahun lalu Canon mengumumkan lensa baru, yaitu EF-S 10-18mm IS STM, setidaknya ada dua hal yang membuat kami agak terkejut. Pertama adalah karena Canon sudah punya lensa wide untuk EF-S yaitu 10-22mm seharga 6-7 jutaan. Kedua karena harganya yang agak tidak umum, yaitu 3 jutaan rupiah, jauh lebih murah daripada lensa Tokina 12-24mm yang kami punya sejak 3 tahun lalu.

Kami penasaran seperti apa lensanya dan mengapa dia bisa begitu murah. Kami pikir tidak mungkin Canon akan menjual lensa murah dengan mengorbankan kualitas optiknya, karena bakal jadi bumerang di jangka panjang. Lalu kenapa dia bisa dijual 3 jutaan saja? Mungkin saja itu bagian dari strategi bisnis Canon, kami kurang tahu soal itu, tapi jawabannya bisa dicari secara faktual dari ciri-ciri fisik yang tampak.

Menilik dari spesifikasinya, mulai terjawab apa saja yang bisa dilakukan Canon untuk menekan harga, misalnya :

  • bodi berbahan plastik, mount juga plastik dan ukurannya kecil, kualitas fisik bodinya mirip lensa kit
  • jangkauan fokal terjauh (zoom paling mentok) hanya sampai 18mm, tapi ini tidak masalah karena justru jadi tidak saling overlap dengan lensa kit (18-55mm atau 18-135mm)
  • bukaan maksimal tidak besar, dan tidak konstan, yaitu f/4.5-5.6 walau ini juga tidak masalah karena umumnya lensa wide dipakai untuk pemandangan (Sering pakai antara f/8 hingga f/16)
  • tidak pakai jendela indikator jarak fokus, lagipula ini adalah lensa STM (semua lensa STM pakai manual fokus elektronik)
  • tidak diberi bonus hood lensa
Proporsi bodi dan lensa masih tampak seimbang
Proporsi bodi dan lensa masih tampak seimbang

Tapi jangan salah, bukan berarti lensa EF-S ini tidak punya keunggulan. Bahkan lensa yang berisi 14 elemen optik dalam 11 grup (termasuk 1 Asph. dan 1 UD) ini sudah memiliki fitur Image Stabilizer (IS) yang diklaim sampai 4 stop, sehingga kita bisa memotret dengan speed lambat dengan minim resiko getar. Disini fitur IS menjadi penting karena lensa ini bukaannya tidak besar. Selain itu sistem motor fokus STM membuat auto fokusnya senyap dan cepat, cocok untuk rekam video juga. Diameter filter lensa ini 67mm, bagian depan lensa tidak berputar saat auto fokus sehingga cocok untuk pasang filter CPL. Lensa ini bisa fokus sedekat 22cm dari sensor (atau sekitar 15cm dari ujung lensa) dan punya 7 bilah diafragma yang termasuk lumayan untuk bokeh agak bulat.

Pengujian fitur IS :

Dengan fokal 18mm, kami menguji kemampuan IS lensa ini dengan shutter selambat 1/2 detik atau kira-kira 3 stop lebih lambat dari batas aman untuk lensa 18mm. Sebagai subyek uji, ada bola dunia yang penuh tulisan ini :

Setting : fokal 18mm, f/5.6, shutter speed 1/2 detik
Setting : fokal 18mm, f/5.6, shutter speed 1/2 detik

dan inilah hasil crop 100% dari foto diatas :

Fitur IS On, hasil crop terlhiat foto masih tajam
Fitur IS On, hasil crop terlihat foto masih tajam

Sebagai kesimpulan, yang kami sukai dari lensa ini :

  • harga terjangkau, cocok untuk pemula yang baru belajar fotografi dan perlu lensa wide yang bisa memberi perspektif berbeda
  • kecil dan ringan (230 gram), sepintas mirip sekali dengan lensa kit 18-55mm
  • auto fokus cepat, tidak bersuara, dan oke untuk video juga
  • optiknya termasuk baik, seperti ketajaman, warna dan kontras tidak ada keluhan
  • ada fitur IS, sesuatu yang biasanya tidak diberikan di lensa wide
  • rendah cacat lensa seperti chromatic abberation dan flare
  • filter 67mm tergolong umum dan terjangkau (umumnya lensa wide pakai filter 77mm yang mahal)

Hal-hal yang perlu diperhatikan dari lensa ini :

  • mount plastik, perlu lebih hati-hati karena plastik lebih rentan patah daripada logam
  • sebagai lensa STM, dia manual fokusnya by-wire, artinya ring manual fokus hanya berguna saat kamera dalam keadaan ON
  • lensa STM juga artinya tidak ada jendela jarak fokus, kelemahannya sulit sekali manual fokus ke infinity misalnya (agak sulit foto bintang seperti milkyway)

Secara umum kami menyukai lensa ini, ukuran, bobot dan fiturnya sesuai dengan yang saya cari, sedangkan kualitas optiknya melampaui harga jualnya. Dibandingkan lensa EF-S 10-22mm perbedaannya adalah dalam hal rentang fokal, kualitas bahan bodi dan indikator jarak fokus. Kualitas optik kurang lebih setara, atau lensa 10-22mm sedikit lebih unggul dibanding EF-S 10-18mm.

Beberapa contoh foto dari lensa ini :

Perbedaan fokal 10mm dengan 18mm :
IMG_1122

IMG_1123

Untuk arsitektur :

IMG_2455

Untuk pemandangan :

IMG_1376

IMG_2856

Foto selengkapnya bisa dicek di flickr.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Nikon luncurkan lensa DX 16-80mm f/2.8-4, ini bedanya dengan lensa Sigma 17-70mm f/2.8-4 C

Hari ini Nikon mengumumkan kehadiran lensa DX kelas premium yaitu AF-S 16-80mm f/2.8-4E VR yang ditujukan menjadi pengganti lensa AF-S 16-85mm f/3.5-5.6 VR. Secara kebetulan, dari dulu Sigma sudah punya lensa yang mirip, yaitu Sigma DC 17-70mm f/2.8-4 yang di generasi ketiga (2012) telah disempurnakan dengan OS dan HSM serta mendapat logo C (contemporary). Lensa Sigma ini sudah lama kami rekomendasikan sebagai lensa pengganti dari lensa kit, tapi sejak Nikon 16-80mm ini hadir, apakah ini berarti Nikon mengambil alih kejayaan Sigma di kelas lensa all round ini?

Lensa Nikon 16-80mm ini adalah lensa yang menggairahkan lagi dunia DX yang seakan terlupakan, bahkan lensa ini menjadi lensa elit dengan logo N (Nano), bukaan besar f/2.8 (walau tidak konstan) dan tidak lagi pakai kendali aperture mekanik (ada simbol E di nama lensanya, artinya electronic aperture). Sigma sendiri membuat lensa 17-70mm untuk berbagai mount, misalnya untuk mount Canon EOS maka desain aperture-nya juga dikendalikan secara elektronik, jadi bukan hal yang istimewa sebenarnya.

Sigma 17-70mm vs Nikon

Dari tabel diatas memang terlihat banyaknya kesamaan antara kedua lensa. Rentang fokal memang Nikon sedikit lebih lebar dan lebih tele, tapi Sigma lebih mudah untuk makro dan harganya hanya setengah dari harga lensa Nikon. Di lain pihak lensa Nikon baru ini punya coating mewah dan bisa manual fokus langsung dengan memutar cincin fokus. Tapi diluar dugaan sebenarnya Sigma masih bisa mengimbangi secara desain dan kinerja, seperti elemen lensanya, fitur penstabil getaran dan motor fokus yang senyap. Hanya saja secara kualitas hasil foto belum bisa dibuktikan karena lensa Nikon ini belum ada di pasaran, kalau kami prediksi memang Nikon bakal lebih baik hasil fotonya daripada Sigma, khususnya bila menyangkut faktor ketajaman, distorsi, vignetting dan corner softness.

Anda sendiri pilih yang mana?

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Yang perlu diketahui tentang lensa Canon STM

Sejak hadirnya kamera DSLR Canon terbaru seperti 700D, 70D dan 7D mark II, kita semakin sering dengar tentang lensa STM. Sebelumnya mungkin kita hanya tahu tentang lensa USM yang identik dengan auto fokus cepat, lalu apa lagi lensa STM ini? Ada dua macam lensa Canon dengan STM, yaitu lensa baru (misal EF-S 40mm f/2.8 STM) dan juga lensa eksisting yang dibuat versi STM, misal lensa 18-55mm, 55-250mm dsb. Apa tujuan Canon untuk semua ini? Admin mencoba menjelaskannya untuk anda.

Pertama kita bedah singkatan STM dulu yaitu Stepper Motor, sebuah teknik putaran dengan motor khusus untuk auto fokus. Berbeda dengan USM (Ultra Sonic Motor), STM tidak mengedepankan kecepatan fokus untuk fotografi, tapi lebih menonjolkan kemulusan transisi auto fokus saat live view dan khususnya saat rekam video. Selain itu lensa STM dirancang silent dalam arti tidak ada suara perputaran motor fokus yang terekam saat sedang rekam video. Maka itu di web Canon mereka menyebut STM dengan Smooth Transistion for Motion. Jadi lensa STM bukan untuk kecepatan fokus, untuk foto aksi cepat anda tetap perlu lensa USM.

Canon-EF-50mm-F1.8-STM-lens

Sejauh ini ada beberapa lensa yang sudah berkode STM, diantaranya :

  • lensa kit (18-55mm, 18-135mm, 24-105mm)
  • lensa wide/tele zoom (10-18mm, 55-250mm)
  • lensa fix (24mm, 40mm, 50mm)

Apa perbedaan fisik utama lensa STM dengan lensa DSLR lain pada umumnya? Ada dua ciri utama, yaitu lensa STM manual fokusnya adalah elektronik. Jadi apa yg kita putar di lensa bukanlah secara langsung memutar elemen fokus, jadi untuk itu kamera harus dalam kondisi on. Bagi yang tidak terbiasa manual fokus secara elektornik mungkin akan merasa aneh, apalagi yang sudah terbiasa manual fokus dengan lensa lama pasti rasanya beda sekali. Kedua, karena manual fokusnya elektronik, pasti tidak ada jendela informasi jarak fokus di lensa. Jadi sulit (bahkan mustahil) untuk memotret dengan panduan tabel hiperfokal dengan lensa STM, juga sulit mengatur fokus manual ke infinity seperti saat mau memotret bintang di langit.

Apakah kita memerlukan lensa STM?

Anda pengguna DSLR Canon generasi lama, atau DSLR Canon full frame, tidak ada bedanya saat memasang lensa STM atau non STM di kamera anda. Lensa STM yang dipasang di kamera anda akan tetap berfungsi normal, tapi tentu anda kehilangan kemudahan manual fokus yang sesungguhnya. Tapi anda yang pakai DSLR Canon 700D-750D/760D-70D-7D mk II maka dengan lensa STM akan lebih mulus auto fokusnya saat live view dan rekam video. Apalagi dengan kemudahan layar sentuh, kita tinggal sentuh di layar dan kamera akan set fokus ke obyek yang kita sentuh itu. Sebagai info, pemilik DSLR Canon 700D-750D/760D-70D-7D mk II juga tetap bisa live view dan rekam video dengan lensa non STM, tapi auto fokusnya akan kurang mulus transisi-nya dan (tergantung lensanya) maka suara motor auto fokus bisa jadi ikut terekam dalam rekaman video.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Pentax hadirkan DSLR menengah baru, K-3 II

Kali ini giliran berita kehadiran DSLR Pentax terbaru yaitu Pentax K-3 II yang diumumkan oleh Ricoh sebagai perusahaan pemilik brand Pentax. Kamera DSLR kelas menengah baru ini meneruskan semua hal baik di produk sebelumnya (Pentax K3) dan menambah fitur baru yang unik, yaitu sensor shift untuk resolusi foto lebih tinggi. Kamera tahan cuaca ini dijual seharga 12 jutaan bodi saja, kira-kira bersaing dengan Nikon D7100 dan Canon 70D. Kami tertarik dengan fitur baru yang memanfaatkan sistem sensor shift di bodi untuk mendapat resolusi tinggi, seperti apa lengkapnya?

Pentax dikenal dengan sistem AS, atau Anti Shake, dengan menggerakkan sensor untuk mengkompensasi getaran tangan. Jadi tidak lagi dibutuhkan lensa dengan peredam getar seperti di Canon atau Nikon. Olympus belum lama ini mendesain sistem sensor shift di E-M5 II yang bisa membuat satu foto 40 MP dari menggerakkan sensor saat memotret. Tentunya saat foto diambil subyeknya tidak boleh bergerak, dan kamera harus ada di tripod. Pentax rupanya juga menyediakan mode high resolution dengan sensor shift di K-3 II ini. Tapi apakah sistem di Pentax K-3 II ini sama seperti Olympus? Jawabannya tidak persis sama.

pentax-k3-ii

Pentax memilih untuk tetap mempertahankan piksel foto sesuai piksel sensor yaitu 24 MP, tapi sensor shift yang dilakukan bertujuan untuk memberi informasi warna yang lengkap (RGB) untuk setiap piksel. Kita tahu sensor Bayer biasa punya kelemahan dimana setiap satu piksel pada dasarnya hanya bisa menangkap satu warna (antara merah, hijau atau biru) dan warna aktualnya didapat dengan menebak/interpolasi matematis. Dengan sensor shift (menggerakkan sensor) maka setiap piksel bisa mendapat info warna yang lengkap dan hasil akhirnya lebih natural dan akurat. Sama seperti Olympus E-M5 II, saat memakai mode ini subyek tidak boleh bergerak dan kamera harus diletakkan diatas tripod.

pentax-k3-ii-b

Spek lain dari Pentax K-3 II :

  • sensor APS-C 24 MP dengan sensor shift
  • 8,3 fps
  • ISO maks hingga ISO 51.200
  • 27 titik AF
  • AA filter simulator
  • GPS
  • dual SD card slot

Sayangnya Pentax K-3 II ini tidak lagi menyediakan lampu kilat di bodi, sehingga untuk kebutuhan flash harus memakai flash eksternal.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..