Memilih kamera sesuai kebutuhan

Banyak sekali pertanyaan yang datang ke kami tentang kamera apa yang sebaiknya dibeli. Walau sudah banyak tulisan yang kami buat, pembaca sepertinya semakin bingung mau beli kamera apa. Pertanyaan yang masuk umumnya seputar bagus mana kamera A atau B? Apakah kamera ini cocok untuk saya, dan pertanyaan sejenis yang mengesankan terlalu kuatir salah beli. Padahal jaman sekarang semua kamera pada dasarnya punya fitur dan kualitas yang berimbang, asal berada di segmen yang sama. Apple to apple katanya.. Maka kali ini kami tulis lagi panduan memilih kamera yang didasarkan pada kebutuhan , bukan keinginan. Membedakan kebutuhan dan keinginan bisa jadi cara yang efektif untuk mendapat kamera idaman yang cocok.

Kenali kebutuhan anda, ikuti tanya jawab interaktif berikut ini :

Berapa budget anda, untuk sebuah sistem kamera (kamera dan lensa) ?

Dengan dana terbatas, memang pilihan tidak begitu banyak. Tapi kamera yang dijual dengan harga terjangkau juga tidak ada keluhan dalam hasil foto, asalkan sudah pakai sensor ukuran sedang (misal Micro Four Thirds hingga APS-C). Misal saat ini kamera seperti Samsung NX3000, Canon 1200D atau Nikon D3300 sudah lebih dari cukup fiturnya, hasil foto dan videonya juga oke. Saat ini mulai banyak dijumpai juga kamera saku dengan lensa permanen (tidak bisa diganti) yang sensornya 1 inci sehingga hasil fotonya setingkat lebih baik dari kamera saku biasa. Kamera saku seperti ini memang tidak murah, kadang hampir sama dengan harga kamera DSLR pemula lho..

canon-powershot-g7-x-camera

Dengan dana berlimpah, pikirkan apakah mau dihabiskan untuk bodi yang kelas atas atau seimbang dengan lensanya. Misal anda punya dana 22 juta, apakah mau beli kamera seharga 20 juta lalu 2 juta beli lensa, atau cari kamera seharga 10 juta dan beli lensa 12 juta? Ingat harga lensa yang baik umumnya lebih mahal, tapi kualitasnya juga tidak mengecewakan. Sony A6000 dengan lensa 16-70mm f/4 adalah contoh kombinasi bodi yang dan lensa yang bagus.

Seperti apa tuntutan anda terhadap kualitas hasil foto?

Kualitas foto, ditentukan dari sensornya. Saat bicara sensor, kita ingatnya megapiksel kan? Padahal kualitas foto bukan dihitung dari megapiksel tapi dari ukuran fisik sensor (panjang kali lebar, dalam mm). Sensor full frame (36x24mm) memberi hasil foto terbaik, sensor APS-C (24x16mm) sedikit dibawah full frame. Sensor kecil seperti di kamera ponsel hasil fotonya pasti pas-pasan saja. Intinya kualitas foto bukan di megapiksel, tapi di ukuran sensor.

sony-a7

Saat ini sensor APS-C mampu memberi hasil foto yang baik, hingga ISO 3200. Tapi bila anda ingin foto yang lebih bersih dari noise di ISO 3200, atau ingin foto RAW yang sangat leluasa di edit maka sensor full frame lebih cocok untuk anda. Kamera full frame tidak murah, tapi memang semakin terjangkau. Saat ini Nikon D610, Canon 6D atau Sony A7 semakin diminati karena kualitas hasil fotonya yang tinggi dan harganya masih terjangkau. Bila anda sudah puas dengan hasil dari sensor APS-C, maka pilihan menjadi sangat mudah. Bahkan Sony A3000 yang dijual di kisaran 3-4 juta sudah bisa memberi hasil foto yang baik, walau kamera ini kurang disarankan karena kinerjanya auto fokusnya kurang cepat.

Apakah kinerja yang cepat itu penting?

Bayangkan anda seorang peliput kegiatan olahraga. Momen yang cepat, aksi tak terduga, subyek yang terus bergerak dan durasi yang lama tentu perlu diimbangi dengan kamera yang kinerja tinggi. Bila faktor seperti kemampuan fokus kontinu yang tinggi, menembak kontinu yang tinggi atau daya tampung memori yang luas (buffer) maka kamera yang biasa-biasa saja tidak cocok untuk anda. Untuk itu tersedia Canon 7D mark II, Sony A77 mk II atau minimal Nikon D7200.

nikon-d750-enthusiast-camera

Bagaimana bila dana tidak mencukupi untuk membeli kamera yang kinerjanya tinggi? Ya kita mesti cari kamera yang lebih terjangkau, tapi tetap punya kinerja yang mencukupi walau kurang maksimal. Misal bisa cari mirrorless yang sudah hybrid AF (Sony A6000, Samsung NX500, Fuji X-T1/X-T10) atau DSLR kelas menengah (Canon 70D, Nikon D7100).

panasonic-lumix-gf7

Bila kinerja cepat bukan alasan utama kita membeli kamera, maka kamera pemula pun sudah cukup memadai. Tapi ingat juga bahkan kamera yang sangat mahal pun belum tentu kinerjanya sangat cepat, misal Nikon D810, Sony A7R karena justru dirancang untuk fotografer pemandangan.

Bentuk kamera, ukuran dan beratnya

Ini lebih ke personalitas anda. Apa anda mencari kamera utama? Atau kamera back-up untuk jalan-jalan? Atau anda ingin mencari satu kamera yang bisa diajak serius maupun santai? Saat ini bentuk kamera beragam, dari yang besar seperti DSLR, ada yang kecil dan juga sedang. Bentuk yang besar lebih nyaman digenggam, stabil dan mengesankan keseriusan kita :)

img_main01

Tapi bentuk yang kecil biasanya ringan, mudah dibawa dan tidak menarik perhatian orang saat diipakai. Perhatikan juga desain kamera, saat ini musim lagi desain retro klasik yang seperti kamera lama, kadang disertai pengaturan yang juga klasik (seperti Nikon Df, Fuji X-T1) yang agak membingungkan bagi pemakai pemula.

Apakah faktor lain juga penting?

Faktor lain yang juga menentukan sangat beragam bagi setiap orang, kami coba susun beberapa faktor lain yang bisa menjadi pertimbangan anda :

  • bodi yang tahan cuaca (weathersealed), penting bila sering memotret outdoor
  • kemampuan video yang baik, seperti 4K, codec khusus (XAVC-S), S-log gamma, timecode, headphone jack dsb
  • jendela bidik, bila suka yang optik maka DSLR lebih cocok, bila cari mirrorless apakah jendela bidik elektronik penting bagi anda
  • layar LCD, bisa dilipat? bisa diputar? bisa disentuh? LCD atau Amoled?
  • baterai, ingin yang besar tapi awet, atau yang bisa di-cas dengan powerbank?
  • konektivitas, GPS, WiFi, NFC yang penting bagi sebagian orang, tidak berguna bagi sebagian lainnya
  • dukungan flash, hot shoe di kamera adalah penting, juga dukungan flash eksternal
  • ketersediaan beragam lensa, juga dukungan adapter untuk memasang lensa lama
  • kustomisasi tombol dan roda, berguna untuk personalisasi kamera kita dan akses cepat
  • dukungan teman, klub, komunitas yang sama berguna untuk belajar dan saling support
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Aperture, bukaan, f-number, diafragma : apakah sama?

Salah satu komponen penting dalam eksposur yang punya banyak penyebutan adalah aperture, atau bukaan, atau diafragma, dan dinyatakan dalam f number. Berbeda dengan shutter speed dan ISO, aperture ini cukup rumit dan sulit dimengerti, baik arti definitifnya maupun dampaknya dalam terang gelap foto. Bahkan pemula kerap terbalik antara angka f number dengan besarnya bukaan lensa ini. Kami coba susun artikel untuk anda, semoga bisa lebih paham akan fundamental fotografi yang satu ini. Untuk definisi dan penjelasan istilah-istilah fotografi lebih lengkap tersedia buku Kamus Fotografi yang kami buat, tersedia di toko buku terdekat.

Pendahuluan

Fotografi pada dasarnya menangkap cahaya, merubahnya menjadi gambar. Tidak ada cahaya, maka tidak ada foto (hitam total), terlalu banyak cahaya, foto menjadi over (bahkan bisa jadi putih total). Tugas kita, atau kamera (bila pakai mode Auto) adalah mengatur banyaknya cahaya yang masuk supaya didapat eksposur yang tepat, dengan mengatur tiga hal : lamanya shutter dibuka (shutter speed atau kecepatan rana), sensitivitas sensor (atau film) dalam satuan ISO (atau ASA) dan besarnya bukaan di lensa, yaitu aperture.

Jadi, aperture adalah lubang yang menjadi jalan masuknya cahaya dari lensa menuju sensor kamera.

Aperture ini adanya di lensa, maka itu kerap disebut bukaan lensa (lens opening). Jadi setiap lensa kamera punya aperture, bahkan kamera ponsel sekalipun (pada mata manusia biasa disebut pupil). Karena fungsinya untuk mengatur banyaknya cahaya yang masuk maka aperture harus bisa diatur bukaannya (bayangkan seperti membuka keran air, mau dibuka besar atau kecil). Aperture yang dibuka besar, maka foto akan jadi terang. Dibuka kecil, foto jadi gelap. Simpel kan?

aperture

Contoh kiri atas adalah aperture lensa dibuka besar, lalu kanan atas adalah contoh aperture lensa dibuka kecil. Bagaimana aperture bisa dibuat besar atau kecil? Dengan menyusun sejumlah (bisa 5, 7, 9 atau lebih) bilah (blade) diafragma sehingga membentuk lingkaran seperti di bawah ini :

blade

Contoh diatas adalah diafragma yang dibentuk oleh 7 bilah dan sedang dalam posisi membuka cukup kecil. Pada mata manusia, diafragma biasa disebut juga dengan iris.

F-number

Dalam fotografi terang gelap foto selalu diatur dalam kelipatan 1 stop. Menambah 1 stop artinya foto kita akan 2x lipat lebih terang. Pengaturan bukaan lensa mengikuti teori F-number yang baku seperti ini :

aperture-sizes

Perhatikan kalau f/2.8 termasuk bukaan besar, dan pada f/16 bukaan lensa menjadi sangat kecil. Kita bisa merubah/mengganti berapa F-number yang mau kita pakai dengan memutarnya di lensa (untuk lensa-lensa lama) atau memilih melalui kamera. Saat merubah angka-angka ini ingatlah : (asumsi ISO dan shutter speed tetap)

  • dari f/2.8 ke f/4 artinya turun 1 stop, foto akan lebih gelap
  • dari f/8 ke f/4 artinya naik 2 stop, foto akan jauh lebih terang

Deret yang lebih lengkap sebenarnya adalah begini :

f/1.4 – f/2 – f/2.8 – f/4 – f/5.6 – f/8 – f/11 – f/16 – f/22 – f/36

Anda tidak harus menghafal angka-angka diatas, cukuplah mengingat hubungan angka dengan besar kecilnya bukaan supaya tidak tertukar.

Bila anda termasuk yang penasaran dari mana angka-angka F-number diatas berasal, jawabannya ternyata cukup matematis, melibatkan rumus akar dan kuadrat. Rasanya tidak perlu lah dibahas disini..

Kita akan luruskan beberapa hal-hal yang mungkin masih membingungkan :

  • setiap lensa punya bukaan maksimal yang berbeda-beda, misal ada yang f/1.4 dan ada yang cuma f/4
  • walaupun bukaan maksimal tiap lensa itu berbeda, tapi setiap lensa bisa dikecilkan bukaannya sampai bukaan minimum (paling kecil lubangnya)
  • lensa cepat maksudnya lensa yang punya bukaan besar (karena dengan bukaan besar bisa didapatkan shutter speed yang lebih cepat)
  • huruf ‘f’ dalam bukaan lensa ini singkatan dari focal length (alias panjang fokal lensa), misal bila kita pilih f/4 artinya diameter bukaan (lubang) lensanya adalah 1/4 dari panjang fokal lensanya, penjelasan lebih detilnya seperti ini :

Setiap lensa punya panjang fokal tertentu. Kita ambil contoh yang gampang misalnya lensa tele 100mm. Maka, bila kita set bukaan lensa 100mm ini ke f/4, diameter bukaan lensanya adalah 1/4 dari 100mm, atau 25mm (atau 2,5 cm). Inilah mengapa lensa tele punya ‘moncong’ yang besar, apalagi kalau lensa tersebut punya bukaan f/2.8.

lens-f-number-2

Kita coba bandingkan dua lensa yang sama-sama f/2.8 tapi beda fokal lensa :

  • lensa 50mm f/2.8 punya diameter lubang 17.8mm (tidak sampai 2 cm)
  • lensa 200mm f/2.8 punya diameter lubang 71.4mm (7 cm lebih)

Contoh aktual :

tamron-17-50mm
Lensa 17-50mm f/2.8 masih cukup kecil ukurannya
Lensa pro 70-200mm f/2.8 besar, panjang dan diameter lubangnya juga besar
Lensa pro 70-200mm f/2.8 besar, panjang dan diameter lubangnya juga besar

Jadi..

secara fisik, kedua lensa diatas walau sama-sama f/2.8 pasti berbeda ukuran lubangnya TETAPI karena sama-sama f/2.8 maka kedua lensa punya kemampuan yang sama dalam memasukkan cahaya. Dengan kata lain, kedua lensa bila dipakai di f/2.8 dan dites dengan ISO dan shutter speed yang sama maka akan menghasilkan foto yang eksposurnya SAMA. Kok bisa? Waduh ini lebih rumit lagi penjelasannya. Sederhananya begini : semakin tele/panjang fokal lensa, sebetulnya semakin panjang juga bentuk fisik lensanya (jadi seperti tabung) yang menyebabkan kemampuan menangkap cahaya menjadi berkurang, sehingga dibutuhkan diameter lubang yang lebih besar untuk mengimbanginya.

Konsekuensi ini membawa dampak pada besarnya ukuran fisik lensa secara keseluruhan, dan juga diameter filter yang akan dipasang di depan lensa. Maka itu pemakai lensa-lensa tele sudah akrab dengan filter yang diameternya besar (dan mahal) seperti 72mm, 77mm atau 82mm.

Dengan begitu lupakanlah hasrat untuk mencari lensa yang fokalnya bisa panjang, bukaannya juga besar dan mau yang ukuran lensanya kecil, tidak akan pernah ada (kecuali kamera saku karena sensornya juga kecil).

Sigma 200-500mm f/2.8 punya diameter bukaan 17.9 cm, kira-kira lubangnya seukuran piring makan kita
lensa Sigma 200-500mm f/2.8 punya diameter bukaan 17.9 cm, kira-kira lubangnya saja seukuran piring makan kita..
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Enam panduan mengatur setting kamera untuk memotret di kondisi yang sulit

mode-dial-canonKita tahu setting di kamera modern itu sangat banyak, yang tentunya sangat membantu kita dalam menghadapi berbagai kondisi pemotretan sehari-hari. Namun kita juga tahu masih banyak pemilik kamera yang tidak (mau) tahu kegunaan setting-setting tersebut, sehingga tidak dimanfaatkan saat menghadapi kondisi yang cukup sulit atau tidak ideal. Kita boleh saja pakai mode AUTO dan kamera akan pikirikan apa setting terbaik untuk setiap kondisi, tapi kan kita tidak punya kendali atas setting tersebut dan juga kita tidak pernah belajar darinya. Pada akhirnya kita bisa jadi tidak puas dengan hasilnya. Boleh dibilang mode AUTO itu lebih cocok dipakai dalam kondisi yang ideal saja, seperti cukup cahaya, bendanya tidak bergerak dan momennya tidak berlalu dengan cepat. Namun saat kondisi menjadi lebih sulit, pencahayaan menantang, warna sumber cahaya yang tidak mudah, subyek terus bergerak, kita tidak bisa lagi mengandalkan mode AUTO di kamera. Kali ini kami akan berbagi banyak tips penting untuk menghadapi bermacam kondisi sulit, tentunya dengan menjelaskan setting apa yang harus dipilih. Ada baiknya setelah dibaca, anda juga praktekkan untuk lebih memahami dan bisa membuktikan sendiri. Ayo mulai..

Kondisi 1 : cahaya berubah-ubah

Misal : saat memotret konser dengan lampu sorot dan lampu latar (LED) yang terus berubah

Pertama yang harus diingat adalah, jangan pakai mode Manual exposure. Biarkan kamera menghitung sendiri cahayanya dan memberikan nilai ekpsosur yang tepat untuk kita. Bisa gunakan mode P (Program) atau A/Av (Aperture Priority) atau S/Tv (Shutter Priority). Gunakan juga mode metering Spot, lalu kunci pengukuran metering ke obyek utama yang ingin difoto, ini dilakukan supaya kita bisa mendapat pengukuran yang pas walau cahayanya sulit.

spot-metering

Bila kita merasa setting eksposur yang diberikan kamera sudah pas, bisa kita kunci setting dengan menekan dan menahan tombol AE-Lock (simbol bintang di kamera Canon, atau tombol AE-L di kamera lain). Tak perlu menunggu lama, setelah jempol kita menahan tombol ini segeralah mengambil foto untuk mencegah perubahan cahaya lagi. Selamat mencoba..

ae-lock-canon

Kondisi 2 : kontras tinggi

Misal : siang hari outdoor matahari terik dan subyek yang akan difoto tampak gelap

hdr in camera

Disini tidak ada satu solusi yang mudah, karena memang kenyataannya dynamic range sensor kamera tidak bisa menyamai apa yang kita lihat. Maka kamera selalu kesulitan untuk menangkap semua terang gelap di alam dengan sama baiknya. Biasanya yang terjadi adalah langit menjadi terlalu terang, atau justru obyek utamanya jadi terlalu gelap. Ada beberapa setting kamera yang bisa dicoba dengan plus minus masing-masingnya :

  • Mengatur kompensasi eksposur, biasanya dikompensasi ke arah + (positif), cocok bila kita ingin obyek utama terlihat terang namun background terpaksa jadi terlalu terang/over (untuk mengembalikan detail di daerah yang over memang hampir mustahil, tapi cobalah pakai RAW dan diatur highlight settingnya di olah digital kadang-kadang bisa membantu sedikit)

tombol-ev

  • Mengatur fitur Active D Lighting (Nikon), Auto Lighting Optimizer (Canon), bisa menjaga kontras dimana hasil fotonya diusahakan tidak ada yang terlalu terang dan terlalu gelap (tidak bisa pakai RAW)

active_d-lighting

  • memakai mode in camera HDR (bila ada), seperti contoh foto atas kanan (mode ini tidak cocok bila obyeknya bergerak dan juga tidak bisa pakai RAW)

03-canon-hdr-mode-settings

Tips tambahan : di kamera Canon ada fitur Highlight Tone Priority, ini bisa diaktifkan untuk mencegah over eksposur di daerah putih seperti baju pengantin atau langit.

Kondisi 3 : subyek bergerak, momen sulit diprediksi

Misal : aktivitas outdoor, event olahraga, perlombaan dsb

dsc_4408

Yang perlu diingat disini adalah untuk mendapatkan foto yang timingnya pas, diperlukan fokus dan drive kontinu (terus menerus). Selain itu tentu shutter speed harus dipilih yang cukup cepat supaya obyeknya beku/diam.

canon7d-af-mode

Drive continu bisa dipilih di drive mode, biasanya kamera bisa memotret mulai dari 4 foto per detik yang cukup lumayan untuk memotret berturut-turut. Kamera lebih canggih bahkan bisa memotret sampai 11 foto per detik. Untuk mengaktifkan fokus kontinu pilih mode AF-C (di kamera Nikon dan Sony) atau AF mode ke AI Servo (di kamera Canon). Selanjutnya tentu kita harus membidik obyeknya, tekan dan tahan setengah tombol jeptret (atau tekan dan tahan tombol AF-ON) lalu saat momennya tiba tekan penuh tombol jepret cukup lama supaya bisa diambil banyak foto. Nantinya pilih dari sekian foto yang diambil manakah yang momen dan timingnya paling pas.

Kondisi 4 : aktivitas di tempat kurang cahaya

Misal : seremoni indoor (wedding, wisuda, pentas seni dsb)

ISO

Kondisi seperti ini kerap kita hadapi, dan bisa dibagi dua kelompok : bisa dibantu flash dan tidak. Idealnya kita punya flash eksternal yang bisa di bounce ke langit-langit sehingga cahayanya lebut dan natural. Untuk menambah kekuatan flash bisa juga naiikan ISO hingga ISO 800. Namun bila flash tidak bisa dipakai (entah karena dilarang atau jangkauannya terbatas) maka hal yang penting adalah gunakan bukaan maksimal (lensa yang bisa f/2.8 atau lebih besar akan lebih embantu) dan naikkan ISO cukup tinggi (ISO 1600-3200) supaya foto jadi terang, shutter speed tetap cepat sehingga momen yang difoto tidak blur.

dsc_8848-bounce

Walau tampak terang, foto diatas diambil di dalam ruangan yang kurang cahaya. Untuk itu penggunaan flash dengan bounce akan membantu pencahayaan. Jangan lupa karena aktivitas di dalam ruangan ini umumnya dinamis (bergerak), tips di kondisi 3 diatas seperti AF mode kontinu kadang tetap diperlukan.

Kondisi 5 : warna sumber cahaya yang sulit

Misal : di cafe/resto/hotel, bermacam sumber cahaya bercampur (matahari, lampu, flash)

Paling aman pakailah format file RAW lalu diedit belakangan, sesuaikan setting White Balance yang diinginkan. Tapi bila kita mau hasil akurat tanpa perlu repot edit, maka kita perlu siapkan kertas putih di lokasi pemotretan, lalu lakukan prosedur Custom/Preset WB atau Measure WB. Syaratnya, kertas putih harus difoto penuh, dengan sumber cahaya yang sama dengan yang akan kita pakai nanti. Dengan begitu kamera akan mengerti setting WB optimal dari kertas putih tadi.

WB pakai kertas putih

Khusus di cafe/resto/hotel umumnya disengaja memberi pencahayaan hangat (lampu tungsten yang kekuningan) sehingga membuat dilema saat difoto. Bila kita netralkan maka seolah-olah di lokasi itu lampunya putih netral (tidak ada kesan hangat), tapi bila dibiarkan kuning maka orang yang ada di foto tersebut warnanya (kulit, baju dsb) jadi tidak netral.

Contoh warna kuning dinetralkan jadi putih, benar secara teknis tapi jadi tidak terlihat warna aslinya :

p1000163-netral

Lalu difoto lagi dengan menjaga warna aslinya, lebih hangat (kuning) tapi tidak netral :

p1000164-hangat

wb-shift

WB shift juga bisa dilakukan bila kita sudah tahu ingin membiaskan hasil warna akhir ke arah mana : Hijau – Magenta atau Biru – Merah. Idealnya titik tengah akan memberi hasil netral apabila setting WB sama dengan sumber cahayanya. Tapi kalau kita mau geser bisa juga, dengan menggeser ke kanan maka tone warna akan semakin kemerahan. Bila titik tengah memberi hasil yang tidak netral (misal akibat gangguan dari warna biru pada cahaya yang ada) maka ada baiknya WB shift digeser ke kanan supaya hasil akhirnya tidak lagi biru. WB shift juga boleh dipakai untuk membuat warna sengaja berbeda, misal di daerah berkabut putih akan lebih unik bila WB di geser ke warna biru.

Kondisi 6 : balance flash di tempat low light atau fill flash untuk backlight

Misal : foto potret dengan flash, tapi ingin suasana sekeliling terlihat terang, atau sebaliknya mengisi flash saat backlighting

Flash slow speed dimaksudkan unyuk menerangi subyek yang dekat, namun untuk menangkap ambient light perlu shutter speed yang cukup lambat, misal di belakangnya ada lampu-lampu gedung. Biasanya dipilih 1/30 detik hingga 1/8 detik. Perhatikan kalau tripod sebaiknya dipakai untuk speed lambat.

Foto berikut pakai shutter 1/20 detik, ISO 800 dan lampu flash :

dsc_7633

Bedakan dengan foto berikut ini :

dsc_5327

Ini perkecualian karena backlight / melawan matahari, jadi shutter speed boleh lebih cepat (misal 1/100 detik) tapi supaya obyek utama tidak jadi siluet maka flash tetap diset untuk menyala seperti foto diatas.

————————————————————————————————————————————————

Untuk belajar teknik fotografi bersama saya dan Enche Tjin, ikuti kelas Mastering Teknik.

Untuk memahami istilah-istilah fotografi, beli buku Kamus Fotografi.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Sepuluh tips dan trik tentang ISO kamera

Kita tahu kalau ISO merupakan salah satu komponen penting dalam menentukan eksposur di kamera. ISO yang di masa lalu dikenal dengan ASA (kecepatan film) di era digital ini menyatakan kepekaan sensor terhadap cahaya. Kamera masa kini umumnya bisa punya nilai ISO yang sangat tinggi, yang secara teori artinya kamera bisa membuat foto jadi lebih terang walau dipakai di tempat yang kurang cahaya, tanpa bantuan flash. Kali ini kami akan ulas lebih dalam tips-tips mengenai ISO di kamera digital, tentunya supaya anda  lebih paham dalam mengoptimalkan fitur ini.

Inilah sepuluh tips dan trik yang kami  sajikan berkaitan dengan ISO :

Hasil foto terbaik didapat di ISO terendah

Ingat selalu akan hal ini. ISO dasar, atau ISO terendah (misal ISO 100) akan memberi hasil foto yang kualitas fotonya paling bagus. Sebaliknya di ISO tinggi foto akan muncul noise. Di era film, ASA tinggi memberi hasil noise yang artistik karena terlihat grainy, tapi di era digital noise yang muncul lebih cenderung merusak foto. Tipsnya adalah, gunakan ISO rendah untuk mendapat kualitas foto terbaik dan bebas noise, bila memungkinkan. Hubungan antara ISO dan noise pernah kami ulas di artikel ini.

Menaikkan ISO : memaksa sensor memberi output lebih

gx1_sensor

Saat pakai ISO rendah ternyata foto jadi gelap atau shutter speed jadi sangat lambat, kita juga boleh menaikkan ISO. Ingat juga kalau ISO pada dasarnya adalah kepekaan/sensitivitas sensor kamera dimana semakin tinggi nilainya maka semakin peka sensor kamera terhadap cahaya. Sensor sebagai alat elektronik, punya tegangan keluaran tertentu. Dengan menaikkan ISO, maka sensor dipaksa untuk memberi keluaran yang lebih tinggi. Memang memakai ISO tinggi tidak akan ada efek terhadap sensor (tidak merusak sensor),  tapi sekedar mengingatkan kalau ISO tinggi ya artinya sensor memang dipaksa supaya lebih sensitif. Keuntungannya, walau hanya ada sedikit saja cahaya sudah bisa mengambil foto yang terang, misal di dalam ruangan.

Sensor besar, ISO tinggi masih aman

Tidak setiap kamera punya sensor yang (ukurannya) sama. Kamera DSLR dan hampir semua kamera mirrorless punya sensor cukup besar, di kubu lain ada kamera saku dan ponsel yang sensornya kecil. Kira-kira inilah perbandingan ukuran sensor yang dianggap cukup besar hingga besar, dari kiri sensor 1 inci milik Nikon 1, lalu Micro Four Thirds, APS-C dan Full Frame 35mm. Sensor yang ukurannya lebih kecil dari ilustrasi dibawah ini tidak disarankan untuk pakai ISO tinggi karena hasil fotonya akan jelek, misal sensor 2/3 inci, sensor 1/1,7 inci dan sensor 1/2.5 inci.

sensor-size-cmp

Keuntungan kamera dengan sensor yang lebih besar adalah hasil foto yang didapat bisa lebih baik, khususnya saat memakai ISO tinggi. Kamera DSLR full frame 35mm masih memberi hasil foto yang baik di ISO 3200, kamera DSLR APS-C hasil fotonya masih oke di ISO 1600. Sensor 1 inci dan sensor Micro Four Thirds juga cukup baik di ISO 1600 tapi tentu masih lebih baik hasil dari sensor dari APS-C.

Bingung? pakai ISO Auto aja dulu

Bagi mereka yang baru memakai kamera mungkin masih bingung dengan fitur ISO ini. Pertanyaan paling sering muncul adalah jadi saya harus pakai ISO berapa? Kalau tidak ada ide mau pakai nilai ISO berapa, biarkan kamera yang pilihkan untuk kita. Di mode Auto yang namanya ISO memang diatur otomatis oleh kamera. Di mode lainnya, misal mode P (Program), kita bisa memilih nilai ISO, atau bisa juga memilih ISO Auto. Dengan ISO Auto maka kamera mengukur cahaya dulu dan memilihkan ISO yang paling cocok.

ISO Lo dan Hi

Di kamera yang lebih canggih kerap dijumpai ada ISO Low dan ISO High. Ini maksudnya adalah nilai ISO yang diperluas dari rentang standarnya, supaya lebih banyak pilihan. Misal nilai ISO terendah adalah ISO 200, tapi ada ISO Low maka ISO Low dianggap setara dengan ISO 100. Sebaliknya misal ISO tertinggi adalah ISO 6400 tapi diatasnya ada ISO High maka dianggap setara dengan ISO 12800.

iso-lo-hi

Lalu pertanyaannya, kenapa harus begitu? Karena pada dasarnya produsen kamera tidak mengharapkan kita memakai ISO Low atau ISO High, dan lebih suka memilih salah satu dari rentang ISO normal saja. Salah satu alasannya karena diluar ISO normal hasil fotonya dikuatirkan tidak bagus dan bisa jadi merugikan nama baik produsen kamera itu. Di kamera Canon bahkan untuk menampilkan ISO H perlu dibuka dulu lewat menu (Custom function).

Kapan pakai ISO dasar ?

Pertanyaan bagus. ISO dasar dipakai bila cahaya cukup terang atau kita pakai flash, atau lampu studio. Tapi dalam prakteknya, banyak skenario fotografi yang memerlukan ISO rendah. Misalnya saat ingin memakai speed rendah di siang hari (untuk bisa merekam efek gerakan) dan saat memotret long eksposur (durasi sampai ditas 1 detik).

Contoh foto long eksposur diatas diambil dengan kamera Nikon J3 memakai ISO dasar 160 dan durasi shutter 4 detik, tentunya dengan tripod. Walau keadaan aslinya sudah gelap, tapi foto ini nampak terang karena pakai speed lambat, bukan karena pakai ISO tinggi.

ISO tinggi untuk meningkatkan kekuatan flash

Tips untuk membuat lampu kilat lebih bertenaga adalah dengan memakai ISO tinggi. Untuk membuktikannya, cobalah ambil foto ruangan yang luas dan agak gelap dengan lampu kilat di ISO rendah, lihat betapa lampu kilat cenderung gagal untuk menerangi seluruh ruangan. Ulangi foto tersebut dengan ISO tinggi dan lihat bedanya.

ISO tinggi di siang hari?

Saat memotret di siang hari yang terik, tentunya pakai ISO rendah saja sensor kamera sudah bisa membuat foto yang terang. Lalu apakah boleh pakai ISO tinggi di siang hari? Jawabannya selain mubazir juga bisa berpotensi bikin foto jadi over eksposur (terlalu terang). Tapi adakalanya ISO tinggi di siang hari bisa dipakai, misal saat memakai  bukaan sangat kecil (misal f/22) tapi ingin dapat shutter speed sangat cepat (misal 1/4000 detik). Biasanya dipakai untuk lensa-lensa tele seperti foto berikut ini :

Nikon D5100, ISO 3200, 200mm, f/5.6, 1/400 detik
Nikon D5100, lensa 200mm, 1/400 detik, f/5.6, ISO 3200

Saat memakai lensa tele yang bukaannya tidak besar, guna menjamin foto tetap tajam dan tidak blur karena getaran, kita perlu memilih shutter speed yang cukup tinggi dan ini bisa didapat dengan menaikkan ISO, walaupun di siang hari.

Saat tidak bawa tripod, ISO bisa bantu foto tetap tajam

Tripod dibutuhkan untuk membuat kamera stabil saat mengambil gambar, sehingga hasil foto tidak blur karena getaran/goyang. Kenapa selama ini kita bisa memotret dengan tajam walau tanpa tripod? Jawabannya karena kebetulan kita memakai shutter speed cukup tinggi (misal 1/60 detik). Tapi coba memotret tanpa tripod dengan kecepatan 1/2 detik maka foto dijamin blur dan tidak bisa dinikmati.

Nikon D5100, 1/10 detik, f/4, ISO 6400, tanpa tripod
Nikon D5100, lensa 12mm, 1/10 detik, f/4, ISO 6400, tanpa tripod

Nah adakalanya tripod yang dibutuhkan tidak sedang bersama kita, dan tidak ada pilihan lain selain memotret dengan memegang kameranya. Maka prinsipnya kita harus membatasi kecepatan shutter jangan lebih lambat dari  nilai tertentu (biasanya memakai rumus 1/panjang fokal). Kadang dalam banyak kondisi, untuk itu kita perlu menaikkan ISO. Saat tidak memakai tripod prinsipnya adalah : lebih baik foto noise (karena ISO tinggi) tapi hasilnya tajam (tidak blur) daripada dapat foto yang foto bersih (karena ISO rendah) tapi blur.

ISO tinggi untuk aksi

Ini yang paling sulit, bagaimana jiga benda yang akan difoto bergerak? ISO tinggi adalah senjata andalan fotografer aksi, wartawan dan mungkin juga paparazi. Dengan ISO tinggi, mereka bisa memaksa kamera untuk selalu mendapat kecepatan shutter yang tinggi, sehingga bisa membekukan gerakan.

Untuk lebih pahamnya, lihat contoh foto disamping. Dengan ISO rendah, obyek yang bergerak akan gagal untuk di’bekukan’ karena speed kamera yang kalah cepat dengan gerakan si obyek. ISO tinggi akan membuat shutter speed kamera naik dan bisa membuat obyek yang bergerak jadi beku.

Di tempat yang kurang cahaya, membekukan gerakan tanpa flash menjadi tantangan yang amat sulit (walau misal sudah pakai lensa bukaan besar), dan hanya bisa dicapai dengan menaikkan ISO setinggi-tingginya . Maka itu kamera DSLR full frame akan sangat membantu untuk para jurnalis dan fotografer aksi, karena di ISO yang sangat tinggi pun (misal ISO 6400) hasil foto dari kamera DSLR full frame masih cukup bagus).

Kesimpulan

Fitur ISO sudah sedemikian akrab di telinga dan kadang kita justru tidak begitu peduli dengan potensi kegunaannya. Padahal ISO inilah yang membuat fotografi digital begitu berbeda, begitu praktis. Pahami kapan waktu yang tepat untuk memakai ISO rendah, dan sebaliknya kapan memakai ISO tinggi. Di masa lalu untuk hanya merubah ASA, orang harus menghabiskan dulu filmnya baru ganti dengan film baru. Kini tinggal tekan tombol dan ISO pun berubah. Nikmatilah..

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Mengapa harga lensa bisa begitu mahal?

Bagi yang baru punya sistem kamera interchangeable lenses (misal kamera DSLR atau kamera mirrorless) yang umumnya dipaketkan dengan satu lensa kit, tentu tertarik untuk menambah koleksi lensanya. Tapi bisa jadi anda terheran-heran saat melihat harga lensa di pasaran karena bandrol harga yang dipasang sangat fantastis. Memang sih kita tahu lensa itu adalah gabungan peranti optik-elektronik yang rumit, tapi apakah memang harus semahal itu? Padahal ada juga lensa murah yang hasilnya lumayan.

Perbadaan yang kerap dirasakan tidak masuk akal biasanya terjadi saat kita membandingkan lensa yang mirip, tapi sejatinya berbeda kelas. Misal lensa kit 18-55mm f/3.5-5.6 adalah lensa kelas consumer, harganya sejutaan. Tapi lensa 17-55mm f/2.8 yang fokalnya sangat mirip, adalah lensa profesional, yang harganya diatas 10 jutaan. Masih banyak contoh lainnya, misal antara lensa 55-200mm (2 jutaan) dan 70-200mm f/2.8 (20 jutaan), lensa fix 35mm f/1.8 dan 35mm f/1.4 dan sebagainya.

tamron-70-300-vc

Lensa kelas consumer itu dibuat untuk dibeli oleh banyak orang, sehingga biaya produksi bisa tertutupi dan tidak perlu dijual terlampau mahal. Bahannya umumnya plastik, optiknya tidak terlalu rumit, motor fokus dan sistem anti getarnya yang tidak terlalu canggih dan tidak dilengkapi dengan pelindung cuaca dan debu. Setingkat diatas kelas consumer ada kelas enthusiast alias kelas serius/hobi/menengah. Lensa semacam ini juga banyak yang pakai, tapi umumnya dibeli karena orang ingin kualitas dan performa yang lebih baik dari sekedar lensa murah. Kalau lensa kelas pro hanya dipakai oleh lebih sedikit fotografer, biasanya untuk kebutuhan kerja yang tidak mau kompromi sama kualitas, atau lokasi memotretnya di tempat yang sulit (puncak gunung, medan perang atau banyak gangguan eksternal).

sigma-18-35

Untuk membedah satu persatu penyebab harga lensa itu bisa mahal atau murah, kami sajikan alasan yang masuk akal :

  • biaya produksi, termasuk tempat lensa itu dibuat (Jepang, Cina, Thailand dsb)
  • batas ambang mutu, dimana lensa murah itu syarat lolos QC tidak berat, tapi lensa mahal itu QC lebih ketat
  • desain optik, lensa mahal umumnya punya desain yang kompleks, tapi tidak menurunkan kualitas optiknya
  • elemen lensa dan coating, yang tujuannya untuk menjaga kontras dan ketajaman
  • desain bukaan lensa, dimana lensa dengan bukaan konstan (misal f/2.8) lebih sulit dibuat
  • desain motor auto fokus, apakah memakai gelombang atau memakai motor biasa
  • desain stabilizer (bila ada) yang semakin cerdas mendeteksi getaran dan mengkompensasinya
  • konstruksi secara umum : apakah elemen depan lensa berputar atau memanjang saat memfokus (idealnya tidak)
  • versi : kebanyakan lensa di pasaran adalah versi full frame, tapi ada juga versi kecil untuk APS-C yang lebih murah
  • perlindungan cuaca yang penting bila memang dipakai di tempat yang ekstrim
  • brand image, lensa dibuat oleh Canon/Nikon dsb akan lebih mahal dibanding lensa 3rd party

Saat ini produsen lensa tidak selalu dari merk pembuat kamera. Kita tahu ada merk lensa alternatif seperti Tamron, Sigma, Tokina, Samyang dll.  Walau mereka kerap dipandang sebelah mata, tapi perlu diketahui juga kalau mereka  meluncurkan lensa-lensa yang mahal juga. Jadi harga lensa tidak bisa ditekan bila desain dan peruntukannya memang untuk kelas profesional. Simaklah betapa harga lensa Tamron/Sigma 24-70mm dan 70-200mm juga mahal, walau masih dibawah buatan Canon/Nikon.

Lalu apa kesimpulannya?

Mungkin lebih sekedar tips saja. Kalau mencari lensa murah, jangan berharap banyak akan fiturnya. Jadikan lensa murah ini untuk pemakaian harian yang biasa, atau untuk belajar. Karena murah, kami lihat tidak ada alasan untuk membeli merk alternatif. Nikon 55-200mm adalah lensa murah yang optiknya bagus, Canon 10-22mm adalah lensa wide yang harganya terjangkau.

Nikon AF-S 16-35mm f/4 G ED VR
        Nikon AF-S 16-35mm f/4 G ED VR

Di kelas pro, budget jadi penentu pengambilan keputusan. Pro dengan dana tak terbatas rasanya tidak perlu dibahas disini. Tapi profesional yang sensitif masalah harga bisa mempertimbangkan lensa pro alternatif / 3rd party. Kualitasnya memang sedikit dibawah yang Canon/Nikon tapi harga bisa terpaut banyak. Tapi untuk jangka panjang pikirkan juga apa penghematan yang dilakukan saat ini sepadan dengan resiko di masa depan? Misal saat lensa tersebut mau dijual lagi, harganya tentu beda antara yang Canon/Nikon dengan yang 3rd party. Lalu saat tiba-tiba ada isu inkompatibilitas (ingat tidak ada jaminan lensa 3rd party saat ini akan selalu kompatibel dengan bodi kamera masa depan) maka investasi mahal anda di lensa 3rd party akan jadi tidak bernilai.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Hunting foto ke Gardens by the Bay, Singapura

Bulan lalu kami sempat jalan-jalan dan hunting foto ke Gardens by the Bay, Singapura. Alasan kami memilih tempat ini dibanding tempat lainnya adalah keinginan memotret aneka ragam bunga yang ada disana, dan juga memotret super tree di waktu senja. Sebagai info, tempat ini letaknya dekat sekali dengan Marina Bay Sands, dan bangunannya memiliki dua kubah kaca yang besar. Tiket masuk ke kedua kubah adalah 28 dolar, namun kalau mau keliling di area luar kubah (termasuk melihat super tree) tidak dipungut biaya.

Gardens by the Bay
Gardens by the Bay
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Tips memilih tripod untuk travelling

Tripod tentu saja adalah aksesori wajib para fotografer. Peranti yang satu ini tidak kenal jaman, karena fungsinya dari dulu tetap sama yaitu sebagai ‘kaki’ kamera. Banyak kegunaan dari tripod saat travelling, seperti foto dengan self timer atau memotret pemandangan dengan efek kreatif. Tapi bepergian dengan membawa tripod kerap dianggap merepotkan karena ukurannya dan juga bobotnya. Kami akan membagi tips bagaimana memilih tripod yang cocok untuk travelling anda.

Pertama ada baiknya kita meninjau lagi jenis-jenis tripod yang ada di pasaran. Tripod secara umum terbagi dua yaitu tripod kamera foto dan tripod kamera video. Meski keduanya mirip, tapi ada perbedaan desain dan tentu saja fungsinya. Kali ini kita hanya akan membahas tripod yang untuk foto saja, dengan ciri ada ballhead di bagian atas untuk kebebasan komposisi, ada center coloumn untuk mengatur ketinggian tripod, serta ada tiga kaki yang bebas dilipat dan diatur panjang pendeknya.

fitur-tripod

Ditinjau dari bahan, kita bisa lihat juga ada tripod dengan bahan almunium dan bahan serat karbon. Bahan almunium relatif lebih murah namun kurang kuat, sedang yang serat karbon lebih kokoh namun cukup mahal. Keduanya punya bobot yang sama-sama ringan sehingga cocok untuk dibawa bepergian.

Saat memilih tripod, kita perlu menentukan dulu bobot kamera dan lensa (plus aksesori lain seperti flash) yang akan ditopang oleh tripod. Hal ini penting karena tiap tripod didesain untuk menahan bobot dengan nilai maksimum tertentu. Tripod yang dibebani melebihi kemampuannya bisa saja membuat kamera jadi miring bahkan jatuh, bahaya kan..

Nah, untuk  memilih tripod yang travel-friendly, ini dia tipsnya :

  • bila memungkinkan, carilah tripod yang sudah didesain khusus untuk travel sehingga fiturnya sudah dioptimasi untuk travelling
  • cari tripod dengan ruas kaki yang pendek tapi banyak, hal ini akan membuat dimensi tripod saat dilipat tampak kecil
  • carilah tripod yang ringan tapi kuat, misal berbahan almunium campur magnesium, atau serat karbon

sirui-t-025

  • kini ada juga tripod yang bisa berfungsi jadi monopod, sebuah kombinasi menarik walau agak mahal, tripod semacam ini menghindarkan kita membawa dua alat sekaligus (tripod dan monopod)

monopod-tripod

  • perhatikan fitur tambahan tripod yang kadang terlewatkan, seperti waterpass, kaitan untuk menggantung beban (supaya lebih stabil) dan busa untuk menggenggam tripod (saat cuaca dingin, busa ini mencegah tangan kita kedinginan saat memegang tripod)

benro

Itu dia tipsnya, sebagai tambahan info, kini banyak tripod dibuat berwarna warni sehingga tidak membosankan dan mudah dibedakan saat sedang hunting rame-rame. Tidak ada salahnya membeli yang warnanya tidak hitam, kalau anda suka.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Kamera apa untuk belajar fotografi

Pertanyaan ini kerap ditanyakan oleh mereka yang hendak membeli kamera dan bingung lantaran banyaknya pilihan dan jenis kamera yang ada saat ini. Hal penting yang perlu digarisbawahi dari pertanyaan diatas adalah ‘belajar fotografi’, setidaknya si penanya tahu bahwa dia punya visi akan memakai kameranya untuk mendukung hobi fotografi, bukan untuk asal jepret saja. Kita akan bahas kamera seperti apa sih yang cocok untuk belajar fotografi itu.

Kalau anda tergolong seorang snapshooter, atau yang suka memotret asal jepret saja, pada dasarnya anda tidak perlu kamera khusus, pakai saja kamera saku atau bahkan kamera ponsel. Saat ini ponsel cerdas sudah punya sensor yang resolusinya tinggi, auto fokus dan ada lampu kilatnya. Tapi jangan salah, meski cuma ponsel berkamera, dia juga bisa menghasilkan foto yang bagus, misalnya dipakai oleh orang yang paham soal komposisi atau saat ketemu momen yang tepat.

Kembali ke topik. Kalau disederhanakan, semua kamera, film dan digital, dari di ponsel sampai DSLR tentu bisa untuk belajar fotografi. Karena fotografi kan luas, tidak hanya aturan baku eksposur maupun hal-hal teknis seperti metering dan fokus. Tapi kalau dibahas soal kamera apa yang secara teknis bisa mendukung pemahaman kita terhadap dunia fotografi, nah ini mulai seru.

Idealnya, kalau kita mau puas memaksimalkan kamera kita untuk memahami fotografi, carilah kamera yang

  • punya mode manual eksposur, artinya kita bisa menentukan sendiri mau memakai shutter speed dan aperture lensanya
  • ada dudukan lampu kilat eksternal untuk kita belajar pencahayaan
  • bisa menyimpan file RAW sehingga hasil fotonya bisa diedit sendiri
  • bisa manual fokus yang berguna saat auto fokus meleset atau gagal
  • punya tombol dan roda kendali yang bisa untuk mengganti setting dengan cepat

kalau dilihat kelima item diatas, pilihannya akan mengerucut pada kamera-kamera lumayan mahal, paling tidak sudah seharga 3 jutaan. Well, ya bagaimana lagi, kalau kamera 2 juta kebawah memang lebih untuk snapshot saja dan itupun pasarnya sudah digerus oleh ponsel cerdas. Tapi kalau anda perlu kamera terjangkau yang bisa buat memahami fotografi, paling tidak poin pertama itu wajib, yaitu bisa manual eksposur. Cirinya ada mode M, yang biasanya dilengkapi juga dengan mode semi-manual seperti A (Aperture priority) dan S (Shutter priority). Dengannya, kita bisa menentukan efek kreatif seperti memakai shutter speed lambat misal untuk menghaluskan gerakan air (di pantai, sungai, air terjun dsb) atau mengatur ruang tajam (Depth of Field) dengan merubah nilai bukaan lensa.

canon-650d-stm

Jadi, kalau dananya cukup, usahakan beli kamera DSLR untuk belajar fotografi. Selain pengaturannya lengkap, hasil fotonya juga bagus. Memang mahal dan perlu beli berbagai tambahan lagi seperti lensa, flash dll tapi itu sepadan dengan ilmu yang akan kita dapat. Kalau yang suka dengan kameramirrorless pada dasarnya oke juga, dia sama seperti DSLR juga dan tentu cocok untuk belajar fotografi.

p7700

Bila dana terbatas, di kisaran 3 jutaan ada kamera non DSLR (lensanya tidak bisa diganti) yang punya kelengkapan lumayan. Misalnya bisa mode manual, ada dudukan flash dan bisa RAW. Kamera ini disebut kamera prosumer, atau bridge-camera atau kamera advance compact. Ada beberapa produk yang cukup populer seperti Canon seri-G, Nikon seri-P, Fuji seri-HS dan Lumix seri-FZ. Bila hanya perlu kamera kecil yang cukup lengkap dan canggih, ada Canon seri-S, Olympus seri-XZ dan Lumix seri-LX.

Tambahan info :

Kalau sudah beli kameranya, bisa ikuti kelas fotografi kami untuk lebih cepat paham dengan panduan dari seorang praktisi dan photography enthusiast, sekaligus penulis buku yaitu Enche Tjin. Anda bisa memilih kelas sesuai kebutuhan :

  • kelas fotografi sabtu-minggu plus belajar lighting, info disini
  • kelas fotografi malam (3 hari), info disini
  • kelas 1 hari khusus memahami DSLR Canon, info disini
  • kelas 1 hari khusus memahami DSLR Nikon, info disini
  • kelas 1 hari memaksimalkan kamera compact / saku, info disini
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..