Olympus hadirkan trio kamera PEN : E-P3, E-PL3 dan E-PM1

Hari ini Olympus mengumumkan kehadiran sekaligus tiga kamera PEN dimana dua kamera diantaranya adalah penyegaran atau upgrade rutin tahunan. Sambutlah E-P3 (penerus E-P2) sebagai flagship format Micro Four Thirds, lalu E-PL3 (penerus E-PL2) sebagai versi ‘lite’ dan E-PM1 yang ditujukan untuk menjadi kamera Micro Four Thirds termurah dalam sejarah. Seperti apa kehebatan ketiganya?

Olympus E-P3 : sang flagship

oly-e-p3

oly-e-p3b

Inilah kamera klasik Olympus PEN yang terlahir kembali di era digital dengan sensor Four Thirds (2x crop) dan segudang fitur mewah terdapat dalam bodi berbalut metal ini. Meneruskan kesuksesan E-P2 di tahun lalu, kamera Olympus E-PL3 ini kini diklaim memiliki kinerja auto fokus tercepat di dunia, bahkan lebih cepat dari DSLR.  Sebagai sensor digunakan Live MOS beresolusi 12 MP dengan kinerja burst 3 fps dan dukungan HD movie 1080p.

Olympus E-PL3 : dengan layar lipat

oly-e-pl3

Inilah versi ‘lite’ dari seri PEN dengan layar LCD yang bisa dilipat dan tetap memiliki fitur yang sama seperti E-P3 seperti sensor, auto fokus dan prosesor yang cepat serta fitur HD movie. Bedanya, E-PL3 lebih kecil dan lebih tipis dengan meniadakan lampu kilat internal. Syukurlah Olympus menyertakan lampu kilat kecil dalam paket penjualan E-PL3 yang bisa dipasang di flash hot shoe. Hebatnya, soal burst E-PL3 mengungguli E-P3 dengan 5.5 fps.

Olympus E-PM1 : mini dan mungil

oly-e-pm1

Inilah versi ‘mini’ dari Olympus PEN yang baru pertama kali diperkenalkan hari ini kepada khalayak ramai, dengan harapan para pemula dan yang dananya terbatas tetap bisa memiliki kamera mirrorless dengan sensor sekualitas DSLR.  E-PM1 punya dimensi bodi yang lebih kecil lagi dan bahkan tidak terdapat mode dial seperti sang kakak. Soal layar memang E-PM1 tidak bisa dilipat seperti di E-PL3, namun setidaknya soal sensor dan fitur lainnya masih sama memakai resolusi 12 MP, demikian juga dengan fitur HD movie dan auto fokusnya yang cepat.

Baik E-P3, E-PL3 maupun E-PM1 dijual dengan paket lensa kit 14-42mm f/3.5-5.6 meski juga ada pilihan lensa fix 17mm f/2.8 yang mungil.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Pentax Q, kamera mirrorless yang serba kecil

Apakah anda merasa kamera mirrorless yang ada saat ini masih kurang kecil? Bila jawabannya adalah iya, maka sambutlah kejutan dari Pentax yang meluncurkan Pentax Q, sebuah sistem kamera lengkap dengan berbagai pilihan lensa, dengan ukuran dan sensor kecil. Alih-alih mengikuti tren dengan memakai sensor seukuran DSLR, Pentax Q justru mengadopsi ukuran sensor kamera saku yaitu 1/2.3 inci yang tergolong sangat kecil. Keputusan ini demi memungkinkan dibuatnya berbagai lensa yang kecil dan (semestinya) terjangkau.

pentaxq

Pentax Q merupakan kamera berukuran mungil, berdesain retro klasik, dengan mount lensa Q (crop factor 5,5x !!) dan sudah sarat dengan fitur modern. Sebagai perkenalan, ditawarkan paket penjualan dengan lensa kit fix 8.5mm f/1.9 (setara dengan 47mm) seharga 8 jutaan rupiah. Sebagai sensor dipilihlah keping CMOS beresolusi 12 MP berteknologi back illuminated, meski sayang sekali ukurannya sangat kecil. Namun dengan lensa kit bukaan besar, Pentax berharap pemakai kamera Q ini tidak mencoba memakai ISO tinggi, meski kamera ini bisa mencapai ISO 6400.

Beberap pilihan lensa Q lainnya adalah :

  • Standard zoom 27.5 – 83.0 mm (equiv). satu-satunya lensa zoom yang ada saat ini
  • Fisheye (160 derajat)
  • Toy lens wide 35 mm (equiv.)
  • Toy lens telephoto 100 mm (equiv.)

Note : Toy lens maksudnya bukan lensa mainan tapi menghasilkan efek seperti toy camera.

Kamera Pentax Q sendiri punya kemampuan berimbang dengan pesaing seperti bodi berbalut magnesium alloy, stabilizer pada sensor, fitur fotografi lengkap termasuk manual mode dan RAW, 5 fps burst, HDR mode, HD movie 1080p 30fps, flash hot shoe dan LCD 3 inci. Tidak ada jendela bidik optik atau elektronik pada bodinya, tapi anda bisa membeli eksternal viewfinder optik seharga 2 jutaan.

Lalu apakah hadirnya Pentax Q ini akan mampu meraih penjualan yang baik? Tak dipungkiri dengan harga jualnya saat ini masih ada beberapa kamera DSLR atau banyak kamera lain yang harganya lebih murah. Soal kualitas hasil foto pun memang akan menjadi tanda tanya sendiri karena dipakainya sensor kecil di kamera ini. Namun apapun itu, upaya Pentax ini perlu dihargai sebagai pendorong tren baru kamera kecil dengan lensa yang bisa dilepas. Ini akan menjadi tekanan buat menggeser dominasi kamera DSLR konvensional (dengan cermin dan pentaprisma, memakai lensa besar dan berat). Saat ini tercatat hanya Canon dan Nikon, dua papan atas produsen kamera konvensional  yang masih belum mau membuat kamera mungil dengan lensa yang bisa dilepas, takut bersaing mungkin?

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Rekomendasi kamera mirrorless 6 jutaan

Dana 6 jutaan sebenarnya sudah bisa digunakan untuk mendapatkan kamera berkualitas yang cukup mumpuni untuk dipakai sebagai sarana hobi maupun urusan yang lebih serius. Bila menengok di merk Canon atau Nikon, dana sebesar itu memang sudah bisa untuk membeli satu kamera DSLR kelas pemula yang tergolong lengkap seperti EOS 550D kit atau Nikon D5100 bodi only. Tapi siapa tahu anda bosan dengan merk yang itu-itu lagi, kenapa tidak kita coba bandingkan dengan merk lain yang sudah menawarkan format kamera baru bernama kamera mirrorless.

Kamera mirrorless atau kamera tanpa cermin, merupakan salah satu bagian dari format kamera EVIL (Electronic Viewfinder, Interchangeable Lenses). Kamera mirrorless memiliki lensa yang bisa dilepas bak sebuah DSLR, memiliki sensor yang juga sama besarnya dengan sensor DSLR, namun tanpa cermin yang membuat ukuran DSLR menjadi gemuk. Sebagai konsekuensinya, tidak ada jendela bidik optik di kamera mirrorless ini. Membidik gambar bisa dilakukan dari layar LCD dan (bila ada) juga dari viewfinder bertipe elektronik. Urusan auto fokus pada kamera mirrorless terpaksa hanya memakai teknologi deteksi kontras yang agak lambat namun saat ini kinerjanya semakin disempurnakan.

Pada prinsipnya perbedaan mendasar antara merk papan atas seperti Canon/Nikon dengan kompetitor adalah dalam hal kematangan sistem. Kedua merk besar itu sudah matang dalam membuat sebuah system camera (kamera, lensa, lampu kilat dsb), sehingga produk baru yang diluncurkan ya hanya meningkatkan sedikit demi sedikit fiturnya tanpa berinovasi lebih banyak. Bandingkan dengan terus berevolusinya kamera dari Sony, Panasonic, Olympus dan juga Samsung dengan berbagai ‘percobaan’ membuat kamera dan lensa baru. Bila anda tergolong suka pembaruan dan tergoda untuk menjajal sesuatu yang berbeda, namun tidak mau terlalu banyak berinvestasi besar untuk hal yang satu ini, berikut adalah pilihan kamera mirrorless terjangkau yang bisa dimiliki dengan dana 6 jutaan.

Olympus E-PL2 kit 14-42mm

Penerus E-PL1 ini menargetkan diri sebagai kamera mirrorless terjangkau yang bernuansa retro khas seri Pen dari Olympus lawas. Olympus E-PL2 punya desain yang lebih baik dari E-PL1 dengan grip yang lebih nyaman, dengan sensor 4/3 (crop factor 2x) dengan mount micro Four Thirds dan stabilizer pada sensornya. Meski mungil dan tak dilengkapi jendela bidik, kamera 12 MP ini sudah memiliki semua pengaturan manual eksposur dan termasuk untuk urusan merekam video HD 720p. Urusan auto fokus diklaim sudah lebih cepat dari E-PL1 demikian juga dengan kinerjanya secara umum. Sebagai lensa kit tersedia Zuiko 14-42mm (ekivalen 28-84mm) f/3.5-5.6 dengan diameter 37mm saja.

olympus-e-pl2

Direkomendasikan untuk : fotografer yang menyukai bentuk lensa yang kecil (apalagi kalau pakai lensa pancake) dan yang ingin semua lensanya bisa mendapat efek stabilizer.

Lumix GF-2 kit 14-42mm

Sebagai pesaing langsung dari E-PL2, Panasonic yang juga penggagas format Micro Four Thirds menawarkan Lumix GF2 dengan spesifikasi mirip yaitu sensor 4/3 beresolusi 12 MP, namun urusan stabilizer diserahkan pada lensa OIS tertentu. Salah satu keistimewaan kamera ini adalah layar sentuhnya yang modern dan mampu merekam video full HD 1080i stereo. Soal auto fokus tak perlu diragukan karena Lumix dalam setiap seri kamera Micro Four Thirds memiliki kecepatan fokus yang mendekati kamera DSLR.

Sebagai lensa kit tersedia pilihan Lumix G Vario 14-42mm (ekivalen 28-84mm) f/3.5-5.6mm OIS dengan diameter 52mm atau lensa fix Lumix G 14mm (ekivalen 28mm) f/2.5 diameter 46mm non OIS.

lumix-gf2

Direkomendasikan untuk : penyuka gadget canggih, suka layar sentuh, banyak merekam video dan suka telefoto dengan stabilizer di lensa.

Sony NEX-5 kit 18-55mm

Sony memperkenalkan kamera mirrorless mereka setahun silam dengan nama NEX yang memakai sensor DSLR APS-C dengan crop factor 1,5x. Untuk NEX-5 ini bahkan digunakan sensor beresolusi 14 MP dan bodi berbalut magnesium alloy yang ringan namun kuat. Mengusung mount khusus bernama E-mount, Sony NEX ini bisa dipasangi lensa Alpha mount dengan adapter khusus. Fiturnya cukup menjanjikan mulai dari kendali manual eksposur, layar LCD lipat dan full HD movie. Sebagai kompetitor Sony NEX, di lain pihak ada juga Samsung NX series yang sayangnya agak sulit ditemui di pasaran dalam negeri. Untuk lensa kit dari NEX ini tersedia Sony lens 18-55mm OSS f/3.5-5.6 dengan diameter filter 49mm atau pancake 16mm f/2.8 dengan E mount tentunya.

nex-3

Direkomendasikan untuk : fotografer yang suka memotret low light dengan noise rendah (layaknya DSLR) dan yang suka berbagai fitur pengolah gambar di dalam kamera (sweep panorama, auto HDR dsb).

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Apa yang harus dilakukan bila kamera terjatuh?

waterBeberapa kamera digital sudah dibuat untuk bisa bertahan akan benturan, air dan debu. Tapi kamera semacam itu jumlahnya tidak banyak dan harganya juga mahal. Bila kamera anda bukan tergolong kamera tahan benturan, perlakukan dia dengan hati-hati. Namun bila tanpa sengaja kamera anda lepas dari genggaman hingga terjatuh, apa yang harus dilakukan? Inilah saran dari kami.

Pertama tentu kita menyadari bahwa tempat jatuhnya kamera bisa memberikan dampak yang berbeda-beda. Jatuh di kasur, jatuh di lantai, jatuh di tanah atau jatuh di air. Bahan yang keras seperti lantai akan berpotensi merusak bodi kamera hingga memecahkan lensanya, dan peluang untuk kamera bisa selamat menjadi lebih kecil. Jatuh di air sebaliknya memang tidak merusak bentuk kamera namun bisa membuat kamera mati total untuk selamanya.

Bila kamera jatuh di permukaan yang keras

Langkah pertama adalah periksa secara fisik, bagaimana bentuk kamera setelah terjatuh, apakah utuh, retak, pecah atau ada bagian yang terlepas / terpisah. Bila anda masih cukup beruntung, kamera mungkin hanya agak sedikit retak namun bentuknya masih utuh. Periksalah kondisi lensanya, bila kamera jatuh dalam kondisi mati mungkin lensanya masih tersimpan di dalam bodi, namun bila lensa sedang menonjol keluar bisa saja ada bagian lensa yang pecah atau bengkok. Bila lensa atau kamera pecah maka tidak ada yang bisa anda lakukan selain membawanya ke tempat perbaikan resmi.

Bila kamera tampak utuh dan lensanya tampak baik-baik saja, langkah kedua periksa apakah kamera tetap hidup (bila saat jatuh dalam kondisi on) atau periksa apakah kamera bisa dihidupkan (bila saat jatuh dalam kondisi off). Bila kamera enggan menyala setelah jatuh, ini kabar buruk buat anda. Segeralah membawa kamera ke pusat perbaikan resmi yang terdekat.

Namun bila kamera mau menyala, periksa apakah mekanisme zoom tidak bermasalah dengan melakukan zoom in dan zoom out. Bila lensa terbentur bisa saja zoom macet dan kamera akan memberitahukan ada yang salah dengan gerakan maju mundur lensa. Bila secara fisik nampak lensa bengkok, bisa juga dicoba sedikit dibantu untuk diluruskan dengan tangan, namun harus sangat hati-hati dan dengan dorongan lembut. Bila berhasil maka lensa bisa bergerak normal lagi, namun bisa terasa keras jangan dipaksakan dan matikan segera kamera anda, bawalah ke service resmi.

Terakhir, bila setelah terjatuh kamera bisa menyala normal dan zoom juga tidak masalah,  cobalah dipakai untuk memotret dan rasakan apakah ada perbedaan misal dalam proses auto fokusnya, lalu jepretlah beberapa kali dan periksa apa ada kejanggalan dalam hasil fotonya.

Bila kamera jatuh di air

Ini bukan sesuatu yang mudah. Bila kamera jatuh ke air dalam keadaan menyala, besar kemungkinan kamera akan rusak, selamanya. Bila kamera dalam keadaan mati jatuh ke air, segera mungkin angkat dan lepaskan baterai dan kartu memori. Upayakan untuk menggoyang kamera hingga air yang sempat masuk ke dalam kamera setidaknya bisa dikeluarkan. Pada tahap ini kemungkinan besar sirkuit elektronik didalamnya sudah basah, demikian juga dengan sensor dan lensa mungkin sudah terkena air. Anda boleh juga mengupayakan agar kamera menjadi kering dengan menyimpan kamera di kotak dengan silica gel atau serap-air selama seminggu, atau meniupkan hair dryer ke sela-sela kamera, namun jangan berharap banyak. Bila sudah cukup kering, dalam kondisi baterai tetap dilepas, bawa segera kamera anda ke pusat perbaikan resmi.

Memang tidak mudah, dan kebanyakan kamera akan perlu dibawa ke pusat perbaikan resmi. Ingat untuk hal semacam ini tidak didukung oleh garansi karena kesalahan ada di pihak pengguna. Maka itu lebih baik mencegah daripada mengobati, gunakan kamera dengan hati-hati dan bila kita memang akan memakai kamera di kondisi ekstrim sebaiknya memakai kamera khusus yang didesain tahan air, tahan banting, tahan debu dan tahan beku.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Tentang video High Definition

Tahun ini calon pembeli kamera digital akan merasa dimanjakan oleh produsen kamera karena hampir semua kamera buatan tahun 2010-2011 sudah memiliki kemampuan merekam video beresolusi High Definition (HD). Agak berbeda dengan tahun-tahun lalu di saat video HD masih merupakan fitur mewah yang hanya dijumpai pada kamera mahal saja. Kini disaat video HD sudah begitu umum, apakah anda sudah memahami seluk-beluk mengenai fitur yang satu ini? Bila belum, semoga artikel ini ada manfaatnya.

sanyo-xacti

Video HD pada kamera digital merupakan babak baru konvergensi kamera foto dan video. Dulu, kamera foto yang bisa merekam video sifatnya hanyalah untuk klip pendek yang kualitasnya jauh dari memadai. Bahkan dulu dikatakan kalau untuk merekam video ya pakailah camcorder, bukannya kamera foto. Tapi seiring meningkatnya evolusi kamera digital, bahkan pada DSLR, serta semakin baiknya teknologi prosesor di dalam kamera, maka fitur video beresolusi tinggi semakin mudah diwujudkan di kamera digital. Bila sudah begini, apakah kita masih membutuhkan camcorder lagi?

Untung rugi video HD

Tidak seperti format SD (Standard Definition) yang biasa kita lihat di TV konvensional (yang memakai aspek rasio 4 banding 3), video HD memiliki aspek rasio 16 banding 9 atau format layar lebar. Ada dua macam format HD yang ditawarkan produsen kamera, yaitu HD 720 (1280 x 720 piksel) dan HD 1080 (1920 x 1080 piksel). Kedua format video HD ini sudah memenuhi standar kualitas video untuk broadcast, bila dilihat dari resolusinya. Dalam industri cakram video, video HD dijadikan standar pada keping Blu-ray yang berkapasitas 25 GB per kepingnya. Ketajaman dan detilnya jauh di atas format SD dengan resolusi VGA (640 x 480 piksel) apalagi yang QVGA (320 x 240 piksel). Format VGA sendiri hampir mendekati kualitas video dari keping DVD (720 x 480 piksel), sedang QVGA hampir menyamai resolusi video jaman era VCD dulu (325 x 288 piksel).

hd-movie

Jadi keuntungan video HD adalah dalam hal kematangan teknologi video, dengan resolusi yang sudah sama dengan kualitas broadcast maupun Blu-ray disc. Maka itu video HD pasti kompatibel dengan beragam TV LCD, LED atau plasma yang memiliki label HDTV. Tapi di sisi lain dengan naiknya resolusi, tentu selain membuat tayangan video menjadi tajam dan detil, juga membawa efek samping yang logis yaitu besarnya ukuran video tersebut. Bila tadinya dengan format VGA sebuah materi video berdurasi 10 menit hanya berukuran 1 GB, maka dengan format HD sebuah video dengan durasi yang sama bisa berukuran sampai 4 GB. Artinya untuk merekam video HD sebuah kamera perlu punya prosesor lebih kencang dan buffer lebih besar untuk menampung tingginya data rate dari video HD. Ditambah lagi kartu memori yang digunakan harus yang punya kemampuan penulisan data yang tinggi. Saat file video HD dipindah ke komputer, kita perlu ruang sisa yang besar pada harddisk dan perlu kinerja prosesor komputer yang tinggi pula untuk melakukan editingnya.

Lebih jauh tentang video HD

Kali ini kami akan mengulas lebih jauh tentang video HD, semoga anda semakin bisa memahami dan bisa menentukan pilihan berdasarkan kebutuhan masing-masing.

HD 720 atau HD 1080?

HD 720 atau resolusi 1280 x 720 piksel merupakan resolusi minimum untuk sebuah video supaya layak disebut sebagai video HD. Sedangkan HD 1080 atau resolusi 1920 x 1080 merupakan resolusi ideal dari sebuah video HD (biasa disebut dengan full HD). Perbedaan keduanya tidak begitu signifikan saat ditonton di layar televisi, namun sangat berbeda dalam ukuran file. Bila tujuan utamanya adalah mengejar kualitas maka tentu HD 1080 jawaban utama, tapi bila sekedar ingin menikmati video HD maka HD 720 sudah sangat mencukupi untuk sehari-hari.

720p-vs-1080p

Contoh di atas menggambarkan bedanya kualitas HD 1080 (kiri) melawan HD 720 (kanan) dimana HD 720 masih nampak kotak-kotak alias kurang detail / kurang halus bila dibanding dengan HD 1080.

Progressive atau Interlaced?

Progressive saja. Interlaced itu teknik scanning jaman dulu yang sudah ditinggalkan. Biasanya produsen akan menuliskan huruf ‘p’ atau ‘i’ di belakang kode HD video. Misal HD 720p atau HD 1080i. Umumnya semua format HD 720 sudah progressive, sedang format HD 1080 masih ada yang interlaced.

interlaced

Gambar di atas menunjukkan ciri dari video interlaced yaitu memiliki garis-garis hasil scanning.

Sensor CCD atau CMOS?

Sensor CCD dan CMOS keduanya bisa dipakai untuk merekam video. Karena sifat fisika dari sensor itu sendiri, maka sensor CCD hanya sanggup mendukung HD 720 sedang CMOS bisa HD 1080. Bahkan sensor CMOS bisa membuat klip video dengan berbagai pilihan frame per detik mulai dari 24 fps, 30 fps dan 60 fps. Sensor CCD punya kelemahan saat merekam titik terang dimana akan terjadi kebocoran piksel yang tampak nyata (istilahnya blooming). Efek ini bisa dilihat di layar saat preview (sebelum merekam) maupun pada hasil rekaman videonya.

rolling-shutter

Sensor CMOS aman dari blooming tapi punya masalah dengan gerakan, dimana kalau kamera (atau obyek) bergerak saat merekam video maka akan terjadi efek skew akibat rolling shutter. Ini terjadi karena proses pengambilan data dari tiap baris piksel di sensor CMOS dilakukan secara berurutan (pada CCD dilakukan sekaligus). Efek rolling shutter akan membuat garis tampak melengkung dan cukup mengganggu, seperti contoh pada gambar di atas.

Kompresi MPEG4-AVC (H.264) atau M-JPEG?

h264Dalam dunia broadcast, MPEG-4 generasi ke 10 (atau H.264) sudah diakui sebagai teknik kompresi standar, menggantikan MPEG-2 yang sudah mulai uzur. Kelebihan kompresi ini adalah efiesiensi yang tinggi sehingga meski sebuah video memakai format full HD 1080 namun masih memiliki ukuran yang relatif kecil. Tidak semua kamera HD menyediakan teknik kompresi ini, umumnya hanya menyediakan kompresi konvensional yaitu Motion JPEG.

Kamera yang memakai codec MPEG-4 AVC akan menyimpan file videonya dengan ekstensi MPG, sedang codec MJPEG akan memberi ekstensi filenya dengan MOV. Sebagai pembanding, untuk melakukan video editing memakai file MPEG-4 masih merupakan kendala tersendiri. Beda dengan mengedit video MOV yang bisa dilakukan pakai program editing apa saja.

Stereo atau mono?

Apalah artinya sebuah video HD bila suaranya jelek. Untuk itu tata suara stereo tetaplah lebih disukai daripada mono. Tidak banyak kamera yang menyediakan microphone stereo built-in, perhatikan lagi spesifikasi dari masing-masing kamera. Tentu saja kamera yang mampu merekam audio stereo memiliki dual mic yaitu kiri dan kanan seperti contoh berikut ini :

stereo

Zoom optik atau digital zoom?

Awalnya, dan saat ini juga masih banyak, kamera tidak bisa melakukan zoom optik saat merekam video. Alasan utamanya karena zoom optik memakai motor yang bunyinya akan ikut terekam dalam video. Kini beberapa kamera sudah mulai membolehkan kita melakukan zoom optik, entah dengan memperbaiki motor zoomnya atau dengan mematikan mic sejenak saat zoom. Kamera yang zoomnya manual (diputar di lensa) tentu tidak masalah dengan bunyi motor ini.

Bila kamera tidak mengizinkan zoom optik, cek apakah ada fitur digital zoom untuk video. Berbeda dengan digital zoom pada foto yang membuat hasilnya jadi jelek, zoom digital pada video hanya melakukan cropping dan semestinya bisa menjaga kualitas video tetap baik.

Kamera biasa atau kamera DSLR/sensor besar?

Ini yang penting. Fitur HD movie disedikan di berbagai macam kamera, mulai dari kamera saku, kamera DSLR dan kamera mirrorless. Meski mengusung resolusi yang sama, tidak semua kamera memiliki ukuran sensor yang sama. Sensor kecil kurang sensitif terhadap cahaya, dan akan noise bila dipaksakan untuk merekam di kondisi kurang cahaya. Sensor besar akan lebih peka menangkap cahaya di kondisi low light sehingga kalaupun terpaksa merekam tanpa bantuan lampu yang memadai, merekam memakai kamera  sensor besar seperti kamera mirrorless (misal Micro Four Thirds) apalagi kamera DSLR akan lebih mudah.

low_light

Selain dalam hal sensitivitas terhadap cahaya, perbedaan sensor antar kamera akan mempengaruhi DoF (depth of field) dari rekaman video. Kamera saku atau kamera dengan sensor kecil akan memberi ruang tajam yang luas, bisa dibilang area yang dekat dan jauh dari kamera akan sama-sama fokus. Untuk itu fitur auto fokus saat merekam video dengan kamera sensor kecil tidak terlalu jadi issue serius. Di lain pihak, kamera sensor besar akan sangat sensitif terhadap fokus. Efek video yang diambil dengan sensor besar akan menyerupai film bioskop (cinematic effect) sehingga tampak profesional (bila dilakukan dengan benar). Namun bila tidak tepat dalam mengatur fokus, maka akan mudah terjadi kasus out of focus yang mengganggu seperti contoh di bawah. Hal ini diperparah dengan kebanyakan DSLR tidak bisa auto fokus saat merekam video, kitalah yang harus mengatur fokusnya secara manual di lensa.

dsc_0023

Kesimpulan

Fitur video HD sudah di depan mata, menjadi standar umum dan tersedia secara luas. Tentukan dulu kebutuhan kita sebelum membeli, karena meski semua kamera sudah mengusung logo HD tapi belum tentu sesuai keinginan kita. Beberapa fakta tak bisa dipungkiri seperti besarnya ukuran file video HD dan betapa repotnya berurusan dengan file-file berukuran besar. Tentukan dengan bijak preferensi anda, apakah cukup HD 720 atau HD 1080, apakah mau H.264 atau MJPEG. Kenali efek blooming (untuk sensor CCD) atau skew (untuk CMOS) dan hindari kondisi perekaman video yang berpotensi menghasilkan efek tersebut. Buatlah prediksi apakah anda akan sering merekam video di dalam ruangan (cenderung gelap) atau di luar yang terang? Terakhir, apakah hasil video yang anda inginkan nantinya seperti film bioskop atau cukup yang biasa-biasa saja. Selamat memilih..

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Nikon Coolpix P300, kamera mungil dengan lensa f/1.8

Kamera saku dengan lensa yang punya bukaan besar tergolong jarang, kalaupun ada harganya sangat mahal. Hal ini karena biaya produksi lensa bukaan besar lebih tinggi dari lensa pada umumnya. Tercatat sudah ada beberapa merk yang lebih dahulu membuat kamera semacam ini, sebutlah misalnya Lumix LX-5, Canon S95, Samsung TL500 dan Olympus XZ-1. Sadar kalau agak terlambat, Nikon akhirnya memutuskan bergabung di kancah ini dengan meluncurkan kamera Coolpix P300 dengan lensa f/1.8 yang mengesankan. Simak ulasan kami selengkapnya.

p300_a

Sebagai pembuka, inilah spesifikasi dasar dari Nikon Coolpix P300 :

  • sensor CMOS resolusi 12 MP ukuran 1/2.3″
  • teknologi back-illuminated sensor
  • prosesor Expeed C2
  • ISO 3200, burst 7 fps
  • lensa Nikkor 24 – 100 mm f/1.8-4.9 (4,2x  zoom optik)
  • VR Optical
  • LCD 3 inci, resolusi 920 ribu piksel
  • Manual mode lengkap, tapi tanpa RAW
  • HD 1920 x 1080 (30 fps),suara stereo, bisa zoom optik saat merekam video
  • HDMI output

p300_b

Dilihat dari bentuknya, P300 tampil manis dengan bahan logam dan ukurannya cukup kecil dengan ergonomi dan tata letak tombol yang baik. Ada dua kendali manual di kamera ini, yaitu satu di bagian atas (berbentuk putaran dekat tombol shutter) dan satu lagi di belakang berbentuk roda yang mengelilingi tombol OK. Tidak ada ring di lensa layaknya Canon S95 ataupun Olympus XZ-1 disini. Lampu kilat tampil tersembunyi dan akan menonjol keluar bila dibutuhkan. Terdapat tombol langsung untuk merekam video di bagian belakang.

p300_c

Tentang lensa cepat / bukaan besar

Kita tinjau dulu dari kebutuhan lensa bukaan besar dalam fotografi. Prinsipnya setiap lensa punya diafragma yang punya diameter tertentu, bisa dibuat lebih besar (untuk memasukkan lebih banyak cahaya) atau dibuat mengecil. Tentunya ada nilai bukaan maksimal (dan minimal) untuk setiap lensa, dan ini dinyatakan dalam f-numberLensa yang punya bukaan besar biasa disebut lensa cepat, artinya bisa memakai kecepatan shutter tinggi. Umumnya bukaan maksimal lensa di pasaran berkisar antara f/2.8 hingga f/3.5 dimana f/2.8 punya bukaan yang lebih besar daripada f/3.5. Nah, kedua kamera ini punya lensa dengan bukaan f/2.0 yang secara teknis artinya sanggup memasukkan cahaya 2x lebih banyak daripada f/2.8. Jadi lensa f/2.0 identik dengan lensa cepat, berguna saat ingin memakai kecepatan shutter tinggi atau saat memotret di tempat low light (yang pastinya kecepatan shutter akan turun dengan drastis).

Peta persaingan

Hasrat memproduksi kamera saku yang bisa diandalkan di daerah low light bisa diwujudkan dengan dua hal, pertama mendesain lensa bukaan besar dan memakai sensor yang lebih besar dengan resolusi yang tidak terlalu tinggi. Nikon P300 ini hadir dengan lensa 24-100 mm f/1.8-4.9 yang memang tampil mengesankan dalam rentang fokal (terutama kemampuan wide 24mm) serta bukaan yang besar (f/1.8 di posisi wide) namun agak mengecewakan saat tele dengan bukaan hanya f/4.9 saja. Mengherankan saat hadir belakangan, Nikon justru tidak mencontoh pesaing dengan lensa yang lebih baik (Lumix LX-5 itu f/2.0-3.3 dan Olympus XZ-1 itu f/1.8-2.5) namun tampaknya hanya ingin bersaing dengan Canon S95 yang lensanya f/2.0-4.9 saja.

Canon S95 vs Nikon P300 vs Olympus XZ-1
Canon S95 vs Nikon P300 vs Olympus XZ-1

Bila dalam urusan lensa memang Nikon P300 tampil sekelas, bahkan lebih baik dari Canon S95. Namun dalam ukuran sensor, P300 ini justru mengecewakan dengan memakai sensor kecil dengan resolusi tinggi. Untuk bisa diandalkan di low light, produsen lain membuat kamera dengan sensor agak besar dengan ukuran 1/1.6 inci, sedangkan P300 justru memilih sensor ukuran 1/2.3 inci yang lebih rentan noise di ISO tinggi. Hal ini semakin runyam saat Nikon justru mencoba memakai resolusi 12 MP padahal pesaing sudah menemukan titik rasio ideal antara ukuran sensor dan resolusi, yaitu 10 MP untuk sensor 1/1.6 inci.

Jadi Nikon Coolpix P300 memang tampaknya bukan untuk menyaingi rajanya lensa cepat seperti Lumix LX5 atau Olympus XZ-1. Bahkan untuk bisa menandingi Canon S95  juga berat karena Canon punya sederet keistimewaan seperti sensor lebih besar, ring di lensa dan adanya file RAW format. Jadilah P300 ini serba tanggung, hasrat ingin tampil sekelas dengan pesaingnya namun ditinjau dari isinya ternyata tak berbeda dengan kamera saku biasa. Bisa dibilang P300 justru mirip dengan Canon Ixus 300HS yang lensanya 28-105 mm f/2.0-5.3 dan sensor ukuran 1/2.3 inci. Lebih uniknya lagi, harga jual Nikon P300 memang dipatok dikisaran 3 jutaan saja, jauh lebih murah dari Canon S95 apalagi Lumix LX5 dan Olympus XZ-1. Jangan-jangan Nikon sengaja menyasar segmen pembeli yang ingin punya kamera seperti Canon S95 namun dengan harga yang lebih murah. Mungkin di kesempatan lain Nikon akan membuat Coolpix lain dengan lensa cepat di posisi wide maupun tele, sensor lebih besar dan fitur lebih lengkap sehingga benar-benar bisa bersaing dengan pemain besar lainnya.

Sebagai kesimpulan, inilah plus minus Nikon P300 :

Plus :

  • fokal lensa bermula di 24mm f/1.8
  • full HD movie, stereo
  • layar LCD tajam dan detail
  • punya dua kendali putar
  • burst cepat
  • harga cukup terjangkau

Minus (dibanding kamera lensa cepat lainnya) :

  • bukaan lensa kecil saat tele (f/4.9)
  • sensor 35% lebih kecil
  • resolusi 12 MP terlalu tinggi untuk mendapat foto rendah noise
  • tidak ada RAW file
  • tidak ada flash hot shoe
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Nikon Coolpix P500 pecahkan rekor superzoom dengan lensa 36x zoom

Persaingan antar merk kamera memang seakan tak ada habisnya. Bila dulu kekuatan zoom lensa pada sebuah kamera hanya berkisar antara 3-10x zoom, maka kini sudah tak aneh lagi kalau ada lensa yang bisa punya kekuatan zoom hingga 30x. Nikon kali ini bahkan memecahkan rekor sebagai kamera dengan lensa zoom terpanjang di dunia dengan 36x zoom atau lensa 22.5-810 mm dengan meluncurkan kamera Coolpix P500.

p500a

Kamera penerus P100 ini kini memakai sensor CMOS 12 MP dan mengusung fitur HD movie yang mewah, lengkap dengan audio stereo dan kemampuan zoom saat merekam video. Dengan bentuknya yang tak banyak berbeda dengan kamera superzoom lainnya, tersimpan rahasia Nikon yang mampu mengemas lensa 36x zoom dalam dimensi yang kompak. Kkamera yang bobotnya tidak sampai 500 gram ini mampu menampung lensa Nikkor ED 22.5-810 mm f/3.4-5.7 yang sangat efektif untuk landscape dengan wideangle-nya di 22.5 mm dan mampu menjangkau sangat jauh dengan telephoto hingga 810 mm.

p500b

Anda mungkin bertanya-tanya untuk apa lensa dengan kemampuan tele sejauh itu, mengingat dalam pemakaian sehari-hari fokal lensa 200 mm saja sudah sangat memadai untuk urusan tele biasa. Tapi itulah kompetisi, setidaknya Nikon di atas kertas sudah menorehkan sejarah sebagai kamera dengan lensa zoom sangat panjang.

p500c

Terlepas dari lensanya, fitur lain yang ditawarkan cukup baik dan layak untuk dinobatkan sebagai kamera all round yang ekonomis namun sarat fitur. Kamera dengan harga di bawah 4 juta ini sudah memiliki fitur seperti :

  • sensor CMOS teknologi back-illuminated
  • layar LCD lipat ukuran 3 inci dengan resolusi tinggi 920 ribu piksel
  • kendali manual lengkap
  • burst 5 fps
  • Full HD video (1920 x 1080) 30 fps
  • HDR, Night Landscape, dan Advanced Night Portrait untuk foto malam

Tak dipungkiri hadirnya Coolpix P500 akan meramaikan pasaran kamera superzoom dan mungkin merk lain akan membuat produk sejenis dan persaingan ini akan berdampak positif untuk menekan harga jual. Kita tunggu saja..

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Enam kamera saku 12 MP harga cuma 1 jutaan

Pilihan dan persaingan kamera digital semakin beragam, fitur semakin baik dan harganya semakin murah. Kabar baik tentunya, karena mungkin banyak juga yang mencari kamera saku murah meriah hanya sekedar untuk dokumentasi keluarga atau yang ingin mendapat hasil foto yang lebih baik dari kamera ponsel. Dengan dana satu jutaan, ada beberapa pilihan kamera saku yang tersedia di pasaran yang fiturnya memang mendasar tapi sudah mencukupi untuk mulai memotret.

Sebelum melihat keenam produk kamera murah ini, saran kami anda perlu memaklumi dulu bahwa kamera bisa dibuat lebih murah dengan berbagai kompromi. Hal yang umum dilakukan untuk menekan harga jual adalah meniadakan beberapa fitur yang agak penting seperti stabilizer dan fitur manual. Tanpa stabilizer, kamera akan sulit dipakai di kondisi kurang cahaya karena hasil fotonya akan blur, sedang tanpa fitur manual artinya kita hanya bisa memakai mode Auto saja. Soal lensa meski tetap memenuhi syarat kelayakan, namun tentu bukan lensa kelas atas yang punya kualitas optik tinggi, bukan pula lensa dengan zoom panjang yang lebih sulit diproduksi. Soal sensor, kabar baiknya (atau kabar buruknya, tergantung dilihat dari mana) semuanya sudah memakai sensor CCD beresolusi tinggi 12 MP.

Inilah daftar yang kami susun dari beberapa pilihan yang ada di pasaran saat ini, selamat memilih.

Canon Powershot A3100 IS (1,2 jutaan)

a3100-is

Kamera ini memakai lensa Canon lens 4x zoom, 35-140 mm f/2.7-5.6 dengan layar LCD 2,7 inci dan baterai Lithium.

Plus : sudah dilengkapi stabilizer

Minus : masih VGA movie

Panasonic Lumix FH-1 (1,1 jutaan)

panasonicfh1

Kamera ini memakai lensa  Lumix DC Vario lens 5x zoom, 28-140 mm f/2.8-6.9 dengan layar LCD 2,7 inci dan baterai Lithium.

Plus : sudah dilengkapi stabilizer, bisa HD movie 720p, lensa wide 28mm

Minus : bukaan maksimal saat tele sangat kecil dengan f/6.9

Nikon Coolpix S3000 (1,1 jutaan)

s4000red

Kamera ini memakai lensa Nikkor lens 4x zoom, 27-108 mm f/3.2-5.9 dengan layar LCD 2,7 inci dan baterai Lithium.

Plus : lensa wide 27mm

Minus : masih VGA movie, tanpa stabilizer

Casio Exilim EX-Z90 (1,2 jutaan)

exilim-ex-z90

Kamera ini memakai lensa Exilim lens 3x zoom, 35-105 mm f/3.1-5.9 dengan layar LCD 2,7 inci dan baterai Lithium.

Plus : ada HD movie 720p 24 fps

Minus : tanpa stabilizer

Fuji FinePix JX200 (1,3 jutaan)

jx200

Kamera ini memakai lensa Fujinon lens 5x zoom, 28-140mm f/3.6-5.9 dengan layar LCD 2,7 inci dan baterai Lithium.

Plus : lensa wide 28mm, ada HD movie 720p 30 fps

Minus : tanpa stabilizer, lensa lambat f/3.6

Sony Cybershot S2100 (1,1 jutaan)

sonys2100

Kamera ini memakai lensa Sony lens 3x zoom, 35-105mm f/3.1-5.6 dengan layar LCD 3 inci dan baterai 2x AA.

Plus : layar lebih besar, baterai AA mudah dicari di toko

Minus : masih VGA movie, tanpa stabilizer

Kesimpulan

Dari pilihan yang ada, tampak semuanya memiliki fitur yang hampir sama meski ada satu dua kamera yang menonjol. Pertama, hanya ada dua pilihan kamera yang memakai stabilizer yaitu Canon A3100 IS dan Lumix FH-1. Kedua, ada beberapa kamera yang lensanya wide yaitu Lumix FH-1, Nikon S3000 dan Fuji JX200. Ketiga, ada beberapa kamera yang bisa merekam video dalam format 1280 x 720 piksel yaitu Lumix FH-1, Casio EX-Z 90 dan Fuji JX200. Lalu apa keunggulan Sony S2100? Hampir tidak ada, kecuali layarnya yang agak lebih besar dan memakai baterai AA bila anda suka. Lalu siapakah yang terbaik dari enam kamera ekonomis ini? Jawabannya jelas, yaitu Panasonic Lumix FH-1 sebagai kamera saku yang murah, lensanya berkekuatan 5x zoom optik, bisa wideangle 28mm, bukaan besar f/2.8 dan dilengkapi stabilizer, serta mampu merekam video dalam format HD 720p 30 fps dalam kompresi MPEG.

Bila anda suka artikel ini dan hendak membantu kami dalam operasional pemeliharaan website (biaya internet, hosting, domain dsb) pertimbangkan membeli produk fotografi melalui kami yang telah didukung oleh sponsor situs ini, yaitu Tokocamzone. Dengan membeli melalui kami, anda sudah ikut membantu kami untuk terus membantu pembaca lainnya dengan membuat artikel bermutu.
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..