Outdoor sepuasnya dengan Lumix FT3

Suka berpetualang sekaligus memotret? Anda tentu sudah memaklumi kalau kamera digital memang tidak selalu bisa mendukung hobi berpetualang, apalagi kalau sudah berurusan dengan air, debu atau benturan. Salah-salah kamera bisa kemasukan air atau mengalami keretakan di lensa saat terbentur. Ngeri kan? Untuk itu beberapa produsen kamera telah membuat kamera saku khusus outdoor dengan berbagai pilihan yang tahan berbagai unsur alam seperti air, debu dan salju. Kali ini Panasonic memperkenalkan Lumix FT3, kamera saku untuk outdoor yang bisa diandalkan sebagai alat bantu fotografi maupun alat bantu dalam berpetualang.

Ditinjau dari spesifikasinya memang kamera Lumix FT3 tergolong standar, alias tidak berbeda dengan kamera saku generasi sekarang seperti lensa 28-128mm (4.6x zoom) dan sensor CCD 12 MP. Kamera ini juga bisa sampai ISO 1600, memiliki layar LCD 2,7 inci dan hanya memiliki mode Auto saja. Untuk urusan video kamera ini sangat baik dengan kemampuan full HD movie 1080i dengan AVCHD lite, Dolby Digital, lampu LED bisa dihidupkan dan lensa bisa di zoom optik saat merekam video.

lumix-ts3

lumix-ts3b

lumix-ts3c

Tapi apa sebenarnya yang membuatnya istimewa? Tentu adalah kemampuan outdoornya yang menawan dan sementara ini belum ada yang menandingi :

  • tahan air hingga kedalaman 12 meter (bisa hingga 40m dengan case tambahan)
  • tahan beku hingga -10 derajat
  • tahan benturan hingga ketinggian 2 meter
  • tahan debu
  • fitur GPS dan kompas
  • alat ukur ketinggian / kedalaman
  • alat ukur tekanan udara
Sebagai catatan, rata-rata kamera outdoor hanya sanggup bertahan di dalam air hingga 3 meter saja. Semakin dalam kemampuan kamera di bawa menyelam, semakin rumit desain seal di dalamnya. Berikut kutipan dan desain konstruksi dari situs Lumix :
Thanks to rubber padding and reinforced glass inside the camera, the DMC-TS3(FT3) features an airtight body protected against water immersion, dust and sand. Previously, there were separate terminal covers but these are relocated at one part covered by a single door. With the minimum apertural area, the DMC-TS3(FT3) boasts even higher tightness of sealing to withstand pressure in underwater as deep as 12m.
In addition to reinforcing the exterior of the camera with shock-resistant material, the DMC-TS3(FT3) uses folded optics to prevent its lens unit from taking damage when dropped during operation. The lens unit is protected by a supplementary damper to absorb the force from shock impact. All components are reexamined to endure the temperature as low as -10 degrees C to make the freezeproof.

structural-fs3

Selain dipakai untuk memotret kegiatan di luar, kamera ini juga bisa dijadikan teman bantu dalam berpetualang. Adanya GPS dan berbagai alat ukur di dalamnya seperti altimeter dan barometer akan memberikan informasi berguna yang menghindarkan anda dari tersesat saat di hutan, atau mengetahui sudah seberapa dalam anda menyelam. Informasi yang didapat dari hasil pengukuran akan terdata di EXIF foto dan juga bisa ditampilkan di layar seperti contoh berikut ini :

shooting_fs3

Lihat nomor pada gambar contoh tampilan layar kamera di atas, inilah penjelasannya :

  1. Indikator ketinggian yang berguna saat mendaki gunung.
  2. Indikator kedalaman yang berguna saat menyelam.
  3. Indikator jarum kompas yang berguna saat membaca peta.
  4. Indikator koordinat (lintang dan bujur) untuk geotagging maupun navigasi (WGS84).
  5. Indikator tekanan udara yang berguna di ketinggian.

Nantinya akan tersedia berbagai pilihan warna seperti biru, merah, silver dan oranye tapi tidak ada warna hitam. Warna cerah seperti merah dan oranye memang kerap dipakai untuk urusan outdoor sehingga mudah ditemukan saat terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan. Belum ada informasi harga jual dari kamera yang lensanya memakai LEICA DC VARIO-ELMAR berjenis folded optic ini. Tapi ditinjau dari lensa, fitur dan sebagainya, kami memprediksi harganya akan berkisar antara 4 hingga 5 jutaan.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Fuji HS20 EXR dan F550/500 EXR, dengan sensor EXR 16 MP

Ajang CES 2011 juga dimeriahkan oleh Fujifilm yang menghadirkan beberapa update rutin seperti HS20 EXR (penerus HS10) dan F550/500 EXR (penerus F300 EXR). HS20 EXR sesuai namanya kini memakai sensor EXR (dulu CMOS), sementara F550/500 (bedanya cuma dalam hal GPS) juga memakai sensor EXR 16 MP. Tibalah masanya kamera di tahun ini beralih ke sensor 16 MP yang semakin membuat risau dan kekuatiran akan noise dan ukuran file yang besar. Tapi apapun itu, Fuji cukup konsisten dalam membuat regenerasi produknya, ditengah persaingan ketat dengan produsen papan atas sekelas Canon atau Nikon.

Fuji HS20 EXR

Penerus dari Fuji HS10 (10 MP) hadir lagi dengan lensa yang sama, yaitu 30x zoom optik. Bedanya, kini sensor yang dipakai pada HS20 adalah jenis EXR dan beresolusi 16 MP. Kamera ini diklaim sanggup mengunci fokus dalam waktu 0,16 detik. Kabar baiknya, kini fitur flash pada HS20 sudah mendukung TTL flash. Lensa Super Fujinon EBC yang dimiliki  HS20 EXR sepintas nampak seperti lensa Canon L series dengan gelang merah melingkari ujungnya, kebetulan?

fujifilm-hs20exr

fujifilm-hs20exrc

fujifilm-hs20exrb

Apa kata Fuji soal HS20 ini?

Record-breaking, innovative, versatile; the new Fujifilm FinePix HS20 EXR is all this and so much more. Replacing the multiple award-winning FinePix HS10; this latest addition to the range of Fujifilm bridge cameras represents the perfect picture taking solution for photographers who want the specification and picture quality of an SLR without the heavy camera bag and huge dent in their bank balance. With a class-leading feature set that includes a brand new EXR CMOS sensor, high speed continuous shooting capability, improved user interface, versatile video functions, 16 megapixel resolution and a 30x zoom lens with advanced anti-blur technologies, the HS20 EXR sets new standards in bridge camera functionality and performance.

Berikut spesifikasinya :

  • EXR CMOS 16 MP, ukuran 1/2 inci
  • 30x zoom, 24 – 720 mm, f/2.8-5.6
  • LCD 3.0 inci yang bisa dilipat,  460 ribu piksel
  • font dan grafik Vector pada layar
  • 1600%  dynamic range
  • Burst 8 fps, video bisa hingga 320 fps (320 x 112 piksel)
  • Baterai AA x 4, bertahan hingga 350 jepret
  • Electronic level
  • Raw file format
  • Full HD 1080p, 30 fps, H.264 (MOV) format
  • Stabilizer sensor-shift
  • EXR Auto mode
  • Colour fringing reduction and corner sharpness improvement
  • Film simulation modes
  • Motion Panorama 360 mode
  • TTL flash control with optional external flashes

Fuji F550/500 EXR

Penerus F300 EXR ini kini hadir dalam dua varian, satu dengan GPS (F550) dan satu tanpa GPS (F500). Tidak banyak peningkatan yang berarti dari F300 ke F500, bahkan spesifikasi lensa dan bentuk kameranya pun sama persis (kecuali sedikit tonjolan di atas pada F550 yang berfungsi sebagai antena GPS). Bedanya, F300 dulu memakai sensor 12 MP, kini F500 melompat jauh ke sensor 16 MP. Lucunya, kini tidak lagi disebut-sebut soal hybrid AF (contrast dan phase detect) yang dulu sempat dibanggakan Fuji di F300. Rupanya istilah hybrid AF tidak berarti banyak dalam penjualan F300 sehingga tidak lagi dipakai.

fujifilm-f550exr

fujifilm-f550exrb

Apa kata Fuji soal F550/500 EXR ini?

Following in the footsteps of the award-winning FinePix F200 EXR and F300 EXR models, this latest recruit to the range is the ideal camera for discerning point-and-shoot photographers or SLR users who want to travel light but don’t want to compromise image quality and picture-taking versatility. Superb results are assured with exciting new features including an innovative 16 megapixel EXR CMOS sensor, advanced GPS functions, high speed shooting capabilities, a 15x wide-angle zoom lens, Full HD movie functionality and an improved user interface. With a stylish design and pocketable dimensions, the FinePix F550 EXR is set to become the must-have compact in 2011.

Berikut spesifikasinya :

  • fitur GPS (untuk F550)
  • lensa 15x zoom,  24 – 360 mm, f/3.5-5.3
  • AF cepat
  • LCD 3.0 inci, 460 ribu piksel
  • font dan grafik Vector pada layar
  • 1600%  dynamic range
  • burst 8 fps (untuk F500)
  • Raw file format (untuk F550)
  • Full HD 1080p, 30 fps, H.264 (MOV) format, stereo
  • Stabilizer sensor-shift
  • New EXR Auto mode
  • Film simulation modes
  • Motion Panorama 360 mode

Soal harganya, Fuji HS20 akan dijual di kisaran 5 juta sedang F550/F300 di kisaran 3 jutaan.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Olympus XZ-1, kamera saku serius dengan lensa f/1.8

Tahun 2011 belum genap seminggu, tapi di ajang CES 2011 telah diperkenalkan lebih dari 42 kamera baru yang sebagian diantaranya cukup fenomenal, seperti produk yang bernama Olympus XZ-1 yang belum lama ini diluncurkan. Inilah kamera saku dengan fitur kelas atas, dibuat untuk mereka yang serius dalam fotografi dan mencari kamera saku tanpa kompromi akan kualitas. Selling point utama Olympus XZ-1 adalah digunakannya lensa Zuiko f/1.8 yang amat bermanfaat untuk kondisi low light maupun untuk fotografi cepat, meski untuk itu harus ditebus dengan harga jualnya yang mencapai lima juta rupiah !

olympus-zx-1

olympus-zx-1b

olympus-zx-1c

Tak dipungkiri hadirnya Olympus XZ-1 adalah jawaban untuk Lumix LX5 maupun Canon S95, dan satu lagi kamera berlensa f/1.8 yaitu Samsung TL500, kesemuanya adalah kamera saku serius yang diincar para profesional. Bahkan Olympus XZ-1 yang nota bene hadir paling belakangan, berhasil meramu semua keunggulan dari para pesaing, seperti lensa f/1.8 dari Samsung dan ring multifungsi pada lensa seperti Canon S95. Bahkan Olympus XZ-1 bersaing langsung dengan Lumix LX5 dan dalam banyak aspek memiliki kesamaan fitur dan kinerja.

Tak sabar mengetahui apa saja keunggulan XZ-1? Inilah dia hal-hal yang akan membuat anda kagum :

  • lensa i.Zuiko dengan rentang 28-112mm atau 4x zoom, sangat efektif dalam rentang fokal, bahkan di posisi tele mengalahkan Lumix LX-5 (90mm), Canon S95 (105mm) dan Samsung TL500 (72mm)
  • lensa dengan bukaan terbesar yaitu f/1.8, setara dengan Samsung TL500, lebih besar dari Lumix LX-5 maupun Canon S95 yang ‘hanya’ mampu membuka f/2.0
  • bukaan terbesar saat di zoom maksimal dalah f/2.5 yang masih lebih besar dari Lumix LX-5 (f/3.3) apalagi Canon S95 (f/4.9)
  • Sensor CCD beresolusi 10 MP dengan ukuran 1/1.63 inci yang setara dengan Lumix LX-5, agak lebih besar dari kamera saku kebanyakan yang umumnya antara 1/1.7 inci hingga 1/2.5 inci
  • berbagai pilihan aspek rasio seperti 1:1, 3:2, 4:3 hingga 16:9
  • mode manual P/A/S/M dengan rentang kecepatan shutter 60 – 1/2000 detik
  • kendali putar di depan (ring lensa) yang berfungsi untuk mengatur berbagai pengaturan seperti shutter, aperture, ISO dan manual fokus
  • prosesor TruPicV yang sama seperti kamera Olympus PEN untuk kinerja cepat
  • layar OLED resolusi VGA, diagonal 3 inci dengan 621 ribu piksel (layar OLED punya gamut warna yang lebih baik dari LCD dan juga sudut pandangnya lebih lebar)
  • ISO 100 hingga ISO 6400 (ada AUTO ISO 100-800)
  • HD movie 720p, 30 fps format MJPEG
  • RAW file format, dan konversi RAW pada kamera
  • TTL flash hot shoe untuk flash Olympus (FL-50R, FL-36R, FL-50, FL-36, FL-14), bahkan bisa wireless flash
  • CCD shift image stabilizer
  • filter Neutral Density built-in
Olympus C2040
Olympus C-2040 (2001)

Oke, untuk ukuran kamera saku, Olympus XZ-1 memang terlalu besar, dan juga terlalu mahal. Anda bisa mendapat kamera lain yang lebih mungil atau bahkan bisa membeli kamera DSLR yang lebih murah dari XZ-1 ini. Tapi inilah era kebangkitan Olympus setelah sepuluh tahun tidak lagi memiliki kamera saku unggulan (terakhir Olympus meluncurkan kamera saku C-2040 dengan f/1.8 seharga 10 jutaan di tahun 2001). Produsen lain sudah lebih dulu mengisi segmen kamera saku kelas atas dengan produk unggulannya, dengan ciri lensa cepat, fitur lengkap dan harga yang mahal, seperti Lumix LX5, Canon S95 dan Samsung TL500. Bahkan Nikon dikabarkan juga akan meluncurkan produk serupa di tahun ini, tentu kabar ini akan membawa angin segar karena kompetisi di kelas ini lebih efektif daripada sekedar berlomba kemampuan zoom atau mega piksel semata.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Beberapa pertanyaan pemula tentang kameranya

Banyak hal yang mungkin belum dipahami oleh pemula dalam memilih maupun memakai kamera digital, beberapa bahkan terlalu mendasar sehingga membuatnya malu untuk bertanya. Padahal hal-hal yang mendasar inilah yang perlu dipahami dengan baik sehingga tidak menjadi salah kaprah bahkan terjebak dalam mitos yang tidak benar. Kami coba susun daftar tanya jawab yang mungkin bisa mewakili satu atau dua pertanyan yang anda sedang rasakan saat ini, semoga bisa membantu memberi pencerahan untuk anda. Selamat membaca..

Apakah mega piksel berarti kualitas ?

Dalam marketing, mega piksel dijadikan jargon utama untuk menjual kamera. Calon pembeli dipaksa untuk menganggap kalau semakin tinggi mega piksel kamera maka hasil fotonya akan semakin bagus. Nyatanya mega piksel sebagai istilah lain dari resolusi sensor, menandakan berapa banyak piksel yang dimiliki oleh sensor. Semakin tinggi resolusi, semakin detail foto yang dihasilkan sehingga bisa dicetak ukuran besar. Foto yang bagus secara teknis ditentukan dari ketajaman lensa, kualitas sensor dan seberapa besar tingkat kompresi JPEG yang dipilih.

Samakah resolusi 8 MP di kamera ponsel dan di kamera digital ?

Sama. Jumlah piksel pada keping sensor kamera ponsel 8 MP memang ada 8 juta piksel. Bedanya adalah luas penampang sensor, dimana kamera ponsel punya sensor berukuran sangat kecil yang membuatnya kurang mampu menangkap dynamic range, tonal dan kontras dari obyek yang difoto.

Mengapa hasil foto dari kamera saya tidak bagus ?

Ini bisa banyak kemungkinan, karena foto yang bagus itu bisa secara teknis maupun secara seni. Umumnya kita mengeluhkan hasil foto kamera yang kurang bagus tanpa mengevaluasi dulu apakah kita sudah benar dalam memakai kamera. Biasanya foto jadi jelek karena salah dalam memfokus, goyang saat memotret, memaksakan memotret di tempat yang cahayanya kurang, memotret melawan cahaya dan sebagainya. Tapi bila anda sudah melakukan yang terbaik tapi hasil fotonya tetap jelek (hasil soft, kontras rendah atau ada distorsi lensa yang nyata) rasanya anda perlu mencari kamera lain.

Mengapa foto saya gelap meski sudah memakai lampu kilat ?

Lampu kilat punya keterbatasan jangkauan, seberapa jauh jangkauan lampu ditentukan dari kekuatan pancaran lampu, yang diistilahkan Guide Number (GN). Lampu kilat tidak dimaksudkan untuk menerangi obyek yang terlalu luas, seperti di dalam aula atau gedung pertemuan. Gunakan lampu kilat untuk menerangi obyek yang dekat, misal berjarak 1 hingga 5 meter dari kamera.

Apakah membiarkan semua setting AUTO itu aman ?

Untuk saat ini bisa dibilang sudah aman. Kamera sudah memiliki metoda metering yang lebih baik, plus kinerja white balance yang juga sudah lebih akurat. Bila kamera anda hanya punya mode AUTO, usahakan pengaturan ISO jangan dibuat AUTO, melainkan manual saja. Gunakan ISO terendah dan naikkan hanya bila perlu.

Untuk apa ada ISO tinggi ?

Terkadang kita dihadapkan pada kondisi pencahayaan yang kurang mencukupi, seperti saat senja atau di dalam ruangan. Saat-saat seperti ini kita perlu merubah nilai ISO ke arah yang lebih tinggi supaya sensitivitas sensor ditingkatkan sehingga kamera lebih peka menangkap cahaya yang kurang. ISO tinggi juga berguna bila kita ingin menaikkan kecepatan shutter misalnya seperti saat ingin membekukan momen cepat seperti aksi olahraga. Misal dengan ISO 100 kita cuma mendapat kecepatan 1/500 detik, maka menaikkan ISO ke 200 akan memungkinkan kita memakai kecepatan shutter 1/1000 detik.

Mengapa hasil foto saya berbintik noise ?

Itulah hasil foto yang diambil dengan ISO tinggi, apalagi kalau kameranya punya sensor kecil. Sensor meningkatkan sensitivitasnya saat ISO dinaikkan, sehingga noisenya ikut naik dan tampak seperti bintik-bintik / grain yang mengganggu. Lebih parah lagi, ada noise lain berupa bintik warna yang sulit dihilangkan walau pakai software pengurang noise.

Apa guna stabilizer ?

Stabilizer dibutuhkan untuk meredam getaran tangan yang terjadi saat memotret, sehingga resiko hasil foto jadi blur bisa dikurangi. Stabilizer semakin diperlukan bila kita memotret memakai kecepatan shutter lambat (sekitar 1/20 detik atau lebih lambat) ataupun saat memakai fokal lensa tele (di atas 100mm). Stabilizer tidak diperlukan bila kita memotret memakai tripod, ataupun memotret dengan kecepatan shutter cukup tinggi (di atas 1/60 detik).

Apakah Digital Stabilizer itu juga sama ?

Tidak. Istilah Digital Image Stabilizer adalah penipuan yang jahat. Ini hanya akal-akalan produsen untuk mengecoh pembeli yang awam. Trik ini hanya menaikkan ISO untuk menaikkan kecepatan shutter sehingga resiko blur bisa dicegah. Pastikan bila anda perlu fitur stabilizer (dan sebetulnya memang perlu) carilah kamera yang memiliki fitur stabilizer pada lensa atau pada sensor.

Bagaimana dengan Digital Zoom ?

Ini juga sama, akal-akalan dari jaman dahulu. Lupakan saja dan fasilitas ini jangan dipakai karena akan merusak kualitas foto yang dihasilkan.

Mengapa foto saya sering blur bila lensa di zoom ?

Pertama, istilah lensa ‘di zoom’ itu salah kaprah. Lensa zoom adalah lensa yang bisa berubah fokal lensanya dari fokal terdekat (wide) ke fokal terjauh (tele). Pertanyaannya seharusnya begini : mengapa foto sering blur bila memakai fokal tele (misal 100mm atau lebih) ? Desain lensa kamera pada umumnya memiliki bukaan diafragma yang semakin mengecil saat lensa ‘di zoom’ ke posisi tele. Hampir semua lensa memiliki bukaan besar saat posisi wide (sekitar f/2.8) namun mengecil di posisi tele (sekitar f/5.6). Bukaan yang lebih kecil akan menyebabkan cahaya yang masuk ke kamera juga berkurang sehingga kamera akan menurunkan kecepatan shutter untuk mengimbangi penurunan cahaya ini. Turunnya kecepatan shutter ini akan berdampak pada mudahnya foto menjadi blur akibat getaran tangan. Ingat, guna mencegah blur, kecepatan shutter jangan lebih lambat dari rumus 1/panjang fokal (misal memakai fokal 100mm maka kecepatan shutter minimal 1/100 detik).

Jenis memori apa yang sebaiknya saya pakai ?

Hampir semua kamera modern memakai memori jenis SD card. Bila hanya untuk foto, apapun jenis memori SD card pada prinsipnya sama. Tapi bila hendak merekam video, apalagi yang resolusi HD, maka memori dengan kecepatan baca tulis yang tinggi mutlak diperlukan. Untuk memudahkan, kini memori diberi kelas seperti kelas 2, kelas 4, kelas 6 dst. Untuk menjamin rekaman video tidak patah-patah, gunakan memori kelas 6 atau lebih. Kini ada juga memori SD card dengan kapasitas tinggi seperti SDHC dan SDXC, perhatikan dulu apakah kamera anda kompatibel dengan memori seperti itu atau tidak.

Mengapa kamera saya terasa lambat ?

Lambat bisa jadi karena prosesor internal kamera memang punya kinerja pas-pasan. Yang paling menyebalkan adalah lambat karena shutter lag, alias jeda saat menekan tombol rana. Kita bisa kehilangan momen karena meski waktu memotret sudah tepat tapi kamera terlambat mengambil gambar. Lambat yang lain adalah shot-to-shot, kita membuang waktu menunggu kamera siap mengambil gambar, setelah kita selesai memotret. Akan lebih parah kalau mode lampu kilat dalam kondisi aktif, bisa jadi kita harus menunggu sampai 7 detik untuk bisa memotret lagi. Kamera DSLR tidak mengalami kasus seperti itu karena prosesornya bertenaga, kalaupun ada jeda shot-to-shot itu karena ada proses JPEG yang berat seperti fitur peningkat dynamic range yang aktif.

Mengapa tanpa lampu kilat hasil foto di ruangan malah lebih terang ?

Saat suasana sekitar mulai redup, kamera akan mengatur eksposur supaya tetap terjaga dalam batas wajar (tidak terlalu gelap tidak terlalu terang). Untuk itu kamera akan melambatkan kecepatan shutter sehingga banyak cahaya yang bisa dimasukkan ke sensor. Inilah yang dinamakan ambient lighting atau pencahayaan alami tanpa lampu kilat. Pastikan tangan kita memegang kamera dengan kokoh, atau gunakan tripod agar tidak goyang saat memotret dengan teknik seperti ini.

Mengapa kadang-kadang kamera saya tidak bisa mengunci fokus ?

Auto fokus pada kamera memakai sistem pendeteksi kontras. Gambar yang ditangkap oleh sensor akan dikirim ke prosesor dalam kamera lalu kamera akan mengevaluasi kontras terbaik dan menganggapnya sebagai fokus yang tepat. Proses ini berlangsung sekitar sekian mili detik hingga dua detik, tergantung bermacam kondisi. Bila kamera diarahkan pada obyek yang tidak kontras, atau obyek yang kurang terang, maka auto fokus kamera akan kesulitan mencari dan mengunci fokus.

Itulah diantaranya beberapa pertanyaan mendasar yang kerap dilontarkan para pemula. Memang untuk memahami lebih dalam tidak akan cukup dengan membaca tanya jawab di atas. Untuk itu di kesempatan sebelumnya kami sudah menyajikan beberapa artikel yang lebih spesifik dalam membahas suatu topik, diantaranya :

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Samsung WB700, hadirkan lensa zoom 18x dalam kamera saku

Ambisius. Itulah kesan kami terhadap Samsung WB700, kamera saku yang baru saja diperkenalkan Samsung pada tanggal 28 Desember 2010 silam. Meski sepintas tampak mirip seperti kamera saku lainnya, tapi lensa yang dimilikinya memiliki kemampuan zoom optik 18x (24-432mm) yang belum pernah dijumpai di kamera saku lain. Samsung bahkan memaksakan kemampuan sensor melampaui batas fisika dengan memakai sensor  CCD beresolusi 16 MP pada keping seluas 1/2.33″.

wb700

Apapun itu, kami mengapresiasi upaya Samsung dalam memberi pilihan buat konsumen. Bisa jadi ada sebagian dari kita yang memang benar-benar memelukan kamera mungil dengan kemampuan zoom ekstra panjang, atau perlu kamera dengan sensor beresolusi ekstra tinggi. Setidaknya ada upaya Samsung untuk memberikan sebuah produk yang bisa dianggap ‘killer camera’ atau kamera dengan spesifikasi tinggi yang tidak bisa diabaikan seperti :

  • Fitur manual (A/S/M)
  • tombol langsung HD Movie (1080p)
  • mendukung RAW file format
  • port HDMI Type D
  • Flash Manual Adjustment (Timing, Light Quantity)
  • stabilizer optik
  • bisa zoom saat merekam video, bunyi motor zoom tidak terekam
  • beragam filter digital (soft focus, half-tone dot, cinema, fish-eye, miniature dan sketch)
  • layar 3 inci

Bila tertarik, tunggu produk berdesain agak retro ini di tahun 2011 yang rencananya akan dijual di kisaran harga 3 jutaan.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Panasonic hadirkan Lumix GF2 dengan layar sentuh

Sedikit kejutan di bulan November ini saat Panasonic meluncurkan kamera saku berformat Micro Four Thirds bernama Lumix DMC-GF2 sebagai penerus GF1 yang diperkenalkan setahun lalu. Kamera dengan sensor besar dan lensa yang bisa dilepas ini semakin memikat dengan layar sentuh, teknologi Intelligent Resolution dan tombol iA tersendiri. Uniknya, penerus GF1 ini justru lebih mungil dari sebelumnya dan ukurannya semakin mendekati kamera saku premium seperti Lumix LX5.

lumix-gf2

Meski Panasonic tidak merubah spesifikasi sensor yang dipakai di GF2 (12 MP, Live MOS) namun dalam kinerja prosesor Venus FHD pada kamera Lumix GF2 lebih bertenaga dan mendukung video HD 1080 dengan 60 fps. Mode manual tetap ada di GF2 meski mode dial fisik dihilangkan dan dipindah ke menu yang diakses melalui layar sentuh 3 incinya (bertipe resistive, bukan capasitive). Dengan layar sentuh, kita bukan cuma bisa mengakses menu namun juga bisa untuk menentukan titik fokus, manual fokus, dan playback foto.

Sebagai kamera yang hampir sekelas dengan DSLR, kamera GF2 juga memiliki fitur lengkap seperti RAW, ISO 6400, shutter 60-1/4000 detik dan dudukan lampu kilat eksternal. Khusus untuk mode video, kini GF2 mendukung audio stereo (Dolby Digital) dan mampu terus mencari fokus saat merekam video. Kamera GF2 akan diluncurkan Januari 2011 dengan pilihan paket lensa fix 14mm f/2.5 (setara 28mm) atau dengan lensa zoom 14-42mm IS f/3.5-5.6 (setara 28-84mm).

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Lumix LX5 vs Canon S95 : Pertarungan dua kamera berlensa cepat

Tidak banyak kamera saku yang mampu mencuri perhatian banyak pihak karena kualitasnya. Tampil beda dari kebanyakan kamera saku yang begitu-begitu lagi, Canon S90 dan Lumix LX3 di tahun lalu sudah membuktikan popularitasnya dengan membukukan penjualan yang tinggi. Kunci sukses keduanya ada di lensa. Keduanya memakai lensa yang tidak umum, yaitu punya bukaan (lebih) besar untuk memasukkan cahaya lebih banyak. Kini kedua kamera tersebut terlahir kembali dengan nama Canon S95 dan Lumix LX5 (Panasonic jarang mau memakai angka empat) dengan berbagai perbaikan minor, lalu kembali bertarung di tahun ini untuk meraih posisi kamera berlensa cepat terbaik di dunia.

Sebelum membedah kedua kamera ini, kami ulas dulu soal bukaan lensa yang agak bersifat teoritis. Prinsipnya setiap lensa punya diafragma yang punya diameter tertentu, bisa dibuat lebih besar (untuk memasukkan lebih banyak cahaya) atau dibuat mengecil. Tentunya ada nilai bukaan maksimal (dan minimal) untuk setiap lensa, dan ini dinyatakan dalam f-number. Lensa yang punya bukaan besar biasa disebut lensa cepat, artinya bisa memakai kecepatan shutter tinggi. Umumnya bukaan maksimal lensa di pasaran berkisar antara f/2.8 hingga f/3.5 dimana f/2.8 punya bukaan yang lebih besar daripada f/3.5. Nah, kedua kamera ini punya lensa dengan bukaan f/2.0 yang secara teknis artinya sanggup memasukkan cahaya 2x lebih banyak daripada f/2.8. Jadi lensa f/2.0 identik dengan lensa cepat, berguna saat ingin memakai kecepatan shutter tinggi atau saat memotret di tempat low light (yang pastinya kecepatan shutter akan turun dengan drastis).

Canon S95
Canon S95, mungil namun sarat fitur
Lumix LX5
Lumix LX5, tampak profesional dan retro

Kedua kamera ini, Lumix LX5 dan Canon S95, punya berbagai kesamaan spesifikasi yang tidak mengherankan karena memang keduanya didesain untuk saling berkompetisi. Sebutlah misalnya memakai material bodi berbahan logam, sensor CCD 10 MP, layar 3 inci resolusi 461ribu piksel, HD movie dan RAW file format. Keduanya juga memakai lensa dengan bukaan maksimal f/2.0 tentunya. Keduanya bahkan memakai lampu kilat yang bersistem pop-up, untuk memakainya perlu ditonjolkan ke atas terlebih dahulu.

Namun untuk mengenal lebih dekat masing-masing kandidat, ada baiknya kita simak sekilas keduanya :

Panasonic Lumix LX5

Lumix LX5 merupakan kamera premium, kamera saku high-end dan sekaligus kamera saku termahal yang pernah dibuat oleh Panasonic. Dengan kisaran harga jual 4,75 juta rupiah, Lumix LX5 bahkan lebih mahal daripada kamera DSLR EOS 1000D atau Nikon D3000. Lumix LX5 mengandalkan lensa Leica yang dinamai DC Vario Summicron, kini dengan rentang fokal 24-90mm dan rentang diafragma f/2.0-3.3 yang mengagumkan. Berbalut bahan logam, kamera saku ini pastinya sudah sarat fitur wajib untuk menyandang gelar kamera mewah. Perbedaan nyata antara LX5 dan LX3 adalah pada lensanya yang lebih panjang (90mm dibanding 60mm) sehingga rentang fokalnya lebih serba-bisa untuk dekat maupun jauh.

lx5

lx5c

lx5b

Lumix LX5 menawarkan beberapa fitur unggulan seperti :

  • selektor multi aspect ratio (1:1, 3:2, 4:3 atau 16:9) tanpa menurunkan resolusi
  • manual eksposure P/A/S/M, turn-and-push jog dial di bagian belakang
  • ISO maksimum 3200 (dan bisa ditingkatkan namun resolusi diturunkan)
  • flash hot shoe (juga bisa dijadikan dudukan viewfinder tambahan)
  • HD movie, 720p, 30 fps, AVCHD lite, stereo
  • bisa zoom optik saat merekam video
  • dukungan aksesori seperti wide/tele lens conversion (memerlukan adapter)

Canon S95

Canon S95 memang hanya merupakan update kecil dari S90 dengan perbedaan utama di fitur HD movie. Keunggulan Canon S95 (dan sebelumnya S90) adalah kualitas dan fitur yang sebanding dengan harganya. Meski S95 masih tergolong agak mahal (4 juta) namun diprediksi harganya akan turun seperti S90 yang kini sudah dijual di kisaran 3,3 jutaan. Canon S95 juga menyempurnakan beberapa masalah kecil dari seri sebelumnya seperti tata letak tombol shutter dan rotate dial yang lebih keras (tidak mudah terputar tanpa sengaja). Canon tidak merubah lensa yang ada di S90, jadilah S95 ini memakai lensa Canon 28-105mm f/2.0-4.9 yang mengagumkan saat wide (f/2.0 di 28mm) dan biasa saja saat tele (f/4.9 di 105mm). Canon S95 berbagi sensor yang sama dengan saudaranya sesama kamera mewah – Canon G12 yaitu CCD 10 MP, namun punya lensa yang lebih cepat (G12 punya bukaan maksimal f/2.8) padahal di masa lalu seri G itu identik dengan lensa cepatnya.

canon-s95

canon-s95-top

canon-powershot-s95-2

Beberapa hal menarik dari Canon S95 :

  • ring di lensa yang bisa diprogram untuk berbagai kebutuhan (zoom, diafragma, kompensasi eksposur, manual fokus)
  • manual eksposure P/A/S/M, rotate-dial di bagian belakang
  • ISO maksimum 3200
  • HD movie, 720p, 24 fps,  stereo
  • in-camera HDR
  • multi aspek rasio 3:2, 4:3, 1:1, 16:9 dan 4:5 (melalui menu)
  • dukungan aksesori underwater casing

Pilih yang mana?

Tidak mudah memang. Pertama tentu perlu kita tinjau beberapa aspek utama dalam menentukan pilihan, yaitu :

Harga

Harga keduanya berbeda hampir satu juta. Sesuaikan dulu anggaran dan kebutuhan. Lumix LX5 dijual dengan kisaran harga bervariasi antara Rp. 4.750.000 hingga Rp. 4.950.000 sedang Canon S95 dijual di kisaran Rp. 3.900.000 hingga Rp. 4.000.000 (tergantung toko dan garansi).

Sensor

Keduanya memakai sensor jenis CCD 10 MP dengan sensitivitas tinggi. Sensor di Lumix LX5 agak sedikit lebih besar (1/1.63 inci) dibanding Canon S95 (1/1.7 inci) sehingga di ISO tinggi Lumix punya noise yang sedikit lebih rendah. Namun secara umum hasil foto keduanya hampir sama dengan foto yang noisenya masih baik hingga ISO 800 dan cukup jelek di ISO 1600 (ingat ini bukan sensor DSLR).

Lensa

Lumix LX5 unggul di posisi wide yang lebih berguna yaitu 24mm, sedang Canon S95 hanya sanggup hingga 28mm. Namun Canon memiliki posisi tele lebih panjang dengan 105mm, sedang Lumix LX5 hanya 90mm. Dalam fotografi, perbedaan hasil antara 24mm dan 28mm sangat banyak, namun perbedaan 90mm dan 105mm hampir tidak signifikan. Lumix juga unggul di bukaan lensa yang tetap besar saat tele yaitu f/3.3 sedang Canon mendesain lensa yang bukaannya mengecil drastis saat di zoom hingga f/4.9. Bila anda perlu lensa yang tetap punya bukaan besar di fokal tele, maka lensa Leica dari Lumix adalah jawabannya.

Fitur unggulan

Lumix LX5 menawarkan kemudahan berganti aspek rasio hanya dengan menggeser tuas di dekat lensa. Bila anda merasa fitur ini sangat memudahkan, jadikan ini alasan utama anda dalam memilih Lumix. Tetapi kami lebih tertarik justru oleh fitur Canon S95 yang menyediakan ring di lensa yang bisa diprogram untuk beberapa kebutuhan seperti zoom, diafragma, kompensasi eksposur, manual fokus hingga white balance. Hal ini membuat kita bisa memanfaatkan ring yang disediakan untuk mengatur dengan cepat fungsi yang paling kita sukai. Andai saja semua kamera saku bisa dibuat seperti ini..

Performa

Biasanya kami menilai performa kamera dari tiga hal yaitu shutter, auto fokus dan burst. Dalam urusan shutter, Lumix LX5 jauh lebih menunjukkan kelasnya dengan kemampuan shutter terlambat 60 detik dan tercepat 1/4000 detik, bandingkan dengan Canon S95 yang memiliki kemampuan 15 detik hingga 1/1600 detik. Untuk auto fokus keduanya membukukan catatan yang sama baik dan sama cepat, saat terang ataupun kurang cahaya. Urusan burst atau memotret bertuturan, Lumix LX5 agak lebih baik dengan 2.5 fps dibanding 1.9 fps milik Canon S95.

Ergonomi

Lumix LX5 tampil lebih besar dan berat, namun dengan ergonomi lebih baik daripada Canon S95. Soal ukuran memang S95 unggul berkat dimensinya yang real-pocketable, alias mungil. Satu hal yang disayangkan dari S95 adalah masih tidak adanya grip sehingga rentan jatuh saat digenggam. Untuk itu Lumix LX5 jauh terasa lebih nyaman (dan aman) saat digenggam. Canon S95 memiliki tata letak dan ukuran tombol yang lebih baik dari LX5, plus rotate-dial di bagian belakang yang memudahkan. Lumix LX5 justru melakukan perubahan yaitu meniadakan joystick yang sempat ada di LX3 dan menggantinya dengan turn-and-push jog dial di bagian belakang.

Movie

Oke, syukurlah keduanya kini sudah dipersenjatai dengan kemampuan merekam video High Definition meski hanya memiliki resolusi 1280×720 piksel dengan scanning proggresive. Berkat pemakaian sensor CCD, tidak usah kuatir video yang dihasilkan akan mengalami efek rolling shutter. Namun sensor CCD memiliki keterbatasan dalam frame rate sehingga Lumix hanya menyediakan frame rate maksimal 30fps dan Canon lebih rendah dengan 24fps, meski masih tergolong memenuhi standar minimal untuk video komersil. Keduanya memakai format audio stereo, meski Lumix kini menyediakan Dolby Digital Creator yang kami belum pahami benar manfaatnya.

Keterbatasan

Adalah hal bijak apabila kita mengenal keterbatasan dari kamera yang akan kita pilih. Tentu saja keduanya bukan DSLR, bukan pula rajanya ISO tinggi atau pemecah rekor kecepatan burst. Keduanya hanyalah kamera saku bersensor kecil (meski lebih besar dari kamera saku kebanyakan), memakai auto fokus berbasis deteksi kontras (yang tidak mungkin secepat DSLR) dan sejumlah keterbatasan lainnya. Namun juga kita perlu mengenali perbedaan keduanya dalam hal keterbatasan seperti :

  • Lumix LX5 dijual terlalu mahal dan akan tetap mahal untuk tahun mendatang (mengacu pada pengalaman LX3). Untuk hasil foto yang hampir sama baiknya, kita bisa memilih S95 yang dijual sekitar 1 juta lebih murah.
  • Lumix LX5 tidak memiliki mode HDR di dalam kamera, sebuh keanehan saat kamera saku lain termasuk S95 telah memilikinya.
  • Lumix LX5 belum didukung dengan aksesori resmi underwater casing.
  • Canon S95 tidak memiliki flash hot shoe, tidak mungkin menambahkan lampu kilat eksternal di atas kamera ini (kecuali memakai sistem wireless trigger, beberapa lampu kilat eksternal bisa di trigger dengan cahaya lampu kilat kamera).
  • Canon S95 tidak bisa zoom optik saat merekam video, meski masih ada digital zoom. Lumix LX5 akan memanjakan pecinta videografi yang sering zoom in-zoom out saat merekam video.
  • Lensa Lumix LX5 tidak otomatis terbuka dan tertutup, kita harus membuka tutup lensanya (lens cap) secara manual seperti lensa SLR.
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Nikon luncurkan Coolpix P7000, antisipasi kehadiran Canon Powershot G12?

Hari ini Nikon meluncurkan kamera saku kelas berat yaitu Coolpix P7000 (penerus P6000) dengan resolusi 10 MP pada keping sensor CCD berukuran 1/1.7 inci dan lensa zoom wide 28-200mm dengan harga hampir 5 juta rupiah. Sebagaimana layaknya kamera kelas berat, Coolpix P7000 dilengkapi dengan fitur manual, file RAW, flash hot shoe, HD movie dan dukungan beragam aksesori.

Di masa lalu Coolpix P6000 mendapat lawan berat dari Canon yang sudah meluncurkan Powershot G11. Kini Nikon meluncurkan Coolpix P7000 dengan bentuk retro yang menyerupai Canon G11 cuma agak lebih besar. Kalau dulu Canon memutuskan untuk turun resolusi saat meluncurkan G11, Nikon pun kini ternyata melakukan hal yang sama. P7000 yang memiliki resolusi 10 MP pada dasarnya adalah penurunan resolusi sensor (yang disambut positif) dari sebelumnya 13 MP pada P6000.

nikon-p7000-big

Nikon P7000 memiliki rentang ISO hingga 3200 dan dapat dipaksa sampai 12800 bila perlu, layar LCD 3 inci resolusi tinggi, jendela bidik optik, HD movie 720p 24fps, dan ditenagai dengan baterai Lithium EN-EL14 yang bisa dipakai hingga 350 kali jepret per pengisian. Lensa pada P7000 lebih panjang daripada P6000 dengan rentang 28-200mm (sebelumnya 28-112mm) dengan sistem stabilizer optik VR. Namun Nikon kini menghilangkan fitur GPS yang sempat ada pada P6000.

nikon-p7000-back

Untuk menjaga persaingan, Canon dirumorkan tengah menyiapkan Powershot G12 untuk melawan Coolpix P7000. Canon G12 sendiri diprediksi tidak banyak berbeda dibanding G11 kecuali dalam hal kemampuan HD movie. Canon G12 diduga akan memiliki fitur auto HDR yang bermanfaat. Persaingan di kelas kamera orang kaya ini tampaknya bakal seru karena Canon akhirnya mendapati lawan yang sepadan dengan hadirnya Coolpix P7000 ini.

Namun perseteruan dua merk ini menjadi kurang menarik sejak keduanya memutuskan untuk menekan biaya produksi dengan memakai sensor yang lebih kecil dan lensa yang lebih lambat. Apalagi kerja keduanya yang tergolong kamera prosumer tidak sepadan dengan harga jualnya yang fantastis, sebut saja misalnya burst dari Coolpix P7000 ini hanya 1,3 fps yang tidak berdaya saat dipakai di ajang serba cepat seperti momen olahraga.

Update : pada 14 September 2010 Canon resmi merilis Powershot G12 dengan fitur HDR dan HD movie 720p.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..