FujiFilm XT2, peningkatan signifikan dari XT1

FujiFilm kembali merilis kamera andalan penerus seri populer XT1 yang tentunya bernama FujiFilm XT2. Dari fisiknya terlihat kurang lebih sama desainnya dengan XT1 tapi dia lebih tinggi, memiliki joystick seperti di Fuji X-Pro2 yang sangat berguna untuk mengubah area fokus. Kini juga di  XT2 ada dual slot kartu memori SD card, jendela bidik yang lebih besar, dan layar LCD putar yang unik, membantu saat memotret portrait maupun landscape.

fuji-xt2Beberapa peningkatan lain dari X-T2 dari X-T1 sudah kita lihat di dalam Fuji X-Pro2 yaitu 24MP APS-C X-Trans sensor, mode Black & White ACROS. Kinerja kamera juga meningkat dengan pembaharuan sistem autofokus hybrid (325 area, 169 phase detection) dan maksimum foto kontinu secepat 8 foto per detik, tapi jika battery grip seperti foto diatas terpasang dan diisi dua baterai tambahan, maka kecepatan foto kontinu Fuji XT-2 menjadi 11 foto perdetik.

Yang mengejutkan adalah Fuji X-T2 dapat merekam video berkualitas 4K. Padahal kita ingat selama ini Fuji tidak dikenal sebagai perusahaan yang fokus dalam videografi. Tapi disini fitur videonya lumayan dengan F-Log flat profile dan 4K out HDMI juga.

Memotret vertikal tapi ingin layar dilipat keatas? Bisa..
Memotret vertikal tapi ingin layar dilipat keatas? Bisa..

Seiring kamera Fuji X-T2, Fuji juga mengumumkan flash baru EX F500 yang memiliki GN500 seharga $450. Tiga lensa juga diumumkan tapi baru akan terwujud akhir tahun dan tahun depan (2017) yaitu 23mm f/2 WR, 50mm f/2 WR dan 80mm f/2.8 OIS WR Macro.

Hadirnya Fuji X-T2 yang harganya USD 1599 (Di Indonesia mungkin sekitar Rp 23 juta) akan bersaing dengan kamera DSLR profesional bersensor APS-C lainnya seperti Canon 7D mk II, Nikon D500 dan di kamera mirrorless, akan bersaing dengan Sony A6300 dan A6500. Fuji XT2 ini tentu cocok untuk fotografi potret, street maupun pemandangan, juga bakal disukai oleh videografer yang memerlukan video 4K.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Pilih Canon 80D atau Sony A6300?

Kalau ditanya saat ini duel apa yang dianggap mewakili DSLR vs mirrorless favorit dan terbaru, maka boleh jadi jawabnya adalah Canon EOS 80D berhadapan dengan Sony A6300. Keduanya walau berangkat dari format kamera yang berbeda (satu pakai cermin, satu tanpa cermin) tapi punya banyak kesamaan seperti harga jual, sensor dan segmentasinya. Canon 80D dan Sony A6300 baru saja resmi diluncurkan di Indonesia dengan harga 14 jutaan bodi saja.

Mari cek sejarah kedua produk ini. Uniknya keduanya adalah kamera yang hadir menyempurnakan produk yang populer dimana Canon 80D adalah penerus 70D dan Sony A6300 adalah penerus A6000. Keduanya membawa beban target yang sama beratnya yaitu mesti jadi produk yang juga sukses seperti sebelumnya. Kita tahu Canon 70D termasuk sukses dalam memadukan kualitas, kinerja, dan harga dari sebuah kamera DSLR, demikian juga Sony A6000 membuat standar baru untuk kamera mirrorless performa tinggi.

Kedua kamera, Canon 80D dan Sony A6300 sama-sama pakai sensor APS-C dengan resolusi 24 MP. Canon 80D punya 45 titik fokus (semuanya cross-type) di mode normal, dan saat pakai live view juga auto fokusnya tetap handal berkat dual-pixel AF (pertama di temui di 70D).

Sony A6300 area fokusnya meningkat pesat dari 179 area menjadi 425 area, tertinggi di semua produk mirrorless yang ada. Kedua kamera juga sama-sama dirancang lebih tangguh (80D dinyatakan tahan cuaca, A6300 hanya disebut tahan debu dan kelembaban) dan mengusung fitur terkini seperti WiFi dan NFC.

80D A6300

Canon EOS 80D punya kekuatan di kematangan sistem, seperti pilihan lensa, flash dan aksesori (termasuk buatan pihak ketiga). Penyuka desain bodi kamera konvensional juga akan menyukai 80D yang gripnya lebih enak, tahan cuaca dan jendela bidik optiknya lebih besar dan terang. Bodi DSLR memang besar dan cenderung tidak praktis untuk traveling, tapi dibalik bodi yang besar jadi bisa ditempati banyak tombol dan LCD tambahan yang berguna. Layar lipat dan bisa disentuh juga jadi nilai plus Canon 80D, saat pakai live view atau rekam video akan terbantu saat ingin menentukan area fokus dengan menyentuh layar. Baterainya yang besar juga bisa tahan hampir 1000x memotret dalam sekali charge. Canon 80D dirancang juga untuk videografer, misalnya ada port headphone dan fitur video lebih lengkap. Tapi anehnya di 80D banyak juga kekurangan di sisi video seperti tidak ada 4K, tidak ada clean HDMI out, tidak ada zebra dan tidak ada S-log flat profile.

80D A6300 b

Di sisi lain Sony A6300 melanjutkan sukses A6000 dengan filosofi bodi kecil tapi lengkap dan handal. Masih sehebat A6000, di A6300 juga bisa menembak hingga 11 foto per detik, jauh diatas Canon 80D yang ‘hanya’ 7 foto per detik. Anda yang cenderung menyukai kamera modern mungkin akan lebih suka A6300 misalnya banyak fitur canggih seperti jendela bidik elektronik yang jernih, 4K video, hingga kebebasan menambah aplikasi di dalam kamera. Bagi yang menyukai street photography, A6300 sudah mendukung silent shutter sehingga tidak ada suara apapun saat memotret.80D A6300 c

Tapi perlu diingat bodi A6300 termasuk kecil sehingga gripnya kurang mantap, juga layar LCD-nya juga tidak mendukung layar sentuh. Beruntung adanya built-in flash dan hot shoe di A6300 membuat kamera ini makin serbaguna untuk berbagai pemakaian, meski tidak ada fitur wireless flash di A6300 sehingga penyuka strobist perlu membeli trigger sendiri. Masalah lain khas mirrorless adalah daya tahan baterai yang memaksa kita untuk punya beberapa baterai cadangan.

Yang kami suka dari Canon 80D :

  • ergonomi (bodi, grip, tombol, ada LCD tambahan)
  • auto fokus hybrid (oke juga saat live view)
  • layar sentuh
  • wireless flash
  • daya tahan baterai
  • Kecepatan startup lebih cepat (0.5 vs 1.4 detik)
  • Max shutter speed 1/8000 detik vs 1/4000

Yang kami suka dari Sony A6300 :

  • sarat fitur dalam bodi yang ringkas
  • cepat (burst cepat, AF cepat)
  • fitur video lengkap (4K, slow motion dsb)
  • jendela bidik jernih
  • sensor berkualitas tinggi (tajam, DR oke, noise rendah)
  • Ada focus peaking membantu saat manual fokus
  • Bisa diadaptasi dengan lensa-lensa SLR dengan adaptor

Jadi keduanya sebagai kamera dengan sensor APS-C memang hampir setara untuk harga, fitur dan kinerja, namun berbeda dalam jenisnya. Canon 80D mewakili kubu DSLR juga sebetulnya punya misi berat karena harus melawan Nikon D7200, serta tidak boleh overlap fitur dengan sang kakak yaitu 7D mk II. Saat ini kalau anda mencari DSLR kelas menengah yang handal dan mencukupi untuk banyak kebutuhan, kami tak ragu menyarankan Canon 80D, bahkan saat dana terbatas maka Canon 70D juga masih oke untuk dipilih.

Di sisi lain Sony A6300 mewakili kubu mirrorless juga bebannya berat karena banyak saingan di kisaran harga sama (Fuji X-Pro 2, Fuji X-T1, Samsung NX1 dan bahkan dari kubu micro 4/3 seperti Olympus E-M5 mk II atau Panasonic GX8).  Kami pun tak ragu untuk merekomendasikan Sony A6300 untuk aneka kebutuhan fotografi anda, khususnya sport atau travelling, bahkan kalau dana terbatas maka Sony A6000 pun masih oke untuk dipilih. Jadi, pilih sesuai keinginan dan kemampuan, dan mulailah menikmati hobi fotogafinya..

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Panasonic Lumix DMC-GX8 dan GX85, pilih yang mana?

Panasonic tetap eksis di kancah kamera digital khususnya dengan produk mirroress, walau segmentasi produknya agak membingungkan. Kita tahu ada seri GH untuk yang serius, ada seri G untuk yang lebih umum (keduanya berbentuk seperti mini DSLR), lalu ada juga seri GX, GM dan GF yang ketiganya lebih kompak dan ringkas (ala rangefinder). Seri GX sendiri adalah seri teringgi di kelas kompak, dengan produk yang cukup sukses saat itu adalah Lumix GX7 (2013) dan kini diteruskan dengan suksesornya yaitu Lumix GX8 (2015). Tak lama berselang, uniknya Panasonic kembali hadirkan kamera di seri GX yaitu Lumix GX85 (atau GX80 di negara lain), dan lebih unik lagi kamera ini diberi nama lain GX7 mark II. Lho..?

Desain EVF lipat yang unik di GX8, meneruskan desain di serupa di GX7
Desain EVF lipat yang unik di GX8, meneruskan desain di serupa di GX7

Untuk bisa mengerti penamaan ini, kita perlu tahu dulu seperti apa Lumix GX8 dan apa bedanya dengan GX7. Kamera GX8 adalah penerus GX7 yang dinanti-nanti karena diyakini akan membawa Panasonic bisa bersaing dengan Olympus EM-5 mk II atau kamera lain sekelasnya. Sebagai kamera top tier / flagship, GX8 menyempurnakan beberapa hal di GX7 seperti sensor baru 20 MP (Sebelumnya 16 MP), Dual IS (di sensor dan di lensa), 8 fps memotret kontinu dan 4K UHD video. Masih seperti GX7, jendela bidik di GX8 bisa dilipat ke atas untuk memotret sambil menunduk. Masalah dengan GX8 adalah harganya yang termasuk tinggi (15 juta belum dapat lensa), lalu ukurannya jadi membesar (dan lebih berat) serta issue shutter shock yang mengganggu (di shutter speed tertentu foto jadi kurang tajam).

Desain shutter di GX85 (kiri) dan GX8 (kanan)
Desain shutter di GX85 (kiri) dan GX8 (kanan)

Maka itu (mungkin) akhirnya Panasonic memutuskan membuat satu kamera lagi, berada diantara GX7 dan GX8 baik dari segi fitur, ukuran dan harga. Berangkat dari rancang desain GX7, namun dengan jendela bidik yang tidak bisa dilipat, Lumix GX85 hadir bulan lalu sebagai pelipur lara. Mengapa? Karena di GX85 teknologi shutter yang bermasalah di GX8 diperbaiki dengan sistem peredam sehingga tidak membuat foto kurang tajam. Kami sendiri kurang setuju bila GX85 diberi nama GX7 mk II, karena istilah mark II biasanya peningkatan dari produk sebelumnya. Mungkin akan lebih tepat dinamai GX7 lite saja karena jendela bidiknya juga tidak bisa dilipat.

GX8 - GX85 - GX7
GX8 – GX85 – GX7

Apa perbedaan antara GX85 dengan GX7 dan GX8? Wah ini agak membingungkan, tapi kami coba uraikan untuk anda :

Sensor :

  • GX7 : 16 MP
  • GX85 : 16 MP tanpa low pass filter
  • GX8 : 20 MP

Shutter :

  • GX7 : 1/8000 detik, 5 fps
  • GX85 : 1/4000 detik, 1/16000 elektronik, 8 fps
  • GX8 : 1/8000 detik, 1/16000 elektronik, 8 fps

Layar / jendela bidik :

  • GX7 : LCD
  • GX85 : LCD
  • GX8 : OLED

Video :

  • GX7 : Full HD
  • GX85 : 4K
  • GX8 : 4K

So, pilih yang mana? Saat ini Lumix GX7 juga masih dijual, boleh dibeli kalau mengejar harga diskon atau cuci gudang. Tapi bila tidak perlu EVF lipat, tunggu saja sampai GX85 masuk pasaran tanah air, estimasi sekitar 12 jutaan sudah dapat lensa. Tapi bila anda ingin mencari yang top-nya, misal untuk resolusi ekstra tinggi dan fitur terkini maka GX8 layak dibeli.

Kompetisi yang cukup berat buat duo kamera Lumix ini :

GX85 : Olympus EM10 mk II, Fuji XT10, Sony A6000

GX8 : Olympus EM5 mk II, Fuji X-T1, Sony A6300

Good luck Panasonic..

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Trio Nikon DL hadir, kamera kompak dengan sensor 1 inci

Setelah lama ‘bereksperimen’ dengan sistem mirrorless Nikon 1, akhirnya Nikon memutuskan ikut membuat kamera saku dan superzoom dengan sensor 1 inci, tentunya dengan segala pengalaman yang dimiliki saat merancang Nikon 1 seperti auto fokus hybrid yang cepat. Tidak tanggung-tanggung, sekaligus diluncurkan tiga kamera dengan kode DL, dengan kesamaan ciri seperti sensor 1 inci 20 MP, kemampuan 4K video dan fitur kelas atas untuk memanjakan fotografer seperti dudukan flash, tombol dan roda kendali yang lengkap, VR di lensa dan sistem layar sentuh. Apa perbedaan dari ketiga kamera DL yang diluncurkan kali ini?

Ada tiga kamera compact Nikon DL yang bisa dipilih sesuai keunikan lensanya :

  • Nikon DL 18-50 : dengan lensa 18-50mm f/1.8-2.8 (US$850)
  • Nikon DL 24-85 : dengan lensa 24-85mm f/1.8-2.8 (US$650)
  • Nikon DL 24-500 : dengan lensa 24-500mm f/2.8-5.6 (US$1000)

NikonDL1850

Nikon DL 18-50 hadir sebagai satu-satunya kamera saku dengan lensa ultra wide, dan bukaannya bisa f/1.8 serta kualitas foto diatas kamera saku pada umumnya. Di posisi tele maksimumnya walau hanya mentok di 50mm f/2.8 tapi lensa ini sudah keren sekali mengingat posisi paling widenya adalah 18mm (kamera lain biasanya 24mm atau 28mm). Lensa di Nikon DL 18-50 ini juga dilapisi dengan fluorine dan Nano coating untuk kualitas hasil foto terbaik. Cocok dimiliki oleh fotografer pemandangan, arsitektur, street atau anda yang suka memotret pemandangan malam atau kondisi gelap indoor. Terdapat 3 stop ND filter di kamera ini untuk yang suka main slow speed. Ada sedikit grip untuk mencegah licin, tapi tidak ada built-in flash karena lensanya terlalu lebar untuk bisa tercover cahaya flash dengan merata.

NikonDL2485

Nikon DL 24-85 menjadi kamera DL paling murah dan punya mode macro untuk motret subjek yang berukuran kecil, akan bersaing dengan banyak kamera bersensor 1 inci lainnya seperti Canon G7X atau Sony RX100 mk IV. Kelebihan DL 24-85 adalah lensanya yang ‘aman’ untuk banyak kebutuhan travel maupun fotografi harian karena bisa mencapai kebutuhan lebar 24mm hingga medium tele 85mm, juga bukaannya f/1.8-2.8 yang termasuk cepat. Lensa di Nikon DL 24-85 juga bisa makro pada posisi 35mm dan ada juga flash built-in. Sama seperti DL 18-50, di DL 24-85 ini terdapat 3 stop ND filter, juga ada sedikit grip sehingga lebih aman saat digenggam.

NikonDL24500

Nikon DL 24-500 dengan lensa impresif 24-500mm f/2.8-5.6 hadir untuk melawan pemain lama di superzoom 1 inci seperti Panasonic FZ1000 (dengan lensa 24-400mm f/2.8-4), Sony RX10 (lensa 24-200mm f/2.8) dan Canon G3x (lensa 24-600mm f/2.8-5.6 minus jendela bidik). Daya jual Nikon DL 24-500 tentu ada pada auto fokus hybrid-nya sehingga ideal untuk memotret aksi, olahraga atau satwa liar dengan posisi lensa telefoto, juga adanya jendela bidik yang tajam juga menambah value keseluruhan. VR di DL 24-500 ada dua mode yaitu Normal dan Sport, semakin menunjukkan tujuan kamera ini yang cocok untuk sport.

Opini kami :

Nikon mungkin terlambat dalam bersaing di kancah kamera kompak 1 inci, karena terlalu fokus ke sistem Nikon 1. Tapi kini Nikon dengan jeli memanfaatkan momentum untuk merancang kamera yang tepat dan spesifik (niche). Ketiga kamera ini punya kekuatan masing-masing, bahkan bisa jadi ada fotografer yang memborong ketiganya karena peruntukannya berbeda. Saat memotret landscape, street atau arsitektur tentu beda dengan saat memotret satwa liar, misalnya.

Sensor 1 inci sendiri kami suka. Sensor ini ukurannya memang lebih kecil dari micro 4/3 tapi jauh lebih besar daripada sensor 2/3 inci yang dipakai di sebagian kamera saku kelas atas. Dengan memaksimalkan teknologi di sensor 1 inci dicapailah keseimbangan antara kualitas foto (sampai ISO 1600 masih oke, dynamic range cukup baik bila pakai RAW), kecepatan (fokus, burst, video) dan ukuran lensa yang memungkinkan dicapainya fokal sampai 500mm tanpa membuat sistem keseluruhan jadi terlalu besar. Ingin hasil lebih baik ya silahkan ke mirrorless atau DSLR, tapi kombinasi DSLR dengan lensanya akan menjadi sangat besar atau sangat mahal, dibanding sistem Nikon DL ini.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Sony A6300 hadir, kini dengan 425 titik fokus dan video 4K

Sony A6000 termasuk kamera mirrorless yang sukses dalam penjualan, berkat fitur dan harganya yang seimbang dan fungsional. Banyak pihak menantikan penerus dari Sony A6000, dan kini terjawab sudah dengan lahirnya Sony A6300, dengan bentuk luar yang nyaris sama tapi membawa sejumlah peningkatan di berbagai lini. Walau masih memakai sensor APS-C 24 MP, tapi kini sensornya lebih efisien sehingga bisa mencapai ISO lebih tinggi.

Sony A6300 top

Dari fisiknya, perbedaan paling terlihat adalah di bagian belakang dimana kini ada tuas AF/MF-AEL yang biasa ditemui di kamera A7. Jendela bidik juga semakin detail, naik dari 1,4 juta titik jadi 2,3 juta titik. Layar LCD di A6300 masih tidak mengenal sistem layar sentuh, yang mana agak mengherankan disaat merk lain sudah lumrah memberi layar sentuh. Di bagian dalam ada sejumlah peningkatan, misal rangka bodi yang lebih kokoh, dan banyaknya titik fokus deteksi fasa di sensor semakin banyak menjadi 425 titik fokus.

AF Sony A6300

Kinerja auto fokus memang menjadi jualan utama di Sony A6300 ini, dengan jargon 4D focus, diklaim mejadi kamera dengan auto fokus tercepat di dunia. Diimbangi dengan kecepatan shot kontinu 11 fps (atau 8 fps bila live view) diharapkan kamera ini mampu membuat fotografer aksi beralih dari DSLR ke kamera ini. Saat mode fokus di AF-C, kemampuan kamera ini dalam memfokus benda bergerak cepat tampaknya lebih meyakinkan, walau sayangnya masih top speednya ada di 1/4000 detik.

Bagi penyuka video juga akan tertarik dengan Sony A6300, bayangkan kamera seharga USD 1000 ini sudah bisa rekam video 4K dengan X-AVCS 100 Mbps langsung ke kartu memori.  Juga ada S-log Gamma 3 yang biasanya dijumpa di kamera kelas atas.

Hadirnya Sony A6300 mematahkan rumor kalau penerus A6000 akan pakai sensor 28 MP, atau ada IBIS (stabilizer di sensor). Tapi menurut kami 24 MP sudah sangat mencukupi tinggal kinerja ISO tingginya diperbaiki saja, semoga hasil ISO tinggi A6300 lebih baik dari A6000.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Olympus PEN-F : kamera klasik yang terlahir kembali

Ditengah eforia desain kamera digital yang seperti kamera klasiik, seperti dibuat oleh Fuji dan Olympus, hadirlah Olympus PEN-F yang banyak kemiripan dengan kamera Olympus buatan tahun 1960 namun dengan fitur terkini dan modern. Belum lama diluncurkan, kamera seharga USD 1200 ini meraih banyak atensi fotografer khususnya yang menyukai foto street atau sekedar menjadikan kameranya sebagai collector edition. Bagaimana kehandalan kamera ini dan apa bedanya dengan lini OM-D yang juga populer?

4953358856

Sebagai info awal, segmentasi kamera ini pada dasarnya adalah untuk segmen hobi, consumer hingga enthusiast. Bedakan dengan OM-D yang ditujukan lebih ke semi-pro, dengan pembeda utama adalah fitur weathersealing yang absen di kelas PEN-F. Berbekal sensor baru 20 MP Micro Four Thirds tanpa low pass filter, 5 axis stabilisasi yang juga bisa dipakai untuk merangkai satu foto 50 MP dengan sensor shiftnya, serta kemampuan 10 fps (max 1/8000 detik) membuat PEN-F tidak bisa dianggap sebelah mata oleh siapapun.

1233349693

Kamera berbahan campuran almunium dan magnesium ini dipenuhi aneka roda dan tombol di sekeliling bodinya, juga punya jendela bidik OLED yang jernih, serta LCD lipat putar yang sudah mendukung sentuhan. Di bagian depan ada roda untuk mengatur semacam efek kreatif termasuk foto hitam putih. Ada 4 custom mode yang disediakan di roda dial, sehingga bisa semakin banyak user setting yang bisa disimpan.

2708840194

Tersedia dua pilihan desain, yaitu kombinasi hitam silver dan full hitam semua. Dibanding OM-D seperti EM5 atau yang lain, PEN-F ini menang di megapiksel (20 MP vs 16 MP). Selain sensornya, perbedaan lain lebih ke desain fisik seperti cara melipat layar, lalu EM10 punya built-in flash, beberapa OM-D ada colokan mic dan ini tidak ada di PEN F. Tapi kami secara umum sangat menyukai PEN-F karena menyempurnakan semua PEN lama seperti EP5, EPL7 dan sebagainya yang kurang sukses penjualannya. Btw tahun peluncuran PEN-F ini adalah bertepatan dengan 80 tahun hadirnya Olympus di kancah fotografi dunia.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Canon punya banyak lini kamera saku serius Powershot, pilih yang mana?

Kamera saku memang nasibnya suram karena serbuan ponsel cerdas. Tapi bagi Canon, bisnis kamera saku harus terus hidup, maka itu seri Powershot kini memiliki banyak pilihan produk premium. Dengan bandrol harga yang cukup lumayan, kamera yang ditujukan untuk pendamping kamera utama ini punya berbagai fitur serius yang disukai fotografer. Apa saja pilihan yang ada? Berikut ke-lima produknya.

Canon G1X mk II

family-g1x

Kamera serius dengan sensor besar ini paling senior dan paling tinggi kastanya di kelas Powershot. Lensanya sudah termasuk baik dengan spek 24-120mm f/2.0-3.9 sedangkan kemampuan bidiknya 5,2 fps. Yang suka jendela bidik perlu menambah aksesori yang bisa dipasang di hot shoe. Inilah kamera yang ditujukan untuk mengejar kualitas gambar terbaik di kelasnya.

Canon G3X

family-g3x

Kamera dengan kasta dibawah G1X namun dengan harga yang lebih tinggi berkat lensanya yang termasuk superzoom 24-600mm f/2.8-5.6 yang didukung sensor 1 inci, membuatnya ideal untuk safari dengan gear minimal. Sama seperti G1X, anda perlu membeli aksesori jendela bidik bila perlu. Pengoperasian zoom lensanya diputar dengan tangan, mestinya bisa menghemat baterai.

Canon G5X

family-g5x

Kamera ini termasuk baru, kekuatan utamanya adalah di jendela bidik elektronik dan layar LCD yang bisa dilipat putar. Dari spek sensor dan lensa kamera ini persis sama dengan Canon G7X. Sebagai bonus, tersedia flash hot shoe untuk memasang lampu kilat. Adanya hot shoe membuat kamera ini agak jangkung dan sulit untuk dimasukkan ke saku.

Canon G7X

family-g7x

Kamera ini hadir lebih awal dari G5X, dirancang menjadi kamera saku premium dengan sensor 1 inci dan lensa bukaan besar 24-100mm f/1.8-2.8 yang bersaing dengan Sony RX100. Cocok untuk kebutuhan dasar fotografi maupun untuk travel biasa. Kamera ini tidak ada hot shoe sehingga tidak bisa pasang flash atau aksesori jendela bidik eksternal.

Canon G9X

family-g9x

Seri paling buncit di lini Powershot premium hadir bareng dengan G5X, bedanya G9X murni seperti kamera saku basic yang mengandalkan sensor 1 inci, dan lensa 28-84mm f/2.0-4.9 dan layar LCD-nya tidak bisa dilipat. Cocok untuk anda yang mencari kamera saku dengan hasil foto lebih baik dari kamera saku pada umumnya.

Harga kamera ini bervariasi mulai dari 5 hingga 10 juta rupiah, sudah bersaing dengan harga DSLR, namun memiliki kekuatan di ukuran dan lensa yang berkualitas. Sebagai info, sensor 1 inci sudah dianggap standar minimum untuk bicara kualitas, diatas itu ada pilihan sensor 4/3 milik Panasonic dan barulah APS-C. Nikon dan Samsung juga mengembangkan kamera dengan sensor 1 inci tapi dalam bentuk kamera mirrorless. Dari pengamatan kami sensor 1 inci punya hasil yang baik hingga ISO 1600, bahkan setara dengan hasil foto dari kamera DSLR generasi awal (tahun 2005-2007). Maka itu harga kamera Canon ini tidak bisa dibilang murah, karena kualitas sensornya yang termasuk baik.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Olympus hadirkan OM-D EM10 generasi kedua

Kabar menarik dari kubu kamera mirrorless, kali ini dari produsen yang terkenal dengan seri kamera klasiknya yaitu Olympus. Seri OM-D terjangkau yaitu E-M10 telah dibuatkan generasi keduanya, atau bernama lengkap Olympus OM-D E-M10 II. Masih mengandalkan sensor 4/3 dengan 16 MP, E-M10 II ini disempurnakan dengan 5 axis stabilizer dan 4K timelapse video. Keren? Simak selengkapnya fitur-fitur kamera retro klasik ini..

Olympus EM10 II

Olympus E-M10 II sepintas mirip dengan E-M5 dan E-M1, walau perbedaan utamanya adalah E-M10 tidak dilindungi oleh sistem weatherealed sehingga tidak untuk dipakai saat cuaca jelek (hujan, misalnya). Walau termasuk seri termurah, material bahan E-M10 II dari bahan logam berkualitas, dengan roda kendali yang besar dan mantap saat diputar. Layar LCD yang bisa dilipat ini juga sudah berjenis touchscreen, bahkan bisa dipakai untuk memidahkan area fokus saat mata kita melihat di jendela bidik.

OMD EM10 top

Fitur dan spesifikasi E-M10 II :

  • 16 MP, LiveMOS 4/3, bisa ISO 25.600
  • peredam getar 5-axis (yaw/pitch/roll/vertical/horizontal)
  • menembak kontinu hingga 8,5 fps
  • jendela bidik OLED 2,3 juta dot (0,62x)
  • 60-1/16000 detik (sync flash 1/250 detik)
  • built-in flash, 5,6 meter ISO 100
  • WiFi
  • fitur khas Olympus : berbagai filter efek, live-bulb dan live-time

Kekurangan dari kamera E-M10 II adalah masih memakai teknologi AF deteksi kontras, sehingga kurang handal untuk memotret aksi yang bergerak/berpindah dengan cepat. Selain itu sebagaimana layaknya mirrorless pada umumnya, sektor baterai juga jadi kendala. Walau masih termasuk sedang, kemampuan baterai untuk 320 kali jepret terasa kurang aman kalau untuk jalan-jalan seharian.

Olympus EM10 back

Harga Olympus E-M10 II adalah USD 650 bodi saja, atau USD 800 dengan lensa kit mungil 14-42mm powerzoom. Bodi bisa pilih yang hitam semua atau hitam dan silver.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..