X-Pro1, Kamera mirrorless pertama dari Fuji

Seakan belum puas dengan mengumumkan sekaligus 30 kamera baru beberapa hari lalu, Fujifilm kini membuat kejutan lagi dengan meluncurkan kamera mirrorless pertama mereka, sekaligus kamera saku profesional berdesain retro yang bernama Fuji X-Pro1. Sensor yang dipilih Fuji tidaklah sekecil Nikon One ataupun Micro Four Thirds, tapi sensor APS-C yang lebih dahulu sudah dipilih oleh Sony NEX dan Samsung NX. Fuji menamai mount mereka dengan nama X-mount dan beberapa lensa sudah disiapkan untuk dipilih.

Kamera made in Japan yang kemungkinana akan dijual seharga 16 juta body only ini berbalut magnesium alloy dengan roda pengatur shutter speed layaknya kamera film manual. Bila kamera mirrorless lain hanya punya jendela bidik elektronik, maka Fuji X-Pro1 punya jendela bidik hybrid yaitu bisa optikal maupun elektronik, hanya dengan memindahkan tuas di bagian depan kamera. Jendela bidik optiknya punya cakupan 90%, bila ingin mendapat cakupan 100% maka pindahkan saja ke jendela bidik elektronik yang tajam dengan 1,44 juta titik.  Kamera yang mampu memotret hingga 6 foto per detik ini juga punya rentang ISO 200-6400, seperti DSLR pada umumnya. Fitur lainnya tergolong standar untuk ukuran kamera tahun 2012 seperti 24 fps full HD movie dengan kompresi H.264, berbagai mode bracketing, flash hot shoe dan mode simulasi film untuk hasil bervariasi.

xpro1_with_lenses

Tersedia tiga lensa Fujinon XF sebagai pilihan paketnya dan uniknya ketiganya adalah lensa fix, yaitu fix wide 18mm f/2.0 (setara 27mm), fix normal 35mm f/1.4 (setara 52mm) dan fix potret dan makro 60mm f/2.4 (setara 90mm). Lensa zoomnya akan menyusul di tahun ini juga, yang semestinya adalah lensa 18-55mm.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Dahsyat, Fujifilm umumkan 30 kamera baru sekaligus!!

Berita mengejutkan di awal tahun 2012 datang dari Fujifilm yang mengumumkan kehadiran 30 (tigapuluh) kamera barunya, yang umumnya adalah penerus seri sebelumnya. Selain itu Fuji juga mengumumkan harga resmi kamera X-S1 yaitu seharga 8 juta rupiah. Sekedar mengingatkan, X-S1 adalah kamera yang sangat mirip DSLR tapi lensanya tidak bisa dilepas. Simak kamera apa saja yang diumumkan oleh Fuji di Januari 2012 ini.

fuji-sl300

Salah satu produk yang menarik adalah Fuji SL300 seperti pada gambar diatas. Produk ini merupakan kamera murah berjenis super zoom 30x dengan sensor CCD 14 MP dan dilengkapi dengan flash hot shoe. Meski lensanya nampak bisa diputar namun kenyataannya untuk melakukan zoom tetap dilakukan secara elektronik, dengan menekan tuas di dekat tombol rana atau di samping lensa.

Secara lengkap berikut adalah daftar 30 kamera yang diluncurkan oleh Fuji :

30-kamera

Dua kamera superzoom seri HS :
  • Fuji HS30 EXR (baterai Lithium)
  • Fuji HS25 EXR (baterai AA)
Tiga kamera saku seri F-EXR travel zoom :
  • Fuji F770 EXR (20x zoom, GPS, RAW)
  • Fuji F750 EXR (20x zoom)
  • Fuji F660 EXR (15x zoom)

Empat kamera superzoom seri S murah meriah :

  • Fuji S4500 (30x zoom)
  • Fuji S4400 (28x zoom)
  • Fuji S4300 (26x zoom)
  • Fuji S4200 (24x zoom)

Empat kamera superzoom seri SL (baru, lebih serius) :

  • Fuji SL300 (30x zoom)
  • Fuji SL280 (28x zoom)
  • Fuji SL260 (26x zoom)
  • Fuji SL240 (24x zoom)

Tiga kamera saku seri XP yang tahan air :

  • Fuji XP150 (bisa 10 meter)
  • Fuji XP100 (bisa 10 meter)
  • Fuji XP50 (bisa 1,5 meter)

Dua kamera saku tipis seri Z :

  • Fuji Z1000 EXR (wifi)
  • Fuji Z110

Dua kamera saku seri T :

  • Fuji T400 (10x zoom, 16 MP)
  • Fuji T350 (10x zoom, 14 MP)

Sepuluh kamera saku murah meriah :

  • Fuji JZ250,  JZ200 dan JZ100
  • Fuji JX700, JX580, JX550, JX520 dan JX500
  • Fuji AX600 dan AX500

Entah bagaimana pembeli dan pedagang bisa familiar dengan sekian banyak produk seperti ini, bahkan mungkin tidak semua tipe ini bisa dijumpai di pasaran tanah air. Bravo Fuji, semoga Quality control untuk produksi kamera sebanyak ini bisa tetap terjaga.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Menyikapi ‘Highlight Clipping’ pada kontras tinggi

Sering kita baca di sebuah review kamera digital yang menyatakan kekurangan dari kamera yang direview, cenderung mengalami highlight clipping. Disini kami akan jelaskan arti dari istilah highlight clipping pada sebuah foto, mengapa bisa terjadi dan cara menyikapinya. Dari istilah, highlight artinya area terang dalam sebuah foto. Lawannya adalah shadow (area gelap). Sebuah foto yang eksposurnya lengkap akan memiliki area shadow, midtone dan highlight yang berimbang. Namun bila area highlight terlalu terang maka akan terjadi clipping atau terlalu terang sehingga detail di daerah terang tersebut hilang (washout).

images

Tidak seperti mata manusia, setiap sensor kamera punya rentang jangkauan dinamis (dynamic range) yang lebih terbatas. Sensor tidak sanggup untuk merekam seluruh rentang terang gelap yang sangat lebar di alam ini.  Untuk menjaga foto tetap pada eksposur yang tepat, kamera akan melakukan metering dan menentukan nilai shutter, aperture dan ISO yang sesuai untuk setiap kondisi pemotretan. Meski kemampuan sensor dalam menangkap terang gelap di alam ini terbatas, foto yang dihasilkan semestinya tetap punya terang gelap yang pas karena kamera berpatokan pada medium grey 18% dalam mencari eksposur. Tapi semakin kontras obyek yang difoto, kamera akan semakin kesulitan dalam menghasilkan foto yang eksposurnya tepat. Disinilah setiap kamera memiliki pendekatan yang berbeda tergantung prosesor dan insinyur pembuatnya.

Contoh highlight clipping

Kamera saku dan sejenisnya, dengan sensor kecil, lebih rentan mengalami highlight clipping. Obyek yang cukup kontras sudah bisa membuat kamera saku kesulitan dan area putih yang dihasilkan akan cenderung washout (lihat detil jendela yang washout pada foto diatas). Kamera DSLR dengan sensor lebih besar pun tetap bisa mengalami  highlight clipping bila dipakai memotret obyek yang sangat kontras. Jadi bila anda memang hanya memiliki kamera dengan sensor kecil, perlu memahami keterbatasan sensor kamera anda dalam menangkap rentang terang gelap di alam ini.

Ada beberapa cara menyikapi dan menyiasati keadaan highlight clipping, diantaranya :

  • periksa histogram, cek apakah area terang berada terlalu kekanan sehingga over eksposur?
  • saat melihat hasil foto di kamera, aktifkan fitur ‘highlight clipping indicator’ sehingga area putih yang mengalami washout akan ditandai oleh kamera dalam bentuk kedip-kedip
  • tidak semua area terang yang washout itu dianggap gagal, bila yang mengalami washout bukan obyek foto yang penting maka abaikan saja
  • namun bila area terang yang washout itu adalah bidang penting dalam foto, maka foto tersebut perlu diulang
  • bila kamera sering mengalami clipping di area kontras tinggi, bisa turunkan komponsasi eksposur ke -1/3 sehingga foto akan dibuat 1/3 stop lebih gelap (foto yang lebih gelap akan membuat detil di area shadow lebih hitam)
  • kamera tertentu (seperti EOS 550) punya fitur highlight tone priority, fitur tersebut bisa diaktifkan bila kita sering memotret benda putih guna menjaga detilnya
  • banyak kamera modern yang punya fitur peningkat dynamic range (Active D Lighting, Dynamic Range Optimizer dsb) yang akan menaikkan detil di area gelap (shadow), perhatikan bahwa fitur ini umumnya tidak berhasil mencegah highlight clipping sehingga meski fitur ini diaktifkan namun hasilnya clipping tetap terjadi
  • bila kamera anda ada fitur RAW, gunakan file RAW untuk memotret area kontras tinggi lalu edit secara manual di komputer untuk menyelamatkan detil di area terang yang mungkin tidak bisa direkam dengan format JPG
  • bantuan lampu tambahan untuk menyeimbangkan kontras bisa dicoba, yang umum adalah pemakaian flash di siang hari (fill flash) atau gunakan reflektor
  • terakhir, sebisa mungkin hindari obyek foto yang terlalu kontras.
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Fuji X-S1, kamera premium seri X dengan sensor EXR 2/3 inci

Masih ingat Fuji X100 dan X10? Keduanya adalah kamera seri X dari Fuji yang digolongkan kedalam seri premium dan dibuat di Jepang. Kini Fuji menghadirkan lagi produk ketiga di seri X yaitu Fuji X-S1 yang memiliki bentuk sangat mirip kamera DSLR, namun dengan lensa yang tidak bisa dilepas. Sepintas X-S1 agak mirip dengan kamera superzoom Fuji lain khususnya HS-20, tapi yang membedakan disini Fuji X-S1 punya kualitas material bahan kelas atas dipadu dengan sensor EXR berukuran cukup besar. Sebagai lensanya diberikan lensa Fujinon 24-624mm alias 26x zoom optik.

Fuji X-S1 masuk di kelompok kamera prosumer yang mengisi celah antara kamera DSLR dan kamera biasa. Dibanding merk lain, Fuji termasuk yang konsisten dari dulu membuat kamera prosumer yang berkualitas, khususnya dengan lensa yang bisa di-zoom secara manual lewat putaran tangan. Dengan begitu, hasrat memiliki kamera ‘serius’ tidak harus diwujudkan dengan membeli kamera DSLR, cukup dengan kamera seperti Fuji X-S1 ini dan dijamin tidak akan dipusingkan lagi dengan daftar lensa yang harus dibeli. Karena lensa di Fuji X-S1 ini sudah sangat mumpuni untuk berbagai kebutuhan fotografi seperti wideangle hingga telefoto, berkat digunakannya lensa Fujinon 24-624mm f/2.8-5.6 yang diameter filternya 62mm.

fuji-x-s1-depan

Dari spesifikasi lensa mungkin tidak terlalu menarik karena Fuji HS20 pun sudah memiliki lensa 24-720mm alias 30x zoom. Tapi yang membedakan disini adalah sensor EXR di HS20 berukuran 1/2 inci yang cukup kecil untuk mengimbangi desain lensa HS20, sedangkan X-S1 punya sensor EXR berukuran 2/3 inci yang sudah lumayan besar untuk ukuran kamera non DSLR. Lagipula HS20 memiliki resolusi sensor 16 MP sedang X-S1 justru ‘hanya’ 12 MP (saat ini banyak produsen kamera yang sudah kembali memakai sensor 10-12 MP daripada dulu yang memakai sensor 16-18 MP akibat noise yang terlalu parah).

fuji-x-s1-blkg

Banyak fitur yang dimiliki Fuji X-S1 yang tergolong mengesankan dan kami meyakini kalau produk ini akan menjadi kamera prosumer terbaik di tahun 2011 ini, seperti :

  • kualitas bodi yang sangat baik
  • lensa manual zoom, 24-624mm f/2.8-5.6 dengan 9 bilah diafragma
  • sensor 12 MP EXR CMOS berukuran 2/3 inci
  • burst cepat sampai 10 fps
  • jendela bidik besar dengan 1,44 juta titik
  • layar LCD resolusi 460 titik berukuran 3 inci yang bisa dilipat
  • Full HD video 30 fps dengan manual zoom dan external mic
  • mode manual PASM dan RAW, mode Film simulation, mode Macro hingga 1cm
  • ada fitur 360° Motion Panorama
  • flash TTL dengan flash hot shoe

Menariknya, berkat bodinya yang banyak mengandung komponen logam, kamera ini menjadi sangat berat hingga bobotnya hampir satu kilogram atau sama dengan Nikon D700 tanpa lensa. Belum ada info harga untuk kamera Fuji X-S1 ini, tapi kami memprediksi harganya akan seberat bobotnya alias cukup mahal. Sekitar 7 juta mungkin?

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Lumix DMC-GX1 lengkapi jajaran kamera mirrorless Panasonic

Lengkap sudah jajaran kamera mirroless dari Panasonic, mulai dari yang mungil dan simpel yaitu Lumix GF-3, yang mirip DSLR yaitu Lumix G3 dan yang baru saja diumumkan hari ini adalah Lumix GX1. Dari namanya kita tahu kalau ini adalah varian baru yang bukan penerus seri sebelumnya, karena GX1 ditargetkan untuk yang serius di fotografi namun perlu kamera kompak yang ringkas. Dari tampilan luarnya mudah disimpulkan kalau GX1 adalah kelahiran kembali GF-1 dengan desain yang retro dan keren, dengan pilihan warna hitam atau silver.

gx1k_front

Layaknya kamera micro Four Thirds lainnya, Lumix GX-1 punya sensor 4/3 dengan lensa yang bisa dilepas. Kali ini Panasonic membenamkan resolusi 16 MP pada keping sensor CMOS di GX1, bersamaan dengan fitur layar sentuh dan video dengan kompresi MPEG-4 lengkap dengan tata suara stereo. Sebagai lensa kit diberikan lensa Lumix dengan fokal 14-42mm f/3.5-5.6 OIS yang ada dua versi, yaitu versi biasa dan versi X. Bedanya kalau versi X lensanya bisa maju mundur seperti lensa kamera saku sehingga ukurannya saat sedang masuk akan sangat kecil. Namun lensa X tidak punya ring untuk manual zoom, sebagai gantinya tersedia tuas zoom di sisi kiri lensa layaknya kamera saku biasa.

gx1k_top

Karena tergolong kamera kompak, Lumix GX1 tidak menyediakan jendela bidik elektronik. Bila dirasa perlu, kita bisa membeli terpisah sebuah jendela bidik eksternal DMW-LVF2 yang dipasang di atas flash hot shoe. Tanpa adanya cermin (sesuai arti kata ‘mirrorless‘) maka tidak ada auto fokus yang cepat khas DSLR, sebagai gantinya dipakailah metoda deteksi kontras untuk mencari fokus. Untungnya Lumix GX1 memiliki kecepatan mencari fokus yang tergolong cepat dan hampir menyamai kinerja auto fokus DSLR, yaitu sekitar 0.1 detik saat cahaya cukup dan 1 detik saat kurang cahaya. Terdapat beragam metoda auto fokus seperti face detection (mendeteksi sampai 15 wajah sekaligus), AF tracking, 23-area, 1-area dan pinpoint focus. Kita bisa juga menentukan mana yang ingi dibuat fokus dengan menyentuh sebuah titik di layar LCD, atau bila ingin manual fokus bisa dengan menggeser indikator di layar.

gx1k_back

Dengan harganya yang cukup mahal, Lumix GX1 tampak lebih cocok untuk fotografer serius yang mencari kamera kompak namun tidak kompromi terhadap kinerja, hasil foto dan fitur kamera. Sayang layar LCD berukuran 3 inci di kamera ini tidak bisa dilipat, apalagi diputar.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Nikon 1, sistem kamera mini baru dari Nikon

Setelah lama ditunggu, akhirnya Nikon memutuskan untuk ikut terjun di dunia kamera miniatur DSLR alias kamera mirrorless, menyusul langkah Olympus, Panasonic, Sony, Samsung dan Pentax yang lebih dahulu hadir. Hal ini menepis anggapan kalau Nikon tidak akan mau membuat kamera mirrorless karena sudah nyaman dengan penjualan kamera DSLR mereka. Untuk langkah awal Nikon meluncurkan format baru bernama Nikon 1 dengan diawali oleh dua tipe kamera yaitu Nikon V1 dan Nikon J1 dengan lensa yang tentunya bisa dilepas. Seperti apa kamera Nikon 1 ini? Simak selengkapnya.

Inilah spesifikasi dasar dari kamera Nikon mirrorless yang baru saja diluncurkan :

  • nama : Nikon 1
  • format kamera : mirrorless (tanpa cermin seperti di DSLR)
  • pilihan produk : J1 (kamera saku ekonomis) dan V1 (kamera saku premium)
  • nama mount lensa : Nikon CX
  • jenis sensor : CMOS
  • ukuran sensor : 13.2 x 8.8mm
  • crop factor : 2,7x
  • lensa kit : 1 Nikkor 10-30mm VR (setara 28-80mm)
  • lensa lain yang sudah tersedia : Lensa tele 30-110mm VR (setara 80-300mm), lensa fix 10mm dan lensa 10-100mm VR (setara 28-280mm).

Nikon 1 hadir dengan mengisi celah antara kamera mirrorless bersensor Four Thirds (sensor besar) dan kamera Pentax Q (sensor kecil). Dari ukuran sensor yang dipilih Nikon, dihasilkan crop factor yang baru yaitu 2,7x bernama Nikon CX sehingga untuk mendapatkan lensa yang punya rentang fokal 28-80mm Nikon harus membuat lensa sangat wide yaitu 10-30mm. Padahal kubu Four Thirds yang punya 2x crop factor saja kesulitan untuk membuat lensa wide. Maka format CX ini memang lebih cocok untuk rentang fokal tele, terbukti lensa tele yang setara dengan 80-300mm cukup diwujudkan dengan membuat lensa 30-110mm saja. Keuntungan sensor Nikon 1 adalah memungkinkan untuk dibuat lensa yang berukuran lumayan kecil, seperti gambar di atas. Bandingkan dengan format Sony NEX yang lensanya saja sudah besar.

Ukuran sensor Nikon 1 yang lebih besar dari sensor kamera saku (lihat gambar di atas) bisa membawa keuntungan lain yaitu semestinya sanggup memberi hasil foto yang relatif bersih dari noise di ISO menengah (sampai dengan ISO 400). Setidaknya ISO 800 bisa dipakai bila terpaksa, dengan noise yang masih bisa ditolerir. Sebagai pembanding, kamera saku akan mulai noise di ISO 200, sedangkan kamera DSLR mulai noise di ISO 800. Tapi sensor Nikon 1 masih kurang memadai untuk mendapatkan kesan foto yang namanya bokeh atau latar belakang yang blur, meski memakai bukaan besar sekalipun.

Lalu untuk siapa Nikon membuat kamera mirrorless ini? Pada dasarnya bukan hal yang mudah untuk meminta para fotografer beralih dari DSLR ke kamera mirrorless. Alasan utama adalah harga kamera mirrorless yang bahkan masih lebih mahal dari kamera DSLR pemula. Alasan lain adalah kurangnya pilihan lensa dan tidak semua orang rela meninggalkan kenyamanan mengintip melalui jendela bidik optik. Nikon sadar betul akan hal itu dan dari awal tidak menargetkan para pecinta DSLR Nikon untuk memiliki Nikon 1. DSLR Nikon ditujukan untuk mereka yang hobi fotografi sampai fotografer kelas pro, sedang Nikon 1 lebih diposisikan sebagai pengisi celah antara kamera saku dan DSLR. Maka itu Nikon 1 akan disukai oleh mereka yang tidak ingin memiliki DSLR (mungkin karena ukurannya atau karena tidak ingin pusing memilih lensa), mereka yang mencari kamera kecil yang lensanya bisa dilepas namun hasilnya tetap memenuhi standar, atau mereka yang ingin memanfaatkan kameranya untuk foto maupun video namun mudah digunakan (point and shoot).

Bila anda ingin mengenal lebih dekat dengan keluarga baru Nikon ini, berikut kami sampaikan juga spesifikasi keduanya :

Nikon J1

  • sensor 10 MP CMOS
  • 73 titik AF (hybrid-dengan deteksi fasa dan deteksi kontras) tercepat di dunia
  • prosesor dual core Expeed 3
  • layar 3 inci, 461 ribu piksel
  • ada manual mode dan RAW tapi diakses lewat menu
  • burst 10 fps
  • ISO 100-3200, bisa ditingkatkan sampai ISO 6400
  • lampu kilat dengan Guide Number 5
  • full HD video, audio stereo, H.264
  • baterai EN-EL20, bisa hingga 230 kali jepret
  • dijual seharga 6 jutaan dengan lensa kit 10-30mm

Nikon V1 sama seperti J1 kecuali :

  • bodi berbalut magnesium-alloy
  • resolusi layar 900 ribu piksel
  • ada jendela bidik elektronik dengan resolusi tinggi
  • ada shutter mekanik
  • tidak ada lampu kilat built-in
  • ada input untuk mikrofon stereo
  • baterai EN-EL15, bisa sampai 400 kali jepret
  • dijual seharga 8 jutaan dengan lensa kit 10-30mm

Pemilik flash Nikon tampaknya harus gigit jari karena untuk bisa memasang flash di Nikon V1 perlu membeli lampu kilat SB-N5 seharga 1 jutaan yang bisa dipasang di Accesory Port. Untungnya flash SB-N5 ini serba bisa, yaitu berfungsi sebagai flash dan LED untuk rekam video. Kepala flashnya juga bisa diputar kiri kanan maupun ke atas bawah untuk teknik bouncing / menembakkan flash ke langit-langit. Uniknya, meski flash ini adalah eksternal namun tidak memiliki baterai sehingga dalam bekerja dia mengambil daya dari baterai yang ada di kamera.

Semuanya kembali ke pasar. Pasarlah yang akan menentukan apakah Nikon 1 akan sukses atau gagal. Dengan harga jualnya, kita bisa memilih DSLR kit seperti Nikon D5100 atau mirrorless lain seperti Lumix GF-3 atau Olympus E-PL3. Persaingan bakal ketat, tapi Nikon bukan tanpa persiapan untuk terjun di dunia baru ini. Nikon bahkan sudah mempersiapkan berbagai lensa dan aksesori khusus untuk format ini. Kalaupun Nikon 1 akan gagal, setidaknya Nikon sudah mencoba mengisi semua segmen mulai dari kamera saku, kamera DSLR dan kamera mirrorless. Bagaimana dengan sikap yang akan diambil Canon sebagai pesaing Nikon, apakah juga akan berani membuat kamera mirrorless

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Inilah kamera-kamera baru pesaing kamera DSLR

Di awal September 2011 ini, Samsung dan Fuji secara bersamaan mengumumkan kehadiran kamera andalan mereka yaitu Samsung NX200 (penerus NX100) dan Fuji FinePix X10 (versi ‘murah’ dari X100). Kejutan ini memang semakin memeriahkan berita kehadiran kamera-kamera baru di paruh kedua tahun 2011 dimana sebelumnya sudah lebih dahulu hadir Nikon Coolpix P7100 (penerus P7000), Sony NEX 7 (flagship di seri NEX) dan Sony SLT A77 (penerus DSLR A700). Kesemua kamera ini ditujukan sebagai alternatif lain dari kamera tradisional DSLR yang memakai cermin dan prisma yang besar itu. Meski demikian, tidak semua kamera ini sama secara jenisnya, ada yang memiliki sensor kecil namun ada juga yang pakai sensor APS-C yang sama besarnya seperti sensor kamera DSLR.

Nikon Coolpix P7100

Kamera prosumer seharga 4 jutaan ini ditujukan untuk mereka yang serius dalam hal kendali dan pengaturan kamera saku, terbukti dengan banyaknya tombol dan tuas di seluruh bodi kamera Nikon P7100. Meski masih tergolong kelompok kamera saku namun ukuran P7100 lumayan besar dan berat sehingga tidak nyaman untuk dimasukkan ke saku. Kamera ini punya sensor CCD 10 MP berukuran sedikit lebih besar dari kebanyakan kamera saku lain  (1/1.7 inci), lensa 28-200mm f/2.8-5.6 dan kendali manual lengkap. Layar LCD 3 inci di kamera ini bisa dilipat untuk memudahkan komposisi. Nikon menargetkan P7100 sebagai kamera pendamping dari DSLR, atau sebagai kamera cadangan. Tapi dengan harga jualnya yang lumayan mahal, P7100 sudah bisa dianggap sebagai pesaing kamera DSLR pemula seperti EOS 1100D atau Nikon D3100.

Fuji FinePix X10

Inilah kamera saku dengan desain klasik namun sangat mewah asli buatan Jepang, sebagai generasi kedua kamera Fuji seri X (sebelumnya ada X100 dengan lensa fix dan sensor besar). Kali ini Fuji memberikan lensa jenis zoom dengan putaran manual yang dipadukan dengan switch on-off yang praktis, dengan rentang fokal 28-112mm f/2.0-2.8. Sensor di X10 memakai CMOS jenis EXR beresolusi 12 MP dengan ukuran lumayan lega yaitu 2/3 inci. Tersedia juga jendela bidik optik layaknya DSLR dengan cakupan 85%. Kamera ini juga mampu merekam video full HD, memotret hingga 10 gambar per detik dan terdapat stabilizer optik di lensanya. Seperti Nikon P7100, kamera Fuji X10 cocok sebagai pendamping kamera DSLR anda, apalagi bila anda tidak kuat membeli lensa DSLR dengan bukaan besar. Sayangnya harga jual X10 ini belum diumumkan.

Sony NEX-7

Bila kedua kamera di atas masih belum memuaskan anda karena hanya memakai sensor kecil, maka Sony NEX-7 mungkin bisa menggoda anda. Seri NEX dari Sony adalah seri kamera mungil dengan sensor besar serta memiliki lensa yang bisa dilepas, yang tergolong di kelas kamera mirrorless. Sebagai lensanya Sony menyediakan lensa khusus dengan E mount, meski lensa dengan A mount juga bisa digunakan dengan bantuan sebuah adapter. NEX-7 didedikasikan sebagai kamera mungil paling canggih yang pernah ada, dengan sensor 24 MP CMOS, berbalut magnesium alloy, memiliki jendela bidik elektronik, TRINAVI user interface (dua roda kendali di bagian atas dan satu di belakang) dan dijual seharga 13 jutaan dengan lensa kit. Sementara NEX-5N adalah kamera versi ekonomis dari NEX dengan sensor 16 MP, tanpa jendela bidik elektronik (harus beli terpisah) dan layar LCD 3 inci yang bisa diangkat, dijual lebih murah di harga 6 jutaan dengan lensa kit. Bila kamera mungil ini sudah memakai sensor APS-C, untuk apa lagi memakai DSLR? Hasil fotonya pasti akan sama baiknya.

Samsung NX200

Sebagai pesaing langsung dari NEX milik Sony, Samsung juga memiliki seri kamera mirrorless berkode NX (penamaan yang mirip, kebetulan?) yang kini sudah mencapai generasi ke dua yaitu Samsung NX200 dengan sensor APS-C 20 MP CMOS. Sebagai mount lensa, Samsung mendesain NX-mount dan tersedia lensa kit 18-55mm f/3.5-5.6 OIS dan dijual bersamaan dengan NX200, namun belum diketahui harganya. Target menyaingi Sony NEX membuat Samsung harus mempersenjatai NX200 dengan berbagai kelebihan seperti manual mode, RAW, 7 fps burst, full HD movie dan layar  Amoled 3 inci yang sayangnya tidak bisa dilipat. Desain grip dari Samsung NX200 cukup cembung dan tampak nyaman digenggam sama halnya seperti Sony NEX-7. Samsung pun tengah menyiapkan jajaran lensa buatan sendiri dengan NX-mount untuk waktu mendatang.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Lima kamera saku super murah di 2011

Dana yang terbatas bukan halangan untuk memiliki sebuah kamera saku idaman. Kemajuan jaman telah membawa dampak positif buat konsumen. Kali ini kami sajikan lima kamera saku buatan tahun 2011, yang dahulu bila kita membeli kamera dengan spesifikasi serupa harganya bisa mencapai 1,5 jutaan, namun kini kamera-kamera ini dijual super murah, antara 600-800 ribuan rupiah saja. Anda yang mungkin baru ingin terjun ke dunia fotografi yang lebih baik dari sekedar memotret memakai kamera ponsel, ada baiknya untuk memiliki satu diantara kelima kamera berikut ini.

Casio Exilim EX-ZS5 (800 ribuan)

Inilah kamera keren dari Casio yang terkenal dengan ketipisannya berkat memakai baterai Lithium dan desain lensa yang unik. Kamera dengan sensor 14 MP ini sudah dilengkapi dengan lensa yang sanggup menjangkau area wide 26mm hingga tele 130mm, alias 5x zoom optikal. Untuk urusan merekam video, kamera ini mampu merekam video berformat MJPEG dengan resolusi 848 x 480 piksel yang tergolong baik. Kamera ini  memiliki layar LCD cukup besar yaitu 2,7 inci.

casio_ex-zs5

Plus : wide 26mm, bodi tipis, WVGA movide, super macro mode

Minus : tidak ada

Nikon Coolpix L23 (700 ribuan)

Meski murah, desain Nikon L23 yang mungil dan sexy ini tidak mengesankan kamera murahan. Meski tampak kalah dibanding pesain dalam urusan resolusi sensor, sejatinya resolusi kamera ini sudah mencukupi yaitu dengan sensor 10 MP. Urusan lensa, Nikon L23 ini tidak kalah dengan Casio EX-ZS5, yaitu memiliki rentang 28-140mm atau 5x zoom optikal. Kemampuan merekam video Nikon L23 cukuplah dengan resolusi VGA atau 640 x 480 piksel, dengan layar LCD berukuran 2,7 inci dan ditenagai dengan dua baterai AA.

nikon-coolpix-l23

Plus : lensa wide 28mm

Minus : sensor berukuran kecil (1/2.9 inci)

Canon Powershot A800 (700 ribuan)

Canon lebih dahulu dikenal sebagai produsen kamera saku termurah dengan produk Powershot seri A, hingga saat ini kehadiran A800 masih menjadi pilihan Canon di kelas termurah. Mengusung sensor yang sama dengan Nikon L23, Canon A800 juga merasa cukup pede dengan sensor 10 MP, dengan didukung lensa Canon 37-112mm atau 3,3 x zoom optik yang tidak terlalu wide. Kemampuan rekam video juga cukup dengan resolusi VGA dan layar LCD berukuran 2,5 inci serta ditenagai dua baterai AA.

canon-a800

Plus : super macro mode

Minus : lensa kurang wide

Olympus T-100 (600 ribuan)

Di awal tahun 2011 Olympus meluncurkan kamera saku termurahnya yaitu T-100 dengan desain tipis dan minimalis berkat pemakaian baterai Lithium. Sensor di T-100 cukup lumayan dengan resolusi 12 MP, dibekali lensa 36-108mm alias 3x zoom optik yang tergolong standar. Kemampuan rekam video T-100 juga hanya resolusi VGA saja, serta layar T-100 cukup kecil dengan 2,4 inci.

olympus-t-100

Plus : fitur AF tracking

Minus : layar kurang lega

Kodak EasyShare C1530 (600 ribuan)

Kodak yang kini semakin kurang populer masih terus mencoba bertahan di tengah persaingan kamera digital dengan mengandalkan berbagai produk di segmen bawah. Kali ini sebagai perwakilan kami hadirkan Kodak C1530 yang sudah memakai sensor 14 MP ini punya lensa dengan rentang 32-96mm atau 3x zoom optik yang lumayan cukup wide meski agak kurang tele. Kodak 1530 sudah bisa merekam video resolusi VGA, dilengkapi dengan layar LCD 3 inci dan ditenagai dua buah baterai AA.

kodakc1530

Plus : layar besar, fitur share

Minus : desain agak jelek

Kesimpulan

Kelima kamera diatas memang sulit dipercaya, dijual dengan rentang harga 600-800 ribuan saja. Meski demikian kelimanya memang hanya menjadi kamera termurah di tiap merk yang ditujukan untuk pembeli dengan dana terbatas. Ada beberapa keterbatasan yang mesti disandang oleh kamera murah, sebutlah misalnya hanya memiliki fitur auto saja, tidak ada fitur image stabilizer atau HD movie yang biasa dijumpai di kamera berharga diatas 1 jutaan. Namun untuk urusan fotografi kelima kamera di atas sudah mampu menyajikan gambar yang tajam dengan resolusi tinggi (antara 10-14 MP) dan beberapa bahkan punya lensa yang wide. Rekomendasi kami adalah Casio Exilim EX-ZS5 dengan sensor 14 MP, lensa wide 26mm dan WVGA movie mode yang hampir mendekati resolusi HD.

Bila anda menginginkan salah satu dari lima kamera di atas, anda juga bisa membelinya melalui kami, dijamin aman dan tetap murah.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..