Review lensa ultrawide Tamron 17-35mm f2.8-4 Di OSD

Tamron sebagai produsen lensa dari Jepang yang konsisten merilis lensa untuk berbagai kamera khususnya DSLR, terus memberi alternatif menarik untuk fotografer hobi maupun profesi yang mencari harga yang wajar dengan kualitas tak kalah dengan lensa yang harganya lebih mahal. Bila sebelumnya Tamron sudah membuat lensa 35-150mm yang fokal lensa zoomya mencukupi untuk bermacam kebutuhan harian seperti 35mm, 50mm, 85mm dan sebagainya, maka kali ini kami akan mengupas lensa Tamron 17-35mm f/2.8-4 yang termasuk lensa ultra lebar ekonomis untuk DSLR Canon dan Nikon.

Fokal 17mm memberi perspektif dan kesan lebar yang berbeda dari yang kita lihat

Umumnya lensa lebar disukai oleh mereka yang menekuni fotografi pemandangan atau interior. Dari golongan fokal lensa, sebetulnya 35mm sudah termasuk lebar, meski saat ini orang akan lebih terkesan oleh lensa 28mm apalagi 24mm. Tapi bila yang dicari justru fokal lensa yang sangat lebar, maka angka 17mm adalah langkah aman untuk mendapat perspektif dramatis yang ekstra luas. Memang dalam persaingan lensa masa kini, produsen terus membuat lensa yang semakin lebar seperti 16mm, 14mm hingga 10mm untuk full frame, yang berdampak pada harga yang makin mahal sedangkan belum tentu kita butuh sampai selebar itu. Kami ingat dulu itu lensa ultra lebar dari Canon yang umum itu hanya Canon 17-40mm saja, atau Nikon 16-35mm. Maka itu lensa Tamron 17-35mm ini kami lihat punya rentang fokal yang pas, dimulai dari 17mm dan diakhiri hingga 35mm, dan bila ingin meneruskan zoom diatas 35mm langsung pasang lensa Tamron 35-150mm, terus menyambung kalau belum puas ada Tamron 150-600mm, lengkap dan tanpa overlap sedikit pun, mantap..

Dipasang di bodi Nikon D600, perpaduan lensa dan kamera tampak seimbang, pas dan tidak (terlalu) memberatkan saat dibawa.

Baiklah, cukup pendahuluannya, kita langsung masuk ke topik. Kami mencoba lensa yang nama lengkapnya Tamron 17-35mm f/2.8-4 Di OSD dengan mount Nikon, dipasang di D600 full frame. Bila lensa ini dipasang di kamera DSLR APS-C maka akan rugi karena jadi tidak ultra wide lagi. Berikut fakta-fakta lensa ini :

  • untuk dipakai di DSLR, dengan mount Canon atau Nikon
  • berat 460 mm
  • diameter filter 77mm
  • motor fokus OSD (bukan USD)
  • tidak ada penstabil getar VC
  • tidak ada indikator jarak fokus untuk membantu hiperfokal/infinity
  • lensa hanya sedikit memanjang saat diputar zoomnya
  • ada karet pencegah masuknya air di bagian mount belakang

Continue reading Review lensa ultrawide Tamron 17-35mm f2.8-4 Di OSD

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Review : lensa Tamron 18-200mm VC

Inilah review kami untuk lensa Tamron 18-200mm VC. Lensa yang bernama lengkap Tamron 18-200mm f/3.5-6.3 Di II VC ini adalah lensa untuk DSLR (Canon/Nikon) dengan sensor APS-C yang memberikan fokal lensa setara 28-300mm di full frame. Dengan rentang fokal sepanjang ini kebutuhan foto yang bervariasi dari wide hingga tele bisa dicakup hanya dengan satu lensa saja. Biasanya lensa ini dibeli oleh mereka yang ingin ‘naik kelas’ dari lensa kit, alih-alih menambah satu lensa tele seperti 55-200mm maka sekalian saja lensa kitnya diganti dengan lensa superzoom seperti Tamron 18-200mm VC ini.

Lensa dengan rentang 18-200mm saat ini bukan yang paling panjang dalam hal rentang zoom, karena ada juga lensa lain seperti 18-250mm hingga bahkan 18-400mm. Tapi keuntungan dari lensa 18-200mm ini adalah ‘cukup’ dalam banyak hal, seperti cakupan lensa yang cukup (jarang juga orang pakai diatas 200mm untuk foto sehari-hari), ukuran yang cukup (tidak terlalu besar), bobot yang cukup ringan (hanya 400 gram) dan harga yang cukup murah (biasanya lensa superzoom harganya diatas 5 juta, tapi ini dibawah 3 juta saja). Dan Tamron dulu juga pernah membuat lensa 18-200mm yang sudah digantikan dengan lensa 18-200mm VC, ya tentu VC disini adalah pembeda utamanya.

VC, atau Vibration Compensation, adalah fitur peredam getar yang bila diaktifkan bisa membantu kita mendapat foto yang tajam saat tangan kita sedikit goyang, khususnya di shutter speed agak lambat, dibawah 1/100 detik. Fitur VC juga membantu memberi tampilan yang lebih stabil di jendela bidik, selama tombol shutter ditekan dan ditahan setengah. Perlu diingat bila shutter terlalu lambat maka VC tidak bisa membantu, misal dibawah 1/10 detik tentu harus pakai tripod. Tapi hadirnya VC di lensa ekonomis ini kami apresiasi karena bakal memudahkan dalam memotret khususnya bila pakai fokal lensa yang lebih tele (diatas 50mm). Dalam prakteknya VC di lensa ini terbukti bisa menstabilkan getaran pada shutter agak lambat.

VC Off, 1/20 detik, 65mm
VC On, 1/20 detik, 65mm

Contoh diatas menunjukkan bedanya pakai VC dan tidak. Dengan fokal lensa diset ke 65mm (ekuiv. 100mm di full frame), foto yang tajam bisa didapat di 1/20 detik atau lebih dari 2 stop.

Lensa 18-200mm VC juga mendapat desain luar yang baru dan tampak lebih modern, dengan warna hitam doff yang keren. Di bodinya terdapat tuas fokus AF-MF, tuas VC On-Off dan Zoom lock yang mencegah lensa memanjang karena gravitasi saat menghadap ke bawah. Ring manual fokus ada di ujung depan dan hanya bisa diputar kalau tuas fokus di posisi MF, artinya di lensa ini tidak didesain untuk bisa langsung manual fokus setelah auto fokus, yang mana adalah wajar mengingat segmen dan harga lensanya. Bicara soal fokus, motor untuk auto fokus di lensa ini memang bukan yang kelas ultrasonic seperti lensa Canon USM atau Tamron USD, tapi juga bukan motor fokus jadul yang berisik. Motor fokusnya cukup senyap dan cukup cepat, dengan teknologi yang mengutip dari web Tamron adalah DC motor-gear train, yang artinya masih pakai gear. Untuk mode servo AF-S motor fokus di lensa ini tidak ada masalah, namun untuk AF-C memang kecepatan motor AF-nya akan kesulitan bila suyek yang difoto bergerak terlalu cepat.

Tentunya yang perlu diketahui paling utama dari sebuah lensa adalah kualitas optiknya. Sebelum kesana, perlu dimaklumi dulu bahwa lensa superzoom manapun memang tidak bisa mendapatkan performa optik sangat tinggi, karena lensa semacam ini dirancang untuk kepraktisan (zoom panjang) dan bukan untuk mengejar kualitas optik terbaik. Apalagi dari harganya kita tentu sudah bisa memprediksi kualitas optiknya. Tapi jangan salah sangka juga, optik di lensa ini termasuk baik, setara dengan lensa kit pada umumnya. Itu akibat modernisasi manufaktur khususnya dalah desain lensa pakai komputer sehingga hasilnya bisa tetap sesuai standar masa kini.

Untuk melihat kualitas optik ada beberapa faktor yang perlu ditinjau :

Sharpness

Tentunya bagian yang difokus harus tampak tajam, nah lensa ini bisa menghasilkan foto yang cukup tajam khususnya di kamera dengan sensor dibawah 20 MP. Pada bagian tengah ketajaman termasuk baik, dan di bagian tepi ketajaman agak menurun. Performa lensa paling tajam diantara 18-100mm dan tampak lebih soft di 135mm apalagi di 200mm. Warna dan kontras juga termasuk baik, meski kemampuan rendering detail mikro kontras (clarity) dari lensa ini tidak begitu tinggi.

Bokeh

Bagian yang tidak fokus akan menghasilkan gambar yang blur dan itu kerap dicari sebagai bokeh, nah biasanya bokeh yang menarik didapat di bukaan besar dan fokal lensa terpanjang. Nah lensa ini sayangnya menghasilkan bokeh yang kurang blur, masih tampak agak jelas meski sudah memakai f/6.3 di 200mm. Wajar mengingat lensa ini bukan lensa bukaan besar.

Distorsi dan fringing

Cacat lensa kadang bukan menandakan lensa bermasalah, cacat lensa itu diartikan kekurangan lensa yang masih bisa ditoleransi akibat beberapa faktor. Diantara hal yang sering dijumpai dari lensa adalah distorsi dan fringing. Untungnya keduanya dengan mudah bisa dikoreksi melalui editing foto. Lensa 18-200mm ini distorsinya di posisi wide 18mm cukup terasa, dan itu wajar. Yang agak aneh adalah di fokal 35mm keatas justru mengalami distorsi cekung (pincushion). Selain itu di keadaan kontras tinggi akan muncul sedikit fringing yang berwarna keunguan.

Sampel foto

Beberapa foto yang diambil dengan lensa ini (dalam ukuran yang sudah diperkecil) :

Kesimpulan

Secara umum lensa ini ditujukan untuk mereka pengguna DSLR yang perlu satu lensa yang praktis seperti untuk traveling atau penghobi pemula. Kualitas optik memang termasuk sedang-sedang saja, tapi bayangkan dengan harga dibawah 3 juta kita mendapat satu lensa yang termasuk modern, ada VC, dan tidak terlalu besar/berat sehingga bisa menjadi pengganti lensa kit seperti 18-55mm paketan dari pabriknya. Beberapa kekurangan dari lensa ini bisa dimaafkan mengingat harga jualnya, dan dengan pemahaman fotografi dan teknik yang baik pada dasarnya tidak ada masalah untuk bisa mendapat foto-foto yang indah dengan lensa ini.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Mengapa lensa DSLR bisa dipasang di kamera mirrorless (dengan adapter)

Saat ini kamera mirrorless semakin berjaya, penggunanya semakin banyak. Ukuran yang lebih kecil dari DSLR dibarengi peningkatan fitur membuat mulai banyak yang tertarik mencobanya. Sebagian besar penggunanya tentu akan memakai lensa yang sesuai mount-nya, misal Sony Alpha dengan lensa-lensa E mount atau Olympus dengan lensa Micro 4/3 mount. Tapi ada juga sebagian pengguna mirrorless yang justru memasang lensa DSLR di kamera mirrorless mereka. Mengapa hal ini bisa dilakukan? Kita bahas sama-sama yuk..

Pertama kita mesti melihat dulu lensa DSLR seperti apa yang dipasang di kamera mirrorless. Sebagian besar ternyata adalah lensa lama, alias lensa manual, seperti Canon FD, Nikon AF atau bahkan lensa mount M42. Lensa-lensa ini bisa jadi koleksi lawas, atau didapat di pasar lensa bekas, yang kemudian dipakai di mirrorless. Walau ada juga lensa modern yang dipasang di mirrorless seperti lensa Canon EOS atau Nikon AF-S.

A6000 12-24mm

Apa alasan dibalik semua ini? Tentu jawabannya bisa beragam, misal ingin nostalgia dengan lensa lamanya, atau cari lensa yang terjangkau, atau memang lensa yang diinginkan belum tersedia sehingga terpaksa memasang lensa DSLR. Ingat kalau sistem mirrorless masih tergolong baru, pilihan lensa yang ada memang belum sebanyak sistem DSLR yang sudah berpuluh-puluh tahun ada.

m_FLANGE_2

Bagaimana penjelasan teknis dari fenomena ini? Untuk bisa memahami itu kita perlu tahu dulu desain lensa, bahwa setiap lensa dirancang untuk mengirim gambar ke sensor. Jarak dari belakang lensa ke sensor namanya flange back distance. Di sistem DSLR kira-kira jaraknya 4 cm, dan itu sudah sejak jaman SLR film begitu. Alasannya karena di DSLR ada cermin yang membuat sensor jadi harus agak mundur ke belakang, sehingga semua lensa harus dirancang untuk punya jarak flange back sekitar 4 cm. Di mirrorless yang tentunya tanpa cermin, jarak flange back ini bisa dibuat lebih pendek, sekitar 1-2 cm. Perancang lensa mirroless harus mendesain ulang rancangan lensa karena menyesuaikan flange back yang jauh lebih pendek.

flange DSLR

Selisih jarak ini yang membuka peluang memasang lensa DSLR di mirrorless, dengan adapter. Prinsip adapter memang hanya merubah desain mount, misal mount lensa Nikon supaya bisa masuk ke E-mount di bodi Sony Alpha/NEX. Tapi kegunaan penting lain dari adapter adalah menambah jarak flange back kamera yang tadinya pendek jadi panjang sehingga memungkinkan dipasang lensa DSLR. Bila tidak dipanjangkan, maka fokus dari lensa DSLR akan jatuh dibelakang sensor dan itu artinya kamera tidak akan bisa fokus.

flange mirr

Memasang adapter punya kompromi sendiri. Pertama adalah mayoritas adapter dibuat simpel tanpa chip atau kontak elektronik. Artinya jangan harap lensanya bisa auto fokus, maka itu adapter yang simpel memang dirancang untuk lensa-lensa lama yang manual fokus dan manual aperture. Di kamera pun harus pakai mode M, dan perlu pakai kamera yang ada opsi untuk bisa memotret tanpa lensa. Tidak ada bantuan light meter di kamera, kita harus andalkan histogram untuk akurasi eksposur dan memakai focus peaking (bila ada) untuk manual fokus.

Metabones-Canon-EF-Sony

Tapi untuk anda yang tidak suka cara lama, ada juga adapter yang canggih dengan kemampuan menterjemahkan perintah AF dari kamera (misal kamera Sony A) dan mengkode ulang perintahnya dan dikirimkan ke lensa (misal lensa Canon EOS) sehingga auto fokusnya berfungsi. Tapi adapter semacam ini harganya mahal, pilihannya lebih sedikit dan kadang AF-nya terasa lebih lambat. Ada juga adapter yang dibuat untuk antar sistem dalam satu merk, misal kamera mirrorless Canon EOS-M bisa dipasangkan dengan lensa Canon EF dan auto fokusnya tetap jalan, karena adapternya dibuat oleh Canon juga.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Review lensa Canon EF-S 10-18mm IS STM

Setelah punya lensa kit, anggaplah lensa 18-55mm, biasanya orang tanya apa lensa berikutnya yang perlu dibeli. Biasanya saran kami adalah lensa lebar dan/atau lensa tele (misal lensa 55-200mm), tergantung mana yang lebih prioritas. Kalau dana tidak jadi kendala, ya dua-duanya boleh diambil sekaligus karena saling melengkapi. Lensa lebar biasanya jadi prioritas kalau fokal terlebar dari lensa kit yaitu 18mm dirasa kurang lebar (salah satunya akibat crop factor, sekitar 28mm saja). Pilihan lensa lebar untuk sistem APS-C biasanya lensa yang dimulai dari fokal 10,11 atau 12mm. Misal Canon 10-22mm, Nikon 10-24mm, Tokina 11-16mm dan sebagainya. Harga lensa wide memang agak tinggi, kadang sebagian orang urung membeli karena dananya belum mencukupi.

DSC_2286 sml2

Kami agak terkejut saat tahun lalu Canon mengumumkan lensa baru, yaitu EF-S 10-18mm IS STM, setidaknya ada dua hal yang membuat kami agak terkejut. Pertama adalah karena Canon sudah punya lensa wide untuk EF-S yaitu 10-22mm seharga 6-7 jutaan. Kedua karena harganya yang agak tidak umum, yaitu 3 jutaan rupiah, jauh lebih murah daripada lensa Tokina 12-24mm yang kami punya sejak 3 tahun lalu.

Kami penasaran seperti apa lensanya dan mengapa dia bisa begitu murah. Kami pikir tidak mungkin Canon akan menjual lensa murah dengan mengorbankan kualitas optiknya, karena bakal jadi bumerang di jangka panjang. Lalu kenapa dia bisa dijual 3 jutaan saja? Mungkin saja itu bagian dari strategi bisnis Canon, kami kurang tahu soal itu, tapi jawabannya bisa dicari secara faktual dari ciri-ciri fisik yang tampak.

Menilik dari spesifikasinya, mulai terjawab apa saja yang bisa dilakukan Canon untuk menekan harga, misalnya :

  • bodi berbahan plastik, mount juga plastik dan ukurannya kecil, kualitas fisik bodinya mirip lensa kit
  • jangkauan fokal terjauh (zoom paling mentok) hanya sampai 18mm, tapi ini tidak masalah karena justru jadi tidak saling overlap dengan lensa kit (18-55mm atau 18-135mm)
  • bukaan maksimal tidak besar, dan tidak konstan, yaitu f/4.5-5.6 walau ini juga tidak masalah karena umumnya lensa wide dipakai untuk pemandangan (Sering pakai antara f/8 hingga f/16)
  • tidak pakai jendela indikator jarak fokus, lagipula ini adalah lensa STM (semua lensa STM pakai manual fokus elektronik)
  • tidak diberi bonus hood lensa
Proporsi bodi dan lensa masih tampak seimbang
Proporsi bodi dan lensa masih tampak seimbang

Tapi jangan salah, bukan berarti lensa EF-S ini tidak punya keunggulan. Bahkan lensa yang berisi 14 elemen optik dalam 11 grup (termasuk 1 Asph. dan 1 UD) ini sudah memiliki fitur Image Stabilizer (IS) yang diklaim sampai 4 stop, sehingga kita bisa memotret dengan speed lambat dengan minim resiko getar. Disini fitur IS menjadi penting karena lensa ini bukaannya tidak besar. Selain itu sistem motor fokus STM membuat auto fokusnya senyap dan cepat, cocok untuk rekam video juga. Diameter filter lensa ini 67mm, bagian depan lensa tidak berputar saat auto fokus sehingga cocok untuk pasang filter CPL. Lensa ini bisa fokus sedekat 22cm dari sensor (atau sekitar 15cm dari ujung lensa) dan punya 7 bilah diafragma yang termasuk lumayan untuk bokeh agak bulat.

Pengujian fitur IS :

Dengan fokal 18mm, kami menguji kemampuan IS lensa ini dengan shutter selambat 1/2 detik atau kira-kira 3 stop lebih lambat dari batas aman untuk lensa 18mm. Sebagai subyek uji, ada bola dunia yang penuh tulisan ini :

Setting : fokal 18mm, f/5.6, shutter speed 1/2 detik
Setting : fokal 18mm, f/5.6, shutter speed 1/2 detik

dan inilah hasil crop 100% dari foto diatas :

Fitur IS On, hasil crop terlhiat foto masih tajam
Fitur IS On, hasil crop terlihat foto masih tajam

Sebagai kesimpulan, yang kami sukai dari lensa ini :

  • harga terjangkau, cocok untuk pemula yang baru belajar fotografi dan perlu lensa wide yang bisa memberi perspektif berbeda
  • kecil dan ringan (230 gram), sepintas mirip sekali dengan lensa kit 18-55mm
  • auto fokus cepat, tidak bersuara, dan oke untuk video juga
  • optiknya termasuk baik, seperti ketajaman, warna dan kontras tidak ada keluhan
  • ada fitur IS, sesuatu yang biasanya tidak diberikan di lensa wide
  • rendah cacat lensa seperti chromatic abberation dan flare
  • filter 67mm tergolong umum dan terjangkau (umumnya lensa wide pakai filter 77mm yang mahal)

Hal-hal yang perlu diperhatikan dari lensa ini :

  • mount plastik, perlu lebih hati-hati karena plastik lebih rentan patah daripada logam
  • sebagai lensa STM, dia manual fokusnya by-wire, artinya ring manual fokus hanya berguna saat kamera dalam keadaan ON
  • lensa STM juga artinya tidak ada jendela jarak fokus, kelemahannya sulit sekali manual fokus ke infinity misalnya (agak sulit foto bintang seperti milkyway)

Secara umum kami menyukai lensa ini, ukuran, bobot dan fiturnya sesuai dengan yang saya cari, sedangkan kualitas optiknya melampaui harga jualnya. Dibandingkan lensa EF-S 10-22mm perbedaannya adalah dalam hal rentang fokal, kualitas bahan bodi dan indikator jarak fokus. Kualitas optik kurang lebih setara, atau lensa 10-22mm sedikit lebih unggul dibanding EF-S 10-18mm.

Beberapa contoh foto dari lensa ini :

Perbedaan fokal 10mm dengan 18mm :
IMG_1122

IMG_1123

Untuk arsitektur :

IMG_2455

Untuk pemandangan :

IMG_1376

IMG_2856

Foto selengkapnya bisa dicek di flickr.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Nikon luncurkan lensa DX 16-80mm f/2.8-4, ini bedanya dengan lensa Sigma 17-70mm f/2.8-4 C

Hari ini Nikon mengumumkan kehadiran lensa DX kelas premium yaitu AF-S 16-80mm f/2.8-4E VR yang ditujukan menjadi pengganti lensa AF-S 16-85mm f/3.5-5.6 VR. Secara kebetulan, dari dulu Sigma sudah punya lensa yang mirip, yaitu Sigma DC 17-70mm f/2.8-4 yang di generasi ketiga (2012) telah disempurnakan dengan OS dan HSM serta mendapat logo C (contemporary). Lensa Sigma ini sudah lama kami rekomendasikan sebagai lensa pengganti dari lensa kit, tapi sejak Nikon 16-80mm ini hadir, apakah ini berarti Nikon mengambil alih kejayaan Sigma di kelas lensa all round ini?

Lensa Nikon 16-80mm ini adalah lensa yang menggairahkan lagi dunia DX yang seakan terlupakan, bahkan lensa ini menjadi lensa elit dengan logo N (Nano), bukaan besar f/2.8 (walau tidak konstan) dan tidak lagi pakai kendali aperture mekanik (ada simbol E di nama lensanya, artinya electronic aperture). Sigma sendiri membuat lensa 17-70mm untuk berbagai mount, misalnya untuk mount Canon EOS maka desain aperture-nya juga dikendalikan secara elektronik, jadi bukan hal yang istimewa sebenarnya.

Sigma 17-70mm vs Nikon

Dari tabel diatas memang terlihat banyaknya kesamaan antara kedua lensa. Rentang fokal memang Nikon sedikit lebih lebar dan lebih tele, tapi Sigma lebih mudah untuk makro dan harganya hanya setengah dari harga lensa Nikon. Di lain pihak lensa Nikon baru ini punya coating mewah dan bisa manual fokus langsung dengan memutar cincin fokus. Tapi diluar dugaan sebenarnya Sigma masih bisa mengimbangi secara desain dan kinerja, seperti elemen lensanya, fitur penstabil getaran dan motor fokus yang senyap. Hanya saja secara kualitas hasil foto belum bisa dibuktikan karena lensa Nikon ini belum ada di pasaran, kalau kami prediksi memang Nikon bakal lebih baik hasil fotonya daripada Sigma, khususnya bila menyangkut faktor ketajaman, distorsi, vignetting dan corner softness.

Anda sendiri pilih yang mana?

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Yang perlu diketahui tentang lensa Canon STM

Sejak hadirnya kamera DSLR Canon terbaru seperti 700D, 70D dan 7D mark II, kita semakin sering dengar tentang lensa STM. Sebelumnya mungkin kita hanya tahu tentang lensa USM yang identik dengan auto fokus cepat, lalu apa lagi lensa STM ini? Ada dua macam lensa Canon dengan STM, yaitu lensa baru (misal EF-S 40mm f/2.8 STM) dan juga lensa eksisting yang dibuat versi STM, misal lensa 18-55mm, 55-250mm dsb. Apa tujuan Canon untuk semua ini? Admin mencoba menjelaskannya untuk anda.

Pertama kita bedah singkatan STM dulu yaitu Stepper Motor, sebuah teknik putaran dengan motor khusus untuk auto fokus. Berbeda dengan USM (Ultra Sonic Motor), STM tidak mengedepankan kecepatan fokus untuk fotografi, tapi lebih menonjolkan kemulusan transisi auto fokus saat live view dan khususnya saat rekam video. Selain itu lensa STM dirancang silent dalam arti tidak ada suara perputaran motor fokus yang terekam saat sedang rekam video. Maka itu di web Canon mereka menyebut STM dengan Smooth Transistion for Motion. Jadi lensa STM bukan untuk kecepatan fokus, untuk foto aksi cepat anda tetap perlu lensa USM.

Canon-EF-50mm-F1.8-STM-lens

Sejauh ini ada beberapa lensa yang sudah berkode STM, diantaranya :

  • lensa kit (18-55mm, 18-135mm, 24-105mm)
  • lensa wide/tele zoom (10-18mm, 55-250mm)
  • lensa fix (24mm, 40mm, 50mm)

Apa perbedaan fisik utama lensa STM dengan lensa DSLR lain pada umumnya? Ada dua ciri utama, yaitu lensa STM manual fokusnya adalah elektronik. Jadi apa yg kita putar di lensa bukanlah secara langsung memutar elemen fokus, jadi untuk itu kamera harus dalam kondisi on. Bagi yang tidak terbiasa manual fokus secara elektornik mungkin akan merasa aneh, apalagi yang sudah terbiasa manual fokus dengan lensa lama pasti rasanya beda sekali. Kedua, karena manual fokusnya elektronik, pasti tidak ada jendela informasi jarak fokus di lensa. Jadi sulit (bahkan mustahil) untuk memotret dengan panduan tabel hiperfokal dengan lensa STM, juga sulit mengatur fokus manual ke infinity seperti saat mau memotret bintang di langit.

Apakah kita memerlukan lensa STM?

Anda pengguna DSLR Canon generasi lama, atau DSLR Canon full frame, tidak ada bedanya saat memasang lensa STM atau non STM di kamera anda. Lensa STM yang dipasang di kamera anda akan tetap berfungsi normal, tapi tentu anda kehilangan kemudahan manual fokus yang sesungguhnya. Tapi anda yang pakai DSLR Canon 700D-750D/760D-70D-7D mk II maka dengan lensa STM akan lebih mulus auto fokusnya saat live view dan rekam video. Apalagi dengan kemudahan layar sentuh, kita tinggal sentuh di layar dan kamera akan set fokus ke obyek yang kita sentuh itu. Sebagai info, pemilik DSLR Canon 700D-750D/760D-70D-7D mk II juga tetap bisa live view dan rekam video dengan lensa non STM, tapi auto fokusnya akan kurang mulus transisi-nya dan (tergantung lensanya) maka suara motor auto fokus bisa jadi ikut terekam dalam rekaman video.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Berbagai lensa fix alternatif murah meriah

Tak disangkal lagi bahwa lensa di sistem kamera memegang peran penting dalam menghasilkan foto yang bagus, maka itu tak heran kalau harga lensa bisa jauh lebih mahal dari harga kameranya. Tapi lensa yang terlalu mahal bakal terasa berat bagi yang dananya pas-pasan, atau yang baru mulai hobi fotografi. Maka itu mulai bermunculan lensa-lensa alternatif seperti dari Sigma, Tokina juga Tamron. Tapi lama-lama ketiganya juga semakin ‘besar’ dan beberapa produknya juga masih terasa mahal. Akhirnya kini mulai ditemui lensa-lensa baru yang bisa jadi alternatif murah meriah, walau memang jenisnya baru ada yang lensa fix saja, seperti apa? Simak yuk..

Yongnuo 50mm f/1.8

Yongnuo selama ini dikenal sebagai produsen flash. Kali ini bukan April mop, betul-betul Yongnuo membuat produk lensa yang bentuknya nyaris sama persis dengan lensa Canon 50mm f/1.8. Tapi bedanya, lensa Yongnuo malah lebih bagus sedikit dengan 7 bilah diafragma (Canon pakai 5 bilah) yang akan lebih menghasilkan bokeh yang lebih natural. Bagaimana kualitas fisik lensa ini? Sulit dinilai, karena Yongnuo sendiri tidak memberi detil info soal lensanya, tapi yang jelas lensa ini Auto Fokus, bisa menutup sampai f/22, dan terdiri dari 6 elemen dalam 5 grup. Lihatlah perbandingan antara kedua lensa, Canon 50mm (kiri) dan Yongnuo 50mm (kanan), nyaris sama kan?

yongnuo-50mm-vs-canon-50mm

Samyang 100mm f/2.8 Macro

Pecinta makro maupun foto potret akan menyukai lensa Samyang baru ini. Dengan fokal fix 100mm bukaan f/2.8, lensa manual fokus ini bisa fokus sangat dekat karena memang dirancang untuk makro. Bukaan terkecilnya adalah f/32 dengan diameter filter 67mm yang tidak ikut berputar saat ring fokus diputar. Terdiri dari 15 elemen dalam 12 grup (termasuk satu elemen high refractive index dan satu elemen extra-low dispersion) menjamin ketajaman untuk potret maupun makro. Sayangnya karena lensa seberat 700 gram ini tidak ada fitur stabilizer/peredam getar, so untuk mendapat foto makro yang tajam memang perlu selalu memakai tripod.

samyang100mmf28

Zenith Helios 85mm f/1.5

zenith-helios

Lensa potret 85mm manual buatan Rusia ini seperti tank, kokoh dan berat. Di dalamnya terdapat 10 bilah diafragma, bukaan f/1.5 hingga f/22 dan bobotnya 800 gram. Sayangnya mungkin lensa ini tidak akan dijual di tanah air.

Lensbaby Velvet 56mm f/1.6

Lensa potret dari Lensbaby ini punya keunikan memberi hasil foto yang soft dan berkilau, cocok untuk potret yang unik dan kreatif. Walau termasuk lensa potret tapi lensa 56mm f/1.6 ini juga bisa makro karena bisa memfokus dekat dengan rasio 1:2, atau kira-kira 5 cm dari depan lensanya. Lensa dengan diameter filter 62mm ini bobotnya hanya 400 gram, bukaan mininum f/16 dan tentunya hanya manual fokus saja. Tertarik?

lensbabyvelvet56

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Lensa-lensa favorit para fotografer

Dalam dunia fotografi serius baik sistem DSLR ataupun CSC (Compact System Camera) alias mirrorless, begitu banyak ditemui pilihan lensa yang tersedia. Banyak pilihan berarti mempermudah fotografer untuk mendapat hasil foto sesuai yang diinginkan. Bagi pemula, banyak pilihan justru bingung mau beli lensa yang mana. Ada baiknya kita meninjau lensa-lensa favorit fotografer, siapa tahu beberapa diantaranya membuat anda tertarik. Disini kami tidak menyebut merk, tapi hanya fokal lensa (eq. 35mm) dan bukaannya. Kalau perlu contoh barulah kami tulis merk-nya. Ada baiknya anda membaca artikel lama kami tentang memilih lensa yang sesuai ukuran sensor, seandainya anda bingung mengenai padanan lensa full frame dengan APS-C yang kerap disebut di tulisan kali ini.

Lensa fix

Lensa jenis fix, atau prime, tidak bisa di zoom, disukai banyak fotografer karena hasil foto yang baik. Beberapa lensa fix juga disukai karena ukurannya kecil dan murah. Lensa fix juga bisa jadi sangat mahal dan besar tergantung fokal lensanya.

Lensa 50mm

zeiss-loxia-50mm-f2

Inilah lensa favorit sepanjang masa. Fokal 50mm disukai oleh banyak fotografer di dunia karena menghasilkan perspektif normal seperti pandangan mata, tidak lebar dan tidak tele (dengan catatan lensa ini dipasang di bodi dengan sensor full frame 35mm). Bukaan maksimum lensa fix 50mm bervariasi, mayoritas ada yang f/1.8 dan f/1.4 walau ada juga yang f/2. Pemakai kamera sensor APS-C lebih tepat membeli lensa fix 30mm atau 35mm, sedangkan pemakai kamera micro four thirds semestinya memasang lensa 25mm.

Lensa 85mm

2x85

Lensa fix favorit untuk potret, tersedia dalam bukaan f/1.8 , f/1.4 hingga f/1.2. Untuk mendapatkan sudut gambar setara lensa 85mm, pemakai kamera sensor APS-C lebih tepat memakai lensa 58mm tapi lensa ini jarang ada, maka itu umumnya disiasati dengan lensa 50mm.

Lensa 100mm macro

tamron_90mm_macro_vc

Lensa fix dengan fokal tele 100mm yang bisa fokus dekat, variasi fokalnya berbeda sedikit antar merk. Di pasaran ada Tamron 90mm, Canon 100mm, Nikon 105mm tapi pada prinsipnya sama saja. Umumnya lensa seperti ini bukaannya f/2.8.

Lensa Zoom

Lensa zoom artinya punya variabel fokal, rentangnya dari fokal terpendek sampai terpanjang. Misal 18-55mm artinya bisa memotret dengan fokal berapapun antara 18mm hingga 55mm. Kerugian lensa zoom adalah bukaannya yang tidak bisa besar, kalaupun bisa besar umumnya ‘cuma’ f/2.8 dan itupun sudah mahal. Ada lensa zoom yang didesain di rentang wide, ada yang tele dan ada yang all round (dari wide hingga tele).

Lensa zoom wide : 14-24mm / 16-35mm

tokina-af-16-28-f28

Rentang fokal lebar favorit fotografer, opsi lain adalah 16-28mm atau 16-35mm, atau bahkan 17-40mm yang juga masih termasuk lebar, di kamera full frame. Bagi pemakai APS-C pakailah lensa zoom wide yang diawali dengan angka 9,10,11 atau 12mm. Misal 10-22mm, 11-16mm, 12-24mm dsb. Bahkan Panasonic membuat lensa Lumix G 7-14mm f/4 untuk kamera micro four thirds.

Lensa zoom standar bukaan konstan : 24-xx mm

sigma-24-105mm

Lensa zoom di kelompok ini bisa dibilang adalah lensa profesional serba bisa, mulai dipakai jalan-jalan sampai foto kerja (seperti liputan, wedding) juga oke. Dulu lensa favorit adalah lensa dengan awalan 28mm, kini eranya sudah beralih lebih lebar menjadi 24mm. Pilihannya :

  • lensa 24-70mm f/2.8 (padanan untuk APS-C adalah lensa 17-50mm f/2.8, untuk micro four thirds ada lensa pro 12-35mm f/2.8)
  • lensa 24-70mm f/4
  • lensa 24-105mm f/4 (padanan untuk APS-C adalah lensa 17-70mm f/4)
  • lensa 24-120mm f/4 padanan untuk APS-C adalah lensa 16-85mm atau yang setara)

Lensa tele zoom profesional : 70-200mm

70-200s

Lensa tele bukaan besar yang favorit untuk foto potret maupun obyek lain yang cukup jauh. Umumnya ada dua versi lensa ini yaitu yang bukaan f/2.8 (besar dan berat) dan versi hemat dengan f/4. Di APS-C lensa padanannya adalah lensa -lensa seperti 50-145mm atau 50-150mm. Untuk sistem MFT ada lensa Lumix G 35-100mm f/2.8.

Lensa zoom murah meriah : 70-300mm

lens-four-600

Bila lensa 70-200mm terasa mahal, maka lensa tele murah meriah 70-300mm adalah jawabannya. Di bodi full frame, lensa ini memberi jangkauan tele hingga 300mm dan di bodi APS-C bahkan fokal terjauhnya setara dengan 450mm. Alasan dari harganya yang murah adalah bukaannya kecil, dan variabel (makin mengecil saat di zoom). Untuk bisa mendapat rentang fokal setara 70-300mm di full frame, pemilik APS-C bisa memakai lensa 55-200mm atau 55-250mm dan pemakai MFT bisa membeli lensa 35-150mm atau 40-150mm.

Lensa sapu jagat

canon-ef-s-18-200mm-f35-56-is

Ini mungin lebih cocok sebagai lensa favorit traveler, bukan fotografer. Karena hasil foto dari lensa sapu jagat kurang begitu optimal, tapi menang di praktisnya karena bisa memotret wide hingga tele tanpa perlu berganti lensa. Sebagai contoh kami berikan lensa 28-300mm untuk full frame, dan padanan di APS-C adalah lensa 18-200mm. Bagi pemakai Olympus/Panasonic ada lensa Lumix G 14-140mm atau M.Zuiko 14-150mm.

Share dong, apa lensa favorit kalian?

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..