Review lensa fix Tamron SP 35mm f/1.4 Di USD

Tamron sebagai produsen lensa dari Jepang sudah punya beberapa produk lensa fix seperti SP 35mm f/1.8, SP 45mm f/1.8 dan SP 85mm f/1.8 yang tersedia untuk mount DSLR Canon dan Nikon. Tidak puas dengan tiga lensa diatas, Tamron juga akhirnya merilis satu lensa fix 35mm yang bukaannya lebih besar yaitu SP 35mm f/1.4 Di USD. Dari kode namanya dapat dikenali kalau lensa 35mm ini adalah lensa SP yang kualitasnya tinggi, kode ‘Di’ artinya untuk full frame dan ‘USD’ yang artinya motor fokusnya ultrasonic yang cepat dan senyap. Kali ini kami mendapat kesempatan mencoba lensa Tamron SP 35mm f/1.4 (dengan mount Canon) untuk melihat bagaimana handalnya lensa ini untuk berbagai keadaan, termasuk seperti apa bokehnya, auto fokusnya dan tentunya ketajamannya.

Ditinjau dari fokal lensanya, Tamron SP 35mm f/1.4 ini termasuk dalam lensa lebar, meski tentu tidak selebar lensa seperti 28mm atau 24mm. Maka fokal lensa 35mm ini tergolong banyak kegunaannya, untuk dipakai sehari-hari hingga pekerjaan komersial akan banyak bisa mengandalkan fokal 35mm ini. Bila lensa ini dipasang di kamera APS-C, maka fokal lensanya akan ekuivalen dengan lensa 50mm di full frame, jadi boleh saja orang memasang lensa Tamron 35mm ini bila bertujuan untuk menjadi lensa 50mm, dengan memasangnya di bodi APS-C.

Gambar 1

Sebagai lensa fix, saya tidak meragukan kualitas optik lensa ini, apalagi Tamron sendiri memiliki kebanggaan atas produk ini sebagai puncak kulminasi kemampuan mereka dalam memproduksi sebuah lensa selama 40 tahun, seperti kata Tamron saat merilis lensa ini: “We want to deliver a perfect image to people who love photography.” dengan menyusun 14 elemen yang tergolong sangat banyak untuk sebuah lensa fix (maka itu lensa ini juga tidak bisa dibilang kecil, dengan panjang 10cm dan berat diatas 800 gram). Elemen tambahan untuk menjaga kualitas foto seperti BBAR II juga diberikan di lensa ini, menjaga timbulnya flare dan ghosting saat memotret melawan cahaya. Bokeh lensa ini juga diklaim lembut dan menarik dengan 9 bilah diafragma yang bulat, dan berjenis elektronik aperture. Continue reading Review lensa fix Tamron SP 35mm f/1.4 Di USD

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Review lensa ultrawide Tamron 17-35mm f2.8-4 Di OSD

Tamron sebagai produsen lensa dari Jepang yang konsisten merilis lensa untuk berbagai kamera khususnya DSLR, terus memberi alternatif menarik untuk fotografer hobi maupun profesi yang mencari harga yang wajar dengan kualitas tak kalah dengan lensa yang harganya lebih mahal. Bila sebelumnya Tamron sudah membuat lensa 35-150mm yang fokal lensa zoomya mencukupi untuk bermacam kebutuhan harian seperti 35mm, 50mm, 85mm dan sebagainya, maka kali ini kami akan mengupas lensa Tamron 17-35mm f/2.8-4 yang termasuk lensa ultra lebar ekonomis untuk DSLR Canon dan Nikon.

Fokal 17mm memberi perspektif dan kesan lebar yang berbeda dari yang kita lihat

Umumnya lensa lebar disukai oleh mereka yang menekuni fotografi pemandangan atau interior. Dari golongan fokal lensa, sebetulnya 35mm sudah termasuk lebar, meski saat ini orang akan lebih terkesan oleh lensa 28mm apalagi 24mm. Tapi bila yang dicari justru fokal lensa yang sangat lebar, maka angka 17mm adalah langkah aman untuk mendapat perspektif dramatis yang ekstra luas. Memang dalam persaingan lensa masa kini, produsen terus membuat lensa yang semakin lebar seperti 16mm, 14mm hingga 10mm untuk full frame, yang berdampak pada harga yang makin mahal sedangkan belum tentu kita butuh sampai selebar itu. Kami ingat dulu itu lensa ultra lebar dari Canon yang umum itu hanya Canon 17-40mm saja, atau Nikon 16-35mm. Maka itu lensa Tamron 17-35mm ini kami lihat punya rentang fokal yang pas, dimulai dari 17mm dan diakhiri hingga 35mm, dan bila ingin meneruskan zoom diatas 35mm langsung pasang lensa Tamron 35-150mm, terus menyambung kalau belum puas ada Tamron 150-600mm, lengkap dan tanpa overlap sedikit pun, mantap..

Dipasang di bodi Nikon D600, perpaduan lensa dan kamera tampak seimbang, pas dan tidak (terlalu) memberatkan saat dibawa.

Baiklah, cukup pendahuluannya, kita langsung masuk ke topik. Kami mencoba lensa yang nama lengkapnya Tamron 17-35mm f/2.8-4 Di OSD dengan mount Nikon, dipasang di D600 full frame. Bila lensa ini dipasang di kamera DSLR APS-C maka akan rugi karena jadi tidak ultra wide lagi. Berikut fakta-fakta lensa ini :

  • untuk dipakai di DSLR, dengan mount Canon atau Nikon
  • berat 460 mm
  • diameter filter 77mm
  • motor fokus OSD (bukan USD)
  • tidak ada penstabil getar VC
  • tidak ada indikator jarak fokus untuk membantu hiperfokal/infinity
  • lensa hanya sedikit memanjang saat diputar zoomnya
  • ada karet pencegah masuknya air di bagian mount belakang

Continue reading Review lensa ultrawide Tamron 17-35mm f2.8-4 Di OSD

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Review : lensa Tamron 18-200mm VC

Inilah review kami untuk lensa Tamron 18-200mm VC. Lensa yang bernama lengkap Tamron 18-200mm f/3.5-6.3 Di II VC ini adalah lensa untuk DSLR (Canon/Nikon) dengan sensor APS-C yang memberikan fokal lensa setara 28-300mm di full frame. Dengan rentang fokal sepanjang ini kebutuhan foto yang bervariasi dari wide hingga tele bisa dicakup hanya dengan satu lensa saja. Biasanya lensa ini dibeli oleh mereka yang ingin ‘naik kelas’ dari lensa kit, alih-alih menambah satu lensa tele seperti 55-200mm maka sekalian saja lensa kitnya diganti dengan lensa superzoom seperti Tamron 18-200mm VC ini.

Lensa dengan rentang 18-200mm saat ini bukan yang paling panjang dalam hal rentang zoom, karena ada juga lensa lain seperti 18-250mm hingga bahkan 18-400mm. Tapi keuntungan dari lensa 18-200mm ini adalah ‘cukup’ dalam banyak hal, seperti cakupan lensa yang cukup (jarang juga orang pakai diatas 200mm untuk foto sehari-hari), ukuran yang cukup (tidak terlalu besar), bobot yang cukup ringan (hanya 400 gram) dan harga yang cukup murah (biasanya lensa superzoom harganya diatas 5 juta, tapi ini dibawah 3 juta saja). Dan Tamron dulu juga pernah membuat lensa 18-200mm yang sudah digantikan dengan lensa 18-200mm VC, ya tentu VC disini adalah pembeda utamanya.

VC, atau Vibration Compensation, adalah fitur peredam getar yang bila diaktifkan bisa membantu kita mendapat foto yang tajam saat tangan kita sedikit goyang, khususnya di shutter speed agak lambat, dibawah 1/100 detik. Fitur VC juga membantu memberi tampilan yang lebih stabil di jendela bidik, selama tombol shutter ditekan dan ditahan setengah. Perlu diingat bila shutter terlalu lambat maka VC tidak bisa membantu, misal dibawah 1/10 detik tentu harus pakai tripod. Tapi hadirnya VC di lensa ekonomis ini kami apresiasi karena bakal memudahkan dalam memotret khususnya bila pakai fokal lensa yang lebih tele (diatas 50mm). Dalam prakteknya VC di lensa ini terbukti bisa menstabilkan getaran pada shutter agak lambat.

VC Off, 1/20 detik, 65mm
VC On, 1/20 detik, 65mm

Contoh diatas menunjukkan bedanya pakai VC dan tidak. Dengan fokal lensa diset ke 65mm (ekuiv. 100mm di full frame), foto yang tajam bisa didapat di 1/20 detik atau lebih dari 2 stop.

Lensa 18-200mm VC juga mendapat desain luar yang baru dan tampak lebih modern, dengan warna hitam doff yang keren. Di bodinya terdapat tuas fokus AF-MF, tuas VC On-Off dan Zoom lock yang mencegah lensa memanjang karena gravitasi saat menghadap ke bawah. Ring manual fokus ada di ujung depan dan hanya bisa diputar kalau tuas fokus di posisi MF, artinya di lensa ini tidak didesain untuk bisa langsung manual fokus setelah auto fokus, yang mana adalah wajar mengingat segmen dan harga lensanya. Bicara soal fokus, motor untuk auto fokus di lensa ini memang bukan yang kelas ultrasonic seperti lensa Canon USM atau Tamron USD, tapi juga bukan motor fokus jadul yang berisik. Motor fokusnya cukup senyap dan cukup cepat, dengan teknologi yang mengutip dari web Tamron adalah DC motor-gear train, yang artinya masih pakai gear. Untuk mode servo AF-S motor fokus di lensa ini tidak ada masalah, namun untuk AF-C memang kecepatan motor AF-nya akan kesulitan bila suyek yang difoto bergerak terlalu cepat.

Tentunya yang perlu diketahui paling utama dari sebuah lensa adalah kualitas optiknya. Sebelum kesana, perlu dimaklumi dulu bahwa lensa superzoom manapun memang tidak bisa mendapatkan performa optik sangat tinggi, karena lensa semacam ini dirancang untuk kepraktisan (zoom panjang) dan bukan untuk mengejar kualitas optik terbaik. Apalagi dari harganya kita tentu sudah bisa memprediksi kualitas optiknya. Tapi jangan salah sangka juga, optik di lensa ini termasuk baik, setara dengan lensa kit pada umumnya. Itu akibat modernisasi manufaktur khususnya dalah desain lensa pakai komputer sehingga hasilnya bisa tetap sesuai standar masa kini.

Untuk melihat kualitas optik ada beberapa faktor yang perlu ditinjau :

Sharpness

Tentunya bagian yang difokus harus tampak tajam, nah lensa ini bisa menghasilkan foto yang cukup tajam khususnya di kamera dengan sensor dibawah 20 MP. Pada bagian tengah ketajaman termasuk baik, dan di bagian tepi ketajaman agak menurun. Performa lensa paling tajam diantara 18-100mm dan tampak lebih soft di 135mm apalagi di 200mm. Warna dan kontras juga termasuk baik, meski kemampuan rendering detail mikro kontras (clarity) dari lensa ini tidak begitu tinggi.

Bokeh

Bagian yang tidak fokus akan menghasilkan gambar yang blur dan itu kerap dicari sebagai bokeh, nah biasanya bokeh yang menarik didapat di bukaan besar dan fokal lensa terpanjang. Nah lensa ini sayangnya menghasilkan bokeh yang kurang blur, masih tampak agak jelas meski sudah memakai f/6.3 di 200mm. Wajar mengingat lensa ini bukan lensa bukaan besar.

Distorsi dan fringing

Cacat lensa kadang bukan menandakan lensa bermasalah, cacat lensa itu diartikan kekurangan lensa yang masih bisa ditoleransi akibat beberapa faktor. Diantara hal yang sering dijumpai dari lensa adalah distorsi dan fringing. Untungnya keduanya dengan mudah bisa dikoreksi melalui editing foto. Lensa 18-200mm ini distorsinya di posisi wide 18mm cukup terasa, dan itu wajar. Yang agak aneh adalah di fokal 35mm keatas justru mengalami distorsi cekung (pincushion). Selain itu di keadaan kontras tinggi akan muncul sedikit fringing yang berwarna keunguan.

Sampel foto

Beberapa foto yang diambil dengan lensa ini (dalam ukuran yang sudah diperkecil) :

Kesimpulan

Secara umum lensa ini ditujukan untuk mereka pengguna DSLR yang perlu satu lensa yang praktis seperti untuk traveling atau penghobi pemula. Kualitas optik memang termasuk sedang-sedang saja, tapi bayangkan dengan harga dibawah 3 juta kita mendapat satu lensa yang termasuk modern, ada VC, dan tidak terlalu besar/berat sehingga bisa menjadi pengganti lensa kit seperti 18-55mm paketan dari pabriknya. Beberapa kekurangan dari lensa ini bisa dimaafkan mengingat harga jualnya, dan dengan pemahaman fotografi dan teknik yang baik pada dasarnya tidak ada masalah untuk bisa mendapat foto-foto yang indah dengan lensa ini.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Review : Flash Godox V860 II dan trigger X1 for Canon

Godox V860II-C (C artinya TTL untuk sistem Canon, untuk Nikon N dan Sony S) adalah flash eksternal dengan kekuatan GN60 dan fitur lengkap, khususnya dalam hal pengaturan wireless RF 2,4 GHz. Sebagai info, flash Godox TT685C secara fitur sama dengan yang V860 hanya saja beda di baterai, V860 pakai baterai Lithium (disediakan charger di paket penjualan) sedangkan TT685 memakai baterai 4xAA. Fitur dasar seperti HSS, Rear sync, Zoom hingga 200mm dan layar dot matrix tersedia di flash Godox ini.

Flash Godox V860II atau TT685 ini punya kelebihan sudah memiliki receiver (penerima) dengan sistem RF 2,4 GHz sehingga tidak usah ditambah receiver tambahan lagi bila di trigger oleh flash yang sama, atau oleh transmitter yang TTL. Mengapa harus TTL? Karena bila kita punya flash yang TTL dan ingin memaksimalkan semua fiturnya secara wireless tentu perlu memakai trigger yang berjenis TTL juga. Salah satu produk trigger wireless TTL terbaru adalah Godox X1. Godox X1-C memiliki dua versi yaitu unit transmitter (diberi nama X1T-C) dan unit receiver (X1R-C).

Godox

Fitur wireless optik yang lebih klasik tetap tersedia, namun sistem RF 2,4 GHz jauh lebih handal. Flash Godox V860II C adalah flash TTL untuk Canon yang bisa bekerja sebagai Master (bila dipasang diatas kamera) dan juga sebagai Slave. Bila dijadikan Master, maka perlu flash Godox lain yang akan difungsikan sebagai slave, atau bila punya flash TTL merk lain perlu dipasangkan ke X1R-C (unit receiver).  Bila flash Godox ini jadi Slave 2,4 GHz, maka tersedia 5 pilihan grup ABCDE untuk yang perlu banyak lampu, dan ada 32 channel yang bisa dipilih.

Godox V860II C dalam mode Master (LCD berwarna hijau) dan simbol wireless menunjukkan RF 2,4 GHz, tersedia grup khas Canon Ratio A:B C

Bila memang sudah ada trigger X1T-C, dan ingin memanfaatkan fitur receiver di dalam V860II C ini maka untuk memulai koneksinya perlu menekan tombol Wireless di flashnya (paling kanan, dekat tuas On-Off) sampai indikator di layar menunjukkan simbol Wireless 2,4 GHz (ada simbol radio di pojok kiri atas LCD, bukan simbol Wireless optik yang seperti petir) dan layar LCD akan berwarna oranye. Selebihnya tentukan saja flash ini mau dijadikan grup apa, dan jangan lupa samakan channel-nya. Selanjutnya pengaturan tidak usah lagi mengutak-atik flashnya. Cukup lakukan di triggernya atau di kameranya.

Trigger / transceiver Godox X1

Baik unit transmit X1T atau receive X1R keduanya bentuknya mirip, dan ditenagai oleh 2 baterai AA, dan ada tuas On Off di sisi kanan. Keduanya punya layar LCD dengan backlight putih, LED status dan terdapat tombol TEST di bagian atas. Bedanya di unit transmit ada tiga tombol : CH (untuk memilih channel), GR (untuk memilih grup) dan MODE serta roda pengatur setting, sedangkan di unit receive hanya ada tombol CH dan GR saja. Indikator di LCD memang menampilkan informasi yang agak terbatas untuk itu perlu sekali membaca buku manual yang disertakan di paket pembelian.

Fungsi tombol di unit X1T-C (diikuti dengan memutar roda untuk scroll ke setting yang diinginkan) :

  • tombol CH : tekan sekali untuk mengganti channel, tekan 2 detik untuk menu custom Function (C.Fn 00-C.Fn 07)
  • tombol GR : tekan sekali untuk atur Power/kompensasi pada suatu grup, tekan 2 detik untuk mengatur setting yang sama untuk semua Grup
  • tombol MODE : tekan sekali untuk memilih mode (TTL/Manual/Multi)

Konfigurasi flash dan trigger itu perlu menentukan dulu grup nya. Misal ada 2 flash dan ingin keduanya sama-sama grup A, maka set kedua unit receive ke grup A dengan menekan tombol GR di unit X1R-C. Bila sudah benar, maka saat kita pilih grup A keduanya akan menyala. Bila mau pakai multi grup, pastikan setiap unit receive diatur grupnya. Semua receive unit harus berada di channel yang sama dengan unit transmit, bila tidak maka receive yang channelnya berbeda tidak akan menyala. Profesional biasanya memakai grup A untuk main light, grup B untuk fill light dan grup C untuk rim/backlight, dan dari unit transmitter kita bisa set mau menyalakan grup yang mana (A saja, atau A+B atau semua) dan bisa juga mengatur masing-masing grup maunya TTL atau manual (bila manual tentu bisa diatur kekuatannya).

Dalam pemakaiannya kita biasanya cukup pakai mode TTL untuk semua grup, atau boleh juga sebaliknya pakai mode M (manual) semuanya. Tapi seandainya kita mau mengatur setiap grup itu berbeda-beda, maka diperlukan kamera Canon buatan tahun 2012 atau lebih baru. Di Menu kamera dalam hal ini memakai Canon 70D kami masuk ke Flash setting > External Flash Setting dan akan muncul pilihan mode seperti ETTL, M, Multi dan Gr. Pilih ke Gr (Grup) untuk kebebasan mengatur tiap grupnya, lalu perhatikan indikator di Godox X1T-C ini akan mengikuti.

V860-W-Multi-768x768

Saat menjadi slave radio, flash Godox V860II ini bisa mengikuti apa yang kita ganti/ubah di kamera, misal modenya TTL, Manual atau Multi. Lalu kalau TTL mau kompensasi atau tidak, kalau manual mau main berapa powernya. Fitur lain seperti zoom, HSS, FEB, rear sync dsb tetap bisa difungsikan. Yang penting adalah perencanaan yang baik, misal mau pakai grup apa saja, dan memilih channel yang sama untuk semua sistemnya. Semua kecanggihan ini bertujuan untuk memudahkan kita, bayangkan saat pakai banyak lampu flash untuk pekerjaan serius, dan kita mau atur semua lampunya. Tentu repot kalau harus mengatur setiap lampu satu persatu, lebih enak dengan menekan tombol di kamera atau di triggernya.

Kesimpulan :

Flash Godox V860II punya fitur vs harga yang menarik. Kemampuan GN60, HSS, Zoom dan wireless 2,4 GHz terintegrasi menjadikannya flash serba bisa. Plus baterai Lithium membuatnya lebih tahan lama daripada baterai AA. Trigger Godox sendiri adalah produk yang menarik juga karena mudah dipakai, ukuran ringkas dan bisa dijadikan remote shutter.

Sistem wireless flash TTL bisa diwujudkan dalam dua cara, optik (IR) atau radio (RF). Untuk pemakaian optik terdapat fitur wireless optik di Godox  V860 II ini. Tapi secara wireless radio, flash Godox V860II (dan TT685) punya fitur Master dan Slave. Mampu menjadi slave radio adalah hal yang menjadikan flash ini menarik, karena dengan  built-in receiver 2,4 GHz didalamnya kita tidak usah pasang receiver khusus (X1R), cukup pasang transmitter (X1T) diatas kamera saja. Kemudahan ini dicari oleh penyuka strobist  atau praktisi foto studio.

 

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Review singkat : Olympus E-M10 mark II

Olympus E-M10 mk II adalah kamera mirrorless kelas bawah di lini OM-D, ditujukan untuk fotografer pemula yang mencari kamera mirrorless yang lebih lengkap dan serius namun tidak semahal E-M5. Kamera seri OM-D punya ciri fisik mirip DSLR, dengan jendela bidik di bagian atas (bukan disamping kiri seperti kamera mirrorless ala rangefinder pada umumnya) dan sedikit lebih besar dari kamera seri Pen (misal EPL7, Pen F dsb), serta punya banyak kendali untuk aneka setting.

IMG_9169

Di generasi kedua dari lini E-M10 ini Olympus memberi 5 axis stabilizer (sebelumnya hanya 3 axis) dan peningkatan lain (electronic shutter, jendela bidik semakin detail, 60 fps video dsb) serta fitur baru seperti 4K timelapse dan AF target pad. Desain kedua kamera juga sedikit berbeda khususnya di tuas on-off, yang kini menjadi satu dengan tuas flash.

IMG_9159

Menurut kami desain EM10 mk II ini cukup ideal. Ukuran pas ditangan, grip cukup nyaman, bodi berbahan logam dan tata letak tombol dan roda yang pas. Layar lipat dan sentuh juga jadi bonus yang menyenangkan.

Di waktu yang terbatas kami tidak bisa menguji banyak hal dari kamera ini. Walau di foto ilustrasi ini kamera dipadankan dengan lensa 25mm fix, tapi selama review fotonya diambil dengan lensa 12-50mm f/3.5-6.3. Hal pertama yang kami lakukan setelah menerima pinjaman kamera ini adalah mengkustomisasi kamera ini sesuai selera pribadi penguji. Untungnya kamera Olympus terkenal bisa banyak dikustomisasi yang membuat kameranya terasa lebih personal. Beberapa hal yang kami atur sebelum memotret :

  • mengaktifkan Super Control Panel (SPC) untuk memudahkan ganti setting dengan cepat
  • memprogram tiga tombol Fn, Fn1 untuk auto fokus, Fn2 untuk setting WB+ISO, dan Fn3 untuk plus RAW
  • merubah aspek rasio jadi 3:2 (kalo ini karena kebiasaan pakai DSLR) resikonya megapiksel sedikit berkurang
  • mengatur parameter JPG (pic mode i-Enhance, Gradation Auto, Contrast -1, Sharpness +1, Saturation 0)
  • memilih mode focus area ke grup AF, servo AF-S
p1140448
Super Control Panel (SPC)

Kualitas foto dari sensor 16 MP di Olympus EM10 mk II termasuk baik, dengan ISO tinggi yang noisenya masih cukup aman di ISO 1600 bahkan ISO 3200 pun untuk ukuran cetak kecil masih oke. Bagi yang suka editing mungkin akan sedikit kecewa dengan RAW kamera ini yang 12 bit, khususnya saat foto yang diambil punya kontras yang melampaui dynamic range sensor micro 4/3.

Hal yang penting untuk direview dari sebuah kamera selain kualitas gambar menurut kami adalah kinerja secara umum dan auto fokusnya. Dari kinerja tidak ada keluhan, kamera ini bekerja cepat, bisa menembak sampai 8,5 foto per detik juga. Auto fokus juga cepat, dan mudah untuk mengganti area fokus dengan berbagai cara misal menyentuh layar atau menekan tombol D pad. Ada beberapa opsi area fokus di kamera ini yaitu Auto, Group, 1 area dan 1 area kecil.

Kamera Olympus E-M10 mk II ini punya beberapa hal yang kami sukai diantaranya :

  • hasil JPG terlihat sudah oke, tonal dan akurasi warna juga bagus
  • auto fokus cepat (kalau untuk benda diam), bisa sentuh layar juga
  • 5 axis stabilizer bekerja baik, kami bisa dapat 1/2 detik tanpa tripod dengan lensa 12mm
  • ada elektronik shutter, ada fitur peredam shutter shock, sync 1/250 detik, max 60 detik, ada live bulb juga
  • bisa rekam video dengan manual eksposur, saat rekam video bisa juga ambil foto

sedangkan hal-hal yang masih agak kami sayangkan dari kamera ini :

  • penurunan kualitas dan detail foto di ISO 1600 keatas
  • file 12 bit RAW tidak begitu leluasa untuk editing (umumnya 14 bit)
  • auto fokus tidak handal untuk benda bergerak, dan karena deteksi kontras kadang fokusnya tertipu oleh latar belakang yang lebih kontras
  • tidak ada perlindungan cuaca, meski masih wajar untuk kamera dengan harga terjangkau seperti ini
  • auto ISO terlalu sederhana, tidak ada pengaturan minimum shutter speed

Sebagai kesimpulan singkat, kamera EM10 mk II ini cocok untuk yang mencari sistem kamera micro 4/3 yang lengkap tapi dana terbatas. Memang tidak secanggih fitur di EM5 mk II tapi sudah mencukupi untuk banyak kebutuhan fotografi. Sisi lemahnya adalah untuk kebutuhan foto aksi yang perlu fokus kontinu dan/atau ISO tinggi, tapi untuk keperluan lain seperti travel, street, arsitektur, potret dsb kamera ini sudah sangat mumpuni.

Beberapa hasil foto dari mencoba kamera EM10 mk II, JPG tanpa edit :

Warna yang menarik
Reproduksi warna yang enak dilihat
Sunrise
Tonal yang natural saat keadaan sunrise
Sepeda
Metering cukup akurat, sedikit under saat bertemu banyak pasir putih
Warna warni direproduksi dengan baik
Warna warni direproduksi dengan baik
Aktivitas nelayan
Merekam aktivitas nelayan
Dynamic range masih termasuk baik
Dynamic range masih termasuk baik
Clarity dan detil
Clarity dan detil dari lensa 12-50mm f/3.5-6.3
Panning shot
Mencoba panning shot dengan IS mode 2
Pakai tripod dengan long exposure
Pakai tripod dengan long exposure
Slow speed 1/2 detik tanpa tripod
Slow speed 1/2 detik tanpa tripod, hasil masih acceptable sharp

Foto selengkapnya dan dalam ukuran aslinya kami titipkan di flickr.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Review Canon EOS 70D

Canon 70D adalah kamera DSLR kelas menengah pengganti 60D dan diposisikan di bawah 7D dan di atas Canon Rebel (700D, 750D dsb). Diluncurkan pertama kali sekitar 2 tahun yang lalu (2013), kamera ini masih populer sampai saat ini dan dijual di kisaran 11 jutaan bodi saja.

Canon 70D menurut kami termasuk kamera DSLR kelas menengah yang bila ditinjau dari hasil foto maupun dari sisi kinerja, bisa dikatakan 70D itu punya keseimbangan fitur-kinerja-harga yang paling pas. Selain itu tentunya kamera ini mudah dipakai dan ukurannya pas (ergonomi, tombol, grip) dan harganya wajar. Canon EOS 70D punya banyak peningkatan dibanding 60D seperti titik fokus dari 9 titik jadi 19 titik, ada dual pixel AF, fitur HDR, ada Auto ISO yang seperti Nikon, dan layar lipatnya mendukung sistem layar sentuh.

DSC_2385 cr

Sensor di EOS 70D adalah APS-C CMOS 20 MP yang hasil fotonya sudah tergolong baik, tapi tidak terlalu istimewa (dalam hal skor DxO mark atau dalam hal jumlah piksel). Kinerja shoot kontinu juga sedang-sedang saja (7 fps), ISO sampai 12.800 dan bodinya juga masih berbalut plastik, bukan magnesium alloy.  Kami sempat membandingkan 70D dengan 760D (Rebel T6s) karena banyak kesamaan fitur, tapi akhirnya 70D bagaimanapun tetap lebih layak untuk dipilih. Misalnya karena jendela bidik dari prisma yang lebih nyaman, ada fitur HDR, multiple exposure, AF fine tune, konversi RAW ke JPG di kamera hingga fitur videonya yang sudah ditambah opsi kompresi rendah All-I untuk hasil lebih baik, walau ukuran file jadi lebih besar. Sebagai info, fitur movie servo AF dimungkinkan bila lensa yang dipasang adalah berjenis STM, selain itu maka servo AF akan terlihat kurang mulus transisinya.

DSC_2264 sml
Canon 70D tampak belakang dengan berbagai tombol dan roda kendali

Continue reading Review Canon EOS 70D

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Review lensa Canon EF-S 10-18mm IS STM

Setelah punya lensa kit, anggaplah lensa 18-55mm, biasanya orang tanya apa lensa berikutnya yang perlu dibeli. Biasanya saran kami adalah lensa lebar dan/atau lensa tele (misal lensa 55-200mm), tergantung mana yang lebih prioritas. Kalau dana tidak jadi kendala, ya dua-duanya boleh diambil sekaligus karena saling melengkapi. Lensa lebar biasanya jadi prioritas kalau fokal terlebar dari lensa kit yaitu 18mm dirasa kurang lebar (salah satunya akibat crop factor, sekitar 28mm saja). Pilihan lensa lebar untuk sistem APS-C biasanya lensa yang dimulai dari fokal 10,11 atau 12mm. Misal Canon 10-22mm, Nikon 10-24mm, Tokina 11-16mm dan sebagainya. Harga lensa wide memang agak tinggi, kadang sebagian orang urung membeli karena dananya belum mencukupi.

DSC_2286 sml2

Kami agak terkejut saat tahun lalu Canon mengumumkan lensa baru, yaitu EF-S 10-18mm IS STM, setidaknya ada dua hal yang membuat kami agak terkejut. Pertama adalah karena Canon sudah punya lensa wide untuk EF-S yaitu 10-22mm seharga 6-7 jutaan. Kedua karena harganya yang agak tidak umum, yaitu 3 jutaan rupiah, jauh lebih murah daripada lensa Tokina 12-24mm yang kami punya sejak 3 tahun lalu.

Kami penasaran seperti apa lensanya dan mengapa dia bisa begitu murah. Kami pikir tidak mungkin Canon akan menjual lensa murah dengan mengorbankan kualitas optiknya, karena bakal jadi bumerang di jangka panjang. Lalu kenapa dia bisa dijual 3 jutaan saja? Mungkin saja itu bagian dari strategi bisnis Canon, kami kurang tahu soal itu, tapi jawabannya bisa dicari secara faktual dari ciri-ciri fisik yang tampak.

Menilik dari spesifikasinya, mulai terjawab apa saja yang bisa dilakukan Canon untuk menekan harga, misalnya :

  • bodi berbahan plastik, mount juga plastik dan ukurannya kecil, kualitas fisik bodinya mirip lensa kit
  • jangkauan fokal terjauh (zoom paling mentok) hanya sampai 18mm, tapi ini tidak masalah karena justru jadi tidak saling overlap dengan lensa kit (18-55mm atau 18-135mm)
  • bukaan maksimal tidak besar, dan tidak konstan, yaitu f/4.5-5.6 walau ini juga tidak masalah karena umumnya lensa wide dipakai untuk pemandangan (Sering pakai antara f/8 hingga f/16)
  • tidak pakai jendela indikator jarak fokus, lagipula ini adalah lensa STM (semua lensa STM pakai manual fokus elektronik)
  • tidak diberi bonus hood lensa
Proporsi bodi dan lensa masih tampak seimbang
Proporsi bodi dan lensa masih tampak seimbang

Tapi jangan salah, bukan berarti lensa EF-S ini tidak punya keunggulan. Bahkan lensa yang berisi 14 elemen optik dalam 11 grup (termasuk 1 Asph. dan 1 UD) ini sudah memiliki fitur Image Stabilizer (IS) yang diklaim sampai 4 stop, sehingga kita bisa memotret dengan speed lambat dengan minim resiko getar. Disini fitur IS menjadi penting karena lensa ini bukaannya tidak besar. Selain itu sistem motor fokus STM membuat auto fokusnya senyap dan cepat, cocok untuk rekam video juga. Diameter filter lensa ini 67mm, bagian depan lensa tidak berputar saat auto fokus sehingga cocok untuk pasang filter CPL. Lensa ini bisa fokus sedekat 22cm dari sensor (atau sekitar 15cm dari ujung lensa) dan punya 7 bilah diafragma yang termasuk lumayan untuk bokeh agak bulat.

Pengujian fitur IS :

Dengan fokal 18mm, kami menguji kemampuan IS lensa ini dengan shutter selambat 1/2 detik atau kira-kira 3 stop lebih lambat dari batas aman untuk lensa 18mm. Sebagai subyek uji, ada bola dunia yang penuh tulisan ini :

Setting : fokal 18mm, f/5.6, shutter speed 1/2 detik
Setting : fokal 18mm, f/5.6, shutter speed 1/2 detik

dan inilah hasil crop 100% dari foto diatas :

Fitur IS On, hasil crop terlhiat foto masih tajam
Fitur IS On, hasil crop terlihat foto masih tajam

Sebagai kesimpulan, yang kami sukai dari lensa ini :

  • harga terjangkau, cocok untuk pemula yang baru belajar fotografi dan perlu lensa wide yang bisa memberi perspektif berbeda
  • kecil dan ringan (230 gram), sepintas mirip sekali dengan lensa kit 18-55mm
  • auto fokus cepat, tidak bersuara, dan oke untuk video juga
  • optiknya termasuk baik, seperti ketajaman, warna dan kontras tidak ada keluhan
  • ada fitur IS, sesuatu yang biasanya tidak diberikan di lensa wide
  • rendah cacat lensa seperti chromatic abberation dan flare
  • filter 67mm tergolong umum dan terjangkau (umumnya lensa wide pakai filter 77mm yang mahal)

Hal-hal yang perlu diperhatikan dari lensa ini :

  • mount plastik, perlu lebih hati-hati karena plastik lebih rentan patah daripada logam
  • sebagai lensa STM, dia manual fokusnya by-wire, artinya ring manual fokus hanya berguna saat kamera dalam keadaan ON
  • lensa STM juga artinya tidak ada jendela jarak fokus, kelemahannya sulit sekali manual fokus ke infinity misalnya (agak sulit foto bintang seperti milkyway)

Secara umum kami menyukai lensa ini, ukuran, bobot dan fiturnya sesuai dengan yang saya cari, sedangkan kualitas optiknya melampaui harga jualnya. Dibandingkan lensa EF-S 10-22mm perbedaannya adalah dalam hal rentang fokal, kualitas bahan bodi dan indikator jarak fokus. Kualitas optik kurang lebih setara, atau lensa 10-22mm sedikit lebih unggul dibanding EF-S 10-18mm.

Beberapa contoh foto dari lensa ini :

Perbedaan fokal 10mm dengan 18mm :
IMG_1122

IMG_1123

Untuk arsitektur :

IMG_2455

Untuk pemandangan :

IMG_1376

IMG_2856

Foto selengkapnya bisa dicek di flickr.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Review singkat kamera mirrorless Sony Alpha A6000

Sony Alpha A6000 adalah salah satu contoh kamera mirrorless yang sukses, dengan meraih banyak impresi positif dari fotografer dan juga pembuat review kamera. Kami sebelumnya lebih dahulu menulis review tentang Sony A5100, yang banyak kemiripan dengan A6000 khususnya dalam performa auto fokus dan ISO. Untuk itu di review A6000 kami tidak lagi menguji hal-hal tersebut melainkan hanya mengulas secara umum fisik dan menu kameranya saja.

Beberapa fakta dan data Sony A6000 :

  • Sensor CMOS 24 MP APS-C
  • 11 fps kontinu
  • ISO up to 25600
  • jendela bidik EVF 1.44 juta dot
  • layar LCD 3 inci bisa dilipat atas bawah
  • Autofokus 179 phase detect, 25 area contrast detect
  • built-in flash dan hot shoe

Tinjauan bodi :

IMG_0189

Sony A6000 memiliki bodi yang termasuk kompak, berbahan logam dan tidak terlalu besar. Bagian gripnya terasa enak digenggam. Kamera berbobot 285 gram ini punya kendali bak kamera kelas menengah dengan dua roda dial dan aneka tombol langsung (ISO, AEL, C1 dan C2). Di bagian atas ada mode kamera, lampu kilat dan hot shoe. Jendela bidik elektronik yang menjadi kekuatan utama kamera ini, berada pas di pojok kiri atas dan punya tampilan jernih dan detail.

IMG_0190

Kelebihan utama Sony A6000 adalah kinerja yang melampaui banyak kamera DSLR, seperti auto fokus yang hybrid AF ini disertai dengan kecepatan foto berturut-turut yang sangat cepat yaitu 11 foto per detik dengan autofokus kontinu. Di tempat dengan cahaya cukup, auto fokus deteksi fasa bisa diandalkan untuk kecepatan dan akurasi fokus. Ada juga aksesori adapter yang membuat lensa apa saja bisa dipasang di A6000, biasanya orang suka pasang lensa manual fokus dan itu memerlukan kamera yang ada bantuan focus peaking. Di A6000 focus peaking akan membantu saat pemakainya melakukan manual fokus.

IMG_0192

Pengoperasian Sony A6000 menurut kami ada plus minusnya. Plusnya misal ada dua tombol Custom (C1 dan C2) yang bisa difungsikan sebagai jalan pintas ke macam-macam fitur. Lalu adanya dua roda juga memudahkan dalam mengganti setting dengan cepat. Minusnya, roda mode kamera ‘tenggelam’ dalam bodi (tidak menonjol ke atas) sehingga sulit diputar dengan dua jari, terasa keras dan berat. Lalu tanpa ada sistem layar sentuh, merubah titik/area fokus menjadi hal yang agak repot.

IMG_0194

Sistem menu dari Sony A6000 juga dirombak total dari NEX. Sistem menu lebih menyerupai gaya Sony Alpha, mengikuti perubahan namanya. Sistem menu kamera ini terkesan lebih teratur dengan sistem kategori dan menu per-halaman dibandingkan dengan sistem menu NEX yang menggulung tanpa akhir. Hanya saja bagi yang belum terbiasa akan merasa menu di A6000 terlalu banyak dan terpencar-pencar.

Pengaturan kualitas gambar :

P1070969

Pilihan format video yang berlimpah :

P1070971

Kustomisasi auto fokus cukup banyak :

P1070973

Ada fitur focus peaking juga :

P1070979

Tombol Fn bisa dikonfigurasi untuk menampilkan setting sesuka kita :

P1070982

Demikian juga tombol C1, C2 (delete), AEL, tombol tengah, kiri, kanan dan bawah :

P1070983

Ada 4 pilihan focus area : Auto (Wide), Zone, Center dan Flexible Spot.

P1070988

P1070989

Sony A6000 cocok untuk mereka yang mencari kamera sarat fitur, terjangkau tapi tidak terlalu besar dan berat. Secara spesifik kamera ini juga cocok untuk penggemar fotografi jalanan (street photography), fotografi aksi/olahraga dan dokumentasi acara-acara keluarga.

Plus :

  • auto fokus cepat, akurat setara DSLR
  • kualitas foto 24 MP yang baik
  • ada Play Memories Apps
  • menembak kontinu sangat cepat
  • bodi logam, jendela bidik elektronik, LCD lipat
  • WiFi dan NFC

Minus :

  • tidak touchscreen
  • Auto ISO basic
  • roda mode kamera sulit diputar
  • tidak dapat charger (mengisi daya via USB)

Beberapa contoh foto :

Sawarna, lensa 16-70mm f/4 :

The Breeze BSD, lensa 16mm f/2.8 pancake :

sample DSC00210 16 pancake

Lensa FE 28mm f/2 :

sample DSC00395 28fe

Sunda Kelapa, lensa 16-70mm f/4 :

sample DSC01095

 

 

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..