Review : Lensa Tokina 11-16mm f/2.8 AT-X

Kali ini kami sajikan review lensa Tokina yang populer di kalangan fotografer yaitu Tokina SD 11-16mm f/2.8 (IF) DX AT-X. Dari rentang fokalnya kita bisa simpulkan kalau lensa ini termasuk ke dalam kelas lensa ultra wideangle dimana fokalnya bermula dari 11mm dan berakhir di 16mm. Simak bagaimana kesan kami terhadap lensa ini, beserta hasil pengujian yang kami lakukan lengkap dengan contoh fotonya.

tokina-d40a

Ditinjau dari segi harga, Tokina 11-16mm ini tergolong sangat terjangkau untuk ukuran lensa wide. Dengan kisaran harga 6,5 juta lensa ini jauh lebih murah bila dibanding lensa wide dari Canon ataupun Nikon. Selain itu, lensa ini juga dikagumi karena memiliki bukaan aperture konstan f/2.8 yang besar dan bisa diandalkan di saat dipakai di tempat kurang cahaya. Lensa ini juga memiliki rancang bangun yang solid, dengan mount logam yang kokoh, bodi yang tidak terkesan murahan serta adanya distance scale window yang sangat bermanfaat. Dalam paket penjualannya disediakan sebuah lens hood untuk mencegah flare akibat sinar dari samping yang masuk ke lensa.

Lensa, hood dan box
Lensa, hood dan box

Berikut spesifikasi lensa Tokina 11-16mm f/2.8 :

  • rentang fokal : 11-16mm (setara dengan 16-24mm pada sensor APS-C)
  • bukaan maksimal : f/2.8 (pada seluruh panjang fokal)
  • bukaan minimaal : f/22
  • jumlah blade diafragma : 9 blade
  • optik : 13 elemen dalam 11 grup
  • fokus terdekat : 30 cm (1 : 11.6 rasio reproduksi maksimum)
  • diameter filter : 77 mm

Adapun arti dari kode-kode pada lensa Tokina 11-16mm ini diantaranya :

  • AT-X : Advanced Technology – Extra (lensa terbaik dari Tokina)
  • SD : elemen lensa Super Low Dispersion untuk ketajaman ekstra
  • IF : Internal Focusing, elemen lensa fokus yang berputar di dalam
  • DX : didesain untuk sensor APS-C, tidak untuk DSLR full frame

Lensa Tokina 11-16mm memiliki rancang bangun dan material bodi yang baik, jauh dari kesan murahan. Putaran zoom terasa mantap meski hanya sedikit (karena rentang 11-16mm cukup pendek). Tidak ada bagian lensa yang bergerak maju mundur saat lensa di zoom. Ada satu hal yang unik dari beberapa lensa Tokina (termasuk lensa ini), yaitu bila pada umumnya selektor auto fokus di lensa lain memakai tuas, di lensa ini justru dengan menggeser ring manual fokus pada bagian depan lensa. Artinya bila ingin beralih dari auto fokus ke manual fokus, cukup geser ring manual fokus ke arah dalam. Praktis dan cepat, tak perlu lagi mencari letak tuas dan menggesernya. Lensa ini terasa berat, lebih dari setengah kilogram, salah satunya karena digunakannya mount berbahan logam yang lebih berat dari plastik.

tokina-scale

Posisi fokal lensa Tokina ini bermula di 11mm (atau setara dengan 16mm) dan berakhir di 16mm (atau setara dengan 24mm). Memang bukan rentang yang panjang untuk sebuah lensa zoom, perbedaan hasil foto antara zoom out hingga zoom in pun tak begitu terasa. Bila ingin memakai manual fokus di lensa ini amat mudah, karena sudah tersedia indikator jarak fokus di lensanya. Lensa ini bisa diset manual fokus mulai jarak 30cm hingga infinity, akan lebih mudah bila di kamera terdapat indikator fokus (berupa lampu hijau yang menyala saat didapat fokus terbaik).

Dari pengujian yang kami lakukan terhadap lensa ini, tampak kalau hasil foto memiliki ketajaman yang amat baik, bahkan saat memakai bukaan maksimal f/2.8. Warna dan kontras tampak natural serta distorsi optik (cembung) dapat terjaga dengan baik, dalam arti garis tegas masih tetap dijaga supaya lurus. Karena lensa wide memiliki angle of view yang lebar, maka perspektif yang dihasilkan juga berbeda dengan lensa standar. Seperti lensa wide pada umumnya, obyek yang berada dekat dengan lensa akan mengalami  distorsi secara perspektif sehingga tampak miring. Oleh karenanya lensa wide memang tidak untuk dipakai foto potret wajah.

Indoor shot
Indoor shot

Performa bokeh atau out of focus dari lensa ini tergolong standar. Pemakaian lensa wide memang cenderung lebih ke DOF lebar untuk arsitektur maupun landscape. Namun berhubung lensa ini punya bukaan besar f/2.8 maka kami pun mencoba bagaimana bokeh yang bisa dihasilkan lensa ini pada bukaan terbesarnya.

Bokeh pada f/2.8
Bokeh pada f/2.8

Zoom wide
Zoom wide

Zoom in
Zoom in

Salah satu masalah umum lensa adalah purple fringing yang muncul di area dengan kontras tinggi. Lensa Tokina inipun tak lepas dari masalah fringing seperti tampak pada contoh di bawah ini.

Purple Fringing
Purple Fringing

Kesimpulannya, lensa Tokina 11-16mm f/2.8 ini merupakan lensa alternatif yang sanggup bersaing dengan lensa merk Canon atau Nikon. Build quality yang diatas rata-rata, performa optik yang amat baik, bukaan konstan f/2.8 yang membuatnya bisa diandalkan saat low light, serta harganya yang terjangkau membuat lensa ini jadi favorit para fotografer landscape dan interior.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Mau pakai lensa Nikon di DSLR Canon? (Uji singkat Novoflex adapter)

Produsen kamera DSLR Canon dan Nikon memiliki mount sendiri untuk lensa mereka, yaitu F-mount untuk Nikon dan EF-mount untuk Canon. Bagi pemilik DSLR Canon, tidak ada cerita dia bisa memakai lensa Nikon atau sebaliknya (meski lensa Nikon bisa dipasang di DSLR Fujifilm karena Fuji mengadopsi F-mount untuk kameranya). Tapi kini untuk memakai lensa Nikon di kamera Canon bukan lagi hal yang sulit karena tersedia adapter mekanik berbentuk ring, salah satunya bermerk Novoflex yang kami uji secara singkat.

Novoflex merupakan produsen aksesori fotografi dan sudah membuat banyak adapter seperti untuk lensa four thirds dan lensa Leica. Namun bisa jadi produknya yang paling diminati adalah Novoflex EOS-NIK, alias untuk digunakan di DSLR Canon EOS, dengan lensa Nikon. Adapter buatan Novoflex ini berbentuk ring berbahan logam dan tertulis merk, tipe dan tempat pembuatannya (di Jerman). Pemakaiannya sangat mudah, adapter ini harus terlebih dahulu dipasang di lensa Nikon (atau bisa juga lensa third party dengan F-mount) dengan diputar di mount lensa sampai bunyi klik. Setelah itu, barulah lensa dipasang di kamera Canon layaknya memasang lensa Canon biasa. Untuk melepas adapter ini, pertama lensa harus dilepas dulu dari kamera, barulah adapter dilepas dari lensa (dengan menekan tuas kecil di adapter).

novo-package

Kami menguji adapter ini pada lensa AF-S 18-105mm tipe G dan kami rasakan adapter ini terpasang secara kokoh dan presisi tanpa ada kesan longgar atau goyang.

novo-af-s-181105

Sebagai bodi kamera kami gunakan Canon EOS 50D dan lensa Nikon yang sudah dipasangi adapter kami pasangkan ke kamera tersebut. Kami kagum akan presisinya adapter ini, terbukti setelah lensa terpasang di kamera, tidak ada kesan longgar sama sekali. Karena adapter Novoflex ini cukup tipis, sepintas tak ada yang tahu kalau antara bodi dan lensa ada sebuah adapter.

novo-50dnovo-50d2

Sebelum kami membahas soal pengujian adapter ini, ada beberapa catatan penting yang perlu disampaikan. Pertama yaitu Nikon dan Canon adalah dua merk yang berbeda dalam hal desain kamera, termasuk komunikasi data dari lensa dan kamera. Artinya, adapter ini tidak untuk menghubungkan pin kontak elektrik dari kedua musuh bebuyutan ini. Jadi lupakan soal auto fokus dan sistem stabilizer, tidak ada satu pun fitur itu yang bekerja. Bahkan konfirmasi fokus saat melakukan manual fokus pun tak ada, sepenuhnya mengandalkan mata saja.

Kedua, lensa modern sudah tidak dilengkapi dengan ring aperture, seperti lensa Nikon G. Proses penentuan bukaan lensa diatur sepenuhnya melalui kamera, dimana ada tuas kecil pada kamera yang terhubung ke lensa. Dengan dipasangnya adapter ini, kamera (Canon) tidak lagi bisa mengatur aperture lensa (Nikon) sehingga lensa yang tidak ada ring aperture terpaksa dipakai dalam bukaan terkecilnya (stop down). Untuk bisa mengatur diafragma dengan lensa Nikon G, tersedia adapter Novoflex yang dimodifikasi dengan penambahan tuas kendali diafragma.

Saat kamera EOS 50D dihidupkan, indikator pada layar menunjukkan F-00 yang menandakan kalau lensa tidak dikenali oleh kamera. Kami mencoba adapter ini dengan lensa G sehingga tidak lagi bisa mengontrol bukaan diafragma (alias memakai bukaan terkecil). Dengan memakai bukaan kecil, tampilan di viewfinder jadi gelap dan manual fokuspun jadi lebih sulit. Kami mencoba berbagai variasi mode seperti Av, Tv dan M. Meski metering tetap jalan, namun konsistensinya masih sering melenceng. Untuk kompensasinya, kami bermain ISO supaya mendapat eksposur yang diharapkan. Pada contoh foto berikut ini, kami memakai kecepatan shutter 1/40 detik dan ISO 1000 di siang hari (untuk mengimbangi kecilnya bukaan lensa, itupun masih terlihat under).

sample-novoflex

Jadi tidak mudah memang dalam mencoba memakai lensa Nikon G di DSLR Canon dengan memakai adapter ini. Tapi bagi anda yang punya lensa Nikon lawas seperti lensa AI atau AF dengan ring aperture, maka dengan adapter ini anda bisa berbuat banyak terutama dalam hal bermain eksposur. Hanya saja pemakaian lensa Nikon apapun tetaplah secara manual fokus saja.

Bila berminat, adapter Novoflex ini bisa dibeli seharga Rp. 2.350.000.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Review : Yongnuo YN460 dan YN465 flash speedlite

Merk lampu kilat Yongnuo mungkin terdengar asing di telinga kita, meski di pasaran banyak dijumpai merk lampu kilat lain yang biasa disebut merk 3rd party, sebut saja misalnya Nissin, Sunpak atau Tronic. Bila di kesempatan lalu kami menguji lampu kilat profesional merk Nissin, kali ini kami ingin menguji lampu kilat murah meriah yaitu Yongnuo YN460 dan YN465. Keduanya hampir sama secara spesifikasi, kecuali YN465 sudah mendukung mode TTL sementara YN460 sepenuhnya dioperasikan secara manual.

yn460-465
Yongnuo YN460 dan YN 465

Yongnuo YN460 dan YN465 adalah lampu kilat ukuran standar yang ditenagai 4 buah baterai AA. Keduanya diklaim memiliki GN 33 dan memakai rangkaian sirkuit elektronik modern IGBT. YN460 memiliki mount universal (kecuali untuk DSLR Sony) dengan hanya 1 pin kontak, sedang YN465 sementara ini hanya ada versi Nikon dengan pin kontak yang mendukung fasilitas TTL flash dari DSLR Nikon. Yongnuo YN460 lebih dahulu dikenal karena harganya yang murah dan kemampuan pengaturan daya output secara manual, sehingga banyak dipakai oleh pecinta strobist. Tak lama berselang barulah Yongnuo meluncurkan YN465 dengan kelebihan bisa memilih mau pakai mode TTL atau mode manual. Hadir sebagai flash 3rd party ekonomis, keduanya sama-sama tidak dilengkapi dengan zoom head, baik auto ataupun manual.

Pin kontak data TTL YN465
Pin kontak data TTL YN465

Lampu kilat merk Yongnuo secara mengejutkan ternyata memiliki material plastik yang cukup baik dan kokoh. Pada saat kami memutar flash head ke atas bawah ataupun kiri kanan kami rasakan begitu mantap dan tidak terkesan murahan. Tidak ada magazine baterai untuk menampung empat buah baterai AA, kami harus memasukkan keempat baterai satu per satu. Untuk YN460 proses on off lampu dilakukan dengan menekan tombol power selama 3 detik, sedang pada YN465 dengan memutar knob. Setelah diputar, YN465 akan masuk ke mode TTL dan bila knob diputar lagi barulah mode berpindah ke manual. Baik YN460 maupun YN 465 memiliki 7 tingkat daya output dari 1/64 hingga 1/1 yang diwakili oleh 7 indikator LED. Bedanya, pada YN460 pengaturan daya ini dengan menekan tombol plus/minus, sedang pada YN465 dengan memutar potensio ke arah kanan.

Dalam paket penjualan disertakan pula flash stand, soft pouch dan manual singkat dalam bahasa Inggris dan China. Baiklah, kita tinjau lebih jauh keduanya dengan menilik spesifikasinya :

  • Circuit design: IGBT
  • Up/down ward angle: 0-90 degree
  • Left/right angle: 0-270 degree
  • Power Source: 4 X AA size batteries (Alkaline or Ni-MH are usable)
  • Battery Life: 100 – 1500 times (with alkaline batteries)
  • Recycle Time: 5 sec(with alkaline batteries)
  • Color Temperature: 5600K
  • Flash Duration: 1/800S – 1/20000S
  • Flash adjustment: 7 difference flash power level ( 1/1, 1/2, 1/4, 1/8, 1/16, 1/32, 1/64 )
  • Power Saving:  Stand by mode, 30mins to power off mode. 60mins to power off when using the optic mode (YN460)
  • Dimensions: 72X135X85mm
  • Weight: 250g

Yongnuo YN460

YN460 tampak depan
YN460 tampak depan

Kami sampaikan dulu di awal bahwa YN460 ini sepenuhnya dioperasikan secara manual. Artinya, kalau pengaturan daya lampu tidak tepat maka hasil foto akan over atau under. YN460 bisa dipakai di DSLR apa saja kecuali Sony, bahkan bisa dipakai di kamera non DSLR selama tersedia flash hot-shoe. Hanya ada satu pin kontak pada YN460 yang berfungsi untuk menerima sinyal trigger dari kamera, sementara tiga buah pin data yang ada di kamera tidak tersambung kemana-mana. Saat kami uji memakai Nikon D40 kamera tidak mengenali lampu yang terpasang (ada pesan di LCD : lighting is poor, flash recommended). Hal ini membuat kamera selalu menganggap bahwa kita sedang memotret tanpa lampu kilat, sehingga eksposur akan dihitung berdasar hasil metering apa adanya. Untuk itu bila dipakai di tempat kurang cahaya, lebih aman fitur Auto ISO dimatikan saja, gunakan mode shutter priority (S) dan asumsikan kamera akan memakai bukaan maksimal. Untuk mencegah blur akibat getaran tangan, gunakan speed 1/60 detik dan aturlah kendali daya yang ada pada tombol di bagian belakang YN460.

YB460 tampak belakang
YB460 tampak belakang

Keuntungan dari masalah diatas adalah, kita bebas untuk memakai nilai shutter berapa pun tanpa harus dibatasi oleh maksimum sync-speed dari kamera. Di siang hari kita bisa memilih memakai bukaan besar (untuk mengejar bokeh) tanpa harus kuatir speed yang akan naik tinggi. Kami bahkan pernah mencoba memakai speed 1/1000 detik dan hasilnya tetap baik. Tak heran kalau lampu kilat manual semacam ini begitu disukai para strobist photographer.

Fill-in flash, 1/1000s, f/4
Fill-in flash, 1/1000s, f/4

Untuk lebih menunjang hobi strobist, YN460 telah dilengkapi dengan sensor slave untuk menjadi off-shoe flash alias lampu yang terpisah dari kamera. Sensor ini akan terpicu oleh cahaya dari lampu kilat lain selama dalam jarak yang wajar. Cukup tekan tombol mode di lampu kilat dan YN460 akan berpindah dari mode manual (M) ke mode slave (S), bahkan kendali manual pun tetap bisa diatur saat memakai mode slave ini. Sayangnya posisi sensor slave ini berada di dalam lampu itu sendiri sehingga saat kita memasang aksesori seperti diffuser atau dome, sensor ini jadi terhalang. Yongnuo baru-baru ini telah meluncurkan YN460 mark II yang memiliki sensor slave di belakang plastik merah di bagian depan (pada YN460, plastik merah di depan hanya hiasan saja, dia bukan AF assist light).

Yongnuo YN465 (for Nikon)

Nikon D40 plus YN465
Nikon D40 plus YN465

YN465 bisa jadi merupakan lampu kilat TTL termurah yang ada di pasaran saat ini. Dengan memakai mode TTL, komunikasi data antara kamera dan lampu berjalan dengan sinkron. Kamera akan mengenali lampu yang ada dan mengirim informasi mengenai daya pancar lampu yang harus dikeluarkan berdasar hasil metering. Tak peduli mode apapun yang dipakai, entah itu auto, program (P), aperture priority (A) atau shutter priority (S), dan tak peduli pada posisi fokal lensa berapa pun, kamera akan berupaya membuat daya pancar lampu akan memberikan eksposur yang tepat. Hal ini akan sangat memudahkan saat kita memotret peristiwa yang cepat dimana bila memakai mode manual akan beresiko ketinggalan momen. Sayangnya YN465 tidak memiliki sensor slave untuk bermain strobist. Namun mengingat YN465 sudah mendukung TTL menurut kami sebaiknya YN465 ini digunakan on-shoe saja (dipasang di kamera). 

Tampilan belakang YN465
Tampilan belakang YN465

Hasil pengujian kami, digunakan di dalam ruangan YN465 mampu menerangi ruangan dengan baik dan eksposur yang dihasilkan pun tepat. Kami juga menguji memotret model yang lucu di bawah ini dengan berbagai fokal lensa yaitu 18mm,  30mm dan 60mm untuk melihat konsistensi eksposur. Inilah crop yang diambil dengan tiga posisi fokal lensa yang berbeda, dengan posisi flash dihadapkan langsung ke objek (tidak di-bouncing) :

yn465-18mm

yn465-30mm

yn465-66mm

Tampak meski tingkat eksposur yang dihasilkan masih wajar, namun konsistensi TTL bukanlah hal yang mudah didapat untuk Yongnuo YN465. Di posisi 18mm sebaran cahaya yang dihasilkan tidak merata kecuali jika ditambah diffuser built-in. Di posisi 30mm didapat eksposur yang paling tepat, sedangkan memakai fokal 66mm foto tampak sedikit under. Mungkin juga under ini dikarenakan tiadanya fitur zoom-head pada lampu kilat Yongnuo. Kabar baiknya, AF assist lamp pada YN465 berfungsi dengan baik yaitu saat cahaya kurang mencukupi, kamera akan menginstruksikan lampu kilat untuk memancarkan sinar merah untuk membantu kamera mencari fokus.

Pengujian kedua adalah melakukan kompensasi flash yang diatur pada kamera. Tujuannya untuk melihat apakah perintah kamera untuk menaikkan atau menurunkan daya output lampu dapat dilakukan dengan benar. Kami mencoba memotret dengan tiga macam nilai kompensasi yaitu Ev nol, Ev plus 1 stop dan Ev minus 1 stop. 

ev-test

Hasil foto diatas menunjukkan kalau kompensasi flash berhasil dilakukan dengan tepat. Kamera diset di mode A dengan f/5.6 dan kamera memilih nilai shutter di 1/60 detik, dan terbukti pengaturan daya output lampu bisa mengimbangi kompensasi yang diinginkan. Pada Ev 0 eksposur tampak pas, sedang Ev +1 tampak bagian putih bunga menjadi clipping/over, sedang pada Ev -1 foto keseluruhan tampak under.

Kesimpulan

Tak banyak yang bisa anda lakukan dengan lampu kilat seharga 400 ribuan (YN460) dan 700 ribuan (YN465). Saat ini Nikon SB400 sebagai lampu kilat TTL Nikon termurah pun harganya diatas satu juta. Dengan dana satu jutaan, SB400 disaingi ketat oleh Nissin Di622 dan merk lain seperti Sunpak yang juga sudah mendukung TTL. Yongnuo mencuri celah di segmen di bawah 1 jutaan, dengan menawarkan kepraktisan dengan kendali yang simpel, namun disisi lain tetap menjaga prinsip minimalis dengan tiadanya fitur zoom-head ataupun port data.

Bagi anda yang suka bermain flash manual, atau suka bereksperimen dengan off-shoe, maka YN460 cocok untuk dimiliki. YN460 bahkan memungkinkan kita memakai shutter speed tinggi tanpa masalah. Hanya saja untuk berkreasi wireless total diperlukan radio trigger semacam PT-04 atau CTR-301. YN460 akan membuat pemakainya sedikit kesulitan pada awalnya, mengingat diperlukan setting yang tepat antara kamera (shutter, aperture, ISO) dan power level di lampu kilat. YN460 bisa dibilang lampu kilat untuk strobist yang ideal : murah, praktis, bisa manual dan bisa slave.

Sebaliknya, bila anda akan sering memakai flash pada kamera (on-shoe) maka anda perlu flash yang mendukung fitur TTL kamera. Untuk itu YN465 lebih cocok untuk anda, lagipula saat hasil TTL ternyata meleset, toh kendali manualnya pun tetap ada. Satu hal yang disayangkan, YN465 tidak memiliki mode slave optik, meski tetap kompatibel dengan radio trigger (kami tidak tahu apakah fungsi TTL tetap berfungsi saat memakai radio trigger). Bila anda bingung pilih yang mana, ambil saja keduanya (YN465 dan YN460) sekaligus. Jadikan YN465 sebagai master yang terpasang di kamera, lalu YN460 bisa sebagai flash cadangan, atau bisa dipakai sebagai slave flash yang powernya bisa diatur secara manual. Total harga keduanya tidak sampai 1,5 juta kok, masih lebih murah dari Nissin Di622. Hanya saja urusan ketahanan alias keawetan adalah hal yang lain lagi. Produk Yongnuo masih belum teruji bisa bertahan berapa lama, apalagi quality control tiap item bisa saja berbeda.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Review : Nissin Di866 Professional Flash

Nissin Di866 adalah produk lampu kilat flagship dari produsen flash alternatif Nissin yang diluncurkan tahun ini. Di866 hadir dalam dua versi yaitu versi Nikon dan versi Canon, dengan dukungan penuh pada mode TTL masing-masing merk. Produk lampu kilat kelas profesional ini menargetkan untuk jadi kompetitor SB-900 dan 580 EX-II dengan harga yang 30% lebih murah. Bila anda sedang berencana mencari lampu kilat profesional namun dana terbatas, simak review ini untuk mengetahui apakah Di866 ini layak untuk dimiliki.

Pengujian yang kami lakukan dilakukan untuk unit Di866 for Nikon, dengan kamera DSLR Nikon D40 dan lensa AF-S 18-105mm VR.

Nissin Di866

Fitur

Di866 merupakan seri tertinggi yang pernah dibuat oleh Nissin, dengan fitur yang lebih lengkap daripada seri sebelumnya Di622. Guide Number Di866 diklaim sebesar 60 (105mm ISO 100). Fitur lain yang membedakan Di866 dengan pesaingnya adalah pemakaian LCD warna dan adanya sub-flash di bagian depan. Sub-flash ini merupakan terobosan menarik karena selama ini bila kita bermain bouncing maka objek tidak mendapat cukup cahaya dari arah depan. Maka itu sub-flash ini hadir untuk membantu menambah cahaya ke arah depan saat lampu utama sedang menembak ke atas. Selain itu, layaknya lampu kilat profesional, Di866 juga sudah mendukung TTL, wireless RF, zoomhead (24-105mm), sensor metering dan multi-flash. TTL sendiri adalah istilah yang menandakan dukungan teknologi kamera yang mampu mengatur daya lampu kilat secara otomatis untuk mendapat eksposur yang sesuai.

Unpacking

Paket penjualan
Paket penjualan Di866

Dalam dus penjualannya, Nissin melengkapi Di866 ini dengan soft-case, kaki bebek/flash stand dan CD manual. Nissin tidak menyediakan buku manual ataupun aneka kabel dalam kemasannya. Di dalam bodi lampu, tersedia magazine baterai AA yang menampung 4 buat baterai, dan Nissin menjual magazine tambahan sebagai aksesori. Di bagian atas lampu tersedia diffuser dan reflektor yang bisa ditarik.

Kesan pertama

Nissin Di866 memakai material bodi berbahan plastik yang terkesan kokoh, dengan bobot total 380 gram (tanpa baterai) dan ukuran secara umum tampak besar. Di bagian depan tersedia lampu utama yang tentu saja bisa diputar ke atas bawah ataupun kiri kanan. Selain itu tersedia lampu sub-flash dan lampu AF-assist berwarna merah. Di bagian belakang ada LCD berukuran 29 x 29 piksel, tombol on-off, tombol empat arah, tombol set dan tombol test. Ada juga lampu pilot yang akan menyala hijau atau merah. Tersembunyi di sebelah AF-assist lamp, terletak dua macam sensor cahaya, yaitu sensor slave flash dan sensor metering/exposure. Di bagian kanan ada magazine baterai, di bagian kiri ada terminal PC kontak, USB port untuk update firmware dan power socket untuk supply daya eksternal.

Penjelasan bagian depan
Penjelasan bagian depan
Penjelasan bagian belakang
Penjelasan bagian belakang
Tampilan LCD
Tampilan LCD

Kami mulai menjelajah Di866 ini dari LCDnya. Setelah baterai terpasang dan tombol on-off ditekan, LCD pun menyala dengan tampilan pertama adalah mode Auto (A). Dengan menekan tombol set, muncullah 6 icon utama yaitu Auto, TTL, Manual, Multi-Flash, Wireless dan Setting. Kami tidak terkejut saat mengetahui kualitas LCD di Di866 ini tergolong pas-pasan (mungkin masih memakai teknologi CSTN) yang refresh-ratenya lambat terutama saat berganti-ganti menu. Namun mengingat layar ini bukan untuk menampilkan foto yang kaya warna, kami pun segera berkompromi dengan LCD ini. Adanya sensor orientasi pada Di866 membuat layar ini otomatis akan menyesuaikan apabila lampu diputar ke kanan atau ke kiri. Hanya saja sesekali kami jumpai sensor justru salah ‘menebak’ posisi orientasi dan layar jadi terbalik. Untungnya fitur ini bisa dinonaktifkan di setting flash.

Pada posisi default, Di866 akan menyesuaikan zoom head dengan posisi zoom lensa, dengan rentang 24-105mm. Zoom head ini cukup responsif, begitu lensa diputar terdengar suara dari dalam unit flash tanda kalau zoom head sedang bekerja. Terdapat indikator di layar LCD Di866 yang menunjukkan posisi zoom saat itu dan kami jumpai angka yang ditampilkan memang sesuai. Zoom head ini juga aktif meskipun posisi lampu sedang bouncing ke atas, sehingga bila ini dirasa mengganggu bisa diset ke posisi off.

Operasi

Struktur menu pada LCD
Struktur menu pada LCD

Terdapat mode Auto dan mode TTL untuk pemakaian normal, dan bila perlu mode dengan kendali manual lebih lanjut tersedia mode manual dan mode Multi Flash. Untuk urusan wireless flash, ada mode khusus untuk itu.

Mode Auto (warna hijau) sebagai mode paling simpel tidak menyediakan setting apapun. Semua setting dilakukan pada kamera dan lampu kilat berfungsi layaknya lampu kilat built-in. Mengingat Di866 adalah profesional flash, adalah hal yang aneh kalau kita hanya memakai mode Auto saat memotret.

Mode TTL (warna biru) bisa dibilang adalah mode Auto yang menyediakan sedikit kendali manual. Di mode ini Di866 memberi kesempatan untuk pengguna merubah nilai Ev (kompensasi power flash) apabila eksposur hasil TTL belum memuaskan kita (under/over). Kita juga bisa merubah flash Ev ini pada setting kamera, dan hasilnya tetap sama seperti kita merubah Ev pada flash. Lucunya saat Ev di kamera dirubah, tampilan di LCD Di866 tidak ikut berubah. Di mode TTL ada setting lanjut yaitu opsi mengaktifkan sub-flash dengan rentang power 1/1 hingga 1/8. Bila sub-flash diaktifkan, begitu lampu diangkat ke posisi bouncing, lambang SUB menyala di LCD. Di mode lanjutan ini kitapun bisa menonaktifkan zoom head, atau mengaturnya secara manual.

nissin-gn

Bila anda suka mengatur output lampu kilat secara manual, atau bila anda memasang Di866 di kamera lama yang belum mengenal teknologi TTL, maka mode Manual pada Di866 ini bisa dioptimalkan. Pertama, tersedia opsi manual power output untuk anda coba mulai dari full power hingga 1/128. Kedua, kita bisa masuk ke setting lanjut dengan menentukan nilai bukaan lensa (F) dan nilai ISO, sementara lampu akan menentukan estimasi jarak maksimal yang bisa dijangkau dengan setting tadi.

Baik di mode TTL atau mode M, ada setting lanjut yang memungkinkan Di866 ini bisa ditrigger sebagai slave flash. Pasangkan Di866 di kaki yang tersedia lalu letakkan terpisah dari kamera (off shoe), aktifkan mode slave dan Di866 akan menyambar saat menerima sinar lampu kilat dari kamera. Tak perlu lagi membeli sensor mata kucing terpisah, dan strobist dasar sudah bisa diwujudkan memakai Di866 ini. Hebatnya, tersedia dua mode slave ini, yaitu Slave Digital (SD) dan Slave Film (SF). Bedanya, SD tidak tertipu akan pre-flash dari kamera digital, sementara SF akan selalu merespon pada cahaya dari lampu kilat apapun yang terdeteksi.

Pengujian

Pengujian pertama adalah untuk melihat karakter warna dan akurasi TTL pada posisi direct flash. Sebagai model kami hadirkan boneka Pooh yang lucu ini.

model

Ada dua versi direct flash yang kami lakukan, pertama direct flash biasa, dan kedua direct flash dengan diffuser bawaan lampu. Perhatikan pada foto yang dihasilkan memakai direct flash tanpa diffuser, hasil foto tampak tidak berbeda dengan foto memakai lampu kilat on-board, dengan ciri foto yang flat namun menghasilkan bayangan tegas. Eksposur secara umum baik, meski terkesan sedikit agak over. Masih menguji direct flash, dengan memakai diffuser di bagian atas lampu, diambillah foto kedua. Tampak pemakaian diffuser membuat sebaran sinar lebih lembut, saturasi warna sedikit naik, eksposur agak turun dan bayangan tegas masih tetap ada.

direct-copy

Pengujian kedua adalah menguji hasil indirect flash/bouncing flash. Pada pengujian ini terdapat dua versi tes, yang pertama murni mengandalakan lampu bouncing, dan tes kedua menguji lampu bouncing plus sub-flash. Pada tes bouncing, berkat sinar yang dipantulkan ke langit-langit, hasil foto tampak lebih menarik tanpa ada bayangan tegas di belakang objek. Namun mengingat sumber cahaya datangnya dari atas, maka area dibawah bayangan hidung jadi sedikit gelap. Lihat juga betapa warna objek jadi lebih kuning karena warna langit-langit akan mempengaruhi hasil foto yang diambil secara bouncing (kebetulan langit-langit rumah cenderung krem). Di pengujian sub-flash, tampak kalau sub-flash ini bekerja sesuai harapan dengan menyediakan penerangan secukupnya ke arah depan, sementara cahaya utama tetap memakai teknik bouncing. Dengan bantuan sub-flash, hilanglah bayangan yang ada di bawah hidung, namun bayangan di belakang objek justru jadi muncul layaknya memakai sistem direct flash. Untungnya sub-flash ini juga bisa menormalkan kesalahan warna (apabila warna langit-langit yang tidak putih murni) yang terjadi saat bouncing tanpa sub-flash.

bounce-copy

Pengujian berikutnya adalah mengetahui dampak kompensasi flash power output terhadap hasil foto. Untuk mudahnya, kami memotret benda yang sama dengan tiga Ev yang berbeda. Kali ini nilai Ev kami coba set di kamera (bukan di lampu) sebesar plus satu stop, normal dan minus satu stop. Tampak Di866 mampu melaksanakan instruksi yang dikirim dari kamera dengan baik, dimana pada Ev plus satu hasil tampak over, dan pada Ev minus satu foto lumayan under. Pada posisi Ev nol foto tampak punya eksposur yang pas, meski tentu tidak ada standar eksposur yang pas dalam fotografi, kecuali melihat histogram tentunya.

ev-copy

Pengujian yang lumayan perlu dilakukan adalah membuktikan kemampuan zoom head yang menjadi ciri lampu kilat kelas atas. Kebetulan lensa kami memiliki batas tele 105mm, dan zoom head ini pun tertinggi juga di posisi 105mm. Kami menguji memotret seekor kucing dengan fokal lensa 105mm, flash mode TTL (tampak zoom head juga di posisi 105mm) dan hasil fotonya mampu memberi eksposur yang tepat. Berikut crop hasil fotonya :

zoom-105mm

Di866 semestinya mampu mendukung mode FP pada kamera DSLR Nikon, sayangnya D40 yang kami pakai tidak memiliki mode FP. Sebagai pengobat kekecewaan, kami lakukan fill-in flash siang hari dengan shutter priority, diset ke 1/500 detik dan f/8. Layaknya pada built-in flash, kamera menolak saat kami menaikkan speed diatas 1/500 detik sehingga terhindar dari masalah tidak sinkronnya shutter dan lampu kilat pada shutter tinggi. Sekedar info, tidak banyak DSLR yang bisa set flash sync hingga 1/500 detik seperti Nikon D40 ini. Dengan fill-in memakai Di866, sinar matahari dari arah belakang objek bisa dikompensasi dengan baik, sementara shutter bisa dijaga cukup tinggi untuk memaksimalkan bukaan lensa.

flash-sync

Tes lainnya adalah menguji fitur slave off shoe dan fitur lanjut seperti slow sync, second curtain (rear sync). Dengan memindahkan ke mode slave, Di866 ikut menembak saat di-trigger memakai flash internal D40. Bahkan Di866 bisa menembak bouncing sekaligus menyalakan sub-flash bersamaan, saat sedang menjadi slave. Fitur slow sync dan rear sync juga berfungsi normal layaknya memakai flash internal. Kami tidak menguji multi-flash mode dan wireless flash mode; namun sebagai info, Di866 ini bisa berkomunikasi dengan baik dengan Nikon Creative Lighting System baik sebagai commander maupun sebagai slave/remote.

wireless

Tambahan, AF assist beam pada Di866 (warna merah) mengambil alih tugas AF beam pada kamera Nikon (berwarna putih). Kami rasakan sinar merah yang dipancarkan Di866 tidak terlalu terang, meski sudah cukup membantu kamera saat mencari fokus dalam gelap.

Kesimpulan

Nissin Di866 mampu memberikan kesan yang baik saat pengujian, baik dari desain, kinerja dan hasil foto. Selain mengandalkan fitur yang lengkap, harga jualnya pun masih terjangkau. Konsistensi TTL tampaknya sudah lebih baik daripada Di622, warna yang dihasilkan juga natural. Penggunaan magazine baterai memudahkan saat perlu berganti baterai dengan cepat. Dukungan konektivitas seperti PC-port, USB untuk update firmware dan power socket juga membuktikan kalau Di866 ini memang kelas profesional. Apalagi fitur wireless yang bisa dipakai dengan CLS Nikon membuat Di866 layaknya SB900 versi murah. Tentu Di866 juga tak lepas dari kekurangan seperti kualitas LCD yang kurang baik, auto orientation sensor yang sesekali salah, dan recycle timenya yang agak lama (3.5 detik). Meski tidak memiliki fitur selengkap SB900, namun dengan harga 3 juta rupiah tentu Di866 ini bisa jadi pengganti SB600 atau SB800 yang sudah mulai jarang di pasaran.

Inilah plus minus Di866 secara umum :

Plus :

  • Kinerja tinggi dan banyak fitur (FP mode, slow sync, rear sync, bracketing, multi flash)
  • Guide number besar
  • Adanya sub-flash yang berguna
  • TTL yang tergolong akurat
  • Zoom head yang responsif (dan efektif)
  • Bisa custom setting
  • Kendali manual cukup banyak (manual zoom, manual eksposure)
  • Bisa berfungsi sebagai slave
  • Bisa menjadi bagian dari Wireless Flash System (Nikon dan Canon)
  • Diffuser dan reflektor on-board yang usable
  • Dukungan upgrade firmware via USB, tersedia port PC dan power

Minus :

  • Kualitas layar LCD rendah
  • Pergantian antar menu terasa lambat
  • Menu tingkat lanjut tersembunyi di dalam menu utama (harus menekan tombol 2 detik)
  • Orientasi sensor LCD yang sesekali salah (tapi bisa dinonaktifkan)
  • Perubahan setting Ev di kamera tidak otomatis merubah display di LCD flash
  • AF-assist beam kurang terang
  • Flash recycle kurang cepat (3.5 detik)
  • Dudukan hot-shoe plastik
  • Keawetan untuk jangka panjang belum teruji

Update :

Penerus produk ini adalah Nissin Di866 mark II dengan kemampuan High Speed flash, motor zoom head yang terdengar lebih pelan (quiet), kaki hot shoe dari bahan logam dan kemampuan wireless yang lebih jauh.

    Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

    Review : lensa Nikon AF-S 18-105mm VR

    Lensa Nikon 18-105mm DX yang menjadi lensa kit dari DSLR Nikon D90 keluaran tahun 2008  ini merupakan lensa zoom Nikon kelas ekonomis yang populer karena harganya yang terjangkau, punya rentang fokal yang cukup panjang dan efektif, serta plus fitur VR. Hadirnya lensa ini secara tidak langsung menandakan kalau lensa 18-135mm non VR (kitnya Nikon D80) telah diskontinu, maka tak heran kalau lensa ini kini semakin banyak dicari oleh pemilik DSLR Nikon DX mulai dari D40 hingga D300. Apakah lensa seharga 4 juta (kurang sedikit) ini layak dipertimbangkan sebagai lensa andalan anda? Simak review yang kami buat  selengkapnya.

    Pendahuluan

    D40 + 18105Lensa Nikon 18-105mm f/3.5-5.6g VR ini menjadi lensa zoom Nikon DX terbaru yang lagi-lagi overlap dengan lensa consumer-grade Nikon lainnya (dalam hal rentang fokal), seperti 18-55mm (kitnya D40-D5000), 55-200mm, 18-70mm (kitnya D70), 18-135mm (kitnya D80) dan 18-200mm. Hal ini berbeda dengan yang terjadi di jajaran lensa pro Nikon yang tidak ada overlap, mulai dari 14-24mm, 24-70mm, 70-200mm dan 200-400mm. Banyak pihak yang berharap Nikon akan membuat versi VR dari lensa 18-135mm yang sangat populer di masa lalu, namun ternyata inilah jawaban dari Nikon, lensa 18-105mm VR yang hadir di bulan Agustus 2008, sebagai lensa kit dari Nikon D90.

    Beberapa fakta dari lensa 18-105mm diantaranya :

    • rentang fokal lensa yang mencukupi untuk fotografi sehari-hari (equiv. 28-157mm)
    • variable aperture dari f/3.5 hingga f/5.6 (maks) dan f/22 hingga f/38 (min)
    • sistem stabilizer VR
    • optik yang sudah dilengkapi elemen ED dan aspherical, plus SIC coating
    • diameter filter 67 mm
    • mounting dari bahan plastik
    • inner focus, tidak ada elemen di depan lensa yang berputar
    • format DX (tidak untuk DSLR full frame)
    • tanpa fitur kelas pro (distance scale, ring aperture dsb)

    Tak bisa dipungkiri, lensa ini memang tergolong sebagai lensa serba-bisa (versatile lens) karena rentang fokalnya, sehingga praktis saat dipakai bepergian tanpa perlu membawa banyak lensa. Lensa ini juga sudah dianggap memenuhi syarat mendasar sebuah lensa modern karena sudah ada VR, pake motor micro untuk AF, ada ED lens dsb. Tapi bagaimana pun lensa 18-105VR ini tetaplah lensa kit yang masih dipandang sebelah mata oleh sebagian dari kita (terlepas harga jualnya yang lumayan mahal untuk ukuran lensa kit). Ada yang bilang kalau lensa ini adalah versi murah dari lensa 18-200VR, dengan harga setengahnya (dan rentang fokal yang juga setengahnya). Namun ada yang bilang juga kalau lensa ini adalah penyempurna lensa 18-135mm yang dilengkapi VR dan sudah meniadakan masalah purple fringing di lensa 18-135mm.

    Bicara soal rentang fokal, khususnya di posisi tele, memang fokal lensa kit dari D90 ini punya keunggulan dibanding lensa kit lain yang umumnya berada di kisaran 55mm dan 70mm. Tapi apakah 105mm ini sudah mencukupi untuk kebutuhan tele atau tidak, tentu ini soal lain. Apalagi jika si empunya lensa tidak bermaksud untuk memiliki lensa tele tersendiri, tentu fokal 105mm itu (ekuiv. 157mm) perlu dipertimbangkan lagi apa sudah cukup panjang atau belum. Tapi bila kita merasa 105mm ini sudah cukup, maka lensa ini sudah bisa menjadi lensa utama khususnya untuk pemula. Tak heran meski 18-105VR ini sejatinya adalah lensa kitnya Nikon D90, namun banyak yang membeli lensa ini untuk dipakai di kamera lain mulai dari D40 hingga D300.

    Selayang Pandang

    Lensa 18-105VR sepintas tampak serupa dengan lensa 18-135mm dengan ukuran yang relatif kecil meski memiliki diameter filter 67mm. Bobot lensa inipun terasa pas, dalam arti tidak ringan (seperti 18-55mm) dan tidak berat juga (seperti 24-70mm) sehingga bila dipasang di kamera DSLR terasa balance. Dalam posisi wide 18mm, tidak ada bagian dari lensa yang menonjol, namun begitu lensa di zoom maka elemen lensa akan memanjang dan akan berada di posisi terpanjang berada pada posisi 105mm. Posisi ring fokus manual berada di sebelah dalam (kebalikan dari lensa kit 18-55mm atau 55-200mm) sehingga terhindar dari resiko terputar secara tidak sengaja (seperti yang terjadi di lensa  24-70mm). Di samping kiri ada dua tuas selektor yaitu tuas manual/auto fokus dan tuas on/off VR. Dalam urusan manual fokus, lensa ini unik karena pada tuas tertulis kode A – M (bukannya M/A – M seperti lensa Nikon yang lebih mahal) namun dalam penggunaan manual fokus kita bisa memutar ring fokus kapan saja tanpa harus menggeser tuas dari posisi A ke posisi M. Gerakan zoom lensa saat di putar terasa kokoh dan tidak ‘enteng’ seperti lensa kit 18-55mm. Lensa buatan Thailand ini memiliki mounting dari plastik sehingga perlu hati-hati saat membawa kamera, jangan menggenggam pada lensanya (supaya tidak patah).

    Kinerja

    Hanya ada dua hal yang perlu diketahui soal kinerja lensa ini, yaitu kecepatan motor fokus AF-S dan performa stabilizer VR. Kami tidak tahu jenis motor SWM di dalam lensa ini apakah tergolong motor kelas murah (seperti motor SWM di 18-55mm atau 55-200mm) ataukah yang kelas cepat (seperti motor SWM di 18-200mm atau 24-70mm). Anggaplah dengan harga jualnya yang terjangkau, motor AF-S di lensa ini masih memakai motor kelas murah; maka kami rasakan kecepatan penguncian fokus di lensa ini tergolong amat cepat, sekitar setengah detik dalam kondisi ideal. Kinerja mulai menurun saat dipakai di low-light, atau bila kamera mencoba mengunci fokus pada objek foto yang kontrasnya kurang.

    Soal stabilizer, sistem VR di lensa ini memang bukanlah sistem VR generasi II yang sanggup bekerja hingga 4 stop. Nikon meng-klaim VR disini hanya bisa 3 stop, meski kenyataannya tentu hasilnya bisa bervariasi. Terdengar suara halus dari dalam lensa saat VR aktif (tombol shutter ditekan setengah) dan efek stabilisasi bisa dirasakan melalui viewfinder optik. Soal hasil pengujian VR di lensa ini bisa dilihat di pengujian di bawah ini.

    Kinerja lensa secara umum

    Fokal lensa dan bukaan diafragma

    Lensa 18-105mm ini punya rentang fokal yang cukup lebar (5,8 x zoom), dengan kemampuan mengambil area yang luas (wideangle) hingga medium tele. Lensa semacam ini tentu amat disukai oleh mereka yang membeli kamera DSLR untuk travelling, karena kemampuannya menjangkau wide hingga tele tadi. Pada posisi lensa 18mm, dengan adanya crop factor kamera Nikon DX maka akan menjadi 27mm dan pada posisi lensa 105 akan menjadi 157,5mm. Untuk mendapat gambaran seperti apa kemampuan rentang fokal ekstrim lensa ini, berikut adalah foto replika candi Borobudur yang diambil dari kejauhan.

    18-105

    Adapun untuk urusan bukaan diafragma, lensa 18-105mm ini memang tergolong lensa lambat dengan bukaan variabel dari f/3.5 hingga f/5.6. Bagi yang belum mengetahui, lensa zoom ekonomis memang tidak punya bukaan maksimal yang tetap pada seluruh panjang fokal, sebagai gantinya bukaan maksimum lensa akan semakin mengecil seiring perubahan posisi fokal lensa. Sebagai contoh, pada posisi 18mm bukaan maksimal lensa ini adalah f/3.5 namun begitu posisi lensa berubah ke 24mm maka bukaannya maksimalnya turun ke f/4. Yang membuat kami cukup terkejut adalah bahwa lensa ini sudah mencapai bukaan maksimum f/5.6 bahkan pada posisi fokal baru mencapai 70mm, sehingga di rentang 70 – 105mm bukaan maksimumnya sudah stabil di f/5.6. Jadi saran kami, bila anda perlu memasukkan cahaya sangat banyak (ingin bukaan diafragma sebesar mungkin) hindarilah memakai posisi fokal diatas 70mm.

    Ketajaman

    Sifat alami lensa pada umumnya akan memberi ketajaman maksimal di bukaan sekitar f/8 dan akan soft di bukaan maksimal dan minimal (akibat difraksi), demikian juga halnya dengan ketajaman yang diberikan oleh lensa ini. Karena dengan 15 elemen yang tersusun di dalam sebuah lensa ini, adalah wajar bila ketajaman juga akan berbeda pada tiap posisi fokal, dan lensa akan cenderung lebih soft pada posisi ekstrim di 18mm dan 105mm. Ketajaman juga tampak berkurang di bagian tepi dan ini merupakan konsekuensi memakai lensa DX, bukan suatu masalah bagi yang memakai lensa ini untuk memotret orang/wajah, namun mungkin akan jadi masalah bagi mereka yang memakai lensa ini untuk memotret landscape. Dari hasil pengujian, lensa ini punya optik yang tergolong bagus karena mampu memberi ketajaman dan kontras yang stabil di sepanjang rentang fokal, dengan sedikit penurunan terjadi di posisi 105mm.

    Kinerja VR

    Kami ingin membuktikan efektivitas stabilizer VR pada lensa ini, dimana VR berfungsi untuk mengkompensasi getaran tangan saat memotret sehingga mencegah foto jadi blur. Sebagaimana yang kita tahu, kamera cenderung akan memberikan hasil foto yang blur akibat getaran tangan yang umumnya terjadi saat shutter terlalu lambat dan/atau fokal lensa terlalu panjang. Di contoh pengujian kali ini, kamimemakai speed 1/10 detik dan posisi fokal lensa 105mm, dimana kombinasi keduanya hampir pasti akan menghasilkan gambar yang blur tanpa VR. Ternyata dengan memakai VR, kami tetap bisa membuat hasil foto yang tajam meski speed yang dipakai itu 3 stop dibawah speed minimum secara teori 1/panjang fokal (fokal 105mm semestinya memakai speed 1/100 detik). Dari pengujian tadi, disimpulkan bahwa VR berfungsi dengan baik dan efektif mencegah foto blur akibat pemakaian shutter lambat dan/atau fokal tele. Sebgai catatan, VR bukan untuk mencegah blur akibat gerakan objek yang difoto, dia hanya mencegah blur akibat gerakan tangan si fotografer. VR juga tidak berdaya untuk speed terlampau rendah (dibawah 1/8 detik) untuk itu gunakan tripod.

    18-105VR test

    Cacat lensa

    Secara fisika, cacat atau penyimpangan optik  memang terpaksa dialami setiap lensa, sebutlah misalnya distorsi, flare, vignetting dan chromatic abberation. Semakin mahal lensa, makin baik kemampuannya dalam meminimalisir cacat yang terjadi. Jadi saat memilih lensa ekonomis, tentu soal cacat lensa ini perlu dikompromikan. Perlu dicatat bahwa cacat lensa yang kami maksud bukanlah cacat dalam manufaktur seperti cacat fokus (front focus/back focus) atau penyimpangan warna/tone.

    Lensa 18-105mm merupakan lensa zoom yang rentan terhadap distorsi. Di posisi 18mm, lensa mengalami cacat yang nyata dalam hal distorsi dimana garis jadi tampak melengkung keluar (barrel) dan ini membuat lensa ini tidak cocok untuk urusan foto arsitektur atau interior. Namun begitu kita memakai fokal diatas 18mm, lensa langsung berbalik mengalami distorsi kedalam (pincushion), padahal biasanya pincushion hanya terjadi di posisi tele maksimum. Biasanya untuk mengatasi kelengkungan ini foto harus diolah lagi memakai software komputer.

    Saat lensa mendapat sorot matahari dari samping,  sinar matahari akan terpantul-pantul diantara susunan lensa dan menyebabkan flare. Pada lensa ini tampaknya flare dapat diatasi dengan baik sehingga tidak mudah muncul. Demikian juga dengan vignetting atau fall-off atau dark corner, suatu fenomena lensa yang cenderung lebih gelap di bagian pojok, tidak terlalu nampak pada hasil foto aktual. Lensa ini pun kami akui mampu mengatasi fenomena purple fringing atau chromatic abberation, suatu kondisi dimana muncul warna keunguan di bagian foto yang beda kontras amat tinggi. Lensa ekonomis umumnya tak bisa menghindari cacat ini karena sedikitnya pemakaian elemen lensa ED atau elemen aspherical. Kamera modern seperti D90 bisa otomatis menghilangkan cacat ini melalui prosesor di dalam kamera, sementara kamera lawas masih harus menerima hasil dari lensa yang terpasang apa adanya. Pada beberapa kasus lensa ini masih sedikit menampakkan purple fringing meski jauh lebih baik daripada lensa 18-135mm.

    Makro

    Salah satu hal yang ingin diketahui oleh calon pembeli lensa adalah kemampuan makronya. Lensa 18-105mm punya rasio reproduksi makro 1:5, dan minimum focus distance sejauh 45 cm. Tidak ada tuas selektor macro di lensa ini, menandakan memang lensa ini tidak ditujukan untuk keperluan fotografi makro. Namun untuk kebutuhan makro sekedarnya, lensa ini masih bisa diandalkan.

    DSC_2950a

    Tampak 100% crop dari sebuah micro SD card yang masih tampak tajam dan detil, diambil dari jarak sekitar 50 cm dari objek. Lumayan untuk ukuran lensa non makro.

    Bokeh

    Bagi anda yang penasaran ingin melihat seberapa baik lensa ini dalam membuat out of focus atau blur pada background (biasa disebut dengan bokeh), tampaknya kami akan membuat anda kecewa. Adalah hal yang wajar bila lensa ekonomis punya bokeh yang biasa saja, bahkan belum sanggup membuat latar yang benar-benar blur. Untuk bokeh sesungguhnya, tentu lensa fix apalagi yang bukaannya besar lebih cocok. Berikut contohbokeh yang dihasilkan lensa 18-105mm pada posisi 105mm dan pada bukaan maksimum f/5.6. Sebagai pembanding kami tampilkan hasil foto dari lensa Nikon fix khusus makro seharga hampir 10 juta rupiah, AF-S 105mm VR micro dengan bukaan f/2.8.

    AFS 105 bokeh

    Tentu saja dari perbandingan di atas tampak kalau kedua lensa memiliki bokeh yang jauh berbeda, meski digunakan pada fokal yang sama yaitu 105mm. Pada lensa 18-105mm samar-samar masih tampak bentuk latar yang berupa dedaunan, namun pada lensa 105mm micro, latar sudah sangat blur sehingga sulit ditebak kira-kira benda apa yang ada di belakangnya. Baik dalam hal bukaan diafragma (f/5.6 melawan f/2.8) ataupun dalam hal harga, kedua lensa yang diuji di atas jelas berbeda kelas, maka itu wajar bila hasilnya pun berbeda. Kemampuan bokeh lensa 18-105mm ternyata tak banyak berbeda dengan lensa kit lain semisal 18-55mm.

    Kesimpulan

    Banyak orang yang mencari sebuah lensa yang bisa dipakai untuk kebutuhan fotografi dasar sehari-hari, dengan ciri ukuran kecil, rentang fokal yang lebar (wide hingga tele), ada sistem VR, optiknya bagus dan tentu harganya terjangkau. Keuntungan bagi anda yang memakai DSLR Nikon adalah banyaknya pilihan lensa yang masuk dalam kriteria ini, seperti lensa kit D70 yang legendaris (18-70mm namun tanpa VR), 16-85mm VR hingga 18-200mm VR. Nah, lensa 18-105mm VR ini pun mampu menjadi salah satu pilihan yang menarik karena memenuhi semua kriteria yang kami tuliskan di atas.

    Sebagaimana layaknya lensa walk-around pada umumnya, lensa ini juga bukanlah lensa high performance yang dicari para profesional. Sebutlah karena material mountingnya yang terbuat dari plastik, bukaan diafragmanya yang tergolong lambat, tidak kompatibel dengan format FX / full frame, hingga cacat distorsinya yang tampak jelas membuat garis jadi melengkung. Selain masalah di atas, lensa ini merupakan lensa yang praktis dan bisa diandalkan untuk menghasilkan foto-foto yang indah, warna yang natural, kontras dan ketajaman yang tetap terjaga pada sepanjang rentang fokal.

    Sebagai penutup, kesimpulan dan saran kami terhadap lensa 18-105mm VR ini adalah :

    • dalam banyak hal lensa ini sedikit lebih baik dari lensa kit pada umumnya (rentang fokal lebih lebar,  lebih mantap digenggam, ring manual fokus lebih presisi dan diameter filter lebih besar)
    • lensa ini cocok untuk anda yang mencari lensa travelling (dipakai jalan-jalan) yang ringkas dan ringan berkat rentang fokalnya yang ekuivalen dengan 27-157mm
    • lensa ini bisa dipilih bila anda tidak ingin memiliki lensa 18-200mm VR (entah karena mahal atau karena berat) meski tentu fokal 105mm hingga 200mm tak mungkin dijangkau oleh lensa ini
    • bila anda mau menambah dana untuk mencari lensa yang lebih ’serius’ daripada lensa ini, bisa pertimbangkan AF-S 16-85mm VR yang punya mount logam, meski secara kualitas optik keduanya hampir sama dan sama-sama bukan lensa cepat
    • bila mau menambah lensa tele sebagai pelengkap lensa ini, bisa coba memakai AF-S 70-300mm VR (meski nantinya jadi ada sedikit overlap range di 70-105mm)
    • lensa ini tidak cocok untuk anda yang sering memotret benda-benda dengan garis tegas karena distorsi lensa ini yang cukup parah
    • lensa ini cukup nyaman bila ingin mencoba manual fokus karena ring manual fokusnya cukup presisi
    • lensa ini kurang cocok untuk penggemar landscape murni yang perlu ketajaman di semua bidang foto
    • lensa ini kurang cocok untuk penggemar bokeh yang creamy, untuk itu gunakan lensa fix
    • lensa ini lumayan cocok untuk yang suka candid, jurnalistik atau sport karena motor AF-nya lumayan cepat, plus VR yang efektif hingga 3 stop
    • bagi pemilik D40 – D5000, bila anda ingin upgrade dari lensa kit 18-55mm ke lensa ini, lakukan hanya jika anda merasa fokal 55mm dirasa kurang cukup untuk kebutuhan tele (karena secara kualitas optik keduanya relatif sama)
    • bagi pemilik D90 yang sudah paket dengan lensa kit 18-105mm ini, bila anda ingin menjual lensa kit ini dan lalu membeli lensa lain, pertimbangan terbaik adalah lensa 18-200mm VR.

    Inilah review lensa 18-105mm VR yang bisa kamibuat untuk anda pemakai DSLR Nikon, dengan harapan bisa memberi gambaran sebelum anda memutuskan untuk membeli. Untuk pertanyaan, koreksi dan diskusi seperti biasa bisa melalui forum yang ada.

    Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

    Review : lensa Nikon AF-S 55-200mm VR

    Nama lengkap lensa ini cukup panjang : AF-S DX VR Zoom-NIKKOR 55-200mm f/4-5.6G IF-ED, dan jangan tertukar dengan lensa sejenis yang versi lama (non VR) yang harganya lumayan terpaut cukup banyak. Dengan  memiliki paket combo lenses : AF-S 18-55mm dan AF-S 55-200mm, kita bisa mendapat rentang zoom populer 18-200mm (setara 28-300mm) tanpa harus memiliki lensa Nikon AF-S 18-200mm VR yang berat itu (baik dalam bobot dan harganya).

    Kebanyakan pembeli DSLR (pemula) yang paket dengan lensa kit memang pada akhirnya akan cenderung untuk membeli satu lensa tele ekonomis. Alasan utamanya adalah karena rentang lensa kit yang hanya ‘mentok’ di 55mm terasa amat kurang dalam menjangkau area yang jauh. Dengan memiliki lensa tele yang punya panjang fokal di 55-200mm (yang setara dengan 85-300mm – atau 3,6x zoom), sudah dapat dipenuhi beberapa kebutuhan fotografi tele seperti isolasi objek dalam foto potret, atau juga foto outdoor seperti satwa dan momen olahraga. Khusus pemakai DSLR Nikon, pilihan lensa tele ekonomis 55-200mm tidak hanya dari lensa buatan Nikon saja, melainkan juga tersedia lensa 55-200mm buatan Sigma dan Tamron. Dengan harga yang cuma terpaut sedikit, kami tidak merekomendasikan lensa 55-200mm selain dari lensa Nikon.

    nikon-55-200-mm-vr

    Kita mulai dari harga lensanya. Dengan kurs dolar sekarang, lensa buatan tahun 2007 kini dijual sekitar hampir 3 juta rupiah. Apa yang anda harapkan dari lensa seharga 3 juta ini? Melihat harga lensa Nikon 70-200mm yang mencapai belasan juta, dan melihat harga lensa Nikon 70-300mm di atas 5 jutaan, wajar kalau anda bakal meragukan kualitas dari si mungil ini. Tapi jangan salah, dibalik harganya yang murah, lensa ini punya banyak wow-factor yang semestinya dijumpai pada lensa kelas mahal.

    Inilah dia headline dari lensa AF-S 55-200mm VR :

    • VR : inilah alasan utama kebanyakan orang memilih lensa ini (daripada versi 55-200mm non VR). Lensa tele tanpa stabilizer (seperti Sigma 55-200mm atau Tamron 55-200mm) tidak akan bisa dipakai secara maksimal.
    • ED : elemen lensa mahal yang berguna untuk menjaga ketajaman (meski hanya ada satu lensa ED, dibanding dengan 2 lensa ED pada lensa AF-S 55-200mm non VR).
    • AF-S : artinya bisa auto fokus di D40, D40x dan D60. Lebih penting lagi, AF-S artinya memakai motor mikro SWM di dalam lensa sehingga kerja auto fokus terasa amat halus, cepat dan akurat. Bandingkan dengan lensa 55-250mm (atau bahkan 18-200mm) dari Canon yang tidak dilengkapi dengan motor USM.
    • IF : proses fokus tidak memutar atau memaju-mundurkan elemen depan lensa, melainkan sepenuhnya proses putaran fokus terjadi di dalam lensa. Mau pasang filter CPL? Bisa..
    • SIC : coating khusus untuk mencegah flare dan ghosting, lumayan lah daripada tidak ada
    • Banyak bonus : lens cap, rear lens cap, soft pouch dan lens-hood (ya, tidak perlu beli lens hood lagi…)

    Tentu saja untuk membuat lensa semurah ini ada beberapa ‘penyesuaian’ yang harus dilakukan oleh Nikon, dan inilah hal-hal yang menjadi kompromi guna menekan harga jualnya :

    • bukaan maksimal f/4-f/5.6, jelas bukan tergolong lensa cepat (anda tidak berharap lensa semungil ini punya bukaan konstan f/2.8 kan?)
    • format DX (pemakai kamera format FX tidak mungkin melirik lensa ini…)
    • mounting dan barrel lensa plastik (ringan, sama seperti lensa kit 18-55mm dan lensa 18-135mm)
    • tanpa ring pengatur diafrgama (ditandai dengan kode huruf G)
    • tanpa jendela informasi jarak fokus
    • AF-S tidak bisa instant manual focus override, ditambah dengan jenis motor SWM yang tidak sebagus lensa Nikon yang lebih mahal
    • VR tidak untuk panning (tidak seperti VR generasi II)
    • 7-blades diafrgama (padahal versi non VR punya 9-blades)

    Sebelum memulai review, simak dulu spesifikasi dasar dari lensa 55-200mm ini :

    • elemen lensa : 15 lensa dalam 11 grup
    • ukuran filter : 52mm
    • bukaan minimum : f/22 (wide) hingga f/32 (tele)
    • min. focus distance : 1.1 meter (1:4.3 max. reproduction ratio)
    • bobot : hanya 335 gram

    Baiklah kita mulai saja review lensa ini, dimulai dari sekilas pandang.

    nikon-af-s-55-200-f4-56-vr

    Inilah lensa Nikon 55-200mm, pada foto diatas tampak tiga macam posisi lensa. Pada foto sebelah kiri tampak posisi lensa di 55mm (zoom out), tidak tampak ada elemen lensa yang menonjol, artinya lensa berada pada posisi terpendeknya. Pada foto tengah tampak lensa berada di posisi 200mm (zoom in), elemen lensa menonjol keluar dan lensa menjadi tampak jadi lebih panjang. Gambar ketiga foto sebelah kanan menunjukkan lensa yang sudah dilengkapi dengan hood (yang disertakan dalam paket penjualan).

    Build quality

    Banyak reviewer luar negeri yang mengeluhkan build quality dari lensa ini. Mereka umumnya membandingkan kualitas rancang-bangun lensa ini dengan lensa Nikon lain yang jauh lebih mahal, yang barrel dan mountingnya terbuat dari logam. Sejujurnya kami merasa meski lensa ini berbahan material plastik, namun kesan kokoh dan solid sedikit banyak masih dapat dirasakan.  Putaran zoom terasa ringan namun mantap, sepintas tidak berbeda dengan lensa kit. Namun yang membedakan adalah zoom ring pada lensa ini terasa lebih nyaman berkat grip yang lebih lebar dengan lapisan karet yang lembut. Ring manual fokus seperti halnya pada lensa kit, amat kecil dan berada terlalu ke depan. Lensa ini memang bukan untuk mereka yang menyukai manual fokus, karena ring manual fokus di lensa ini tidak presisi dan memakainya pun repot (karena harus menggeser tuas A-M dahulu). Untungnya saat proses auto fokus, tidak ada elemen lensa yang maju mundur dan berputar (seperti pada lensa kit).

    Vibration Reduction/VR

    Lensa tele ini memang dilengkapi dengan stabilizer pada lensa yaitu VR, dan terdapat tuas pada lensa untuk mengaktifkan VR ini. Saat kamera berada di tripod,VR disarankan untuk dinonaktifkan. Pada saat tuas VR di posisi on, apabila tombol rana  ditekan setengah, maka sistem VR akan mulai bekerja. Terdengar suara halus dari dalam lensa sebagai tanda bahwa sistem VR mulai bekerja menstabilkan gambar. Karena sistem VR pada lensa bisa langsung di preview di viewfinder, maka kita bisa melihat efek stabilisasi sebelum foto diambil (suatu hal yang tidak bisa dilakukan oleh DSLR dengan sistem stabilizer pada bodi).

    vrtest

    VR diklaim oleh Nikon efektif bekerja hingga 3 stop, meski dalam kondisi nyata hasilnya bisa bervariasi. Sistem VR di lensa ini adalah VR jenis lama, dimana VR ini tidak cukup cerdas untuk mengenali gerakan panning sehingga disarankan saat panning VR dimatikan saja. Perlu dicatat bahwa mengingat lensa ini punya rentang tele 55-200mm (setara 85-300mm), maka pada nilai shutter rendah fungsi VR pun kadang tidak berhasil. Ingat, di posisi 300mm dibutuhkan shutter 1/300 detik tanpa stabilizer untuk mendapat foto yang bebas blur. Sedikit saja getaran tangan pada lensa tele akan membuat semuanya runyam…

    AF-S, SWM dan auto fokus

    Kinerja auto fokus  dari motor SWM di lensa ini cukup pas-pasan. Betul kalau suara motor micro ini terdengar halus, namun urusan kecepatan fokus memang bukan andalan utama lensa ini. Motor SWM di lensa ini bukan motor kelas atas seperti lensa AF-S lain yang lebih mahal, sehingga dibutuhkan kesabaran menunggu kamera mendapat fokus yang tepat (dan kadang sesekali kamera harus mengulang proses AF karena kesulitan mengunci fokus). Kami akui soal ini juga tak lepas dari keterbatasan kamera D40 (sebagai kamera untuk melakukan pengujian) yang cuma punya 3 titik AF, namun saat D40 tersebut kami pasangkan dengan lensa 24-70mm, kami rasakan kecepatan fokus lensa full frame itu luar biasa cepat. Maka itu bila ingin lensa yang bisa memotret momen olah raga yang serba cepat, sebaiknya (minimal) gunakan lensa AF-S 70-300mm saja.

    Seputar diafragma

    Lensa ini punya bukaan maksimal hanya f/4 di posisi 55mm dan mengecil hingga batas kritis f/5.6 di posisi 200mm. Kabar baiknya, dengan posisi zoom-out di 55mm, bukaan maksimum lensa ini yang f/4 ini masih lebih besar daripada posisi zoom-in di 55mm pada lensa kit (yang hanya mampu membuka di f/5.6). Seperti halnya lensa lain, ketajaman maksimal didapat di rentang f/8 hingga f/11, meski pada bukaan maksimal pun ketajaman lensa ini masih amat baik. Lensa inipun tajam pada seluruh panjang fokal, rental motor jogja dengan sedikit adanya penurunan ketajaman di posisi tele maksimal 200mm (masih dalam batas toleransi). Bandingkan dengan lensa Sigma 70-300mm yang pada posisi  200mm keatas sudah mengalami penurunan ketajaman yang amat nyata dan hasil fotonya amat soft. Untuk mengetahui batas difraksi lensa ini gunakan bukaan kecil diatas f/16 dan penurunan ketajaman tampak semakin nyata pada f/22.

    Pengujian

    Berikut adalah contoh foto yang diambil memakai lensa ini.

    Pengujian pertama adalah melihat ketajaman di posisi zoom out 55mm (f/4) dan zoom in 200mm (f/5.6). Dua foto dibawah ini menggambarkan betapa di kedua posisi ini tampak ketajaman yang baik berhasil ditampilkan oleh lensa ini.

    Posisi zoom-out 55mm f/4

    Posisi zoom-in di 200mm, f/5.6

    Pengujian kedua adalah membandingkan efek bukaan terhadap ketajaman, dimana tes pertama menunjukkan lensa pada bukaan f/5.6 dan tes berikutnya mencoba mengenali difraksi pada bukaan f/22.

    Foto berikut adalah contoh bukaan f/5.6, tampak background begitu blur karena memakai bukaan besar, sementara dedaunan di depan tampak tajam.

    Bukaan besar (f/5.6)

    Ini adalah 100% crop dari foto diatas, tampak dedaunan amat tajam sementara background begitu out-of-focus, sehingga isolasi objek berhasil dilakukan.

    100% crop (f/5.6)

    Foto berikut adalah contoh bukaan f/22, tampak background masih cukup jelas karena memakai bukaan kecil.

    Bukaan kecil (f/22)

    Ini adalah 100% crop dari foto diatas, tampak dedaunan sudah berkurang ketajamannya karena difraksi lensa,  sementara background tampak masih cukup jelas.

    100% crop (f/22)

    Dari pengujian di atas dapat disimpulkan bahwa ketajaman optik lensa ini amat baik mulai dari 55mm hingga 200mm, dengan sedikit adanya penurunan ketajaman pada posisi tele maksimum 200mm. Pada bukaan kecil memang nyata dijumpai softness akibat difraksi, dimana hal ini adalah fenomena fisika yang wajar untuk lensa apapun. Setidaknya fotografer diberi pilihan untuk memakai bukaan besar bila perlu isolasi objek, atau bukaan kecil untuk DoF yang lebar.

    Kekurangan

    Adapun kekurangan optik dari lensa ini tampaknya masih dapat diterima, bahkan beberapa masih dapat diabaikan. Faktor distorsi amat sangat minim, corner softness pun masih dalam batas wajar, bahkan lensa ini mampu menghandel fringing dengan baik (apalagi bila stop down dari bukaan maksimum). Contoh berikut menunjukkan betapa minimnya fringing pada f/4.

    Fringing at f/4

    Dua hal yang kami akui cukup merepotkan adalah pengujian manual fokus dan pengujian makro. Manual fokus ring pada lensa ini memang tidak presisi dan untuk memotret makro jarak lensa dan objek setidaknya harus ada satu meter (bila kurang dari itu tidak akan didapat fokus yang tepat). Kemampuan reproduksi rasio yang cuma 1:4.3 juga menunjukkan betapa lensa ini memang tidak ditujukan untuk keperluan makro, kami bahkan merasa lebih mudah memotret makro memakai lensa kit 18-55mm daripada memakai lensa ini.

    Manual fokus dan bokeh

    Macro, 200mm, f/8 crop and resize

    Kesimpulan

    Nikon memang kami akui berhasil membuat lensa tele murah yang punya kualitas optik yang tidak kalah baiknya dengan lensa yang lebih mahal, meski tentu terdapat kompromi dalam hal material plastik, kecepatan motor SWM dan VRnya. Dengan harga 3 juta anda sudah bisa mendapat lensa tele yang cukup untuk mendukung kegiatan fotografi sehari-hari, dengan bonus sistem VR, lensa ED, motor SWM, lens hood dan grip zoom ring yang nyaman. Lensa ini tentu tidak untuk mereka yang sering memotret di tempat kurang cahaya (gunakan saja AF-S 70-200mm atau AF 80-200mm), tidak juga untuk mereka yang perlu motor AF eksta cepat, atau mereka yang menyukai manual fokus dan/atau pecinta macro. Namun untuk kebutuhan tele sehari-hari, lensa ini sudah lebih dari cukup untuk memuaskan anda.

    Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..