Sony A77 mark II : SLT strikes back..

Sony kembali mengumumkan kehadiran kamera A77 mark II, sebuah kabar baik bagi pemakai lensa A-mount, dan yang merindukan kehadiran kamera non mirrorless. Kamera SLT kelas menengah ini menyempurnakan A77 dengan 79 titik AF – 15 diantaranya berjenis cross type (mengalahkan semua kamera DSLR), burst 12 fps, dan memakai sensor APS-C 24 MP. Yang menarik, lensa kit kamera A77 mark II ini adalah lensa 16-50mm f/2.8 yang termasuk lensa profesional. Layar LCD lipat di A77 mark II juga unik, karena punya banyak engsel sehingga bisa diputar untuk berbagai angle seperti low angle, high angle bahkan selfie yang lagi tren.

Spek dan fitur utama :

  • Exmor 24 MP APS-C
  • A mount, translucent mirror
  • 12 fps continuous shoot
  • advanced AF, 79 titik dengan 15 cross type
  • ISO 100-25.600
  • prosesor canggih : detail repro, diffraction red, area specific NR
  • bodi magnesium alloy weatherproof
  • layar LCD 3 inci bisa dilipat berbagai angle
  • jendela bidik OLED 2,4 juta dot

Komparasi dengan pesaing terdekat (Canon 70D dan Nikon D7100) :

Dari Photo Rumors
Dari Photo Rumors

Lensa sapu jagad ambisius : Tamron 16-300mm f/3.5-6.3 VC PZD Macro

Walaupun enaknya memotret dengan kamera DSLR (atau mirrorless) adalah bisa berganti-ganti lensa, tapi ada juga orang yang lebih tertarik kalau bisa pakai satu lensa saja yang bisa mencakup kebutuhan wide sampai tele. Bagi mereka, lensa superzoom atau sapu jagad memang jadi opsi yang lebih cocok, apalagi kalau dibawa travelling. Lensa DSLR memang jarang yang punya rentang zoom panjang, bahkan dulu 18-200mm sudah tergolong istimewa. Tapi kini batasan itu mulai dilampaui, seperti lensa Sigma 18-270mm, Nikon 18-300mm yang bisa menjangkau lebih tele dari 200mm. Tapi Tamron yang baru muncul ini keren, fokal terpendeknya bisa mencapai 16mm yang relatif lebar (ekivalen 24mm di sensor APS-C). Rasio zoomnya adalah 18,8x yang sepertinya memecahkan rekor untuk lensa superzoom saat ini.

Berikut penampakan lensa Tamron 16-300mm f/3.5-6.3 VC PZD Macro :

tamron-16-300mm-f35-63g-di-ii-vc-pzd-macro-lens

Didalam lensa seharga 7 juta ini tersusun atas tiga elemen lensa Molded-Glass Aspherical, sebuah elemen lensa Hybrid Aspherical, dua elemen lensa LD (Low Dispersion), sebuah elemen lensa XR (Extra Refractive index) dan satu elemen baru yaitu UXR (Ultra-Extra Refractive Index) yang punya indeks refraksi lebih tinggi dari XR, dan bisa membuat ukuran lensa jadi lebih kecil.

Opini kami :

  • alternatif menarik dibanding Nikon 18-300mm bila tujuannya ingin lensa yang lebih terjangkau
  • dengan fokalnya yang cukup wide (16mm setara 24mm) menarik untuk dipakai memotret pemandangan dan interior
  • value produk sudah oke, karena ada VC (penstabil getaran), motor fokus PZD (halus dan cepat) serta bisa makro-makroan (1:2,9 dengan MFD 40cm)
  • kualitas optik termasuk standar, lensa sapu jagat tidak didesain untuk mengoptimalkan kualitas hasil tapi kepraktisan
  • desain baru lensa Tamron ini terlihat lebih pro, balutan warna hitam, tekstur dan gelang zoom – fokus desain baru
  • Tamron berhasil membuat lensa yang berukuran kecil (panjangnya 10cm) dan bobot ringan (1/2 kg) – setara dengan lensa Nikon 18-300mm generasi kedua
  • lensa ini cocok untuk all round lens, praktis buat jalan-jalan dan foto harian

Sony A6000 siap ‘ganggu’ DSLR menengah ke bawah

Bulan ini mulai ramai dibahas kamera mirrorless terbaru dari Sony yaitu Alpha A6000. Kamera yang menjadi kelahiran kembali NEX-6 (2012) ini dibekali beberapa fitur tambahan untuk memanjakan fotografer. Walau sebelumnya Sony sudah banyak berusaha membuat berbagai kamera mirrorless dari yang paling murah (NEX-3) sampai yang paling elit (A7) tapi bisa jadi inilah kamera yang bakal meraih perhatian praktisi fotografi. Bahkan kami memprediksi kehadiran Sony A6000 bisa mengganggu penjualan kamera DSLR kelas menengah (harga 11-13 jutaan) dan beberapa DSLR kelas bawah (pemula) yang dijual 8 jutaan. Mengapa bisa begitu?

Kita tahu kamera mirrorless menang dalam hal ukuran yang lebih kecil, dibanding dengan DSLR. Tapi dalam hal kemampuan berganti lensa, kamera mirrorless sama saja dengan DSLR karena ada mount dan sensornya pun umumnya berukuran cukup besar. Kalau bicara soal kinerja, fitur dan ukuran bodi kamera mirrorless sendiri berbeda-beda. Ada yang terlalu kecil hingga tidak punya jendela bidik (Panasonic GF6/GM1, Olympus Pen, Nikon 1, Sony NEX 3/5), namun ada yang lengkap seperti DSLR tapi terlalu mahal (seperti Olympus EM-1, Panasonic GH3, Fuji X-T1). Kamera mirrorless pun umumnya kalah dalam satu hal dibanding DSLR, yaitu urusan auto fokus.

Maka itu Sony A6000 berpeluang menjadi kamera alternatif DSLR kelas menengah ke bawah, karena fitur, kinerja dan harganya berimbang. Dengan harga 10 juta pas, sudah dapat lensa kit 16-50mm OSS. Di kelompok mirrorless, A6000 bisa jadi pesaing serius untuk kamera Olympus EM-10, Lumix GX7, Samsung NX30 dan Fuji X-E2. Kompetitor A6000 di kancah DSLR adalah kamera sekelas Nikon D7100 atau Canon EOS 70D. Bahkan kamera DSLR kelas bawah seperti Nikon D5300 kit 18-55mm (9 juta) dan Canon EOS 700D kit 18-135mm (9,5 juta) pun bakal tersaingi oleh A6000. Kenapa?

sony-a6000
Sony A6000 dengan lensa 16-50mm OSS

Pertama ukuran dan resolusi sensor A6000 sama, yaitu APS-C 24 MP (EOS 700D bahkan hanya 18 MP) sehingga kualitas hasil fotonya secara teori sama saja. Lalu auto fokus Sony A6000 sudah dibekali oleh 179 piksel deteksi fasa di sensornya sehingga bisa memfokus secepat kamera DSLR. Belum cukup sampai disitu, A6000 bisa memotret sampai 11 foto per detik, mengalahkan DSLR menengah manapun. Soal video bahkan A6000 lebih unggul karena AF deteksi fasa bisa diterapkan juga saat merekam video, plus fasilitas focus peaking dan zebra untuk yang melakukan manual fokus.

sony-a6000-6

Biasanya kamera mirrorless kalah dibanding DSLR karena tidak adanya jendela bidik, atau kurang lengkap dalam hal fitur lainnya. Tapi A6000 punya jendela bidik OLED yang jernih, lalu layaknya kamera untuk dipakai serius, ada dua roda dial dan hot shoe. Bayangkan, Nikon D5300 seharga 9 juta pun hanya punya satu roda dial, dan bahkan tidak punya tombol pintas ke fungsi ISO, WB, AF dsb. Sebagai bonus tambahan, ada fitur khas Sony seperti sweep panorama, juga ada in camera HDR dan WiFi plus NFC. Kesemua ini hadir dalam bodi yang ringas namun mantap digenggam karena grip yang besar dan material yang mewah.

Sony A6000 menu

Kekurangan kamera A6000 yang paling terasa adalah tidak adanya layar sentuh, walau layarnya bisa dilipat. Penggunaan layar sentuh saat ini merupakan kebutuhan karena memudahkan pemakaian juga bisa memilih titik fokus di layar. Selain itu masalah umum Sony adalah lambatnya lahir lensa-lensa baru yang ditunggu, serta visi jangka panjang yang kurang konsisten (seperti merubah nama NEX kembali jadi Alpha).

Nikon 1 V3 hadir, kamera mungil tapi cepat

Hari ini Nikon mengumumkan kehadiran kamera mirrorless terbaru mereka di kelas premium, yaitu Nikon 1 V3 dengan harga 13 jutaan plus lensa kit. Apa yang membuat Nikon berani pasang harga setinggi ini disaat penjualan Nikon 1 sebelumnya boleh dibilang kurang laku? Kami melihat inilah yang seharusnya dilakukan Nikon secara teknis dalam membuat kamera mirrorless-nya, yaitu desain yang keren, modular dan fungsional untuk para penghobi serius. Desain Nikon 1 V3 berubah total dan kini bentuknya lebih terkesan ‘normal’ dan tidak ‘aneh’ seperti V2, dan dibalik kamera mahal ini ada sensor mungil berukuran 1 inci resolusi 18,4 MP yang dibuat oleh Aptina. Kita akan simak hal-hal apa yang membuat kamera berformat CX ini bisa dijual begitu mahal.

Tinjauan bodi dan lensa :

nikon v3 depan

nikonv3 blkg

Fitur utama :

  • 18.4MP CX-format CMOS sensor tanpa low-pass filter
  • Expeed 4a processor
  • LCD layar sentuh 3-inch, 1.037 juta titik
  • ISO 160 hingga 12,800
  • 6fps continuous shooting dengan mechanical shutter
  • 20fps continuous shooting dengan AF tracking (tercepat di dunia)
  • 60fps (!!!) continuous shooting kalau fokus dikunci di posisi pertama
  • sistem AF cepat dengan 171 titik contrast detect AF dan 105 titik phase detect AF
  • 120fps slow-motion 720p video
  • eVR electronic stabilization dalam mode movie
  • Virtual horizon
  • Built-in WiFi
  • lensa kit baru power zoom 10-30mm 3.5-5.6 VR

Perbedaan utama desain Nikon 1 V3 dengan sebelumnya adalah dalam hal konsep modular, atau adanya aksesori tambahan yang bisa dipasang terpisah bila mau, seperti jendela bidik elektronik dan ekstra grip yang membuat kamera ini jadi tampak lebih gagah. Grip ini juga punya tombol rana, roda pengatur setting dan tombol Fn3. Bila grip dipasang, maka tampak atas kamera ini akan terlihat seperti ini :

nikonv3 grip

Nikon memposisikan kamera ini untuk mereka yang mengutamakan kecepatan sekaligus kualitas gambar dari kamera yang berukuran kecil. Seperti kamera Nikon 1 lainnya, kamera V3 ini juga memakai sensor ukuran 1 inci yang artinya akan mengalami crop factor 2,7x sehingga kamera ini bukan untuk yang menyukai fotografi wideangle. Tapi bagi penyuka foto satwa liar, format CX menarik karena lensa yang dipasang bisa mengalami peningkatan kekuatan zoom 2,7x dari fokal lensa yang dipasang, misal lensa 100mm akan setara dengan lensa 270mm, dahsyat kan..  Untuk itu Nikon juga meluncurkan satu lensa tele baru 1Nikkor 70-300mm f/4.5-5.6 VR yang fokalnya akan ekivalen dengan 189-810mm di kamera ini.

vr_70_300_b

Yang menarik pada sensor Aptina di kamera ini adalah sudah dibenamkan 150 titik auto fokus berbasis deteksi fasa, sehingga sensor ini sudah bisa dibilang sensor hybrid AF. Dengan teknologi hybrid AF ini, kamera akan terlebih dahulu memakai cara deteksi fasa untuk mendapat fokus ke obyek yang diinginkan tanpa mengalami focus hunting, lalu dilanjutkan dengan memakai deteksi kontras untuk mencari fokus terbaik dan paling akurat. Selain itu cara ini juga diyakini lebih akurat dalam mendeteksi arah gerakan obyek sehingga obyek yang bergerak dapat terus dikunci fokusnya.

nikon-1-v3-mirrorless-camera
Nikon 1 V3 dengan tambahan grip dan jendela bidik

Masih nyaman dengan penjualan kamera DSLR-nya, Nikon seakan tanpa beban dalam mendesain kamera format CX dengan sensor 1 inci ini. Bagaimana tidak, saat kompetitor berlomba membuat kamera mirrorless dengan sensor APS-C bahkan full-frame, Nikon justru membuat format mungil dengan sensor 1 inci. Tapi sisi positifnya bisa dirasakan saat kita melihat lensa-lensa mount CX yang ukurannya kecil, sejalan dengan konsep miniaturisasi kamera (bandingkan dengan kamera mirrorless lain yang lensanya jauh lebih besar dari kameranya). Tinggal apakah di kemudian hari nanti Aptina (atau produsen sensor lainnya) bisa membuat sensor 1 inci yang kualitas fotonya lebih baik, paling tidak di ISO 800 hingga ISO 1600 hasilnya masih minim noise.

Canon hadirkan EOS 1200D dan Powershot G1X mk II

Pembaruan di tahun 2014 dilakukan oleh Canon yang merilis kamera penerus EOS 1100D, yang nota bene adalah kamera DSLR ‘kelas rakyat’ dan terus dicari pembeli, dengan meluncurkan EOS 1200D. Di saat yang bersamaan, kamera saku kelas atas Canon G1X juga mendapat penyegaran total dengan diluncurkannya Powershot G1X mark II. Kita ulas apa saja peningkatan yang dilakukan oleh Canon kali ini..

Canon EOS 1200D

Berada di segmen terbawah DSLR Canon, seri EOS 4 digit yang dimulai dari EOS 1000D (Rebel XS-2008), lalu disusul 1100D (Rebel T3/2011) kini disegarkan dengan hadirnya EOS 1200D (Rebel T5) yang memakai sensor 18 MP (sebelumnya EOS 1000D sensornya 10 MP dan EOS 1100D sensornya 12 MP). Tak ingin produk seharga 6 jutaan ini ‘mengganggu’ penjualan EOS 700D, Canon menjaga beberapa spesifikasinya untuk tidak terlalu tinggi, misal hanya 3 fps dan tidak ada layar lipat sentuh. Dari bodinya pun Canon masih tetap mempertahankan desain berbahan plastik walau sudah diberi sedikit lapisan karet untuk kenyamanan genggaman. Tapi kamera basic ini benar-benar sudah mencukupi kebutuhan basic dalam fotografi, semisal ISO 100-6400, 9 titik AF dan fitur dasar seperti flash, manual mode, dan live view. Urusan video juga sudah bisa full HD walau audionya masih mono. Layar LCD 3 inci juga biasa saja dengan resolusi pas-pasan 460 ribu piksel.

Canon 1200D

Kami yakin produk EOS 1200D akan laris seperti kakaknya (1100D) khususnya di negara berkembang yang memerlukan kamera DSLR dengan harga terjangkau dan tidak mementingkan fitur terlalu tinggi.

Canon Powershot G1X mark II

Walau boleh saja disebut Canon G2X, namun agak mengherankan saat mengetahui Canon memberi nama kamera penerus G1X dengan nama G1X mk II. Mengherankan karena perubahan yang dilakukan Canon cukup banyak, bukan sekedar minor update. Dari bentuk kameranya berubah total, menjadi terlihat lebih cantik dan ringkas, utamanya karena tidak lagi dijumpai jendela bidik optik (melainkan harus memasang jendela bidik elektronik tersendiri melalui dudukan aksesori hot shoe). Layarnya juga sudah mengadopsi layar lipat dan layar sentuh.

canon_g1x_markii

Sensor yang dipakai kali ini masih sama yaitu 1,5 inci, jauh lebih besar dari sensor kamera saku pada umumnya dan nyaris setara dengan ukuran sensor kamera DSLR. Perubahan yang diapresiasi adalah lensanya yang dulunya pakai  fokal 28-112mm kini menjadi lebih efektif dengan 24-120mm, dan bahkan dengan bukaan yang jauh lebih besar yaitu f/2.0-3.9 (dibanding dulunya f/2.8-5.8). Kamera ini juga memakai 9 bilah diafragma dan bisa mengunci fokus hingga 5 cm.

Canon mengklaim peningkatan banyak hal seperti auto fokus dan hal lainnya. Kami memprediksi kamera seharga 9 jutaan ini juga akan laris walau harganya cukup tinggi, karena banyak fotografer yang mencari kamera cadangan, atau kamera kecil dan ringan namun tetap bisa mendukung kerja mereka. Hadirnya G1X mk II adalah ancaman serius bagi kamera mirrorless, karena banyak juga pemakai kamera mirrorless yang hanya punya satu lensa kit saja, itupun jenisnya yang bukaan kecil seperti f/3.5-5.6.

Fuji bikin X-T1, Olympus keluarkan OM-D EM-10

Seru nih, hanya dalam waktu dua hari, dua kamera baru yang cukup mirip telah diumumkan kehadirannya. Keduanya adalah kamera mirrorless yang keren, yaitu Fuji X-T1 dan Olympus OM-D EM-10. Fuji X-T1 hadir dengan desain yang berbeda dengan seri X sebelumnya, kini lebih mirip seri OM-D milik Olympus dengan adanya ‘tonjolan’ di bagian atas, sebagai tempat untuk jendela bidik. Selain itu X-T1 dipenuhi kendali ala kamera jadul yang perlu diputar ke angka tertentu, seperti ISO, shutter dan kompensasi eksposur. Olympus sendiri membuat OM-D EM10 sebagai kamera paling terjangkau dari seri OM-D dan harganya bisa bersaing langsung dengan Olympus Pen. Walau Fuji X-T1 dan Olympus EM10 tidak bisa diadu head-to-head secara langsung, tapi keduanya menarik untuk sama-sama diulas.

xt1-vs-em10

Fuji X-T1

Respon positif langsung menyebar di internet bahkan saat kamera Fuji X-T1 baru dirumorkan kehadirannya. Alasannya karena Fuji dibilang sukses meramu strategi yang berorientasi pada fotografer, misal kualitas sensor X-trans ukuran APS-C, bodi yang berkualitas tinggi, dan lensa yang juga bagus. Line up Fuji mirrorless sebenarnya sudah cukup lengkap dari X-Pro1, X-E1 dan X-E2, X-A1 dan X-M1 namun Fuji kembali menambah pilihan dengan mengeluarkan X-T1 yang desainnya agak berbeda, lebih retro klasik dan harganya cukup tinggi.

xt1_top_18-55mm

Fitur utama Fuji X-T1 :

  • sensor APS-C X-Trans 16 MP
  • phase detect AF
  • bodi magnesium tahan cuaca
  • 8 fps
  • jendela bidik OLED 2,3 juta piksel
  • roda pengatur ISO, shutter dan eksposur comp.
  • WiFi

Harga kamera ini 15 jutaan bodi saja, cukup tinggi ya..

Olympus OM-D EM-10

Olympus OM-D EM10

Sebetulnya Olympus menargetkan kamera OM-D itu berada di atas seri Pen, dengan fitur kelas atas dan bodi tahan cuaca. Diawali dengan EM5 (12 jutaan) dan kemudian hadir EM-1 (15 jutaan), agak mengejutkan saat hari ini Olympus membuat lagi OM-D ketiga yaitu EM-10 yang akan dijual 8 jutaan saja. Tentunya EM-10 tidak membawa semua kehebatan di seri OM-D sebelumnya, misalkan untuk menekan harga maka tidak ada phase detect dan weather seal di bodi EM-10. Tapi layaknya kamera OM-D lain, EM-10 punya fitur utama seperti :

  • sensor 16 MP dengan Micro Four Thirds mount (2x crop)
  • bodi magnesium
  • layar lipat dan layar sentuh
  • in bodi stabilizer (3 axis)
  • 8 fps
  • built-in flash (pertama di seri OM-D) dan bisa mentrigger flash eksternal
  • WiFi

Kedua kamera ini tentu bukan berada di kasta yang sama, karena Fuji X-T1 termasuk kamera kelas elit dengan bodi mantap dan fitur canggih, sedangkan OM-D EM-10 adalah kamera OM-D ekonomis untuk mereka yang perlu kamera berkualitas khas OM-D namun merasa E-M5 (apalagi E-M1) terlalu mahal. Keduanya sama-sama kamera mirrorless yang matang dalam arti baik Fuji dan Olympus cukup banyak pengalaman dalam membuat kamera yang tepat dalam hal kualitas, ergonomi dan lensanya.

Aksesori yang umum dipakai untuk video DSLR

Mengapa banyak orang yang memilih kamera DSLR sebagai sarana untuk membuat video? Walau sifatnya mungkin sekedar bonus, fitur video di kamera DSLR tidak bisa dibilang ‘asal ada’ dan hasil videonya bukan ‘asal jadi’ melainkan dalam beberapa hal bisa mengalahkan camcorder khusus. Maka itu saat ini mulai banyak orang yang memanfaatkan kamera DSLR untuk membuat klip video baik pribadi maupun komersil, seperti dokumenter, musik, hingga film pendek. Bukan cuma karena praktis, tapi karena alasan teknis yang memang menjadi keunggulan kamera DSLR. Sebutlah misalnya ukuran sensor DSLR yang jauh lebih besar dari kamera rekam video, menjanjikan kualitas video yang oke, ruang tajam (DoF) yang tipis seperti film bioskop, dan gambarnya terlihat aman dari noise walau dipakai di tempat kurang cahaya. Belum lagi dukungan lensa yang beragam untuk segala kebutuhan skenario video seperti lensa lebar, lensa fix dan lensa tele.

Tapi fitur video di kamera DSLR bukanlah fitur utama, karena bagaimanapun kamera DSLR ditujukan untuk memotret. Maka itu desain bodinya tidak dirancang untuk stabil saat merekam video. Maka itu banyak dijual aksesori untuk memaksimalkan fungsi rekam video di kamera DSLR. Aksesori ini beragam fungsinya mulai dari membantu membuat video yang stabil, ada yang untuk membantu manual fokus, hingga membuat hasil video lebih baik lagi. Seperti apa saja aksesorinya, kita simak langsung yuk..

Aksesori Penstabil

Video yang terlihat bergoyang karena tangan kita tidak stabil saat merekam, akan terlihat tidak profesional. Maka itu banyak aksesori yang dibuat supaya kamera bisa tetap stabil saat digenggam. Aksesori ini lebih berguna bila posisi kita merekam adalah handheld seperti saat mengikuti subyek yang direkam, saat meliput dokumentasi perjalanan dan sebagainya.

lowdown-deluxe-rig

Aksesori penstabil umumnya berjenis rig yang digenggam, dan ada juga yang berupa shoulder rig. Prinsipnya, dengan meneruskan beban kamera ke bahu (atau ke dada) maka akan bisa didapat tingkat kestabilan yang lebih baik. Rig juga bisa digunakan sebagai tempat memasang aksesori lain.

DSLR shoulder mount rig

Ada juga aksesori wajib seperti halnya dalam dunia fotografi, yaitu tripod. Bedanya, tripod untuk video tidak cocok kalau berjenis ballhead, melainkan pan head /fluid head untuk kemudahan saat pan dan tilt.

Aksesori kamera yang bergerak

Merekam video sambil bergerak akan menimbulkan kesan dinamis dan ini lebih menarik daripada video statis misal dengan tripod. Hanya saja gerakan yang dilakukan dengan tangan mungkin akan terlihat tidak mulus, maka itu perlu ada alat yang membantu kamera bergerak dengan mulus dan bisa diatur arahnya.

konova-dslr-slider

Umumnya aksesori gerakan ini berjenis slider, ada juga yang berupa dolly track (seperti ada rel kereta) dan porta-jib. Slider biasanya memiliki roda (bisa gerak ke segala arah), walau ada juga yang memakai gigi yang diputar pada sebuah poros (hanya gerak kiri ke kanan). Ada juga aksesori gabungan penstabil dan juga untuk gerakan kamera seperti glide cam.

Aksesori untuk hasil video lebih profesional

Tanpa tambahan aksesori kita juga tetap bisa membuat klip video dengan DSLR. Namun untuk hasil yang terlihat lebih profesional seperti klip film atau klip musik, maka perlu ada aksesori lain yang mendukung. Misalnya :

Follow focus

Lensa kamera DSLR memiliki sistem auto fokus yang cepat. Ini tentu dibutuhkan saat memotret namun jadi tidak cocok bila untuk rekam video. Dalam video, transisi  fokus idealnya perlahan dan halus, maka lebih cocok mengatur fokus secara manual dengan memutar ring fokus di lensa. Aksesori follow focus terdiri dari sebuah knob yang kita putar, lalu knob ini akan terhubung dengan ring manual fokus di lensa sehingga membantu kita saat mengatur fokus manual.

Matte box

Terletak di depan lensa, matte box berguna untuk menahan sinar dari samping supaya mencegah flare. Matte box juga bisa sebagai tempat untuk memasang filter. Dalam pembuatan film bioskop, kamera yang harganya sangat mahal juga pakai matte box.

Monitor

Mengetahui dengan jelas apa yang sedang direkam tentu adalah sangat penting, misalnya ketajaman dan warna. Layar LCD yang kecil bisa jadi kurang akurat untuk memastikan itu semua, maka ada baiknya kamera juga dihubungkan dengan monitor LCD tambahan yang biasanya terhubung via kabel HDMI atau analog composite. Bila tetap ingin melihat LCD kamera, ada juga aksesori magnifier yang bisa memperbesar tampilan LCD kamera, sekaligus menjadikan LCD sebagai viewfinder elektronik.

Lampu LED

Di tempat kurang cahaya, kita perlu tambahan lampu. Aksesori lampu LED sudah sangat baik saat ini, dengan panel yang tersusun atas banyak lampu dan punya warna cukup netral (sekitar 5600 K) dan terang. Lampu LED ini biasanya dipasang di hot shoe atau di rig.

Mic dan headphone

Urusan suara bukan sesuatu yang bisa disepelekan saat merekam video. Bunyi lingkungan sekitar, dialog subyek atau musik yang sedang direkam harus terdengar enak di telinga. Walau kamera umumnya sudah menyediakan mic stereo terpadu, tapi ada baiknya kita memasang mic eksternal yang terhubung ke bodi kamera via port mic. Dengan begitu kita bisa menentukan jenis mic yang sesuai (omni, shotgun atau clip-on) dan juga kualitasnya akan lebih baik. Headphone diperlukan untuk mendengar apa yang sedang direkam, ini penting karena tanpanya kita hanya bisa menebak kira-kira suara yang nanti direkam akan seperti apa.

Shoulder rig dengan monitor dan follow focus
Shoulder rig dengan monitor dan follow focus
Rig lengkap
Shoulder rig plus matte box dan follow focus

Sebetulnya aksesori yang dijual masih ada banyak jenis dan variasinya, namun yang mendasar kira-kira adalah seperti yang disebutkan di atas. Biasanya untuk kebutuhan yang serius, sebagian besar aksesori tersebut bisa dipakai bersamaan (modular system), misal pada DSLR rig bisa dipasang juga follow focus, matte box, monitor, lampu dan mic. Bila anda merasa perlu mencari aksesori seperti di atas, bisa menghubungi toko peralatan videografi yang lengkap yaitu Tokocamzone di ITC Fatmawati, atau di Raya  Kemang atau di Jl Merdeka Bandung.

Nikon hadirkan DSLR pemula terbaru D3300, simak bedanya dengan Nikon D5300 disini

Baru-baru ini Nikon mengumumkan kehadiran kamera DSLR entry level terbarunya yaitu D3300, atau kamera ke-empat di seri D3000 (mulai dari D3000, D3100, D3200 dan kini D3300). Kalau anda merasa siklus kamera baru terasa begitu cepat, anda tidak sendiri, kamipun merasakan betapa cepatnya kamera masa kini hadir dan menggantikan kamera sebelumnya yang juga belum lama hadir. Tapi kabar baiknya, setiap hadir kamera baru selalu diikuti oleh dua hal : peningkatan fitur, dan penurunan harga kamera sebelumnya..

nikon-d3300-front

Nikon D3300 tentu saja juga hadir dengan sederet peningkatan fitur, khususnya yang ditujukan untuk membantu pemula menghasilkan foto yang baik berupa guide mode dan antarmuka yang mudah dipahami. Fitur unggulan Nikon D3300 diantaranya :

  • sensor CMOS 24 MP tanpa low pass filter
  • lensa kit baru yang lebih kecil, AF-S DX NIKKOR 18-55mm f/3.5-5.6G VR II
  • EXPEED 4, mampu menembak hingga 5 foto per detik
  • Easy Panorama Mode, Guide Mode baru, Effect Mode
  • Full 1080p HD video recording

nikon-d3300-grey

Nikon D3300 juga ada warna abu-abu yang keren.

Dengan meniadakan low pass filter di D3300 ini, foto resolusi tinggi nan tajam kini bisa dihasilkan oleh kamera yang kelasnya paling dasar sekalipun. Sebagai efek sampingnya kita tahu saat memotret pola garis yang rapat akan terjadi moire di hasil fotonya.

Lensa kit 18-55mm VR generasi kedua ini berjenis retractable (seperti antena radio) yang memendek saat posisi lock. Mirip seperti lensa kit di Nikon 1. Keuntungannya lensa ini jadi lebih kecil dan ringan, tapi kerugiannya kita harus memutar lensa ke angka 18mm (unlock) untuk mulai memotret.

Dibandingkan dengan Nikon D5300

Kondisinya bakal seru saat kita membandingkan spesifikasi antar dua kamera tingkat pemula Nikon yakni D3300 terhadap D5300. Kita tahu kalau D5300 juga kamera generasi ke empat di seri D5000 (yang dilanjutkan dengan D5100 dan D5200) tentu sudah matang juga dalam peningkatan fiturnya. Bagaimanapun Nikon harus cermat membuat diferensiasi keduanya kalau tidak ingin penjualan D5300 tergerus oleh si adik bungsunya. Kesamaan D3300 dan D5300 dalam hal desain bodi adalah dipakainya sistem monokok dalam desain casingnya (bahan plastiknya bercampur karbon fiber) sehingga lebih ringan namun kokoh. Kesamaan lain ada dalam hal tidak punya motor fokus di bodi, tanpa tombol langsung ke ISO/WB/AF dan belum bisa mentrigger flash eksternal.

Inilah bedanya Nikon D3300 dengan Nikon D5300 :

  • beda lensa kit (Nikon D5300 pakai 18-140mm VR)
  • layar LCD D5300 pakai sistem lipat
  • beda jumlah titik fokus (11 titik vs 39 titik)
  • 12 bit vs 14 bit RAW
  • beda modul metering (420 segmen vs 2.016 segmen)
  • di D3300 belum ada : HDR, WiFi, GPS, variable Active D-Lighting, bracketing
  • rekam audio mono (di D5300 audionya stereo)

Jadi, kamera Nikon D3300 yang hadir di awal tahun 2014 ini akan menjadi andalan Nikon di segmen pemula, lalu D5300 akan berada di kelas pemula atas. Keduanya jadi senjata untuk mengangkat profit Nikon yang terus tergerus oleh kamera mirrorless dan kamera ponsel cerdas. Konsumen di sisi lain tentu diuntungkan, spek D3300 yang begitu menggiurkan cukup ditebus seharga 6 jutaan, sesuatu yang 3 tahun lalu sulit untuk dijumpai.