Daftar kamera mirrorless Samsung NX terbaru

Sudah cukup lama Samsung ikut meramaikan dunia fotografi dengan beragam produk kameranya, dan makin terlihat matang sejak hadirnya seri kamera NX mirrorless. Awalnya seri NX ditujukan sebagai produk low dan mid level dengan ciri berukuran kecil, mudah dipakai dan banyak fitur sharing (melalui WiFi dan NFC). Lambat laun untuk mengantisipasi persaingan dan juga permintaan maka dibuat juga seri kamera NX yang lebih berorientasi pada fotografer dengan ciri bodi yang agak besar mirip DSLR. Samsung juga membuat sendiri lensa-lensa NX dengan variasi yang semakin beragam, banyak juga lensa pancake dan beberapa lensa Samsung ada yang dibekali dengan OIS. Bila anda penasaran akan jajaran produk Samsung NX yang terkini, simak lebih lanjut infonya disini.

Samsung NX mini : miniaturisasi sistem kamera, sensor 1 inci

Bila anda membayangkan sebuah sistem kamera (bodi dan lensa) dibuat kecil supaya ringkas, maka Samsung NX mini adalah contoh nyatanya. Dengan ukuran 11 cm dan tinggi 6 cm serta tebal 2 cm, sulit mencari kamera lain yang semungil ini. Sebagai lensanya juga tersedia lensa mungil fix 9mm f/3.5 atau lensa zoom yang juga kecil dengan mount NX-M yaitu 9-27mm f/3.5-5.6. Lensa NX-M akan mengalami crop factor 2,7x karena sensor yang dipakai di Samsung NX mini adalah sensor 1 inci yang resolusinya sudah 20 MP. Jadi lensa fix 9mm akan memberi bidang gambar setara lensa 24mm, cukup lebar untuk berbagai kebutuhan. Sudah dibekali sistem layar sentuh, NX mini bahkan bisa dipakai selfie dengan melipat layar LCD 3 inci 180 derajat ke atas sehingga bisa menghadap ke depan.

samsung-nx-mini

Walau mungil, tapi NX mini sudah dibekali dengan fitur manual seperti PASM mode, RAW, shutter 1/16000 detik (electronic shutter), ISO hingga 25.600, bisa memotret 6 fps dan bisa rekam video full HD. Tak lupa fitur WiFi dan NFC juga sudah tersedia di NX mini. Baterai yang dipakai cukup besar sehingga kamera ini bisa memotret sampai 500 foto lebih sekali charge. Untuk memasang lensa Samsung NX ke kamera NX mini, tersedia adapter khusus. Di pasaran produk ini dijual 5 jutaan dengan lensa kit, menjadi alternatif menarik dari sekedar kamera saku yang lensanya tidak bisa dilepas atau kompetitor setara seperti Nikon 1.

Samsung NX3000 : segmen bawah yang cukup lengkap

Di pasaran saat ini mungkin NX3000 belum hadir, karena NX3000 baru diluncurkan bulan lalu. Penerus NX2000 ini mengadopsi tren layar LCD lipat ke atas sehingga mendukung hobi pecinta selfie. Perubahan dari NX2000 ke NX3000 cukup banyak, seperti desain yang berubah total, kini lebih terkesan retro dengan tambahan ada roda mode kamera. Bila di NX2000 penggunaan kamera umumnya memakai layar sentuh, maka di NX3000 tidak ada lagi sistem layar sentuh tapi diberikan berbagai tombol konvensional di belakang.

samsung-nx3000

Sensor CMOS 20 MP di Samsung NX3000 bertipe APS-C sehingga crop factor sensornya adalah 1,5x. Lensa kit yang diberikan adalah lensa power zoom 16-50mm f/3.5-5.6 OIS yang cukup mungil sehingga sepadan ukurannya dengan bodi NX3000 dan di luar negeri dibandrol satu paket seharga $530 (ada juga opsi yang lebih murah tapi dengan lensa kit 20-50mm). Seperti kamera Samsung NX lainnya, NX3000 punya fitur WiFi dan NFC, bisa rekam full HD video dan ISO max hingga 25.600 serta bonus lampu kilat kecil yang bisa dilepas. Produk ini jadi pesaing terdekat untuk Sony A5000, Lumix GF6 dan Fuji X-A1.

Samsung NX300M : hybrid AF dengan layar lipat

Dibanding produk lain di daftar ini, NX300M termasuk yang hadir lebih awal karena dibuat tahun lalu, walau di pasaran dalam negeri baru masuk belum lama ini. Sebenarnya NX300M adalah varian lain dari NX300 (tanpa kode M) yang sama-sama mengisi segmen advanced-compact, namun berbeda di layar lipatnya. Jadi Samsung NX300M adalah versi layar lipat dengan ukuran 3,3 inci AMOLED, dan tentunya juga layar sentuh.

samsung-nx300m

Yang menarik dari NX300/NX300M adalah hybrid AF yaitu sensor APS-C di kamera ini juga berfungsi sebagai pendeteksi fasa untuk auto fokus yang lebih cepat, digabungkan dengan sistem AF biasa yang berjenis deteksi kontras. Sistem hybrid AF ini biasanya ditemui di kamera yang kelas semi-pro karena ditujukan untuk kecepatan, akurasi fokus dan untuk video yang lebih baik.

nx300m1

Selain kedua fitur itu, NX300M juga memiliki sederet fitur lain seperti resolusi sensor 20 MP, 8,6 foto berturut-turut, maksiumum shutter 1/6000 detik, ISO hingga 25.600, video full HD 60p, dan dual band (2,4 GHz dan 5 GHz) WiFi. Kamera ini dijual 8 jutaan dengan dua pilihan lensa kit, dan harganya cukup bersaing dengan Fuji X-M1 dan Olympus E-P5.

Samsung NX30 : sarat fitur, viewfinder lipat

Untuk mengakomodir kebutuhan fotografer, Samsung juga membuat Samsung NX30 (penerus NX20) yang berdesain seperti kamera DSLR walau agak lebih kecil. Ciri utama dari NX30 adalah adanya jendela bidik elektronik (EVF) resolusi tinggi 2,4 juta titik, dan EVF di NX30 ini unik karena bisa dilipat sehingga bisa dipakai untuk melihat dari atas (sambil menunduk). LCD utama 3 inci AMOLED-nya juga bisa dilipat putar dengan engsel samping, juga sudah memakai layar sentuh. Dari jeroan dan fiturnya NX30 ini hampir sama dengan NX300 yaitu hybrid AF pada sensor CMOS APS-C 20 MP (ada 105 titik pendeteksi fasa), bisa 9 fps, shutter maksimum 1/8000 detik dan bisa full HD 60p.

samsung-nx30

Fitur WiFi dan NFC sudah tentu ada, juga dengan built-in flash berkekuatan GN 11. Layaknya kamera untuk fotografer pada umumnya, NX30 juga dibekali tombol-tombol yang cukup lengkap, seperti metering, AEL, exposure compensation, menu, Fn (function), AF, WB, dan ISO. Juga terdapat tuas untuk memilih release mode, yang terdiri dari: single shooting, continuous shooting, self timer dan auto bracketing. Harga di pasaran dengan lensa 18-55mm OIS adalah 12 jutaan, siap bersaing dengan Lumix GX7, Fuji X-E1, Sony A6000 atau Olympus OM-D EM5.

Update :

Samsung akhirnya membuat Samsung NX1 sebagai kamera seri teratas yang punya bentuk mirip seperti kamera DSLR, dibuat untuk memenuhi hasrat para fotografer kelas pro yang berorientasi pada kualitas dan kecepatan. NX1 dibekali sensor APS-C dengan jenis BSI-CMOS 28 MP dan sudah dilengkapi dengan 205 piksel pendeteksi fasa untuk auto fokus nan cepat, mampu menembak sampai 15 foto per detik dan merekam video 4K 24fps. Kamera berbahan magnesium alloy ini udah dirancang tahan cuaca, dalamnya sudah didukung prosesor empat inti yang bertenaga. Untuk kenyamanan, Samsung NX1 memberi jendela bidik OLED 2,4 juta titik, jendela LCD kecil untuk meninjau setting, tiga roda kendali (belum termasuk kendali via tombol i-Fn di lensa), layar LCD sentuh yang bisa dilipat, WiFi dan Bluetooth.

Lensa Samsung NX

Samsung masih terus akan menambah produk lensa-lensa NX-nya. Ciri dari lensa-lensa Samsung terbaru adalah memiliki tombol iFn (i-Function). Dengan menekan tombol i-Function, kita dapat mengakses berbagai fungsi penting dan mengubah nilainya dengan memutar ring fokus di lensa. Fungsi yang bisa diakses tergantung dari mode kamera yang aktif. Misalnya saat menggunakan mode P, maka fungsi yang bisa diakses dengan iFn adalah fungsi ISO, Exposure Compensation dan WB. Beberapa lensa Samsung sudah memakai OIS untuk meredam getaran.

Lensa Samsung

Beberapa lensa Samsung NX yang sudah tersedia :

  • lensa kit : 18-55mm OIS, 20-50mm, 16-50mm OIS powerzoom
  • 10mm f/3.5 (lensa fisheye)
  • 16mm f/2.4, 20mm f/2.8, 30mm f/2.0 (lensa fix kecil/pancake)
  • 12-24mm f/4-5.6 (lensa wideangle)
  • 55-200mm f/4-5.6 OIS (lensa telefoto)
  • 18-200mm f/3.5-6.3 OIS (lensa allround/travel lens)
  • 60mm f/2.8 (lensa makro)
  • 85mm f/1.4 SSA (lensa potret)

dan lensa Samsung NX-M (khusus untuk kamera Samsung NX mini, crop 2,7x) :

  • lensa kit : 9mm atau 9-27mm
  • 17mm f/1.8 OIS (lensa standar dan potret, setara 45mm)

lensa berikutnya yang akan datang adalah lensa kelas pro S 16-50mm f/2-2.8 OIS dan S 50-150mm f/2.8

Sony Cybershot RX100 III, kamera saku sensor 1 inci yang makin mantap

Sony kembali meluncurkan kamera saku kelas premium, penerus dari RX100 dan RX100 II yang tentu saja bernama RX100 III. Di generasi ketiga ini, Sony tetap memakai sensor 1 inci, dengan tujuan mendapat hasil foto yang lebih baik dari rata-rata kamera saku lain, tapi tetap menjaga ukuran kamera kompak dan bisa dimasukkan ke saku. Sebagai lensanya dipakailah Zeiss 24-70mm yang punya bukaan f/1.8-2.8 yang impresif. Kehebatan lain kamera ini adalah punya jendela bidik elektronik yang pop-up, sesuatu yang belum pernah terpikir untuk dibuat sebelumnya. Untuk siapa kamera mungil seharga 8 jutaan ini ditujukan? Kita simak saja..

sony-rx100-iii

Fotografer akan menyukai fitur manual di kamera ini, seperti roda di depan dan di belakang (yang jadi ciri kamera saku premium), dan fitur manual mode serta RAW file. Bagi yang suka selfie juga dimanjakan dengan layar lipatnya yang bisa dilipat ke atas sehingga menghadap depan (rasanya kamera baru lagi tren model LCD lipat seperti ini ya..). Kamera modern ini sudah bisa memberi video 60p dan keluaran videonya via HDMI juga uncompressed. Yang menarik, karena bukaan lensanya termasuk besar maka ada disediakan ND filter di dalam kamera (3 stop). Tak lupa WiFi dan NFC yang juga jadi fitur wajib kamera modern disediakan di kamera ini. Di balik ringkasnya bodi kamera ini, teka-teki yang muncul adalah bagaimana Sony mendesain lensanya bisa muat didalamnya? Rupanya mereka memakai teknik gabungan dua elemen lensa asperikal yang mampu menghemat ruang. Teknik ini entah mengapa belum pernah dilakukan sebelumnya (padahal dengan begitu setiap lensa bisa dibuat lebih kecil kan..).

sony-rx100-iii-back

Kamera mungil lain yang juga pakai sensor 1 inci adalah Nikon 1 dan Samsung NX mini. Uniknya keduanya adalah kamera mirrorless dan harganya dibawah Sony RX100 III. Tapi Sony percaya diri menjual dengan harga setinggi itu karena faktor lensanya, dimana kamera mirrorless misalnya Samsung NX mini seharga 5 juta memang sudah dapat lensa kit tapi tidak mungkin setara dengan Zeiss 24-70 f/1.8-2.8 yang mengesankan itu. Tapi mirrorless punya keuntungan bisa berganti lensa bila mau, misalnya ingin memoret dengan fokal lensa tele diatas 70mm. Tertarik?

Sony A77 mark II : SLT strikes back..

Sony kembali mengumumkan kehadiran kamera A77 mark II, sebuah kabar baik bagi pemakai lensa A-mount, dan yang merindukan kehadiran kamera non mirrorless. Kamera SLT kelas menengah ini menyempurnakan A77 dengan 79 titik AF – 15 diantaranya berjenis cross type (mengalahkan semua kamera DSLR), burst 12 fps, dan memakai sensor APS-C 24 MP. Yang menarik, lensa kit kamera A77 mark II ini adalah lensa 16-50mm f/2.8 yang termasuk lensa profesional. Layar LCD lipat di A77 mark II juga unik, karena punya banyak engsel sehingga bisa diputar untuk berbagai angle seperti low angle, high angle bahkan selfie yang lagi tren.

Spek dan fitur utama :

  • Exmor 24 MP APS-C
  • A mount, translucent mirror
  • 12 fps continuous shoot
  • advanced AF, 79 titik dengan 15 cross type
  • ISO 100-25.600
  • prosesor canggih : detail repro, diffraction red, area specific NR
  • bodi magnesium alloy weatherproof
  • layar LCD 3 inci bisa dilipat berbagai angle
  • jendela bidik OLED 2,4 juta dot

Komparasi dengan pesaing terdekat (Canon 70D dan Nikon D7100) :

Dari Photo Rumors
Dari Photo Rumors

Lensa sapu jagad ambisius : Tamron 16-300mm f/3.5-6.3 VC PZD Macro

Walaupun enaknya memotret dengan kamera DSLR (atau mirrorless) adalah bisa berganti-ganti lensa, tapi ada juga orang yang lebih tertarik kalau bisa pakai satu lensa saja yang bisa mencakup kebutuhan wide sampai tele. Bagi mereka, lensa superzoom atau sapu jagad memang jadi opsi yang lebih cocok, apalagi kalau dibawa travelling. Lensa DSLR memang jarang yang punya rentang zoom panjang, bahkan dulu 18-200mm sudah tergolong istimewa. Tapi kini batasan itu mulai dilampaui, seperti lensa Sigma 18-270mm, Nikon 18-300mm yang bisa menjangkau lebih tele dari 200mm. Tapi Tamron yang baru muncul ini keren, fokal terpendeknya bisa mencapai 16mm yang relatif lebar (ekivalen 24mm di sensor APS-C). Rasio zoomnya adalah 18,8x yang sepertinya memecahkan rekor untuk lensa superzoom saat ini.

Berikut penampakan lensa Tamron 16-300mm f/3.5-6.3 VC PZD Macro :

tamron-16-300mm-f35-63g-di-ii-vc-pzd-macro-lens

Didalam lensa seharga 7 juta ini tersusun atas tiga elemen lensa Molded-Glass Aspherical, sebuah elemen lensa Hybrid Aspherical, dua elemen lensa LD (Low Dispersion), sebuah elemen lensa XR (Extra Refractive index) dan satu elemen baru yaitu UXR (Ultra-Extra Refractive Index) yang punya indeks refraksi lebih tinggi dari XR, dan bisa membuat ukuran lensa jadi lebih kecil.

Opini kami :

  • alternatif menarik dibanding Nikon 18-300mm bila tujuannya ingin lensa yang lebih terjangkau
  • dengan fokalnya yang cukup wide (16mm setara 24mm) menarik untuk dipakai memotret pemandangan dan interior
  • value produk sudah oke, karena ada VC (penstabil getaran), motor fokus PZD (halus dan cepat) serta bisa makro-makroan (1:2,9 dengan MFD 40cm)
  • kualitas optik termasuk standar, lensa sapu jagat tidak didesain untuk mengoptimalkan kualitas hasil tapi kepraktisan
  • desain baru lensa Tamron ini terlihat lebih pro, balutan warna hitam, tekstur dan gelang zoom – fokus desain baru
  • Tamron berhasil membuat lensa yang berukuran kecil (panjangnya 10cm) dan bobot ringan (1/2 kg) – setara dengan lensa Nikon 18-300mm generasi kedua
  • lensa ini cocok untuk all round lens, praktis buat jalan-jalan dan foto harian

Sony A6000 siap ‘ganggu’ DSLR menengah ke bawah

Bulan ini mulai ramai dibahas kamera mirrorless terbaru dari Sony yaitu Alpha A6000. Kamera yang menjadi kelahiran kembali NEX-6 (2012) ini dibekali beberapa fitur tambahan untuk memanjakan fotografer. Walau sebelumnya Sony sudah banyak berusaha membuat berbagai kamera mirrorless dari yang paling murah (NEX-3) sampai yang paling elit (A7) tapi bisa jadi inilah kamera yang bakal meraih perhatian praktisi fotografi. Bahkan kami memprediksi kehadiran Sony A6000 bisa mengganggu penjualan kamera DSLR kelas menengah (harga 11-13 jutaan) dan beberapa DSLR kelas bawah (pemula) yang dijual 8 jutaan. Mengapa bisa begitu?

Kita tahu kamera mirrorless menang dalam hal ukuran yang lebih kecil, dibanding dengan DSLR. Tapi dalam hal kemampuan berganti lensa, kamera mirrorless sama saja dengan DSLR karena ada mount dan sensornya pun umumnya berukuran cukup besar. Kalau bicara soal kinerja, fitur dan ukuran bodi kamera mirrorless sendiri berbeda-beda. Ada yang terlalu kecil hingga tidak punya jendela bidik (Panasonic GF6/GM1, Olympus Pen, Nikon 1, Sony NEX 3/5), namun ada yang lengkap seperti DSLR tapi terlalu mahal (seperti Olympus EM-1, Panasonic GH3, Fuji X-T1). Kamera mirrorless pun umumnya kalah dalam satu hal dibanding DSLR, yaitu urusan auto fokus.

Maka itu Sony A6000 berpeluang menjadi kamera alternatif DSLR kelas menengah ke bawah, karena fitur, kinerja dan harganya berimbang. Dengan harga 10 juta pas, sudah dapat lensa kit 16-50mm OSS. Di kelompok mirrorless, A6000 bisa jadi pesaing serius untuk kamera Olympus EM-10, Lumix GX7, Samsung NX30 dan Fuji X-E2. Kompetitor A6000 di kancah DSLR adalah kamera sekelas Nikon D7100 atau Canon EOS 70D. Bahkan kamera DSLR kelas bawah seperti Nikon D5300 kit 18-55mm (9 juta) dan Canon EOS 700D kit 18-135mm (9,5 juta) pun bakal tersaingi oleh A6000. Kenapa?

sony-a6000
Sony A6000 dengan lensa 16-50mm OSS

Pertama ukuran dan resolusi sensor A6000 sama, yaitu APS-C 24 MP (EOS 700D bahkan hanya 18 MP) sehingga kualitas hasil fotonya secara teori sama saja. Lalu auto fokus Sony A6000 sudah dibekali oleh 179 piksel deteksi fasa di sensornya sehingga bisa memfokus secepat kamera DSLR. Belum cukup sampai disitu, A6000 bisa memotret sampai 11 foto per detik, mengalahkan DSLR menengah manapun. Soal video bahkan A6000 lebih unggul karena AF deteksi fasa bisa diterapkan juga saat merekam video, plus fasilitas focus peaking dan zebra untuk yang melakukan manual fokus.

sony-a6000-6

Biasanya kamera mirrorless kalah dibanding DSLR karena tidak adanya jendela bidik, atau kurang lengkap dalam hal fitur lainnya. Tapi A6000 punya jendela bidik OLED yang jernih, lalu layaknya kamera untuk dipakai serius, ada dua roda dial dan hot shoe. Bayangkan, Nikon D5300 seharga 9 juta pun hanya punya satu roda dial, dan bahkan tidak punya tombol pintas ke fungsi ISO, WB, AF dsb. Sebagai bonus tambahan, ada fitur khas Sony seperti sweep panorama, juga ada in camera HDR dan WiFi plus NFC. Kesemua ini hadir dalam bodi yang ringas namun mantap digenggam karena grip yang besar dan material yang mewah.

Sony A6000 menu

Kekurangan kamera A6000 yang paling terasa adalah tidak adanya layar sentuh, walau layarnya bisa dilipat. Penggunaan layar sentuh saat ini merupakan kebutuhan karena memudahkan pemakaian juga bisa memilih titik fokus di layar. Selain itu masalah umum Sony adalah lambatnya lahir lensa-lensa baru yang ditunggu, serta visi jangka panjang yang kurang konsisten (seperti merubah nama NEX kembali jadi Alpha).

Nikon 1 V3 hadir, kamera mungil tapi cepat

Hari ini Nikon mengumumkan kehadiran kamera mirrorless terbaru mereka di kelas premium, yaitu Nikon 1 V3 dengan harga 13 jutaan plus lensa kit. Apa yang membuat Nikon berani pasang harga setinggi ini disaat penjualan Nikon 1 sebelumnya boleh dibilang kurang laku? Kami melihat inilah yang seharusnya dilakukan Nikon secara teknis dalam membuat kamera mirrorless-nya, yaitu desain yang keren, modular dan fungsional untuk para penghobi serius. Desain Nikon 1 V3 berubah total dan kini bentuknya lebih terkesan ‘normal’ dan tidak ‘aneh’ seperti V2, dan dibalik kamera mahal ini ada sensor mungil berukuran 1 inci resolusi 18,4 MP yang dibuat oleh Aptina. Kita akan simak hal-hal apa yang membuat kamera berformat CX ini bisa dijual begitu mahal.

Tinjauan bodi dan lensa :

nikon v3 depan

nikonv3 blkg

Fitur utama :

  • 18.4MP CX-format CMOS sensor tanpa low-pass filter
  • Expeed 4a processor
  • LCD layar sentuh 3-inch, 1.037 juta titik
  • ISO 160 hingga 12,800
  • 6fps continuous shooting dengan mechanical shutter
  • 20fps continuous shooting dengan AF tracking (tercepat di dunia)
  • 60fps (!!!) continuous shooting kalau fokus dikunci di posisi pertama
  • sistem AF cepat dengan 171 titik contrast detect AF dan 105 titik phase detect AF
  • 120fps slow-motion 720p video
  • eVR electronic stabilization dalam mode movie
  • Virtual horizon
  • Built-in WiFi
  • lensa kit baru power zoom 10-30mm 3.5-5.6 VR

Perbedaan utama desain Nikon 1 V3 dengan sebelumnya adalah dalam hal konsep modular, atau adanya aksesori tambahan yang bisa dipasang terpisah bila mau, seperti jendela bidik elektronik dan ekstra grip yang membuat kamera ini jadi tampak lebih gagah. Grip ini juga punya tombol rana, roda pengatur setting dan tombol Fn3. Bila grip dipasang, maka tampak atas kamera ini akan terlihat seperti ini :

nikonv3 grip

Nikon memposisikan kamera ini untuk mereka yang mengutamakan kecepatan sekaligus kualitas gambar dari kamera yang berukuran kecil. Seperti kamera Nikon 1 lainnya, kamera V3 ini juga memakai sensor ukuran 1 inci yang artinya akan mengalami crop factor 2,7x sehingga kamera ini bukan untuk yang menyukai fotografi wideangle. Tapi bagi penyuka foto satwa liar, format CX menarik karena lensa yang dipasang bisa mengalami peningkatan kekuatan zoom 2,7x dari fokal lensa yang dipasang, misal lensa 100mm akan setara dengan lensa 270mm, dahsyat kan..  Untuk itu Nikon juga meluncurkan satu lensa tele baru 1Nikkor 70-300mm f/4.5-5.6 VR yang fokalnya akan ekivalen dengan 189-810mm di kamera ini.

vr_70_300_b

Yang menarik pada sensor Aptina di kamera ini adalah sudah dibenamkan 150 titik auto fokus berbasis deteksi fasa, sehingga sensor ini sudah bisa dibilang sensor hybrid AF. Dengan teknologi hybrid AF ini, kamera akan terlebih dahulu memakai cara deteksi fasa untuk mendapat fokus ke obyek yang diinginkan tanpa mengalami focus hunting, lalu dilanjutkan dengan memakai deteksi kontras untuk mencari fokus terbaik dan paling akurat. Selain itu cara ini juga diyakini lebih akurat dalam mendeteksi arah gerakan obyek sehingga obyek yang bergerak dapat terus dikunci fokusnya.

nikon-1-v3-mirrorless-camera
Nikon 1 V3 dengan tambahan grip dan jendela bidik

Masih nyaman dengan penjualan kamera DSLR-nya, Nikon seakan tanpa beban dalam mendesain kamera format CX dengan sensor 1 inci ini. Bagaimana tidak, saat kompetitor berlomba membuat kamera mirrorless dengan sensor APS-C bahkan full-frame, Nikon justru membuat format mungil dengan sensor 1 inci. Tapi sisi positifnya bisa dirasakan saat kita melihat lensa-lensa mount CX yang ukurannya kecil, sejalan dengan konsep miniaturisasi kamera (bandingkan dengan kamera mirrorless lain yang lensanya jauh lebih besar dari kameranya). Tinggal apakah di kemudian hari nanti Aptina (atau produsen sensor lainnya) bisa membuat sensor 1 inci yang kualitas fotonya lebih baik, paling tidak di ISO 800 hingga ISO 1600 hasilnya masih minim noise.

Canon hadirkan EOS 1200D dan Powershot G1X mk II

Pembaruan di tahun 2014 dilakukan oleh Canon yang merilis kamera penerus EOS 1100D, yang nota bene adalah kamera DSLR ‘kelas rakyat’ dan terus dicari pembeli, dengan meluncurkan EOS 1200D. Di saat yang bersamaan, kamera saku kelas atas Canon G1X juga mendapat penyegaran total dengan diluncurkannya Powershot G1X mark II. Kita ulas apa saja peningkatan yang dilakukan oleh Canon kali ini..

Canon EOS 1200D

Berada di segmen terbawah DSLR Canon, seri EOS 4 digit yang dimulai dari EOS 1000D (Rebel XS-2008), lalu disusul 1100D (Rebel T3/2011) kini disegarkan dengan hadirnya EOS 1200D (Rebel T5) yang memakai sensor 18 MP (sebelumnya EOS 1000D sensornya 10 MP dan EOS 1100D sensornya 12 MP). Tak ingin produk seharga 6 jutaan ini ‘mengganggu’ penjualan EOS 700D, Canon menjaga beberapa spesifikasinya untuk tidak terlalu tinggi, misal hanya 3 fps dan tidak ada layar lipat sentuh. Dari bodinya pun Canon masih tetap mempertahankan desain berbahan plastik walau sudah diberi sedikit lapisan karet untuk kenyamanan genggaman. Tapi kamera basic ini benar-benar sudah mencukupi kebutuhan basic dalam fotografi, semisal ISO 100-6400, 9 titik AF dan fitur dasar seperti flash, manual mode, dan live view. Urusan video juga sudah bisa full HD walau audionya masih mono. Layar LCD 3 inci juga biasa saja dengan resolusi pas-pasan 460 ribu piksel.

Canon 1200D

Kami yakin produk EOS 1200D akan laris seperti kakaknya (1100D) khususnya di negara berkembang yang memerlukan kamera DSLR dengan harga terjangkau dan tidak mementingkan fitur terlalu tinggi.

Canon Powershot G1X mark II

Walau boleh saja disebut Canon G2X, namun agak mengherankan saat mengetahui Canon memberi nama kamera penerus G1X dengan nama G1X mk II. Mengherankan karena perubahan yang dilakukan Canon cukup banyak, bukan sekedar minor update. Dari bentuk kameranya berubah total, menjadi terlihat lebih cantik dan ringkas, utamanya karena tidak lagi dijumpai jendela bidik optik (melainkan harus memasang jendela bidik elektronik tersendiri melalui dudukan aksesori hot shoe). Layarnya juga sudah mengadopsi layar lipat dan layar sentuh.

canon_g1x_markii

Sensor yang dipakai kali ini masih sama yaitu 1,5 inci, jauh lebih besar dari sensor kamera saku pada umumnya dan nyaris setara dengan ukuran sensor kamera DSLR. Perubahan yang diapresiasi adalah lensanya yang dulunya pakai  fokal 28-112mm kini menjadi lebih efektif dengan 24-120mm, dan bahkan dengan bukaan yang jauh lebih besar yaitu f/2.0-3.9 (dibanding dulunya f/2.8-5.8). Kamera ini juga memakai 9 bilah diafragma dan bisa mengunci fokus hingga 5 cm.

Canon mengklaim peningkatan banyak hal seperti auto fokus dan hal lainnya. Kami memprediksi kamera seharga 9 jutaan ini juga akan laris walau harganya cukup tinggi, karena banyak fotografer yang mencari kamera cadangan, atau kamera kecil dan ringan namun tetap bisa mendukung kerja mereka. Hadirnya G1X mk II adalah ancaman serius bagi kamera mirrorless, karena banyak juga pemakai kamera mirrorless yang hanya punya satu lensa kit saja, itupun jenisnya yang bukaan kecil seperti f/3.5-5.6.

Fuji bikin X-T1, Olympus keluarkan OM-D EM-10

Seru nih, hanya dalam waktu dua hari, dua kamera baru yang cukup mirip telah diumumkan kehadirannya. Keduanya adalah kamera mirrorless yang keren, yaitu Fuji X-T1 dan Olympus OM-D EM-10. Fuji X-T1 hadir dengan desain yang berbeda dengan seri X sebelumnya, kini lebih mirip seri OM-D milik Olympus dengan adanya ‘tonjolan’ di bagian atas, sebagai tempat untuk jendela bidik. Selain itu X-T1 dipenuhi kendali ala kamera jadul yang perlu diputar ke angka tertentu, seperti ISO, shutter dan kompensasi eksposur. Olympus sendiri membuat OM-D EM10 sebagai kamera paling terjangkau dari seri OM-D dan harganya bisa bersaing langsung dengan Olympus Pen. Walau Fuji X-T1 dan Olympus EM10 tidak bisa diadu head-to-head secara langsung, tapi keduanya menarik untuk sama-sama diulas.

xt1-vs-em10

Fuji X-T1

Respon positif langsung menyebar di internet bahkan saat kamera Fuji X-T1 baru dirumorkan kehadirannya. Alasannya karena Fuji dibilang sukses meramu strategi yang berorientasi pada fotografer, misal kualitas sensor X-trans ukuran APS-C, bodi yang berkualitas tinggi, dan lensa yang juga bagus. Line up Fuji mirrorless sebenarnya sudah cukup lengkap dari X-Pro1, X-E1 dan X-E2, X-A1 dan X-M1 namun Fuji kembali menambah pilihan dengan mengeluarkan X-T1 yang desainnya agak berbeda, lebih retro klasik dan harganya cukup tinggi.

xt1_top_18-55mm

Fitur utama Fuji X-T1 :

  • sensor APS-C X-Trans 16 MP
  • phase detect AF
  • bodi magnesium tahan cuaca
  • 8 fps
  • jendela bidik OLED 2,3 juta piksel
  • roda pengatur ISO, shutter dan eksposur comp.
  • WiFi

Harga kamera ini 15 jutaan bodi saja, cukup tinggi ya..

Olympus OM-D EM-10

Olympus OM-D EM10

Sebetulnya Olympus menargetkan kamera OM-D itu berada di atas seri Pen, dengan fitur kelas atas dan bodi tahan cuaca. Diawali dengan EM5 (12 jutaan) dan kemudian hadir EM-1 (15 jutaan), agak mengejutkan saat hari ini Olympus membuat lagi OM-D ketiga yaitu EM-10 yang akan dijual 8 jutaan saja. Tentunya EM-10 tidak membawa semua kehebatan di seri OM-D sebelumnya, misalkan untuk menekan harga maka tidak ada phase detect dan weather seal di bodi EM-10. Tapi layaknya kamera OM-D lain, EM-10 punya fitur utama seperti :

  • sensor 16 MP dengan Micro Four Thirds mount (2x crop)
  • bodi magnesium
  • layar lipat dan layar sentuh
  • in bodi stabilizer (3 axis)
  • 8 fps
  • built-in flash (pertama di seri OM-D) dan bisa mentrigger flash eksternal
  • WiFi

Kedua kamera ini tentu bukan berada di kasta yang sama, karena Fuji X-T1 termasuk kamera kelas elit dengan bodi mantap dan fitur canggih, sedangkan OM-D EM-10 adalah kamera OM-D ekonomis untuk mereka yang perlu kamera berkualitas khas OM-D namun merasa E-M5 (apalagi E-M1) terlalu mahal. Keduanya sama-sama kamera mirrorless yang matang dalam arti baik Fuji dan Olympus cukup banyak pengalaman dalam membuat kamera yang tepat dalam hal kualitas, ergonomi dan lensanya.