Di ajang Photo Marketing Association (PMA) 2010 kali ini, kejutan besar justru datang dari Sigma. Selain merilis banyak lensa baru atau menyempurnakan lensa lama, Sigma juga menghadirkan tiga kamera bersensor Foveon. Sensor Foveon memiliki karakteristik khas dengan tiga lapis filter warna RGB yang menjamin keindahan warna seperti aslinya. Ketiga kamera itu adalah Sigma SD15 (DSLR), Sigma DP2s dan Sigma DP1x (kamera saku). Ingin tahu seperti apa ketiganya? Simak selengkapnya disini.
Apapun kamera yang kita pakai, tiap kita memotret tentu harapannya adalah menghasilkan foto yang indah. Terkadang yang terjadi justru kekecewaan karena hasil foto kita kurang memuaskan, padahal di saat yang sama orang lain bisa membuat foto yang lebih baik. Bisa jadi kita lupa akan hal-hal sepele namun penting yang menentukan bagus tidaknya hasil sebuah foto. Kami sampaikan disini cara-cara mudah yang perlu selalu diingat guna mendapat foto yang indah.
Canon kembali melakukan upgrade dari DSLR populer mereka EOS 500D, dengan meluncurkan EOS 550D (Digital Rebel T2i) dengan perubahan utama pada sensornya. Bila pada 500D Canon memakai sensor CMOS 15 MP, maka kali ini Canon memakai sensor CMOS 18 MP dengan teknologi gapless micro lens (pertama diperkenalkan pada EOS 50D). Sensor berteknologi ini punya kemampuan menangkap cahaya yang lebih baik sehingga meski keping sensor ini punya pixel density yang rapat namun tidak mengorbankan kualitasnya. Simak selengkapnya apa saja kelebihan DSLR seharga 9 jutaan ini.
Setelah lama dirumorkan, Nikon akhirnya merilis dua lensa kelas premium anyar berformat FX. Artinya, lensa ini memiliki diameter lebih besar sehingga bisa dipakai di kamera SLR film maupun DSLR full-frame. Lensa pertama yang dirilis adalah lensa fix 24mm yang punya bukaan besar (f/1.4) sementara lensa kedua adalah lensa zoom 16-35mm dengan bukaan konstan f/4. Tentu saja dilihat dari fokal lensa tadi, terbayang sudah kalau pecinta landscape akan bergembira dengan hadirnya dua lensa wide kelas atas ini.
Fuji dan Olympus merupakan dua nama produsen kamera yang rajin membuat sensasi dengan memproduksi kamera berlensa super-super zoom dalam ukuran yang masih tergolong kompak. Tak lama mulailah perlombaan untuk menambah kemampun zoom lensa mulai 12x, 15x, 18x, 24x hingga 26x zoom. Kini keduanya memperkenalkan kamera baru dengan lensa 30x zoom optik, alias pertama kali dalam sejarah. Bagaimana kehebatan dari keduanya?
Satu hal yang kerap membuat bimbang tatkala seseorang hendak membeli kamera digital adalah jenis atau teknologi sensor yang digunakan, yaitu antara CCD ataukah CMOS. Kebingungan ini semakin parah saat kita mendapat informasi yang keliru soal perbedaan keduanya, atau terlanjur meyakini kalau satu lebih baik dari lainnya. Sebelum membahas lebih lanjut, kami sampaikan dulu kalau saat ini baik CCD maupun CMOS mampu memberikan hasil foto yang sama baiknya. Perbedaan utama keduanya hanyalah masalah teknologi.
Lagi-lagi Samsung bikin kejutan. Bila kemarin Samsung meluncurkan kamera format baru bernama Samsung NX (dan memutuskan berhenti memproduksi kamera DSLR), kini Samsung meluncurkan kamera saku superzoom baru yang fenomenal bernama HZ35W. Kamera ini sekaligus jadi produk unggulan alias produk flagship dan berani diadu dengan merk lain semisal Lumix atau Canon. Bagaimana tidak, dalam kemasan kamera saku yang mungil, HZ35W (dan kembarannya HZ30W) punya lensa super panjang (15x zoom optik) dan super wide (24mm eqiv.) yang siap dipakai untuk memotret landscape sampai memotret tele.
Lensa idaman banyak orang adalah lensa yang memiliki kualitas optik baik, memiliki rentang fokal efektif (dari wide hingga tele), berfitur lengkap (stabilizer, motor micro) dan harganya terjangkau. Dalam dunia fotografi, lensa zoom yang harganya terjangkau itu identik dengan lensa dengan bukaan variabel, alias lensa lambat. Keuntungannya, lensa lambat memiliki desain yang lebih kecil dan bobot lebih ringan untuk kenyamanan dalam bepergian. Bila anda mencari lensa zoom normal berkualitas baik sebagai pengganti lensa kit, pertimbangkan ketiga pilihan kami kali ini.