Lima kamera saku super murah di 2011

Dana yang terbatas bukan halangan untuk memiliki sebuah kamera saku idaman. Kemajuan jaman telah membawa dampak positif buat konsumen. Kali ini kami sajikan lima kamera saku buatan tahun 2011, yang dahulu bila kita membeli kamera dengan spesifikasi serupa harganya bisa mencapai 1,5 jutaan, namun kini kamera-kamera ini dijual super murah, antara 600-800 ribuan rupiah saja. Anda yang mungkin baru ingin terjun ke dunia fotografi yang lebih baik dari sekedar memotret memakai kamera ponsel, ada baiknya untuk memiliki satu diantara kelima kamera berikut ini.

Casio Exilim EX-ZS5 (800 ribuan)

Inilah kamera keren dari Casio yang terkenal dengan ketipisannya berkat memakai baterai Lithium dan desain lensa yang unik. Kamera dengan sensor 14 MP ini sudah dilengkapi dengan lensa yang sanggup menjangkau area wide 26mm hingga tele 130mm, alias 5x zoom optikal. Untuk urusan merekam video, kamera ini mampu merekam video berformat MJPEG dengan resolusi 848 x 480 piksel yang tergolong baik. Kamera ini  memiliki layar LCD cukup besar yaitu 2,7 inci.

casio_ex-zs5

Plus : wide 26mm, bodi tipis, WVGA movide, super macro mode

Minus : tidak ada

Nikon Coolpix L23 (700 ribuan)

Meski murah, desain Nikon L23 yang mungil dan sexy ini tidak mengesankan kamera murahan. Meski tampak kalah dibanding pesain dalam urusan resolusi sensor, sejatinya resolusi kamera ini sudah mencukupi yaitu dengan sensor 10 MP. Urusan lensa, Nikon L23 ini tidak kalah dengan Casio EX-ZS5, yaitu memiliki rentang 28-140mm atau 5x zoom optikal. Kemampuan merekam video Nikon L23 cukuplah dengan resolusi VGA atau 640 x 480 piksel, dengan layar LCD berukuran 2,7 inci dan ditenagai dengan dua baterai AA.

nikon-coolpix-l23

Plus : lensa wide 28mm

Minus : sensor berukuran kecil (1/2.9 inci)

Canon Powershot A800 (700 ribuan)

Canon lebih dahulu dikenal sebagai produsen kamera saku termurah dengan produk Powershot seri A, hingga saat ini kehadiran A800 masih menjadi pilihan Canon di kelas termurah. Mengusung sensor yang sama dengan Nikon L23, Canon A800 juga merasa cukup pede dengan sensor 10 MP, dengan didukung lensa Canon 37-112mm atau 3,3 x zoom optik yang tidak terlalu wide. Kemampuan rekam video juga cukup dengan resolusi VGA dan layar LCD berukuran 2,5 inci serta ditenagai dua baterai AA.

canon-a800

Plus : super macro mode

Minus : lensa kurang wide

Olympus T-100 (600 ribuan)

Di awal tahun 2011 Olympus meluncurkan kamera saku termurahnya yaitu T-100 dengan desain tipis dan minimalis berkat pemakaian baterai Lithium. Sensor di T-100 cukup lumayan dengan resolusi 12 MP, dibekali lensa 36-108mm alias 3x zoom optik yang tergolong standar. Kemampuan rekam video T-100 juga hanya resolusi VGA saja, serta layar T-100 cukup kecil dengan 2,4 inci.

olympus-t-100

Plus : fitur AF tracking

Minus : layar kurang lega

Kodak EasyShare C1530 (600 ribuan)

Kodak yang kini semakin kurang populer masih terus mencoba bertahan di tengah persaingan kamera digital dengan mengandalkan berbagai produk di segmen bawah. Kali ini sebagai perwakilan kami hadirkan Kodak C1530 yang sudah memakai sensor 14 MP ini punya lensa dengan rentang 32-96mm atau 3x zoom optik yang lumayan cukup wide meski agak kurang tele. Kodak 1530 sudah bisa merekam video resolusi VGA, dilengkapi dengan layar LCD 3 inci dan ditenagai dua buah baterai AA.

kodakc1530

Plus : layar besar, fitur share

Minus : desain agak jelek

Kesimpulan

Kelima kamera diatas memang sulit dipercaya, dijual dengan rentang harga 600-800 ribuan saja. Meski demikian kelimanya memang hanya menjadi kamera termurah di tiap merk yang ditujukan untuk pembeli dengan dana terbatas. Ada beberapa keterbatasan yang mesti disandang oleh kamera murah, sebutlah misalnya hanya memiliki fitur auto saja, tidak ada fitur image stabilizer atau HD movie yang biasa dijumpai di kamera berharga diatas 1 jutaan. Namun untuk urusan fotografi kelima kamera di atas sudah mampu menyajikan gambar yang tajam dengan resolusi tinggi (antara 10-14 MP) dan beberapa bahkan punya lensa yang wide. Rekomendasi kami adalah Casio Exilim EX-ZS5 dengan sensor 14 MP, lensa wide 26mm dan WVGA movie mode yang hampir mendekati resolusi HD.

Bila anda menginginkan salah satu dari lima kamera di atas, anda juga bisa membelinya melalui kami, dijamin aman dan tetap murah.

Nikon AF-S 40mm f/2.8 DX, lensa makro murah meriah baru

Nikon selama ini terkenal konsisten dalam membuat berbagai lensa baru dengan format DX, atau lensa yang dibuat khusus untuk kamera DSLR bersensor APS-C (non full frame) seperti D3000 hingga D300s. Untuk pecinta fotografi jarak dekat (makro), selama ini pemilik DSLR Nikon agak kesulitan dalam memilih lensa idaman karena harganya yang aduhai. Maka itu kehadiran lensa makro murah adalah laksana impian pemilik Nikon DX sejak dulu hingga kini.

afs-40dx

Di kelas full frame, Nikon sudah punya dua lensa makro yaitu AF-S 105mm VR f/2.8 (8 jutaan) dan AF-S 60mm f/2.8 (5 jutaan), keduanya termasuk lensa mewah dengan Nano Coating. Untuk kelas DX, sebelum ini Nikon hanya punya lensa makro AF-S 85mm VR f/3.5 (5 jutaan) yang fokalnya bisa dibilang mendekati fokal 105mm. Masalahnya Nikon belum punya lensa DX yang fokalnya mendekati fokal 60mm sampai akhirnya hari ini diumumkan kehadiran lensa DX terbaru dari Nikon yang bernama AF-S 40mm f/2.8 yang fokalnya ekivalen dengan 60mm. Kabar baiknya, lensa ini akan dijual di kisaran harga 2,5 jutaan saja, sehingga cocok dijadikan lensa kedua bagi yang baru saja punya DSLR dengan lensa kit.

afs-40dxcon

Lensa AF-S 40mm f/2.8 ini punya rasio reproduksi 1:1 dan jarak fokus minimum kurang dari 10 cm. Tidak seperti lensa makro sebelumnya, lensa kali ini berukuran cukup mungil dan sekilas mirip seperti lensa fix AF-S 50mm f/1.8 yang juga punya harga jual 2,5 jutaan. Soal bokeh juga berani diadu, meski secara bukaan maksimal lensa ini hanya f/2.8 saja dan hanya punya 7 blade diafragma. Di dalam lensa ini terdapat 9 elemen lensa dalam 7 grup, dimana Nikon sudah menerapkan teknik Close Range Correction (CRC) focusing dan Super Integrated Coating untuk mencegah flare. Bagian depan lensa ini bisa dipasang dengan filter 52mm, sementara juga masih di bagian depan terdapat ring manual fokus yang ukurannya pas, tidak terlalu kecil sehingga nyaman untuk dipakai. Sebagai info, manual fokus di lensa ini bisa dilakukan kapan saja berkat mode M/A yang fleksibel.

Sampel foto AF-S 40mm (sumber : Nikon)
Sampel foto AF-S 40mm (sumber : Nikon)

Kami memprediksi lensa ini akan jadi salah satu lensa favorit para pemula dan mereka yang punya dana terbatas. Lensa ini pun tidak hanya bisa dipakai buat makro saja, tapi cocok juga untuk potret, candid bahkan landscape.

Olympus hadirkan trio kamera PEN : E-P3, E-PL3 dan E-PM1

Hari ini Olympus mengumumkan kehadiran sekaligus tiga kamera PEN dimana dua kamera diantaranya adalah penyegaran atau upgrade rutin tahunan. Sambutlah E-P3 (penerus E-P2) sebagai flagship format Micro Four Thirds, lalu E-PL3 (penerus E-PL2) sebagai versi ‘lite’ dan E-PM1 yang ditujukan untuk menjadi kamera Micro Four Thirds termurah dalam sejarah. Seperti apa kehebatan ketiganya?

Olympus E-P3 : sang flagship

oly-e-p3

oly-e-p3b

Inilah kamera klasik Olympus PEN yang terlahir kembali di era digital dengan sensor Four Thirds (2x crop) dan segudang fitur mewah terdapat dalam bodi berbalut metal ini. Meneruskan kesuksesan E-P2 di tahun lalu, kamera Olympus E-PL3 ini kini diklaim memiliki kinerja auto fokus tercepat di dunia, bahkan lebih cepat dari DSLR.  Sebagai sensor digunakan Live MOS beresolusi 12 MP dengan kinerja burst 3 fps dan dukungan HD movie 1080p.

Olympus E-PL3 : dengan layar lipat

oly-e-pl3

Inilah versi ‘lite’ dari seri PEN dengan layar LCD yang bisa dilipat dan tetap memiliki fitur yang sama seperti E-P3 seperti sensor, auto fokus dan prosesor yang cepat serta fitur HD movie. Bedanya, E-PL3 lebih kecil dan lebih tipis dengan meniadakan lampu kilat internal. Syukurlah Olympus menyertakan lampu kilat kecil dalam paket penjualan E-PL3 yang bisa dipasang di flash hot shoe. Hebatnya, soal burst E-PL3 mengungguli E-P3 dengan 5.5 fps.

Olympus E-PM1 : mini dan mungil

oly-e-pm1

Inilah versi ‘mini’ dari Olympus PEN yang baru pertama kali diperkenalkan hari ini kepada khalayak ramai, dengan harapan para pemula dan yang dananya terbatas tetap bisa memiliki kamera mirrorless dengan sensor sekualitas DSLR.  E-PM1 punya dimensi bodi yang lebih kecil lagi dan bahkan tidak terdapat mode dial seperti sang kakak. Soal layar memang E-PM1 tidak bisa dilipat seperti di E-PL3, namun setidaknya soal sensor dan fitur lainnya masih sama memakai resolusi 12 MP, demikian juga dengan fitur HD movie dan auto fokusnya yang cepat.

Baik E-P3, E-PL3 maupun E-PM1 dijual dengan paket lensa kit 14-42mm f/3.5-5.6 meski juga ada pilihan lensa fix 17mm f/2.8 yang mungil.

Pentax Q, kamera mirrorless yang serba kecil

Apakah anda merasa kamera mirrorless yang ada saat ini masih kurang kecil? Bila jawabannya adalah iya, maka sambutlah kejutan dari Pentax yang meluncurkan Pentax Q, sebuah sistem kamera lengkap dengan berbagai pilihan lensa, dengan ukuran dan sensor kecil. Alih-alih mengikuti tren dengan memakai sensor seukuran DSLR, Pentax Q justru mengadopsi ukuran sensor kamera saku yaitu 1/2.3 inci yang tergolong sangat kecil. Keputusan ini demi memungkinkan dibuatnya berbagai lensa yang kecil dan (semestinya) terjangkau.

pentaxq

Pentax Q merupakan kamera berukuran mungil, berdesain retro klasik, dengan mount lensa Q (crop factor 5,5x !!) dan sudah sarat dengan fitur modern. Sebagai perkenalan, ditawarkan paket penjualan dengan lensa kit fix 8.5mm f/1.9 (setara dengan 47mm) seharga 8 jutaan rupiah. Sebagai sensor dipilihlah keping CMOS beresolusi 12 MP berteknologi back illuminated, meski sayang sekali ukurannya sangat kecil. Namun dengan lensa kit bukaan besar, Pentax berharap pemakai kamera Q ini tidak mencoba memakai ISO tinggi, meski kamera ini bisa mencapai ISO 6400.

Beberap pilihan lensa Q lainnya adalah :

  • Standard zoom 27.5 – 83.0 mm (equiv). satu-satunya lensa zoom yang ada saat ini
  • Fisheye (160 derajat)
  • Toy lens wide 35 mm (equiv.)
  • Toy lens telephoto 100 mm (equiv.)

Note : Toy lens maksudnya bukan lensa mainan tapi menghasilkan efek seperti toy camera.

Kamera Pentax Q sendiri punya kemampuan berimbang dengan pesaing seperti bodi berbalut magnesium alloy, stabilizer pada sensor, fitur fotografi lengkap termasuk manual mode dan RAW, 5 fps burst, HDR mode, HD movie 1080p 30fps, flash hot shoe dan LCD 3 inci. Tidak ada jendela bidik optik atau elektronik pada bodinya, tapi anda bisa membeli eksternal viewfinder optik seharga 2 jutaan.

Lalu apakah hadirnya Pentax Q ini akan mampu meraih penjualan yang baik? Tak dipungkiri dengan harga jualnya saat ini masih ada beberapa kamera DSLR atau banyak kamera lain yang harganya lebih murah. Soal kualitas hasil foto pun memang akan menjadi tanda tanya sendiri karena dipakainya sensor kecil di kamera ini. Namun apapun itu, upaya Pentax ini perlu dihargai sebagai pendorong tren baru kamera kecil dengan lensa yang bisa dilepas. Ini akan menjadi tekanan buat menggeser dominasi kamera DSLR konvensional (dengan cermin dan pentaprisma, memakai lensa besar dan berat). Saat ini tercatat hanya Canon dan Nikon, dua papan atas produsen kamera konvensional  yang masih belum mau membuat kamera mungil dengan lensa yang bisa dilepas, takut bersaing mungkin?

Memilih lensa sesuai ukuran sensor DSLR

Kamera DSLR yang biasa kita pakai umumnya memakai sensor ukuran APS-C atau yang lebih kecil dari sensor ukuran full frame 35mm. Sensor APS-C akan membawa dampak adanya crop factor terhadap lensa yang dipasang, sehingga rentang fokal lensa akan 1.5 kali lebih panjang.  Awalnya di era SLR film, setiap fokal lensa akan memberikan fokal aktual yang apa-adanya. Sebuah lensa 50mm akan memberikan perspektif dan sudut gambar yang memang seperti yang semestinya sebuah lensa 50mm. Dengan era digital yang menggunakan sensor APS-C, maka ada penyesuaian dimana setiap lensa yang dipasang akan mengalami koreksi 1.5x sehingga lensa 50mm akan jadi ekuivalen 85mm. Alhasil di APS-C, lensa wide tidak lagi terlalu wide, dan lensa tele akan jadi semakin tele.

crop factorMengapa bisa terjadi demikian, jawabannya sederhana, karena sensor APS-C ukurannya lebih kecil dari sensor full frame, sehingga bidang gambar yang dicakup juga lebih kecil. Untuk itu produsen lensa juga berpikir, kenapa tidak membuat lensa yang sesuai dengan sensor APS-C saja? Akhirnya saat ini sudah banyak diproduksi lensa khusus sensor APS-C, seperti lensa EF-S (Canon), lensa DX (Nikon) dan juga buatan produsen lensa lain seperti dari Tamron, Sigma atau Tokina. Lensa-lensa ini bentuknya lebih kecil, dengan diameter bidang gambar yang lebih kecil (disesuaikan dengan ukuran sensor) dan tidak cocok untuk dipasang di DSLR full frame.

Apakah kita harus selalu memilih lensa semacam ini? Tidak juga, tidak ada pantangan bagi pemilik DSLR APS-C untuk memakai lensa full frame, apalagi lensa full frame punya pilihan yang lebih banyak dan umumnya lensa profesional adalah lensa full frame. Baik lensa full frame maupun lensa khusus DSLR APS-C keduanya tetap dibuat dengan spesifikasi fokal lensa yang sesuai standar mengacu pada angle of view (sudut gambar yang dibentuk). Sebagai contoh, lensa Nikon DX 35mm meski dibuat khusus untuk Nikon APS-C, namun lensa ini tetaplah punya sudut yang ekivalen dengan lensa 35mm, walau nantinya akan mengalami crop sehingga sudut yang dibentuk akan setara dengan 52mm. Jadi yang menentukan hasil foto kita bukan fokal lensanya saja tapi sudut ekivalennya, dan itu tergantung dengan berapa crop factor atau ukuran sensornya.

angle_view

Kesalahan mendasar pemula dalam memilih lensa adalah dia mengabaikan crop factor, meski tidak fatal tapi bisa membawa kekecewaan. Seorang yang membeli lensa Canon 17-40mm bisa jadi akan kecewa saat memasang lensa ini di kamera EOS 60D, karena dia tidak akan pernah bisa merasakan fokal wide 17mm yang dibayangkannya, melainkan setara dengan lensa 28mm. Seorang yang membeli lensa 28-300mm bisa jadi akan terheran-heran saat kemampuan paling wide sebenarnya dari lensa ini adalah 42mm, bukannya 28mm (42mm bukan lagi tergolong wide).

crop-factor-sensor-size

Berikut kami sajikan beberapa fokal lensa favorit di era fotografi film, dan bagaimana efeknya bila terkena crop factor, dan lensa seperti apa yang perlu dibeli oleh pemilik DSLR APS-C untuk bisa memiliki fokal lensa yang sama seperti lensa tersebut :

1. Fix normal : lensa populer 50mm

Inilah lensa paling populer di kalangan fotografer dari jaman dulu. Sesuai namanya, lensa fix tidak bisa dizoom, namun keuntungannya bisa memiliki bukaan lensa amat besar. Lensa ini bila dipasang di kamera APS-C akan terkoreksi menjadi 75mm. Untuk itu bila ingin merasakan fokal 50mm, carilah lensa 30mm atau 35mm.

2. Wide zoom : lensa pemandangan 17-40mm (Canon), 16-35mm (Nikon) dsb

Inilah lensa wide kelas mewah yang jadi idaman pecinta fotografi wideangle. Lensa semacam ini umumnya dijual di atas 10 juta rupiah. Bila lensa ini dipasang di kamera APS-C maka fokalnya akan menjadi 26-60mm yang kurang begitu wide. Solusinya, carilah lensa wide untuk APS-C seperti 10-22mm (Canon), 10-24mm (Nikon), 10-20mm (Sigma) dsb.

3. Zoom normal 1 : lensa pro 24-70mm

Inilah lensa zoom normal paling disukai para fotogafer karena kemampuan widenya yang cukup dan telenya yang lumayan. Bila lensa ini dipasang di DSLR APS-C akan menjadi 36-105mm yang sudah tidak wide lagi. Untuk bisa merasakan fokal 24-70mm, pemakai DSLR APS-C semestinya membeli lensa 17-55mm (Canon-Nikon), 17-50mm (Tamron-Sigma).

4. Zoom normal 2 : lensa ekonomis 28-80mm (Canon), 28-70mm (Nikon)

Pilihan lain lensa zoom normal khususnya di jaman dulu adalah 28-80mm yang akan jadi tanggung bila dipasang di DSLR APS-C, karena fokalnya akan menjadi 42-120mm yang tidak umum. Saat ini bila anda punya DSLR pemula dengan lensa kit 18-55mm, inilah lensa masa kini yang fokalnya bisa dibilang menyamai lensa 28-80mm di jaman dulu. Opsi lain ada juga lensa 16-70mm atau 17-70mm.

5. Super zoom / all round : lensa sapu jagat 28-200 atau 28-300mm

Dulu pun sudah dikenal lensa sapu jagat yang bisa menjangkau fokal wide 28mm sampai tele 200mm bahkan super tele 300mm seperti lensa 28-200mm dan 28-300mm. Bila lensa ini dipasang di kamera DSLR APS-C, lagi-lagi posisi wide 28mm akan jadi tanggung karena terkena crop factor ke 42mm. Bila anda suka akan rentang lensa sangat panjang, belilah lensa 18-135mm atau 18-200mm untuk kamera DSLR APS-C anda.

6. Tele zoom 1 : lensa pro 70-200mm

Inilah lensa tele zoom kelas profesional yang biasa disebut dengan lensa termos (karena besarnya) dan harganya sekitar 20 juta. Bila anda iseng membeli lensa ini di kamera DSLR APS-C, anda akan mendapat keuntungan yaitu mendapat jangkauan tele yang lebih panjang yaitu menjadi 100-300mm. Tapi bila anda punya DSLR APS-C dan memang menginginkan lensa dengan fokal persis 70-200mm, anda bisa membeli lensa seperti Tokina 50-135mm atau Sigma 50-150mm.

7. Tele zoom 2: lensa ekonomis 70-300mm

Inilah lensa tele paling populer di kalangan pemula dan hobi fotografi, karena murah dan telenya lumayan panjang. Bila lensa ini dipakai di DSLR APS-C, keuntungannya adalah fokal lensa efektif menjadi sangat panjang yaitu 100-450mm. Maka itu lensa ini sangat disukai oleh baik pemilik DSLR full frame maupun DSLR APS-C. Namun bila anda pemilik DSLR APS-C merasa ingin memiliki lensa dengan fokal efektif 70-300mm, maka anda cukup membeli lensa tele murah meriah seperti 55-200mm.

Sebagai rangkuman, berikut tabel konversi crop factor untuk beberapa fokal umum, dimana Nikon, Fuji, Sony dan Samsung itu perkaliannya 1,5 sedangkan Canon itu 1,6 kali.

Fokal lensa

Kamera EVIL Sony terbaru : NEX-C3 dan Alpha A35

Kamera EVIL, atau Electronic Viewfinder Interchangeable Lenses adalah kamera modern dengan jendela bidik elektronik (bisa dengan cermin atau tanpa cermin) dan punya lensa yang bisa dilepas. Sony yang dikenal sebagai produsen kamera modern tentu punya banyak produk di kategori kamera EVIL, seperti seri NEX untuk kelas mirrorless dan seri SLT atau cermin semi tembus pandang (translucent mirror). Kali ini Sony hadirkan dua produk barunya sebagai langkah update berkala yaitu Sony NEX-C3 dan Sony Alpha A35.

nex-c3

Sebenarnya di kelas mirrorless Sony sudah punya seri NEX yang memakai sensor APS-C yaitu NEX-3 dan NEX-5, sedang di kelas translucent mirror yang juga bersensor APS-C, Sony sudah punya duo A33 dan A55. hadirnya kamera mungil NEX-C3 ini merupakan update untuk menggantikan NEX-3 yang hadir satu tahun silam dan kamera A35 ditujukan untuk menggantikan A33. Belum ada kabar mengenai rumor tentang A77 ataupun penerus NEX-5. Perbedaan paling signifikan antara produk baru NEX-C3 dengan pendahulunya adalah naiknya resolusi dari 14 MP ke 16 MP dan penambahan efek gambar (picture effects).  Dari segi spesifikasi hampir tidak banyak perbedaan berarti seperti ISO (200-12800), HD 720 dan ukuran LCD yang selebar 3 inci. Sedangkan A35 kini memakai sensor 16 MP (sama seperti A55) namun dengan spesifikasi yang mirip A33 seperti full HD movie dan burst 7 fps. Baik NEX-C3 maupun A35 dijual di kisaran harga 6 jutaan dan sudah dilengkapi lensa kit.

slt-a35

Sekedar mengingatkan, meski seri NEX dan seri SLT sama-sama tergolong kamera dengan lensa yang bisa dilepas pasang (interchangeable) dan sama-sama memakai sensor APS-C namun keduanya punya perbedaan mendasar dalam proses auto fokus, dimana kamera NEX sebagai kubu mirrorless (seperti kubu Micro Four Thirds) hanya mengandalkan auto fokus berbasis deteksi kontras seperti kamera digital pada umumnya. Sedangkan seri SLT dirancang untuk bisa auto fokus memakai deteksi fasa setiap saat, baik saat mengambil foto maupun video. Seri SLT tetap memiliki cermin sehingga ukuran dan bentuk kamera SLT masih agak mirip kamera SLR.

Rekomendasi kamera mirrorless 6 jutaan

Dana 6 jutaan sebenarnya sudah bisa digunakan untuk mendapatkan kamera berkualitas yang cukup mumpuni untuk dipakai sebagai sarana hobi maupun urusan yang lebih serius. Bila menengok di merk Canon atau Nikon, dana sebesar itu memang sudah bisa untuk membeli satu kamera DSLR kelas pemula yang tergolong lengkap seperti EOS 550D kit atau Nikon D5100 bodi only. Tapi siapa tahu anda bosan dengan merk yang itu-itu lagi, kenapa tidak kita coba bandingkan dengan merk lain yang sudah menawarkan format kamera baru bernama kamera mirrorless.

Kamera mirrorless atau kamera tanpa cermin, merupakan salah satu bagian dari format kamera EVIL (Electronic Viewfinder, Interchangeable Lenses). Kamera mirrorless memiliki lensa yang bisa dilepas bak sebuah DSLR, memiliki sensor yang juga sama besarnya dengan sensor DSLR, namun tanpa cermin yang membuat ukuran DSLR menjadi gemuk. Sebagai konsekuensinya, tidak ada jendela bidik optik di kamera mirrorless ini. Membidik gambar bisa dilakukan dari layar LCD dan (bila ada) juga dari viewfinder bertipe elektronik. Urusan auto fokus pada kamera mirrorless terpaksa hanya memakai teknologi deteksi kontras yang agak lambat namun saat ini kinerjanya semakin disempurnakan.

Pada prinsipnya perbedaan mendasar antara merk papan atas seperti Canon/Nikon dengan kompetitor adalah dalam hal kematangan sistem. Kedua merk besar itu sudah matang dalam membuat sebuah system camera (kamera, lensa, lampu kilat dsb), sehingga produk baru yang diluncurkan ya hanya meningkatkan sedikit demi sedikit fiturnya tanpa berinovasi lebih banyak. Bandingkan dengan terus berevolusinya kamera dari Sony, Panasonic, Olympus dan juga Samsung dengan berbagai ‘percobaan’ membuat kamera dan lensa baru. Bila anda tergolong suka pembaruan dan tergoda untuk menjajal sesuatu yang berbeda, namun tidak mau terlalu banyak berinvestasi besar untuk hal yang satu ini, berikut adalah pilihan kamera mirrorless terjangkau yang bisa dimiliki dengan dana 6 jutaan.

Olympus E-PL2 kit 14-42mm

Penerus E-PL1 ini menargetkan diri sebagai kamera mirrorless terjangkau yang bernuansa retro khas seri Pen dari Olympus lawas. Olympus E-PL2 punya desain yang lebih baik dari E-PL1 dengan grip yang lebih nyaman, dengan sensor 4/3 (crop factor 2x) dengan mount micro Four Thirds dan stabilizer pada sensornya. Meski mungil dan tak dilengkapi jendela bidik, kamera 12 MP ini sudah memiliki semua pengaturan manual eksposur dan termasuk untuk urusan merekam video HD 720p. Urusan auto fokus diklaim sudah lebih cepat dari E-PL1 demikian juga dengan kinerjanya secara umum. Sebagai lensa kit tersedia Zuiko 14-42mm (ekivalen 28-84mm) f/3.5-5.6 dengan diameter 37mm saja.

olympus-e-pl2

Direkomendasikan untuk : fotografer yang menyukai bentuk lensa yang kecil (apalagi kalau pakai lensa pancake) dan yang ingin semua lensanya bisa mendapat efek stabilizer.

Lumix GF-2 kit 14-42mm

Sebagai pesaing langsung dari E-PL2, Panasonic yang juga penggagas format Micro Four Thirds menawarkan Lumix GF2 dengan spesifikasi mirip yaitu sensor 4/3 beresolusi 12 MP, namun urusan stabilizer diserahkan pada lensa OIS tertentu. Salah satu keistimewaan kamera ini adalah layar sentuhnya yang modern dan mampu merekam video full HD 1080i stereo. Soal auto fokus tak perlu diragukan karena Lumix dalam setiap seri kamera Micro Four Thirds memiliki kecepatan fokus yang mendekati kamera DSLR.

Sebagai lensa kit tersedia pilihan Lumix G Vario 14-42mm (ekivalen 28-84mm) f/3.5-5.6mm OIS dengan diameter 52mm atau lensa fix Lumix G 14mm (ekivalen 28mm) f/2.5 diameter 46mm non OIS.

lumix-gf2

Direkomendasikan untuk : penyuka gadget canggih, suka layar sentuh, banyak merekam video dan suka telefoto dengan stabilizer di lensa.

Sony NEX-5 kit 18-55mm

Sony memperkenalkan kamera mirrorless mereka setahun silam dengan nama NEX yang memakai sensor DSLR APS-C dengan crop factor 1,5x. Untuk NEX-5 ini bahkan digunakan sensor beresolusi 14 MP dan bodi berbalut magnesium alloy yang ringan namun kuat. Mengusung mount khusus bernama E-mount, Sony NEX ini bisa dipasangi lensa Alpha mount dengan adapter khusus. Fiturnya cukup menjanjikan mulai dari kendali manual eksposur, layar LCD lipat dan full HD movie. Sebagai kompetitor Sony NEX, di lain pihak ada juga Samsung NX series yang sayangnya agak sulit ditemui di pasaran dalam negeri. Untuk lensa kit dari NEX ini tersedia Sony lens 18-55mm OSS f/3.5-5.6 dengan diameter filter 49mm atau pancake 16mm f/2.8 dengan E mount tentunya.

nex-3

Direkomendasikan untuk : fotografer yang suka memotret low light dengan noise rendah (layaknya DSLR) dan yang suka berbagai fitur pengolah gambar di dalam kamera (sweep panorama, auto HDR dsb).

Mengatur Eksposur : antara cara otomatis dan manual

Banyak yang bilang memotret pakai kamera digital itu mudah, tidak perlu paham teori fotografi pun kita bisa mendapatkan foto yang bagus. Sebaliknya dulu jaman awal ada kamera film, pemakainya harus memahami eksposur dengan dimulai dari memilih jenis ASA film, memakai kecepatan rana berapa dan bukaan lensa berapa. Kalau salah, foto yang dihasilkan bisa terlalu terang atau malah terlalu gelap. Pendapat demikian memang benar, tapi apakah kita selalu pasrah pada kamera kita setiap saat kita memotret? Tentu kita perlu memahami juga dasar eksposur sehingga bisa menentukan kapan waktunya membiarkan kamera yang mengatur semuanya untuk kita, dan kapan waktunya kita yang harus mengambil alih pengaturan eksposur tersebut.

Sebelum kami ulas lebih jauh, secara singkat eksposur itu dikendalikan oleh tiga elemen pokok :

  • kecepatan rana (shutter speed)
  • bukaan lensa (aperture/diafragma)
  • sensitivitas sensor (ISO)

Kebanyakan kamera digital mengatur ketiganya secara otomatis, tanpa perlu campur tangan pemakainya. Tidak banyak kamera digital yang membolehkan pemakainya mengatur tiga komponen di atas secara bebas, kalaupun ada umumnya hanya bisa mengatur nilai ISO. Kamera yang lebih serius, dan tentunya semua kamera DSLR memang lebih membebaskan pemakainya untuk berkreasi sesukanya dan mengatur semuanya secara manual. Pertanyaannya, apakah saat ini masih dibutuhkan pengetahuan kita untuk mengatur kamera secara manual disaat kamera modern kini semakin canggih dan bisa memberi hasil yang baik dengan mode otomatis?

Seputar metering

Tahukah anda apa yang menjadi rahasia mengapa kamera dengan mode otomatisnya itu seakan begitu cerdas bisa menghasilkan foto yang eksposurnya tepat (tidak terlalu terang dan tidak terlalu gelap) meski dipakai dalam berbagai kondisi pencahayaan, baik terang maupun redup? Rahasianya adalah suatu proses yang dinamakan METERING, sebuah proses matematika rumit yang terjadi di dalam prosesor kamera, hanya berlangsung sepersekian detik dan proses ini dialami semua kamera digital dari kamera DSLR sampai kamera ponsel.  Dari hasil perhitungan tadi ditentukanlah tiga komponen eksposur yaitu shutter, diafragma dan ISO. Metering, sesuai namanya, artinya adalah pengukuran. Dalam hal ini yang diukur tentu adalah cahaya yang masuk ke dalam sensor kamera. Tujuannya supaya didapatkan eksposur yang tepat, setidaknya menurut kamera.

Lalu apa salahnya proses diatas? Simpel saja, tidak setiap saat kamera berhasil menentukan eksposur yang tepat. Ada hal-hal khusus yang membuat kamera gagal melakukan pengukuran cahaya. Ingat kalau cahaya yang masuk ke dalam kamera pada intinya adalah cahaya yang datang dari objek, bukan cahaya yang mengenai objek. Cahaya yang mengenai objek namanya incident light sedang yang dipantulkan oleh objek namanya reflected light.

Ilustrasi pengukuran cahaya

Bukankah keduanya sama? Tidak. Ingat kalau tiap benda punya sifat yang berbeda dalam memantulkan cahaya. Kamera didesain untuk bekerja optimal bila melakukan metering terhadap benda yang punya koefisien pantul sekitar 18% atau biasa disebut medium gray. Bila metering dilakukan pada benda yang sangat menyerap cahaya atau sangat memantulkan cahaya, maka metering akan meleset. Benda yang menyerap cahaya diantaranya benda yang berwarna hitam, seperti kain hitam. Sedangkan yang memantulkan seperti kaca, air, benda dari logam dan sebagainya. Setidaknya kita harus tahu sebelum memotret benda-benda yang berpotensi menyerap atau memantulkan cahaya, bahwa ada kemungkinan kamera akan salah dalam menentukan eksposur yang tepat.

Bicara soal eksposur yang tepat menurut kamera, mungkin anda akan penasaran bagaimana kamera bisa memiliki acuan atau standar atau referensi saat menentukan eksposur? Mari kita sederhanakan dulu logika metering. Bayangkan sebuah dunia hitam putih seperti gambar di atas dimana warna hitam itu mewakili gelap, warna putih mewakili terang dan warna abu-abu berada di tengah-tengah. Logika metering akan menyatakan kalau foto dengan eksposur normal adalah yang berada diantara hitam dan putih, alias abu-abu. Jadi apapun yang diukur oleh kamera, prosesor di dalamnya akan mengarahkan pengaturan shutter, apertur dan ISO supaya foto akan memiliki 0 Ev dengan acuan abu-abu tadi.

metering_1

Lebih detilnya bisa dijelaskan seperti ini. Dalam merancang sistem algoritma metering kamera, produsen kamera membuat sistem pembagian wilayah pengukuran cahaya (zona/segmen) untuk mendapatkan sampel informasi terang gelap dan memakai teknik perata-rataan dari hasil pengukuran (averaging), dimana masing-masing zona itu diukur terang gelapnya lalu dilakukanlah proses perata-rataan. Ada beberapa metode metering yang disediakan kamera untuk kita pilih, yaitu Matrix/Evaluative, Center Weighted dan Spot. Umumnya dalam mayoritas pemakaian normal metode  Matrix/Evaluative lebih sering dipakai, karena dengan ini eksposur yang tepat didapat dari perata-rataan seluruh bidang foto sehingga hasilnya akan menjadi middle gray atau middle tone. Bila hanya ingin melakukan pengukuran di sebuah titik kecil, bisa gunakan Spot metering sehingga kamera akan mengukur di sebuah titik kecil dan tidak peduli apakah area di luar titik itu terang atau gelap, yang penting titik itu bisa menjadi sebuah middle tone.

Namun bahayanya disini, misalnya kita mengukur cahaya yang dipantulkan dari benda yang dominan hitam (katakanlah orang hitam berbaju hitam dengan latar dinding yang hitam), maka kamera akan menganggapnya sebagai perwujudan dari kondisi gelap, dan kamera akan menaikan eksposur sehingga si orang hitam ini jadi abu-abu. Yang terjadi selanjutnya, foto yang dihasilkan akan meleset dalam hal warna karena tujuan kita mendapat foto yang serba hitam tadi menjadi foto abu-abu.

Demikian juga sebaliknya, bila objek foto begitu dominan akan warna putih (misal beruang putih di padang es kutub utara), saat diukur oleh kamera maka kamera menyangka objek dihadapannya terlalu terang, dan kamera akan menurunkan eksposur sehingga beruang putih ini menjadi abu-abu. Kalau tidak percaya boleh buktikan sendiri. Dalam mode auto, fotolah benda berwarna hitam total atau putih total dan lihat apakah warna akhirnya?

Jadi metering kamera berpotensi gagal saat memotret dalam kondisi tidak umum seperti banyak memantulkan cahaya, banyak warna hitam atau putih. Metering juga akan salah bila kita ingin mengambil foto yang dramatis seperti sunset atau matahari terbenam.

Bila metering kamera tidak memberikan foto dengan eksposur yang sesuai keinginan kita, ada dua hal yang bisa kita lakukan. Cara termudah adalah lakukan kompensasi eksposur. Metoda ini cukup simpel dan bisa dilakukan di segala macam kamera termasuk kamera ponsel. Caranya dengan menaikkan Ev ke arah positif untuk lebih terang dan ke arah negatif untuk lebih gelap. Namun ada cara lain yang lebih sulit tapi menantang, sekaligus melatih kemampuan kita dalam menentukan eksposur yang tepat, yaitu dengan cara manual.

Kendali eksposur secara manual

Dalam mengatur eksposur secara manual, bukaan diafragma dan kecepatan shutter memegang peranan utama dalam menentukan nilai eksposur. Diafragma menentukan seberapa banyak intensitas cahaya yang dibolehkan untuk masuk ke kamera secara bersamaan, sementara kecepatan shutter menentukan seberapa lama cahaya mengenai sensor sebelum foto diambil. Sebagai pedoman dalam fotografi, dikenal istilah f-stop, yang intinya menyatakan seberapa banyak penambahan atau pengurangan intensitas cahaya yang memasuki kamera (Exposure value/Ev). Setiap kelipatan 1-stop artinya kita menambah cahaya dua kali lipat dari nilai stop sebelumnya, atau mengurangi cahaya setengah dari nilai stop sebelumnya.

Pengaturan bukaan diafragma

Untuk dapat mengatur banyak sedikitnya cahaya yang masuk melalui lensa, diafragma pada lensa kamera bisa membuka dengan besaran diameter yang bisa dirubah. Besar kecilnya bukaan diafragma dinyatakan dalam f-number tertentu, dimana f-number kecil menyatakan bukaaan besar dan f-number yang besar menyatakan bukaan kecil. Selain itu, secara karakteristik optik lensa, bukaan besar akan membuat foto yang DOFnya sempit (background bisa blur), dan bukaan kecil akan membuat DOF lebar (background tajam). Untuk itu pengaturan diafragma membawa dua keuntungan sekaligus, yaitu mengatur intensitas cahaya yang masuk sekaligus mengatur kesan blur dari sebuah background.

Saat mengatur nilai diafragma (aperture), ingatlah bahwa setiap stop ditandai dengan nilai f-number tertentu yang digambarkan dalam deret berikut, urut dari yang besar hingga kecil  :

bukaan semakin besar << f/1.4 – f/2 – f/2.8 – f/4 – f/5.6 – f/8 – f/11– f/16 – f/22 >> bukaan semakin kecil

Sebagai contoh :

  • jika kita berpindah 1-stop dari f/2 ke f/2.8, maka kita akan mengurangi setengah intensitas cahaya yang masuk ke kamera
  • jika kita berpindah 1-stop dari f/8 ke f/5.6, maka kita akan menambah intensitas cahaya yang masuk ke kamera dua kali lipat dari sebelumnya

Perhatikan kalau kamera modern umumnya memberi keleluasaan untuk merubah diafragma di skala yang lebih kecil, dalam hal ini perubahan f-stop dilakukan pada kelipatan 1/2 hingga 1/3 f-stop sehingga bisa didapat banyak sekali variasi eksposure yang bisa didapat dari mengatur nilai diafragma. Sebagai contoh, diantara f/5.6 hingga f/8 bisa terdapat f/6.3 dan f/7.1 yang memiliki rentang 1/3 stop.

Pengaturan kecepatan shutter

Sama halnya dengan diafragma, setelan kecepatan shutter pun punya pedoman berupa deret yang mewakili 1-stop. Kecepatan buka tutupnya shutter ini dinyatakan dalam satuan detik dan bisa diatur dari sangat cepat (misal 1/8000 detik) hingga sangat lambat (bisa sampai 10 detik). Bila cahaya yang masuk ke kamera sangat banyak, gunakan shutter yang cepat, dan sebaliknya bila sedikit cahaya bisa gunakan shutter lambat. Tapi berhati-hatilah saat memakai shutter lambat karena berpotensi membuat foto yang tidak tajam karena getaran tangan atau obyek yang difoto bergerak.

Berikut adalah variasi kecepatan shutter dengan kelipatan 1-stop, urut dari yang lambat hingga yang cepat ( d =  detik ) :

shutter semakin lambat << 1d – 1/2d – 1/4d  – 1/8d – 1/15d – 1/30d – 1/60d – 1/125d – 1/250d – 1/500d –1/1000d >> shutter semakin cepat

Sebagai contoh :

  • jika kita berpindah 1-stop dari 1 detik ke 1/2 detik, maka kita akan mengurangi setengah intensitas cahaya yang masuk ke kamera
  • jika kita berpindah 1-stop dari 1/60 detik ke 1/30 detik, maka kita akan menambah intensitas cahaya yang masuk ke kamera dua kali lipat dari sebelumnya

Pengaturan ISO

Sebagai komponen pelengkap, sensitivitas sensor atau ISO juga memegang peranan dalam menentukan eksposur, terutama bila kita sudah tidak lagi bisa merubah shutter dan apertur karena alasan tertentu. Umumnya terjadi saat dalam kondisi kurang cahaya, kita tidak ingin memilih kecepatan shutter yang terlalu lambat karena takut goyang, atau kita tidak bisa membuka diafragma lensa lebih besar lagi (karena keterbatasan lensa) maka bisa diupayakan dengan menaikkan ISO. ISO pun memiliki kelipatan dimana setiap kelipatan ISO dua kalinya maka akan menaikkan eksposur 1 stop.

Rentang ISO adalah seperti deret di bawah ini (makin tinggi makin sensitif terhadap cahaya, tapi hasil foto semakin noise) :

ISO 50 – 100 – 200 – 400 – 800 – 1600 – 3200 – 6400 – 12800 – 25600

Untuk itu kebanyakan nilai ISO yang dipilih adalah yang di angka kecil supaya hasil fotonya rendah noise, tapi bila terpaksa ISO bisa dinaikkan sampai batas tertentu untuk mendapat eksposur yang diinginkan.

Kesimpulan

Dengan semakin canggihnya teknologi kamera jaman sekarang, metering menjadi hal yang tidak perlu kita risaukan. Dalam mode auto, kamera bertugas dengan sangat baik dalam menjamin hasil foto yang dibuatnya akan memiliki eksposur yang tepat. Namun sebagai pemakai kamera, tidak boleh juga kita sepenuhnya pasrah pada nilai eksposur yang diberikan oleh kamera. Kenali keterbatasan kamera saat kita berhadapan dengan situasi tidak umum seperti obyek yang sangat memantulkan atau sangat menyerap cahaya, terlalu kontras dan terlalu banyak unsur hitam atau  putihnya. Bila hasil foto yang didapat belum memuaskan, gunakan kompensasi eksposur dan ulangi pemotretan, lalu bandingkan hasilnya. Akan lebih baik kita sekaligus berlatih (bila kameranya memungkinkan) memakai mode manual dengan mengatur sendiri nilai shutter, apertur dan ISO.