Olympus hadirkan trio kamera PEN : E-P3, E-PL3 dan E-PM1

Hari ini Olympus mengumumkan kehadiran sekaligus tiga kamera PEN dimana dua kamera diantaranya adalah penyegaran atau upgrade rutin tahunan. Sambutlah E-P3 (penerus E-P2) sebagai flagship format Micro Four Thirds, lalu E-PL3 (penerus E-PL2) sebagai versi ‘lite’ dan E-PM1 yang ditujukan untuk menjadi kamera Micro Four Thirds termurah dalam sejarah. Seperti apa kehebatan ketiganya?

Olympus E-P3 : sang flagship

oly-e-p3

oly-e-p3b

Inilah kamera klasik Olympus PEN yang terlahir kembali di era digital dengan sensor Four Thirds (2x crop) dan segudang fitur mewah terdapat dalam bodi berbalut metal ini. Meneruskan kesuksesan E-P2 di tahun lalu, kamera Olympus E-PL3 ini kini diklaim memiliki kinerja auto fokus tercepat di dunia, bahkan lebih cepat dari DSLR.  Sebagai sensor digunakan Live MOS beresolusi 12 MP dengan kinerja burst 3 fps dan dukungan HD movie 1080p.

Olympus E-PL3 : dengan layar lipat

oly-e-pl3

Inilah versi ‘lite’ dari seri PEN dengan layar LCD yang bisa dilipat dan tetap memiliki fitur yang sama seperti E-P3 seperti sensor, auto fokus dan prosesor yang cepat serta fitur HD movie. Bedanya, E-PL3 lebih kecil dan lebih tipis dengan meniadakan lampu kilat internal. Syukurlah Olympus menyertakan lampu kilat kecil dalam paket penjualan E-PL3 yang bisa dipasang di flash hot shoe. Hebatnya, soal burst E-PL3 mengungguli E-P3 dengan 5.5 fps.

Olympus E-PM1 : mini dan mungil

oly-e-pm1

Inilah versi ‘mini’ dari Olympus PEN yang baru pertama kali diperkenalkan hari ini kepada khalayak ramai, dengan harapan para pemula dan yang dananya terbatas tetap bisa memiliki kamera mirrorless dengan sensor sekualitas DSLR.  E-PM1 punya dimensi bodi yang lebih kecil lagi dan bahkan tidak terdapat mode dial seperti sang kakak. Soal layar memang E-PM1 tidak bisa dilipat seperti di E-PL3, namun setidaknya soal sensor dan fitur lainnya masih sama memakai resolusi 12 MP, demikian juga dengan fitur HD movie dan auto fokusnya yang cepat.

Baik E-P3, E-PL3 maupun E-PM1 dijual dengan paket lensa kit 14-42mm f/3.5-5.6 meski juga ada pilihan lensa fix 17mm f/2.8 yang mungil.

Pentax Q, kamera mirrorless yang serba kecil

Apakah anda merasa kamera mirrorless yang ada saat ini masih kurang kecil? Bila jawabannya adalah iya, maka sambutlah kejutan dari Pentax yang meluncurkan Pentax Q, sebuah sistem kamera lengkap dengan berbagai pilihan lensa, dengan ukuran dan sensor kecil. Alih-alih mengikuti tren dengan memakai sensor seukuran DSLR, Pentax Q justru mengadopsi ukuran sensor kamera saku yaitu 1/2.3 inci yang tergolong sangat kecil. Keputusan ini demi memungkinkan dibuatnya berbagai lensa yang kecil dan (semestinya) terjangkau.

pentaxq

Pentax Q merupakan kamera berukuran mungil, berdesain retro klasik, dengan mount lensa Q (crop factor 5,5x !!) dan sudah sarat dengan fitur modern. Sebagai perkenalan, ditawarkan paket penjualan dengan lensa kit fix 8.5mm f/1.9 (setara dengan 47mm) seharga 8 jutaan rupiah. Sebagai sensor dipilihlah keping CMOS beresolusi 12 MP berteknologi back illuminated, meski sayang sekali ukurannya sangat kecil. Namun dengan lensa kit bukaan besar, Pentax berharap pemakai kamera Q ini tidak mencoba memakai ISO tinggi, meski kamera ini bisa mencapai ISO 6400.

Beberap pilihan lensa Q lainnya adalah :

  • Standard zoom 27.5 – 83.0 mm (equiv). satu-satunya lensa zoom yang ada saat ini
  • Fisheye (160 derajat)
  • Toy lens wide 35 mm (equiv.)
  • Toy lens telephoto 100 mm (equiv.)

Note : Toy lens maksudnya bukan lensa mainan tapi menghasilkan efek seperti toy camera.

Kamera Pentax Q sendiri punya kemampuan berimbang dengan pesaing seperti bodi berbalut magnesium alloy, stabilizer pada sensor, fitur fotografi lengkap termasuk manual mode dan RAW, 5 fps burst, HDR mode, HD movie 1080p 30fps, flash hot shoe dan LCD 3 inci. Tidak ada jendela bidik optik atau elektronik pada bodinya, tapi anda bisa membeli eksternal viewfinder optik seharga 2 jutaan.

Lalu apakah hadirnya Pentax Q ini akan mampu meraih penjualan yang baik? Tak dipungkiri dengan harga jualnya saat ini masih ada beberapa kamera DSLR atau banyak kamera lain yang harganya lebih murah. Soal kualitas hasil foto pun memang akan menjadi tanda tanya sendiri karena dipakainya sensor kecil di kamera ini. Namun apapun itu, upaya Pentax ini perlu dihargai sebagai pendorong tren baru kamera kecil dengan lensa yang bisa dilepas. Ini akan menjadi tekanan buat menggeser dominasi kamera DSLR konvensional (dengan cermin dan pentaprisma, memakai lensa besar dan berat). Saat ini tercatat hanya Canon dan Nikon, dua papan atas produsen kamera konvensional  yang masih belum mau membuat kamera mungil dengan lensa yang bisa dilepas, takut bersaing mungkin?

Memilih lensa sesuai ukuran sensor DSLR

Kamera DSLR yang biasa kita pakai umumnya memakai sensor ukuran APS-C atau yang lebih kecil dari sensor ukuran full frame 35mm. Sensor APS-C akan membawa dampak adanya crop factor terhadap lensa yang dipasang, sehingga rentang fokal lensa akan 1.5 kali lebih panjang.  Awalnya di era SLR film, setiap fokal lensa akan memberikan fokal aktual yang apa-adanya. Sebuah lensa 50mm akan memberikan perspektif dan sudut gambar yang memang seperti yang semestinya sebuah lensa 50mm. Dengan era digital yang menggunakan sensor APS-C, maka ada penyesuaian dimana setiap lensa yang dipasang akan mengalami koreksi 1.5x sehingga lensa 50mm akan jadi ekuivalen 85mm. Alhasil di APS-C, lensa wide tidak lagi terlalu wide, dan lensa tele akan jadi semakin tele.

crop factorMengapa bisa terjadi demikian, jawabannya sederhana, karena sensor APS-C ukurannya lebih kecil dari sensor full frame, sehingga bidang gambar yang dicakup juga lebih kecil. Untuk itu produsen lensa juga berpikir, kenapa tidak membuat lensa yang sesuai dengan sensor APS-C saja? Akhirnya saat ini sudah banyak diproduksi lensa khusus sensor APS-C, seperti lensa EF-S (Canon), lensa DX (Nikon) dan juga buatan produsen lensa lain seperti dari Tamron, Sigma atau Tokina. Lensa-lensa ini bentuknya lebih kecil, dengan diameter bidang gambar yang lebih kecil (disesuaikan dengan ukuran sensor) dan tidak cocok untuk dipasang di DSLR full frame.

Apakah kita harus selalu memilih lensa semacam ini? Tidak juga, tidak ada pantangan bagi pemilik DSLR APS-C untuk memakai lensa full frame, apalagi lensa full frame punya pilihan yang lebih banyak dan umumnya lensa profesional adalah lensa full frame. Baik lensa full frame maupun lensa khusus DSLR APS-C keduanya tetap dibuat dengan spesifikasi fokal lensa yang sesuai standar mengacu pada angle of view (sudut gambar yang dibentuk). Sebagai contoh, lensa Nikon DX 35mm meski dibuat khusus untuk Nikon APS-C, namun lensa ini tetaplah punya sudut yang ekivalen dengan lensa 35mm, walau nantinya akan mengalami crop sehingga sudut yang dibentuk akan setara dengan 52mm. Jadi yang menentukan hasil foto kita bukan fokal lensanya saja tapi sudut ekivalennya, dan itu tergantung dengan berapa crop factor atau ukuran sensornya.

angle_view

Kesalahan mendasar pemula dalam memilih lensa adalah dia mengabaikan crop factor, meski tidak fatal tapi bisa membawa kekecewaan. Seorang yang membeli lensa Canon 17-40mm bisa jadi akan kecewa saat memasang lensa ini di kamera EOS 60D, karena dia tidak akan pernah bisa merasakan fokal wide 17mm yang dibayangkannya, melainkan setara dengan lensa 28mm. Seorang yang membeli lensa 28-300mm bisa jadi akan terheran-heran saat kemampuan paling wide sebenarnya dari lensa ini adalah 42mm, bukannya 28mm (42mm bukan lagi tergolong wide).

crop-factor-sensor-size

Berikut kami sajikan beberapa fokal lensa favorit di era fotografi film, dan bagaimana efeknya bila terkena crop factor, dan lensa seperti apa yang perlu dibeli oleh pemilik DSLR APS-C untuk bisa memiliki fokal lensa yang sama seperti lensa tersebut :

1. Fix normal : lensa populer 50mm

Inilah lensa paling populer di kalangan fotografer dari jaman dulu. Sesuai namanya, lensa fix tidak bisa dizoom, namun keuntungannya bisa memiliki bukaan lensa amat besar. Lensa ini bila dipasang di kamera APS-C akan terkoreksi menjadi 75mm. Untuk itu bila ingin merasakan fokal 50mm, carilah lensa 30mm atau 35mm.

2. Wide zoom : lensa pemandangan 17-40mm (Canon), 16-35mm (Nikon) dsb

Inilah lensa wide kelas mewah yang jadi idaman pecinta fotografi wideangle. Lensa semacam ini umumnya dijual di atas 10 juta rupiah. Bila lensa ini dipasang di kamera APS-C maka fokalnya akan menjadi 26-60mm yang kurang begitu wide. Solusinya, carilah lensa wide untuk APS-C seperti 10-22mm (Canon), 10-24mm (Nikon), 10-20mm (Sigma) dsb.

3. Zoom normal 1 : lensa pro 24-70mm

Inilah lensa zoom normal paling disukai para fotogafer karena kemampuan widenya yang cukup dan telenya yang lumayan. Bila lensa ini dipasang di DSLR APS-C akan menjadi 36-105mm yang sudah tidak wide lagi. Untuk bisa merasakan fokal 24-70mm, pemakai DSLR APS-C semestinya membeli lensa 17-55mm (Canon-Nikon), 17-50mm (Tamron-Sigma).

4. Zoom normal 2 : lensa ekonomis 28-80mm (Canon), 28-70mm (Nikon)

Pilihan lain lensa zoom normal khususnya di jaman dulu adalah 28-80mm yang akan jadi tanggung bila dipasang di DSLR APS-C, karena fokalnya akan menjadi 42-120mm yang tidak umum. Saat ini bila anda punya DSLR pemula dengan lensa kit 18-55mm, inilah lensa masa kini yang fokalnya bisa dibilang menyamai lensa 28-80mm di jaman dulu. Opsi lain ada juga lensa 16-70mm atau 17-70mm.

5. Super zoom / all round : lensa sapu jagat 28-200 atau 28-300mm

Dulu pun sudah dikenal lensa sapu jagat yang bisa menjangkau fokal wide 28mm sampai tele 200mm bahkan super tele 300mm seperti lensa 28-200mm dan 28-300mm. Bila lensa ini dipasang di kamera DSLR APS-C, lagi-lagi posisi wide 28mm akan jadi tanggung karena terkena crop factor ke 42mm. Bila anda suka akan rentang lensa sangat panjang, belilah lensa 18-135mm atau 18-200mm untuk kamera DSLR APS-C anda.

6. Tele zoom 1 : lensa pro 70-200mm

Inilah lensa tele zoom kelas profesional yang biasa disebut dengan lensa termos (karena besarnya) dan harganya sekitar 20 juta. Bila anda iseng membeli lensa ini di kamera DSLR APS-C, anda akan mendapat keuntungan yaitu mendapat jangkauan tele yang lebih panjang yaitu menjadi 100-300mm. Tapi bila anda punya DSLR APS-C dan memang menginginkan lensa dengan fokal persis 70-200mm, anda bisa membeli lensa seperti Tokina 50-135mm atau Sigma 50-150mm.

7. Tele zoom 2: lensa ekonomis 70-300mm

Inilah lensa tele paling populer di kalangan pemula dan hobi fotografi, karena murah dan telenya lumayan panjang. Bila lensa ini dipakai di DSLR APS-C, keuntungannya adalah fokal lensa efektif menjadi sangat panjang yaitu 100-450mm. Maka itu lensa ini sangat disukai oleh baik pemilik DSLR full frame maupun DSLR APS-C. Namun bila anda pemilik DSLR APS-C merasa ingin memiliki lensa dengan fokal efektif 70-300mm, maka anda cukup membeli lensa tele murah meriah seperti 55-200mm.

Sebagai rangkuman, berikut tabel konversi crop factor untuk beberapa fokal umum, dimana Nikon, Fuji, Sony dan Samsung itu perkaliannya 1,5 sedangkan Canon itu 1,6 kali.

Fokal lensa

Kamera EVIL Sony terbaru : NEX-C3 dan Alpha A35

Kamera EVIL, atau Electronic Viewfinder Interchangeable Lenses adalah kamera modern dengan jendela bidik elektronik (bisa dengan cermin atau tanpa cermin) dan punya lensa yang bisa dilepas. Sony yang dikenal sebagai produsen kamera modern tentu punya banyak produk di kategori kamera EVIL, seperti seri NEX untuk kelas mirrorless dan seri SLT atau cermin semi tembus pandang (translucent mirror). Kali ini Sony hadirkan dua produk barunya sebagai langkah update berkala yaitu Sony NEX-C3 dan Sony Alpha A35.

nex-c3

Sebenarnya di kelas mirrorless Sony sudah punya seri NEX yang memakai sensor APS-C yaitu NEX-3 dan NEX-5, sedang di kelas translucent mirror yang juga bersensor APS-C, Sony sudah punya duo A33 dan A55. hadirnya kamera mungil NEX-C3 ini merupakan update untuk menggantikan NEX-3 yang hadir satu tahun silam dan kamera A35 ditujukan untuk menggantikan A33. Belum ada kabar mengenai rumor tentang A77 ataupun penerus NEX-5. Perbedaan paling signifikan antara produk baru NEX-C3 dengan pendahulunya adalah naiknya resolusi dari 14 MP ke 16 MP dan penambahan efek gambar (picture effects).  Dari segi spesifikasi hampir tidak banyak perbedaan berarti seperti ISO (200-12800), HD 720 dan ukuran LCD yang selebar 3 inci. Sedangkan A35 kini memakai sensor 16 MP (sama seperti A55) namun dengan spesifikasi yang mirip A33 seperti full HD movie dan burst 7 fps. Baik NEX-C3 maupun A35 dijual di kisaran harga 6 jutaan dan sudah dilengkapi lensa kit.

slt-a35

Sekedar mengingatkan, meski seri NEX dan seri SLT sama-sama tergolong kamera dengan lensa yang bisa dilepas pasang (interchangeable) dan sama-sama memakai sensor APS-C namun keduanya punya perbedaan mendasar dalam proses auto fokus, dimana kamera NEX sebagai kubu mirrorless (seperti kubu Micro Four Thirds) hanya mengandalkan auto fokus berbasis deteksi kontras seperti kamera digital pada umumnya. Sedangkan seri SLT dirancang untuk bisa auto fokus memakai deteksi fasa setiap saat, baik saat mengambil foto maupun video. Seri SLT tetap memiliki cermin sehingga ukuran dan bentuk kamera SLT masih agak mirip kamera SLR.

Rekomendasi kamera mirrorless 6 jutaan

Dana 6 jutaan sebenarnya sudah bisa digunakan untuk mendapatkan kamera berkualitas yang cukup mumpuni untuk dipakai sebagai sarana hobi maupun urusan yang lebih serius. Bila menengok di merk Canon atau Nikon, dana sebesar itu memang sudah bisa untuk membeli satu kamera DSLR kelas pemula yang tergolong lengkap seperti EOS 550D kit atau Nikon D5100 bodi only. Tapi siapa tahu anda bosan dengan merk yang itu-itu lagi, kenapa tidak kita coba bandingkan dengan merk lain yang sudah menawarkan format kamera baru bernama kamera mirrorless.

Kamera mirrorless atau kamera tanpa cermin, merupakan salah satu bagian dari format kamera EVIL (Electronic Viewfinder, Interchangeable Lenses). Kamera mirrorless memiliki lensa yang bisa dilepas bak sebuah DSLR, memiliki sensor yang juga sama besarnya dengan sensor DSLR, namun tanpa cermin yang membuat ukuran DSLR menjadi gemuk. Sebagai konsekuensinya, tidak ada jendela bidik optik di kamera mirrorless ini. Membidik gambar bisa dilakukan dari layar LCD dan (bila ada) juga dari viewfinder bertipe elektronik. Urusan auto fokus pada kamera mirrorless terpaksa hanya memakai teknologi deteksi kontras yang agak lambat namun saat ini kinerjanya semakin disempurnakan.

Pada prinsipnya perbedaan mendasar antara merk papan atas seperti Canon/Nikon dengan kompetitor adalah dalam hal kematangan sistem. Kedua merk besar itu sudah matang dalam membuat sebuah system camera (kamera, lensa, lampu kilat dsb), sehingga produk baru yang diluncurkan ya hanya meningkatkan sedikit demi sedikit fiturnya tanpa berinovasi lebih banyak. Bandingkan dengan terus berevolusinya kamera dari Sony, Panasonic, Olympus dan juga Samsung dengan berbagai ‘percobaan’ membuat kamera dan lensa baru. Bila anda tergolong suka pembaruan dan tergoda untuk menjajal sesuatu yang berbeda, namun tidak mau terlalu banyak berinvestasi besar untuk hal yang satu ini, berikut adalah pilihan kamera mirrorless terjangkau yang bisa dimiliki dengan dana 6 jutaan.

Olympus E-PL2 kit 14-42mm

Penerus E-PL1 ini menargetkan diri sebagai kamera mirrorless terjangkau yang bernuansa retro khas seri Pen dari Olympus lawas. Olympus E-PL2 punya desain yang lebih baik dari E-PL1 dengan grip yang lebih nyaman, dengan sensor 4/3 (crop factor 2x) dengan mount micro Four Thirds dan stabilizer pada sensornya. Meski mungil dan tak dilengkapi jendela bidik, kamera 12 MP ini sudah memiliki semua pengaturan manual eksposur dan termasuk untuk urusan merekam video HD 720p. Urusan auto fokus diklaim sudah lebih cepat dari E-PL1 demikian juga dengan kinerjanya secara umum. Sebagai lensa kit tersedia Zuiko 14-42mm (ekivalen 28-84mm) f/3.5-5.6 dengan diameter 37mm saja.

olympus-e-pl2

Direkomendasikan untuk : fotografer yang menyukai bentuk lensa yang kecil (apalagi kalau pakai lensa pancake) dan yang ingin semua lensanya bisa mendapat efek stabilizer.

Lumix GF-2 kit 14-42mm

Sebagai pesaing langsung dari E-PL2, Panasonic yang juga penggagas format Micro Four Thirds menawarkan Lumix GF2 dengan spesifikasi mirip yaitu sensor 4/3 beresolusi 12 MP, namun urusan stabilizer diserahkan pada lensa OIS tertentu. Salah satu keistimewaan kamera ini adalah layar sentuhnya yang modern dan mampu merekam video full HD 1080i stereo. Soal auto fokus tak perlu diragukan karena Lumix dalam setiap seri kamera Micro Four Thirds memiliki kecepatan fokus yang mendekati kamera DSLR.

Sebagai lensa kit tersedia pilihan Lumix G Vario 14-42mm (ekivalen 28-84mm) f/3.5-5.6mm OIS dengan diameter 52mm atau lensa fix Lumix G 14mm (ekivalen 28mm) f/2.5 diameter 46mm non OIS.

lumix-gf2

Direkomendasikan untuk : penyuka gadget canggih, suka layar sentuh, banyak merekam video dan suka telefoto dengan stabilizer di lensa.

Sony NEX-5 kit 18-55mm

Sony memperkenalkan kamera mirrorless mereka setahun silam dengan nama NEX yang memakai sensor DSLR APS-C dengan crop factor 1,5x. Untuk NEX-5 ini bahkan digunakan sensor beresolusi 14 MP dan bodi berbalut magnesium alloy yang ringan namun kuat. Mengusung mount khusus bernama E-mount, Sony NEX ini bisa dipasangi lensa Alpha mount dengan adapter khusus. Fiturnya cukup menjanjikan mulai dari kendali manual eksposur, layar LCD lipat dan full HD movie. Sebagai kompetitor Sony NEX, di lain pihak ada juga Samsung NX series yang sayangnya agak sulit ditemui di pasaran dalam negeri. Untuk lensa kit dari NEX ini tersedia Sony lens 18-55mm OSS f/3.5-5.6 dengan diameter filter 49mm atau pancake 16mm f/2.8 dengan E mount tentunya.

nex-3

Direkomendasikan untuk : fotografer yang suka memotret low light dengan noise rendah (layaknya DSLR) dan yang suka berbagai fitur pengolah gambar di dalam kamera (sweep panorama, auto HDR dsb).

Mengatur Eksposur : antara cara otomatis dan manual

Banyak yang bilang memotret pakai kamera digital itu mudah, tidak perlu paham teori fotografi pun kita bisa mendapatkan foto yang bagus. Sebaliknya dulu jaman awal ada kamera film, pemakainya harus memahami eksposur dengan dimulai dari memilih jenis ASA film, memakai kecepatan rana berapa dan bukaan lensa berapa. Kalau salah, foto yang dihasilkan bisa terlalu terang atau malah terlalu gelap. Pendapat demikian memang benar, tapi apakah kita selalu pasrah pada kamera kita setiap saat kita memotret? Tentu kita perlu memahami juga dasar eksposur sehingga bisa menentukan kapan waktunya membiarkan kamera yang mengatur semuanya untuk kita, dan kapan waktunya kita yang harus mengambil alih pengaturan eksposur tersebut.

Sebelum kami ulas lebih jauh, secara singkat eksposur itu dikendalikan oleh tiga elemen pokok :

  • kecepatan rana (shutter speed)
  • bukaan lensa (aperture/diafragma)
  • sensitivitas sensor (ISO)

Kebanyakan kamera digital mengatur ketiganya secara otomatis, tanpa perlu campur tangan pemakainya. Tidak banyak kamera digital yang membolehkan pemakainya mengatur tiga komponen di atas secara bebas, kalaupun ada umumnya hanya bisa mengatur nilai ISO. Kamera yang lebih serius, dan tentunya semua kamera DSLR memang lebih membebaskan pemakainya untuk berkreasi sesukanya dan mengatur semuanya secara manual. Pertanyaannya, apakah saat ini masih dibutuhkan pengetahuan kita untuk mengatur kamera secara manual disaat kamera modern kini semakin canggih dan bisa memberi hasil yang baik dengan mode otomatis?

Seputar metering

Tahukah anda apa yang menjadi rahasia mengapa kamera dengan mode otomatisnya itu seakan begitu cerdas bisa menghasilkan foto yang eksposurnya tepat (tidak terlalu terang dan tidak terlalu gelap) meski dipakai dalam berbagai kondisi pencahayaan, baik terang maupun redup? Rahasianya adalah suatu proses yang dinamakan METERING, sebuah proses matematika rumit yang terjadi di dalam prosesor kamera, hanya berlangsung sepersekian detik dan proses ini dialami semua kamera digital dari kamera DSLR sampai kamera ponsel.  Dari hasil perhitungan tadi ditentukanlah tiga komponen eksposur yaitu shutter, diafragma dan ISO. Metering, sesuai namanya, artinya adalah pengukuran. Dalam hal ini yang diukur tentu adalah cahaya yang masuk ke dalam sensor kamera. Tujuannya supaya didapatkan eksposur yang tepat, setidaknya menurut kamera.

Lalu apa salahnya proses diatas? Simpel saja, tidak setiap saat kamera berhasil menentukan eksposur yang tepat. Ada hal-hal khusus yang membuat kamera gagal melakukan pengukuran cahaya. Ingat kalau cahaya yang masuk ke dalam kamera pada intinya adalah cahaya yang datang dari objek, bukan cahaya yang mengenai objek. Cahaya yang mengenai objek namanya incident light sedang yang dipantulkan oleh objek namanya reflected light.

Ilustrasi pengukuran cahaya

Bukankah keduanya sama? Tidak. Ingat kalau tiap benda punya sifat yang berbeda dalam memantulkan cahaya. Kamera didesain untuk bekerja optimal bila melakukan metering terhadap benda yang punya koefisien pantul sekitar 18% atau biasa disebut medium gray. Bila metering dilakukan pada benda yang sangat menyerap cahaya atau sangat memantulkan cahaya, maka metering akan meleset. Benda yang menyerap cahaya diantaranya benda yang berwarna hitam, seperti kain hitam. Sedangkan yang memantulkan seperti kaca, air, benda dari logam dan sebagainya. Setidaknya kita harus tahu sebelum memotret benda-benda yang berpotensi menyerap atau memantulkan cahaya, bahwa ada kemungkinan kamera akan salah dalam menentukan eksposur yang tepat.

Bicara soal eksposur yang tepat menurut kamera, mungkin anda akan penasaran bagaimana kamera bisa memiliki acuan atau standar atau referensi saat menentukan eksposur? Mari kita sederhanakan dulu logika metering. Bayangkan sebuah dunia hitam putih seperti gambar di atas dimana warna hitam itu mewakili gelap, warna putih mewakili terang dan warna abu-abu berada di tengah-tengah. Logika metering akan menyatakan kalau foto dengan eksposur normal adalah yang berada diantara hitam dan putih, alias abu-abu. Jadi apapun yang diukur oleh kamera, prosesor di dalamnya akan mengarahkan pengaturan shutter, apertur dan ISO supaya foto akan memiliki 0 Ev dengan acuan abu-abu tadi.

metering_1

Lebih detilnya bisa dijelaskan seperti ini. Dalam merancang sistem algoritma metering kamera, produsen kamera membuat sistem pembagian wilayah pengukuran cahaya (zona/segmen) untuk mendapatkan sampel informasi terang gelap dan memakai teknik perata-rataan dari hasil pengukuran (averaging), dimana masing-masing zona itu diukur terang gelapnya lalu dilakukanlah proses perata-rataan. Ada beberapa metode metering yang disediakan kamera untuk kita pilih, yaitu Matrix/Evaluative, Center Weighted dan Spot. Umumnya dalam mayoritas pemakaian normal metode  Matrix/Evaluative lebih sering dipakai, karena dengan ini eksposur yang tepat didapat dari perata-rataan seluruh bidang foto sehingga hasilnya akan menjadi middle gray atau middle tone. Bila hanya ingin melakukan pengukuran di sebuah titik kecil, bisa gunakan Spot metering sehingga kamera akan mengukur di sebuah titik kecil dan tidak peduli apakah area di luar titik itu terang atau gelap, yang penting titik itu bisa menjadi sebuah middle tone.

Namun bahayanya disini, misalnya kita mengukur cahaya yang dipantulkan dari benda yang dominan hitam (katakanlah orang hitam berbaju hitam dengan latar dinding yang hitam), maka kamera akan menganggapnya sebagai perwujudan dari kondisi gelap, dan kamera akan menaikan eksposur sehingga si orang hitam ini jadi abu-abu. Yang terjadi selanjutnya, foto yang dihasilkan akan meleset dalam hal warna karena tujuan kita mendapat foto yang serba hitam tadi menjadi foto abu-abu.

Demikian juga sebaliknya, bila objek foto begitu dominan akan warna putih (misal beruang putih di padang es kutub utara), saat diukur oleh kamera maka kamera menyangka objek dihadapannya terlalu terang, dan kamera akan menurunkan eksposur sehingga beruang putih ini menjadi abu-abu. Kalau tidak percaya boleh buktikan sendiri. Dalam mode auto, fotolah benda berwarna hitam total atau putih total dan lihat apakah warna akhirnya?

Jadi metering kamera berpotensi gagal saat memotret dalam kondisi tidak umum seperti banyak memantulkan cahaya, banyak warna hitam atau putih. Metering juga akan salah bila kita ingin mengambil foto yang dramatis seperti sunset atau matahari terbenam.

Bila metering kamera tidak memberikan foto dengan eksposur yang sesuai keinginan kita, ada dua hal yang bisa kita lakukan. Cara termudah adalah lakukan kompensasi eksposur. Metoda ini cukup simpel dan bisa dilakukan di segala macam kamera termasuk kamera ponsel. Caranya dengan menaikkan Ev ke arah positif untuk lebih terang dan ke arah negatif untuk lebih gelap. Namun ada cara lain yang lebih sulit tapi menantang, sekaligus melatih kemampuan kita dalam menentukan eksposur yang tepat, yaitu dengan cara manual.

Kendali eksposur secara manual

Dalam mengatur eksposur secara manual, bukaan diafragma dan kecepatan shutter memegang peranan utama dalam menentukan nilai eksposur. Diafragma menentukan seberapa banyak intensitas cahaya yang dibolehkan untuk masuk ke kamera secara bersamaan, sementara kecepatan shutter menentukan seberapa lama cahaya mengenai sensor sebelum foto diambil. Sebagai pedoman dalam fotografi, dikenal istilah f-stop, yang intinya menyatakan seberapa banyak penambahan atau pengurangan intensitas cahaya yang memasuki kamera (Exposure value/Ev). Setiap kelipatan 1-stop artinya kita menambah cahaya dua kali lipat dari nilai stop sebelumnya, atau mengurangi cahaya setengah dari nilai stop sebelumnya.

Pengaturan bukaan diafragma

Untuk dapat mengatur banyak sedikitnya cahaya yang masuk melalui lensa, diafragma pada lensa kamera bisa membuka dengan besaran diameter yang bisa dirubah. Besar kecilnya bukaan diafragma dinyatakan dalam f-number tertentu, dimana f-number kecil menyatakan bukaaan besar dan f-number yang besar menyatakan bukaan kecil. Selain itu, secara karakteristik optik lensa, bukaan besar akan membuat foto yang DOFnya sempit (background bisa blur), dan bukaan kecil akan membuat DOF lebar (background tajam). Untuk itu pengaturan diafragma membawa dua keuntungan sekaligus, yaitu mengatur intensitas cahaya yang masuk sekaligus mengatur kesan blur dari sebuah background.

Saat mengatur nilai diafragma (aperture), ingatlah bahwa setiap stop ditandai dengan nilai f-number tertentu yang digambarkan dalam deret berikut, urut dari yang besar hingga kecil  :

bukaan semakin besar << f/1.4 – f/2 – f/2.8 – f/4 – f/5.6 – f/8 – f/11– f/16 – f/22 >> bukaan semakin kecil

Sebagai contoh :

  • jika kita berpindah 1-stop dari f/2 ke f/2.8, maka kita akan mengurangi setengah intensitas cahaya yang masuk ke kamera
  • jika kita berpindah 1-stop dari f/8 ke f/5.6, maka kita akan menambah intensitas cahaya yang masuk ke kamera dua kali lipat dari sebelumnya

Perhatikan kalau kamera modern umumnya memberi keleluasaan untuk merubah diafragma di skala yang lebih kecil, dalam hal ini perubahan f-stop dilakukan pada kelipatan 1/2 hingga 1/3 f-stop sehingga bisa didapat banyak sekali variasi eksposure yang bisa didapat dari mengatur nilai diafragma. Sebagai contoh, diantara f/5.6 hingga f/8 bisa terdapat f/6.3 dan f/7.1 yang memiliki rentang 1/3 stop.

Pengaturan kecepatan shutter

Sama halnya dengan diafragma, setelan kecepatan shutter pun punya pedoman berupa deret yang mewakili 1-stop. Kecepatan buka tutupnya shutter ini dinyatakan dalam satuan detik dan bisa diatur dari sangat cepat (misal 1/8000 detik) hingga sangat lambat (bisa sampai 10 detik). Bila cahaya yang masuk ke kamera sangat banyak, gunakan shutter yang cepat, dan sebaliknya bila sedikit cahaya bisa gunakan shutter lambat. Tapi berhati-hatilah saat memakai shutter lambat karena berpotensi membuat foto yang tidak tajam karena getaran tangan atau obyek yang difoto bergerak.

Berikut adalah variasi kecepatan shutter dengan kelipatan 1-stop, urut dari yang lambat hingga yang cepat ( d =  detik ) :

shutter semakin lambat << 1d – 1/2d – 1/4d  – 1/8d – 1/15d – 1/30d – 1/60d – 1/125d – 1/250d – 1/500d –1/1000d >> shutter semakin cepat

Sebagai contoh :

  • jika kita berpindah 1-stop dari 1 detik ke 1/2 detik, maka kita akan mengurangi setengah intensitas cahaya yang masuk ke kamera
  • jika kita berpindah 1-stop dari 1/60 detik ke 1/30 detik, maka kita akan menambah intensitas cahaya yang masuk ke kamera dua kali lipat dari sebelumnya

Pengaturan ISO

Sebagai komponen pelengkap, sensitivitas sensor atau ISO juga memegang peranan dalam menentukan eksposur, terutama bila kita sudah tidak lagi bisa merubah shutter dan apertur karena alasan tertentu. Umumnya terjadi saat dalam kondisi kurang cahaya, kita tidak ingin memilih kecepatan shutter yang terlalu lambat karena takut goyang, atau kita tidak bisa membuka diafragma lensa lebih besar lagi (karena keterbatasan lensa) maka bisa diupayakan dengan menaikkan ISO. ISO pun memiliki kelipatan dimana setiap kelipatan ISO dua kalinya maka akan menaikkan eksposur 1 stop.

Rentang ISO adalah seperti deret di bawah ini (makin tinggi makin sensitif terhadap cahaya, tapi hasil foto semakin noise) :

ISO 50 – 100 – 200 – 400 – 800 – 1600 – 3200 – 6400 – 12800 – 25600

Untuk itu kebanyakan nilai ISO yang dipilih adalah yang di angka kecil supaya hasil fotonya rendah noise, tapi bila terpaksa ISO bisa dinaikkan sampai batas tertentu untuk mendapat eksposur yang diinginkan.

Kesimpulan

Dengan semakin canggihnya teknologi kamera jaman sekarang, metering menjadi hal yang tidak perlu kita risaukan. Dalam mode auto, kamera bertugas dengan sangat baik dalam menjamin hasil foto yang dibuatnya akan memiliki eksposur yang tepat. Namun sebagai pemakai kamera, tidak boleh juga kita sepenuhnya pasrah pada nilai eksposur yang diberikan oleh kamera. Kenali keterbatasan kamera saat kita berhadapan dengan situasi tidak umum seperti obyek yang sangat memantulkan atau sangat menyerap cahaya, terlalu kontras dan terlalu banyak unsur hitam atau  putihnya. Bila hasil foto yang didapat belum memuaskan, gunakan kompensasi eksposur dan ulangi pemotretan, lalu bandingkan hasilnya. Akan lebih baik kita sekaligus berlatih (bila kameranya memungkinkan) memakai mode manual dengan mengatur sendiri nilai shutter, apertur dan ISO.

Panasonic Lumix G3, lebih mungil dan lebih murah dari G2

Satu lagi penyegaran di kelas kamera Micro Four Thirds dilakukan oleh Panasonic. Bila sebelumnya Panasonic agak membingungkan dengan membuat dua kelas kamera yang mirip (Lumix G2 dan GH2), kini telah hadir penerus G2 yang bernama Lumix G3 dengan ukuran yang 25% lebih mungil dan harga lebih terjangkau daripada G2. Dengan demikian GH2 menjadi satu-satunya kamera Micro Four Thirds yang berdimensi paling besar (mirip DSLR), lalu kamera GF2 menjadi kamera yang paling kecil (mirip kamera saku) dan G3 ini menjadi kamera yang ukurannya diantara GH2 dan GF2.

lumix-g3-lcd

Langkah yang dilakukan Panasonic dalam merubah G2 ke G3 membawa beberapa konsekuensi. Sebutlah diantaranya hilangnya berbagai tombol dan tuas penting untuk pengaturan kamera. Selain itu ukuran yang lebih mungil membuat G3 kehilangan grip yang dominan di G2. Untuk itu G3 lebih cocok dipilih oleh kaum hawa sedangkan bagi yang ingin merasakan sensasi seperti DSLR lebih mantap memakai GH2 saja. Namun G3 kini dibekali sensor 16 MP yang sama seperti GH2, meningkat lumayan banyak dari 12 MP di seri G1 dan G2. Perbedaan G3 terhadap pendahulunya tampak seperti gambar di bawah ini (kiri G2 dan kanan G3) :

g2-vs-g3

Lumix G3 kini memiliki kemampuan full HD video dengan suara stereo dalam format AVCHD, Venus Engine VI FHD processor, Photo Style dan filter Creative Control filters. Lumix G3 tersedia dalam warna putih, merah dan hitam dengan harga 5 jutaan (bodi saja) atau 6 jutaan (dengan lensa kit).

Adapun sejarah kamera Lumix seri G sejak 2008 hingga saat ini adalah :

Lumix G1 (Sep 2008) :

  • 12 MP
  • ISO 3200
  • tanpa fitur movie
  • lensa kit 14-45mm
  • layar LCD lipat
  • EVF resolusi tinggi (1,44 juta piksel)

Lumix G2 (Mar 2010) :

  • 12 MP
  • ISO 6400
  • HD movie 1280 x 720 (AVCHD lite)
  • lensa kit 14-42mm
  • layar LCD lipat, touchscreen
  • EVF resolusi tinggi (1,44 juta piksel)
  • mendukung SDXC card

Lumix G3 (Mei 2011) :

  • 16 MP
  • ISO 6400
  • HD movie 1980 x 1080 (AVCHD), stereo
  • lensa kit 14-42mm
  • layar LCD lipat, touchscreen
  • EVF resolusi tinggi (1,44 juta piksel)
  • mendukung SDXC card
  • Photo Style dan filter Creative Control filters

Duel seimbang DSLR pemula : Nikon D3100 vs Canon 1100D

Perang antara Canon dan Nikon dalam dunia DSLR seakan tak ada habisnya. Keduanya sama-sama punya produk unggulan di tiap segmen, khususnya di kelas DSLR pemula yang paling besar market share-nya. Kali ini kami akan membahas mengenai pertarungan seimbang dua produk yang amat populer yaitu EOS 1100D dari kubu Canon melawan D3100 dari kubu Nikon. Keduanya meski masuk ke kategori DSLR pemula namun secara esensi sepertinya sudah berevolusi menjadi kamera lengkap nan terjangkau dengan harga jual di kisaran 5 jutaan rupiah. Simak seperti apa keunggulan masing-masing dan temukan kamera mana yang terbaik di kelas pemula dalam artikel kami kali ini.

Nikon D3100

Diantara keduanya, Nikon D3100 lebih dahulu hadir yaitu tepatnya di bulan Agustus 2010 menggantikan D3000 dengan perbedaan utama yaitu beralihnya pemakaian sensor CCD 10 MP di D60/D3000 menjadi sensor CMOS 14 MP. Dengan harga 5,5 juta plus lensa kit AF-S 18-55mm VR, kamera keren ini sudah bisa jadi milik anda. Meski mengusung embel-embel kamera pemula, namun nama itu lebih dimaksudkan bahwa fitur yang dimiliki kamera ini didesain untuk mudah digunakan oleh pemula. Tetapi bila ditinjau spesifikasinya tampak kalau D3100 punya banyak keistimewaan seperti 11 titik auto fokus yang akurat dan kemampuan merekam video High Definition beresolusi 1920 x 1080 dengan auto fokus. Bahkan shutter unit kamera ini sudah lulus uji untuk 100 ribu kali pakai. Wow..

Dalam hal kemampuan ISO, D3100 tampil mengesankan dengan kemampuan ISO 3200 dan bisa ditingkatkan sampai setara dengan ISO 12800. Artinya kamera ini bisa diandalkan untuk dipakai di tempat dengan pencahayaan kurang. Kalaupun ada hal yang membedakan kamera ini dengan DSLR Nikon yang lebih mahal adalah kecepatan burstnya yang cukup mencapai 3 foto per detik dan resolusi layar LCD yang cukup dengan 230 ribu piksel saja. Yang disayangkan adalah Nikon masih belum menyediakan fitur dasar berupa exposure bracketing di D3100. Selain itu D3100 juga tidak menyediakan motor AF sehingga lensa Nikon lama (non AF-S) tidak bisa auto fokus. Tapi apapun itu, D3100 dianggap sebagai DSLR pemula terbaik yang pernah dibuat oleh Nikon.

Canon 1100D

Canon awalnya mengandalkan EOS 1000D sebagai DSLR paling ekonomis yang pernah dibuatnya. Respon pasar ternyata sangat positif akan hadirnya EOS 1000D sehingga Canon bisa menikmati keuntungan dari penjualan kamera seri 4 digit tersebut. Mungkin itulah alasan kenapa Canon perlu waktu 18 bulan untuk membuat penerus dari 1000D, ditambah lagi saat ini semua kamera sudah semakin modern dan dilengkapi dengan fitur HD movie, maka upgrade 1000D ini terasa mendesak untuk dilakukan. Setengah tahun sejak Nikon meluncurkan D3100, tepatnya di bulan Februari 2011 akhirnya Canon meluncurkan EOS 1100D, maka dimulailah perang antara keduanya sebagai DSLR pemula terbaik yang pernah ada.

Beberapa penyempurnaan penting dilakukan Canon dalam membuat penerus 1000D yaitu dipakainya sensor CMOS 12 MP dengan prosesor Digic IV. Kamera seharga 5,2 juta ini bahkan sudah dilengkapi dengan lensa kit EF-S 18-55mm IS yang cukup baik untuk dipakai sehari-hari. Kemampuan merekam video telah dibenamkan di EOS 1100D ini, tepatnya adalah High Definition resolusi 1280 x 720 piksel. Hal mengesankan lainnya yang dijumpai di kamera ini adalah kemampuan ISO 6400 dan metering 63 zone yang peka terhadap fokus, warna dan luminance. Layaknya DSLR pemula lain, kecepatan  burst 1100D hanya mencapai 3 gambar per detik dan resolusi layar LCD-nya memang hanya 230 ribu piksel saja. Sayangnya hingga kini Canon belum mengizinkan EOS empat digitnya untuk memiliki fitur spot metering.

Mana yang lebih baik?

Tidak mudah menilai mana yang lebih baik dari keduanya. Disamping memiliki spesifikasi yang hampir sama, keduanya juga dijual di kisaran harga yang hampir sama juga. Bolehlah dibilang keduanya berimbang terutama dalam hal :

  • kualitas hasil foto (skor sensor di dxomark berbeda sedikit)
  • fitur live view
  • kecepatan burst (3 fps)
  • resolusi layar LCD
  • spesifikasi dan jenis viewfinder
  • ada mode untuk membantu pemula

Namun dalam beberapa hal Nikon D3100 lebih unggul seperti :

  • resolusi dan ukuran sensor sedikit lebih besar (14 MP vs 12 MP)
  • titik AF yang lebih banyak (11 titik vs 9 titik)
  • ada fitur 3D tracking AF
  • resolusi HD video (1080p vs 720p) plus auto fokus saat merekam video
  • ada tuas khusus untuk berganti mode cepat (continuous shooting, self timer dsb)
  • jangkauan lampu kilat lebih besar (12 m vs 9 m)
  • layar LCD sedikit lebih lega (3 inci vs 2.7 inci)

Sedangkan hal yang membuat EOS 1100D lebih baik adalah:

  • dukungan semua lensa Canon EF dan EF-S (bisa autofokus)
  • bisa bracketing (AE dan WB)
  • ISO normal maksimum ISO 6400 (vs ISO 3200)
  • ada tombol langsung untuk mengatur ISO
  • muncul histogram saat live view
  • tersedia aksesori resmi untuk battery grip
  • baterai tahan lebih lama (700 shot vs 550 shot)

Dalam hal ini kesimpulan kami adalah bahwa Nikon D3100 sedikit lebih unggul dari EOS 1100D. Kunci kemenangannya adalah dalam hal sensor, fokus dan HD video. Sedang EOS 1100D bisa dibilang tidak ada fitur yang terlalu menonjol tapi semua kebutuhan dasar fotografi sudah tercukupi ditambah dengan kemampuan bracketing dan dukungan auto fokus pada semua lensa Canon. Jadi pilih yang mana, tentu terserah anda..

Note : Anda juga bisa memesan produk D3100 atau 1100D di toko sponsor melalui kami.