Komunitas pecinta fotografi strobist saat ini sudah semakin banyak. Kepuasan menghasilkan foto dengan teknik pencahayaan yang diatur sedemikian rupa itu ternyata membuat banyak orang terus ingin berkreasi memotret dengan lampu kilat. Foto yang dibuat dengan teknik ini mampu memberi kesan profesional, berkarakter, berdimensi dan unik. Jangan sangka untuk menggeluti hobi ini kita harus merogoh kocek amat dalam, karena ternyata gear yang diperlukan harganya cukup terjangkau.
Canon G10 (dan G11) merupakan salah satu kamera saku kelas pro dari keluarga PowerShot yang banyak dijadikan sebagai kamera pendamping kamera utama para profesional. Canon G10 menyempurnakan generasi sebelumnya G9 yang mana perbedaan utamanya adalah dalam hal fokal lensa. Pada lensa G10/G11 fokal efektif yang dimiliki bergeser ke arah wide dengan 28mm hingga 140mm sehingga pecinta wide angle akan lebih menyukai G10/G11 ketimbang G9. Namun bagaimana dengan mereka pemilik G10/G11 yang memerlukan fokal lensa lebih dari 210mm?
Bagi anda yang memakai kamera DSLR tentu merasakan perlunya tali kamera (strap) untuk membawa kamera anda bepergian. Dengan memakai tali maka kamera bisa digantung di leher atau juga dipakai di pundak seperti memakai tas. Meski begitu, adakalanya muncul rasa kurang nyaman, kurang praktis bahkan kamera beresiko mengalami benturan tanpa sengaja ketika kita membawa kamera dengan cara menggantung seperti itu. Nah, saat ini mulai banyak dijual tali kamera alternatif yang punya fungsi lebih dari sekedar tali, dengan desain yang berbeda dengan desain tali konvensional.
Kendala utama yang dihadapi saat membuat klip video di dalam ruangan adalah sulitnya mendapatkan cahaya yang cukup. Kamera digital yang bisa berfungsi ganda menjadi perekam klip video umumnya tidak dilengkapi dengan lampu khusus video sehingga tidak berkutik saat dipakai di tempat gelap. Hal ini berbeda dengan camcorder khusus yang memang didesain untuk bisa merekam di dalam ruangan, karena telah memiliki lampu video terintegrasi. Untuk itulah aksesori lampu video menjadi hal yang perlu saat kita sering merekam video memakai kamera digital.
Bila format interchangeable lens yang diusung oleh Panasonic dan Olympus memungkinkan sebuah kamera kompak bisa berganti lensa, kali ini Ricoh menawarkan konsep agak berbeda dan baru pertama di dunia. Sambutlah Ricoh GXR, kamera saku dengan lensa (dan sensor) yang terpisah dari bodi kamera! Saat Ricoh GXR ini terpisah dari lensanya, tidak dijumpai adanya sensor apapun di bagian depan kamera. Sebagai gantinya, si sensor justru digabung dengan lensa dan dijual terpisah. Aneh, tapi nyata. Seperti apakah kamera format baru ini? Simak artikel kami selengkapnya..
Gajah bertarung dengan gajah, mungkin itulah istilah yang bisa mewakili perang dua merk DSLR kondang, Nikon vs Canon, saat keduanya meluncurkan kamera DSLR terbarunya. Seperti biasa, saat salah satu meluncurkan produk baru, maka satu lagi segera menyusul. Kali ini Nikon lebih dahulu meluncurkan versi penerus D3 dengan fitur video yang bernama D3S dan disusul keesokan harinya dengan produk baru dari Canon yang bernama EOS 1D mark IV. Keduanya merupakan DSLR bongsor dengan vertical grip terintegrasi, material bodi kokoh yang berbalut magnesium alloy.
Banyak pemilik kamera digital yang masih belum memahami setting dasar dari kameranya, sehingga dalam memotret dia hanya mengandalkan mode Auto dan pasrah akan hasil akhir nantinya. Padahal kita tahu bahwa kamera punya banyak setting danada saja orang yang merasa ‘takut salah’ untuk mencoba berbagai setting yang ada di kameranya. Betul kalau mode Auto pada kamera digital masa kini sudah amat cerdas dalam membuat foto yang aman, tapi apakah anda tidak ingin menjajal berbagai pilihan setting dasar yang ada di kamera anda?