Kamera saku baru dari Canon: PowerShot G5X II dan G7X III

Kamera saku masih punya tempat di kalangan fotografer, buktinya produsen seperti Canon masih terus meluncurkan produk baru. Fungsi kamera saku sebenarnya cukup banyak, sebagai dedicated camera (bukan kamera yang ada di ponsel) sebuah kamera saku bisa menjadi alternatif fotografi ringan seperti travel, street, candid dan casual shoot lainnya. Bahkan profesional bisa menjadikan kamera saku sebagai kamera pelengkap maupun backup saat bekerja bila sewaktu-waktu ada hal tidak diinginkan terjadi pada kamera utamanya. Di era dimana orang kini sudah biasa melakukan vlogging bahkan live streaming, sebuah kamera akan menjadi alat yang memungkinkan para content creator berinteraksi dengan para followernya, dan kadang kamera yang ringkas akan lebih disukai karena alasan kepraktisan.

Canon yang sejak lama rutin melahirkan banyak kamera saku PowerShot kini meregenerasi ulang dua seri G yang terkenal yaitu G5X dan G7X. Kini G5X II hadir dengan desain berubah banyak dari sebelumnya, kini desainnya mengecil dan bahkan sekilas mirip dengan G7X yang tidak lagi menonjolkan jendela bidik di tengah seperti mini DSLR. Dibanding G5X yang lama, Canon menghilangkan flash hot shoe di G5X II ini demi mengakomodir jendela bidik pop-up. Sedangkan G7X III tidak berubah banyak secara desain tapi memberi banyak penambahan pada fitur utama. Sebagai info, kedua kamera memakai sensor yang sama yaitu 20 MP 1 inci dengan sistem stack sensor khas Sony, dengan kecepatan foto kontinu meningkat hingga 8 fps RAW+JPG bila pakai shutter mekanik, dan hebatnya ada shutter elektronik yang bisa memotret 20 fps. Digic8 yang ditanamkan sebagai dapur pacu kedua kamera ini memungkinkan kamera saku ini mampu merekam video 4K tanpa crop, meski kedua kamera tidak dibekali sistem Dual Pixel AF seperti di kakaknya yang mirrorless atau DSLR.

Continue reading Kamera saku baru dari Canon: PowerShot G5X II dan G7X III

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Trio Nikon DL hadir, kamera kompak dengan sensor 1 inci

Setelah lama ‘bereksperimen’ dengan sistem mirrorless Nikon 1, akhirnya Nikon memutuskan ikut membuat kamera saku dan superzoom dengan sensor 1 inci, tentunya dengan segala pengalaman yang dimiliki saat merancang Nikon 1 seperti auto fokus hybrid yang cepat. Tidak tanggung-tanggung, sekaligus diluncurkan tiga kamera dengan kode DL, dengan kesamaan ciri seperti sensor 1 inci 20 MP, kemampuan 4K video dan fitur kelas atas untuk memanjakan fotografer seperti dudukan flash, tombol dan roda kendali yang lengkap, VR di lensa dan sistem layar sentuh. Apa perbedaan dari ketiga kamera DL yang diluncurkan kali ini?

Ada tiga kamera compact Nikon DL yang bisa dipilih sesuai keunikan lensanya :

  • Nikon DL 18-50 : dengan lensa 18-50mm f/1.8-2.8 (US$850)
  • Nikon DL 24-85 : dengan lensa 24-85mm f/1.8-2.8 (US$650)
  • Nikon DL 24-500 : dengan lensa 24-500mm f/2.8-5.6 (US$1000)

NikonDL1850

Nikon DL 18-50 hadir sebagai satu-satunya kamera saku dengan lensa ultra wide, dan bukaannya bisa f/1.8 serta kualitas foto diatas kamera saku pada umumnya. Di posisi tele maksimumnya walau hanya mentok di 50mm f/2.8 tapi lensa ini sudah keren sekali mengingat posisi paling widenya adalah 18mm (kamera lain biasanya 24mm atau 28mm). Lensa di Nikon DL 18-50 ini juga dilapisi dengan fluorine dan Nano coating untuk kualitas hasil foto terbaik. Cocok dimiliki oleh fotografer pemandangan, arsitektur, street atau anda yang suka memotret pemandangan malam atau kondisi gelap indoor. Terdapat 3 stop ND filter di kamera ini untuk yang suka main slow speed. Ada sedikit grip untuk mencegah licin, tapi tidak ada built-in flash karena lensanya terlalu lebar untuk bisa tercover cahaya flash dengan merata.

NikonDL2485

Nikon DL 24-85 menjadi kamera DL paling murah dan punya mode macro untuk motret subjek yang berukuran kecil, akan bersaing dengan banyak kamera bersensor 1 inci lainnya seperti Canon G7X atau Sony RX100 mk IV. Kelebihan DL 24-85 adalah lensanya yang ‘aman’ untuk banyak kebutuhan travel maupun fotografi harian karena bisa mencapai kebutuhan lebar 24mm hingga medium tele 85mm, juga bukaannya f/1.8-2.8 yang termasuk cepat. Lensa di Nikon DL 24-85 juga bisa makro pada posisi 35mm dan ada juga flash built-in. Sama seperti DL 18-50, di DL 24-85 ini terdapat 3 stop ND filter, juga ada sedikit grip sehingga lebih aman saat digenggam.

NikonDL24500

Nikon DL 24-500 dengan lensa impresif 24-500mm f/2.8-5.6 hadir untuk melawan pemain lama di superzoom 1 inci seperti Panasonic FZ1000 (dengan lensa 24-400mm f/2.8-4), Sony RX10 (lensa 24-200mm f/2.8) dan Canon G3x (lensa 24-600mm f/2.8-5.6 minus jendela bidik). Daya jual Nikon DL 24-500 tentu ada pada auto fokus hybrid-nya sehingga ideal untuk memotret aksi, olahraga atau satwa liar dengan posisi lensa telefoto, juga adanya jendela bidik yang tajam juga menambah value keseluruhan. VR di DL 24-500 ada dua mode yaitu Normal dan Sport, semakin menunjukkan tujuan kamera ini yang cocok untuk sport.

Opini kami :

Nikon mungkin terlambat dalam bersaing di kancah kamera kompak 1 inci, karena terlalu fokus ke sistem Nikon 1. Tapi kini Nikon dengan jeli memanfaatkan momentum untuk merancang kamera yang tepat dan spesifik (niche). Ketiga kamera ini punya kekuatan masing-masing, bahkan bisa jadi ada fotografer yang memborong ketiganya karena peruntukannya berbeda. Saat memotret landscape, street atau arsitektur tentu beda dengan saat memotret satwa liar, misalnya.

Sensor 1 inci sendiri kami suka. Sensor ini ukurannya memang lebih kecil dari micro 4/3 tapi jauh lebih besar daripada sensor 2/3 inci yang dipakai di sebagian kamera saku kelas atas. Dengan memaksimalkan teknologi di sensor 1 inci dicapailah keseimbangan antara kualitas foto (sampai ISO 1600 masih oke, dynamic range cukup baik bila pakai RAW), kecepatan (fokus, burst, video) dan ukuran lensa yang memungkinkan dicapainya fokal sampai 500mm tanpa membuat sistem keseluruhan jadi terlalu besar. Ingin hasil lebih baik ya silahkan ke mirrorless atau DSLR, tapi kombinasi DSLR dengan lensanya akan menjadi sangat besar atau sangat mahal, dibanding sistem Nikon DL ini.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Canon punya banyak lini kamera saku serius Powershot, pilih yang mana?

Kamera saku memang nasibnya suram karena serbuan ponsel cerdas. Tapi bagi Canon, bisnis kamera saku harus terus hidup, maka itu seri Powershot kini memiliki banyak pilihan produk premium. Dengan bandrol harga yang cukup lumayan, kamera yang ditujukan untuk pendamping kamera utama ini punya berbagai fitur serius yang disukai fotografer. Apa saja pilihan yang ada? Berikut ke-lima produknya.

Canon G1X mk II

family-g1x

Kamera serius dengan sensor besar ini paling senior dan paling tinggi kastanya di kelas Powershot. Lensanya sudah termasuk baik dengan spek 24-120mm f/2.0-3.9 sedangkan kemampuan bidiknya 5,2 fps. Yang suka jendela bidik perlu menambah aksesori yang bisa dipasang di hot shoe. Inilah kamera yang ditujukan untuk mengejar kualitas gambar terbaik di kelasnya.

Canon G3X

family-g3x

Kamera dengan kasta dibawah G1X namun dengan harga yang lebih tinggi berkat lensanya yang termasuk superzoom 24-600mm f/2.8-5.6 yang didukung sensor 1 inci, membuatnya ideal untuk safari dengan gear minimal. Sama seperti G1X, anda perlu membeli aksesori jendela bidik bila perlu. Pengoperasian zoom lensanya diputar dengan tangan, mestinya bisa menghemat baterai.

Canon G5X

family-g5x

Kamera ini termasuk baru, kekuatan utamanya adalah di jendela bidik elektronik dan layar LCD yang bisa dilipat putar. Dari spek sensor dan lensa kamera ini persis sama dengan Canon G7X. Sebagai bonus, tersedia flash hot shoe untuk memasang lampu kilat. Adanya hot shoe membuat kamera ini agak jangkung dan sulit untuk dimasukkan ke saku.

Canon G7X

family-g7x

Kamera ini hadir lebih awal dari G5X, dirancang menjadi kamera saku premium dengan sensor 1 inci dan lensa bukaan besar 24-100mm f/1.8-2.8 yang bersaing dengan Sony RX100. Cocok untuk kebutuhan dasar fotografi maupun untuk travel biasa. Kamera ini tidak ada hot shoe sehingga tidak bisa pasang flash atau aksesori jendela bidik eksternal.

Canon G9X

family-g9x

Seri paling buncit di lini Powershot premium hadir bareng dengan G5X, bedanya G9X murni seperti kamera saku basic yang mengandalkan sensor 1 inci, dan lensa 28-84mm f/2.0-4.9 dan layar LCD-nya tidak bisa dilipat. Cocok untuk anda yang mencari kamera saku dengan hasil foto lebih baik dari kamera saku pada umumnya.

Harga kamera ini bervariasi mulai dari 5 hingga 10 juta rupiah, sudah bersaing dengan harga DSLR, namun memiliki kekuatan di ukuran dan lensa yang berkualitas. Sebagai info, sensor 1 inci sudah dianggap standar minimum untuk bicara kualitas, diatas itu ada pilihan sensor 4/3 milik Panasonic dan barulah APS-C. Nikon dan Samsung juga mengembangkan kamera dengan sensor 1 inci tapi dalam bentuk kamera mirrorless. Dari pengamatan kami sensor 1 inci punya hasil yang baik hingga ISO 1600, bahkan setara dengan hasil foto dari kamera DSLR generasi awal (tahun 2005-2007). Maka itu harga kamera Canon ini tidak bisa dibilang murah, karena kualitas sensornya yang termasuk baik.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Canon XC10, ketika fotografi dan videografi bersatu

Pilih mana, kamera video yang bisa ambil foto, atau kamera foto yang bisa ambil video? Wah, tidak ada yang enak pilihannya. Pinginnya ada kamera yang oke untuk foto dan juga video, sekaligus. Bila selama ini belum ada satu produk yang layak mewakili harapan tadi, maka kini tidak lagi setelah Canon resmi meluncurkan kamera Canon XC10, perpaduan antara camcorder dan juga kamera foto. Kamera unik ini punya segalanya untuk kebutuhan foto dan video serius, dan dijual dengan harga yang masih wajar (USD $2500). Apa saja keunggulan produk XC10 ini?

xc10big1-635x403

Dari bodinya, Canon XC10 tampak seperti miniatur EOS Cinema Camera C100. Di bagian depan terdapat lensa yang tidak bisa diganti, fokal 24-240mm dan bukaan f/2.8-5.6 yang masih termasuk layak. Di bagian atas terdapat hot shoe untuk kebutuhan flash eksternal, atau lampu LED. Gripnya bisa diputar, sedangkan LCD-nya juga bisa dilipat. Terdapat aksesori eyecup yang bisa ditempel di layar LCD, berguna untuk meninjau gambar dengan presisi. Dekat layar LCD ada lubang ventilasi untuk mendinginkan sensor.

xc10-09-top-b

Di bagian dalam, terdapat sensor ukuran 1 inci dengan resolusi total 12 MP, denga kemampuan rekam video 4K dan dynamic range 12 stop. Kualitas video patut diapresiasi dengan kemampuan 4:2:2 8 bit, atau 305 Mbps untuk 4K. Terdapat profil Canon Log gamma, buit-in ND filter dan 5 axis stabilizer yang membantu fotografer dan juga videografer mendapat hasil optimal dalam berbagai kondisi pencahayaan. Untuk merekaman hasil foto dan video, terdapat slot CFast card, slot SD card dan juga HDMI 10 bit output.

xc10-12-bsl-a

Opini kami :

Konvergensi kamera foto dan video mulai terjadi, Canon XC10 adalah awal yang baik, sebagai kamera multimedia, liputan atau rumah produksi skala kecil akan memberi solusi yang baik. Bagi fotografi, sensor 1 inci memang pas-pasan, tapi sudah memenuhi kriteria dasar untuk mendapat hasil foto yang baik bahkan hingga ISO 1600. Dalam urusan rekam video, sensor 1 inci tergolong besar dan bisa memberi hasil video yang baik di kondisi kurang cahaya. Adanya resolusi 4K menjadi keuntungan sendiri untuk jangka panjang, dan format full HD yang diusung kamera ini juga lebih berkualitas dengan bitrate 50 Mbps.

Keuntungan sensor 1 inci adalah lensa yang bisa dibuat lebih kecil, bukaan lebih besar dan zoom lebih panjang. Bagi yang ingin ruang tajam luas, cukup mudah didapat dengan sensor 1 inci, misal diset ke f/8. Sebaliknya sensor 1 inci masih bisa diakali untuk membuat latar yang blur (bokeh) dengan teknik yang tepat. Memang harapannya sih kamera ini bisa berganti lensa, ada jendela bidik atau pakai sensor APS-C, tapi semua itu akan membuat biaya produksi lebih tinggi dan ujung-ujungnya harga produk jadi lebih tinggi.

Info : di waktu hampir bersamaan, Canon juga mengumumkan EOS Cinema Camera C300 mark II.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Canon G7X : kamera saku serius dengan sensor 1 inci

Cari kamera saku yang lebih ‘serius’ ? Maka carilah kamera yang punya sensor lebih besar dari rata-rata, dan punya lensa yang berkualitas tinggi. Canon PowerShot G7X adalah salah satu kamera baru yang dirancang premium, dengan sensor 1 inci (sama seperti Sony RX100), lensa bukaan besar (f/1.8-2.8) dan fokal lensa yang berguna (24-100mm) dikemas dalam ukuran kecil dan ringan. Saat diluncurkan, kamera ini dibandrol 7 jutaan, cukup tinggi bahkan lebih mahal dari beberapa kamera DSLR dan mirrorless. Seiring tren foto selfie, Canon G7X juga ikut-ikutan membuat LCD yang bisa dilipat ke atas, tertarik?

canon-powershot-g7-x-camera

Spek dasar dan unggulan :

  • sensor 1 inci, CMOS, 20 MP
  • lensa 24-100mm f/1.8-2.8 dengan 9 bilah diafragma
  • ISO maks 12800
  • layar LCD lipat 3 inci, touchscreen
  • burst 6,5 foto per detik
  • video 1080p 6fps
  • mode Star untuk memotret bintang

Ilustrasi perbandingan ukuran dan tebal Canon G7X dengan Sony RX100, yang menjadi pesaingnya.

g7x-vs-rx100

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Panasonic Lumix FZ1000, bukan superzoom biasa

Panasonic sudah dikenal sebagai produsen kamera superzoom dari dulu, sejak eranya Lumix FZ10 dan salah satu yang paling sukses adalah Lumix FZ50. Kali ini Lumix FZ1000 hadir sebagai kamera kelas premium di segmen superzoom, dengan kombinasi lensa 24-400mm f/2.8-4 dan sensor 20 MP di keping MOS berukuran 1 inci. Hadirnya FZ1000 jadi pesaing sepadan dari Sony RX10 dan keduanya menjadi alternatif menarik untuk kamera travel maupun backup.

Omong-omong apakah anda bosan dengan kamera superzoom yang ada? Well, anda tidak sendiri. Banyak fotografer yang juga merasa jenuh dengan tren kamera superzoom yang ada saat ini, dengan berlomba membuat lensa yang sangat panjang melampaui kebutuhan normal fotografi. Satu hal yang tidak berubah adalah ukuran sensor yang dipakai yang rata-rata sangat kecil (1/2,3 inci) sehingga kualitas fotonya jauh dibawah DSLR. Untungnya saat ini sedang dimulai tren kamera compact non DSLR (bahkan kamera mirrorless mini) dibuat memakai sensor 1 inci guna mendapat hasil foto yang lebih baik walau tentu biayanya jadi lebih mahal (dibanding sensor kecil). Sayangnya belum banyak produsen kamera yang sanggup membuat kamera superzoom dengan sensor 1 inci karena pasti membengkaknya biaya produksi dan juga ukuran kamera dan lensa secara keseluruhan. Maka itu Lumix FZ1000 kami apresiasi karena berhasil mengemas lensa Leica 25-400mm bukaan f/2.8-4 yang mengakomodir ukuran sensor 1 inci dalam bodi kamera yang masih tergolong kompak (walau tidak bisa dibilang kecil). Sebagai info, semakin besar ukuran sensor maka diameter lensa juga harus ikut membesar, maka itu tantangan produksi Lumix FZ1000 pasti pada desain bentuk dan ukuran kamera.

panasonic-lumix-fz1000-1

Hal-hal menarik dari Lumix FZ1000 bukan cuma di lensa ataupun sensor, tapi juga OIS 5 axis yang mantap untuk meredam semua kemungkinan getaran tangan, jendela bidik kualitas tinggi, kemampuan rekam video resolusi 3840×2160 piksel (4K) atau slow motion dari 120 fps di 1080p, plus fitur lain seperti zebra dan peaking untuk manual fokus. Tak ketinggalan fitur Wi-Fi dengan NFC menjadi pelengkap dari kamera yang berbobot 830 gram ini. Performa ISO dari sensor 1 inci ini mulai dari ISO 125 hingga 12800, burst 12 fps dan shutter maksimum 1/6000 detik, minimum 60 detik.

panasonic-lumix-fz1000-back

Dari fisiknya yang bongsor, kamera seharga hampir 11 juta rupiah ini tidak membuat fotografer kecewa karena banyak kendali langsung seperti roda dial, mode dial, mode fokus, AE-lock dan drive mode. Kemampuan flash built-in juga bisa dipakai untuk mentrigger flash eksternal melalui wireless mode. Dua hal yang agak disayangkan (dan ada di pesaingnya, Sony RX10) adalah kamera FZ1000 ini tidak menyediakan fasilitas layar sentuh, dan tidak ada LCD kecil di bagian atas. Tapi mengingat selisih harga Sony RX10 dan FZ1000 terpaut 5 juta, maka kekurangan ini masih bisa dimaafkan.

Kamera ini menjawab impian mereka yang mencari kamera berlensa panjang (yang pasti sangat mahal dengan sistem DSLR) tapi tidak mau kamera yang hasil fotonya kurang bagus (seperti di kamera superzoom pada umumnya). FZ1000 ini punya bentuk seukuran DSLR, fitur selengkap DSLR, lensa Leica 25-400mm bukaan besar nan tajam, dan hasil foto lebih baik dari rata-rata kamera superzoom lain. Oleh karenanya kami menyebut FZ1000 bukan superzoom biasa.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Nikon 1 V3 hadir, kamera mungil tapi cepat

Hari ini Nikon mengumumkan kehadiran kamera mirrorless terbaru mereka di kelas premium, yaitu Nikon 1 V3 dengan harga 13 jutaan plus lensa kit. Apa yang membuat Nikon berani pasang harga setinggi ini disaat penjualan Nikon 1 sebelumnya boleh dibilang kurang laku? Kami melihat inilah yang seharusnya dilakukan Nikon secara teknis dalam membuat kamera mirrorless-nya, yaitu desain yang keren, modular dan fungsional untuk para penghobi serius. Desain Nikon 1 V3 berubah total dan kini bentuknya lebih terkesan ‘normal’ dan tidak ‘aneh’ seperti V2, dan dibalik kamera mahal ini ada sensor mungil berukuran 1 inci resolusi 18,4 MP yang dibuat oleh Aptina. Kita akan simak hal-hal apa yang membuat kamera berformat CX ini bisa dijual begitu mahal.

Tinjauan bodi dan lensa :

nikon v3 depan

nikonv3 blkg

Fitur utama :

  • 18.4MP CX-format CMOS sensor tanpa low-pass filter
  • Expeed 4a processor
  • LCD layar sentuh 3-inch, 1.037 juta titik
  • ISO 160 hingga 12,800
  • 6fps continuous shooting dengan mechanical shutter
  • 20fps continuous shooting dengan AF tracking (tercepat di dunia)
  • 60fps (!!!) continuous shooting kalau fokus dikunci di posisi pertama
  • sistem AF cepat dengan 171 titik contrast detect AF dan 105 titik phase detect AF
  • 120fps slow-motion 720p video
  • eVR electronic stabilization dalam mode movie
  • Virtual horizon
  • Built-in WiFi
  • lensa kit baru power zoom 10-30mm 3.5-5.6 VR

Perbedaan utama desain Nikon 1 V3 dengan sebelumnya adalah dalam hal konsep modular, atau adanya aksesori tambahan yang bisa dipasang terpisah bila mau, seperti jendela bidik elektronik dan ekstra grip yang membuat kamera ini jadi tampak lebih gagah. Grip ini juga punya tombol rana, roda pengatur setting dan tombol Fn3. Bila grip dipasang, maka tampak atas kamera ini akan terlihat seperti ini :

nikonv3 grip

Nikon memposisikan kamera ini untuk mereka yang mengutamakan kecepatan sekaligus kualitas gambar dari kamera yang berukuran kecil. Seperti kamera Nikon 1 lainnya, kamera V3 ini juga memakai sensor ukuran 1 inci yang artinya akan mengalami crop factor 2,7x sehingga kamera ini bukan untuk yang menyukai fotografi wideangle. Tapi bagi penyuka foto satwa liar, format CX menarik karena lensa yang dipasang bisa mengalami peningkatan kekuatan zoom 2,7x dari fokal lensa yang dipasang, misal lensa 100mm akan setara dengan lensa 270mm, dahsyat kan..  Untuk itu Nikon juga meluncurkan satu lensa tele baru 1Nikkor 70-300mm f/4.5-5.6 VR yang fokalnya akan ekivalen dengan 189-810mm di kamera ini.

vr_70_300_b

Yang menarik pada sensor Aptina di kamera ini adalah sudah dibenamkan 150 titik auto fokus berbasis deteksi fasa, sehingga sensor ini sudah bisa dibilang sensor hybrid AF. Dengan teknologi hybrid AF ini, kamera akan terlebih dahulu memakai cara deteksi fasa untuk mendapat fokus ke obyek yang diinginkan tanpa mengalami focus hunting, lalu dilanjutkan dengan memakai deteksi kontras untuk mencari fokus terbaik dan paling akurat. Selain itu cara ini juga diyakini lebih akurat dalam mendeteksi arah gerakan obyek sehingga obyek yang bergerak dapat terus dikunci fokusnya.

nikon-1-v3-mirrorless-camera
Nikon 1 V3 dengan tambahan grip dan jendela bidik

Masih nyaman dengan penjualan kamera DSLR-nya, Nikon seakan tanpa beban dalam mendesain kamera format CX dengan sensor 1 inci ini. Bagaimana tidak, saat kompetitor berlomba membuat kamera mirrorless dengan sensor APS-C bahkan full-frame, Nikon justru membuat format mungil dengan sensor 1 inci. Tapi sisi positifnya bisa dirasakan saat kita melihat lensa-lensa mount CX yang ukurannya kecil, sejalan dengan konsep miniaturisasi kamera (bandingkan dengan kamera mirrorless lain yang lensanya jauh lebih besar dari kameranya). Tinggal apakah di kemudian hari nanti Aptina (atau produsen sensor lainnya) bisa membuat sensor 1 inci yang kualitas fotonya lebih baik, paling tidak di ISO 800 hingga ISO 1600 hasilnya masih minim noise.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Perkembangan positif dari kamera mirrorless Nikon 1

Melengkapi artikel kami tahun 2011 lalu tentang Nikon 1, kali ini kami akan ulas kembali perkembangan Nikon 1 sebagai ‘anak bawang’ di kancah mirrorless yang semakin beragam. Awalnya Nikon 1 hadir untuk jadi andalan Nikon dalam dunia mirrorless, dengan memperkenalkan sensor 1 inci dan format CX dengan crop factor 2,7x. Format CX ini sukses membuat kamera-kamera (dan lensa) yang mungil seperti Nikon seri V, seri J dan seri S. Sayangnya banyak pihak mengkritik keputusan Nikon yang memberi sensor 1 inci di kamera mirrorlessnya, karena kompetitor sudah lebih dulu hadir dengan sensor besar seperti Micro 4/3 dan APS-C.

Kita paham kalau Nikon tidak ingin kamera mirrorless buatannya justru mematikan penjualan DSLR mereka. Maka itu tak heran kalau Nikon 1 memang memakai sensor yang lebih kecil dari DSLR Nikon. Untuk itu Nikon punya tantangan dalam mendesain lensa-lensa yang sesuai dengan sensor ini, maka hadirlah lensa kit yang fokalnya tidak umum : 10-30mm (yang bidang gambarnya setara dengan lensa 27-80mm). Ya, fokal 10mm itu sudah masuk teritori ultra wide, tapi dengan memasang lensa 10mm di kamera Nikon 1 maka lensa ultra wide ini jadi lensa biasa. Sisi positifnya, kebutuhan telefoto tidak sulit untuk diwujudkan, cukup memasang lensa 30-110mm sudah jadi setara dengan lensa 80-300mm di kamera full frame.

Sadar Nikon belum bisa bicara banyak dari hal kualitas foto (karena sensornya yang kecil) maka Nikon mencari cara lain untuk membuat kamera Nikon 1 bisa diterima pasar. Yang cukup mengesankan memang dalam hal kinerja, dimana soal auto fokus, kemampuan tembak kontinu hingga slow motion video kamera Nikon 1 bisa dibilang mantap. Tapi sejak tahun 2011 hingga sekarang, penjualan Nikon 1 belum terlihat menggembirakan. Kalah berkompetisi, harga yang masih tinggi dan ketidakpastian jangka panjang akan sistem ini, membuat Nikon 1 masih tertinggal dibawah bayang-bayang Sony, Lumix atau bahkan Canon. Maka itu Nikon tampak berjuang keras untuk membuat terobosan yang positif, diantaranya dengan membuat kamera Nikon 1 yang bisa memotret di bawah air, tanpa tambahan casing apapun.

Nikon 1 AW1

Ya, baru saja diumumkan Nikon 1 dengan nama AW1, sebagai kamera interchangeable lenses pertama di dunia yang bisa dibawa menyelam. Artinya, bukan cuma bodinya yang tahan air, tapi juga lensanya ! Hanya saja untuk lensa memang harus khusus lensa dengan kode AW yang didesain tahan air dan bahkan benturan. Ini merupakan terobosan yang sangat positif karena di pasaran hanya ada dua pilihan untuk memotret bawah air : memakai kamera saku yang gambarnya jelek, atau kamera DSLR dengan casing yang sangat mahal (dan casing ini tidak bisa dipakai di kamera model lain). Nikon 1 AW1 menjadi solusi dengan harga 8-10 jutaan, bisa langsung dipakai menyelam sampai 15 meter tanpa kuatir kameranya rusak karena kena air. Asal jangan copot lensa di dalam air ya.. :)

Berikut spesifikasi dan fitur kamera Nikon AW1 :

  • CX mount, sensor 1 inci, CMOS, 14 MP
  • ISO 160-6400
  • LCD 3 inci, 920ribu piksel
  • manual PASM, RAW
  • scene mode dan WB underwater
  • full HD 30p
  • tahan air 15m, tahan benturan bila jatuh hingga ketinggian 2m
  • GPS

nikon-1-anti-air

Di kamera ini ada fitur menarik untuk mengganti setting yaitu dengan menekan tombol lalu memutar kamera dan tampilan di layar akan mengikuti. Ini akan membantu saat di dalam air dimana sulit untuk mengganti setting melalui roda dan tombol. Secara desain kamera AW1 memang mirip dengan Nikon J3, bahkan AW1 memang dirancang dari Nikon J3 yang diberi bodi kokoh. Satu hal yang penting, lensa AW tidak bisa dipasang di bodi Nikon 1 lain. Sedangkan lensa Nikon 1 biasa bisa dipasang di bodi Nikon AW1 tapi secara kesatuan kamera AW1 jadi tidak anti air lagi. Untuk itu selalu pasangkan Nikon AW1 dengan lensa AW seperti 11-27.5mm f/3.5-5.6 atau lensa AW 10mm f/2.8

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..