Review lensa Nikon AF-S 18-300mm VR

Review kali ini akan mengulas lensa sapujagat baru dari Nikon yaitu AF-S 18-300mm f/3.5-5.6 VR. Lensa seharga 10 juta rupiah ini memiliki kode DX yang artinya didesain untuk DSLR Nikon APS-C, bukan full frame. Fokal lensa ini sangat serbaguna, ekivalen mulai dari 27mm hingga 450mm sehingga secara teori cukup bawa satu lensa ini bisa dipakai apa saja. Lensa ini juga melengkapi koleksi lensa sapujagad Nikon lainnya yang lebih dulu populer yaitu AF-S 18-200mm.

Tinjauan fisik

Lensa sepanjang 12cm dan berbobot 830 gram ini termasuk lensa berukuran besar, bila dipadankan dengan kamera DSLR kecil maka tampak kurang proporsional, alias lebih besar lensa daripada kamera. Saat diletakkan di meja pun yang menyentuh meja adalah lensanya, bukan kameranya :)

d510018300

Didalam lensa besar ini ada 3 elemen lensa ED dan 3 elemen lensa aspheris, total berjumlah 19 elemen dalam 14 grup. Lensa berbahan plastik ini memakai diameter filter 77mm, dan memakai 9 bilah diafragma. Teknologi di lensa ini yang paling menarik adalah 4 stop VR dengan mode Active dan Normal. Selain itu ring manual fokus di lensa ini bisa diputar kapan saja, tak perlu harus menggeser tuas mode AF dulu.

switch

Ada juga kunci 18mm untuk mencegah lensa ini melorot kalau mengadap bawah. Terdapat jendela pengukur jarak dengan indikasi fokus minimum adalah 45cm, lumayan untuk kebutuhan close up. Di bagian bawah ada serial dengan tulisan kalau lensa ini dibuat di Thailand. Mount lensa tentu saja terbuat dari logam, namun tidak terdapat gelang karet untuk mencegah air seperti lensa kelas pro.

Rentang Fokal

Lensa ini didesain untuk mereka yang perlu satu lensa untuk segala kebutuhan, dari wideangle hingga telefoto. Seiring lensa di zoom, bagian depannya akan memanjang dari posisi terpendek (12cm) hingga terpanjang (22cm).  Putaran zoom terasa mantap, tidak terlalu longgar maupun berat. Indikator fokal ditandai dengan angka 18mm, 28mm, 50mm, 105mm, 200mm dan 300mm. Dari posisi 105mm ke 300mm putarannya sangat dekat, sepertinya lensa ini tidak ditujukan untuk memilih fokal yang presisi untuk telefotonya, cukuplah memilih 105mm, 200mm dan 300mm. Bukaan maksimal lensa ini adalah f/3.5 di 18mm, lalu menjadi f/4 di 28mm dan sudah mengecil sampai f/5.6 di 70mm.

zoom-18-300mm

Rentang fokal seluas ini menghindarkan kita membawa dua lensa, misal 18-55mm dan 55-300mm, atau 18-70mm dan 70-300mm. Dengan hanya satu lensa maka kita tidak membuang waktu untuk mengganti lensa dan mencegah debu masuk ke sensor. Perbedaan gambar yang dihasilkan antara fokal 200mm dan 300mm tidak terlalu signifikan, kita bisa juga lakukan cropping dari fokal 200mm kalau mau.

200vs300

Perhatikan gambar diatas yang menunjukkan perbedaan fokal 200mm dan 300mm dari lensa yang sama.

Kinerja

Untuk menilai kinerja lensa ini, kami menguji kemampuan VR dan fokusnya. Untuk kecepatan mencari fokus, kami rasakan lensa ini cukup cepat dan akurat, tapi tidak semantap fokusnya lensa Nikon kelas pro. Paling tidak kita bisa memutar ring manual fokus kapan saja, tanpa takut merusak mekanisme fokus didalamnya. Tidak ada elemen lensa yang maju mundur ataupun berputar saat kamera mencari fokus.

Lensa dengan klaim 4 stop VR ini kami uji memang memberi kinerja baik. Dengan VR diaktifkan, kami bisa dapatkan hasil tajam tanpa tripod di kecepatan 1/20 detik pada fokal 300mm.

vr-testing

Kualitas Optik

Bokeh

crop-asli

Lensa dengan fokal tele (diatas 100mm) bisa juga dinikmati bokehnya, meski bukaan maksimalnya hanya f/5.6 saja. Hal ini membuat lensa ini juga bisa menghasilkan bokeh yang lumayan bak lensa fix asal diputar ke posisi 200mm hingga 300mm.

Ketajaman dan kontras

crop-300mm

Lensa Nikon terkenal tajam, demikian juga dengan lensa 18-300mm ini. Pada bukaaan maksimal, lensa ini tajam dari fokal 18mm hingga 300mm, dengan titik terlemah adalah di 300mm (agak soft sedikit seperti crop foto diatas). Pada bukaan f/8 didapat ketajaman optimal. Soal kontras dan tone tidak ada masalah, hasil foto tampak natural dan warnanya akurat. Ditemui sedikit purple fringe di area kontras tinggi dan pada fokal wide.

Sampel foto (resolusi asli)

Sampel 1 :

1/500s, f/9, ISO 800, 300mm

Sampel 2 :

1/1250s, f/5.6, ISO 400, 300mm

Kesimpulan

Lensa yang nyaris ideal ini justru memiliki kelemahan dalam harga dan ukurannya. Harganya yang mahal dan bentuknya yang besar dan berat, membuat lensa 18-200mm masih lebih menarik dan perbedaan antara 200mm hingga 300mm hampir tidak kentara. Untuk mengatasi kekurangan jangkauan lensa, hasil foto 200mm pun bisa dicrop. Tapi bagi anda yang mencari pengganti kombinasi dua lensa, maka lensa 18-300mm ini tidak ada masalah dalam hal optik dan kinerja. Bagi anda yang dananya terbatas, dengan harga 1/3 dari lensa ini, anda juga bisa menjajal lensa tajam yaitu 18-105mm yang pernah kami review sebelumnya.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Review : Lensa Nikon AF-S 10-24mm f/3.5-4.5 DX

Sejak tahun 2003, Nikon sudah punya lensa zoom dengan format DX yaitu lensa 12-24mm f/4 yang tergolong kelas ultrawide. Sayangnya akibat crop factor 1,5 x, lensa ini punya fokal efektif 18-36mm yang buat kebutuhan fotografi wideangle masih kurang sedikit lebar. Dua tahun kemudian, Sigma meluncurkan lensa zoom ultrawide 10-20mm yang disusul dengan Tamron dan juga Tokina, sehingga membuat Nikon lantas merasa perlu melakukan penyegaran dengan meluncurkan lensa AF-S 10-24mm f/3.5-4.5 DX di tahun 2009 lalu.

10-24mm-2

Lensa seharga 8 jutaan ini punya fokal efektif yang setara dengan 15-36mm ekivalen 35mm. Dengan rentang fokal ini, bisa didapat cakupan gambar yang sangat lebar, cocok untuk berkreasi dengan berbagai perspektif dan sudut yang unik. Bukaan diafragma di lensa ini bertipe variabel, yang membuka maksimal f/3.5 di posisi paling wide dan mengecil hingga f/4.5 di posisi 24mm. Bukaan terkecil dari lensa ini adalah f/22. Tidak ada VR di lensa ini, karena fokal wide cenderung tidak perlu stabilizer, memakai speed lambat sampai 1/10 detik pun masih aman tanpa resiko blur.

d5100-10-24

Lensa AF-S 10-24mm ini punya motor fokus yang cepat, dan juga mampu mengunci fokus dengan jarak yang sangat dekat. Terdapat jendela pengukur jarak dengan indikator mulai dari 24 cm hingga infinity. Ring manual fokus bisa diputar kapan saja untuk melakukan pengaturan fokus. Lensa ini punya 2 elemen lensa ED dan 3 elemen lensa aspherical, 7 bilah diafragma dan diameter filter berukuran 77mm.

dsc_0046e

Dalam pengujian, lensa 10-24mm memberikan gambar yang tajam dan warnanya konsisten, serta kontras yang tinggi pada seluruh rentang fokal. Tidak ada keluhan yang berarti dalam kualitas optik lensa ini, ketajaman sudah bisa dirasakan pada bukaan terbesarnya dan akan lebih tajam saat bukaan dibuat sedikit lebih kecil. Pada bagian sudut pun hasilnya masih amat baik. Lensa ini juga punya karakteristik bokeh yang baik, apalagi bila obyek yang difoto berada dekat dengan kamera, maka latar belakang akan nampak sangat blur.

dsc_0059e

Sebagai lensa lebar, gambar yang dihasilkan tentu akan mengalami distorsi yang nyata. Karakteristik distorsi dari lensa ini adalah membuat garis-garis vertikal di bagian tepi menjadi miring sehingga bila memotret bangunan akan tampak mengecil ke atas. Pada fokal 15mm distorsi mulai berkurang dan pada fokal 24mm hasilnya tampak lebih natural. Kami rasa fokal 24mm ini sudah bisa dimanfaatkan untuk memotret sesuatu yang tidak boleh terlalu distorsi, misalnya potret wajah atau still life.

Kami tidak membandingkan lensa ini dengan lensa sejenis dari Tamron, Sigma maupun Tokina. Tapi saat kami review lensa Tokina 11-16mm tahun lalu, kami rasakan kualitas bodi memang Tokina terasa lebih kokoh dan mantap, apalagi bukaan Tokina konstan dan besar dengan f/2.8 dari fokal 11-16mm. Namun lensa Tokina 11-16mm tidak dilengkapi motor fokus sehingga tidak bisa auto fokus di kamera Nikon D5100 ke bawah. Soal kualitas optik, tentu Nikon masih paling baik dengan ketajaman dan konsistensi hasil yang menawan.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Nikon umumkan kehadiran DSLR D4 dan lensa AF-S 85mm f/1.8

Hari ini Nikon mengumumkan kehadiran dua produk baru mereka yaitu kamera DSLR flagship profesional format FX Nikon D4 dengan sensor 16.6 MP full frame dan lensa fix medium potret AF-S 85mm f/1.8 G (penerus AF-D 85mm f/1.8). Kamera Nikon D4 lebih menonjolkan kemampuan videonya, karena fitur fotografinya sudah sangat baik bahkan pada seri sebelumnya. Shutter D4 sudah teruji sanggup dipakai sampai 400 ribu kali memotret.

d4

Berikut fitur utama dari Nikon D4 :

  • sensor CMOS Full frame 16 MP
  • kemampuan burst 10fps dengan AF
  • modul metering, white balance, flash exposure, face detection dan active d-lighting dengan 91.000 piksel
  • ISO 100-12,800 (bisa diperlebar sampai 50 – 204,800)
  • modul auto fokus MultiCAM 3500FX dengan 51 titik (15 diantaranya cross type)
  • dua joystick dan tombol rana untuk memotret vertikal dan horizontal
  • MPEG-4, H.264 1080p 30 HD video dengan bitrate hingga 24Mbps
  • baterai baru EN-EL18 (21.6Wh sanggup sampai 2600 jepret sekali isi)
  • dua slot memori, satu CD dan satu lagi XQD
  • prosesor Expeed 3

d4rear

Lensa AF-S 85mm f/1.8 G

85mmf18

Nikon juga mengumumkan kehadiran penerus lensa AF 85mm f/1.8D yang tidak memiliki motor fokus dengan produk baru yaitu AF-S 85mm f/1.8 G yang tidak lagi memiliki ring diafragma manual. Lensa baru ini akan disukai oleh pecinta potret studio yang memiliki anggaran terbatas, namun bia mendapat hasil foto yang maksimal. Lensa ini akan dijual dibawah 5 juta rupiah.

Berminat?

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Nikon AF-S 40mm f/2.8 DX, lensa makro murah meriah baru

Nikon selama ini terkenal konsisten dalam membuat berbagai lensa baru dengan format DX, atau lensa yang dibuat khusus untuk kamera DSLR bersensor APS-C (non full frame) seperti D3000 hingga D300s. Untuk pecinta fotografi jarak dekat (makro), selama ini pemilik DSLR Nikon agak kesulitan dalam memilih lensa idaman karena harganya yang aduhai. Maka itu kehadiran lensa makro murah adalah laksana impian pemilik Nikon DX sejak dulu hingga kini.

afs-40dx

Di kelas full frame, Nikon sudah punya dua lensa makro yaitu AF-S 105mm VR f/2.8 (8 jutaan) dan AF-S 60mm f/2.8 (5 jutaan), keduanya termasuk lensa mewah dengan Nano Coating. Untuk kelas DX, sebelum ini Nikon hanya punya lensa makro AF-S 85mm VR f/3.5 (5 jutaan) yang fokalnya bisa dibilang mendekati fokal 105mm. Masalahnya Nikon belum punya lensa DX yang fokalnya mendekati fokal 60mm sampai akhirnya hari ini diumumkan kehadiran lensa DX terbaru dari Nikon yang bernama AF-S 40mm f/2.8 yang fokalnya ekivalen dengan 60mm. Kabar baiknya, lensa ini akan dijual di kisaran harga 2,5 jutaan saja, sehingga cocok dijadikan lensa kedua bagi yang baru saja punya DSLR dengan lensa kit.

afs-40dxcon

Lensa AF-S 40mm f/2.8 ini punya rasio reproduksi 1:1 dan jarak fokus minimum kurang dari 10 cm. Tidak seperti lensa makro sebelumnya, lensa kali ini berukuran cukup mungil dan sekilas mirip seperti lensa fix AF-S 50mm f/1.8 yang juga punya harga jual 2,5 jutaan. Soal bokeh juga berani diadu, meski secara bukaan maksimal lensa ini hanya f/2.8 saja dan hanya punya 7 blade diafragma. Di dalam lensa ini terdapat 9 elemen lensa dalam 7 grup, dimana Nikon sudah menerapkan teknik Close Range Correction (CRC) focusing dan Super Integrated Coating untuk mencegah flare. Bagian depan lensa ini bisa dipasang dengan filter 52mm, sementara juga masih di bagian depan terdapat ring manual fokus yang ukurannya pas, tidak terlalu kecil sehingga nyaman untuk dipakai. Sebagai info, manual fokus di lensa ini bisa dilakukan kapan saja berkat mode M/A yang fleksibel.

Sampel foto AF-S 40mm (sumber : Nikon)
Sampel foto AF-S 40mm (sumber : Nikon)

Kami memprediksi lensa ini akan jadi salah satu lensa favorit para pemula dan mereka yang punya dana terbatas. Lensa ini pun tidak hanya bisa dipakai buat makro saja, tapi cocok juga untuk potret, candid bahkan landscape.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Lensa Nikon 50mm f/1.8 kini dengan kode AF-S

Nikon boleh dibilang sangat terlambat dalam melakukan penambahan motor SWM di lensa populernya yaitu 50mm f/1.8 atau biasa disebut dengan lensa fix normal. Fokal 50mm sangat populer untuk foto potret, sedang f/1.8 sudah jadi favorit untuk dipakai di low light dan harganya jauh lebih murah daripada f/1.4. Tapi apapun itu, akhirnya Nikon mendapat apresiasi saat meluncurkan lensa AF-S 50mm f/1.8G yang secara desain mirip dengan AF-S 35mm f/1.8.

nikon-50mm-af-s

Meski bentuknya mirip, AF-S 50mm f/1.8 ini adalah lensa FX sedang AF-S 35mm f/1.8 adalah lensa DX. Artinya ini akan jadi kabar baik buat pemakai DSLR Nikon FX (full frame) maupun pemakai DSLR Nikon DX (APS-C) yang di kemudian hari berencana akan beralih ke format FX. Sebagai info, di format DX lensa ini akan setara dengan fokal 75mm yang sudah cenderung disebut dengan lensa tele.

Lensa AF-S 50mm f/1.8 ini memiliki 7 elemen dalam 6 grup, dengan satu elemen aspherik. Bukaan terkecil lensa ini adalah f/16 dengan kemampuan fokus terdekat di kisaran setengah meter. Cukup mengejutkan, lensa ini memiliki diameter filter 58mm karena produk sebelumnya (AF 50mm f/1.8D) memakai diameter filter 52mm (yang sudah punya filter 52mm harus beli filter lagi).

Terdapat ring manual fokus di bagian depan lensa ini yang bisa langsung diputar kapan saja untuk beralih dari mode auto fokus ke manual fokus. Bobot lensa ini cukup ringan yaitu 185 gram saja. Harga belum diketahui, mungkin di kisaran 3 jutaan rupiah.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Perbedaan prinsip kerja motor AF pada kamera DSLR

Seringkali kita kebingungan saat akan membeli kamera DSLR apalagi bila ini adalah kamera DSLR pertama kita. Berbagai artikel sudah dibaca, namun malah semakin bingung karena tiap kamera seolah adalah kamera yang terbaik. Belum lagi berbagai istilah dan spesifikasi teknis yang membingungkan membuat kita malah akhirnya tidak tahu bagaimana cara memilih kamera yang paling mudah. Disamping mengenali fitur dan keunggulan bermacam kamera, sebenarnya kita juga perlu mengenal perbedaan mendasar mengenai prinsip kerja sistem motor auto fokus sehingga bisa membantu kita untuk membuat keputusan.

Sebagai pembuka, kamera DSLR masa kini yang umum kita jumpai memiliki kesamaan diantaranya memakai sensor CMOS berukuran APS-C, resolusi antara 12-18 MP, sudah bisa merekam video dan dilengkapi dengan lensa kit. Soal kualitas hasil foto justru tidak perlu menjadi beban karena semua kamera DSLR sudah mampu memberi hasil foto yang sangat baik, noise rendah dan kinerja yang cepat. Lalu apa yang menjadi perbedaan prinsip dari beragam merk DSLR yang ada? Auto fokus dan kompatibilitas lensalah jawabannya.

Salah satu kenyamanan dalam memakai kamera DSLR adalah kecepatan dan akurasi auto fokusnya. Kerja auto fokus di kamera sebenarnya sama, yaitu adanya elemen optik yang berputar di dalam lensa untuk mencari fokus terbaik. Putaran pada elemen optik ini dimungkinkan berkat adanya motor fokus yang berukuran kecil. Masalahnya, dengan banyak dan beragamnya lensa DSLR yang ada di dunia ini, produsen terbagi dalam dua metoda dalam mendesain motor yaitu :

  • motor fokus di lensa
  • motor fokus di kamera

Bisa dibilang motor fokus di lensa adalah tren dan standar saat ini dan seterusnya. Adanya motor fokus di lensa membuat kamera DSLR tidak perlu memiliki motor fokus tersendiri, sehingga ukuran kamera bisa dibuat lebih kecil. Resikonya, ukuran lensa yang akan menjadi agak lebih besar karena perlu ruang untuk menyimpan motor. Motor di lensa dikendalikan dan ditenagai oleh baterai yang ada di kamera melalui pin kontak yang menghubungkan kamera dan lensa.

Sebaliknya, motor fokus di bodi kamera adalah warisan masa lalu, dipertahankan demi kompatibilitas lensa lama dengan kamera baru. Motor fokus di kamera terhubung ke lensa melalui semacam ‘obeng’ kecil yang menonjol di mount lensa dan ‘obeng’ ini bisa berputar menggerakkan elemen fokus di lensa (khususnya lensa lawas). Auto fokus semacam ini menghasilkan suara yang agak kasar dan kecepatan fokusnya juga kalah dibanding dengan motor di lensa.

Auto fokus DSLR Canon

Canon sejak meluncurkan sistem EOS di tahun 1987 memutuskan untuk menempatkan motor fokus pada lensa. Untuk itu semua DSLR Canon EOS tidak memiliki motor fokus di dalam bodinya. Canon mendesain dua jenis motor untuk setiap lensa Canon, yaitu motor biasa dan motor USM. Motor USM (Ultra Sonic Motor) hadir dengan teknologi tinggi yang lebih mahal, lebih cepat dan lebih halus. Maka itu lensa Canon USM lebih disukai karena kecepatan auto fokusnya. Perhatikan kalau lensa kit Canon umumnya tidak memakai motor USM sehingga pemilik DSLR Canon dengan lensa kit biasanya tergoda untuk mengganti lensanya di kemudian hari guna bisa merasakan kecepatan fokus sesungguhnya dari DSLR. Contoh lensa EF-S 18-135mm IS belum memiliki motor USM, namun lensa EF-S 17-85mm IS sudah dilengkapi dengan motor USM (contoh gambar di bawah).

canon-eos-50d17-85mm

Jadi berita baiknya adalah, kamera DSLR Canon EOS apapun akan bisa auto fokus dengan lensa EOS apapun, hanya kecepatan dan kinerja fokus terbaik didapat pada lensa USM yang relatif mahal.

Auto fokus DSLR Nikon

Nikon memiliki sejarah panjang dalam mempertahankan Nikon F-mount sejak 50 tahun silam. Artinya lensa Nikon apapun bisa dipasang di kamera DSLR Nikon, meski kompatibilitas auto fokus akan jadi masalah utama disini. Prinsip kerja auto fokus kamera SLR Nikon film sejak tahun 1986 memakai motor AF di bodi, sehingga lensa Nikon AF sudah didesain untuk bisa melakukan auto fokus bila diputar oleh motor fokus pada kamera. Barulah pada tahun 1998 Nikon membuat lensa dengan motor SWM (Silent Wave Motor) yang lensanya kemudian diberi kode AF-S. Bila lensa AF-S dipasang di kamera yang punya motor fokus, maka yang dipakai adalah motor di lensa. Transisi ini membuat Nikon memutuskan melakukan efisiensi desain sejak tahun 2006 saat meluncurkan Nikon D40, yaitu menidakan motor fokus di kamera. Sejak itu, kamera DSLR kelas entry-level dari Nikon tidak memiliki motor fokus. Kamera itu adalah : D40, D40x, D60, D3000, D3100 dan D5000. Kamera-kamera itu bekerja normal dengan lensa AF-S, namun bila dipasang lensa AF (tanpa motor) maka kamera tersebut hanya bisa manual fokus saja.

afmount

Kabar baiknya, Nikon menerapkan teknologi SWM pada seluruh lensa AF-S nya. Artinya, tidak seperti Canon yang hanya memberi motor USM pada lensa-lensa mahal saja, semua lensa Nikon AF-S bisa merasakan kecepatan auto fokus berteknologi modern yang cepat dan halus. Namun tentu saja, semakin murah lensanya maka semakin sederhana teknologi SWM yang diterapkan oleh Nikon. Maka itu pemilik DSLR Nikon dengan lensa kit (apalagi lensa kit D90/D7000 yaitu AF-S 18-105mm VR) bisa merasakan lensa AF-S dengan fokus cepat dan halus, namun kabar burukya pemilik DSLR Nikon entry level tidak bisa melakukan auto fokus bila memakai lensa Nikon AF yang dibuat sebelum tahun 1998.

Auto fokus DSLR Sony

Sony menjadi pemain yang sangat diperhitungkan sejak mengakuisisi Konica Minolta pada 2006 silam, dan tetap mempertahankan Minolta AF mount (sejak 1985) sebagai mount standar untuk DSLR Sony Alpha. Seperti halnya Nikon, Minolta telah terlanjur memakai auto fokus dengan motor di kamera. Maka itu auto fokus untuk semua lensa Minolta AF akan digerakkan oleh motor di kamera Sony. Sony sendiri ahirnya di tahun 2009 melakukan langkah serupa Nikon yaitu membuat lensa dengan motor fokus yang dinamai SAM (Smooth Autofocus Motor) seperti lensa kit DT 18-55mm f/3.5-5.6 SAM. Namun Sony sadar akan koleksi lensa SAM yang masih sedikit sehingga tidak begitu saja menghilangkan motor fokus di bodi kamera, sehingga kamera Sony Alpha tipe apapun tetap memiliki motor AF di dalamnya (dengan tanda ada tonjolan ‘obeng’ di bagian bawah mount seperti gambar di bawah). Kamera Sony Alpha tipe lama perlu melakukan upgrade firmware untuk bisa melakukan auto fokus memakai lensa SAM.

sony-mount

Catatan tambahan, Sony menjadi satu-satunya produsen DSLR yang inovatif dalam mencari terobosan auto fokus yang cepat saat live view dan saat merekam video. Maka itu beberapa kamera Sony Alpha didesain memiliki dua sensor untuk auto fokus cepat saat live view, dan memiliki cermin transparan untuk merekam video dengan auto fokus cepat seperti Sony A33 dan A55.

Auto fokus DSLR Pentax

Pentax dan Nikon memiliki kesamaan dalam sejarah fotografi yang panjang, meski Pentax kalah dalam jumlah koleksi lensanya. Namun lensa Pentax yang jumlahnya sedikit ini umumnya memiliki kualitas yang sangat baik dan cocok untuk outdoor. Pentax dengan K-mount sejak tahun 1975 berupaya mendesain sistem auto fokus yang berulang kali mengalami revisi hingga versi K-AF2 barulah dianggap versi standar auto fokus lensa Pentax yang digerakkan oleh motor di kamera. Maka itu seperti Nikon dan Sony, Pentax pun memiliki ‘obeng’ di bagian mount-nya.

pentax-17-70mm-f4-sdm

Seperti halnya Sony, Pentax akhirnya ikut terjun mendesain lensa dengan motor fokus bertenaga gelombang dengan meluncurkan lensa SDM (Silent Drive Motor) yang kerjanya lebih cepat dan lebih halus. Hanya ada sedikit lensa Pentax dengan tipe SDM, sehingga Pentax tetap mempertahankan motor fokus di kamera untuk seluruh kamera DSLRnya. Kamera Pentax sejak K100D dan K10D (dengan update firmware) bisa mengenali lensa SDM dan memutar motor fokus di lensa SDM tersebut. Lensa SDM sendiri tetap didesain untuk bisa kompatibel dengan motor fokus di bodi, kecuali lensa DA 17-70mm and DA* 55mm f/1.4.

Kesimpulan

Canon EOS menjadi satu-satunya pemain DSLR yang tidak memiliki motor fokus di bodi. Semua lensa Canon sudah memiliki motor AF sejak 1987 namun hanya sebagian yang memiliki motor USM. Di lain pihak, Nikon-Sony-Pentax masih mempertahankan adanya motor fokus di kamera guna bisa auto fokus dengan lensa lama. Nikon memutuskan menghilangkan motor fokus di kamera entry-level, namun dikompensasi dengan banyaknya pilihan lensa AF-S. Semua lensa AF-S Nikon sudah memakai motor SWM. Sony dan Pentax lebih bermain aman dengan membiarkan semua kameranya tetap memiliki motor fokus di bodi, sambil perlahan memperbanyak pilihan lensa dengan motor SAM (Sony) atau SDM (Pentax). Mengingat di masa depan semua lensa semestinya akan punya motor fokus, maka kamera masa depan rasanya tidak lagi perlu punya motor fokus. Mungkin Nikon (disusul Sony dan Pentax) perlahan akan mengikuti jejak Canon dengan mengandalkan auto fokus hanya pada lensa. Hal yang sama sudah berlaku di kubu kamera mirrorless seperti format micro Four Thirds (Olympus dan Panasonic), Samsung NX, Sony NEX yang semuanya mengandalkan motor AF di lensa.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Nikon hadirkan DSLR semi-pro penerus D90 : D7000

Hari ini Nikon merilis kamera DSLR kelas menengah baru yang bernama D7000. Kamera yang ditargetkan untuk menggantikan D90 yang begitu populer selama 2 tahun kebelakang ini kini dijual sedikit lebih mahal dengan harga 12 jutaan body only. Hadirnya Nikon D7000 ini bisa diduga adalah jawaban Nikon atas lahirnya Canon EOS 60D dimana keduanya berbagi kemiripan spesifikasi, punya harga jual yang sama dan sama-sama tergolong kamera semi profesional di kelas sensor APS-C. Nikon sendiri sejak hadirnya D5000 tampaknya sudah konsisten untuk menamai jajaran kamera DSLRnya dengan empat digit angka yang lebih aman untuk antisipasi penamaan kameranya hingga beberapa generasi mendatang.

Kalau sebelumnya Nikon mengejutkan pasar dengan membuat D3100 yang pertama memakai prosesor Expeed 2, 1080 HD video dan AF saat video, kini D7000 juga mengusung fitur serupa. Nikon D7000 ini sudah mengikuti tren dengan kemampuan merekam video berformat HD movie 1080p 24fps dengan auto fokus secara kontinu dan keleluasaan mengatur setting video secara manual. Namun andalan Nikon D7000 bukan cuma dalam hal video saja, justru sebagai kamera semi-pro D7000 lebih ditargetkan untuk memanjakan fotografer yang serius menekuni hobi fotografi dengan sederet fitur kelas atas dengan harga yang masih cukup terjangkau.

Berikut fitur dasar dari Nikon D7000 :

  • sensor 16.2 MP, CMOS, APS-C (format DX, crop factor 1.5x)
  • ISO 100-6400, bisa dipaksa hingga ISO 25.600
  • LCD 3 inci resolusi VGA, 920 ribu piksel
  • burst 6 fps (tidak bertambah cepat bila memakai baterai grip MB-D11)
  • usia shutter teruji hingga 150 ribu kali
  • shutter 30-1/8000 detik, max flash sync 1/250 detik (1/320 detik untuk FP)
  • weather proof, magnesium alloy body
  • kemampuan untuk wireless flash commander
  • pentaprisma, 100% finder coverage, 0.94x
  • dual SD slot
  • Multi-CAM 4800DX, 39 titik AF (9 diantaranya cross type), 3D AF tracking, fine tune AF
  • 2016 pixel AE metering (pertama dalam sejarah Nikon)
  • prosesor Expeed 2
  • pilihan 12 bit atau 14bit RAW
  • Quiet shutter release
  • HD movie, 1080p – 24fps, 720p – 30fps, H.264 codec
  • AF saat video, maksimum rekam 20 menit
  • virtual horizon
  • EN-EL15 baterai Lithium (baru)
  • paket body only (12 juta) atau dengan lensa kit AF-S 18-105mm VR (15 juta)

Ditinjau dari spesifikasi di atas nampak kalau hampir untuk semua aspek terdapat peningkatan signifikan dibanding D90, bahkan menyerupai fitur pada D300. Maka itu rasanya wajar bila pemilik D90 pun bakal tergoda untuk upgrade ke D7000 ini. Bodi kamera ini sepintas masih mirip dengan D90 dengan perbedaan adanya tombol khusus untuk live-view dan movie (persis seperti pada D3100).  Nikon D7000 punya tata letak tombol sebelah kiri yang sama seperti D90 yaitu untuk mengakses MENU, WB, ISO, dan QUALity. Namun pada D7000 disediakan tombol putar untuk mengakses mode pemotretan S, CL, CH seperti pada D300 (tombol putar semacam ini tidak ada di D90). Pada mode dial D7000 tidak lagi diberikan beberapa Scene Mode seperti Landscape, Macro dsb. Sebagai gantinya, tersedia satu pilihan Scene Mode, dua User Profile yang bisa disimpan (U1 dan U2) untuk menemani mode P, A, S, M dan AUTO.

D7000 ini bisa jadi membuat orang yang tadinya berencana membeli  kamera DSLR profesional D300s jadi berpikir dua kali, apalagi soal ISO dan modul metering D7000 justru lebih unggul dari D300s. Namun meski demikian dalam beberapa aspek D7000 ini masih belum secepat dan selengkap D300s, misalnya ketiadaan tombol langsung AF-ON dan tanpa selektor mode metering dan focus area yang memudahkan. D300s juga punya burst yang lebih cepat yang diperlukan oleh para jurnalis dan profesional lainnya.

Di saat bersamaan Nikon juga meluncurkan :

  • lensa fix lebar yang cepat : AF-S 35mm f/1.4 (17 jutaan)
  • lensa tele fix yang cepat : AF-S 200mm f/2.0 VR (60 jutaan)
  • lampu kilat baru SB-700 (3 jutaan)
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Rumor lensa Nikon : AF-S 16-35mm dan AF-S 100-500mm

Rumor akan produk kamera DSLR dan lensa baru memang menarik untuk diikuti, terlepas apakah rumor itu nantinya akan jadi kenyataan atau tidak. Demikian juga rumor yang membahas prediksi lensa DSLR seperti Canon atau Nikon selalu mendapat respon dari banyak fotografer. Adakalanya rumor hanya sekedar rumor, namun sering juga rumor benar-benar menjadi kenyataan karena adanya ‘kebocoran’ informasi dari sumber yang ‘bisa dipercaya’. Apakah rumor dua lensa baru dari Nikon ini akan menjadi kenyataan?

Rumor : lensa wide AF-S 16-35mm f/4G VR

Rumor ini menurut kami amat menarik. Pertama, karena Nikon jarang  punya lensa zoom dengan bukaan konstan f/4. Kedua, inilah versi murah dari lensa wide legendaris AF-S 17-35mm f/2.8 yang diidamkan oleh berjuta fotografer landscape di dunia. Bila lensa ini menjadi kenyataan, pemakai DSLR Nikon FX seperti D700 dan D3 akan merasakan kepuasan memotret dengan fokal ultra wide 16mm dengan bukaan konstan f/4 dan sebaagaai bonus tersedia fitur VR yang tidak umum dijumpai di lensa wide semacam ini. Bila pemilik Nikon DX ingin memiliki lensa ini, maka perlu diingat kalau karena crop factor format DX, maka fokal lensanya akan setara dengan 24-55mm sehingga agak tanggung (untuk wide kurang, untuk tele juga kurang). Meski berjenis lensa G yang terkesan bukan lensa profesional, tapi rumornya lensa 16-35mm ini dilengkapi dengan Nano crystal coating untuk ketajaman tak tertandingi. Berminat?

Rumor : lensa super tele AF-S 100-500mm f/4-5.6G VR III

Rumor kedua ini pun unik dan menarik karena dua hal, pertama karena diperkenalkannya VR generasi ke III (hingga 5.5 stop); dan kedua, gambar lensa ini beserta brosur lengkapnya sudah ada di flickr (tentu saja bukan resmi dari Nikon). Lensa super tele semacam ini terlihat ramping dan kompak karena memakai diafragma kecil, f/4-5.6 atau lensa lambat. Lagi-lagi lensa ini didesain untuk format Nikon FX, meski pemilik Nikon DX tentu lebih tertarik akan hadirnya lensa ini karena lensa 100-500mm ini akan memberikan fokal yang lebih panjang  di format DX, yaitu 150-750mm (wow..!). Bila rumor ini benar, maka tampaknya lensa Nikon yang sekarang ada, AF 80-400mm f/4.5-5.6 VR bakal segera diskontinu. Percaya atau tidak, namanya juga rumor..

Rumor semacam tadi bisa merebak karena adanya bocaoran dari sumber tertentu yang bisa dipercaya, atau hanya kerjaan orang iseng yang mengolah digital lensa yang ada lewat Photoshop. Namun apapun itu, setiap rumor selalu menarik untuk diikuti bukan?

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..