Aperture, bukaan, f-number, diafragma : apakah sama?

Salah satu komponen penting dalam eksposur yang punya banyak penyebutan adalah aperture, atau bukaan, atau diafragma, dan dinyatakan dalam f number. Berbeda dengan shutter speed dan ISO, aperture ini cukup rumit dan sulit dimengerti, baik arti definitifnya maupun dampaknya dalam terang gelap foto. Bahkan pemula kerap terbalik antara angka f number dengan besarnya bukaan lensa ini. Kami coba susun artikel untuk anda, semoga bisa lebih paham akan fundamental fotografi yang satu ini. Untuk definisi dan penjelasan istilah-istilah fotografi lebih lengkap tersedia buku Kamus Fotografi yang kami buat, tersedia di toko buku terdekat.

Pendahuluan

Fotografi pada dasarnya menangkap cahaya, merubahnya menjadi gambar. Tidak ada cahaya, maka tidak ada foto (hitam total), terlalu banyak cahaya, foto menjadi over (bahkan bisa jadi putih total). Tugas kita, atau kamera (bila pakai mode Auto) adalah mengatur banyaknya cahaya yang masuk supaya didapat eksposur yang tepat, dengan mengatur tiga hal : lamanya shutter dibuka (shutter speed atau kecepatan rana), sensitivitas sensor (atau film) dalam satuan ISO (atau ASA) dan besarnya bukaan di lensa, yaitu aperture.

Jadi, aperture adalah lubang yang menjadi jalan masuknya cahaya dari lensa menuju sensor kamera.

Aperture ini adanya di lensa, maka itu kerap disebut bukaan lensa (lens opening). Jadi setiap lensa kamera punya aperture, bahkan kamera ponsel sekalipun (pada mata manusia biasa disebut pupil). Karena fungsinya untuk mengatur banyaknya cahaya yang masuk maka aperture harus bisa diatur bukaannya (bayangkan seperti membuka keran air, mau dibuka besar atau kecil). Aperture yang dibuka besar, maka foto akan jadi terang. Dibuka kecil, foto jadi gelap. Simpel kan?

aperture

Contoh kiri atas adalah aperture lensa dibuka besar, lalu kanan atas adalah contoh aperture lensa dibuka kecil. Bagaimana aperture bisa dibuat besar atau kecil? Dengan menyusun sejumlah (bisa 5, 7, 9 atau lebih) bilah (blade) diafragma sehingga membentuk lingkaran seperti di bawah ini :

blade

Contoh diatas adalah diafragma yang dibentuk oleh 7 bilah dan sedang dalam posisi membuka cukup kecil. Pada mata manusia, diafragma biasa disebut juga dengan iris.

F-number

Dalam fotografi terang gelap foto selalu diatur dalam kelipatan 1 stop. Menambah 1 stop artinya foto kita akan 2x lipat lebih terang. Pengaturan bukaan lensa mengikuti teori F-number yang baku seperti ini :

aperture-sizes

Perhatikan kalau f/2.8 termasuk bukaan besar, dan pada f/16 bukaan lensa menjadi sangat kecil. Kita bisa merubah/mengganti berapa F-number yang mau kita pakai dengan memutarnya di lensa (untuk lensa-lensa lama) atau memilih melalui kamera. Saat merubah angka-angka ini ingatlah : (asumsi ISO dan shutter speed tetap)

  • dari f/2.8 ke f/4 artinya turun 1 stop, foto akan lebih gelap
  • dari f/8 ke f/4 artinya naik 2 stop, foto akan jauh lebih terang

Deret yang lebih lengkap sebenarnya adalah begini :

f/1.4 – f/2 – f/2.8 – f/4 – f/5.6 – f/8 – f/11 – f/16 – f/22 – f/36

Anda tidak harus menghafal angka-angka diatas, cukuplah mengingat hubungan angka dengan besar kecilnya bukaan supaya tidak tertukar.

Bila anda termasuk yang penasaran dari mana angka-angka F-number diatas berasal, jawabannya ternyata cukup matematis, melibatkan rumus akar dan kuadrat. Rasanya tidak perlu lah dibahas disini..

Kita akan luruskan beberapa hal-hal yang mungkin masih membingungkan :

  • setiap lensa punya bukaan maksimal yang berbeda-beda, misal ada yang f/1.4 dan ada yang cuma f/4
  • walaupun bukaan maksimal tiap lensa itu berbeda, tapi setiap lensa bisa dikecilkan bukaannya sampai bukaan minimum (paling kecil lubangnya)
  • lensa cepat maksudnya lensa yang punya bukaan besar (karena dengan bukaan besar bisa didapatkan shutter speed yang lebih cepat)
  • huruf ‘f’ dalam bukaan lensa ini singkatan dari focal length (alias panjang fokal lensa), misal bila kita pilih f/4 artinya diameter bukaan (lubang) lensanya adalah 1/4 dari panjang fokal lensanya, penjelasan lebih detilnya seperti ini :

Setiap lensa punya panjang fokal tertentu. Kita ambil contoh yang gampang misalnya lensa tele 100mm. Maka, bila kita set bukaan lensa 100mm ini ke f/4, diameter bukaan lensanya adalah 1/4 dari 100mm, atau 25mm (atau 2,5 cm). Inilah mengapa lensa tele punya ‘moncong’ yang besar, apalagi kalau lensa tersebut punya bukaan f/2.8.

lens-f-number-2

Kita coba bandingkan dua lensa yang sama-sama f/2.8 tapi beda fokal lensa :

  • lensa 50mm f/2.8 punya diameter lubang 17.8mm (tidak sampai 2 cm)
  • lensa 200mm f/2.8 punya diameter lubang 71.4mm (7 cm lebih)

Contoh aktual :

tamron-17-50mm
Lensa 17-50mm f/2.8 masih cukup kecil ukurannya
Lensa pro 70-200mm f/2.8 besar, panjang dan diameter lubangnya juga besar
Lensa pro 70-200mm f/2.8 besar, panjang dan diameter lubangnya juga besar

Jadi..

secara fisik, kedua lensa diatas walau sama-sama f/2.8 pasti berbeda ukuran lubangnya TETAPI karena sama-sama f/2.8 maka kedua lensa punya kemampuan yang sama dalam memasukkan cahaya. Dengan kata lain, kedua lensa bila dipakai di f/2.8 dan dites dengan ISO dan shutter speed yang sama maka akan menghasilkan foto yang eksposurnya SAMA. Kok bisa? Waduh ini lebih rumit lagi penjelasannya. Sederhananya begini : semakin tele/panjang fokal lensa, sebetulnya semakin panjang juga bentuk fisik lensanya (jadi seperti tabung) yang menyebabkan kemampuan menangkap cahaya menjadi berkurang, sehingga dibutuhkan diameter lubang yang lebih besar untuk mengimbanginya.

Konsekuensi ini membawa dampak pada besarnya ukuran fisik lensa secara keseluruhan, dan juga diameter filter yang akan dipasang di depan lensa. Maka itu pemakai lensa-lensa tele sudah akrab dengan filter yang diameternya besar (dan mahal) seperti 72mm, 77mm atau 82mm.

Dengan begitu lupakanlah hasrat untuk mencari lensa yang fokalnya bisa panjang, bukaannya juga besar dan mau yang ukuran lensanya kecil, tidak akan pernah ada (kecuali kamera saku karena sensornya juga kecil).

Sigma 200-500mm f/2.8 punya diameter bukaan 17.9 cm, kira-kira lubangnya seukuran piring makan kita
lensa Sigma 200-500mm f/2.8 punya diameter bukaan 17.9 cm, kira-kira lubangnya saja seukuran piring makan kita..
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Begini cara membaca spesifikasi lensa kamera DSLR

Membaca spesifikasi lensa kamera DSLR (atau kamera mirrorless) bisa jadi bikin sebagian orang kebingungan, karena istilah dan angka-angka yang tidak familiar. Padahal supaya lensa bisa memberi hasil yang optimal kita perlu tahu kelebihan dan kekurangannya, dan untuk memastikan tidak salah beli juga. Artikel kali ini akan menjelaskan cara membaca spesifikasi lensa kamera supaya makin paham, yuk disimak..

Nikon AF-S 35mm f/1.8
Nikon AF-S 35mm f/1.8

Baru-baru ini Nikon meluncurkan sebuah lensa bernama AF-S 35mm f/1.8G dengan spesifikasi sebagai berikut :

Lens type Prime lens
Max Format size 35mm FF
Focal length 35 mm
Image stabilisation No
Lens mount Nikon F (FX)
Maximum aperture F1.8
Minimum aperture F16.0
Aperture ring No
Number of diaphragm blades 7
Aperture notes rounded
Elements 11
Groups 8
Special elements / coatings 1 ED glass element, 1 aspheric element
Minimum focus 0.25 m
Autofocus Yes
Motor type Ring-type ultrasonic
Full time manual Yes
Distance scale Yes
DoF scale Yes
Weight 305 g
Diameter 72 mm
Length 72 mm
Filter thread 58 mm
Hood supplied Yes
Hood product code HB-70
Tripod collar No

Penjelasan

Nah bagi anda yang masih awam soal lensa mungkin akan kesulitan untuk memahami makna istilah dan angka-angka di spesifikasi diatas. Kita akan coba ulas sebagian, kami pilihkan yang pentingnya saja.

Tipe lensa : prime

prime artinya lensa fix, tidak bisa dizoom, misal fix 35mm, fix 50mm, fix 85mm dsb

Focal length : 35mm

Angka 35mm berkaitan dengan panjang fokal lensa dalam milimeter, menentukan bidang gambar yang akan terbentuk (wide atau tele), untuk lensa zoom angka focal length akan ditampilkan dari fokal terdekat hingga terjauh, misal 18-55mm, 70-300mm dan sebagainya

Lens mount : Nikon F

lensa ini hanya bisa dipasang di kamera Nikon dengan F-mount, tidak bisa dipasang di kamera selain Nikon (kecuali dengan menambah adapter), untuk yang pakai kamera Canon namanya EF mount, Sony itu A mount, Pentax pakai K mount dsb

Max aperture : F1,8

menunjukkan bukaan diafragma terbesar yang lesa ini bisa capai (berkaitan dengan banyaknya cahaya yang bisa masuk ke kamera, supaya foto bisa lebih terang), jangan harap lensa ini bisa membuka ke F1.4 demikian juga yang punya lensa dengan bukaan maksimum F3,5 jangan berharap lensanya bisa membuka sampai F2,8 dong..

Min aperture : F16

menunjukkan bukaan minimum, lensa ini hanya bisa sampai F16 dan tidak bisa mengecil sampai F22 seperti lensa lain, tapi dalam banyak pemakaian F16 sudah dirasa cukup

Aperture ring : 7

artinya desain aperture di lensa ini dibentuk dari 7 bilah diafragma, lensa itu biasanya tersusun antara 5-9 bilah diafragma, semakin banyak maka bentuk bokehnya akan semakin bulat

Minimum focus : 0.25m

artinya lensa ini baru bisa fokus kalau objeknya paling tidak berjarak 25cm dari focal plane (dari sensor kamera) atau kira-kira 20cm dari ujung lensa

Distance scale : Yes

artinya di lensa ini ada jendela penunjuk jarak fokus, berguna untuk manual fokus maupun bila kita ingin tahu berapa jauh jarak obyek yang difoto (dalam meter), angka yang tertulis berkisar dari jarak minimum hingga infinity (tak terhingga)

Filter thread : 58mm

ini menunjukkan diameter lensa secara fisik, berkaitan dengan ukuran filter yang akan dipasang, biasanya dari 52mm, 58mm, 62mm, 67mm, 72mm, 77mm dan 82mm, makin besar diameternya maka harga filternya akan makin mahal

Tripod collar : no

lensa yang diberi tripod collar biasanya lensa yang besar dan berat, jadi tripod atau monopod bisa dipasang di lensa (bukan di bodi) supaya lebih seimbang dan tidak resiko jatuh ke depan (untuk tripod)

Di lensa lain ada juga istilah dan spesifikasi yang bisa membuat bingung seperti :

  • reproduction ratio : antara 1:1 hingga bervariasi, misal 1:2, 1:4 dsb menunjukkan kemampuan makro lensa, untuk makro idealnya 1:1 tapi kalau lensa yang bisa 1:2 sudah bagus juga untuk belajar makro
  • IS/OS/VR menyatakan fitur peredam getar di lensa, fitur ini bisa dimatikan saat di tripod, atau saat pakai shutter speed tinggi, atau untuk menghemat baterai kamera
  • focus limit : membatasi jarak fokus lensa, dipilih sesuai kondisi supaya kamera bisa memfokus lebih cepat (fitur ini hanya ada di beberapa lensa khusus)
  • kode-kode lensa APS-C seperti Canon EF-S, Nikon DX, Sigma DC itu artinya lensa khusus kamera sensor APS-C, tidak untuk dipakai di full frame
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Mengatur Eksposur : antara cara otomatis dan manual

Banyak yang bilang memotret pakai kamera digital itu mudah, tidak perlu paham teori fotografi pun kita bisa mendapatkan foto yang bagus. Sebaliknya dulu jaman awal ada kamera film, pemakainya harus memahami eksposur dengan dimulai dari memilih jenis ASA film, memakai kecepatan rana berapa dan bukaan lensa berapa. Kalau salah, foto yang dihasilkan bisa terlalu terang atau malah terlalu gelap. Pendapat demikian memang benar, tapi apakah kita selalu pasrah pada kamera kita setiap saat kita memotret? Tentu kita perlu memahami juga dasar eksposur sehingga bisa menentukan kapan waktunya membiarkan kamera yang mengatur semuanya untuk kita, dan kapan waktunya kita yang harus mengambil alih pengaturan eksposur tersebut.

Sebelum kami ulas lebih jauh, secara singkat eksposur itu dikendalikan oleh tiga elemen pokok :

  • kecepatan rana (shutter speed)
  • bukaan lensa (aperture/diafragma)
  • sensitivitas sensor (ISO)

Kebanyakan kamera digital mengatur ketiganya secara otomatis, tanpa perlu campur tangan pemakainya. Tidak banyak kamera digital yang membolehkan pemakainya mengatur tiga komponen di atas secara bebas, kalaupun ada umumnya hanya bisa mengatur nilai ISO. Kamera yang lebih serius, dan tentunya semua kamera DSLR memang lebih membebaskan pemakainya untuk berkreasi sesukanya dan mengatur semuanya secara manual. Pertanyaannya, apakah saat ini masih dibutuhkan pengetahuan kita untuk mengatur kamera secara manual disaat kamera modern kini semakin canggih dan bisa memberi hasil yang baik dengan mode otomatis?

Seputar metering

Tahukah anda apa yang menjadi rahasia mengapa kamera dengan mode otomatisnya itu seakan begitu cerdas bisa menghasilkan foto yang eksposurnya tepat (tidak terlalu terang dan tidak terlalu gelap) meski dipakai dalam berbagai kondisi pencahayaan, baik terang maupun redup? Rahasianya adalah suatu proses yang dinamakan METERING, sebuah proses matematika rumit yang terjadi di dalam prosesor kamera, hanya berlangsung sepersekian detik dan proses ini dialami semua kamera digital dari kamera DSLR sampai kamera ponsel.  Dari hasil perhitungan tadi ditentukanlah tiga komponen eksposur yaitu shutter, diafragma dan ISO. Metering, sesuai namanya, artinya adalah pengukuran. Dalam hal ini yang diukur tentu adalah cahaya yang masuk ke dalam sensor kamera. Tujuannya supaya didapatkan eksposur yang tepat, setidaknya menurut kamera.

Lalu apa salahnya proses diatas? Simpel saja, tidak setiap saat kamera berhasil menentukan eksposur yang tepat. Ada hal-hal khusus yang membuat kamera gagal melakukan pengukuran cahaya. Ingat kalau cahaya yang masuk ke dalam kamera pada intinya adalah cahaya yang datang dari objek, bukan cahaya yang mengenai objek. Cahaya yang mengenai objek namanya incident light sedang yang dipantulkan oleh objek namanya reflected light.

Ilustrasi pengukuran cahaya

Bukankah keduanya sama? Tidak. Ingat kalau tiap benda punya sifat yang berbeda dalam memantulkan cahaya. Kamera didesain untuk bekerja optimal bila melakukan metering terhadap benda yang punya koefisien pantul sekitar 18% atau biasa disebut medium gray. Bila metering dilakukan pada benda yang sangat menyerap cahaya atau sangat memantulkan cahaya, maka metering akan meleset. Benda yang menyerap cahaya diantaranya benda yang berwarna hitam, seperti kain hitam. Sedangkan yang memantulkan seperti kaca, air, benda dari logam dan sebagainya. Setidaknya kita harus tahu sebelum memotret benda-benda yang berpotensi menyerap atau memantulkan cahaya, bahwa ada kemungkinan kamera akan salah dalam menentukan eksposur yang tepat.

Bicara soal eksposur yang tepat menurut kamera, mungkin anda akan penasaran bagaimana kamera bisa memiliki acuan atau standar atau referensi saat menentukan eksposur? Mari kita sederhanakan dulu logika metering. Bayangkan sebuah dunia hitam putih seperti gambar di atas dimana warna hitam itu mewakili gelap, warna putih mewakili terang dan warna abu-abu berada di tengah-tengah. Logika metering akan menyatakan kalau foto dengan eksposur normal adalah yang berada diantara hitam dan putih, alias abu-abu. Jadi apapun yang diukur oleh kamera, prosesor di dalamnya akan mengarahkan pengaturan shutter, apertur dan ISO supaya foto akan memiliki 0 Ev dengan acuan abu-abu tadi.

metering_1

Lebih detilnya bisa dijelaskan seperti ini. Dalam merancang sistem algoritma metering kamera, produsen kamera membuat sistem pembagian wilayah pengukuran cahaya (zona/segmen) untuk mendapatkan sampel informasi terang gelap dan memakai teknik perata-rataan dari hasil pengukuran (averaging), dimana masing-masing zona itu diukur terang gelapnya lalu dilakukanlah proses perata-rataan. Ada beberapa metode metering yang disediakan kamera untuk kita pilih, yaitu Matrix/Evaluative, Center Weighted dan Spot. Umumnya dalam mayoritas pemakaian normal metode  Matrix/Evaluative lebih sering dipakai, karena dengan ini eksposur yang tepat didapat dari perata-rataan seluruh bidang foto sehingga hasilnya akan menjadi middle gray atau middle tone. Bila hanya ingin melakukan pengukuran di sebuah titik kecil, bisa gunakan Spot metering sehingga kamera akan mengukur di sebuah titik kecil dan tidak peduli apakah area di luar titik itu terang atau gelap, yang penting titik itu bisa menjadi sebuah middle tone.

Namun bahayanya disini, misalnya kita mengukur cahaya yang dipantulkan dari benda yang dominan hitam (katakanlah orang hitam berbaju hitam dengan latar dinding yang hitam), maka kamera akan menganggapnya sebagai perwujudan dari kondisi gelap, dan kamera akan menaikan eksposur sehingga si orang hitam ini jadi abu-abu. Yang terjadi selanjutnya, foto yang dihasilkan akan meleset dalam hal warna karena tujuan kita mendapat foto yang serba hitam tadi menjadi foto abu-abu.

Demikian juga sebaliknya, bila objek foto begitu dominan akan warna putih (misal beruang putih di padang es kutub utara), saat diukur oleh kamera maka kamera menyangka objek dihadapannya terlalu terang, dan kamera akan menurunkan eksposur sehingga beruang putih ini menjadi abu-abu. Kalau tidak percaya boleh buktikan sendiri. Dalam mode auto, fotolah benda berwarna hitam total atau putih total dan lihat apakah warna akhirnya?

Jadi metering kamera berpotensi gagal saat memotret dalam kondisi tidak umum seperti banyak memantulkan cahaya, banyak warna hitam atau putih. Metering juga akan salah bila kita ingin mengambil foto yang dramatis seperti sunset atau matahari terbenam.

Bila metering kamera tidak memberikan foto dengan eksposur yang sesuai keinginan kita, ada dua hal yang bisa kita lakukan. Cara termudah adalah lakukan kompensasi eksposur. Metoda ini cukup simpel dan bisa dilakukan di segala macam kamera termasuk kamera ponsel. Caranya dengan menaikkan Ev ke arah positif untuk lebih terang dan ke arah negatif untuk lebih gelap. Namun ada cara lain yang lebih sulit tapi menantang, sekaligus melatih kemampuan kita dalam menentukan eksposur yang tepat, yaitu dengan cara manual.

Kendali eksposur secara manual

Dalam mengatur eksposur secara manual, bukaan diafragma dan kecepatan shutter memegang peranan utama dalam menentukan nilai eksposur. Diafragma menentukan seberapa banyak intensitas cahaya yang dibolehkan untuk masuk ke kamera secara bersamaan, sementara kecepatan shutter menentukan seberapa lama cahaya mengenai sensor sebelum foto diambil. Sebagai pedoman dalam fotografi, dikenal istilah f-stop, yang intinya menyatakan seberapa banyak penambahan atau pengurangan intensitas cahaya yang memasuki kamera (Exposure value/Ev). Setiap kelipatan 1-stop artinya kita menambah cahaya dua kali lipat dari nilai stop sebelumnya, atau mengurangi cahaya setengah dari nilai stop sebelumnya.

Pengaturan bukaan diafragma

Untuk dapat mengatur banyak sedikitnya cahaya yang masuk melalui lensa, diafragma pada lensa kamera bisa membuka dengan besaran diameter yang bisa dirubah. Besar kecilnya bukaan diafragma dinyatakan dalam f-number tertentu, dimana f-number kecil menyatakan bukaaan besar dan f-number yang besar menyatakan bukaan kecil. Selain itu, secara karakteristik optik lensa, bukaan besar akan membuat foto yang DOFnya sempit (background bisa blur), dan bukaan kecil akan membuat DOF lebar (background tajam). Untuk itu pengaturan diafragma membawa dua keuntungan sekaligus, yaitu mengatur intensitas cahaya yang masuk sekaligus mengatur kesan blur dari sebuah background.

Saat mengatur nilai diafragma (aperture), ingatlah bahwa setiap stop ditandai dengan nilai f-number tertentu yang digambarkan dalam deret berikut, urut dari yang besar hingga kecil  :

bukaan semakin besar << f/1.4 – f/2 – f/2.8 – f/4 – f/5.6 – f/8 – f/11– f/16 – f/22 >> bukaan semakin kecil

Sebagai contoh :

  • jika kita berpindah 1-stop dari f/2 ke f/2.8, maka kita akan mengurangi setengah intensitas cahaya yang masuk ke kamera
  • jika kita berpindah 1-stop dari f/8 ke f/5.6, maka kita akan menambah intensitas cahaya yang masuk ke kamera dua kali lipat dari sebelumnya

Perhatikan kalau kamera modern umumnya memberi keleluasaan untuk merubah diafragma di skala yang lebih kecil, dalam hal ini perubahan f-stop dilakukan pada kelipatan 1/2 hingga 1/3 f-stop sehingga bisa didapat banyak sekali variasi eksposure yang bisa didapat dari mengatur nilai diafragma. Sebagai contoh, diantara f/5.6 hingga f/8 bisa terdapat f/6.3 dan f/7.1 yang memiliki rentang 1/3 stop.

Pengaturan kecepatan shutter

Sama halnya dengan diafragma, setelan kecepatan shutter pun punya pedoman berupa deret yang mewakili 1-stop. Kecepatan buka tutupnya shutter ini dinyatakan dalam satuan detik dan bisa diatur dari sangat cepat (misal 1/8000 detik) hingga sangat lambat (bisa sampai 10 detik). Bila cahaya yang masuk ke kamera sangat banyak, gunakan shutter yang cepat, dan sebaliknya bila sedikit cahaya bisa gunakan shutter lambat. Tapi berhati-hatilah saat memakai shutter lambat karena berpotensi membuat foto yang tidak tajam karena getaran tangan atau obyek yang difoto bergerak.

Berikut adalah variasi kecepatan shutter dengan kelipatan 1-stop, urut dari yang lambat hingga yang cepat ( d =  detik ) :

shutter semakin lambat << 1d – 1/2d – 1/4d  – 1/8d – 1/15d – 1/30d – 1/60d – 1/125d – 1/250d – 1/500d –1/1000d >> shutter semakin cepat

Sebagai contoh :

  • jika kita berpindah 1-stop dari 1 detik ke 1/2 detik, maka kita akan mengurangi setengah intensitas cahaya yang masuk ke kamera
  • jika kita berpindah 1-stop dari 1/60 detik ke 1/30 detik, maka kita akan menambah intensitas cahaya yang masuk ke kamera dua kali lipat dari sebelumnya

Pengaturan ISO

Sebagai komponen pelengkap, sensitivitas sensor atau ISO juga memegang peranan dalam menentukan eksposur, terutama bila kita sudah tidak lagi bisa merubah shutter dan apertur karena alasan tertentu. Umumnya terjadi saat dalam kondisi kurang cahaya, kita tidak ingin memilih kecepatan shutter yang terlalu lambat karena takut goyang, atau kita tidak bisa membuka diafragma lensa lebih besar lagi (karena keterbatasan lensa) maka bisa diupayakan dengan menaikkan ISO. ISO pun memiliki kelipatan dimana setiap kelipatan ISO dua kalinya maka akan menaikkan eksposur 1 stop.

Rentang ISO adalah seperti deret di bawah ini (makin tinggi makin sensitif terhadap cahaya, tapi hasil foto semakin noise) :

ISO 50 – 100 – 200 – 400 – 800 – 1600 – 3200 – 6400 – 12800 – 25600

Untuk itu kebanyakan nilai ISO yang dipilih adalah yang di angka kecil supaya hasil fotonya rendah noise, tapi bila terpaksa ISO bisa dinaikkan sampai batas tertentu untuk mendapat eksposur yang diinginkan.

Kesimpulan

Dengan semakin canggihnya teknologi kamera jaman sekarang, metering menjadi hal yang tidak perlu kita risaukan. Dalam mode auto, kamera bertugas dengan sangat baik dalam menjamin hasil foto yang dibuatnya akan memiliki eksposur yang tepat. Namun sebagai pemakai kamera, tidak boleh juga kita sepenuhnya pasrah pada nilai eksposur yang diberikan oleh kamera. Kenali keterbatasan kamera saat kita berhadapan dengan situasi tidak umum seperti obyek yang sangat memantulkan atau sangat menyerap cahaya, terlalu kontras dan terlalu banyak unsur hitam atau  putihnya. Bila hasil foto yang didapat belum memuaskan, gunakan kompensasi eksposur dan ulangi pemotretan, lalu bandingkan hasilnya. Akan lebih baik kita sekaligus berlatih (bila kameranya memungkinkan) memakai mode manual dengan mengatur sendiri nilai shutter, apertur dan ISO.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Tips memotret saat low-light

Banyak yang penasaran bagaimana cara terbaik untuk memotret saat low light alias kondisi minim cahaya. Hal ini selalu menjadi topik yang menarik karena banyak yang kecewa saat melihat foto yang dibuatnya tampak blur atau malah noise parah sehingga tak layak dinikmati. Kondisi low light sendiri dijumpai pada banyak tempat dan waktu seperti di dalam ruangan, dan di sore hari terutama saat menjelang senja. Low light bukan berarti gelap, karena saat gelap mata anda tidak bisa melihat apa pun (demikian juga dengan kamera anda). Low light itu adalah saat mata kita masih bisa melihat obyek dengan baik (dengan pencahayaan yang ada) namun intensitas cahayanya terlalu rendah untuk kamera bisa menggunakan speed tinggi.

Jadi kuncinya disini adalah kamera perlu waktu yang cukup untuk mendapat eksposur yang tepat saat low light. Waktu yang diperlukan bervariasi tergantung intensitas cahaya yang ada, bisa 1/20 detik bahkan bisa hingga 1 detik. Inilah nilai shutter speed yang rentan terhadap goyangan yang berpotensi menjadikan foto anda blur. Maka itu inilah tips kami saat menghadapi kondisi low light :

Perbaiki kondisi pencahayaan

Paling utama bila anda bisa lakukan adalah perbaiki dulu kondisi pencahayaan sekitar. Inilah hal sepele yang kadang terlupakan, saat di dalam rumah misalnya. Bisa jadi anda memaksakan memotret namun lupa menyalakan semua lampu yang ada di rumah. Memang lampu rumah tidak terlalu berdampak besar buat menaikkan kecepatan shutter kamera, tapi setidaknya mampu memberi penerangan pada obyek yang akan difoto kan?  Bila bisa menambahkan lampu sorot (seperti pada saat resepsi pernikahan) maka anda bisa merubah kondisi low light menjadi kondisi yang lebih terang. Prinsipnya selagi masih bisa memotret dalam kondisi cahaya cukup, mengapa tidak?

Gunakan bukaan besar

Kendali banyaknya cahaya yang masuk ke lensa adalah aperture dan ini bisa diatur untuk membesar (f kecil) dan mengecil (f besar). Kenali dulu berapa bukaan maksimal lensa yang anda pakai, apakah f/1.8 atau f/3.5 misalnya. Bila lensa anda memiliki bukaan maksimal f/3.5 maka hindari memakai bukaan yang lebih kecil seperti f/5.6 atau f/8. Prinsipnya hindari memakai bukaan lensa kecil sehingga kamera bisa memakai shutter yang lebih cepat.

Tips tambahan yang berkaitan dengan aperture / bukaan lensa diantaranya :

  • bila anda memakai DSLR, ingatlah kalau lensa prime punya bukaan lebih besar dari lensa zoom, maka bila anda akan memotret low light untuk event penting usahakan memakai lensa prime (fix) atau kalau memakai lensa zoom pakailah lensa zoom bukaan konstan yang besar (f/2.8)
  • bila anda memakai lensa zoom berjenis variable aperture (bukaan maksimalnya akan semakin mengecil bila lensa di zoom) hindari memakai zoom tinggi saat memotret low light (gunakan fokal terpendek dari lensa zoom) misal anda memakai lensa 70-300mm maka gunakan saja posisi fokal 70mm saat low light guna mendapat bukaan maksimalnya

Aktifkan fitur Image Stabilizer

Image Stabilizer (IS) pada lensa Canon
Image Stabilizer (IS)

Fitur stabilizer berfungsi meredam getaran tangan saat memotret dengan kecepatan rendah, sehingga foto yang dihasilkan tetap tajam. Pada kondisi low light dengan kecepatan shutter yang tidak terlalu rendah (hingga 1/8 detik) penggunaan fitur stabilizer ini masih bisa diandalkan. Setidaknya blur yang terjadi akibat getaran tangan saat memotret bisa diredam dan foto yang dihasilkan saat low light bisa tetap tajam. Periksa kembali kamera dan lensa anda, pastikan fitur ini sudah diaktifkan. Sebagai info, fitur stabilizer ini tidak bisa meredam blur akibat gerakan obyek yang difoto (motion blur). Untuk mengatasi motion blur, baca tips selanjutnya yaitu menaikkan ISO.

Naikkan ISO secara bijaksana

ISO artinya sensitivitas sensor, semakin tinggi ISO semakin sensitif sensor terhadap cahaya. Dengan menaikkan nilai ISO dua kali lipat anda mendapat keuntungan bisa memakai shutter speed dua kali lebih cepat. Bila memakai ISO 100 kamera anda menunjukkan speed 1/20 detik, menaikkan ke ISO 200 akan membuat kamera anda bisa memakai speed 1/40 detik. Inilah mengapa menaikkan ISO menjadi harapan banyak orang saat low light.

Menaikkan ISO membawa implikasi naiknya noise pada foto. Kenali bagaimana noise yang dihasilkan kamera anda saat ISO dinaikkan ke tingkat yang lebih tinggi, setidaknya di ISO 800 dan ISO 1600. Kamera modern dengan algoritma noise reduction modern masih memberi foto yang baik di ISO 800 dan jadikanlah nilai ISO ini sebagai ISO yang berimbang antara shutter yang lebih cepat dengan kualitas foto yang masih bisa diterima. Bila ISO 800 pun kurang mencukupi, dan anda perlu memakai ISO 1600, putuskan secara bijak. Prinsip memakai ISO tinggi adalah lebih baik memiliki foto yang noise daripada tidak mendapat foto sama sekali.

Perhatikan contoh kasus berikut. Suatu sore saat saya main ke kebun binatang, kondisi sudah cukup gelap sehingga saya memakai ISO 800. Saya ingin memotret obyek yang menarik ini, sayangnya kebetulan dia tidak bisa diam. Memang saya sudah mengatifkan fitur stabilizer yang membuat foto tetap tajam meski memakai speed lambat, tampak dari dedaunan yang tampak tajam. Sayangnya gerakan obyek ini membuat dia menjadi blur saat difoto atau motion blur dan kasus ini hanya bisa diatasi dengan memakai shutter yang lebih cepat. Karena saya sudah memakai bukaan lensa maksimal, maka pilihan terakhir adalah dengan menaikkan ke ISO 1600, sehingga saya bisa mendapat kecepatan shutter yang lebih tinggi meski resiko noise lebih tampak dalam foto.

ISO 800ISO 1600

Gunakan tripod

Inilah tips yang kurang disukai sebagian dari kita karena terbayang betapa ribet dan repotnya memakai tripod. Tapi percayalah, tripod ini adalah penyelamat anda apalagi saat fitur stabilizer tak mampu lagi menolong rendahnya speed akibat low light. Setidaknya milikilah sebuah tripod yang ringan namun kokoh, bawalah saat anda memotret karena anda tak pernah tahu kapan anda memerlukan tripod.

Bila terpaksa : nyalakan lampu kilat

Ini adalah tips terakhir dan sekaligus tips termudah yang bisa dilakukan siapa pun tanpa harus memiliki tripod, tanpa harus bermain ISO, aperture atau stabilizer. Bahkan bila kamera anda adalah kamera saku yang serba otomatis, mungkin hanya dengan lampu kilatlah anda bisa mendapat foto yang cukup terang saat low light. Jadi pemakaian lampu kilat memang terkesan terpaksa, apa boleh buat dan daripada tidak dapat foto sama sekali.  Dengan memakai lampu kilat, anda menambah pencahayaan sekaligus kamera akan memakai shutter yang cukup aman (biasanya di 1/60 detik). Namun memakai lampu kilat akan memberi konsekuensi sendiri dan anda perlu tahu kapan memakai lampu kilat dan tahu bagaimana memaksimalkan pemakaiannya.

Bisakah tips di atas digabung?

Jawabannya adalah tentu bisa dan sebaiknya begitu. Saat low light, bila memungkinkan tambahkan penerangan yang cukup, gunakan ISO yang lebih tinggi (ISO 400 – ISO 3200), bukalah aperture lensa anda semaksimal mungkin (f/1.4 sampai f/3.5), hidupkan stabilizer dan bila perlu dibantu dengan lampu kilat. Maka memotret saat low light bukan lagi jadi hambatan anda mendapat foto yang diinginkan. Selamat mencoba..

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Mau pakai lensa Nikon di DSLR Canon? (Uji singkat Novoflex adapter)

Produsen kamera DSLR Canon dan Nikon memiliki mount sendiri untuk lensa mereka, yaitu F-mount untuk Nikon dan EF-mount untuk Canon. Bagi pemilik DSLR Canon, tidak ada cerita dia bisa memakai lensa Nikon atau sebaliknya (meski lensa Nikon bisa dipasang di DSLR Fujifilm karena Fuji mengadopsi F-mount untuk kameranya). Tapi kini untuk memakai lensa Nikon di kamera Canon bukan lagi hal yang sulit karena tersedia adapter mekanik berbentuk ring, salah satunya bermerk Novoflex yang kami uji secara singkat.

Novoflex merupakan produsen aksesori fotografi dan sudah membuat banyak adapter seperti untuk lensa four thirds dan lensa Leica. Namun bisa jadi produknya yang paling diminati adalah Novoflex EOS-NIK, alias untuk digunakan di DSLR Canon EOS, dengan lensa Nikon. Adapter buatan Novoflex ini berbentuk ring berbahan logam dan tertulis merk, tipe dan tempat pembuatannya (di Jerman). Pemakaiannya sangat mudah, adapter ini harus terlebih dahulu dipasang di lensa Nikon (atau bisa juga lensa third party dengan F-mount) dengan diputar di mount lensa sampai bunyi klik. Setelah itu, barulah lensa dipasang di kamera Canon layaknya memasang lensa Canon biasa. Untuk melepas adapter ini, pertama lensa harus dilepas dulu dari kamera, barulah adapter dilepas dari lensa (dengan menekan tuas kecil di adapter).

novo-package

Kami menguji adapter ini pada lensa AF-S 18-105mm tipe G dan kami rasakan adapter ini terpasang secara kokoh dan presisi tanpa ada kesan longgar atau goyang.

novo-af-s-181105

Sebagai bodi kamera kami gunakan Canon EOS 50D dan lensa Nikon yang sudah dipasangi adapter kami pasangkan ke kamera tersebut. Kami kagum akan presisinya adapter ini, terbukti setelah lensa terpasang di kamera, tidak ada kesan longgar sama sekali. Karena adapter Novoflex ini cukup tipis, sepintas tak ada yang tahu kalau antara bodi dan lensa ada sebuah adapter.

novo-50dnovo-50d2

Sebelum kami membahas soal pengujian adapter ini, ada beberapa catatan penting yang perlu disampaikan. Pertama yaitu Nikon dan Canon adalah dua merk yang berbeda dalam hal desain kamera, termasuk komunikasi data dari lensa dan kamera. Artinya, adapter ini tidak untuk menghubungkan pin kontak elektrik dari kedua musuh bebuyutan ini. Jadi lupakan soal auto fokus dan sistem stabilizer, tidak ada satu pun fitur itu yang bekerja. Bahkan konfirmasi fokus saat melakukan manual fokus pun tak ada, sepenuhnya mengandalkan mata saja.

Kedua, lensa modern sudah tidak dilengkapi dengan ring aperture, seperti lensa Nikon G. Proses penentuan bukaan lensa diatur sepenuhnya melalui kamera, dimana ada tuas kecil pada kamera yang terhubung ke lensa. Dengan dipasangnya adapter ini, kamera (Canon) tidak lagi bisa mengatur aperture lensa (Nikon) sehingga lensa yang tidak ada ring aperture terpaksa dipakai dalam bukaan terkecilnya (stop down). Untuk bisa mengatur diafragma dengan lensa Nikon G, tersedia adapter Novoflex yang dimodifikasi dengan penambahan tuas kendali diafragma.

Saat kamera EOS 50D dihidupkan, indikator pada layar menunjukkan F-00 yang menandakan kalau lensa tidak dikenali oleh kamera. Kami mencoba adapter ini dengan lensa G sehingga tidak lagi bisa mengontrol bukaan diafragma (alias memakai bukaan terkecil). Dengan memakai bukaan kecil, tampilan di viewfinder jadi gelap dan manual fokuspun jadi lebih sulit. Kami mencoba berbagai variasi mode seperti Av, Tv dan M. Meski metering tetap jalan, namun konsistensinya masih sering melenceng. Untuk kompensasinya, kami bermain ISO supaya mendapat eksposur yang diharapkan. Pada contoh foto berikut ini, kami memakai kecepatan shutter 1/40 detik dan ISO 1000 di siang hari (untuk mengimbangi kecilnya bukaan lensa, itupun masih terlihat under).

sample-novoflex

Jadi tidak mudah memang dalam mencoba memakai lensa Nikon G di DSLR Canon dengan memakai adapter ini. Tapi bagi anda yang punya lensa Nikon lawas seperti lensa AI atau AF dengan ring aperture, maka dengan adapter ini anda bisa berbuat banyak terutama dalam hal bermain eksposur. Hanya saja pemakaian lensa Nikon apapun tetaplah secara manual fokus saja.

Bila berminat, adapter Novoflex ini bisa dibeli seharga Rp. 2.350.000.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Basic lighting dalam fotografi digital

Esensi fotografi adalah bermain dengan cahaya. Dasar fotografi untuk mengatur cahaya dinamakan eksposure. Komponennya cuma tiga : shutter speed (kecepatan rana), aperture (bukaan diafragma) dan sensitivitas sensor (ISO). Namun pengaturan ketiga komponen inipun tak bisa lepas dari pemahaman dasar akan pencahayaan (lighting), karena cahaya adalah hal pokok yang akan diatur oleh komponen eksposur. Kali ini kami ingin mengulas mengenai teori dasar pencahayaan sebagai bekal untuk memudahkan anda mendapat eksposur yang tepat.

Pencahayaan, atau lighting, bisa digolongkan dalam berbagai bahasan. Umumnya kita membahas lighting berdasarkan jenisnya, sumbernya, dan arah datangnya. Berdasar jenis cahaya kita kenal ada hard light, soft light dsb. Berdasar sumber bisa cahaya tentu dibagi dalam beberapa macam sumber cahaya seperti matahari, lampu studio dsb. Sedangkan menurut arah datangnya cahaya, bisa digolongkan dalam cahaya depan, cahaya samping dan cahaya belakang.

Jenis cahaya

Secara sederhana jenis cahaya dibagi dalam dua kelompok yaitu cahaya keras (hard light) dan cahaya lembut (soft light). Cahaya keras cenderung punya intensitas tinggi yang menyulitkan kamera untuk mengukur eksposur yang tepat, dan berpotensi membuat pantulan pada objek yang difoto. Hard light juga akan membuat bayangan yang tegas sehingga kurang cocok untuk foto profesional. Cahaya keras contohnya dihasilkan oleh semua lampu kilat pada kamera, atau sinar matahari langsung yang menyorot ke objek foto.

Hard light (credit : dailyphototips.com)
Hard light (credit : dailyphototips.com)
Flash diffuser (credit :Omegasatter.com)

Sebaliknya cahaya lembut (soft light) umumnya dihasilkan melalui teknik studio yaitu penggunaan diffuser pada lampu kilat (lihat gambar di samping). Di taraf lebih tinggi digunakan teknik pantulan supaya cahaya bisa semakin lembut, baik pantulan ke langit-langit (bouncing) ataupun memakai reflektor. Cahaya lembut lebih cocok untuk dipakai di studio baik untuk foto orang ataupun foto produk, namun di luar ruang yang punya sumber cahaya kompleks, cahaya lembut sulit diaplikasikan. Setidaknya kita bisa mengenal perbedaan hasil yang didapat dengan memakai cahaya keras atau cahaya lembut.

Sumber cahaya

Di dunia ini sumber cahaya sangat banyak dan kompleks, mulai dari sinar matahari, bermacam jenis lampu dan benda lain yang berpendar. Tiap sumber cahaya memiliki intensitas dan temperatur warna yang berbeda-beda, sehingga diperlukan kemampuan yang baik dari kamera (atau fotografer) dalam menentukan white balance yang tepat. Umumnya kamera mampu mengenali cahaya matahari, lampu neon, lampu pijar dan lampu kilat. Bila hasil white balance otomatis dari kamera meleset (benda putih jadi kebiruan atau kemerahan) atur preset white balance secara manual. Untuk tingkat lebih lanjut, gunakan grey card sehingga foto yang meleset bisa ditolong memakai software.

Preset white balance (credit : alexismiller.com)
Preset white balance (credit : alexismiller.com)

Kebanyakan kita memotret mengandalkan cahaya alami khususnya sinar matahari. Perlu diingat kalau intensitas cahaya matahari sangat tinggi dan berpotensi membuat foto mengalami highlight clipping. Untuk hasil terbaik hindari memotret di saat matahari terik (jam 10 sampai jam 15) karena kamera tidak akan mampu menangkap rentang spektrum terang gelap yang amat lebar. Apalagi prinsip metering kamera mengandalkan cahaya yang dipantulkan oleh objek foto, sehingga resiko eksposure meleset cukup besar.

Temperatur warna bermacam cahaya (credit : Shortcourse.com)
Temperatur warna bermacam cahaya (credit : Shortcourse.com)

Arah datangnya cahaya

Yang menarik adalah pembahasan mengenai arah datangnya cahaya. Menarik karena bila disiasati dengan tepat, bisa didapat foto yang dramatis, namun bila salah maka hasilnya akan mengecewakan.

  • cahaya depan : sesuai namanya, arah datangnya sinar lurus dari depan objek. Cahaya dari depan ini akan memberikan penerangan yang merata di seluruh bidang foto, sehingga didapat foto yang flat tanpa tekstur terang gelap. Meski secara umum foto seperti ini baik, namun terkadang kurang artistik karena kontrasnya rendah.
  • cahaya samping : ini adalah teknik foto yang cukup artistik dengan mengandalkan cahaya yang datang dari arah samping objek foto. Sinar dari samping ini bisa menghasilkan bayangan dan bisa membuat area terang gelap yang bila secara jeli dioptimalkan maka bisa mendapat foto yang artistik. Contoh pemakaian adalah untuk fotografi windows lighting, dengan si model berdiri di samping jendela dan cahaya menyinari bagian samping dari si model.
  • cahaya belakang (backlight) : suatu kondisi yang bisa menghasilkan foto yang baik atau bahkan buruk, tergantung niatnya. Prinsipnya backlight akan membuat objek foto jadi siluet, sehingga tentukan dulu apakah siluet ini memang hasil yang diinginkan atau tidak. Bila kita tidak sedang ingin membuat foto siluet, usahakan menghindari memotret dengan backlight. Meski ada trik untuk mengatasi backlight, tapi hasilnya tidak akan optimal. Maka itu usahakan merubah posisi objek atau fotografer bila berhadapan dengan cahaya dari belakang.

Sebagai bonus, bila pun anda terpaksa memotret dengan sumber cahaya dari belakang (backlight), berikut tips untuk menghindari siluet :

  • atur kompensasi eksposure (Ev) ke arah positif, bisa sampai 2 stop kalau perlu. Hal ini memang akan membuat background menjadi blown (terbakar) tapi kita bisa menyelamatkan objek fotonya.
  • gunakan spot metering lalu arahkan titik pengukuran ke arah objek, hal ini akan membuat kamera menghasilkan eksposur yang tepat hanya di objek foto dan tidak menghiraukan cahaya yang datang dari arah belakang.
  • gunakan fill-in flash, jangan sangka lampu kilat hanya untuk dipakai di daerah gelap. Lampu kilat juga bermanfaat untuk menerangi daerah gelap akibat pencahayaan belakang.
  • gunakan koreksi memakai software (semisal Photoshop), namun tentu anda perlu waktu lagi untuk mengolahnya.

Kesimpulan

Dengan memahami bermacam konsep pencahayaan (jenis, sumber dan arah datangnya cahaya) diharap kita semakin bisa menghasilkan foto yang baik. Saat akan memotret, cobalah untuk sejenak berpikir mengenai cahaya apa yang akan kita pakai, apakah kita perlu soft light (bila ya gunakan diffuser pada lampu kilat), apakah intensitas cahaya sekitar sudah mencukupi untuk kamera mendapat eksposuer yang tepat, apakah kita perlu mengatur white balance secara manual, apakah arah datangnya cahaya memang sudah sesuai yang kita inginkan; bila tidak, bisakah kita merubah posisi kita (dan si objek) untuk mendapat arah cahaya yang tepat? Memang tampaknya rumit, mau memotret saja kok banyak yang harus dipikirkan. Tapi demi foto yang lebih baik, tak ada salahnya kan sedikit ‘berjuang’ dan berlatih?

Catatan : Tulisan ini dibuat berdasar pengalaman pribadi penulis dan tidak dimaksud untuk menggantikan teori dasar fotografi. Apa yang ditulis disini mungkin belum lengkap dan belum tentu sesuai dengan teori yang sebenarnya, mengingat basic of lighting amatlah kompleks dan perlu bahasan yang mendalam.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Kenali aneka kesalahan yang dilakukan pemula saat memotret

Seringkali ada pembaca yang menuliskan komentar di situs ini menyatakan bahwa dirinya adalah fotografer pemula yang bertanya mengenai kamera apa yang cocok untuknya. Mungkin istilah pemula (dari asal kata : mula / awal / beginner) dalam fotografi bisa dikaitkan dengan fotografer amatir / amateur, atau non profesional / non komersil dan bisa juga pemula diidentikkan dengan mereka yang sedang belajar (teori dan praktek) fotografi. Inipun belum termasuk mereka (yang bisa disebut pemula) yang membeli kamera hanya sekedar untuk urusan dokumentasi keluarga dan tidak mau dipusingkan soal istilah-istilah fotografi. Tulisan kali ini ditujukan untuk sekedar sharing pengalaman seputar aneka kesalahan yang biasa dilakukan oleh fotografer pemula.

Melatih skill bersama komunitas fotografi
Melatih skill bersama komunitas fotografi

Kamera digital sebagai sarana fotografi sering jadi tolok ukur / benchmark dalam menentukan kualitas hasil foto. Diyakini dengan semakin canggihnya kamera (diindikasikan dengan banyaknya setting dan parameter) maka kamera akan memberi hasil yang lebih baik. Namun banyak yang tidak menyadari kalau kamera yang punya banyak setting akan membuka banyak kemungkinan salah dalam memilih setting yang sesuai, apalagi kamera digital punya setting yang lebih banyak dari sekedar shutter, aperture dan ISO. Ada baiknya anda juga membaca artikel ini sebagai pengantar tulisan kami ini.

Langsung saja, kenali dan evaluasilah aneka kesalahan umum yang biasa dialami oleh para fotografer pemula berikut ini :

  • yang paling mendasar : kurang teori dan/atau praktek fotografi
  • mendasar : salah menentukan nilai eksposur -> shutter, aperture dan ISO
  • tidak jeli memperhitungkan pencahayaan saat itu, terkadang menurut mata kita masih cukup terang ternyata kamera menganggap sudah mulai gelap
  • salah memutuskan penggunaan lampu kilat, kadang saat diperlukan kita justru lupa mengaktifkannya
  • membiarkan lampu kilat dalam mode ‘Red Eye’ yang akan menyala beberapa kali sebelum memotret, sehingga akan menyebabkan kita ketinggalan momen (biasanya pada kamera saku)
  • salah menentukan titik fokus yang diinginkan (bila kameranya bisa memilih titik fokus) sehingga mana yang tajam mana yang blur jadi terbalik
  • tidak memakai format RAW saat memotret sesuatu momen yang amat penting
  • terlalu percaya pada mode AUTO (berlatihlah memakai mode A/S/M bila ada)
  • tidak memakai setting white balance yang tepat (misal harusnya flourescent tapi pilih WB tungsten)
  • memakai pilihan metering yang tidak tepat (apalagi saat terang gelapnya objek foto tidak merata / area kontras tinggi)
  • lupa memeriksa setting kompensasi eksposur (Ev) yang beresiko membuat foto jadi under / over-exposed
  • tidak mengkompensasi eksposure (Ev) secara manual (ke arah plus atau minus) saat metering kamera memberi hasil yang tidak sesuai dengan keinginan kita
  • tidak meluangkan waktu untuk melihat histogram (baik sebelum atau sesudah memotret) padahal di saat terik matahari, layar LCD kamera tidak lagi akurat untuk mengukur eksposure
  • lupa mengaktifkan fitur image stabilizer (bila ada) saat diperlukan, seperti saat speed rendah atau saat memakai lensa tele)
  • tidak berupaya mendapat sweet spot lensa saat perlu foto yang tajam (menghindari fokal lensa ekstrim dan stop down dari bukaan maksimal)
  • tidak membawa baterai cadangan, khususnya yang berjenis AA/NiMH
  • tidak mengaktifkan AF-assist beam/strobe saat low-light yang menyebabkan kamera kesulitan mencari fokus
  • tidak sengaja menghapus sebuah foto (ups…)
  • tidak memakai tripod saat memakai shutter lambat (dibawah 1/20 detik)

Adapun aneka kecerobohan dalam penggunaan kamera yang beresiko membuat kamera anda rusak diantaranya :

  • tidak berhati-hati menjaga lensa dari sidik jari, cipratan air bahkan benturan (impact)
  • lupa mematikan kamera saat mengganti lensa atau kartu memori
  • membawa kamera dengan menggenggam lensanya (untuk DSLR dengan lensa ber-mounting plastik ini bisa mengundang resiko patah)
  • memasang filter dengan memutarnya terlalu kuat (untuk lensa kit yang masih memakai sistem rotating lens seperti lensa kit Canon / Nikon 18-55mm) yang beresiko merusak motor di dalam lensa
  • mengarahkan kamera anda ke matahari di siang hari bolong
  • meniup debu yang menempel di sensor (maaf, air liur anda bisa terciprat ke sensor dan membuat masalah semakin runyam…) -> solusi, gunakan peniup debu yang tersedia khusus untuk kamera

Tentu saja hal-hal seperti ini perlu dicermati guna mencegah gagalnya foto-foto penting atau hingga rusaknya peralatan anda. Sayang kan saat peristiwa yang difoto ternyata hasilnya mengecewakan karena kita melakukan kesalahan yang tampaknya sepele tapi amat berpengaruh?

Apakah anda ingin berbagi pengalaman soal kesalahan / keteledoran yang mungkin pernah anda lakukan? Jangan segan untuk sharing di forum kamera-gue. Dengan berbagi pengalaman anda, semoga bisa jadi bahan pelajaran buat pembaca yang lain.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Tips memilih kamera saku untuk pemula

sakuKamera saku menjadi kamera yang penjualannya paling laris dan banyak dicari orang karena kepraktisan dalam pemakaian dan harganyanya yang terjangkau. Evolusi pada kamera saku sudah mendekati titik stagnan dalam arti tidak akan banyak perubahan radikal dalam hal teknologi kamera saku pada masa-masa mendatang. Hal ini berbeda sekali kalau kita flashback ke masa lalu dimana perubahan dan peningkatan fitur kamera begitu cepat dan membingungkan. Belum sempat beli kamera 5 mega, sudah keluar yang 7 mega; belum sempat menjajal kamera dengan VGA movie, sudah keluar yang HD movie. Kini bisa dikatakan, apapun kamera yang dibeli sudah hampir ‘matang’ dalam hal teknologi, tinggal kita memilih mana yang paling sesuai dengan selera dan dana.

Kamera generasi baru boleh dibilang sudah canggih, bahkan saking canggihnya calon pembeli (pemula) sampai bingung akan istilah-istilah yang ditulis di iklan, brosur dan spesifikasinya. Belum lagi para pedagang gencar mengklaim berbagai fitur yang terdengar asing di telinga, semakin membuat grogi calon pembeli. Kami sudah pernah menulis soal fitur baru ini, silahkan dibaca untuk menghindari kami menulis dua kali.

Sebagai permulaan, hal yang terpenting adalah mengenali kebutuhan fotografi anda nantinya. Cobalah menjawab pertanyaan berikut ini, setidaknya anda dapat memprediksi kamera seperti apa yang anda butuhkan :

  • apakah kamera anda nantinya akan dipakai sebagai sarana dokumentasi biasa atau untuk membuat karya foto yang lebih artistik? (kaitannya dengan fitur manual)
  • apakah anda lebih perlu lensa wide untuk kesan luas atau lebih memerlukan zoom lensa yang jauh? (kaitannya dengan fokal lensa)
  • apakah anda akan perlu memotret dengan kinerja cepat, seperti anak yang tak bisa diam? (kaitannya dengan performa shutter lag, auto fokus, burst mode dan shot-to-shot)
  • apakah anda tipe petualang yang sering memotret outdoor atau bukan? (kaitannya dengan bodi kamera dan aksesori underwater)
  • apakah anda lebih suka baterai AA atau Lithium?
  • apakah anda akan sering memakai kamera saku di tempat kurang cahaya, tanpa lampu kilat? (kaitannya dengan kemampuan sensor di ISO tinggi)
  • selain memotret, apakah anda juga suka mengambil video? (kaitannya dengan resolusi video)
  • apakah anda perlu foto ukuran besar untuk dicetak besar atau di-crop ketat? (kaitannya dengan resolusi)

Setelah menjawab kuis di atas, mungkin anda sudah semakin mudah dalam membayangkan kebutuhan fotografi anda. Namun tentu perlu diingat kalau tidak mungkin semua yang kita mau bisa diakomodir oleh satu kamera, tentu ada saja hal-hal yang perlu dikompromikan.

Sebagai tips dalam memilih kamera, berikut hal-hal yang perlu dicermati :

  • merk : tidak usah terpaku pada merk, pada dasarnya produsen kamera ternama punya standar mutu yang sama, meski tak dipungkiri merk besar punya layanan after sales yang lebih baik
  • lensa : kunci ketajaman dan kualitas foto ada di lensa, sebisa mungkin lihatlah hasil fotonya sebelum membeli, lihat apakah ketajaman lensanya sudah anda anggap layak atau tidak
  • zoom : kamera saku umumnya punya lensa 3x zoom optik, meski kini sudah bervariasi mulai dari 4, 5, 6 hingga 10x zoom, bila anda tidak perlu zoom terlalu tinggi jangan memaksakan membeli kamera dengan zoom besar
  • fitu wajib : image stabilizer, karena kamera saku kecil dan ringan maka resiko tergoyang saat memotret cukup besar
  • fitur manual mode : minimal perlu ada manual ISO, lalu kalau ada ya manual eksposure (shutter priority dan aperture priority), syukur kalau ada manual focus juga
  • seberapa wide yang anda perlukan? umumnya kamera saku lensanya bermula dari 35mm, bila anda merasa kurang wide carilah kamera yang lensanya bermula dari 30mm, 28mm atau bahkan 24mm yang akan berguna untuk kreativitas perspektif dan membuat kesan luas
  • resolusi : sebisa mungkin hindari resolusi terlalu tinggi (diatas 10 MP) karena sensor pada kamera saku berukuran kecil sehingga bila dijejali piksel terlalu banyak dia tidak akan mampu memberikan foto yang bersih dari noise di ISO tinggi
  • kinerja kamera saku umumnya sama, tapi tidak ada salahnya periksa lagi spesifikasi soal shutter lag (jeda saat menekan tombol shutter dan foto diambil), shot-to-shot (waktu tunggu dari foto pertama ke foto selanjutnya), burst mode (berapa foto bisa diambil dalam satu detik), dan start-up/shutdown time (waktu yang diperlukan oleh kamera untuk siap memotret saat pertama dinyalakan)

Adapun hal-hal yang umumnya relatif sama pada semua kamera saku, sehingga tidak perlu terlalu dipermasalahkan adalah :

  • kinerja dan mode auto fokus, umumnya tiap kamera punya kinerja AF yang sama (prinsip kerja contrast detect) dan mode AF yang disediakan umumnya sama (multi area atau center), beberapa kamera baru menyediakan auto fokus berbasis deteksi wajah (Face detection)
  • kinerja dan mode metering umumnya sama dengan pilihan semacam center weight dan spot metering
  • kinerja white balance dan pilihan preset yang disediakan (seperti flourescent, tungsten, daylight dsb)
  • spesifikasi dasar seperti maks/min shutter speed, maks/min aperture, maks/min ISO, kamampuan baterai, flash power dsb (perkecualian untuk maks aperture yang terlalu kecil akan merepotkan di saat low light, usahakan cari yang f/2.8)

Itulah beberapa tips yang bisa kami sajikan untuk pedoman membeli kamera saku. Bila ada dana lebih, anda bisa memilih kamera dengan fitur lebih banyak dan lebih baik, seperti ukuran LCD yang lebih besar, fitur HD movie dan bodi kamera berbalut logam. Tapi secara umum dengan anggaran 1 hingga 2 juta sudah bisa didapat kamera saku yang mencukupi untuk kebutuhan fotografi sehari-hari.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..