Akhirnya Samsung NX10 diluncurkan, plus 3 pilihan lensa

Samsung membuktikan keseriusannya dalam dunia fotografi dengan menepati janjinya untuk membuat kamera berformat baru, dengan konsep lensa yang bisa dilepas pasang (interchangeable), sensor ukuran APS-C dan tanpa mirror (cermin) seperti pada kamera DSLR. Sambutlah produk Samsung NX10 sebagai varian baru dalam dunia kamera digital, melengkapi kiprah Panasonic dan Olympus yang sebelumnya sudah membuka babak baru dengan kamera Micro Four Thirds.

Format EVIL (Electronic Viewfinder Interchangeable Lenses) camera mungkin adalah format kamera yang jadi impian setiap orang. Ukuran yang kecil, bobotnya ringan, hasil foto yang baik dan keleluasaan berganti lensa sudah bisa memberikan gambaran betapa idealnya format ini. Format Micro Four Thirds, terlepas dari harga jualnya, adalah format baru yang disambut positif oleh kalangan fotografer dan punya masa depan cerah. Melihat kesuksesan format Micro 4/3 ini (yang memakai sensor Four Thirds), menginspirasi Samsung untuk membuat format serupa, namun dengan sensor yang sedikit lebih besar.

Samsung NX10
Samsung NX10

Apa yang membuat Samsung NX10 ini begitu dinantikan? Tak lain adalah karena dipakainya sensor CMOS ukuran APS-C  beresolusi 14,6 MP sehingga kualitas gambar kamera ini diyakini akan sama seperti hasil kamera DSLR pada umumnya. Urusan noise di ISO tinggi juga bisa dijaga tetap rendah bahkan NX10 ini bisa mencapai ISO 3200. Sebagai kamera tanpa cermin, NX10 mengandalkan prinsip live-view murni melalui LCD ataupun viewfinder, sementara urusan auto fokus memakai prinsip contrast-detect saja. Samsung mengklaim proses auto fokus bisa dibuat sangat cepat berkat  DRIMe II Pro engine yang memakai algoritma AF tingkat lanjut. Urusan lensa, NX10 ini memakai mount lensa khusus meski tersedia adapter untuk lensa Pentax. Layar LCD berjenis Amoled ukuran 3 inci dan viewfinder beresolusi 941 ribu piksel menjadi andalan Samsung juga, ditambah tentunya fitur HD movie sebagai fitur wajib kamera modern juga disediakan di NX10 ini.

Hadir sebagai pilihan awal, tiga buah lensa buatan Samsung yang cukup mengagumkan :

  • lensa zoom standar 18-55mm f/3.5-5.6 IS (ya, IS itu Image Stabilizer layaknya lensa Canon)
  • lensa zoom tele 55-200mm f/4.0-5.6 IS
  • lensa prime 30mm f/2.0 (diameter filter 43 mm, cukup mungil..)

Harga Samsung NX10 belum diumumkan, tapi kurang lebih akan sama dengan harga Lumix GH1 di kisaran 10 jutaan.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Daftar lengkap kamera DSLR Canon dan Nikon

Update : tulisan ini sudah diperbarui dengan daftar DSLR Canon dan Nikon di tahun 2014.

Kamera DSLR kini semakin jadi primadona. Soal merk kamera yang melekat kuat di benak kita bisa jadi adalah merk papan atas seperti Canon dan Nikon. Wajar saja, keduanya memang punya sejarah panjang di dunia fotografi dan terus berlanjut di era digital ini. Hingga awal tahun 2010 ini, sudah banyak produk kamera yang mereka luncurkan. Artikel kali ini ditujukan untuk menjadi panduan mengenal jajaran kamera DSLR Canon dan Nikon, diulas secara lengkap dengan rekomendasi serta kisaran harga jualnya untuk panduan belanja anda.

Kamera DSLR Canon

Kelas pemula (entry level)

Canon EOS 1000D (Rebel XS/Kiss F)

1000dInilah kamera DSLR pemula termurah dan terpopuler yang jadi pilihan utama mereka yang budget-minded. Kamera DSLR bersensor CCD 10 MP dan memiliki 7 titik AF ini hebatnya sudah dilengkapi live-view dan mampu memotret hingga 3 fps. Dijual satu paket bersama lensa kit dengan kisaran harga sekitar 4,8 jutaan, EOS 1000D ini direkomendasikan untuk mereka yang awalnya berencana membeli kamera prosumer namun ingin merasakan sensasi kamera DSLR.

Status (updated) : sejak 7 Februari 2011 telah hadir penerusnya yang bernama EOS 1100D (Rebel T3) dengan sensor CMOS 12 MP dan kemampuan merekam video HD 720p.

Rival terdekat : Nikon D3000/D3100

Canon EOS 500D (Rebel T1i)

500dEOS 500D menjadi kamera DSLR termewah di seri pemula, berkat adanya fitur HD movie dan resolusi yang melonjak tajam menjadi 15 MP. Penyempurnaan lain dari 450D tidak terlalu banyak (seperti resolusi LCD dari 230ribu piksel menjadi 920 ribu piksel), sehingga harga jualnya yang ada di kisaran 7,8 jutaan (plus lensa kit) terasa agak mahal untuk ukuran DSLR kelas pemula. Direkomendasikan untuk yang menyukai memotret dan merekam video.

Status (updated) : meski produk ini sudah digantikan dengan EOS 550D per Februari 2010, dan sejak 7 Februari 2011 kembali digantikan dengan EOS 600D (Rebel T3i) dengan layar lipat 3 inci.

Rival terdekat : Nikon D5000/D5100

Kelas menengah (semi-pro)

Canon EOS 50D

50dEOS 50D menjadi kamera semi-pro Canon yang punya fitur lengkap plus live-view. Layaknya kamera semi-pro pada umumnya, 50D sudah berbahan magnesium alloy yang kuat, bodi weather sealed dan kinerja cepat (6 fps). EOS 50D masih memakai sensor CMOS berukuran APS-C yang resolusinya 15 MP. Sebagai kamera semi-pro, kamera ini sudah memakai finder jenis prisma yang terang. Harga jual sekarang sekitar 9 juta body-only, cocok untuk yang menginginkan DSLR semi-pro dengan harga terjangkau.

Status (updated): diskontinu, digantikan EOS 60D yang spec-down dari EOS 50D.

Rival terdekat : Nikon D90/D7000

Canon EOS 7D

7dTradisi Canon membuat seri satu digit untuk sensor full-frame tidak berlaku disini. EOS 7D hanyalah penerus dari EOS 50D dengan sensor CMOS APS-C yang dinaikkan resolusinya hingga 18 MP. Namun untungnya perubahan dari 50D ke 7D cukup signifikan, sebutlah seperti desain bodi dan tata letak tombol yang diperbaiki, serta jumlah titik AF yang jauh lebih berlimpah (19 titik). Selain itu EOS 7D juga sudah dilengkapi dengan HD movie. Dijual di kisaran harga 15 juta body-only, EOS 7D cocok untuk para pecinta sport dan foto cepat lainnya.

Status : tersedia

Rival terdekat : Nikon D300s

Kelas pro (full frame)

Canon EOS 5D mark II

5d-iiEOS 5D mark II merupakan penerus EOS 5D dengan penambahan fitur HD movie. Selain itu, sensor 5D mark II adalah berjenis full-frame bersolusi 21 MP yang rendah noise di ISO tinggi. Namun untuk urusan auto fokus, 5D ini justru kalah oleh pendatang baru 7D sehingga kurang cocok untuk memotret sport. Belum lagi kecepatan burst-nya hanya 3.9 fps. Tampaknya kamera seharga 24 juta body only ini lebih cocok untuk yang menyukai landscape atau fotografi interior.

Status : tersedia, sudah keluar 5D mark III di awal 2012

Rival terdekat : Nikon D700

Kelas pro lainnya : EOS 1D mark III, EOS 1Ds mark III dan EOS 1D mark IV (tidak dibahas disini)

Update : tulisan ini sudah diperbarui dengan daftar DSLR Canon dan Nikon di tahun 2014.

Kamera DSLR Nikon

Kelas pemula (entry level), tanpa motor AF di bodi

Nikon D3000

d3000Nikon D3000 merupakan DSLR penerus dari D60, boleh dibilang D3000 ini tak banyak berbeda dengan pendahulunya kecuali pemakaian modul 11 titik AF yang fleksibel. Masih mengandalkan sensor CCD 10 MP dan juga masih tanpa fitur live-view, D3000 ini juga direkomendasikan untuk pemula yang mencari DSLR yang mudah dipakai namun berkualitas baik. Dengan harga jual 5,8 jutaan plus lensa kit, tampaknya D3000 bakal jadi kamera populer di tahun 2010 ini.

Status (updated) : Telah hadir Nikon D3100 dengan kemampuan full HD movie.

Rival terdekat : EOS 1000D/1100D

Nikon D5000

d5000jpgProduk elit di kelas pemula ini mengandalkan keistimewaan LCD lipat dan HD movie, melengkapi sensor CMOS 12 MP dan burst 4 fps ditambah modul 11 titik AF yang membuatnya jadi DSLR lengkap dan sarat fitur bahkan terlalu lengkap untuk ukuran DSLR pemula. Konsekuensinya adalah harga jual D5000 yang melambung mencapai 8 juta (plus lensa kit) bahkan lebih mahal dari EOS 500D, cukup mahal mengingat D5000 bukanlah DSLR kelas semi-pro. D5000 cocok untuk mereka yang senang merekam video HD dengan angle sulit (LCD lipat sangat berguna dalam hal ini).

Status (updated) : Sejak April 2011 telah hadir Nikon D5100 dengan fitur HDR.

Rival terdekat : EOS 500D/EOS 550D/600D

Kelas menengah (semi-pro)

Nikon D90

d90Nikon D90 merupakan penerus Nikon D80 yang populer di masa lalu, dengan positioning yang tanggung yaitu antara DSLR pemula dan DSLR semi-pro. Namun D90 sudah dilengkapi dengan fitur kelas semi-pro seperti finder jenis prisma dan top status LCD sehingga berani bersaing di kelas semi-pro (meski masih memakai material bodi plastik). Nikon D90 merupakan DSLR Nikon pertama dengan fitur HD movie dan dijual di harga 9,5 jutaan (body only), cocok untuk mereka yang tidak puas dengan DSLR pemula namun tidak sanggup membeli DSLR semi-pro yang mahal.

Status : (Updated) Telah hadir Nikon D7000 yang menggantikan D90 dengan fitur yang lebih lengkap dan sensor 16 MP. D7000 akan bersaing dengan EOS 60D.

Rival terdekat : EOS 50D/60D

Nikon D300/D300s

d300sDi kelas semi-pro sesungguhnya, Nikon mengandalkan D300/D300s yang tangguh, cepat dan mewah. Dengan 51 titik fokus dan 1005 pixel RGB metering, D300 siap diajak bekerja cepat hingga 7 fps.  D300s menambahkan fitur HD movie dan dual slot memory-card dibanding D300, namun keduanya masih sama-sama beresolusi 12 MP saja pada keping sensor CMOS APS-C. D300/D300s cocok untuk mereka yang mengutamakan kecepatan, akurasi dan custom setting yang lengkap, D300s dijual di kisaran 17 juta body only.

Status : D300 menjelang diskontinu, D300s tersedia

Rival terdekat : EOS 7D

Kelas pro (full frame)

Nikon D700

d700Di kelas profesional, Nikon punya D700 dengan sensor FX (full frame) yang masih setia di resolusi 12 MP layaknya D300 yang berformat DX. D700 memang bersaing dengan EOS 5D mark II, bahkan harga jual body only pun sama di kisaran 24 jutaan. Soal ISO tinggi jangan kuatir, D700 sanggup memberi foto dengan noise amat rendah di ISO tinggi berkat sensor full-framenya. D700 punya 51 titik AF, burst 5 fps dan masih menyediakan built-in flash.

Status : tersedia, sudah keluar D800 di awal 2012

Rival terdekat : EOS 5D mark II

Kelas pro lainnya : Nikon D3, D3x dan D3s (tidak dibahas disini)

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Ricoh GXR dengan sensor dan lensa terpisah

Bila format interchangeable lens yang diusung oleh Panasonic dan Olympus memungkinkan sebuah kamera kompak bisa berganti lensa, kali ini Ricoh menawarkan konsep agak berbeda dan baru pertama di dunia. Sambutlah Ricoh GXR, kamera saku modern dengan lensa (dan sensor) yang terpisah dari bodi kamera! Saat Ricoh GXR ini terpisah dari lensanya, tidak dijumpai adanya sensor apapun di bagian depan kamera. Sebagai gantinya, si sensor justru digabung dengan lensa dan dijual terpisah. Aneh, tapi nyata.

Kita mulai meninjau dari kesamaan kamera Ricoh GXR ini dengan kamera lainnya. Pertama, Ricoh GXR ini sama saja seperti kamera lain dalam hal pemakaian umum seperti manual P/A/S/M ataupun auto mode. Di bagian belakang bodi kamera mungil ini bisa dijumpai LCD ukuran 3 inci, tombol-tombol standar dan tersedia lampu kilat dan flash hot-shoe untuk lampu eksternal. Di bagian depanlah yang membedakan GXR ini dengan kamera lain, karena kamera seharga 3 jutaan ini (body only lho..) menganut prinsip interchangeable unit sehingga saat lensa dilepas, maka pada kenyataannya kita juga melepas sensornya. Hal ini menyisakan ruang kosong dan konektor data di kamera GXR sehingga tampak seperti foto di bawah ini :

Ricoh GXR tanpa lensa dan sensor
Ricoh GXR tanpa lensa dan sensor

Namun bila sudah dipasang lensa barulah kamera ini tampak ‘normal’ seperti kamera pada umumnya :

Ricoh GXR dengan lensa terpasang
Ricoh GXR dengan lensa terpasang

Sensor yang menyatu dengan lensa memang baru kali ini ada. Konsep ini menjamin sensor tidak terkena debu saat berganti lensa, dan desain sensor sudah disesuaikan dengan jenis lensa yang dipakai. Untuk sementara ini baru ada dua jenis lensa yang ditawarkan sebagai paket penjualan :

Lensa fix 50mm f/2.5

Lensa bernama GR lens ini berjenis prime/fix dengan fokal 50mm dan bukaan terbesar adalah f/2.5 yang cukup handal di saat low-light (meski bukaan maksimumnya tidak sebesar lensa prime DSLR dengan f/1.8). Berita baiknya, lensa fix ini dipadukan dengan sensor CMOS 12 MP berukuran APS-C layaknya DSLR. Kombinasi antara Ricoh GXR dan lensa GR 50mm ini membuatnya menjadi kamera yang cocok untuk fotografi candid, potret dan low-light dengan jaminan ISO tinggi yang rendah noise. Sensor sebesar ini plus lensa fix 50mm ini dijual di kisaran harga 5 jutaan.

Lensa zoom 24-75mm f/2.5-4.4 VC

Lensa buatan Ricoh ini menjadi lensa zoom impian banyak orang berkat rentangnya yang sangat berguna dari 24mm untuk wide angle hingga 75mm untuk medium tele. Bukaan diafragmanya pun amat baik dengan f/2.5 saat wide hingga f/4.4 saat tele, plus sistem stabilizer untuk meredam getaran tangan. Dengan desain lensa zoom semacam ini, ukuran sensor terpaksa dibuat kecil dan kabar yang kurang enaknya adalah, lensa zoom ini dipaketkan dengan sensor kecil 1/1.7 inci, jenis CCD resolusi 10 MP. Dengan memasang lensa ini pada Ricoh GXR, jadilah kamera ini sebuah kamera saku biasa yang hasil fotonya juga biasa saja. Tapi tunggu dulu, pengoperasian zoom pada lensa ini memakai sistem manual dengan putaran tangan layaknya kamera Micro 4/3 sehingga tak beda seperti memakai lensa DSLR. Untuk paket lensa zoom dan sensor 10 MP ini dijual sekitar 3 jutaan.

Sebagai system-camera, Ricoh GXR ini pun dilengkapi dengan berbagai aksesori seperti hood & adapter, wide conversion lens, teleconversion lens, LCD viewfinder, cable switch dan neck strap. Kita lihat saja apakah format baru dari Ricoh ini akan sukses atau tidak dalam penjualannya.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Pentax K-x, DSLR super lengkap yang terjangkau

Saat bicara akan kamera DSLR yang harganya terjangkau, tentu kita terbayang akan kamera DSLR berukuran kecil yang punya kinerja pas-pasan dan fitur seadanya. Sadar kalau persaingan DSLR di kelas pemula semakin ketat, Pentax pun merasa perlu untuk membuat kejutan pada penerus dari K-m (K-2000), produk DSLR basic dari Pentax yang ditujukan untuk mengisi segmen market kelas 6 jutaan. Hal itu terbukti pada hari ini akhirnya Pentax mengumumkan kelahiran Pentax K-x, sang penerus dari Pentax K-m,  sebuah DSLR mungil yang semestinya masih tergolong kelas basic namun ternyata punya fitur super lengkap dan kinerja tinggi.

Pentax k-x
Pentax K-x (credit : stevesdigicams)

Inilah alasan mengapa kami menyebutnya DSLR super lengkap dan berkinerja tinggi :

  • Sensor CMOS berformat APS-C 12.4 MP dengan sensor-shift Shake Reduction hingga 4 stop, plus anti debu.
  • Live view dengan metoda phase dan contrast detect, lengkap dengan histogram.
  • Face detection yang mampu mendeteksi wajah hingga 16 wajah sekaligus.
  • Memakai modul auto fokus mutakhir SAFOX VIII dengan 11 titik AF, 9 diantaranya cross type.
  • Kemampuan merekam video HD 1280 x 720 piksel, 24 fps, M-JPEG.
  • ISO yang amat lebar dari 200 – 6400, bahkan bisa ditingkatkan menjadi ISO 100 – 12800 bila perlu.
  • Kinerja shutter yang tinggi dengan burst 4.7 fps, top speed 1/6000 detik dan usia shutter hingga 100 ribu kali jepret.
  • Fitur HDR yang menggabung tiga foto jadi satu foto HDR tanpa bantuan komputer.
  • Ditenagai baterai berjenis AA, mampu dipakai hingga 1900 kali dengan baterai AA Lithium dan 1100 kali dengan baterai AA alkaline.

Dalam paket penjualannya, Pentax K-x dibundel dengan lensa kit. Tersedia tiga pilihan lensa kit yang bisa dipilih, yaitu :

  • single kit : lensa smc PENTAX DA L 18-55mm($649.95)
  • dobel kit : lensa smc PENTAX DA L 18-55mm dan smc PENTAX DA L 50-200mm ($749.95)
  • dobel kit : lensa smc PENTAX DA L 18-55mm lens and the smc PENTAX DA L 55-300mm ($849.95)

Dengan hadirnya Pentax K-x, maka peta kompetisi DSLR papan bawah semakin menarik. Diatas kertas, diantara semua pilihan yang ada, praktis Pentax K-x menjadi pemenang dalam hal fitur dan kinerja. Hal ini karena strategi Pentax yang berbeda dari produsen lain, dimana Pentax justru membenamkan fitur kelas berat pada kamera ringan ini sehingga sulit dicari kekurangannya. Pesaing yang kelasnya sama umumnya memakai sensor 10 MP, 7 titik AF, tanpa fitur movie dan tanpa live view. Belum lagi soal ISO yang bisa hingga ISO 12800 dan dukungan wireless flash. Soal kinerja pun pesaing umumnya berkisar di 3 fps untuk burst dan 1/4000 detik untuk shutter tercepatnya. Namun hal paling mengesankan pada Pentax K-x ini menurut kami adalah disediakannya fitur HD movie yang tadinya hanya diberikan di DSLR kelas 8 jutaan (seperti EOS 500D dan Nikon D5000), dan juga pemakaian 11 titik AF (pada Pentax K-m memakai 5 titik) yang mana 9 diantaranya berjenis cross type, sungguh luar biasa. Adapun hal-hal yang sama saja seperti pesaing diantaranya ukuran dan resolusi LCD (2,7 inci), viewfinder tipe mirror dengan 0.85x dan 96% coverage, dan khususnya adalah dimensi kamera yang kecil dan ringan (meski bobot K-x tergolong berat dengan 580 gram).

Pentax K-x ini dalam urusan HD movie dan resolusi sensor bisa dibilang berhasil mengungguli semua kompetitor yang ada , bahkan dalam hal lainnya Pentax K-x mampu mengalahkan pesaing seperti :

  • Canon EOS 1000D : kalah dalam hal jumlah titik AF (7 titik) dan kinerja secara umum (mungkin penerus dari 1000D bisa menjadi pesaing paling imbang dari K-x).
  • Nikon D3000 : kalah dalam hal  live view dan kinerja secara umum.
  • Sony A230 : kalah dalam  live view, jumlah titik AF (9 titik) dan kinerja secara umum.
  • Olympus E-450 : kalah dalam hal jumlah titik AF (hanya 3 titik), tanpa stabilizer di bodi dan kalah untuk kinerja secara umum.

So, bisa jadi Pentax K-x ini bakal jadi kamera DSLR kelas murah yang terbaik di atas kertas. Sayangnya Pentax selalu kalah dalam hal promosi dan beriklan, serta dukungan lensa Pentax di tanah air tidak sebanyak lensa lain seperti Canon atau Nikon.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Leica M9 dan X1, si kecil bersensor besar

Leica, produsen lensa ternama dunia yang bermarkas di Jerman, memperkenalkan dua kamera digital saku baru yang mengesankan. Yang pertama adalah Leica M9, produk rangefinder dengan sensor full frame dan kedua adalah Leica X1, kamera saku dengan sensor APS-C. Leica M9 merupakan kamera bersensor full frame terkecil di dunia, dengan lensa yang bisa dilepas (memakai M-mount) sementara Leica X1 menjadi kamera saku bersensor APS-C dengan lensa fix dan fokalnya pun fix di 24mm (eqiv.36mm). Dengan sensor besar yang sama seperti sensor DSLR, kedua kamera ini memang jago dipakai di ISO tinggi dengan tetap menjaga noise serendah mungkin. Leica M9 akan dijual di kisaran harga diatas 70 juta rupiah, sementara Leica X1 sebagai kamera versi ekonomis dari Leica  ‘hanya’ akan dijual di kisaran harga 20 juta rupiah.

Leica M9 : digital rangefinder

Digital rangefinder, dari namanya yang gagah ini juga memiliki desain yang retro, klasik dan kalau boleh dibilang kuno. Dibalik bodi Leica M9 yang kokoh tertanam sensor buatan Kodak, dengan resolusi 18 MP full frame. Produk penerus M8  ini seperti layaknya rangefinder lain, tidak memakai cermin seperti pada DSLR, sehingga apa yang kita lihat dari jendela bidik optik bukanlah berasala dari lensa. Lensa khusus rangefinder sendiri berukuran lebih kecil dari lensa SLR, dan lensa rangefinder tidak ada yang bisa auto fokus. Urusan shutter, pada kamera ini telah memakai jenis microprocessor-controlled, particularly silent, metal-leaf, focal-plane shutter yang bisa memotret hingga 1/4000 detik secara mekanik.

Leica M9 (credit : DCRP)
Leica M9 (credit : DCRP)

Berikut fitur Leica M9 menurut situs DCRP :

  • 18 Megapixel, full-frame, Kodak-designed CCD
  • Supports Leica M-mount lenses from 16 to 135 mm
  • Classic compact Leica rangefinder design
    • Magnesium alloy body built like a tank
    • Available in black and steel/gray
  • Lack of an anti-aliasing filter means insanely sharp photos; moiré is removed digitally
  • Glass sensor cover eliminates the need for UV/IR filters
  • 2.5″ LCD display (for menus and photo review only)
  • Large rangefinder with auto parallax correction and 0.68x magnification
  • Full manual controls
    • RAW (DNG) format supported, compressed and uncompressed
    • Shutter speed range of 32 – 1/4000 sec, plus a bulb mode
    • ISO range of 80 – 2500
  • Hot shoe for external flash
  • SD/SDHC card slot
  • Uses proprietary lithium-ion battery

Leica X1 : lensa fix dan sensor APS-C

Sementara jenis dari kamera Leica X1 lebih kepada kamera saku bersensor APS-C yang lensanya fix/tetap. Sepintas mengingatkan kita pada Sigma DP dengan sensor Foveon, Leica X1 ini memang menjadi kamera saku bersensor APS-C CMOS 12 MP yang bersaing langsung dengan Sigma DP2. Lensa pada Leica X1 ini didesain sendiri oleh Leica dengan memakai lensa Elmarit f/2.8 dengan fokal fix di 24mm yang karena crop factor sensor APS-C (1.5x) maka fokalnya menjadi 36mm. Kabar baiknya, tidak seperti Leica M9 digital rangefinder yang hanya bisa manual fokus, di kamera X1 ini kita bisa auto fokus (berbasis contrast detect) dan tentunya bisa live-view melalui layar LCD 2.7 inci (bila ingin menikmati jendela bidik optik, maka pemilik X1 ini harus membeli asesori tambahan). Yang paling kami sukai dari Leica X1 ini adalah kendali manualnya yang terpisah dan berupa tombol putar di bagian atas, dimana satu tombol adalah kendali shutter speed dan satu lagi adalah kendali aperture. Tersedia 12 pilihan nilai shutter speed yang ada di tombol, dengan kecepatan maksimum di 1/2000 detik. Sementara pilihan aperture ada 6 opsi, mulai dari f/2.8, f/4, f/5.6, f/8, f/11 hingga f/16 (lensa semungil ini bisa mengecil hingga f/16…).

Leica X1 (credit : DCRP)
Leica X1 (credit : DCRP)

Inilah spesifikasi Leica X1 menurut situs DCRP :

  • 12.2 Megapixel CMOS sensor (APS-C size)
  • F2.8, 24 mm Leica Elmarit lens, equivalent to 36 mm
  • 2.7″ LCD display (230k pixels) with live view
  • Compact, classic Leica design
    • Shutter speed and aperture controlled via dials on top of camera
  • 11-point high speed contrast detect AF system; face detection support
  • Full manual controls
    • Shutter speed range of 30 – 1/2000 sec
    • ISO range of 100 – 3200
    • RAW (DNG) image format support
  • Continuous shooting at 3 frames/second
  • Built-in flash plus a hot shoe
  • No movie mode
  • Optional optical viewfinder with focus confirmation lamp
  • HDMI output
  • 50MB onboard memory + SD/SDHC card slot
  • Uses BP-DC8 lithium-ion battery; 260 shots per charge

Apakah anda tertarik untuk memiliki Leica M9 seharga 70 juta lebih yang tidak bisa auto fokus ini, atau Leica X1 seharga 20 juta namun lensanya tidak bisa di-zoom?

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Canon hadirkan EOS 7D dan lensa zoom baru

Kabar kalau Canon akan meneruskan EOS 50D dengan produk baru yang dilengkapi fitur HD movie kini terbukti sudah. Canon hari ini mengumumkan peluncuran EOS 7D (sempat diprediksi akan bernama EOS 60D) sebagai DSLR beresolusi 18 MP dengan fitur HD movie. Bila anda sempat menganggap kalau 7D itu adalah nama DSLR full frame, rupanya anda keliru. Canon (entah mengapa) justru memutuskan untuk memberi nama penerus EOS 50D ini dengan nama satu digit, bukannya melanjutkan tradisi dua digit seperti sebelumnya. Tidak seperti perubahan dari 40D ke 50D yang hanya berubah secara internal, kini perubahan dari 50D ke 7D bisa dibilang adalah perubahan luar dalam, yaitu penyempurnaan dalam hal desain bodi sekaligus spesifikasi teknis kamera. Continue reading Canon hadirkan EOS 7D dan lensa zoom baru

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Alpha A850, A550 dan A500 : bukti keseriusan Sony di dunia DSLR

Hari ini Sony meluncurkan sekaligus tiga produk DSLR baru sebagai bukti keseriusan mereka untuk fokus di dunia digital imaging. Sambutlah DSLR full frame ekonomis, Alpha 850 seharga 20 jutaan dan DSLR kelas menengah A550/A500 dengan harga dibawah 10 juta. Alpha A850 merupakan DSLR kelas profesional yang umumnya dipakai di studio, sementaraA500 ini termasuk kelas baru yang mengisi kekosongan antara A200/A300 dan A700. Seperti yang sudah diduga, jajaran kamera baru ini tetap tidak memiliki fitur HD movie karena Sony belum siap dalam mendesain auto fokus terbaik dalam mode video (lagipula fitur movie belum tentu diperlukan oleh para fotografer).

Sony A850 (credit : stevesdigicams)
Sony A850 (credit : stevesdigicams)

Berita baik bagi pecinta DSLR full frame. Bila harga Sony A900 (atau DSLR full frame merk lain) masih dirasa terlalu tinggi, maka A850 ini hadir menawarkan resolusi ekstra tinggi 24 MP dengan harga 20 jutaan saja. Tentu A850 ini kalah dalam kecepatan burst dan viewfinder coverage dibanding A900, tapi keduanya sama dalam urusan sensor (Exmor) dan prosesor (dual Bionz) sehingga menjamin kualitas hasil foto yang sama baiknya. Sebagai info, format full frame dengan resolusi 24 MP telah mulai menjadi alternatif murah untuk profesional yang selama ini mengandalkan digital-back (medium format), dengan kualitas yang hampir menyamai perangkat kamera ratusan juta itu. Sebagai lensa kitnya, Sony menawarkan lensa SAM 28-75mm f/2.8 bukaan konstan, meski untuk DSLR full frame tentu lebih mantap memakai lensa Zeiss.

Fitur utama A850 adalah :

  • sensor full frame, 24 MP
  • 9 titik AF utama dan 10 titik AF bantuan
  • sensor shift steady shot (tidak mudah lho, mendesain sistem stabilizer pada sensor sebesar ini)
  • LCD ukuran 3 inci resolusi tinggi
  • top status LCD

Kekurangan dari A850 setidaknya :

  • burst cuma 3 fps (namun pada resolusi maksimal 24 MP)
  • tanpa built-in flash (namun merk lain pun umumnya tanpa built-in flash)
  • tanpa live-view

Adapun A550/A500 menjadi produk menengah yang menarik terlebih karena produk A350/A380 yang tergolong kelas entry level tidak cukup mumpuni untuk bersaing dengan merk lain di kelas menengah yang sama-sama memakai sensor APS-C seperti Nikon D90 dan Canon 500D (Sony pun perlu meng-update A700-nya untuk bersaing dengan Nikon D300 dan Canon 50D). Sony A550 (14 MP) dan A500 (12 MP) juga hadir dengan live view khas Sony dan layar LCD lipat 3 inci, meski resolusi layar pada A550 jauh lebih tajam. Lagi-lagi, Sony tidak menawarkan fitur HD movie pada seluruh jajaran DSLRnya, termasuk di produk anyarnya ini. A550 dijual 9 jutaan dan A500 dijual 7 jutaan dengan lensa kit 18-55mm.

Sony A550 (credit : stevesdigicams)
Sony A550 (credit : stevesdigicams)

Fitur utama A550/A500 adalah :

  • sensor CMOS Exmor (APS-C), 1.5x crop factor
  • 9 titik AF dan auto fokus tercepat saat live view
  • steady shot
  • LCD lipat ukuran 3 inci resolusi tinggi
  • burst 7 fps (speed priority)

Kekurangan dari A550/A500 setidaknya :

  • tanpa top status LCD
  • AF assist lamp mengandalkan lampu kilat

Selain itu Sony juga meluncurkan lensa fix baru DT 30mm f/2.8 SAM macro khusus untuk sensor APS-C.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

DSLR untuk pemula di 2009, pilih yang mana?

Tahun 2007-2008 menjadi tahun yang menyenangkan bagi fotografer pemula yang membeli DSLR kelas pemula atau entry-level. Betapa tidak, saat itu tercatat banyak produk baru yang harganya terus membuat semua pihak tercengang, karena terus turun hingga menembus angka psikologis (dibawah) lima juta. Seiring krisis ekonomi global di akhir 2008, harga kamera DSLR pun kembali merangkak naik. Kisaran harga DSLR kelas pemula kini berada di kisaran 6 sampai 7 juta, sementara DSLR kelas semi-pro kini berada di atas 10 juta. Hal ini menyebabkan mereka yang belum sempat membeli kamera di tahun lalu menjadi kecewa, karena asumsi harga yang terlanjur ditargetkannya bergeser satu hingga dua juta.

Kini tak perlu lagi menyalahkan masa lalu. Faktanya, saat ini kurs rupiah sekitar 11.000 dan harga DSLR ini sudah stabil di kisaran sekarang. Bila memang sudah ngebet ingin segera memiliki kamera DSLR baru, tak perlu menunggu harga turun lagi yang entah kapan. Berikut daftar DSLR entry level yang bisa dipertimbangkan untuk dibeli pada tahun 2009 ini. Sebagai catatan, di daftar kali ini kami tidak memasukkan DSLR kelas upper entry level yang salah satu cirinya bisa merekam HD movie, karena harga jualnya terlampau tinggi untuk ukuran DSLR murah (contoh : Canon EOS 500D dan Nikon D5000).

Inilah mereka, DSLR murah di tahun 2009, urut dari harga yang terendah :

  1. Sony Alpha A300 (5,7 jutaan)
  2. Canon EOS 1000D (5,8 jutaan)
  3. Pentax K-m (6 jutaan)
  4. Nikon D60 (6,7  jutaan)
  5. Olympus E-620 (7 jutaan)

Kesamaan mendasar

Faktanya, kelima kamera diatas adalah kamera DSLR entry level. Mereka berbagi sensor yang sama (kecuali Olympus dengan sensor agak lebih kecil berformat 4/3), bahkan mereka memakai resolusi yang sama-sama 10 MP (kecuali Olympus dengan 12 MP). Mereka sama-sama dilengkapi dengan lensa kit dalam penjualannya. Soal bodi kamera juga mereka memakai material plastik yang ringan dan kompak, menunjukkan ciri kamera kelas pemula (DSLR kelas pro memakai bodi magnesium alloy). Kinerja shutter secara umum juga sepadan, demikian juga dengan kemampuan ISOnya. Kelimanya juga dijual dengan harga dibawah 7 juta (kelimanya tidak memiliki fitur HD movie recording yang membuat harga DSLR jadi naik). Singkatnya, kelimanya sama-sama baik dan berkualitas, sehingga di awal kami sampaikan saja kalau DSLR manapun yang anda pilih pada dasarnya akan mampu memberikan hasil foto yang baik. Belum puas? Simak lebih jauh plus minus dari kelima kamera DSLR pemula dibawah ini.

Sony Alpha A300 : sarat fitur tak harus mahal

dslr-a300Bahkan Sony A200 pun dijual lebih murah lagi, paket lensa kit hanya 5 juta. Tapi kita tidak sedang membahas A200, kita membahas A300 disini. Sony A300 memakai sistem stabilizer pada bodi, layaknya Pentax dan Olympus. Sony Alpha A300 dan A350 menjadi pendobrak dunia DSLR modern dengan memberi solusi berbeda dalam menyaisati lambatnya auto fokus dalam mode live-view, dengan metoda sensor terpisah sewa bus jogja. Kecepatan fokus ini tidak menjadikan harga jual A300 lantas jadi tinggi, bahkan Sony A300 ini harganya termurah diantara kelima kamera disini. Bisa dibilang kalau Sony menerapkan strategi spec up, price down pada produk DSLR Alpha.

Plus

Inilah DSLR dengan kecepatan fokus tertinggi saat live-view. Bahkan, A300 ini punya layar LCD 2.7 inci yang bisa dilipat. O ya, urusan kinerja, A300 juga handal. Dengan modul AF 9 titik tentu kamera ini cocok untuk urusan jepret cepat seperti candid. Stabilizer pada bodi berarti semua lensa dapat mengalami efek stabilisasi. ISO native juga bisa sampai ISO 3200, meski noisenya tentu saja cukup terasa. Kemampuan shutternya standar dengan 3 fps unlimited, dan tersedia wireless flash commander untuk kreatifitas fotografi dengan lampu kilat. Bahkan menurut kami plus-plus ini semakin lengkap dengan harga jualnya yang juga wajar, bahkan cenderung murah, cukup dengan 5,7 juta plus lensa kit 18-70mm yang mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari.

Minus

Bila anda berharap live-view di A300 ini cepat, memang betul adanya. Tapi sensor terpisah membuat live-view ini tidak presisi, tidak dapat menampilkan histogram, dan tidak bisa di-enlarge untuk manual fokus assist. Sony juga masih berkutat mencari metoda tebaik untuk membuat foto JPEG dari Alpha series ini supaya bisa menyamai hasil JPEG kamera lain. Bila anda sering memotret JPEG, cobalah bereksperimen dengan setting JPEG yang paling baik menurut anda.

Dukungan lensa

Pada dasarnya dukungan lensa Sony SAL-DT dari Sony cukup lengkap dan berkualitas. Masalahnya di tanah air mungkin stoknya belum banyak, ditambah lagi tidak banyak lensa alternatif yang mendukung mount dari Sony. Bila anda cukup puas dengan lensa kit DT 18-70mm, sementara optimalkan saja dulu lensa tersebut. Bila ingin mencari lensa tele, pertimbangkan DT 75-300mm dan untuk widenya bisa coba DT 11-18mm.

Penerus Sony A300 di 2009

Sony sudah membuat produk pengganti A300 yang bernama A330, meski tidak ada perubahan signifikan dari upgrade tersebut. Oleh karena itu selama stoknya masih ada, kami masih merekomendasikan A300 saja.

Canon EOS 1000D : versi hemat dari EOS 450D

canon-eos-1000dEntah mengapa waktu itu Canon meluncurkan EOS 1000D (Rebel Xs) disaat penjualan EOS 450D sedang bagus-bagusnya. Tapi kini harga 450D sudah hampir sejajar dengan kamera DSLR semi-pro lawas seperti Nikon D80 sehingga 1000D ini jadi lumayan dicari oleh para budget-minded, apalagi 400D kini sudah semakin sulit dicari. EOS 1000D diluncurkan tengah tahun 2008 dengan paket lensa kit 18-55mm yang sudah dilengkapi IS. kamera ini memakai sensor CMOS 10 MP, dengan 7 titik AF dan mampu mencapai ISO 1600. Cukup mengejutkan saat mengetahui bahwa 1000D sudah dilengkapi dengan live-view, meski masih kalah mantap dari 450D. Kinerja shutter cukup standar dengan 3 fps, dan layar LCD juga standar dengan 2,5 inci.

Plus

Live view jadi andalan 1000D, beserta segala kelebihan lain dari Canon seperti kinerja noise reduction yang baik dan tone yang karakternya juga baik. EOS 1000D pun bisa dipasangkan dengan berbagai lensa EF, EF-S ataupun lensa alternatif merk lain. Kami tempatkan 7 titik AF sebagai nilai plus kamera ini, meski sebenarnya ini adalah down-spec bila dibanding dengan 400D yang punya 9 titik AF. O ya, EOS 1000D juga memakai sistem anti debu yang serupa dengan yang dipakai di 450D.

Minus

Sebagian fotografer tidak bisa menerima kenyataan kalau ada kamera DSLR tidak dilengkapi dengan spot metering, karena fitur ini penting untuk dipakai di kala kondisi pencahayaan amat sulit. Faktanya, 1000D tidak punya spot metering. Apakah ketiadaan ini membuat anda merasa keberatan atau tidak, terserah anda. Kekurangan lainnya cukup mendasar, yaitu bodi kamera ini yang terasa kurang nyaman karena terbalut plastik tanpa lapisan karet layaknya 400D atau 450D.

Dukungan lensa

Tidak perlu kuatir akan dukungan lensa dari Canon. Untuk teman lensa kit, bisa dipilih lensa tele EF-S 55-250mm dan lensa widenya bisa menjajal EF-S 10-22mm. Bila bosan dengan lensa kit dan ingin menjajal lensa kit yang terbaik dari Canon, cobalah EF-S 17-85mm USM.

Penerus EOS 1000D di 2009

Belum ada, setidaknya sampai tulisan ini dibuat Juli 2009 ini. Rumornya, Canon akan membuat penerus 1000D yang akan bernama EOS 2000D dengan fitur HD movie. Sudah bisa diprediksi, harga jual 2000D akan melonjak jauh sehingga EOS 1000D bagaimana pun masih lebih menarik dalam hal harga jual.

Pentax K-m : versi hemat dari K200D

pentax-k-mDi daftar ketiga ini kami sajikan kamera yang tergolong mungil yaitu Pentax K-m (K2000). Rupanya Pentax terinspirasi oleh Canon saat membuat 1000D, karena Pentax juga mengalami hal yang sama. Produk andalannya di kelas entry level, K200D rupanya terlalu mahal dan membuat Pentax terpaksa meluncurkan satu lagi produk yang lebih murah dari K200D ini. Alhasil lahirlah Pentax K-m, dengan ciri tidak lagi memakai bodi weather sealed, dan membuat lensa kit baru yang lebih kecil dan ringan. Pentax memakai stabilizer pada sensor CCD 10 MPnya, sehingga artinya semua lensa yang dipasang di bodi Pentax akan merasakan efek stabilisasi hingga 3 stop. Versi hemat artinya tentu ada aspek yang dikurangi, dalam hal ini jumlah titik AF pada Pentax K-m ini hanya 5 titik saja (dibanding 11 titik pada K200D). Tapi 5 titik ini masih lumayan karena masih fleksibel saat kamera dipakai memotret vertikal atau horizontal. Soal ISO pun Pentax ini mampu mencapai ISO 3200 yang cukup mengagumkan untuk kamera sekelas ini. Inilah satu-satunya DSLR dengan tenaga 4 buah baterai AA.

Plus

Stabilizer pada bodi berarti semua lensa dapat mengalami efek stabilisasi. ISO native juga bisa sampai ISO 3200, meski noisenya tentu saja cukup terasa. Secara umum kinerja dan performa menyamai K200D, bahkan burst-nya mengalahkan K200D dengan 3.5 fps yang mana amat baik untuk kamera semurah ini. Layar LCD pun tampak lega dengan ukuran 2,7 inci.

Minus

Saat pesaingnya EOS 100D menyertakan fitur live-view, Pentax K-m ini hadir tanpa fitur tersebut. Selain itu indikator titik AF tidak ditampilkan di viewfinder layaknya DSLR lain. Belum ada info apakah ada sistem anti debu di Pentax K-m ini.  Selain kedua hal diatas, praktis tidak ada hal negatif yang dijumpai di kamera ini, bahkan sejujurnya kamera ini semestinya dapat mengungguli EOS 1000D seandainya memiliki live-view.

Dukungan lensa

Belum ada info apakah lensa kit DA-L 18-55mm ini telah memakai motor SDM atau belum. Tapi lensa Pentax terkenal akan kualitas dan harganya. Bila perlu lensa tele, bisa pertimbangkan DA 50-200mm dan untuk widenya bisa mencoba DA 12-24mm. Bila tidak puas dengan lensa kitnya, jajal saja lensa sapu jagad dengan rentang ekstra panjang, DA 18-250mm. Sayangnya lensa alternatif seperti Sigma/Tamron/Tokina jarang punya stok dengan mount KAF Pentax.

Nikon D60 : kualitas di dalam kesederhanaan

D60

Adalah Nikon D60, si pengganti D40 yang kini mengusung sensor CCD beresolusi 10 MP, dibekali lensa kit 18-55mm VR, fitur anti-debu, active-D lighting dan Expeed engine Nikon. Kamera ini mampu mencapai ISO 1600 (dan ISO setara 3200 bila dinaikkan satu tingkat dari ISO 1600), dengan kecepatan burst 3 fps. Modul AF memakai 3 titik AF saja, sangat basic, namun tersedia mode continuous servo untuk mengunci fokus benda yang bergerak. Inilah kamera yang tidak sarat fitur berlimpah namun tetap menjaga kualitas khas Nikon dalam kesederhanaannya.

Plus

Apa sih yang jadi kekuatan utama dari DSLR termurah dari Nikon ini?  Faktanya, anda tidak akan menemukan fitur modern seperti live-view di D60. Tapi mengapa masih banyak orang yang terus mengincar dan membeli D60 ini? Bisa jadi alasannya cukup subjektif,  karena yang jadi andalan Nikon D60 pun adalah fitur yang pada dasarnya ada di semua kamera DSLR, namun diyakini pada D60 fitur tersebut lebih baik dan efektif. Diantaranya : metering yang handal, Auto ISO yang efektif, noise reduction yang tepat, karakter warna / tone yang consumer friendly, ergonomi dan tata lentak tombol yang nyaman, menu yang mudah dipahami, hingga white balance yang jarang meleset. Anda boleh tidak sependapat, kami katakan sekali lagi, ini subjektif sekali. Jangan sampai ada anggapan kamera lain meteringnya jelek, misalnya. Tapi dapat kami katakan kalau Nikon membuat setiap kameranya dengan cermat, termasuk D60 ini yang mampu memberi hasil foto yang baik, dan pemakai D60 dapat ikut merasakan seperti apa rasanya memakai dan menikmati hasil foto dari DSLR Nikon. Bila anda ‘brand minded’, dan memang meyakini kalau hasil foto dari Nikon memang mantap, pilih saja D60 tanpa harus memperdulikan kekurangan dari D60 di bawah ini.

Minus

Ada dua hal yang menjadi kekurangan utama D60 : ketiadaan motor AF di bodi dan jumlah titik AF yang hanya tiga titik. Sejumlah Nikon mania mengeluhkan lensa-lensa lawasnya (Nikon AF atauNikon AF-D) tidak bisa auto fokus di D60, sementara pecinta candid dan sport photography mengeluhkan titik AF yang terlalu sedikit pada D60. Awalnya kami tidak melihat ketiadaan live-view adalah suatu kekurangan fatal, tapi mengingat kompetitor sudah ada yang memakai live-view, bolehlah kami sebut D60 ini semestinya juga dilengkapi dengan live-view. Buat yang senang memotret bracketing untuk foto HDR juga akan kecewa karena fitur yang amat standar ini bahkan tidak dijumpai di D60. Nikon D60 pun kurang fleksibel karena ketiadaan dukungan wireless flash ataupun asesori resmi battery grip.

Dukungan lensa

Tidak dipungkiri lagi, dukungan lensa Nikon selalu jadi alasan utama mengapa orang memilih DSLR Nikon. Betul kalau D60 tidak bisa auto fokus di lensa Nikon lama, tapi kini jajaran lensa Nikon AF-S baru sudah semakin banyak. Lensa kit D60 pun sudah amat baik plus sudah ada VRnya. Bila ingin menambah lensa lagi, pertimbangkan AF-S 55-200mm untuk telenya, dan AF-S 12-24mm untuk widenya. Bila bosan memakai lensa kit, tersedia lensa lain pengganti lensa kit yang bagus dan terjangkau seperti AF-S 18-135mm, AF-S 18-105mm atau AF-S 16-85mm, kesemuanya lensa DX. (Catatan : lensa Nikon non-DX juga bisa dipakai, meski ukurannya lebih besar dari lensa DX).

Penerus D60 di 2009 (update 30 Juli 2009)

Nikon D3000 dengan 11 titik AF dan LCD berukuran 3 inci. Baik D3000 dan D60 masih sama-sama memakai sensor CCD 10 MP, tanpa live-view dan burst 3 fps. Bila D3000 ini sudah tersedia di pasaran, maka D60 ini secara alami akan diskontinu.

Olympus E620 : fitur dan kinerja mendekati kamera DSLR semi-pro

oly-e520Penerus E520 ini masih tergolong DSLR entry-level, meski sebenarnya secara fitur sudah mendekati DSLR semi-pro.  Terinspirasi dari sukses E-30, Olympus membuat kejutan dengan perubahan radikal pada E620 dengan banyak penyempurnaan yang membuatnya mampu bersaing dengan DSLR entry-level lain. Tersedia paket dengan lensa kit 14-42mm (di beberapa tempat dijual dengan paket dobel lens kit 40-150mm), dengan sensor NMOS 12 MP beraspek rasio 4 : 3 dan crop factor 2x, maka lensa kit ini menjadi setara dengan 28-85mm. E620 telah dilengkapi layar LCD 2,7 inci yang bisa dilipat, live-view, anti debu, dan stabilizer pada bodinya. So, meski E620 di daftar ini menjadi yang termahal (dan terbaru), namun dengan segala kelebihan fiturnya memang layak untuk menjadi yang terbaik di kelas DSLR pemula.

Plus

Live-view dengan face detection, 7 titik AF (sebelumnya 3 titik AF di E520), anti debu SSWM, stabilizer pada bodi (4 stop) sehingga lensa yang terpasang mengalami efek stabilisasi, flash wireless untuk kreativitas lampu kilat, desain bodi tampak kokoh dan tidak murahan, layar LCD 2,7 inci yang bisa dilipat, shadow adjustment technology, sebagian tombolnya bisa menyala dalam gelap, 4 fps burst mode yang cepat, dan mendukung dua macam memory card (CF dan xD).

Minus

Gambar lebih noise di ISO tinggi dibanding kompetitor (karena ukuran sensor yang lebih kecil dari APS-C), cenderung mengalami highlight clipping, viewfinder lebih kecil dari pesaingnya, tata letak tombol tersebar di berbagai sisi bodi kamera.

Dukungan lensa

Terdapat beberapa lensa Zuiko yang berkualitas, dengan asumsi crop factor 2x dari sensor Olympus, membuat lensa tele akan mendapat keuntungan lebih dimana fokal 200mm bisa menjadi 400mm, misalnya. Sebagai teman dari lensa kit, bisa dipertimbangkan Zuiko ED 40-150mm dan untuk lensa widenya bisa memakai ED 9-18mm.

Kesimpulan

DSLR entry-level menjadi produk primadona mereka yang punya anggaran terbatas ataupun mereka yang baru menerjuni dunia fotografi digital. Dengan dana 5 sampai 7 juta, sudah bisa  didapat kamera DSLR yang cukup lengkap, berkualitas tinggi dan berkinerja lumayan dan memiliki paket lensa kit yang memadai untuk mulai belajar memotret. Meski ada juga DSLR entry level yang punya harga 8 jutaan (seperti EOS 450D/500D, Pentax K200D atau Nikon D5000) namun menurut kami dengan dana 7 juta atau kurang kita sudah bisa memiliki DSLR kelas pemula yang baik, dan dana 8 juta sebetulnya lebih baik dipakai untuk membeli DSLR semi-pro bodi only semisal Nikon D80 atau Canon 40D.

Dari daftar 5 kamera DSLR pemula di atas, yang bisa disimpulkan adalah :

  • harga jual : termahal Olympus E-620, termurah Sony A300
  • jumlah titik AF : terbanyak  Sony A300 (9 titik), paling sedikit Nikon D60 (3 titik)
  • kecepatan burst : tercepat Olympus E-620 (4 fps), Pentax K-m (3,5 fps)
  • sanggup hingga ISO 3200 : Olympus E620, Pentax K-m, Sony A300
  • wireless flash commander : Sony A300 dan Olympus E620
  • stabilizer di bodi : Olumpus E620 dan Pentax K-m
  • baterai : Pentax K-m pakai 4 x AA, lainnya baterai lithium
  • kesamaan umum : shutter max (1/4000 detik), viewfinder coverage (0.95-0.96 %), flash range (11-13m), resolusi LCD (230 ribu piksel) khusus Olympus E620 LCD bisa dilipat.
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..