Seperti apa kemampuan handycam dengan resolusi Ultra HD?

Handycam adalah merk dagang dari Sony, tapi istilah ini sudah akrab ditelinga dan jadi istilah umum yang artinya sama juga dengan camcorder. Sebagai alat yang memang didesain untuk merekam video, perjalanan handycam cukup panjang, mulai dari format kaset, DVD, hardisk hingga flash (solid state) dipakai untuk media rekamnya. Ukuran gambar (yang berhubungan dengan kualitas) juga berkembang, dari Standard Definition (SD), lalu ke High Definition (HD) yang cirinya punya bidang gambar widescreen 16:9. Format HD pun berevolusi jadi full HD dan kini sudah menjelang era Ultra HD. Seperti apa kemampan handycam yang bisa merekam video ultra HD ini?

ax1view1

Baru-baru ini Sony meluncurkan handycam kelas semi-pro FCR-AX1 yang mampu merekam video resolusi 4K, atau 4x HD biasa, atau disebut juga dengan ultra HD. Dalam hitungan piksel, maka bidang gambar video ini adalah 3840×2160 piksel (setara dengan foto 8 MP) yang melebar dengan aspek rasio 16:9. Untuk media simpan data digunakan kartu memori jenis QXD, karena bit rate video 4K yang sebesar 150 Mb/s tidak bakal tertampung di kartu memori biasa. Membawa nama handycam, kamera AX1 ini memang masih didesain untuk kelas consumer, bukan kelas pro walau fitur-fiturnya sudah bisa memenuhi banyak kebutuhan para profesional.

hd-vs-4k

Kita tinjau fitur-fitur dari perekam video seharga 50 jutaan ini :

Fitur dasar

Lensa G 31.5-630mm f/1.6-3.4 OSS (20x zoom), ND filter, sensor Exmor 1/2.3 inci CMOS, dua slot kartu QXD, LCD 3,5 inci wide kerapatan 1,2 juta titik.

Video Audio format

4K ( 3840×2160 piksel), 60 fps, X AVC S codec (1 jam video 4K atau 3 jam video full HD dalam kartu memori 32 GB) kompresi MPEG4 AVC/H.264 long GOP, linear PCM audio.

Konektivitas

  • Kamera pertama dengan dukungan kabel HDMI 2.0 untuk ke TV 4K
  • Audio input dengan sepasang XLR (balanced audio)
  • built-in stereo mic
  • Untuk TV biasa, video output bisa disesuaikan jadi 1920×1080 piksel

Bonus

Bayangkan melakukan editing video 4K, seperti apa software yang mesti dipakai? Maka itu Sony memberi ‘bonus’ berupa aplikasi editing VEGAS PRO 12 Editing Software. Bonus sesungguhnya adalah sekeping kartu QXD 32 GB, lumayan..

Camcorder lain yang sudah lebih dulu hadir dengan kemampuan 4K adalah JVC GY-HMQ10, sayangnya belum mendukung kabel HDMI 2.0 sehingga perlu ada 4 port HDMI untuk menampilkan resolusi 4K ke TV 4K.  Dengan satu port HDMI 2.0, maka cukup satu kabel yang dihubungkan ke TV 4K maka video sangat detil bisa dinikmati di layar TV. Sebagai info, ukuran TV dengan resolusi 4K itu umumnya diatas 60 inci ya, seperti TV Panasonic ini :

panasonic-4k-tv_500

Standar untuk kabel HDMI 2.0 adalah :

  • kapasitas bandwidth 18 Gbps
  • video 3840×2160 piksel 60 fps tidak terkompres
  • 32 kanal audio
  • bentuk konektor yang sama dengan HDMI
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Sony hadirkan kamera SLT A77, A65, NEX-7 dan NEX-5N

Sony baru saja meluncurkan empat kamera dengan sensor DSLR APS-C, dimana dua kamera merupakan model SLT (Alpha SLT-A77 dan A65) dan dua lagi merupakan generasi NEX sebagai kamera mirrorless kompak (NEX-7 dan NEX-5N). Kejutan besar yang utama disini adalah dipakainya sensor beresolusi ekstra padat 24 MP (kecuali NEX-5N memakai 16 MP). Selain itu Sony juga memperkenalkan lensa baru dengan A mount dan E mount, serta sebuah adapter unik yang menghubungkan bodi NEX dengan lensa A mount. Simak selengkapnya disini.

Sony SLT-A77

Sony perlu waktu empat tahun untuk membuat penerus A700 yang amat populer, namun kini dalam teknologi baru dengan cermin translucent dan jendela bidik elektronik. Sony menargetkan A77 sebagai kamera terbaik dan tercanggih di kelas sensor APS-C, dengan sensor 24 MP CMOS, burst 12 gambar per detik, 19 titik AF ( 11 diantaranya cross type) dan viewfinder paling tajam di dunia dengan 2,4 juta dot berteknologi OLED.

Bodi kamera ini terbalut magnesium alloy, memiliki dua kendali di depan dan belakang plus sebuah joystick untuk kendali menu yang lebih cepat, dengan layar LCD utama 3 inci yang bisa dilipat maupun diputar. Terdapat juga LCD tambahan di bagian atas kamera. Kamera A77 dan A65 dilengkapi dengan GPS untuk geotagging. Shutter unit teruji sampai 150 ribu kali jepret, dengan sync 1/250 detik untuk flash dan maksimum speed adalah 1/8000 detik.

Tampak atas dari kamera A77 terlihat roda mode dial di bagian kiri dan LCD tambahan di bagian kanan.

Sebagai lensa kit A77, tersedia Sony DT 16-50mm f/2.8 SSM dan lensa ini bisa dibeli terpisah seharga 6 jutaan. Harga A77 sendiri body only adalah 13 jutaan atau bila dengan lensa kit tadi menjadi 19 jutaan. Minat?

Sony SLT-A65

Di kelas pemula, Sony menawarkan A65 yang lebih simpel dibanding dengan A77, dan tentunya lebih terjangkau. Meski tergolong di kelas pemula, namun A65 tetap memiliki sensor yang sama dengan A77 yaitu 24 MP. Meski untuk modul AF-nya A65 cukup dengan 11 titik AF (3 diantaranya cross type) dan masih sangat cepat dengan 10 fps burst. Soal viewfinder pun A65 ini memiliki resolusi yang sama tajamnya dengan si kakak A77.

Bodi kamera A65 memang hanya terbuat dari plastik yang membuat harganya cukup terjangkau. Layar LCD 3 inci di A65 bisa dilipat. Shutter maksimum adalah 1/4000 detik dan sync flash 1/160 detik saja.

Sebagai lensa kit A65, ada Sony DT 18-55mm f/3.5-5.6 dan harga jual A65 dengan lensa kit adalah 9 jutaan.

Kemampuan rekam video A77 dan A65 memiliki kesamaan dengan full HD 60 frame per detik progressive, continuous AF dan audio stereo. Terdapat juga tombol langsung untuk merekam video, colokan eksternal mic dan fitur manual eksposur bisa digunakan saat merekam video. Hasil rekaman video bisa ditampung di memory card modern SDXC karena A77 dan A65 sudah kompatibel dengan SDXC maupun Memory Stick. Terakhir, keduanya memiliki sensor dengan stabilizer Steady Shot yang berguna saat memotret maupun merekam video.

Sony NEX-7 dan NEX-5N

Inilah seri kamera mungil dengan sensor besar serta memiliki lensa yang bisa dilepas, yang biasa disebut kamera mirrorless. Sebagai lensanya Sony menyediakan lensa khusus dengan E mount, meski lensa dengan A mount juga bisa digunakan dengan bantuan sebuah adapter. NEX-7 didedikasikan sebagai kamera mungil paling canggih yang pernah ada, dengan sensor 24 MP CMOS, berbalut magnesium alloy, memiliki jendela bidik elektronik dengan ketajaman yang sama seperti A77/A65, TRINAVI user interface (dua roda kendali di bagian atas dan satu di belakang) dan dijual seharga 13 jutaan dengan lensa kit. Sementara adiknya NEX-5N adalah kamera mungil dengan sensor 16 MP, tanpa jendela bidik elektronik (harus beli terpisah) dan layar LCD 3 inci yang bisa diangkat, dijual lebih murah di harga 6 jutaan dengan lensa kit.

Sebagai lensa kit dari NEX-7 dan NEX-5N adalah 18-55mm f/3.5-5.6 OSS dengan E mount, namun Sony menawarkan beberapa lensa E mount baru (yang sudah dilengkapi stabilizer OSS)  untuk pemilik kamera NEX diantaranya :

  • lensa tele 55-210mm f/4.5-6.3 (3 jutaan)
  • lensa Zeiss 50mm f/1.8 (3 jutaan)
  • lensa Zeiss 24mm f/1.8 (9 jutaan)

Sedangkan adapter baru LA-EA2 memungkinkan auto fokus yang cepat karena terdapat translucent mirror di dalam adapter, membuat harganya melambung hampir mencapai 4 juta rupiah untuk adapter saja !

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Panasonic Lumix G3, lebih mungil dan lebih murah dari G2

Satu lagi penyegaran di kelas kamera Micro Four Thirds dilakukan oleh Panasonic. Bila sebelumnya Panasonic agak membingungkan dengan membuat dua kelas kamera yang mirip (Lumix G2 dan GH2), kini telah hadir penerus G2 yang bernama Lumix G3 dengan ukuran yang 25% lebih mungil dan harga lebih terjangkau daripada G2. Dengan demikian GH2 menjadi satu-satunya kamera Micro Four Thirds yang berdimensi paling besar (mirip DSLR), lalu kamera GF2 menjadi kamera yang paling kecil (mirip kamera saku) dan G3 ini menjadi kamera yang ukurannya diantara GH2 dan GF2.

lumix-g3-lcd

Langkah yang dilakukan Panasonic dalam merubah G2 ke G3 membawa beberapa konsekuensi. Sebutlah diantaranya hilangnya berbagai tombol dan tuas penting untuk pengaturan kamera. Selain itu ukuran yang lebih mungil membuat G3 kehilangan grip yang dominan di G2. Untuk itu G3 lebih cocok dipilih oleh kaum hawa sedangkan bagi yang ingin merasakan sensasi seperti DSLR lebih mantap memakai GH2 saja. Namun G3 kini dibekali sensor 16 MP yang sama seperti GH2, meningkat lumayan banyak dari 12 MP di seri G1 dan G2. Perbedaan G3 terhadap pendahulunya tampak seperti gambar di bawah ini (kiri G2 dan kanan G3) :

g2-vs-g3

Lumix G3 kini memiliki kemampuan full HD video dengan suara stereo dalam format AVCHD, Venus Engine VI FHD processor, Photo Style dan filter Creative Control filters. Lumix G3 tersedia dalam warna putih, merah dan hitam dengan harga 5 jutaan (bodi saja) atau 6 jutaan (dengan lensa kit).

Adapun sejarah kamera Lumix seri G sejak 2008 hingga saat ini adalah :

Lumix G1 (Sep 2008) :

  • 12 MP
  • ISO 3200
  • tanpa fitur movie
  • lensa kit 14-45mm
  • layar LCD lipat
  • EVF resolusi tinggi (1,44 juta piksel)

Lumix G2 (Mar 2010) :

  • 12 MP
  • ISO 6400
  • HD movie 1280 x 720 (AVCHD lite)
  • lensa kit 14-42mm
  • layar LCD lipat, touchscreen
  • EVF resolusi tinggi (1,44 juta piksel)
  • mendukung SDXC card

Lumix G3 (Mei 2011) :

  • 16 MP
  • ISO 6400
  • HD movie 1980 x 1080 (AVCHD), stereo
  • lensa kit 14-42mm
  • layar LCD lipat, touchscreen
  • EVF resolusi tinggi (1,44 juta piksel)
  • mendukung SDXC card
  • Photo Style dan filter Creative Control filters
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Tentang video High Definition

Tahun ini calon pembeli kamera digital akan merasa dimanjakan oleh produsen kamera karena hampir semua kamera buatan tahun 2010-2011 sudah memiliki kemampuan merekam video beresolusi High Definition (HD). Agak berbeda dengan tahun-tahun lalu di saat video HD masih merupakan fitur mewah yang hanya dijumpai pada kamera mahal saja. Kini disaat video HD sudah begitu umum, apakah anda sudah memahami seluk-beluk mengenai fitur yang satu ini? Bila belum, semoga artikel ini ada manfaatnya.

sanyo-xacti

Video HD pada kamera digital merupakan babak baru konvergensi kamera foto dan video. Dulu, kamera foto yang bisa merekam video sifatnya hanyalah untuk klip pendek yang kualitasnya jauh dari memadai. Bahkan dulu dikatakan kalau untuk merekam video ya pakailah camcorder, bukannya kamera foto. Tapi seiring meningkatnya evolusi kamera digital, bahkan pada DSLR, serta semakin baiknya teknologi prosesor di dalam kamera, maka fitur video beresolusi tinggi semakin mudah diwujudkan di kamera digital. Bila sudah begini, apakah kita masih membutuhkan camcorder lagi?

Untung rugi video HD

Tidak seperti format SD (Standard Definition) yang biasa kita lihat di TV konvensional (yang memakai aspek rasio 4 banding 3), video HD memiliki aspek rasio 16 banding 9 atau format layar lebar. Ada dua macam format HD yang ditawarkan produsen kamera, yaitu HD 720 (1280 x 720 piksel) dan HD 1080 (1920 x 1080 piksel). Kedua format video HD ini sudah memenuhi standar kualitas video untuk broadcast, bila dilihat dari resolusinya. Dalam industri cakram video, video HD dijadikan standar pada keping Blu-ray yang berkapasitas 25 GB per kepingnya. Ketajaman dan detilnya jauh di atas format SD dengan resolusi VGA (640 x 480 piksel) apalagi yang QVGA (320 x 240 piksel). Format VGA sendiri hampir mendekati kualitas video dari keping DVD (720 x 480 piksel), sedang QVGA hampir menyamai resolusi video jaman era VCD dulu (325 x 288 piksel).

hd-movie

Jadi keuntungan video HD adalah dalam hal kematangan teknologi video, dengan resolusi yang sudah sama dengan kualitas broadcast maupun Blu-ray disc. Maka itu video HD pasti kompatibel dengan beragam TV LCD, LED atau plasma yang memiliki label HDTV. Tapi di sisi lain dengan naiknya resolusi, tentu selain membuat tayangan video menjadi tajam dan detil, juga membawa efek samping yang logis yaitu besarnya ukuran video tersebut. Bila tadinya dengan format VGA sebuah materi video berdurasi 10 menit hanya berukuran 1 GB, maka dengan format HD sebuah video dengan durasi yang sama bisa berukuran sampai 4 GB. Artinya untuk merekam video HD sebuah kamera perlu punya prosesor lebih kencang dan buffer lebih besar untuk menampung tingginya data rate dari video HD. Ditambah lagi kartu memori yang digunakan harus yang punya kemampuan penulisan data yang tinggi. Saat file video HD dipindah ke komputer, kita perlu ruang sisa yang besar pada harddisk dan perlu kinerja prosesor komputer yang tinggi pula untuk melakukan editingnya.

Lebih jauh tentang video HD

Kali ini kami akan mengulas lebih jauh tentang video HD, semoga anda semakin bisa memahami dan bisa menentukan pilihan berdasarkan kebutuhan masing-masing.

HD 720 atau HD 1080?

HD 720 atau resolusi 1280 x 720 piksel merupakan resolusi minimum untuk sebuah video supaya layak disebut sebagai video HD. Sedangkan HD 1080 atau resolusi 1920 x 1080 merupakan resolusi ideal dari sebuah video HD (biasa disebut dengan full HD). Perbedaan keduanya tidak begitu signifikan saat ditonton di layar televisi, namun sangat berbeda dalam ukuran file. Bila tujuan utamanya adalah mengejar kualitas maka tentu HD 1080 jawaban utama, tapi bila sekedar ingin menikmati video HD maka HD 720 sudah sangat mencukupi untuk sehari-hari.

720p-vs-1080p

Contoh di atas menggambarkan bedanya kualitas HD 1080 (kiri) melawan HD 720 (kanan) dimana HD 720 masih nampak kotak-kotak alias kurang detail / kurang halus bila dibanding dengan HD 1080.

Progressive atau Interlaced?

Progressive saja. Interlaced itu teknik scanning jaman dulu yang sudah ditinggalkan. Biasanya produsen akan menuliskan huruf ‘p’ atau ‘i’ di belakang kode HD video. Misal HD 720p atau HD 1080i. Umumnya semua format HD 720 sudah progressive, sedang format HD 1080 masih ada yang interlaced.

interlaced

Gambar di atas menunjukkan ciri dari video interlaced yaitu memiliki garis-garis hasil scanning.

Sensor CCD atau CMOS?

Sensor CCD dan CMOS keduanya bisa dipakai untuk merekam video. Karena sifat fisika dari sensor itu sendiri, maka sensor CCD hanya sanggup mendukung HD 720 sedang CMOS bisa HD 1080. Bahkan sensor CMOS bisa membuat klip video dengan berbagai pilihan frame per detik mulai dari 24 fps, 30 fps dan 60 fps. Sensor CCD punya kelemahan saat merekam titik terang dimana akan terjadi kebocoran piksel yang tampak nyata (istilahnya blooming). Efek ini bisa dilihat di layar saat preview (sebelum merekam) maupun pada hasil rekaman videonya.

rolling-shutter

Sensor CMOS aman dari blooming tapi punya masalah dengan gerakan, dimana kalau kamera (atau obyek) bergerak saat merekam video maka akan terjadi efek skew akibat rolling shutter. Ini terjadi karena proses pengambilan data dari tiap baris piksel di sensor CMOS dilakukan secara berurutan (pada CCD dilakukan sekaligus). Efek rolling shutter akan membuat garis tampak melengkung dan cukup mengganggu, seperti contoh pada gambar di atas.

Kompresi MPEG4-AVC (H.264) atau M-JPEG?

h264Dalam dunia broadcast, MPEG-4 generasi ke 10 (atau H.264) sudah diakui sebagai teknik kompresi standar, menggantikan MPEG-2 yang sudah mulai uzur. Kelebihan kompresi ini adalah efiesiensi yang tinggi sehingga meski sebuah video memakai format full HD 1080 namun masih memiliki ukuran yang relatif kecil. Tidak semua kamera HD menyediakan teknik kompresi ini, umumnya hanya menyediakan kompresi konvensional yaitu Motion JPEG.

Kamera yang memakai codec MPEG-4 AVC akan menyimpan file videonya dengan ekstensi MPG, sedang codec MJPEG akan memberi ekstensi filenya dengan MOV. Sebagai pembanding, untuk melakukan video editing memakai file MPEG-4 masih merupakan kendala tersendiri. Beda dengan mengedit video MOV yang bisa dilakukan pakai program editing apa saja.

Stereo atau mono?

Apalah artinya sebuah video HD bila suaranya jelek. Untuk itu tata suara stereo tetaplah lebih disukai daripada mono. Tidak banyak kamera yang menyediakan microphone stereo built-in, perhatikan lagi spesifikasi dari masing-masing kamera. Tentu saja kamera yang mampu merekam audio stereo memiliki dual mic yaitu kiri dan kanan seperti contoh berikut ini :

stereo

Zoom optik atau digital zoom?

Awalnya, dan saat ini juga masih banyak, kamera tidak bisa melakukan zoom optik saat merekam video. Alasan utamanya karena zoom optik memakai motor yang bunyinya akan ikut terekam dalam video. Kini beberapa kamera sudah mulai membolehkan kita melakukan zoom optik, entah dengan memperbaiki motor zoomnya atau dengan mematikan mic sejenak saat zoom. Kamera yang zoomnya manual (diputar di lensa) tentu tidak masalah dengan bunyi motor ini.

Bila kamera tidak mengizinkan zoom optik, cek apakah ada fitur digital zoom untuk video. Berbeda dengan digital zoom pada foto yang membuat hasilnya jadi jelek, zoom digital pada video hanya melakukan cropping dan semestinya bisa menjaga kualitas video tetap baik.

Kamera biasa atau kamera DSLR/sensor besar?

Ini yang penting. Fitur HD movie disedikan di berbagai macam kamera, mulai dari kamera saku, kamera DSLR dan kamera mirrorless. Meski mengusung resolusi yang sama, tidak semua kamera memiliki ukuran sensor yang sama. Sensor kecil kurang sensitif terhadap cahaya, dan akan noise bila dipaksakan untuk merekam di kondisi kurang cahaya. Sensor besar akan lebih peka menangkap cahaya di kondisi low light sehingga kalaupun terpaksa merekam tanpa bantuan lampu yang memadai, merekam memakai kamera  sensor besar seperti kamera mirrorless (misal Micro Four Thirds) apalagi kamera DSLR akan lebih mudah.

low_light

Selain dalam hal sensitivitas terhadap cahaya, perbedaan sensor antar kamera akan mempengaruhi DoF (depth of field) dari rekaman video. Kamera saku atau kamera dengan sensor kecil akan memberi ruang tajam yang luas, bisa dibilang area yang dekat dan jauh dari kamera akan sama-sama fokus. Untuk itu fitur auto fokus saat merekam video dengan kamera sensor kecil tidak terlalu jadi issue serius. Di lain pihak, kamera sensor besar akan sangat sensitif terhadap fokus. Efek video yang diambil dengan sensor besar akan menyerupai film bioskop (cinematic effect) sehingga tampak profesional (bila dilakukan dengan benar). Namun bila tidak tepat dalam mengatur fokus, maka akan mudah terjadi kasus out of focus yang mengganggu seperti contoh di bawah. Hal ini diperparah dengan kebanyakan DSLR tidak bisa auto fokus saat merekam video, kitalah yang harus mengatur fokusnya secara manual di lensa.

dsc_0023

Kesimpulan

Fitur video HD sudah di depan mata, menjadi standar umum dan tersedia secara luas. Tentukan dulu kebutuhan kita sebelum membeli, karena meski semua kamera sudah mengusung logo HD tapi belum tentu sesuai keinginan kita. Beberapa fakta tak bisa dipungkiri seperti besarnya ukuran file video HD dan betapa repotnya berurusan dengan file-file berukuran besar. Tentukan dengan bijak preferensi anda, apakah cukup HD 720 atau HD 1080, apakah mau H.264 atau MJPEG. Kenali efek blooming (untuk sensor CCD) atau skew (untuk CMOS) dan hindari kondisi perekaman video yang berpotensi menghasilkan efek tersebut. Buatlah prediksi apakah anda akan sering merekam video di dalam ruangan (cenderung gelap) atau di luar yang terang? Terakhir, apakah hasil video yang anda inginkan nantinya seperti film bioskop atau cukup yang biasa-biasa saja. Selamat memilih..

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Outdoor sepuasnya dengan Lumix FT3

Suka berpetualang sekaligus memotret? Anda tentu sudah memaklumi kalau kamera digital memang tidak selalu bisa mendukung hobi berpetualang, apalagi kalau sudah berurusan dengan air, debu atau benturan. Salah-salah kamera bisa kemasukan air atau mengalami keretakan di lensa saat terbentur. Ngeri kan? Untuk itu beberapa produsen kamera telah membuat kamera saku khusus outdoor dengan berbagai pilihan yang tahan berbagai unsur alam seperti air, debu dan salju. Kali ini Panasonic memperkenalkan Lumix FT3, kamera saku untuk outdoor yang bisa diandalkan sebagai alat bantu fotografi maupun alat bantu dalam berpetualang.

Ditinjau dari spesifikasinya memang kamera Lumix FT3 tergolong standar, alias tidak berbeda dengan kamera saku generasi sekarang seperti lensa 28-128mm (4.6x zoom) dan sensor CCD 12 MP. Kamera ini juga bisa sampai ISO 1600, memiliki layar LCD 2,7 inci dan hanya memiliki mode Auto saja. Untuk urusan video kamera ini sangat baik dengan kemampuan full HD movie 1080i dengan AVCHD lite, Dolby Digital, lampu LED bisa dihidupkan dan lensa bisa di zoom optik saat merekam video.

lumix-ts3

lumix-ts3b

lumix-ts3c

Tapi apa sebenarnya yang membuatnya istimewa? Tentu adalah kemampuan outdoornya yang menawan dan sementara ini belum ada yang menandingi :

  • tahan air hingga kedalaman 12 meter (bisa hingga 40m dengan case tambahan)
  • tahan beku hingga -10 derajat
  • tahan benturan hingga ketinggian 2 meter
  • tahan debu
  • fitur GPS dan kompas
  • alat ukur ketinggian / kedalaman
  • alat ukur tekanan udara
Sebagai catatan, rata-rata kamera outdoor hanya sanggup bertahan di dalam air hingga 3 meter saja. Semakin dalam kemampuan kamera di bawa menyelam, semakin rumit desain seal di dalamnya. Berikut kutipan dan desain konstruksi dari situs Lumix :
Thanks to rubber padding and reinforced glass inside the camera, the DMC-TS3(FT3) features an airtight body protected against water immersion, dust and sand. Previously, there were separate terminal covers but these are relocated at one part covered by a single door. With the minimum apertural area, the DMC-TS3(FT3) boasts even higher tightness of sealing to withstand pressure in underwater as deep as 12m.
In addition to reinforcing the exterior of the camera with shock-resistant material, the DMC-TS3(FT3) uses folded optics to prevent its lens unit from taking damage when dropped during operation. The lens unit is protected by a supplementary damper to absorb the force from shock impact. All components are reexamined to endure the temperature as low as -10 degrees C to make the freezeproof.

structural-fs3

Selain dipakai untuk memotret kegiatan di luar, kamera ini juga bisa dijadikan teman bantu dalam berpetualang. Adanya GPS dan berbagai alat ukur di dalamnya seperti altimeter dan barometer akan memberikan informasi berguna yang menghindarkan anda dari tersesat saat di hutan, atau mengetahui sudah seberapa dalam anda menyelam. Informasi yang didapat dari hasil pengukuran akan terdata di EXIF foto dan juga bisa ditampilkan di layar seperti contoh berikut ini :

shooting_fs3

Lihat nomor pada gambar contoh tampilan layar kamera di atas, inilah penjelasannya :

  1. Indikator ketinggian yang berguna saat mendaki gunung.
  2. Indikator kedalaman yang berguna saat menyelam.
  3. Indikator jarum kompas yang berguna saat membaca peta.
  4. Indikator koordinat (lintang dan bujur) untuk geotagging maupun navigasi (WGS84).
  5. Indikator tekanan udara yang berguna di ketinggian.

Nantinya akan tersedia berbagai pilihan warna seperti biru, merah, silver dan oranye tapi tidak ada warna hitam. Warna cerah seperti merah dan oranye memang kerap dipakai untuk urusan outdoor sehingga mudah ditemukan saat terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan. Belum ada informasi harga jual dari kamera yang lensanya memakai LEICA DC VARIO-ELMAR berjenis folded optic ini. Tapi ditinjau dari lensa, fitur dan sebagainya, kami memprediksi harganya akan berkisar antara 4 hingga 5 jutaan.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Panasonic hadirkan Lumix GF2 dengan layar sentuh

Sedikit kejutan di bulan November ini saat Panasonic meluncurkan kamera saku berformat Micro Four Thirds bernama Lumix DMC-GF2 sebagai penerus GF1 yang diperkenalkan setahun lalu. Kamera dengan sensor besar dan lensa yang bisa dilepas ini semakin memikat dengan layar sentuh, teknologi Intelligent Resolution dan tombol iA tersendiri. Uniknya, penerus GF1 ini justru lebih mungil dari sebelumnya dan ukurannya semakin mendekati kamera saku premium seperti Lumix LX5.

lumix-gf2

Meski Panasonic tidak merubah spesifikasi sensor yang dipakai di GF2 (12 MP, Live MOS) namun dalam kinerja prosesor Venus FHD pada kamera Lumix GF2 lebih bertenaga dan mendukung video HD 1080 dengan 60 fps. Mode manual tetap ada di GF2 meski mode dial fisik dihilangkan dan dipindah ke menu yang diakses melalui layar sentuh 3 incinya (bertipe resistive, bukan capasitive). Dengan layar sentuh, kita bukan cuma bisa mengakses menu namun juga bisa untuk menentukan titik fokus, manual fokus, dan playback foto.

Sebagai kamera yang hampir sekelas dengan DSLR, kamera GF2 juga memiliki fitur lengkap seperti RAW, ISO 6400, shutter 60-1/4000 detik dan dudukan lampu kilat eksternal. Khusus untuk mode video, kini GF2 mendukung audio stereo (Dolby Digital) dan mampu terus mencari fokus saat merekam video. Kamera GF2 akan diluncurkan Januari 2011 dengan pilihan paket lensa fix 14mm f/2.5 (setara 28mm) atau dengan lensa zoom 14-42mm IS f/3.5-5.6 (setara 28-84mm).

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Nikon hadirkan DSLR semi-pro penerus D90 : D7000

Hari ini Nikon merilis kamera DSLR kelas menengah baru yang bernama D7000. Kamera yang ditargetkan untuk menggantikan D90 yang begitu populer selama 2 tahun kebelakang ini kini dijual sedikit lebih mahal dengan harga 12 jutaan body only. Hadirnya Nikon D7000 ini bisa diduga adalah jawaban Nikon atas lahirnya Canon EOS 60D dimana keduanya berbagi kemiripan spesifikasi, punya harga jual yang sama dan sama-sama tergolong kamera semi profesional di kelas sensor APS-C. Nikon sendiri sejak hadirnya D5000 tampaknya sudah konsisten untuk menamai jajaran kamera DSLRnya dengan empat digit angka yang lebih aman untuk antisipasi penamaan kameranya hingga beberapa generasi mendatang.

Kalau sebelumnya Nikon mengejutkan pasar dengan membuat D3100 yang pertama memakai prosesor Expeed 2, 1080 HD video dan AF saat video, kini D7000 juga mengusung fitur serupa. Nikon D7000 ini sudah mengikuti tren dengan kemampuan merekam video berformat HD movie 1080p 24fps dengan auto fokus secara kontinu dan keleluasaan mengatur setting video secara manual. Namun andalan Nikon D7000 bukan cuma dalam hal video saja, justru sebagai kamera semi-pro D7000 lebih ditargetkan untuk memanjakan fotografer yang serius menekuni hobi fotografi dengan sederet fitur kelas atas dengan harga yang masih cukup terjangkau.

Berikut fitur dasar dari Nikon D7000 :

  • sensor 16.2 MP, CMOS, APS-C (format DX, crop factor 1.5x)
  • ISO 100-6400, bisa dipaksa hingga ISO 25.600
  • LCD 3 inci resolusi VGA, 920 ribu piksel
  • burst 6 fps (tidak bertambah cepat bila memakai baterai grip MB-D11)
  • usia shutter teruji hingga 150 ribu kali
  • shutter 30-1/8000 detik, max flash sync 1/250 detik (1/320 detik untuk FP)
  • weather proof, magnesium alloy body
  • kemampuan untuk wireless flash commander
  • pentaprisma, 100% finder coverage, 0.94x
  • dual SD slot
  • Multi-CAM 4800DX, 39 titik AF (9 diantaranya cross type), 3D AF tracking, fine tune AF
  • 2016 pixel AE metering (pertama dalam sejarah Nikon)
  • prosesor Expeed 2
  • pilihan 12 bit atau 14bit RAW
  • Quiet shutter release
  • HD movie, 1080p – 24fps, 720p – 30fps, H.264 codec
  • AF saat video, maksimum rekam 20 menit
  • virtual horizon
  • EN-EL15 baterai Lithium (baru)
  • paket body only (12 juta) atau dengan lensa kit AF-S 18-105mm VR (15 juta)

Ditinjau dari spesifikasi di atas nampak kalau hampir untuk semua aspek terdapat peningkatan signifikan dibanding D90, bahkan menyerupai fitur pada D300. Maka itu rasanya wajar bila pemilik D90 pun bakal tergoda untuk upgrade ke D7000 ini. Bodi kamera ini sepintas masih mirip dengan D90 dengan perbedaan adanya tombol khusus untuk live-view dan movie (persis seperti pada D3100).  Nikon D7000 punya tata letak tombol sebelah kiri yang sama seperti D90 yaitu untuk mengakses MENU, WB, ISO, dan QUALity. Namun pada D7000 disediakan tombol putar untuk mengakses mode pemotretan S, CL, CH seperti pada D300 (tombol putar semacam ini tidak ada di D90). Pada mode dial D7000 tidak lagi diberikan beberapa Scene Mode seperti Landscape, Macro dsb. Sebagai gantinya, tersedia satu pilihan Scene Mode, dua User Profile yang bisa disimpan (U1 dan U2) untuk menemani mode P, A, S, M dan AUTO.

D7000 ini bisa jadi membuat orang yang tadinya berencana membeli  kamera DSLR profesional D300s jadi berpikir dua kali, apalagi soal ISO dan modul metering D7000 justru lebih unggul dari D300s. Namun meski demikian dalam beberapa aspek D7000 ini masih belum secepat dan selengkap D300s, misalnya ketiadaan tombol langsung AF-ON dan tanpa selektor mode metering dan focus area yang memudahkan. D300s juga punya burst yang lebih cepat yang diperlukan oleh para jurnalis dan profesional lainnya.

Di saat bersamaan Nikon juga meluncurkan :

  • lensa fix lebar yang cepat : AF-S 35mm f/1.4 (17 jutaan)
  • lensa tele fix yang cepat : AF-S 200mm f/2.0 VR (60 jutaan)
  • lampu kilat baru SB-700 (3 jutaan)
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Nikon D3100, DSLR Nikon pertama dengan fitur full-HD movie

Hari ini Nikon resmi meluncurkan produk baru bernama D3100 yang diposisikan untuk mengisi segmen entry level yang sebelumnya ditempati oleh D3000. Hadir dengan bodi yang persis sama seperti D3000, produk anyar ini justru mengejutkan dengan menawarkan fitur movie recording yang sebelumnya hanya ada di DSLR Nikon yang punya harga jual lebih tinggi. Tidak tanggung-tanggung, D3100 justru menjadi DSLR pertama Nikon yang sanggup merekam video dengan resolusi full High Definition atau 1920 x 1080 piksel, bahkan kamera sekelas D3S pun hanya menawarkan resolusi HD 1280 x 720 piksel saja.

Hal ini tentu kabar baik bagi mereka yang menantikan era video recording berkualitas yang terjangkau. Bila sebelumnya fitur movie hanya dijumpai di kamera sekelas Nikon D5000 atau Canon EOS 500D, maka DSLR murah kini juga menyediakn fitur serupa (sebelumnya dipelopori oleh Pentax K-x) dan Nikon D3100 menjadi produk DSLR murah kedua yang membolehkan pemakainya untuk berkreasi dengan merekam video. Hebatnya, fitur movie di D3100 ini sudah mendukung continuous AF sehingga tak perlu lagi mengatur ring manual fokus saat sedang merekam video.

Hadir dengan lensa kit AF-S 18-55mm VR, D3100 yang dijual di kisaran 7 jutaan juga menonjolkan sederet fitur hebat lainnya seperti ISO maksimum 12800 dan EXPEED 2 engine processor. Meski tidak ada perbedaan bentuk fisik (bodi) kamera antara D3000 dengan D3100, namun Nikon kali ini benar-benar melakukan perubahan pada ‘jeroannya’. Sensor di D3100 ini pun sudah memakai sensor CMOS beresolusi 14 MP (sebelumnya sensor CCD beresolusi 10 MP). D3100 masih menawarkan 11 titik AF yang fleksibel, plus dukungan layar LCD 3 inci beresolusi 230 ribu piksel. Bisa dibilang D3100 adalah  DSLR entry-level paling sarat fitur yang pernah dibuat oleh Nikon.

Melihat peningkatan yang pesat pada D3100 ini, ada dugaan Nikon akan menghentikan kelanjutan produk D5000 yang serba tanggung dalam hal fitur dan harga. Bisa jadi kedepannya Nikon hanya akan mengandalkan satu produk saja untuk mengisi segmen pemula (yaitu D3100 ini), sedangkan pada segmen semi-pro diprediksi Nikon juga akan melebur dua kelas yaitu D90 dan D300 (dirumorkan akan bernama D95). Kuat dugaan kebijakan ini diakibatkan oleh kondisi resesi ekonomi global yang memaksa produsen membuat segmentasi produk yang simpel dan jelas.

Sebagaimana layaknya DSLR pemula, Nikon D3100 juga tidak dipersenjatai dengan kendali eksternal yang rumit sehingga tetap tampil simpel dengan jumlah tombol yang seadanya. D3100 juga tidak memiliki motor AF di dalamnya sehingga bila dipasang lensa lama yang tidak memiliki motor, maka pengaturan fokusnya hanya bisa dilakukan secara manual. Soal kinerja juga tentunya dibuat sesuai dengan harganya, dengan kecepatan shutter maksimum 1/4000 detik dan burst 3 frame per detik saja.

Berikut spesifikasi lengkap dari Nikon D3100 :

  • sensor CMOS 14 MP (23.2 x 15.5 mm)
  • live View
  • Continuous AF pada video mode/live view
  • LCD 3 inci  (tidak bisa dilipat-putar/swivel)
  • ISO 100 – 3200, bisa diangkat hingga 12800
  • flash sync 1/200 detik
  • 11 titik AF (multi CAM 1000)
  • Quiet Shutter Release Mode
  • usia shutter 100.000 kali pakai
  • 420-pixel RGB 3D Color Matrix II metering sensor
  • HD Video 1920 x 1080p 24 fps dan 1280 x 720p 30 fps/24 fps
  • AVCHD video codec (H.264), HDMI out
  • EXPEED2 processor
  • pengguna bisa menyimpan picture profiles
  • video editing didalam kamera
  • burst 3 fps saja

974770857_onxnn-m

Selain itu, Nikon juga memperkenalkan beberapa lensa baru seperti :

  • Lensa tele zoom (DX) : Nikkor AF-S DX 55-300 f/4.5-5.6 G ED VR
  • Lensa prime (FX) : Nikkor AF-S 85 f/1.4 G (dengan Nano coating)
  • Lensa all-round (FX) : Nikkor AF-S 24-120 f/4 G ED VR (dengan Nano coating)
  • Lensa super zoom (FX) : Nikkor AF-S 28-300 f/3.5-5.6 G ED VR
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..