Canon EOS 90D dan EOS M6 mk II diluncurkan

Canon mengumumkan kehadiran dua kamera baru, yaitu satu adalah produk DSLR Canon EOS 90D (penerus EOS 80D) dan satu lagi adalah produk dari mirrorless APS-C yaitu EOS M6 mk II.

Canon EOS 90D hadir sebagai produk yang mengkawinkan dua segmen DSLR APS-C yaitu segmen semi-pro 80D (yang populer untuk foto dan video) dan segmen pro 7D (populer untuk jurnalis dan sport). Jadi konsep EOS 90D adalah tetap memakai layar lipat putar seperti 80D tapi punya kekuatan bodi dan kecepatan yang mendekati seri pro 7D.

Spesifikasi EOS 90D terbilang cukup menarik dengan sensor APS-C 32 MP yang bisa merekam video 4K, memiliki 45 titik AF, ada joystick, bisa memotret sampai 10 fps, prosesor Digic 8 terbaru meski sayangnya hanya memiliki satu Slot SD card. Dari fisik bodinya meski masih sepintas mirip dengan 80D, pada EOS 90D ini tombol dan pengaturannya lebih banyak, weathersealed lebih ditingkatkan dan bisa menggunakan shutter elektronik. Continue reading Canon EOS 90D dan EOS M6 mk II diluncurkan

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Kamera saku baru dari Canon: PowerShot G5X II dan G7X III

Kamera saku masih punya tempat di kalangan fotografer, buktinya produsen seperti Canon masih terus meluncurkan produk baru. Fungsi kamera saku sebenarnya cukup banyak, sebagai dedicated camera (bukan kamera yang ada di ponsel) sebuah kamera saku bisa menjadi alternatif fotografi ringan seperti travel, street, candid dan casual shoot lainnya. Bahkan profesional bisa menjadikan kamera saku sebagai kamera pelengkap maupun backup saat bekerja bila sewaktu-waktu ada hal tidak diinginkan terjadi pada kamera utamanya. Di era dimana orang kini sudah biasa melakukan vlogging bahkan live streaming, sebuah kamera akan menjadi alat yang memungkinkan para content creator berinteraksi dengan para followernya, dan kadang kamera yang ringkas akan lebih disukai karena alasan kepraktisan.

Canon yang sejak lama rutin melahirkan banyak kamera saku PowerShot kini meregenerasi ulang dua seri G yang terkenal yaitu G5X dan G7X. Kini G5X II hadir dengan desain berubah banyak dari sebelumnya, kini desainnya mengecil dan bahkan sekilas mirip dengan G7X yang tidak lagi menonjolkan jendela bidik di tengah seperti mini DSLR. Dibanding G5X yang lama, Canon menghilangkan flash hot shoe di G5X II ini demi mengakomodir jendela bidik pop-up. Sedangkan G7X III tidak berubah banyak secara desain tapi memberi banyak penambahan pada fitur utama. Sebagai info, kedua kamera memakai sensor yang sama yaitu 20 MP 1 inci dengan sistem stack sensor khas Sony, dengan kecepatan foto kontinu meningkat hingga 8 fps RAW+JPG bila pakai shutter mekanik, dan hebatnya ada shutter elektronik yang bisa memotret 20 fps. Digic8 yang ditanamkan sebagai dapur pacu kedua kamera ini memungkinkan kamera saku ini mampu merekam video 4K tanpa crop, meski kedua kamera tidak dibekali sistem Dual Pixel AF seperti di kakaknya yang mirrorless atau DSLR.

Continue reading Kamera saku baru dari Canon: PowerShot G5X II dan G7X III

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

EOS R, mirrorless full frame pertama dari Canon

September 2018, Canon resmi memperkenalkan format kamera baru bernama EOS R, yang meski masuk ke kelompok mirrorless, namun berbeda dengan EOS-M (kamera mirrorless Canon yang sudah lebih dulu ada), karena EOS R ini dirancang spesifik untuk sensor full frame. Hal ini menjadi ajang pembuktian kalau akhirnya Canon (dan sebelumnya juga Nikon mengumumkan Nikon Z) benar-benar ikut mengisi segmen mirrorless full frame untuk melengkapi lini DSLR full frame mereka.

EOS R punya bentuk seperti mini DSLR dan dilengkapi berbagai tombol dan LCD kecil di bagian atas. Jendela bidik jenis OLED 3,7 juta dot dengan perbesaran 0,76x sudah termasuk sangat baik. Layar LCD-nya berukuran 3,15 inci sistem lipat samping seperti kebanyakan kamera Canon masa kini, dan sebagai kamera mirrorless dengan mount RF baru, maka jarak flange back mungkin jadi penting bagi anda, dan di sistem EOS R ini jaraknya adalah 20mm. Artinya pengguna lensa DSLR Canon perlu memasang adapter khusus, dan ini menjawab rasa penasaran banyak pihak apakah Canon akan membuat mirrorless full frame dengan EF mount (flange back panjang khas DSLR) atau justru membuat mount baru. Bila diamati dari fisik kameranya, desainnya agak unik dan tidak persis seperti DSLR Canon atau EOS-M, misalnya bentuk roda On-Off di kiri atas, tidak ada roda Mode P-Av-Tv-M, ada tombol kiri kanan <> disebut multi function bar, dan tidak ada roda belakang untuk diputar. Tapi desain EOS R ini saya lihat cukup aman, dengan ergonomi yang sepertinya enak, grip yang dalam dan kalau dicari apa kurangnya ya di EOS R ini tidak ada built-in flash dan joystick.

Dari spesifikasi, EOS R memakai sensor 30 MP yang dilengkapi Dual Pixel AF dengan 5655 titik fokus yang bisa fokus di keadaan gelap hingga -6 Ev, dengan rentang ISO 100-40.000 dan kecepatan tembak hingga 8 fps untuk fokus One Sot (AF-S). Tersedia pilihan shutter elektronik juga bila ingin senyap saat memotret. Bodi kamera seberat 660 gram ini sudah berbahan magnesium alloy yang tahan cuaca. Fitur 4K 30p Canon Log video juga tersedia, dan bisa 10 bit 4:2:2 via HDMI (external record), atau kualitas biasa bila klip videonya hendak ditulis langsung ke SD card yang yang sudah mendukung UHS II (meski hanya ada 1 slot kartu memori di kamera ini). Baterai LP-E6N bisa bertahan sekitar 370 kali jepret, yang kini dipakai bisa diisi daya dalam kamera melalui USB 3.0 dengan adapter daya yang disertakan, dan tersedia aksesori battery grip BG-E22 bila perlu. Bagi banyak pihak yang berharap adanya stabilizer di bodi, sayangnya Canon tidak mendesain EOS R dengan stabilizer di bodi. Kemungkinan karena sulitnya mendesain sistem tersebut di bodi kamera yang relatif kecil, lagipula Canon sepertinya konsisten membuat IS di lensa saja. Continue reading EOS R, mirrorless full frame pertama dari Canon

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

EOS M50, mirrorless Canon pertama dengan 4K video

Canon melengkapi satu lagi jajaran produk di kamera mirrorless bernama EOS M50 dengan segmentasi entry level (pemula) namun sudah dibekali dengan jendela bidik dan flash hot shoe. Posisi M50 ini bisa ada diantara M100 dan M5, dan punya sederet fitur dasar yang oke seperti sensor APS-C 24 MP, video 4K, prosesor Digic 8 dan Dual pixel AF yang lebih luas (dengan lensa tertentu).

canon-eos-m50

Secara fisik kamera berbobot 350g ini termasuk cukup ideal dengan ukuran kecil tapi ada sedikit grip, ada layar LCD lipat putar (bisa untuk vlog), dan ada mic input juga. Hanya ada satu roda kendali saja di bagian atas dan selebihnya diharap penggunanya memaksimalkan layar sentuh khas Canon yang terkenal mudah. Kinerja kamera karena ada di segmen basic maka tidak terlalu ‘wah’ dengan 7 fps foto berturut-turut (mode fokus AF-C), kabar baiknya area fokus meningkat dari 49 area ke 99 area, dan kini ada deteksi mata untuk fokus lebih cepat ke wajah.

Video 4K pertama di mirroless Canon

Untuk pertama kalinya diperkenalkan video 4K UHD di kamera kelas menengah ke bawah Canon. Ya ini adalah tanda bahwa kamera selanjutnya entah penerus 80D, penerus EOS M5 dst akan ada 4K juga, akhirnya. Meski demikian, untuk menghindari proses pixel binning, Canon menempuh cara mudah dengan hanya melakukan crop 1,6x dari ukuran sensor, yang artinya video akan jadi lebih tele. Lensa 24mm misalnya, akan setara dengan 40mm saat memotret, tapi akan kena crop lagi jadi setara lensa 60mm. Selain itu Dual pixel AF tidak berfungsi bila merekam video 4K, meski tetap bisa dipakai saat rekam FUll HD 1080.

Selain itu, untuk kali pertama juga diperkenalkan file RAW baru .CR3 yang lebih efisien data sehingga ukuran tidak terlalu besar. Perlu dilakukan update program editing seperti Adobe Lightroom untuk bisa membaca file RAW baru ini.

Jendela bidik OLED di M50 termasuk sedang dengan 2,3 juta dot meski terlihat tidak terlalu besar. Fitur lain seperti konektivitas tidak perlu kuatir, WiFi NFC dan Blutooth tentu ada. Baterai diuji hanya bisa dipakai 235 kali jepret, dan sayangnya tidak bisa diisi daya via USB.

Canon cukup pintar dengan kembali merilis produk untuk kelas bawah tapi memberi fitur yang esensial seperti jendela bidik (meski bukan yang kelas atas), hotshoe, roda P-Tv-Av-M, layar lipat, mic input dan hasil foto yang baik. Bonusnya tentu adalah 4K yang memang sudah seharusnya dari dulu diberikan. Dengan bandrol harga awal $900 dengan lensa kit, agaknya masih terlalu mahal karena kamera ini bukan kelas atas yang berperforma tinggi dan bodi nya juga tidak weathersealed. Kamera ini lebih kepada untuk kebutuhan sehari-hari, travel maupun video dan semoga harganya lama-lama akan semakin turun ke kisaran 7 jutaan. Ke depan kami berharap Canon akan banyak menambah lensa EF-M supaya lebih banyak orang yang tertarik untuk melirik sistem EOS M ini.


Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Canon G1X mark III, sensor APS-C pada kamera saku premium

Bila ditanya kamera saku dengan kualitas foto setara kamera serius, biasanya cuma ada sedikit sekali pilihan yang ada. Mungkin karena harga kamera saku itu bakal sama mahalnya dengan kamera DSLR sehingga akan susah dimengerti banyak orang, karena biasanya orang menganggap kamera saku itu ya murah(an). Tapi bayangkan misalnya 80% kebutuhan fotografi masyarakat modern itu adalah merekam kehidupan harian mereka, atau daily life seperti foto grup, foto jalan-jalan hingga makanan. Dan untuk itu kualitas tetap ingin dapat yang terbaik tapi tidak perlu kamera besar dengan aneka lensa yang besar juga. Maka mestinya kamera saku dengan sensor berkualitas tinggi adalah jawaban yang lebih tepat untuk itu.

G1X iii depan

Canon akhirnya merilis kamera saku premium, yaitu PowerShot G1X mark III yang untuk kali pertama memakai sensor APS-C 24 MP, sama dengan di Canon EOS 80D atau EOS M5. Hebatnya meski sensor APS-C termasuk besar, tapi desain kamera dan lensanya tidak jadi terlalu besar, malah lebih kecil dan lebih ringan daripada produk sebelumnya yaitu G1X mk II. Kritik pada G1X mk II yang tidak terdapat jendela bidik, dijawab Canon di generasi G1X ke tiga ini dengan OLED finder 2,3 juta dot, melengkapi layar sentuh 3 inci yang bisa dilipat putar.

G1X iii vs ii

Bagaimana dengan lensanya? Bisa jadi lensanya yang ekuivalen 24-70mm ini adalah bagian yang paling ‘biasa saja’ di pengumuman kali ini, karena secara fisika memang tidak mungkin membuat lensa yang bukaannya besar, zoomnya panjang tapi ukurannya kecil untuk sensor besar. Pasti ada yang harus dikorbankan, dan untuk itu Canon mengorbankan kekuatan zoom (hanya 3x zoom) dan bukaan lensa (hanya f/2.8 di 24mm hingga f/5.6 di 70mm). Bahasa gampangnya, lensa ini mirip sekali dengan lensa kit di kamera DSLR dan mirrorless, hanya saja lensa di G1X mk III ini permanen (tidak bisa diganti).

G1X iii blkg

Beberapa hal menarik di Canon G1X mk III diantaranya :

  • Dual Pixel AF untuk auto fokus cepat seperti DSLR
  • menembak 7 foto per detik
  • leaf shutter up to 1/2000 detik, bisa sync flash juga di 1/2000 detik
  • ada 3 stop ND filter
  • ada 3 roda untuk pengaturan setting
  • bodi tahan debu dan tetesan air
  • dan hal-hal yang semestinya ada dari dulu : panorama, star mode, time lapseG1X iii atas

Tidak usah heran, meski oke untuk rekam video juga, tapi memang tidak ada pilihan resolusi 4K video, juga tidak ada port untuk mic, sehingga penggunaan video hanya untuk pelengkap saja.

G1X iii seal

 

Hal lain yang termasuk standar untuk era saat ini adalah adanya konektivitas WiFi, Bluetooth dan NFC untuk generasi yang ingin serba cepat dan terhubung. Canon G1X mk III akan dijual sekitar 15 jutaan, menjadi kamera saku kelas mahal seperti Sony RX100 (tapi sensornya 1 inci) atau Leica D Lux (sensor Micro 4/3). Tertarik?

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Review : lensa Tamron 18-200mm VC

Inilah review kami untuk lensa Tamron 18-200mm VC. Lensa yang bernama lengkap Tamron 18-200mm f/3.5-6.3 Di II VC ini adalah lensa untuk DSLR (Canon/Nikon) dengan sensor APS-C yang memberikan fokal lensa setara 28-300mm di full frame. Dengan rentang fokal sepanjang ini kebutuhan foto yang bervariasi dari wide hingga tele bisa dicakup hanya dengan satu lensa saja. Biasanya lensa ini dibeli oleh mereka yang ingin ‘naik kelas’ dari lensa kit, alih-alih menambah satu lensa tele seperti 55-200mm maka sekalian saja lensa kitnya diganti dengan lensa superzoom seperti Tamron 18-200mm VC ini.

Lensa dengan rentang 18-200mm saat ini bukan yang paling panjang dalam hal rentang zoom, karena ada juga lensa lain seperti 18-250mm hingga bahkan 18-400mm. Tapi keuntungan dari lensa 18-200mm ini adalah ‘cukup’ dalam banyak hal, seperti cakupan lensa yang cukup (jarang juga orang pakai diatas 200mm untuk foto sehari-hari), ukuran yang cukup (tidak terlalu besar), bobot yang cukup ringan (hanya 400 gram) dan harga yang cukup murah (biasanya lensa superzoom harganya diatas 5 juta, tapi ini dibawah 3 juta saja). Dan Tamron dulu juga pernah membuat lensa 18-200mm yang sudah digantikan dengan lensa 18-200mm VC, ya tentu VC disini adalah pembeda utamanya.

VC, atau Vibration Compensation, adalah fitur peredam getar yang bila diaktifkan bisa membantu kita mendapat foto yang tajam saat tangan kita sedikit goyang, khususnya di shutter speed agak lambat, dibawah 1/100 detik. Fitur VC juga membantu memberi tampilan yang lebih stabil di jendela bidik, selama tombol shutter ditekan dan ditahan setengah. Perlu diingat bila shutter terlalu lambat maka VC tidak bisa membantu, misal dibawah 1/10 detik tentu harus pakai tripod. Tapi hadirnya VC di lensa ekonomis ini kami apresiasi karena bakal memudahkan dalam memotret khususnya bila pakai fokal lensa yang lebih tele (diatas 50mm). Dalam prakteknya VC di lensa ini terbukti bisa menstabilkan getaran pada shutter agak lambat.

VC Off, 1/20 detik, 65mm
VC On, 1/20 detik, 65mm

Contoh diatas menunjukkan bedanya pakai VC dan tidak. Dengan fokal lensa diset ke 65mm (ekuiv. 100mm di full frame), foto yang tajam bisa didapat di 1/20 detik atau lebih dari 2 stop.

Lensa 18-200mm VC juga mendapat desain luar yang baru dan tampak lebih modern, dengan warna hitam doff yang keren. Di bodinya terdapat tuas fokus AF-MF, tuas VC On-Off dan Zoom lock yang mencegah lensa memanjang karena gravitasi saat menghadap ke bawah. Ring manual fokus ada di ujung depan dan hanya bisa diputar kalau tuas fokus di posisi MF, artinya di lensa ini tidak didesain untuk bisa langsung manual fokus setelah auto fokus, yang mana adalah wajar mengingat segmen dan harga lensanya. Bicara soal fokus, motor untuk auto fokus di lensa ini memang bukan yang kelas ultrasonic seperti lensa Canon USM atau Tamron USD, tapi juga bukan motor fokus jadul yang berisik. Motor fokusnya cukup senyap dan cukup cepat, dengan teknologi yang mengutip dari web Tamron adalah DC motor-gear train, yang artinya masih pakai gear. Untuk mode servo AF-S motor fokus di lensa ini tidak ada masalah, namun untuk AF-C memang kecepatan motor AF-nya akan kesulitan bila suyek yang difoto bergerak terlalu cepat.

Tentunya yang perlu diketahui paling utama dari sebuah lensa adalah kualitas optiknya. Sebelum kesana, perlu dimaklumi dulu bahwa lensa superzoom manapun memang tidak bisa mendapatkan performa optik sangat tinggi, karena lensa semacam ini dirancang untuk kepraktisan (zoom panjang) dan bukan untuk mengejar kualitas optik terbaik. Apalagi dari harganya kita tentu sudah bisa memprediksi kualitas optiknya. Tapi jangan salah sangka juga, optik di lensa ini termasuk baik, setara dengan lensa kit pada umumnya. Itu akibat modernisasi manufaktur khususnya dalah desain lensa pakai komputer sehingga hasilnya bisa tetap sesuai standar masa kini.

Untuk melihat kualitas optik ada beberapa faktor yang perlu ditinjau :

Sharpness

Tentunya bagian yang difokus harus tampak tajam, nah lensa ini bisa menghasilkan foto yang cukup tajam khususnya di kamera dengan sensor dibawah 20 MP. Pada bagian tengah ketajaman termasuk baik, dan di bagian tepi ketajaman agak menurun. Performa lensa paling tajam diantara 18-100mm dan tampak lebih soft di 135mm apalagi di 200mm. Warna dan kontras juga termasuk baik, meski kemampuan rendering detail mikro kontras (clarity) dari lensa ini tidak begitu tinggi.

Bokeh

Bagian yang tidak fokus akan menghasilkan gambar yang blur dan itu kerap dicari sebagai bokeh, nah biasanya bokeh yang menarik didapat di bukaan besar dan fokal lensa terpanjang. Nah lensa ini sayangnya menghasilkan bokeh yang kurang blur, masih tampak agak jelas meski sudah memakai f/6.3 di 200mm. Wajar mengingat lensa ini bukan lensa bukaan besar.

Distorsi dan fringing

Cacat lensa kadang bukan menandakan lensa bermasalah, cacat lensa itu diartikan kekurangan lensa yang masih bisa ditoleransi akibat beberapa faktor. Diantara hal yang sering dijumpai dari lensa adalah distorsi dan fringing. Untungnya keduanya dengan mudah bisa dikoreksi melalui editing foto. Lensa 18-200mm ini distorsinya di posisi wide 18mm cukup terasa, dan itu wajar. Yang agak aneh adalah di fokal 35mm keatas justru mengalami distorsi cekung (pincushion). Selain itu di keadaan kontras tinggi akan muncul sedikit fringing yang berwarna keunguan.

Sampel foto

Beberapa foto yang diambil dengan lensa ini (dalam ukuran yang sudah diperkecil) :

Kesimpulan

Secara umum lensa ini ditujukan untuk mereka pengguna DSLR yang perlu satu lensa yang praktis seperti untuk traveling atau penghobi pemula. Kualitas optik memang termasuk sedang-sedang saja, tapi bayangkan dengan harga dibawah 3 juta kita mendapat satu lensa yang termasuk modern, ada VC, dan tidak terlalu besar/berat sehingga bisa menjadi pengganti lensa kit seperti 18-55mm paketan dari pabriknya. Beberapa kekurangan dari lensa ini bisa dimaafkan mengingat harga jualnya, dan dengan pemahaman fotografi dan teknik yang baik pada dasarnya tidak ada masalah untuk bisa mendapat foto-foto yang indah dengan lensa ini.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

EOS 6D mk II, DSLR full frame terkini dari Canon

Canon 6D mk II adalah kamera DSLR full frame yang mengisi segmen basic yang tentunya spesifikasi dan fiturnya harus dibedakan dari kakak-kakaknya seperti 5D mk IV, 5DS apalagi 1Dx mk II. Di segmen full frame entry level ini yang dicari adalah keseimbangan antara harga, kinerja, kualitas dan ukuran, dimana profil pemakainya yang sesuai biasanya dari kalangan hobi, atau profesional yang mencari peralatan cadangan (backup). Khusus 6D mk II menawarkan sesuatu yang cukup unik dan jarang ditemui di kamera lain seperti sensor 26 MP (kamera lain umumnya 24 MP), ada fitur 4K timelapse, Bluetooth dan GPS untuk konektivitas lengkap. Sebagai info, 6D mk II diperkenalkan dengan harga $2000 bodi saja (sekitar 26 juta rupiah).

Canon EOS 6D mk-II menawarkan fitur-fitur sebagai berikut :

  • sensor full frame 26 MP
  • 45 titik fokus, semuanya cross type, -3 Ev
  • auto fokus di live view dan video dengan Dual Pixel AF
  • layar LCD sentuh, bisa dilipat dan diputar
  • jendela bidik prisma, 0,71x perbesaran, cakupan 98%
  • memotret kontinu 6,5 fps, bisa sampai 25 RAW+JPG fine (dengan kartu UHS-I high speed)
  • metering dengan 7560 piksel
  • Digic 7, ISO 100-40.000 (bisa dipaksa sampai ISO 50 (low) dan ISO 102.400 (High)
  • WiFi + NFC, Bluetooth dan GPS

Meski tampak besar, tapi 6D mk II cukup ringan (765g dengan baterai) berkat bahan almunium alloy dan polikarbonat resin. Desain DSLR khas Canon dengan ergonomi yang pas dan mantap digenggaman, dan tata letak tombol yang terbukti fungsional. Adanya fitur layar sentuh membantu sekali dalam interaksi kita dengan kamera. Perlindungan cuaca membuatnya bisa diandalkan saat memotret di keadaan hujan atau berdebu.

eos-6d-mark-ii

Kinerja kamera ini termasuk standar dengan 6,5 fps yang bisa diandalkan untuk mendapat momen sehari-hari, buffer juga cukup lega tapi sayangnya tidak ada dukungan ke kartu UHS-II. Adanya fitur Dual Pixel AF membuat 6D mk II ini sama baiknya saat auto fokus dengan mode live view, bahkan tetap bisa Servo AF untuk melacak benda bergerak saat live view. Titik fokus 45 area di 6D mk II cenderung terkonsentrasi di bagian tengah sehingga bisa jadi untuk kebutuhan tertentu malah lebih enak pakai live view saja.

eos-6d-mark-ii-back-d

EOS 6D mk II yang lama ditunggu untuk menyegarkan 6D lama punya banyak peningkatan berarti. Kelebihan Canon adalah menemukan teknologi Dual Pixel AF yang menjadikan kamera DSLR bisa laksana mirrorless saat pakai mode live view, tentunya bukan sekedar live view tapi bisa auto fokus dengan cepat, fokus kontinu dan bisa memfokus dengan menyentuh layar. Kekurangan kamera ini yang banyak disayangkan orang adalah tidak menyediakan kemampuan rekam video 4K, jadi hanya bisa full HD saja.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Canon hadirkan duo DSLR entry level baru : EOS 800D dan EOS 77D

Di saat kamera mirrorless terus menggerus pangsa pasar kamera DSLR, Canon tetap berupaya memperbanyak variasi dan regenerasi produk DSLR-nya khususnya di lini kelas bawah yang kerap disebut sebagai seri Rebel. Setelah terus bertahan memakai nama kelipatan 50 seperti 650D, 700D, 750D maka kali ini hadirlah 800D dengan ciri sensor 24 dan 45 titik fokus. Di segmen agak sedikit berbeda hadirlah EOS 77D sebagai penerus dari 760D yang ditujukan untuk dibawah kamera enthusiast seperti 80D.Bingung? Tenang, anda bukan satu-satunya yang bingung dengan nama 77D ini :)

Canon EOS 800D
Canon EOS 800D, atau dinamai Rebel T7i di Amerika

Oke, bagi yang beranggapan kalau kamera DSLR Canon pemula begitu-begitu lagi dan tampak sama, mungkin akan jadi lebih antusias saat membedah spek dari EOS 800D ini, seperti :

  • sensor APS-C 24 MP dengan dual pixel AF, oke untuk auto fokus hybrid saat live view
  • modul auto fokus mantap dengan 45 titik fokus (pertama ditemui di 80D)
  • stabilisasi elektronik untuk rekaman video
  • WiFi, NFC dan Bluetooth
  • 6 fps
  • layar lipat dan sentuh
Bagian belakang dari EOS 77D dengan roda dan tombol fisik yang lengkap
Bagian belakang dari EOS 77D dengan roda dan tombol fisik yang lengkap

Nah, kalau yang dikeluhkan adalah fisik dari 800D semisal hanya ada satu roda kendali, tidak ada jendela LCD kecil di atas dan hal-hal minor lain, mungkin anda perlu menyimak EOS 77D yang dibuat seperti mini 80D. EOS 77D memiliki semua fitur di 800D ditambah dengan dua roda kendali, jendela LCD kecil di atas dan tombol AF-ON. Tapi tetap saja kedua kamera ini masih masuk kelas pemula, cirinya diantaranya adalah bodi yang belum weather sealed, tidak pakai prisma (pakainya penta-mirror) dan tidak ada fitur AF-microadjustement untuk kalibrasi AF lensa.

Bagian atas dari EOS 77D dengan jendela LCD tambahan yang informatif.
Bagian atas dari EOS 77D dengan jendela LCD tambahan yang informatif.

EOS 800D akan dijual di kisaran 10-11 jutaan dan 77D di kisaran 12 jutaan dengan lensa kit baru yang mungil EF-S 18-55mm f/4-5.6 IS STM.

Bila anda menyimak artikel kami 2 tahun lalu, dimana Canon meluncurkan 750D, 760D dan EOS M3, maka kali ini juga persis sama yaitu 800D adalah penerus dari 750D, lalu 77D adalah penerus dari 760D dan EOS M3 ternyata digantikan oleh EOS M6, produk mirrorless baru seperti EOS M5 namun tanpa jendela bidik. EOS M6 ini sepintas mirip sekali dengan EOS M3 tapi kini sudah memakai dual pixel AF yang lebih oke auto fokusnya.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..