Kamera mirrorless baru dari Canon : EOS M5

Canon baru saja merilis kamera mirrorless generasi ke-empat yang bukan diberi nama EOS M4 (karena Jepang tidak suka angka 4?) melainkan EOS M5. Inilah kamera mirrorless Canon yang dirancang jadi produk untuk enthusiast (bukan sekedar snapshooter), dengan aneka kendali eksternal (roda, tombol, layar sentuh) dan jendela bidik (akhirnya..)

eosm5big-728x403

Dilengkapi sensor sama dengan EOS 80D, yaitu APS-C 24 MP dengan teknologi dual pixel AF, kemampuan  auto fokusnya diklaim sama dengan 80D di mode live view. Kinerja secara umum juga membaik dengan prosesor baru, bisa mencapai 7 foto per detik dan ISO up to 25.600. Dari sisi videografi tidak ada yang spesial, tetap dengan 1080p saja tapii diberikan fitur bonus penstabil getar digital.

eosm-hr-eos-m5-efm15-3q-backlcd-hires

Dibanding EOS M3 yang tidak pakai jendela bidik, maka EOS M5 tentu lebih disukai, walau harga juga terpaut 3 jutaan untuk berbagai pembaruan yang ada. Bila EOS M3 layarnya bisa dilipat ke atas untuk selfie, maka di M5 penyuka selfie masih bisa lipat layar tapi ke bawah (karena kalau ke atas akan terhalang jendela bidik). Jendela bidik di M5 termasuk baik dengan 2,3 juta titik yang detail, dan saat melihat jendela bidik kita bisa jadikan layar sebagai touch pad untuk memilih titik fokus.

ef-m-18-150mm-f3-5-6-3-is-stm-graphite-side-675x450

Canon juga mengumumkan lensa mirrorless baru yaitu 18-150mm f/3.5-6.3 IS STM dengan  kemampuan stabilitas di klaim sampai 4 stop. Dipasaran akan ditawarkan EOS M5 bodi saja (9-10 jutaan), kit 15-45mm (11 jutaan) atau kit 18-150mm (mungkin 15 jutaan). Memang pilihan lensa EOS M masih belum banyak (lensa native dengan kode EF-M) tapi dengan adapter maka lensa EF dan  EF-S pada dasarnya bisa dipakai, khususnya lensa dengan kode STM akaan  lebih enak buat auto fokus saat rekam video.

Beberapa pilihan lensa EF-M saat ini  :

  • fix 22mm f/2
  • wide 11-22mm
  • tele 55-200mm
  • makro 28mm f/3.5

diharapkan Canon segera merilis lensa :

  • semi profesional 16-50mm f/2.8, 50-150mm f/4
  • aneka lensa fix : 35mm, fix 50mm, 85mm, makro 100mm
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Canon hadirkan DSLR kelas atas EOS 5D generasi ke empat

Di bulan Agustus ini dunia fotografi dibuat kembali bergairah dengan hadirnya DSLR kelas atas Canon EOS 5D generasi ke empat atau mark IV. Kali ini Canon memberi sensor 30 MP dengan ISO 100-32.000 dengan dual pixel AF untuk auto fokus yang lebih mudah saat live view dan video (pertama di temui di EOS 70D). Selain itu tentu ada hal baru yang menarik disini, misalnya fitur 4K video dalam format MJPEG 30 fps. Canon-5D-Mark-IV-650x517

Tapi tentu saja berita besarnya kali ini adalah modul fokus yang dipakai, seperti yang sudah diprediksi akhirnya 5D mk IV ini mewarisi modul dari 1Dx mk II dengan 61 titik fokus (41 diantaranya cross type), dan bisa fokus di keadaan gelap -4 Ev. Kecepatan tembaknya mungkin biasa saja dengan 7 foto per detik tapi ingat resolusi 30 MP punya data yang lebih besar dari sensor 24 MP apalagi 16 MP.

Canon-5D-Mark-IV-Back-650x517

Dari fisik terlihat masih banyak kemiripan dengan 5D mk III dan 5D SR. Layarnya yang berukuran 3,2 inci ini kini sudah mendukung touchscreen dan didalamnya sudah diberikan fitur GPS dan WiFi.

Canon-5D-Mark-IV-Top-650x414

Kamera Canon 5D mk IV akan dijual $3,499 bodi saja atau $4,399 dengan lensa baru 24-70mm f/4L IS USM. Memang tidak murah, tapi profesional yang menunggu hadirnya kamera ini tentu sudah mengerti kebutuhan masing-masing seperti resolusi, dynamic range, ISO tinggi dan video 4K yang diunggulkan di kamera ini. Canon juga di waktu bersamaan meluncurkan lensa update EF 16-35mm f/2.8L III USM dan EF 24-105mm f/4L IS II USM.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Pilih Canon 80D atau Sony A6300?

Kalau ditanya saat ini duel apa yang dianggap mewakili DSLR vs mirrorless favorit dan terbaru, maka boleh jadi jawabnya adalah Canon EOS 80D berhadapan dengan Sony A6300. Keduanya walau berangkat dari format kamera yang berbeda (satu pakai cermin, satu tanpa cermin) tapi punya banyak kesamaan seperti harga jual, sensor dan segmentasinya. Canon 80D dan Sony A6300 baru saja resmi diluncurkan di Indonesia dengan harga 14 jutaan bodi saja.

Mari cek sejarah kedua produk ini. Uniknya keduanya adalah kamera yang hadir menyempurnakan produk yang populer dimana Canon 80D adalah penerus 70D dan Sony A6300 adalah penerus A6000. Keduanya membawa beban target yang sama beratnya yaitu mesti jadi produk yang juga sukses seperti sebelumnya. Kita tahu Canon 70D termasuk sukses dalam memadukan kualitas, kinerja, dan harga dari sebuah kamera DSLR, demikian juga Sony A6000 membuat standar baru untuk kamera mirrorless performa tinggi.

Kedua kamera, Canon 80D dan Sony A6300 sama-sama pakai sensor APS-C dengan resolusi 24 MP. Canon 80D punya 45 titik fokus (semuanya cross-type) di mode normal, dan saat pakai live view juga auto fokusnya tetap handal berkat dual-pixel AF (pertama di temui di 70D).

Sony A6300 area fokusnya meningkat pesat dari 179 area menjadi 425 area, tertinggi di semua produk mirrorless yang ada. Kedua kamera juga sama-sama dirancang lebih tangguh (80D dinyatakan tahan cuaca, A6300 hanya disebut tahan debu dan kelembaban) dan mengusung fitur terkini seperti WiFi dan NFC.

80D A6300

Canon EOS 80D punya kekuatan di kematangan sistem, seperti pilihan lensa, flash dan aksesori (termasuk buatan pihak ketiga). Penyuka desain bodi kamera konvensional juga akan menyukai 80D yang gripnya lebih enak, tahan cuaca dan jendela bidik optiknya lebih besar dan terang. Bodi DSLR memang besar dan cenderung tidak praktis untuk traveling, tapi dibalik bodi yang besar jadi bisa ditempati banyak tombol dan LCD tambahan yang berguna. Layar lipat dan bisa disentuh juga jadi nilai plus Canon 80D, saat pakai live view atau rekam video akan terbantu saat ingin menentukan area fokus dengan menyentuh layar. Baterainya yang besar juga bisa tahan hampir 1000x memotret dalam sekali charge. Canon 80D dirancang juga untuk videografer, misalnya ada port headphone dan fitur video lebih lengkap. Tapi anehnya di 80D banyak juga kekurangan di sisi video seperti tidak ada 4K, tidak ada clean HDMI out, tidak ada zebra dan tidak ada S-log flat profile.

80D A6300 b

Di sisi lain Sony A6300 melanjutkan sukses A6000 dengan filosofi bodi kecil tapi lengkap dan handal. Masih sehebat A6000, di A6300 juga bisa menembak hingga 11 foto per detik, jauh diatas Canon 80D yang ‘hanya’ 7 foto per detik. Anda yang cenderung menyukai kamera modern mungkin akan lebih suka A6300 misalnya banyak fitur canggih seperti jendela bidik elektronik yang jernih, 4K video, hingga kebebasan menambah aplikasi di dalam kamera. Bagi yang menyukai street photography, A6300 sudah mendukung silent shutter sehingga tidak ada suara apapun saat memotret.80D A6300 c

Tapi perlu diingat bodi A6300 termasuk kecil sehingga gripnya kurang mantap, juga layar LCD-nya juga tidak mendukung layar sentuh. Beruntung adanya built-in flash dan hot shoe di A6300 membuat kamera ini makin serbaguna untuk berbagai pemakaian, meski tidak ada fitur wireless flash di A6300 sehingga penyuka strobist perlu membeli trigger sendiri. Masalah lain khas mirrorless adalah daya tahan baterai yang memaksa kita untuk punya beberapa baterai cadangan.

Yang kami suka dari Canon 80D :

  • ergonomi (bodi, grip, tombol, ada LCD tambahan)
  • auto fokus hybrid (oke juga saat live view)
  • layar sentuh
  • wireless flash
  • daya tahan baterai
  • Kecepatan startup lebih cepat (0.5 vs 1.4 detik)
  • Max shutter speed 1/8000 detik vs 1/4000

Yang kami suka dari Sony A6300 :

  • sarat fitur dalam bodi yang ringkas
  • cepat (burst cepat, AF cepat)
  • fitur video lengkap (4K, slow motion dsb)
  • jendela bidik jernih
  • sensor berkualitas tinggi (tajam, DR oke, noise rendah)
  • Ada focus peaking membantu saat manual fokus
  • Bisa diadaptasi dengan lensa-lensa SLR dengan adaptor

Jadi keduanya sebagai kamera dengan sensor APS-C memang hampir setara untuk harga, fitur dan kinerja, namun berbeda dalam jenisnya. Canon 80D mewakili kubu DSLR juga sebetulnya punya misi berat karena harus melawan Nikon D7200, serta tidak boleh overlap fitur dengan sang kakak yaitu 7D mk II. Saat ini kalau anda mencari DSLR kelas menengah yang handal dan mencukupi untuk banyak kebutuhan, kami tak ragu menyarankan Canon 80D, bahkan saat dana terbatas maka Canon 70D juga masih oke untuk dipilih.

Di sisi lain Sony A6300 mewakili kubu mirrorless juga bebannya berat karena banyak saingan di kisaran harga sama (Fuji X-Pro 2, Fuji X-T1, Samsung NX1 dan bahkan dari kubu micro 4/3 seperti Olympus E-M5 mk II atau Panasonic GX8).  Kami pun tak ragu untuk merekomendasikan Sony A6300 untuk aneka kebutuhan fotografi anda, khususnya sport atau travelling, bahkan kalau dana terbatas maka Sony A6000 pun masih oke untuk dipilih. Jadi, pilih sesuai keinginan dan kemampuan, dan mulailah menikmati hobi fotogafinya..

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Canon EOS 80D resmi diumumkan, apa bedanya dengan 70D?

Saat masih banyak yang mencari Canon 60D di pasaran, dan saat masih banyak yang merasa 70D adalah kamera yang tergolong baru (walau sudah hampir 3 tahun sejak pertama kali dia diumumkan), Canon kini resmi meluncurkan EOS 80D untuk meneruskan tugas 70D mengisi segmen enthusiast/semi pro. Dari segmentasi 80D tetap diposisikan untuk menjadi versi lebih canggih dari Canon Rebel (760D dsb) namun lebih dibawah DSLR kelas pro sensor APS-C yaitu 7D mark II. Apa bedanya EOS 80D ini dengan pendahulunya 70D (yang admin juga pakai sendiri)?

Banyak pihak setuju bahwa Canon EOS 70D adalah kamera yang sangat menarik dari sisi fitur dan harga, juga menjadi contoh evolusi signifikan dari produk sebelumnya yaitu 60D. Di era 70D lah akhirnya DSLR bisa oke juga saat auto fokus untuk live view. Maka itu perubahan apa lagi yang akan diberikan oleh Canon bila saatnya nanti 80D keluar? Nah kini EOS 80D sudah resmi keluar, dan tentunya (seharusnya) meneruskan hal-hal baik di 70D dan meningkatkan kekurangan yang ada di 70D.

canon80dhead

Salah satu titik lemah 70D adalah pada titik fokusnya yang ‘hanya’ 19 titik, walau untuk banyak kebutuhan 19 titik ini sudah cukup, tapi kompetisi khususnya dengan Canon terasa sekali kurangnya karena kamera Nikon pakai 39 titik hingga 51 titik fokus untuk DSLR menengah mereka. Maka wajar kalau 80D akhirnya memberikan modul AF baru dengan 45 titik fokus, walau sedikit kalah jumlah dibanding 51 titik tapi menang di jumlah cross type-nya. Karena 45 titik fokus di 80D semuanya cross type, bahkan titik tengahnya bisa fokus saat gelap hingga -3 Ev.

Hal lain yang sudah bisa diprediksi adalah dipakainya sensor baru 24 MP yang awalnya dikenalkan di 750D/760D. Tapi sensornya tidak persis sama karena di 80D sistem hybrid AF-nya memakai dual pixel AF sedang di 750D memakai hybrid CMOS AF. Dengan sensor 24 MP ini Canon ingin setara dengan Nikon D7200 atau Sony A6300, meningkat dari sebelumnya 20 MP di 70D. Performa ISO di 80D juga ditingkatkan kini bisa mencapai ISO 16.000 berkat prosesor DIGIC6.

canon80drear

Bodi kamera 80D nyaris kembar identik dengan 70D, sedikit sekali bedanya bila dilihat dari luar, namun setelah dicek seksama baru ada sedikit perbedaan khususnya di roda dial, port samping dan tuas live view/movie. Kami belum tahu apakah ada penambahan kekuatan weathersealing dari 70D ke 80D ini, tapi anggaplah keduanya sama-sama dirancang tahan cuaca (hujan, debu dsb). Di dalamnya ada peningkatan seperti jendela bidik lebih besar dengan cakupan 100% lalu juga diberikan modul GPS, WiFi dan NFC. Di mode dial kini ada dual custom slot (C1 dan C2), serta ada berbagai fitur baru seperti untuk membuat timelapse. Colokan mic di samping kiri kini ditemani oleh colokan headphone yang merupakan kabar baik, walau dari sisi videografi secara umum tidak ada kabar baik yang signifikan selain kini bisa merekam dengan 2x frame rate normal. Lupakan dulu soal fitur 4K di kamera seharga $1500 ini ya, mungkin generasi yang berikutnya lagi baru ada.

Hal lain yang menarik dan ditingkatkan dari 80D ini sepertinya terinspirasi dari 760D seperti adanya HDR movie, anti flickr mode dll. Tapi yang jelas sama dengan 760D adalah kemampuan menembak + fokus kontinu saat di mode live view, sesuatu yang semestinya dengan update firmware saja bisa dilakukan di 70D.

Dari uraian diatas memang boleh saja admin berpendapat kalau peningkatan yang diberikan Canon tidak banyak, bahkan sangat boleh kalau semestinya diberi nama EOS 70D mark II saja. Bagi yang punya 70D tidak terlalu banyak alasan untuk upgrade kecuali sangat membutuhkan 45 titik fokus, tapi pemilik 60D atau Rebel series lain yang pakai 9 titik AF boleh mempertimbangkan kamera ini, anda akan menikmati resolusi tinggi 24 MP, auto fokus handal, live view cepat dan layar sentuh yang menyenangkan.

 

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Canon punya banyak lini kamera saku serius Powershot, pilih yang mana?

Kamera saku memang nasibnya suram karena serbuan ponsel cerdas. Tapi bagi Canon, bisnis kamera saku harus terus hidup, maka itu seri Powershot kini memiliki banyak pilihan produk premium. Dengan bandrol harga yang cukup lumayan, kamera yang ditujukan untuk pendamping kamera utama ini punya berbagai fitur serius yang disukai fotografer. Apa saja pilihan yang ada? Berikut ke-lima produknya.

Canon G1X mk II

family-g1x

Kamera serius dengan sensor besar ini paling senior dan paling tinggi kastanya di kelas Powershot. Lensanya sudah termasuk baik dengan spek 24-120mm f/2.0-3.9 sedangkan kemampuan bidiknya 5,2 fps. Yang suka jendela bidik perlu menambah aksesori yang bisa dipasang di hot shoe. Inilah kamera yang ditujukan untuk mengejar kualitas gambar terbaik di kelasnya.

Canon G3X

family-g3x

Kamera dengan kasta dibawah G1X namun dengan harga yang lebih tinggi berkat lensanya yang termasuk superzoom 24-600mm f/2.8-5.6 yang didukung sensor 1 inci, membuatnya ideal untuk safari dengan gear minimal. Sama seperti G1X, anda perlu membeli aksesori jendela bidik bila perlu. Pengoperasian zoom lensanya diputar dengan tangan, mestinya bisa menghemat baterai.

Canon G5X

family-g5x

Kamera ini termasuk baru, kekuatan utamanya adalah di jendela bidik elektronik dan layar LCD yang bisa dilipat putar. Dari spek sensor dan lensa kamera ini persis sama dengan Canon G7X. Sebagai bonus, tersedia flash hot shoe untuk memasang lampu kilat. Adanya hot shoe membuat kamera ini agak jangkung dan sulit untuk dimasukkan ke saku.

Canon G7X

family-g7x

Kamera ini hadir lebih awal dari G5X, dirancang menjadi kamera saku premium dengan sensor 1 inci dan lensa bukaan besar 24-100mm f/1.8-2.8 yang bersaing dengan Sony RX100. Cocok untuk kebutuhan dasar fotografi maupun untuk travel biasa. Kamera ini tidak ada hot shoe sehingga tidak bisa pasang flash atau aksesori jendela bidik eksternal.

Canon G9X

family-g9x

Seri paling buncit di lini Powershot premium hadir bareng dengan G5X, bedanya G9X murni seperti kamera saku basic yang mengandalkan sensor 1 inci, dan lensa 28-84mm f/2.0-4.9 dan layar LCD-nya tidak bisa dilipat. Cocok untuk anda yang mencari kamera saku dengan hasil foto lebih baik dari kamera saku pada umumnya.

Harga kamera ini bervariasi mulai dari 5 hingga 10 juta rupiah, sudah bersaing dengan harga DSLR, namun memiliki kekuatan di ukuran dan lensa yang berkualitas. Sebagai info, sensor 1 inci sudah dianggap standar minimum untuk bicara kualitas, diatas itu ada pilihan sensor 4/3 milik Panasonic dan barulah APS-C. Nikon dan Samsung juga mengembangkan kamera dengan sensor 1 inci tapi dalam bentuk kamera mirrorless. Dari pengamatan kami sensor 1 inci punya hasil yang baik hingga ISO 1600, bahkan setara dengan hasil foto dari kamera DSLR generasi awal (tahun 2005-2007). Maka itu harga kamera Canon ini tidak bisa dibilang murah, karena kualitas sensornya yang termasuk baik.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Review lensa Canon EF-S 10-18mm IS STM

Setelah punya lensa kit, anggaplah lensa 18-55mm, biasanya orang tanya apa lensa berikutnya yang perlu dibeli. Biasanya saran kami adalah lensa lebar dan/atau lensa tele (misal lensa 55-200mm), tergantung mana yang lebih prioritas. Kalau dana tidak jadi kendala, ya dua-duanya boleh diambil sekaligus karena saling melengkapi. Lensa lebar biasanya jadi prioritas kalau fokal terlebar dari lensa kit yaitu 18mm dirasa kurang lebar (salah satunya akibat crop factor, sekitar 28mm saja). Pilihan lensa lebar untuk sistem APS-C biasanya lensa yang dimulai dari fokal 10,11 atau 12mm. Misal Canon 10-22mm, Nikon 10-24mm, Tokina 11-16mm dan sebagainya. Harga lensa wide memang agak tinggi, kadang sebagian orang urung membeli karena dananya belum mencukupi.

DSC_2286 sml2

Kami agak terkejut saat tahun lalu Canon mengumumkan lensa baru, yaitu EF-S 10-18mm IS STM, setidaknya ada dua hal yang membuat kami agak terkejut. Pertama adalah karena Canon sudah punya lensa wide untuk EF-S yaitu 10-22mm seharga 6-7 jutaan. Kedua karena harganya yang agak tidak umum, yaitu 3 jutaan rupiah, jauh lebih murah daripada lensa Tokina 12-24mm yang kami punya sejak 3 tahun lalu.

Kami penasaran seperti apa lensanya dan mengapa dia bisa begitu murah. Kami pikir tidak mungkin Canon akan menjual lensa murah dengan mengorbankan kualitas optiknya, karena bakal jadi bumerang di jangka panjang. Lalu kenapa dia bisa dijual 3 jutaan saja? Mungkin saja itu bagian dari strategi bisnis Canon, kami kurang tahu soal itu, tapi jawabannya bisa dicari secara faktual dari ciri-ciri fisik yang tampak.

Menilik dari spesifikasinya, mulai terjawab apa saja yang bisa dilakukan Canon untuk menekan harga, misalnya :

  • bodi berbahan plastik, mount juga plastik dan ukurannya kecil, kualitas fisik bodinya mirip lensa kit
  • jangkauan fokal terjauh (zoom paling mentok) hanya sampai 18mm, tapi ini tidak masalah karena justru jadi tidak saling overlap dengan lensa kit (18-55mm atau 18-135mm)
  • bukaan maksimal tidak besar, dan tidak konstan, yaitu f/4.5-5.6 walau ini juga tidak masalah karena umumnya lensa wide dipakai untuk pemandangan (Sering pakai antara f/8 hingga f/16)
  • tidak pakai jendela indikator jarak fokus, lagipula ini adalah lensa STM (semua lensa STM pakai manual fokus elektronik)
  • tidak diberi bonus hood lensa
Proporsi bodi dan lensa masih tampak seimbang
Proporsi bodi dan lensa masih tampak seimbang

Tapi jangan salah, bukan berarti lensa EF-S ini tidak punya keunggulan. Bahkan lensa yang berisi 14 elemen optik dalam 11 grup (termasuk 1 Asph. dan 1 UD) ini sudah memiliki fitur Image Stabilizer (IS) yang diklaim sampai 4 stop, sehingga kita bisa memotret dengan speed lambat dengan minim resiko getar. Disini fitur IS menjadi penting karena lensa ini bukaannya tidak besar. Selain itu sistem motor fokus STM membuat auto fokusnya senyap dan cepat, cocok untuk rekam video juga. Diameter filter lensa ini 67mm, bagian depan lensa tidak berputar saat auto fokus sehingga cocok untuk pasang filter CPL. Lensa ini bisa fokus sedekat 22cm dari sensor (atau sekitar 15cm dari ujung lensa) dan punya 7 bilah diafragma yang termasuk lumayan untuk bokeh agak bulat.

Pengujian fitur IS :

Dengan fokal 18mm, kami menguji kemampuan IS lensa ini dengan shutter selambat 1/2 detik atau kira-kira 3 stop lebih lambat dari batas aman untuk lensa 18mm. Sebagai subyek uji, ada bola dunia yang penuh tulisan ini :

Setting : fokal 18mm, f/5.6, shutter speed 1/2 detik
Setting : fokal 18mm, f/5.6, shutter speed 1/2 detik

dan inilah hasil crop 100% dari foto diatas :

Fitur IS On, hasil crop terlhiat foto masih tajam
Fitur IS On, hasil crop terlihat foto masih tajam

Sebagai kesimpulan, yang kami sukai dari lensa ini :

  • harga terjangkau, cocok untuk pemula yang baru belajar fotografi dan perlu lensa wide yang bisa memberi perspektif berbeda
  • kecil dan ringan (230 gram), sepintas mirip sekali dengan lensa kit 18-55mm
  • auto fokus cepat, tidak bersuara, dan oke untuk video juga
  • optiknya termasuk baik, seperti ketajaman, warna dan kontras tidak ada keluhan
  • ada fitur IS, sesuatu yang biasanya tidak diberikan di lensa wide
  • rendah cacat lensa seperti chromatic abberation dan flare
  • filter 67mm tergolong umum dan terjangkau (umumnya lensa wide pakai filter 77mm yang mahal)

Hal-hal yang perlu diperhatikan dari lensa ini :

  • mount plastik, perlu lebih hati-hati karena plastik lebih rentan patah daripada logam
  • sebagai lensa STM, dia manual fokusnya by-wire, artinya ring manual fokus hanya berguna saat kamera dalam keadaan ON
  • lensa STM juga artinya tidak ada jendela jarak fokus, kelemahannya sulit sekali manual fokus ke infinity misalnya (agak sulit foto bintang seperti milkyway)

Secara umum kami menyukai lensa ini, ukuran, bobot dan fiturnya sesuai dengan yang saya cari, sedangkan kualitas optiknya melampaui harga jualnya. Dibandingkan lensa EF-S 10-22mm perbedaannya adalah dalam hal rentang fokal, kualitas bahan bodi dan indikator jarak fokus. Kualitas optik kurang lebih setara, atau lensa 10-22mm sedikit lebih unggul dibanding EF-S 10-18mm.

Beberapa contoh foto dari lensa ini :

Perbedaan fokal 10mm dengan 18mm :
IMG_1122

IMG_1123

Untuk arsitektur :

IMG_2455

Untuk pemandangan :

IMG_1376

IMG_2856

Foto selengkapnya bisa dicek di flickr.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Yang perlu diketahui tentang lensa Canon STM

Sejak hadirnya kamera DSLR Canon terbaru seperti 700D, 70D dan 7D mark II, kita semakin sering dengar tentang lensa STM. Sebelumnya mungkin kita hanya tahu tentang lensa USM yang identik dengan auto fokus cepat, lalu apa lagi lensa STM ini? Ada dua macam lensa Canon dengan STM, yaitu lensa baru (misal EF-S 40mm f/2.8 STM) dan juga lensa eksisting yang dibuat versi STM, misal lensa 18-55mm, 55-250mm dsb. Apa tujuan Canon untuk semua ini? Admin mencoba menjelaskannya untuk anda.

Pertama kita bedah singkatan STM dulu yaitu Stepper Motor, sebuah teknik putaran dengan motor khusus untuk auto fokus. Berbeda dengan USM (Ultra Sonic Motor), STM tidak mengedepankan kecepatan fokus untuk fotografi, tapi lebih menonjolkan kemulusan transisi auto fokus saat live view dan khususnya saat rekam video. Selain itu lensa STM dirancang silent dalam arti tidak ada suara perputaran motor fokus yang terekam saat sedang rekam video. Maka itu di web Canon mereka menyebut STM dengan Smooth Transistion for Motion. Jadi lensa STM bukan untuk kecepatan fokus, untuk foto aksi cepat anda tetap perlu lensa USM.

Canon-EF-50mm-F1.8-STM-lens

Sejauh ini ada beberapa lensa yang sudah berkode STM, diantaranya :

  • lensa kit (18-55mm, 18-135mm, 24-105mm)
  • lensa wide/tele zoom (10-18mm, 55-250mm)
  • lensa fix (24mm, 40mm, 50mm)

Apa perbedaan fisik utama lensa STM dengan lensa DSLR lain pada umumnya? Ada dua ciri utama, yaitu lensa STM manual fokusnya adalah elektronik. Jadi apa yg kita putar di lensa bukanlah secara langsung memutar elemen fokus, jadi untuk itu kamera harus dalam kondisi on. Bagi yang tidak terbiasa manual fokus secara elektornik mungkin akan merasa aneh, apalagi yang sudah terbiasa manual fokus dengan lensa lama pasti rasanya beda sekali. Kedua, karena manual fokusnya elektronik, pasti tidak ada jendela informasi jarak fokus di lensa. Jadi sulit (bahkan mustahil) untuk memotret dengan panduan tabel hiperfokal dengan lensa STM, juga sulit mengatur fokus manual ke infinity seperti saat mau memotret bintang di langit.

Apakah kita memerlukan lensa STM?

Anda pengguna DSLR Canon generasi lama, atau DSLR Canon full frame, tidak ada bedanya saat memasang lensa STM atau non STM di kamera anda. Lensa STM yang dipasang di kamera anda akan tetap berfungsi normal, tapi tentu anda kehilangan kemudahan manual fokus yang sesungguhnya. Tapi anda yang pakai DSLR Canon 700D-750D/760D-70D-7D mk II maka dengan lensa STM akan lebih mulus auto fokusnya saat live view dan rekam video. Apalagi dengan kemudahan layar sentuh, kita tinggal sentuh di layar dan kamera akan set fokus ke obyek yang kita sentuh itu. Sebagai info, pemilik DSLR Canon 700D-750D/760D-70D-7D mk II juga tetap bisa live view dan rekam video dengan lensa non STM, tapi auto fokusnya akan kurang mulus transisi-nya dan (tergantung lensanya) maka suara motor auto fokus bisa jadi ikut terekam dalam rekaman video.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Canon XC10, ketika fotografi dan videografi bersatu

Pilih mana, kamera video yang bisa ambil foto, atau kamera foto yang bisa ambil video? Wah, tidak ada yang enak pilihannya. Pinginnya ada kamera yang oke untuk foto dan juga video, sekaligus. Bila selama ini belum ada satu produk yang layak mewakili harapan tadi, maka kini tidak lagi setelah Canon resmi meluncurkan kamera Canon XC10, perpaduan antara camcorder dan juga kamera foto. Kamera unik ini punya segalanya untuk kebutuhan foto dan video serius, dan dijual dengan harga yang masih wajar (USD $2500). Apa saja keunggulan produk XC10 ini?

xc10big1-635x403

Dari bodinya, Canon XC10 tampak seperti miniatur EOS Cinema Camera C100. Di bagian depan terdapat lensa yang tidak bisa diganti, fokal 24-240mm dan bukaan f/2.8-5.6 yang masih termasuk layak. Di bagian atas terdapat hot shoe untuk kebutuhan flash eksternal, atau lampu LED. Gripnya bisa diputar, sedangkan LCD-nya juga bisa dilipat. Terdapat aksesori eyecup yang bisa ditempel di layar LCD, berguna untuk meninjau gambar dengan presisi. Dekat layar LCD ada lubang ventilasi untuk mendinginkan sensor.

xc10-09-top-b

Di bagian dalam, terdapat sensor ukuran 1 inci dengan resolusi total 12 MP, denga kemampuan rekam video 4K dan dynamic range 12 stop. Kualitas video patut diapresiasi dengan kemampuan 4:2:2 8 bit, atau 305 Mbps untuk 4K. Terdapat profil Canon Log gamma, buit-in ND filter dan 5 axis stabilizer yang membantu fotografer dan juga videografer mendapat hasil optimal dalam berbagai kondisi pencahayaan. Untuk merekaman hasil foto dan video, terdapat slot CFast card, slot SD card dan juga HDMI 10 bit output.

xc10-12-bsl-a

Opini kami :

Konvergensi kamera foto dan video mulai terjadi, Canon XC10 adalah awal yang baik, sebagai kamera multimedia, liputan atau rumah produksi skala kecil akan memberi solusi yang baik. Bagi fotografi, sensor 1 inci memang pas-pasan, tapi sudah memenuhi kriteria dasar untuk mendapat hasil foto yang baik bahkan hingga ISO 1600. Dalam urusan rekam video, sensor 1 inci tergolong besar dan bisa memberi hasil video yang baik di kondisi kurang cahaya. Adanya resolusi 4K menjadi keuntungan sendiri untuk jangka panjang, dan format full HD yang diusung kamera ini juga lebih berkualitas dengan bitrate 50 Mbps.

Keuntungan sensor 1 inci adalah lensa yang bisa dibuat lebih kecil, bukaan lebih besar dan zoom lebih panjang. Bagi yang ingin ruang tajam luas, cukup mudah didapat dengan sensor 1 inci, misal diset ke f/8. Sebaliknya sensor 1 inci masih bisa diakali untuk membuat latar yang blur (bokeh) dengan teknik yang tepat. Memang harapannya sih kamera ini bisa berganti lensa, ada jendela bidik atau pakai sensor APS-C, tapi semua itu akan membuat biaya produksi lebih tinggi dan ujung-ujungnya harga produk jadi lebih tinggi.

Info : di waktu hampir bersamaan, Canon juga mengumumkan EOS Cinema Camera C300 mark II.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..