Dahsyat, Fujifilm umumkan 30 kamera baru sekaligus!!

Berita mengejutkan di awal tahun 2012 datang dari Fujifilm yang mengumumkan kehadiran 30 (tigapuluh) kamera barunya, yang umumnya adalah penerus seri sebelumnya. Selain itu Fuji juga mengumumkan harga resmi kamera X-S1 yaitu seharga 8 juta rupiah. Sekedar mengingatkan, X-S1 adalah kamera yang sangat mirip DSLR tapi lensanya tidak bisa dilepas. Simak kamera apa saja yang diumumkan oleh Fuji di Januari 2012 ini.

fuji-sl300

Salah satu produk yang menarik adalah Fuji SL300 seperti pada gambar diatas. Produk ini merupakan kamera murah berjenis super zoom 30x dengan sensor CCD 14 MP dan dilengkapi dengan flash hot shoe. Meski lensanya nampak bisa diputar namun kenyataannya untuk melakukan zoom tetap dilakukan secara elektronik, dengan menekan tuas di dekat tombol rana atau di samping lensa.

Secara lengkap berikut adalah daftar 30 kamera yang diluncurkan oleh Fuji :

30-kamera

Dua kamera superzoom seri HS :
  • Fuji HS30 EXR (baterai Lithium)
  • Fuji HS25 EXR (baterai AA)
Tiga kamera saku seri F-EXR travel zoom :
  • Fuji F770 EXR (20x zoom, GPS, RAW)
  • Fuji F750 EXR (20x zoom)
  • Fuji F660 EXR (15x zoom)

Empat kamera superzoom seri S murah meriah :

  • Fuji S4500 (30x zoom)
  • Fuji S4400 (28x zoom)
  • Fuji S4300 (26x zoom)
  • Fuji S4200 (24x zoom)

Empat kamera superzoom seri SL (baru, lebih serius) :

  • Fuji SL300 (30x zoom)
  • Fuji SL280 (28x zoom)
  • Fuji SL260 (26x zoom)
  • Fuji SL240 (24x zoom)

Tiga kamera saku seri XP yang tahan air :

  • Fuji XP150 (bisa 10 meter)
  • Fuji XP100 (bisa 10 meter)
  • Fuji XP50 (bisa 1,5 meter)

Dua kamera saku tipis seri Z :

  • Fuji Z1000 EXR (wifi)
  • Fuji Z110

Dua kamera saku seri T :

  • Fuji T400 (10x zoom, 16 MP)
  • Fuji T350 (10x zoom, 14 MP)

Sepuluh kamera saku murah meriah :

  • Fuji JZ250,  JZ200 dan JZ100
  • Fuji JX700, JX580, JX550, JX520 dan JX500
  • Fuji AX600 dan AX500

Entah bagaimana pembeli dan pedagang bisa familiar dengan sekian banyak produk seperti ini, bahkan mungkin tidak semua tipe ini bisa dijumpai di pasaran tanah air. Bravo Fuji, semoga Quality control untuk produksi kamera sebanyak ini bisa tetap terjaga.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Olympus XZ-1, kamera saku serius dengan lensa f/1.8

Tahun 2011 belum genap seminggu, tapi di ajang CES 2011 telah diperkenalkan lebih dari 42 kamera baru yang sebagian diantaranya cukup fenomenal, seperti produk yang bernama Olympus XZ-1 yang belum lama ini diluncurkan. Inilah kamera saku dengan fitur kelas atas, dibuat untuk mereka yang serius dalam fotografi dan mencari kamera saku tanpa kompromi akan kualitas. Selling point utama Olympus XZ-1 adalah digunakannya lensa Zuiko f/1.8 yang amat bermanfaat untuk kondisi low light maupun untuk fotografi cepat, meski untuk itu harus ditebus dengan harga jualnya yang mencapai lima juta rupiah !

olympus-zx-1

olympus-zx-1b

olympus-zx-1c

Tak dipungkiri hadirnya Olympus XZ-1 adalah jawaban untuk Lumix LX5 maupun Canon S95, dan satu lagi kamera berlensa f/1.8 yaitu Samsung TL500, kesemuanya adalah kamera saku serius yang diincar para profesional. Bahkan Olympus XZ-1 yang nota bene hadir paling belakangan, berhasil meramu semua keunggulan dari para pesaing, seperti lensa f/1.8 dari Samsung dan ring multifungsi pada lensa seperti Canon S95. Bahkan Olympus XZ-1 bersaing langsung dengan Lumix LX5 dan dalam banyak aspek memiliki kesamaan fitur dan kinerja.

Tak sabar mengetahui apa saja keunggulan XZ-1? Inilah dia hal-hal yang akan membuat anda kagum :

  • lensa i.Zuiko dengan rentang 28-112mm atau 4x zoom, sangat efektif dalam rentang fokal, bahkan di posisi tele mengalahkan Lumix LX-5 (90mm), Canon S95 (105mm) dan Samsung TL500 (72mm)
  • lensa dengan bukaan terbesar yaitu f/1.8, setara dengan Samsung TL500, lebih besar dari Lumix LX-5 maupun Canon S95 yang ‘hanya’ mampu membuka f/2.0
  • bukaan terbesar saat di zoom maksimal dalah f/2.5 yang masih lebih besar dari Lumix LX-5 (f/3.3) apalagi Canon S95 (f/4.9)
  • Sensor CCD beresolusi 10 MP dengan ukuran 1/1.63 inci yang setara dengan Lumix LX-5, agak lebih besar dari kamera saku kebanyakan yang umumnya antara 1/1.7 inci hingga 1/2.5 inci
  • berbagai pilihan aspek rasio seperti 1:1, 3:2, 4:3 hingga 16:9
  • mode manual P/A/S/M dengan rentang kecepatan shutter 60 – 1/2000 detik
  • kendali putar di depan (ring lensa) yang berfungsi untuk mengatur berbagai pengaturan seperti shutter, aperture, ISO dan manual fokus
  • prosesor TruPicV yang sama seperti kamera Olympus PEN untuk kinerja cepat
  • layar OLED resolusi VGA, diagonal 3 inci dengan 621 ribu piksel (layar OLED punya gamut warna yang lebih baik dari LCD dan juga sudut pandangnya lebih lebar)
  • ISO 100 hingga ISO 6400 (ada AUTO ISO 100-800)
  • HD movie 720p, 30 fps format MJPEG
  • RAW file format, dan konversi RAW pada kamera
  • TTL flash hot shoe untuk flash Olympus (FL-50R, FL-36R, FL-50, FL-36, FL-14), bahkan bisa wireless flash
  • CCD shift image stabilizer
  • filter Neutral Density built-in
Olympus C2040
Olympus C-2040 (2001)

Oke, untuk ukuran kamera saku, Olympus XZ-1 memang terlalu besar, dan juga terlalu mahal. Anda bisa mendapat kamera lain yang lebih mungil atau bahkan bisa membeli kamera DSLR yang lebih murah dari XZ-1 ini. Tapi inilah era kebangkitan Olympus setelah sepuluh tahun tidak lagi memiliki kamera saku unggulan (terakhir Olympus meluncurkan kamera saku C-2040 dengan f/1.8 seharga 10 jutaan di tahun 2001). Produsen lain sudah lebih dulu mengisi segmen kamera saku kelas atas dengan produk unggulannya, dengan ciri lensa cepat, fitur lengkap dan harga yang mahal, seperti Lumix LX5, Canon S95 dan Samsung TL500. Bahkan Nikon dikabarkan juga akan meluncurkan produk serupa di tahun ini, tentu kabar ini akan membawa angin segar karena kompetisi di kelas ini lebih efektif daripada sekedar berlomba kemampuan zoom atau mega piksel semata.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Samsung WB700, hadirkan lensa zoom 18x dalam kamera saku

Ambisius. Itulah kesan kami terhadap Samsung WB700, kamera saku yang baru saja diperkenalkan Samsung pada tanggal 28 Desember 2010 silam. Meski sepintas tampak mirip seperti kamera saku lainnya, tapi lensa yang dimilikinya memiliki kemampuan zoom optik 18x (24-432mm) yang belum pernah dijumpai di kamera saku lain. Samsung bahkan memaksakan kemampuan sensor melampaui batas fisika dengan memakai sensor  CCD beresolusi 16 MP pada keping seluas 1/2.33″.

wb700

Apapun itu, kami mengapresiasi upaya Samsung dalam memberi pilihan buat konsumen. Bisa jadi ada sebagian dari kita yang memang benar-benar memelukan kamera mungil dengan kemampuan zoom ekstra panjang, atau perlu kamera dengan sensor beresolusi ekstra tinggi. Setidaknya ada upaya Samsung untuk memberikan sebuah produk yang bisa dianggap ‘killer camera’ atau kamera dengan spesifikasi tinggi yang tidak bisa diabaikan seperti :

  • Fitur manual (A/S/M)
  • tombol langsung HD Movie (1080p)
  • mendukung RAW file format
  • port HDMI Type D
  • Flash Manual Adjustment (Timing, Light Quantity)
  • stabilizer optik
  • bisa zoom saat merekam video, bunyi motor zoom tidak terekam
  • beragam filter digital (soft focus, half-tone dot, cinema, fish-eye, miniature dan sketch)
  • layar 3 inci

Bila tertarik, tunggu produk berdesain agak retro ini di tahun 2011 yang rencananya akan dijual di kisaran harga 3 jutaan.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Ayo pahami spesifikasi kamera digital

Kamera digital itu unik. Dalam kamera digital kita menjumpai istilah fotografi klasik sekaligus ketemu dengan istilah teknologi digital modern yang kadang membuat minder saat membaca spesifikasinya. Padahal saat hendak memilih sebuah kamera, semestinya kita memahami dulu spesifikasi dan apakah sudah sesuai dengan kebutuhan kita. Kali ini kami sajikan spesifikasi umum dari kamera digital disertai penjelasan singkat, dengan harapan anda bisa terhindar dari kesalahan saat memutuskan atau memilih produk kamera digital.

Seputar sensor kamera

Resolusi (dinyatakan dalam megapiksel) :

Resolusi menyatakan jumlah piksel dari sensor, semakin besar maka foto yang dihasilkan semakin detail (terkait ukuran cetak maksimal), namun ukuran file foto akan semakin besar. Kamera generasi sekarang punya sensor beresolusi minimal 10 MP dan menurut kami sudah sangat mencukupi untuk pemakaian sehari-hari. Resolusi kamera yang dipaksakan terlalu tinggi malah berpotensi membuat hasil foto kurang baik, bahkan saat ini kamera non DSLR sepertinya membatasi diri untuk tidak melebihi resolusi di atas 14 MP.

Ukuran sensor (dinyatakan dalam inci) :

Sensor kecil vs sensor APS-C
Sensor kecil vs sensor APS-C

Ukuran sensor menyatakan luas keping sensor dimana semakin besar sensor maka semakin baik kemampuan sensor dalam menghasilkan foto berkualitas tinggi. Ukuran sensor berhubungan langsung dengan noise yang dihasilkan di ISO tinggi. Sensor kecil berukuran antara 1/2 inci hingga 2/3 inci dan biasa dijumpai di sebagian besar kamera saku, sedang sensor besar biasanya dijumpai di kamera DSLR seperti Four Thirds, APS-C dan Full frame. Hindari memilih kamera yang sensornya berukuran terlalu kecil apalagi yang resolusinya terlalu tinggi, misal sensor 1/2.3 inci dengan resolusi 14 MP secara piksel akan terlalu rapat (high pixel density).

Jenis sensor (CCD atau CMOS) :

Sensor CCD sudah matang secara teknologi, menghasilkan foto yang bagus namun boros daya dan lambat. Sensor CMOS sedang terus disempurnakan, hasil fotonya sudah hampir menyamai hasil CCD, keuntungan CMOS adalah hemat daya dan kerjanya sangat cepat (cocok untuk high speed shooting) cuma sayangnya sensor CMOS masih lebih mahal dibanding CCD. Bila tidak perlu foto kecepatan tinggi hingga 10 fps (frame per detik), sensor CCD sudah sangat mencukupi untuk dipakai sehari-hari.

Seputar lensa

Rentang fokal (dalam mm) :

Menyatakan jangkauan wide hingga tele dari sebuah lensa, misalnya 28-140mm artinya lensa ini punya fokal terpendek 28mm dan fokal terpanjang 140mm. Kekuatan zoom optik dari lensa ini dihitung dengan membagi fokal terpanjang terhadap fokal terpendek, misal 140 dibagi 28 = 5 x zoom. Jadi kamera dengan lensa 28-140mm bisa disebut punya 5x zoom optik. Kamera modern kini punya lensa yang semakin wide dengan fokal hingga 24mm yang sudah sangat baik untuk fotografi wideangle.

Contoh rentang fokal lensa kamera di pasaran :

  • 35-105mm (3x zoom)
  • 28-280mm (10x zoom)
  • 25-600mm (24x zoom)

Bukaan diafragma :

lensMenyatakan bukaan maksimal diafragma lensa yang berhubungan dengan kemampuan lensa memasukkan cahaya ke sensor. Misalnya pada spesifikasi suatu lensa ditulis f/2.8-4.5 artinya bukaan lensa maksimal pada posisi fokal terpendek adalah f/2.8 dan pada posisi fokal terpanjang adalah f/4.5. Ingat kalau angka ini semakin kecil artinya bukaannya semakin besar, jadi f/2.8 lebih besar dari f/4.5.

Belakangan ini semakin banyak kamera dengan lensa yang bukaan maksimalnya kurang besar sehingga kurang bisa memasukkan cahaya dengan jumlah banyak, akibatnya kamera perlu waktu lebih lama untuk mendapat eksposur yang tepat. Lensa semacam ini biasa disebut lensa lambat.

Contoh beberapa bukaan lensa yang ada di pasaran :

  • f/2.8-4.1  (tergolong punya bukaan besar terutama di f/2.8)
  • f/3.1-5.4 (tergolong cukup lambat)
  • f/3.6-5.9 (tergolong sangat lambat, sebaiknya dihindari saja)

Istilah lensa :

Umumnya spesifikasi lensa yang perlu dicermati adalah adanya elemen lensa Aspherical Lens dan Low Dispersion Lens. Keduanya diperlukan untuk menghasilkan foto yang lebih baik dan tajam. Lensa yang baik memiliki minimal satu elemen lensa Low Dispersion, bila lebih akan semakin baik, kontras semakin tinggi dan ketajaman lebih terjaga.

Seputar fitur utama

Manual mode :

pasmKendali eksposur untuk mendapat pencahayaan terbaik ada di kecepatan shutter dan bukaan aperture (diafragma) lensa. Keduanya diatur secara otomatis oleh kamera dengan menganalisa terang gelapnya obyek yang difoto. Kamera digital modern kini semakin memanjakan kita dengan membolehkan kita mengatur secara manual komponen shutter dan aperture tersebut, dengan mode seperti Shutter Priority dan Aperture Priority. Bila pada spesifikasi kamera dijumpai manual mode atau P/A/S/M (Program/Aperture/Shutter/Manual) maka itu tandanya kamera bisa diatur secara manual. Bila tidak, artinya kita hanya pasrahkan pada keputusan dari prosesor kamera saja alias pakai mode Auto saja.

Image Stabilizer :

Fitur ini penting untuk mencegah getaran yang berpotensi membuat foto menjadi blur, terutama saat memakai speed lambat dan/atau saat memakai fokal tele. Kamera memiliki sensor yang mendeteksi getaran dan melakukan kompensasi untuk mengatasi getaran itu. Ada dua jenis prinsip kerja stabilizer yaitu Optical Shift dan Sensor Shift. Prinsip yang pertama adalah memakai elemen stabilizer pada lensa, sedang yang kedua menjadikan sensor kamera bisa bergerak mengkompensasikan getaran. Keduanya memberi hasil yang sama baiknya.

Sensitivitas ISO :

Rentang ISO bermula dari ISO dasar (terendah) misal ISO 100 dan naik secara kelipatan dua, misal ISO 200 – ISO 400 – ISO 800 dan ISO 1600.  Semakin naik ISO kamera maka semakin sensitif sensor terhadap cahaya meski resikonya naiknya noise. Kamera digital masa kini umumnya bisa mencapai ISO 1600 meski ada juga yang bisa diatas itu tapi hasilnya sudah sangat noise. Perhatikan kalau ada beberapa model kamera yang tidak memberi keleluasaan kepada pemakainya untuk memilih nilai ISO yang diinginkan, alias hanya ada ISO Auto saja (kamera seperti ini sebaiknya tidak usah dipilih).

Movie recording :

Bila dulu kemampuan merekam video terkesan hanya formalitas namun kini semakin digarap serius oleh produsen kamera. Ada beberapa hal terkait kemampuan merekam video, diantaranya :

  • Resolusi video : ada beberapa pilihan seperti VGA (640 x 480 piksel), WVGA (848 x 480 piksel), High Definition (1280 x 720 piksel atau 1920 x 1080 piksel). Semakin tinggi resolusi video semakin tajam hasil videonya namun semakin besar ukuran filenya.
  • FPS (frame per second) : idealnya antara 24 hingga 30 fps untuk menjamin tayangan yang tidak patah-patah.
  • Kompresi video : umumnya memakai metoda kuno Motion JPEG yang mudah untuk diedit, kini juga tersedia kompresi modern AVCHD atau H.264 yang lebih efisien namun sulit untuk diedit.

Bila anda sering merekam video apalagi yang beresolusi tinggi, gunakan memori yang punya kecepatan baca tulis yang tinggi, misalnya SDHC class 6.

Seputar pendukung utama

Lampu kilat :

Lampu kilat pada kamera punya kemampuan terbatas, dinyatakan dalam GN (Guide Number). Semakin besar GN maka daya pancarnya semakin tinggi. Perhatikan apakah ada fitur tingkat lanjut seperti Slow Sync, Front Sync atau Rear Sync untuk kreativitas ekstra, dan perhatikan apakah kamera anda punya dudukan untuk memasang lampu kilat eksternal.

Layar LCD :

flip-lcdLayar LCD di kamera modern umumnya berukuran 2,5 inci hingga 3 inci. Lebih penting meninjau berapa kerapatan piksel dari layar LCD di kamera, hindari LCD beresolusi rendah (dibawah 200 ribu piksel) karena sulit menilai ketajaman foto dari LCD yang kurang baik. Ada juga kamera dengan LCD yang bisa dilipat atau diputar untuk kemudahan memotret dengan sudut yang sulit, seperti memotret sambil berjongkok.

Baterai :

Baterai umumnya terbagi antara jenis Lithium dan AA. Lithium lebih tahan lama, cepat diisi ulang namun harganya mahal. Baterai AA kurang awet namun mudah mencarinya di warung. Umumnya baterai bisa dipakai untuk 250 sampai 500 kali memotret meski tergantung juga pada banyak faktor.

Itulah beberapa spesifikasi umum dari kamera dan semoga anda bisa lebih bisa mengenali deretan istilah dan angka pada spesifikasi kamera yang anda incar.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

FinePix F300EXR, kamera saku pertama di dunia dengan hybrid-AF

Sejak sukses membuat F30 sekian tahun silam, hingga kini Fuji masih terus berusaha untuk menciptakan kamera saku yang fenomenal. Meski diakui atau tidak FinePix F200EXR sebagai produk andalan Fuji di kelas premium-compact tergolong kurang sukses, Fuji tidak menyerah dan justru meluncurkan penerusnya yang bernama F300EXR dengan sensor SuperCCD EXR generasi kedua beresolusi 12 MP. Kami menilai inilah evolusi paling spektakuler yang pernah dibuat oleh Fuji di kelas kamera saku, mengingat banyaknya ‘kejutan’ di FinePix F300EXR ini.

f300_front_bk

Simak dulu spesifikasi dasar dari kamera F300EXR :

  • Sensor SuperCCD EXR resolusi 12 MP
  • lensa Fujinon 24-360mm (15x zoom optik) f/3.5-5.3
  • hybrid AF (akan dibahas nanti)
  • layar LCD 3 inci, resolusi 460 ribu piksel
  • full manual P/A/S/M
  • HD movie 720p (24 fps)
  • intelligent flash

f300_back_bk_w_lcd_image

Sensor EXR sendiri sudah diakui kualitasnya untuk mendapat dynamic range yang lebih lebar dan mendapat ISO tinggi yang lebih bersih dari noise. Lensa yang dipakai di F300EXR kini lebih mengesankan dengan bermula dari fokal yang ekstra wide 24mm dan berakhir di fokal yang lumayan jauh di 360mm. Fitur manual P/A/S/M dan stabilizer berjenis sensor-shift membuat kamera seharga 3 jutaan ini semakin terasa lengkap. Namun yang istimewa adalah diperkenalkannya sistem auto fokus ekstra cepat dengan sistem hybrid. Berikut penjelasan dari rilis resmi Fuji :

The next generation EXR sensor in the FinePix F300EXR incorporates Phase Detection pixels built-in to the CCD to realize Hybrid High Speed Auto Focus.  It has the ability to intelligently decide between the two focusing systems on the camera.  For example, when a bright, high-contrast subject is positioned in the center of the frame, Phase Detection AF works fast and accurately; and in dark scenes, Contrast AF is employed to work accurately. The F300EXR uses both Phase Detection AF and Contrast AF to offer fast auto focus speeds in all scenes.  To achieve an incredible auto focus speed of 0.158 seconds2, Fujifilm engineers placed pairs of phase detection pixels on the EXR sensor, which work like external sensors on DSLRs.  The F300EXR automatically selects the better focus system (Contrast or Phase Detection), by measuring the amount of light or contrast in the scene.  The benefit for the photographer is immediate and obvious – an almost instantaneous capture of the subject in the frame, with no missed shots or subjects half out-of-frame.

Kira-kira penjelasan sistem hybrid AF adalah seperti ini :

Semua kamera saku memakai sistem AF berjenis contrast detect, sedangkan kamera DSLR memakai sistem phase detect yang lebih cepat dan akurat. Entah bagaimana caranya, Fuji berhasil mendesain sensor EXR yang memiliki piksel pendeteksi fasa yang menyerupai sistem sensor AF pada DSLR. Alhasil proses AF pada kamera saku ini bisa menjadi sangat cepat hingga 0.158 detik saja. Kamera akan otomatis menentukan metoda AF mana yang dipakai tergantung terang gelapnya area yang difoto. Bila di sekitar cahayanya cukup terang, kamera akan memilih phase detect (cepat) dan bila agak gelap kamera akan memilih contrast detect yang lebih lambat.

Meski terdengar mengesankan, kami masih menantikan kinerja AF sesungguhnya dari kamera ini nanti saat benar-benar telah tersedia di pasaran. Namun satu hal yang pasti, inilah terobosan terbaik Fuji dalam membuat fitur yang berbeda pada kamera sakunya. Selama ini bahkan kamera mirrorless seperti Lumix G2, Olympus EP2 atau Sony NEX-5 masih mengandalkan contrast detect sehingga auto fokusnya belum bisa secepat kamera DSLR. Bila Fuji bisa membuat kamera saku dengan kecepatan auto fokus secepat kamera DSLR (dan hasil foto yang mendekati hasil DSLR), maka pecinta sport dan candid photography bisa memakai kamera F300 EXR untuk memuaskan hobinya.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Fuji dan Olympus tembus batas lensa zoom 30x

Fuji dan Olympus merupakan dua nama produsen kamera yang rajin membuat sensasi dengan memproduksi kamera berlensa super-super zoom dalam ukuran yang masih tergolong kompak. Masih ingat bagaimana sebuah kamera berlensa 10x zoom terdengar begitu mengagumkan? Tak lama mulailah perlombaan untuk menambah kemampun zoom lensa mulai 12x, 15x, 18x, 24x hingga 26x zoom. Kini keduanya memperkenalkan kamera baru dengan lensa 30x zoom optik, alias pertama kali dalam sejarah. Fuji meluncurkan FinePix HS10 dan Olympus meluncurkan SP-800UZ. Bagaimana kehebatan keduanya?

fuji-hs10

Inilah headline dari Fuji FinePix HS10 :

  • sensor BSI CMOS 10 MP (terdengar aneh?)
  • lensa 24-720mm f/2.8-5.6, zoom diputar manual
  • HD 1080i
  • LCD 3 inci, tiltable
  • sensor shift stabilizer
  • flash hot shoe
  • baterai 4xAA

oly-sp800uz

Dan inilah headline dari Olympus SP800UZ :

  • sensor CCD 14 MP
  • lensa 28-840mm f/2.8-5.6
  • HD 720p
  • LCD 3 inci
  • sensor shift stabilizer
  • baterai Lithium

Kami secara umum berpendapat, apa yang dilakukan keduanya memang demi meraih penjualan yang tinggi. Fantastisnya kemampuan zoom lensa pada kamera ini memang akan menggoda banyak orang untuk membelinya, khususnya ingin merasakan seperti apa fokal ekstrim dikisaran 700mm itu. Bagi para fotografer serius yang lebih memahami kendala di fokal tele ekstrim mungkin tidak terlalu antusias akan kamera ini. Utamanya tentu karena untuk mendapat gambar yang tajam tanpa blur di kisaran fokal tele misal 500mm, kita perlu memakai shutter setidaknya 1/500 detik. Sudah pasti kecepatan setinggi itu hanya bisa didapat pada kondisi ideal, outdoor dan matahari cukup terik. Hal lain yang meragukan adalah masalah lensa yang mungkin terjadi, seperti distorsi, konsistensi ketajaman dsb karena lensa zoom ini dianggap terlalu panjang.

Tapi kami secara fair mengacungkan jempol untuk Fuji HS10 (seterusnya kami akan tulis Fuji) yang membuat banyak kemajuan dalam mebuat kamera prosumer. Sebaliknya, kami menganggap Olympus SP800UZ (seterusnya kami akan tulis Olympus) hanya sekedar me ‘refresh lineup superzoom mereka. Fuji membuat revolusi sementara Olympus hanya melakukan evolusi. Mengapa? Inilah pendapat kami :

  • Fuji memakai sensor baru dan pertama kali dalam sejarah Fuji, sensor CMOS. Tak sekedar CMOS, sensor ini berteknologi Back Side Illuminated Sensor (BSI-CMOS) yang punya sensitivitas 2x sensor CMOS biasa. Padahal Fuji sudah punya sensor CCD-EXR sendiri yang diakui secara teknis, namun kali ini revolusi besar yang terjadi adalah pemakaian BSI CMOS 1/2.3 inci yang untungnya hanya beresolusi 10 MP saja. Sementara Olympus justru semakin menambah runyam masalah dengan memaksakan memakai sensor CCD berukuran 1/2.3 inci yang dijejali 14 juta piksel. Secara teknologi sensor, Fuji diyakini akan menghasilkan foto yang rendah noise, sementara Olympus bakal mengalami masalah dengan noise.
  • Fuji mendesain lensa 30x dengan cerdas. Lensa Fujinon ini memiliki fokal yang jauh lebih efektif dengan 24mm di posisi wide hingga 720mm di posisi tele. Olympus justru memilih memakai fokal 28mm di posisi wide dan berakhir di 840mm. Bagi kebanyakan pecinta landscape, perbedaan 24mm dan 28mm itu banyak. Tapi bagi pecinta tele, perbedaan 720mm dan 840mm itu tidak terasa. Lensa Fuji pun didesain memakai sistem zoom mekanik seperti lensa SLR, sementara Olympus memakai sistem motor yang boros baterai.
  • Kedua merk ini tergolong terlambat dalam menerapkan fitur HD movie. Tapi hebatnya, dengan sensor CMOS, Fuji bisa membuat fitur HD movie beresolusi 1920×1080 (full HD) sementara Olympus hanya mampu mencapai resolusi HD 1280×720. Keduanya sudah meninggalkan format memory card xD yang lambat dan mahal itu, kini beralih ke SD/SDHC yang lebih universal.
  • Fuji dengan bijak mempertahankan EVF (jendela bidik LCD) sementara Olympus justru meniadakan EVF. Bahkan layar LCD utama Fuji bisa dilipat, lumayan daripada Olympus yang benar-benar fix. Layar LCD keduanya berukuran 3 inci dengan resolusi pas-pasan 230 ribu piksel.
  • Fuji menyasar segmen kamera prosumer pengganti DSLR, sementara Olympus hanya menyasar segmen kamera superzoom for fun. Ini terlihat dari desain bodi dan fitur lainnya. Fuji memiliki flash hot-shoe, ergonomi yang lebih baik, thread lensa 58mm (untuk filter), putaran mode eksposur (P/A/S/M), tombol cepat untuk ISO, AF dsb, tombol AE lock hingga RAW file format. Sungguh lengkap dan serasa memakai DSLR.
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Antara sensor CCD dan CMOS

Satu hal yang kerap membuat bimbang tatkala seseorang hendak membeli kamera digital adalah jenis atau teknologi sensor yang digunakan, yaitu antara CCD ataukah CMOS. Kebingungan ini semakin parah saat kita mendapat informasi yang keliru soal perbedaan keduanya, atau terlanjur meyakini kalau satu lebih baik dari lainnya. Sebelum membahas lebih lanjut, kami sampaikan dulu kalau saat ini baik CCD maupun CMOS mampu memberikan hasil foto yang sama baiknya. Perbedaan utama keduanya hanyalah masalah teknologi.

Sensor CCD (charge coupled device) maupun Sensor CMOS (complementary metal oxide semiconductor) hanyalah bagian dari kamera digital berbentuk sekeping chip untuk menangkap cahaya, menggantikan fungsi film pada era kamera film. Pada kepingan ini terdapat jutaan piksel yang sensitif terhadap cahaya (foton) dan energi cahaya yang diterima mampu dirubah dalam bentuk sinyal tegangan. Perbedaan teknis keduanya adalah dalam bagaimana tiap piksel itu memproses cahaya yang ditangkapnya. Piksel pada sensor CCD merubah cahaya menjadi elektron dan output dari sensor CCD memberikan hasil berupa tegangan, alias benar-benar piranti analog. Maka itu pada kamera bersensor CCD, proses analog-to-digital conversion (ADC) dilakukan diluar chip sensor.  Sebaliknya, tiap piksel pada sensor CMOS mampu menghasilkan tegangan keluaran sendiri (berkat transistor yang ada pada setiap piksel) sehingga memungkinkan membuat chip CMOS yang terintegrasi dengan rangkaian ADC.

Prinsip kerja sistem CCD
Prinsip kerja sistem CCD

Prinsip kerja sistem CMOS
Prinsip kerja sistem CMOS

Baik sensor CCD maupun sensor CMOS, keduanya sudah cukup lama dikembangkan meski pada awalnya kualitas CMOS memang kalah dibanding dengan CCD. Maka itu CCD awalnya lebih diutamakan untuk dipakai pada kamera digital sementara CMOS hanya ditujukan untuk dipakai di kamera ponsel. Lambat laun riset telah berhasil meningkatkan kualitas sensor CMOS dengan harapan bisa menyamai kualitas sensor CCD. Kini sensor CCD sendiri justru mulai dikembangkan untuk kamera ponsel, sebaliknya sensor CMOS yang semakin disempurnakan mulai diterapkan di kamera digital. Persilangan ini menandakan sudah tidak lagi ada perbedaan berarti dalam hal kualitas gambar antara keduanya. Kini pada kamera DSLR kelas menengah dan atas saat ini sudah memakai sensor CMOS, sementara DSLR ekonomis masih memakai CCD. Sebagian besar kamera non DSLR masih memakai sensor CCD.

Lebih lanjut mengenai perbedaan keduanya, inilah plus minus sensor CCD dan CMOS saat ini :

Sensor CCD

Plus :

  • matang secara teknologi
  • desain sensor sederhana (lebih murah)
  • sensitivitas tinggi (termasuk dynamic range)
  • tiap piksel punya kinerja yang sama (uniform)

Minus :

  • desain sistem keseluruhan (CCD plus ADC) jadi lebih rumit dan boros daya
  • kecepatan proses keseluruhan lebih lambat dibanding CMOS
  • sensitif terhadap smearing atau blooming (kebocoran piksel) saat menangkap cahaya terang

Sensor CMOS

Plus :

  • praktis, keping sensor sudah termasuk rangkaian ADC (camera on a chip)
  • hemat daya berkat integrasi sistem
  • kecepatan proses responsif  (berkat parralel readout structure)
  • tiap piksel punya transistor sendiri sehingga terhindar dari masalah smearing atau blooming

Minus :

  • proses pematangan teknologi (untuk menyamai kualitas CCD perlu biaya besar)
  • piksel dengan transistor didalamnya menurunkan sensitivitas piksel (area penerima cahaya menjadi berkurang)
  • piksel yang mampu mengeluarkan tegangan sendiri kurang baik dalam hal keseragaman kinerja (uniformity)

Jadi, baik sensor CCD maupun CMOS memang berbeda total secara desain. CCD punya keunggulan dalam hal sensitivitas meski berpotensi terganggu saat berhadapan dengan cahaya terang. CMOS unggul dalam hal kecepatan hingga lebih cocok dipakai di kamera dengan fps (burst) tinggi. Namun keduanya sudah didesain untuk sanggup memberikan hasil foto yang berkualitas tinggi, jadi fokuskan saja pilihan pada hal-hal lain seperti memilih lensa yang berkualitas dan melatih teknik memotret yang baik.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Ricoh GXR dengan sensor dan lensa terpisah

Bila format interchangeable lens yang diusung oleh Panasonic dan Olympus memungkinkan sebuah kamera kompak bisa berganti lensa, kali ini Ricoh menawarkan konsep agak berbeda dan baru pertama di dunia. Sambutlah Ricoh GXR, kamera saku modern dengan lensa (dan sensor) yang terpisah dari bodi kamera! Saat Ricoh GXR ini terpisah dari lensanya, tidak dijumpai adanya sensor apapun di bagian depan kamera. Sebagai gantinya, si sensor justru digabung dengan lensa dan dijual terpisah. Aneh, tapi nyata.

Kita mulai meninjau dari kesamaan kamera Ricoh GXR ini dengan kamera lainnya. Pertama, Ricoh GXR ini sama saja seperti kamera lain dalam hal pemakaian umum seperti manual P/A/S/M ataupun auto mode. Di bagian belakang bodi kamera mungil ini bisa dijumpai LCD ukuran 3 inci, tombol-tombol standar dan tersedia lampu kilat dan flash hot-shoe untuk lampu eksternal. Di bagian depanlah yang membedakan GXR ini dengan kamera lain, karena kamera seharga 3 jutaan ini (body only lho..) menganut prinsip interchangeable unit sehingga saat lensa dilepas, maka pada kenyataannya kita juga melepas sensornya. Hal ini menyisakan ruang kosong dan konektor data di kamera GXR sehingga tampak seperti foto di bawah ini :

Ricoh GXR tanpa lensa dan sensor
Ricoh GXR tanpa lensa dan sensor

Namun bila sudah dipasang lensa barulah kamera ini tampak ‘normal’ seperti kamera pada umumnya :

Ricoh GXR dengan lensa terpasang
Ricoh GXR dengan lensa terpasang

Sensor yang menyatu dengan lensa memang baru kali ini ada. Konsep ini menjamin sensor tidak terkena debu saat berganti lensa, dan desain sensor sudah disesuaikan dengan jenis lensa yang dipakai. Untuk sementara ini baru ada dua jenis lensa yang ditawarkan sebagai paket penjualan :

Lensa fix 50mm f/2.5

Lensa bernama GR lens ini berjenis prime/fix dengan fokal 50mm dan bukaan terbesar adalah f/2.5 yang cukup handal di saat low-light (meski bukaan maksimumnya tidak sebesar lensa prime DSLR dengan f/1.8). Berita baiknya, lensa fix ini dipadukan dengan sensor CMOS 12 MP berukuran APS-C layaknya DSLR. Kombinasi antara Ricoh GXR dan lensa GR 50mm ini membuatnya menjadi kamera yang cocok untuk fotografi candid, potret dan low-light dengan jaminan ISO tinggi yang rendah noise. Sensor sebesar ini plus lensa fix 50mm ini dijual di kisaran harga 5 jutaan.

Lensa zoom 24-75mm f/2.5-4.4 VC

Lensa buatan Ricoh ini menjadi lensa zoom impian banyak orang berkat rentangnya yang sangat berguna dari 24mm untuk wide angle hingga 75mm untuk medium tele. Bukaan diafragmanya pun amat baik dengan f/2.5 saat wide hingga f/4.4 saat tele, plus sistem stabilizer untuk meredam getaran tangan. Dengan desain lensa zoom semacam ini, ukuran sensor terpaksa dibuat kecil dan kabar yang kurang enaknya adalah, lensa zoom ini dipaketkan dengan sensor kecil 1/1.7 inci, jenis CCD resolusi 10 MP. Dengan memasang lensa ini pada Ricoh GXR, jadilah kamera ini sebuah kamera saku biasa yang hasil fotonya juga biasa saja. Tapi tunggu dulu, pengoperasian zoom pada lensa ini memakai sistem manual dengan putaran tangan layaknya kamera Micro 4/3 sehingga tak beda seperti memakai lensa DSLR. Untuk paket lensa zoom dan sensor 10 MP ini dijual sekitar 3 jutaan.

Sebagai system-camera, Ricoh GXR ini pun dilengkapi dengan berbagai aksesori seperti hood & adapter, wide conversion lens, teleconversion lens, LCD viewfinder, cable switch dan neck strap. Kita lihat saja apakah format baru dari Ricoh ini akan sukses atau tidak dalam penjualannya.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..