Canon EOS 70D resmi dirilis, hadirkan 19 titik AF dan Wi-Fi

Hari ini Canon resmi merilis kehadiran EOS 70D, kamera penerus EOS 60D yang mengisi segmen kamera DSLR kelas menengah. Kehadiran kamera ini menjawab rasa penasaran banyak pihak, apalagi banyak beredar rumor kalau EOS 70D akan hadir di awal tahun 2013, namun kenyataannya dia diumumkan di tengah tahun ini. Beberapa peningkatan fitur pasti dilakukan oleh Canon untuk membawa kamera ‘dua digit’ ini jadi andalan penjualan mereka ditengah lesunya pasar kamera (berkat serbuan kamera mirrorless dan kamera ponsel cerdas). Seakan jadi tren di era nirkabel ini, EOS 70D sudah dibekali fitur Wi-Fi tanpa menambah aksesori apapun.

Tinjauan fisik

Tampak depan :

70d-front

Dari depan nampak hampir sama dengan kamera pendahulunya, baik dari ukuran dan desain secara umum. Bodi kamera EOS 70D mayoritas berbahan plastik yang kokoh, dan sudah didesain untuk tahan cuaca (air hujan dan debu). Di gambar diatas, tampak lensa yang dipasang adalah lensa baru (pertama diperkenalkan di EOS 700D) yaitu EF-S 18-55mm IS STM.

Tampak belakang :

70d-back

Dari belakang juga relatif sama, dengan layar LCD lipat dan tata letak tombol yang mirip (sedikit bertukar posisi adalah tombol INFO dan Delete). Seperti kamera 60D, sebagai kendali setting kamera di belakang ada roda putar, dan tetap tidak disediakan joystick. Kini untuk mengunci tombol 8 arah dan roda belakang disediakan tuas fisik bertuliskan Lock yang lebih mudah dioperasikan. Untuk live-view ada tuas mode still atau movie dan ditengahnya ada tombol Start/Stop untuk mulai dan menghentikan rekaman video. Sepintas tata letak tombol-tombol ini mengingatkan kami pada EOS 6D.

Fitur utama :

  • sensor CMOS 20,2 MP dengan tenaga Digic 5+
  • dual pixel CMOS AF (pertama di dunia, untuk AF saat live-view dan video dengan deteksi fasa)
  • 7 fps, 19 titik AF yang semuanya cross type
  • ISO normal dari ISO 100 hingga ISO 12800

Dibanding dengan EOS 60D, kami senang akhirnya Canon memberi modul titik fokus yang setara dengan EOS 7D, suatu hal yang wajar karena modul AF di EOS 60D sudah diwariskan ke generasi dibawahnya yaitu EOS 650D. Selain itu, keluhan atas lambatnya auto fokus saat live-view (dan fokus kontinu saat merekam video) dijawab oleh Canon dengan memberi fitur dual pixel CMOS AF yang menyempurnakan metoda deteksi fasa pada sensor (pertama diterapkan di EOS 650D). Bedanya disini setiap piksel pada sensornya dibagi menjadi dua photo-dioda yang berbeda. Membagi dua photo-dioda untuk tiap piksel memungkinkan deteksi fasa yang lebih akurat dan lebih cepat, walaupun tidak memakai lensa khusus tipe STM. Area kerjanya meliputi 80% dari tengah sensor, sangat lumayan mengingat kebanyakan obyek yang ingin difokus kan berada lebih di tengah.

Pendapat awal dari DPreview mengenai dual pixel AF ini :

Canon’s approach of splitting every single pixel on the sensor into two separately readable photosites promises, in theory at least, to overcome the biggest problems that have afflicted on-chip phase detection systems to date. We’re certainly excited by what it claims to offer in principle – the ability to work across a large area of the frame, at apertures down to F11, and in low light is a pretty compelling combination. Throw in such goodies as face detection and tracking, and focus point selection by touch, and on paper the EOS 70D looks like it could offer the best live view autofocus of any camera on the market, bar none.

Selain ‘mencomot’ fitur modul AF dari EOS 7D, kamera EOS 70D baru ini juga dibekali kemudahan layar sentuh ala EOS 650D dan fitur WiFi dari EOS 6D. Berikut adalah spesifikasi dasar dari EOS 70D :

  • 7 fps shutter up to 1/8000 s
  • AF 19 titik semuanya cross tye, sensitif hingga -0.5 EV
  • 63-zone iFCL metering
  • ada fitur ‘Silent’ shutter mode
  • HD 1080p30 video, stereo dan ada external mic
  • cakupan viewfinder 98%, perbesaran 0.95x
  • layar LCD lipat dan sentuh, kerapatan 1 juta titik, ukuran 3 inci, rasio 3:2
  • satu slot SD/SDHC/SDXC
  • Built-in Wi-Fi
  • Single-axis electronic level
  • Built-in flash yang bisa menjadi pengendali remote flash
  • ada fitur AF microadjustment (hingga 40 lensa)
  • High Dynamic Range (JPEG-only)
  • ‘Creative Filter’ yang bisa dipreview sebelum diambil fotonya (dalam mode live-view)

Mengenai fitur Wi-Fi yang sudah jadi tren, sebetulnya banyak hal yang bisa dilakukan dengan fitur ini seperti

  • transfer foto antar kamera Canon
  • terhubung ke smartphone atau tablet (via EOS Remote)
  • sebagai remote control dari PC (via EOS Utility)
  • mencetak dari printer yang ‘Wi-Fi-enabled’
  • Upload ke layanan web (misal Canon iMage Gateway)
  • melihat foto lewat TV yang ada fitur  DLNA

dari semua hal yang bisa dilakukan dengan fitur Wi-Fi pada kamera, yang membuat kami paling antusias adalah koneksi dari kamera ke ponsel cerdas. Karena saat kamera sudah dihubungkan ke ponsel atau tablet, banyak hal yang bisa dikendalikan dari ponsel seperti menjadi kendali remote shutter, live-view dari ponsel, bisa memilih titik fokus di layar ponsel, mengatur shutter/apreture/ISO, Ev, melihat isi foto di kartu memori dan menyalin isinya ke ponsel. Semua dilakukan tanpa kabel, dalam jarak yang lumayan jauh (kami pernah mengujinya hingga jarak 20 meter tanpa masalah). Ingat untuk bisa terhubung dengan ponsel, proses mesti diawali dengan menginstal aplikasi EOS Remote sesuai jenis OS perangkat. Kami pernah coba menginstal yang versi Android tapi belum pernah coba untuk yang memakai Apple atau WP, mestinya sih sama saja.

Kesimpulannya, fitur baru di EOS 70D terbagi dalam dua hal, yaitu untuk mereka yang terbiasa dengan gaya memotret tradisional akan dimanja dengan 19 titik AF di kamera ini. Untuk yang suka memotret dengan gaya live-view atau merekam video akan dimanja dengan dual pixel AF yang cepat dan bisa fokus kontinu (tracking obyek). Bonusnya adalah fitur Wi-Fi yang mungkin tidak setiap orang membutuhkan, tapi bagi sebagian lain fitur Wi-Fi ini bisa jadi sangat membantu pekerjaannya.

Kamera EOS 70D akan dijual dalam beberapa opsi paket seperti paket lensa kit EF-S 18-55mm IS STM (12 juta), lensa kit EF-S 18-135mm IS STM (14 juta) atau bodi saja/tanpa lensa (10 juta). Seperti biasa, ketersediaan barang apalagi di Indonesia paling cepat 2 bulan setelah pengumuman ini. Sebagai info, harga EOS 60D yang sudah semakin murah bisa jadi sudah stabil di kisaran 7 juta untuk bodinya saja, menarik buat yang perlu kamera DSLR kelas menengah dengan harga terjangkau.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Nikon D5200 hadir dengan modul AF dan metering yang disempurnakan

Nikon hari ini mengumumkan kehadiran kamera DSLR kelas ‘pemula atas’ yaitu Nikon D5200 yang memiliki bentuk nyaris sama dengan produk sebelumnya yaitu D5100. Kali ini Nikon memberi pilihan warna bodi merah atau cokat, selain tentunya warna hitam sebagai warna standar bodi kamera DSLR pada umumnya. Peningkatan yang dilakukan Nikon adalah memakai sensor 24 MP (sama seperti D3200) dan mencomot modul AF dan metering milik D7000, sebuah kabar baik tentunya.

nikon-d5200

Sebelumnya di awal tahun kami pernah  mereview D5100 dan sisi lemah yang kami ulas adalah dipakainya modul AF dan modul metering lama yang kurang memadai untuk ukuran kamera modern. D5100 memakai modul AF 11 titik (1 cross type) sama seperti D3000, dan memakai modul metering 420 piksel RGB yang sama seperti D40! Kini D5200 dibuat dengan menerapkan modul metering dan AF dari D7000 yaitu 2.016 piksel RGB dan 39 titik AF (9 cross type) yang membuatnya lebih akurat saat dipakai di area kontras tinggi maupun mengikuti gerakan obyek yang berpindah-pindah.

39 titik fokus (dari web Nikon) :

img_02

Detil dari sensor 24 MP (dari web Nikon) :

img_12

Peningkatan lain adalah dipakainya sensor 24 MP CMOS format DX yang sama seperti D3200, sehingga mampu menyimpan foto dalam dimensi 6000 x 4000 piksel, sebuah resolusi yang terlalu tinggi untuk sebuah kamera pemula (bahkan D7000 saja memakai sensor 16 MP). Belum ada gambaran apakah di ISO tinggi hasil foto dari sensor 24 MP ini akan lebih noise daripada sensor 16 MP seperti D5100, tapi karena D5200 kini memakai prosesor baru Expeed 3, maka semestinya kinerja pengurang noise bisa lebih efektif.

Fitur dan spesifikasi D5200 :

  • sensor 24 MP, CMOS, DX format
  • ISO 100-6.400 (bisa dinaikkan hingga 25.600)
  • burst 5 fps, HDR dari 2 foto digabung
  • LCD lipat 3 inci, 900 ribu piksel (bukan layar sentuh)
  • 39 titik AF, 9 diantaranya cross type
  • 2.016 piksel RGB metering modul
  • 95% coverage, 0.78x magnification, pentamirror OVF
  • HD 1080p, 60 fps, stereo mic

Nikon D5200 ini bisa jadi adalah penantang Canon 650D yang sesungguhnya. Tapi tunggu, ada satu hal yang agak mengecewakan yaitu D5200 tetap saja tidak bisa melakukan wireless trigger untuk lampu kilat eksternal satu merk. Beda dengan Canon 650D yang sudah bisa melakukan itu, plus Canon 650D juga bisa dioperasikan dengan layar sentuh sementara D5200 ini tidak. D5200 juga tetap tidak membolehkan pemakainya untuk mengakses langsung ISO, WB atau fitur penting lainnya dengan tombol langsung, melainkan harus melalui tombol Info. Untungnya, kini D5200 menyediakan satu tombol khusus untuk mengganti Release Mode di bagian atas dekat tombol jepret, berguna bila kita ingin berganti dari Single Shot ke Continuous Shoot atau mode lain.

Jadi posisi Nikon D5200 ini masih berada di tengah-tengah antara kamera pemula dan kamera kelas serius. Ditinjau dari fiturnya memang sudah lengkap dan modern, tapi dari tombol dan kendali eksternal masih belum memuaskan. Nikon D5200 cocok bagi yang mencari kamera dengan fitur menyamai kamera sekelas D7000, namun dengan bodi yang tetap kecil dan ringan, atau bagi anda yang membutuhkan live view untuk memotret atau merekam video dengan layar lipat.  Soal kualitas hasil foto kalau ditinjau dari web Nikon sih cukup menjanjikan, setidaknya di ISO rendah :)

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Nikon D600 resmi dirilis, DSLR full frame untuk semua

Seperti yang gencar dirumorkan, Nikon akhirnya resmi merilis D600, kamera DSLR format FX (sensor full frame) yang menjadi alternatif ekonomis dari D800. Kamera D600 dibekali sensor 24,3 MP buatan Sony (Sony juga memakai sensor ini di kamera A99 dan RX1 yang baru saja diumumkan kemarin), dengan bodi yang seukuran dengan D7000, lengkap dengan built-in flash dan motor fokus di dalam bodi. Harganya? Tanpa lensa di kisaran 21 juta, jauh lebih murah dari D800 yang masih diatas 30 juta.

d600_front

Hadirnya Nikon D600 ini banyak ditunggu-tunggu penghobi fotografi maupun mereka yang menggeluti fotografi sebagai bisnis. Mengapa? Karena sebagai kamera full frame maka kualitas foto jelas tidak diragukan, lalu fitur tentu saja sudah lengkap dan yang utama adalah harganya yang tidak terlalu tinggi untuk ukuran kamera full frame. Dengan harga sedikit dibawahnya ada Canon EOS 5D mark II yang dibuat 4 tahun lalu, tidak lagi menarik untuk dibandingkan fiturnya (meski 5D mark II juga merupakan kamera yang sangat baik). D600 pun akan membuat DSLR APS-C termahal menjadi kurang menarik lagi untuk dibeli, misalnya Nikon D300s atau Canon EOS 7D. Keduanya yang dijual di kisaran 13 juta (bodi only), kini rasanya jadi terlalu mahal dan perlu segera menurunkan harga jualnya atau orang akan lebih melirik D600 ini.

d600_back

Secara segmentasi D600 tentunya sudah tergolong kamera pro seperti bodi magnesium, viewfinder 100% coverage dan dual memori slot. Tapi dalam beberapa hal D600 bahkan tergolong ‘biasa’ seperti misalnya ISO maksimum adalah ISO 6400 (meski bisa diangkat sampai ISO 25600), 39 titik fokus dengan 9 cross type, shutter speed maksimum 1/4000 detik dan kecepatan tembak 5,5 foto per detik. Untuk mereka yang perlu lebih dari ini, tersedia D800 yang 50% lebih mahal.

d600_24_85_top

Bisa dibilang D600 adalah DSLR full frame untuk semua. Profesional pun mungkin akan memakai D600 setidaknya untuk kamera cadangan, sedangkan yang hobi fotografi akhirnya bisa memiliki DSLR Nikon FX dan menikmati hasil foto terbaik dari Nikon, tanpa harus membawa kamera yang besar dan berat.

Spesifikasi :

  • sensor : 24,3 MP CMOS
  • prosesor : Expeed 3
  • RAW 14 bit
  • LCD 3,2 inci, 920 ribu piksel
  • 39 point AF, 9 cross type
  • 2016 piksel RGB metering
  • shutter teruji hingga 150 ribu kali jepret
  • fitur HDR dan timelapse
  • wireless flash commander memakai flash built-in
  • uncompressed HD video
  • bobot 760 gram
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Nikon hadirkan kamera ‘compact’ kelas atas : Coolpix P7700

Nikon kemarin mengumumkan kehadiran kamera prosumer kelas atas, Coolpix P7700 yang merupakan penyempurnaan dari seri sebelumnya yaitu P7100 (2011) dan P7000 (2010). Kamera compact sarat fitur yang berukuran  agak besar ini hadir cukup terlambat, karena saat ini persaingan sudah semakin keras dengan hadirnya berbagai kamera saku berlensa cepat maupun kamera mirrorless dengan lensa yang bisa dilepas. Lalu apakah P7700 masih akan diminati oleh para fotografer? Simak saja sederet fiturnya berikut ini.

p7700

Coolpix P7700 menjadi kamera tercanggih dan terbaik dari Nikon di kelas kamera compact, untuk lensa yang menyatu dengan bodi. Kamera ini semestinya masuk ke daftar kamera compact dengan harga selangit yang artikelnya kami susun bulan lalu. Meski di kelompok yang sama Canon sudah meluncurkan Canon G1X dengan sensor besar 1,5 inci, Nikon tidak meladeninya bahkan sensor yang dirumorkan akan berukuran 1 inci pun tidak terbukti. Nyatanya P7700 masih memakai sensor kecil 1/1.7 inci yang kerap dipakai kamera prosumer compact seperti Lumix LX7 atau Canon S100. Lalu apa keuntungan dari kecilnya sensor BSI CMOS 12 MP ini? Sensor kecil memudahkan desain lensa yang bisa membuka besar dan punya rentang zoom yang panjang, tak heran kalau P7700 punya lensa yang impresif yaitu Nikkor ED 28-200mm f/2-4 dengan stabilizer optik VR generasi kedua.

p7700-top

Kami menyukai desain bodinya yang tampak mantap digenggam, berbahan magnesium alloy dan dilengkapi berbagai tombol dan kendali eksternal di sana sini. Belum lagi ada tiga roda kendali layaknya kamera profesional, yaitu satu di depan atas (diputar dengan telunjuk), satu di belakang atas (diputar dengan jempol) dan ketiga adalah roda yang berfungsi juga sebagai tombol empat arah (juga diputar dengan jempol). Roda untuk kompensasi eksposur juga masih dipertahankan di P7700 ini, demikian juga dengan roda pengaturan cepat untuk berbagai setting seperti ISO, WB, QUAL, BKT, Picture Style dan My Menu (bahkan roda ini tidak dijumpai di DSLR Nikon).

p7700_back

Layar LCD lipat seperti jadi hal wajib di kamera masa kini, karena memudahkan untuk merekam video maupun memotret dengan sudut-sudut tidak umum. Nikon menghilangkan jendela bidik optik di P7700, suatu hal yang dikritik banyak orang meski fungsinya bisa dibilang tidak terlalu penting (berbeda dengan jendela bidik optik di DSLR). Nikon memberikan lampu kilat built-in yang bisa mengendalikan flash eksternal secara TTL, juga menyediakan hot shoe untuk aksesori flash maupun GPS.

Spesifikasi dasar P7700 :

  • sensor BSI-CMOS 12 MP, ukuran 1/1,7 inci
  • lensa 7,1 x zoom, 28-200mm f/2-4 dengan built-in ND filter
  • full manual mode, RAW
  • 8 foto per detik
  • ISO 80-3200, bisa diangkat ke 6400
  • full HD, bisa manual esksposur, stereo, bisa zoom optik
  • layar 3 inci, 900 ribu piksel, bukan layar sentuh

Kamera dengan harga hampir 5 juta ini mungkin hanya akan dibeli oleh sebagian kecil fotografer saja, baik itu sebagai hobi maupun sebagai cadangan untuk bekerja. Kamera ini juga mungkin cocok untuk anda yang :

  • tidak suka kamera dengan lensa yang bisa dilepas
  • perlu lensa zoom 7x dengan bukaan besar
  • perlu kamera yang ada manual mode, dengan banyak  tombol dan kendali eksternal layaknya DSLR
  • perlu kamera yang bisa bekerjasama dengan flash Nikon
  • jarang memakai ISO tinggi
  • tidak perlu lensa yang lebih wide dari 28mm
  • tidak mencari bokeh seperti DSLR

Note :

di hari yang sama dengan peluncuran P7700, Nikon juga memperkenalkan kamera saku pertama di dunia dengan OS Android (versi 2.3 Ginger Bread) dengan nama Coolpix S800c.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Duo kamera pemula dari Sony : NEX-F3 dan SLT-A37

Bosan mencari kamera DSLR pemula yang cocok di hati? Mungkin bisa lihat dulu penawaran menarik dari Sony ini : kamera mirrorless pemula Sony NEX-F3 atau kamera translucent mirror pemula Sony A37. Keduanya bukan DSLR, tapi soal sensor keduanya sama dengan DSLR yaitu memakai sensor APS-C. Makin banyak pilihan di kelas pemula dong? Tentu saja..

Sony NEX-F3

nex-f3

Penerus NEX-C3 ini masih mengemas konsep kamera mirrorless kompak, yaitu berukuran mungil meski sensornya besar. Tapi dibanding C3, maka F3 ini tidak terlalu mungil karena dominasi gripnya yang tampak menonjol. Di dalam bodi NEX-F3 ini terdapat sensor CMOS 16 MP dengan crop factor 1,5x. Mount lensa Sony NEX memakai E-mount. Kabar baiknya, NEX-F3 dilengkapi dengan lampu kilat yang menonjol keatas, lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Layar LCD-nya unik dengan sistem lipat ke atas. Kamera ini bisa memotret cepat hingga 5,5 foto per detiknya. Dibundel dengan lensa kit 18-55mm OSS, harganya bersaing di kisaran 6 juta rupiah.

Sony SLT-A37

slt-a37a

Seri SLT Sony sudah berbeda dengan DSLR, meski sangat mirip. SLT yang menerapkan cermin transparan tidak perlu naik turun seperti DSLR, sehingga saat live view atau merekam video kamera SLT mampu tetap menikmati modul AF berbasis deteksi fasa yang akurat dan cepat. Kali ini sebagai penerus dari A35 muncullah Sony SLT-A37 yang memakai sensor CMOS 16 MP dan terpadu dengan stabilizer. Anda bisa memilih untuk melihat layar LCD yang cukup kecil dan kurang detil untuk ukuran kamera jaman sekarang yaitu 2,7 inci, 230 ribu piksel, atau melihat lewat jendela bidik elektronik yang punya 1,44 juta piksel.

slt-a37_rear

Meski tergolong kamera pemula, A37 dibekali 15 titik AF dengan 3 cross type, sehingga cocok untuk tracking AF saat merekam video (sesuai tujuan dibuatnya kamera SLT). Untuk membuatnya lebih mumpuni, Sony memberi kemampuan continuous shoot 7 foto per detik untuk kamera ini. Kalau mau menjajal A37 dengan lensa kit 18-135mm f/3.5-5.6 SAM, maka harganya sekitar 8 juta rupiah.

Kedua kamera pemula diatas sudah sarat fitur termasuk fitur manual eksposur maupun fitur khas Sony seperti Sweep Panorama, Clear Image Zoom dan Focus peaking untuk rekam video dengan manual fokus. Untuk pemula tapi canggih, enak kan..

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Review Nikon D5100, kamera DSLR dengan fitur lengkap dalam bodi yang mungil

Dahulu kita kenal Nikon D5000 sebagai pengisi celah antara D3000 (kamera pemula) dan D90 (kamera menengah) di masa lalu. Kini tradisi itu dipertahankan dengan keberadaan D5100 (harga 7 juta) yang mengisi celah antara D3100 (harga 5 jutaan) dan D7000 (harga 11 jutaan). Bagi sebagian orang, D5100 adalah solusi tepat karena dia bisa mendapat kamera yang tidak terlalu basic dan tidak juga terlalu rumit. Tapi sebagian orang lagi beranggapan D5100 adalah kamera tanggung, cukup mahal tapi belum bisa disejajarkan dengan kamera menengah. Kali ini kami hadirkan review D5100 supaya anda bisa menilai sendiri apakah D5100 layak dibandrol seharga 7 juta rupiah.

Tinjauan fisik

Nikon D5100 dijual satu paket bersama lensa kit 18-55mm VR. Dalam dus penjualan selain berisi bodi kamera dan lensa, juga terdapat baterai, charger, tali kamera dan manual. Kamera ini sama seperti D5000 dalam hal layarnya yang bisa dilipat. Hanya saja desain layar lipat D5000 dulu banyak dikritik karena flip down, sehingga Nikon memperbaikinya di D5100 dengan desain LCD menjadi flip kesamping kiri (lebih umum). Sebagai DSLR pemula, D5100 masih memiliki banyak kesamaan dengan adiknya D3100, yaitu bodi plastik, tanpa motor fokus, modul metering 420 piksel RGB yang kuno, viewfinder cermin (bukan prisma), minim tombol akses langsung dan tidak ada layar LCD kecil di bagian atas.

Nikon D5100 dan lensa kit 18-55mm VR yang kami uji adalah buatan Thailand. Kami rasakan kualitas bahan dari bodi D5100 masih sama seperti Nikon lainnya yaitu kokoh, sambungannya rapat dan tidak ada kesan longgar / ringkih. Tidak banyak perbedaan ukuran yang berarti antara D3100 dengan D5100, keduanya sama-sama kecil dan ringan, gripnya terasa agak kekecilan untuk orang bertangan besar pada umumnya.  Kami menyukai lapisan karet di bagian grip dan tumpuan jempol kanan yang memberi kenyamanan ekstra saat menggenggam.

Desain D5100 sepintas mirip dengan DSLR Nikon lain bila dilihat dari depan, tapi begitu dilihat dari belakang barulah tampak sangat banyak perubahan tata letak tombol. Hal ini akibat engsel layar lipat yang kini berada di kiri, sehingga harus mengusir banyak tombol yang biasanya berderet di sebelah kiri. Jadilah tombol MENU dan INFO pindah ke bagian atas, sementara tombol PLAYBACK, ZOOM IN dan ZOOM OUT pindah ke bagian sisi kanan. Bagi yang biasa memakai kamera DSLR Nikon pasti akan merasa aneh saat pertama memakai D5100 karena banyaknya perubahan tata letak tombol. Nikon berupaya melakukan reposisi tombol dengan sisa ruang yang ada di sebelah kanan, kecuali tombol MENU yang perlu dipindah ke kiri atas. Kami pun perlu beradaptasi dengan migrasinya tombol-tombol tersebut. Sisi baiknya juga ada, kami jadi bisa mengoperasikan kamera dengan tangan kanan sementara tangan kiri cukup menggenggam lensanya saja.

Satu hal yang kami sukai dari bodi D5100 adalah layar LCD-nya. Selain ketajaman layar yang sangat baik (900 ribu piksel), kami juga suka desain lipatnya yang fleksibel, dan bisa diputar dengan posisi layar masuk ke dalam bodi untuk melindungi layar saat tidak dipakai. Untuk mengkomposisi gambar, sarana paling utama adalah melihat melalui jendela bidik optik, bila ingin lewat LCD harus menggeser tuas LV (live-view) yang akan dibahas kemudian. Jendela bidik D5100 termasuk biasa saja dengan coverage 95% dengan pembesaran 0.78x. Akan ada sedikit perbedaan framing coverage antara yang dilihat di jendela bidik dan foto aslinya.

Nikon D5100 punya dua sensor remote, satu di bagian depan dan satu di belakang (dekat tombol MENU).  Di bagian atas tampak ada tombol warna merah khusus untuk merekam video. Di sisi kiri ada pintu karet yang bila dibuka akan tampak beberapa port seperti untuk USB (dan multifungsi dengan kabel AV), HDMI, GPS dan mic eksternal. Di sebelah kanan ada pintu SD card yang terasa agak longgar meski saat kondisi tertutup. Di bagian bawah ada pintu untuk melepas baterai. Desain slot baterai sudah semakin baik dengan sistem pengaman sehingga bila tutup baterai dibuka, baterai tidak langsung meluncur lepas dari kamera.

Fitur dan menu

Meski kamera D5100 termasuk dalam golongan kamera pemula namun sudah dibekali dengan fitur yang cukup lengkap. Agak berbeda dengan D3100 yang fiturnya cukup basic, maka pada D5100 beberapa setting yang lebih canggih disertakan juga seperti HDR mode, 14 bit RAW, bracketing, berbagai level Active D-Lighting dan berbagai Effect mode. D5100 juga punya sensor yang lebih tinggi resolusinya (16 MP vs 14 MP), ISO maksimum yang lebih tinggi (6400 vs 3200), burst lebih cepat (4 fps vs 3 fps) dan punya layar LCD yang tajam (900 ribu piksel vs 230 ribu) serta bisa dilipat. Tapi D5100 dan D3100 sama dalam hal modul metering, modul AF dan sama-sama tidak dibekali motor fokus (jadi untuk bisa auto fokus harus pakai lensa Nikon berkode AF-S).

Pada shooting mode selain ada mode standar Auto, P, A, S, M dan Scene Mode, terdapat juga mode Effect yang menarik, meski belum tentu dibutuhkan. Pilihan efek yang ada diantaranya Miniature effect, Night Vision, Low Key, High Key, Sketch, Siluet dan Color swap. Justru fitur yang kami suka di D5100 adalah HDR shooting yang bisa mengambil dua foto dengan berbeda eksposur lalu menggabungkan keduanya dan menghasilkan satu gambar dengan rentang dinamis yang lebih lebar.

Menu di D5100 pun agak berbeda dengan D3100. Menu di D5100 lebih menyamai kamera kelas diatasnya seperti D90 atau D7000 dengan ciri punya berbagai Custom setting yang kompleks dengan kode huruf dan warna. Pada D3100 tidak ada Custom setting karena semua pengaturan dilebur di Shooting menu.

Soal kemampuan rekam video D5100 ini sudah sangat baik dengan full HD movie , berbagai pilihanframe rate,  mode AF-F (fokus kontinu) dan mic eksternal (sayangnya built-in mic masih mono). Tidak ada kemampuan manual eksposur pada D5100 saat merekam video, kita perlu menentukan dulu bukaan dan ISO yang diinginkan sebelum mulai merekam. Kabar baiknya, kita bisa mengatur level sensitivitas microphone bahkan bisa diset ke-off.

Kamera generasi baru seperti D5100 memang sudah bisa mengatur Picture Control untuk hasil JPG yang bervariasi. Dengan begitu maka kita tidak perlu mengolah foto satu persatu di komputer untuk mendapat kontras atau saturasi yang lebih tinggi atau lebih rendah. Terdapat berbagai style yang sudah diatur dari pabrik seperti Standard, Neutral, Vivid dan sebagainya. Bila mau, setiap style bisa diatur lagi parameternya seperti ketajaman, kontras, kecerahan, saturasi dan tone (hue) warna. Dengan demikian maka setiap pemilik kamera D5100 bisa menyimpan style yang berbeda sesuai selera.

Fitur bracketing berguna untuk mengambil tiga gambar yang berbeda setting, biasanya perbedaan terang gelap atau eksposur (AE). Tapi di D5100 fitur ini diperluas menjadi ada beberapa pilihan bracketing yaitu AE, WB dan ADL bracketing. Fitur bracketing ini tidak ditemui di D3100, sementara pada D90 atau yang lebih canggih, fitur ini bisa diakses dengan menekan tombol BKT.

Operasi

Bagaimanapun juga kamera D5100 bukan tergolong kamera kelas menengah. Jadi jangan bayangkan ada tombol khusus misalnya untuk mengganti WB, ISO atau AF mode. Untuk itu perlu menggantinya dengan masuk ke MENU. Untungnya Nikon menyediakan jalan pintas untuk mengganti berbagai setting penting dengan menekan tombol INFO di bagian belakang (tombol ini disimbolkan dengan <i>). Tekan sekali tombol <i> maka di layar akan muncul informasi penting seperti mode apa yang sedang dipakai, berapa shutter-aperture-ISO yang dipilih dan berbagai info penting lainnya (lihat contoh gambar di atas). Untuk mengganti setting disana cukup tekan <i> sekali lagi.

Terdapat berbagai Release mode di D5100, misalnya single frame (S), continuousself timer dan Quiet shutter. Tidak seperti di D3100, opsi Release mode di D5100 harus dicari via MENU. Quiet shutter sendiri akan meredam suara cermin sehingga tidak terlalu terdengar keras.

Hasil foto bisa dilihat dengan menekan tombol playback berwarna biru. Foto yang ditampilkan di layar bisa dibuat full foto atau disertai data teknis pemotretan seperti gambar diatas.

Kinerja

Sebagai kamera DSLR pemula, kami tidak berharap kinerja tinggi dari D5100 ini. Maka begitulah, meski jauh lebih responsif dari kamera non DSLR, D5100 ini masih tergolong biasa saja dalam urusan kinerja. Misalnya shutter speed maksimal ‘hanya’ 1/4000 detik dan flash sync speed hanya 1/200 detik. Untuk urusan burst atau continuous shooting kamera ini hanya sekitar 4 fps saja, tapi toh hanya terpaut sedikit dengan D90 yang bisa 4,5 fps. Lalu dalam hal start upshutter lagshot to shot kamera ini tidak ada komplain apapun, bekerja sesuai harapan. Kabar baiknya, Nikon sudah memakai engine Expeed generasi 2 untuk D5100 yang lebih bertenaga. Terbukti saat mode Active D-Lighting diaktifkan, kamera tidak perlu waktu tambahan untuk memproses foto yang baru diambilnya. Hal ini berbeda dengan kamera generasi sebelumnya yang kalau ADL diaktifkan maka setiap memotret kamera seperti kedodoran untuk memproses ADL pada foto, yang prosesnya sekitar setengah sampai satu detik.

Kemampuan auto fokus D5100 sangat baik, dengan fleksibilitas tinggi berkat 11 titik AF (meski hanya titik tengah yang cross type) dan titik fokusnya bisa dipilih secara manual atau otomatis. Soal servo fokus, D5100 juga bisa mengikuti obyek yang bergerak (dynamic area) dan bahkan bisa mengenali obyek dari warnanya sehingga bisa terus mengikuti gerakan si obyek dan tetap menjaga fokus terbaiknya, meski obyek ini bergerak ke kiri kanan atau ke depan belakang, berkat adanya fitur 3D tracking AF.

Pada bagian atas kamera terdapat satu tuas untuk mengaktifkan mode live-view. Berbeda seperti tuas live-view di D3100 dan D7000 yang berada di bagian belakang kamera, tuas di D5100 ini berada di samping kanan mode dial. Jadi bila ingin memotret dengan melihat preview gambar di layar LCD, geser dulu tuas live-view ini sesuai arah panah, dan bila ingin merekam video barulah tombol warna merah ditekan. Kinerja kamera saat berada di mode live-view tergolong baik, meski untuk auto fokusnya harus beralih dari deteksi fasa (11 titik) ke deteksi kontras. Memang auto fokus saat live-view lebih lambat, tapi kami rasakan dibanding DSLR lain maka D5100 ini cukup cepat dalam mengunci fokus. Keuntungan lain dengan live-view adalah bisa mendeteksi wajah, serta di layar bisa ditampilkan pembesaran dari area tengah bidang yang difoto, berguna buat memotret makro atau saat manual fokus. Pada mode video AF-F, auto fokusnya sudah bisa melakukan continuous focus, artinya kamera akan selalu berusaha mendapat fokus meski obyeknya bergerak. Yang namanya berusaha, kadang berhasil dan kadang gagal. Jadi tetap saja fitur AF-F di mode video ini belum memuaskan. Live-view sendiri mempunyai timer sehingga setelah beberapa menit dia akan mati guna menghemat baterai dan mencegah sensor kepanasan.

Gambar di atas menunjukkan apa yang akan tampil di layar LCD saat masuk ke mode live-view. Secara umum tampilan di layar cukup jelas, cerah dan natural dengan berbagai indikator memeriahkan tampilan layar. Bila indikator ini mengganggu, cukup tekan tombol INFO dan layar akan jadi bersih dari berbagai kode dan angka. Tekan INFO sekali lagi akan memunculkan grid untuk membantu komposisi. Sayangnya tidak ada tampilan live histogram saat live-view di D5100.

Kinerja White Balance di D5100 termasuk akurat untuk Auto WB dan berbagai preset yang ada. Bila tone yang didapat dari pilihan WB kurang sesuai selera kita, bisa juga melakukan pengaturan lanjutan dengan menggeser tone warna di sumbu Amber-Blue atau Green-Magenta sehingga semua spektrum warna (RGB atau CMY) bisa dicapai. Sayangnya kita tidak bisa langsung memasukkan temperatur warna dalam satuan Kelvin seperti kamera lain yang kelasnya lebih canggih.

Sensor dan Hasil foto

Sensor CMOS 16 MP adalah nilai jual utama dari D5100. Kenapa? Karena sensor ini sama persis dengan yang dipakai di kamera D7000 yang terkenal paling bagus hasil fotonya, bahkan pada saat ISO tinggi. Alasan dibalik itu adalah dipakainya teknologi prossor Expeed2 14 bit yang membuat mampu merekam dynamic range lebih lebar dibanding prosesor 12 bit seperti D3100 misalnya. Bila 16 MP dirasa terlalu tinggi, tersedia pilihan 9 MP atau 4 MP di pengaturan Image Size pada MENU.

Seperti kamera lain pada umumnya, untuk menghindari menempelnya debu di sensor, di MENU sudah tersedia fitur sensor cleaning. Ada beberapa opsi pembersihan sensor pilihan seperti gambar diatas, dan proses bersih-bersih ini (yang menggetarkan sensor untuk merontokkan debu) memakan waktu 1 sampai 2 detik.

Kombinasi antara sensor dengan engine 14 bit, mode HDR aktif dan Active D-Lighting bisa menghasilkan foto dengan dynamic range yang lebih baik dari biasanya. Kami mencoba memotret sebuah kondisi umum yang pasti akan sulit untuk mendapat dynamic range yang lengkap dengan cara biasa :

Foto diatas tampak gelap di bagian kursi dan dinding, karena metering kamera berusaha menjaga detil di area terang  (jendela) sehingga area lainnya menjadi gelap. Bila pun kompensasi eksposur dinaikkan maka yang terjadi detil di area terang akan hilang (washout). Maka guna mendapat gambar yang lebih menyerupai mata kita melihat aslinya, kami mencoba gunakan mode HDR dengan masih ditambahActive D-Lighting ke posisi Extra High, maka hasilnya bisa menjadi seperti ini :

Tampak lebih lumayan kan? Detil di jendela dan di kursi serta di dinding didapat dengan berimbang. Lalu kami juga melakukan tes memotret dengan berbagai nilai ISO dan sengaja mengandalkan cahaya seadanya untuk melihat kinerja ISO D5100 dan seberapa parah noisenya di ISO tinggi. Pengujian dilakukan dengan sumber cahaya lingkungan, tanpa flash, resolusi 16 MP, JPEG Fine, WB preset, ADL off dan Noise reduction OFF (kecuali untuk foto terakhir). Inilah obyek yang menjadi bahan pengujian noise test kami :

iso-test-image

Lalu hasilnya bisa dilihat untuk tiap kenaikan ISO dari ISO 800 (kami tidak menguji ISO 100 sampai 400 karena hasil fotonya sama bersihnya), ISO 1600, ISO 3200, ISO 6400 (ISO normal tertinggi), ISO Hi-1 (setara ISO 12800) dan ISO Hi-2 (setara ISO 25600). Untuk ISO Hi-2 kami lakukan dua pengujian, yaitu satu tanpa noise reduction dan keduanya dengan noise reduction di kamera diaktifkan ke posisi High.

Nah, dari hasil crop diatas tampak jelas kalau sensor D5100 memang dahsyat. Paling tidak, sampai ISO 1600 dan cukup cahaya bisa didapat hasil foto yang masih rendah noise. Pada ISO 3200 barulah noise tampak mulai mengganggu, tapi masih cukup layak untuk dilihat. Pada ISO maksimal 6400 noise yang muncul bisa dibilang setara dengan ISO 400 pada kamera saku, dimana detil foto tampak menurun dan noise terlihat lebih berwarna-warni (chroma noise). ISO Hi-1 dan Hi-2 disediakan untuk kebutuhan marketing saja, supaya terdengar keren. Kenyataannya, ISO setinggi ini tidak cocok diberikan pada kamera DSLR dengan sensor APS-C. Upaya mengurangi noise di kamera (atau di komputer) memang berhasil mengurangi chroma noise namun secara bersamaan juga mengurangi detail yang ada pada gambar.

Fitur Effect mode pun beberapa diantaranya menurut kami bakal berguna suatu saat, seperti misalnya memilih satu warna dan lainnya dibuat monokrom tidak lagi dilakukan di komputer, melainkan bisa diatur sebelum memotret. Dengan memilih menjaga warna merah, maka kita bisa membuat warna selain merah jadi monokrom seperti foto berikut ini :

Kesimpulan

Kesimpulannya D5100 memang unggul dalam urusan sensor CMOS-nya, khususnya saat berhadapan dengan kontras tinggi atau saat memakai ISO tinggi. Kombinasi antara Expeed2 14 bit, fitur HDR dan Active D-Lighting akan banyak membantu menyelamatkan detil di area terang sekaligus area gelap. ISO 6400 yang notabene adalah ISO maksimal normal pun masih layak dipakai, plus bonus ada ISO ekspansi sampai ISO 25600 bila terpaksa (dan ada juga effect Night Vision yang bisa memotret di kondisi sangat minim cahaya, tapi hasilnya hitam putih). Efek lainnya pun menarik seperti efek miniatur (toy camera) atau selective color. Kami juga suka dengan layar LCD lipatnya yang tajam dan memudahkan saat memotret atau merekam video dalam berbagai angle. Hasil foto yang bagus dengan fitur lengkap ini toh tidak harus menjadikan kamera ini besar dan berat. D5100 tetap mungil, ringan dan sepintas mirip dengan D3100 yang sama-sama kamera pemula.

Lalu apa komprominya? Sebagai kamera seharga 7 juta, agak sayang memang kalau D5100 ini cuma dianggap kamera pemula yang mungkin akan dipandang sebelah mata oleh sebagian orang. Apalagi di harga 8,4 juta ada Canon EOS 60D kit sebagai pesaing terdekat sederet fitur semi pro, atau di harga 6,5 juta ada Canon EOS 600D kit yang bisa mengganggu penjualan Nikon D5100. Andaikata D5100 punya beberapa tombol akses langsung ke WB, ISO atau AF mode, tentu lebih menyenangkan. Lalu limitasi pilihan lensa yang bisa auto fokus tetap menjadi pengalaman yang tidak enak bagi pemakai D5100 (banyak lensa Nikon lama seperti lensa AF atau AF-D yang bagus dan murah di pasaran, baru atau bekas, kalau dipasang di D5100 hanya bisa manual fokus). Nikon juga belum membolehkan pemakai D5100 untuk mengatur flash eksternal secara wireless (padahal Canon EOS 600D bisa) dan belum bisa memilih nilai Kelvin dari White Balance secara manual (meski preset WB dan color shift di pengaturan WB cukup canggih). Terakhir, Nikon semestinya memberikan kebebasan pemakai D5100 untuk mengatur shutter dan aperture saat merekam video, mengingat fitur video di D5100 sudah sangat baik (bila ditinjau dari resolusi video, mode fokus kontinu AF-F dan pengaturan audionya).

Bila anda menyukai review ini dan ingin membantu kami untuk menghidupi situs ini, anda bisa melakukan donasi atau membeli kamera melalui kami. Caranya bisa dilihat disini.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Nikon hadirkan DSLR Full Frame D800 dengan sensor 36 MP

Perang resolusi megapiksel belum usai, setidaknya bagi kamera bersensor full frame. Bila sebelumnya kita tahu kalau Nikon D3x sudah mencapai resolusi 24 MP (mengalahkan Canon dengan 21 MP), maka seakan belum puas, Nikon akhirnya meluncurkan kamera dengan sensor CMOS 36 MP. Sambutlah Nikon D800, kamera DSLR format FX yang menjadi penerus D700 dengan mengutamakan resolusi ekstra tinggi dan kemampuan merekam video tingkat lanjut. Seperti apa spesifikasi dari kamera seharga hampir 30 juta rupiah ini? Simak berita selengkapnya berikut ini.

d800

Nikon D800 memiliki sensor yang sejenis dengan kamera yang juga belum lama diluncurkan yaitu Nikon D4, keduanya memakai sensor FX atau full frame alias setara dengan ukuran film 35mm sehingga tidak ada istilah crop factor terhadap lensa yang dipasang. Namun saat D4 mempertahankan resolusi 16 MP, pada D800 ini Nikon memilih memberi sensor dengan resolusi amat tinggi. Artinya jelas, D4 ditujukan untuk profesional yang mengutamakan kecepatan seperti jurnalis dan wartawan olahraga, sedangkan D800 lebih ditujukan untuk pecinta landscape atau pemakaian di studio.

d800b

Selain sensor dan movie, tidak banyak yang bisa ditingkatkan dari D700 yang sudah sangat bagus. D800 memiliki 51 titik AF yang 15 diantaranya bertipe cross type. Soal metering sudah semakin ditingkatkan dengan memakai modul berisi 91 ribu piksel metering yang akurat. Nikon menyatakan kalau shutter unit di D800 telah lolos uji sampai 200 ribu kali jepret. Bodi D800 pun kokoh dengan bahan magnesium alloy dan seal tahan cuaca. Layar LCD yang dipakai di D800 sudah sangat besar yaitu 3,2 inci namun tetap saja tampak relatif kecil dibanding bodi D800 yang besar. Untuk media simpan Nikon menyediakan dua slot dengan satu jenis SD card dan satu lagi jenis CF card (bukan XQD card seperti di D4).

d800top

Sebagai konsekuensi pemakaian sensor resolusi amat tinggi, kemampuan ISO pada D800 juga dibatasi. Rentang ISO normal adalah 100-6400 meski bisa dinaikkan hingga 25600 namun pasti akan sangat noise. Selain itu kinerja burst kamera ini juga turun dengan hanya 4 fps saja (kecuali kalau menambah battery grip). Masalah lain yang perlu dipikirkan adalah kamera ini perlu disandingkan dengan lensa super tajam guna memaksimalkan detil sensornya. Pemakaian lensa yang biasa saja akan membuat sensor 36 MP ini jadi mubazir karena dibatasi oleh softness lensa.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Dahsyat, Fujifilm umumkan 30 kamera baru sekaligus!!

Berita mengejutkan di awal tahun 2012 datang dari Fujifilm yang mengumumkan kehadiran 30 (tigapuluh) kamera barunya, yang umumnya adalah penerus seri sebelumnya. Selain itu Fuji juga mengumumkan harga resmi kamera X-S1 yaitu seharga 8 juta rupiah. Sekedar mengingatkan, X-S1 adalah kamera yang sangat mirip DSLR tapi lensanya tidak bisa dilepas. Simak kamera apa saja yang diumumkan oleh Fuji di Januari 2012 ini.

fuji-sl300

Salah satu produk yang menarik adalah Fuji SL300 seperti pada gambar diatas. Produk ini merupakan kamera murah berjenis super zoom 30x dengan sensor CCD 14 MP dan dilengkapi dengan flash hot shoe. Meski lensanya nampak bisa diputar namun kenyataannya untuk melakukan zoom tetap dilakukan secara elektronik, dengan menekan tuas di dekat tombol rana atau di samping lensa.

Secara lengkap berikut adalah daftar 30 kamera yang diluncurkan oleh Fuji :

30-kamera

Dua kamera superzoom seri HS :
  • Fuji HS30 EXR (baterai Lithium)
  • Fuji HS25 EXR (baterai AA)
Tiga kamera saku seri F-EXR travel zoom :
  • Fuji F770 EXR (20x zoom, GPS, RAW)
  • Fuji F750 EXR (20x zoom)
  • Fuji F660 EXR (15x zoom)

Empat kamera superzoom seri S murah meriah :

  • Fuji S4500 (30x zoom)
  • Fuji S4400 (28x zoom)
  • Fuji S4300 (26x zoom)
  • Fuji S4200 (24x zoom)

Empat kamera superzoom seri SL (baru, lebih serius) :

  • Fuji SL300 (30x zoom)
  • Fuji SL280 (28x zoom)
  • Fuji SL260 (26x zoom)
  • Fuji SL240 (24x zoom)

Tiga kamera saku seri XP yang tahan air :

  • Fuji XP150 (bisa 10 meter)
  • Fuji XP100 (bisa 10 meter)
  • Fuji XP50 (bisa 1,5 meter)

Dua kamera saku tipis seri Z :

  • Fuji Z1000 EXR (wifi)
  • Fuji Z110

Dua kamera saku seri T :

  • Fuji T400 (10x zoom, 16 MP)
  • Fuji T350 (10x zoom, 14 MP)

Sepuluh kamera saku murah meriah :

  • Fuji JZ250,  JZ200 dan JZ100
  • Fuji JX700, JX580, JX550, JX520 dan JX500
  • Fuji AX600 dan AX500

Entah bagaimana pembeli dan pedagang bisa familiar dengan sekian banyak produk seperti ini, bahkan mungkin tidak semua tipe ini bisa dijumpai di pasaran tanah air. Bravo Fuji, semoga Quality control untuk produksi kamera sebanyak ini bisa tetap terjaga.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..