Fuji X-S1, kamera premium seri X dengan sensor EXR 2/3 inci

Masih ingat Fuji X100 dan X10? Keduanya adalah kamera seri X dari Fuji yang digolongkan kedalam seri premium dan dibuat di Jepang. Kini Fuji menghadirkan lagi produk ketiga di seri X yaitu Fuji X-S1 yang memiliki bentuk sangat mirip kamera DSLR, namun dengan lensa yang tidak bisa dilepas. Sepintas X-S1 agak mirip dengan kamera superzoom Fuji lain khususnya HS-20, tapi yang membedakan disini Fuji X-S1 punya kualitas material bahan kelas atas dipadu dengan sensor EXR berukuran cukup besar. Sebagai lensanya diberikan lensa Fujinon 24-624mm alias 26x zoom optik.

Fuji X-S1 masuk di kelompok kamera prosumer yang mengisi celah antara kamera DSLR dan kamera biasa. Dibanding merk lain, Fuji termasuk yang konsisten dari dulu membuat kamera prosumer yang berkualitas, khususnya dengan lensa yang bisa di-zoom secara manual lewat putaran tangan. Dengan begitu, hasrat memiliki kamera ‘serius’ tidak harus diwujudkan dengan membeli kamera DSLR, cukup dengan kamera seperti Fuji X-S1 ini dan dijamin tidak akan dipusingkan lagi dengan daftar lensa yang harus dibeli. Karena lensa di Fuji X-S1 ini sudah sangat mumpuni untuk berbagai kebutuhan fotografi seperti wideangle hingga telefoto, berkat digunakannya lensa Fujinon 24-624mm f/2.8-5.6 yang diameter filternya 62mm.

fuji-x-s1-depan

Dari spesifikasi lensa mungkin tidak terlalu menarik karena Fuji HS20 pun sudah memiliki lensa 24-720mm alias 30x zoom. Tapi yang membedakan disini adalah sensor EXR di HS20 berukuran 1/2 inci yang cukup kecil untuk mengimbangi desain lensa HS20, sedangkan X-S1 punya sensor EXR berukuran 2/3 inci yang sudah lumayan besar untuk ukuran kamera non DSLR. Lagipula HS20 memiliki resolusi sensor 16 MP sedang X-S1 justru ‘hanya’ 12 MP (saat ini banyak produsen kamera yang sudah kembali memakai sensor 10-12 MP daripada dulu yang memakai sensor 16-18 MP akibat noise yang terlalu parah).

fuji-x-s1-blkg

Banyak fitur yang dimiliki Fuji X-S1 yang tergolong mengesankan dan kami meyakini kalau produk ini akan menjadi kamera prosumer terbaik di tahun 2011 ini, seperti :

  • kualitas bodi yang sangat baik
  • lensa manual zoom, 24-624mm f/2.8-5.6 dengan 9 bilah diafragma
  • sensor 12 MP EXR CMOS berukuran 2/3 inci
  • burst cepat sampai 10 fps
  • jendela bidik besar dengan 1,44 juta titik
  • layar LCD resolusi 460 titik berukuran 3 inci yang bisa dilipat
  • Full HD video 30 fps dengan manual zoom dan external mic
  • mode manual PASM dan RAW, mode Film simulation, mode Macro hingga 1cm
  • ada fitur 360° Motion Panorama
  • flash TTL dengan flash hot shoe

Menariknya, berkat bodinya yang banyak mengandung komponen logam, kamera ini menjadi sangat berat hingga bobotnya hampir satu kilogram atau sama dengan Nikon D700 tanpa lensa. Belum ada info harga untuk kamera Fuji X-S1 ini, tapi kami memprediksi harganya akan seberat bobotnya alias cukup mahal. Sekitar 7 juta mungkin?

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Nikon 1, sistem kamera mini baru dari Nikon

Setelah lama ditunggu, akhirnya Nikon memutuskan untuk ikut terjun di dunia kamera miniatur DSLR alias kamera mirrorless, menyusul langkah Olympus, Panasonic, Sony, Samsung dan Pentax yang lebih dahulu hadir. Hal ini menepis anggapan kalau Nikon tidak akan mau membuat kamera mirrorless karena sudah nyaman dengan penjualan kamera DSLR mereka. Untuk langkah awal Nikon meluncurkan format baru bernama Nikon 1 dengan diawali oleh dua tipe kamera yaitu Nikon V1 dan Nikon J1 dengan lensa yang tentunya bisa dilepas. Seperti apa kamera Nikon 1 ini? Simak selengkapnya.

Inilah spesifikasi dasar dari kamera Nikon mirrorless yang baru saja diluncurkan :

  • nama : Nikon 1
  • format kamera : mirrorless (tanpa cermin seperti di DSLR)
  • pilihan produk : J1 (kamera saku ekonomis) dan V1 (kamera saku premium)
  • nama mount lensa : Nikon CX
  • jenis sensor : CMOS
  • ukuran sensor : 13.2 x 8.8mm
  • crop factor : 2,7x
  • lensa kit : 1 Nikkor 10-30mm VR (setara 28-80mm)
  • lensa lain yang sudah tersedia : Lensa tele 30-110mm VR (setara 80-300mm), lensa fix 10mm dan lensa 10-100mm VR (setara 28-280mm).

Nikon 1 hadir dengan mengisi celah antara kamera mirrorless bersensor Four Thirds (sensor besar) dan kamera Pentax Q (sensor kecil). Dari ukuran sensor yang dipilih Nikon, dihasilkan crop factor yang baru yaitu 2,7x bernama Nikon CX sehingga untuk mendapatkan lensa yang punya rentang fokal 28-80mm Nikon harus membuat lensa sangat wide yaitu 10-30mm. Padahal kubu Four Thirds yang punya 2x crop factor saja kesulitan untuk membuat lensa wide. Maka format CX ini memang lebih cocok untuk rentang fokal tele, terbukti lensa tele yang setara dengan 80-300mm cukup diwujudkan dengan membuat lensa 30-110mm saja. Keuntungan sensor Nikon 1 adalah memungkinkan untuk dibuat lensa yang berukuran lumayan kecil, seperti gambar di atas. Bandingkan dengan format Sony NEX yang lensanya saja sudah besar.

Ukuran sensor Nikon 1 yang lebih besar dari sensor kamera saku (lihat gambar di atas) bisa membawa keuntungan lain yaitu semestinya sanggup memberi hasil foto yang relatif bersih dari noise di ISO menengah (sampai dengan ISO 400). Setidaknya ISO 800 bisa dipakai bila terpaksa, dengan noise yang masih bisa ditolerir. Sebagai pembanding, kamera saku akan mulai noise di ISO 200, sedangkan kamera DSLR mulai noise di ISO 800. Tapi sensor Nikon 1 masih kurang memadai untuk mendapatkan kesan foto yang namanya bokeh atau latar belakang yang blur, meski memakai bukaan besar sekalipun.

Lalu untuk siapa Nikon membuat kamera mirrorless ini? Pada dasarnya bukan hal yang mudah untuk meminta para fotografer beralih dari DSLR ke kamera mirrorless. Alasan utama adalah harga kamera mirrorless yang bahkan masih lebih mahal dari kamera DSLR pemula. Alasan lain adalah kurangnya pilihan lensa dan tidak semua orang rela meninggalkan kenyamanan mengintip melalui jendela bidik optik. Nikon sadar betul akan hal itu dan dari awal tidak menargetkan para pecinta DSLR Nikon untuk memiliki Nikon 1. DSLR Nikon ditujukan untuk mereka yang hobi fotografi sampai fotografer kelas pro, sedang Nikon 1 lebih diposisikan sebagai pengisi celah antara kamera saku dan DSLR. Maka itu Nikon 1 akan disukai oleh mereka yang tidak ingin memiliki DSLR (mungkin karena ukurannya atau karena tidak ingin pusing memilih lensa), mereka yang mencari kamera kecil yang lensanya bisa dilepas namun hasilnya tetap memenuhi standar, atau mereka yang ingin memanfaatkan kameranya untuk foto maupun video namun mudah digunakan (point and shoot).

Bila anda ingin mengenal lebih dekat dengan keluarga baru Nikon ini, berikut kami sampaikan juga spesifikasi keduanya :

Nikon J1

  • sensor 10 MP CMOS
  • 73 titik AF (hybrid-dengan deteksi fasa dan deteksi kontras) tercepat di dunia
  • prosesor dual core Expeed 3
  • layar 3 inci, 461 ribu piksel
  • ada manual mode dan RAW tapi diakses lewat menu
  • burst 10 fps
  • ISO 100-3200, bisa ditingkatkan sampai ISO 6400
  • lampu kilat dengan Guide Number 5
  • full HD video, audio stereo, H.264
  • baterai EN-EL20, bisa hingga 230 kali jepret
  • dijual seharga 6 jutaan dengan lensa kit 10-30mm

Nikon V1 sama seperti J1 kecuali :

  • bodi berbalut magnesium-alloy
  • resolusi layar 900 ribu piksel
  • ada jendela bidik elektronik dengan resolusi tinggi
  • ada shutter mekanik
  • tidak ada lampu kilat built-in
  • ada input untuk mikrofon stereo
  • baterai EN-EL15, bisa sampai 400 kali jepret
  • dijual seharga 8 jutaan dengan lensa kit 10-30mm

Pemilik flash Nikon tampaknya harus gigit jari karena untuk bisa memasang flash di Nikon V1 perlu membeli lampu kilat SB-N5 seharga 1 jutaan yang bisa dipasang di Accesory Port. Untungnya flash SB-N5 ini serba bisa, yaitu berfungsi sebagai flash dan LED untuk rekam video. Kepala flashnya juga bisa diputar kiri kanan maupun ke atas bawah untuk teknik bouncing / menembakkan flash ke langit-langit. Uniknya, meski flash ini adalah eksternal namun tidak memiliki baterai sehingga dalam bekerja dia mengambil daya dari baterai yang ada di kamera.

Semuanya kembali ke pasar. Pasarlah yang akan menentukan apakah Nikon 1 akan sukses atau gagal. Dengan harga jualnya, kita bisa memilih DSLR kit seperti Nikon D5100 atau mirrorless lain seperti Lumix GF-3 atau Olympus E-PL3. Persaingan bakal ketat, tapi Nikon bukan tanpa persiapan untuk terjun di dunia baru ini. Nikon bahkan sudah mempersiapkan berbagai lensa dan aksesori khusus untuk format ini. Kalaupun Nikon 1 akan gagal, setidaknya Nikon sudah mencoba mengisi semua segmen mulai dari kamera saku, kamera DSLR dan kamera mirrorless. Bagaimana dengan sikap yang akan diambil Canon sebagai pesaing Nikon, apakah juga akan berani membuat kamera mirrorless

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Pentax Q, kamera mirrorless yang serba kecil

Apakah anda merasa kamera mirrorless yang ada saat ini masih kurang kecil? Bila jawabannya adalah iya, maka sambutlah kejutan dari Pentax yang meluncurkan Pentax Q, sebuah sistem kamera lengkap dengan berbagai pilihan lensa, dengan ukuran dan sensor kecil. Alih-alih mengikuti tren dengan memakai sensor seukuran DSLR, Pentax Q justru mengadopsi ukuran sensor kamera saku yaitu 1/2.3 inci yang tergolong sangat kecil. Keputusan ini demi memungkinkan dibuatnya berbagai lensa yang kecil dan (semestinya) terjangkau.

pentaxq

Pentax Q merupakan kamera berukuran mungil, berdesain retro klasik, dengan mount lensa Q (crop factor 5,5x !!) dan sudah sarat dengan fitur modern. Sebagai perkenalan, ditawarkan paket penjualan dengan lensa kit fix 8.5mm f/1.9 (setara dengan 47mm) seharga 8 jutaan rupiah. Sebagai sensor dipilihlah keping CMOS beresolusi 12 MP berteknologi back illuminated, meski sayang sekali ukurannya sangat kecil. Namun dengan lensa kit bukaan besar, Pentax berharap pemakai kamera Q ini tidak mencoba memakai ISO tinggi, meski kamera ini bisa mencapai ISO 6400.

Beberap pilihan lensa Q lainnya adalah :

  • Standard zoom 27.5 – 83.0 mm (equiv). satu-satunya lensa zoom yang ada saat ini
  • Fisheye (160 derajat)
  • Toy lens wide 35 mm (equiv.)
  • Toy lens telephoto 100 mm (equiv.)

Note : Toy lens maksudnya bukan lensa mainan tapi menghasilkan efek seperti toy camera.

Kamera Pentax Q sendiri punya kemampuan berimbang dengan pesaing seperti bodi berbalut magnesium alloy, stabilizer pada sensor, fitur fotografi lengkap termasuk manual mode dan RAW, 5 fps burst, HDR mode, HD movie 1080p 30fps, flash hot shoe dan LCD 3 inci. Tidak ada jendela bidik optik atau elektronik pada bodinya, tapi anda bisa membeli eksternal viewfinder optik seharga 2 jutaan.

Lalu apakah hadirnya Pentax Q ini akan mampu meraih penjualan yang baik? Tak dipungkiri dengan harga jualnya saat ini masih ada beberapa kamera DSLR atau banyak kamera lain yang harganya lebih murah. Soal kualitas hasil foto pun memang akan menjadi tanda tanya sendiri karena dipakainya sensor kecil di kamera ini. Namun apapun itu, upaya Pentax ini perlu dihargai sebagai pendorong tren baru kamera kecil dengan lensa yang bisa dilepas. Ini akan menjadi tekanan buat menggeser dominasi kamera DSLR konvensional (dengan cermin dan pentaprisma, memakai lensa besar dan berat). Saat ini tercatat hanya Canon dan Nikon, dua papan atas produsen kamera konvensional  yang masih belum mau membuat kamera mungil dengan lensa yang bisa dilepas, takut bersaing mungkin?

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Nikon D5100 diluncurkan, plus Night Vision dan HDR mode

Mengikuti langkah D3100 yang merupakan update minor dari D3000, kali ini Nikon melakukan update pada D5000 dengan mengumumkan kehadiran DSLR kelas pemula D5100. Bila dahulu D5000 menjadi kamera DSLR Nikon pertama dengan layar LCD lipat, maka D5100 juga tampil beda dengan layar lipatnya, hanya kali ini lebih baik dengan engsel di samping (bukan di bawah). Jadilah D5100 ini sebuah jawaban Nikon untuk menjaga persaingan dengan EOS 600D yang juga memakai LCD lipat. Simak seperti apakah keunggulan D5100 dalam artikel kami kali ini.

Sebelumnya kita ingat lagi mengenai Nikon D5000. Kamera DSLR 12 MP ini sebenarnya sudah sangat baik sebagai DSLR pemula dengan kemampuan HD movie 720p dan telah dilengkapi dengan 11 titik AF. Kita tentu ingat kalau D5000 saat itu merupakan andalan Nikon selain D90 dan D3000. Kini saat D90 sudah digantikan oleh D7000 dan D3000 diteruskan oleh D3100, maka membuat penerus D5000 menjadi hal yang perlu bagi Nikon. Bila sensor D5000 saat itu persis sama seperti sensor dari D90, kini sensor D5100 juga memakai sensor yang sama seperti D7000 dengan resolusi 16 MP. Jadilah D5100 ini sebagai produk tengah-tengah antara kamera pemula D3100 dan kamera semi-pro D7000.

nikon-d5100

Selain sensornya yang kini memakai sensor CMOS 16 MP, tidak banyak perubahan lain yang dilakukan Nikon kali ini. D5100 masih memiliki modul AF 11 titik dan modul metering 420 segmen, bahkan masih tidak memiliki motor fokus di dalam bodi (yang menandakan bahwa D5100 adalah masih tergolong DSLR kelas pemula). Kabar baiknya tentu adalah layar lipatnya yang kini dilipat ke samping, bukannya ke bawah. Hal ini akan memudahkan saat kamera diletakkan di atas tripod. Sebagai kamera yang kelasnya sama, D5100 dan D3100 sama-sama berbalut bodi plastik, dengan viewfinder cermin biasa (bukan prisma) dan tanpa LCD kecil di bagian atas layaknya D90 atau D7000. Nikon D5100 juga bisa dibeli hanya bodi saja atau lengkap dengan lensa kit 18-55mm VR.

Berikut fitur dan spesifikasi dari Nikon D5100 :

  • sensor CMOS DX 16 MP (crop factor 1.5x)
  • ISO normal 100-6400 (bisa dinaikkan ke ISO 25600)
  • burst 4 fps
  • full HD movie 1080p, 30 fps, AVCHD H.264
  • auto fokus saat merekam video
  • LCD vari angle 3 inci resolusi 921 ribu piksel
  • finder cov. 95% dengan perbesaran 0,78x
  • flash sync 1/200 detik
  • 11 titik AF
  • 420 piksel RGB
  • Quiet shutter mode
  • bracketing dan in camera HDR (tidak ada di D3100)
  • Expeed 2 (14 bit)
  • 8 juta bodi saja atau 9 jutaan dengan kit AF-S 18-55mm VR

nikon-d5100-topYang baru di D5100 adalah tuas Live View yang berada di samping mode dial dan penambahan fitur Night Vision. Fitur ini sama dengan menaikkan ISO ke angka 102400 sehingga bisa menangkap cahaya yang sangat redup sekalipun. Asyiknya lagi, fitur ini juga bisa digunakan saat merekam video, meski seperti apa hasilnya kami pun belum mengetahui. Terdapat juga tombol langsung untuk merekam video (berwarna merah) yang terletak di dekat ON-OFF kamera, berdampingan dengan tombol Ev dan tombol INFO.

Penempatan engsel untuk layar putar di samping kiri juga membawa konsekuensi tersendiri. Nikon yang selama ini selalu meletakkan tombol berderet di sebelah kiri di samping layar LCD, kali ini harus berpikir keras menempatkan tombol itu di tempat lain. Jadilah tombol MENU dan INFO pindah ke bagian atas, sementara tombol PLAYBACK, ZOOM IN dan ZOOM OUT pindah ke bagian sisi kanan. Bagi yang biasa memakai kamera DSLR Nikon pasti akan merasa aneh saat pertama memakai D5100 karena banyaknya perubahan tata letak tombol. Tapi bagaimanapun Nikon tetap melakukan reposisi tombol dengan apik, tidak terkesan ‘berantakan’ dan masih mudah dijangkau oleh jempol kanan kita (kecuali tombol MENU yang perlu memakai jempol kiri).

nikon-d5100-back

Kehadiran D5100 memang akhirnya menjawab keraguan apakah Nikon akan meneruskan seri D5000 atau tidak. Ditujukan lebih kepada penikmat video dengan layar lipatnya, D5100 secara umum masih mirip dengan D3100 meski secara sensor sama dengan D7000. Jadi pilihan di kelas DX akan lebih beragam, mulai dari yang paling basic seperti D3100, advanced amateur seperti D5100 atau yang semi profesional seperti D7000. Bahkan kami masih menantikan kepastian hadirnya D400 sebagai kamera profesional di kelas DX, bila Nikon jadi meneruskan legenda seri D tiga digit (D100-D200-D300).

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Canon EOS 600D, DSLR yang manjakan pecinta foto dan video

Selang setahun sejak diluncurkannya EOS 550D, kini Canon kembali melakukan upgrade rutin dengan memperkenalkan EOS 600D (Rebel T3i). Tidak banyak perubahan fitur yang dilakukan oleh Canon mengingat EOS 550D juga sudah sarat fitur untuk kategori DSLR pemula. Sebutlah misalnya sensornya yang tetap 18 MP, masih dengan 9 titik AF dan kinerja ISO 100-6400 semua masih sama seperti EOS 550D. Perbedaan utama hanyalah di layar LCD-nya yang kini bisa dilipat, membuatnya nyaman untuk dipakai saat merekam video.

600d-back

Kita tinjau dulu spesfikasi dasar dan fitur dari EOS 600D :

  • sensor 18 MP APS-C CMOS
  • prosesor DIGIC 4
  • 9 titik AF
  • 63 zone metering i-FCL
  • burst 3,7 fps
  • ISO 100-6400 (bisa ditingkatkan ke ISo 12800)
  • layar LCD 3 inci yang bisa dilipat putar
  • aspek rasio layar LCD 3:2 dengan 1 juta piksel
  • video Full High Definition
  • Scene Intelligent Auto (lebih cerdas dari sekedar auto mode)
  • ‘Basic+’ dan ‘Creative Filters’
  • Kendali wireless flash terintegrasi
  • dijual dengan tiga opsi :
    • tanpa lensa (8 juta)
    • dengan lensa kit 18-55 mm IS mark II (9 juta)
    • dengan lensa kit 18-135mm IS (11 juta)

Dari deretan fitur di atas, sepintas sudah tampak tidak lagi jelas batasan antara kamera DSLR pemula dan DSLR kelas serius, mengingat fitur 600D ini juga sudah menyamai kamera yang kelasnya lebih tinggi seperti EOS 60D. Namun tentunya Canon tetap memberi beberapa pembeda karena 600D memang bukan kamera kelas menengah, yang tidak memakai pentaprisma pada viewfinder optik layaknya kamera seperti EOS 60D atau EOS 7D. Sebaliknya, dia hanya memakai cermin biasa dengan 95% cakupan dan 0,85x perbesaran. EOS 600D juga tidak memiliki LCD kecil di bagian atas kamera menandakan masih masuk ke kelompok atau segmentasi kamera entry-level.

Bila ditinjau khusus pada fitur videonya, EOS 600D bahkan sudah bisa jadi alat rekam video yang tidak main-main, sehingga bisa diandalkan para videografer dalam membuat klip video berkualitas tinggi, apalagi bila dipadankan dengan lensa bukaan besar. Beberapa keistimewaan EOS 600D dalam urusan merekam video diantaranya :

  • resolusi 1920 x 1080 dengan 24p, 25p, atau 30p dengan kendali manual
  • ada fasilitas digital zoom 3x hingga 10x saat merekam video tanpa penurunan kualitas gambar (metoda crop)
  • fitur kendali volume recording dan filter suara angin (wind filter)
  • ada fitur Video Snapshot (semacam software edit video yang menggabungkan beberapa klip video pendek menjadi sebuah video dengan latar musik)
  • ada HDMI port output
  • ada port microphone eksternal

wirelessoptionsSalah satu kelebihan EOS 600D adalah kemampuannya untuk berkomunikasi secara wireless dengan beberapa lampu kilat Canon untuk pemakaian di studio. Biasanya fitur ini hanya ada di kamera yang kelasnya lebih tinggi. Dengan fitur ini, pemakai EOS 600D bisa mentrigger secara TTL lampu kilat seperti 270EX II, 320EX, 430EX II maupun 580EX II. Sebagai info, 320EX adalah lampu kilat dengan tambahan lampu LED untuk merekam video.

Satu-satunya yang mengkhawatirkan dalam berita peluncuran EOS 600D ini adalah harga jualnya yang terlalu berdekatan dengan kamera dengan kelas diatasnya, sebutlah misalnya EOS 50D (menjelang diskontinu), EOS 60D, Nikon D90 (menjelang diskontinu) dan beberapa kamera mirrorless yang semakin matang dalam teknologi (seperti Sony NEX, Lumix GH-2 dsb). Persaingan ketat memaksa siapapun untuk meningkatkan fitur, namun bila harga jual jadi terus merangkak naik, maka hal ini bisa jadi bumerang buat si produsen itu sendiri. Apalagi segmen market EOS kelas Rebel adalah mereka yang punya dana 6-7 jutaan, dan saat ini jelas dengan dana sebesar itu hanya cukup untuk memiliki Rebel paling ekonomis dari Canon yaitu EOS 1100D yang juga diluncurkan bersamaan dengan EOS 600D ini.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Nikon Coolpix P300, kamera mungil dengan lensa f/1.8

Kamera saku dengan lensa yang punya bukaan besar tergolong jarang, kalaupun ada harganya sangat mahal. Hal ini karena biaya produksi lensa bukaan besar lebih tinggi dari lensa pada umumnya. Tercatat sudah ada beberapa merk yang lebih dahulu membuat kamera semacam ini, sebutlah misalnya Lumix LX-5, Canon S95, Samsung TL500 dan Olympus XZ-1. Sadar kalau agak terlambat, Nikon akhirnya memutuskan bergabung di kancah ini dengan meluncurkan kamera Coolpix P300 dengan lensa f/1.8 yang mengesankan. Simak ulasan kami selengkapnya.

p300_a

Sebagai pembuka, inilah spesifikasi dasar dari Nikon Coolpix P300 :

  • sensor CMOS resolusi 12 MP ukuran 1/2.3″
  • teknologi back-illuminated sensor
  • prosesor Expeed C2
  • ISO 3200, burst 7 fps
  • lensa Nikkor 24 – 100 mm f/1.8-4.9 (4,2x  zoom optik)
  • VR Optical
  • LCD 3 inci, resolusi 920 ribu piksel
  • Manual mode lengkap, tapi tanpa RAW
  • HD 1920 x 1080 (30 fps),suara stereo, bisa zoom optik saat merekam video
  • HDMI output

p300_b

Dilihat dari bentuknya, P300 tampil manis dengan bahan logam dan ukurannya cukup kecil dengan ergonomi dan tata letak tombol yang baik. Ada dua kendali manual di kamera ini, yaitu satu di bagian atas (berbentuk putaran dekat tombol shutter) dan satu lagi di belakang berbentuk roda yang mengelilingi tombol OK. Tidak ada ring di lensa layaknya Canon S95 ataupun Olympus XZ-1 disini. Lampu kilat tampil tersembunyi dan akan menonjol keluar bila dibutuhkan. Terdapat tombol langsung untuk merekam video di bagian belakang.

p300_c

Tentang lensa cepat / bukaan besar

Kita tinjau dulu dari kebutuhan lensa bukaan besar dalam fotografi. Prinsipnya setiap lensa punya diafragma yang punya diameter tertentu, bisa dibuat lebih besar (untuk memasukkan lebih banyak cahaya) atau dibuat mengecil. Tentunya ada nilai bukaan maksimal (dan minimal) untuk setiap lensa, dan ini dinyatakan dalam f-numberLensa yang punya bukaan besar biasa disebut lensa cepat, artinya bisa memakai kecepatan shutter tinggi. Umumnya bukaan maksimal lensa di pasaran berkisar antara f/2.8 hingga f/3.5 dimana f/2.8 punya bukaan yang lebih besar daripada f/3.5. Nah, kedua kamera ini punya lensa dengan bukaan f/2.0 yang secara teknis artinya sanggup memasukkan cahaya 2x lebih banyak daripada f/2.8. Jadi lensa f/2.0 identik dengan lensa cepat, berguna saat ingin memakai kecepatan shutter tinggi atau saat memotret di tempat low light (yang pastinya kecepatan shutter akan turun dengan drastis).

Peta persaingan

Hasrat memproduksi kamera saku yang bisa diandalkan di daerah low light bisa diwujudkan dengan dua hal, pertama mendesain lensa bukaan besar dan memakai sensor yang lebih besar dengan resolusi yang tidak terlalu tinggi. Nikon P300 ini hadir dengan lensa 24-100 mm f/1.8-4.9 yang memang tampil mengesankan dalam rentang fokal (terutama kemampuan wide 24mm) serta bukaan yang besar (f/1.8 di posisi wide) namun agak mengecewakan saat tele dengan bukaan hanya f/4.9 saja. Mengherankan saat hadir belakangan, Nikon justru tidak mencontoh pesaing dengan lensa yang lebih baik (Lumix LX-5 itu f/2.0-3.3 dan Olympus XZ-1 itu f/1.8-2.5) namun tampaknya hanya ingin bersaing dengan Canon S95 yang lensanya f/2.0-4.9 saja.

Canon S95 vs Nikon P300 vs Olympus XZ-1
Canon S95 vs Nikon P300 vs Olympus XZ-1

Bila dalam urusan lensa memang Nikon P300 tampil sekelas, bahkan lebih baik dari Canon S95. Namun dalam ukuran sensor, P300 ini justru mengecewakan dengan memakai sensor kecil dengan resolusi tinggi. Untuk bisa diandalkan di low light, produsen lain membuat kamera dengan sensor agak besar dengan ukuran 1/1.6 inci, sedangkan P300 justru memilih sensor ukuran 1/2.3 inci yang lebih rentan noise di ISO tinggi. Hal ini semakin runyam saat Nikon justru mencoba memakai resolusi 12 MP padahal pesaing sudah menemukan titik rasio ideal antara ukuran sensor dan resolusi, yaitu 10 MP untuk sensor 1/1.6 inci.

Jadi Nikon Coolpix P300 memang tampaknya bukan untuk menyaingi rajanya lensa cepat seperti Lumix LX5 atau Olympus XZ-1. Bahkan untuk bisa menandingi Canon S95  juga berat karena Canon punya sederet keistimewaan seperti sensor lebih besar, ring di lensa dan adanya file RAW format. Jadilah P300 ini serba tanggung, hasrat ingin tampil sekelas dengan pesaingnya namun ditinjau dari isinya ternyata tak berbeda dengan kamera saku biasa. Bisa dibilang P300 justru mirip dengan Canon Ixus 300HS yang lensanya 28-105 mm f/2.0-5.3 dan sensor ukuran 1/2.3 inci. Lebih uniknya lagi, harga jual Nikon P300 memang dipatok dikisaran 3 jutaan saja, jauh lebih murah dari Canon S95 apalagi Lumix LX5 dan Olympus XZ-1. Jangan-jangan Nikon sengaja menyasar segmen pembeli yang ingin punya kamera seperti Canon S95 namun dengan harga yang lebih murah. Mungkin di kesempatan lain Nikon akan membuat Coolpix lain dengan lensa cepat di posisi wide maupun tele, sensor lebih besar dan fitur lebih lengkap sehingga benar-benar bisa bersaing dengan pemain besar lainnya.

Sebagai kesimpulan, inilah plus minus Nikon P300 :

Plus :

  • fokal lensa bermula di 24mm f/1.8
  • full HD movie, stereo
  • layar LCD tajam dan detail
  • punya dua kendali putar
  • burst cepat
  • harga cukup terjangkau

Minus (dibanding kamera lensa cepat lainnya) :

  • bukaan lensa kecil saat tele (f/4.9)
  • sensor 35% lebih kecil
  • resolusi 12 MP terlalu tinggi untuk mendapat foto rendah noise
  • tidak ada RAW file
  • tidak ada flash hot shoe
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Nikon Coolpix P500 pecahkan rekor superzoom dengan lensa 36x zoom

Persaingan antar merk kamera memang seakan tak ada habisnya. Bila dulu kekuatan zoom lensa pada sebuah kamera hanya berkisar antara 3-10x zoom, maka kini sudah tak aneh lagi kalau ada lensa yang bisa punya kekuatan zoom hingga 30x. Nikon kali ini bahkan memecahkan rekor sebagai kamera dengan lensa zoom terpanjang di dunia dengan 36x zoom atau lensa 22.5-810 mm dengan meluncurkan kamera Coolpix P500.

p500a

Kamera penerus P100 ini kini memakai sensor CMOS 12 MP dan mengusung fitur HD movie yang mewah, lengkap dengan audio stereo dan kemampuan zoom saat merekam video. Dengan bentuknya yang tak banyak berbeda dengan kamera superzoom lainnya, tersimpan rahasia Nikon yang mampu mengemas lensa 36x zoom dalam dimensi yang kompak. Kkamera yang bobotnya tidak sampai 500 gram ini mampu menampung lensa Nikkor ED 22.5-810 mm f/3.4-5.7 yang sangat efektif untuk landscape dengan wideangle-nya di 22.5 mm dan mampu menjangkau sangat jauh dengan telephoto hingga 810 mm.

p500b

Anda mungkin bertanya-tanya untuk apa lensa dengan kemampuan tele sejauh itu, mengingat dalam pemakaian sehari-hari fokal lensa 200 mm saja sudah sangat memadai untuk urusan tele biasa. Tapi itulah kompetisi, setidaknya Nikon di atas kertas sudah menorehkan sejarah sebagai kamera dengan lensa zoom sangat panjang.

p500c

Terlepas dari lensanya, fitur lain yang ditawarkan cukup baik dan layak untuk dinobatkan sebagai kamera all round yang ekonomis namun sarat fitur. Kamera dengan harga di bawah 4 juta ini sudah memiliki fitur seperti :

  • sensor CMOS teknologi back-illuminated
  • layar LCD lipat ukuran 3 inci dengan resolusi tinggi 920 ribu piksel
  • kendali manual lengkap
  • burst 5 fps
  • Full HD video (1920 x 1080) 30 fps
  • HDR, Night Landscape, dan Advanced Night Portrait untuk foto malam

Tak dipungkiri hadirnya Coolpix P500 akan meramaikan pasaran kamera superzoom dan mungkin merk lain akan membuat produk sejenis dan persaingan ini akan berdampak positif untuk menekan harga jual. Kita tunggu saja..

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Canon EOS 1100D telah hadir, kini dengan HD video

Setelah 18 bulan berselang sejak Canon meluncurkan EOS 1000D, kini penerusnya telah hadir dengan nama Canon EOS 1100D atau Digital Rebel T3. EOS 1000D sendiri sejak kehadirannya pertama kali hingga saat ini telah menjadi kamera DSLR ekonomis yang jadi favorit para pemula yang baru terjun ke dunia fotografi. Kini ESO 1100D dengan penyempurnaan di sana sini ditargetkan untuk mengambil alih tugas sang kakak sebagai kamera Canon ekonomis untuk pemula.

t3-1100d-back

Canon EOS 1100D punya desain yang mirip seperti pendahulunya, dengan ciri ukuran kompak dan material bodi yang terbuat dari plastik. Kamera ini hadir dengan sensor CMOS APS-C beresolusi 12 MP, telah didukung oleh prosesor Digic IV untuk mendukung fitur andalan yaitu kemampuan merekam video High Definition 1280 x 720 dengan 25 / 30 fps. Untuk mendukung kenyamanan dalam multimedia, Canon juga menyertakan HDMI port di kamera ini.

Meski ditujukan sebagai kamera termurah dan tidak secanggih kamera lain yang lebih mahal, tapi EOS 1100D sudah memiliki fitur dasar yang sangat mencukupi untuk ukuran kamera DSLR, seperti dipakainya 9 titik AF, kemampuan ISO hingga ISO 6400 dan kemampuan burst secepat 3 frame per detik. Tapi dari fitur-fitur yang dimilikinya, yang paling istimewa adalah dipakainya modul metering baru yang pertama diperkenalkan di EOS 7D dan EOS 60D yaitu 63-zone iFCL sensor, yang artinya Intelligent Focus, Color, and Luminance metering.

Dengan harga jualnya yang cukup ekonomis (6 jutaan plus lensa kit 18-55mm IS mark II), Canon tentu melakukan beberapa ‘penghematan’ dalam produksi EOS 1100D ini. Salah satu caranyanya adalah dengan digunakannya layar LCD 2,7 inci dengan resolusi 230 ribu piksel saja. Namun satu hal yang agak disayangkan, seperti yang dilakukan Canon  pada 1000D dulu, Canon tetap meniadakan fitur ‘spot metering’ pada EOS 1100D ini meski hal itu kami yakin bukan termasuk sebuah langkah penghematan.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..