Pentax hadirkan DSLR ‘upper entry level’ baru : Pentax K-r

Setelah cukup sukses bermain di kelas DSLR pemula dengan duo K-m dan K-x, serta punya andalah di kelas DSLR menengah dengan K-7, kini Pentax mengisi celah antara K-x dan K-7 dengan sebuah produk kamera DSLR baru bernama Pentax K-r (oke, penamaan dari DSLR Pentax dari dulu memang membingungkan).  Seperti apa kamera dengan sensor CMOS 12 MP ini mencoba bersaing di segmen yang sudah penuh sesak ini? Simak infonya berikut ini.

pentax-k-r

Pentax sebagai produsen kamera sejak jaman dahulu cukup kedodoran saat bersaing di segmen DSLR, apalagi saat menghadapi gempuran pendatang baru seperti Sony yang sudah lebih matang dalam hal teknologi digital imaging. Oleh karenanya Pentax selalu mencari celah yang bisa menjadi selling point untuk bersaing dengan merk terkenal, diantaranya adalah variasi warna, harga jual dan dukungan baterai AA. Seperti Pentax lainnya, K-r bisa ditenagai oleh baterai AA namun perlu memakai adapter, sedangkan baterai utamanya kini memakai baterai jenis Lithium.

Berikut spesifikasi Pentax K-r :

  • sensor CMOS, 12 MP (sama seperti Pentax K-x)
  • ISO 12800 (bisa hingga ISO 25600)
  • cepat dengan 6 fps
  • HD movie 720p 24 fps
  • 3 inci LCD, resolusi tinggi
  • pentamirror, 0,85x, 96% coverage
  • 11 titik AF (bisa menyala)
  • 16 segmen metering (bandingkan dengan 77 segmen pada K-7)
  • in camera HDR
  • stabilizer pada sensor (Anti Shake)

Untuk kamera DSLR kelas upper entry level, Pentax K-r ini bersaing ketat dengan EOS 550D dan Nikon D5000. Dalam hal spesifikasi juga ketiganya cukup berimbang sehingga pilihan lebih baik dititikberatkan atas ergonomi, tata letak tombol, serta dukungan lensa tentunya.

Harga jual Pentax K-r adalah 7 jutaan body only atau 8 jutaan dengan lensa kit 18-55mm.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Ayo pahami spesifikasi kamera digital

Kamera digital itu unik. Dalam kamera digital kita menjumpai istilah fotografi klasik sekaligus ketemu dengan istilah teknologi digital modern yang kadang membuat minder saat membaca spesifikasinya. Padahal saat hendak memilih sebuah kamera, semestinya kita memahami dulu spesifikasi dan apakah sudah sesuai dengan kebutuhan kita. Kali ini kami sajikan spesifikasi umum dari kamera digital disertai penjelasan singkat, dengan harapan anda bisa terhindar dari kesalahan saat memutuskan atau memilih produk kamera digital.

Seputar sensor kamera

Resolusi (dinyatakan dalam megapiksel) :

Resolusi menyatakan jumlah piksel dari sensor, semakin besar maka foto yang dihasilkan semakin detail (terkait ukuran cetak maksimal), namun ukuran file foto akan semakin besar. Kamera generasi sekarang punya sensor beresolusi minimal 10 MP dan menurut kami sudah sangat mencukupi untuk pemakaian sehari-hari. Resolusi kamera yang dipaksakan terlalu tinggi malah berpotensi membuat hasil foto kurang baik, bahkan saat ini kamera non DSLR sepertinya membatasi diri untuk tidak melebihi resolusi di atas 14 MP.

Ukuran sensor (dinyatakan dalam inci) :

Sensor kecil vs sensor APS-C
Sensor kecil vs sensor APS-C

Ukuran sensor menyatakan luas keping sensor dimana semakin besar sensor maka semakin baik kemampuan sensor dalam menghasilkan foto berkualitas tinggi. Ukuran sensor berhubungan langsung dengan noise yang dihasilkan di ISO tinggi. Sensor kecil berukuran antara 1/2 inci hingga 2/3 inci dan biasa dijumpai di sebagian besar kamera saku, sedang sensor besar biasanya dijumpai di kamera DSLR seperti Four Thirds, APS-C dan Full frame. Hindari memilih kamera yang sensornya berukuran terlalu kecil apalagi yang resolusinya terlalu tinggi, misal sensor 1/2.3 inci dengan resolusi 14 MP secara piksel akan terlalu rapat (high pixel density).

Jenis sensor (CCD atau CMOS) :

Sensor CCD sudah matang secara teknologi, menghasilkan foto yang bagus namun boros daya dan lambat. Sensor CMOS sedang terus disempurnakan, hasil fotonya sudah hampir menyamai hasil CCD, keuntungan CMOS adalah hemat daya dan kerjanya sangat cepat (cocok untuk high speed shooting) cuma sayangnya sensor CMOS masih lebih mahal dibanding CCD. Bila tidak perlu foto kecepatan tinggi hingga 10 fps (frame per detik), sensor CCD sudah sangat mencukupi untuk dipakai sehari-hari.

Seputar lensa

Rentang fokal (dalam mm) :

Menyatakan jangkauan wide hingga tele dari sebuah lensa, misalnya 28-140mm artinya lensa ini punya fokal terpendek 28mm dan fokal terpanjang 140mm. Kekuatan zoom optik dari lensa ini dihitung dengan membagi fokal terpanjang terhadap fokal terpendek, misal 140 dibagi 28 = 5 x zoom. Jadi kamera dengan lensa 28-140mm bisa disebut punya 5x zoom optik. Kamera modern kini punya lensa yang semakin wide dengan fokal hingga 24mm yang sudah sangat baik untuk fotografi wideangle.

Contoh rentang fokal lensa kamera di pasaran :

  • 35-105mm (3x zoom)
  • 28-280mm (10x zoom)
  • 25-600mm (24x zoom)

Bukaan diafragma :

lensMenyatakan bukaan maksimal diafragma lensa yang berhubungan dengan kemampuan lensa memasukkan cahaya ke sensor. Misalnya pada spesifikasi suatu lensa ditulis f/2.8-4.5 artinya bukaan lensa maksimal pada posisi fokal terpendek adalah f/2.8 dan pada posisi fokal terpanjang adalah f/4.5. Ingat kalau angka ini semakin kecil artinya bukaannya semakin besar, jadi f/2.8 lebih besar dari f/4.5.

Belakangan ini semakin banyak kamera dengan lensa yang bukaan maksimalnya kurang besar sehingga kurang bisa memasukkan cahaya dengan jumlah banyak, akibatnya kamera perlu waktu lebih lama untuk mendapat eksposur yang tepat. Lensa semacam ini biasa disebut lensa lambat.

Contoh beberapa bukaan lensa yang ada di pasaran :

  • f/2.8-4.1  (tergolong punya bukaan besar terutama di f/2.8)
  • f/3.1-5.4 (tergolong cukup lambat)
  • f/3.6-5.9 (tergolong sangat lambat, sebaiknya dihindari saja)

Istilah lensa :

Umumnya spesifikasi lensa yang perlu dicermati adalah adanya elemen lensa Aspherical Lens dan Low Dispersion Lens. Keduanya diperlukan untuk menghasilkan foto yang lebih baik dan tajam. Lensa yang baik memiliki minimal satu elemen lensa Low Dispersion, bila lebih akan semakin baik, kontras semakin tinggi dan ketajaman lebih terjaga.

Seputar fitur utama

Manual mode :

pasmKendali eksposur untuk mendapat pencahayaan terbaik ada di kecepatan shutter dan bukaan aperture (diafragma) lensa. Keduanya diatur secara otomatis oleh kamera dengan menganalisa terang gelapnya obyek yang difoto. Kamera digital modern kini semakin memanjakan kita dengan membolehkan kita mengatur secara manual komponen shutter dan aperture tersebut, dengan mode seperti Shutter Priority dan Aperture Priority. Bila pada spesifikasi kamera dijumpai manual mode atau P/A/S/M (Program/Aperture/Shutter/Manual) maka itu tandanya kamera bisa diatur secara manual. Bila tidak, artinya kita hanya pasrahkan pada keputusan dari prosesor kamera saja alias pakai mode Auto saja.

Image Stabilizer :

Fitur ini penting untuk mencegah getaran yang berpotensi membuat foto menjadi blur, terutama saat memakai speed lambat dan/atau saat memakai fokal tele. Kamera memiliki sensor yang mendeteksi getaran dan melakukan kompensasi untuk mengatasi getaran itu. Ada dua jenis prinsip kerja stabilizer yaitu Optical Shift dan Sensor Shift. Prinsip yang pertama adalah memakai elemen stabilizer pada lensa, sedang yang kedua menjadikan sensor kamera bisa bergerak mengkompensasikan getaran. Keduanya memberi hasil yang sama baiknya.

Sensitivitas ISO :

Rentang ISO bermula dari ISO dasar (terendah) misal ISO 100 dan naik secara kelipatan dua, misal ISO 200 – ISO 400 – ISO 800 dan ISO 1600.  Semakin naik ISO kamera maka semakin sensitif sensor terhadap cahaya meski resikonya naiknya noise. Kamera digital masa kini umumnya bisa mencapai ISO 1600 meski ada juga yang bisa diatas itu tapi hasilnya sudah sangat noise. Perhatikan kalau ada beberapa model kamera yang tidak memberi keleluasaan kepada pemakainya untuk memilih nilai ISO yang diinginkan, alias hanya ada ISO Auto saja (kamera seperti ini sebaiknya tidak usah dipilih).

Movie recording :

Bila dulu kemampuan merekam video terkesan hanya formalitas namun kini semakin digarap serius oleh produsen kamera. Ada beberapa hal terkait kemampuan merekam video, diantaranya :

  • Resolusi video : ada beberapa pilihan seperti VGA (640 x 480 piksel), WVGA (848 x 480 piksel), High Definition (1280 x 720 piksel atau 1920 x 1080 piksel). Semakin tinggi resolusi video semakin tajam hasil videonya namun semakin besar ukuran filenya.
  • FPS (frame per second) : idealnya antara 24 hingga 30 fps untuk menjamin tayangan yang tidak patah-patah.
  • Kompresi video : umumnya memakai metoda kuno Motion JPEG yang mudah untuk diedit, kini juga tersedia kompresi modern AVCHD atau H.264 yang lebih efisien namun sulit untuk diedit.

Bila anda sering merekam video apalagi yang beresolusi tinggi, gunakan memori yang punya kecepatan baca tulis yang tinggi, misalnya SDHC class 6.

Seputar pendukung utama

Lampu kilat :

Lampu kilat pada kamera punya kemampuan terbatas, dinyatakan dalam GN (Guide Number). Semakin besar GN maka daya pancarnya semakin tinggi. Perhatikan apakah ada fitur tingkat lanjut seperti Slow Sync, Front Sync atau Rear Sync untuk kreativitas ekstra, dan perhatikan apakah kamera anda punya dudukan untuk memasang lampu kilat eksternal.

Layar LCD :

flip-lcdLayar LCD di kamera modern umumnya berukuran 2,5 inci hingga 3 inci. Lebih penting meninjau berapa kerapatan piksel dari layar LCD di kamera, hindari LCD beresolusi rendah (dibawah 200 ribu piksel) karena sulit menilai ketajaman foto dari LCD yang kurang baik. Ada juga kamera dengan LCD yang bisa dilipat atau diputar untuk kemudahan memotret dengan sudut yang sulit, seperti memotret sambil berjongkok.

Baterai :

Baterai umumnya terbagi antara jenis Lithium dan AA. Lithium lebih tahan lama, cepat diisi ulang namun harganya mahal. Baterai AA kurang awet namun mudah mencarinya di warung. Umumnya baterai bisa dipakai untuk 250 sampai 500 kali memotret meski tergantung juga pada banyak faktor.

Itulah beberapa spesifikasi umum dari kamera dan semoga anda bisa lebih bisa mengenali deretan istilah dan angka pada spesifikasi kamera yang anda incar.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Canon Ixus 300HS, lengkap dan cepat

Satu lagi kamera seri Ixus diluncurkan oleh Canon yaitu Powershot SD4000IS (Ixus 300HS) yang telah memakai sensor back illuminated CMOS dan mendukung fitur HD movie. Satu hal yang pasti bagi kamera apapun yang memakai sensor baru ini adalah kinerjanya yang amat cepat, termasuk Ixus baru ini. Dia mampu memotret hingga 8.4 fps dan mampu merekam video hingga 240 fps (pada resolusi terkecil). Namun selain sensornya yang cepat, ada satu lagi yang tak kalah cepat yaitu lensanya.

Mengapa? Karena lensa Ixus 300HS ini memiliki bukaan f/2.0 yang tergolong besar untuk kamera saku. Dengan bukaan sebesar ini maka lensa 28-105mm di Ixus 300HS ini sudah tergolong lensa cepat, meski pada posisi tele bukaan maksimumnya hanya f/5.3 saja. Setidaknya pada posisi wide kamera ini bisa diandalkan untuk kondisi low-light.

ixus-300hs

Kamera Ixus 300HS ini juga lengkap. Selain memiliki fitur stabilizer, ada juga fitur manual mode yang amat jarang dijumpai di kamera Ixus sebelumnya. Meski tanpa fitur RAW, minimal adanya manual mode ini bisa membantu kita dalam berkreasi dengan eksposur. Satu hal yang agak aneh adalah tata letak tombol di bagian belakang yang dikalahkan oleh besarnya layar LCD (3 inci widescreen) sehingga hanya menyisakan dua tombol dan satu kendali putar saja.

Ixus 300HS ini akan dijual di kisaran 3,5 jutaan dan ditargetkan untuk segmen premium (menengah ke atas).

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Fuji dan Olympus tembus batas lensa zoom 30x

Fuji dan Olympus merupakan dua nama produsen kamera yang rajin membuat sensasi dengan memproduksi kamera berlensa super-super zoom dalam ukuran yang masih tergolong kompak. Masih ingat bagaimana sebuah kamera berlensa 10x zoom terdengar begitu mengagumkan? Tak lama mulailah perlombaan untuk menambah kemampun zoom lensa mulai 12x, 15x, 18x, 24x hingga 26x zoom. Kini keduanya memperkenalkan kamera baru dengan lensa 30x zoom optik, alias pertama kali dalam sejarah. Fuji meluncurkan FinePix HS10 dan Olympus meluncurkan SP-800UZ. Bagaimana kehebatan keduanya?

fuji-hs10

Inilah headline dari Fuji FinePix HS10 :

  • sensor BSI CMOS 10 MP (terdengar aneh?)
  • lensa 24-720mm f/2.8-5.6, zoom diputar manual
  • HD 1080i
  • LCD 3 inci, tiltable
  • sensor shift stabilizer
  • flash hot shoe
  • baterai 4xAA

oly-sp800uz

Dan inilah headline dari Olympus SP800UZ :

  • sensor CCD 14 MP
  • lensa 28-840mm f/2.8-5.6
  • HD 720p
  • LCD 3 inci
  • sensor shift stabilizer
  • baterai Lithium

Kami secara umum berpendapat, apa yang dilakukan keduanya memang demi meraih penjualan yang tinggi. Fantastisnya kemampuan zoom lensa pada kamera ini memang akan menggoda banyak orang untuk membelinya, khususnya ingin merasakan seperti apa fokal ekstrim dikisaran 700mm itu. Bagi para fotografer serius yang lebih memahami kendala di fokal tele ekstrim mungkin tidak terlalu antusias akan kamera ini. Utamanya tentu karena untuk mendapat gambar yang tajam tanpa blur di kisaran fokal tele misal 500mm, kita perlu memakai shutter setidaknya 1/500 detik. Sudah pasti kecepatan setinggi itu hanya bisa didapat pada kondisi ideal, outdoor dan matahari cukup terik. Hal lain yang meragukan adalah masalah lensa yang mungkin terjadi, seperti distorsi, konsistensi ketajaman dsb karena lensa zoom ini dianggap terlalu panjang.

Tapi kami secara fair mengacungkan jempol untuk Fuji HS10 (seterusnya kami akan tulis Fuji) yang membuat banyak kemajuan dalam mebuat kamera prosumer. Sebaliknya, kami menganggap Olympus SP800UZ (seterusnya kami akan tulis Olympus) hanya sekedar me ‘refresh lineup superzoom mereka. Fuji membuat revolusi sementara Olympus hanya melakukan evolusi. Mengapa? Inilah pendapat kami :

  • Fuji memakai sensor baru dan pertama kali dalam sejarah Fuji, sensor CMOS. Tak sekedar CMOS, sensor ini berteknologi Back Side Illuminated Sensor (BSI-CMOS) yang punya sensitivitas 2x sensor CMOS biasa. Padahal Fuji sudah punya sensor CCD-EXR sendiri yang diakui secara teknis, namun kali ini revolusi besar yang terjadi adalah pemakaian BSI CMOS 1/2.3 inci yang untungnya hanya beresolusi 10 MP saja. Sementara Olympus justru semakin menambah runyam masalah dengan memaksakan memakai sensor CCD berukuran 1/2.3 inci yang dijejali 14 juta piksel. Secara teknologi sensor, Fuji diyakini akan menghasilkan foto yang rendah noise, sementara Olympus bakal mengalami masalah dengan noise.
  • Fuji mendesain lensa 30x dengan cerdas. Lensa Fujinon ini memiliki fokal yang jauh lebih efektif dengan 24mm di posisi wide hingga 720mm di posisi tele. Olympus justru memilih memakai fokal 28mm di posisi wide dan berakhir di 840mm. Bagi kebanyakan pecinta landscape, perbedaan 24mm dan 28mm itu banyak. Tapi bagi pecinta tele, perbedaan 720mm dan 840mm itu tidak terasa. Lensa Fuji pun didesain memakai sistem zoom mekanik seperti lensa SLR, sementara Olympus memakai sistem motor yang boros baterai.
  • Kedua merk ini tergolong terlambat dalam menerapkan fitur HD movie. Tapi hebatnya, dengan sensor CMOS, Fuji bisa membuat fitur HD movie beresolusi 1920×1080 (full HD) sementara Olympus hanya mampu mencapai resolusi HD 1280×720. Keduanya sudah meninggalkan format memory card xD yang lambat dan mahal itu, kini beralih ke SD/SDHC yang lebih universal.
  • Fuji dengan bijak mempertahankan EVF (jendela bidik LCD) sementara Olympus justru meniadakan EVF. Bahkan layar LCD utama Fuji bisa dilipat, lumayan daripada Olympus yang benar-benar fix. Layar LCD keduanya berukuran 3 inci dengan resolusi pas-pasan 230 ribu piksel.
  • Fuji menyasar segmen kamera prosumer pengganti DSLR, sementara Olympus hanya menyasar segmen kamera superzoom for fun. Ini terlihat dari desain bodi dan fitur lainnya. Fuji memiliki flash hot-shoe, ergonomi yang lebih baik, thread lensa 58mm (untuk filter), putaran mode eksposur (P/A/S/M), tombol cepat untuk ISO, AF dsb, tombol AE lock hingga RAW file format. Sungguh lengkap dan serasa memakai DSLR.
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Antara sensor CCD dan CMOS

Satu hal yang kerap membuat bimbang tatkala seseorang hendak membeli kamera digital adalah jenis atau teknologi sensor yang digunakan, yaitu antara CCD ataukah CMOS. Kebingungan ini semakin parah saat kita mendapat informasi yang keliru soal perbedaan keduanya, atau terlanjur meyakini kalau satu lebih baik dari lainnya. Sebelum membahas lebih lanjut, kami sampaikan dulu kalau saat ini baik CCD maupun CMOS mampu memberikan hasil foto yang sama baiknya. Perbedaan utama keduanya hanyalah masalah teknologi.

Sensor CCD (charge coupled device) maupun Sensor CMOS (complementary metal oxide semiconductor) hanyalah bagian dari kamera digital berbentuk sekeping chip untuk menangkap cahaya, menggantikan fungsi film pada era kamera film. Pada kepingan ini terdapat jutaan piksel yang sensitif terhadap cahaya (foton) dan energi cahaya yang diterima mampu dirubah dalam bentuk sinyal tegangan. Perbedaan teknis keduanya adalah dalam bagaimana tiap piksel itu memproses cahaya yang ditangkapnya. Piksel pada sensor CCD merubah cahaya menjadi elektron dan output dari sensor CCD memberikan hasil berupa tegangan, alias benar-benar piranti analog. Maka itu pada kamera bersensor CCD, proses analog-to-digital conversion (ADC) dilakukan diluar chip sensor.  Sebaliknya, tiap piksel pada sensor CMOS mampu menghasilkan tegangan keluaran sendiri (berkat transistor yang ada pada setiap piksel) sehingga memungkinkan membuat chip CMOS yang terintegrasi dengan rangkaian ADC.

Prinsip kerja sistem CCD
Prinsip kerja sistem CCD

Prinsip kerja sistem CMOS
Prinsip kerja sistem CMOS

Baik sensor CCD maupun sensor CMOS, keduanya sudah cukup lama dikembangkan meski pada awalnya kualitas CMOS memang kalah dibanding dengan CCD. Maka itu CCD awalnya lebih diutamakan untuk dipakai pada kamera digital sementara CMOS hanya ditujukan untuk dipakai di kamera ponsel. Lambat laun riset telah berhasil meningkatkan kualitas sensor CMOS dengan harapan bisa menyamai kualitas sensor CCD. Kini sensor CCD sendiri justru mulai dikembangkan untuk kamera ponsel, sebaliknya sensor CMOS yang semakin disempurnakan mulai diterapkan di kamera digital. Persilangan ini menandakan sudah tidak lagi ada perbedaan berarti dalam hal kualitas gambar antara keduanya. Kini pada kamera DSLR kelas menengah dan atas saat ini sudah memakai sensor CMOS, sementara DSLR ekonomis masih memakai CCD. Sebagian besar kamera non DSLR masih memakai sensor CCD.

Lebih lanjut mengenai perbedaan keduanya, inilah plus minus sensor CCD dan CMOS saat ini :

Sensor CCD

Plus :

  • matang secara teknologi
  • desain sensor sederhana (lebih murah)
  • sensitivitas tinggi (termasuk dynamic range)
  • tiap piksel punya kinerja yang sama (uniform)

Minus :

  • desain sistem keseluruhan (CCD plus ADC) jadi lebih rumit dan boros daya
  • kecepatan proses keseluruhan lebih lambat dibanding CMOS
  • sensitif terhadap smearing atau blooming (kebocoran piksel) saat menangkap cahaya terang

Sensor CMOS

Plus :

  • praktis, keping sensor sudah termasuk rangkaian ADC (camera on a chip)
  • hemat daya berkat integrasi sistem
  • kecepatan proses responsif  (berkat parralel readout structure)
  • tiap piksel punya transistor sendiri sehingga terhindar dari masalah smearing atau blooming

Minus :

  • proses pematangan teknologi (untuk menyamai kualitas CCD perlu biaya besar)
  • piksel dengan transistor didalamnya menurunkan sensitivitas piksel (area penerima cahaya menjadi berkurang)
  • piksel yang mampu mengeluarkan tegangan sendiri kurang baik dalam hal keseragaman kinerja (uniformity)

Jadi, baik sensor CCD maupun CMOS memang berbeda total secara desain. CCD punya keunggulan dalam hal sensitivitas meski berpotensi terganggu saat berhadapan dengan cahaya terang. CMOS unggul dalam hal kecepatan hingga lebih cocok dipakai di kamera dengan fps (burst) tinggi. Namun keduanya sudah didesain untuk sanggup memberikan hasil foto yang berkualitas tinggi, jadi fokuskan saja pilihan pada hal-hal lain seperti memilih lensa yang berkualitas dan melatih teknik memotret yang baik.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Akhirnya Samsung NX10 diluncurkan, plus 3 pilihan lensa

Samsung membuktikan keseriusannya dalam dunia fotografi dengan menepati janjinya untuk membuat kamera berformat baru, dengan konsep lensa yang bisa dilepas pasang (interchangeable), sensor ukuran APS-C dan tanpa mirror (cermin) seperti pada kamera DSLR. Sambutlah produk Samsung NX10 sebagai varian baru dalam dunia kamera digital, melengkapi kiprah Panasonic dan Olympus yang sebelumnya sudah membuka babak baru dengan kamera Micro Four Thirds.

Format EVIL (Electronic Viewfinder Interchangeable Lenses) camera mungkin adalah format kamera yang jadi impian setiap orang. Ukuran yang kecil, bobotnya ringan, hasil foto yang baik dan keleluasaan berganti lensa sudah bisa memberikan gambaran betapa idealnya format ini. Format Micro Four Thirds, terlepas dari harga jualnya, adalah format baru yang disambut positif oleh kalangan fotografer dan punya masa depan cerah. Melihat kesuksesan format Micro 4/3 ini (yang memakai sensor Four Thirds), menginspirasi Samsung untuk membuat format serupa, namun dengan sensor yang sedikit lebih besar.

Samsung NX10
Samsung NX10

Apa yang membuat Samsung NX10 ini begitu dinantikan? Tak lain adalah karena dipakainya sensor CMOS ukuran APS-C  beresolusi 14,6 MP sehingga kualitas gambar kamera ini diyakini akan sama seperti hasil kamera DSLR pada umumnya. Urusan noise di ISO tinggi juga bisa dijaga tetap rendah bahkan NX10 ini bisa mencapai ISO 3200. Sebagai kamera tanpa cermin, NX10 mengandalkan prinsip live-view murni melalui LCD ataupun viewfinder, sementara urusan auto fokus memakai prinsip contrast-detect saja. Samsung mengklaim proses auto fokus bisa dibuat sangat cepat berkat  DRIMe II Pro engine yang memakai algoritma AF tingkat lanjut. Urusan lensa, NX10 ini memakai mount lensa khusus meski tersedia adapter untuk lensa Pentax. Layar LCD berjenis Amoled ukuran 3 inci dan viewfinder beresolusi 941 ribu piksel menjadi andalan Samsung juga, ditambah tentunya fitur HD movie sebagai fitur wajib kamera modern juga disediakan di NX10 ini.

Hadir sebagai pilihan awal, tiga buah lensa buatan Samsung yang cukup mengagumkan :

  • lensa zoom standar 18-55mm f/3.5-5.6 IS (ya, IS itu Image Stabilizer layaknya lensa Canon)
  • lensa zoom tele 55-200mm f/4.0-5.6 IS
  • lensa prime 30mm f/2.0 (diameter filter 43 mm, cukup mungil..)

Harga Samsung NX10 belum diumumkan, tapi kurang lebih akan sama dengan harga Lumix GH1 di kisaran 10 jutaan.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Ricoh GXR dengan sensor dan lensa terpisah

Bila format interchangeable lens yang diusung oleh Panasonic dan Olympus memungkinkan sebuah kamera kompak bisa berganti lensa, kali ini Ricoh menawarkan konsep agak berbeda dan baru pertama di dunia. Sambutlah Ricoh GXR, kamera saku modern dengan lensa (dan sensor) yang terpisah dari bodi kamera! Saat Ricoh GXR ini terpisah dari lensanya, tidak dijumpai adanya sensor apapun di bagian depan kamera. Sebagai gantinya, si sensor justru digabung dengan lensa dan dijual terpisah. Aneh, tapi nyata.

Kita mulai meninjau dari kesamaan kamera Ricoh GXR ini dengan kamera lainnya. Pertama, Ricoh GXR ini sama saja seperti kamera lain dalam hal pemakaian umum seperti manual P/A/S/M ataupun auto mode. Di bagian belakang bodi kamera mungil ini bisa dijumpai LCD ukuran 3 inci, tombol-tombol standar dan tersedia lampu kilat dan flash hot-shoe untuk lampu eksternal. Di bagian depanlah yang membedakan GXR ini dengan kamera lain, karena kamera seharga 3 jutaan ini (body only lho..) menganut prinsip interchangeable unit sehingga saat lensa dilepas, maka pada kenyataannya kita juga melepas sensornya. Hal ini menyisakan ruang kosong dan konektor data di kamera GXR sehingga tampak seperti foto di bawah ini :

Ricoh GXR tanpa lensa dan sensor
Ricoh GXR tanpa lensa dan sensor

Namun bila sudah dipasang lensa barulah kamera ini tampak ‘normal’ seperti kamera pada umumnya :

Ricoh GXR dengan lensa terpasang
Ricoh GXR dengan lensa terpasang

Sensor yang menyatu dengan lensa memang baru kali ini ada. Konsep ini menjamin sensor tidak terkena debu saat berganti lensa, dan desain sensor sudah disesuaikan dengan jenis lensa yang dipakai. Untuk sementara ini baru ada dua jenis lensa yang ditawarkan sebagai paket penjualan :

Lensa fix 50mm f/2.5

Lensa bernama GR lens ini berjenis prime/fix dengan fokal 50mm dan bukaan terbesar adalah f/2.5 yang cukup handal di saat low-light (meski bukaan maksimumnya tidak sebesar lensa prime DSLR dengan f/1.8). Berita baiknya, lensa fix ini dipadukan dengan sensor CMOS 12 MP berukuran APS-C layaknya DSLR. Kombinasi antara Ricoh GXR dan lensa GR 50mm ini membuatnya menjadi kamera yang cocok untuk fotografi candid, potret dan low-light dengan jaminan ISO tinggi yang rendah noise. Sensor sebesar ini plus lensa fix 50mm ini dijual di kisaran harga 5 jutaan.

Lensa zoom 24-75mm f/2.5-4.4 VC

Lensa buatan Ricoh ini menjadi lensa zoom impian banyak orang berkat rentangnya yang sangat berguna dari 24mm untuk wide angle hingga 75mm untuk medium tele. Bukaan diafragmanya pun amat baik dengan f/2.5 saat wide hingga f/4.4 saat tele, plus sistem stabilizer untuk meredam getaran tangan. Dengan desain lensa zoom semacam ini, ukuran sensor terpaksa dibuat kecil dan kabar yang kurang enaknya adalah, lensa zoom ini dipaketkan dengan sensor kecil 1/1.7 inci, jenis CCD resolusi 10 MP. Dengan memasang lensa ini pada Ricoh GXR, jadilah kamera ini sebuah kamera saku biasa yang hasil fotonya juga biasa saja. Tapi tunggu dulu, pengoperasian zoom pada lensa ini memakai sistem manual dengan putaran tangan layaknya kamera Micro 4/3 sehingga tak beda seperti memakai lensa DSLR. Untuk paket lensa zoom dan sensor 10 MP ini dijual sekitar 3 jutaan.

Sebagai system-camera, Ricoh GXR ini pun dilengkapi dengan berbagai aksesori seperti hood & adapter, wide conversion lens, teleconversion lens, LCD viewfinder, cable switch dan neck strap. Kita lihat saja apakah format baru dari Ricoh ini akan sukses atau tidak dalam penjualannya.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Buyer guide : Delapan kamera prosumer super zoom baru

Kamera digital prosumer identik dengan kamera serius yang punya bodi mirip kamera DSLR dan berlensa panjang namun tidak bisa dilepas-pasang layaknya lensa pada kamera DSLR. Awalnya kamera prosumer hadir di masa lalu ketika harga DSLR masih sangat tinggi, padahal banyak fotografer yang ingin berlatih fotografi secara serius namun tak cukup dana untuk membeli DSLR. Oleh karenanya, saat itu kamera prosumer laris manis meskipun kalau diadu dengan DSLR dalam hal kualitas foto dan kinerja secara umum, memang harus mengaku kalah. Kini, eksistensi kamera prosumer masih terus bertahan meski harus berjuang keras ditengah himpitan serbuan kamera DSLR baru nan murah dan canggih. Salah satu cara prosumer untuk tetap eksis di tahun sekarang adalah dengan membuat lensa sepanjang mungkin supaya menarik minat para pembeli. Kamera prosumer dengan lensa zoom optik diatas 20x pun kini sudah jadi suatu hal yang umum dijumpai.

Mengapa kamera prosumer?

Perkembangan teknologi fotografi digital masa kini telah mengantar kamera prosumer menjadi kamera praktis yang bisa diandalkan untuk fotografi sehari-hari, mulai dari memotret makro, landscape, hingga foto tele di alam terbuka. Bahkan kemampuan prosumer dalam merekam video pun semakin ditingkatkan, dengan kemampuan merekam High Definition serta memakai kompresi MPEG-4 AVC yang efisien. Banyak prosumer masa kini yang telah dilengkapi dengan dudukan flash eksternal, sehingga keterbatasan prosumer di daerah kurang cahaya dapat disiasati dengan memasang lampu kilat eksternal yang berdaya lebih besar, dan bisa dibouncing keatas bawah atau kiri kanan. Soal kenyataan lensa prosumer yang tetap/fix, bila disikapi dengan bijak bisa menghindarkan kita dari keinginan membeli banyak lensa, mencegah gonta-ganti lensa yang tidak praktis dan beresiko masuknya debu ke dalam sensor. Soal kendala noise dapat diupayakan dengan sedikit kerja ekstra yaitu memotret memakai file RAW dan selanjutnya diolah di komputer. Belum lagi soal harga dan bobot prosumer yang lebih ringan dari DSLR, membuat prosumer masih punya harapan untuk mendapat tempat di kalangan fotografer, baik pemula hingga profesional sekalipun.

Apa kekurangan kamera prosumer?

Kompromi seperti apa yang harus diterima oleh seseorang yang membeli kamera prosumer? Kamera jenis ini punya harga cukup mahal, namun masih lebih murah daripada kamera DSLR. Jadi janganlah berharap kalau kamera prosumer akan punya kinerja layaknya DSLR. Jadi kompromi yang harus diterima setidaknya ada empat hal :

  • Pertama adalah menghindari pemakaian ISO tinggi, artinya bermain aman saja di ISO dasar hingga maksimal ISO 400.
  • Kedua adalah tidak berharap banyak akan fotografi dengan DOF sempit, seperti foto portrait atau still life.
  • Ketiga adalah menghindari fotografi yang memerlukan kerja kamera yang serba cepat, termasuk shutter, auto fokus hingga continuous shooting yang cepat.
  • Keempat pemakai prosumer tentunya hanya mengandalkan lensa yang ada, sehingga tidak bisa berganti lensa lain, meski tersedia asesori lensa add-on/conversion lens.

Rekomendasi kami

Bila anda termasuk orang yang tidak ingin ribet memakai kamera DSLR beserta segala lensanya, mengapa tidak menjajal kamera prosumer super zoom saja? Simaklah delapan kamera  prosumer super zoom baru yang kami pilihkan untuk anda, dilengkapi dengan uraian singkat fiturnya beserta kekurangannya, disajikan urut sesuai abjad. Siapa tahu satu diantara kamera berikut ini cocok di hati anda.

Canon Powershot SX1 : urusan foto dan video sama baiknya

canon-sx1Keputusan tepat dari Canon dalam merevolusi S5 IS tampak dari dipakainya lensa super zoom 20x yang wide di 28mm pada Powershot SX1 dan juga memakai sensor baru CMOS 10 MP untuk kinerja burst yang lebih tinggi (4 fps dengan resolusi penuh). SX1 ini tetap melanjutkan spesifikasi S5 IS yang sudah baik seperti LCD yang bisa diputar (kini berukuran 2,8 inci widescreen), stereo movie recording, memakai teknologi USM untuk motor zoomnya (bukan motor fokus) dan flash hotshoe. Bahkan kemampuan movie SX1 amat mengagumkan dengan kemampuan full HD 1080i plus HDMI dengan kompresi efisien H.264 dan kemampuan zoom saat merekam video (berkat pemakaian USM motor yang tanpa suara), membuat SX1 jadi kamera dan camcorder yang sama baiknya.  Catatan : kami juga menyukai saudara kandung dari SX1 yaitu SX10 yang masih memakai sensor CCD dan tidak memiliki fitur HD movie.

Kekurangan dari SX1/SX10 sendiri adalah lensanya yang tidak secepat pendahulunya, dengan bukaan maksimal f/5.7 pada tele maksimum yang membatasi pilihan bukaan diafragma di saat memotret tele (dan kecenderungan mengalami efek difraksi lensa).

Casio Exilim FH20 : lebih cepat dari DSLR tercepat

casio-ex-fh20Bayangkan kecepatan burst kamera DSLR, betapa tingginya hingga ada yang mencapai 10 frame per detik. Bayangkan kalau ada kamera prosumer yang bisa melebihi kecepatan DSLR dengan 40 fps! Ini bukan mimpi, kamera Exilim FH-20 dengan sensor CMOS 9 MP mampu memotret hingga 40 fps pada resolusi 3072 x 2304 piksel, atau empat kali lebih cepat dari kemampuan burst DSLR yang sekitar 10 fps. Didukung lensa wide 26mm dengan 20x zoom dan kemampuan merekam video HD 30 fps (bahkan tersedia pilihan 1.000 fps untuk resolusi 224 x 56 piksel, lebih kecil dari resolusi video kamera ponsel), file RAW format, image stabilizer dan layar LCD 3 inci, membuat super zoom EX-FH20 ini jadi pesaing berat Canon SX1 di atas.

Kekurangan dari EX-FH20 adalah ketiadaan dudukan lampu kilat dan kualitas optik dari lensa Exilim yang belum sepadan dengan lensa kamera kelas prosumer lainnya.

Fuji FinePix S1500 : sederhana, murah namun lengkap

fuji-s1500Fuji memiliki banyak produk yang berlensa panjang, bahkan lensa kamera Fuji kali ini tergolong kurang panjang karena ‘hanya’ punya 12x zoom optik saja. Namun kami sengaja pilihkan Fuji S1500 ini dengan dua pertimbangan : fitur dan harga. Bagi sebagian orang, memiliki kamera dengan lensa 12x zoom itu sudah lebih dari cukup, dan lensa diatas itu hanya membuat harga jual kamera jadi semakin tinggi. Maka kamera 10 MP ini hadir untuk mereka yang mengerti arti kesederhanaan namun tetap menginginkan yang terbaik, katakanlah seperti kualitas optik lensa, bukaan maksimal lensa di f/2.8 pada posisi wide, fitur stabilizer dan desain serta ergonomi kamera yang nyaman. Sebagai info tambahan, Fuji ini memakai LCD berukuran 2,7 inci dan ditenagai oleh 4 baterai AA. Kesemua itu bisa didapat pada Fuji S1500 ini dengan harga dibawah tiga juta saja.

Kekurangan dari Fuji S1500 ini adalah ketiadaan dudukan lampu kilat, lensa kurang wide dan fitur movie yang cuma VGA saja (meski hebatnya dia mampu zoom optik saat merekam video).

Kodak Z1015IS : unggul di lensa Schneider dan HD movie

kodak-z1015lKodak tidak punya pilihan lain kecuali fokus di kelas prosumer, mengingat di kelas DSLR Kodak tidak punya produk apapun. Seperti biasanya, andalan Kodak adalah lensanya yang dipercayakan pada Schneider untuk kualitas terbaik. Kali ini Kodak hadir dengan Kodak Z1015IS, kembali memakai desain kamera yang lagi-lagi cukup aneh, dengan resolusi 10 MP, lensa 15x zoom (28-420mm) yang anehnya memakai bukaan diafragma f/3.5 pada posisi wide. Kamera berlayar LCD 3 inci ini sudah dilengkapi dengan fitur stabilizer optik,  RAW file format dan HD movie 30 fps.

Kekurangan kamera ini adalah desainnya yang aneh (anda boleh tidak sependapat), tanpa dudukan lampu kilat dan lensanya yang lambat dengan bukaan maksimal f/3.5 saja.

Lumix FZ28 : tetap bertahan memakai lensa 18x zoom

lumix-fz28Sukses Panasonic dalam merajai pasaran kamera prosumer dengan zoom 18x telah ditorehkan oleh Lumix FZ18. Kini penerusnya hadir dengan nama Lumix FZ28 yang memakai sensor CCD 10 MP, dan mengalami perubahan sedikit dalam rentang fokal (kini 27-486mm f/2.8-4.4) namun tetap bertahan di 18x zoom optik, serta memakai Venus 4 engine yang lebih bertenaga. Lumix sudah dikenal akan lensa Leicanya yang berkualitas, pengoperasiannya yang mudah (intelligent Auto), serta stabilizer OISnya yang paling efektif dibanding merk lain. Bagi yang suka file RAW akan merasa lega dengan kemampuan FZ28 merekam file RAW, serta tersedianya fitur HD movie 30fps yang jadi tren standar resolusi di masa depan. Kesemua fitur ini membuat Lumix FZ28 menjadi yang terbaik diantara kamera dengan zoom lensa sejenis.

Kekurangan Lumix secara umum adalah noisenya yang tampak lebih tinggi dari kamera lain (padahal artinya Lumix menjaga detail lebih baik daripada kamera lain). Khusus FZ28 ini, sayangnya tidak tersedia dudukan lampu kilat sehingga cukuplah mengandalkan lampu kilat built-in di kamera.

Nikon Coolpix P90 : makin ambisius dengan 24x zoom

niko-p90Kurang sukses dengan Coolpix P80, Nikon hadir kembali dengan penerusnya yaitu Coolpix P90 yang membuat kejutan dengan desain lensanya yang bermula dari 26mm dan berakhir di 624mm (atau 24x zoom optik). Tampak ambisius memang, terlebih Nikon kini mengusung sensor dengan resolusi 12 MP guna memenangkan persaingan. Kamera yang berdesain cantik ini punya tata letak tombol yang apik, layar LCD lipat dan sudah dilengkapi stabilizer pada sensornya.

Percayakah anda kalau kamera selengkap dan seambisius ini belum memiliki fitur HD movie? Banyak fans Nikon yang mengeluhkan hal ini, belum lagi ketiadaan fitur RAW file format dan absennya dudukan lampu kilat pada kamera ini membuat upgrade dari P80 ke P90 ini terasa kurang signifikan.

Pentax X70 : super zoom pertama dari Pentax

pentax-x70Persaingan panas diramaikan oleh pendatang baru di kelas super zoom, yaitu Pentax yang menjajal peruntungannya dengan meluncurkan Pentax X70. Kamera super zoom berlensa 24x zoom ini juga punya rentang yang persis sama seperti Nikon P90 yaitu 26-624mm, bahkan sama-sama memakai sensor 12 MP. Bedanya Pentax ini tidak memakai LCD lipat, dan sudah mendukung movie HD meski hanya 15 fps. Soal stabilizer, Pentax juga menerapkan sistem sesnsor shift seperti halnya Nikon P90.

Kamera ini belum mendukung RAW file format dan tidak ada dudukan lampu kilat, sungguh disayangkan mengingat Pentax sebagai pendatang baru semestinya sudah mempelajari kekurangan dari para pesaingnya.

Sony Cybershot DSC-HX1 : semakin mendekati kamera DSLR

sony-cybershot-hx1Tibalah kita di produk terakhir yaitu Sony DSC-HX1 yang mengusung sensor CMOS 9 MP. Dengan target menyaingi langsung Canon SX1 dan Casio FH20, Sony ini pun mengemas lensa Sony G dengan kemampuan zoom 20x. Kode G sendiri menunjukkan pemakaian 6 blade diafragma (hampir menyerupai lensa DSLR dengan 7 blade) untuk kualitas lensa yang lebih baik. Fitur lainnya adalah layar LCD lipat berukuran 3 inci, sweep panorama, steady shot (stabilizer optik), stereo HD movie 1440 x 1080 dan Bionz prosesor (milik DSLR Sony Alpha).

Sayang beribu sayang kalau kamera secanggih ini belum dilengkapi dengan dudukan lampu kilat eksternal dan tidak mendukung RAW file format, tapi begitulah kenyataannya.

Kesimpulan

tabel

Tidak ada kamera yang jadi pemenang di daftar ini, karena kali ini kami memang menyajikan pilihan dan andalah yang menentukan kamera mana yang cocok sesuai kebutuhan fotografi dan budget anda. Bila anda mencari kamera dengan lensa terpanjang saat ini, ada Olympus SP-590 dengan lensa super ekstrim 26x zoom optik, atau 26-676mm dengan resolusi 12 MP. Namun karena Olympus masih memakai memory card xD yang kuno dan lambat, kami tidak memasukkannya kedalam daftar rekomendasi kali ini.

Sebagai kesimpulan dalam tulisan ini, kami kelompokkan kamera-kamera diatas dalam katagori yang sama :

  • Ada tiga kamera yang sudah memakai sensor CMOS seperti Canon SX1, Casio FH20 dan Sony HX1, dengan asumsi sensor CMOS mampu memberi kinerja lebih baik di ISO tinggi dan kecepatan burst yang juga lebih baik. Tapi penggunaan sensor CMOS tentu membuat harga kamera jadi lebih tinggi (di kisaran 5 jutaan).
  • Ada dua kamera yang sangat ambisius dalam mendesain lensa dengan 24x zoom yaitu Nikon P90 dan Pentax X70, sementara sisanya bertahan di 20x, 18x, 15x bahkan hanya 12x saja. Hebatnya, keduanya bukan cuma sama-sama memakai lensa 24x zoom saja, tapi keduanya juga sanggup membuat lensa yang bermula dari 26mm (sementara pesaing umumnya 28mm).
  • Jangan terpaku pada resolusi kamera, karena sensor kecil pada kamera non DSLR sudah sangat cukup bahkan hanya dengan 5 MP sekalipun. Kami menganggap resolusi diatas 10 MP sudah melampaui batas fisika sensor sehingga sangat rentan noise di ISO tinggi. Jadi kalau perlu kamera resolusi di atas 10 MP, sebaiknya pertimbangkan saja DSLR. Disini Lumix FZ28, Nikon P90 dan Pentax X70 tampak begitu memaksakan diri dengan 12 MP, meski tidak banyak bedanya bila dibanding dengan 10 MP.
  • Kamera prosumer disebut berfitur lengkap jika memiliki fitur seperti manual mode, stabilizer, RAW file format dan dudukan lampu kilat eksternal. Kesemua kamera diatas telah dilengkapi dengan manual mode dan stabilizer, namun tidak semuanya memiliki RAW file format dan dudukan lampu kilat. Bila anda perlu kamera dengan RAW file format, cermati baik-baik spesifikasi teknis kamera yang akan anda beli. Bila anda ingin kamera dengan dudukan lampu kilat, tampaknya hanya Canon SX1 yang memilikinya.
  • Fitur HD movie sudah jadi tren di tahun 2009 ini. Juaranya HD movie di daftar kali ini adalah Canon SX1 dan Sony HX1 dengan audio stereo. Namun bila anda merasa tidak perlu kamera dengan HD movie, tersedia kamera yang hanya mampu merekam VGA movie seperti Fuji S1500 atau Nikon P90. Hati-hati karena ada juga kamera yang memaksakan HD movie tapi hanya sanggup 15 fps (semestinya minimal 24 fps) sehingga gambar video akan tampak patah-patah.

Itulah daftar kamera prosumer yang bisa kami rekomendasikan untuk tahun ini, semoga bermanfaat. Diskusikan dengan kami melalui forum bila ada hal-hal yang kurang jelas, salam..


Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..