Review lensa fix Tamron SP 35mm f/1.4 Di USD

Tamron sebagai produsen lensa dari Jepang sudah punya beberapa produk lensa fix seperti SP 35mm f/1.8, SP 45mm f/1.8 dan SP 85mm f/1.8 yang tersedia untuk mount DSLR Canon dan Nikon. Tidak puas dengan tiga lensa diatas, Tamron juga akhirnya merilis satu lensa fix 35mm yang bukaannya lebih besar yaitu SP 35mm f/1.4 Di USD. Dari kode namanya dapat dikenali kalau lensa 35mm ini adalah lensa SP yang kualitasnya tinggi, kode ‘Di’ artinya untuk full frame dan ‘USD’ yang artinya motor fokusnya ultrasonic yang cepat dan senyap. Kali ini kami mendapat kesempatan mencoba lensa Tamron SP 35mm f/1.4 (dengan mount Canon) untuk melihat bagaimana handalnya lensa ini untuk berbagai keadaan, termasuk seperti apa bokehnya, auto fokusnya dan tentunya ketajamannya.

Ditinjau dari fokal lensanya, Tamron SP 35mm f/1.4 ini termasuk dalam lensa lebar, meski tentu tidak selebar lensa seperti 28mm atau 24mm. Maka fokal lensa 35mm ini tergolong banyak kegunaannya, untuk dipakai sehari-hari hingga pekerjaan komersial akan banyak bisa mengandalkan fokal 35mm ini. Bila lensa ini dipasang di kamera APS-C, maka fokal lensanya akan ekuivalen dengan lensa 50mm di full frame, jadi boleh saja orang memasang lensa Tamron 35mm ini bila bertujuan untuk menjadi lensa 50mm, dengan memasangnya di bodi APS-C.

Gambar 1

Sebagai lensa fix, saya tidak meragukan kualitas optik lensa ini, apalagi Tamron sendiri memiliki kebanggaan atas produk ini sebagai puncak kulminasi kemampuan mereka dalam memproduksi sebuah lensa selama 40 tahun, seperti kata Tamron saat merilis lensa ini: “We want to deliver a perfect image to people who love photography.” dengan menyusun 14 elemen yang tergolong sangat banyak untuk sebuah lensa fix (maka itu lensa ini juga tidak bisa dibilang kecil, dengan panjang 10cm dan berat diatas 800 gram). Elemen tambahan untuk menjaga kualitas foto seperti BBAR II juga diberikan di lensa ini, menjaga timbulnya flare dan ghosting saat memotret melawan cahaya. Bokeh lensa ini juga diklaim lembut dan menarik dengan 9 bilah diafragma yang bulat, dan berjenis elektronik aperture. Continue reading Review lensa fix Tamron SP 35mm f/1.4 Di USD

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Canon EOS 90D dan EOS M6 mk II diluncurkan

Canon mengumumkan kehadiran dua kamera baru, yaitu satu adalah produk DSLR Canon EOS 90D (penerus EOS 80D) dan satu lagi adalah produk dari mirrorless APS-C yaitu EOS M6 mk II.

Canon EOS 90D hadir sebagai produk yang mengkawinkan dua segmen DSLR APS-C yaitu segmen semi-pro 80D (yang populer untuk foto dan video) dan segmen pro 7D (populer untuk jurnalis dan sport). Jadi konsep EOS 90D adalah tetap memakai layar lipat putar seperti 80D tapi punya kekuatan bodi dan kecepatan yang mendekati seri pro 7D.

Spesifikasi EOS 90D terbilang cukup menarik dengan sensor APS-C 32 MP yang bisa merekam video 4K, memiliki 45 titik AF, ada joystick, bisa memotret sampai 10 fps, prosesor Digic 8 terbaru meski sayangnya hanya memiliki satu Slot SD card. Dari fisik bodinya meski masih sepintas mirip dengan 80D, pada EOS 90D ini tombol dan pengaturannya lebih banyak, weathersealed lebih ditingkatkan dan bisa menggunakan shutter elektronik. Continue reading Canon EOS 90D dan EOS M6 mk II diluncurkan

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

EOS 6D mk II, DSLR full frame terkini dari Canon

Canon 6D mk II adalah kamera DSLR full frame yang mengisi segmen basic yang tentunya spesifikasi dan fiturnya harus dibedakan dari kakak-kakaknya seperti 5D mk IV, 5DS apalagi 1Dx mk II. Di segmen full frame entry level ini yang dicari adalah keseimbangan antara harga, kinerja, kualitas dan ukuran, dimana profil pemakainya yang sesuai biasanya dari kalangan hobi, atau profesional yang mencari peralatan cadangan (backup). Khusus 6D mk II menawarkan sesuatu yang cukup unik dan jarang ditemui di kamera lain seperti sensor 26 MP (kamera lain umumnya 24 MP), ada fitur 4K timelapse, Bluetooth dan GPS untuk konektivitas lengkap. Sebagai info, 6D mk II diperkenalkan dengan harga $2000 bodi saja (sekitar 26 juta rupiah).

Canon EOS 6D mk-II menawarkan fitur-fitur sebagai berikut :

  • sensor full frame 26 MP
  • 45 titik fokus, semuanya cross type, -3 Ev
  • auto fokus di live view dan video dengan Dual Pixel AF
  • layar LCD sentuh, bisa dilipat dan diputar
  • jendela bidik prisma, 0,71x perbesaran, cakupan 98%
  • memotret kontinu 6,5 fps, bisa sampai 25 RAW+JPG fine (dengan kartu UHS-I high speed)
  • metering dengan 7560 piksel
  • Digic 7, ISO 100-40.000 (bisa dipaksa sampai ISO 50 (low) dan ISO 102.400 (High)
  • WiFi + NFC, Bluetooth dan GPS

Meski tampak besar, tapi 6D mk II cukup ringan (765g dengan baterai) berkat bahan almunium alloy dan polikarbonat resin. Desain DSLR khas Canon dengan ergonomi yang pas dan mantap digenggaman, dan tata letak tombol yang terbukti fungsional. Adanya fitur layar sentuh membantu sekali dalam interaksi kita dengan kamera. Perlindungan cuaca membuatnya bisa diandalkan saat memotret di keadaan hujan atau berdebu.

eos-6d-mark-ii

Kinerja kamera ini termasuk standar dengan 6,5 fps yang bisa diandalkan untuk mendapat momen sehari-hari, buffer juga cukup lega tapi sayangnya tidak ada dukungan ke kartu UHS-II. Adanya fitur Dual Pixel AF membuat 6D mk II ini sama baiknya saat auto fokus dengan mode live view, bahkan tetap bisa Servo AF untuk melacak benda bergerak saat live view. Titik fokus 45 area di 6D mk II cenderung terkonsentrasi di bagian tengah sehingga bisa jadi untuk kebutuhan tertentu malah lebih enak pakai live view saja.

eos-6d-mark-ii-back-d

EOS 6D mk II yang lama ditunggu untuk menyegarkan 6D lama punya banyak peningkatan berarti. Kelebihan Canon adalah menemukan teknologi Dual Pixel AF yang menjadikan kamera DSLR bisa laksana mirrorless saat pakai mode live view, tentunya bukan sekedar live view tapi bisa auto fokus dengan cepat, fokus kontinu dan bisa memfokus dengan menyentuh layar. Kekurangan kamera ini yang banyak disayangkan orang adalah tidak menyediakan kemampuan rekam video 4K, jadi hanya bisa full HD saja.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Nikon D7500, DSLR menengah yang makin matang

Kamera DSLR kelas menengah dari Nikon kembali mendapat penyegaran. Dari D7200 langsung lompat ke nama baru yaitu D7500, Nikon sepertinya ingin memudahkan kita untuk mengingat bahwa D7500 itu ‘mirip’ dengan D500. Memang sih keduanya sama-sama DSLR kelas menengah dengan sensor APS-C yang sama-sama oke untuk diajak kerja cepat maupun outdoor, meski D500 tetap lebih mantap dari spek seperti unggul di kecepatan dan jumlah titik fokus.

Pertanyaan orang kini adalah apakah lebih baik D7200, D7500 atau D500?

Pertama lihat dulu kualitas gambarnya. Ternyata sensor keduanya sama yaitu APS-C 20 MP tanpa low pass filter. Lalu prosesornya juga sama yaitu Expeed  5 sehingga kinerja secara umum dalam memproses data sama kencangnya.

Nikon D7500

Tentu ada pembeda utama antara D7500 dengann D500, yaitu di modul auto fokusnya. Di D7500 masih pakai 51 titik AF (15 cross type) yang sebetulnya sudah mencukupi untuk pemakaian harian. Bagusnya kini ada fitur auto fine tune untuk AF yang meleset, dengan memakai teknologi live view. Shutter unit -ya dirating sampai 150 ribu kali jepret.

Kemampuan lain adalah video 4K meski kena crop 1,5x dari sensornya, dan buffernya bisa menampung 50 foto RAW kontinu, atau 100 lebih foto JPG. Baterainya kini pakai EN-EL15a yang mampu menghandle daya lebih baik, meski sedikit lebih cepat habis dibanding di kamera D7200.

Sayangnya D7500 kini justru tidak  lagi pakai dual slot SD cards seperti seri D7000 lainnya.

Menurut kami Nikon D7500 lebih menarik untuk general shooters, yang tidak mengharuskan kameranya super cepat dan auto fokus yang sangat banyak titik. Kamera ini malah akan disukai oleh orang yang beragam kebutuhan karena sudah mendukung layar sentuh dan video 4K. Harganya juga wajar, bodi saja 1250 USD tentu kompetitif dibanding Canon 80D, Fuji X-T2 atau Sony A6500.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Canon hadirkan duo DSLR entry level baru : EOS 800D dan EOS 77D

Di saat kamera mirrorless terus menggerus pangsa pasar kamera DSLR, Canon tetap berupaya memperbanyak variasi dan regenerasi produk DSLR-nya khususnya di lini kelas bawah yang kerap disebut sebagai seri Rebel. Setelah terus bertahan memakai nama kelipatan 50 seperti 650D, 700D, 750D maka kali ini hadirlah 800D dengan ciri sensor 24 dan 45 titik fokus. Di segmen agak sedikit berbeda hadirlah EOS 77D sebagai penerus dari 760D yang ditujukan untuk dibawah kamera enthusiast seperti 80D.Bingung? Tenang, anda bukan satu-satunya yang bingung dengan nama 77D ini :)

Canon EOS 800D
Canon EOS 800D, atau dinamai Rebel T7i di Amerika

Oke, bagi yang beranggapan kalau kamera DSLR Canon pemula begitu-begitu lagi dan tampak sama, mungkin akan jadi lebih antusias saat membedah spek dari EOS 800D ini, seperti :

  • sensor APS-C 24 MP dengan dual pixel AF, oke untuk auto fokus hybrid saat live view
  • modul auto fokus mantap dengan 45 titik fokus (pertama ditemui di 80D)
  • stabilisasi elektronik untuk rekaman video
  • WiFi, NFC dan Bluetooth
  • 6 fps
  • layar lipat dan sentuh
Bagian belakang dari EOS 77D dengan roda dan tombol fisik yang lengkap
Bagian belakang dari EOS 77D dengan roda dan tombol fisik yang lengkap

Nah, kalau yang dikeluhkan adalah fisik dari 800D semisal hanya ada satu roda kendali, tidak ada jendela LCD kecil di atas dan hal-hal minor lain, mungkin anda perlu menyimak EOS 77D yang dibuat seperti mini 80D. EOS 77D memiliki semua fitur di 800D ditambah dengan dua roda kendali, jendela LCD kecil di atas dan tombol AF-ON. Tapi tetap saja kedua kamera ini masih masuk kelas pemula, cirinya diantaranya adalah bodi yang belum weather sealed, tidak pakai prisma (pakainya penta-mirror) dan tidak ada fitur AF-microadjustement untuk kalibrasi AF lensa.

Bagian atas dari EOS 77D dengan jendela LCD tambahan yang informatif.
Bagian atas dari EOS 77D dengan jendela LCD tambahan yang informatif.

EOS 800D akan dijual di kisaran 10-11 jutaan dan 77D di kisaran 12 jutaan dengan lensa kit baru yang mungil EF-S 18-55mm f/4-5.6 IS STM.

Bila anda menyimak artikel kami 2 tahun lalu, dimana Canon meluncurkan 750D, 760D dan EOS M3, maka kali ini juga persis sama yaitu 800D adalah penerus dari 750D, lalu 77D adalah penerus dari 760D dan EOS M3 ternyata digantikan oleh EOS M6, produk mirrorless baru seperti EOS M5 namun tanpa jendela bidik. EOS M6 ini sepintas mirip sekali dengan EOS M3 tapi kini sudah memakai dual pixel AF yang lebih oke auto fokusnya.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Canon hadirkan DSLR kelas atas EOS 5D generasi ke empat

Di bulan Agustus ini dunia fotografi dibuat kembali bergairah dengan hadirnya DSLR kelas atas Canon EOS 5D generasi ke empat atau mark IV. Kali ini Canon memberi sensor 30 MP dengan ISO 100-32.000 dengan dual pixel AF untuk auto fokus yang lebih mudah saat live view dan video (pertama di temui di EOS 70D). Selain itu tentu ada hal baru yang menarik disini, misalnya fitur 4K video dalam format MJPEG 30 fps. Canon-5D-Mark-IV-650x517

Tapi tentu saja berita besarnya kali ini adalah modul fokus yang dipakai, seperti yang sudah diprediksi akhirnya 5D mk IV ini mewarisi modul dari 1Dx mk II dengan 61 titik fokus (41 diantaranya cross type), dan bisa fokus di keadaan gelap -4 Ev. Kecepatan tembaknya mungkin biasa saja dengan 7 foto per detik tapi ingat resolusi 30 MP punya data yang lebih besar dari sensor 24 MP apalagi 16 MP.

Canon-5D-Mark-IV-Back-650x517

Dari fisik terlihat masih banyak kemiripan dengan 5D mk III dan 5D SR. Layarnya yang berukuran 3,2 inci ini kini sudah mendukung touchscreen dan didalamnya sudah diberikan fitur GPS dan WiFi.

Canon-5D-Mark-IV-Top-650x414

Kamera Canon 5D mk IV akan dijual $3,499 bodi saja atau $4,399 dengan lensa baru 24-70mm f/4L IS USM. Memang tidak murah, tapi profesional yang menunggu hadirnya kamera ini tentu sudah mengerti kebutuhan masing-masing seperti resolusi, dynamic range, ISO tinggi dan video 4K yang diunggulkan di kamera ini. Canon juga di waktu bersamaan meluncurkan lensa update EF 16-35mm f/2.8L III USM dan EF 24-105mm f/4L IS II USM.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Pilih Canon 80D atau Sony A6300?

Kalau ditanya saat ini duel apa yang dianggap mewakili DSLR vs mirrorless favorit dan terbaru, maka boleh jadi jawabnya adalah Canon EOS 80D berhadapan dengan Sony A6300. Keduanya walau berangkat dari format kamera yang berbeda (satu pakai cermin, satu tanpa cermin) tapi punya banyak kesamaan seperti harga jual, sensor dan segmentasinya. Canon 80D dan Sony A6300 baru saja resmi diluncurkan di Indonesia dengan harga 14 jutaan bodi saja.

Mari cek sejarah kedua produk ini. Uniknya keduanya adalah kamera yang hadir menyempurnakan produk yang populer dimana Canon 80D adalah penerus 70D dan Sony A6300 adalah penerus A6000. Keduanya membawa beban target yang sama beratnya yaitu mesti jadi produk yang juga sukses seperti sebelumnya. Kita tahu Canon 70D termasuk sukses dalam memadukan kualitas, kinerja, dan harga dari sebuah kamera DSLR, demikian juga Sony A6000 membuat standar baru untuk kamera mirrorless performa tinggi.

Kedua kamera, Canon 80D dan Sony A6300 sama-sama pakai sensor APS-C dengan resolusi 24 MP. Canon 80D punya 45 titik fokus (semuanya cross-type) di mode normal, dan saat pakai live view juga auto fokusnya tetap handal berkat dual-pixel AF (pertama di temui di 70D).

Sony A6300 area fokusnya meningkat pesat dari 179 area menjadi 425 area, tertinggi di semua produk mirrorless yang ada. Kedua kamera juga sama-sama dirancang lebih tangguh (80D dinyatakan tahan cuaca, A6300 hanya disebut tahan debu dan kelembaban) dan mengusung fitur terkini seperti WiFi dan NFC.

80D A6300

Canon EOS 80D punya kekuatan di kematangan sistem, seperti pilihan lensa, flash dan aksesori (termasuk buatan pihak ketiga). Penyuka desain bodi kamera konvensional juga akan menyukai 80D yang gripnya lebih enak, tahan cuaca dan jendela bidik optiknya lebih besar dan terang. Bodi DSLR memang besar dan cenderung tidak praktis untuk traveling, tapi dibalik bodi yang besar jadi bisa ditempati banyak tombol dan LCD tambahan yang berguna. Layar lipat dan bisa disentuh juga jadi nilai plus Canon 80D, saat pakai live view atau rekam video akan terbantu saat ingin menentukan area fokus dengan menyentuh layar. Baterainya yang besar juga bisa tahan hampir 1000x memotret dalam sekali charge. Canon 80D dirancang juga untuk videografer, misalnya ada port headphone dan fitur video lebih lengkap. Tapi anehnya di 80D banyak juga kekurangan di sisi video seperti tidak ada 4K, tidak ada clean HDMI out, tidak ada zebra dan tidak ada S-log flat profile.

80D A6300 b

Di sisi lain Sony A6300 melanjutkan sukses A6000 dengan filosofi bodi kecil tapi lengkap dan handal. Masih sehebat A6000, di A6300 juga bisa menembak hingga 11 foto per detik, jauh diatas Canon 80D yang ‘hanya’ 7 foto per detik. Anda yang cenderung menyukai kamera modern mungkin akan lebih suka A6300 misalnya banyak fitur canggih seperti jendela bidik elektronik yang jernih, 4K video, hingga kebebasan menambah aplikasi di dalam kamera. Bagi yang menyukai street photography, A6300 sudah mendukung silent shutter sehingga tidak ada suara apapun saat memotret.80D A6300 c

Tapi perlu diingat bodi A6300 termasuk kecil sehingga gripnya kurang mantap, juga layar LCD-nya juga tidak mendukung layar sentuh. Beruntung adanya built-in flash dan hot shoe di A6300 membuat kamera ini makin serbaguna untuk berbagai pemakaian, meski tidak ada fitur wireless flash di A6300 sehingga penyuka strobist perlu membeli trigger sendiri. Masalah lain khas mirrorless adalah daya tahan baterai yang memaksa kita untuk punya beberapa baterai cadangan.

Yang kami suka dari Canon 80D :

  • ergonomi (bodi, grip, tombol, ada LCD tambahan)
  • auto fokus hybrid (oke juga saat live view)
  • layar sentuh
  • wireless flash
  • daya tahan baterai
  • Kecepatan startup lebih cepat (0.5 vs 1.4 detik)
  • Max shutter speed 1/8000 detik vs 1/4000

Yang kami suka dari Sony A6300 :

  • sarat fitur dalam bodi yang ringkas
  • cepat (burst cepat, AF cepat)
  • fitur video lengkap (4K, slow motion dsb)
  • jendela bidik jernih
  • sensor berkualitas tinggi (tajam, DR oke, noise rendah)
  • Ada focus peaking membantu saat manual fokus
  • Bisa diadaptasi dengan lensa-lensa SLR dengan adaptor

Jadi keduanya sebagai kamera dengan sensor APS-C memang hampir setara untuk harga, fitur dan kinerja, namun berbeda dalam jenisnya. Canon 80D mewakili kubu DSLR juga sebetulnya punya misi berat karena harus melawan Nikon D7200, serta tidak boleh overlap fitur dengan sang kakak yaitu 7D mk II. Saat ini kalau anda mencari DSLR kelas menengah yang handal dan mencukupi untuk banyak kebutuhan, kami tak ragu menyarankan Canon 80D, bahkan saat dana terbatas maka Canon 70D juga masih oke untuk dipilih.

Di sisi lain Sony A6300 mewakili kubu mirrorless juga bebannya berat karena banyak saingan di kisaran harga sama (Fuji X-Pro 2, Fuji X-T1, Samsung NX1 dan bahkan dari kubu micro 4/3 seperti Olympus E-M5 mk II atau Panasonic GX8).  Kami pun tak ragu untuk merekomendasikan Sony A6300 untuk aneka kebutuhan fotografi anda, khususnya sport atau travelling, bahkan kalau dana terbatas maka Sony A6000 pun masih oke untuk dipilih. Jadi, pilih sesuai keinginan dan kemampuan, dan mulailah menikmati hobi fotogafinya..

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Pentax K-1, DSLR full frame pertama dari Pentax

DSLR full frame kini bukan cuma dominasi Canon dan Nikon, sejak Pentax resmi mengumumkan lahirnya kamera DSLR Pentax K-1. Dengan merilis kamera ini di tahun 2016 tentunya Pentax punya banyak sekali waktu untuk mempelajari plus minus DSLR full frame yang lebih dulu ada dari pemain papan atas seperti Canon dan Nikon, sehingga produk pertama dari Pentax di segmen full frame ini semestinya sudah memperhitungkan kebutuhan fotografer pro seperti fitur-fitur didalamnya atau rancangan bodinya. Dan benar saja, ternyata banyak sekali hal-hal yang mengesankan baik dari spesifikasi, fitur dan juga harga dari Pentax K-1 ini.

Dari spek dasar mungkin kita akan beranggapan kalau Pentax K-1 ini kurang lebih mirip-mirip dengan kamera lain yang sudah ada, sebutlah misalnya sensor dengan resolusi 36 MP, kemampuan ISO 100-204800, ada 33 titik fokus, ada peredam getar di bodi, punya kecepatan tembak 4,5 foto per detik dan bisa rekam video full HD. Tapi agak aneh seandainya Pentax hanya mengandalkan spek dasar lalu berharap untuk berkompetisi dengan pemain lama di dunia full frame. Apalagi sejak dulu Pentax juga dikenal kerap membuat produk yang punya value tinggi, artinya fitur yang ditawarkan dibandingkan harga jualnya melebihi ekspektasi. Contohnya disini Pentax K-1 dibandrol seharga USD 1800 bodi saja, untuk ukuran DSLR full frame di segmen semi pro harga ini sangat menarik, apalagi jika melihat fitur yang diusungnya.

Sensor full frame di dalam K-1 ini bisa bergerak ke kiri kanan, juga berputar (5 axis)
Sensor full frame di dalam K-1 ini bisa bergerak ke kiri kanan, juga berputar (5 axis)

Sensor shift di Pentax K-1 ini adalah generasi kedua yang diklaim bisa bekerja meredam getaran hingga 5 stop berkat 5 axis-nya (X-Y-pitch-yaw-roll). Pentax juga lebih jauh lagi berhasil memanfaatkan kemampuan sensornya yang bisa digeser ini untuk memberi fitur canggih seperti :

  • simulasi anti aliasing (AA) filter, sehingga dengan menggetarkan sensor bisa didapat hasil seperti pakai AA filter, hal ini membuat penggunanya bisa memilih apakah mau pakai AA filter (untuk menekan moire) atau mau hasil tajam maksimal
  • pixel shift resolution system, teknologi menggeser sensor hanya seukuran 1 piksel, untuk mendapatkan empat gambar lalu menggabungkan menjadi satu foto dengan informasi warna RGB yang lengkap (dibandingkan dengan cara biasa dimana satu piksel hanya ‘melihat’ 1 warna (R/G/B) lalu diinterpolasi) dan ini berdampak pada naiknya dynamic range juga, serta mengurangi noise di ISO tinggi
  • auto level compensation, bila saat kita posisikan kamera agak kurang lurus (yang menyebabkan garis horizon jadi tampak miring) maka sensornya akan bergerak mengkompensasi kemiringan itu untuk menjaga foto tetap lurus (setahu saya belum ada kamera lain yang bisa melakukan ini, biasanya kita harus luruskan fotonya di editing)
  • AstroTracer, dengan dibantu penerima GPS dan kompas elektromagnetik didalam kamera, sensor di Pentax K-1 bisa ikut bergerak saat memotret bintang dengan shutter lambat sehingga foto bintang yang didapat tidak menjadi garis melengkung
pentaxk1diagonal
Layar LCD bisa dilipat diagonal/miring

Juga ada hal unik di kamera ini yaitu layar LCD-nya yang bisa dilipat diagonal seperti cotoh diatas. Juga di kamera ini ada beberapa lampu LED mini yang bisa membantu penggunanya saat memotret atau ganti lensa di tempat gelap, karena lampu ini bisa menerangi bodi kamera. Untuk sementara sudah ada beberapa lensa utama seperti HD PENTAX-D FA 15-30mm f/2.8 dan HD PENTAX-D FA 28-105mm f/3.5-5.6 dan berbagai lensa APS-C juga bisa dipakai dengan crop mode, atau memakai lensa Pentax jadul jaman film juga bisa (selagi masih bisa ditemui di pasaran).

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..