Mengapa lensa DSLR bisa dipasang di kamera mirrorless (dengan adapter)

Saat ini kamera mirrorless semakin berjaya, penggunanya semakin banyak. Ukuran yang lebih kecil dari DSLR dibarengi peningkatan fitur membuat mulai banyak yang tertarik mencobanya. Sebagian besar penggunanya tentu akan memakai lensa yang sesuai mount-nya, misal Sony Alpha dengan lensa-lensa E mount atau Olympus dengan lensa Micro 4/3 mount. Tapi ada juga sebagian pengguna mirrorless yang justru memasang lensa DSLR di kamera mirrorless mereka. Mengapa hal ini bisa dilakukan? Kita bahas sama-sama yuk..

Pertama kita mesti melihat dulu lensa DSLR seperti apa yang dipasang di kamera mirrorless. Sebagian besar ternyata adalah lensa lama, alias lensa manual, seperti Canon FD, Nikon AF atau bahkan lensa mount M42. Lensa-lensa ini bisa jadi koleksi lawas, atau didapat di pasar lensa bekas, yang kemudian dipakai di mirrorless. Walau ada juga lensa modern yang dipasang di mirrorless seperti lensa Canon EOS atau Nikon AF-S.

A6000 12-24mm

Apa alasan dibalik semua ini? Tentu jawabannya bisa beragam, misal ingin nostalgia dengan lensa lamanya, atau cari lensa yang terjangkau, atau memang lensa yang diinginkan belum tersedia sehingga terpaksa memasang lensa DSLR. Ingat kalau sistem mirrorless masih tergolong baru, pilihan lensa yang ada memang belum sebanyak sistem DSLR yang sudah berpuluh-puluh tahun ada.

m_FLANGE_2

Bagaimana penjelasan teknis dari fenomena ini? Untuk bisa memahami itu kita perlu tahu dulu desain lensa, bahwa setiap lensa dirancang untuk mengirim gambar ke sensor. Jarak dari belakang lensa ke sensor namanya flange back distance. Di sistem DSLR kira-kira jaraknya 4 cm, dan itu sudah sejak jaman SLR film begitu. Alasannya karena di DSLR ada cermin yang membuat sensor jadi harus agak mundur ke belakang, sehingga semua lensa harus dirancang untuk punya jarak flange back sekitar 4 cm. Di mirrorless yang tentunya tanpa cermin, jarak flange back ini bisa dibuat lebih pendek, sekitar 1-2 cm. Perancang lensa mirroless harus mendesain ulang rancangan lensa karena menyesuaikan flange back yang jauh lebih pendek.

flange DSLR

Selisih jarak ini yang membuka peluang memasang lensa DSLR di mirrorless, dengan adapter. Prinsip adapter memang hanya merubah desain mount, misal mount lensa Nikon supaya bisa masuk ke E-mount di bodi Sony Alpha/NEX. Tapi kegunaan penting lain dari adapter adalah menambah jarak flange back kamera yang tadinya pendek jadi panjang sehingga memungkinkan dipasang lensa DSLR. Bila tidak dipanjangkan, maka fokus dari lensa DSLR akan jatuh dibelakang sensor dan itu artinya kamera tidak akan bisa fokus.

flange mirr

Memasang adapter punya kompromi sendiri. Pertama adalah mayoritas adapter dibuat simpel tanpa chip atau kontak elektronik. Artinya jangan harap lensanya bisa auto fokus, maka itu adapter yang simpel memang dirancang untuk lensa-lensa lama yang manual fokus dan manual aperture. Di kamera pun harus pakai mode M, dan perlu pakai kamera yang ada opsi untuk bisa memotret tanpa lensa. Tidak ada bantuan light meter di kamera, kita harus andalkan histogram untuk akurasi eksposur dan memakai focus peaking (bila ada) untuk manual fokus.

Metabones-Canon-EF-Sony

Tapi untuk anda yang tidak suka cara lama, ada juga adapter yang canggih dengan kemampuan menterjemahkan perintah AF dari kamera (misal kamera Sony A) dan mengkode ulang perintahnya dan dikirimkan ke lensa (misal lensa Canon EOS) sehingga auto fokusnya berfungsi. Tapi adapter semacam ini harganya mahal, pilihannya lebih sedikit dan kadang AF-nya terasa lebih lambat. Ada juga adapter yang dibuat untuk antar sistem dalam satu merk, misal kamera mirrorless Canon EOS-M bisa dipasangkan dengan lensa Canon EF dan auto fokusnya tetap jalan, karena adapternya dibuat oleh Canon juga.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Nikon D5 dan D500 hadir, tercanggih di kelas FX dan DX

Di lini kamera DSLR Nikon, baik di kelas sensor APS-C maupun full frame, keduanya kini punya jagoan tertinggi yang baru yaitu Nikon D500 (penerus D300) untuk kelas APS-C dan D5 (penerus D4) untuk kelas full frame. Keduanya dirancang untuk kebutuhan profesional, D500 lebih kepada fotografer aksi maupun satwa liar sementara D5 untuk foto apa saja yang sifatnya komersil. Ada beberapa kesamaan dari keduanya, khususnya dalam modul Auto Fokus terbaru dengan 153 titik fokus. Kesamaan lain seperti adanya layar sentuh, dual slot memori dan prosesor Expeed 5 terbaru.

D5 back

Nikon D5 ditujukan untuk kebutuhan profesional, kamera tercanggih dari Nikon ini dujual USD 6500 bodi saja, dengan sensor 21 MP FX yang bisa dipaksa hingga ISO 3.276.800 (atau 5 stop diatas ISO maksimum normal di ISO 102.400) yang entah seperti apa hasilnya di tempat gelap. Kecepatan tembaknya mencapi 14 frame per detik, luar biasa. Kemampuan videonya juga sudah UHD dengan resolusi 2840×2160 30p yang bisa disimpan ke kartu CF atau XQD. Kamera dengan berat hampir 1,5 kg ini sudah punya vertical grip terpadu untuk menambah daya tahan baterai.

D500

Nikon D500 adalah jawaban atas penantian panjang pecinta DSLR Nikon DX, atau Nikon dengan sensor APS-C, setelah lama sekali tidak ada kabar untuk regenerasi D300, padahal Canon sudah membuat EOS 7D mk II. Kini akhirnya D500 (bukan D400 seperti yang diprediksi banyak orang) hadir dengan sensor 21 MP APS-C, kecepatan tembak 10 fps, ISO maksimum 51.200 (normal, bisa dipaksa hingga ISO 1.638.400). Karena modul fokusnya sama dengan D5 maka di D500 ini 153 titik fokusnya jadi lebih menyebar hingga ke tepi (akibat ukuran sensor yang lebih kecil dari D5). Buffer kamera D500 luar biasa lega hingga bisa menembak tanpa henti 79 foto RAW dan sudah bisa merekam video 4K. Kamera seharga USD 2000 ini punya dual slot memori SD dan XQD untuk kebutuhan data sangat tinggi.

Kesamaan D5 dan D500 juga terlihat dari rancangan desain bodi dan tombolnya (termasuk joystick), juga sama-sama tidak diberikan lampu kilat built-in, plus ada kesamaan di layar sentuhnya yang berukuran 3,2 inci dengan resolusi tinggi 2,3 juta titik (tapi yang D500 bisa dilipat). Tertarik?

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Canon luncurkan duo DSLR EOS 750D-760D dan mirrorless EOS-M3

Regenerasi rutin DSLR Canon Rebel (atau EOS-xxxD) kembali dilakukan Canon. Merk yang terkenal dengan seri kelipatan 50 seperti 550D, 600D, 650D dan 700D kini hadir dalam  dua varian, yaitu 750D dan 760D. Rupanya  Canon memberi  dua opsi yang menarik karena 750D dirancang sangat mirip dengan filosofi bodi pemula (satu roda, tanpa LCD kecil) sedangkan 760D ditujukan menjadi ‘Super Rebel’ alias kamera pemula yang bodinya dibuat lebih memanjakan fotografer.

eos750d

Salah satu keunggulann EOS 760D adalah dipakainya dua roda kendali untuk berganti setting. Ini dilakukan dengan mengganti tombol 4 arah di belakang menjadi roda putar (yang tetap bisa ditekan 4 arah). Dengan begitu hilang sudah tombol Av di belakang karena pengaturan bukaan lensa dan shutter speed punya roda tersendiri. Ini seperti menjawab kritikan banyak orang pada DSLR pemula (Canon dan Nikon) yang seakan tidak pernah bisa mendapat dua roda dial. Ingat kalau kamera mirrorless di harga yang sama umumnya sudah pakai dua roda kendali.

eos760d_top

Satu hal menarik lagi walau dalam dimensi bodi yang kecil, Canon berusaha bisa membuat layar LCD kecil di bagian atas, sehingga menghindari terlalu sering meninjau LCD utama. LCD ini lebih kecil dibanding 70D apalagi 7D, hanya menampung informasi ekspsour dan baterai. Akibat adanya LCD ini, maka roda dial dan switch daya pindah ke bagian kiri. Untuk EOS 750D memang tidak banyak perubahan bentuk dibanding sebelumnya EOS 700D bahkan sepintas sangat sulit dibedakan antara keduanya.

760d-back

Tapi secara spesifikasi baik EOS 750D dan 760D adalah tonggak sejarah kejutan Canon karena akhirnya bisa ‘move on’ dari sensor dan modul AF lama. Alih-alih tetap memaksakan sensor lama 18 MP dan sensor AF 9 titik, kali ini kedua kamera pemula ini menjadi kamera pertama Canon yang mencicipi sensor baru 24 MP, dengan modul AF 19 titik milik 70D. Kabar yang sangat baik tentunya..

Fitur utama :

  • sensor APS-C 24 MP
  • 19 titik AF
  • hybrid AF (dual pixel  AF)
  • Digic 6
  • ISO 100-12800
  • 1/4000 detik hingga 30 detik, 5 fps
  • layar lipat 3 inci, touchscreen

Update :

di awal tahun 2016 Canon juga meluncurkan EOS 1300D, yang sejatinya adalah 1200D ditambah WiFi saja.

EOS M3

eos-m3

Di waktu yang bersamaan, Canon juga meluncurkan penerus di seri mirrorless yaitu EOS-M3 yang berubah banyak, mulai dari bodi lebih mantap gripnya, berbahan campuran stainless steel, magnesium-alloy dan polikarbonat. EOS-M3 juga mendapat sensor 24 MP, kini dengan hybrid AF 49 titik. Kemampuan tembaknya mencapai 4,2 fps sedangkan layar LCD bisa dilipat ke atas dan sistem layar sentuh juga. Terdapat jendela bidik opsional bila perlu.

canon-eos-m3-mirrorless

 

Update :

di awal tahun 2016 Canon juga meluncurkan EOS M10, mirrorless termurah dari Canon dengan target market wanita dan remaja.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Canon hadirkan EOS 7D dan lensa zoom baru

Kabar kalau Canon akan meneruskan EOS 50D dengan produk baru yang dilengkapi fitur HD movie kini terbukti sudah. Canon hari ini mengumumkan peluncuran EOS 7D (sempat diprediksi akan bernama EOS 60D) sebagai DSLR beresolusi 18 MP dengan fitur HD movie. Bila anda sempat menganggap kalau 7D itu adalah nama DSLR full frame, rupanya anda keliru. Canon (entah mengapa) justru memutuskan untuk memberi nama penerus EOS 50D ini dengan nama satu digit, bukannya melanjutkan tradisi dua digit seperti sebelumnya. Tidak seperti perubahan dari 40D ke 50D yang hanya berubah secara internal, kini perubahan dari 50D ke 7D bisa dibilang adalah perubahan luar dalam, yaitu penyempurnaan dalam hal desain bodi sekaligus spesifikasi teknis kamera. Continue reading Canon hadirkan EOS 7D dan lensa zoom baru

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

DSLR dan shutter count

Tak dapat dipungkiri, kemajuan dunia fotografi belakangan ini begitu pesat semenjak semakin terjangkaunya harga kamera DSLR, bahkan beberapa produk DSLR kelas pemula ada yang mencapai kisaran harga lima jutaan. Dengan membeli kamera DSLR, seseorang akan mendapat kesempatan untuk belajar lebih banyak tentang fotografi, sekaligus  mendapat jaminan akan foto-foto yang berkualitas dan terhindar dari kekecewaan saat memotret memakai ISO tinggi. Semua kenyamanan itu membuat kita asyik terus memotret dan tanpa sadar dalam waktu singkat kita sudah menghasilkan ribuan foto.

Shutter unit (credit : DP review)
Shutter unit (credit : DP review)

Namun tahukah anda kalau setiap jepretan pada kamera DSLR akan tercatat, dinyatakan dalam istilah shutter count. Hitungan ini mencatat sudah berapa kali kamera ini dipakai untuk memotret semenjak pertama kali dibeli. Bagian dari kamera DSLR yang dihitung  sebagai shutter count adalah unit shutter yang secara mekanik akan membuka dan menutup dengan kecepatan tertentu (bisa hingga 1/8000 detik) setiap tombol rana ditekan. Pada kamera non DSLR, shutter bekerja secara elektronik  sehingga lebih awet, namun di DSLR kerjanya secara mekanik sehingga suatu ketika akan rusak. Untuk itu sudah ada estimasi dan pengetesan pabrik akan berapa ‘harapan hidup’ dari shutter unit sebelum akhirnya menjadi rusak atau bermasalah.

DSLR ekonomis telah teruji hingga 50 ribu kali jepret, dan DSLR kelas menengah bisa dipakai tanpa masalah hingga 100 ribu kali memotret. Pada DSLR kelas atas sanggup lolos uji hingga diatas 150 ribu kali jepret tanpa masalah. Namun angka ini bukan jaminan, adakalanya sebelum angka tersebut bisa juga sebuah unit shutter sudah mulai bermasalah. Ada juga yang setelah melewati angka tersebut kamera masih berfungsi dengan normal. Ada beberapa faktor yang bisa mempengaruhi keawetan usia shutter :

  • pemakaian : bila anda tipe fotografer yang sering memakai speed tinggi (diatas 1/1000 detik), shutter pada kamera anda bekerja lebih keras
  • burst : bila anda sering memotret memakai mode continuous shooting, apalagi DSLR jaman sekarang bisa sampai 5 fps (bahkan lebih), shutter anda juga bekerja ekstra keras

Untuk mengetahui shutter count pada kamera DSLR juga bukan hal yang mudah sewa motor jogja. Tidak ada informasi langsung di layar LCD yang menyatakan berapa kali kamera telah dipakai memotret. Bila anda mengandalkan file number yang urut dari sejak pertama membeli (misal DSC0001) anda mungkin akan terkecoh karena file number ini bisa tanpa sengaja ter-reset. Beberapa software image viewer seperti xN view memungkinkan kita melihat data shutter count pada file propertiesnya.  Anda bisa juga menggunakan Opanda atau program lain. Bila anda meng-upload foto ke flickr, anda juga bisa melihat data teknis disana, lengkap dengan shutter count-nya.

Karena shutter count ini ibarat kilometer pada mobil, maka saat kita melakukan jual beli DSLR bekas, nilai inilah yang pertama diperiksa. Bila sudah cukup tinggi, maka harga jual kamera tersebut bisa turun karena shutter kamera  sudah mendekati akhir usia hidupnya. Penggantian shutter unit bisa dilakukan oleh agen resmi dengan biaya sekitar satu juta.

Jadi belajar fotografi memakai DSLR itu di satu sisi amat tepat karena kameranya memang mendukung untuk belajar, tapi di sisi lain juga jangan sampai terlalu lama belajar, bisa-bisa saat anda sudah mahir justru shutter unitnya sudah hampir rusak.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Nissin Di866: lampu kilat alternatif dengan GN besar

Anda yang sedang mencari lampu kilat berdaya besar untuk kamera DSLR kini punya satu lagi pilihan ekonomis yang menarik. Merk Nissin sudah lama jadi produsen lampu kilat alternatif yang kompatibel dengan DSLR merk Canon dan Nikon. Salah satu produknya yang laris saat ini adalah Nissin Di622 yang dijual hanya seharga 1,5 jutaan, padahal untuk mendapat Nikon SB-600 perlu dana setidaknya 2,5 jutaan. Bagi anda yang perlu tenaga dan fitur lebih dari Nissin Di622, kini telah hadir Nissin Di866, produk paling elit dari Nissin yang ditargetkan jadi alternatif dari lampu kilat kelas atas seperti SB-800 atau 580EX.

Nissin Di866 (credit : briefnotes.net)
Nissin Di866 (credit : briefnotes.net)

Nissin Di866 ini punya embel-embel ‘professional’ bukan asal tempel. Pada lampu kilat seharga 3 juta ini sudah dilengkapi dengan dukungan iTTL/E-TTL dan GN 60 (ISO 100 / 105mm). Inilah produk pertama Nissin yang dilengkapi dengan layar LCD (warna!) yang mendukung auto rotation, dan sederet kemampuan lain seperti bouncing, wireless sync, hingga AF beam. Tersedia juga fitur fill-in sub flash (aktif bila di-bouncing) dan fitur external auto-exposure sensor . Ditenagai oleh 4 baterai AA, Di866 ini mampu bertahan hingga 150 kali nyala. Seperti biasa, update firmware bisa dilakukan untuk mendukung model DSLR masa depan.

Tentu saja para profesional akan selalu menjaga kompatibilitas satu merk, namun bagi anda yang ingin memiliki lampu kilat sarat fitur tanpa harus menguras kantong, bisa jadi produk high-end dari Nissin ini layak dijajal. Semestinya dengan fitur baru yang ditawarkan, masalah inkonsistensi eksposure pada Nissin seri sebelumnya sudah tidak akan dijumpai lagi.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

DSLR untuk pemula di 2009, pilih yang mana?

Tahun 2007-2008 menjadi tahun yang menyenangkan bagi fotografer pemula yang membeli DSLR kelas pemula atau entry-level. Betapa tidak, saat itu tercatat banyak produk baru yang harganya terus membuat semua pihak tercengang, karena terus turun hingga menembus angka psikologis (dibawah) lima juta. Seiring krisis ekonomi global di akhir 2008, harga kamera DSLR pun kembali merangkak naik. Kisaran harga DSLR kelas pemula kini berada di kisaran 6 sampai 7 juta, sementara DSLR kelas semi-pro kini berada di atas 10 juta. Hal ini menyebabkan mereka yang belum sempat membeli kamera di tahun lalu menjadi kecewa, karena asumsi harga yang terlanjur ditargetkannya bergeser satu hingga dua juta.

Kini tak perlu lagi menyalahkan masa lalu. Faktanya, saat ini kurs rupiah sekitar 11.000 dan harga DSLR ini sudah stabil di kisaran sekarang. Bila memang sudah ngebet ingin segera memiliki kamera DSLR baru, tak perlu menunggu harga turun lagi yang entah kapan. Berikut daftar DSLR entry level yang bisa dipertimbangkan untuk dibeli pada tahun 2009 ini. Sebagai catatan, di daftar kali ini kami tidak memasukkan DSLR kelas upper entry level yang salah satu cirinya bisa merekam HD movie, karena harga jualnya terlampau tinggi untuk ukuran DSLR murah (contoh : Canon EOS 500D dan Nikon D5000).

Inilah mereka, DSLR murah di tahun 2009, urut dari harga yang terendah :

  1. Sony Alpha A300 (5,7 jutaan)
  2. Canon EOS 1000D (5,8 jutaan)
  3. Pentax K-m (6 jutaan)
  4. Nikon D60 (6,7  jutaan)
  5. Olympus E-620 (7 jutaan)

Kesamaan mendasar

Faktanya, kelima kamera diatas adalah kamera DSLR entry level. Mereka berbagi sensor yang sama (kecuali Olympus dengan sensor agak lebih kecil berformat 4/3), bahkan mereka memakai resolusi yang sama-sama 10 MP (kecuali Olympus dengan 12 MP). Mereka sama-sama dilengkapi dengan lensa kit dalam penjualannya. Soal bodi kamera juga mereka memakai material plastik yang ringan dan kompak, menunjukkan ciri kamera kelas pemula (DSLR kelas pro memakai bodi magnesium alloy). Kinerja shutter secara umum juga sepadan, demikian juga dengan kemampuan ISOnya. Kelimanya juga dijual dengan harga dibawah 7 juta (kelimanya tidak memiliki fitur HD movie recording yang membuat harga DSLR jadi naik). Singkatnya, kelimanya sama-sama baik dan berkualitas, sehingga di awal kami sampaikan saja kalau DSLR manapun yang anda pilih pada dasarnya akan mampu memberikan hasil foto yang baik. Belum puas? Simak lebih jauh plus minus dari kelima kamera DSLR pemula dibawah ini.

Sony Alpha A300 : sarat fitur tak harus mahal

dslr-a300Bahkan Sony A200 pun dijual lebih murah lagi, paket lensa kit hanya 5 juta. Tapi kita tidak sedang membahas A200, kita membahas A300 disini. Sony A300 memakai sistem stabilizer pada bodi, layaknya Pentax dan Olympus. Sony Alpha A300 dan A350 menjadi pendobrak dunia DSLR modern dengan memberi solusi berbeda dalam menyaisati lambatnya auto fokus dalam mode live-view, dengan metoda sensor terpisah sewa bus jogja. Kecepatan fokus ini tidak menjadikan harga jual A300 lantas jadi tinggi, bahkan Sony A300 ini harganya termurah diantara kelima kamera disini. Bisa dibilang kalau Sony menerapkan strategi spec up, price down pada produk DSLR Alpha.

Plus

Inilah DSLR dengan kecepatan fokus tertinggi saat live-view. Bahkan, A300 ini punya layar LCD 2.7 inci yang bisa dilipat. O ya, urusan kinerja, A300 juga handal. Dengan modul AF 9 titik tentu kamera ini cocok untuk urusan jepret cepat seperti candid. Stabilizer pada bodi berarti semua lensa dapat mengalami efek stabilisasi. ISO native juga bisa sampai ISO 3200, meski noisenya tentu saja cukup terasa. Kemampuan shutternya standar dengan 3 fps unlimited, dan tersedia wireless flash commander untuk kreatifitas fotografi dengan lampu kilat. Bahkan menurut kami plus-plus ini semakin lengkap dengan harga jualnya yang juga wajar, bahkan cenderung murah, cukup dengan 5,7 juta plus lensa kit 18-70mm yang mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari.

Minus

Bila anda berharap live-view di A300 ini cepat, memang betul adanya. Tapi sensor terpisah membuat live-view ini tidak presisi, tidak dapat menampilkan histogram, dan tidak bisa di-enlarge untuk manual fokus assist. Sony juga masih berkutat mencari metoda tebaik untuk membuat foto JPEG dari Alpha series ini supaya bisa menyamai hasil JPEG kamera lain. Bila anda sering memotret JPEG, cobalah bereksperimen dengan setting JPEG yang paling baik menurut anda.

Dukungan lensa

Pada dasarnya dukungan lensa Sony SAL-DT dari Sony cukup lengkap dan berkualitas. Masalahnya di tanah air mungkin stoknya belum banyak, ditambah lagi tidak banyak lensa alternatif yang mendukung mount dari Sony. Bila anda cukup puas dengan lensa kit DT 18-70mm, sementara optimalkan saja dulu lensa tersebut. Bila ingin mencari lensa tele, pertimbangkan DT 75-300mm dan untuk widenya bisa coba DT 11-18mm.

Penerus Sony A300 di 2009

Sony sudah membuat produk pengganti A300 yang bernama A330, meski tidak ada perubahan signifikan dari upgrade tersebut. Oleh karena itu selama stoknya masih ada, kami masih merekomendasikan A300 saja.

Canon EOS 1000D : versi hemat dari EOS 450D

canon-eos-1000dEntah mengapa waktu itu Canon meluncurkan EOS 1000D (Rebel Xs) disaat penjualan EOS 450D sedang bagus-bagusnya. Tapi kini harga 450D sudah hampir sejajar dengan kamera DSLR semi-pro lawas seperti Nikon D80 sehingga 1000D ini jadi lumayan dicari oleh para budget-minded, apalagi 400D kini sudah semakin sulit dicari. EOS 1000D diluncurkan tengah tahun 2008 dengan paket lensa kit 18-55mm yang sudah dilengkapi IS. kamera ini memakai sensor CMOS 10 MP, dengan 7 titik AF dan mampu mencapai ISO 1600. Cukup mengejutkan saat mengetahui bahwa 1000D sudah dilengkapi dengan live-view, meski masih kalah mantap dari 450D. Kinerja shutter cukup standar dengan 3 fps, dan layar LCD juga standar dengan 2,5 inci.

Plus

Live view jadi andalan 1000D, beserta segala kelebihan lain dari Canon seperti kinerja noise reduction yang baik dan tone yang karakternya juga baik. EOS 1000D pun bisa dipasangkan dengan berbagai lensa EF, EF-S ataupun lensa alternatif merk lain. Kami tempatkan 7 titik AF sebagai nilai plus kamera ini, meski sebenarnya ini adalah down-spec bila dibanding dengan 400D yang punya 9 titik AF. O ya, EOS 1000D juga memakai sistem anti debu yang serupa dengan yang dipakai di 450D.

Minus

Sebagian fotografer tidak bisa menerima kenyataan kalau ada kamera DSLR tidak dilengkapi dengan spot metering, karena fitur ini penting untuk dipakai di kala kondisi pencahayaan amat sulit. Faktanya, 1000D tidak punya spot metering. Apakah ketiadaan ini membuat anda merasa keberatan atau tidak, terserah anda. Kekurangan lainnya cukup mendasar, yaitu bodi kamera ini yang terasa kurang nyaman karena terbalut plastik tanpa lapisan karet layaknya 400D atau 450D.

Dukungan lensa

Tidak perlu kuatir akan dukungan lensa dari Canon. Untuk teman lensa kit, bisa dipilih lensa tele EF-S 55-250mm dan lensa widenya bisa menjajal EF-S 10-22mm. Bila bosan dengan lensa kit dan ingin menjajal lensa kit yang terbaik dari Canon, cobalah EF-S 17-85mm USM.

Penerus EOS 1000D di 2009

Belum ada, setidaknya sampai tulisan ini dibuat Juli 2009 ini. Rumornya, Canon akan membuat penerus 1000D yang akan bernama EOS 2000D dengan fitur HD movie. Sudah bisa diprediksi, harga jual 2000D akan melonjak jauh sehingga EOS 1000D bagaimana pun masih lebih menarik dalam hal harga jual.

Pentax K-m : versi hemat dari K200D

pentax-k-mDi daftar ketiga ini kami sajikan kamera yang tergolong mungil yaitu Pentax K-m (K2000). Rupanya Pentax terinspirasi oleh Canon saat membuat 1000D, karena Pentax juga mengalami hal yang sama. Produk andalannya di kelas entry level, K200D rupanya terlalu mahal dan membuat Pentax terpaksa meluncurkan satu lagi produk yang lebih murah dari K200D ini. Alhasil lahirlah Pentax K-m, dengan ciri tidak lagi memakai bodi weather sealed, dan membuat lensa kit baru yang lebih kecil dan ringan. Pentax memakai stabilizer pada sensor CCD 10 MPnya, sehingga artinya semua lensa yang dipasang di bodi Pentax akan merasakan efek stabilisasi hingga 3 stop. Versi hemat artinya tentu ada aspek yang dikurangi, dalam hal ini jumlah titik AF pada Pentax K-m ini hanya 5 titik saja (dibanding 11 titik pada K200D). Tapi 5 titik ini masih lumayan karena masih fleksibel saat kamera dipakai memotret vertikal atau horizontal. Soal ISO pun Pentax ini mampu mencapai ISO 3200 yang cukup mengagumkan untuk kamera sekelas ini. Inilah satu-satunya DSLR dengan tenaga 4 buah baterai AA.

Plus

Stabilizer pada bodi berarti semua lensa dapat mengalami efek stabilisasi. ISO native juga bisa sampai ISO 3200, meski noisenya tentu saja cukup terasa. Secara umum kinerja dan performa menyamai K200D, bahkan burst-nya mengalahkan K200D dengan 3.5 fps yang mana amat baik untuk kamera semurah ini. Layar LCD pun tampak lega dengan ukuran 2,7 inci.

Minus

Saat pesaingnya EOS 100D menyertakan fitur live-view, Pentax K-m ini hadir tanpa fitur tersebut. Selain itu indikator titik AF tidak ditampilkan di viewfinder layaknya DSLR lain. Belum ada info apakah ada sistem anti debu di Pentax K-m ini.  Selain kedua hal diatas, praktis tidak ada hal negatif yang dijumpai di kamera ini, bahkan sejujurnya kamera ini semestinya dapat mengungguli EOS 1000D seandainya memiliki live-view.

Dukungan lensa

Belum ada info apakah lensa kit DA-L 18-55mm ini telah memakai motor SDM atau belum. Tapi lensa Pentax terkenal akan kualitas dan harganya. Bila perlu lensa tele, bisa pertimbangkan DA 50-200mm dan untuk widenya bisa mencoba DA 12-24mm. Bila tidak puas dengan lensa kitnya, jajal saja lensa sapu jagad dengan rentang ekstra panjang, DA 18-250mm. Sayangnya lensa alternatif seperti Sigma/Tamron/Tokina jarang punya stok dengan mount KAF Pentax.

Nikon D60 : kualitas di dalam kesederhanaan

D60

Adalah Nikon D60, si pengganti D40 yang kini mengusung sensor CCD beresolusi 10 MP, dibekali lensa kit 18-55mm VR, fitur anti-debu, active-D lighting dan Expeed engine Nikon. Kamera ini mampu mencapai ISO 1600 (dan ISO setara 3200 bila dinaikkan satu tingkat dari ISO 1600), dengan kecepatan burst 3 fps. Modul AF memakai 3 titik AF saja, sangat basic, namun tersedia mode continuous servo untuk mengunci fokus benda yang bergerak. Inilah kamera yang tidak sarat fitur berlimpah namun tetap menjaga kualitas khas Nikon dalam kesederhanaannya.

Plus

Apa sih yang jadi kekuatan utama dari DSLR termurah dari Nikon ini?  Faktanya, anda tidak akan menemukan fitur modern seperti live-view di D60. Tapi mengapa masih banyak orang yang terus mengincar dan membeli D60 ini? Bisa jadi alasannya cukup subjektif,  karena yang jadi andalan Nikon D60 pun adalah fitur yang pada dasarnya ada di semua kamera DSLR, namun diyakini pada D60 fitur tersebut lebih baik dan efektif. Diantaranya : metering yang handal, Auto ISO yang efektif, noise reduction yang tepat, karakter warna / tone yang consumer friendly, ergonomi dan tata lentak tombol yang nyaman, menu yang mudah dipahami, hingga white balance yang jarang meleset. Anda boleh tidak sependapat, kami katakan sekali lagi, ini subjektif sekali. Jangan sampai ada anggapan kamera lain meteringnya jelek, misalnya. Tapi dapat kami katakan kalau Nikon membuat setiap kameranya dengan cermat, termasuk D60 ini yang mampu memberi hasil foto yang baik, dan pemakai D60 dapat ikut merasakan seperti apa rasanya memakai dan menikmati hasil foto dari DSLR Nikon. Bila anda ‘brand minded’, dan memang meyakini kalau hasil foto dari Nikon memang mantap, pilih saja D60 tanpa harus memperdulikan kekurangan dari D60 di bawah ini.

Minus

Ada dua hal yang menjadi kekurangan utama D60 : ketiadaan motor AF di bodi dan jumlah titik AF yang hanya tiga titik. Sejumlah Nikon mania mengeluhkan lensa-lensa lawasnya (Nikon AF atauNikon AF-D) tidak bisa auto fokus di D60, sementara pecinta candid dan sport photography mengeluhkan titik AF yang terlalu sedikit pada D60. Awalnya kami tidak melihat ketiadaan live-view adalah suatu kekurangan fatal, tapi mengingat kompetitor sudah ada yang memakai live-view, bolehlah kami sebut D60 ini semestinya juga dilengkapi dengan live-view. Buat yang senang memotret bracketing untuk foto HDR juga akan kecewa karena fitur yang amat standar ini bahkan tidak dijumpai di D60. Nikon D60 pun kurang fleksibel karena ketiadaan dukungan wireless flash ataupun asesori resmi battery grip.

Dukungan lensa

Tidak dipungkiri lagi, dukungan lensa Nikon selalu jadi alasan utama mengapa orang memilih DSLR Nikon. Betul kalau D60 tidak bisa auto fokus di lensa Nikon lama, tapi kini jajaran lensa Nikon AF-S baru sudah semakin banyak. Lensa kit D60 pun sudah amat baik plus sudah ada VRnya. Bila ingin menambah lensa lagi, pertimbangkan AF-S 55-200mm untuk telenya, dan AF-S 12-24mm untuk widenya. Bila bosan memakai lensa kit, tersedia lensa lain pengganti lensa kit yang bagus dan terjangkau seperti AF-S 18-135mm, AF-S 18-105mm atau AF-S 16-85mm, kesemuanya lensa DX. (Catatan : lensa Nikon non-DX juga bisa dipakai, meski ukurannya lebih besar dari lensa DX).

Penerus D60 di 2009 (update 30 Juli 2009)

Nikon D3000 dengan 11 titik AF dan LCD berukuran 3 inci. Baik D3000 dan D60 masih sama-sama memakai sensor CCD 10 MP, tanpa live-view dan burst 3 fps. Bila D3000 ini sudah tersedia di pasaran, maka D60 ini secara alami akan diskontinu.

Olympus E620 : fitur dan kinerja mendekati kamera DSLR semi-pro

oly-e520Penerus E520 ini masih tergolong DSLR entry-level, meski sebenarnya secara fitur sudah mendekati DSLR semi-pro.  Terinspirasi dari sukses E-30, Olympus membuat kejutan dengan perubahan radikal pada E620 dengan banyak penyempurnaan yang membuatnya mampu bersaing dengan DSLR entry-level lain. Tersedia paket dengan lensa kit 14-42mm (di beberapa tempat dijual dengan paket dobel lens kit 40-150mm), dengan sensor NMOS 12 MP beraspek rasio 4 : 3 dan crop factor 2x, maka lensa kit ini menjadi setara dengan 28-85mm. E620 telah dilengkapi layar LCD 2,7 inci yang bisa dilipat, live-view, anti debu, dan stabilizer pada bodinya. So, meski E620 di daftar ini menjadi yang termahal (dan terbaru), namun dengan segala kelebihan fiturnya memang layak untuk menjadi yang terbaik di kelas DSLR pemula.

Plus

Live-view dengan face detection, 7 titik AF (sebelumnya 3 titik AF di E520), anti debu SSWM, stabilizer pada bodi (4 stop) sehingga lensa yang terpasang mengalami efek stabilisasi, flash wireless untuk kreativitas lampu kilat, desain bodi tampak kokoh dan tidak murahan, layar LCD 2,7 inci yang bisa dilipat, shadow adjustment technology, sebagian tombolnya bisa menyala dalam gelap, 4 fps burst mode yang cepat, dan mendukung dua macam memory card (CF dan xD).

Minus

Gambar lebih noise di ISO tinggi dibanding kompetitor (karena ukuran sensor yang lebih kecil dari APS-C), cenderung mengalami highlight clipping, viewfinder lebih kecil dari pesaingnya, tata letak tombol tersebar di berbagai sisi bodi kamera.

Dukungan lensa

Terdapat beberapa lensa Zuiko yang berkualitas, dengan asumsi crop factor 2x dari sensor Olympus, membuat lensa tele akan mendapat keuntungan lebih dimana fokal 200mm bisa menjadi 400mm, misalnya. Sebagai teman dari lensa kit, bisa dipertimbangkan Zuiko ED 40-150mm dan untuk lensa widenya bisa memakai ED 9-18mm.

Kesimpulan

DSLR entry-level menjadi produk primadona mereka yang punya anggaran terbatas ataupun mereka yang baru menerjuni dunia fotografi digital. Dengan dana 5 sampai 7 juta, sudah bisa  didapat kamera DSLR yang cukup lengkap, berkualitas tinggi dan berkinerja lumayan dan memiliki paket lensa kit yang memadai untuk mulai belajar memotret. Meski ada juga DSLR entry level yang punya harga 8 jutaan (seperti EOS 450D/500D, Pentax K200D atau Nikon D5000) namun menurut kami dengan dana 7 juta atau kurang kita sudah bisa memiliki DSLR kelas pemula yang baik, dan dana 8 juta sebetulnya lebih baik dipakai untuk membeli DSLR semi-pro bodi only semisal Nikon D80 atau Canon 40D.

Dari daftar 5 kamera DSLR pemula di atas, yang bisa disimpulkan adalah :

  • harga jual : termahal Olympus E-620, termurah Sony A300
  • jumlah titik AF : terbanyak  Sony A300 (9 titik), paling sedikit Nikon D60 (3 titik)
  • kecepatan burst : tercepat Olympus E-620 (4 fps), Pentax K-m (3,5 fps)
  • sanggup hingga ISO 3200 : Olympus E620, Pentax K-m, Sony A300
  • wireless flash commander : Sony A300 dan Olympus E620
  • stabilizer di bodi : Olumpus E620 dan Pentax K-m
  • baterai : Pentax K-m pakai 4 x AA, lainnya baterai lithium
  • kesamaan umum : shutter max (1/4000 detik), viewfinder coverage (0.95-0.96 %), flash range (11-13m), resolusi LCD (230 ribu piksel) khusus Olympus E620 LCD bisa dilipat.
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

DSLR Olympus E-620, lengkap minus fitur movie

Olympus baru saja meluncurkan penerus dari E-520 yang bernama E-620 dengan resolusi 12 MP. Olympus E-620 menjadi produk DSLR terbaru dari Olympus yang belum lama berselang juga telah meluncurkan E-30 yang masuk kelas menengah. Baik E-620 maupun E-30 merupakan kamera DSLR Olympus yang dianggap paling sukses dalam implementasi teknologi dan dalam hal kelengkapan fitur. Bahkan E-620 tidak hanya sekedar menjadi penerus E-520, namun jauh memperbaiki kekurangan yang ada di E-520.

olympus-e-620b

Berikut adalah spesifikasi dasar dari Olympus E-620 :

  • sensor live-MOS 12 MP (2x crop factor)
  • IS terintegrasi pada bodi hingga 4 stop
  • 7 titik AF (5 cross type)
  • LCD 2,7 inci yang bisa dilipat
  • live view, contrast detect AF 11 titik
  • face detection
  • anti debu SSWF
  • 4 fps
  • wireless flash hingga 3 set
  • art filter
  • plus lensa kit 14-42mm dijual 8 jutaan

Adapun perbedaan yang signifikan bila dibanding dengan E-520 :

  • resolusi : naik 2 MP
  • bodi : bukan sekedar plastik, tapi Glass fibre reinforced plastic
  • titik AF : tidak lagi memakai 3 titik, tapi 7 titik AF
  • speed : 4 fps dibanding 3,5 fps pada E-520
  • ISO : bisa ISO 3200 (di E-520 cuma ISO 1600)
  • finder : prisma (bukan mirror seperti E-520)
  • tersedia asesori battery grip (pada E-520 tidak ada)

Kamera DSLR kelas entry level terbaru dari Olympus ini punya fitur amat lengkap bila dibanding dengan pesaing sekelasnya, hanya saja minus fitur modern yang diusung oleh Nikon D90 yaitu movie mode. Tapi sejujurnya, tanpa fitur movie pun, E-620 ini sudah amat mencukupi untuk dipakai oleh pemula bahkan hingga para profesional sekalipun.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..