Canon EOS 90D dan EOS M6 mk II diluncurkan

Canon mengumumkan kehadiran dua kamera baru, yaitu satu adalah produk DSLR Canon EOS 90D (penerus EOS 80D) dan satu lagi adalah produk dari mirrorless APS-C yaitu EOS M6 mk II.

Canon EOS 90D hadir sebagai produk yang mengkawinkan dua segmen DSLR APS-C yaitu segmen semi-pro 80D (yang populer untuk foto dan video) dan segmen pro 7D (populer untuk jurnalis dan sport). Jadi konsep EOS 90D adalah tetap memakai layar lipat putar seperti 80D tapi punya kekuatan bodi dan kecepatan yang mendekati seri pro 7D.

Spesifikasi EOS 90D terbilang cukup menarik dengan sensor APS-C 32 MP yang bisa merekam video 4K, memiliki 45 titik AF, ada joystick, bisa memotret sampai 10 fps, prosesor Digic 8 terbaru meski sayangnya hanya memiliki satu Slot SD card. Dari fisik bodinya meski masih sepintas mirip dengan 80D, pada EOS 90D ini tombol dan pengaturannya lebih banyak, weathersealed lebih ditingkatkan dan bisa menggunakan shutter elektronik. Continue reading Canon EOS 90D dan EOS M6 mk II diluncurkan

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Kamera mirrorless baru dari Canon : EOS M5

Canon baru saja merilis kamera mirrorless generasi ke-empat yang bukan diberi nama EOS M4 (karena Jepang tidak suka angka 4?) melainkan EOS M5. Inilah kamera mirrorless Canon yang dirancang jadi produk untuk enthusiast (bukan sekedar snapshooter), dengan aneka kendali eksternal (roda, tombol, layar sentuh) dan jendela bidik (akhirnya..)

eosm5big-728x403

Dilengkapi sensor sama dengan EOS 80D, yaitu APS-C 24 MP dengan teknologi dual pixel AF, kemampuan  auto fokusnya diklaim sama dengan 80D di mode live view. Kinerja secara umum juga membaik dengan prosesor baru, bisa mencapai 7 foto per detik dan ISO up to 25.600. Dari sisi videografi tidak ada yang spesial, tetap dengan 1080p saja tapii diberikan fitur bonus penstabil getar digital.

eosm-hr-eos-m5-efm15-3q-backlcd-hires

Dibanding EOS M3 yang tidak pakai jendela bidik, maka EOS M5 tentu lebih disukai, walau harga juga terpaut 3 jutaan untuk berbagai pembaruan yang ada. Bila EOS M3 layarnya bisa dilipat ke atas untuk selfie, maka di M5 penyuka selfie masih bisa lipat layar tapi ke bawah (karena kalau ke atas akan terhalang jendela bidik). Jendela bidik di M5 termasuk baik dengan 2,3 juta titik yang detail, dan saat melihat jendela bidik kita bisa jadikan layar sebagai touch pad untuk memilih titik fokus.

ef-m-18-150mm-f3-5-6-3-is-stm-graphite-side-675x450

Canon juga mengumumkan lensa mirrorless baru yaitu 18-150mm f/3.5-6.3 IS STM dengan  kemampuan stabilitas di klaim sampai 4 stop. Dipasaran akan ditawarkan EOS M5 bodi saja (9-10 jutaan), kit 15-45mm (11 jutaan) atau kit 18-150mm (mungkin 15 jutaan). Memang pilihan lensa EOS M masih belum banyak (lensa native dengan kode EF-M) tapi dengan adapter maka lensa EF dan  EF-S pada dasarnya bisa dipakai, khususnya lensa dengan kode STM akaan  lebih enak buat auto fokus saat rekam video.

Beberapa pilihan lensa EF-M saat ini  :

  • fix 22mm f/2
  • wide 11-22mm
  • tele 55-200mm
  • makro 28mm f/3.5

diharapkan Canon segera merilis lensa :

  • semi profesional 16-50mm f/2.8, 50-150mm f/4
  • aneka lensa fix : 35mm, fix 50mm, 85mm, makro 100mm
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Yang perlu diketahui tentang lensa Canon STM

Sejak hadirnya kamera DSLR Canon terbaru seperti 700D, 70D dan 7D mark II, kita semakin sering dengar tentang lensa STM. Sebelumnya mungkin kita hanya tahu tentang lensa USM yang identik dengan auto fokus cepat, lalu apa lagi lensa STM ini? Ada dua macam lensa Canon dengan STM, yaitu lensa baru (misal EF-S 40mm f/2.8 STM) dan juga lensa eksisting yang dibuat versi STM, misal lensa 18-55mm, 55-250mm dsb. Apa tujuan Canon untuk semua ini? Admin mencoba menjelaskannya untuk anda.

Pertama kita bedah singkatan STM dulu yaitu Stepper Motor, sebuah teknik putaran dengan motor khusus untuk auto fokus. Berbeda dengan USM (Ultra Sonic Motor), STM tidak mengedepankan kecepatan fokus untuk fotografi, tapi lebih menonjolkan kemulusan transisi auto fokus saat live view dan khususnya saat rekam video. Selain itu lensa STM dirancang silent dalam arti tidak ada suara perputaran motor fokus yang terekam saat sedang rekam video. Maka itu di web Canon mereka menyebut STM dengan Smooth Transistion for Motion. Jadi lensa STM bukan untuk kecepatan fokus, untuk foto aksi cepat anda tetap perlu lensa USM.

Canon-EF-50mm-F1.8-STM-lens

Sejauh ini ada beberapa lensa yang sudah berkode STM, diantaranya :

  • lensa kit (18-55mm, 18-135mm, 24-105mm)
  • lensa wide/tele zoom (10-18mm, 55-250mm)
  • lensa fix (24mm, 40mm, 50mm)

Apa perbedaan fisik utama lensa STM dengan lensa DSLR lain pada umumnya? Ada dua ciri utama, yaitu lensa STM manual fokusnya adalah elektronik. Jadi apa yg kita putar di lensa bukanlah secara langsung memutar elemen fokus, jadi untuk itu kamera harus dalam kondisi on. Bagi yang tidak terbiasa manual fokus secara elektornik mungkin akan merasa aneh, apalagi yang sudah terbiasa manual fokus dengan lensa lama pasti rasanya beda sekali. Kedua, karena manual fokusnya elektronik, pasti tidak ada jendela informasi jarak fokus di lensa. Jadi sulit (bahkan mustahil) untuk memotret dengan panduan tabel hiperfokal dengan lensa STM, juga sulit mengatur fokus manual ke infinity seperti saat mau memotret bintang di langit.

Apakah kita memerlukan lensa STM?

Anda pengguna DSLR Canon generasi lama, atau DSLR Canon full frame, tidak ada bedanya saat memasang lensa STM atau non STM di kamera anda. Lensa STM yang dipasang di kamera anda akan tetap berfungsi normal, tapi tentu anda kehilangan kemudahan manual fokus yang sesungguhnya. Tapi anda yang pakai DSLR Canon 700D-750D/760D-70D-7D mk II maka dengan lensa STM akan lebih mulus auto fokusnya saat live view dan rekam video. Apalagi dengan kemudahan layar sentuh, kita tinggal sentuh di layar dan kamera akan set fokus ke obyek yang kita sentuh itu. Sebagai info, pemilik DSLR Canon 700D-750D/760D-70D-7D mk II juga tetap bisa live view dan rekam video dengan lensa non STM, tapi auto fokusnya akan kurang mulus transisi-nya dan (tergantung lensanya) maka suara motor auto fokus bisa jadi ikut terekam dalam rekaman video.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Canon umumkan kamera DSLR EOS 700D dan EOS 100D

Kamera DSLR seri Rebel dari Canon kini kembali diupdate dengan produk EOS 700D (Rebel T5i). Selain itu Canon juga meluncurkan satu DSLR mungil bernama EOS 100D (Rebel SL1) yang menjadi kamera DSLR terkecil yang pernah ada. Uniknya, EOS 700D ini tidak ada bedanya dengan 650D dalam hal fitur, hanya berbeda di lensa kit yang kali ini sudah memakai teknologi STM (stepper motor). Kita simak keduanya yuk..

Canon EOS 700D (Rebel T5i)

Kamera EOS 700D hadir sebagai produk terbaru di segmen pemula atas, dengan fitur yang lengkap tapi tetap dikemas dalam bodi yang kecil dan tidak terlalu banyak kendali eksternal. Sepintas 700D persis sama dengan pendahulunya, EOS 650D. Yang membedakan hanya sedikit fitur effect disaat live-view saja. Buat anda yang berencana ambil 650D, ada baiknya menunggu hadirnya 700D ini saja, karena lensa kitnya lebih baik dengan motor STM. Dengan lensa kit baru ini, saat merekam video ataupun saat live view, kinerja autofokus kontinu diklaim lebih cepat dan suara motornya tidak terekam di hasil video.

700d

700d-back

Fitur utama :

  • lensa kit EF-S 18-55mm f/3.5-5.6 IS STM
  • 18MP APS-C CMOS Sensor
  • DIGIC 5 Image Processor
  • LCD lipat 3.0? Clear View II jenis layar sentuh
  • ISO 100-12800, bisa dipaksa ke 25600
  • Full HD 1080 dengan  Continuous AF
  • 5 fps Continuous Shooting
  • 9-Point AF, semuanya Cross-Type

Canon EOS 100D (Rebel SL1)

Sadar akan gencarnya serangan dari kubu mirrorless, membuat Canon merasa perlu membuat kamera DSLR dengan ukuran yang menyerupai kamera mirrorless. Akhirnya lahirlah seri baru dari DSLR EOS yang bernama 100D, awas jangan tertukar penamaannya dengan 1000D di masa lalu. Walau kecil, tapi 100D ini tetaplah kamera DSLR yang punya cermin, bisa berganti lensa, sensor APS-C dan tentunya ada jendela bidik optik. Hanya saja ukuran yang kecil membuat penempatan tombol-tombol menjadi lebih rapat dan mengecil.

100d

100d-back

Fitur utama :

  • 18MP APS-C CMOS Sensor
  • DIGIC 5 Image Processor
  • LCD 3 inci Clear View II, layar sentuh
  • ISO 100-12800, bisa dipaksa ke 25600
  • Full HD 1080 dengan  Continuous AF
  • 4 fps Continuous Shooting
  • 9-Point AF, semuanya Cross-Type

Perbandingan ukuran keduanya :

100d-vs-700d

Hadirnya kedua kamera ini sempat mendapat kritik karena Canon terkesan sudah mentok, antara harus terus membuat kamera baru dan bingung mau menambah fitur apalagi. Kita tahu EOS 600D saja sudah sangat baik dari fitur, maka itu saat 650D hadir tidak banyak perubahan disana. Kini 700D secara mengejutkan tidak menambah fitur apapun bahkan Canon masih nyaman memakai sensor yang sama dengan yang dipakai sejak era EOS 550D. Lalu 100D sendiri juga sempat dipertanyakan target marketnya, karena ukuran bodi yang kecil akan menyulitkan saat dipasang lensa besar. Tapi apapun itu, Canon sudah mencatat sejarah dengan membuat kamera DSLR terkecil di dunia dengan 100D-nya sekaligus menjaga konsistensi penamaan EOS Rebel dengan menghadirkan 700D sebagai penerus 650D.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Canon kejar Nikon di kelas budget Full Frame dengan EOS 6D

Perang DSLR Full Frame ‘murah’ telah dimulai. Bandrol harga yang diumumkan Nikon D600 di angka 21 juta rupiah, juga dipakai oleh Canon saat merilis EOS 6D sebagai kamera DSLR Full Frame untuk semua kalangan. Kamera EOS 6D diumumkan hanya 4 hari setelah Nikon mengumumkan D600 sebagai kamera DSLR Full Frame terkecil, dan kini EOS 6D (770 gram) bisa dibuat lebih kecil dan ringan dari D600 (850 gram). Kita simak yuk kamera yang akan jadi impian para penghobi fotografi ini. O ya, jangan bingung dengan penamaan Canon seperti EOS 5D, 6D atau 7D yang tidak berurutan produksinya, karena dari dulu Canon memang biasa membuat bingung :)

6da

Canon EOS 6D boleh dibilang adalah versi simpel dari EOS 5D mark III (beberapa fitur sama, tapi beberapa lagi dikurangi). Persis sama seperti yang terjadi pada kisah Nikon D600 dengan D800. Tujuannya jelas, untuk menekan harganya. Tapi sebenarnya fitur dan spesifikasi EOS 6D sudah cukup mengesankan, seperti :

  • sensor Full Frame 20 MP
  • prosesor Digic 5+
  • ISO normal 100-25600 (masih bisa diekspansi lho)
  • 4,5 fps burst
  • 11 titik AF (cuma 1 di tengah yang cross type)
  • fitur video lengkap, all-I frame
  • bonus WiFi dan GPS tanpa modul tambahan

6db

EOS 6D bodinya juga termasuk mantap dalam hal ergonomi dan tata letak tombol, minus joystick yang ditemui di 5D mark III atau tombol M-Fn di EOS 7D. Desain umum sepintas mirip dengan EOS 60D meski layarnya tidak bisa dilipat. EOS 6D ini bodinya berbalut magnesium alloy namun bagian atasnya plastik (untuk sinyal Wifi dan GPS bisa menembus casing). Tidak seperti Nikon D600, hanya ada satu slot memori SD di kamera ini. Seperti kamera full frame lainnya, tidak ada flash di 6D, anda perlu membeli speedlite eksternal untuk memakai flash. Tanpa flash built-in, tidak ada juga AF assist dengan  cahaya flash strobe. Satu hal lagi, lensa EF-S tidak bisa digunakan di EOS 6D, ataupun kamera DSLR Canon full frame lainnya.

Singkatnya, kamera ini memang sudah sarat fitur dan menjanjikan hasil foto yang bagus, tapi tidak ada sesuatu yang istimewa dalam spesifikasinya. Canon sepertinya ingin agak konservatif kali ini, khususnya dalam menjaga penjualan kamera kelas atasnya yaitu 5D mark III.

Lalu untuk siapa kamera ini (dan Nikon D600)? Menurut analisa dari Enche Tjin di tulisan ini, Canon dan Nikon perlahan akan menggiring fansnya untuk beralih dari APS-C ke Full Frame. DSLR APS-C mahal seperti EOS 7D hasil fotonya sudah maksimal, maka kemungkinan tidak lagi ada penerusnya. DSLR Canon di masa mendatang mungkin hanya ada dua : APS-C (Rebel series/pemula) dan full frame (tiga level : basic – mid – high).

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Produk ‘best buy’ rekomendasi kami

Kamera digital semakin murah, tapi fiturnya semakin canggih. Tapi kebanyakan  kamera canggih itu  harga mahal, dan kamera murah akan cenderung murahan. Buat anda yang bosan dengan kamera lama yang terlihat jadul, atau memang baru ingin beli kamera, kami susun daftar produk yang menurut kami adalah best buy. Pertimbangan kami adalah produk yang punya price vs performance yang berimbang, dan bisa saja produk yang kami ulas disini justru dibuat di tahun lalu (seperti biasa, produk lama harganya cenderung turun). Tidak ada titipan sponsor atau dukungan pada merk tertentu di artikel ini, murni sekedar panduan untuk pembaca saja dan kami tidak mendapat imbalan dari pihak manapun.

Kamera DSLR pemula ‘best buy’

550d

Canon EOS 550D jelas menjadi produk best buy di kelas DSLR pemula karena harga kamera buatan 2010 ini sekarang dijual 6 juta sudah termasuk lensa kit EF-S 18-55mm IS. Harganya masih jauh dibawah Nikon D5100 yang dikisaran 7 jutaan, dan berbeda 1 juta dengan EOS 1100D yang dijual 5 juta rupiah. Dengan EOS 550D, anda sudah bisa memiliki kamera DSLR pemula 18 MP yang fiturnya lengkap, mudah digunakan dan hasilnya bagus. Canon 550D pun sudah oke buat bikin klip video yang serius berkat pengaturan manual eksposur saat merekam video dan resolusi video 1080p 30 fps.

Kamera DSLR semi-profesional ‘best buy’

60d

Canon lagi-lagi jadi pilihan kami untuk segmen DSLR kelas menengah dengan produk Canon EOS 60D karena harganya ‘hanya’ 7,7 jutaan tanpa lensa. Bagi yang mencari kamera setingkat diatas kelas pemula, maka EOS 60D sanggup meladeni skill anda berkat kecepatan, tombol akses langsung dan layar LCD lipatnya. Kamera sekelasnya dengan ciri yang sama seperti viewfinder prisma, top status LCD dan dual dial biasanya dijual di kisaran 9 jutaan. Selain itu, dari 9 titik fokus yang dimilikinya, semuanya sudah cross type yang lebih sensitif.

Kamera Mirrorless saku ‘best buy’

lumix-dmc-gf3

Kamera mirrorless dengan lensa yang bisa dilepas, berukuran mungil namun sensornya besar, bakal jadi tren kamera mendatang. Sayangnya saat ini harganya masih mahal, selain itu pilihan lensanya masih sedikit. Bila anda mencari kamera ‘best buy’ di kelas mirrorless, kami pilihkan Panasonic Lumix GF3 dengan lensa 14-42mm (setara 28-84mm) yang dijual dibawah 6 juta rupiah. Kamera ini lebih murah dari Olympus Pen Mini ataupun Sony NEX -C3 namun dengan fitur yang kurang lebih sama. Lumix GF3 mungil tapi mendukung semua pengaturan manual (termasuk layar sentuh), sensornya besar (Four Thirds) 12 MP dan bisa full HD movie.

Kamera ‘main-main’ superzoom ‘best buy’

fuji-s4000

Kenapa kami bilang kamera main-main? Karena orang cenderung memakai kamera superzoom (kamera murah yang lensa zoomnya teramat panjang) bukan untuk kebutuhan serius tapi untuk iseng, mencoba membayangkan kameranya seperti teropong yang bisa melihat benda yang jaraknya sangat jauh, lalu memotretnya. hasil foto dengan zoom panjang bakal jelek, soft dan mudah blur bila kita tidak stabil saat memotret. Tapi buat mereka yang perlu kamera dengan lensa sampai 30x zoom, tidak usah bayar mahal karena ada Fuji Finepix S4000 dengan sensor CCD 14 MP dan lensa 24-720mm yang dijual sekitar 2,2 juta saja. Kamera ini bahkan tampak seperti kamera serius, lengkap dengan kendali manual PASM dan HD video 720p. Untuk sekedar have fun dan tampak keren, tak harus mahal kan?

Kamera saku serius ‘best buy’

nikon-p300

Tidak semua orang mau memakai kamera saku yang biasa-biasa saja. Mereka bisa jadi tengah mencari kamera serius yang bisa dimasukkan ke saku. Kamera serius artinya punya pengaturan yang lengkap, fitur manual dan biasanya harganya mahal. Sebutlah diantaranya Canon PowerShot G12, Lumix LX-5, atau Canon S100 yang dijual antara 3-4 jutaan. Namun Nikon punya andalan dengan Nikon Coolpix P300 yang dijual 2,2 juta saja. Kamera dengan lensa yang bisa membuka sampai f/1.8 pada 24mm ini juga bisa memotret sampai 8 gambar per detik dalam resolusi penuh 12 MP. Kami nobatkan Nikon P300 sebagai kamera saku serius ‘best buy’ untuk awal tahun ini.

Kamera saku biasa ‘best buy’

ixus-220

Kamera saku lawas tapi cukup layak dibeli adalah Canon Ixus 220 HS dengan sensor CMOS 12 MP yang bertipe High Sensitivity. Kamera mungil ini dijual di harga 1,6 jutaan dan bila dilihat dari desainnya bakal membuat orang tidak menyangka kalau kamera keren ini ternyata harganya murah. Meski kecil, kamera dengan berbagai pilihan warna ini bisa merekam video full HD dengan tata suara stereo dan kemampuan zoom optik saat merekam video. Apalagi lensa kamera ini adalah 24mm dengan bukaan besar f/2.7 yang lebih fleksibel dipakai di indoor tanpa flash. Untuk pemakaian sehari-hari atau dokumentasi keluarga, rasanya kamera tipis berbalut logam ini pantas mendapat predikat ‘best buy’ dari kami.

Memory card ‘best buy’

transcend-16gbSekarang jamannya merekam video. Satu detik video full HD dengan kompresi MPEG-4 itu menghasilkan data rate sebesar 24 mega bit (atau sekitar 3 MB per detik) sehingga perlu kartu memori yang bukan hanya kapasitasnya besar (diatas 4 giga byte) namun juga baca tulisnya cepat. Untuk itu kartu SD card jaman sekarang diberi kode kelas seperti kelas 4, kelas 6 dan kelas 10 yang artinya bisa menulis dengan kecepatan minimal 4 MB/s, 6 MB/s dan 10 MB/s. Namun untuk amannya, belilah SD card dengan kelas 6 dan lebih baik lagi yang kelas 10. Tentu saja semakin tinggi kelasnya maka akan semakin mahal, untuk itu kami rekomendasikan memakai Transcend 16 GB kelas 10 yang harganya 180 ribu. Merknya cukup ternama, kapasitas besar dan kecepatannya juga bagus (diklaim sampai 20 MB/s). Dengan spek yang sama, merk lain ada yang dijual diatas 200 ribu.

Itulah daftar produk kamera (sampai awal tahun 2012) rekomendasi kami dengan kategori best buy. Tentu saja kamera lain yang tidak masuk di daftar ini bukan berarti jelek, tapi dengan spesifikasi dan kelas yang sama kamera di daftar ini lebih murah. Rekomendasi lain ada juga Nikon D7000 (DSLR favorit saat ini), Canon S100 (kamera saku paling populer), Olympus E-P3 (kamera mirrorless sarat fitur)  dan Fuji HS30 (bridge camera/prosumer). Untuk memory card ada juga Sandisk Extreme 16 GB kelas 10 yang harganya dua kali lipat dari harga Transcend yang kami sebutkan di atas.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Perbedaan prinsip kerja motor AF pada kamera DSLR

Seringkali kita kebingungan saat akan membeli kamera DSLR apalagi bila ini adalah kamera DSLR pertama kita. Berbagai artikel sudah dibaca, namun malah semakin bingung karena tiap kamera seolah adalah kamera yang terbaik. Belum lagi berbagai istilah dan spesifikasi teknis yang membingungkan membuat kita malah akhirnya tidak tahu bagaimana cara memilih kamera yang paling mudah. Disamping mengenali fitur dan keunggulan bermacam kamera, sebenarnya kita juga perlu mengenal perbedaan mendasar mengenai prinsip kerja sistem motor auto fokus sehingga bisa membantu kita untuk membuat keputusan.

Sebagai pembuka, kamera DSLR masa kini yang umum kita jumpai memiliki kesamaan diantaranya memakai sensor CMOS berukuran APS-C, resolusi antara 12-18 MP, sudah bisa merekam video dan dilengkapi dengan lensa kit. Soal kualitas hasil foto justru tidak perlu menjadi beban karena semua kamera DSLR sudah mampu memberi hasil foto yang sangat baik, noise rendah dan kinerja yang cepat. Lalu apa yang menjadi perbedaan prinsip dari beragam merk DSLR yang ada? Auto fokus dan kompatibilitas lensalah jawabannya.

Salah satu kenyamanan dalam memakai kamera DSLR adalah kecepatan dan akurasi auto fokusnya. Kerja auto fokus di kamera sebenarnya sama, yaitu adanya elemen optik yang berputar di dalam lensa untuk mencari fokus terbaik. Putaran pada elemen optik ini dimungkinkan berkat adanya motor fokus yang berukuran kecil. Masalahnya, dengan banyak dan beragamnya lensa DSLR yang ada di dunia ini, produsen terbagi dalam dua metoda dalam mendesain motor yaitu :

  • motor fokus di lensa
  • motor fokus di kamera

Bisa dibilang motor fokus di lensa adalah tren dan standar saat ini dan seterusnya. Adanya motor fokus di lensa membuat kamera DSLR tidak perlu memiliki motor fokus tersendiri, sehingga ukuran kamera bisa dibuat lebih kecil. Resikonya, ukuran lensa yang akan menjadi agak lebih besar karena perlu ruang untuk menyimpan motor. Motor di lensa dikendalikan dan ditenagai oleh baterai yang ada di kamera melalui pin kontak yang menghubungkan kamera dan lensa.

Sebaliknya, motor fokus di bodi kamera adalah warisan masa lalu, dipertahankan demi kompatibilitas lensa lama dengan kamera baru. Motor fokus di kamera terhubung ke lensa melalui semacam ‘obeng’ kecil yang menonjol di mount lensa dan ‘obeng’ ini bisa berputar menggerakkan elemen fokus di lensa (khususnya lensa lawas). Auto fokus semacam ini menghasilkan suara yang agak kasar dan kecepatan fokusnya juga kalah dibanding dengan motor di lensa.

Auto fokus DSLR Canon

Canon sejak meluncurkan sistem EOS di tahun 1987 memutuskan untuk menempatkan motor fokus pada lensa. Untuk itu semua DSLR Canon EOS tidak memiliki motor fokus di dalam bodinya. Canon mendesain dua jenis motor untuk setiap lensa Canon, yaitu motor biasa dan motor USM. Motor USM (Ultra Sonic Motor) hadir dengan teknologi tinggi yang lebih mahal, lebih cepat dan lebih halus. Maka itu lensa Canon USM lebih disukai karena kecepatan auto fokusnya. Perhatikan kalau lensa kit Canon umumnya tidak memakai motor USM sehingga pemilik DSLR Canon dengan lensa kit biasanya tergoda untuk mengganti lensanya di kemudian hari guna bisa merasakan kecepatan fokus sesungguhnya dari DSLR. Contoh lensa EF-S 18-135mm IS belum memiliki motor USM, namun lensa EF-S 17-85mm IS sudah dilengkapi dengan motor USM (contoh gambar di bawah).

canon-eos-50d17-85mm

Jadi berita baiknya adalah, kamera DSLR Canon EOS apapun akan bisa auto fokus dengan lensa EOS apapun, hanya kecepatan dan kinerja fokus terbaik didapat pada lensa USM yang relatif mahal.

Auto fokus DSLR Nikon

Nikon memiliki sejarah panjang dalam mempertahankan Nikon F-mount sejak 50 tahun silam. Artinya lensa Nikon apapun bisa dipasang di kamera DSLR Nikon, meski kompatibilitas auto fokus akan jadi masalah utama disini. Prinsip kerja auto fokus kamera SLR Nikon film sejak tahun 1986 memakai motor AF di bodi, sehingga lensa Nikon AF sudah didesain untuk bisa melakukan auto fokus bila diputar oleh motor fokus pada kamera. Barulah pada tahun 1998 Nikon membuat lensa dengan motor SWM (Silent Wave Motor) yang lensanya kemudian diberi kode AF-S. Bila lensa AF-S dipasang di kamera yang punya motor fokus, maka yang dipakai adalah motor di lensa. Transisi ini membuat Nikon memutuskan melakukan efisiensi desain sejak tahun 2006 saat meluncurkan Nikon D40, yaitu menidakan motor fokus di kamera. Sejak itu, kamera DSLR kelas entry-level dari Nikon tidak memiliki motor fokus. Kamera itu adalah : D40, D40x, D60, D3000, D3100 dan D5000. Kamera-kamera itu bekerja normal dengan lensa AF-S, namun bila dipasang lensa AF (tanpa motor) maka kamera tersebut hanya bisa manual fokus saja.

afmount

Kabar baiknya, Nikon menerapkan teknologi SWM pada seluruh lensa AF-S nya. Artinya, tidak seperti Canon yang hanya memberi motor USM pada lensa-lensa mahal saja, semua lensa Nikon AF-S bisa merasakan kecepatan auto fokus berteknologi modern yang cepat dan halus. Namun tentu saja, semakin murah lensanya maka semakin sederhana teknologi SWM yang diterapkan oleh Nikon. Maka itu pemilik DSLR Nikon dengan lensa kit (apalagi lensa kit D90/D7000 yaitu AF-S 18-105mm VR) bisa merasakan lensa AF-S dengan fokus cepat dan halus, namun kabar burukya pemilik DSLR Nikon entry level tidak bisa melakukan auto fokus bila memakai lensa Nikon AF yang dibuat sebelum tahun 1998.

Auto fokus DSLR Sony

Sony menjadi pemain yang sangat diperhitungkan sejak mengakuisisi Konica Minolta pada 2006 silam, dan tetap mempertahankan Minolta AF mount (sejak 1985) sebagai mount standar untuk DSLR Sony Alpha. Seperti halnya Nikon, Minolta telah terlanjur memakai auto fokus dengan motor di kamera. Maka itu auto fokus untuk semua lensa Minolta AF akan digerakkan oleh motor di kamera Sony. Sony sendiri ahirnya di tahun 2009 melakukan langkah serupa Nikon yaitu membuat lensa dengan motor fokus yang dinamai SAM (Smooth Autofocus Motor) seperti lensa kit DT 18-55mm f/3.5-5.6 SAM. Namun Sony sadar akan koleksi lensa SAM yang masih sedikit sehingga tidak begitu saja menghilangkan motor fokus di bodi kamera, sehingga kamera Sony Alpha tipe apapun tetap memiliki motor AF di dalamnya (dengan tanda ada tonjolan ‘obeng’ di bagian bawah mount seperti gambar di bawah). Kamera Sony Alpha tipe lama perlu melakukan upgrade firmware untuk bisa melakukan auto fokus memakai lensa SAM.

sony-mount

Catatan tambahan, Sony menjadi satu-satunya produsen DSLR yang inovatif dalam mencari terobosan auto fokus yang cepat saat live view dan saat merekam video. Maka itu beberapa kamera Sony Alpha didesain memiliki dua sensor untuk auto fokus cepat saat live view, dan memiliki cermin transparan untuk merekam video dengan auto fokus cepat seperti Sony A33 dan A55.

Auto fokus DSLR Pentax

Pentax dan Nikon memiliki kesamaan dalam sejarah fotografi yang panjang, meski Pentax kalah dalam jumlah koleksi lensanya. Namun lensa Pentax yang jumlahnya sedikit ini umumnya memiliki kualitas yang sangat baik dan cocok untuk outdoor. Pentax dengan K-mount sejak tahun 1975 berupaya mendesain sistem auto fokus yang berulang kali mengalami revisi hingga versi K-AF2 barulah dianggap versi standar auto fokus lensa Pentax yang digerakkan oleh motor di kamera. Maka itu seperti Nikon dan Sony, Pentax pun memiliki ‘obeng’ di bagian mount-nya.

pentax-17-70mm-f4-sdm

Seperti halnya Sony, Pentax akhirnya ikut terjun mendesain lensa dengan motor fokus bertenaga gelombang dengan meluncurkan lensa SDM (Silent Drive Motor) yang kerjanya lebih cepat dan lebih halus. Hanya ada sedikit lensa Pentax dengan tipe SDM, sehingga Pentax tetap mempertahankan motor fokus di kamera untuk seluruh kamera DSLRnya. Kamera Pentax sejak K100D dan K10D (dengan update firmware) bisa mengenali lensa SDM dan memutar motor fokus di lensa SDM tersebut. Lensa SDM sendiri tetap didesain untuk bisa kompatibel dengan motor fokus di bodi, kecuali lensa DA 17-70mm and DA* 55mm f/1.4.

Kesimpulan

Canon EOS menjadi satu-satunya pemain DSLR yang tidak memiliki motor fokus di bodi. Semua lensa Canon sudah memiliki motor AF sejak 1987 namun hanya sebagian yang memiliki motor USM. Di lain pihak, Nikon-Sony-Pentax masih mempertahankan adanya motor fokus di kamera guna bisa auto fokus dengan lensa lama. Nikon memutuskan menghilangkan motor fokus di kamera entry-level, namun dikompensasi dengan banyaknya pilihan lensa AF-S. Semua lensa AF-S Nikon sudah memakai motor SWM. Sony dan Pentax lebih bermain aman dengan membiarkan semua kameranya tetap memiliki motor fokus di bodi, sambil perlahan memperbanyak pilihan lensa dengan motor SAM (Sony) atau SDM (Pentax). Mengingat di masa depan semua lensa semestinya akan punya motor fokus, maka kamera masa depan rasanya tidak lagi perlu punya motor fokus. Mungkin Nikon (disusul Sony dan Pentax) perlahan akan mengikuti jejak Canon dengan mengandalkan auto fokus hanya pada lensa. Hal yang sama sudah berlaku di kubu kamera mirrorless seperti format micro Four Thirds (Olympus dan Panasonic), Samsung NX, Sony NEX yang semuanya mengandalkan motor AF di lensa.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Semua tentang kamera DSLR Canon EOS

Bagi anda pecinta DSLR Canon, atau yang sedang merencanakan membeli sistem DSLR Canon, apakah anda sudah kenal seluk-beluk DSLR Canon? Bagaimana konsep EOS dan EF mount, seperti apa auto fokus di kamera Canon, apa beda lensa EF dan EF-S, dan masih banyak lagi. Kali ini kami buatkan sebuah artikel yang khusus membahas DSLR Canon EOS secara lengkap hanya untuk anda. Selamat membaca..

Asal mula kamera EOS

EOS adalah singkatan dari Electro Optical System yang berarti sistem optik yang memiliki rangkaian elektronik. Canon pertama kali memperkenalkan kamera film EOS pada bulan Maret 1987 dengan meluncurkan EOS 650 dengan kemampuan auto fokus. Kamera EOS memiliki mount EF, sehingga Canon mendesain lensa khusus untuk mount EF dengan nama lensa Canon EF, dan semua lensa EF ini pasti kompatibel dengan kamera EOS.

Kamera EOS Digital pertama dari Canon adalah EOS DSC 3 dengan sensor CCD 1,3 MP (kerjasama dengan Kodak) dan tahap penting dalam manufaktur EOS ada saat Canon akhirnya bisa memproduksi sendiri kamera EOS dengan meluncurkan EOS D30 pada tahun 2000 dengan sensor CMOS beresolusi 3 MP. Sebagai prosesor dari EOS Digital, digunakanlah prosesor dengan nama Digic yang kini sudah mencapai generasi ke empat.

fd_mount

Kamera Canon sebelum 1987 memiliki mount FD yang hanya cocok untuk lensa Canon FD. Lensa FD (lihat contoh di atas) hanya bisa manual fokus dan lensa FD ini tidak bisa dipasang di mount EOS karena berbeda bentuk dan ukuran. Hal ini berbeda dengan sistem Nikon dimana semua lensa Nikon sejak jaman dahulu masih bisa dipasang di DSLR Nikon terbaru.

Transisi dari mount FD ke mount EOS menjadi saat-saat bersejarah Canon yang penuh kritik dan terkesan spekulatif. Namun akhirnya kini Canon berhasil menikmati hasilnya karena transisi berjalan sukses dan Canon menebusnya dengan memproduksi banyak lensa khusus mount EF untuk sistem EOS Digital yang berkualitas.

Lensa EF dan EF-S

Lensa EF  (electrofocus) adalah lensa buatan Canon yang memiliki mount EF sehingga pasti kompatibel dengan kamera EOS. Lensa EF bisa dipasang di bodi SLR Canon EOS film (35mm) maupun di bodi EOS digital apapun, baik dengan sensor full frame, APS-H maupun APS-C. Lensa EF kini memiliki banyak varian baik jenis prime (fix) ataupun zoom. Bahkan lensa kelas mewah dari Canon juga banyak diproduksi yaitu lensa dengan kode L-series (luxury) yang memiliki ciri ada gelang merah di ujungnya. Lensa L series ini memiliki kualitas optik yang prima dan kemampuan menahan gangguan cuaca berkat adanya weathersealing didalamnya.

drebel

Pada tahun 2003 Canon meluncurkan DSLR EOS 300D (Digital Rebel) dengan lensa kit EF-S 18-55mm. Inilah pertama kalinya diperkenalkan lensa EF-S dalam sejarah Canon. Lensa EF-S memiliki diameter image circle yang lebih kecil dari lensa EF, didesain khusus untuk DSLR dengan sensor APS-C seperti EOS 50D atau 500D. Jadi kamera EOS Digital dengan sensor APS-C bisa saja dipasangi lensa EF (tidak harus lensa EF-S), tapi sebaliknya lensa EF-S tidak bisa dipasang di bodi DSLR full frame. Huruf ‘S’ pada kode EF-S sendiri adalah singkatan dari Short (back focus), maksudnya lensa EF-S memiliki jarak yang lebih dekat antara lensa dengan sensor.

Kini di pasaran tersedia banyak lensa EF dan juga EF-S. Bila anda berencana akan memiliki DSLR EOS dengan sensor full frame seperti EOS 5D mark II, maka carilah hanya lensa EF saja. Namun bila anda merasa cukup puas dengan DSLR EOS sensor APS-C seperti EOS 550D, EOS 60D atau EOS 7D (dan tidak berencana membeli DSLR full frame di masa mendatang), maka lensa EF-S bisa jadi pilihan untuk dibeli.

Sistem auto fokus kamera EOS

Pada prinsipnya auto fokus (AF) di kamera EOS memakai motor AF yang ada di lensa, dengan kata lain semua lensa Canon EF memiliki motor AF didalamnya. Hal ini berbeda dengan Nikon yang memiliki motor AF di bodi kamera (meski tidak semua DSLR Nikon punya motor AF), dengan kata lain tidak semua lensa Nikon punya motor AF (hanya lensa Nikon buatan sejak 1992 yang ada motor fokusnya, diberi kode AF-S). Namun Canon tidak memperlakukan setiap lensanya dengan sama, dimana lensa murah dan lensa mahal diberikan motor AF yang berbeda jenis dan kualitasnya.

Terdapat dua jenis motor di lensa Canon, yaitu :

  • motor AFD (arc-form drive) atau micromotor drive -> untuk lensa murah
  • motor USM (ultrasonic motor) -> untuk lensa mahal

usm-ring

Motor AFD merupakan motor mikro yang konvensional dan murah. Didalamnya terdapat koil magnet yang berputar bila dialiri tegangan listrik. Motor ini bersuara berisik saat sedang berputar dan kecepatannya pun sedang-sedang saja. Perhatikan kalau lensa Canon EF/EF-S yang tidak diberi label USM artinya motor di dalamnya memakai sistem AFD (bedakan dengan lensa Nikon AF-S yang pasti sudah memakai motor SWM).

Motor USM merupakan tekolonogi baru yang menggerakkan motor dengan gelombang yang memberikan kecepatan lebih tinggi namun dengan suara yang lebih halus. Namun lagi-lagi Canon membagi lensa dengan teknologi USM ini kedalam dua kelompok, yaitu lensa USM untuk lensa mahal dan USM untuk lensa yang biasa.

Adapun dua jenis motor USM di lensa Canon, yaitu :

  • USM berbasis ring untuk lensa mahal (lihat contoh gambar di atas)
  • USM berbasis micromotor untuk lensa yang lebih murah

Perbedaan keduanya ada di prinsip kerja dan kemampuan manual fokus instan (FTM : full-time manual). Pada lensa USM berbasis ring, kita bisa langsung memutar ring manual fokus kapan saja kita mau. Jadi berpindah dari auto fokus ke manual fokus bisa dilakukan langsung tanpa memindah tuas AF ke MF. Bila memakai lensa non USM atau lensa USM murah (dengan micromotor), kita harus memindahkan tuas AF ke MF baru memutar ring manual fokus.

Lensa dengan kode USM atau bukan tidak akan berpengaruh pada kualitas optik, karena USM hanya menandakan sistem kerja motor AF saja. Bila anda dalam keseharian sering memotret benda yang bergerak, atau ajang olah raga dan perlu kinerja tercepat dari sistem AF lensa Canon, maka pilihlah lensa dengan teknologi USM didalamnya.

Mode dial khas Canon

Canon EOS Digital memiliki mode dial yang tidak banyak berbeda dengan kebanyakan kamera DSLR lain. Terdapat satu mode Auto, lima mode kreatif dan beberapa preset untuk kondisi yang spesifik (basic zone atau scene mode). Sekilas penjelasan tentang mode kreatif yaitu :

eos-dial

  • P (Program) : seperti mode Auto tapi kita bisa beralih dari beberapa kombinasi aperture dan shutter yang mungkin
  • Tv (Shutter Priority) : kamera menentukan setting terbaik, sementara kita menentukan berapa kecepatan shutter yang akan digunakan
  • Av (Aperture Priority) : kebalikan dari Tv, kita menentukan bukaan diafragma sementara kamera mengatur kecepatan shutter yang sesuai
  • M (Manual) : kendali akan shutter dan aperture murni pada kita sebagai pemakai
  • A-DEP (Depth of Field/DoF Preview) : kamera akan memakai bukaan terkecil (stop down) untuk preview DoF (karena mengurangi cahaya yang masuk maka tampilan di viewfinder akan menjadi agak gelap).

Lampu kilat

Canon EOS memiliki sistem lampu kilat dengan teknologi E-TTL (Electronic Through-The-Lens). E-TTL sendiri merupakan proses pengukuran cahaya (metering) melalui lensa sehingga bisa ditentukan berapa intensitas lampu kilat yang terbaik untuk tiap kondisi pemotretan. Hal ini akan menghindarkan hasil foto yang terlalu gelap atau terlalu terang saat menggunakan lampu kilat, baik saat memotret memakai lampu built-in ataupun eksternal.

Algoritma E-TTL Canon dilakukan berturut-turut yaitu :

  1. Saat tombol rana ditekan setengah, proses auto fokus dan metering (mengukur cahaya sekitar) dilakukan.
  2. Lampu pre-flash akan menyala, pantulannya kembali diukur oleh kamera.
  3. Dari situ kamera menghitung dan membandingkan dua hasil pengukuran sebelumnya.
  4. Saat tombol ditekan penuh, cermin terangkat, shutter membuka dan lampu kilat menyala.
  5. Shutter kembali menutup, cermin kembali turun dan hasil foto tampil di layar LCD.

580ex_ii

Untuk lampu kilat eksternal, Canon juga menggunakan teknologi high speed sync (FP mode) dan wireless mode. FP mode memungkinkan pemakaian lampu kilat eksternal dengan kecepatan shutter diatas kecepatan sync maksimum kamera, dengan cara lampu akan terus menyala dengan interval 50 kHz selama shutter terbuka. Hal ini cocok dipakai untuk melawan backlight meski konsekuensinya dapat menguras baterai lampu kilat. Wireless mode memungkinkan pengaturan beberapa lampu kilat sekaligus secara nirkabel, dengan satu commander dan beberapa slave. Komunikasi antara sistem lampu kilat memakai gelombang Radio Frequency (RF).

Produk lampu kilat terbaru yang pasti kompatibel dengan kamera EOS digital diantaranya :

  • Speedlite 580EX II (4 baterai AA – GN 58)
  • Speedlite 430EX II (4 baterai AA – GN 43)
  • Speedlite 270EX (2 baterai AA – GN 27)

Segmentasi produk

Kamera DSLR Canon EOS terkenal akan segmentasi produk (diversifikasi) yang jelas. Secara umum EOS Digital terbagi tiga kelompok yaitu kamera kelas pemula (juga diberi nama Digital Rebel), kelas menengah dan kelas pro.

EOS kelas pemula :

canon_eos550dInilah EOS yang biasa diincar oleh para pemula, untuk dokumentasi keluarga atau untuk sekedar menyalurkan hobi. Kamera EOS pemula ini berukuran kecil, berbahan plastik, memakai pentamirror untuk prismanya, tidak memiliki LCD di bagian atas, minim tombol dan kinerja burst yang pas-pasan.

Saat ini di pasaran ada tiga produk EOS Digital di kelas pemula yaitu :

  • EOS 1000D (10 MP, live view)
  • EOS 500D (15 MP, HD movie)
  • EOS 550D (18 MP, HD movie)

EOS kelas menengah :

canon_eos5dmkiiInilah EOS untuk para fotografer serius yang lebih dari sekedar hobi atau untuk mendukung profesimya. Kamera EOS kelas menengah punya bodi yang lebih kokoh (bisa fiber atau magnesium), sudah memakai pentaprism untuk prismanya, dilengkapi bermacam tombol akses langsung dan layar LCD tambahan di bagian atas. Fitur kamera kelas ini pun semakin lengkap dan punya ergonomi yang lebih nyaman.

Pilihan produk EOS di kelas ini adalah :

  • EOS 60D (18 MP, HD movie dengan layar LCD lipat)
  • EOS 7D (18 MP, HD movie, inilah kamera EOS tercanggih di kelompok sensor APS-C, sekaligus pengganti EOS 50D)
  • EOS 5D mark II (sensor full-frame 21 MP, HD movie)

EOS kelas pro :

canon_eos1dmkivInilah EOS untuk fotografer profesional yang berkecimpung di dunia bisnis fotografi seperti studio, produksi iklan maupun jurnalis olahraga. Kemera EOS kelas pro ini punya bodi yang besar (sehingga tidak perlu lagi memasang vertical grip), kinerja tertinggi, titik AF yang berlimpah (45 titik)  dan punya sensor besar.

Dua produk elit Canon di kelas ini yaitu :

  • EOS 1D mark IV (sensor APS-H 16 MP, HD movie)
  • EOS 1Ds mark III (sensor full-frame 21 MP)


Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..