Review : Flash Godox V860 II dan trigger X1 for Canon

Godox V860II-C (C artinya TTL untuk sistem Canon, untuk Nikon N dan Sony S) adalah flash eksternal dengan kekuatan GN60 dan fitur lengkap, khususnya dalam hal pengaturan wireless RF 2,4 GHz. Sebagai info, flash Godox TT685C secara fitur sama dengan yang V860 hanya saja beda di baterai, V860 pakai baterai Lithium (disediakan charger di paket penjualan) sedangkan TT685 memakai baterai 4xAA. Fitur dasar seperti HSS, Rear sync, Zoom hingga 200mm dan layar dot matrix tersedia di flash Godox ini.

Flash Godox V860II atau TT685 ini punya kelebihan sudah memiliki receiver (penerima) dengan sistem RF 2,4 GHz sehingga tidak usah ditambah receiver tambahan lagi bila di trigger oleh flash yang sama, atau oleh transmitter yang TTL. Mengapa harus TTL? Karena bila kita punya flash yang TTL dan ingin memaksimalkan semua fiturnya secara wireless tentu perlu memakai trigger yang berjenis TTL juga. Salah satu produk trigger wireless TTL terbaru adalah Godox X1. Godox X1-C memiliki dua versi yaitu unit transmitter (diberi nama X1T-C) dan unit receiver (X1R-C).

Godox

Fitur wireless optik yang lebih klasik tetap tersedia, namun sistem RF 2,4 GHz jauh lebih handal. Flash Godox V860II C adalah flash TTL untuk Canon yang bisa bekerja sebagai Master (bila dipasang diatas kamera) dan juga sebagai Slave. Bila dijadikan Master, maka perlu flash Godox lain yang akan difungsikan sebagai slave, atau bila punya flash TTL merk lain perlu dipasangkan ke X1R-C (unit receiver).  Bila flash Godox ini jadi Slave 2,4 GHz, maka tersedia 5 pilihan grup ABCDE untuk yang perlu banyak lampu, dan ada 32 channel yang bisa dipilih.

Godox V860II C dalam mode Master (LCD berwarna hijau) dan simbol wireless menunjukkan RF 2,4 GHz, tersedia grup khas Canon Ratio A:B C

Bila memang sudah ada trigger X1T-C, dan ingin memanfaatkan fitur receiver di dalam V860II C ini maka untuk memulai koneksinya perlu menekan tombol Wireless di flashnya (paling kanan, dekat tuas On-Off) sampai indikator di layar menunjukkan simbol Wireless 2,4 GHz (ada simbol radio di pojok kiri atas LCD, bukan simbol Wireless optik yang seperti petir) dan layar LCD akan berwarna oranye. Selebihnya tentukan saja flash ini mau dijadikan grup apa, dan jangan lupa samakan channel-nya. Selanjutnya pengaturan tidak usah lagi mengutak-atik flashnya. Cukup lakukan di triggernya atau di kameranya.

Trigger / transceiver Godox X1

Baik unit transmit X1T atau receive X1R keduanya bentuknya mirip, dan ditenagai oleh 2 baterai AA, dan ada tuas On Off di sisi kanan. Keduanya punya layar LCD dengan backlight putih, LED status dan terdapat tombol TEST di bagian atas. Bedanya di unit transmit ada tiga tombol : CH (untuk memilih channel), GR (untuk memilih grup) dan MODE serta roda pengatur setting, sedangkan di unit receive hanya ada tombol CH dan GR saja. Indikator di LCD memang menampilkan informasi yang agak terbatas untuk itu perlu sekali membaca buku manual yang disertakan di paket pembelian.

Fungsi tombol di unit X1T-C (diikuti dengan memutar roda untuk scroll ke setting yang diinginkan) :

  • tombol CH : tekan sekali untuk mengganti channel, tekan 2 detik untuk menu custom Function (C.Fn 00-C.Fn 07)
  • tombol GR : tekan sekali untuk atur Power/kompensasi pada suatu grup, tekan 2 detik untuk mengatur setting yang sama untuk semua Grup
  • tombol MODE : tekan sekali untuk memilih mode (TTL/Manual/Multi)

Konfigurasi flash dan trigger itu perlu menentukan dulu grup nya. Misal ada 2 flash dan ingin keduanya sama-sama grup A, maka set kedua unit receive ke grup A dengan menekan tombol GR di unit X1R-C. Bila sudah benar, maka saat kita pilih grup A keduanya akan menyala. Bila mau pakai multi grup, pastikan setiap unit receive diatur grupnya. Semua receive unit harus berada di channel yang sama dengan unit transmit, bila tidak maka receive yang channelnya berbeda tidak akan menyala. Profesional biasanya memakai grup A untuk main light, grup B untuk fill light dan grup C untuk rim/backlight, dan dari unit transmitter kita bisa set mau menyalakan grup yang mana (A saja, atau A+B atau semua) dan bisa juga mengatur masing-masing grup maunya TTL atau manual (bila manual tentu bisa diatur kekuatannya).

Dalam pemakaiannya kita biasanya cukup pakai mode TTL untuk semua grup, atau boleh juga sebaliknya pakai mode M (manual) semuanya. Tapi seandainya kita mau mengatur setiap grup itu berbeda-beda, maka diperlukan kamera Canon buatan tahun 2012 atau lebih baru. Di Menu kamera dalam hal ini memakai Canon 70D kami masuk ke Flash setting > External Flash Setting dan akan muncul pilihan mode seperti ETTL, M, Multi dan Gr. Pilih ke Gr (Grup) untuk kebebasan mengatur tiap grupnya, lalu perhatikan indikator di Godox X1T-C ini akan mengikuti.

V860-W-Multi-768x768

Saat menjadi slave radio, flash Godox V860II ini bisa mengikuti apa yang kita ganti/ubah di kamera, misal modenya TTL, Manual atau Multi. Lalu kalau TTL mau kompensasi atau tidak, kalau manual mau main berapa powernya. Fitur lain seperti zoom, HSS, FEB, rear sync dsb tetap bisa difungsikan. Yang penting adalah perencanaan yang baik, misal mau pakai grup apa saja, dan memilih channel yang sama untuk semua sistemnya. Semua kecanggihan ini bertujuan untuk memudahkan kita, bayangkan saat pakai banyak lampu flash untuk pekerjaan serius, dan kita mau atur semua lampunya. Tentu repot kalau harus mengatur setiap lampu satu persatu, lebih enak dengan menekan tombol di kamera atau di triggernya.

Kesimpulan :

Flash Godox V860II punya fitur vs harga yang menarik. Kemampuan GN60, HSS, Zoom dan wireless 2,4 GHz terintegrasi menjadikannya flash serba bisa. Plus baterai Lithium membuatnya lebih tahan lama daripada baterai AA. Trigger Godox sendiri adalah produk yang menarik juga karena mudah dipakai, ukuran ringkas dan bisa dijadikan remote shutter.

Sistem wireless flash TTL bisa diwujudkan dalam dua cara, optik (IR) atau radio (RF). Untuk pemakaian optik terdapat fitur wireless optik di Godox  V860 II ini. Tapi secara wireless radio, flash Godox V860II (dan TT685) punya fitur Master dan Slave. Mampu menjadi slave radio adalah hal yang menjadikan flash ini menarik, karena dengan  built-in receiver 2,4 GHz didalamnya kita tidak usah pasang receiver khusus (X1R), cukup pasang transmitter (X1T) diatas kamera saja. Kemudahan ini dicari oleh penyuka strobist  atau praktisi foto studio.

 

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Serba serbi flash eksternal

Salah satu investasi penting bagi fotografer adalah lampu kilat eksternal. Memang betul kalau kamera sudah dilengkapi dengan built-in flash, yang fungsinya juga sama dengan flash eksternal. Tapi banyak hal yang tidak bisa dilakukan oleh built-in flash, dan juga kekuatan pancarannya tentu tidak sekuat yang flash eksternal. Di pasaran banyak dijual berbagai flash eksternal baik yang bermerek maupun yang merknya tidak jelas, dan harganya pun bervariasi. Pembaca yang baru akan membeli flash bisa jadi dibuat bingung karenanya. Nah, artikel kali ini akan membahas tentang serba serbi flash eksternal yang diawali dengan sedikit bahasan tentang TTL flash.

TTL flash, terobosan teknologi modern dalam flash photography

Kekuatan pancaran tiap lampu kilat itu berbeda-beda, semakin kuat maka dia semakin mampu menerangi area yang jauh. Yang dijadikan panduan untuk mengukur kekuatan lampu kilat adalah Guide Number (GN) yang menyatakan kekuatan maksimal flash dalam jarak (meter). Yang kita perlu pahami adalah tidak setiap memotret dengan flash kita memakai kekuatan maksimal itu. Karena cahaya dari flash yang berlebihan akan membuat foto jadi terlalu terang, bahkan bisa jadi foto kita putih semua. Untuk itulah kamera modern menyediakan terobosan teknologi TTL flash (Through The Lens) yang gunanya untuk mengatur kekuatan flash secara otomatis, sehingga hasil fotonya tetap punya eksposur yang pas.

TTL

Prinsip kerja metering (pengukuran) TTL flash cukup rumit. Kamera harus memperhitungkan banyak faktor, seperti jarak obyek yang terukur (dalam meter), bukaan dan fokal lensa yang dipakai, kecepatan shutter dan nilai ISO yang dipilih. Pada TTL yang lebih modern, kamera juga memperhitungkan cahaya lingkungan sehingga bisa didapat hasil yang berimbang antara flash dan ambient light. Belum lagi kalau kita secara manual melakukan kompensasi eksposur untuk nilai flash, maka kamera akan memperhitungkan itu semua. Dari hasil kalkulasi rumit itu kamera selanjutnya menentukan apakah kekuatan flashnya mau dibuat maksimal (1/1) atau lebih kecil dari nilai maksimal itu (1/2, ¼, ? dst hingga angka minimal).

Flash External
Flash Eksternal

Kabar baiknya adalah, teknologi TTL bisa juga dijumpai juga di built-in flash kamera, tanpa kita harus membeli flash eksternal. Bagi yang suka manual, maka sebagian besar kamera DSLR membolehkan kita untuk mengganti mode flash dari TTL ke manual. Hanya saja di mode manual flash, kita harus cermat menentukan kekuatan flash yang sesuai supaya hasil fotonya tidak over atau under.

Mengapa flash eksternal?

Pertanyaan ini sering menghampiri mereka yang baru berkenalan dengan dunia fotografi. Jawabannya sebetulnya bisa beragam, tapi yang jelas flash eskternal selain dibutuhkan untuk mendapat eksposur yang pas dalam berbagai kondisi namun utamanya adalah untuk mendapat hasil foto yang terlihat profesional, tentunya dengan set-up dan perencanaan yang tepat.

Pengaturan pada flash eksternal
Pengaturan pada flash eksternal

Untuk bisa tahu apakah flash eksternal itu termasuk investasi yang must-have atau sekedar nice to have, maka simak dulu kelebihan dari flash eksternal berikut ini :

  • flash eksternal punya kekuatan jauh lebih besar, antara GN 24 hingga GN 60 (bandingkan dengan built-in flash yang hanya GN 12)
  • flash eksternal punya baterai terpisah, jadi bisa memotret terus dengan flash tanpa membuat baterai kamera cepat habis
  • arah keluaran cahaya dari flash eksternal bisa dibelokkan, ke atas atau ke depan (bounce) atau ke kiri kanan (swivel) untuk mengarahkan cahaya ke samping atau ke atas (fotografer kita biasa menyebut bisa geleng-geleng dan angguk-angguk)
  • flash eksternal yang mahal bisa memiliki zoom head, jadi bisa mengikuti posisi fokal lensa zoom kamera, umumnya untuk rentang 24-105mm
  • flash eksternal bisa dipisah dari kamera, bisa terhubung dengan kabel, di-trigger secara wireless (biasa dipakai di studio atau yang suka strobist)
  • durasi nyala flash eksternal tertentu bisa dibuat lebih lama untuk memungkinkan pemakaian shutter speed yang lebih cepat (FP mode), misal diatas 1/200 detik
  • flash eksternal bisa dipasang aksesori seperti soft box, diffuser, filter color gel dan semacamnya untuk tujuan tertentu
  • kebanyakan flash eksternal bisa memancarkan lampu bantuan untuk auto fokus dalam kondisi gelap, khususnya pemakai DSLR Canon, ini akan menjadi solusi lebih baik daripada AF assist kamera yang menembakkan strobe light memakai built-in flash yang mengganggu

Kompatibilitas

Idealnya, flash yang dipasang di kamera adalah produk yang kompatibel dan satu merk dengan kameranya, misal Nikon punya SB910, SB700 dsb dan Canon punya 600EX, 420EX dsb. Demikian juga dengan Sony, Fuji, Samsung dsb tentu punya flash eksternal yang dibuat hanya kompatibel dengan kamera semerk. Walaupun dudukan flash itu sama antar merk, tapi tata letak pin konektor mereka beda-beda. Kalau dipaksakan flash mungkin bisa menyala tapi hanya dalam mode manual saja (non TTL).

Flash pihak keytiga yang dirancang untuk kompatibel dengan DSLR Canon
Flash pihak ketiga yang dirancang untuk kompatibel dengan DSLR Canon

Saat ini juga banyak ditemui produk flash eksternal buatan pihak ketiga seperti Nissin, Yongnuo, Shanny, Pixel dsb. Mereka umumnya merancang flash yang mirip dengan produk Canon/Nikon tapi dengan harga jauh lebih murah. Kalau mau beli flash seperti ini boleh-boleh saja, tapi pastikan memilih yang kompatibel. Misal yang punya DSLR Canon ya pakai flash Shanny untuk Canon (SN600C atau SN600SC misalnya) sehingga flashnya dikenali dan bisa berfungsi penuh. Untuk jangka panjang tidak ada jaminan flash seperti ini akan tetap kompatibel, maka itu flash yang bisa di update firmware (ada colokan USB) akan lebih aman untuk jangka panjang.

Tips-tips teknik memotret dengan flash eksternal :

  • ketahui GN flash anda, bila kurang besar kadang perlu dibantu dengan ISO lebih tinggi
Multi/repeat flash untuk hasil berbeda
Multi/repeat flash untuk hasil berbeda
  • kenali fitur-fitur di flash, cukup banyak dan rumit seperti :
    • TTL/manual
    • zoom auto/manual
    • Multi/repeating (times/Hz)
    • HSS / FP mode
    • 1st / 2nd curtain
    • wireless (commander atau slave)
  • hindari sering memakai full power, selain baterai cepat habis juga flash bisa panas
  • kombinasikan dengan mini soft box/diffuser atau aksesori lain bila ingin hasil yang lebih lembut
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Enam panduan mengatur setting kamera untuk memotret di kondisi yang sulit

mode-dial-canonKita tahu setting di kamera modern itu sangat banyak, yang tentunya sangat membantu kita dalam menghadapi berbagai kondisi pemotretan sehari-hari. Namun kita juga tahu masih banyak pemilik kamera yang tidak (mau) tahu kegunaan setting-setting tersebut, sehingga tidak dimanfaatkan saat menghadapi kondisi yang cukup sulit atau tidak ideal. Kita boleh saja pakai mode AUTO dan kamera akan pikirikan apa setting terbaik untuk setiap kondisi, tapi kan kita tidak punya kendali atas setting tersebut dan juga kita tidak pernah belajar darinya. Pada akhirnya kita bisa jadi tidak puas dengan hasilnya. Boleh dibilang mode AUTO itu lebih cocok dipakai dalam kondisi yang ideal saja, seperti cukup cahaya, bendanya tidak bergerak dan momennya tidak berlalu dengan cepat. Namun saat kondisi menjadi lebih sulit, pencahayaan menantang, warna sumber cahaya yang tidak mudah, subyek terus bergerak, kita tidak bisa lagi mengandalkan mode AUTO di kamera. Kali ini kami akan berbagi banyak tips penting untuk menghadapi bermacam kondisi sulit, tentunya dengan menjelaskan setting apa yang harus dipilih. Ada baiknya setelah dibaca, anda juga praktekkan untuk lebih memahami dan bisa membuktikan sendiri. Ayo mulai..

Kondisi 1 : cahaya berubah-ubah

Misal : saat memotret konser dengan lampu sorot dan lampu latar (LED) yang terus berubah

Pertama yang harus diingat adalah, jangan pakai mode Manual exposure. Biarkan kamera menghitung sendiri cahayanya dan memberikan nilai ekpsosur yang tepat untuk kita. Bisa gunakan mode P (Program) atau A/Av (Aperture Priority) atau S/Tv (Shutter Priority). Gunakan juga mode metering Spot, lalu kunci pengukuran metering ke obyek utama yang ingin difoto, ini dilakukan supaya kita bisa mendapat pengukuran yang pas walau cahayanya sulit.

spot-metering

Bila kita merasa setting eksposur yang diberikan kamera sudah pas, bisa kita kunci setting dengan menekan dan menahan tombol AE-Lock (simbol bintang di kamera Canon, atau tombol AE-L di kamera lain). Tak perlu menunggu lama, setelah jempol kita menahan tombol ini segeralah mengambil foto untuk mencegah perubahan cahaya lagi. Selamat mencoba..

ae-lock-canon

Kondisi 2 : kontras tinggi

Misal : siang hari outdoor matahari terik dan subyek yang akan difoto tampak gelap

hdr in camera

Disini tidak ada satu solusi yang mudah, karena memang kenyataannya dynamic range sensor kamera tidak bisa menyamai apa yang kita lihat. Maka kamera selalu kesulitan untuk menangkap semua terang gelap di alam dengan sama baiknya. Biasanya yang terjadi adalah langit menjadi terlalu terang, atau justru obyek utamanya jadi terlalu gelap. Ada beberapa setting kamera yang bisa dicoba dengan plus minus masing-masingnya :

  • Mengatur kompensasi eksposur, biasanya dikompensasi ke arah + (positif), cocok bila kita ingin obyek utama terlihat terang namun background terpaksa jadi terlalu terang/over (untuk mengembalikan detail di daerah yang over memang hampir mustahil, tapi cobalah pakai RAW dan diatur highlight settingnya di olah digital kadang-kadang bisa membantu sedikit)

tombol-ev

  • Mengatur fitur Active D Lighting (Nikon), Auto Lighting Optimizer (Canon), bisa menjaga kontras dimana hasil fotonya diusahakan tidak ada yang terlalu terang dan terlalu gelap (tidak bisa pakai RAW)

active_d-lighting

  • memakai mode in camera HDR (bila ada), seperti contoh foto atas kanan (mode ini tidak cocok bila obyeknya bergerak dan juga tidak bisa pakai RAW)

03-canon-hdr-mode-settings

Tips tambahan : di kamera Canon ada fitur Highlight Tone Priority, ini bisa diaktifkan untuk mencegah over eksposur di daerah putih seperti baju pengantin atau langit.

Kondisi 3 : subyek bergerak, momen sulit diprediksi

Misal : aktivitas outdoor, event olahraga, perlombaan dsb

dsc_4408

Yang perlu diingat disini adalah untuk mendapatkan foto yang timingnya pas, diperlukan fokus dan drive kontinu (terus menerus). Selain itu tentu shutter speed harus dipilih yang cukup cepat supaya obyeknya beku/diam.

canon7d-af-mode

Drive continu bisa dipilih di drive mode, biasanya kamera bisa memotret mulai dari 4 foto per detik yang cukup lumayan untuk memotret berturut-turut. Kamera lebih canggih bahkan bisa memotret sampai 11 foto per detik. Untuk mengaktifkan fokus kontinu pilih mode AF-C (di kamera Nikon dan Sony) atau AF mode ke AI Servo (di kamera Canon). Selanjutnya tentu kita harus membidik obyeknya, tekan dan tahan setengah tombol jeptret (atau tekan dan tahan tombol AF-ON) lalu saat momennya tiba tekan penuh tombol jepret cukup lama supaya bisa diambil banyak foto. Nantinya pilih dari sekian foto yang diambil manakah yang momen dan timingnya paling pas.

Kondisi 4 : aktivitas di tempat kurang cahaya

Misal : seremoni indoor (wedding, wisuda, pentas seni dsb)

ISO

Kondisi seperti ini kerap kita hadapi, dan bisa dibagi dua kelompok : bisa dibantu flash dan tidak. Idealnya kita punya flash eksternal yang bisa di bounce ke langit-langit sehingga cahayanya lebut dan natural. Untuk menambah kekuatan flash bisa juga naiikan ISO hingga ISO 800. Namun bila flash tidak bisa dipakai (entah karena dilarang atau jangkauannya terbatas) maka hal yang penting adalah gunakan bukaan maksimal (lensa yang bisa f/2.8 atau lebih besar akan lebih embantu) dan naikkan ISO cukup tinggi (ISO 1600-3200) supaya foto jadi terang, shutter speed tetap cepat sehingga momen yang difoto tidak blur.

dsc_8848-bounce

Walau tampak terang, foto diatas diambil di dalam ruangan yang kurang cahaya. Untuk itu penggunaan flash dengan bounce akan membantu pencahayaan. Jangan lupa karena aktivitas di dalam ruangan ini umumnya dinamis (bergerak), tips di kondisi 3 diatas seperti AF mode kontinu kadang tetap diperlukan.

Kondisi 5 : warna sumber cahaya yang sulit

Misal : di cafe/resto/hotel, bermacam sumber cahaya bercampur (matahari, lampu, flash)

Paling aman pakailah format file RAW lalu diedit belakangan, sesuaikan setting White Balance yang diinginkan. Tapi bila kita mau hasil akurat tanpa perlu repot edit, maka kita perlu siapkan kertas putih di lokasi pemotretan, lalu lakukan prosedur Custom/Preset WB atau Measure WB. Syaratnya, kertas putih harus difoto penuh, dengan sumber cahaya yang sama dengan yang akan kita pakai nanti. Dengan begitu kamera akan mengerti setting WB optimal dari kertas putih tadi.

WB pakai kertas putih

Khusus di cafe/resto/hotel umumnya disengaja memberi pencahayaan hangat (lampu tungsten yang kekuningan) sehingga membuat dilema saat difoto. Bila kita netralkan maka seolah-olah di lokasi itu lampunya putih netral (tidak ada kesan hangat), tapi bila dibiarkan kuning maka orang yang ada di foto tersebut warnanya (kulit, baju dsb) jadi tidak netral.

Contoh warna kuning dinetralkan jadi putih, benar secara teknis tapi jadi tidak terlihat warna aslinya :

p1000163-netral

Lalu difoto lagi dengan menjaga warna aslinya, lebih hangat (kuning) tapi tidak netral :

p1000164-hangat

wb-shift

WB shift juga bisa dilakukan bila kita sudah tahu ingin membiaskan hasil warna akhir ke arah mana : Hijau – Magenta atau Biru – Merah. Idealnya titik tengah akan memberi hasil netral apabila setting WB sama dengan sumber cahayanya. Tapi kalau kita mau geser bisa juga, dengan menggeser ke kanan maka tone warna akan semakin kemerahan. Bila titik tengah memberi hasil yang tidak netral (misal akibat gangguan dari warna biru pada cahaya yang ada) maka ada baiknya WB shift digeser ke kanan supaya hasil akhirnya tidak lagi biru. WB shift juga boleh dipakai untuk membuat warna sengaja berbeda, misal di daerah berkabut putih akan lebih unik bila WB di geser ke warna biru.

Kondisi 6 : balance flash di tempat low light atau fill flash untuk backlight

Misal : foto potret dengan flash, tapi ingin suasana sekeliling terlihat terang, atau sebaliknya mengisi flash saat backlighting

Flash slow speed dimaksudkan unyuk menerangi subyek yang dekat, namun untuk menangkap ambient light perlu shutter speed yang cukup lambat, misal di belakangnya ada lampu-lampu gedung. Biasanya dipilih 1/30 detik hingga 1/8 detik. Perhatikan kalau tripod sebaiknya dipakai untuk speed lambat.

Foto berikut pakai shutter 1/20 detik, ISO 800 dan lampu flash :

dsc_7633

Bedakan dengan foto berikut ini :

dsc_5327

Ini perkecualian karena backlight / melawan matahari, jadi shutter speed boleh lebih cepat (misal 1/100 detik) tapi supaya obyek utama tidak jadi siluet maka flash tetap diset untuk menyala seperti foto diatas.

————————————————————————————————————————————————

Untuk belajar teknik fotografi bersama saya dan Enche Tjin, ikuti kelas Mastering Teknik.

Untuk memahami istilah-istilah fotografi, beli buku Kamus Fotografi.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Pilih gear yang sesuai minat fotografi anda

Fotografi, tentu perlu kamera dan lensa. Dengannya, berbagai macam foto bisa didapatkan tergantung hobi dan gaya memotret si empunya. Kamera jaman dulu yang cuma memakai lensa fix 50mm, bisa dipakai untuk banyak kebutuhan fotografi. Sejak era lensa zoom, fotografer makin dimanjakan karena bisa berkreasi dengan perspektif, sudut gambar dan komposisi yang beragam. Tapi tahukah anda, saat ini bila seseorang ingin lebih serius menekuni fotografi, gear atau peralatannya perlu semakin ditambah. Repotnya, beda hobi, beda keminatan fotografi bisa berbeda juga gearnya.

Kami coba ulas beberapa keminatan atau cabang fotografi yang umum saja, yaitu potret, landscape, makro dan sport/aksi. Ternyata untuk lebih bisa maksimal dalam menekuni hobinya, kita perlu lebih dulu menentukan minat dan cabang fotografi mana yang mau kita tekuni. Dari situlah baru kita bisa menginvestasikan gear yang sesuai dan efektif.

Foto potret

Ciri foto potret adalah adanya wajah manusia dalam foto (tentu saja kan..). Foto potret yang lebih disukai adalah yang latar belakangnya dibuat blur, supaya fokus atau atensi kita tertuju pada si orang yang difoto. Pencahayaan potret umumnya terbagi dua : alami dan buatan (atau gabungan keduanya). Cahaya alami akan sangat ditentukan waktu, arah cahaya dan sumbernya, sedang yang buatan biasanya dari fill flash hingga strobist. Foto potret juga diharapkan bisa menghasilkan warna kulit yang natural dan tidak terlalu tajam.

potret

Peralatan yang umum dipakai dalam fotografi potret :

  • kamera DSLR bebas
  • lensa fix dengan fokal menengah hingga tele (misal 50mm f/1.8 atau 85mm f/1.4)
  • lensa tele dengan bukaan besar (misal 70-200mm f/2.8)
  • lensa allround dengan bukaan besaar (misal 24-70mm f/2.8)
  • flash eksternal
  • aksesori flash : trigger, diffuser, payung, softbox, reflektor

softbox

Gambar diatas adalah contoh softbox dengan sumber cahaya sebuah lampu flash eksternal, yang cocok untuk membentuk cahaya buatan pada foto potret. Bila disimpulkan, foto potret identik dengan lensa bukaan besar untuk bokeh yang baik, lalu perlu flash dan aksesorinya untuk membentuk dan mengarahkan cahaya.

Foto landscape

Foto landscape sangat diminati karena sambil hunting bisa sambil travelling, bahkan menjurus ke adventure. Hasil foto landscape yang sukses juga bisa dibanggakan bahkan bisa dijual. Kendala landscape yang utama adalah pemilihan lokasi dan waktu yang tepat, lalu banyak faktor luar yang bisa bikin gagal (hujan, banyak turis, sunset tertutup awan dsb). Landscape memang tidak harus selalu identik dengan foto wideangle, meski memang harus diakui kalau wideangle bisa memberi kesan luas yang biasanya lebih disukai. Landscape juga perlu kejelian memilih obyek, seperti langit, pepohonan, air dan bebatuan. Masalah terberat landscape adalah kontras tinggi antara langit yang terik dan bumi yang lebih gelap. Tapi itulah tantangan dari foto landscape, dan banyak usaha yang bisa dilakukan untuk mengatasi kendala itu.

landscape

Gear para fotografer landscape :

  • kamera DSLR, resolusi tinggi lebih baik, weather sealed lebih baik
  • lensa wide/ultrawide untuk kesan luas (misal 12-24mm f/4)
  • lensa lain untuk antisipasi (bisa lensa allround seperti 24-70mm f/2.8 atau lensa sapujagat 18-200mm)
  • tripod, yang kokoh, berbahan karbon, yang kakinya bisa dibentangkan sangat lebar
  • filter (ND, gradual ND, CPL)
  • cable release

graduated_nd_filter

Gambar diatas adalah contoh filter graduated ND yang dipasang didepan lensa. Bila disimpulkan, foto landscape sering diidentikkan dengan gear berupa lensa wide, tripod dan filter ND/grad ND serta CPL. Dalam banyak kasus tidak dibutuhkan penggunaan flash eksternal.

Foto makro

Mendapatkan detail dari obyek yang sangat kecil tentu menantang, dan bila berhasil maka hasilnya akan menarik dan unik. Foto makro idealnya punya rasio reproduksi 1:1 alias life size. Tantangan foto makro adalah menemukan obyek yang menarik (obyek serangga akan lebih menantang karena sulit didekati) lalu kesulitan lain adalah di area fokus yang sempit (depan fokus, belakang blur) meski sudah mengecilkan bukaan. Selain itu makro identik dengan lensa yang tajam, dan bisa mengunci fokus dalam jarak dekat.

macro-ring-flash

Gear para fotografer makro :

  • kamera DSLR, resolusi tinggi lebih baik
  • lensa makro, dengan rasio reproduksi 1:1 (misal 60mm, 90mm atau 105mm)
  • lensa lain dengan teknik khusus (reverse lens atau extention tube)
  • close up filter
  • ring type flash (berbentuk bulat melingkari lensa)
  • tripod untuk mencegah blur saat memotret
  • alternatif murah lainnya : lensa zoom yang mengklaim bisa makro (misal 17-70mm) tapi lensa ini tidak bisa 1:1 sehingga belum layak disebut lensa makro

Bila disimpulkan, foto makro memang perlu lensa 1:1 dan akan lebih baik pakai flash khusus yang berjenis ring seperti contoh gambar diatas.

Foto sport/aksi

Ciri utama dari foto sport atau aksi adalah obyeknya bergerak, dan tujuan fotonya adalah membekukan gerakan untuk menangkap ekspresi atau momen yang diharapkan. Dari sini bisa dibayangkan tingkat kesulitan foto sport adalah kecepatan dan timing, sehingga selain pengalaman dibutuhkan juga gear yang mendukung minat fotografi ini. Faktor eksternal seperti cahaya lingkungan juga sangat menentukan tingkat kesulitan foto sport, karena kita tahu foto dengan shutter cepat tentu perlu cahaya banyak.

70-200s

Gear para fotografer sport :

  • kamera DSLR dengan kemampuan continuous shooting yang cepat, modul auto fokus yang akurat dan buffer yang besar
  • lensa tele dengan bukaan besar (misal 70-200mm f/2.8) dan motor fokus yang cepat (SWM untuk Nikon atau USM untuk Canon)
  • alternatif lensa murah : lensa tele dengan motor fokus yang cepat seperti AF-S 70-300mm, resikonya di kamera perlu menaikkan ISO ke angka tinggi untuk dapat shutter cepat
  • monopod untuk menahan bodi dan lensa supaya stabil
  • kartu memori dengan kecepatan tulis yang tinggi (misalnya kelas 10 untuk SD card)

Bila disimpulkan, gear yang cepat menjadi syarat wajib foto aksi (misal kamera dengan 8 fps), plus lensa bukaan besar untuk mendukung kecepatan kamera. Bila lensa bukaan besar terlalu mahal, bisa lensa lain dengan bukaan variabel tapi tetap harus yang punya motor fokus cepat seperti USM atau SWM. Untuk sport, jangan memakai lensa tele murah seperti Canon EF-S 55-250mm atau Nikon AF-S 55-300mm yang auto fokusnya lambat.

Dengan speed tinggi tripod memang tidak dibutuhkan, tapi sebuah monopod akan membantu untuk menahan bobot kamera dan lensa saat kita harus menunggu momen hingga berjam-jam lamanya.

Untuk panduan lengkap memilih gear fotografi, bisa juga cari buku ini di toko buku terdekat di kota anda :)

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Pilihan flash eksternal untuk kamera Canon

Flash eksternal merupakan aksesori yang sangat direkomendasikan sebagai pelengkap sistem kamera terutama kamera DSLR guna mendapat hasil foto dengan pencahayaan yang lebih baik. Kegunaan utamanya adalah sebagai sumber cahaya yang bisa dikendalikan, baik kekuatannya maupun arah datangnya sinar. Apalagi built-in flash pada kamera punya kekuatan terbatas dan arah sinarnya tidak bisa dibelokkan, membuatnya tidak fleksibel dalam berbagai kondisi pemotretan. Bagi anda pemilik kamera Canon, berikut pilihan flash eksternal yang bisa anda pertimbangkan.

Flash pemula : Speedlite 270EX II (GN 27)

canon-270ex-ii

Inilah flash eksternal mungil yang hanya ditenagai oleh dua baterai AA, dengan harga jual sekitar 1,5 juta. Canon 270EX II merupakan generasi kedua yang disempurnakan, dengan kemampuan sebagai slave flash dalam sistem wireless. Meski kecil namun 270EX II sudah dilengkapi AF assist beam dan punya jangkauan zoom head yang bisa diatur yaitu untuk lensa 28mm dan 50mm. Tidak ada layar LCD di bagian belakang karena semua pengaturan flash ini dilakukan dari bodi kamera. Flash ini hanya bisa diputar ke atas hingga 90 derajat, namun tidak bisa ke kiri atau ke kanan.

Flash untuk videografer : Speedlite 320EX (GN 32)

canon-320ex

Boleh dibilang inilah flash hybrid pertama yang bisa dipakai untuk sumber cahaya saat memotret dan merekam video, berkat adanya sebuah lampu LED yang bisa memberikan cahaya kontinu untuk membantu pencahayaan saat merekam video (dan bisa menjadi AF assist beam juga). Cahaya dari lampu LED ini bisa menerangi area yang dijangkau oleh lensa 50mm dan bisa terus menyala selama 3,5 jam. Flash seharga 2 juta ini juga sudah bisa menjadi slave flash meski bukan sebagai commander. Kemampuan zoom head juga bisa dipilih untuk lensa 24mm dan 50mm, dengan kebebasan diputar atas bawah maupun kiri kanan. Flash 320EX ini sudah memakai empat buah baterai AA.

Flash populer : Speedlite 430EX II (GN 43)

canon-430ex-ii

Di masa lalu Speedlite 430EX adalah flash paling populer karena kemampuan dan harganya yang berimbang. Kini penerusnya yang bernama 430EX II hadir dengan beberapa peningkatan seperti 20% lebih cepat dan recycle yang tanpa suara. Flash 430EX II seharga 2,5 juta ini sudah dilengkapi dengan layar LCD dan berbagai tombol untuk pengaturan mode dan zoom head dari 24-105mm. Sama seperti 320EX, 430EX II ini pun hanya bisa menjadi slave flash tapi bukan sebagai commander.

Flash mewah : Speedlite 580EX II (GN 58)

canon-580ex-ii

Inilah flagship dari flash eksternal Canon yang dijual di harga 4 juta rupiah. Bodinya yang besar, sudah weather sealed, menu yang lengkap dan daya besar menjadi daya tarik bagi para profesional. Flash 580EX II mampu menjadi commander yang bisa mentrigger flash lain sepertu 430EX II hingga 270EX II. Selain mengandalkan 4 baterai AA, flash ini bisa ditenagai dari sumber daya eksternal. Ada juga PC port untuk koneksi ke perangkat lain. Semua fasilitas ada di flash ini termasuk pengaturan manual dan FP mode.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Beberapa pertanyaan pemula tentang kameranya

Banyak hal yang mungkin belum dipahami oleh pemula dalam memilih maupun memakai kamera digital, beberapa bahkan terlalu mendasar sehingga membuatnya malu untuk bertanya. Padahal hal-hal yang mendasar inilah yang perlu dipahami dengan baik sehingga tidak menjadi salah kaprah bahkan terjebak dalam mitos yang tidak benar. Kami coba susun daftar tanya jawab yang mungkin bisa mewakili satu atau dua pertanyan yang anda sedang rasakan saat ini, semoga bisa membantu memberi pencerahan untuk anda. Selamat membaca..

Apakah mega piksel berarti kualitas ?

Dalam marketing, mega piksel dijadikan jargon utama untuk menjual kamera. Calon pembeli dipaksa untuk menganggap kalau semakin tinggi mega piksel kamera maka hasil fotonya akan semakin bagus. Nyatanya mega piksel sebagai istilah lain dari resolusi sensor, menandakan berapa banyak piksel yang dimiliki oleh sensor. Semakin tinggi resolusi, semakin detail foto yang dihasilkan sehingga bisa dicetak ukuran besar. Foto yang bagus secara teknis ditentukan dari ketajaman lensa, kualitas sensor dan seberapa besar tingkat kompresi JPEG yang dipilih.

Samakah resolusi 8 MP di kamera ponsel dan di kamera digital ?

Sama. Jumlah piksel pada keping sensor kamera ponsel 8 MP memang ada 8 juta piksel. Bedanya adalah luas penampang sensor, dimana kamera ponsel punya sensor berukuran sangat kecil yang membuatnya kurang mampu menangkap dynamic range, tonal dan kontras dari obyek yang difoto.

Mengapa hasil foto dari kamera saya tidak bagus ?

Ini bisa banyak kemungkinan, karena foto yang bagus itu bisa secara teknis maupun secara seni. Umumnya kita mengeluhkan hasil foto kamera yang kurang bagus tanpa mengevaluasi dulu apakah kita sudah benar dalam memakai kamera. Biasanya foto jadi jelek karena salah dalam memfokus, goyang saat memotret, memaksakan memotret di tempat yang cahayanya kurang, memotret melawan cahaya dan sebagainya. Tapi bila anda sudah melakukan yang terbaik tapi hasil fotonya tetap jelek (hasil soft, kontras rendah atau ada distorsi lensa yang nyata) rasanya anda perlu mencari kamera lain.

Mengapa foto saya gelap meski sudah memakai lampu kilat ?

Lampu kilat punya keterbatasan jangkauan, seberapa jauh jangkauan lampu ditentukan dari kekuatan pancaran lampu, yang diistilahkan Guide Number (GN). Lampu kilat tidak dimaksudkan untuk menerangi obyek yang terlalu luas, seperti di dalam aula atau gedung pertemuan. Gunakan lampu kilat untuk menerangi obyek yang dekat, misal berjarak 1 hingga 5 meter dari kamera.

Apakah membiarkan semua setting AUTO itu aman ?

Untuk saat ini bisa dibilang sudah aman. Kamera sudah memiliki metoda metering yang lebih baik, plus kinerja white balance yang juga sudah lebih akurat. Bila kamera anda hanya punya mode AUTO, usahakan pengaturan ISO jangan dibuat AUTO, melainkan manual saja. Gunakan ISO terendah dan naikkan hanya bila perlu.

Untuk apa ada ISO tinggi ?

Terkadang kita dihadapkan pada kondisi pencahayaan yang kurang mencukupi, seperti saat senja atau di dalam ruangan. Saat-saat seperti ini kita perlu merubah nilai ISO ke arah yang lebih tinggi supaya sensitivitas sensor ditingkatkan sehingga kamera lebih peka menangkap cahaya yang kurang. ISO tinggi juga berguna bila kita ingin menaikkan kecepatan shutter misalnya seperti saat ingin membekukan momen cepat seperti aksi olahraga. Misal dengan ISO 100 kita cuma mendapat kecepatan 1/500 detik, maka menaikkan ISO ke 200 akan memungkinkan kita memakai kecepatan shutter 1/1000 detik.

Mengapa hasil foto saya berbintik noise ?

Itulah hasil foto yang diambil dengan ISO tinggi, apalagi kalau kameranya punya sensor kecil. Sensor meningkatkan sensitivitasnya saat ISO dinaikkan, sehingga noisenya ikut naik dan tampak seperti bintik-bintik / grain yang mengganggu. Lebih parah lagi, ada noise lain berupa bintik warna yang sulit dihilangkan walau pakai software pengurang noise.

Apa guna stabilizer ?

Stabilizer dibutuhkan untuk meredam getaran tangan yang terjadi saat memotret, sehingga resiko hasil foto jadi blur bisa dikurangi. Stabilizer semakin diperlukan bila kita memotret memakai kecepatan shutter lambat (sekitar 1/20 detik atau lebih lambat) ataupun saat memakai fokal lensa tele (di atas 100mm). Stabilizer tidak diperlukan bila kita memotret memakai tripod, ataupun memotret dengan kecepatan shutter cukup tinggi (di atas 1/60 detik).

Apakah Digital Stabilizer itu juga sama ?

Tidak. Istilah Digital Image Stabilizer adalah penipuan yang jahat. Ini hanya akal-akalan produsen untuk mengecoh pembeli yang awam. Trik ini hanya menaikkan ISO untuk menaikkan kecepatan shutter sehingga resiko blur bisa dicegah. Pastikan bila anda perlu fitur stabilizer (dan sebetulnya memang perlu) carilah kamera yang memiliki fitur stabilizer pada lensa atau pada sensor.

Bagaimana dengan Digital Zoom ?

Ini juga sama, akal-akalan dari jaman dahulu. Lupakan saja dan fasilitas ini jangan dipakai karena akan merusak kualitas foto yang dihasilkan.

Mengapa foto saya sering blur bila lensa di zoom ?

Pertama, istilah lensa ‘di zoom’ itu salah kaprah. Lensa zoom adalah lensa yang bisa berubah fokal lensanya dari fokal terdekat (wide) ke fokal terjauh (tele). Pertanyaannya seharusnya begini : mengapa foto sering blur bila memakai fokal tele (misal 100mm atau lebih) ? Desain lensa kamera pada umumnya memiliki bukaan diafragma yang semakin mengecil saat lensa ‘di zoom’ ke posisi tele. Hampir semua lensa memiliki bukaan besar saat posisi wide (sekitar f/2.8) namun mengecil di posisi tele (sekitar f/5.6). Bukaan yang lebih kecil akan menyebabkan cahaya yang masuk ke kamera juga berkurang sehingga kamera akan menurunkan kecepatan shutter untuk mengimbangi penurunan cahaya ini. Turunnya kecepatan shutter ini akan berdampak pada mudahnya foto menjadi blur akibat getaran tangan. Ingat, guna mencegah blur, kecepatan shutter jangan lebih lambat dari rumus 1/panjang fokal (misal memakai fokal 100mm maka kecepatan shutter minimal 1/100 detik).

Jenis memori apa yang sebaiknya saya pakai ?

Hampir semua kamera modern memakai memori jenis SD card. Bila hanya untuk foto, apapun jenis memori SD card pada prinsipnya sama. Tapi bila hendak merekam video, apalagi yang resolusi HD, maka memori dengan kecepatan baca tulis yang tinggi mutlak diperlukan. Untuk memudahkan, kini memori diberi kelas seperti kelas 2, kelas 4, kelas 6 dst. Untuk menjamin rekaman video tidak patah-patah, gunakan memori kelas 6 atau lebih. Kini ada juga memori SD card dengan kapasitas tinggi seperti SDHC dan SDXC, perhatikan dulu apakah kamera anda kompatibel dengan memori seperti itu atau tidak.

Mengapa kamera saya terasa lambat ?

Lambat bisa jadi karena prosesor internal kamera memang punya kinerja pas-pasan. Yang paling menyebalkan adalah lambat karena shutter lag, alias jeda saat menekan tombol rana. Kita bisa kehilangan momen karena meski waktu memotret sudah tepat tapi kamera terlambat mengambil gambar. Lambat yang lain adalah shot-to-shot, kita membuang waktu menunggu kamera siap mengambil gambar, setelah kita selesai memotret. Akan lebih parah kalau mode lampu kilat dalam kondisi aktif, bisa jadi kita harus menunggu sampai 7 detik untuk bisa memotret lagi. Kamera DSLR tidak mengalami kasus seperti itu karena prosesornya bertenaga, kalaupun ada jeda shot-to-shot itu karena ada proses JPEG yang berat seperti fitur peningkat dynamic range yang aktif.

Mengapa tanpa lampu kilat hasil foto di ruangan malah lebih terang ?

Saat suasana sekitar mulai redup, kamera akan mengatur eksposur supaya tetap terjaga dalam batas wajar (tidak terlalu gelap tidak terlalu terang). Untuk itu kamera akan melambatkan kecepatan shutter sehingga banyak cahaya yang bisa dimasukkan ke sensor. Inilah yang dinamakan ambient lighting atau pencahayaan alami tanpa lampu kilat. Pastikan tangan kita memegang kamera dengan kokoh, atau gunakan tripod agar tidak goyang saat memotret dengan teknik seperti ini.

Mengapa kadang-kadang kamera saya tidak bisa mengunci fokus ?

Auto fokus pada kamera memakai sistem pendeteksi kontras. Gambar yang ditangkap oleh sensor akan dikirim ke prosesor dalam kamera lalu kamera akan mengevaluasi kontras terbaik dan menganggapnya sebagai fokus yang tepat. Proses ini berlangsung sekitar sekian mili detik hingga dua detik, tergantung bermacam kondisi. Bila kamera diarahkan pada obyek yang tidak kontras, atau obyek yang kurang terang, maka auto fokus kamera akan kesulitan mencari dan mengunci fokus.

Itulah diantaranya beberapa pertanyaan mendasar yang kerap dilontarkan para pemula. Memang untuk memahami lebih dalam tidak akan cukup dengan membaca tanya jawab di atas. Untuk itu di kesempatan sebelumnya kami sudah menyajikan beberapa artikel yang lebih spesifik dalam membahas suatu topik, diantaranya :

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Pixel TR-331/332 wireless TTL trigger harga terjangkau

Penyuka strobist punya satu lagi pilihan radio trigger untuk berkreasi dengan lampu flashnya. Adalah Pixel Enterprise Limited yang meramaikan dunia strobist dengan produknya TR-331 (untuk Nikon) dan TR-332 (untuk Canon) yang memungkinkan kamera dan lampu kilat bisa berkomunikasi secara wireless, dengan tetap mendukung fungsi TTL-nya. Dengan demikian anda yang  sudah punya lampu kilat seperti SB-800, Nissin Di622 atau 430EX II tetap bisa mengatur setting flash secara wireless. Apalagi harga produk ini juga lumayan terjangkau di kisaran 800 ribuan.

pixel-tr-331-box

pixel-tr-331-open-box

Dalam kemasan kotaknya terdapat unit transmitter (TX) dan receiver (RX), kabel PC sync serta dua baterai CR2. Unit TX berfungsi murni sebagai transmitter yang dipasang pada flash hot shoe di kamera. Sayangnya pada bagian atas unit TX ini tidak terdapat hot shoe untuk menempatkan lampu kilat seperti layaknya Yongnuo RF-602. Pada unit RX terdapat dudukan untuk light stand Berikut spesifikasi Pixel TR-331 dan TR-332 :

  • memakai frekuensi 2,4 GHz, ada 16 kanal
  • bisa dipakai hingga 65 meter
  • memakai layar LCD pada kedua unit
  • bisa dihubungkan ke lampu studio melalui kabel
  • mendukung FP mode hingga 1/8000 detik
  • waktu stand-by 1000 jam untuk RX unit dan 500 jam untuk TX unit
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Tidak puas dengan punya DSLR dan lensa kit saja?

Tidak banyak yang menyadari kalau memiliki DSLR sejatinya adalah sebuah komitmen jangka panjang untuk membangun sebuah “sistem kamera”. Kebanyakan pembeli DSLR hanya berangkat dari niat untuk mendapatkan hasil foto yang lebih baik dari kamera saku, atau tergiur oleh murahnya harga kamera DSLR belakangan ini. Tentu saja bagi pemula yang belum pernah memiliki lensa apapun, pilihan paling logis adalah memilih DSLR dengan lensa kit, atau lensa yang dijual satu paket dengan bodi kamera. Sebagian orang mungkin puas dengan apa yang dimilikinya, sebagian lagi mungkin tidak. Lalu apa saja yang mesti dilakukan bila pasangan DSLR dan lensa kit belum memuaskan anda? Inilah saran kami.

Kamera DSLR dengan lensa kit 18-55mm
Kamera DSLR dengan lensa kit 18-55mm

Kebanyakan orang yang tidak puas akan menyalahkan lensa kitnya yang dianggap kurang bagus karena murah. Saran kami, sebelum menyalahkan lensa kit pastikan dulu anda sudah mengetahui bagaimana mengoperasikan kamera anda dengan benar. Pahami juga konsep dasar mengenai eksposure dan pencahayaan, apalagi lensa kit punya bukaan diafragma yang tidak besar sehingga perlu selektif mengamati cahaya sebelum memotret. Kebanyakan lensa kit modern sudah punya fitur stabilizer, ketahui apa manfaatnya dan kapan digunakannya (umumnya untuk mencegah blur karena speed lambat). Bila perlu, jangan ragu menaikkan ISO karena inilah cara termudah saat bukaan lensa tidak bisa dibuat lebih besar lagi, dan shutter tidak bisa dibuat lebih lambat lagi.

Lensa kit itu tajam dan bisa memberi hasil foto yang sama baiknya dengan lensa yang lebih mahal asal kita mengetahui pada bukaan berapa lensa kit yang kita punya bisa memberikan ketajaman terbaik, yang umumnya pada nilai bukaan f/8. Memang beberapa hal yang  menjadi ciri lensa kit (lensa murah) tidak bisa dipungkiri akan membatasi kreativitas kita dan membuat kita mempertimbangkan mencari lensa lain, seperti :

  • motor Auto Fokus lambat : bila anda perlu kecepatan AF, cari lensa lain
  • elemen depan lensa berputar : bila anda memakai filter CPL, lupakan lensa seperti ini
  • tidak ada weather sealing : bila anda memotret ditengah hujan atau debu Merapi, carilah lensa profesional
  • distorsi yang nyata : bila anda perlu foto bebas distorsi, pertimbangkan lensa normal 50mm
  • plastik (mount plastik, bodi plastik) : takut patah? carilah lensa dengan mount logam
  • bokeh jelek : untuk mendapat bokeh yang menawan bisa cari lensa fix atau tele
  • bukaan kecil : profesional yang mencari lensa dengan bukaan besar tidak akan membeli lensa kit kan?

Bila anda hanya memakai lensa kit untuk kegiatan sehari-hari, seperti tamasya, acara keluarga sampai usaha jasa fotografi kecil-kecilan, rasanya lensa kit masih sangat mencukupi buat memberi hasil yang baik. Tapi bila anda memang sedang merencanakan membangun “sistem kamera” maka memiliki satu atau dua lensa lagi bisa jadi langkah bijak anda selanjutnya, seperti lensa tele (zoom) maupun lensa fix normal. Untuk memudahkan, baca lagi panduan kami dalam membeli lensa dan panduan bagaimana menilai kualitas dari sebuah lensa.

Nah, terlepas apapun lensa yang anda punya, kami sajikan juga apa-apa yang diperlukan untuk menjadikan kamera dan hasil foto anda lebih baik. Inilah dia :

sunpak-pz42x
Flash

Pertama adalah lampu kilat. Anda tentu menyadari kalau tidak setiap saat kita menghadapi kondisi pencahayaan yang ideal. Saat terik matahari lampu kilat tetap diperlukan untuk menghindari tingginya kontras dan mencegah backlight. Saat gelap lampu kilat juga mutlak diperlukan. Meski kamera DSLR sudah dibekali lampu kilat kecil, namun anda perlu lampu tambahan yang berdaya besar dan bisa di bouncing ke langit-langit untuk hasil yang lebih natural. Bahkan dengan memiliki lampu kilat tambahan, anda bisa berkreasi dengan wireless flash alias off-shoe flash, alias strobist untuk kreativitas lebih. Lampu kilat yang mendukung fitur TTL tentu lebih baik karena lampu dan kamera bisa berkomunikasi dengan baik sehingga intensitas cahaya bisa diatur supaya foto tidak terlalu terang atau gelap.

tiffen
filter

Kedua adalah filter. Penggunaan filter rupanya masih dibutuhkan dari sekedar untuk melindungi lensa hingga menghasilkan foto yang lebih baik. Filter juga bisa dipakai seperti kaca mata hitam yaitu menurunkan intensitas cahaya yang masuk hingga beberapa stop, gunanya kita bisa memakai speed lambat di siang hari. Filter semacam ini dinamakan filter ND atau Neutral Density. Ada baiknya kita punya satu filter ND misalnya filter ND untuk turun 4 stop (ND4). Ada juga filter yang cocok dipakai untuk membuat hasil foto lebih natural seperti Gradual ND ataupun Circular Polarizer, meski tentunya harganya juga lumayan mahal.

Ketiga adalah aksesori pendukung. Untuk mereka yang serius, menenteng tripod saat hendak memotret bukanlah suatu hal yang dianggap merepotkan. Mereka paham manfaat tripod dan bagaimana menggunakannya dengan baik. Tripod memang menjadi aksesori penting yang kerap diabaikan, padahal saat tiba-tiba kita perlu tripod namun tidak punya akan terasa ruginya. Aksesori lain ada juga battery grip yang berfungsi ganda sebagai vertical grip, untuk menambah daya kamera, untuk kamera tertentu seperti Nikon D300 bisa menambah kecepatan burst kamera, juga membantu anda saat memotret vertikal.

Inilah mengapa kami sampaikan di awal kalau membeli DSLR sama saja dengan membangun “sistem kamera”. Apa yang anda beli hari ini merupakan permulaan untuk membeli lagi dan lagi, tentunya dengan pertimbangan yang matang. Dengan diimbangi pengetahuan fotografi yang baik dan tekun berlatih, bukan tak mungkin anda yang merasa saat ini adalah pemula, suatu saat nanti akan menjadi seorang profesional.

Bila anda suka artikel ini dan hendak membantu kami dalam operasional pemeliharaan website (biaya internet, hosting, domain dsb) pertimbangkan membeli produk fotografi melalui kami yang telah didukung oleh sponsor situs ini, yaitu Tokocamzone. Dengan membeli melalui kami, anda sudah ikut membantu kami untuk terus membantu pembaca lainnya dengan membuat artikel bermutu.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..