Kamera medium format 100MP: FujiFilm GFX100

Sebuah kamera medium format dengan sensor 102 MP telah diluncurkan oleh Fuji yaitu GFX 100. Dengan ukuran kamera yang masih seringkas DSLR kelas pro, GFX 100 sudah dibekali sensor ukuran 44x33mm BSI CMOS yang mampu menangkap gambar dengan ukuran piksel 11.648×8.736 piksel atau 102 Mega Piksel. Bodi kamera GFX 100 seberat 1,4 kg ini sudah dirancang solid khas kamera profesional dengan weathersealed di 95 bagian, dengan dua slot SD card dengan dukungan UHS-II, dukungan USB C 3.2, layar LCD 3,2 inci yang bisa dilipat untuk horizontal dan vertikal, dan jendela bidik OLED 5,76 juta dot yang bisa dilepas. Ada juga layar tambahan untuk menampilkan setting di bagian atas kamera dan di bawah LCD utama.

Hal menarik dari kamera seharga $10.000 (Rp 144 juta) ini selain dari sensor medium formatnya yang resolusi ekstra tinggi, juga didukung oleh dua hal penting yaitu stabilizer pada bodinya yang efektif sampai 5,5 stop, dan hybrid AF dengan 3,76 juta piksel pendeteksi fasa yang tersebar di semua area sensor. Hal ini penting karena resolusi tinggi akan lebih rentan dari goyangan tangan saat memotret, dan stabilizer secara sensor shift akan lebih efektif meredam getaran, apapun lensa yang dipakai.

Kemudian fakta bahwa GFX 100 ini sudah dibekali phase detect AF yang sangat banyak akan membuat auto fokus menjadi lebih gesit dan handal dipakai di keadaan sulit misalnya subyek bergerak seperti olahraga dan satwa.

Prosesor empat inti yang mentenagai kamera ini membuat mampu menangani file RAW 16 bit dan rentang ISO normal 100-12800 (bisa diekspansi sampai ISO 102.400). RAW 16 bit artinya kekayaan warna, detail shadow highlight dan dynamic range akan sangat menarik untuk diedit, selain tentunya juga terdapat pilihan JPG dan TIFF. Dalam urusan video, GFX 100 juga punya kemampuan merekam DCI dan UHD 4K dengan 400 Mbps ke perekam eksternal via HDMI, memakai codec H.265 atau H.264 dan 10 bit 4:2:2 F-log video untuk kesan sinematik. Video dengan sensor medium format akan terlihat berbeda karena Depth of Field yang tipis, reproduksi tonal yang kaya, dan ISO tinggi yang rendah noise akan menampilkan video yang lebih unik dan profesional.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

FujiFilm X-H1, serius untuk foto dan video

Fujifilm meluncurkan Fuji X-H1 sebagai kamera mirrorless yang ditargetkan menjadi produk foto dan juga video canggih. Desainnya seperti campuran antara X-T2 dengan Fuji GFX (medium format). Kamera ini berukuran cukup besar, tahan cuaca dan tahan beku, dengan grip yang mantap digenggam. Hal bagus lain diantaranya top LCD, jendela bidik besar dan layar sentuh.

lead

Masih dengan sensor 24 MP APS-C X-Trans sensor, kali ini dengan sistem sensor shift IS yang pertama kali diterapkan di sistem Fuji.  Auto fokusnya juga disempurnakan, demikian juga dengan kecepatan memotret yang meningkat hingga 11 fps (bila memakai battery grip). Di sisi video, tersedia 4K video F-log yang bisa direkam langsung ke kartu memori.

fujifilm+x-h1-2018-02-14-01

Fuji X-H1 menjadi andalan FujiFilm untuk merebut pengguna video yang selama ini memakai Sony atau Panasonic, di sisi lain juga ingin merangkul fotografer pro yang perlu kamera kelas serius.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

FujiFilm X-E3, mirrorless anyar Fuji berdesain rangefinder

Setelah migrasi dari sensor X-Trans 16 MP ke 24 MP di Fuji X-T2 dan X-T20, maka selanjutnya FujiFilm perlu memasang sensor serupa di penerus Fuji X-E2. Tapi sukses di X-T20 membuat banyak pihak ragu apa FujiFilm akan membuat penerus X-E2 atau tidak. Kini terjawab sudah ternyata FujiFilm mengumumkan hadirnya Fuji X-E3 dengan sensor 24 MP, fitur video 4K dan layar sentuh. Bahkan X-E3 menjadi kamera Fuji pertama dengan koneksi nirkabel Blutooth yang lebih hemat daya dibanding WiFi.

Fuji-XE3

Desain kamera X-E3 ini ala rangefinder, artinya posisi jendela bidik ada di pojok kiri atas, dan ini berbeda dengan desain ala SLR yang dipakai di X-T2/X-T20. Fuji X-E3 punya desain yang simpel, kini dengan dua roda dial (di depan dan di belakang), lalu sebuah joystick dan layar sentuh disediakan sehingga D-pad (tombol panah 4 arah) di kamera ini dihilangkan. Layar sentuhnya sendiri merupakan LCD 3 inci yang sayangnya tidak bisa dilipat, untuk jendela bidik elektronik cukup detail dengan 2,6 juta dot. Built-in flash ditiadakan di X-E3, sebagai gantinya diberikan mini eksternal flash yang bisa dipasang di hot shoe.Fuji-XE3b

Kinerja kamera ini kurang lebih sama dengan X-T20, seperti auto fokusnya dengan hybrid AF (PDAF 325 area), menembak kontinu 8 fps, dan aneka Film Simulation khas kamera Fuji. Dari spek dan desain kamera X-E3, maka kami meyakini Fuji ingin bersaing langsung dengan Sony A6300.

Konsumen tidak perlu bingung dengan banyaknya pilihan di line-up Fuji saat ini. Seperti biasa segmen basic tanpa jendela bidik tersedia X-A3 atau bahkan X-A10, lalu di segmen menengah ada X-T20 (SLR style) atau X-E3 ini (rangefinder style). Di segmen atas ada X-T2 (SLR style) atau X-Pro2 (rangefinder style).

Plus minus kamera ini :

  • (+) sensor 24 MP X-Trans
  • (+) desain rangefinder lebih ringkas
  • (+) kinerja fokus sudah oke dibanding seri sebelumnya
  • (+) video 4K
  • (+) layar sentuh
  • (-) flash dipisah dari bodi
  • (-) layar LCD tidak bisa dilipat
  • (-) grip kurang menonjol
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

FujiFilm XT2, peningkatan signifikan dari XT1

FujiFilm kembali merilis kamera andalan penerus seri populer XT1 yang tentunya bernama FujiFilm XT2. Dari fisiknya terlihat kurang lebih sama desainnya dengan XT1 tapi dia lebih tinggi, memiliki joystick seperti di Fuji X-Pro2 yang sangat berguna untuk mengubah area fokus. Kini juga di  XT2 ada dual slot kartu memori SD card, jendela bidik yang lebih besar, dan layar LCD putar yang unik, membantu saat memotret portrait maupun landscape.

fuji-xt2Beberapa peningkatan lain dari X-T2 dari X-T1 sudah kita lihat di dalam Fuji X-Pro2 yaitu 24MP APS-C X-Trans sensor, mode Black & White ACROS. Kinerja kamera juga meningkat dengan pembaharuan sistem autofokus hybrid (325 area, 169 phase detection) dan maksimum foto kontinu secepat 8 foto per detik, tapi jika battery grip seperti foto diatas terpasang dan diisi dua baterai tambahan, maka kecepatan foto kontinu Fuji XT-2 menjadi 11 foto perdetik.

Yang mengejutkan adalah Fuji X-T2 dapat merekam video berkualitas 4K. Padahal kita ingat selama ini Fuji tidak dikenal sebagai perusahaan yang fokus dalam videografi. Tapi disini fitur videonya lumayan dengan F-Log flat profile dan 4K out HDMI juga.

Memotret vertikal tapi ingin layar dilipat keatas? Bisa..
Memotret vertikal tapi ingin layar dilipat keatas? Bisa..

Seiring kamera Fuji X-T2, Fuji juga mengumumkan flash baru EX F500 yang memiliki GN500 seharga $450. Tiga lensa juga diumumkan tapi baru akan terwujud akhir tahun dan tahun depan (2017) yaitu 23mm f/2 WR, 50mm f/2 WR dan 80mm f/2.8 OIS WR Macro.

Hadirnya Fuji X-T2 yang harganya USD 1599 (Di Indonesia mungkin sekitar Rp 23 juta) akan bersaing dengan kamera DSLR profesional bersensor APS-C lainnya seperti Canon 7D mk II, Nikon D500 dan di kamera mirrorless, akan bersaing dengan Sony A6300 dan A6500. Fuji XT2 ini tentu cocok untuk fotografi potret, street maupun pemandangan, juga bakal disukai oleh videografer yang memerlukan video 4K.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Fuji bikin X-T1, Olympus keluarkan OM-D EM-10

Seru nih, hanya dalam waktu dua hari, dua kamera baru yang cukup mirip telah diumumkan kehadirannya. Keduanya adalah kamera mirrorless yang keren, yaitu Fuji X-T1 dan Olympus OM-D EM-10. Fuji X-T1 hadir dengan desain yang berbeda dengan seri X sebelumnya, kini lebih mirip seri OM-D milik Olympus dengan adanya ‘tonjolan’ di bagian atas, sebagai tempat untuk jendela bidik. Selain itu X-T1 dipenuhi kendali ala kamera jadul yang perlu diputar ke angka tertentu, seperti ISO, shutter dan kompensasi eksposur. Olympus sendiri membuat OM-D EM10 sebagai kamera paling terjangkau dari seri OM-D dan harganya bisa bersaing langsung dengan Olympus Pen. Walau Fuji X-T1 dan Olympus EM10 tidak bisa diadu head-to-head secara langsung, tapi keduanya menarik untuk sama-sama diulas.

xt1-vs-em10

Fuji X-T1

Respon positif langsung menyebar di internet bahkan saat kamera Fuji X-T1 baru dirumorkan kehadirannya. Alasannya karena Fuji dibilang sukses meramu strategi yang berorientasi pada fotografer, misal kualitas sensor X-trans ukuran APS-C, bodi yang berkualitas tinggi, dan lensa yang juga bagus. Line up Fuji mirrorless sebenarnya sudah cukup lengkap dari X-Pro1, X-E1 dan X-E2, X-A1 dan X-M1 namun Fuji kembali menambah pilihan dengan mengeluarkan X-T1 yang desainnya agak berbeda, lebih retro klasik dan harganya cukup tinggi.

xt1_top_18-55mm

Fitur utama Fuji X-T1 :

  • sensor APS-C X-Trans 16 MP
  • phase detect AF
  • bodi magnesium tahan cuaca
  • 8 fps
  • jendela bidik OLED 2,3 juta piksel
  • roda pengatur ISO, shutter dan eksposur comp.
  • WiFi

Harga kamera ini 15 jutaan bodi saja, cukup tinggi ya..

Olympus OM-D EM-10

Olympus OM-D EM10

Sebetulnya Olympus menargetkan kamera OM-D itu berada di atas seri Pen, dengan fitur kelas atas dan bodi tahan cuaca. Diawali dengan EM5 (12 jutaan) dan kemudian hadir EM-1 (15 jutaan), agak mengejutkan saat hari ini Olympus membuat lagi OM-D ketiga yaitu EM-10 yang akan dijual 8 jutaan saja. Tentunya EM-10 tidak membawa semua kehebatan di seri OM-D sebelumnya, misalkan untuk menekan harga maka tidak ada phase detect dan weather seal di bodi EM-10. Tapi layaknya kamera OM-D lain, EM-10 punya fitur utama seperti :

  • sensor 16 MP dengan Micro Four Thirds mount (2x crop)
  • bodi magnesium
  • layar lipat dan layar sentuh
  • in bodi stabilizer (3 axis)
  • 8 fps
  • built-in flash (pertama di seri OM-D) dan bisa mentrigger flash eksternal
  • WiFi

Kedua kamera ini tentu bukan berada di kasta yang sama, karena Fuji X-T1 termasuk kamera kelas elit dengan bodi mantap dan fitur canggih, sedangkan OM-D EM-10 adalah kamera OM-D ekonomis untuk mereka yang perlu kamera berkualitas khas OM-D namun merasa E-M5 (apalagi E-M1) terlalu mahal. Keduanya sama-sama kamera mirrorless yang matang dalam arti baik Fuji dan Olympus cukup banyak pengalaman dalam membuat kamera yang tepat dalam hal kualitas, ergonomi dan lensanya.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Lumix GX7 hadir, kami ulas head-to-head dengan Fuji X-E1

Era kamera saku sudah beralih ke konsep mirrorless compact, karena tekanan berat dari smartphone modern yang kameranya canggih. Di kelompok mirrorless compact ini tiap produsen punya andalan, dan kebetulan lagi tren desain ala rangefinder (nuansa retro) seperti kamera masa lalu. Hari ini  Panasonic baru saja mengumumkan kehadiran Lumix GX7 sebagai penerus GX1. Desainnya keren, masih cukup pocketable dan pastinya sarat fitur. Lawan sepadan menurut kami adalah Fuji X-E1, walau bisa dibilang juga setara dengan kamera mirrorless lain seperti Olympus E-P5 atau Sony NEX-6.

Lumix GX7

Di kubu Micro Four Thirds, baik Panasonic maupun Olympus punya banyak produk untuk diandalkan. Olympus cukup konsisten dalam membuat kamera berdesain klasik (diberi nama Olympus Pen) sedangkan Panasonic mendesain kameranya berkonsep modern. Di masa lalu Lumix GF1 dan GF2 cukup keren dengan desain retro, tapi kini penerusnya sudah kembali berdesain ‘normal’. Bagi anda yang merindukan desain khas retro-klasik, Panasonic menghadirkan lagi di kamera terbarunya Lumix GX7 (penerus GX1-lompatan yang banyak dari angka 1 ke angka 7).

lumix-gx7

Lumix GX7 memakai sensor 16 MP Four Thirds (crop factor 2x), bodi magnesium alloy, jendela bidik elektronik yang sangat detil dan bisa dilipat keatas (kamera lain biasanya menjadikan ini sebagai aksesori tambahan), layar LCD 3 inci yang juga bisa dilipat, pertama kalinya memakai stabilizer pada bodi, ISO maksimum 12.800, lampu kilat mungil yang pop-up (ada juga flash hot-shoe) dan dua roda kendali.

lumix-gx7_2

Fitur movie di kamera ini juga kelas atas, termasuk focus peaking, opsi 24p dan kendali manual saat rekam video. Microphone stereo jadi satu-satunya penangkap audio di kamera ini, karena tidak ada input untuk mic eksternal. Fitur Wi-Fi yang lagi jadi tren juga tersedia disini, lengkap dengan NFC. Shutter di Lumix GX7 mampu memotret hingga kecepatan 1/8000 detik, dan saat memakai flash bisa hingga 1/320 detik, serta burst 5 fps yang cukup lumayan.

Dibandingkan dengan Fuji X-E1

Fuji X-E1 adalah versi ‘ekonomis’ dari X-Pro1 yang terkenal akan hybrid viewfindernya. Di X-E1 tidak lagi ditemui hybrid viewfinder, sebagai gantinya adalah jendela bidik elektronik biasa (namun tetap berkualitas). Lumix GX7 menang dalam hal kemampuan melipat jendela bidik ini. Keduanya sama-sama memakai teknologi OLED untuk jendela bidik ini. Untuk layar LCD Lumix GX7 unggul jauh karena lebih lega (3 inci vs 2,8 inci) dan mengadopsi sistem layar lipat serta sistem layar sentuh.

Komparasi Lumix GX7 dan Fuji X-E1

Fuji X-E1 menang dalam hal sensor (lebih luas, secara teori hasil fotonya lebih baik dan bokehnya juga lebih blur) tapi dalam prakteknya kualitas foto sensor APS-C dan Four Thirds nyaris identik (kecuali di ISO sangat tinggi).  Fuji X-E1 juga punya kendali shutter yang klasik, dengan memilih angka-angka shutter speed yang sudah tersedia pada roda di bagian atas kamera.

Mengnai harga keduanya relatif berimbang di kisaran 10 jutaan bodi saja. Pilihan lensa Fuji XF belum begitu sebanyak lensa Micro Four Thirds, apalagi sejak Lumix GX7 mengadopsi sistem peredam getar di bodi, maka semua lensa Micro Four Thirds buatan Olympus atau merk lain bisa dipakai dengan tetap mendapat efek stabilisasi. Sangat menarik..

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Inilah jajaran kamera saku underwater terbaru di 2013

Kamera saku untuk kebutuhan outdoor yang didesain tangguh dan tahan air pilihannya memang tidak terlalu banyak. Tiap merk paling hanya punya satu atau dua versi dan harganya juga lebih mahal. Tapi buat yang senang berpetualang, kamera saku tangguh lebih menarik untuk dipunyai karena tak perlu kuatir kameranya rusak kalau dipakai dalam kondisi ekstrim, hingga masuk ke air sekalipun. Di awal tahun ini berikut pilihan kamera outdoor waterproof yang bisa kami rangkum untuk anda.

Pentax WG-3 : bodi kekar, bukaan lensa besar

pentax-wg-3

Pentax WG-3 memakai sensor 16 MP dengan stabilizer, lensa 25-100mm f/2-4.9 yang membuatnya percaya diri dipakai di kondisi kurang cahaya. Kamera ini bisa dibilang tahan segalanya, seperti air (hingga 13 meter), debu dan suhu -10 derajat, bahkan saat dijatuhkan dari ketinggian 2 meter pun masih tidak apa-apa. Lupa menduduki kamera ini saat disimpan di saku belakang celana anda? Tak usah kuatir, kamera ini tahan tekanan dan tidak akan retak hanya karena kedudukan.

Untuk menebus semua kehebatannya, siapkan dana 3,5 jutaan rupiah. Versi lain ada WG-3 GPS yang sesuai namanya, sudah dibekali penerima GPS untuk geotagging.

Nikon Coolpix AW110 : siap menyelam sampai dalam

nikon-aw110

Nikon Coolpix AW110 punya sensor CMOS 16 MP dengan layar OLED dan lensa 28-140mm plus stabilizer VR. Selain dilengkapi GPS dan WiFi (yang mana sebuah penambahan fitur yang berguna) kamera ini juga mampu diajak menyelam sampai kedalamam 18 meter, dan tentu tahan jatuh hingga 2 meter, suhu dingin -10 derajat dan tahan debu.

Sama seperti Pentax diatas, harga Nikon ini juga di kisaran 3,5 jutaan. Bila ingin Nikon underwater yang terjangkau juga ada pilihan Nikon S31 seharga 1 jutaan yang cuma bisa menyelam hingga 4,5 meter saja.

Olympus Stylus Tough TG-830 iHS : harga dan kemampuan yang berimbang

olympus-tg-830-ihs

Untuk pilihan yang lebih terjangkau namun tak kalah mantapnya, ada Olympus Stylus Tough TG-830 iHS yang punya sensor 16 MP dengan stabilizer dan lensa 28-140mm. Kemampuan outdoornya diantaranya bisa dibawa menyelam hingga 10 meter, tahan jatuh dari ketinggian 2 meter, tahan suhu hingga -10 derajat dan tahan debu. Fitur bawaan diantaranya built-in GPS untuk geotagging. Harganya sekitar 2,8 jutaan. Untuk versi lebih terjangkau ada juga Stylus Tough TG-630 iHS 12 MP tanpa GPS, harga 2 jutaan.

Sony Cyber-shot DSC-TX30 dan TF1 : kamera-kamera outdoor yang stylish

sony-dsc-tx30

Sony Cyber-shot DSC-TX30 adalah kamera tahan air hingga 10 meter yang tertipis di dunia. Lensa Zeissnya bisa menjangkau dari 26-130mm dengan sensor 18 MP plus OIS. Layar OLED di belakang sangat lebar dan dioperasikan dengan sistem sentuh, entah apakah sistem ini efektif bila kita memakai sarung tangan. Fitur lainnya, kamera ini tahan jatuh dari ketinggian 1,5 meter dan tahan suhu dingin hingga -10 derajat.

sony-dsc-tf1

Sedangkan Cyber-shot TF1 dibuat untuk yang tidak perlu layar sentuh, namun tetap memiliki fitur khas kamera outdoor seperti tahan air hingga 10 meter. Sensor kamera ini pakai CCD 16 MP plus OIS, agak unik saat melihat kamera era sekarang yang masih pakai sensor CCD, maka tak heran kalau videonya hanya sampai HD 720p saja.

Harganya kedua kamera ini sekitar 2 jutaan rupiah.

Fujifilm Finepix XP60 : harga paling terjangkau

fuji-xp60

Fujifilm juga punya produk outdoor yaitu Finepix XP60, dengan sensor CMOS 16 MP plus stabilizer, lensa 28-140mm yang bukaannya relatif kecil. Ketangguhannya agak pas-pasan yaitu hanya bisa menyelam hingga 6 meter, lalu tahan jatuh dari ketinggian 1,5 meter. Kabar baiknya, kamera ini bisa memotret sampai 10 foto per detik untuk momen tak terduga.

Estimasi harga jualnya dibawah 2 juta.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Kamera saku kelas serius baru dari Fuji : X100S dan X20

Di ajang CES 2013 lalu Fujifilm kembali membuat sensasi dengan meluncurkan dua kamera baru bernama Fuji X100S (penerus Fuji X100) dan Fuji X20 (penerus Fuji X10). Keduanya termasuk kamera kompak kelas atas  buatan Jepang yang ditujukan buat enthusiast photographer, atau yang serius dalam hobi fotografi. Fuji X100S adalah kamera saku dengan sensor besar namun memakai lensa fix bukaan besar 23mm f/2, sedangkan Fuji X20 adalah kamera saku dengan sensor ukuran sedang (2/3 inci) tapi lensanya berjenis lensa  zoom 28-112mm f/2-2.8. Keduanya berdesain retro klasik yang mewah dan bodi kokoh berbahan logam.

fuji-x100s-x20

Fuji X100S

Kamera Fuji X100S masih mempertahankan desain yang mirip dengan sebelumnya yaitu kamera compact yang punya lensa fix dan banyak kendali eksternal. Sebutlah misalnya roda pengatur shutter speed dan kompensasi eksposur, serta ring pengatur bukaan lensa dan ring untuk manual fokus. Terdapat juga jendela bidik optik dan flash hot shoe untuk memasang lampu kilat eksternal. Sebagai layar LCD diberikan layar ukuran 2,8 inci yang resolusinya lumayan tajam.

fujifilm-x100s1

Ada beberapa hal yang menarik dari upgrade Fuji X100 ke X100S. Yang utama adalah dipakainya sensor baru X-Trans CMOS 16 MP yang sama seperti kamera mirrorless mereka. Tidak ada filter anti alias di sensor ini sehingga hasil fotonya dijamin bakal tajam. Sensor baru ini bahkan bisa berperan ganda sebagai alat bantu auto fokus berbasis deteksi fasa. Ada dua metoda bantuan untuk manual fokus, yaitu dengan focus peaking dan focus split layaknya kamera jadul. Kamera yang berbentuk mirip rangefinder ini juga punya jendela bidik optik yang berjenis hybrid, bisa jadi jendala bidik elektronik juga. Sebagai lensanya masih tetap sama dengan sebelumnya yaitu Fujinon 23mm (ekivalen 35mm) dengan bukaan maksimal f/2.0 yang terang.

Soal kinerja pun terdapat peningkatan lumayan, berkat prosesor EXR generasi kedua. Paling tidak kamera ini kini bisa menembak 6 foto per detik dan mengunci fokus dalam waktu 0.07 detik. Data rate untuk video full HD mencapai 26 Mbps. Kamera ini juga bisa menyimpan file RAW tapi berkat susunan piksel RGB di sensor X-Trans ini berbeda dengan sensor lain berbasis Bayer maka membaca file RAW ini akan sedikit lebih repot.

Fuji X20

Kamera Fuji X20 jadi penerus Fuji X10 sebagai segmen kamera saku berlensa zoom yang bukaannya besar. Masih sama seperti sebelumnya, di X20 dipakai lensa Fujinon 4x zoom dengan putaran manual yang dipadukan dengan switch on-off yang praktis, dengan rentang fokal 28-112mm f/2.0-2.8. Bedanya adalah dalam hal teknologi sensor dimana X20 ini memakai sensor CMOS jenis X-Trans seperti di X100S (bukan lagi pakai EXR). Artinya kamera X20 ini juga bisa auto fokus memakai deteksi fasa. Tapi dalam hal ukuran sensor dan resolusi masih sama yaitu 2/3 inci 12 MP. Untuk ukuran kamera saku dengan lensa zoom, sensor seukuran 2/3 inci sudah termasuk cukup besar, jauh lebih besar daripada kamera lain yang umumnya berukuran 1/1.7 inci.

fujifilm-x20

Pada bodi kamera berbalut logam die cast ini terdapat banyak tombol dan pengaturan eksposur. Fotografer yang biasa memakai DSLR akan merasakan dirinya tidak asing saat memakai kamera ini. Bila kamera lain lebih suka memberikan jendela bidik elekronik, pada Fuji X20 justru memberikan jendela bidik optik dengan overlay informasi yang sangat berguna. Untuk urusan movie, kamera ini juga mampu merekam video full HD 1080p. Pada bagian belakang terdapat layar LCD berukuran 2.8 inci dengan ketajaman 460 ribu piksel, sementara di bagian atas terdapat flash hot shoe untuk menempatkan flash eksternal, bila kekuatan built-in flash kamera ini terasa kurang.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..