Produk ‘best buy’ rekomendasi kami

Kamera digital semakin murah, tapi fiturnya semakin canggih. Tapi kebanyakan  kamera canggih itu  harga mahal, dan kamera murah akan cenderung murahan. Buat anda yang bosan dengan kamera lama yang terlihat jadul, atau memang baru ingin beli kamera, kami susun daftar produk yang menurut kami adalah best buy. Pertimbangan kami adalah produk yang punya price vs performance yang berimbang, dan bisa saja produk yang kami ulas disini justru dibuat di tahun lalu (seperti biasa, produk lama harganya cenderung turun). Tidak ada titipan sponsor atau dukungan pada merk tertentu di artikel ini, murni sekedar panduan untuk pembaca saja dan kami tidak mendapat imbalan dari pihak manapun.

Kamera DSLR pemula ‘best buy’

550d

Canon EOS 550D jelas menjadi produk best buy di kelas DSLR pemula karena harga kamera buatan 2010 ini sekarang dijual 6 juta sudah termasuk lensa kit EF-S 18-55mm IS. Harganya masih jauh dibawah Nikon D5100 yang dikisaran 7 jutaan, dan berbeda 1 juta dengan EOS 1100D yang dijual 5 juta rupiah. Dengan EOS 550D, anda sudah bisa memiliki kamera DSLR pemula 18 MP yang fiturnya lengkap, mudah digunakan dan hasilnya bagus. Canon 550D pun sudah oke buat bikin klip video yang serius berkat pengaturan manual eksposur saat merekam video dan resolusi video 1080p 30 fps.

Kamera DSLR semi-profesional ‘best buy’

60d

Canon lagi-lagi jadi pilihan kami untuk segmen DSLR kelas menengah dengan produk Canon EOS 60D karena harganya ‘hanya’ 7,7 jutaan tanpa lensa. Bagi yang mencari kamera setingkat diatas kelas pemula, maka EOS 60D sanggup meladeni skill anda berkat kecepatan, tombol akses langsung dan layar LCD lipatnya. Kamera sekelasnya dengan ciri yang sama seperti viewfinder prisma, top status LCD dan dual dial biasanya dijual di kisaran 9 jutaan. Selain itu, dari 9 titik fokus yang dimilikinya, semuanya sudah cross type yang lebih sensitif.

Kamera Mirrorless saku ‘best buy’

lumix-dmc-gf3

Kamera mirrorless dengan lensa yang bisa dilepas, berukuran mungil namun sensornya besar, bakal jadi tren kamera mendatang. Sayangnya saat ini harganya masih mahal, selain itu pilihan lensanya masih sedikit. Bila anda mencari kamera ‘best buy’ di kelas mirrorless, kami pilihkan Panasonic Lumix GF3 dengan lensa 14-42mm (setara 28-84mm) yang dijual dibawah 6 juta rupiah. Kamera ini lebih murah dari Olympus Pen Mini ataupun Sony NEX -C3 namun dengan fitur yang kurang lebih sama. Lumix GF3 mungil tapi mendukung semua pengaturan manual (termasuk layar sentuh), sensornya besar (Four Thirds) 12 MP dan bisa full HD movie.

Kamera ‘main-main’ superzoom ‘best buy’

fuji-s4000

Kenapa kami bilang kamera main-main? Karena orang cenderung memakai kamera superzoom (kamera murah yang lensa zoomnya teramat panjang) bukan untuk kebutuhan serius tapi untuk iseng, mencoba membayangkan kameranya seperti teropong yang bisa melihat benda yang jaraknya sangat jauh, lalu memotretnya. hasil foto dengan zoom panjang bakal jelek, soft dan mudah blur bila kita tidak stabil saat memotret. Tapi buat mereka yang perlu kamera dengan lensa sampai 30x zoom, tidak usah bayar mahal karena ada Fuji Finepix S4000 dengan sensor CCD 14 MP dan lensa 24-720mm yang dijual sekitar 2,2 juta saja. Kamera ini bahkan tampak seperti kamera serius, lengkap dengan kendali manual PASM dan HD video 720p. Untuk sekedar have fun dan tampak keren, tak harus mahal kan?

Kamera saku serius ‘best buy’

nikon-p300

Tidak semua orang mau memakai kamera saku yang biasa-biasa saja. Mereka bisa jadi tengah mencari kamera serius yang bisa dimasukkan ke saku. Kamera serius artinya punya pengaturan yang lengkap, fitur manual dan biasanya harganya mahal. Sebutlah diantaranya Canon PowerShot G12, Lumix LX-5, atau Canon S100 yang dijual antara 3-4 jutaan. Namun Nikon punya andalan dengan Nikon Coolpix P300 yang dijual 2,2 juta saja. Kamera dengan lensa yang bisa membuka sampai f/1.8 pada 24mm ini juga bisa memotret sampai 8 gambar per detik dalam resolusi penuh 12 MP. Kami nobatkan Nikon P300 sebagai kamera saku serius ‘best buy’ untuk awal tahun ini.

Kamera saku biasa ‘best buy’

ixus-220

Kamera saku lawas tapi cukup layak dibeli adalah Canon Ixus 220 HS dengan sensor CMOS 12 MP yang bertipe High Sensitivity. Kamera mungil ini dijual di harga 1,6 jutaan dan bila dilihat dari desainnya bakal membuat orang tidak menyangka kalau kamera keren ini ternyata harganya murah. Meski kecil, kamera dengan berbagai pilihan warna ini bisa merekam video full HD dengan tata suara stereo dan kemampuan zoom optik saat merekam video. Apalagi lensa kamera ini adalah 24mm dengan bukaan besar f/2.7 yang lebih fleksibel dipakai di indoor tanpa flash. Untuk pemakaian sehari-hari atau dokumentasi keluarga, rasanya kamera tipis berbalut logam ini pantas mendapat predikat ‘best buy’ dari kami.

Memory card ‘best buy’

transcend-16gbSekarang jamannya merekam video. Satu detik video full HD dengan kompresi MPEG-4 itu menghasilkan data rate sebesar 24 mega bit (atau sekitar 3 MB per detik) sehingga perlu kartu memori yang bukan hanya kapasitasnya besar (diatas 4 giga byte) namun juga baca tulisnya cepat. Untuk itu kartu SD card jaman sekarang diberi kode kelas seperti kelas 4, kelas 6 dan kelas 10 yang artinya bisa menulis dengan kecepatan minimal 4 MB/s, 6 MB/s dan 10 MB/s. Namun untuk amannya, belilah SD card dengan kelas 6 dan lebih baik lagi yang kelas 10. Tentu saja semakin tinggi kelasnya maka akan semakin mahal, untuk itu kami rekomendasikan memakai Transcend 16 GB kelas 10 yang harganya 180 ribu. Merknya cukup ternama, kapasitas besar dan kecepatannya juga bagus (diklaim sampai 20 MB/s). Dengan spek yang sama, merk lain ada yang dijual diatas 200 ribu.

Itulah daftar produk kamera (sampai awal tahun 2012) rekomendasi kami dengan kategori best buy. Tentu saja kamera lain yang tidak masuk di daftar ini bukan berarti jelek, tapi dengan spesifikasi dan kelas yang sama kamera di daftar ini lebih murah. Rekomendasi lain ada juga Nikon D7000 (DSLR favorit saat ini), Canon S100 (kamera saku paling populer), Olympus E-P3 (kamera mirrorless sarat fitur)  dan Fuji HS30 (bridge camera/prosumer). Untuk memory card ada juga Sandisk Extreme 16 GB kelas 10 yang harganya dua kali lipat dari harga Transcend yang kami sebutkan di atas.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

X-Pro1, Kamera mirrorless pertama dari Fuji

Seakan belum puas dengan mengumumkan sekaligus 30 kamera baru beberapa hari lalu, Fujifilm kini membuat kejutan lagi dengan meluncurkan kamera mirrorless pertama mereka, sekaligus kamera saku profesional berdesain retro yang bernama Fuji X-Pro1. Sensor yang dipilih Fuji tidaklah sekecil Nikon One ataupun Micro Four Thirds, tapi sensor APS-C yang lebih dahulu sudah dipilih oleh Sony NEX dan Samsung NX. Fuji menamai mount mereka dengan nama X-mount dan beberapa lensa sudah disiapkan untuk dipilih.

Kamera made in Japan yang kemungkinana akan dijual seharga 16 juta body only ini berbalut magnesium alloy dengan roda pengatur shutter speed layaknya kamera film manual. Bila kamera mirrorless lain hanya punya jendela bidik elektronik, maka Fuji X-Pro1 punya jendela bidik hybrid yaitu bisa optikal maupun elektronik, hanya dengan memindahkan tuas di bagian depan kamera. Jendela bidik optiknya punya cakupan 90%, bila ingin mendapat cakupan 100% maka pindahkan saja ke jendela bidik elektronik yang tajam dengan 1,44 juta titik.  Kamera yang mampu memotret hingga 6 foto per detik ini juga punya rentang ISO 200-6400, seperti DSLR pada umumnya. Fitur lainnya tergolong standar untuk ukuran kamera tahun 2012 seperti 24 fps full HD movie dengan kompresi H.264, berbagai mode bracketing, flash hot shoe dan mode simulasi film untuk hasil bervariasi.

xpro1_with_lenses

Tersedia tiga lensa Fujinon XF sebagai pilihan paketnya dan uniknya ketiganya adalah lensa fix, yaitu fix wide 18mm f/2.0 (setara 27mm), fix normal 35mm f/1.4 (setara 52mm) dan fix potret dan makro 60mm f/2.4 (setara 90mm). Lensa zoomnya akan menyusul di tahun ini juga, yang semestinya adalah lensa 18-55mm.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Dahsyat, Fujifilm umumkan 30 kamera baru sekaligus!!

Berita mengejutkan di awal tahun 2012 datang dari Fujifilm yang mengumumkan kehadiran 30 (tigapuluh) kamera barunya, yang umumnya adalah penerus seri sebelumnya. Selain itu Fuji juga mengumumkan harga resmi kamera X-S1 yaitu seharga 8 juta rupiah. Sekedar mengingatkan, X-S1 adalah kamera yang sangat mirip DSLR tapi lensanya tidak bisa dilepas. Simak kamera apa saja yang diumumkan oleh Fuji di Januari 2012 ini.

fuji-sl300

Salah satu produk yang menarik adalah Fuji SL300 seperti pada gambar diatas. Produk ini merupakan kamera murah berjenis super zoom 30x dengan sensor CCD 14 MP dan dilengkapi dengan flash hot shoe. Meski lensanya nampak bisa diputar namun kenyataannya untuk melakukan zoom tetap dilakukan secara elektronik, dengan menekan tuas di dekat tombol rana atau di samping lensa.

Secara lengkap berikut adalah daftar 30 kamera yang diluncurkan oleh Fuji :

30-kamera

Dua kamera superzoom seri HS :
  • Fuji HS30 EXR (baterai Lithium)
  • Fuji HS25 EXR (baterai AA)
Tiga kamera saku seri F-EXR travel zoom :
  • Fuji F770 EXR (20x zoom, GPS, RAW)
  • Fuji F750 EXR (20x zoom)
  • Fuji F660 EXR (15x zoom)

Empat kamera superzoom seri S murah meriah :

  • Fuji S4500 (30x zoom)
  • Fuji S4400 (28x zoom)
  • Fuji S4300 (26x zoom)
  • Fuji S4200 (24x zoom)

Empat kamera superzoom seri SL (baru, lebih serius) :

  • Fuji SL300 (30x zoom)
  • Fuji SL280 (28x zoom)
  • Fuji SL260 (26x zoom)
  • Fuji SL240 (24x zoom)

Tiga kamera saku seri XP yang tahan air :

  • Fuji XP150 (bisa 10 meter)
  • Fuji XP100 (bisa 10 meter)
  • Fuji XP50 (bisa 1,5 meter)

Dua kamera saku tipis seri Z :

  • Fuji Z1000 EXR (wifi)
  • Fuji Z110

Dua kamera saku seri T :

  • Fuji T400 (10x zoom, 16 MP)
  • Fuji T350 (10x zoom, 14 MP)

Sepuluh kamera saku murah meriah :

  • Fuji JZ250,  JZ200 dan JZ100
  • Fuji JX700, JX580, JX550, JX520 dan JX500
  • Fuji AX600 dan AX500

Entah bagaimana pembeli dan pedagang bisa familiar dengan sekian banyak produk seperti ini, bahkan mungkin tidak semua tipe ini bisa dijumpai di pasaran tanah air. Bravo Fuji, semoga Quality control untuk produksi kamera sebanyak ini bisa tetap terjaga.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Fuji X-S1, kamera premium seri X dengan sensor EXR 2/3 inci

Masih ingat Fuji X100 dan X10? Keduanya adalah kamera seri X dari Fuji yang digolongkan kedalam seri premium dan dibuat di Jepang. Kini Fuji menghadirkan lagi produk ketiga di seri X yaitu Fuji X-S1 yang memiliki bentuk sangat mirip kamera DSLR, namun dengan lensa yang tidak bisa dilepas. Sepintas X-S1 agak mirip dengan kamera superzoom Fuji lain khususnya HS-20, tapi yang membedakan disini Fuji X-S1 punya kualitas material bahan kelas atas dipadu dengan sensor EXR berukuran cukup besar. Sebagai lensanya diberikan lensa Fujinon 24-624mm alias 26x zoom optik.

Fuji X-S1 masuk di kelompok kamera prosumer yang mengisi celah antara kamera DSLR dan kamera biasa. Dibanding merk lain, Fuji termasuk yang konsisten dari dulu membuat kamera prosumer yang berkualitas, khususnya dengan lensa yang bisa di-zoom secara manual lewat putaran tangan. Dengan begitu, hasrat memiliki kamera ‘serius’ tidak harus diwujudkan dengan membeli kamera DSLR, cukup dengan kamera seperti Fuji X-S1 ini dan dijamin tidak akan dipusingkan lagi dengan daftar lensa yang harus dibeli. Karena lensa di Fuji X-S1 ini sudah sangat mumpuni untuk berbagai kebutuhan fotografi seperti wideangle hingga telefoto, berkat digunakannya lensa Fujinon 24-624mm f/2.8-5.6 yang diameter filternya 62mm.

fuji-x-s1-depan

Dari spesifikasi lensa mungkin tidak terlalu menarik karena Fuji HS20 pun sudah memiliki lensa 24-720mm alias 30x zoom. Tapi yang membedakan disini adalah sensor EXR di HS20 berukuran 1/2 inci yang cukup kecil untuk mengimbangi desain lensa HS20, sedangkan X-S1 punya sensor EXR berukuran 2/3 inci yang sudah lumayan besar untuk ukuran kamera non DSLR. Lagipula HS20 memiliki resolusi sensor 16 MP sedang X-S1 justru ‘hanya’ 12 MP (saat ini banyak produsen kamera yang sudah kembali memakai sensor 10-12 MP daripada dulu yang memakai sensor 16-18 MP akibat noise yang terlalu parah).

fuji-x-s1-blkg

Banyak fitur yang dimiliki Fuji X-S1 yang tergolong mengesankan dan kami meyakini kalau produk ini akan menjadi kamera prosumer terbaik di tahun 2011 ini, seperti :

  • kualitas bodi yang sangat baik
  • lensa manual zoom, 24-624mm f/2.8-5.6 dengan 9 bilah diafragma
  • sensor 12 MP EXR CMOS berukuran 2/3 inci
  • burst cepat sampai 10 fps
  • jendela bidik besar dengan 1,44 juta titik
  • layar LCD resolusi 460 titik berukuran 3 inci yang bisa dilipat
  • Full HD video 30 fps dengan manual zoom dan external mic
  • mode manual PASM dan RAW, mode Film simulation, mode Macro hingga 1cm
  • ada fitur 360° Motion Panorama
  • flash TTL dengan flash hot shoe

Menariknya, berkat bodinya yang banyak mengandung komponen logam, kamera ini menjadi sangat berat hingga bobotnya hampir satu kilogram atau sama dengan Nikon D700 tanpa lensa. Belum ada info harga untuk kamera Fuji X-S1 ini, tapi kami memprediksi harganya akan seberat bobotnya alias cukup mahal. Sekitar 7 juta mungkin?

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Inilah kamera-kamera baru pesaing kamera DSLR

Di awal September 2011 ini, Samsung dan Fuji secara bersamaan mengumumkan kehadiran kamera andalan mereka yaitu Samsung NX200 (penerus NX100) dan Fuji FinePix X10 (versi ‘murah’ dari X100). Kejutan ini memang semakin memeriahkan berita kehadiran kamera-kamera baru di paruh kedua tahun 2011 dimana sebelumnya sudah lebih dahulu hadir Nikon Coolpix P7100 (penerus P7000), Sony NEX 7 (flagship di seri NEX) dan Sony SLT A77 (penerus DSLR A700). Kesemua kamera ini ditujukan sebagai alternatif lain dari kamera tradisional DSLR yang memakai cermin dan prisma yang besar itu. Meski demikian, tidak semua kamera ini sama secara jenisnya, ada yang memiliki sensor kecil namun ada juga yang pakai sensor APS-C yang sama besarnya seperti sensor kamera DSLR.

Nikon Coolpix P7100

Kamera prosumer seharga 4 jutaan ini ditujukan untuk mereka yang serius dalam hal kendali dan pengaturan kamera saku, terbukti dengan banyaknya tombol dan tuas di seluruh bodi kamera Nikon P7100. Meski masih tergolong kelompok kamera saku namun ukuran P7100 lumayan besar dan berat sehingga tidak nyaman untuk dimasukkan ke saku. Kamera ini punya sensor CCD 10 MP berukuran sedikit lebih besar dari kebanyakan kamera saku lain  (1/1.7 inci), lensa 28-200mm f/2.8-5.6 dan kendali manual lengkap. Layar LCD 3 inci di kamera ini bisa dilipat untuk memudahkan komposisi. Nikon menargetkan P7100 sebagai kamera pendamping dari DSLR, atau sebagai kamera cadangan. Tapi dengan harga jualnya yang lumayan mahal, P7100 sudah bisa dianggap sebagai pesaing kamera DSLR pemula seperti EOS 1100D atau Nikon D3100.

Fuji FinePix X10

Inilah kamera saku dengan desain klasik namun sangat mewah asli buatan Jepang, sebagai generasi kedua kamera Fuji seri X (sebelumnya ada X100 dengan lensa fix dan sensor besar). Kali ini Fuji memberikan lensa jenis zoom dengan putaran manual yang dipadukan dengan switch on-off yang praktis, dengan rentang fokal 28-112mm f/2.0-2.8. Sensor di X10 memakai CMOS jenis EXR beresolusi 12 MP dengan ukuran lumayan lega yaitu 2/3 inci. Tersedia juga jendela bidik optik layaknya DSLR dengan cakupan 85%. Kamera ini juga mampu merekam video full HD, memotret hingga 10 gambar per detik dan terdapat stabilizer optik di lensanya. Seperti Nikon P7100, kamera Fuji X10 cocok sebagai pendamping kamera DSLR anda, apalagi bila anda tidak kuat membeli lensa DSLR dengan bukaan besar. Sayangnya harga jual X10 ini belum diumumkan.

Sony NEX-7

Bila kedua kamera di atas masih belum memuaskan anda karena hanya memakai sensor kecil, maka Sony NEX-7 mungkin bisa menggoda anda. Seri NEX dari Sony adalah seri kamera mungil dengan sensor besar serta memiliki lensa yang bisa dilepas, yang tergolong di kelas kamera mirrorless. Sebagai lensanya Sony menyediakan lensa khusus dengan E mount, meski lensa dengan A mount juga bisa digunakan dengan bantuan sebuah adapter. NEX-7 didedikasikan sebagai kamera mungil paling canggih yang pernah ada, dengan sensor 24 MP CMOS, berbalut magnesium alloy, memiliki jendela bidik elektronik, TRINAVI user interface (dua roda kendali di bagian atas dan satu di belakang) dan dijual seharga 13 jutaan dengan lensa kit. Sementara NEX-5N adalah kamera versi ekonomis dari NEX dengan sensor 16 MP, tanpa jendela bidik elektronik (harus beli terpisah) dan layar LCD 3 inci yang bisa diangkat, dijual lebih murah di harga 6 jutaan dengan lensa kit. Bila kamera mungil ini sudah memakai sensor APS-C, untuk apa lagi memakai DSLR? Hasil fotonya pasti akan sama baiknya.

Samsung NX200

Sebagai pesaing langsung dari NEX milik Sony, Samsung juga memiliki seri kamera mirrorless berkode NX (penamaan yang mirip, kebetulan?) yang kini sudah mencapai generasi ke dua yaitu Samsung NX200 dengan sensor APS-C 20 MP CMOS. Sebagai mount lensa, Samsung mendesain NX-mount dan tersedia lensa kit 18-55mm f/3.5-5.6 OIS dan dijual bersamaan dengan NX200, namun belum diketahui harganya. Target menyaingi Sony NEX membuat Samsung harus mempersenjatai NX200 dengan berbagai kelebihan seperti manual mode, RAW, 7 fps burst, full HD movie dan layar  Amoled 3 inci yang sayangnya tidak bisa dilipat. Desain grip dari Samsung NX200 cukup cembung dan tampak nyaman digenggam sama halnya seperti Sony NEX-7. Samsung pun tengah menyiapkan jajaran lensa buatan sendiri dengan NX-mount untuk waktu mendatang.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Fuji HS20 EXR dan F550/500 EXR, dengan sensor EXR 16 MP

Ajang CES 2011 juga dimeriahkan oleh Fujifilm yang menghadirkan beberapa update rutin seperti HS20 EXR (penerus HS10) dan F550/500 EXR (penerus F300 EXR). HS20 EXR sesuai namanya kini memakai sensor EXR (dulu CMOS), sementara F550/500 (bedanya cuma dalam hal GPS) juga memakai sensor EXR 16 MP. Tibalah masanya kamera di tahun ini beralih ke sensor 16 MP yang semakin membuat risau dan kekuatiran akan noise dan ukuran file yang besar. Tapi apapun itu, Fuji cukup konsisten dalam membuat regenerasi produknya, ditengah persaingan ketat dengan produsen papan atas sekelas Canon atau Nikon.

Fuji HS20 EXR

Penerus dari Fuji HS10 (10 MP) hadir lagi dengan lensa yang sama, yaitu 30x zoom optik. Bedanya, kini sensor yang dipakai pada HS20 adalah jenis EXR dan beresolusi 16 MP. Kamera ini diklaim sanggup mengunci fokus dalam waktu 0,16 detik. Kabar baiknya, kini fitur flash pada HS20 sudah mendukung TTL flash. Lensa Super Fujinon EBC yang dimiliki  HS20 EXR sepintas nampak seperti lensa Canon L series dengan gelang merah melingkari ujungnya, kebetulan?

fujifilm-hs20exr

fujifilm-hs20exrc

fujifilm-hs20exrb

Apa kata Fuji soal HS20 ini?

Record-breaking, innovative, versatile; the new Fujifilm FinePix HS20 EXR is all this and so much more. Replacing the multiple award-winning FinePix HS10; this latest addition to the range of Fujifilm bridge cameras represents the perfect picture taking solution for photographers who want the specification and picture quality of an SLR without the heavy camera bag and huge dent in their bank balance. With a class-leading feature set that includes a brand new EXR CMOS sensor, high speed continuous shooting capability, improved user interface, versatile video functions, 16 megapixel resolution and a 30x zoom lens with advanced anti-blur technologies, the HS20 EXR sets new standards in bridge camera functionality and performance.

Berikut spesifikasinya :

  • EXR CMOS 16 MP, ukuran 1/2 inci
  • 30x zoom, 24 – 720 mm, f/2.8-5.6
  • LCD 3.0 inci yang bisa dilipat,  460 ribu piksel
  • font dan grafik Vector pada layar
  • 1600%  dynamic range
  • Burst 8 fps, video bisa hingga 320 fps (320 x 112 piksel)
  • Baterai AA x 4, bertahan hingga 350 jepret
  • Electronic level
  • Raw file format
  • Full HD 1080p, 30 fps, H.264 (MOV) format
  • Stabilizer sensor-shift
  • EXR Auto mode
  • Colour fringing reduction and corner sharpness improvement
  • Film simulation modes
  • Motion Panorama 360 mode
  • TTL flash control with optional external flashes

Fuji F550/500 EXR

Penerus F300 EXR ini kini hadir dalam dua varian, satu dengan GPS (F550) dan satu tanpa GPS (F500). Tidak banyak peningkatan yang berarti dari F300 ke F500, bahkan spesifikasi lensa dan bentuk kameranya pun sama persis (kecuali sedikit tonjolan di atas pada F550 yang berfungsi sebagai antena GPS). Bedanya, F300 dulu memakai sensor 12 MP, kini F500 melompat jauh ke sensor 16 MP. Lucunya, kini tidak lagi disebut-sebut soal hybrid AF (contrast dan phase detect) yang dulu sempat dibanggakan Fuji di F300. Rupanya istilah hybrid AF tidak berarti banyak dalam penjualan F300 sehingga tidak lagi dipakai.

fujifilm-f550exr

fujifilm-f550exrb

Apa kata Fuji soal F550/500 EXR ini?

Following in the footsteps of the award-winning FinePix F200 EXR and F300 EXR models, this latest recruit to the range is the ideal camera for discerning point-and-shoot photographers or SLR users who want to travel light but don’t want to compromise image quality and picture-taking versatility. Superb results are assured with exciting new features including an innovative 16 megapixel EXR CMOS sensor, advanced GPS functions, high speed shooting capabilities, a 15x wide-angle zoom lens, Full HD movie functionality and an improved user interface. With a stylish design and pocketable dimensions, the FinePix F550 EXR is set to become the must-have compact in 2011.

Berikut spesifikasinya :

  • fitur GPS (untuk F550)
  • lensa 15x zoom,  24 – 360 mm, f/3.5-5.3
  • AF cepat
  • LCD 3.0 inci, 460 ribu piksel
  • font dan grafik Vector pada layar
  • 1600%  dynamic range
  • burst 8 fps (untuk F500)
  • Raw file format (untuk F550)
  • Full HD 1080p, 30 fps, H.264 (MOV) format, stereo
  • Stabilizer sensor-shift
  • New EXR Auto mode
  • Film simulation modes
  • Motion Panorama 360 mode

Soal harganya, Fuji HS20 akan dijual di kisaran 5 juta sedang F550/F300 di kisaran 3 jutaan.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

FinePix F300EXR, kamera saku pertama di dunia dengan hybrid-AF

Sejak sukses membuat F30 sekian tahun silam, hingga kini Fuji masih terus berusaha untuk menciptakan kamera saku yang fenomenal. Meski diakui atau tidak FinePix F200EXR sebagai produk andalan Fuji di kelas premium-compact tergolong kurang sukses, Fuji tidak menyerah dan justru meluncurkan penerusnya yang bernama F300EXR dengan sensor SuperCCD EXR generasi kedua beresolusi 12 MP. Kami menilai inilah evolusi paling spektakuler yang pernah dibuat oleh Fuji di kelas kamera saku, mengingat banyaknya ‘kejutan’ di FinePix F300EXR ini.

f300_front_bk

Simak dulu spesifikasi dasar dari kamera F300EXR :

  • Sensor SuperCCD EXR resolusi 12 MP
  • lensa Fujinon 24-360mm (15x zoom optik) f/3.5-5.3
  • hybrid AF (akan dibahas nanti)
  • layar LCD 3 inci, resolusi 460 ribu piksel
  • full manual P/A/S/M
  • HD movie 720p (24 fps)
  • intelligent flash

f300_back_bk_w_lcd_image

Sensor EXR sendiri sudah diakui kualitasnya untuk mendapat dynamic range yang lebih lebar dan mendapat ISO tinggi yang lebih bersih dari noise. Lensa yang dipakai di F300EXR kini lebih mengesankan dengan bermula dari fokal yang ekstra wide 24mm dan berakhir di fokal yang lumayan jauh di 360mm. Fitur manual P/A/S/M dan stabilizer berjenis sensor-shift membuat kamera seharga 3 jutaan ini semakin terasa lengkap. Namun yang istimewa adalah diperkenalkannya sistem auto fokus ekstra cepat dengan sistem hybrid. Berikut penjelasan dari rilis resmi Fuji :

The next generation EXR sensor in the FinePix F300EXR incorporates Phase Detection pixels built-in to the CCD to realize Hybrid High Speed Auto Focus.  It has the ability to intelligently decide between the two focusing systems on the camera.  For example, when a bright, high-contrast subject is positioned in the center of the frame, Phase Detection AF works fast and accurately; and in dark scenes, Contrast AF is employed to work accurately. The F300EXR uses both Phase Detection AF and Contrast AF to offer fast auto focus speeds in all scenes.  To achieve an incredible auto focus speed of 0.158 seconds2, Fujifilm engineers placed pairs of phase detection pixels on the EXR sensor, which work like external sensors on DSLRs.  The F300EXR automatically selects the better focus system (Contrast or Phase Detection), by measuring the amount of light or contrast in the scene.  The benefit for the photographer is immediate and obvious – an almost instantaneous capture of the subject in the frame, with no missed shots or subjects half out-of-frame.

Kira-kira penjelasan sistem hybrid AF adalah seperti ini :

Semua kamera saku memakai sistem AF berjenis contrast detect, sedangkan kamera DSLR memakai sistem phase detect yang lebih cepat dan akurat. Entah bagaimana caranya, Fuji berhasil mendesain sensor EXR yang memiliki piksel pendeteksi fasa yang menyerupai sistem sensor AF pada DSLR. Alhasil proses AF pada kamera saku ini bisa menjadi sangat cepat hingga 0.158 detik saja. Kamera akan otomatis menentukan metoda AF mana yang dipakai tergantung terang gelapnya area yang difoto. Bila di sekitar cahayanya cukup terang, kamera akan memilih phase detect (cepat) dan bila agak gelap kamera akan memilih contrast detect yang lebih lambat.

Meski terdengar mengesankan, kami masih menantikan kinerja AF sesungguhnya dari kamera ini nanti saat benar-benar telah tersedia di pasaran. Namun satu hal yang pasti, inilah terobosan terbaik Fuji dalam membuat fitur yang berbeda pada kamera sakunya. Selama ini bahkan kamera mirrorless seperti Lumix G2, Olympus EP2 atau Sony NEX-5 masih mengandalkan contrast detect sehingga auto fokusnya belum bisa secepat kamera DSLR. Bila Fuji bisa membuat kamera saku dengan kecepatan auto fokus secepat kamera DSLR (dan hasil foto yang mendekati hasil DSLR), maka pecinta sport dan candid photography bisa memakai kamera F300 EXR untuk memuaskan hobinya.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Fuji dan Olympus tembus batas lensa zoom 30x

Fuji dan Olympus merupakan dua nama produsen kamera yang rajin membuat sensasi dengan memproduksi kamera berlensa super-super zoom dalam ukuran yang masih tergolong kompak. Masih ingat bagaimana sebuah kamera berlensa 10x zoom terdengar begitu mengagumkan? Tak lama mulailah perlombaan untuk menambah kemampun zoom lensa mulai 12x, 15x, 18x, 24x hingga 26x zoom. Kini keduanya memperkenalkan kamera baru dengan lensa 30x zoom optik, alias pertama kali dalam sejarah. Fuji meluncurkan FinePix HS10 dan Olympus meluncurkan SP-800UZ. Bagaimana kehebatan keduanya?

fuji-hs10

Inilah headline dari Fuji FinePix HS10 :

  • sensor BSI CMOS 10 MP (terdengar aneh?)
  • lensa 24-720mm f/2.8-5.6, zoom diputar manual
  • HD 1080i
  • LCD 3 inci, tiltable
  • sensor shift stabilizer
  • flash hot shoe
  • baterai 4xAA

oly-sp800uz

Dan inilah headline dari Olympus SP800UZ :

  • sensor CCD 14 MP
  • lensa 28-840mm f/2.8-5.6
  • HD 720p
  • LCD 3 inci
  • sensor shift stabilizer
  • baterai Lithium

Kami secara umum berpendapat, apa yang dilakukan keduanya memang demi meraih penjualan yang tinggi. Fantastisnya kemampuan zoom lensa pada kamera ini memang akan menggoda banyak orang untuk membelinya, khususnya ingin merasakan seperti apa fokal ekstrim dikisaran 700mm itu. Bagi para fotografer serius yang lebih memahami kendala di fokal tele ekstrim mungkin tidak terlalu antusias akan kamera ini. Utamanya tentu karena untuk mendapat gambar yang tajam tanpa blur di kisaran fokal tele misal 500mm, kita perlu memakai shutter setidaknya 1/500 detik. Sudah pasti kecepatan setinggi itu hanya bisa didapat pada kondisi ideal, outdoor dan matahari cukup terik. Hal lain yang meragukan adalah masalah lensa yang mungkin terjadi, seperti distorsi, konsistensi ketajaman dsb karena lensa zoom ini dianggap terlalu panjang.

Tapi kami secara fair mengacungkan jempol untuk Fuji HS10 (seterusnya kami akan tulis Fuji) yang membuat banyak kemajuan dalam mebuat kamera prosumer. Sebaliknya, kami menganggap Olympus SP800UZ (seterusnya kami akan tulis Olympus) hanya sekedar me ‘refresh lineup superzoom mereka. Fuji membuat revolusi sementara Olympus hanya melakukan evolusi. Mengapa? Inilah pendapat kami :

  • Fuji memakai sensor baru dan pertama kali dalam sejarah Fuji, sensor CMOS. Tak sekedar CMOS, sensor ini berteknologi Back Side Illuminated Sensor (BSI-CMOS) yang punya sensitivitas 2x sensor CMOS biasa. Padahal Fuji sudah punya sensor CCD-EXR sendiri yang diakui secara teknis, namun kali ini revolusi besar yang terjadi adalah pemakaian BSI CMOS 1/2.3 inci yang untungnya hanya beresolusi 10 MP saja. Sementara Olympus justru semakin menambah runyam masalah dengan memaksakan memakai sensor CCD berukuran 1/2.3 inci yang dijejali 14 juta piksel. Secara teknologi sensor, Fuji diyakini akan menghasilkan foto yang rendah noise, sementara Olympus bakal mengalami masalah dengan noise.
  • Fuji mendesain lensa 30x dengan cerdas. Lensa Fujinon ini memiliki fokal yang jauh lebih efektif dengan 24mm di posisi wide hingga 720mm di posisi tele. Olympus justru memilih memakai fokal 28mm di posisi wide dan berakhir di 840mm. Bagi kebanyakan pecinta landscape, perbedaan 24mm dan 28mm itu banyak. Tapi bagi pecinta tele, perbedaan 720mm dan 840mm itu tidak terasa. Lensa Fuji pun didesain memakai sistem zoom mekanik seperti lensa SLR, sementara Olympus memakai sistem motor yang boros baterai.
  • Kedua merk ini tergolong terlambat dalam menerapkan fitur HD movie. Tapi hebatnya, dengan sensor CMOS, Fuji bisa membuat fitur HD movie beresolusi 1920×1080 (full HD) sementara Olympus hanya mampu mencapai resolusi HD 1280×720. Keduanya sudah meninggalkan format memory card xD yang lambat dan mahal itu, kini beralih ke SD/SDHC yang lebih universal.
  • Fuji dengan bijak mempertahankan EVF (jendela bidik LCD) sementara Olympus justru meniadakan EVF. Bahkan layar LCD utama Fuji bisa dilipat, lumayan daripada Olympus yang benar-benar fix. Layar LCD keduanya berukuran 3 inci dengan resolusi pas-pasan 230 ribu piksel.
  • Fuji menyasar segmen kamera prosumer pengganti DSLR, sementara Olympus hanya menyasar segmen kamera superzoom for fun. Ini terlihat dari desain bodi dan fitur lainnya. Fuji memiliki flash hot-shoe, ergonomi yang lebih baik, thread lensa 58mm (untuk filter), putaran mode eksposur (P/A/S/M), tombol cepat untuk ISO, AF dsb, tombol AE lock hingga RAW file format. Sungguh lengkap dan serasa memakai DSLR.
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..