Kamera saku murah meriah di penghujung tahun 2009

Di penghujung tahun 2009 ini kami hadirkan panduan belanja kamera saku murah meriah untuk mengisi liburan akhir tahun anda. Untuk mengabadikan momen bersama keluarga dalam foto berukuran 10 MP, atau sekedar merekam video klip pendek, sebuah kamera saku murah meriah sudah sangat mumpuni. Dengan dana 1 hingga 2 juta, anda sudah bisa mendapat kamera saku berkualitas yang bisa diandalkan untuk fotografi dasar harian.

lumix-dmc-fs4Sebelum melangkah lebih jauh, anda mungkin bertanya-tanya mengapa harga kamera saku ada yang bisa begitu mahal, sementara di lain pihak ada kamera saku yang dijual murah meriah. Anda mungkin penasaran mengapa ada orang yang mau membeli sebuah kamera saku seharga 4 juta, padahal kamera itu bukanlah kamera advanced seperti kamera DSLR. Baiklah disini kami tegaskan dahulu kalau variasi harga jual kamera saku bisa dipengaruhi oleh segmentasi (kasta) atau oleh fiturnya. Kamera dengan kasta tinggi, atau kamera premium, tentu menjadi mahal karena modelnya yang keren, berkesan mewah dan punya image kelas atas seperti jajaran Canon Ixus.

Meski tidak ada salahnya memilih kamera karena modelnya, namun kami lebih bisa memaklumi bila sebuah kamera dijual mahal karena fiturnya. Nah, fitur yang membuat kamera bisa dijual dengan harga mahal diantaranya adalah kualitas dan desain lensa. Kamera mahal pun umumnya sudah dilengkapi dengan fitur manual mode (P/A/S/M) untuk kendali fotografi tingkat lanjut. Bahkan kamera modern saat ini sudah mampu merekam video beresolusi HD dengan frame rate 30 fps yang tampak nyaman bila ditonton di layar HDTV. Sedangkan resolusi sensor (dalam satuan mega piksel) tidak lagi menandakan mahal murahnya sebuah kamera, karena kini semua kamera sudah mencapai angka resolusi sangat tinggi dari 8 hingga 14 MP (bandingkan dengan DSLR Nikon D40 buatan tahun 2007 yang ‘cuma’ 6 MP).

Kamera saku kisaran harga 2 juta rupiah

Menurut pengamatan kami terhadap spesifikasi kamera di tahun 2009 ini, dengan harga 2 juta kita sudah bisa memiliki kamera saku dengan fitur dan spesifikasi yang cukup baik dan lengkap. Hal ini berbeda dibanding dengan beberapa tahun lalu dimana dana 2 juta hanya cukup untuk dapat kamera yang fiturnya tergolong pas-pasan, meski tentu saat ini pun dengan 2 juta kita tidak bisa mengharap lebih akan fitur kelas atas seperti kendali manual (P/A/S/M) ataupun HD movie. Tapi setidaknya dengan membayar 2 juta rupiah, kita berhak untuk mendapat kamera yang sudah dilengkapi dengan stabilizer optik sebagai bekal penting untuk melawan blur karena getaran kamera.

Berikut beberapa pilihan produk kamera saku seharga kurang lebih 2 juta :

  • Panasonic Lumix FS62 (10 MP, 4x zoom, IS, LCD 2.5 inci, bat. Lithium)
  • Kodak M1093 IS (10 MP, 3x zoom, IS, LCD 3 inci, HD, bat. Lithium)
  • Nikon Coolpix S560 (10 MP, 5x zoom, VR, LCD 3 inci, bat. Lithium)
  • Sony Cybershot W190 (12 MP, 3x zoom, IS, LCD 2.7 inci, bat. Lithium)
  • Olympus- FE5010 (12 MP, 5x zoom, IS, LCD 2.7 inci, bat. Lithium)
  • Canon Ixus 95 IS (10 MP, 3x zoom, IS, LCD 2.5 inci, bat. Lithium)

Dari daftar di atas, kabar baiknya adalah tampak adanya kesamaaan yang mendasar diantara kamera harga 2 jutaan, yaitu adanya fitur stabilizer. Selain itu semua kamera diatas sudah memakai baterai Lithium, sementara ukuran layar LCD bervariasi dari 2,5 hingga 3 inci. Perhatikan kalau Kodak M1093 IS cukup berbeda dengan menawarkan fitur HD movie, sementara merk lain baru mengijinkan fitur HD movie di kamera yang lebih mahal.

Kamera saku kisaran harga 1,75 juta rupiah

Bila anda mengincar kamera yang harganya dibawah 2 juta, maka berikut ini adalah kamera yang harganya sekitar 1,75 jutaan yang mungkin bisa anda pilih. Di kisaran harga ini, pilihan kamera saku yang ada mulai menunjukkan perbedaan spesifikasi, katakanlah kini bisa dijumpai ada banyak kamera yang tidak dilengkapi stabilizer optik.

Berikut beberapa pilihan produk kamera saku kisaran harga 1,75 juta :

  • Canon Powershot A1100 IS (12 MP, 4x zoom, IS, LCD 2.5 inci, bat. AA)
  • Casio Exilim S10 (10 MP, 3x zoom, LCD 2.7 inci, bat. Lithium)
  • Kodak M1033 (10 MP, 3x zoom, LCD 2,7 inci, bat. Lithium)
  • Olympus FE-3010 (12 MP, 3x zoom, LCD 2.7 inci, bat. Lithium)
  • Sony Cybershot W180 (10 MP, 4x zoom, LCD 2,7 inci, bat. Lithium)

Dari daftar diatas, sungguh menarik melihat kalau Canon A1100 IS menjadi satu-satunya kamera saku harga 1,75 jutaan yang masih dilengkapi dengan stabilizer (dan yang memakai baterai AA) sementara merk lain tidak ada fitur stabilizer optik (bedakan dengan istilah digital stabilizer atau stabilizer palsu).

Kamera saku kisaran harga 1,5 juta rupiah

Dengan budget 1,5 juta, anda masih bisa mendapat kamera saku yang berimbang antara harga dan kualitas. Justru kami menyukai kamera di kisaran harga 1,5 juta karena dari segi harga cukup terjangkau, tapi masih bisa mendapat fitur yang lengkap bila kita cermat meneliti spesifikasinya.

Berikut beberapa pilihan produk kamera saku seharga kurang lebih 1,5 juta :

  • Canon Powershot A1000 IS (10 MP, 4x zoom, IS, LCD 2.5 inci, bat. AA)
  • Panasonic Lumix FS6 (8 MP, 4x zoom, IS, LCD 2.5 inci, bat. Lithium)
  • Olympus FE-46 (12 MP, 5x zoom, LCD 2.7 inci, bat. AA)
  • Nikon L20 (10 MP, 3.6x zoom, LCD 3 inci, bat. AA)
  • Fuji FinePix J38 (12 MP, 3x zoom, LCD 2.7 inci, bat. Lithium)
  • Casio Exilim Z2 (12 MP, 3x zoom, LCD 2.7 inci, bat. Lithium)

Enam kamera diatas semuanya dijual di  kisaran harga 1,5 juta, perhatikan kalau ada sedikit kejutan dimana ada dua kamera yang masih dilengkapi fitur stabilizer. Dengan mudah kami beranggapan : bila ada kamera harga 1,5 juta sudah ada stabilizer, buat apa harus membeli kamera harga 1,75 juta tanpa stabilizer? Meski anda belum tentu sependapat dengan kami, namun setidaknya fakta ini menunjukkan kalau harga dan fitur tidak selalu sejalan.

Kamera saku kisaran harga 1 juta rupiah

Disaat dana yang terbatas memang jadi alasan utama, pilihan kamera 1 jutaan kali ini mungkin bisa jadi pilihan menarik. Lupakan fitur stabilizer disini, karena inilah kamera paling basic yang dibuat oleh masing-masing produsen, yang memang ditujukan buat para budget-minded, yang penting bisa jepret dan bersenang-senang.

Berikut beberapa pilihan produk kamera saku seharga kurang lebih 1 jutaan :

  • Fuji FinePix A170 (10 MP, 3x zoom, LCD 2.7 inci, bat.AA)
  • Canon Powershot A480 (10 MP, 3.3x zoom, LCD 2.5 inci, bat.AA)
  • Nikon L19 (8 MP, 3.6x zoom, LCD 2.7 inci, bat.AA)
  • Kodak C1013 (10 MP, 3x zoom, LCD 2.4 inci, bat. AA)
  • Samsung ES10/ES15 (8 MP/10 MP, 3x zoom, LCD 2.5 inci, bat. AA)

Dari lima kamera di atas, tak satupun yang punya fitur stabilizer. Namun kabar baiknya anda tetap dapat memiliki kamera murah dengan resolusi 8-10 MP, dengan LCD 2.5-2.7 inci, kemampuan merekam VGA movie dan punya desain yang cukup baik. Sebagai info, di tahun lalu, kamera seperti ini dijual di kisaran 2 jutaan. Kini cukup dengan dana 1 jutaan, anda sudah bisa mulai bersenang-senang.

Kesimpulan dan rekomendasi

Berita baik di tahun ini, dengan dana 1-2 juta, kita sudah bisa memiliki kamera saku yang berkualitas. Kecuali anda perlu lensa yang didesain khusus, atau perlu fitur kendali manual, semestinya anda tidak perlu membayar lebih untuk sebuah kamera saku. Perkembangan teknologi telah mengijinkan kita untuk memiliki produk berkualitas dengan harga yang pantas.

Pada dasarnya kami selalu merekomendasikan kamera saku berdasarkan fitur, bukan kualitas hasil foto. Hal ini karena kamera saku dengan sensor kecil umumnya memberikan hasil foto yang relatif sama, kecuali bila lensa yang digunakan sangat buruk. Paling mudah adalah memilih kamera dengan fitur stabilizer, lalu barulah menilik fitur lainnya.

Rekomendasi kami di tiap kelas yaitu :

  • Kodak M1093 IS adalah satu-satunya kamera di kisaran harga 2 jutaan yang dilengkapi dengan fitur HD movie, kami nobatkan menjadi kamera best-buy di kelas 2 jutaan. Sementara Lumix FS62 jadi rekomendasi kedua di kelas ini bila anda merasa cukup dengan kemampuan movienya yang beresolusi 848 x 480 (WVGA) dan layar LCD-nya yang kecil.
  • Di kisaran harga 1,75 jutaan, Canon A1100 IS kami rekomendasikan karena sudah memiliki stabilizer. Kami tidak merekomendasikan kamera lain yang tidak dilengkapi stabilizer di kisaran harga ini.
  • Untuk harga 1,5 jutaan, ada dua kamera dengan stabilizer yang kami rekomendasikan yaitu Canon A1000 IS dan Lumix FS6. Canon A1000 IS cocok bila anda perlu kamera berbaterai AA, sementara FS6 memakai baterai Lithium.
  • Di kelas kamera basic, pada dasarnya tidak ada pemenang mutlak. Pilihan lebih didasarkan pada selera saja karena umumnya memiliki kesamaan dalam hal fitur dan lensa yang juga basic. Namun bila melihat dari desain dan ukuran LCD yang lebih besar, maka pemenang di kelas kamera 1 jutaan adalah Fuji A170 di tempat pertama dan Nikon L19 di tempat kedua.
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Panduan lengkap memilih kamera saku superzoom

Berapa panjang lensa zoom pada kamera saku anda? Tiga, empat, atau lima kali zoom optik? Apakah anda merasa kemampuan tele dari kamera anda masih kurang? Bayangkan bila anda memiliki sebuah kamera saku yang mungil namun memiliki lensa yang panjang. Berkat kemampuan manufaktur lensa modern, kini sebuah kamera saku bisa memiliki lensa yang sangat fleksibel yang mampu menjangkau area wide (sekitar 28mm) hingga ekstra tele (diatas 300mm) atau bisa dibilang lensa superzoom (10x zoom optikal, bahkan lebih).

Pada awalnya, kamera saku memiliki lensa zoom yang umumnya amat standar, berkisar dari 35-105mm (setara dengan 3x zoom optik). Guna menjauh dari tekanan ponsel berkamera yang semakin canggih, lambat laun produsen kamera mulai menambah jangkauan baik dalam urusan wide hingga tele, hingga mulai ada kamera yang mampu menjangkau misalnya 35-200mm (setara dengan 5x zoom optik) bahkan ada yang punya lensa 28-200mm (setara dengan 7x zoom optik). Dengan semakin lebarnya rentang fokal lensa kamera saku tentu akan semakin memudahkan pemakainya untuk bermain berbagai komposisi dan perspektif, dari wideangle hingga telephoto.

Ilustrasi fokal wide (28mm) dan tele (300mm) credit : Ricoh
Ilustrasi fokal lensa wide (28mm) dan lensa tele (300mm), source : Ricoh

Kini tren di tahun 2009 semakin menunjukkan fakta yang menggembirakan. Banyak kamera saku generasi baru yang memiliki lensa sangat panjang, dengan perbesaran optik sekitar 10x hingga 12x zoom. Namun tanpa mengenali lebih jauh seputar fitur dan lensanya, bukan tidak mungkin kita akan kebingungan dalam memilihnya. Bila anda berhasrat untuk memiliki kamera saku semacam ini, inilah panduan lengkap memilih kamera saku superzoom, sekaligus kami sajikan memakai sistem rating, urut dari peringkat pertama hingga terakhir menurut evaluasi kami :

# 1 :Panasonic Lumix DMC-TZ7 (4 jutaan)

Lumix TZ7
Lumix TZ7

Kamera seri TZ (Traveller Zoom) dari Lumix ini menjadi kamera saku favorit banyak orang, sejak kehadiran seri pertama TZ1 hingga TZ7 yang memang memiliki keistimewaan dalam lensa Leicanya yang tajam. Lumix TZ7 dengan sensor 10 MP, punya lensa amat fleksibel dengan 25-300mm f/3.3-4.9 atau 12x zoom optik, yang sangat ideal untuk foto landscape dan tamasya. Sayangnya tidak ada fitur manual P/A/S/M pada kamera ini, sebagai gantinya tersedia fitur intelligent Auto (iA) yang akan menentukan setting terbaik untuk tiap kondisi. Sebagai bonus, tersedia fitur HD movie AVCHD untuk merekam perjalanan wisata anda. Rentang lensa Leica DC vario Elmar 25-300mm yang luar biasa efektif ini tak tertandingi oleh merk lain, sehingga menjadikannya berada di peringkat pertama dari rekomendasi kami.

# 2 : Fuji FinePix F70 EXR (3 jutaan)

Fuji F70 EXR
Fuji F70 EXR

Inilah kamera saku kedua dari Fuji yang memakai sensor baru Super CCD EXR (setelah F200 EXR) yang kini memakai sensor 10 MP. F70 EXR menjadi kamera saku pertama Fuji yang punya lensa panjang, atau 27-270mm f/3.3-5.6 atau 10x zoom optik. Terlepas dari lensanya yang mantap, sensor pada kamera ini pun sangat efektif untuk berbagai keperluan pemotretan, yaitu memotret foto resolusi tinggi 10 MP (EXR mode : HR), atau foto low-light dengan noise rendah pada 5 MP (EXR mode : SN) atau foto dengan jangkauan dinamis yang lebar pada resolusi 5 MP (EXR mode : DR). Sayangnya, tidak ada fitur P/A/S/M ataupun HD movie mode di kamera ini. Gabungan dari lensa dan sensor yang efektif menjadikan kamera ini berada di tempat kedua daftar kami.

# 3 : Canon Powershot SX200 IS (3,8 jutaan)

Canon SX200 IS
Canon SX200 IS

Sebagai pesaing langsung dari Lumix TZ series, Canon menghadirkan kamera saku premium dengan nama SX200 IS dengan sensor 12 MP. Lensa Canon yang jadi andalan kali ini memiliki fokal 28-336mm f/3.4-5.3 atau 12x zoom optik. Anda mungkin kurang cocok dengan desain lampu kilatnya yang harus sering dibuka tutup. Sebagai bonus, Canon menyediakan fitur kendali manual P/A/S/M dan HD movie mode. Serba lengkap, termasuk manual mode dan HD movie membuatnya berada di tiga besar daftar kami.

# 4 : Samsung HZ15W (3 jutaan)

samsung HZ15W
Samsung HZ15W

Keseriusan Samsung dalam bermain di dunia digital imaging tampak dari si hitam HZ15W ini. Kamera bersensor 12 MP dan memiliki lensa sangat wide 24-240mm f/3.3-5.8 ini punya rentang fokal yang impresif dari 24mm, meski dalam urusan tele kalah panjang dibanding pesaing karena hanya berakhir di 240mm (atau 10x zoom). Tersedia fitur manual P/A/S/M dan HD movie H.264 untuk liburan anda yang seru. Kehebatan lensa Schneider 24mm dan HD movie menjadikan produsen Korea ini ada di tempat keempat daftar kami.

# 5 : Casio Exilim EX-H10 (4 jutaan)

Casio EX-H10
Casio EX-H10

Casio mencoba peruntungannya di jajaran kamera saku berlensa panjang dengan menghadirkan Exilim EX-H10 dengan sensor 12 MP dan lensa sangat wide 24-240mm f/3.2-5.7 atau 10x zoom optik (rentang yang persis sama seperti Samsung HZ15W di atas). Bila anda menyukai lensa ultra wide 24mm, Casio ini juga layak dipilih karena bakal mendukung hobi landscape anda. Sebagai bonus, tersedia juga fitur HD movie sebagai tanda bahwa kamera ini tergolong kamera saku kelas menengah ke atas. Karena tanpa fitur manual dan harganya yang mahal, maka Casio ini kalah satu tempat dari Samsung alias berada di posisi lima.

# 6 : Ricoh CX2 (3,8 jutaan)

Ricoh CX2
Ricoh CX2

Jangan meremehkan sensornya yang cuma 9 MP pada kamera keren ini, karena sensor jenis CMOS yang dipakai pada Ricoh CX2 ini sanggup bekerja cepat hingga 5 fps pada resolusi penuh. Lensa Ricoh CX2 pun amat efektif dengan rentang 28-300mm f/3.5-5.6 atau 10.7x zoom optik. Ricoh dari dulu punya fitur andalan pre-AF yang terus mencari fokus sebelum tombol rana ditekan. Meski memakai sensor CMOS, namun sayangnya CX2 belum dilengkapi fitur P/A/S/M dan HD movie, sehingga membuat Ricoh CX2 ini harus berada di tempat ke enam daftar kami.

# 7 : Olympus Stylus 9000 (3,4 jutaan)

Stylus 9000
Stylus 9000

Olympus bergabung di kompetisi kamera saku berlensa panjang dengan produknya Stylus 9000 dengan sensor 12 MP dan lensa wide zoom, 28-280mm f/3.2-5.9 atau 10x zoom (rentang lensa 28-280mm seperti ini mengingatkan kita pada Lumix TZ2 dan TZ3 di masa lalu). Selain dari lensa dan desainnya yang keren, Olympus ini tergolong biasa saja karena tidak ada fitur manual P/A/S/M ataupun HD movie, sehingga cukuplah berada di tempat ke tujuh daftar kami.

# 8 : Kodak Z950 (3 jutaan)

Kodak Z950
Kodak Z950

Kodak mungkin bukanlah merk pertama yang terbersit di benak anda saat membayangkan kamera digital, tapi mungkin saja kali ini akan berbeda karena Kodak telah mendesain sebuah kamera saku Z950 yang punya sensor 12 MP dan lensa zoom Schneider 35-350mm f/3.5-4.8 atau 10x zoom. Memang rentang fokalnya yang bermula dari 35mm tergolong kurang wide namun kamera ini tergolong cukup lengkap dengan adanya fitur manul P/A/S/M dan HD movie MPEG-4. Namun dengan lensa yang wide-nya cuma 35mm, sulit bagi Kodak ini untuk berada di posisi elit daftar kami sehingga hanya mampu menempati peringkat ke delapan saja.

# 9 : Canon Powershot SX120 IS (3 jutaan)

Canon SX120 IS
Canon SX120 IS

Sebagai posisi buncit, Canon menghadirkan satu lagi kamera saku berlensa panjang yang lebih ekonomis dari SX200 IS, yaitu SX120 IS. Bedanya, kali ini sang adik tidak memakai lensa wide 28mm, karena rentang lensanya adalah 36-360mm f/2.8-4.3 atau 10x zoom, yang tergolong cukup cepat (punya diafragma besar). Hadir dengan sensor 10 MP, kamera saku gemuk berbaterai AA ini untungnya masih memiliki fitur manual, meski tanpa fitur HD movie. Tanpa lensa wide dan tanpa HD movie, dan desainnya yang bongsor, membuat kamera ini harus berada di posisi sembilan pada daftar kami (meski tak dipungkiri inilah satu-satunya kamera di daftar ini yang memiliki lensa f/2.8).

Itulah sembilan kamera saku mungil berlensa panjang yang bisa anda pertimbangkan, yang kami susun peringkatnya berdasarkan pertimbangan fitur dan spesifikasi. Untuk memastikan apakah kamera tersebut memenuhi ekspektasi anda, akan lebih baik bila anda mengevaluasi sampel fotonya yang bisa diunduh dari situs resmi masing-masing kamera.

Sebagai bonus, bila ukuran bukan jadi masalah, kami tambahkan sembilan daftar di atas dengan dua kamera lain yang juga punya lensa panjang untuk bahan perbandingan :

Nikon Coolpix L100 (2,7 jutaan)

Coolpix L100
Coolpix L100

Kekuatan kamera 10 MP ini adalah lensanya yang ekstra panjang, 15x zoom optik. Lensa Nikon 28-420mm f/3.5-5.4 ini sudah menyamai rentang lensa prosumer, meski kamera Nikon L100 ini masih tergolong kamera saku. Inilah kamera dengan harga termurah sekaligus  punya lensa terpanjang dalam daftar kali ini. Dengan harga yang terjangkau, jangan harap ada fitur manual P/A/S/M ataupun HD movie. Bahkan ketiadaan viewfinder elektronik menandakan kalau kamera ini masih tergolong kamera saku kelas basic.

Sony Cybershot H20 (3 jutaan)

Sony H20
Sony H20

Sebagai pesaing dari Nikon L100, Sony juga menelurkan kamera saku berukuran ‘tanggung’ yang bernama Cybershot H20. Kamera bersensor 10 MP ini punya lensa yang jauh dari sebutan wide lens, yaitu Carl Zeiss 38-380mm f/3.5-4.4 atau 10x zoom optik. Meski sama-sama tanpa viewfinder elektronik ataupun manual mode, H20 masih memiliki fitur HD movie MPEG-4.

Sebagai kesimpulan, dari daftar kamera saku superzoom diatas, rekomendasi kami :

  • Kamera superzoom terbaik adalah : Lumix TZ7 dan Canon SX200 IS.
  • Kamera yang menjadi best-buy terbaik : Fuji F70 EXR dan Samsung HZ15W.
  • Kamera value/ekonomis terbaik : Nikon L100.
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Fujifilm luncurkan kamera prosumer FinePix S200EXR

Seperti yang sudah lama dirumorkan, Fujifilm akhirnya benar-benar meluncurkan kamera prosumer dengan sensor SuperCCD EXR yang bernama FinePix S200EXR. kamera ini menjadi penerus dari kamera S100FS yang meraih banyak penghargaan di tahun lalu berkat kualitas hasil foto, kemampuan dynamic range yang tinggi dan lensanya yang bisa diputar seperti lensa SLR.

Fuji FinePix S200EXR (credit : DCRP resource)
Fuji FinePix S200EXR (credit : DCRP)

Berikut daftar spesifikasi kamera beresolusi 12 MP ini :

  • Super CCD EXR 1/1.6”
  • EXR Priority Modes (HR,  DR, SN) plus manual mode P/A/S/M
  • EXR Auto Mode
  • Lensa zoom Fujinon 30.5mm- 436mm (14x zoom) yang bisa diputar manual
  • Bukaan maksimum diafragma f/2.8 (wide) hingga f/5.3 (tele) dan minimum f/11
  • LCD berukuran 2.7” dengan resolusi 230.000 titik
  • Electronic View Finder (EVF), ukuran 0.2” dengan 200.000 titik
  • ISO 100-3200, bisa dipaksa ke ISO 12800 pada resolusi 3MP
  • Pro Focus Mode / Pro Lowlight Mode
  • Dual Image Stabilization
  • 5 Film Simulation Modes
  • Dynamic Range dapat dinaikkan hingga 800 %
  • Face Detection 3.0 dengan Automatic Red-eye removal
  • 3 macam fitur bracketing (Dynamic Range, Film Simulation dan Auto Exposure)
  • Super Intelligent Flash
  • bisa save sekaligus dua macam file format : JPEG dan CCD RAW (EXR)
  • VGA movie 640 x 480, 30 fps, (ya, masih tanpa HD movie)

Sensor SuperCCD EXR sendiri memiliki karakteristik khas dan murni merupakan hasil riset dari tim Fuji. Keistimewaan sensor ini adalah kemampuannya memberikan resolusi penuh (HR) layaknya sensor kamera lain, atau memberikan setengah resolusi total tapi memiliki dynamic range (DR) atau senstivitas (SN) lebih tinggi dibanding sensor lain. Berbeda dengan teknik pixel-binning konvensional, sistem gabungan piksel pada sensor ini mampu memberi hasil lebih bersih di ISO tinggi. Sensor ini pertama kali dipasang di kamera saku Fuji FinePix F200EXR yang juga beresolusi 12 MP.

Inilah tiga pilihan mode yang tersedia pada sensor EXR (pada mode EXR auto kamera akan memilih mode yang paling tepat)  :

High Resolution (HR) Mode : Resolusi normal 12 MP untuk keperluan foto berdetail tinggi, cocok dipakai di tempat dengan cahaya cukup dan merata (lihat contoh foto dibawah).

    exr-hr

    Wide Dynamic Range (DR) Mode: Resolusi 6 MP namun dengan dynamic range yang lebih baik berkat gabungan dua eksposure, cocok dipakai di tempat dengan cahata tidak merata / kontras terang gelap yang tinggi (mampu menjaga highlight dengan baik)

    High Sensitivity and Low Noise (SN) Mode: Resolusi 6 MP namun dengan ISO tinggi yang lebih bersih berkat teknik penggabungan dua piksel bertetangga sehingga meningkatkan sensitivitas, cocok dipakai di tempat kurang cahaya (lihat contoh foto dibawah).

    exr-sn

      Khusus pada kamera S200EXR ini juga tersedia dua fitur kelas pro (yang tidak terdapat pada Fuji F200EXR)  yaitu :

      • Pro Focus Mode bekerja dengan mengambil 2 atau 3 foto dan menganalisa jarak antara subjek dengan latar lalu membuat foto dengan latar blur seperti DSLR
      • Pro Low-light Mode bekerja dengan mengambil 4 foto ISO tinggi dengan teknik Pixel Fusion lalu digabung jadi sebuah foto yang rendah noise.

      Adapun hal-hal positif yang tetap dipertahankan dari kamera sebelumnya adalah :

      • bermacam mode Film Simulation
      • multi bracketing (yang unik adalah dynamic range bracketing : 100, 200, and 400%)
      • desain lensa dengan manual zoom
      • selektor AF mode dan metering mode pada bodi kamera (tidak harus masuk ke menu)
      • bermacam pilihan Auto ISO (ISO maksimum bisa dibatasi pada  ISO 400, 800, 1600 atau 3200)
      • dukungan pada flash eksternal, bahkan teknologi flash S200EXR inipun kini sudah mengarah pada konsep TTL flash DSLR dengan intensitas cahaya yang bisa diatur sesuai jarak objek terhadap kamera

      Perbedaan yang mendasar antara Fuji S200EXR dengan S100FS adalah :

      • ukuran sensor : sensor EXR pada S200EXR justru lebih kecil (0,62 inci) dibanding sensor Super CCD pada S100FS (0,66 inci)
      • lensa : di posisi wide, lensa pada  S200 EXR kurang wide (30mm) dibanding lensa S100FS (28mm) akibat konsekuensi sensor yang berukuran lebih kecil
      • ukuran dan jenis LCD : LCD pada S200 EXR sedikit lebih besar (2,7 inci) namun fix dibanding LCD S100FS (2,5 inci) namun bisa dilipat

      Hal-hal yang sayangnya tidak disempurnakan oleh Fuji pada S20EXR ini adalah :

      • tidak ada fitur HD movie, bahkan HD 720p pun tidak
      • tidak tampak ada peningkatan dalam hal kinerja auto fokus dan metering
      • resolusi EVF masih kurang besar dan tajam

      Terlepas dari kekurangan minor diatas, tak diragukan lagi kalau kehadiran Fuji S200EXR ini memberikan angin segar bagi dunia fotografi digital khususnya kelas kamera prosumer. Standar baru kini telah ditetapkan, sebuah kamera dengan desain yang amat mirip dengan DSLR, lensa zoom yang diputar manual, sensor yang serba bisa, kinerja tinggi dan hasil foto yang berkualitas, telah menjadi alternatif bagi mereka yang ingin membeli DSLR namun dananya belum mencukupi.

      Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

      Buyer guide : Delapan kamera prosumer super zoom baru

      Kamera digital prosumer identik dengan kamera serius yang punya bodi mirip kamera DSLR dan berlensa panjang namun tidak bisa dilepas-pasang layaknya lensa pada kamera DSLR. Awalnya kamera prosumer hadir di masa lalu ketika harga DSLR masih sangat tinggi, padahal banyak fotografer yang ingin berlatih fotografi secara serius namun tak cukup dana untuk membeli DSLR. Oleh karenanya, saat itu kamera prosumer laris manis meskipun kalau diadu dengan DSLR dalam hal kualitas foto dan kinerja secara umum, memang harus mengaku kalah. Kini, eksistensi kamera prosumer masih terus bertahan meski harus berjuang keras ditengah himpitan serbuan kamera DSLR baru nan murah dan canggih. Salah satu cara prosumer untuk tetap eksis di tahun sekarang adalah dengan membuat lensa sepanjang mungkin supaya menarik minat para pembeli. Kamera prosumer dengan lensa zoom optik diatas 20x pun kini sudah jadi suatu hal yang umum dijumpai.

      Mengapa kamera prosumer?

      Perkembangan teknologi fotografi digital masa kini telah mengantar kamera prosumer menjadi kamera praktis yang bisa diandalkan untuk fotografi sehari-hari, mulai dari memotret makro, landscape, hingga foto tele di alam terbuka. Bahkan kemampuan prosumer dalam merekam video pun semakin ditingkatkan, dengan kemampuan merekam High Definition serta memakai kompresi MPEG-4 AVC yang efisien. Banyak prosumer masa kini yang telah dilengkapi dengan dudukan flash eksternal, sehingga keterbatasan prosumer di daerah kurang cahaya dapat disiasati dengan memasang lampu kilat eksternal yang berdaya lebih besar, dan bisa dibouncing keatas bawah atau kiri kanan. Soal kenyataan lensa prosumer yang tetap/fix, bila disikapi dengan bijak bisa menghindarkan kita dari keinginan membeli banyak lensa, mencegah gonta-ganti lensa yang tidak praktis dan beresiko masuknya debu ke dalam sensor. Soal kendala noise dapat diupayakan dengan sedikit kerja ekstra yaitu memotret memakai file RAW dan selanjutnya diolah di komputer. Belum lagi soal harga dan bobot prosumer yang lebih ringan dari DSLR, membuat prosumer masih punya harapan untuk mendapat tempat di kalangan fotografer, baik pemula hingga profesional sekalipun.

      Apa kekurangan kamera prosumer?

      Kompromi seperti apa yang harus diterima oleh seseorang yang membeli kamera prosumer? Kamera jenis ini punya harga cukup mahal, namun masih lebih murah daripada kamera DSLR. Jadi janganlah berharap kalau kamera prosumer akan punya kinerja layaknya DSLR. Jadi kompromi yang harus diterima setidaknya ada empat hal :

      • Pertama adalah menghindari pemakaian ISO tinggi, artinya bermain aman saja di ISO dasar hingga maksimal ISO 400.
      • Kedua adalah tidak berharap banyak akan fotografi dengan DOF sempit, seperti foto portrait atau still life.
      • Ketiga adalah menghindari fotografi yang memerlukan kerja kamera yang serba cepat, termasuk shutter, auto fokus hingga continuous shooting yang cepat.
      • Keempat pemakai prosumer tentunya hanya mengandalkan lensa yang ada, sehingga tidak bisa berganti lensa lain, meski tersedia asesori lensa add-on/conversion lens.

      Rekomendasi kami

      Bila anda termasuk orang yang tidak ingin ribet memakai kamera DSLR beserta segala lensanya, mengapa tidak menjajal kamera prosumer super zoom saja? Simaklah delapan kamera  prosumer super zoom baru yang kami pilihkan untuk anda, dilengkapi dengan uraian singkat fiturnya beserta kekurangannya, disajikan urut sesuai abjad. Siapa tahu satu diantara kamera berikut ini cocok di hati anda.

      Canon Powershot SX1 : urusan foto dan video sama baiknya

      canon-sx1Keputusan tepat dari Canon dalam merevolusi S5 IS tampak dari dipakainya lensa super zoom 20x yang wide di 28mm pada Powershot SX1 dan juga memakai sensor baru CMOS 10 MP untuk kinerja burst yang lebih tinggi (4 fps dengan resolusi penuh). SX1 ini tetap melanjutkan spesifikasi S5 IS yang sudah baik seperti LCD yang bisa diputar (kini berukuran 2,8 inci widescreen), stereo movie recording, memakai teknologi USM untuk motor zoomnya (bukan motor fokus) dan flash hotshoe. Bahkan kemampuan movie SX1 amat mengagumkan dengan kemampuan full HD 1080i plus HDMI dengan kompresi efisien H.264 dan kemampuan zoom saat merekam video (berkat pemakaian USM motor yang tanpa suara), membuat SX1 jadi kamera dan camcorder yang sama baiknya.  Catatan : kami juga menyukai saudara kandung dari SX1 yaitu SX10 yang masih memakai sensor CCD dan tidak memiliki fitur HD movie.

      Kekurangan dari SX1/SX10 sendiri adalah lensanya yang tidak secepat pendahulunya, dengan bukaan maksimal f/5.7 pada tele maksimum yang membatasi pilihan bukaan diafragma di saat memotret tele (dan kecenderungan mengalami efek difraksi lensa).

      Casio Exilim FH20 : lebih cepat dari DSLR tercepat

      casio-ex-fh20Bayangkan kecepatan burst kamera DSLR, betapa tingginya hingga ada yang mencapai 10 frame per detik. Bayangkan kalau ada kamera prosumer yang bisa melebihi kecepatan DSLR dengan 40 fps! Ini bukan mimpi, kamera Exilim FH-20 dengan sensor CMOS 9 MP mampu memotret hingga 40 fps pada resolusi 3072 x 2304 piksel, atau empat kali lebih cepat dari kemampuan burst DSLR yang sekitar 10 fps. Didukung lensa wide 26mm dengan 20x zoom dan kemampuan merekam video HD 30 fps (bahkan tersedia pilihan 1.000 fps untuk resolusi 224 x 56 piksel, lebih kecil dari resolusi video kamera ponsel), file RAW format, image stabilizer dan layar LCD 3 inci, membuat super zoom EX-FH20 ini jadi pesaing berat Canon SX1 di atas.

      Kekurangan dari EX-FH20 adalah ketiadaan dudukan lampu kilat dan kualitas optik dari lensa Exilim yang belum sepadan dengan lensa kamera kelas prosumer lainnya.

      Fuji FinePix S1500 : sederhana, murah namun lengkap

      fuji-s1500Fuji memiliki banyak produk yang berlensa panjang, bahkan lensa kamera Fuji kali ini tergolong kurang panjang karena ‘hanya’ punya 12x zoom optik saja. Namun kami sengaja pilihkan Fuji S1500 ini dengan dua pertimbangan : fitur dan harga. Bagi sebagian orang, memiliki kamera dengan lensa 12x zoom itu sudah lebih dari cukup, dan lensa diatas itu hanya membuat harga jual kamera jadi semakin tinggi. Maka kamera 10 MP ini hadir untuk mereka yang mengerti arti kesederhanaan namun tetap menginginkan yang terbaik, katakanlah seperti kualitas optik lensa, bukaan maksimal lensa di f/2.8 pada posisi wide, fitur stabilizer dan desain serta ergonomi kamera yang nyaman. Sebagai info tambahan, Fuji ini memakai LCD berukuran 2,7 inci dan ditenagai oleh 4 baterai AA. Kesemua itu bisa didapat pada Fuji S1500 ini dengan harga dibawah tiga juta saja.

      Kekurangan dari Fuji S1500 ini adalah ketiadaan dudukan lampu kilat, lensa kurang wide dan fitur movie yang cuma VGA saja (meski hebatnya dia mampu zoom optik saat merekam video).

      Kodak Z1015IS : unggul di lensa Schneider dan HD movie

      kodak-z1015lKodak tidak punya pilihan lain kecuali fokus di kelas prosumer, mengingat di kelas DSLR Kodak tidak punya produk apapun. Seperti biasanya, andalan Kodak adalah lensanya yang dipercayakan pada Schneider untuk kualitas terbaik. Kali ini Kodak hadir dengan Kodak Z1015IS, kembali memakai desain kamera yang lagi-lagi cukup aneh, dengan resolusi 10 MP, lensa 15x zoom (28-420mm) yang anehnya memakai bukaan diafragma f/3.5 pada posisi wide. Kamera berlayar LCD 3 inci ini sudah dilengkapi dengan fitur stabilizer optik,  RAW file format dan HD movie 30 fps.

      Kekurangan kamera ini adalah desainnya yang aneh (anda boleh tidak sependapat), tanpa dudukan lampu kilat dan lensanya yang lambat dengan bukaan maksimal f/3.5 saja.

      Lumix FZ28 : tetap bertahan memakai lensa 18x zoom

      lumix-fz28Sukses Panasonic dalam merajai pasaran kamera prosumer dengan zoom 18x telah ditorehkan oleh Lumix FZ18. Kini penerusnya hadir dengan nama Lumix FZ28 yang memakai sensor CCD 10 MP, dan mengalami perubahan sedikit dalam rentang fokal (kini 27-486mm f/2.8-4.4) namun tetap bertahan di 18x zoom optik, serta memakai Venus 4 engine yang lebih bertenaga. Lumix sudah dikenal akan lensa Leicanya yang berkualitas, pengoperasiannya yang mudah (intelligent Auto), serta stabilizer OISnya yang paling efektif dibanding merk lain. Bagi yang suka file RAW akan merasa lega dengan kemampuan FZ28 merekam file RAW, serta tersedianya fitur HD movie 30fps yang jadi tren standar resolusi di masa depan. Kesemua fitur ini membuat Lumix FZ28 menjadi yang terbaik diantara kamera dengan zoom lensa sejenis.

      Kekurangan Lumix secara umum adalah noisenya yang tampak lebih tinggi dari kamera lain (padahal artinya Lumix menjaga detail lebih baik daripada kamera lain). Khusus FZ28 ini, sayangnya tidak tersedia dudukan lampu kilat sehingga cukuplah mengandalkan lampu kilat built-in di kamera.

      Nikon Coolpix P90 : makin ambisius dengan 24x zoom

      niko-p90Kurang sukses dengan Coolpix P80, Nikon hadir kembali dengan penerusnya yaitu Coolpix P90 yang membuat kejutan dengan desain lensanya yang bermula dari 26mm dan berakhir di 624mm (atau 24x zoom optik). Tampak ambisius memang, terlebih Nikon kini mengusung sensor dengan resolusi 12 MP guna memenangkan persaingan. Kamera yang berdesain cantik ini punya tata letak tombol yang apik, layar LCD lipat dan sudah dilengkapi stabilizer pada sensornya.

      Percayakah anda kalau kamera selengkap dan seambisius ini belum memiliki fitur HD movie? Banyak fans Nikon yang mengeluhkan hal ini, belum lagi ketiadaan fitur RAW file format dan absennya dudukan lampu kilat pada kamera ini membuat upgrade dari P80 ke P90 ini terasa kurang signifikan.

      Pentax X70 : super zoom pertama dari Pentax

      pentax-x70Persaingan panas diramaikan oleh pendatang baru di kelas super zoom, yaitu Pentax yang menjajal peruntungannya dengan meluncurkan Pentax X70. Kamera super zoom berlensa 24x zoom ini juga punya rentang yang persis sama seperti Nikon P90 yaitu 26-624mm, bahkan sama-sama memakai sensor 12 MP. Bedanya Pentax ini tidak memakai LCD lipat, dan sudah mendukung movie HD meski hanya 15 fps. Soal stabilizer, Pentax juga menerapkan sistem sesnsor shift seperti halnya Nikon P90.

      Kamera ini belum mendukung RAW file format dan tidak ada dudukan lampu kilat, sungguh disayangkan mengingat Pentax sebagai pendatang baru semestinya sudah mempelajari kekurangan dari para pesaingnya.

      Sony Cybershot DSC-HX1 : semakin mendekati kamera DSLR

      sony-cybershot-hx1Tibalah kita di produk terakhir yaitu Sony DSC-HX1 yang mengusung sensor CMOS 9 MP. Dengan target menyaingi langsung Canon SX1 dan Casio FH20, Sony ini pun mengemas lensa Sony G dengan kemampuan zoom 20x. Kode G sendiri menunjukkan pemakaian 6 blade diafragma (hampir menyerupai lensa DSLR dengan 7 blade) untuk kualitas lensa yang lebih baik. Fitur lainnya adalah layar LCD lipat berukuran 3 inci, sweep panorama, steady shot (stabilizer optik), stereo HD movie 1440 x 1080 dan Bionz prosesor (milik DSLR Sony Alpha).

      Sayang beribu sayang kalau kamera secanggih ini belum dilengkapi dengan dudukan lampu kilat eksternal dan tidak mendukung RAW file format, tapi begitulah kenyataannya.

      Kesimpulan

      tabel

      Tidak ada kamera yang jadi pemenang di daftar ini, karena kali ini kami memang menyajikan pilihan dan andalah yang menentukan kamera mana yang cocok sesuai kebutuhan fotografi dan budget anda. Bila anda mencari kamera dengan lensa terpanjang saat ini, ada Olympus SP-590 dengan lensa super ekstrim 26x zoom optik, atau 26-676mm dengan resolusi 12 MP. Namun karena Olympus masih memakai memory card xD yang kuno dan lambat, kami tidak memasukkannya kedalam daftar rekomendasi kali ini.

      Sebagai kesimpulan dalam tulisan ini, kami kelompokkan kamera-kamera diatas dalam katagori yang sama :

      • Ada tiga kamera yang sudah memakai sensor CMOS seperti Canon SX1, Casio FH20 dan Sony HX1, dengan asumsi sensor CMOS mampu memberi kinerja lebih baik di ISO tinggi dan kecepatan burst yang juga lebih baik. Tapi penggunaan sensor CMOS tentu membuat harga kamera jadi lebih tinggi (di kisaran 5 jutaan).
      • Ada dua kamera yang sangat ambisius dalam mendesain lensa dengan 24x zoom yaitu Nikon P90 dan Pentax X70, sementara sisanya bertahan di 20x, 18x, 15x bahkan hanya 12x saja. Hebatnya, keduanya bukan cuma sama-sama memakai lensa 24x zoom saja, tapi keduanya juga sanggup membuat lensa yang bermula dari 26mm (sementara pesaing umumnya 28mm).
      • Jangan terpaku pada resolusi kamera, karena sensor kecil pada kamera non DSLR sudah sangat cukup bahkan hanya dengan 5 MP sekalipun. Kami menganggap resolusi diatas 10 MP sudah melampaui batas fisika sensor sehingga sangat rentan noise di ISO tinggi. Jadi kalau perlu kamera resolusi di atas 10 MP, sebaiknya pertimbangkan saja DSLR. Disini Lumix FZ28, Nikon P90 dan Pentax X70 tampak begitu memaksakan diri dengan 12 MP, meski tidak banyak bedanya bila dibanding dengan 10 MP.
      • Kamera prosumer disebut berfitur lengkap jika memiliki fitur seperti manual mode, stabilizer, RAW file format dan dudukan lampu kilat eksternal. Kesemua kamera diatas telah dilengkapi dengan manual mode dan stabilizer, namun tidak semuanya memiliki RAW file format dan dudukan lampu kilat. Bila anda perlu kamera dengan RAW file format, cermati baik-baik spesifikasi teknis kamera yang akan anda beli. Bila anda ingin kamera dengan dudukan lampu kilat, tampaknya hanya Canon SX1 yang memilikinya.
      • Fitur HD movie sudah jadi tren di tahun 2009 ini. Juaranya HD movie di daftar kali ini adalah Canon SX1 dan Sony HX1 dengan audio stereo. Namun bila anda merasa tidak perlu kamera dengan HD movie, tersedia kamera yang hanya mampu merekam VGA movie seperti Fuji S1500 atau Nikon P90. Hati-hati karena ada juga kamera yang memaksakan HD movie tapi hanya sanggup 15 fps (semestinya minimal 24 fps) sehingga gambar video akan tampak patah-patah.

      Itulah daftar kamera prosumer yang bisa kami rekomendasikan untuk tahun ini, semoga bermanfaat. Diskusikan dengan kami melalui forum bila ada hal-hal yang kurang jelas, salam..


      Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

      Fuji F200EXR, si kamera saku serba bisa

      Akhirnya diluncurkan juga, kamera digital dari Fuji dengan sensor SuperCCD generasi EXR. Kamera yang bernama Finepix F200EXR ini sepintas mirip dengan pendahulunya, F100fd namun dengan layar yang lebih besar. Kamera ini menjadi kamera pertama dalam jajaran Finepix yang mengadopsi sensor baru EXR, dan diharapkan di bulan-bulan mendatang sensor EXR juga akan dipasangkan pada kamera semi-pro sekelas Finepix S100fs dan kamera super zoom sekelas S8100fd.

      Fuji F200 EXR

      Bagi yang belum menyimak info soal sensor baru ini, intinya secara singkat bahwa sensor EXR merupakan hasil riset Fuji yang menggabungkan sensor SuperCCD tipe HR dan tipe SR. Tipe HR mampu memberi resolusi tinggi dengan noise yang rendah, biasa dipakai di kamera saku hingga kamera semi-pro, sementara tipe SR adalah jawaranya dynamic-range, digunakan di kamera DSLR Fuji S series. Dengan bersatunya kedua teknologi sensor ini, bisa dibayangkan cukup dengan sebuah sensor bisa didapat kemampuan fotografi digital resolusi tinggi yang noisenya rendah dan punya dynamic range yang lebih baik.

      Sebagai pembuka, berikut kutipan fitur utamanya :

      • 12 Megapixel SuperCCD EXR sensor (1/1.6 inch)
      • F3.3-5.1, 5X optical zoom lens, equivalent to 28 – 140 mm
      • Sensor-shift image stabilization
      • 3-inch LCD display with 230,000 pixels
      • Full manual controls + numerous scene modes
      • ISO range of 100 – 12,800
      • Super Intelligent Flash
      • Face Detection 3.0
      • Records movies at 640 x 480 (30 fps) with sound
      • 48MB onboard memory + xD/SD/SDHC card slot
      • Uses NP-50 lithium-ion battery

      Di atas kertas memang tidak nampak ada yang menonjol dari deretan fitur diatas (kecuali ISOnya yang bisa mencapai ISO 12.800, wow!) bahkan merk pesaing bisa mengungguli Fuji ini khususnya dalam fitur movie yang rata-rata sudah memakai resolusi HD. Bahkan bila disimak spesifikasi lensanya, meski rentang fokalnya amat efektif (28-140mm), namun tidak demikian halnya dengan bukaan maksimalnya. Ya, Fuji ini layaknya kamera saku generasi sekarang, lebih memilih desain lensa ekonomis yang tidak bisa membuka hingga f/2.8 seperti kamera-kamera generasi sebelum ini. Tapi kita tidak sedang membahas itu, kita sedang ingin mengupas tentang bagaimana sensor EXR ini bisa diandalkan dalam berbagai kondisi pemotretan.

      Kita mulai saja. Baik dipilih secara manual ataupun otomatis, sensor EXR seolah bisa berperan sebagai tiga sensor berbeda. Bila mode EXR diset ke auto, kamera akan menentukan sensor EXR harus berperan sebagai apa, tergantung kondisi pemotretan. Peran yang bisa dipilih pada sensor EXR adalah :

      • Fine Capture (resolusi tinggi), artinya sensor berfungsi normal dengan resolusi maksimal 12 MP, cocok untuk pemotretan sehari-hari dengan kondisi cahaya normal (mencukupi). Dengan kata lain, mode ini persis sama seperti memakai kamera digital manapun.
      • Pixel Fusion (sensitivitas tinggi, noise rendah), artinya dengan memilih mode ini setiap piksel yang berdampingan akan digabungkan untuk memberikan sensitivitas 2x lebih tinggi, sehingga noise bisa ditekan lebih rendah. Perhatikan kalau dengan metoda gabungan dua piksel bertetangga ini maka resolusi efektif sensor EXR menjadi 6 MP.
      • Dual Capture (dynamic Range yang lebar), prinsipnya sama seperti fotografi HDR yaitu menggabung dua foto yang berbeda eksposure. Namun bedanya dengan teknik HDR, kita tidak perlu memotret beberapa foto untuk digabung di komputer, cukup sistem internal sensor EXR yang melakukannya. Prinsipnya, setengah dari jumlah piksel di sensor EXR akan menangkap foto dengan eskposure yang lebih tinggi (terang), sementara setengahnya lagi bertugas mengambil foto dengan eksposure lebih rendah (gelap). Kedua foto yang berbeda eksposure tersebut digabung oleh prosesor internal kamera dan hasil akhirnya adalah sebuah foto 6 MP yang punya jangkauan dinamik yang lebar.

      Meski kamera ini bisa menentukan secara otomatis mode EXR mana yang cocok untuk situasi pemotretan saat itu, namun tentu sebaiknya sang pemakai kameralah yang menentukan kapan harus memakai mode Fine Capture, kapan harus memakai Pixel Fusion dan kapan harus memakai Dual Capture. Berikut ini adalah beberapa skenario pemotretan yang memungkinkan kita secara spesifik memilih mode sensor EXR secara manual :

      • Mode Fine Capture tentu dipakai bila perlu resolusi tinggi 12 MP, seperti foto yang sarat dengan detail (landscape) atau bila akan dilakukan cropping nantinya. Di mode ini diperlukan cahaya yang mencukupi dan merata, artinya tidak ada perbedaan area yang terlalu gelap atau terang pada satu bidang gambar.
      • Mode Pixel Fusion akan menunjukkan kehebatannya bila dipakai di tempat kurang cahaya. Bilamana diperlukan memotret memakai ISO tinggi dan tanpa lampu kilat,  seperti foto indoor, memotret konser musik, atau di tempat yang penggunaan lampu kilat tidak diijinkan, gunakan saja mode ini.
      • Mode Dual Capture, adalah terobosan baru mendapat foto dengan dynamic range tinggi tanpa harus mengolah lewat software komputer. Mode ini bisa digunakan pada area pemotretan yang punya kontras tinggi, yaitu terdapat area amat terang dan amat gelap pada sebuah bidang foto. Tanpa mode ini, kita akan terpaksa memilih untuk mengorbankan daerah gelap (shadow) demi menyelamatkan daerah terang (highlight) atau sebaliknya.

      Kami tidak begitu antusias pada mode pertama, karena mode fine capture adalah mode standar semua kamera saku yang punya resolusi tinggi. Selain membuat ukuran foto jadi besar, resolusi tinggi juga membuat berat saat proses loading dan editing foto di komputer. Bila memakai kamera EXR ini, kami merasa hanya perlu memakai dua mode ‘khusus’ lainnya yaitu mode pixel fusion (anggap saja ini mode malam hari) dan mode dual capture (anggap saja mode siang hari). Betul kalau kedua mode ’siang-malam’ ini akan menghasilkan foto beresolusi 6 MP saja, tapi bagi kebanyakan orang, 6 MP ini sudah amat mencukupi.Sebagai penutup, singkatnya Fuji F200EXR mampu memberi terobosan besar dalam dunia fotografi digital yang selama ini ‘mentok’  saat mendesain sensor kecil yang selalu bermasalah dengan noise yang tinggi dan rendahnya dynamic range. Dalam dimensi yang kecil, kamera berlensa 5x zoom ini bisa berperan banyak yaitu sebagai kamera normal beresolusi tinggi, kamera yang juga handal di ISO tinggi layaknya DSLR, dan kamera HDR yang sanggup memberi dynamic range tinggi tanpa perlu menguasai teknik HDR di komputer.

      Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..