EOS R, mirrorless full frame pertama dari Canon

September 2018, Canon resmi memperkenalkan format kamera baru bernama EOS R, yang meski masuk ke kelompok mirrorless, namun berbeda dengan EOS-M (kamera mirrorless Canon yang sudah lebih dulu ada), karena EOS R ini dirancang spesifik untuk sensor full frame. Hal ini menjadi ajang pembuktian kalau akhirnya Canon (dan sebelumnya juga Nikon mengumumkan Nikon Z) benar-benar ikut mengisi segmen mirrorless full frame untuk melengkapi lini DSLR full frame mereka.

EOS R punya bentuk seperti mini DSLR dan dilengkapi berbagai tombol dan LCD kecil di bagian atas. Jendela bidik jenis OLED 3,7 juta dot dengan perbesaran 0,76x sudah termasuk sangat baik. Layar LCD-nya berukuran 3,15 inci sistem lipat samping seperti kebanyakan kamera Canon masa kini, dan sebagai kamera mirrorless dengan mount RF baru, maka jarak flange back mungkin jadi penting bagi anda, dan di sistem EOS R ini jaraknya adalah 20mm. Artinya pengguna lensa DSLR Canon perlu memasang adapter khusus, dan ini menjawab rasa penasaran banyak pihak apakah Canon akan membuat mirrorless full frame dengan EF mount (flange back panjang khas DSLR) atau justru membuat mount baru. Bila diamati dari fisik kameranya, desainnya agak unik dan tidak persis seperti DSLR Canon atau EOS-M, misalnya bentuk roda On-Off di kiri atas, tidak ada roda Mode P-Av-Tv-M, ada tombol kiri kanan <> disebut multi function bar, dan tidak ada roda belakang untuk diputar. Tapi desain EOS R ini saya lihat cukup aman, dengan ergonomi yang sepertinya enak, grip yang dalam dan kalau dicari apa kurangnya ya di EOS R ini tidak ada built-in flash dan joystick.

Dari spesifikasi, EOS R memakai sensor 30 MP yang dilengkapi Dual Pixel AF dengan 5655 titik fokus yang bisa fokus di keadaan gelap hingga -6 Ev, dengan rentang ISO 100-40.000 dan kecepatan tembak hingga 8 fps untuk fokus One Sot (AF-S). Tersedia pilihan shutter elektronik juga bila ingin senyap saat memotret. Bodi kamera seberat 660 gram ini sudah berbahan magnesium alloy yang tahan cuaca. Fitur 4K 30p Canon Log video juga tersedia, dan bisa 10 bit 4:2:2 via HDMI (external record), atau kualitas biasa bila klip videonya hendak ditulis langsung ke SD card yang yang sudah mendukung UHS II (meski hanya ada 1 slot kartu memori di kamera ini). Baterai LP-E6N bisa bertahan sekitar 370 kali jepret, yang kini dipakai bisa diisi daya dalam kamera melalui USB 3.0 dengan adapter daya yang disertakan, dan tersedia aksesori battery grip BG-E22 bila perlu. Bagi banyak pihak yang berharap adanya stabilizer di bodi, sayangnya Canon tidak mendesain EOS R dengan stabilizer di bodi. Kemungkinan karena sulitnya mendesain sistem tersebut di bodi kamera yang relatif kecil, lagipula Canon sepertinya konsisten membuat IS di lensa saja. Continue reading EOS R, mirrorless full frame pertama dari Canon

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Z7 dan Z6, duo mirrorless full frame andalan Nikon

Nikon resmi memperkenalkan kelahiran sistem baru di kamera modern, yaitu Nikon Z7 dan Z6, dengan desain mirrorless, Z mount dan tentunya lensa baru yang sesuai. Pertama ada Z7 yang menjadi produk topnya dengan 45 MP, 5 stop 5 axis IS di sensornya, 493 titik PDAF sensitif hingga -3 Ev, 9 fps bila tanpa focus tracking (5,5 fps dengan tracking), jendela bidik 3,6 juta titik, LCD lipat 3,2 inci dengan layar sentuh, bodi weathersealed dengan jendela OLED di bagian atas, satu slot kartu memori XQD dan baterai yang bertahan 330 jepretan.

Nikon Z7

Di sisi video tersedia 4K 30p yang mendukung PDAF dan IS di sensor, serta disediakan N-log 10 bit 422 bila melalui HDMI (8 bit 420 melalui kartu memori) dengan sederet fitur video lengkap seperti TC, zebra dll. Nikon Z7 dijual di US$3400 tanpa lensa, maka itu bagi yang mencari produk dengan harga lebih terjangkau, Nikon membuat versi Z6 yang dijual dibawah US$2000.

Layar LCD lipat, top OLED display, weathersealed body, spek dan ergonomi yang tampak menggoda

Dengan fisik luar yang sama dengan Z7, Nikon Z6 punya beberapa fitur yang tetap impresif seperti :

  • 24 MP
  • 273 titik fokus
  • ISO 100-51.200 (di Z7 ada ISO 64)
  • 12 fps (lebih cepat dari Z7, karena resolusi lebih rendah)
Nikon Z7 dipasangkan dengan lensa DSLR dibantu sebuah adapter

Sebagai lensanya, pengguna Nikon Z7 atau Z6 baru bisa memakai 3 lensa Z yang ada, yaitu 24-70mm f/4, 35mm f/1.8 dan 50mm f/1.8 dan bila mau pakai lensa Nikon F tersedia adapternya. Roadmap ke depan (rencana peluncuran lensa):

2019: Nikon Z 58mm f/0.95, Nikon Z 20mm f/1.8, Nikon  Z 85mm f/1.8, Nikon Z 24-70mm f/2.8, Nikon Z 70-200mm f/2.8, Nikon 14-24mm f/4

2020: Nikon Z 50mm f/1.2, Nikon Z 24mm f/1.8, Nikon Z 14-24mm f/2.8

Nikon Z7 akan bersaing dengan Sony A7RIII, sedangkan Z6 akan berhadapan dengan Sony A7 III. Menarik ya, kita tunggu saja perkembangan lebih lanjut ke depannya.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Perkembangan Sony A7 dari masa ke masa

Sony A7 boleh jadi adalah kamera mirrorless yang banyak diminati, karena teknologinya, karena ukurannya, karena hasil fotonya dan khususnya karena harganya yang dianggap bersahabat untuk kelas full frame. Sony sampai saat ini sudah meluncurkan 3 generasi Sony A7, yaitu A7 generasi pertama (2013-2014), A7 II (2015-2016) dan A7 III (2017-2018). Ketiganya tetap mempertahankan sensor full frame 24 MP dengan low pass filter dan phase detect AF.

Peningkatan secara fisik tidak banyak dilakukan, setidaknya dari tampak luar bodi ketiganya masih mirip. A7 punya desain paling simpel, lalu A7 II didesain ulang sedikit, dengan penambahan tombol AF/MF-AEL di belakang, dan di A7 III memberi joystick dan dual SD card serta bodi weathersealed yang awalnya ditemui di A9. Sony A9 sendiri adalah top-nya seri Alpha full frame, maka tak heran hadirnya A7 III yang dibuat setelah muncul A9 membawa beberapa ‘inspirasi’ dari A9 seperti bodi, menu, fitur dan kinerja.

sony-a7ii-vs-a7iii-front

A7 generasi awal masih dijual saat ini dengan harga dibawah 15 juta, cocok untuk yang dana terbatas, atau yang ingin memakai lensa lama dengan adapter. A7 II dikisaran 20 jutaan menjadi produk paling laris dengan adanya 5 axis sensor shift (IBIS) yang membuat foto lebih tajam, dan A7 III yang hampir menyentuh angka 30 juta menjadi produk yang topnya dengan baterai besar, 4K video, layar sentuh dan bodi mantap. Tapi secara esensi, semua A7 punya sensor mirip-mirip (meski A7 III diklaim punya dynamic range lebih baik berkat BSI CMOS sensor).

Sony A7iii

Saran : untuk dana terbatas, A7 masih menarik untuk dimiliki, apalagi kalau terbiasa pakai tripod dan jarang foto subyek bergerak. A7 II disarankan untuk keseimbangan fitur dan harga, dan A7 III cocok untuk anda yang mencari kinerja tinggi, bodi tahan cuaca, dan bonus-bonus seperti layar sentuh, joystick, dual SD card dan baterai yang lebih besar. Kami sendiri beropini kalau A7 III inilah produk yang semestinya dibuat oleh Sony dari dulu, karena sudah lebih memikirkan kemudahan pengguna dan juga kegunaan lebih (baterai lebih besar, layar sentuh), dan menjawab keluhan di A7 sebelumnya (baterai, weather sealed dan 4K video) meski sayangnya akibat ini semua maka harga A7 III menjadi naik signifikan padahal secara substansi sensor masih sama dengan A7 II. Anda sendiri tertarik dengan yang mana?

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

EOS 6D mk II, DSLR full frame terkini dari Canon

Canon 6D mk II adalah kamera DSLR full frame yang mengisi segmen basic yang tentunya spesifikasi dan fiturnya harus dibedakan dari kakak-kakaknya seperti 5D mk IV, 5DS apalagi 1Dx mk II. Di segmen full frame entry level ini yang dicari adalah keseimbangan antara harga, kinerja, kualitas dan ukuran, dimana profil pemakainya yang sesuai biasanya dari kalangan hobi, atau profesional yang mencari peralatan cadangan (backup). Khusus 6D mk II menawarkan sesuatu yang cukup unik dan jarang ditemui di kamera lain seperti sensor 26 MP (kamera lain umumnya 24 MP), ada fitur 4K timelapse, Bluetooth dan GPS untuk konektivitas lengkap. Sebagai info, 6D mk II diperkenalkan dengan harga $2000 bodi saja (sekitar 26 juta rupiah).

Canon EOS 6D mk-II menawarkan fitur-fitur sebagai berikut :

  • sensor full frame 26 MP
  • 45 titik fokus, semuanya cross type, -3 Ev
  • auto fokus di live view dan video dengan Dual Pixel AF
  • layar LCD sentuh, bisa dilipat dan diputar
  • jendela bidik prisma, 0,71x perbesaran, cakupan 98%
  • memotret kontinu 6,5 fps, bisa sampai 25 RAW+JPG fine (dengan kartu UHS-I high speed)
  • metering dengan 7560 piksel
  • Digic 7, ISO 100-40.000 (bisa dipaksa sampai ISO 50 (low) dan ISO 102.400 (High)
  • WiFi + NFC, Bluetooth dan GPS

Meski tampak besar, tapi 6D mk II cukup ringan (765g dengan baterai) berkat bahan almunium alloy dan polikarbonat resin. Desain DSLR khas Canon dengan ergonomi yang pas dan mantap digenggaman, dan tata letak tombol yang terbukti fungsional. Adanya fitur layar sentuh membantu sekali dalam interaksi kita dengan kamera. Perlindungan cuaca membuatnya bisa diandalkan saat memotret di keadaan hujan atau berdebu.

eos-6d-mark-ii

Kinerja kamera ini termasuk standar dengan 6,5 fps yang bisa diandalkan untuk mendapat momen sehari-hari, buffer juga cukup lega tapi sayangnya tidak ada dukungan ke kartu UHS-II. Adanya fitur Dual Pixel AF membuat 6D mk II ini sama baiknya saat auto fokus dengan mode live view, bahkan tetap bisa Servo AF untuk melacak benda bergerak saat live view. Titik fokus 45 area di 6D mk II cenderung terkonsentrasi di bagian tengah sehingga bisa jadi untuk kebutuhan tertentu malah lebih enak pakai live view saja.

eos-6d-mark-ii-back-d

EOS 6D mk II yang lama ditunggu untuk menyegarkan 6D lama punya banyak peningkatan berarti. Kelebihan Canon adalah menemukan teknologi Dual Pixel AF yang menjadikan kamera DSLR bisa laksana mirrorless saat pakai mode live view, tentunya bukan sekedar live view tapi bisa auto fokus dengan cepat, fokus kontinu dan bisa memfokus dengan menyentuh layar. Kekurangan kamera ini yang banyak disayangkan orang adalah tidak menyediakan kemampuan rekam video 4K, jadi hanya bisa full HD saja.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Canon hadirkan DSLR kelas atas EOS 5D generasi ke empat

Di bulan Agustus ini dunia fotografi dibuat kembali bergairah dengan hadirnya DSLR kelas atas Canon EOS 5D generasi ke empat atau mark IV. Kali ini Canon memberi sensor 30 MP dengan ISO 100-32.000 dengan dual pixel AF untuk auto fokus yang lebih mudah saat live view dan video (pertama di temui di EOS 70D). Selain itu tentu ada hal baru yang menarik disini, misalnya fitur 4K video dalam format MJPEG 30 fps. Canon-5D-Mark-IV-650x517

Tapi tentu saja berita besarnya kali ini adalah modul fokus yang dipakai, seperti yang sudah diprediksi akhirnya 5D mk IV ini mewarisi modul dari 1Dx mk II dengan 61 titik fokus (41 diantaranya cross type), dan bisa fokus di keadaan gelap -4 Ev. Kecepatan tembaknya mungkin biasa saja dengan 7 foto per detik tapi ingat resolusi 30 MP punya data yang lebih besar dari sensor 24 MP apalagi 16 MP.

Canon-5D-Mark-IV-Back-650x517

Dari fisik terlihat masih banyak kemiripan dengan 5D mk III dan 5D SR. Layarnya yang berukuran 3,2 inci ini kini sudah mendukung touchscreen dan didalamnya sudah diberikan fitur GPS dan WiFi.

Canon-5D-Mark-IV-Top-650x414

Kamera Canon 5D mk IV akan dijual $3,499 bodi saja atau $4,399 dengan lensa baru 24-70mm f/4L IS USM. Memang tidak murah, tapi profesional yang menunggu hadirnya kamera ini tentu sudah mengerti kebutuhan masing-masing seperti resolusi, dynamic range, ISO tinggi dan video 4K yang diunggulkan di kamera ini. Canon juga di waktu bersamaan meluncurkan lensa update EF 16-35mm f/2.8L III USM dan EF 24-105mm f/4L IS II USM.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Pentax K-1, DSLR full frame pertama dari Pentax

DSLR full frame kini bukan cuma dominasi Canon dan Nikon, sejak Pentax resmi mengumumkan lahirnya kamera DSLR Pentax K-1. Dengan merilis kamera ini di tahun 2016 tentunya Pentax punya banyak sekali waktu untuk mempelajari plus minus DSLR full frame yang lebih dulu ada dari pemain papan atas seperti Canon dan Nikon, sehingga produk pertama dari Pentax di segmen full frame ini semestinya sudah memperhitungkan kebutuhan fotografer pro seperti fitur-fitur didalamnya atau rancangan bodinya. Dan benar saja, ternyata banyak sekali hal-hal yang mengesankan baik dari spesifikasi, fitur dan juga harga dari Pentax K-1 ini.

Dari spek dasar mungkin kita akan beranggapan kalau Pentax K-1 ini kurang lebih mirip-mirip dengan kamera lain yang sudah ada, sebutlah misalnya sensor dengan resolusi 36 MP, kemampuan ISO 100-204800, ada 33 titik fokus, ada peredam getar di bodi, punya kecepatan tembak 4,5 foto per detik dan bisa rekam video full HD. Tapi agak aneh seandainya Pentax hanya mengandalkan spek dasar lalu berharap untuk berkompetisi dengan pemain lama di dunia full frame. Apalagi sejak dulu Pentax juga dikenal kerap membuat produk yang punya value tinggi, artinya fitur yang ditawarkan dibandingkan harga jualnya melebihi ekspektasi. Contohnya disini Pentax K-1 dibandrol seharga USD 1800 bodi saja, untuk ukuran DSLR full frame di segmen semi pro harga ini sangat menarik, apalagi jika melihat fitur yang diusungnya.

Sensor full frame di dalam K-1 ini bisa bergerak ke kiri kanan, juga berputar (5 axis)
Sensor full frame di dalam K-1 ini bisa bergerak ke kiri kanan, juga berputar (5 axis)

Sensor shift di Pentax K-1 ini adalah generasi kedua yang diklaim bisa bekerja meredam getaran hingga 5 stop berkat 5 axis-nya (X-Y-pitch-yaw-roll). Pentax juga lebih jauh lagi berhasil memanfaatkan kemampuan sensornya yang bisa digeser ini untuk memberi fitur canggih seperti :

  • simulasi anti aliasing (AA) filter, sehingga dengan menggetarkan sensor bisa didapat hasil seperti pakai AA filter, hal ini membuat penggunanya bisa memilih apakah mau pakai AA filter (untuk menekan moire) atau mau hasil tajam maksimal
  • pixel shift resolution system, teknologi menggeser sensor hanya seukuran 1 piksel, untuk mendapatkan empat gambar lalu menggabungkan menjadi satu foto dengan informasi warna RGB yang lengkap (dibandingkan dengan cara biasa dimana satu piksel hanya ‘melihat’ 1 warna (R/G/B) lalu diinterpolasi) dan ini berdampak pada naiknya dynamic range juga, serta mengurangi noise di ISO tinggi
  • auto level compensation, bila saat kita posisikan kamera agak kurang lurus (yang menyebabkan garis horizon jadi tampak miring) maka sensornya akan bergerak mengkompensasi kemiringan itu untuk menjaga foto tetap lurus (setahu saya belum ada kamera lain yang bisa melakukan ini, biasanya kita harus luruskan fotonya di editing)
  • AstroTracer, dengan dibantu penerima GPS dan kompas elektromagnetik didalam kamera, sensor di Pentax K-1 bisa ikut bergerak saat memotret bintang dengan shutter lambat sehingga foto bintang yang didapat tidak menjadi garis melengkung
pentaxk1diagonal
Layar LCD bisa dilipat diagonal/miring

Juga ada hal unik di kamera ini yaitu layar LCD-nya yang bisa dilipat diagonal seperti cotoh diatas. Juga di kamera ini ada beberapa lampu LED mini yang bisa membantu penggunanya saat memotret atau ganti lensa di tempat gelap, karena lampu ini bisa menerangi bodi kamera. Untuk sementara sudah ada beberapa lensa utama seperti HD PENTAX-D FA 15-30mm f/2.8 dan HD PENTAX-D FA 28-105mm f/3.5-5.6 dan berbagai lensa APS-C juga bisa dipakai dengan crop mode, atau memakai lensa Pentax jadul jaman film juga bisa (selagi masih bisa ditemui di pasaran).

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Sony A7R mk II telah hadir, full frame sensor 42 MP plus 4K

Sony akhirnya mengumumkan hadirnya kamera mirrorless A7R generasi kedua (mark II) dengan beberapa peningkatan seperti sensornya kini 42 MP (sebelumnya 36 MP), berjenis back-iluminated (rendah noise) dan bisa rekam video 4K. Sensor full frame di A7R mk II ini juga bergerak 5 axis untuk meredam getaran tangan, sebelumnya fitur ini diperkenalkan di A7 mark II, sehingga pakai lensa apa saja bisa tetap stabil. Untuk semua fitur itu, siapkan dana 40 jutaan belum termasuk lensa ya..

Bildschirmfoto-2015-06-10-um-20.05.06-700x217

Memang deretan fitur Sony A7R mk II masih banyak lagi. Misal kepekaan sensor maksimum bisa diangkat hingga ISO 102.400 dan bisa silent shutter juga. Kemudian auto fokusnya juga bisa hybrid dengan 399 piksel pendeteksi fasa di sensornya, banyak berguna untuk mengunci fokus ke subyek yang bergerak. Kinerja shoot kontinu cukup biasa saja dengan 5 fps, tapi mengingat resolusi gambar 42 MP maka hal ini masih terkesan impresif.

ILCE-7RM2_front

Bodi A7R mk II sepintas mirip dengan A7 mk II dengan perubahan ergonomi dan tata letak tombol shutter dan roda depan. Bahan bodi A7R mk II sepenuhnya dari magnesium alloy dengan bobot total 625 gram, cukup berat untuk ukuran kamera yang kompak ini. Layar LCD tetap sama, bisa dilipat ke atas dan kebawah. Tapi untuk urusan jendela bidik, A7R mk II lebih disempurnakan dengan Zeiss optik, tampilan di jendela bidik jadi sangat jelas.

ILCE-7RM2_rear

Dukungan lensa untuk E-mount ini memang belum begitu banyak, beberapa lensa yang disarankan untuk memaksimalkan ketajaman sensor 42 MP di Sony A7R mk II diantaranya adalah lensa FE 55mm f/1,8, lensa FE 35mm f/1.4 dan lensa FE 90mm f/2.8 Macro. Penggunaan lensa lain, seperti lensa Canon juga dimungkinkan, dan auto fokusnya bisa tetap jalan asal dipasang adapter yang sesuai.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Memilih kamera sesuai kebutuhan

Banyak sekali pertanyaan yang datang ke kami tentang kamera apa yang sebaiknya dibeli. Walau sudah banyak tulisan yang kami buat, pembaca sepertinya semakin bingung mau beli kamera apa. Pertanyaan yang masuk umumnya seputar bagus mana kamera A atau B? Apakah kamera ini cocok untuk saya, dan pertanyaan sejenis yang mengesankan terlalu kuatir salah beli. Padahal jaman sekarang semua kamera pada dasarnya punya fitur dan kualitas yang berimbang, asal berada di segmen yang sama. Apple to apple katanya.. Maka kali ini kami tulis lagi panduan memilih kamera yang didasarkan pada kebutuhan , bukan keinginan. Membedakan kebutuhan dan keinginan bisa jadi cara yang efektif untuk mendapat kamera idaman yang cocok.

Kenali kebutuhan anda, ikuti tanya jawab interaktif berikut ini :

Berapa budget anda, untuk sebuah sistem kamera (kamera dan lensa) ?

Dengan dana terbatas, memang pilihan tidak begitu banyak. Tapi kamera yang dijual dengan harga terjangkau juga tidak ada keluhan dalam hasil foto, asalkan sudah pakai sensor ukuran sedang (misal Micro Four Thirds hingga APS-C). Misal saat ini kamera seperti Samsung NX3000, Canon 1200D atau Nikon D3300 sudah lebih dari cukup fiturnya, hasil foto dan videonya juga oke. Saat ini mulai banyak dijumpai juga kamera saku dengan lensa permanen (tidak bisa diganti) yang sensornya 1 inci sehingga hasil fotonya setingkat lebih baik dari kamera saku biasa. Kamera saku seperti ini memang tidak murah, kadang hampir sama dengan harga kamera DSLR pemula lho..

canon-powershot-g7-x-camera

Dengan dana berlimpah, pikirkan apakah mau dihabiskan untuk bodi yang kelas atas atau seimbang dengan lensanya. Misal anda punya dana 22 juta, apakah mau beli kamera seharga 20 juta lalu 2 juta beli lensa, atau cari kamera seharga 10 juta dan beli lensa 12 juta? Ingat harga lensa yang baik umumnya lebih mahal, tapi kualitasnya juga tidak mengecewakan. Sony A6000 dengan lensa 16-70mm f/4 adalah contoh kombinasi bodi yang dan lensa yang bagus.

Seperti apa tuntutan anda terhadap kualitas hasil foto?

Kualitas foto, ditentukan dari sensornya. Saat bicara sensor, kita ingatnya megapiksel kan? Padahal kualitas foto bukan dihitung dari megapiksel tapi dari ukuran fisik sensor (panjang kali lebar, dalam mm). Sensor full frame (36x24mm) memberi hasil foto terbaik, sensor APS-C (24x16mm) sedikit dibawah full frame. Sensor kecil seperti di kamera ponsel hasil fotonya pasti pas-pasan saja. Intinya kualitas foto bukan di megapiksel, tapi di ukuran sensor.

sony-a7

Saat ini sensor APS-C mampu memberi hasil foto yang baik, hingga ISO 3200. Tapi bila anda ingin foto yang lebih bersih dari noise di ISO 3200, atau ingin foto RAW yang sangat leluasa di edit maka sensor full frame lebih cocok untuk anda. Kamera full frame tidak murah, tapi memang semakin terjangkau. Saat ini Nikon D610, Canon 6D atau Sony A7 semakin diminati karena kualitas hasil fotonya yang tinggi dan harganya masih terjangkau. Bila anda sudah puas dengan hasil dari sensor APS-C, maka pilihan menjadi sangat mudah. Bahkan Sony A3000 yang dijual di kisaran 3-4 juta sudah bisa memberi hasil foto yang baik, walau kamera ini kurang disarankan karena kinerjanya auto fokusnya kurang cepat.

Apakah kinerja yang cepat itu penting?

Bayangkan anda seorang peliput kegiatan olahraga. Momen yang cepat, aksi tak terduga, subyek yang terus bergerak dan durasi yang lama tentu perlu diimbangi dengan kamera yang kinerja tinggi. Bila faktor seperti kemampuan fokus kontinu yang tinggi, menembak kontinu yang tinggi atau daya tampung memori yang luas (buffer) maka kamera yang biasa-biasa saja tidak cocok untuk anda. Untuk itu tersedia Canon 7D mark II, Sony A77 mk II atau minimal Nikon D7200.

nikon-d750-enthusiast-camera

Bagaimana bila dana tidak mencukupi untuk membeli kamera yang kinerjanya tinggi? Ya kita mesti cari kamera yang lebih terjangkau, tapi tetap punya kinerja yang mencukupi walau kurang maksimal. Misal bisa cari mirrorless yang sudah hybrid AF (Sony A6000, Samsung NX500, Fuji X-T1/X-T10) atau DSLR kelas menengah (Canon 70D, Nikon D7100).

panasonic-lumix-gf7

Bila kinerja cepat bukan alasan utama kita membeli kamera, maka kamera pemula pun sudah cukup memadai. Tapi ingat juga bahkan kamera yang sangat mahal pun belum tentu kinerjanya sangat cepat, misal Nikon D810, Sony A7R karena justru dirancang untuk fotografer pemandangan.

Bentuk kamera, ukuran dan beratnya

Ini lebih ke personalitas anda. Apa anda mencari kamera utama? Atau kamera back-up untuk jalan-jalan? Atau anda ingin mencari satu kamera yang bisa diajak serius maupun santai? Saat ini bentuk kamera beragam, dari yang besar seperti DSLR, ada yang kecil dan juga sedang. Bentuk yang besar lebih nyaman digenggam, stabil dan mengesankan keseriusan kita :)

img_main01

Tapi bentuk yang kecil biasanya ringan, mudah dibawa dan tidak menarik perhatian orang saat diipakai. Perhatikan juga desain kamera, saat ini musim lagi desain retro klasik yang seperti kamera lama, kadang disertai pengaturan yang juga klasik (seperti Nikon Df, Fuji X-T1) yang agak membingungkan bagi pemakai pemula.

Apakah faktor lain juga penting?

Faktor lain yang juga menentukan sangat beragam bagi setiap orang, kami coba susun beberapa faktor lain yang bisa menjadi pertimbangan anda :

  • bodi yang tahan cuaca (weathersealed), penting bila sering memotret outdoor
  • kemampuan video yang baik, seperti 4K, codec khusus (XAVC-S), S-log gamma, timecode, headphone jack dsb
  • jendela bidik, bila suka yang optik maka DSLR lebih cocok, bila cari mirrorless apakah jendela bidik elektronik penting bagi anda
  • layar LCD, bisa dilipat? bisa diputar? bisa disentuh? LCD atau Amoled?
  • baterai, ingin yang besar tapi awet, atau yang bisa di-cas dengan powerbank?
  • konektivitas, GPS, WiFi, NFC yang penting bagi sebagian orang, tidak berguna bagi sebagian lainnya
  • dukungan flash, hot shoe di kamera adalah penting, juga dukungan flash eksternal
  • ketersediaan beragam lensa, juga dukungan adapter untuk memasang lensa lama
  • kustomisasi tombol dan roda, berguna untuk personalisasi kamera kita dan akses cepat
  • dukungan teman, klub, komunitas yang sama berguna untuk belajar dan saling support
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..