Panduan memilih lensa DSLR

Ada banyak jenis dan macam lensa kamera DSLR. Selain berbeda jenis atau tipenya, perbedaan harga pun amat mencolok, mulai dari kurang dari satu juta hingga ratusan juta rupiah. Hal ini bisa membuat bingung mereka yang berencana membeli kamera DSLR atau menambah koleksi lensanya. Bila di artikel lalu kami sudah sajika cara menilai kualitas lensa DSLR, kini kami hadirkan panduan dalam memilih lensa DSLR. Selamat membaca..

Panduan yang kami susun kali ini bersifat umum dan simpel, tidak seperti panduan sebelumnya yang khusus membahas lensa Canon dan Nikon saja. Di artikel kali ini kami golongkan lensa DSLR dalam berbagai kelompok utama, yaitu berdasarkan diameternya, berdasarkan jenisnya dan berdasarkan bukaan diafragmanya.

Diameter Lensa

Pertama, berdasarkan diameter lensa, kini dikenal dua golongan umum yaitu :

  • lensa full-frame (35mm)
  • lensa crop sensor

Untuk lensa full-frame, diameter optiknya lebih besar daripada lensa crop sensor. Hal ini karena lensa full-frame didesain untuk bisa dipakai di DSLR full-frame dan SLR film 35mm. Di pasaran, kita perlu mengenali kode yang menunjukkan lensa full-frame, misalnya EF untuk Canon, FX untuk Nikon, DG untuk Sigma dsb.

Sedangkan lensa crop sensor berukuran lebih kecil, didesain untuk DSLR dengan sensor yang lebih kecil dari sensor full-frame, yaitu sensor APS-C (Canon, Nikon, Pentax, Sony) dan sensor Four Thirds (Olympus). Lensa ini memiliki diameter yang lebih kecil dari lensa fll-frame, meski tetap memiliki desain mounting yang sama. Artinya, kita bisa saja memasang lensa crop sensor ini pada DSLR full frame, namun pada hasil fotonya akan terdapat lingkaran di bagian luar foto (vignetting) akibat ukuran sensor yang lebih besar dari diameter lensa. Lensa crop sensor ini dikenali dari kodenya seperti EF-S untuk Canon, DX untuk Nikon, DC untuk Sigma, DA untuk Pentax dsb.

sensor01

Gambar di samping menunjukkan perbedaan ukuran antara sensor APS-C dan sensor full-frame 35mm. Lingkaran merah menunjukkan diameter lensa full-frame dan lingkaran hijau menunjukkan diameter lensa crop. Tampak kalau diameter lensa crop telah didesain untuk menyesuaikan ukuran bidang sensor APS-C yang memang lebih kecil dari sensor 35mm. Adakalanya pemilik kamera APS-C justru memakai lensa full frame. Hal ini disebabkan karena untuk kebutuhan profesional kebanyakan lensa yang tersedia adalah lensa full-frame. Contohnya, untuk kebutuhan profesional, pemakai kamera EOS 7D akan memilih lensa EF 70-200mm.

Jenis fokal lensa

Ditinjau dari jenis lensa, ada dua kelompok utama yaitu lensa fix (prime) dan lensa zoom. Simpel saja, lensa fix artinya hanya memiliki satu nilai panjang fokal, sedang lensa zoom bisa berubah dari fokal terpendek hingga terpanjang. Lensa zoom sendiri terbagi atas beberapa rentang fokal, seperti zoom wide, zoom normal dan zoom tele. Ada juga lensa sapu jagad, alias bisa bermain zoom dari wide hingga tele yang praktis untuk dibawa bepergian. Kali ini kami uraikan untung rugi dari tiap pilihan yang ada :

Lensa prime / fix

fix
Pentax 70mm f/1.4

Lensa prime adalah lensa yang hanya punya satu nilai fokal, misal 35mm, 50mm, 100mm dsb. Lensa jenis ini umumnya punya bukaan maksimal yang besar, misal f/1.4 atau f/1.8 sehingga cocok untuk dipakai saat low light. Meski ada berbagai macam pilihan fokal dari lensa fix di pasaran, namun yang paling populer adalah lensa 50mm karena punya fokal dengan perspektif normal.

Daya tarik dari lensa fix diantaranya :

  • relatif murah
  • ukurannya kecil dan ringan
  • hasil foto sangat tajam
  • karena punya bukaan besar, bisa menghasilkan DOF yang tipis
  • karena punya bukaan besar, bisa diandalkan untuk low light

Adapun hal yang kurang menyenangkan dari lensa fix adalah lensa ini tidak bisa berganti fokal sehingga untuk merubah posisi fokal kita harus maju atau mundur terhadap objek.

Lensa zoom wide

wide
Sony SAL DT 11-18mm f/4.5-5.6

Lensa zoom wide dalah lensa zoom yang memiliki rentang fokal wideangle mulai dari 10mm hingga 30mm, sehingga cocok untuk landscape dan arsitektur meski kurang cocok untuk potret karena adanya distorsi.

Daya tarik lensa zoom wide diantaranya :

  • mampu menghasilkan foto dengan angle dengan kesan luas dan dramatis
  • cocok untuk kebutuhan profesional dan komersil

Namun demikian lensa zoom wide dijual dengan harga yang relatif mahal karena tingginya tingkat kesulitan dalam mendesain lensa tersebut. Di pasaran, lensa semacam ini dijual di kisaran harga 6 juta hingga 12 juta rupiah.

Contoh lensa zoom wide :

  • Canon EF-S 10-22mm f/3.5-4.5
  • Nikon AF-S 10-24mm f/3.5-4.5
  • Pentax DA 12-24mm f/4
  • Sony SAL-DT 11-18mm f/4.5-5.6
  • Olympus Zuiko 9-18mm f/4-5.6
  • Rekomendasi untuk 3rd party : Tokina 11-16mm f/2.8

Lensa zoom normal/standar (general purpose)

normal
Zuiko 14-54mm f/2.8-3.5

Adalah lensa zoom yang memiliki rentang fokal yang dianggap memenuhi kebutuhan wide hingga tele biasa. Lensa semacam ini mampu mengakomodir rentang fokal normal di kisaran 50mm sehingga mampu  menghasilkan foto yang rendah distorsi, dan menghasilkan persepektif yang sama seperti apa yang dilihat oleh mata manusia. Lensa zoom normal akan semakin mahal bila memiliki bukaan besar apalagi bila punya bukaan konstan f/2.8 yang tergolong kelas profesi0nal.

Contoh lensa zoom normal kelas mahal :

  • Lensa 24-70mm f/2.8
  • Lensa 17-55mm f/2.8

Sedangkan lensa zoom normal ekonomis diantaranya :

  • Canon EF-S 17-85mm f/4-5.6
  • Nikon AF-S 16-85 f/3.5-5.6
  • Pentax DA 17-70mm f/4
  • Sony SAL DT 18-70mm f/3.5-5.6
  • Olympus Zuiko 14-54mm f/2.8-3.5
  • Rekomendasi 3rd party : Sigma 17-70mm f/2.8-4

Lensa zoom tele

tele2-8
Nikon AF-S 70-200mm f/2.8 VR

Lensa zoom tele menjadi salah satu lensa yang favorit banyak orang karena kemampuannya untuk dipakai memotret obyek yang jauh, ditambah lagi harganya yang cukup terjangkau. Belum lagi lensa tele mampu menghasilkan foto dengan bokeh yang baik (DOF tipis), bisa dibilang hampir menyamai hasil yang didapat dengan memakai lensa prime.

Namun perlu diingat kalau lensa zoom tele berkisar di fokal tele diatas 100mm, sehingga rentan goyang akibat getaran tangan. Untuk itu para profesional lebih memilih lensa tele bukaan besar dan ditambah fitur stabilizer, sehingga lensa tele masih bisa dipakai di saat kondisi kurang cahaya.

Lensa zoom tele terbagi dua kelompok, yaitu kelompok profesional dan kelompok biasa.

Untuk zoom tele profesional diantaranya :

  • Canon EF 70-200mm f/2.8
  • Nikon AF-S 70-200mm f/2.8  (gambar di atas)
  • Pentax DA 60-250mm f/4
  • Sony SAL 70-200mm f/2.8
  • Olympus Zuiko 90-250mm f/2.8
  • Rekomendasi 3rd party : Sigma 70-200mm f/2.8
tele
Sigma 70-300mm f/4-5.6

Untuk zoom tele biasa, umumnya terdapat pilihan 70-300mm (gambar di atas) yang fokal telenya cukup panjang dan 55-250mm (gambar di bawah) yang lebih ekonomis. Perhatikan kalau lensa tele ekonomis punya variabel aperture (misalnya f/4-5.6), sehingga bukaannya akan semakin mengecil saat lensa di-zoom maksimal. Maka itu lensa tele semacam ini dihindari oleh para profesional karena sulit diandalkan di saat perlu speed tinggi.

tele2
Canon EF-S 55-250mm f/4-5.6

Meski demikian, lensa tele ekonomis seperti ini laris manis karena harganya murah dan hasil fotonya di tempat yang cukup cahaya masih sangat baik. Jadilah lensa semacam ini menjadi lensa favorit untuk kebutuhan harian dan untuk sekedar hobi.

Lensa zoom all-round  / super zoom / sapu jagad

tamron_18-270
Tamron 18-270mm f/3.5-5.6 VC

Adalah istilah untuk lensa zoom dengan kemampuan mencover rentang wide hingga tele yang ekstrim, hingga lensa ini mampu menggantikan beberapa macam lensa sehingga praktis dipakai kemana saja. Umumnya lensa ini memiliki rentang fokal 18-200mm, meski ada juga yang bisa mencapai 18-270mm (lihat gambar di atas). Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum memilih lensa jenis ini :

  • Lensa ini praktis namun tergolong mahal
  • Lensa ini hanya tersedia untuk jenis variable aperture saja
  • Kemampuan optik dari lensa ini tergolong pas-pasan (karena banyaknya elemen optik di dalamnya)
  • Usahakan memilih lensa jenis ini yang dilengkapi dengan fitur stabilizer optik

Itulah panduan memilih lensa DSLR yang kami sajikan. Untuk diskusi dan pertanyaan bisa disampaikan melalui forum yang ada atau lewat komentar di bawah ini.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Lensa wide baru dari Nikon untuk DSLR format FX

Setelah lama dirumorkan, Nikon akhirnya merilis dua lensa kelas premium anyar berformat FX. Artinya, lensa ini memiliki diameter lebih besar sehingga bisa dipakai di kamera SLR film maupun DSLR full-frame. Lensa pertama yang dirilis adalah lensa fix 24mm yang punya bukaan besar (f/1.4) sementara lensa kedua adalah lensa zoom 16-35mm dengan bukaan konstan f/4. Tentu saja dilihat dari fokal lensa tadi, terbayang sudah kalau pecinta landscape akan bergembira dengan hadirnya dua lensa wide kelas atas ini.

Nikon AF-S 24mm f/1.4G ED
Nikon AF-S 24mm f/1.4G ED

Lensa fix AF-S 24mm f/1.4G ED memiliki diameter filter 77mm, dilapisi coating Nano untuk mengurangi pantulan dan flare, dan bila dipakai di format DX maka akan setara dengan 36mm. Lensa seharga 20 juta ini menggantikan lensa fix lawas Nikon 28mm f/1.4 yang diakui ketajamannya. Bila kita ingat setahun yang lalu, Canon sudah lebih dulu meluncurkan lensa yang persis sama yaitu 24mm f/1.4L II seharga 17 juta.

Nikon AF-S 16-35mm f/4 G ED VR
Nikon AF-S 16-35mm f/4G ED VR

Lensa zoom AF-S 16-35mm f/4G ED VR merupakan produk baru yang tidak bisa dibandingkan dengan lensa Nikon lama. Hal ini karena disini Nikon memakai desain aperture konstan f/4 yang sebelumnya dipakai di lensa AF-S 12-24mm. Lensa legendaris Nikon lama, 18-35mm f/2.8 punya rentang fokal yang mirip dengan lensa AF-S 16-35mm f/4 VR ini, meski tentu secara kecepatan lensa bukan padanan seimbang. Kekuatan utama lensa ini ada di sistem VR-nya, pertama untuk lensa wide berformat FX. Meski punya bukaan maksimum f/4, namun lensa ini tidak lantas tampak kecil. Fisiknya hampir sama besar seperti lensa 24-70mm f/2.8, diameter filter 77mm, bobotnya 680 gram dan akan dijual di kisaran harga 12 jutaan. Bagi anda pemilik DSLR Nikon DX bila ingin memiliki lensa ini maka fokalnya akan setara dengan 24-52mm yang agak tanggung untuk wide dan tentu kurang untuk tele.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Daftar lengkap kamera DSLR Canon dan Nikon

Update : tulisan ini sudah diperbarui dengan daftar DSLR Canon dan Nikon di tahun 2014.

Kamera DSLR kini semakin jadi primadona. Soal merk kamera yang melekat kuat di benak kita bisa jadi adalah merk papan atas seperti Canon dan Nikon. Wajar saja, keduanya memang punya sejarah panjang di dunia fotografi dan terus berlanjut di era digital ini. Hingga awal tahun 2010 ini, sudah banyak produk kamera yang mereka luncurkan. Artikel kali ini ditujukan untuk menjadi panduan mengenal jajaran kamera DSLR Canon dan Nikon, diulas secara lengkap dengan rekomendasi serta kisaran harga jualnya untuk panduan belanja anda.

Kamera DSLR Canon

Kelas pemula (entry level)

Canon EOS 1000D (Rebel XS/Kiss F)

1000dInilah kamera DSLR pemula termurah dan terpopuler yang jadi pilihan utama mereka yang budget-minded. Kamera DSLR bersensor CCD 10 MP dan memiliki 7 titik AF ini hebatnya sudah dilengkapi live-view dan mampu memotret hingga 3 fps. Dijual satu paket bersama lensa kit dengan kisaran harga sekitar 4,8 jutaan, EOS 1000D ini direkomendasikan untuk mereka yang awalnya berencana membeli kamera prosumer namun ingin merasakan sensasi kamera DSLR.

Status (updated) : sejak 7 Februari 2011 telah hadir penerusnya yang bernama EOS 1100D (Rebel T3) dengan sensor CMOS 12 MP dan kemampuan merekam video HD 720p.

Rival terdekat : Nikon D3000/D3100

Canon EOS 500D (Rebel T1i)

500dEOS 500D menjadi kamera DSLR termewah di seri pemula, berkat adanya fitur HD movie dan resolusi yang melonjak tajam menjadi 15 MP. Penyempurnaan lain dari 450D tidak terlalu banyak (seperti resolusi LCD dari 230ribu piksel menjadi 920 ribu piksel), sehingga harga jualnya yang ada di kisaran 7,8 jutaan (plus lensa kit) terasa agak mahal untuk ukuran DSLR kelas pemula. Direkomendasikan untuk yang menyukai memotret dan merekam video.

Status (updated) : meski produk ini sudah digantikan dengan EOS 550D per Februari 2010, dan sejak 7 Februari 2011 kembali digantikan dengan EOS 600D (Rebel T3i) dengan layar lipat 3 inci.

Rival terdekat : Nikon D5000/D5100

Kelas menengah (semi-pro)

Canon EOS 50D

50dEOS 50D menjadi kamera semi-pro Canon yang punya fitur lengkap plus live-view. Layaknya kamera semi-pro pada umumnya, 50D sudah berbahan magnesium alloy yang kuat, bodi weather sealed dan kinerja cepat (6 fps). EOS 50D masih memakai sensor CMOS berukuran APS-C yang resolusinya 15 MP. Sebagai kamera semi-pro, kamera ini sudah memakai finder jenis prisma yang terang. Harga jual sekarang sekitar 9 juta body-only, cocok untuk yang menginginkan DSLR semi-pro dengan harga terjangkau.

Status (updated): diskontinu, digantikan EOS 60D yang spec-down dari EOS 50D.

Rival terdekat : Nikon D90/D7000

Canon EOS 7D

7dTradisi Canon membuat seri satu digit untuk sensor full-frame tidak berlaku disini. EOS 7D hanyalah penerus dari EOS 50D dengan sensor CMOS APS-C yang dinaikkan resolusinya hingga 18 MP. Namun untungnya perubahan dari 50D ke 7D cukup signifikan, sebutlah seperti desain bodi dan tata letak tombol yang diperbaiki, serta jumlah titik AF yang jauh lebih berlimpah (19 titik). Selain itu EOS 7D juga sudah dilengkapi dengan HD movie. Dijual di kisaran harga 15 juta body-only, EOS 7D cocok untuk para pecinta sport dan foto cepat lainnya.

Status : tersedia

Rival terdekat : Nikon D300s

Kelas pro (full frame)

Canon EOS 5D mark II

5d-iiEOS 5D mark II merupakan penerus EOS 5D dengan penambahan fitur HD movie. Selain itu, sensor 5D mark II adalah berjenis full-frame bersolusi 21 MP yang rendah noise di ISO tinggi. Namun untuk urusan auto fokus, 5D ini justru kalah oleh pendatang baru 7D sehingga kurang cocok untuk memotret sport. Belum lagi kecepatan burst-nya hanya 3.9 fps. Tampaknya kamera seharga 24 juta body only ini lebih cocok untuk yang menyukai landscape atau fotografi interior.

Status : tersedia, sudah keluar 5D mark III di awal 2012

Rival terdekat : Nikon D700

Kelas pro lainnya : EOS 1D mark III, EOS 1Ds mark III dan EOS 1D mark IV (tidak dibahas disini)

Update : tulisan ini sudah diperbarui dengan daftar DSLR Canon dan Nikon di tahun 2014.

Kamera DSLR Nikon

Kelas pemula (entry level), tanpa motor AF di bodi

Nikon D3000

d3000Nikon D3000 merupakan DSLR penerus dari D60, boleh dibilang D3000 ini tak banyak berbeda dengan pendahulunya kecuali pemakaian modul 11 titik AF yang fleksibel. Masih mengandalkan sensor CCD 10 MP dan juga masih tanpa fitur live-view, D3000 ini juga direkomendasikan untuk pemula yang mencari DSLR yang mudah dipakai namun berkualitas baik. Dengan harga jual 5,8 jutaan plus lensa kit, tampaknya D3000 bakal jadi kamera populer di tahun 2010 ini.

Status (updated) : Telah hadir Nikon D3100 dengan kemampuan full HD movie.

Rival terdekat : EOS 1000D/1100D

Nikon D5000

d5000jpgProduk elit di kelas pemula ini mengandalkan keistimewaan LCD lipat dan HD movie, melengkapi sensor CMOS 12 MP dan burst 4 fps ditambah modul 11 titik AF yang membuatnya jadi DSLR lengkap dan sarat fitur bahkan terlalu lengkap untuk ukuran DSLR pemula. Konsekuensinya adalah harga jual D5000 yang melambung mencapai 8 juta (plus lensa kit) bahkan lebih mahal dari EOS 500D, cukup mahal mengingat D5000 bukanlah DSLR kelas semi-pro. D5000 cocok untuk mereka yang senang merekam video HD dengan angle sulit (LCD lipat sangat berguna dalam hal ini).

Status (updated) : Sejak April 2011 telah hadir Nikon D5100 dengan fitur HDR.

Rival terdekat : EOS 500D/EOS 550D/600D

Kelas menengah (semi-pro)

Nikon D90

d90Nikon D90 merupakan penerus Nikon D80 yang populer di masa lalu, dengan positioning yang tanggung yaitu antara DSLR pemula dan DSLR semi-pro. Namun D90 sudah dilengkapi dengan fitur kelas semi-pro seperti finder jenis prisma dan top status LCD sehingga berani bersaing di kelas semi-pro (meski masih memakai material bodi plastik). Nikon D90 merupakan DSLR Nikon pertama dengan fitur HD movie dan dijual di harga 9,5 jutaan (body only), cocok untuk mereka yang tidak puas dengan DSLR pemula namun tidak sanggup membeli DSLR semi-pro yang mahal.

Status : (Updated) Telah hadir Nikon D7000 yang menggantikan D90 dengan fitur yang lebih lengkap dan sensor 16 MP. D7000 akan bersaing dengan EOS 60D.

Rival terdekat : EOS 50D/60D

Nikon D300/D300s

d300sDi kelas semi-pro sesungguhnya, Nikon mengandalkan D300/D300s yang tangguh, cepat dan mewah. Dengan 51 titik fokus dan 1005 pixel RGB metering, D300 siap diajak bekerja cepat hingga 7 fps.  D300s menambahkan fitur HD movie dan dual slot memory-card dibanding D300, namun keduanya masih sama-sama beresolusi 12 MP saja pada keping sensor CMOS APS-C. D300/D300s cocok untuk mereka yang mengutamakan kecepatan, akurasi dan custom setting yang lengkap, D300s dijual di kisaran 17 juta body only.

Status : D300 menjelang diskontinu, D300s tersedia

Rival terdekat : EOS 7D

Kelas pro (full frame)

Nikon D700

d700Di kelas profesional, Nikon punya D700 dengan sensor FX (full frame) yang masih setia di resolusi 12 MP layaknya D300 yang berformat DX. D700 memang bersaing dengan EOS 5D mark II, bahkan harga jual body only pun sama di kisaran 24 jutaan. Soal ISO tinggi jangan kuatir, D700 sanggup memberi foto dengan noise amat rendah di ISO tinggi berkat sensor full-framenya. D700 punya 51 titik AF, burst 5 fps dan masih menyediakan built-in flash.

Status : tersedia, sudah keluar D800 di awal 2012

Rival terdekat : EOS 5D mark II

Kelas pro lainnya : Nikon D3, D3x dan D3s (tidak dibahas disini)

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

DSLR kelas pro baru : Nikon D3S dan Canon EOS 1D mark IV

Gajah bertarung dengan gajah, mungkin itulah istilah yang bisa mewakili perang dua merk DSLR kondang, Nikon vs Canon, saat keduanya meluncurkan kamera DSLR tercanggih dan terbarunya. Seperti biasa, saat salah satu meluncurkan produk baru, maka satu lagi segera menyusul. Kali ini Nikon lebih dahulu meluncurkan versi penerus D3 dengan fitur video yang bernama D3S dan disusul keesokan harinya dengan produk baru dari Canon yang bernama EOS 1D mark IV. Keduanya merupakan DSLR berbadan besar dengan vertical grip terintegrasi, material bodi kokoh berbalut magnesium alloy, dan keduanya sudah dilengkapi fitur HD movie.

d3s-vs-1div

Beberapa hal yang menarik dari Nikon D3S :

  • format FX (full frame) namun resolusi tergolong rendah yaitu 12 MP saja (DSLR full frame merk lain sudah mencapai tingkat 24 MP) sehingga noise bisa ditekan serendah mungkin dan ISO tertinggi yaitu ISO 102.4000 masih layak dipakai.
  • cocok untuk pro yang perlu memotret kecepatan tinggi, berkat 51 titik AF dan 9 fps burst mode
  • mampu merekam HD movie 24 fps, sensor FX yang sensitif mampu merekam video meski cahaya sekitar sangat redup

Adapun hal-hal utama yang diperkenalkan Canon pada EOS 1D mark IV :

  • format APS-H (crop factor 1.3x)  resolusi 16 MP
  • 45 titik AF dengan 39 diantaranya berjenis cross type
  • dual Digic IV prosesor dengan 14 bit AD conversion
  • merekam HD movie 1080i dengan 24 atau 30 fps
  • sangat cepat dengan 10 fps burst mode

Bila anda seorang profesional, anda mestinya akan merasa dimanjakan dengan pilihan kamera yang ada. Mengapa? Karena keduanya punya kemiripan spesifikasi yang begitu banyak, seperti :

  • fitur manual lengkap (tentu saja)
  • usia shutter 300.000 kali jepret
  • LCD 3 inci, 920ribu piksel
  • finder 100%
  • ISO maksimum 102.400
  • dual slot memori
  • live-view, anti debu dan HD movie
  • keduanya tanpa lampu kilat built-in
  • harga bersaing, sekitar 50 juta rupiah

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Rumor lensa Nikon : AF-S 16-35mm dan AF-S 100-500mm

Rumor akan produk kamera DSLR dan lensa baru memang menarik untuk diikuti, terlepas apakah rumor itu nantinya akan jadi kenyataan atau tidak. Demikian juga rumor yang membahas prediksi lensa DSLR seperti Canon atau Nikon selalu mendapat respon dari banyak fotografer. Adakalanya rumor hanya sekedar rumor, namun sering juga rumor benar-benar menjadi kenyataan karena adanya ‘kebocoran’ informasi dari sumber yang ‘bisa dipercaya’. Apakah rumor dua lensa baru dari Nikon ini akan menjadi kenyataan?

Rumor : lensa wide AF-S 16-35mm f/4G VR

Rumor ini menurut kami amat menarik. Pertama, karena Nikon jarang  punya lensa zoom dengan bukaan konstan f/4. Kedua, inilah versi murah dari lensa wide legendaris AF-S 17-35mm f/2.8 yang diidamkan oleh berjuta fotografer landscape di dunia. Bila lensa ini menjadi kenyataan, pemakai DSLR Nikon FX seperti D700 dan D3 akan merasakan kepuasan memotret dengan fokal ultra wide 16mm dengan bukaan konstan f/4 dan sebaagaai bonus tersedia fitur VR yang tidak umum dijumpai di lensa wide semacam ini. Bila pemilik Nikon DX ingin memiliki lensa ini, maka perlu diingat kalau karena crop factor format DX, maka fokal lensanya akan setara dengan 24-55mm sehingga agak tanggung (untuk wide kurang, untuk tele juga kurang). Meski berjenis lensa G yang terkesan bukan lensa profesional, tapi rumornya lensa 16-35mm ini dilengkapi dengan Nano crystal coating untuk ketajaman tak tertandingi. Berminat?

Rumor : lensa super tele AF-S 100-500mm f/4-5.6G VR III

Rumor kedua ini pun unik dan menarik karena dua hal, pertama karena diperkenalkannya VR generasi ke III (hingga 5.5 stop); dan kedua, gambar lensa ini beserta brosur lengkapnya sudah ada di flickr (tentu saja bukan resmi dari Nikon). Lensa super tele semacam ini terlihat ramping dan kompak karena memakai diafragma kecil, f/4-5.6 atau lensa lambat. Lagi-lagi lensa ini didesain untuk format Nikon FX, meski pemilik Nikon DX tentu lebih tertarik akan hadirnya lensa ini karena lensa 100-500mm ini akan memberikan fokal yang lebih panjang  di format DX, yaitu 150-750mm (wow..!). Bila rumor ini benar, maka tampaknya lensa Nikon yang sekarang ada, AF 80-400mm f/4.5-5.6 VR bakal segera diskontinu. Percaya atau tidak, namanya juga rumor..

Rumor semacam tadi bisa merebak karena adanya bocaoran dari sumber tertentu yang bisa dipercaya, atau hanya kerjaan orang iseng yang mengolah digital lensa yang ada lewat Photoshop. Namun apapun itu, setiap rumor selalu menarik untuk diikuti bukan?

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Leica M9 dan X1, si kecil bersensor besar

Leica, produsen lensa ternama dunia yang bermarkas di Jerman, memperkenalkan dua kamera digital saku baru yang mengesankan. Yang pertama adalah Leica M9, produk rangefinder dengan sensor full frame dan kedua adalah Leica X1, kamera saku dengan sensor APS-C. Leica M9 merupakan kamera bersensor full frame terkecil di dunia, dengan lensa yang bisa dilepas (memakai M-mount) sementara Leica X1 menjadi kamera saku bersensor APS-C dengan lensa fix dan fokalnya pun fix di 24mm (eqiv.36mm). Dengan sensor besar yang sama seperti sensor DSLR, kedua kamera ini memang jago dipakai di ISO tinggi dengan tetap menjaga noise serendah mungkin. Leica M9 akan dijual di kisaran harga diatas 70 juta rupiah, sementara Leica X1 sebagai kamera versi ekonomis dari Leica  ‘hanya’ akan dijual di kisaran harga 20 juta rupiah.

Leica M9 : digital rangefinder

Digital rangefinder, dari namanya yang gagah ini juga memiliki desain yang retro, klasik dan kalau boleh dibilang kuno. Dibalik bodi Leica M9 yang kokoh tertanam sensor buatan Kodak, dengan resolusi 18 MP full frame. Produk penerus M8  ini seperti layaknya rangefinder lain, tidak memakai cermin seperti pada DSLR, sehingga apa yang kita lihat dari jendela bidik optik bukanlah berasala dari lensa. Lensa khusus rangefinder sendiri berukuran lebih kecil dari lensa SLR, dan lensa rangefinder tidak ada yang bisa auto fokus. Urusan shutter, pada kamera ini telah memakai jenis microprocessor-controlled, particularly silent, metal-leaf, focal-plane shutter yang bisa memotret hingga 1/4000 detik secara mekanik.

Leica M9 (credit : DCRP)
Leica M9 (credit : DCRP)

Berikut fitur Leica M9 menurut situs DCRP :

  • 18 Megapixel, full-frame, Kodak-designed CCD
  • Supports Leica M-mount lenses from 16 to 135 mm
  • Classic compact Leica rangefinder design
    • Magnesium alloy body built like a tank
    • Available in black and steel/gray
  • Lack of an anti-aliasing filter means insanely sharp photos; moiré is removed digitally
  • Glass sensor cover eliminates the need for UV/IR filters
  • 2.5″ LCD display (for menus and photo review only)
  • Large rangefinder with auto parallax correction and 0.68x magnification
  • Full manual controls
    • RAW (DNG) format supported, compressed and uncompressed
    • Shutter speed range of 32 – 1/4000 sec, plus a bulb mode
    • ISO range of 80 – 2500
  • Hot shoe for external flash
  • SD/SDHC card slot
  • Uses proprietary lithium-ion battery

Leica X1 : lensa fix dan sensor APS-C

Sementara jenis dari kamera Leica X1 lebih kepada kamera saku bersensor APS-C yang lensanya fix/tetap. Sepintas mengingatkan kita pada Sigma DP dengan sensor Foveon, Leica X1 ini memang menjadi kamera saku bersensor APS-C CMOS 12 MP yang bersaing langsung dengan Sigma DP2. Lensa pada Leica X1 ini didesain sendiri oleh Leica dengan memakai lensa Elmarit f/2.8 dengan fokal fix di 24mm yang karena crop factor sensor APS-C (1.5x) maka fokalnya menjadi 36mm. Kabar baiknya, tidak seperti Leica M9 digital rangefinder yang hanya bisa manual fokus, di kamera X1 ini kita bisa auto fokus (berbasis contrast detect) dan tentunya bisa live-view melalui layar LCD 2.7 inci (bila ingin menikmati jendela bidik optik, maka pemilik X1 ini harus membeli asesori tambahan). Yang paling kami sukai dari Leica X1 ini adalah kendali manualnya yang terpisah dan berupa tombol putar di bagian atas, dimana satu tombol adalah kendali shutter speed dan satu lagi adalah kendali aperture. Tersedia 12 pilihan nilai shutter speed yang ada di tombol, dengan kecepatan maksimum di 1/2000 detik. Sementara pilihan aperture ada 6 opsi, mulai dari f/2.8, f/4, f/5.6, f/8, f/11 hingga f/16 (lensa semungil ini bisa mengecil hingga f/16…).

Leica X1 (credit : DCRP)
Leica X1 (credit : DCRP)

Inilah spesifikasi Leica X1 menurut situs DCRP :

  • 12.2 Megapixel CMOS sensor (APS-C size)
  • F2.8, 24 mm Leica Elmarit lens, equivalent to 36 mm
  • 2.7″ LCD display (230k pixels) with live view
  • Compact, classic Leica design
    • Shutter speed and aperture controlled via dials on top of camera
  • 11-point high speed contrast detect AF system; face detection support
  • Full manual controls
    • Shutter speed range of 30 – 1/2000 sec
    • ISO range of 100 – 3200
    • RAW (DNG) image format support
  • Continuous shooting at 3 frames/second
  • Built-in flash plus a hot shoe
  • No movie mode
  • Optional optical viewfinder with focus confirmation lamp
  • HDMI output
  • 50MB onboard memory + SD/SDHC card slot
  • Uses BP-DC8 lithium-ion battery; 260 shots per charge

Apakah anda tertarik untuk memiliki Leica M9 seharga 70 juta lebih yang tidak bisa auto fokus ini, atau Leica X1 seharga 20 juta namun lensanya tidak bisa di-zoom?

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Alpha A850, A550 dan A500 : bukti keseriusan Sony di dunia DSLR

Hari ini Sony meluncurkan sekaligus tiga produk DSLR baru sebagai bukti keseriusan mereka untuk fokus di dunia digital imaging. Sambutlah DSLR full frame ekonomis, Alpha 850 seharga 20 jutaan dan DSLR kelas menengah A550/A500 dengan harga dibawah 10 juta. Alpha A850 merupakan DSLR kelas profesional yang umumnya dipakai di studio, sementaraA500 ini termasuk kelas baru yang mengisi kekosongan antara A200/A300 dan A700. Seperti yang sudah diduga, jajaran kamera baru ini tetap tidak memiliki fitur HD movie karena Sony belum siap dalam mendesain auto fokus terbaik dalam mode video (lagipula fitur movie belum tentu diperlukan oleh para fotografer).

Sony A850 (credit : stevesdigicams)
Sony A850 (credit : stevesdigicams)

Berita baik bagi pecinta DSLR full frame. Bila harga Sony A900 (atau DSLR full frame merk lain) masih dirasa terlalu tinggi, maka A850 ini hadir menawarkan resolusi ekstra tinggi 24 MP dengan harga 20 jutaan saja. Tentu A850 ini kalah dalam kecepatan burst dan viewfinder coverage dibanding A900, tapi keduanya sama dalam urusan sensor (Exmor) dan prosesor (dual Bionz) sehingga menjamin kualitas hasil foto yang sama baiknya. Sebagai info, format full frame dengan resolusi 24 MP telah mulai menjadi alternatif murah untuk profesional yang selama ini mengandalkan digital-back (medium format), dengan kualitas yang hampir menyamai perangkat kamera ratusan juta itu. Sebagai lensa kitnya, Sony menawarkan lensa SAM 28-75mm f/2.8 bukaan konstan, meski untuk DSLR full frame tentu lebih mantap memakai lensa Zeiss.

Fitur utama A850 adalah :

  • sensor full frame, 24 MP
  • 9 titik AF utama dan 10 titik AF bantuan
  • sensor shift steady shot (tidak mudah lho, mendesain sistem stabilizer pada sensor sebesar ini)
  • LCD ukuran 3 inci resolusi tinggi
  • top status LCD

Kekurangan dari A850 setidaknya :

  • burst cuma 3 fps (namun pada resolusi maksimal 24 MP)
  • tanpa built-in flash (namun merk lain pun umumnya tanpa built-in flash)
  • tanpa live-view

Adapun A550/A500 menjadi produk menengah yang menarik terlebih karena produk A350/A380 yang tergolong kelas entry level tidak cukup mumpuni untuk bersaing dengan merk lain di kelas menengah yang sama-sama memakai sensor APS-C seperti Nikon D90 dan Canon 500D (Sony pun perlu meng-update A700-nya untuk bersaing dengan Nikon D300 dan Canon 50D). Sony A550 (14 MP) dan A500 (12 MP) juga hadir dengan live view khas Sony dan layar LCD lipat 3 inci, meski resolusi layar pada A550 jauh lebih tajam. Lagi-lagi, Sony tidak menawarkan fitur HD movie pada seluruh jajaran DSLRnya, termasuk di produk anyarnya ini. A550 dijual 9 jutaan dan A500 dijual 7 jutaan dengan lensa kit 18-55mm.

Sony A550 (credit : stevesdigicams)
Sony A550 (credit : stevesdigicams)

Fitur utama A550/A500 adalah :

  • sensor CMOS Exmor (APS-C), 1.5x crop factor
  • 9 titik AF dan auto fokus tercepat saat live view
  • steady shot
  • LCD lipat ukuran 3 inci resolusi tinggi
  • burst 7 fps (speed priority)

Kekurangan dari A550/A500 setidaknya :

  • tanpa top status LCD
  • AF assist lamp mengandalkan lampu kilat

Selain itu Sony juga meluncurkan lensa fix baru DT 30mm f/2.8 SAM macro khusus untuk sensor APS-C.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..