Nikon D5 dan D500 hadir, tercanggih di kelas FX dan DX

Di lini kamera DSLR Nikon, baik di kelas sensor APS-C maupun full frame, keduanya kini punya jagoan tertinggi yang baru yaitu Nikon D500 (penerus D300) untuk kelas APS-C dan D5 (penerus D4) untuk kelas full frame. Keduanya dirancang untuk kebutuhan profesional, D500 lebih kepada fotografer aksi maupun satwa liar sementara D5 untuk foto apa saja yang sifatnya komersil. Ada beberapa kesamaan dari keduanya, khususnya dalam modul Auto Fokus terbaru dengan 153 titik fokus. Kesamaan lain seperti adanya layar sentuh, dual slot memori dan prosesor Expeed 5 terbaru.

D5 back

Nikon D5 ditujukan untuk kebutuhan profesional, kamera tercanggih dari Nikon ini dujual USD 6500 bodi saja, dengan sensor 21 MP FX yang bisa dipaksa hingga ISO 3.276.800 (atau 5 stop diatas ISO maksimum normal di ISO 102.400) yang entah seperti apa hasilnya di tempat gelap. Kecepatan tembaknya mencapi 14 frame per detik, luar biasa. Kemampuan videonya juga sudah UHD dengan resolusi 2840×2160 30p yang bisa disimpan ke kartu CF atau XQD. Kamera dengan berat hampir 1,5 kg ini sudah punya vertical grip terpadu untuk menambah daya tahan baterai.

D500

Nikon D500 adalah jawaban atas penantian panjang pecinta DSLR Nikon DX, atau Nikon dengan sensor APS-C, setelah lama sekali tidak ada kabar untuk regenerasi D300, padahal Canon sudah membuat EOS 7D mk II. Kini akhirnya D500 (bukan D400 seperti yang diprediksi banyak orang) hadir dengan sensor 21 MP APS-C, kecepatan tembak 10 fps, ISO maksimum 51.200 (normal, bisa dipaksa hingga ISO 1.638.400). Karena modul fokusnya sama dengan D5 maka di D500 ini 153 titik fokusnya jadi lebih menyebar hingga ke tepi (akibat ukuran sensor yang lebih kecil dari D5). Buffer kamera D500 luar biasa lega hingga bisa menembak tanpa henti 79 foto RAW dan sudah bisa merekam video 4K. Kamera seharga USD 2000 ini punya dual slot memori SD dan XQD untuk kebutuhan data sangat tinggi.

Kesamaan D5 dan D500 juga terlihat dari rancangan desain bodi dan tombolnya (termasuk joystick), juga sama-sama tidak diberikan lampu kilat built-in, plus ada kesamaan di layar sentuhnya yang berukuran 3,2 inci dengan resolusi tinggi 2,3 juta titik (tapi yang D500 bisa dilipat). Tertarik?

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Nikon hadirkan DSLR Full Frame D800 dengan sensor 36 MP

Perang resolusi megapiksel belum usai, setidaknya bagi kamera bersensor full frame. Bila sebelumnya kita tahu kalau Nikon D3x sudah mencapai resolusi 24 MP (mengalahkan Canon dengan 21 MP), maka seakan belum puas, Nikon akhirnya meluncurkan kamera dengan sensor CMOS 36 MP. Sambutlah Nikon D800, kamera DSLR format FX yang menjadi penerus D700 dengan mengutamakan resolusi ekstra tinggi dan kemampuan merekam video tingkat lanjut. Seperti apa spesifikasi dari kamera seharga hampir 30 juta rupiah ini? Simak berita selengkapnya berikut ini.

d800

Nikon D800 memiliki sensor yang sejenis dengan kamera yang juga belum lama diluncurkan yaitu Nikon D4, keduanya memakai sensor FX atau full frame alias setara dengan ukuran film 35mm sehingga tidak ada istilah crop factor terhadap lensa yang dipasang. Namun saat D4 mempertahankan resolusi 16 MP, pada D800 ini Nikon memilih memberi sensor dengan resolusi amat tinggi. Artinya jelas, D4 ditujukan untuk profesional yang mengutamakan kecepatan seperti jurnalis dan wartawan olahraga, sedangkan D800 lebih ditujukan untuk pecinta landscape atau pemakaian di studio.

d800b

Selain sensor dan movie, tidak banyak yang bisa ditingkatkan dari D700 yang sudah sangat bagus. D800 memiliki 51 titik AF yang 15 diantaranya bertipe cross type. Soal metering sudah semakin ditingkatkan dengan memakai modul berisi 91 ribu piksel metering yang akurat. Nikon menyatakan kalau shutter unit di D800 telah lolos uji sampai 200 ribu kali jepret. Bodi D800 pun kokoh dengan bahan magnesium alloy dan seal tahan cuaca. Layar LCD yang dipakai di D800 sudah sangat besar yaitu 3,2 inci namun tetap saja tampak relatif kecil dibanding bodi D800 yang besar. Untuk media simpan Nikon menyediakan dua slot dengan satu jenis SD card dan satu lagi jenis CF card (bukan XQD card seperti di D4).

d800top

Sebagai konsekuensi pemakaian sensor resolusi amat tinggi, kemampuan ISO pada D800 juga dibatasi. Rentang ISO normal adalah 100-6400 meski bisa dinaikkan hingga 25600 namun pasti akan sangat noise. Selain itu kinerja burst kamera ini juga turun dengan hanya 4 fps saja (kecuali kalau menambah battery grip). Masalah lain yang perlu dipikirkan adalah kamera ini perlu disandingkan dengan lensa super tajam guna memaksimalkan detil sensornya. Pemakaian lensa yang biasa saja akan membuat sensor 36 MP ini jadi mubazir karena dibatasi oleh softness lensa.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Nikon umumkan kehadiran DSLR D4 dan lensa AF-S 85mm f/1.8

Hari ini Nikon mengumumkan kehadiran dua produk baru mereka yaitu kamera DSLR flagship profesional format FX Nikon D4 dengan sensor 16.6 MP full frame dan lensa fix medium potret AF-S 85mm f/1.8 G (penerus AF-D 85mm f/1.8). Kamera Nikon D4 lebih menonjolkan kemampuan videonya, karena fitur fotografinya sudah sangat baik bahkan pada seri sebelumnya. Shutter D4 sudah teruji sanggup dipakai sampai 400 ribu kali memotret.

d4

Berikut fitur utama dari Nikon D4 :

  • sensor CMOS Full frame 16 MP
  • kemampuan burst 10fps dengan AF
  • modul metering, white balance, flash exposure, face detection dan active d-lighting dengan 91.000 piksel
  • ISO 100-12,800 (bisa diperlebar sampai 50 – 204,800)
  • modul auto fokus MultiCAM 3500FX dengan 51 titik (15 diantaranya cross type)
  • dua joystick dan tombol rana untuk memotret vertikal dan horizontal
  • MPEG-4, H.264 1080p 30 HD video dengan bitrate hingga 24Mbps
  • baterai baru EN-EL18 (21.6Wh sanggup sampai 2600 jepret sekali isi)
  • dua slot memori, satu CD dan satu lagi XQD
  • prosesor Expeed 3

d4rear

Lensa AF-S 85mm f/1.8 G

85mmf18

Nikon juga mengumumkan kehadiran penerus lensa AF 85mm f/1.8D yang tidak memiliki motor fokus dengan produk baru yaitu AF-S 85mm f/1.8 G yang tidak lagi memiliki ring diafragma manual. Lensa baru ini akan disukai oleh pecinta potret studio yang memiliki anggaran terbatas, namun bia mendapat hasil foto yang maksimal. Lensa ini akan dijual dibawah 5 juta rupiah.

Berminat?

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Lensa Nikon 50mm f/1.8 kini dengan kode AF-S

Nikon boleh dibilang sangat terlambat dalam melakukan penambahan motor SWM di lensa populernya yaitu 50mm f/1.8 atau biasa disebut dengan lensa fix normal. Fokal 50mm sangat populer untuk foto potret, sedang f/1.8 sudah jadi favorit untuk dipakai di low light dan harganya jauh lebih murah daripada f/1.4. Tapi apapun itu, akhirnya Nikon mendapat apresiasi saat meluncurkan lensa AF-S 50mm f/1.8G yang secara desain mirip dengan AF-S 35mm f/1.8.

nikon-50mm-af-s

Meski bentuknya mirip, AF-S 50mm f/1.8 ini adalah lensa FX sedang AF-S 35mm f/1.8 adalah lensa DX. Artinya ini akan jadi kabar baik buat pemakai DSLR Nikon FX (full frame) maupun pemakai DSLR Nikon DX (APS-C) yang di kemudian hari berencana akan beralih ke format FX. Sebagai info, di format DX lensa ini akan setara dengan fokal 75mm yang sudah cenderung disebut dengan lensa tele.

Lensa AF-S 50mm f/1.8 ini memiliki 7 elemen dalam 6 grup, dengan satu elemen aspherik. Bukaan terkecil lensa ini adalah f/16 dengan kemampuan fokus terdekat di kisaran setengah meter. Cukup mengejutkan, lensa ini memiliki diameter filter 58mm karena produk sebelumnya (AF 50mm f/1.8D) memakai diameter filter 52mm (yang sudah punya filter 52mm harus beli filter lagi).

Terdapat ring manual fokus di bagian depan lensa ini yang bisa langsung diputar kapan saja untuk beralih dari mode auto fokus ke manual fokus. Bobot lensa ini cukup ringan yaitu 185 gram saja. Harga belum diketahui, mungkin di kisaran 3 jutaan rupiah.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Serba-serbi kamera DSLR Nikon

nikon_logoNama besar Nikon dalam dunia fotografi memang seakan sudah menjadi jaminan mutu, bahkan sejak era fotografi film 35mm jaman dahulu. Nikon sebagai produsen kamera dan optik asal Jepang dikenal memiliki produk kamera dan lensa yang berkualitas tinggi, memiliki konsumen yang loyal dan berhasil melewati transisi ke digital dengan baik. Kini saat kompetisi DSLR semakin ketat, merk Nikon masih jadi incaran utama banyak calon pembeli meski kadang lucunya orang tidak terlalu paham mengapa mereka memilih Nikon. Kali ini kami sajikan artikel singkat mengenai seluk beluk sistem kamera DSLR Nikon yang mungkin bisa jadi panduan anda dalam memutuskan untuk memilih kamera DSLR.

Nikon dan F-mount

Kamera DSLR merupakan evolusi dari kamera SLR film yang pada dasarnya memiliki desain yang sama untuk urusan konstruksi dan rancang bangunnya. Terdapat cermin untuk memantulkan gambar, terdapat prisma untuk membelokkan gambar ke jendela bidik (viewfinder) dan tentunya terdapat mount untuk memasang lensa. Bicara mount maka bicara kompatibilitas, tiap merk memiliki desain mount lensa tersendiri sehingga tidak bisa sebuah kamera berganti lensa yang tidak semerk, kecuali bila dimodifikasi dengan adapter khusus. Nikon merupakan produsen kamera yang paling sanggup mempertahankan keaslian mount lensanya sejak 52 tahun yang lalu, atau sejak kamera SLR pertama Nikon F diperkenalkan pada tahun 1959. Nikon lalu menyebut standar mount dengan diameter 44 mm itu dengan nama F-mount dan semua lensa Nikon sejak saat itu hingga kini dibuat memakai standar F-mount.

nikon_f

Begitu populernya kamera SLR Nikon pada masa lalu sehingga membuat banyak  produsen lensa berlomba memproduksi lensa dengan F-mount seperti Zeiss, Schneider, Voigtländer, Sigma, Tokina, Tamron dan Vivitar. Bahkan karena legendarisnya lensa Nikon, sudah banyak dibuat adapter untuk F-mount sehingga lensa Nikon bisa dipasang di DSLR merk lain.  Hingga saat ini semua lensa Nikon generasi modern sekalipun tetap memakai F-mount, jadi lensa lawas yang dibuat oleh Nikon pasti bisa dipasang di kamera DSLR Nikon modern, sebaliknya lensa Nikon modern juga bisa dipasang di kamera SLR Nikon film generasi awal sekalipun .

Seputar Auto Fokus (AF) pada lensa Nikon

Meski tetap mempertahankan keaslian desain F-mount, Nikon terus menyempurnakan teknologi lensanya seperti dipergunakannya pin kontak data untuk lensa ber-CPU. Selain itu, semua lensa Nikon sejak tahun 1959 yang hanya manual fokus akhirnya bisa auto fokus sejak 1986. Saat itu Nikon memperkenalkan lensa AF (Auto Focus) yaitu lensa yang putaran fokusnya dikendalikan dari motor AF pada kamera yang terhubung melalui sebuah ‘obeng’ (screw drive). Sistem auto fokus ini murni bekerja secara mekanik, motor AF pada kamera akan berputar saat kamera sedang mencari fokus, menimbulkan bunyi berisik dan putaran motornya agak lambat.

afmount

Setahun setelah penemuan itu, di lain pihak Canon sebagai pesaing Nikon membuat keputusan berani untuk menghentikan produksi kamera manual fokus (yang memakai FD-mount) dan memperkenalkan mount generasi baru bernama EF-mount untuk sistem kamera EOS. Konsep auto fokus Canon EOS berbeda dengan Nikon karena Canon EOS membuat motor AF yang berada di lensa, bukan di kamera. Lensa Canon dengan motor fokus itu lalu diberi nama lensa EF. Jadi semua lensa EF pasti bisa auto fokus pada kamera Canon EOS apapun.

d3mount

Lima tahun setelah Canon meluncurkan lensa EF dengan motor didalamnya, Nikon akhirnya memutuskan untuk mendesain lensa serupa (memiliki motor auto fokus) yang ditandai dengan diluncurkannya lensa Nikon AF-I (Auto Focus-Internal) yang memiliki motor di dalam lensanya. Sayangnya lensa Nikon AF-I jumlahnya cuma sedikit, kebanyakan lensa Nikon saat itu hanyalah lensa AF atau AF-D yang belum memiliki motor fokus di dalamnya (lensa AF-D adalah lensa AF dengan fitur Distance metering). Nikon lalu membuat keputusan tepat dengan memperkenalkan lensa AF-S pada tahun 1998. Lensa AF-S memiliki  motor fokus yang lebih baik dari lensa AF-I karena memakai teknologi SWM (Silent Wave Motor) sehingga sesuai namanya, motor ini memiliki suara yang nyaris tak terdengar.  Kamera cukup mengirimkan perintah ke lensa melalui pin kontak data untuk memutar motor SWM. Bukan cuma tidak bising, motor SWM pada lensa AF-S Nikon juga berputar cepat sehingga memudahkan saat ingin mengunci fokus dengan cepat. Dengan hadirnya lensa bermotor (AF-I dan AF-S) membuat motor fokus yang ada di kamera jadi seperti mubazir karena tidak terpakai lagi, maka itu pada kamera DSLR kelas pemula sejak D40, Nikon sudah meniadakan motor AF pada kamera. Kerugiannya adalah, bila lensa generasi lama (seperti lensa AF atau AF-D) dipasang di kamera tanpa motor AF maka untuk mengatur fokus hanya bisa dilakukan secara manual.

Seputar format FX dan DX

Nikon dengan F-mount berdiameter 44 mm ini awalnya dibuat untuk kamera film 35mm. Di era digital fungsi film sebagai penangkap gambar digantikan oleh sekeping sensor dengan jutaan piksel peka cahaya. Meski Nikon memutuskan untuk tetap mempertahankan F-mount saat membuat kamera DSLR pertamanya di tahun 1996, namun Nikon tidak memakai sensor yang ukurannya sama seperti ukuran film (ukuran sekeping film adalah 36 x 24 mm), melainkan memakai sensor yang ukurannya sekitar 2/3 kali lebih kecil dari ukuran film. Sensor ini berukuran sekitar 24 x 16 mm yang lebih dikenal dengan sebutan sensor APS-C.  Kamera DSLR Nikon dengan sensor APS-C ini selanjutnya disebut kamera Nikon DX. Di tahun 2007 akhirnya Nikon meluncurkan DSLR pertamanya yaitu Nikon D3 dengan sensor seukuran film 35mm, yang biasa disebut sensor full frame. Kamera dengan sensor full frame ini diberi nama kamera Nikon FX. Kamera Nikon FX ditujukan untuk para profesional dan harganya pun mahal. Maka itu Nikon lebih banyak memiliki jajaran produk kamera DX daripada FX.

sensor01Untuk alasan menekan biaya dan portabilitas, sejak tahun 2002 Nikon juga membuat lensa dengan kode DX yang ditujukan untuk kamera DSLR dengan sensor APS-C. Karena Lensa DX dibuat khusus untuk sensor APS-C, maka lensa ini memiliki diameter yang lebih kecil dari lensa non DX (full-frame), meski tetap memiliki desain mounting yang sama. Gambar di samping menunjukkan perbedaan ukuran antara sensor APS-C dan sensor full-frame 35mm. Lingkaran merah menunjukkan diameter lensa full-frame dan lingkaran hijau menunjukkan diameter lensa DX. Tampak kalau diameter lensa DX didesain untuk menyesuaikan ukuran bidang sensor APS-C yang memang lebih kecil dari sensor 35mm.

Meski lensa Nikon DX juga memakai F-mount yang artinya bisa dipasang pada kamera Nikon FX atau kamera SLR film, namun bila lensa DX dipasang di kamera FX maka hasil fotonya akan terdapat lingkaran di bagian sudut (vignetting) akibat diameter lensa DX yang lebih kecil dari sensor 35mm.  Maka itu lensa DX tidak ditujukan untuk dipakai di kamera FX, namun sebaliknya pemilik kamera DX bisa memakai lensa apapun, baik lensa DX maupun lensa full frame tanpa masalah.

crop

Karena ukurannya yang lebih kecil dari film 35mm, maka sensor APS-C akan menghasilkan crop factor sebesar 1.5x yang artinya fokal lensa yang terpasang pada kamera DX akan mengalami koreksi, misal bila lensa 24-70mm dipasang di kamera DX maka fokal efektifnya akan setara dengan 35-105mm. Perhatikan gambar di atas, crop factor 1.5x pada kamera Nikon DX menyebabkan bidang gambar yang tadinya luas seolah mengalami cropping.

Kode-kode lensa Nikon

Nikon sudah memproduksi banyak sekali lensa dan semakin modern justru semakin dipenuhi dengan kode-kode yang membuat bingung orang yang awam. Sebagai contoh, bagaimana memahami kode yang ada dari lensa Nikkor AF-S DX 18-200mm 1:3.5-5.6G VR IF ED? Beginilah penjelasannya :

  • Nikkor : Nama untuk lensa buatan Nikon.
  • AF-S : Lensa Nikon yang memiliki motor ‘SWM’ sehingga proses auto fokus dilakukan di lensa, bukan pada bodi kamera. Lensa AF-S diyakini lebih cepat dan akurat dalam urusan auto fokus dibanding lensa AF lainnya.
  • DX : Lensa Nikon khusus untuk DSLR Nikon berformat DX (memiliki sensor APS-C). Lensa ini memiliki lingkar gambar lebih kecil dari lensa Nikon non DX, sehingga memiliki ukuran yang juga lebih kecil. Apabila lensa ini dipasang pada DSLR Nikon berformat FX seperti Nikon D3, maka akan terjadi vignetting.
  • G : Menyatakan ketiadaan aperture ring pada lensa. Pemilihan nilai aperture hanya bisa dilakukan melalui dial kamera (kamera SLR Nikon lama tidak kompatibel dengan lensa G ini).
  • VRVibration Reduction, teknologi stabilizer pada lensa untuk meminimalisir getaran tangan saat memotret pada kecepatan rendah. Dengan memakai lensa VR kemungkinan gambar blur dapat dihindari karena elemen VR akan mengkompensasi getaran, kemampuannya hingga 3-4 stop.
  • IFInternal Focusing, proses auto fokus terjadi didalam lensa sehingga tidak ada bagian luar lensa yang berputar saat lensa mencari fokus. Ini memungkinkan penambahan filter tertentu pada bagian depan lensa.
  • EDExtra low Dispersion, elemen lensa khusus yang ditujukan meningkatkan kontras dan ketajaman dengan meniadakan penyimpangan warna saat cahaya memasuki bagian lensa / chromatic aberration.

Jadi, lensa tadi bisa dipahami sebagai lensa Nikon berformat DX,  punya motor fokus pada lensa, memiliki jangkauan zoom terdekat di 18mm, terjauh di 200mm dengan diafragma maksimal pada saat wide di f/3.5, terjauh di f/5.6, memiliki teknologi stabilizer VR, tidak memiliki aperture ring, dilengkapi elemen lensa ED dan sistem mekanisme auto fokusnya secara internal. Karena lensa DX dirancang untuk dipasang di kamera Nikon DSLR bersensor APS-C, maka akan terkena crop factor 1,5x sehingga jangkauan efektifnya setara dengan 27-300mm.

vr

Untuk lensa Nikon lainnya, masih banyak istilah lain yang biasa dipakai, diantaranya :

  • SICSuper Integrated Coating, lapisan khusus untuk menghilangkan flare saat lensa terkena cahaya matahari.
  • NNano crystal coat, lapisan lensa yang juga dipakai untuk mengurangi flare dan ghosting.
  • AsphAspherical lens, lensa khusus untuk mengurangi distorsi dan penyimpangan warna.
  • D : Distance information, untuk memberikan informasi tentang jarak objek ke kamera sehingga membantu kerja sistem Matrix metering dan iTTL flash.
  • DCDefocus Control, untuk mengubah-ubah variasi bokeh sehingga foto portrait dapat memiliki background yang blurnya sesuai.
  • Micro : Istilah untuk lensa khusus makro.

Nikon Speedlight

sb900Aksesori penting pendukung DSLR Nikon yang paling utama adalah lampu kilat. Dalam urusan lampu kilat ini Nikon Speedlight sudah terkenal akan kehandalan dan akurasi TTL-nya. Nikon juga memiliki pengaturan banyak lampu dengan kendali secara wireless (memakai gelombang RF) yang dinamai CLS (Creative Lighting System). Pengaturan intensitas cahaya lampu kilat bisa dibuat otomatis dengan TTL ataupun manual. Meski kini banyak dijumpai lampu kilat merk lain yang kompatibel dengan DSLR Nikon, tapi pada prinsipnya Nikon tidak pernah berbagi rahasia akurasi TTL-nya ke pihak luar. Jadi untuk hasil terbaik memang disarankan memakai lampu kilat yang semerk dengan bodi kamera.

Pilihan produk Nikon Speedlight diantaranya :

  • SB400 : dua baterai, GN 30 (ISO 200)
  • SB600 : GN 30, zoom 24-85mm
  • SB700 : GN28, zoom 24-120mm
  • SB900 : GN 34, zoom 17-200mm

Segmentasi produk kamera DSLR Nikon

Kamera DSLR Nikon DX

Kelas pemula : Nikon D3100 (baru)

d3100_tb1Nikon D3100 merupakan DSLR penerus dari D3000, yang meneruskan D60 dan D40 sebagai kamera Nikon DX kelas pemula tanpa motor AF di bodi. D3100 ini boleh dibilang tak banyak berbeda dengan pendahulunya kecuali  penambahan fitur HD movie dan kemampuan auto fokus saat merekam video. Modul auto fokus pada D3100 ini berjumlah 11 titik yang sama seperti pada D3000, meningkat banyak dari D60-D40 yang hanya punya 3 titik. Dengan sensor CMOS 14 MP, D3100 ini sudah sangat baik untuk direkomendasikan kepada pemula yang mencari DSLR yang mudah dipakai namun berkualitas baik. Dengan harga jual 5,8 jutaan plus lensa kit, Nikon siap bersaing dengan merk lain untuk meraup untung dari kamera ini.

Kelas pemula : Nikon D5000 (diskontinu)

d5000jpgProduk elit di kelas pemula ini mengandalkan keistimewaan LCD lipat dan HD movie, melengkapi sensor CMOS 12 MP dan burst 4 fps ditambah modul 11 titik AF yang membuatnya jadi DSLR lengkap dan sarat fitur. Harga jual kamera ini awalnya cukup tinggi mencapai 8 juta (plus lensa kit), tergolong mahal mengingat Nikon D5000 bukanlah DSLR kelas semi-pro. D5000 cocok untuk mereka yang senang merekam video HD dengan angle sulit (LCD lipat sangat berguna dalam hal ini). Sayangnya produk ini sudah diskontinu.

Kelas menengah : Nikon D90 (diskontinu)

d90Nikon D90 merupakan penerus Nikon D80 yang populer di masa lalu, dengan positioning yang tanggung yaitu antara DSLR pemula dan DSLR semi-pro. Namun D90 sudah dilengkapi dengan fitur kelas semi-pro seperti finder jenis prisma dan top status LC meski masih memakai material bodi plastik. Nikon D90 merupakan DSLR Nikon pertama dengan fitur HD movie dan dijual di harga 9,5 jutaan (body only), cocok untuk mereka yang tidak puas dengan DSLR pemula namun tidak sanggup membeli DSLR semi-pro yang mahal. Produk ini sudah digantikan oleh D7000 berikut ini.

Kelas menengah hingga semi pro : Nikon D7000 (baru)

d7000_18_105Nikon D7000 merupakan DSLR Nikon penerus D90 yang begitu dinantikan dengan sensor 16 MP dan bodi berbahan magnesium alloy yang kokoh. Dua hal baru yang disambut antusias pada D7000 adalah modul auto fokus Multi-CAM 4800DX dengan 39 titik AF (9 diantaranya cross type) dan modul metering dengan 2016 pixel AE yang sangat akurat dan pertama dalam sejarah Nikon. Pada D7000 kini disediakan tombol putar untuk mengakses mode pemotretan S, CL, CH yang membuatnya tampak profesional. Kamera seharga 15 jutaan ini dijual bersama lensa kit 18-105mm VR.

Kelas semi pro : Nikon D300s

d300sDi kelas semi-pro sesungguhnya, Nikon mengandalkan D300s yang tangguh, cepat dan mewah. Namun bagaimanapun, D300s masih masuk kelompok kamera DX dengan sensor APS-C yang lebih kecil dari sensor 35mm. Dengan 51 titik fokus dan 1005 pixel RGB metering, D300s siap diajak bekerja cepat hingga 7 fps.  D300s menambahkan fitur HD movie dan dual slot memory-card dibanding pendahulunya D300. Kamera 12 MP ini cocok untuk mereka yang mengutamakan kecepatan, akurasi dan custom setting yang lengkap, D300s dijual di kisaran 17 juta body only.

Kamera DSLR Nikon FX

Kelas semi pro hingga profesional : Nikon D700

d700Di kelas semi pro hingga profesional, Nikon punya produk yang sesuai bernama Nikon D700 dengan sensor FX (full frame) yang masih setia di resolusi 12 MP layaknya D300s yang berformat DX. Kamera ini mampu mencapai kecepatan burst 8 fps bila dipasang battery grip tambahan. Sama seperti D300s, kamera ini memakai 51 titik fokus dan 1005 pixel RGB metering. Untuk ISO, D700 sanggup memberi foto dengan noise amat rendah di ISO tinggi hingga ISO 6400 dan bisa ditingkatkan sampai ISO 25.600 bila perlu.

Kelas profesional : Nikon D3x dan Nikon D3s

d3sDi kelas profesional sesungguhnya, Nikon punya duet D3s dan D3x, keduanya adalah penyempurnaan dari D3, kamera DSLR nikon FX pertama. Bedanya, D3x memakai sensor 24 MP tapi cukup lambat di 5 fps, sedangkan D3s tetap setia di 12 MP tapi mengandalkan kecepatan hingga 9 fps. Keduanya punya usia shutter teruji hingga 300 ribu kali jepret, punya dual CF slot, bisa dipakai vertikal tanpa menambah battery grip (ada vertikal grip  terintegrasi) dan tanpa lampu kilat internal.

Referensi lanjutan :

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Lensa wide baru dari Nikon untuk DSLR format FX

Setelah lama dirumorkan, Nikon akhirnya merilis dua lensa kelas premium anyar berformat FX. Artinya, lensa ini memiliki diameter lebih besar sehingga bisa dipakai di kamera SLR film maupun DSLR full-frame. Lensa pertama yang dirilis adalah lensa fix 24mm yang punya bukaan besar (f/1.4) sementara lensa kedua adalah lensa zoom 16-35mm dengan bukaan konstan f/4. Tentu saja dilihat dari fokal lensa tadi, terbayang sudah kalau pecinta landscape akan bergembira dengan hadirnya dua lensa wide kelas atas ini.

Nikon AF-S 24mm f/1.4G ED
Nikon AF-S 24mm f/1.4G ED

Lensa fix AF-S 24mm f/1.4G ED memiliki diameter filter 77mm, dilapisi coating Nano untuk mengurangi pantulan dan flare, dan bila dipakai di format DX maka akan setara dengan 36mm. Lensa seharga 20 juta ini menggantikan lensa fix lawas Nikon 28mm f/1.4 yang diakui ketajamannya. Bila kita ingat setahun yang lalu, Canon sudah lebih dulu meluncurkan lensa yang persis sama yaitu 24mm f/1.4L II seharga 17 juta.

Nikon AF-S 16-35mm f/4 G ED VR
Nikon AF-S 16-35mm f/4G ED VR

Lensa zoom AF-S 16-35mm f/4G ED VR merupakan produk baru yang tidak bisa dibandingkan dengan lensa Nikon lama. Hal ini karena disini Nikon memakai desain aperture konstan f/4 yang sebelumnya dipakai di lensa AF-S 12-24mm. Lensa legendaris Nikon lama, 18-35mm f/2.8 punya rentang fokal yang mirip dengan lensa AF-S 16-35mm f/4 VR ini, meski tentu secara kecepatan lensa bukan padanan seimbang. Kekuatan utama lensa ini ada di sistem VR-nya, pertama untuk lensa wide berformat FX. Meski punya bukaan maksimum f/4, namun lensa ini tidak lantas tampak kecil. Fisiknya hampir sama besar seperti lensa 24-70mm f/2.8, diameter filter 77mm, bobotnya 680 gram dan akan dijual di kisaran harga 12 jutaan. Bagi anda pemilik DSLR Nikon DX bila ingin memiliki lensa ini maka fokalnya akan setara dengan 24-52mm yang agak tanggung untuk wide dan tentu kurang untuk tele.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..