Review kamera mirrorless Olympus Pen E-PL5

Kali ini kami akan menyampaikan review untuk kamera Olympus E-PL5 dengan lensa kit 14-42mm f/3.5-5.6 yang dipasaran di jual di harga 7 jutaan.  Apakah kamera yang harga dan fiturnya berimbang dengan rata-rata kamera DSLR pemula ini mampu mengesankan anda? Kita simak saja ulasannya..

Kamera yang diuji kali ini termasuk kelompok mirrorless compact, cirinya ukurannya termasuk kecil (sedikit lebih besar dari kamera saku umumnya), sensor ukuran besar (aspek rasio 4:3, crop factor 2x) dan bisa menerima lensa apa saja dengan mount Micro 4/3. Bagi yang belum begitu mengenal kamera mirrorless disarankan membaca juga artikel ini. Sekedar mengenal posisi kamera ini di lini Olympus Pen, E-PL5 adalah seri Lite (menengah), dibawah E-P5 sebagai kamera Pen kasta tertinggi. Dibawah E-PL5 ini masih ada seri yang lebih mendasar yaitu Pen-Mini dengan produknya E-PM2. Sebelum E-PL5 hadir, ada produk lama seperti E-PL3 (seperti biasa, orang Jepang sering melewatkan angka 4). Peningkatan dari E-PL3 ke E-PL5 diantaranya dalam hal megapiksel, ISO maksimum, kecepatan tembak dan ada layar sentuh.

Kita mulai saja. E-PL5 punya sensor yang sama dengan kamera kelas atas OM-D E-M5 yaitu LiveMOS 16.1 MP yang mampu mencapai ISO tertinggi 25.600. Beberapa fitur unggulan lain diantaranya :

  • punya fitur peredam getar, lensa apa saja bisa jadi lebih stabil (untuk foto dan video)
  • pengaturan manual PASM lengkap dengan mode dialnya
  • kecepatan tembak hingga 8 foto per detik
  • bodi desain retro, bahan logam kokoh, dapat ekstra grip, pilihan warna hitam, putih dan silver
  • full HD stereo
  • dibekali 12 Art filter dan 6 Art effect
  • layar lipat, ukuran 3 inci, layar sentuh kapasitif, touch AF shutter
  • ada dudukan lampu kilat, plus dapat lampu kilat mini (karena tidak ada built-in flash di bodi)

Tinjuan bodi dan lensa

Pertama yang akan di ulas tentu saja adalah tampak luar dan bagaimana rasanya kamera ini saat digenggam. Dilihat dari depan saat belum dipasang lensa tentu adalah mount dan sensor yang terlihat dominan, lalu di pojok atas ada lampu kecil untuk self timer maupun lampu bantuan fokus. Dari atas bisa dilihat ada dudukan lampu kilat eksternal (atau untuk aksesori lain misal jendela bidik elektronik), roda mode dial PASM dll, tombol jepret dan tombol on-off. Masih di atas tapi agak sedikit ke belakang ditemui tombol playback, tombol delete, colokan aksesori (AP2), tombol Fn, tombol magnify dan tombol langsung rekam video.

Olympus E-PL5 with lens

Di belakang ada layar LCD lipat yang aspek rasionya 16:9 sehingga terasa sekali dominasinya, tinggal tersisa sedikit ruang di sebelah kanan untuk aneka tombol dan roda kendali. Di sisi kanan ada pintu kecil untuk colokan mikro HDMI dan mikro USB, lalu di bawah ada pintu untuk baterai dan kartu SD, serta lubang untuk memasang tripod.

Olypus E-PL5 back

Saat digenggam, kamera berbobot 300 gram ini (belum termasuk lensa) terasa mantap karena cukup berat, ada grip di depan dan ada tonjolan untuk menahan jempol di belakang. Pengoperasian dengan satu tangan masih bisa selama tidak menekan tombol playback dan delete. Saat mencoba melipat layar LCD, kami temui sudut lipatannya sangat berguna karena bisa ke bawah (untuk memotret sambil mengangkat kamera ke atas) atau layar dilipat hingga menghadap ke atas (untuk low angle hingga selfie). Satu hal yang tidak bisa kita lakukan dengan layar ini adalah melipatnya ke dalam untuk melindungi layar saat kamera tidak dipakai.

Lensa M Zuiko 14-42mm

Lensa kit yang disediakan cukup kecil, punya rentang fokal 14-42mm (setara 24-84mm) dan rentang diafragma f/3.5-5.6 serta diameter filter 37mm. Di lensa tertulis jarak fokus minimum lensa ini adalah 25cm (cukup dekat untuk foto close-up) hingga infinity. Ada ring untuk manual fokus di lensa, tapi prinsip kerjanya adalah elektronik. Ada tuas untuk mengunci lensa juga, jadi misalnya lensa posisi terkunci lalu kamera dinyalakan akan ada pesan di layar untuk me-unlock lensanya (dengan cara memutar ke fokal 14mm).

Kinerja dan pemakaian

Kamera generasi modern, layaknya sebuah komputer rata-rata punya kinerja lebih baik berkat kemajuan teknologi prosesor didalamnya. Kamera E-PL5 ini juga terasa responsif mulai dari waktu start-up, shutter lag, shot-to-shot hingga melihat-lihat hasil foto semuanya terasa cepat. Urusan kecepatan fokus di kamera Olympus juga sudah dikenal cepat walau berbasis deteksi kontras saja. Ada beberapa mode auto fokus di kamera ini, termasuk fokus kontinu, manual fokus dan fokus dengan menyentuh layar. Di tempat agak gelap, kinerja auto fokus sedikit menurun tapi masih tergolong cepat, jarang sampai terjadi mis fokus (meleset). Kamera ini dengan jitu juga bisa mengenali wajah manusia sehingga bisa fokus langsung ke area wajah. Asyiknya, dengan satu sentuhan jari kita juga bisa memilih titik fokus sekaligus mengambil foto, fitur ini dinamai Touch AF shutter.

touch-af

Kecepatan tembak maksimum 8 foto per detik terasa sangat mantap, penulisan data ke kartu memori akan lebih terasa cepat dengan kartu yang kelas 10 atau lebih cepat. Di mode dial E-PL5 ada pilihan untuk rekam video, tapi walau posisi dial bukan berada disana kita tetap bisa memulai rekam video dengan menekan tombol movie. Sayangnya dari pengujian kami, rekaman video akan berhenti dan disimpan jadi satu file bila tombol jepret ditekan untuk mengambil foto. Setelah foto diambil dan disimpan, kamera akan otomatis lanjut merekam video dengan nama file baru. Menurut kami ini tidak praktis, di kamera lain umumnya saat sedang merekam video tiba-tiba tombol jeptret ditekan, maka foto diambil tapi video tetap lanjut merekam.

Untuk mengganti setting penting seperti eksposur (ISO, shutter, diafragma), lalu ukuran file foto, WB, metering dan sebagainya harus menekan tombol OK lalu navigasi lebih lanjut dengan tombol 4 arah (atas bawah dan kiri kanan). Tidak ada satu tombol yang menampilkan quick setting di LCD seperti kamera lain (atau kamera OM-D), padahal dengan layar sentuh semestinya lebih mudah mengganti setting dengan menekan layar, cukup disayangkan. Ada tombol INFO yang bisa dipakai untuk menampilkan detail setting di layar dan menampilkan live histogram. Tombol empat arah juga punya fungsi jalan pintas seperti kompensasi eksposur, memilih titik fokus, memilih mode flash dan drive mode/self timer. Unik dan hebatnya di kamera ini, hampir setiap tombol bisa dikustomisasi melalui menu. Jadi kita bisa mengganti fungsi default dari masing-masing tombol, lalu juga roda kendali serta tombol rekam video. Kamera ini bahkan bisa menyimpan setting favorit kita.

Custom menu E-PL5

Di menu, pengaturan lanjutan (Custom menu) disembunyikan dengan tujuan tidak dirubah oleh pemakai yang masih awam, tapi dengan membukanya kita akan bertemu setting yang sangat lengkap dan terbagi sampai 10 kelompok dari A sampai J, masing-masing punya peran untuk mengatur fokus, tombol, drive mode, display, eksposur, flash, warna WB, record/erase, movie dan utility. Disinilah kita bisa mengkustomisasi kamera ini sepuas-puasnya, bahkan lebih canggih daripada kamera DSLR dengan harga yang sama. Misalnya di kamera ini bisa lebih lanjut mengatur rentang histogram (default dari 0-255), live bulb, menjaga tone hangat di Auto WB, memilih dpi output, bagaimana kamera akan menghapus file bila foto yang diambil dengan setting RAW+JPG di-delete, hingga adanya kompensasi eksposur untuk setiap mode metering.

Di kamera juga tersedia banyak pilihan pop art dan bracketing, termasuk HDR. Ada juga fitur multiple exposure untuk menggabungkan dua foto jadi satu. Bagi yang senang memotret sesuatu yang jauh juga akan terbantu dengan fitur tele converter (2x digital zoom). Sayangnya tidak ditemui fitur sweep panorama atau timelapse di kamera ini. Sedikit kekurangan lain dari kamera ini yang kami temui adalah, setelah mengakses mode HDR BKT dan menentukan settingnya, kamera hanya mengambil tiga foto yang siap untuk digabung jadi HDR di komputer, bukannya digabung otomatis di kamera seperti fitur HDR di kamera lain.

Hasil foto

Contoh foto ini diambil dengan lensa kit M.Zuiko 14-42mm f/3.5-5.6 untuk sekaligus menguji kualitas lensa dan juga kemampuan ISO tinggi dari kamera dengan sensor Four Thirds ini. Ukuran sudah di resize jadi kecil, bila ingin melihat ukuran aslinya bisa klik link ke flickr di bawahnya foto.

ISO 1600 :

ISO 1600 di E-PL5

File asli

ISO 3200 :

ISO 3200 di E-PL5

File asli

Dari kedua contoh foto diatas tampak kualitas foto masih cukup baik di ISO 1600 dan ISO 3200, dengan noise yang masih cukup wajar. Hasil 100% crop dari foto di ISO 3200 adalah seperti ini :

p1010203-crop

Untuk contoh foto berikut ini diambil dengan lensa Lumix 45-150mm OIS, karena sebagai sesama anggota Micro Four Thirds, lensa milik Panasonic ini bisa juga dipakai di kamera Olympus. Ukuran sudah di resize jadi kecil, bila ingin melihat ukuran aslinya bisa klik link flickr di bawahnya foto.

Foto diambil dengan aneka efek art filter :

Miniatur efek

File asli

Art efek

File asli

BW efek

File asli

Kesimpulan

Persaingan ketat di segmen kamera mirrorless bisa disederhanakan seperti adu kamera dengan sensor Four Thirds dan sensor APS-C (seperti Sony NEX, Fuji X, Canon EOS-M dan Samsung NX) yang juga punya bermacam produk andalan. Untuk tetap bisa kompetitif, Olympus perlu strategi cerdas dalam membuat segmentasi kameranya. Olympus E-PL5 sebagai kamera mirrorless compact berhasil memberi bukti bahwa kamera canggih dengan hasil foto baik dan kinerja tinggi tidak harus dibandrol terlalu mahal. Berada di segmen menengah, E-PL5 termasuk punya value tinggi dan sudah matang dalam hal teknologi. Bodi yang mantap dan ergonomi yang pas membuatnya cukup ringkas untuk dipakai namun tidak mudah selip dari genggaman. Penyempurnaan dari era E-PL3 cukup banyak, fakta kalau kamera ini memakai sensor milik OM-D EM-5 dan layar sentuh juga tidak bisa diabaikan. Kinerja kamera seperti auto fokus dan in body stabilizer juga tidak ada keluhan, bekerja baik sesuai ekspektasi kami. Kami juga terkesan dengan banyaknya fitur kelas atas yang dimiliki E-PL5 seperti live bulb, aneka bracketing, multi exposure, DOF preview dan bermacam art filter yang siap pakai. Selain itu, lensa kit yang dimiliki juga termasuk punya kualitas optik yang baik, sepintas yang melihat kecilnya tidak menyangka kalau hasil fotonya tajam.

Dengan segala kelebihan diatas, kami juga mencatat ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, seperti lampu kilat yang terpisah dari bodi. Walaupun dalam paket penjualan lampu kilat ini disertakan juga, tapi tetap akan lebih repot bila kita harus selalu membawanya dan memasangnya bila perlu. Belum lagi dengan memasang flash maka aksesori lain seperti jendela bidik elektronik jadi tidak bisa dipasang juga. Lalu yang namanya layar LCD jadi sorotan kritik kami karena beberapa hal, misal aspek rasio 16:9 itu tidak umum dan memakan ruang belakang kamera (sehingga tombol dan roda kendali terdesak di sisi kanan), lalu sistem layar lipat yang tidak umum (walau tetap kami apresiasi daripada tidak bisa dilipat sama sekali) dan kerapatan piksel LCD yang dibawah rata-rata (hanya 400 ribuan piksel). Dari kinerja kamera, yang kami keluhkan hanya rekaman video yang harus berhenti saat kamera dipakai untuk mengambil foto. Harapan lain yang belum ada di kamera ini sebutlah misalnya auto ISO yang biasa saja (tidak bisa dikustomisasi lebih lanjut untuk prioritas shutter speed), tidak ada timelapse dan sweep panorama, tidak ada WiFi dan tidak bisa menggabungkan otomatis tiga foto hasil HDR kamera.

Kesimpulan akhir, kamera Olympus E-PL5 plus lensa kit, dengan segala kelebihan dan fiturnya sebetulnya cukup sepadan dengan harga jualnya di kisaran 7 jutaan. Anda akan mendapat kamera berdesain keren, hasil foto bagus, kinerja tinggi dan bisa banyak kustomisasi tombol dan fitur lanjutan. Tinggal apakah anda bisa menerima hal-hal kecil yang menjadi catatan kami (seperti lampu kilat terpisah, layar LCD dengan aspek rasio yang tidak umum, issue rekam video putus saat ambil foto dan HDR yang tidak bisa digabung). Jangan lupakan juga pilihan lensa yang cukup banyak baik dari Olympus, Lumix maupun produsen lensa pihak ketiga akan jadi faktor tambahan untuk memilih sistem kamera ini.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Kamera saku kelas serius baru dari Fuji : X100S dan X20

Di ajang CES 2013 lalu Fujifilm kembali membuat sensasi dengan meluncurkan dua kamera baru bernama Fuji X100S (penerus Fuji X100) dan Fuji X20 (penerus Fuji X10). Keduanya termasuk kamera kompak kelas atas  buatan Jepang yang ditujukan buat enthusiast photographer, atau yang serius dalam hobi fotografi. Fuji X100S adalah kamera saku dengan sensor besar namun memakai lensa fix bukaan besar 23mm f/2, sedangkan Fuji X20 adalah kamera saku dengan sensor ukuran sedang (2/3 inci) tapi lensanya berjenis lensa  zoom 28-112mm f/2-2.8. Keduanya berdesain retro klasik yang mewah dan bodi kokoh berbahan logam.

fuji-x100s-x20

Fuji X100S

Kamera Fuji X100S masih mempertahankan desain yang mirip dengan sebelumnya yaitu kamera compact yang punya lensa fix dan banyak kendali eksternal. Sebutlah misalnya roda pengatur shutter speed dan kompensasi eksposur, serta ring pengatur bukaan lensa dan ring untuk manual fokus. Terdapat juga jendela bidik optik dan flash hot shoe untuk memasang lampu kilat eksternal. Sebagai layar LCD diberikan layar ukuran 2,8 inci yang resolusinya lumayan tajam.

fujifilm-x100s1

Ada beberapa hal yang menarik dari upgrade Fuji X100 ke X100S. Yang utama adalah dipakainya sensor baru X-Trans CMOS 16 MP yang sama seperti kamera mirrorless mereka. Tidak ada filter anti alias di sensor ini sehingga hasil fotonya dijamin bakal tajam. Sensor baru ini bahkan bisa berperan ganda sebagai alat bantu auto fokus berbasis deteksi fasa. Ada dua metoda bantuan untuk manual fokus, yaitu dengan focus peaking dan focus split layaknya kamera jadul. Kamera yang berbentuk mirip rangefinder ini juga punya jendela bidik optik yang berjenis hybrid, bisa jadi jendala bidik elektronik juga. Sebagai lensanya masih tetap sama dengan sebelumnya yaitu Fujinon 23mm (ekivalen 35mm) dengan bukaan maksimal f/2.0 yang terang.

Soal kinerja pun terdapat peningkatan lumayan, berkat prosesor EXR generasi kedua. Paling tidak kamera ini kini bisa menembak 6 foto per detik dan mengunci fokus dalam waktu 0.07 detik. Data rate untuk video full HD mencapai 26 Mbps. Kamera ini juga bisa menyimpan file RAW tapi berkat susunan piksel RGB di sensor X-Trans ini berbeda dengan sensor lain berbasis Bayer maka membaca file RAW ini akan sedikit lebih repot.

Fuji X20

Kamera Fuji X20 jadi penerus Fuji X10 sebagai segmen kamera saku berlensa zoom yang bukaannya besar. Masih sama seperti sebelumnya, di X20 dipakai lensa Fujinon 4x zoom dengan putaran manual yang dipadukan dengan switch on-off yang praktis, dengan rentang fokal 28-112mm f/2.0-2.8. Bedanya adalah dalam hal teknologi sensor dimana X20 ini memakai sensor CMOS jenis X-Trans seperti di X100S (bukan lagi pakai EXR). Artinya kamera X20 ini juga bisa auto fokus memakai deteksi fasa. Tapi dalam hal ukuran sensor dan resolusi masih sama yaitu 2/3 inci 12 MP. Untuk ukuran kamera saku dengan lensa zoom, sensor seukuran 2/3 inci sudah termasuk cukup besar, jauh lebih besar daripada kamera lain yang umumnya berukuran 1/1.7 inci.

fujifilm-x20

Pada bodi kamera berbalut logam die cast ini terdapat banyak tombol dan pengaturan eksposur. Fotografer yang biasa memakai DSLR akan merasakan dirinya tidak asing saat memakai kamera ini. Bila kamera lain lebih suka memberikan jendela bidik elekronik, pada Fuji X20 justru memberikan jendela bidik optik dengan overlay informasi yang sangat berguna. Untuk urusan movie, kamera ini juga mampu merekam video full HD 1080p. Pada bagian belakang terdapat layar LCD berukuran 2.8 inci dengan ketajaman 460 ribu piksel, sementara di bagian atas terdapat flash hot shoe untuk menempatkan flash eksternal, bila kekuatan built-in flash kamera ini terasa kurang.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

GoPro Hero3 dengan 3 varian, kamera HD untuk aksi dan sport

Mungkin belum banyak orang yang familiar dengan merk GoPro, produsen kamera mungil tapi serba bisa ini. GoPro ternyata sudah merilis produk Hero generasi ketiga yang lebih canggih dan lebih kecil dari sebelumnya. Kali ini untuk lebih memudahkan segmentasi, GoPro membagi Hero3 dalam tiga varian yaitu profesional (Black Edition – 4 jutaan), prosumer (Silver Edition – 3 jutaan) dan consumer (White Edition – 2 jutaan). Untuk anda yang penasaran akan tiga produk ini, simak terus ulasan kami.

gopro-hero3

GoPro meluncurkan kamera perekam video untuk mendokumentasikan aksi petualangan dan olahraga dengan nama Hero. Produk ini lalu diskontinu dan disempurnakan di Hero2 dan kini mereka mengumumkan kehadiran Hero3. Alasan orang membeli produk ini adalah untuk merekam video tanpa harus menggenggam kameranya, maka itu Hero identik dengan mount yang bervariasi (sebagian besar dijual sebagai aksesori terpisah) dan bisa dipasang di berbagai posisi seperti di helm, di sepeda/motor, di mobil dan sebagainya. Uniknya, dalam paket penjualannya sudah disertakan casing bawah air yang bisa tahan untuk menyelam hingga kedalaman 60m.

callouts_whiteedition

Hero3 pada prinsipnya sama saja seperti kamera digital biasa, dengan lensa dan berbagai pengaturan resolusi video (dan foto) serta menyimpannya di kartu micro-SD. Lensa di Hero3 adalah fix f/2.8 (bukan zoom) ultra wide dengan distorsi yang diklaim minimum. Kemampuan rekam video Hero3 tentu sudah mencapai full HD 1080p, bahkan untuk seri Black Edition sudah bisa merekam video dengan resolusi 3840×2160 piksel dalam 15 fps. Untuk foto jangan dibayangkan kita menekan tombol shutter setiap ingin memotret, melainkan memakai timelapse yang akan memotret setiap 1/2, 1, 2, 5, 10, 30 atau 60 detik. Tidak ada LCD di bagian belakang untuk melihat hasil foto, untuk itu fitur WiFi bakal berguna (dengan App untuk koneksi ke ponsel/tablet). Tapi di bagian depan ada LCD kecil untuk indikator basic seperti waktu rekam dan mode yang dipakai.

hero3

Perbedaan dari ketiga varian GoPro Hero3 adalah :

Black Edition :

  • foto 12 MP, bisa 10 fps
  • video 4k (3840×2160 piksel)
  • bisa mengambil foto saat merekam video
  • dapat WiFi remote

Silver Edition :

  • foto 11 MP, bisa 10 fps
  • video 1080p

White Edition :

  • foto 5 MP, cuma 3 fps
  • video 1080p
  • tidak bisa mengatur White Balance (???)

gopro-inthebox

Sebagai bonus program tersedia aplikasi dan program editing video basic termasuk menjadikan slow motion dari video yang sudah diambil.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Canon EOS 650D dengan Hybrid AF Sensor baru

Belum lama ini Canon kembali melakukan penyegaran di segmen kamera DSLR pemula dengan meluncurkan EOS 650D (Rebel T4i) yang menjadi penerus dari EOS 600D. Bisa dibilang inilah babak baru DSLR Canon yang lebih mengutamakan kemampuan video, khususnya untuk auto fokus, karena DSLR Canon sebelum ini tidak bisa melakukan auto fokus kontinu saat merekam video. Rahasia dibalik kemampuan ini adalah diperkenalkannya sistem Hybrid AF, seperti apa penjelasannya, kami coba uraikan untuk anda.

Tapi sebelum itu, tidak lengkap rasanya kalau belum mengupas sedikit tentang peningkatan fitur di Canon 650D ini. Satu hal yang paling diapresiasi adalah dipakainya modul 9 titik AF milik 60D yang semuanya adalah cross type. Lalu prosesor Digic didalamnya sudah generasi kelima, tak heran kecepatan tembaknya sudah mencapai 5 gambar per detik. Selain itu layar LCD-nya kini sudah berjenis layar sentuh yang bisa dipakai untuk mengakses setting atau memilih titik fokus saat live-view.

Mulai dari EOS 500D Canon memberikan fitur rekam video, yang terus disempurnakan pada 550D dan 600D. Tapi karena limitasi desain kamera DSLR yang memakai cermin membuat modul AF berbasis deteksi fasa menjadi tak berguna saat live-view ataupun movie. Kini Canon melakukan modifikasi sensor saat membuat 650D sehingga bisa mendeteksi fasa dan juga kontras, pertama kalinya dalam sejarah sensor kamera DSLR. Dengan penemuan baru ini proses auto fokus saat merekam video menjadi lebih cepat dan tidak perlu lagi harus  manual fokus.

canon-650d-stm

Jadi 650D memang didesain untuk memberi pengalaman fotografi dan videografi yang sama baiknya. Langkah ini bisa dimengerti karena segmen DSLR pemula terus diserang oleh kamera mirrorless dan kamera SLT, keduanya sama-sama mengklaim jagonya auto fokus saat rekam video. Hanya saja untuk menikmati auto fokus kontinu di 650D ada syarat yang harus dipenuhi, yaitu perlu memakai lensa baru dengan kode STM, atau Stepper Motor. Lensa STM ini selain lebih cepat dalam auto fokus juga lebih silent sehingga suara motornya tidak ikut terekam di video.

ef-s_18-135_is_stm

Untuk saat ini Canon sudah membuat dua lensa STM yaitu EF-S 18-135mm f/3.5-5.6 IS STM seharga 5 jutaan dan lensa pancake full frame EF 40mm f/2.8 STM seharga hampir 2 juta. Bagi yang tidak butuh lensa STM masih bisa memilih paket lensa kit standar EF-S 18-55mm f/3.5-5.6 IS. Untuk bodi kamera ini sendiri rencananya akan dijual 8 jutaan, terpaut sedikit dengan harga bodi 60D saat ini.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Produk ‘best buy’ rekomendasi kami

Kamera digital semakin murah, tapi fiturnya semakin canggih. Tapi kebanyakan  kamera canggih itu  harga mahal, dan kamera murah akan cenderung murahan. Buat anda yang bosan dengan kamera lama yang terlihat jadul, atau memang baru ingin beli kamera, kami susun daftar produk yang menurut kami adalah best buy. Pertimbangan kami adalah produk yang punya price vs performance yang berimbang, dan bisa saja produk yang kami ulas disini justru dibuat di tahun lalu (seperti biasa, produk lama harganya cenderung turun). Tidak ada titipan sponsor atau dukungan pada merk tertentu di artikel ini, murni sekedar panduan untuk pembaca saja dan kami tidak mendapat imbalan dari pihak manapun.

Kamera DSLR pemula ‘best buy’

550d

Canon EOS 550D jelas menjadi produk best buy di kelas DSLR pemula karena harga kamera buatan 2010 ini sekarang dijual 6 juta sudah termasuk lensa kit EF-S 18-55mm IS. Harganya masih jauh dibawah Nikon D5100 yang dikisaran 7 jutaan, dan berbeda 1 juta dengan EOS 1100D yang dijual 5 juta rupiah. Dengan EOS 550D, anda sudah bisa memiliki kamera DSLR pemula 18 MP yang fiturnya lengkap, mudah digunakan dan hasilnya bagus. Canon 550D pun sudah oke buat bikin klip video yang serius berkat pengaturan manual eksposur saat merekam video dan resolusi video 1080p 30 fps.

Kamera DSLR semi-profesional ‘best buy’

60d

Canon lagi-lagi jadi pilihan kami untuk segmen DSLR kelas menengah dengan produk Canon EOS 60D karena harganya ‘hanya’ 7,7 jutaan tanpa lensa. Bagi yang mencari kamera setingkat diatas kelas pemula, maka EOS 60D sanggup meladeni skill anda berkat kecepatan, tombol akses langsung dan layar LCD lipatnya. Kamera sekelasnya dengan ciri yang sama seperti viewfinder prisma, top status LCD dan dual dial biasanya dijual di kisaran 9 jutaan. Selain itu, dari 9 titik fokus yang dimilikinya, semuanya sudah cross type yang lebih sensitif.

Kamera Mirrorless saku ‘best buy’

lumix-dmc-gf3

Kamera mirrorless dengan lensa yang bisa dilepas, berukuran mungil namun sensornya besar, bakal jadi tren kamera mendatang. Sayangnya saat ini harganya masih mahal, selain itu pilihan lensanya masih sedikit. Bila anda mencari kamera ‘best buy’ di kelas mirrorless, kami pilihkan Panasonic Lumix GF3 dengan lensa 14-42mm (setara 28-84mm) yang dijual dibawah 6 juta rupiah. Kamera ini lebih murah dari Olympus Pen Mini ataupun Sony NEX -C3 namun dengan fitur yang kurang lebih sama. Lumix GF3 mungil tapi mendukung semua pengaturan manual (termasuk layar sentuh), sensornya besar (Four Thirds) 12 MP dan bisa full HD movie.

Kamera ‘main-main’ superzoom ‘best buy’

fuji-s4000

Kenapa kami bilang kamera main-main? Karena orang cenderung memakai kamera superzoom (kamera murah yang lensa zoomnya teramat panjang) bukan untuk kebutuhan serius tapi untuk iseng, mencoba membayangkan kameranya seperti teropong yang bisa melihat benda yang jaraknya sangat jauh, lalu memotretnya. hasil foto dengan zoom panjang bakal jelek, soft dan mudah blur bila kita tidak stabil saat memotret. Tapi buat mereka yang perlu kamera dengan lensa sampai 30x zoom, tidak usah bayar mahal karena ada Fuji Finepix S4000 dengan sensor CCD 14 MP dan lensa 24-720mm yang dijual sekitar 2,2 juta saja. Kamera ini bahkan tampak seperti kamera serius, lengkap dengan kendali manual PASM dan HD video 720p. Untuk sekedar have fun dan tampak keren, tak harus mahal kan?

Kamera saku serius ‘best buy’

nikon-p300

Tidak semua orang mau memakai kamera saku yang biasa-biasa saja. Mereka bisa jadi tengah mencari kamera serius yang bisa dimasukkan ke saku. Kamera serius artinya punya pengaturan yang lengkap, fitur manual dan biasanya harganya mahal. Sebutlah diantaranya Canon PowerShot G12, Lumix LX-5, atau Canon S100 yang dijual antara 3-4 jutaan. Namun Nikon punya andalan dengan Nikon Coolpix P300 yang dijual 2,2 juta saja. Kamera dengan lensa yang bisa membuka sampai f/1.8 pada 24mm ini juga bisa memotret sampai 8 gambar per detik dalam resolusi penuh 12 MP. Kami nobatkan Nikon P300 sebagai kamera saku serius ‘best buy’ untuk awal tahun ini.

Kamera saku biasa ‘best buy’

ixus-220

Kamera saku lawas tapi cukup layak dibeli adalah Canon Ixus 220 HS dengan sensor CMOS 12 MP yang bertipe High Sensitivity. Kamera mungil ini dijual di harga 1,6 jutaan dan bila dilihat dari desainnya bakal membuat orang tidak menyangka kalau kamera keren ini ternyata harganya murah. Meski kecil, kamera dengan berbagai pilihan warna ini bisa merekam video full HD dengan tata suara stereo dan kemampuan zoom optik saat merekam video. Apalagi lensa kamera ini adalah 24mm dengan bukaan besar f/2.7 yang lebih fleksibel dipakai di indoor tanpa flash. Untuk pemakaian sehari-hari atau dokumentasi keluarga, rasanya kamera tipis berbalut logam ini pantas mendapat predikat ‘best buy’ dari kami.

Memory card ‘best buy’

transcend-16gbSekarang jamannya merekam video. Satu detik video full HD dengan kompresi MPEG-4 itu menghasilkan data rate sebesar 24 mega bit (atau sekitar 3 MB per detik) sehingga perlu kartu memori yang bukan hanya kapasitasnya besar (diatas 4 giga byte) namun juga baca tulisnya cepat. Untuk itu kartu SD card jaman sekarang diberi kode kelas seperti kelas 4, kelas 6 dan kelas 10 yang artinya bisa menulis dengan kecepatan minimal 4 MB/s, 6 MB/s dan 10 MB/s. Namun untuk amannya, belilah SD card dengan kelas 6 dan lebih baik lagi yang kelas 10. Tentu saja semakin tinggi kelasnya maka akan semakin mahal, untuk itu kami rekomendasikan memakai Transcend 16 GB kelas 10 yang harganya 180 ribu. Merknya cukup ternama, kapasitas besar dan kecepatannya juga bagus (diklaim sampai 20 MB/s). Dengan spek yang sama, merk lain ada yang dijual diatas 200 ribu.

Itulah daftar produk kamera (sampai awal tahun 2012) rekomendasi kami dengan kategori best buy. Tentu saja kamera lain yang tidak masuk di daftar ini bukan berarti jelek, tapi dengan spesifikasi dan kelas yang sama kamera di daftar ini lebih murah. Rekomendasi lain ada juga Nikon D7000 (DSLR favorit saat ini), Canon S100 (kamera saku paling populer), Olympus E-P3 (kamera mirrorless sarat fitur)  dan Fuji HS30 (bridge camera/prosumer). Untuk memory card ada juga Sandisk Extreme 16 GB kelas 10 yang harganya dua kali lipat dari harga Transcend yang kami sebutkan di atas.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Review Nikon D5100, kamera DSLR dengan fitur lengkap dalam bodi yang mungil

Dahulu kita kenal Nikon D5000 sebagai pengisi celah antara D3000 (kamera pemula) dan D90 (kamera menengah) di masa lalu. Kini tradisi itu dipertahankan dengan keberadaan D5100 (harga 7 juta) yang mengisi celah antara D3100 (harga 5 jutaan) dan D7000 (harga 11 jutaan). Bagi sebagian orang, D5100 adalah solusi tepat karena dia bisa mendapat kamera yang tidak terlalu basic dan tidak juga terlalu rumit. Tapi sebagian orang lagi beranggapan D5100 adalah kamera tanggung, cukup mahal tapi belum bisa disejajarkan dengan kamera menengah. Kali ini kami hadirkan review D5100 supaya anda bisa menilai sendiri apakah D5100 layak dibandrol seharga 7 juta rupiah.

Tinjauan fisik

Nikon D5100 dijual satu paket bersama lensa kit 18-55mm VR. Dalam dus penjualan selain berisi bodi kamera dan lensa, juga terdapat baterai, charger, tali kamera dan manual. Kamera ini sama seperti D5000 dalam hal layarnya yang bisa dilipat. Hanya saja desain layar lipat D5000 dulu banyak dikritik karena flip down, sehingga Nikon memperbaikinya di D5100 dengan desain LCD menjadi flip kesamping kiri (lebih umum). Sebagai DSLR pemula, D5100 masih memiliki banyak kesamaan dengan adiknya D3100, yaitu bodi plastik, tanpa motor fokus, modul metering 420 piksel RGB yang kuno, viewfinder cermin (bukan prisma), minim tombol akses langsung dan tidak ada layar LCD kecil di bagian atas.

Nikon D5100 dan lensa kit 18-55mm VR yang kami uji adalah buatan Thailand. Kami rasakan kualitas bahan dari bodi D5100 masih sama seperti Nikon lainnya yaitu kokoh, sambungannya rapat dan tidak ada kesan longgar / ringkih. Tidak banyak perbedaan ukuran yang berarti antara D3100 dengan D5100, keduanya sama-sama kecil dan ringan, gripnya terasa agak kekecilan untuk orang bertangan besar pada umumnya.  Kami menyukai lapisan karet di bagian grip dan tumpuan jempol kanan yang memberi kenyamanan ekstra saat menggenggam.

Desain D5100 sepintas mirip dengan DSLR Nikon lain bila dilihat dari depan, tapi begitu dilihat dari belakang barulah tampak sangat banyak perubahan tata letak tombol. Hal ini akibat engsel layar lipat yang kini berada di kiri, sehingga harus mengusir banyak tombol yang biasanya berderet di sebelah kiri. Jadilah tombol MENU dan INFO pindah ke bagian atas, sementara tombol PLAYBACK, ZOOM IN dan ZOOM OUT pindah ke bagian sisi kanan. Bagi yang biasa memakai kamera DSLR Nikon pasti akan merasa aneh saat pertama memakai D5100 karena banyaknya perubahan tata letak tombol. Nikon berupaya melakukan reposisi tombol dengan sisa ruang yang ada di sebelah kanan, kecuali tombol MENU yang perlu dipindah ke kiri atas. Kami pun perlu beradaptasi dengan migrasinya tombol-tombol tersebut. Sisi baiknya juga ada, kami jadi bisa mengoperasikan kamera dengan tangan kanan sementara tangan kiri cukup menggenggam lensanya saja.

Satu hal yang kami sukai dari bodi D5100 adalah layar LCD-nya. Selain ketajaman layar yang sangat baik (900 ribu piksel), kami juga suka desain lipatnya yang fleksibel, dan bisa diputar dengan posisi layar masuk ke dalam bodi untuk melindungi layar saat tidak dipakai. Untuk mengkomposisi gambar, sarana paling utama adalah melihat melalui jendela bidik optik, bila ingin lewat LCD harus menggeser tuas LV (live-view) yang akan dibahas kemudian. Jendela bidik D5100 termasuk biasa saja dengan coverage 95% dengan pembesaran 0.78x. Akan ada sedikit perbedaan framing coverage antara yang dilihat di jendela bidik dan foto aslinya.

Nikon D5100 punya dua sensor remote, satu di bagian depan dan satu di belakang (dekat tombol MENU).  Di bagian atas tampak ada tombol warna merah khusus untuk merekam video. Di sisi kiri ada pintu karet yang bila dibuka akan tampak beberapa port seperti untuk USB (dan multifungsi dengan kabel AV), HDMI, GPS dan mic eksternal. Di sebelah kanan ada pintu SD card yang terasa agak longgar meski saat kondisi tertutup. Di bagian bawah ada pintu untuk melepas baterai. Desain slot baterai sudah semakin baik dengan sistem pengaman sehingga bila tutup baterai dibuka, baterai tidak langsung meluncur lepas dari kamera.

Fitur dan menu

Meski kamera D5100 termasuk dalam golongan kamera pemula namun sudah dibekali dengan fitur yang cukup lengkap. Agak berbeda dengan D3100 yang fiturnya cukup basic, maka pada D5100 beberapa setting yang lebih canggih disertakan juga seperti HDR mode, 14 bit RAW, bracketing, berbagai level Active D-Lighting dan berbagai Effect mode. D5100 juga punya sensor yang lebih tinggi resolusinya (16 MP vs 14 MP), ISO maksimum yang lebih tinggi (6400 vs 3200), burst lebih cepat (4 fps vs 3 fps) dan punya layar LCD yang tajam (900 ribu piksel vs 230 ribu) serta bisa dilipat. Tapi D5100 dan D3100 sama dalam hal modul metering, modul AF dan sama-sama tidak dibekali motor fokus (jadi untuk bisa auto fokus harus pakai lensa Nikon berkode AF-S).

Pada shooting mode selain ada mode standar Auto, P, A, S, M dan Scene Mode, terdapat juga mode Effect yang menarik, meski belum tentu dibutuhkan. Pilihan efek yang ada diantaranya Miniature effect, Night Vision, Low Key, High Key, Sketch, Siluet dan Color swap. Justru fitur yang kami suka di D5100 adalah HDR shooting yang bisa mengambil dua foto dengan berbeda eksposur lalu menggabungkan keduanya dan menghasilkan satu gambar dengan rentang dinamis yang lebih lebar.

Menu di D5100 pun agak berbeda dengan D3100. Menu di D5100 lebih menyamai kamera kelas diatasnya seperti D90 atau D7000 dengan ciri punya berbagai Custom setting yang kompleks dengan kode huruf dan warna. Pada D3100 tidak ada Custom setting karena semua pengaturan dilebur di Shooting menu.

Soal kemampuan rekam video D5100 ini sudah sangat baik dengan full HD movie , berbagai pilihanframe rate,  mode AF-F (fokus kontinu) dan mic eksternal (sayangnya built-in mic masih mono). Tidak ada kemampuan manual eksposur pada D5100 saat merekam video, kita perlu menentukan dulu bukaan dan ISO yang diinginkan sebelum mulai merekam. Kabar baiknya, kita bisa mengatur level sensitivitas microphone bahkan bisa diset ke-off.

Kamera generasi baru seperti D5100 memang sudah bisa mengatur Picture Control untuk hasil JPG yang bervariasi. Dengan begitu maka kita tidak perlu mengolah foto satu persatu di komputer untuk mendapat kontras atau saturasi yang lebih tinggi atau lebih rendah. Terdapat berbagai style yang sudah diatur dari pabrik seperti Standard, Neutral, Vivid dan sebagainya. Bila mau, setiap style bisa diatur lagi parameternya seperti ketajaman, kontras, kecerahan, saturasi dan tone (hue) warna. Dengan demikian maka setiap pemilik kamera D5100 bisa menyimpan style yang berbeda sesuai selera.

Fitur bracketing berguna untuk mengambil tiga gambar yang berbeda setting, biasanya perbedaan terang gelap atau eksposur (AE). Tapi di D5100 fitur ini diperluas menjadi ada beberapa pilihan bracketing yaitu AE, WB dan ADL bracketing. Fitur bracketing ini tidak ditemui di D3100, sementara pada D90 atau yang lebih canggih, fitur ini bisa diakses dengan menekan tombol BKT.

Operasi

Bagaimanapun juga kamera D5100 bukan tergolong kamera kelas menengah. Jadi jangan bayangkan ada tombol khusus misalnya untuk mengganti WB, ISO atau AF mode. Untuk itu perlu menggantinya dengan masuk ke MENU. Untungnya Nikon menyediakan jalan pintas untuk mengganti berbagai setting penting dengan menekan tombol INFO di bagian belakang (tombol ini disimbolkan dengan <i>). Tekan sekali tombol <i> maka di layar akan muncul informasi penting seperti mode apa yang sedang dipakai, berapa shutter-aperture-ISO yang dipilih dan berbagai info penting lainnya (lihat contoh gambar di atas). Untuk mengganti setting disana cukup tekan <i> sekali lagi.

Terdapat berbagai Release mode di D5100, misalnya single frame (S), continuousself timer dan Quiet shutter. Tidak seperti di D3100, opsi Release mode di D5100 harus dicari via MENU. Quiet shutter sendiri akan meredam suara cermin sehingga tidak terlalu terdengar keras.

Hasil foto bisa dilihat dengan menekan tombol playback berwarna biru. Foto yang ditampilkan di layar bisa dibuat full foto atau disertai data teknis pemotretan seperti gambar diatas.

Kinerja

Sebagai kamera DSLR pemula, kami tidak berharap kinerja tinggi dari D5100 ini. Maka begitulah, meski jauh lebih responsif dari kamera non DSLR, D5100 ini masih tergolong biasa saja dalam urusan kinerja. Misalnya shutter speed maksimal ‘hanya’ 1/4000 detik dan flash sync speed hanya 1/200 detik. Untuk urusan burst atau continuous shooting kamera ini hanya sekitar 4 fps saja, tapi toh hanya terpaut sedikit dengan D90 yang bisa 4,5 fps. Lalu dalam hal start upshutter lagshot to shot kamera ini tidak ada komplain apapun, bekerja sesuai harapan. Kabar baiknya, Nikon sudah memakai engine Expeed generasi 2 untuk D5100 yang lebih bertenaga. Terbukti saat mode Active D-Lighting diaktifkan, kamera tidak perlu waktu tambahan untuk memproses foto yang baru diambilnya. Hal ini berbeda dengan kamera generasi sebelumnya yang kalau ADL diaktifkan maka setiap memotret kamera seperti kedodoran untuk memproses ADL pada foto, yang prosesnya sekitar setengah sampai satu detik.

Kemampuan auto fokus D5100 sangat baik, dengan fleksibilitas tinggi berkat 11 titik AF (meski hanya titik tengah yang cross type) dan titik fokusnya bisa dipilih secara manual atau otomatis. Soal servo fokus, D5100 juga bisa mengikuti obyek yang bergerak (dynamic area) dan bahkan bisa mengenali obyek dari warnanya sehingga bisa terus mengikuti gerakan si obyek dan tetap menjaga fokus terbaiknya, meski obyek ini bergerak ke kiri kanan atau ke depan belakang, berkat adanya fitur 3D tracking AF.

Pada bagian atas kamera terdapat satu tuas untuk mengaktifkan mode live-view. Berbeda seperti tuas live-view di D3100 dan D7000 yang berada di bagian belakang kamera, tuas di D5100 ini berada di samping kanan mode dial. Jadi bila ingin memotret dengan melihat preview gambar di layar LCD, geser dulu tuas live-view ini sesuai arah panah, dan bila ingin merekam video barulah tombol warna merah ditekan. Kinerja kamera saat berada di mode live-view tergolong baik, meski untuk auto fokusnya harus beralih dari deteksi fasa (11 titik) ke deteksi kontras. Memang auto fokus saat live-view lebih lambat, tapi kami rasakan dibanding DSLR lain maka D5100 ini cukup cepat dalam mengunci fokus. Keuntungan lain dengan live-view adalah bisa mendeteksi wajah, serta di layar bisa ditampilkan pembesaran dari area tengah bidang yang difoto, berguna buat memotret makro atau saat manual fokus. Pada mode video AF-F, auto fokusnya sudah bisa melakukan continuous focus, artinya kamera akan selalu berusaha mendapat fokus meski obyeknya bergerak. Yang namanya berusaha, kadang berhasil dan kadang gagal. Jadi tetap saja fitur AF-F di mode video ini belum memuaskan. Live-view sendiri mempunyai timer sehingga setelah beberapa menit dia akan mati guna menghemat baterai dan mencegah sensor kepanasan.

Gambar di atas menunjukkan apa yang akan tampil di layar LCD saat masuk ke mode live-view. Secara umum tampilan di layar cukup jelas, cerah dan natural dengan berbagai indikator memeriahkan tampilan layar. Bila indikator ini mengganggu, cukup tekan tombol INFO dan layar akan jadi bersih dari berbagai kode dan angka. Tekan INFO sekali lagi akan memunculkan grid untuk membantu komposisi. Sayangnya tidak ada tampilan live histogram saat live-view di D5100.

Kinerja White Balance di D5100 termasuk akurat untuk Auto WB dan berbagai preset yang ada. Bila tone yang didapat dari pilihan WB kurang sesuai selera kita, bisa juga melakukan pengaturan lanjutan dengan menggeser tone warna di sumbu Amber-Blue atau Green-Magenta sehingga semua spektrum warna (RGB atau CMY) bisa dicapai. Sayangnya kita tidak bisa langsung memasukkan temperatur warna dalam satuan Kelvin seperti kamera lain yang kelasnya lebih canggih.

Sensor dan Hasil foto

Sensor CMOS 16 MP adalah nilai jual utama dari D5100. Kenapa? Karena sensor ini sama persis dengan yang dipakai di kamera D7000 yang terkenal paling bagus hasil fotonya, bahkan pada saat ISO tinggi. Alasan dibalik itu adalah dipakainya teknologi prossor Expeed2 14 bit yang membuat mampu merekam dynamic range lebih lebar dibanding prosesor 12 bit seperti D3100 misalnya. Bila 16 MP dirasa terlalu tinggi, tersedia pilihan 9 MP atau 4 MP di pengaturan Image Size pada MENU.

Seperti kamera lain pada umumnya, untuk menghindari menempelnya debu di sensor, di MENU sudah tersedia fitur sensor cleaning. Ada beberapa opsi pembersihan sensor pilihan seperti gambar diatas, dan proses bersih-bersih ini (yang menggetarkan sensor untuk merontokkan debu) memakan waktu 1 sampai 2 detik.

Kombinasi antara sensor dengan engine 14 bit, mode HDR aktif dan Active D-Lighting bisa menghasilkan foto dengan dynamic range yang lebih baik dari biasanya. Kami mencoba memotret sebuah kondisi umum yang pasti akan sulit untuk mendapat dynamic range yang lengkap dengan cara biasa :

Foto diatas tampak gelap di bagian kursi dan dinding, karena metering kamera berusaha menjaga detil di area terang  (jendela) sehingga area lainnya menjadi gelap. Bila pun kompensasi eksposur dinaikkan maka yang terjadi detil di area terang akan hilang (washout). Maka guna mendapat gambar yang lebih menyerupai mata kita melihat aslinya, kami mencoba gunakan mode HDR dengan masih ditambahActive D-Lighting ke posisi Extra High, maka hasilnya bisa menjadi seperti ini :

Tampak lebih lumayan kan? Detil di jendela dan di kursi serta di dinding didapat dengan berimbang. Lalu kami juga melakukan tes memotret dengan berbagai nilai ISO dan sengaja mengandalkan cahaya seadanya untuk melihat kinerja ISO D5100 dan seberapa parah noisenya di ISO tinggi. Pengujian dilakukan dengan sumber cahaya lingkungan, tanpa flash, resolusi 16 MP, JPEG Fine, WB preset, ADL off dan Noise reduction OFF (kecuali untuk foto terakhir). Inilah obyek yang menjadi bahan pengujian noise test kami :

iso-test-image

Lalu hasilnya bisa dilihat untuk tiap kenaikan ISO dari ISO 800 (kami tidak menguji ISO 100 sampai 400 karena hasil fotonya sama bersihnya), ISO 1600, ISO 3200, ISO 6400 (ISO normal tertinggi), ISO Hi-1 (setara ISO 12800) dan ISO Hi-2 (setara ISO 25600). Untuk ISO Hi-2 kami lakukan dua pengujian, yaitu satu tanpa noise reduction dan keduanya dengan noise reduction di kamera diaktifkan ke posisi High.

Nah, dari hasil crop diatas tampak jelas kalau sensor D5100 memang dahsyat. Paling tidak, sampai ISO 1600 dan cukup cahaya bisa didapat hasil foto yang masih rendah noise. Pada ISO 3200 barulah noise tampak mulai mengganggu, tapi masih cukup layak untuk dilihat. Pada ISO maksimal 6400 noise yang muncul bisa dibilang setara dengan ISO 400 pada kamera saku, dimana detil foto tampak menurun dan noise terlihat lebih berwarna-warni (chroma noise). ISO Hi-1 dan Hi-2 disediakan untuk kebutuhan marketing saja, supaya terdengar keren. Kenyataannya, ISO setinggi ini tidak cocok diberikan pada kamera DSLR dengan sensor APS-C. Upaya mengurangi noise di kamera (atau di komputer) memang berhasil mengurangi chroma noise namun secara bersamaan juga mengurangi detail yang ada pada gambar.

Fitur Effect mode pun beberapa diantaranya menurut kami bakal berguna suatu saat, seperti misalnya memilih satu warna dan lainnya dibuat monokrom tidak lagi dilakukan di komputer, melainkan bisa diatur sebelum memotret. Dengan memilih menjaga warna merah, maka kita bisa membuat warna selain merah jadi monokrom seperti foto berikut ini :

Kesimpulan

Kesimpulannya D5100 memang unggul dalam urusan sensor CMOS-nya, khususnya saat berhadapan dengan kontras tinggi atau saat memakai ISO tinggi. Kombinasi antara Expeed2 14 bit, fitur HDR dan Active D-Lighting akan banyak membantu menyelamatkan detil di area terang sekaligus area gelap. ISO 6400 yang notabene adalah ISO maksimal normal pun masih layak dipakai, plus bonus ada ISO ekspansi sampai ISO 25600 bila terpaksa (dan ada juga effect Night Vision yang bisa memotret di kondisi sangat minim cahaya, tapi hasilnya hitam putih). Efek lainnya pun menarik seperti efek miniatur (toy camera) atau selective color. Kami juga suka dengan layar LCD lipatnya yang tajam dan memudahkan saat memotret atau merekam video dalam berbagai angle. Hasil foto yang bagus dengan fitur lengkap ini toh tidak harus menjadikan kamera ini besar dan berat. D5100 tetap mungil, ringan dan sepintas mirip dengan D3100 yang sama-sama kamera pemula.

Lalu apa komprominya? Sebagai kamera seharga 7 juta, agak sayang memang kalau D5100 ini cuma dianggap kamera pemula yang mungkin akan dipandang sebelah mata oleh sebagian orang. Apalagi di harga 8,4 juta ada Canon EOS 60D kit sebagai pesaing terdekat sederet fitur semi pro, atau di harga 6,5 juta ada Canon EOS 600D kit yang bisa mengganggu penjualan Nikon D5100. Andaikata D5100 punya beberapa tombol akses langsung ke WB, ISO atau AF mode, tentu lebih menyenangkan. Lalu limitasi pilihan lensa yang bisa auto fokus tetap menjadi pengalaman yang tidak enak bagi pemakai D5100 (banyak lensa Nikon lama seperti lensa AF atau AF-D yang bagus dan murah di pasaran, baru atau bekas, kalau dipasang di D5100 hanya bisa manual fokus). Nikon juga belum membolehkan pemakai D5100 untuk mengatur flash eksternal secara wireless (padahal Canon EOS 600D bisa) dan belum bisa memilih nilai Kelvin dari White Balance secara manual (meski preset WB dan color shift di pengaturan WB cukup canggih). Terakhir, Nikon semestinya memberikan kebebasan pemakai D5100 untuk mengatur shutter dan aperture saat merekam video, mengingat fitur video di D5100 sudah sangat baik (bila ditinjau dari resolusi video, mode fokus kontinu AF-F dan pengaturan audionya).

Bila anda menyukai review ini dan ingin membantu kami untuk menghidupi situs ini, anda bisa melakukan donasi atau membeli kamera melalui kami. Caranya bisa dilihat disini.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

X-Pro1, Kamera mirrorless pertama dari Fuji

Seakan belum puas dengan mengumumkan sekaligus 30 kamera baru beberapa hari lalu, Fujifilm kini membuat kejutan lagi dengan meluncurkan kamera mirrorless pertama mereka, sekaligus kamera saku profesional berdesain retro yang bernama Fuji X-Pro1. Sensor yang dipilih Fuji tidaklah sekecil Nikon One ataupun Micro Four Thirds, tapi sensor APS-C yang lebih dahulu sudah dipilih oleh Sony NEX dan Samsung NX. Fuji menamai mount mereka dengan nama X-mount dan beberapa lensa sudah disiapkan untuk dipilih.

Kamera made in Japan yang kemungkinana akan dijual seharga 16 juta body only ini berbalut magnesium alloy dengan roda pengatur shutter speed layaknya kamera film manual. Bila kamera mirrorless lain hanya punya jendela bidik elektronik, maka Fuji X-Pro1 punya jendela bidik hybrid yaitu bisa optikal maupun elektronik, hanya dengan memindahkan tuas di bagian depan kamera. Jendela bidik optiknya punya cakupan 90%, bila ingin mendapat cakupan 100% maka pindahkan saja ke jendela bidik elektronik yang tajam dengan 1,44 juta titik.  Kamera yang mampu memotret hingga 6 foto per detik ini juga punya rentang ISO 200-6400, seperti DSLR pada umumnya. Fitur lainnya tergolong standar untuk ukuran kamera tahun 2012 seperti 24 fps full HD movie dengan kompresi H.264, berbagai mode bracketing, flash hot shoe dan mode simulasi film untuk hasil bervariasi.

xpro1_with_lenses

Tersedia tiga lensa Fujinon XF sebagai pilihan paketnya dan uniknya ketiganya adalah lensa fix, yaitu fix wide 18mm f/2.0 (setara 27mm), fix normal 35mm f/1.4 (setara 52mm) dan fix potret dan makro 60mm f/2.4 (setara 90mm). Lensa zoomnya akan menyusul di tahun ini juga, yang semestinya adalah lensa 18-55mm.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Nikon umumkan kehadiran DSLR D4 dan lensa AF-S 85mm f/1.8

Hari ini Nikon mengumumkan kehadiran dua produk baru mereka yaitu kamera DSLR flagship profesional format FX Nikon D4 dengan sensor 16.6 MP full frame dan lensa fix medium potret AF-S 85mm f/1.8 G (penerus AF-D 85mm f/1.8). Kamera Nikon D4 lebih menonjolkan kemampuan videonya, karena fitur fotografinya sudah sangat baik bahkan pada seri sebelumnya. Shutter D4 sudah teruji sanggup dipakai sampai 400 ribu kali memotret.

d4

Berikut fitur utama dari Nikon D4 :

  • sensor CMOS Full frame 16 MP
  • kemampuan burst 10fps dengan AF
  • modul metering, white balance, flash exposure, face detection dan active d-lighting dengan 91.000 piksel
  • ISO 100-12,800 (bisa diperlebar sampai 50 – 204,800)
  • modul auto fokus MultiCAM 3500FX dengan 51 titik (15 diantaranya cross type)
  • dua joystick dan tombol rana untuk memotret vertikal dan horizontal
  • MPEG-4, H.264 1080p 30 HD video dengan bitrate hingga 24Mbps
  • baterai baru EN-EL18 (21.6Wh sanggup sampai 2600 jepret sekali isi)
  • dua slot memori, satu CD dan satu lagi XQD
  • prosesor Expeed 3

d4rear

Lensa AF-S 85mm f/1.8 G

85mmf18

Nikon juga mengumumkan kehadiran penerus lensa AF 85mm f/1.8D yang tidak memiliki motor fokus dengan produk baru yaitu AF-S 85mm f/1.8 G yang tidak lagi memiliki ring diafragma manual. Lensa baru ini akan disukai oleh pecinta potret studio yang memiliki anggaran terbatas, namun bia mendapat hasil foto yang maksimal. Lensa ini akan dijual dibawah 5 juta rupiah.

Berminat?

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..