Nikon D7200 : DSLR Nikon DX dengan fitur terlengkap

Akhirnya hadir juga penerus dari Nikon D7100 yang bernama Nikon D7200. Kehadiran produk ini lebih seperti menyempurnakan secara minor hal-hal yang masih terasa kurang di D7100 khususnya di kapasitas buffer, juga menambah fitur WiFi dan NFC. Hal-hal seperti tampilan fisik bodi, jenis dan resolusi sensor dan kinerja dasar relatif masih sama. Nikon D7200 memang bukan untuk menggantikan posisi D300s di posisi top kamera DX, tapi karena D400 belum juga muncul, bolehlah kami bilang D7200 adalah kamera DX terlengkap yang Nikon punya untuk saat ini.

nikon-d7200

Nikon D7200 adalah pilihan tepat bagi mereka yang semi-pro, atau yang serius dalam hobi fotografi, khususnya bila pilihan kamera DX lain seperti D3300 dan D5500 dirasa masih kurang mantap. Dengan harga sekira 13 jutaan bodi saja, D7200 memang berada di segmen menengah dan harganya sedikit lebih rendah dari kamera FX termurah yaitu Nikon D600. Ciri D7200 sebagai kamera semi pro mudah dikenali, seperti bodi yang lebih besar dan kokoh, ada dua roda kendali, ada layar LCD kecil tambahan, hingga pakai dua slot kartu memori. Dibanding D5500 atau D3300, perbedaan D7200 juga punya motor fokus di bodi, siapa tahu anda mau pasang lensa Nikon lama dan ingin tetap bisa auto fokus.

Spek dasar Nikon D7200 :

  • 24.2MP DX-Format CMOS Sensor, tanpa low pass
  • EXPEED 4 Image Processor
  • 3.2″ 1,229k-Dot LCD Monitor
  • Full HD 1080p Video Recording at 60 fps
  • Multi-CAM 3500 II DX 51-Point AF Sensor
  • Native ISO 25600, B&W to ISO 102400
  • 6 fps Shooting for Up to 100 Frames
  • Built-In Wi-Fi Connectivity with NFC
  • In-Camera Time Lapse, Up to 9,999 Frames

Sensor D7200 sepintas masih sama dengan D7100 yaitu CMOS 24 MP tanpa low pass filter, tapi sensor ini buatan Sony (bukan Toshiba) sehingga diyakini hasil fotonya lebih bagus. Selain itu peningkatan buffer di D7200 memungkinkan kamera ini bisa memotret kontinu 27 file RAW (sebelumnya hanya 7 RAW), walau kecepatan tembaknya masih sama yaitu 6 fps. Modul AF 51 titik disempurnakan, kini D7200 bisa auto fokus di lokasi yang gelap  hingga -3 Ev. Pada pengaturan Picture Control kini tersedia opsi Flat yang lebih menurunkan ketajaman, saturasi dan kontras. Peningkatan di fitur video dirasakan dengan adanya 60 fps untuk 1080p, dan ada colokan headphone juga. Kali ini pertama kalinya di kamera DX disediakan fasilitas membuat video timelapse otomatis. Bicara soal slot memori, selain untuk overflow dan backup, kini juga bisa satu slot difungsikan untuk menampung foto dan slot lainnya untuk video. Kinerja baterai juga lebih baik mungkin demi mendukung kemampuan WiFi kamera ini. Sayangnya tidak ditemui fasilitas layar sentuh seperti di Nikon D5500, sesuatu hal yang agak aneh mengingat saat ini layar sentuh sudah jadi hal umum dimanapun.

d7200_back

Bagi yang sudah punya D7000/D7100, upgrade ke D7200 sepertinya tidak terlalu mendesak. Berbeda dengan pemakai D300-D5000 series (DSLR pemula Nikon) yang bila ingin ganti bodi ke yang lebih serius, maka D7200 layak ditunggu untuk menjadi pilihan mendatang.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Nikon D7100 hadir, percaya diri tanpa low-pass filter

Hari ini Nikon resmi meluncurkan kamera DSLR D7100, regenerasi dari produk sebelumnya D7000. Beberapa hari sebelumnya di internet sudah beredar rumor lengkap dengan spek dan gambarnya, yang mengindikasikan kalau rumor tersebut  99,99% pasti terbukti. Kita tahu kalau D7000 adalah kamera DSLR Nikon yang sangat populer dan tidak ada hal negatif yang fatal darinya, sehingga orang tidak terlalu penasaran dengan apapun kamera yang hadir setelahnya. Tapi tetap saja kepastian hadirnya D7100 banyak dinantikan para fotografer, karena mereka ingin memastikan apakah Nikon akan melebur segmen consumer dan segmen semi-pro pada D7100. Dan hadirnya D7100 hari ini seperti menegaskan kalau Nikon memang sudah bertekad tidak akan membuat penerus dari D300s di segmen semi-pro.

d7100

Nikon D7100 memang ditujukan untuk mengisi dua segmen sekaligus, menjadi produk kelas menengah yang relatif terjangkau, sekaligus menjadi produk semi-pro yang cepat, sarat fitur dan bodi kokoh. Jadi dengan dimensi yang relatif sama seperti D7000, kamera ini justru punya jeroan yang lebih mumpuni seperti 51 titik AF dan kecepatan tembak 6 fps dalam resolusi 24 MP. D7100 seakan ingin dijadikan top class-nya kamera DX, sedangkan bagi yang dananya lebih dipersilahkan meminang low class-nya kamera FX yaitu D600.

d7100-b

Uniknya di D7100 kali ini adalah Nikon tidak menyematkan filter low-pass pada sensor. Hal ini persis sama pada kamera Nikon D800E yang dibuat khusus untuk pecinta landscape. Di D7100 tidak ada pembagian versi, artinya semua kamera D7100 pasti tanpa low-pass filter. Sekedar info bahwa filter ini dibuat awalnya untuk mengurangi moire yang muncul pada foto, tapi sebagai resikonya foto jadi tidak terlalu tajam. Dengan menghilangkan fiter ini (biasa disebut juga filter anti aliasing) maka ketajaman naik tapi resiko moire akan muncul saat bertemu obyek dengan pola garis rapat seperti pada kain.

Jadi lengkaplah sudah trinity Nikon DX saat ini, dengan sensor 24 MP semuanya : D3200 (basic DSLR), D5200 (basic DSLR dengan layar lipat) dan D7100 (DSLR menengah). Kenapa kami menempatkan D3200 dan D5200 dalam kelas basic? Karena keduanya relatif sama dalam banyak hal, seperti logical tombol dan menu, bodi, prisma, roda dial, tanpa LCD kecil di bagian atas hingga ketiadaan motor AF di bodi. Hanya saja D5200 punya jeroan yang lebih modern seperti titik fokus dan metering. Tapi kita kan tidak sedang membahas D5200, maka kita kembali bahas D7100 ya..

Peningkatan utama

Sensor

sensor

APS-C CMOS 24 MP tanpa low pass filter. Ketajaman ekstra ini akan diapresiasi oleh pecinta landscape.

Bodi

d7100-seal

Bagian depan polycarbonate, bagian atas dan belakang adalah logam (magnesium alloy), weather sealed yang aman dipakai saat hujan atau debu. Disukai para petualang atau wartawan.

Titik Fokus

viewfinderdisplay

Modul AF sudah memakai 51 titik fokus, dengan 15 cross type. Modul di D7000 dengan 39 titik AF sudah diwariskan ke D5200. Dengan titik sebanyak ini akan berguna untuk melacak benda bergerak supaya tetap fokus. Disukai para fotografer sport atau satwa liar.

Kecepatan tembak

Untuk continuous shooting bisa mencapai 6 fps dalam resolusi 24 MP, bisa jadi 7 fps dalam crop mode 15 MP (dibahas nanti). Meski kecepatan 6  hingga 7 fps di era sekarang relatif biasa tapi tetap saja kamera ini sudah tergolong pekerja cepat.

Crop mode

Bila tadinya hanya kamera FX Nikon yang ada crop mode, kini kamera DX juga bisa merasakan crop mode. Untungnya sensor D7100 sudah 24 MP sehingga di crop mode masih menghasilkan file dengan resolusi 15 MP (hampir sama dengan resolusi sensor D7000). Bisa jadi inilah alasan orang membeli D7100 dibanding D5200 atau D3200 walau ketiganya punya sensor yang sama-sama 24 MP. Dengan crop mode, kamera hanya mengambil sebagian area sensor (yang tengah) sehingga hasil fotonya seolah-olah di crop. Fokal efektif  akan terkoreksi 1,3x sehingga membantu bila jangkauan tele lensa kita kurang jauh. Misal lensa kita adalah 200mm, karena crop factor sensor APS-C adalah 1,5x jadi fokal lensa setara dengan 300mm. Bila memilih crop mode, maka lensa kita akan setara dengan 390mm (hampir 2x), sangat lumayan kan..

Keuntungan lain crop mode ini adalah kecepatan tembak meningkat jadi 7 fps (masuk akal karena resolusi foto lebih kecil, sehingga kamera punya waktu lebih cepat untuk memproses data). Keuntungan lain adalah titik AF sebanyak 51 titik itu akan menjadi tersebar hingga ke tepi area foto, sangat berguna bila kita sedang melacak obyek yang bergerak tidak beraturan. Crop mode ini juga bisa dimanfaatkan saat merekam video, sehingga bisa memilih opsi 60 fps untuk video yang lebih mulus.

Perubahan eksternal

Sepintas tidak terlalu tampak perbedaan antara D7000 dan D7100. Tapi bila diperhatikan lagi Nikon melakukan perubahan cukup banyak dalam tata letak tombol dan desain, mengikuti tren DSLR Nikon era saat ini seperti D600 dan D5200. Yang paling terlihat berbeda adalah tombol live view, lalu LCD yang agak lebih besar dan bodi yang lebih mengkilap karena unsur logam.

Semua hal baik di D7000 tetap dipertahankan disini. Dual slot memori, wireless flash, viewfinder yang lega dan tentunya adalah ergonomi yang tepat. Tak diragukan D7100 akan kembali meraih sukses, paling tidak dia bisa merengkuh multi segmen market :

  • penghobi fotografi yang tak mau sekedar kamera pemula
  • amatir serius yang mencari kamera menengah
  • fotografer semi pro yang mencari kamera tangguh dan cepat
  • pecinta landscape yang perlu hasil foto tajam dan resolusi tinggi
  • videografer yang mengandalkan DSLR untuk membuat video kelas pro
  • fotografer senior yang sudah punya banyak lensa Nikon jadul

Untuk harga pasaran estimasi adalah 12 jutaan bodi only, masih relatif wajar untuk fitur yang ditawarkan. Head to head dengan kompetitor rasanya lebih tepat melawan Canon EOS 7D dan mungkin 7D mark II nanti bila jadi keluar. Seperti biasa, kita tunggu saja reaksi Canon..

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Canon kejar Nikon di kelas budget Full Frame dengan EOS 6D

Perang DSLR Full Frame ‘murah’ telah dimulai. Bandrol harga yang diumumkan Nikon D600 di angka 21 juta rupiah, juga dipakai oleh Canon saat merilis EOS 6D sebagai kamera DSLR Full Frame untuk semua kalangan. Kamera EOS 6D diumumkan hanya 4 hari setelah Nikon mengumumkan D600 sebagai kamera DSLR Full Frame terkecil, dan kini EOS 6D (770 gram) bisa dibuat lebih kecil dan ringan dari D600 (850 gram). Kita simak yuk kamera yang akan jadi impian para penghobi fotografi ini. O ya, jangan bingung dengan penamaan Canon seperti EOS 5D, 6D atau 7D yang tidak berurutan produksinya, karena dari dulu Canon memang biasa membuat bingung :)

6da

Canon EOS 6D boleh dibilang adalah versi simpel dari EOS 5D mark III (beberapa fitur sama, tapi beberapa lagi dikurangi). Persis sama seperti yang terjadi pada kisah Nikon D600 dengan D800. Tujuannya jelas, untuk menekan harganya. Tapi sebenarnya fitur dan spesifikasi EOS 6D sudah cukup mengesankan, seperti :

  • sensor Full Frame 20 MP
  • prosesor Digic 5+
  • ISO normal 100-25600 (masih bisa diekspansi lho)
  • 4,5 fps burst
  • 11 titik AF (cuma 1 di tengah yang cross type)
  • fitur video lengkap, all-I frame
  • bonus WiFi dan GPS tanpa modul tambahan

6db

EOS 6D bodinya juga termasuk mantap dalam hal ergonomi dan tata letak tombol, minus joystick yang ditemui di 5D mark III atau tombol M-Fn di EOS 7D. Desain umum sepintas mirip dengan EOS 60D meski layarnya tidak bisa dilipat. EOS 6D ini bodinya berbalut magnesium alloy namun bagian atasnya plastik (untuk sinyal Wifi dan GPS bisa menembus casing). Tidak seperti Nikon D600, hanya ada satu slot memori SD di kamera ini. Seperti kamera full frame lainnya, tidak ada flash di 6D, anda perlu membeli speedlite eksternal untuk memakai flash. Tanpa flash built-in, tidak ada juga AF assist dengan  cahaya flash strobe. Satu hal lagi, lensa EF-S tidak bisa digunakan di EOS 6D, ataupun kamera DSLR Canon full frame lainnya.

Singkatnya, kamera ini memang sudah sarat fitur dan menjanjikan hasil foto yang bagus, tapi tidak ada sesuatu yang istimewa dalam spesifikasinya. Canon sepertinya ingin agak konservatif kali ini, khususnya dalam menjaga penjualan kamera kelas atasnya yaitu 5D mark III.

Lalu untuk siapa kamera ini (dan Nikon D600)? Menurut analisa dari Enche Tjin di tulisan ini, Canon dan Nikon perlahan akan menggiring fansnya untuk beralih dari APS-C ke Full Frame. DSLR APS-C mahal seperti EOS 7D hasil fotonya sudah maksimal, maka kemungkinan tidak lagi ada penerusnya. DSLR Canon di masa mendatang mungkin hanya ada dua : APS-C (Rebel series/pemula) dan full frame (tiga level : basic – mid – high).

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Nikon D3200 diluncurkan, tinjau fitur dan bedanya dengan D3100 dan D5100

Seperti yang sudah diprediksi, bulan ini (tepatnya hari ini) Nikon akhirnya merilis kamera DSLR terbaru di segmen pemula yaitu D3200. Kamera penerus D3100 ini mendapat beberapa peningkatan fitur, tapi Nikon perlu berhati-hati karena di kelas pemula yang lebih tinggi ada D5100. Di atas kertas D3200 tidak boleh memiliki fitur yang mengalahkan D5100 karena segmentasi Nikon akan menjadi rancu. Tapi faktanya apakah benar demikian?

Wow factor di D3200 : resolusi sensor

Tiap ada kamera baru, orang hanya berpikir ‘apa yang wow dari kamera ini?’ Nah, di D3200 ‘wow’ factor yang ditawarkan Nikon adalah sensor resolusi tertinggi dalam sejarah DSLR Nikon DX yaitu 24 megapiksel. Sensor yang diyakini dibuat oleh Sony untuk Sony SLT A77 ini memang mengalahkan resolusi semua DSLR Nikon kecuali D800 (full frame, 36 MP). Artinya, kamera pemula ini bisa mengambil foto dengan ukuran piksel maksimum 6000 x 4000 piksel yang bisa dicetak besar hingga 200 x 140 cm pada 72 ppi.

Kesamaan antara D3100, D3200 dan D5100

nikon-d3200

Simpel : ketiganya sama-sama DSLR untuk pemula. Cirinya bodi berbahan plastik, ukuran kecil dan ringan. Ketiganya tidak punya motor fokus di dalam bodi. Artinya, lensa Nikon lama (kode AF atau AF-D) hanya bisa manual fokus di ketiga kamera ini. Kesamaan lain dari ketiganya adalah :

  • sama-sama 11 titik AF
  • sama-sama 420 piksel RGB metering
  • viewfinder sama-sama 95% pentamirror
  • bisa live view
  • bisa video full HD
  • memakai tipe baterai yang sama
  • tidak bisa menjadi wireless flash commander

Perbadaan D3200 dan D3100

Paling utama adalah di sensor. D3100 pakai sensor 14 MP sedangkan D3200 memakai sensor 24 MP. D3200 memberi peningkatan fitur lain dibanding sang kakak seperti :

  • lebih cepat, kini dengan 4 fps (dulu 3 fps)
  • ISO maksimum kini ISO 6400 (dulu ISO 3200)
  • layar LCD kini 900 ribu piksel (dulu 230 ribu)
  • video HD kini bisa 1080p 30 fps (dulu 24 fps)
  • kini memakai prosesor Expeed 3
  • kini ada stereo headphone jack
  • kini ada port Wifi
  • kini ada sensor remote di depan dan belakang

d3200_top

Tapi sayangnya, ada juga hal baik yang dihilangkan dari D3100, yaitu tuas drive mode disamping mode dial. Dulu tuas di D3100 berfungsi untuk mengganti mode shooting dari single shoot, continuous, hingga quiet shutter. Kini semua itu harus diakses dari tombol di bagian bawah. Lalu untuk mengaktifkan live view kini juga berganti memakai tombol, bukan lagi tuas yang digeser.

d3200_back

Nikon D3200 dan D3100 sama-sama tidak bisa bracketing. Lalu keduanya sama-sama tidak punya dua tombol reset warna hijau.

Perbedaan D3200 dan D5100

Ini yang sulit. Kami menilai D3200 dalam banyak hal menyamai desain D5100 (kecuali layar LCD lipat). Sepintas dari depan atau tampak atas, D3200 dan D5100 tampak mirip, apalagi aksen warna merah di bagian depan terlihat sangat mirip. Selain itu, D3200 juga menyamai kecepatan tembak D5100 yaitu 4 fps. Dalam hal ISO, keduanya juga sama dengan maksimum ISO 6400. Layar LCD keduanya juga sama tajamnya.

Lalu apa yang membuat D5100 masih lebih unggul?

  • layar LCD lipat
  • bisa bracketing (termasuk WB bracketing)
  • ada fitur HDR di dalam kamera
  • 14 bit RAW
  • step ISO lebih banyak (ada Hi-0,3 Hi-0,7)
  • bisa memilih step 1/2 Ev untuk kompensasi eksposur
  • mungkin D3200 tidak bisa mengatur berbagai level Active D-Lighting

Tapi yang unik, ada juga hal-hal yang justru lebih unggul di D3200 seperti :

  • resolusi sensornya (24 MP vs 16 MP)
  • rekam video kini bisa langsung tekan tombol video (warna merah)
  • D3200 bisa rekam video 1080p 25 fps dan 720p 60 fps
  • microphone sensitivity pada D3200 bisa diatur
  • bisa Wifi (meski bukan built-in)

Jadi untuk siapa D3200 ini?

Mudah saja. Untuk siapa saja yang ingin kamera DSLR murah, mudah dan fiturnya lengkap. Hasil foto belum bisa dinilai tapi sensor 24 MP mungkin akan agak noise di ISO tinggi, kita tunggu saja. Bila kelebihan di D5100 tidak dibutuhkan, lebih baik ambil D3200 karena banyak sekali kemiripan fitur. Tapi bila ingin kamera termurah, D3100 mungkin akan dijual lebih murah bulan-bulan mendatang (cuci gudang). Tapi buat yang suka layar LCD lipat atau perlu 14 bit RAW, maka D5100 lebih cocok. Atau mau menunggu kehadiran D5200 yang pasti bakal lebih seru lagi?

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Lumix TZ30, kamera saku dengan zoom terpanjang saat ini

Suatu hal yang dulu tidak terbayangkan adalah kamera saku yang punya lensa zoom yang amat panjang. Awalnya lensa pada kamera saku hanya bisa zoom dari wide 35mm hingga tele di 105mm alias 3x zoom saja, namun saat ini sudah banyak kamera dengan zoom mulai dari 24mm hingga ratusan mili dalam bentuk yang tetap kecil. Sebuah terobosan dilakukan Panasonic dengan meluncurkan kamera saku Lumix TZ30 (ZS20) dengan lensa Leica 20x zoom yang tercatat sebagai kamera saku dengan lensa zoom terpanjang saat ini.

lumix-tz30

Pertanyaan yang cukup menarik adalah apakah kita memang betul-betul memerlukan kamera saku dengan lensa zoom yang teramat panjang? Mungkin ada beberapa yang suka berkreasi dengan fokal lensa tele sehingga terobsesi untuk mencari kamera dengan lensa yang zoomnya panjang. Untuk mereka yang seperti itu boleh mencoba memiliki kamera mungil dengan fitur lengkap ini, yaitu Lumix TZ30 yang harganya sekitar 3 jutaan. Lensa yang dimilikinya sangat panjang untuk ukuran kamera saku, yaitu bermula dari 24mm dan berakhir di 480mm atau setara dengan 20x zoom optikal.

lumix-tz30top

Sebagai konsekuensi dari fokal lensa yang panjang ini, bukaan diafragma maksimum kamera TZ30 jadi mengecil dengan f/3.3 hingga f/6.4 sehingga untuk memakainya perlu mendapat cukup cahaya atau menaikkan ISO. Kondisi akan semakin rumit saat kita dihadapkan pada kenyataan bahwa menggenggam kamera saku sangat rentan goyang, sedikit saja getaran tangan saat memotret (apalagi pada fokal tele) akan mengacaukan hasil fotonya, walaupun fitur OIS diaktifkan. Tapi paling tidak kemampuan zoom dari lensa Leica ini perlu diapresiasi, terlebih bukan hal yang mudah mendesain lensa berkualitas namun punya zoom panjang dan bentuk cukup kecil.

lumix-tz30b

Fitur lain yang dimiliki kamera TZ30 cukup menarik seperti sensor MOS 14 MP yang disempurnakan untuk menekan noise, Nano lens coating untuk ketajaman dan ketahanan terhadap flare, manual mode P/A/S/M, GPS terintegrasi dan disediakan juga peta dalam bentuk DVD, progressive full HD stereo, dan layar LCD 3 inci yang bisa disentuh untuk mengatur fokus, mengakses peta hingga memotret.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Olympus XZ-1, kamera saku serius dengan lensa f/1.8

Tahun 2011 belum genap seminggu, tapi di ajang CES 2011 telah diperkenalkan lebih dari 42 kamera baru yang sebagian diantaranya cukup fenomenal, seperti produk yang bernama Olympus XZ-1 yang belum lama ini diluncurkan. Inilah kamera saku dengan fitur kelas atas, dibuat untuk mereka yang serius dalam fotografi dan mencari kamera saku tanpa kompromi akan kualitas. Selling point utama Olympus XZ-1 adalah digunakannya lensa Zuiko f/1.8 yang amat bermanfaat untuk kondisi low light maupun untuk fotografi cepat, meski untuk itu harus ditebus dengan harga jualnya yang mencapai lima juta rupiah !

olympus-zx-1

olympus-zx-1b

olympus-zx-1c

Tak dipungkiri hadirnya Olympus XZ-1 adalah jawaban untuk Lumix LX5 maupun Canon S95, dan satu lagi kamera berlensa f/1.8 yaitu Samsung TL500, kesemuanya adalah kamera saku serius yang diincar para profesional. Bahkan Olympus XZ-1 yang nota bene hadir paling belakangan, berhasil meramu semua keunggulan dari para pesaing, seperti lensa f/1.8 dari Samsung dan ring multifungsi pada lensa seperti Canon S95. Bahkan Olympus XZ-1 bersaing langsung dengan Lumix LX5 dan dalam banyak aspek memiliki kesamaan fitur dan kinerja.

Tak sabar mengetahui apa saja keunggulan XZ-1? Inilah dia hal-hal yang akan membuat anda kagum :

  • lensa i.Zuiko dengan rentang 28-112mm atau 4x zoom, sangat efektif dalam rentang fokal, bahkan di posisi tele mengalahkan Lumix LX-5 (90mm), Canon S95 (105mm) dan Samsung TL500 (72mm)
  • lensa dengan bukaan terbesar yaitu f/1.8, setara dengan Samsung TL500, lebih besar dari Lumix LX-5 maupun Canon S95 yang ‘hanya’ mampu membuka f/2.0
  • bukaan terbesar saat di zoom maksimal dalah f/2.5 yang masih lebih besar dari Lumix LX-5 (f/3.3) apalagi Canon S95 (f/4.9)
  • Sensor CCD beresolusi 10 MP dengan ukuran 1/1.63 inci yang setara dengan Lumix LX-5, agak lebih besar dari kamera saku kebanyakan yang umumnya antara 1/1.7 inci hingga 1/2.5 inci
  • berbagai pilihan aspek rasio seperti 1:1, 3:2, 4:3 hingga 16:9
  • mode manual P/A/S/M dengan rentang kecepatan shutter 60 – 1/2000 detik
  • kendali putar di depan (ring lensa) yang berfungsi untuk mengatur berbagai pengaturan seperti shutter, aperture, ISO dan manual fokus
  • prosesor TruPicV yang sama seperti kamera Olympus PEN untuk kinerja cepat
  • layar OLED resolusi VGA, diagonal 3 inci dengan 621 ribu piksel (layar OLED punya gamut warna yang lebih baik dari LCD dan juga sudut pandangnya lebih lebar)
  • ISO 100 hingga ISO 6400 (ada AUTO ISO 100-800)
  • HD movie 720p, 30 fps format MJPEG
  • RAW file format, dan konversi RAW pada kamera
  • TTL flash hot shoe untuk flash Olympus (FL-50R, FL-36R, FL-50, FL-36, FL-14), bahkan bisa wireless flash
  • CCD shift image stabilizer
  • filter Neutral Density built-in
Olympus C2040
Olympus C-2040 (2001)

Oke, untuk ukuran kamera saku, Olympus XZ-1 memang terlalu besar, dan juga terlalu mahal. Anda bisa mendapat kamera lain yang lebih mungil atau bahkan bisa membeli kamera DSLR yang lebih murah dari XZ-1 ini. Tapi inilah era kebangkitan Olympus setelah sepuluh tahun tidak lagi memiliki kamera saku unggulan (terakhir Olympus meluncurkan kamera saku C-2040 dengan f/1.8 seharga 10 jutaan di tahun 2001). Produsen lain sudah lebih dulu mengisi segmen kamera saku kelas atas dengan produk unggulannya, dengan ciri lensa cepat, fitur lengkap dan harga yang mahal, seperti Lumix LX5, Canon S95 dan Samsung TL500. Bahkan Nikon dikabarkan juga akan meluncurkan produk serupa di tahun ini, tentu kabar ini akan membawa angin segar karena kompetisi di kelas ini lebih efektif daripada sekedar berlomba kemampuan zoom atau mega piksel semata.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Sony luncurkan kamera EVIL APS-C

Kamera EVIL : Electronic Viewfinder, Interchangeable Lenses, alias kamera modern dengan sensor DSLR, lensa yang bisa dilepas namun tanpa cermin ini semakin naik daun. Bila di kelompok sensor Four Thirds telah digarap oleh Panasonic dan Olympus dengan format Micro 4/3, maka di kelas APS-C sudah diramaikan oleh Samsung (Samsung NX10) dan kini Sony dengan NEX-3 dan NEX-5. Seperti apa kehebatan Sony EVIL ini?

Pertama, kamera Sony ini memakai sensor  23.4 x 15.6 mm Exmor APS HD CMOS dengan ukuran yang sama seperti kamera DSLR Sony Alpha. Meski demikian, mount yang dipakai kini adalah E mount, sehingga lensa Sony Alpha perlu adapter untuk bisa dipasang di Sony NEX ini (itupun hanya bisa manual fokus). Meski mengusung sensor yang sama, NEX 3 berbeda dengan NEX5 dalam hal material bahan (polycarbonate vs magnesium) dan pula berbeda dalam resolusi HD movie (720 vs 1080) maupun encoder (MP4 vs AVCHD).

nex-3

Meski memiliki ukuran bodi yang kecil, sensor di Sony NEX ini berukuran besar dan sudah dilengkapi sistem anti debu yang memakai low pass filter. Sebagaimana layaknya kamera mirrorless lainnya, tidak ada cermin pada kamera Sony NEX ini. Artinya tidak ada jendela bidik optik dan tidak ada pula auto fokus berbasis deteksi fasa. Sebagai gantinya disediakan fasilitas live view melalui layar LCD nya yang berukuran 3 inci yang bisa dilipat, plus auto fokus berbasis deteksi kontras dengan 25 titik fokus.

nex-5

Pada bodinya yang kecil tampaknya Sony kesulitan menempatkan sebuah lampu kilat sehingga harus memisahkannya menjadi unit tersendiri (dijual jadi satu dengan kamera). Sayangnya tidak disediakan flash hot shoe untuk memasang lampu kilat berdaya besar. Lampu kilat mungil ini punya GN hanya 7 meter dan flash sync 1/160 detik. Untuk urusan ISO mengingat sensor yang dipakai cukup besar maka wajar Sony berani membuat kamera NEX dengan ISO maksimal 12800.

nex-5adaptr

Sebagai paket lensanya, Sony sudah membuat lensa pancake 16mm f/2.8 dan lensa zoom 18-55mm f/3.5-5.6 OSS serta lensa super zoom 18–200mm f/3.5-6.3 OSS.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Canon hadirkan EOS 7D dan lensa zoom baru

Kabar kalau Canon akan meneruskan EOS 50D dengan produk baru yang dilengkapi fitur HD movie kini terbukti sudah. Canon hari ini mengumumkan peluncuran EOS 7D (sempat diprediksi akan bernama EOS 60D) sebagai DSLR beresolusi 18 MP dengan fitur HD movie. Bila anda sempat menganggap kalau 7D itu adalah nama DSLR full frame, rupanya anda keliru. Canon (entah mengapa) justru memutuskan untuk memberi nama penerus EOS 50D ini dengan nama satu digit, bukannya melanjutkan tradisi dua digit seperti sebelumnya. Tidak seperti perubahan dari 40D ke 50D yang hanya berubah secara internal, kini perubahan dari 50D ke 7D bisa dibilang adalah perubahan luar dalam, yaitu penyempurnaan dalam hal desain bodi sekaligus spesifikasi teknis kamera. Continue reading Canon hadirkan EOS 7D dan lensa zoom baru

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..