Enam panduan mengatur setting kamera untuk memotret di kondisi yang sulit

mode-dial-canonKita tahu setting di kamera modern itu sangat banyak, yang tentunya sangat membantu kita dalam menghadapi berbagai kondisi pemotretan sehari-hari. Namun kita juga tahu masih banyak pemilik kamera yang tidak (mau) tahu kegunaan setting-setting tersebut, sehingga tidak dimanfaatkan saat menghadapi kondisi yang cukup sulit atau tidak ideal. Kita boleh saja pakai mode AUTO dan kamera akan pikirikan apa setting terbaik untuk setiap kondisi, tapi kan kita tidak punya kendali atas setting tersebut dan juga kita tidak pernah belajar darinya. Pada akhirnya kita bisa jadi tidak puas dengan hasilnya. Boleh dibilang mode AUTO itu lebih cocok dipakai dalam kondisi yang ideal saja, seperti cukup cahaya, bendanya tidak bergerak dan momennya tidak berlalu dengan cepat. Namun saat kondisi menjadi lebih sulit, pencahayaan menantang, warna sumber cahaya yang tidak mudah, subyek terus bergerak, kita tidak bisa lagi mengandalkan mode AUTO di kamera. Kali ini kami akan berbagi banyak tips penting untuk menghadapi bermacam kondisi sulit, tentunya dengan menjelaskan setting apa yang harus dipilih. Ada baiknya setelah dibaca, anda juga praktekkan untuk lebih memahami dan bisa membuktikan sendiri. Ayo mulai..

Kondisi 1 : cahaya berubah-ubah

Misal : saat memotret konser dengan lampu sorot dan lampu latar (LED) yang terus berubah

Pertama yang harus diingat adalah, jangan pakai mode Manual exposure. Biarkan kamera menghitung sendiri cahayanya dan memberikan nilai ekpsosur yang tepat untuk kita. Bisa gunakan mode P (Program) atau A/Av (Aperture Priority) atau S/Tv (Shutter Priority). Gunakan juga mode metering Spot, lalu kunci pengukuran metering ke obyek utama yang ingin difoto, ini dilakukan supaya kita bisa mendapat pengukuran yang pas walau cahayanya sulit.

spot-metering

Bila kita merasa setting eksposur yang diberikan kamera sudah pas, bisa kita kunci setting dengan menekan dan menahan tombol AE-Lock (simbol bintang di kamera Canon, atau tombol AE-L di kamera lain). Tak perlu menunggu lama, setelah jempol kita menahan tombol ini segeralah mengambil foto untuk mencegah perubahan cahaya lagi. Selamat mencoba..

ae-lock-canon

Kondisi 2 : kontras tinggi

Misal : siang hari outdoor matahari terik dan subyek yang akan difoto tampak gelap

hdr in camera

Disini tidak ada satu solusi yang mudah, karena memang kenyataannya dynamic range sensor kamera tidak bisa menyamai apa yang kita lihat. Maka kamera selalu kesulitan untuk menangkap semua terang gelap di alam dengan sama baiknya. Biasanya yang terjadi adalah langit menjadi terlalu terang, atau justru obyek utamanya jadi terlalu gelap. Ada beberapa setting kamera yang bisa dicoba dengan plus minus masing-masingnya :

  • Mengatur kompensasi eksposur, biasanya dikompensasi ke arah + (positif), cocok bila kita ingin obyek utama terlihat terang namun background terpaksa jadi terlalu terang/over (untuk mengembalikan detail di daerah yang over memang hampir mustahil, tapi cobalah pakai RAW dan diatur highlight settingnya di olah digital kadang-kadang bisa membantu sedikit)

tombol-ev

  • Mengatur fitur Active D Lighting (Nikon), Auto Lighting Optimizer (Canon), bisa menjaga kontras dimana hasil fotonya diusahakan tidak ada yang terlalu terang dan terlalu gelap (tidak bisa pakai RAW)

active_d-lighting

  • memakai mode in camera HDR (bila ada), seperti contoh foto atas kanan (mode ini tidak cocok bila obyeknya bergerak dan juga tidak bisa pakai RAW)

03-canon-hdr-mode-settings

Tips tambahan : di kamera Canon ada fitur Highlight Tone Priority, ini bisa diaktifkan untuk mencegah over eksposur di daerah putih seperti baju pengantin atau langit.

Kondisi 3 : subyek bergerak, momen sulit diprediksi

Misal : aktivitas outdoor, event olahraga, perlombaan dsb

dsc_4408

Yang perlu diingat disini adalah untuk mendapatkan foto yang timingnya pas, diperlukan fokus dan drive kontinu (terus menerus). Selain itu tentu shutter speed harus dipilih yang cukup cepat supaya obyeknya beku/diam.

canon7d-af-mode

Drive continu bisa dipilih di drive mode, biasanya kamera bisa memotret mulai dari 4 foto per detik yang cukup lumayan untuk memotret berturut-turut. Kamera lebih canggih bahkan bisa memotret sampai 11 foto per detik. Untuk mengaktifkan fokus kontinu pilih mode AF-C (di kamera Nikon dan Sony) atau AF mode ke AI Servo (di kamera Canon). Selanjutnya tentu kita harus membidik obyeknya, tekan dan tahan setengah tombol jeptret (atau tekan dan tahan tombol AF-ON) lalu saat momennya tiba tekan penuh tombol jepret cukup lama supaya bisa diambil banyak foto. Nantinya pilih dari sekian foto yang diambil manakah yang momen dan timingnya paling pas.

Kondisi 4 : aktivitas di tempat kurang cahaya

Misal : seremoni indoor (wedding, wisuda, pentas seni dsb)

ISO

Kondisi seperti ini kerap kita hadapi, dan bisa dibagi dua kelompok : bisa dibantu flash dan tidak. Idealnya kita punya flash eksternal yang bisa di bounce ke langit-langit sehingga cahayanya lebut dan natural. Untuk menambah kekuatan flash bisa juga naiikan ISO hingga ISO 800. Namun bila flash tidak bisa dipakai (entah karena dilarang atau jangkauannya terbatas) maka hal yang penting adalah gunakan bukaan maksimal (lensa yang bisa f/2.8 atau lebih besar akan lebih embantu) dan naikkan ISO cukup tinggi (ISO 1600-3200) supaya foto jadi terang, shutter speed tetap cepat sehingga momen yang difoto tidak blur.

dsc_8848-bounce

Walau tampak terang, foto diatas diambil di dalam ruangan yang kurang cahaya. Untuk itu penggunaan flash dengan bounce akan membantu pencahayaan. Jangan lupa karena aktivitas di dalam ruangan ini umumnya dinamis (bergerak), tips di kondisi 3 diatas seperti AF mode kontinu kadang tetap diperlukan.

Kondisi 5 : warna sumber cahaya yang sulit

Misal : di cafe/resto/hotel, bermacam sumber cahaya bercampur (matahari, lampu, flash)

Paling aman pakailah format file RAW lalu diedit belakangan, sesuaikan setting White Balance yang diinginkan. Tapi bila kita mau hasil akurat tanpa perlu repot edit, maka kita perlu siapkan kertas putih di lokasi pemotretan, lalu lakukan prosedur Custom/Preset WB atau Measure WB. Syaratnya, kertas putih harus difoto penuh, dengan sumber cahaya yang sama dengan yang akan kita pakai nanti. Dengan begitu kamera akan mengerti setting WB optimal dari kertas putih tadi.

WB pakai kertas putih

Khusus di cafe/resto/hotel umumnya disengaja memberi pencahayaan hangat (lampu tungsten yang kekuningan) sehingga membuat dilema saat difoto. Bila kita netralkan maka seolah-olah di lokasi itu lampunya putih netral (tidak ada kesan hangat), tapi bila dibiarkan kuning maka orang yang ada di foto tersebut warnanya (kulit, baju dsb) jadi tidak netral.

Contoh warna kuning dinetralkan jadi putih, benar secara teknis tapi jadi tidak terlihat warna aslinya :

p1000163-netral

Lalu difoto lagi dengan menjaga warna aslinya, lebih hangat (kuning) tapi tidak netral :

p1000164-hangat

wb-shift

WB shift juga bisa dilakukan bila kita sudah tahu ingin membiaskan hasil warna akhir ke arah mana : Hijau – Magenta atau Biru – Merah. Idealnya titik tengah akan memberi hasil netral apabila setting WB sama dengan sumber cahayanya. Tapi kalau kita mau geser bisa juga, dengan menggeser ke kanan maka tone warna akan semakin kemerahan. Bila titik tengah memberi hasil yang tidak netral (misal akibat gangguan dari warna biru pada cahaya yang ada) maka ada baiknya WB shift digeser ke kanan supaya hasil akhirnya tidak lagi biru. WB shift juga boleh dipakai untuk membuat warna sengaja berbeda, misal di daerah berkabut putih akan lebih unik bila WB di geser ke warna biru.

Kondisi 6 : balance flash di tempat low light atau fill flash untuk backlight

Misal : foto potret dengan flash, tapi ingin suasana sekeliling terlihat terang, atau sebaliknya mengisi flash saat backlighting

Flash slow speed dimaksudkan unyuk menerangi subyek yang dekat, namun untuk menangkap ambient light perlu shutter speed yang cukup lambat, misal di belakangnya ada lampu-lampu gedung. Biasanya dipilih 1/30 detik hingga 1/8 detik. Perhatikan kalau tripod sebaiknya dipakai untuk speed lambat.

Foto berikut pakai shutter 1/20 detik, ISO 800 dan lampu flash :

dsc_7633

Bedakan dengan foto berikut ini :

dsc_5327

Ini perkecualian karena backlight / melawan matahari, jadi shutter speed boleh lebih cepat (misal 1/100 detik) tapi supaya obyek utama tidak jadi siluet maka flash tetap diset untuk menyala seperti foto diatas.

————————————————————————————————————————————————

Untuk belajar teknik fotografi bersama saya dan Enche Tjin, ikuti kelas Mastering Teknik.

Untuk memahami istilah-istilah fotografi, beli buku Kamus Fotografi.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Perbedaan antara Nikon D5300 dan D5200

Kira-kira setahun sejak Nikon meluncurkan D5200, Nikon mengumumkan kehadiran D5300 yang jadi penerus untuk mengisi segmen DSLR pemula atas. Sayangnya peluncuran D5300 menuai banyak kritikan karena hampir tidak ada perbedaan dengan produk sebelumnya, belum lagi jarak antara hadirnya D5200 dan D5300 dirasa terlalu dekat. Tapi Nikon D5300 menurut kami cukup menarik untuk dipertimbangkan bukan hanya karena fiturnya tapi juga karena perbedaan harga dengan lini diatasnya (D7000/D7100) masih cukup jauh. Kita tinjau saja apa bedanya D5300 dengan D5200..

nikon-d5300-vs-d5200

Dari tampak luar, perbedaan yang terlihat memang tidak begitu banyak, tapi tetap bisa dilihat ada perubahan desain seperti lekuk bodi dan grip. Di bagian atas ada tonjolan untuk antena penerima GPS (dibahas kemudian). Tombol drive mode pun harus rela untuk pindah lokasi jauh ke bawah, dekat tombol untuk melepas lensa. Perbedaan lain yang sepintas tak terlihat adalah ukuran layar LCD yang kini jadi 3,2 inci.

frontcontrolsDidalamnya, paling tidak ada tiga perubahan yang bisa ditemui di D5300. Pertama adalah dipakainya prosesor baru Expeed 4 yang mendukung kinerja ISO maksimum normal yang kini bisa sampai ISO 12800 (sebelumnya ISO 12800 adalah setara dengan Hi-1). Kedua adalah dipakainya sensor gambar milik Nikon D7100 yaitu sensor CMOS 24 MP tanpa low pass filter untuk ketajaman ekstra. Perbedaan lainnya adalah dibenamkan fitur modern berupa antena penerima GPS dan WiFi terintegrasi sehingga kamera ini bisa melakukan geotagging maupun terhubung ke perangkat lain melalui WiFi. Omong-omong, Nikon D5300 adalah kamera DSLR Nikon pertama yang diberikan fitur GPS dan WiFi. DSLR Nikon lain masih perlu menambah aksesori yang tidak murah untuk ini.

Dengan desain bodi baru yang mengadopsi sistem monokok, bobot keseluruhan bisa ditekan dari 560 gram menjadi hanya 480 gram saja. Sangat menarik bagi yang suka travelling karena kamera yang terlalu berat akan merepotkan saat di perjalanan. Perbedaan lain yang ditemui dari spek sheet diantaranya sedikit peningkatan perbesaran jendela bidik, frame rate video HD kini 60 fps progressive (bukan interlaced) dan pemakaian baterai yang lebih hemat hingga 600 kali jepret.

Fitur dan spesifikasi D5300 :

  • sensor 24 MP, CMOS, DX format, tanpa OLP filter
  • ISO 100-12800 (bisa dinaikkan hingga 25.600)
  • burst 5 fps, HDR dari 2 foto digabung
  • LCD lipat 3,2 inci, kerapatan 1,3 juta piksel
  • 39 titik AF, 9 diantaranya cross type
  • 2.016 piksel RGB metering modul
  • 95% coverage, 0.83x magnification, pentamirror OVF
  • HD 1080p, 60 fps progressive, stereo mic

toprightcontrolsMenurut kami, Nikon memang tidak ingin merubah secara revolusioner dari D5200 ke D5300 karena beberapa alasan yang hanya Nikon yang tahu. Kemungkinan memang Nikon sudah ‘mentok’ mau melakukan perubahan apa lagi, agak mirip seperti cerita Canon 650D ke 700D yang spesifikasinya 99,9% sama saja. Tapi kami tetap apresiasi Nikon D5300 khususnya dengan harga jualnya yang wajar, kita bisa mendapatkan kamera dengan sensor tajam, auto fokus canggih, fitur video yang oke dan plus GPS dan Wifi dalam bodi yang cukup mungil. Kalaupun ada harapan kami yang belum terwujud di D5300 itu adalah :

  • layar sentuh, Nikon sudah kalah momentum dibanding Canon sejak era 600D  ada layar sentuh
  • Wireless trigger flash, Nikon juga kalah dengan 600D yang bisa memicu flash secara wireless
  • tidak ada tombol ISO, plus langkah mengganti berbagai setting yang perlu banyak tahap / tekan tombol sangat merepotkan

Saat tulisan ini dibuat, Nikon D5300 belum dipasarkan di Indonesia. Estimasi harganya mungkin sekitar 8 juta bodi saja. Nikon D5300 cocok bagi pembeli pertama kali yang menginginkan kamera yang mudah dipakai, kinerja oke, hasil bagus dan harga wajar. Nikon D5300 juga bisa dijadikan kamera upgrade bagi pemilik D3000/D3100 namun bagi yang punya D5100 apalagi D5200 kami rasa belum perlu untuk upgrade ke D5300 ini.

Sebagai bahan masukan, kami sajikan info harga terkini dan sebagai referensi harga kami mengacu pada website toko kamera termurah yaitu Tokocamzone. Inilah kisaran harga DSLR Nikon saat ini urut dari yang harga terendah :

  • D3100 bodi saja : 4,3 juta / kit 18-55mm 5,2 juta
  • D5100 bodi saja : 5,5 juta / kit 18-55mm 6 juta
  • D5200 bodi saja : 7 juta / kit 18-55mm 8,1 juta
  • D5300 bodi saja : 9,1 juta / kit 18-55mm 9,9 juta
  • D7000 bodi saja : 10 juta
  • D7100 bodi saja : 13 juta

Itulah gambaran perbedaan Nikon D5300 dibanding D5200, dan sekaligus posisi harganya diantara produk Nikon lainnya. Semoga bermanfaat..

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Review Nikon D5100, kamera DSLR dengan fitur lengkap dalam bodi yang mungil

Dahulu kita kenal Nikon D5000 sebagai pengisi celah antara D3000 (kamera pemula) dan D90 (kamera menengah) di masa lalu. Kini tradisi itu dipertahankan dengan keberadaan D5100 (harga 7 juta) yang mengisi celah antara D3100 (harga 5 jutaan) dan D7000 (harga 11 jutaan). Bagi sebagian orang, D5100 adalah solusi tepat karena dia bisa mendapat kamera yang tidak terlalu basic dan tidak juga terlalu rumit. Tapi sebagian orang lagi beranggapan D5100 adalah kamera tanggung, cukup mahal tapi belum bisa disejajarkan dengan kamera menengah. Kali ini kami hadirkan review D5100 supaya anda bisa menilai sendiri apakah D5100 layak dibandrol seharga 7 juta rupiah.

Tinjauan fisik

Nikon D5100 dijual satu paket bersama lensa kit 18-55mm VR. Dalam dus penjualan selain berisi bodi kamera dan lensa, juga terdapat baterai, charger, tali kamera dan manual. Kamera ini sama seperti D5000 dalam hal layarnya yang bisa dilipat. Hanya saja desain layar lipat D5000 dulu banyak dikritik karena flip down, sehingga Nikon memperbaikinya di D5100 dengan desain LCD menjadi flip kesamping kiri (lebih umum). Sebagai DSLR pemula, D5100 masih memiliki banyak kesamaan dengan adiknya D3100, yaitu bodi plastik, tanpa motor fokus, modul metering 420 piksel RGB yang kuno, viewfinder cermin (bukan prisma), minim tombol akses langsung dan tidak ada layar LCD kecil di bagian atas.

Nikon D5100 dan lensa kit 18-55mm VR yang kami uji adalah buatan Thailand. Kami rasakan kualitas bahan dari bodi D5100 masih sama seperti Nikon lainnya yaitu kokoh, sambungannya rapat dan tidak ada kesan longgar / ringkih. Tidak banyak perbedaan ukuran yang berarti antara D3100 dengan D5100, keduanya sama-sama kecil dan ringan, gripnya terasa agak kekecilan untuk orang bertangan besar pada umumnya.  Kami menyukai lapisan karet di bagian grip dan tumpuan jempol kanan yang memberi kenyamanan ekstra saat menggenggam.

Desain D5100 sepintas mirip dengan DSLR Nikon lain bila dilihat dari depan, tapi begitu dilihat dari belakang barulah tampak sangat banyak perubahan tata letak tombol. Hal ini akibat engsel layar lipat yang kini berada di kiri, sehingga harus mengusir banyak tombol yang biasanya berderet di sebelah kiri. Jadilah tombol MENU dan INFO pindah ke bagian atas, sementara tombol PLAYBACK, ZOOM IN dan ZOOM OUT pindah ke bagian sisi kanan. Bagi yang biasa memakai kamera DSLR Nikon pasti akan merasa aneh saat pertama memakai D5100 karena banyaknya perubahan tata letak tombol. Nikon berupaya melakukan reposisi tombol dengan sisa ruang yang ada di sebelah kanan, kecuali tombol MENU yang perlu dipindah ke kiri atas. Kami pun perlu beradaptasi dengan migrasinya tombol-tombol tersebut. Sisi baiknya juga ada, kami jadi bisa mengoperasikan kamera dengan tangan kanan sementara tangan kiri cukup menggenggam lensanya saja.

Satu hal yang kami sukai dari bodi D5100 adalah layar LCD-nya. Selain ketajaman layar yang sangat baik (900 ribu piksel), kami juga suka desain lipatnya yang fleksibel, dan bisa diputar dengan posisi layar masuk ke dalam bodi untuk melindungi layar saat tidak dipakai. Untuk mengkomposisi gambar, sarana paling utama adalah melihat melalui jendela bidik optik, bila ingin lewat LCD harus menggeser tuas LV (live-view) yang akan dibahas kemudian. Jendela bidik D5100 termasuk biasa saja dengan coverage 95% dengan pembesaran 0.78x. Akan ada sedikit perbedaan framing coverage antara yang dilihat di jendela bidik dan foto aslinya.

Nikon D5100 punya dua sensor remote, satu di bagian depan dan satu di belakang (dekat tombol MENU).  Di bagian atas tampak ada tombol warna merah khusus untuk merekam video. Di sisi kiri ada pintu karet yang bila dibuka akan tampak beberapa port seperti untuk USB (dan multifungsi dengan kabel AV), HDMI, GPS dan mic eksternal. Di sebelah kanan ada pintu SD card yang terasa agak longgar meski saat kondisi tertutup. Di bagian bawah ada pintu untuk melepas baterai. Desain slot baterai sudah semakin baik dengan sistem pengaman sehingga bila tutup baterai dibuka, baterai tidak langsung meluncur lepas dari kamera.

Fitur dan menu

Meski kamera D5100 termasuk dalam golongan kamera pemula namun sudah dibekali dengan fitur yang cukup lengkap. Agak berbeda dengan D3100 yang fiturnya cukup basic, maka pada D5100 beberapa setting yang lebih canggih disertakan juga seperti HDR mode, 14 bit RAW, bracketing, berbagai level Active D-Lighting dan berbagai Effect mode. D5100 juga punya sensor yang lebih tinggi resolusinya (16 MP vs 14 MP), ISO maksimum yang lebih tinggi (6400 vs 3200), burst lebih cepat (4 fps vs 3 fps) dan punya layar LCD yang tajam (900 ribu piksel vs 230 ribu) serta bisa dilipat. Tapi D5100 dan D3100 sama dalam hal modul metering, modul AF dan sama-sama tidak dibekali motor fokus (jadi untuk bisa auto fokus harus pakai lensa Nikon berkode AF-S).

Pada shooting mode selain ada mode standar Auto, P, A, S, M dan Scene Mode, terdapat juga mode Effect yang menarik, meski belum tentu dibutuhkan. Pilihan efek yang ada diantaranya Miniature effect, Night Vision, Low Key, High Key, Sketch, Siluet dan Color swap. Justru fitur yang kami suka di D5100 adalah HDR shooting yang bisa mengambil dua foto dengan berbeda eksposur lalu menggabungkan keduanya dan menghasilkan satu gambar dengan rentang dinamis yang lebih lebar.

Menu di D5100 pun agak berbeda dengan D3100. Menu di D5100 lebih menyamai kamera kelas diatasnya seperti D90 atau D7000 dengan ciri punya berbagai Custom setting yang kompleks dengan kode huruf dan warna. Pada D3100 tidak ada Custom setting karena semua pengaturan dilebur di Shooting menu.

Soal kemampuan rekam video D5100 ini sudah sangat baik dengan full HD movie , berbagai pilihanframe rate,  mode AF-F (fokus kontinu) dan mic eksternal (sayangnya built-in mic masih mono). Tidak ada kemampuan manual eksposur pada D5100 saat merekam video, kita perlu menentukan dulu bukaan dan ISO yang diinginkan sebelum mulai merekam. Kabar baiknya, kita bisa mengatur level sensitivitas microphone bahkan bisa diset ke-off.

Kamera generasi baru seperti D5100 memang sudah bisa mengatur Picture Control untuk hasil JPG yang bervariasi. Dengan begitu maka kita tidak perlu mengolah foto satu persatu di komputer untuk mendapat kontras atau saturasi yang lebih tinggi atau lebih rendah. Terdapat berbagai style yang sudah diatur dari pabrik seperti Standard, Neutral, Vivid dan sebagainya. Bila mau, setiap style bisa diatur lagi parameternya seperti ketajaman, kontras, kecerahan, saturasi dan tone (hue) warna. Dengan demikian maka setiap pemilik kamera D5100 bisa menyimpan style yang berbeda sesuai selera.

Fitur bracketing berguna untuk mengambil tiga gambar yang berbeda setting, biasanya perbedaan terang gelap atau eksposur (AE). Tapi di D5100 fitur ini diperluas menjadi ada beberapa pilihan bracketing yaitu AE, WB dan ADL bracketing. Fitur bracketing ini tidak ditemui di D3100, sementara pada D90 atau yang lebih canggih, fitur ini bisa diakses dengan menekan tombol BKT.

Operasi

Bagaimanapun juga kamera D5100 bukan tergolong kamera kelas menengah. Jadi jangan bayangkan ada tombol khusus misalnya untuk mengganti WB, ISO atau AF mode. Untuk itu perlu menggantinya dengan masuk ke MENU. Untungnya Nikon menyediakan jalan pintas untuk mengganti berbagai setting penting dengan menekan tombol INFO di bagian belakang (tombol ini disimbolkan dengan <i>). Tekan sekali tombol <i> maka di layar akan muncul informasi penting seperti mode apa yang sedang dipakai, berapa shutter-aperture-ISO yang dipilih dan berbagai info penting lainnya (lihat contoh gambar di atas). Untuk mengganti setting disana cukup tekan <i> sekali lagi.

Terdapat berbagai Release mode di D5100, misalnya single frame (S), continuousself timer dan Quiet shutter. Tidak seperti di D3100, opsi Release mode di D5100 harus dicari via MENU. Quiet shutter sendiri akan meredam suara cermin sehingga tidak terlalu terdengar keras.

Hasil foto bisa dilihat dengan menekan tombol playback berwarna biru. Foto yang ditampilkan di layar bisa dibuat full foto atau disertai data teknis pemotretan seperti gambar diatas.

Kinerja

Sebagai kamera DSLR pemula, kami tidak berharap kinerja tinggi dari D5100 ini. Maka begitulah, meski jauh lebih responsif dari kamera non DSLR, D5100 ini masih tergolong biasa saja dalam urusan kinerja. Misalnya shutter speed maksimal ‘hanya’ 1/4000 detik dan flash sync speed hanya 1/200 detik. Untuk urusan burst atau continuous shooting kamera ini hanya sekitar 4 fps saja, tapi toh hanya terpaut sedikit dengan D90 yang bisa 4,5 fps. Lalu dalam hal start upshutter lagshot to shot kamera ini tidak ada komplain apapun, bekerja sesuai harapan. Kabar baiknya, Nikon sudah memakai engine Expeed generasi 2 untuk D5100 yang lebih bertenaga. Terbukti saat mode Active D-Lighting diaktifkan, kamera tidak perlu waktu tambahan untuk memproses foto yang baru diambilnya. Hal ini berbeda dengan kamera generasi sebelumnya yang kalau ADL diaktifkan maka setiap memotret kamera seperti kedodoran untuk memproses ADL pada foto, yang prosesnya sekitar setengah sampai satu detik.

Kemampuan auto fokus D5100 sangat baik, dengan fleksibilitas tinggi berkat 11 titik AF (meski hanya titik tengah yang cross type) dan titik fokusnya bisa dipilih secara manual atau otomatis. Soal servo fokus, D5100 juga bisa mengikuti obyek yang bergerak (dynamic area) dan bahkan bisa mengenali obyek dari warnanya sehingga bisa terus mengikuti gerakan si obyek dan tetap menjaga fokus terbaiknya, meski obyek ini bergerak ke kiri kanan atau ke depan belakang, berkat adanya fitur 3D tracking AF.

Pada bagian atas kamera terdapat satu tuas untuk mengaktifkan mode live-view. Berbeda seperti tuas live-view di D3100 dan D7000 yang berada di bagian belakang kamera, tuas di D5100 ini berada di samping kanan mode dial. Jadi bila ingin memotret dengan melihat preview gambar di layar LCD, geser dulu tuas live-view ini sesuai arah panah, dan bila ingin merekam video barulah tombol warna merah ditekan. Kinerja kamera saat berada di mode live-view tergolong baik, meski untuk auto fokusnya harus beralih dari deteksi fasa (11 titik) ke deteksi kontras. Memang auto fokus saat live-view lebih lambat, tapi kami rasakan dibanding DSLR lain maka D5100 ini cukup cepat dalam mengunci fokus. Keuntungan lain dengan live-view adalah bisa mendeteksi wajah, serta di layar bisa ditampilkan pembesaran dari area tengah bidang yang difoto, berguna buat memotret makro atau saat manual fokus. Pada mode video AF-F, auto fokusnya sudah bisa melakukan continuous focus, artinya kamera akan selalu berusaha mendapat fokus meski obyeknya bergerak. Yang namanya berusaha, kadang berhasil dan kadang gagal. Jadi tetap saja fitur AF-F di mode video ini belum memuaskan. Live-view sendiri mempunyai timer sehingga setelah beberapa menit dia akan mati guna menghemat baterai dan mencegah sensor kepanasan.

Gambar di atas menunjukkan apa yang akan tampil di layar LCD saat masuk ke mode live-view. Secara umum tampilan di layar cukup jelas, cerah dan natural dengan berbagai indikator memeriahkan tampilan layar. Bila indikator ini mengganggu, cukup tekan tombol INFO dan layar akan jadi bersih dari berbagai kode dan angka. Tekan INFO sekali lagi akan memunculkan grid untuk membantu komposisi. Sayangnya tidak ada tampilan live histogram saat live-view di D5100.

Kinerja White Balance di D5100 termasuk akurat untuk Auto WB dan berbagai preset yang ada. Bila tone yang didapat dari pilihan WB kurang sesuai selera kita, bisa juga melakukan pengaturan lanjutan dengan menggeser tone warna di sumbu Amber-Blue atau Green-Magenta sehingga semua spektrum warna (RGB atau CMY) bisa dicapai. Sayangnya kita tidak bisa langsung memasukkan temperatur warna dalam satuan Kelvin seperti kamera lain yang kelasnya lebih canggih.

Sensor dan Hasil foto

Sensor CMOS 16 MP adalah nilai jual utama dari D5100. Kenapa? Karena sensor ini sama persis dengan yang dipakai di kamera D7000 yang terkenal paling bagus hasil fotonya, bahkan pada saat ISO tinggi. Alasan dibalik itu adalah dipakainya teknologi prossor Expeed2 14 bit yang membuat mampu merekam dynamic range lebih lebar dibanding prosesor 12 bit seperti D3100 misalnya. Bila 16 MP dirasa terlalu tinggi, tersedia pilihan 9 MP atau 4 MP di pengaturan Image Size pada MENU.

Seperti kamera lain pada umumnya, untuk menghindari menempelnya debu di sensor, di MENU sudah tersedia fitur sensor cleaning. Ada beberapa opsi pembersihan sensor pilihan seperti gambar diatas, dan proses bersih-bersih ini (yang menggetarkan sensor untuk merontokkan debu) memakan waktu 1 sampai 2 detik.

Kombinasi antara sensor dengan engine 14 bit, mode HDR aktif dan Active D-Lighting bisa menghasilkan foto dengan dynamic range yang lebih baik dari biasanya. Kami mencoba memotret sebuah kondisi umum yang pasti akan sulit untuk mendapat dynamic range yang lengkap dengan cara biasa :

Foto diatas tampak gelap di bagian kursi dan dinding, karena metering kamera berusaha menjaga detil di area terang  (jendela) sehingga area lainnya menjadi gelap. Bila pun kompensasi eksposur dinaikkan maka yang terjadi detil di area terang akan hilang (washout). Maka guna mendapat gambar yang lebih menyerupai mata kita melihat aslinya, kami mencoba gunakan mode HDR dengan masih ditambahActive D-Lighting ke posisi Extra High, maka hasilnya bisa menjadi seperti ini :

Tampak lebih lumayan kan? Detil di jendela dan di kursi serta di dinding didapat dengan berimbang. Lalu kami juga melakukan tes memotret dengan berbagai nilai ISO dan sengaja mengandalkan cahaya seadanya untuk melihat kinerja ISO D5100 dan seberapa parah noisenya di ISO tinggi. Pengujian dilakukan dengan sumber cahaya lingkungan, tanpa flash, resolusi 16 MP, JPEG Fine, WB preset, ADL off dan Noise reduction OFF (kecuali untuk foto terakhir). Inilah obyek yang menjadi bahan pengujian noise test kami :

iso-test-image

Lalu hasilnya bisa dilihat untuk tiap kenaikan ISO dari ISO 800 (kami tidak menguji ISO 100 sampai 400 karena hasil fotonya sama bersihnya), ISO 1600, ISO 3200, ISO 6400 (ISO normal tertinggi), ISO Hi-1 (setara ISO 12800) dan ISO Hi-2 (setara ISO 25600). Untuk ISO Hi-2 kami lakukan dua pengujian, yaitu satu tanpa noise reduction dan keduanya dengan noise reduction di kamera diaktifkan ke posisi High.

Nah, dari hasil crop diatas tampak jelas kalau sensor D5100 memang dahsyat. Paling tidak, sampai ISO 1600 dan cukup cahaya bisa didapat hasil foto yang masih rendah noise. Pada ISO 3200 barulah noise tampak mulai mengganggu, tapi masih cukup layak untuk dilihat. Pada ISO maksimal 6400 noise yang muncul bisa dibilang setara dengan ISO 400 pada kamera saku, dimana detil foto tampak menurun dan noise terlihat lebih berwarna-warni (chroma noise). ISO Hi-1 dan Hi-2 disediakan untuk kebutuhan marketing saja, supaya terdengar keren. Kenyataannya, ISO setinggi ini tidak cocok diberikan pada kamera DSLR dengan sensor APS-C. Upaya mengurangi noise di kamera (atau di komputer) memang berhasil mengurangi chroma noise namun secara bersamaan juga mengurangi detail yang ada pada gambar.

Fitur Effect mode pun beberapa diantaranya menurut kami bakal berguna suatu saat, seperti misalnya memilih satu warna dan lainnya dibuat monokrom tidak lagi dilakukan di komputer, melainkan bisa diatur sebelum memotret. Dengan memilih menjaga warna merah, maka kita bisa membuat warna selain merah jadi monokrom seperti foto berikut ini :

Kesimpulan

Kesimpulannya D5100 memang unggul dalam urusan sensor CMOS-nya, khususnya saat berhadapan dengan kontras tinggi atau saat memakai ISO tinggi. Kombinasi antara Expeed2 14 bit, fitur HDR dan Active D-Lighting akan banyak membantu menyelamatkan detil di area terang sekaligus area gelap. ISO 6400 yang notabene adalah ISO maksimal normal pun masih layak dipakai, plus bonus ada ISO ekspansi sampai ISO 25600 bila terpaksa (dan ada juga effect Night Vision yang bisa memotret di kondisi sangat minim cahaya, tapi hasilnya hitam putih). Efek lainnya pun menarik seperti efek miniatur (toy camera) atau selective color. Kami juga suka dengan layar LCD lipatnya yang tajam dan memudahkan saat memotret atau merekam video dalam berbagai angle. Hasil foto yang bagus dengan fitur lengkap ini toh tidak harus menjadikan kamera ini besar dan berat. D5100 tetap mungil, ringan dan sepintas mirip dengan D3100 yang sama-sama kamera pemula.

Lalu apa komprominya? Sebagai kamera seharga 7 juta, agak sayang memang kalau D5100 ini cuma dianggap kamera pemula yang mungkin akan dipandang sebelah mata oleh sebagian orang. Apalagi di harga 8,4 juta ada Canon EOS 60D kit sebagai pesaing terdekat sederet fitur semi pro, atau di harga 6,5 juta ada Canon EOS 600D kit yang bisa mengganggu penjualan Nikon D5100. Andaikata D5100 punya beberapa tombol akses langsung ke WB, ISO atau AF mode, tentu lebih menyenangkan. Lalu limitasi pilihan lensa yang bisa auto fokus tetap menjadi pengalaman yang tidak enak bagi pemakai D5100 (banyak lensa Nikon lama seperti lensa AF atau AF-D yang bagus dan murah di pasaran, baru atau bekas, kalau dipasang di D5100 hanya bisa manual fokus). Nikon juga belum membolehkan pemakai D5100 untuk mengatur flash eksternal secara wireless (padahal Canon EOS 600D bisa) dan belum bisa memilih nilai Kelvin dari White Balance secara manual (meski preset WB dan color shift di pengaturan WB cukup canggih). Terakhir, Nikon semestinya memberikan kebebasan pemakai D5100 untuk mengatur shutter dan aperture saat merekam video, mengingat fitur video di D5100 sudah sangat baik (bila ditinjau dari resolusi video, mode fokus kontinu AF-F dan pengaturan audionya).

Bila anda menyukai review ini dan ingin membantu kami untuk menghidupi situs ini, anda bisa melakukan donasi atau membeli kamera melalui kami. Caranya bisa dilihat disini.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Nikon Coolpix P300, kamera mungil dengan lensa f/1.8

Kamera saku dengan lensa yang punya bukaan besar tergolong jarang, kalaupun ada harganya sangat mahal. Hal ini karena biaya produksi lensa bukaan besar lebih tinggi dari lensa pada umumnya. Tercatat sudah ada beberapa merk yang lebih dahulu membuat kamera semacam ini, sebutlah misalnya Lumix LX-5, Canon S95, Samsung TL500 dan Olympus XZ-1. Sadar kalau agak terlambat, Nikon akhirnya memutuskan bergabung di kancah ini dengan meluncurkan kamera Coolpix P300 dengan lensa f/1.8 yang mengesankan. Simak ulasan kami selengkapnya.

p300_a

Sebagai pembuka, inilah spesifikasi dasar dari Nikon Coolpix P300 :

  • sensor CMOS resolusi 12 MP ukuran 1/2.3″
  • teknologi back-illuminated sensor
  • prosesor Expeed C2
  • ISO 3200, burst 7 fps
  • lensa Nikkor 24 – 100 mm f/1.8-4.9 (4,2x  zoom optik)
  • VR Optical
  • LCD 3 inci, resolusi 920 ribu piksel
  • Manual mode lengkap, tapi tanpa RAW
  • HD 1920 x 1080 (30 fps),suara stereo, bisa zoom optik saat merekam video
  • HDMI output

p300_b

Dilihat dari bentuknya, P300 tampil manis dengan bahan logam dan ukurannya cukup kecil dengan ergonomi dan tata letak tombol yang baik. Ada dua kendali manual di kamera ini, yaitu satu di bagian atas (berbentuk putaran dekat tombol shutter) dan satu lagi di belakang berbentuk roda yang mengelilingi tombol OK. Tidak ada ring di lensa layaknya Canon S95 ataupun Olympus XZ-1 disini. Lampu kilat tampil tersembunyi dan akan menonjol keluar bila dibutuhkan. Terdapat tombol langsung untuk merekam video di bagian belakang.

p300_c

Tentang lensa cepat / bukaan besar

Kita tinjau dulu dari kebutuhan lensa bukaan besar dalam fotografi. Prinsipnya setiap lensa punya diafragma yang punya diameter tertentu, bisa dibuat lebih besar (untuk memasukkan lebih banyak cahaya) atau dibuat mengecil. Tentunya ada nilai bukaan maksimal (dan minimal) untuk setiap lensa, dan ini dinyatakan dalam f-numberLensa yang punya bukaan besar biasa disebut lensa cepat, artinya bisa memakai kecepatan shutter tinggi. Umumnya bukaan maksimal lensa di pasaran berkisar antara f/2.8 hingga f/3.5 dimana f/2.8 punya bukaan yang lebih besar daripada f/3.5. Nah, kedua kamera ini punya lensa dengan bukaan f/2.0 yang secara teknis artinya sanggup memasukkan cahaya 2x lebih banyak daripada f/2.8. Jadi lensa f/2.0 identik dengan lensa cepat, berguna saat ingin memakai kecepatan shutter tinggi atau saat memotret di tempat low light (yang pastinya kecepatan shutter akan turun dengan drastis).

Peta persaingan

Hasrat memproduksi kamera saku yang bisa diandalkan di daerah low light bisa diwujudkan dengan dua hal, pertama mendesain lensa bukaan besar dan memakai sensor yang lebih besar dengan resolusi yang tidak terlalu tinggi. Nikon P300 ini hadir dengan lensa 24-100 mm f/1.8-4.9 yang memang tampil mengesankan dalam rentang fokal (terutama kemampuan wide 24mm) serta bukaan yang besar (f/1.8 di posisi wide) namun agak mengecewakan saat tele dengan bukaan hanya f/4.9 saja. Mengherankan saat hadir belakangan, Nikon justru tidak mencontoh pesaing dengan lensa yang lebih baik (Lumix LX-5 itu f/2.0-3.3 dan Olympus XZ-1 itu f/1.8-2.5) namun tampaknya hanya ingin bersaing dengan Canon S95 yang lensanya f/2.0-4.9 saja.

Canon S95 vs Nikon P300 vs Olympus XZ-1
Canon S95 vs Nikon P300 vs Olympus XZ-1

Bila dalam urusan lensa memang Nikon P300 tampil sekelas, bahkan lebih baik dari Canon S95. Namun dalam ukuran sensor, P300 ini justru mengecewakan dengan memakai sensor kecil dengan resolusi tinggi. Untuk bisa diandalkan di low light, produsen lain membuat kamera dengan sensor agak besar dengan ukuran 1/1.6 inci, sedangkan P300 justru memilih sensor ukuran 1/2.3 inci yang lebih rentan noise di ISO tinggi. Hal ini semakin runyam saat Nikon justru mencoba memakai resolusi 12 MP padahal pesaing sudah menemukan titik rasio ideal antara ukuran sensor dan resolusi, yaitu 10 MP untuk sensor 1/1.6 inci.

Jadi Nikon Coolpix P300 memang tampaknya bukan untuk menyaingi rajanya lensa cepat seperti Lumix LX5 atau Olympus XZ-1. Bahkan untuk bisa menandingi Canon S95  juga berat karena Canon punya sederet keistimewaan seperti sensor lebih besar, ring di lensa dan adanya file RAW format. Jadilah P300 ini serba tanggung, hasrat ingin tampil sekelas dengan pesaingnya namun ditinjau dari isinya ternyata tak berbeda dengan kamera saku biasa. Bisa dibilang P300 justru mirip dengan Canon Ixus 300HS yang lensanya 28-105 mm f/2.0-5.3 dan sensor ukuran 1/2.3 inci. Lebih uniknya lagi, harga jual Nikon P300 memang dipatok dikisaran 3 jutaan saja, jauh lebih murah dari Canon S95 apalagi Lumix LX5 dan Olympus XZ-1. Jangan-jangan Nikon sengaja menyasar segmen pembeli yang ingin punya kamera seperti Canon S95 namun dengan harga yang lebih murah. Mungkin di kesempatan lain Nikon akan membuat Coolpix lain dengan lensa cepat di posisi wide maupun tele, sensor lebih besar dan fitur lebih lengkap sehingga benar-benar bisa bersaing dengan pemain besar lainnya.

Sebagai kesimpulan, inilah plus minus Nikon P300 :

Plus :

  • fokal lensa bermula di 24mm f/1.8
  • full HD movie, stereo
  • layar LCD tajam dan detail
  • punya dua kendali putar
  • burst cepat
  • harga cukup terjangkau

Minus (dibanding kamera lensa cepat lainnya) :

  • bukaan lensa kecil saat tele (f/4.9)
  • sensor 35% lebih kecil
  • resolusi 12 MP terlalu tinggi untuk mendapat foto rendah noise
  • tidak ada RAW file
  • tidak ada flash hot shoe
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Fuji HS20 EXR dan F550/500 EXR, dengan sensor EXR 16 MP

Ajang CES 2011 juga dimeriahkan oleh Fujifilm yang menghadirkan beberapa update rutin seperti HS20 EXR (penerus HS10) dan F550/500 EXR (penerus F300 EXR). HS20 EXR sesuai namanya kini memakai sensor EXR (dulu CMOS), sementara F550/500 (bedanya cuma dalam hal GPS) juga memakai sensor EXR 16 MP. Tibalah masanya kamera di tahun ini beralih ke sensor 16 MP yang semakin membuat risau dan kekuatiran akan noise dan ukuran file yang besar. Tapi apapun itu, Fuji cukup konsisten dalam membuat regenerasi produknya, ditengah persaingan ketat dengan produsen papan atas sekelas Canon atau Nikon.

Fuji HS20 EXR

Penerus dari Fuji HS10 (10 MP) hadir lagi dengan lensa yang sama, yaitu 30x zoom optik. Bedanya, kini sensor yang dipakai pada HS20 adalah jenis EXR dan beresolusi 16 MP. Kamera ini diklaim sanggup mengunci fokus dalam waktu 0,16 detik. Kabar baiknya, kini fitur flash pada HS20 sudah mendukung TTL flash. Lensa Super Fujinon EBC yang dimiliki  HS20 EXR sepintas nampak seperti lensa Canon L series dengan gelang merah melingkari ujungnya, kebetulan?

fujifilm-hs20exr

fujifilm-hs20exrc

fujifilm-hs20exrb

Apa kata Fuji soal HS20 ini?

Record-breaking, innovative, versatile; the new Fujifilm FinePix HS20 EXR is all this and so much more. Replacing the multiple award-winning FinePix HS10; this latest addition to the range of Fujifilm bridge cameras represents the perfect picture taking solution for photographers who want the specification and picture quality of an SLR without the heavy camera bag and huge dent in their bank balance. With a class-leading feature set that includes a brand new EXR CMOS sensor, high speed continuous shooting capability, improved user interface, versatile video functions, 16 megapixel resolution and a 30x zoom lens with advanced anti-blur technologies, the HS20 EXR sets new standards in bridge camera functionality and performance.

Berikut spesifikasinya :

  • EXR CMOS 16 MP, ukuran 1/2 inci
  • 30x zoom, 24 – 720 mm, f/2.8-5.6
  • LCD 3.0 inci yang bisa dilipat,  460 ribu piksel
  • font dan grafik Vector pada layar
  • 1600%  dynamic range
  • Burst 8 fps, video bisa hingga 320 fps (320 x 112 piksel)
  • Baterai AA x 4, bertahan hingga 350 jepret
  • Electronic level
  • Raw file format
  • Full HD 1080p, 30 fps, H.264 (MOV) format
  • Stabilizer sensor-shift
  • EXR Auto mode
  • Colour fringing reduction and corner sharpness improvement
  • Film simulation modes
  • Motion Panorama 360 mode
  • TTL flash control with optional external flashes

Fuji F550/500 EXR

Penerus F300 EXR ini kini hadir dalam dua varian, satu dengan GPS (F550) dan satu tanpa GPS (F500). Tidak banyak peningkatan yang berarti dari F300 ke F500, bahkan spesifikasi lensa dan bentuk kameranya pun sama persis (kecuali sedikit tonjolan di atas pada F550 yang berfungsi sebagai antena GPS). Bedanya, F300 dulu memakai sensor 12 MP, kini F500 melompat jauh ke sensor 16 MP. Lucunya, kini tidak lagi disebut-sebut soal hybrid AF (contrast dan phase detect) yang dulu sempat dibanggakan Fuji di F300. Rupanya istilah hybrid AF tidak berarti banyak dalam penjualan F300 sehingga tidak lagi dipakai.

fujifilm-f550exr

fujifilm-f550exrb

Apa kata Fuji soal F550/500 EXR ini?

Following in the footsteps of the award-winning FinePix F200 EXR and F300 EXR models, this latest recruit to the range is the ideal camera for discerning point-and-shoot photographers or SLR users who want to travel light but don’t want to compromise image quality and picture-taking versatility. Superb results are assured with exciting new features including an innovative 16 megapixel EXR CMOS sensor, advanced GPS functions, high speed shooting capabilities, a 15x wide-angle zoom lens, Full HD movie functionality and an improved user interface. With a stylish design and pocketable dimensions, the FinePix F550 EXR is set to become the must-have compact in 2011.

Berikut spesifikasinya :

  • fitur GPS (untuk F550)
  • lensa 15x zoom,  24 – 360 mm, f/3.5-5.3
  • AF cepat
  • LCD 3.0 inci, 460 ribu piksel
  • font dan grafik Vector pada layar
  • 1600%  dynamic range
  • burst 8 fps (untuk F500)
  • Raw file format (untuk F550)
  • Full HD 1080p, 30 fps, H.264 (MOV) format, stereo
  • Stabilizer sensor-shift
  • New EXR Auto mode
  • Film simulation modes
  • Motion Panorama 360 mode

Soal harganya, Fuji HS20 akan dijual di kisaran 5 juta sedang F550/F300 di kisaran 3 jutaan.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Pentax hadirkan DSLR ‘upper entry level’ baru : Pentax K-r

Setelah cukup sukses bermain di kelas DSLR pemula dengan duo K-m dan K-x, serta punya andalah di kelas DSLR menengah dengan K-7, kini Pentax mengisi celah antara K-x dan K-7 dengan sebuah produk kamera DSLR baru bernama Pentax K-r (oke, penamaan dari DSLR Pentax dari dulu memang membingungkan).  Seperti apa kamera dengan sensor CMOS 12 MP ini mencoba bersaing di segmen yang sudah penuh sesak ini? Simak infonya berikut ini.

pentax-k-r

Pentax sebagai produsen kamera sejak jaman dahulu cukup kedodoran saat bersaing di segmen DSLR, apalagi saat menghadapi gempuran pendatang baru seperti Sony yang sudah lebih matang dalam hal teknologi digital imaging. Oleh karenanya Pentax selalu mencari celah yang bisa menjadi selling point untuk bersaing dengan merk terkenal, diantaranya adalah variasi warna, harga jual dan dukungan baterai AA. Seperti Pentax lainnya, K-r bisa ditenagai oleh baterai AA namun perlu memakai adapter, sedangkan baterai utamanya kini memakai baterai jenis Lithium.

Berikut spesifikasi Pentax K-r :

  • sensor CMOS, 12 MP (sama seperti Pentax K-x)
  • ISO 12800 (bisa hingga ISO 25600)
  • cepat dengan 6 fps
  • HD movie 720p 24 fps
  • 3 inci LCD, resolusi tinggi
  • pentamirror, 0,85x, 96% coverage
  • 11 titik AF (bisa menyala)
  • 16 segmen metering (bandingkan dengan 77 segmen pada K-7)
  • in camera HDR
  • stabilizer pada sensor (Anti Shake)

Untuk kamera DSLR kelas upper entry level, Pentax K-r ini bersaing ketat dengan EOS 550D dan Nikon D5000. Dalam hal spesifikasi juga ketiganya cukup berimbang sehingga pilihan lebih baik dititikberatkan atas ergonomi, tata letak tombol, serta dukungan lensa tentunya.

Harga jual Pentax K-r adalah 7 jutaan body only atau 8 jutaan dengan lensa kit 18-55mm.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Pentax K-x, DSLR super lengkap yang terjangkau

Saat bicara akan kamera DSLR yang harganya terjangkau, tentu kita terbayang akan kamera DSLR berukuran kecil yang punya kinerja pas-pasan dan fitur seadanya. Sadar kalau persaingan DSLR di kelas pemula semakin ketat, Pentax pun merasa perlu untuk membuat kejutan pada penerus dari K-m (K-2000), produk DSLR basic dari Pentax yang ditujukan untuk mengisi segmen market kelas 6 jutaan. Hal itu terbukti pada hari ini akhirnya Pentax mengumumkan kelahiran Pentax K-x, sang penerus dari Pentax K-m,  sebuah DSLR mungil yang semestinya masih tergolong kelas basic namun ternyata punya fitur super lengkap dan kinerja tinggi.

Pentax k-x
Pentax K-x (credit : stevesdigicams)

Inilah alasan mengapa kami menyebutnya DSLR super lengkap dan berkinerja tinggi :

  • Sensor CMOS berformat APS-C 12.4 MP dengan sensor-shift Shake Reduction hingga 4 stop, plus anti debu.
  • Live view dengan metoda phase dan contrast detect, lengkap dengan histogram.
  • Face detection yang mampu mendeteksi wajah hingga 16 wajah sekaligus.
  • Memakai modul auto fokus mutakhir SAFOX VIII dengan 11 titik AF, 9 diantaranya cross type.
  • Kemampuan merekam video HD 1280 x 720 piksel, 24 fps, M-JPEG.
  • ISO yang amat lebar dari 200 – 6400, bahkan bisa ditingkatkan menjadi ISO 100 – 12800 bila perlu.
  • Kinerja shutter yang tinggi dengan burst 4.7 fps, top speed 1/6000 detik dan usia shutter hingga 100 ribu kali jepret.
  • Fitur HDR yang menggabung tiga foto jadi satu foto HDR tanpa bantuan komputer.
  • Ditenagai baterai berjenis AA, mampu dipakai hingga 1900 kali dengan baterai AA Lithium dan 1100 kali dengan baterai AA alkaline.

Dalam paket penjualannya, Pentax K-x dibundel dengan lensa kit. Tersedia tiga pilihan lensa kit yang bisa dipilih, yaitu :

  • single kit : lensa smc PENTAX DA L 18-55mm($649.95)
  • dobel kit : lensa smc PENTAX DA L 18-55mm dan smc PENTAX DA L 50-200mm ($749.95)
  • dobel kit : lensa smc PENTAX DA L 18-55mm lens and the smc PENTAX DA L 55-300mm ($849.95)

Dengan hadirnya Pentax K-x, maka peta kompetisi DSLR papan bawah semakin menarik. Diatas kertas, diantara semua pilihan yang ada, praktis Pentax K-x menjadi pemenang dalam hal fitur dan kinerja. Hal ini karena strategi Pentax yang berbeda dari produsen lain, dimana Pentax justru membenamkan fitur kelas berat pada kamera ringan ini sehingga sulit dicari kekurangannya. Pesaing yang kelasnya sama umumnya memakai sensor 10 MP, 7 titik AF, tanpa fitur movie dan tanpa live view. Belum lagi soal ISO yang bisa hingga ISO 12800 dan dukungan wireless flash. Soal kinerja pun pesaing umumnya berkisar di 3 fps untuk burst dan 1/4000 detik untuk shutter tercepatnya. Namun hal paling mengesankan pada Pentax K-x ini menurut kami adalah disediakannya fitur HD movie yang tadinya hanya diberikan di DSLR kelas 8 jutaan (seperti EOS 500D dan Nikon D5000), dan juga pemakaian 11 titik AF (pada Pentax K-m memakai 5 titik) yang mana 9 diantaranya berjenis cross type, sungguh luar biasa. Adapun hal-hal yang sama saja seperti pesaing diantaranya ukuran dan resolusi LCD (2,7 inci), viewfinder tipe mirror dengan 0.85x dan 96% coverage, dan khususnya adalah dimensi kamera yang kecil dan ringan (meski bobot K-x tergolong berat dengan 580 gram).

Pentax K-x ini dalam urusan HD movie dan resolusi sensor bisa dibilang berhasil mengungguli semua kompetitor yang ada , bahkan dalam hal lainnya Pentax K-x mampu mengalahkan pesaing seperti :

  • Canon EOS 1000D : kalah dalam hal jumlah titik AF (7 titik) dan kinerja secara umum (mungkin penerus dari 1000D bisa menjadi pesaing paling imbang dari K-x).
  • Nikon D3000 : kalah dalam hal  live view dan kinerja secara umum.
  • Sony A230 : kalah dalam  live view, jumlah titik AF (9 titik) dan kinerja secara umum.
  • Olympus E-450 : kalah dalam hal jumlah titik AF (hanya 3 titik), tanpa stabilizer di bodi dan kalah untuk kinerja secara umum.

So, bisa jadi Pentax K-x ini bakal jadi kamera DSLR kelas murah yang terbaik di atas kertas. Sayangnya Pentax selalu kalah dalam hal promosi dan beriklan, serta dukungan lensa Pentax di tanah air tidak sebanyak lensa lain seperti Canon atau Nikon.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Berbagai fitur baru pada kamera digital modern

Yang membedakan kamera generasi baru dengan yang lama adalah banyaknya fitur modern yang dibenamkan kedalamnya. Fitur baru ditujukan untuk memudahkan pemakaian, memperbaiki hasil foto atau sekedar saling tiru antar produsen demi menjaga persaingan. Terkadang saat akan membeli kamera, seseorang terjebak dengan deretan istilah baru yang membuatnya bingung dan tulisan ini mencoba menelaah satu persatu fitur modern yang kini sering dijumpai di kamera digital keluaran baru dan seberapa perlukah kita terhadap fitur tersebut.

Dasar fotografi digital tetap saja tiga hal : shutter, aperture dan ISO. Dengan kombinasi ketiganya, berbagai variasi foto yang baik bisa dihasilkan. Namun setiap kehadiran fitur baru yang bisa memudahkan pemakaian dan mampu memperbaiki hasil foto tentu perlu direspon positif. Yang perlu dihindari, penambahan fitur yang belum tentu diperlukan tapi membuat harga kamera justru jadi lebih mahal. Dengan mengetahui fitur apa saja yang diperlukan, dan mana yang tidak, bisa mencegah kita dari memboroskan anggaran dengan membayar mahal akan sebuah kamera yang dijejali fitur yang sebenarnya tidak kita perlukan.

Inilah fitur baru yang umum dijumpai di kamera modern dan sekilas ulasannya :

Live view (DSLR)

live-iewBila anda terbiasa memakai kamera digital non DSLR tentu sudah terbiasa mengandalkan layar LCD untuk mengatur framing dan komposisi. Begitu beralih ke (sebagian) DSLR, anda mungkin akan terkejut saat menyadari tidak bisa preview gambar di LCD saat akan memotret, karena LCD di DSLR hanya untuk menampilkan hasil foto SETELAH foto diambil. Menyadari banyak pemula yang kini beralih ke DSLR, produsen mulai menerapkan konsep live-view pada kamera DSLR sehingga gambar yang akan difoto bisa ditampilkan di layar LCD layaknya kamera digital biasa.

Kamera DSLR modern umumnya sudah dilengkapi dengan fitur live view. Bila anda masih bingung bagaimana mengoptimalkan fitur ini, setidaknya ada dua hal yang perlu diingat : live view itu menguras baterai, dan live view melambatkan proses auto fokus. Live view tetap berguna meski hanya pada saat-saat tertentu saja, misal saat memotret dengan angle sulit (sambil jongkok atau mengangkat kamera diatas kerumunan orang). Meski tidak semua setuju, live view juga bermanfaat saat memotret makro, khususnya bila perlu  memperbesar tampilan objek foto di layar untuk memastikan fokusnya. Sebagian orang juga perlu memastikan histogram atau bahkan white balance sebelum memotret, dan ini hanya bisa diwujudkan berkat live view.

Jadi, fitur ini sebenarnya diperlukan, meski tidak mutlak. Masalahnya teknologi ini masih belum sempurna, karena masih ada issue soal auto fokus yang lambat saat live view. Bila anda perlu memeriksa histogram dan white balance sebelum memotret, sering mengambil posisi motret dengan angle sulit dan sering memotret makro, fitur ini mungkin berguna.

Face Detection

face-detectFitur pengenal wajah ini awalnya disambut dingin oleh kebanyakan fotografer, karena terdengar sangat dibuat-buat. Namun dalam perkembangannya, fitur yang sudah semakin disempurnakan ini lama kelamaan mulai tampak kegunaannya. Yang penting adalah, apa yang bisa dilakukan oleh kamera setelah dia bisa mengenali wajah?

Berkat fitur ini, kamera modern kini dapat dengan otomatis mengoptimalkan eksposure pada daerah wajah, dan menjaga wajah tetap menjadi target utama auto fokus, meski si objek berpindah posisi (AF tracking). Generasi kamera terbaru bahkan bisa mengidentifikasi dan menghafal wajah yang sering difoto sehingga mendapat prioritas utama. Lebih hebatnya, database wajah yang diingat oleh kamera ini bisa digabungkan dengan self timer, sehingga kamera hanya akan memotret bila si empunya wajah sudah terdeteksi oleh kamera.

Jadi, fitur ini lumayan perlu, bila anda tidak ingin repot mengatur setting kamera untuk mendapat foto potret yang baik. Di kamera DSLR, face detection tidak begitu perlu karena kelebihan DSLR adalah keleluasaan bermain dengan berbagai setting manual yang bisa diatur untuk mendapat eksposure yang tepat pada foto wajah.

Peningkat Dynamic Range (DR)

Idealnya, kita ingin memindahkan semua yang kita lihat ke dalam sebuah foto. Baik warna, detail hingga jangkauan dinamik/dynamic range. Soal warna, teknologi kamera masa kini memang sudah mampu mereproduksi foto seindah aslinya. Soal detail, hanya masalah waktu hingga nanti muncul kamera ratusan mega piksel yang detailnya mendekati aslinya. Tapi soal dynamic range, atau jangkauan terang gelap foto, itu soal lain. Beragam upaya kini ditempuh untuk meningkatkan dynamic range dari kamera digital. Istilahnya bisa macam-macam dan bisa bikin orang kelimpungan : Dynamic Range Optimizer, Active D-lighting, Shadow Adjustment Technology, dan masih banyak lagi. Intinya, fitur semacam ini ingin memperbaiki keterbatasan dynamic range kamera dengan memberikan gradasi dari terang ke gelap yang lebih halus. Kita tentu paham kalau intensitas cahaya di alam ini amat lebar dari amat terang hingga gelap, dan kita dianugerahi Tuhan sepasang mata yang mampu menangkap rentang yang amat lebar itu dengan baik. Namun tidak demikian halnya dengan kamera digital, yang dibatasi oleh keterbatasan sensor dan juga resolusi dari proses ADC-nya, yang menghasilkan sebuah foto dengan dynamic range yang terbatas.

Prinsip kerja sistem ini (sementara ini) hanyalah mencegah area terang/highlight foto menjadi over eksposure (sehingga detilnya hilang) dan sedapat mungkin mempertahankan detil yang ada di area gelap/shadow. Artinya si kamera dengan algoritmanya tersendiri akan mencari eksposure yang ‘aman’ di area terang dan ‘mengakali’ gelapnya area shadow dengan menaikkan ISO di area gelap (perkecualian untuk sensor EXR dari kamera Fuji terbaru yang meningkatkan Dynamic Range dengan menggabungkan dua piksel bertetangga di keping sensornya).

Jadi, fitur ini semestinya sangat perlu, apabila anda sering memotret siang hari dengan cahaya yang kompleks (kontras tinggi). Dengan menaikkan ISO, detil di area shadow akan sedikit noise, suatu harga yang harus dibayar atas fitur ini. Untuk mendapatkan dynamic range sesungguhnya yang dramatis, teknik HDR di Photoshop CS2 rasanya tetaplah yang utama.

Smile shutter

Jangan hiraukan fitur ini. Salah satu pengembangan dari teknologi face detection yang akan memotret saat objek tersenyum. Totally useless, apakah anda harus berkata “cheeeeese” setiap kali anda difoto?

Blink detection

Fitur ini juga akal-akalan dari kamera masa kini. Ceritanya, kamera bisa mendeteksi bila mata si objek kebetulan berkedip saat difoto. Kurang kerjaan, kalau berkedip ya difoto saja lagi. Beres.

Layar sentuh

Beberapa kamera high-end menyediakan fitur ini. Anda bisa mengakses menu dan mengatur setting kamera dengan menyentuh layar, bahkan bisa menentukan titik fokus juga dengan menyentuh layar. Harga yang harus anda bayar untuk fitur ini tidak murah, pertimbangkan lagi apakah anda perlu memiliki fitur ini. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa reaksi atau responsiveness dari menu berbasis layar sentuh tidak secepat seperti menekan tombol.

HD movie

Ambisi selanjutnya dari kamera digital adalah menggantikan fungsi camcorder. Sadar kalau resolusi movie VGA saja tidak cukup untuk menggantikan fungsi camcorder, produsen kini beralih menjadikan fitur HD movie sebagai spesifikasi wajib mereka. Untuk kelas ‘dasar’ disediakan HD 1280 x 720 piksel dan kelas ‘atas’ disediakan 1920 x 1080 piksel widescreen. Apakah ini tidak terlalu berlebihan? Untungnya berkat kompresi MPEG-4 AVC atau H.264 codec, resolusi video HD tidak terlalu membebani memory card karena sudah dibuat efisien hingga 3 kali lebih kecil daripada memakai MPEG-2. Menurut kami fitur ini perlu, toh harga sekeping memori 4 GB sudah semakin murah. Membuat tayangan video berkualitas HD dari sebuah kamera digital tentu merupakan suatu kemajuan yang positif.

Intelligent Auto mode

Fitur ini adalah fitur mode auto yang semakin disempurnakan, dengan harapan bahkan mereka yang nol besar dalam dunia fotografi bisa menghasilkan foto yang baik. Terlalu muluk memang, karena seberapa baik komputer bisa menentukan setting optimal pada tiap kondisi pemotretan masih patut dipertanyakan. Konsepnya, kamera akan mengenali suasana pemotretan (siang/malam), ada tidaknya orang (memakai face detect) dan apakah ada yang bergerak (untuk menentukan ISO). Dari data-data itu kamera akan menentukan shutter, diafragma, ISO dan white balance secara otomatis. Efektif tidaknya mode ini tentu bergantung pada banyak faktor, tapi fotografer sesungguhnya tidak akan bergantung pada fitur ini dalam menghasilkan sebuah foto yang baik.

Menurut kami, fitur ini lebih indah didengar daripada dalam pelaksanaaannya. Meski tidak ada yang salah dengan fitur ini, namun anda tidak ingin terus-terusan mengandalkan kamera sebagai penentu hasil foto anda kan? Practice makes perfect.

Itulah beberapa fitur baru yang sering digembar-gemborkan produsen kamera digital yang mungkin membuat kita silau, dan menganggap kalau kamera masa kini akan mampu memberi hasil foto yang lebih baik dari kamera lama. Prinsipnya, selagi berpegang pada konsep trio eksposure : shutter, aperture dan ISO, maka fitur modern hanyalah pelengkap dan boleh ada boleh tidak.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..