Hal-hal yang sebaiknya dilakukan setelah membeli kamera digital

Anda baru saja membeli sebuah kamera DSLR atau kamera mirrorless? Selamat, tentu ini adalah momen yang menyenangkan buat anda. Apalagi kalau kamera ini adalah yang pertama kali anda beli, pasti terasa lebih spesial. Anda tentu akan banyak mengutak-atik kamera tersebut dan akan sering memotret apa saja dan menikmati hasil fotonya. Tapi sebelum anda lebih jauh mengeksplor kamera baru itu, ada baiknya hal-hal berikut ini dilakukan. Apa saja? Inilah dia..

Baca buku manual

Buku manual, atau mungkin dokumentasi dalam format PDF, sangat dianjurkan dibaca baik-baik sebelum kamera anda dipakai. Cari informasi mengenai panduan singkat, apa yang dilarang, bagaimana cara mengisi (charge) serta memasang baterai dan sebagainya. Pahami betul bagaimana pengaturan kamera, fungsi tombol-tombolnya, mode kamera dan bagaimana memaksimalkan fiturnya. Tips : bila anda perlu dipandu dalam hal ini, kami punya kelas kupas tuntas kamera DSLR di Jakarta, rutin setiap bulan sekali.

Siapkan kartu memori baru

Kadang sebagai bonus dari toko, kita diberi kartu memori secara cuma-cuma. Tapi untuk lebih aman dan terjamin, pastikan kita membeli kartu memori sendiri sesuai kebutuhan. Carilah yang asli, kapasitas tinggi (misal 16 GB) dan kecepatan tinggi (misal kelas 10). Dengan begitu kamera siap untuk dipakai memotret cepat dan merekam video tanpa masalah. Memori palsu atau tidak jelas bisa beresiko membuat kamera error, atau minimal foto-foto anda gagal disimpan.

Belilah aksesori dasar

Alokasikan sedikit dana untuk membeli aksesori dasar yang lumayan dibutuhkan, seperti tisu lensa, peniup debu dan tas kamera. Dengan demikian kamera akan selalu terlindung saat dibawa, dan selalu siap dibersihkan saat terkena noda atau debu. Hindari pakai tisu biasa yang banyak seratnya, tisu lensa bisa dibeli di toko kacamata atau di toko kamera.

Investasikan sebuah Dry box atau kotak kedap udara

drybox

Idealnya menyimpan kamera bukan di tas, tapi di dry box. Di tas itu hanya saat kamera akan dibawa bepergian. Dry box dibutuhkan untuk menyimpan kamera dan lensanya, sehingga tidak berjamur akibat lembab. Bila dry box terlalu mahal, belilah kotak plastik kedap udara lalu masukkan silica gel atau serap air. Lensa yang berjamur akan sulit dibersihkan, dan bila nanti akan dijual harganya bakal jatuh. Saat di dalam dry box, lepaskan lensa dari kamera dan keluarkan juga baterainya.

Bekali pengetahuan dasar manajemen file foto

Foto-foto anda akan bertambah banyak setiap hari. Tidak mungkin semuanya hanya disimpan di kartu memori kan? Bagi yang awam dengan komputer, mulailah membiasakan mengerti manajemen file foto karena anda akan punya ribuan foto yang perlu disimpan. Buatlah alur kerja yang baik mulai dari proses pemindahan foto dari kartu memori ke komputer, pengaturan folder dan editing dasar (rename, resize, rotate, crop, enhance dan convert). Biasakan juga rutin melakukan backup ke DVD/hardsisk eksternal.

Mulai menyusun daftar belanja

Ini yang paling seru, sekaligus penuh racun, hehe… Banyak hal yang tadinya tidak terpikirkan tiba-tiba jadi terasa perlu untuk dibeli. Cobalah untuk dipilah secara bijak mana dulu yang prioritas, misalnya :

  • lensa tambahan, bisa lensa fix yang murah (seperti 50mm f/1.8) atau lensa tele murah (seperti 55-200mm)
  • pengganti lensa kit, bila lensa kit kurang memuaskan bisa pertimbangkan lensa lain untuk jadi pengganti lensa kit (misal lensa 18-200mm, atau lensa bukaan besar seperti 17-50mm f/2.8)
  • tripod, ini juga penting untuk memotret dengan stabil dan tidak goyang/blur
  • flash eksternal, perlu untuk menambah kekuatan flash dan menghemat baterai kamera (dibanding memakai flash built-in)
  • aneka filter (CPL, ND, atau setidaknya UV) sesuai kebutuhan
  • baterai cadangan (apalagi baterai di kamera mirrorless lebih cepat terkuras)
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Kamera apa untuk belajar fotografi

Pertanyaan ini kerap ditanyakan oleh mereka yang hendak membeli kamera dan bingung lantaran banyaknya pilihan dan jenis kamera yang ada saat ini. Hal penting yang perlu digarisbawahi dari pertanyaan diatas adalah ‘belajar fotografi’, setidaknya si penanya tahu bahwa dia punya visi akan memakai kameranya untuk mendukung hobi fotografi, bukan untuk asal jepret saja. Kita akan bahas kamera seperti apa sih yang cocok untuk belajar fotografi itu.

Kalau anda tergolong seorang snapshooter, atau yang suka memotret asal jepret saja, pada dasarnya anda tidak perlu kamera khusus, pakai saja kamera saku atau bahkan kamera ponsel. Saat ini ponsel cerdas sudah punya sensor yang resolusinya tinggi, auto fokus dan ada lampu kilatnya. Tapi jangan salah, meski cuma ponsel berkamera, dia juga bisa menghasilkan foto yang bagus, misalnya dipakai oleh orang yang paham soal komposisi atau saat ketemu momen yang tepat.

Kembali ke topik. Kalau disederhanakan, semua kamera, film dan digital, dari di ponsel sampai DSLR tentu bisa untuk belajar fotografi. Karena fotografi kan luas, tidak hanya aturan baku eksposur maupun hal-hal teknis seperti metering dan fokus. Tapi kalau dibahas soal kamera apa yang secara teknis bisa mendukung pemahaman kita terhadap dunia fotografi, nah ini mulai seru.

Idealnya, kalau kita mau puas memaksimalkan kamera kita untuk memahami fotografi, carilah kamera yang

  • punya mode manual eksposur, artinya kita bisa menentukan sendiri mau memakai shutter speed dan aperture lensanya
  • ada dudukan lampu kilat eksternal untuk kita belajar pencahayaan
  • bisa menyimpan file RAW sehingga hasil fotonya bisa diedit sendiri
  • bisa manual fokus yang berguna saat auto fokus meleset atau gagal
  • punya tombol dan roda kendali yang bisa untuk mengganti setting dengan cepat

kalau dilihat kelima item diatas, pilihannya akan mengerucut pada kamera-kamera lumayan mahal, paling tidak sudah seharga 3 jutaan. Well, ya bagaimana lagi, kalau kamera 2 juta kebawah memang lebih untuk snapshot saja dan itupun pasarnya sudah digerus oleh ponsel cerdas. Tapi kalau anda perlu kamera terjangkau yang bisa buat memahami fotografi, paling tidak poin pertama itu wajib, yaitu bisa manual eksposur. Cirinya ada mode M, yang biasanya dilengkapi juga dengan mode semi-manual seperti A (Aperture priority) dan S (Shutter priority). Dengannya, kita bisa menentukan efek kreatif seperti memakai shutter speed lambat misal untuk menghaluskan gerakan air (di pantai, sungai, air terjun dsb) atau mengatur ruang tajam (Depth of Field) dengan merubah nilai bukaan lensa.

canon-650d-stm

Jadi, kalau dananya cukup, usahakan beli kamera DSLR untuk belajar fotografi. Selain pengaturannya lengkap, hasil fotonya juga bagus. Memang mahal dan perlu beli berbagai tambahan lagi seperti lensa, flash dll tapi itu sepadan dengan ilmu yang akan kita dapat. Kalau yang suka dengan kameramirrorless pada dasarnya oke juga, dia sama seperti DSLR juga dan tentu cocok untuk belajar fotografi.

p7700

Bila dana terbatas, di kisaran 3 jutaan ada kamera non DSLR (lensanya tidak bisa diganti) yang punya kelengkapan lumayan. Misalnya bisa mode manual, ada dudukan flash dan bisa RAW. Kamera ini disebut kamera prosumer, atau bridge-camera atau kamera advance compact. Ada beberapa produk yang cukup populer seperti Canon seri-G, Nikon seri-P, Fuji seri-HS dan Lumix seri-FZ. Bila hanya perlu kamera kecil yang cukup lengkap dan canggih, ada Canon seri-S, Olympus seri-XZ dan Lumix seri-LX.

Tambahan info :

Kalau sudah beli kameranya, bisa ikuti kelas fotografi kami untuk lebih cepat paham dengan panduan dari seorang praktisi dan photography enthusiast, sekaligus penulis buku yaitu Enche Tjin. Anda bisa memilih kelas sesuai kebutuhan :

  • kelas fotografi sabtu-minggu plus belajar lighting, info disini
  • kelas fotografi malam (3 hari), info disini
  • kelas 1 hari khusus memahami DSLR Canon, info disini
  • kelas 1 hari khusus memahami DSLR Nikon, info disini
  • kelas 1 hari memaksimalkan kamera compact / saku, info disini
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Nikon D7100 hadir, percaya diri tanpa low-pass filter

Hari ini Nikon resmi meluncurkan kamera DSLR D7100, regenerasi dari produk sebelumnya D7000. Beberapa hari sebelumnya di internet sudah beredar rumor lengkap dengan spek dan gambarnya, yang mengindikasikan kalau rumor tersebut  99,99% pasti terbukti. Kita tahu kalau D7000 adalah kamera DSLR Nikon yang sangat populer dan tidak ada hal negatif yang fatal darinya, sehingga orang tidak terlalu penasaran dengan apapun kamera yang hadir setelahnya. Tapi tetap saja kepastian hadirnya D7100 banyak dinantikan para fotografer, karena mereka ingin memastikan apakah Nikon akan melebur segmen consumer dan segmen semi-pro pada D7100. Dan hadirnya D7100 hari ini seperti menegaskan kalau Nikon memang sudah bertekad tidak akan membuat penerus dari D300s di segmen semi-pro.

d7100

Nikon D7100 memang ditujukan untuk mengisi dua segmen sekaligus, menjadi produk kelas menengah yang relatif terjangkau, sekaligus menjadi produk semi-pro yang cepat, sarat fitur dan bodi kokoh. Jadi dengan dimensi yang relatif sama seperti D7000, kamera ini justru punya jeroan yang lebih mumpuni seperti 51 titik AF dan kecepatan tembak 6 fps dalam resolusi 24 MP. D7100 seakan ingin dijadikan top class-nya kamera DX, sedangkan bagi yang dananya lebih dipersilahkan meminang low class-nya kamera FX yaitu D600.

d7100-b

Uniknya di D7100 kali ini adalah Nikon tidak menyematkan filter low-pass pada sensor. Hal ini persis sama pada kamera Nikon D800E yang dibuat khusus untuk pecinta landscape. Di D7100 tidak ada pembagian versi, artinya semua kamera D7100 pasti tanpa low-pass filter. Sekedar info bahwa filter ini dibuat awalnya untuk mengurangi moire yang muncul pada foto, tapi sebagai resikonya foto jadi tidak terlalu tajam. Dengan menghilangkan fiter ini (biasa disebut juga filter anti aliasing) maka ketajaman naik tapi resiko moire akan muncul saat bertemu obyek dengan pola garis rapat seperti pada kain.

Jadi lengkaplah sudah trinity Nikon DX saat ini, dengan sensor 24 MP semuanya : D3200 (basic DSLR), D5200 (basic DSLR dengan layar lipat) dan D7100 (DSLR menengah). Kenapa kami menempatkan D3200 dan D5200 dalam kelas basic? Karena keduanya relatif sama dalam banyak hal, seperti logical tombol dan menu, bodi, prisma, roda dial, tanpa LCD kecil di bagian atas hingga ketiadaan motor AF di bodi. Hanya saja D5200 punya jeroan yang lebih modern seperti titik fokus dan metering. Tapi kita kan tidak sedang membahas D5200, maka kita kembali bahas D7100 ya..

Peningkatan utama

Sensor

sensor

APS-C CMOS 24 MP tanpa low pass filter. Ketajaman ekstra ini akan diapresiasi oleh pecinta landscape.

Bodi

d7100-seal

Bagian depan polycarbonate, bagian atas dan belakang adalah logam (magnesium alloy), weather sealed yang aman dipakai saat hujan atau debu. Disukai para petualang atau wartawan.

Titik Fokus

viewfinderdisplay

Modul AF sudah memakai 51 titik fokus, dengan 15 cross type. Modul di D7000 dengan 39 titik AF sudah diwariskan ke D5200. Dengan titik sebanyak ini akan berguna untuk melacak benda bergerak supaya tetap fokus. Disukai para fotografer sport atau satwa liar.

Kecepatan tembak

Untuk continuous shooting bisa mencapai 6 fps dalam resolusi 24 MP, bisa jadi 7 fps dalam crop mode 15 MP (dibahas nanti). Meski kecepatan 6  hingga 7 fps di era sekarang relatif biasa tapi tetap saja kamera ini sudah tergolong pekerja cepat.

Crop mode

Bila tadinya hanya kamera FX Nikon yang ada crop mode, kini kamera DX juga bisa merasakan crop mode. Untungnya sensor D7100 sudah 24 MP sehingga di crop mode masih menghasilkan file dengan resolusi 15 MP (hampir sama dengan resolusi sensor D7000). Bisa jadi inilah alasan orang membeli D7100 dibanding D5200 atau D3200 walau ketiganya punya sensor yang sama-sama 24 MP. Dengan crop mode, kamera hanya mengambil sebagian area sensor (yang tengah) sehingga hasil fotonya seolah-olah di crop. Fokal efektif  akan terkoreksi 1,3x sehingga membantu bila jangkauan tele lensa kita kurang jauh. Misal lensa kita adalah 200mm, karena crop factor sensor APS-C adalah 1,5x jadi fokal lensa setara dengan 300mm. Bila memilih crop mode, maka lensa kita akan setara dengan 390mm (hampir 2x), sangat lumayan kan..

Keuntungan lain crop mode ini adalah kecepatan tembak meningkat jadi 7 fps (masuk akal karena resolusi foto lebih kecil, sehingga kamera punya waktu lebih cepat untuk memproses data). Keuntungan lain adalah titik AF sebanyak 51 titik itu akan menjadi tersebar hingga ke tepi area foto, sangat berguna bila kita sedang melacak obyek yang bergerak tidak beraturan. Crop mode ini juga bisa dimanfaatkan saat merekam video, sehingga bisa memilih opsi 60 fps untuk video yang lebih mulus.

Perubahan eksternal

Sepintas tidak terlalu tampak perbedaan antara D7000 dan D7100. Tapi bila diperhatikan lagi Nikon melakukan perubahan cukup banyak dalam tata letak tombol dan desain, mengikuti tren DSLR Nikon era saat ini seperti D600 dan D5200. Yang paling terlihat berbeda adalah tombol live view, lalu LCD yang agak lebih besar dan bodi yang lebih mengkilap karena unsur logam.

Semua hal baik di D7000 tetap dipertahankan disini. Dual slot memori, wireless flash, viewfinder yang lega dan tentunya adalah ergonomi yang tepat. Tak diragukan D7100 akan kembali meraih sukses, paling tidak dia bisa merengkuh multi segmen market :

  • penghobi fotografi yang tak mau sekedar kamera pemula
  • amatir serius yang mencari kamera menengah
  • fotografer semi pro yang mencari kamera tangguh dan cepat
  • pecinta landscape yang perlu hasil foto tajam dan resolusi tinggi
  • videografer yang mengandalkan DSLR untuk membuat video kelas pro
  • fotografer senior yang sudah punya banyak lensa Nikon jadul

Untuk harga pasaran estimasi adalah 12 jutaan bodi only, masih relatif wajar untuk fitur yang ditawarkan. Head to head dengan kompetitor rasanya lebih tepat melawan Canon EOS 7D dan mungkin 7D mark II nanti bila jadi keluar. Seperti biasa, kita tunggu saja reaksi Canon..

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Pilih gear yang sesuai minat fotografi anda

Fotografi, tentu perlu kamera dan lensa. Dengannya, berbagai macam foto bisa didapatkan tergantung hobi dan gaya memotret si empunya. Kamera jaman dulu yang cuma memakai lensa fix 50mm, bisa dipakai untuk banyak kebutuhan fotografi. Sejak era lensa zoom, fotografer makin dimanjakan karena bisa berkreasi dengan perspektif, sudut gambar dan komposisi yang beragam. Tapi tahukah anda, saat ini bila seseorang ingin lebih serius menekuni fotografi, gear atau peralatannya perlu semakin ditambah. Repotnya, beda hobi, beda keminatan fotografi bisa berbeda juga gearnya.

Kami coba ulas beberapa keminatan atau cabang fotografi yang umum saja, yaitu potret, landscape, makro dan sport/aksi. Ternyata untuk lebih bisa maksimal dalam menekuni hobinya, kita perlu lebih dulu menentukan minat dan cabang fotografi mana yang mau kita tekuni. Dari situlah baru kita bisa menginvestasikan gear yang sesuai dan efektif.

Foto potret

Ciri foto potret adalah adanya wajah manusia dalam foto (tentu saja kan..). Foto potret yang lebih disukai adalah yang latar belakangnya dibuat blur, supaya fokus atau atensi kita tertuju pada si orang yang difoto. Pencahayaan potret umumnya terbagi dua : alami dan buatan (atau gabungan keduanya). Cahaya alami akan sangat ditentukan waktu, arah cahaya dan sumbernya, sedang yang buatan biasanya dari fill flash hingga strobist. Foto potret juga diharapkan bisa menghasilkan warna kulit yang natural dan tidak terlalu tajam.

potret

Peralatan yang umum dipakai dalam fotografi potret :

  • kamera DSLR bebas
  • lensa fix dengan fokal menengah hingga tele (misal 50mm f/1.8 atau 85mm f/1.4)
  • lensa tele dengan bukaan besar (misal 70-200mm f/2.8)
  • lensa allround dengan bukaan besaar (misal 24-70mm f/2.8)
  • flash eksternal
  • aksesori flash : trigger, diffuser, payung, softbox, reflektor

softbox

Gambar diatas adalah contoh softbox dengan sumber cahaya sebuah lampu flash eksternal, yang cocok untuk membentuk cahaya buatan pada foto potret. Bila disimpulkan, foto potret identik dengan lensa bukaan besar untuk bokeh yang baik, lalu perlu flash dan aksesorinya untuk membentuk dan mengarahkan cahaya.

Foto landscape

Foto landscape sangat diminati karena sambil hunting bisa sambil travelling, bahkan menjurus ke adventure. Hasil foto landscape yang sukses juga bisa dibanggakan bahkan bisa dijual. Kendala landscape yang utama adalah pemilihan lokasi dan waktu yang tepat, lalu banyak faktor luar yang bisa bikin gagal (hujan, banyak turis, sunset tertutup awan dsb). Landscape memang tidak harus selalu identik dengan foto wideangle, meski memang harus diakui kalau wideangle bisa memberi kesan luas yang biasanya lebih disukai. Landscape juga perlu kejelian memilih obyek, seperti langit, pepohonan, air dan bebatuan. Masalah terberat landscape adalah kontras tinggi antara langit yang terik dan bumi yang lebih gelap. Tapi itulah tantangan dari foto landscape, dan banyak usaha yang bisa dilakukan untuk mengatasi kendala itu.

landscape

Gear para fotografer landscape :

  • kamera DSLR, resolusi tinggi lebih baik, weather sealed lebih baik
  • lensa wide/ultrawide untuk kesan luas (misal 12-24mm f/4)
  • lensa lain untuk antisipasi (bisa lensa allround seperti 24-70mm f/2.8 atau lensa sapujagat 18-200mm)
  • tripod, yang kokoh, berbahan karbon, yang kakinya bisa dibentangkan sangat lebar
  • filter (ND, gradual ND, CPL)
  • cable release

graduated_nd_filter

Gambar diatas adalah contoh filter graduated ND yang dipasang didepan lensa. Bila disimpulkan, foto landscape sering diidentikkan dengan gear berupa lensa wide, tripod dan filter ND/grad ND serta CPL. Dalam banyak kasus tidak dibutuhkan penggunaan flash eksternal.

Foto makro

Mendapatkan detail dari obyek yang sangat kecil tentu menantang, dan bila berhasil maka hasilnya akan menarik dan unik. Foto makro idealnya punya rasio reproduksi 1:1 alias life size. Tantangan foto makro adalah menemukan obyek yang menarik (obyek serangga akan lebih menantang karena sulit didekati) lalu kesulitan lain adalah di area fokus yang sempit (depan fokus, belakang blur) meski sudah mengecilkan bukaan. Selain itu makro identik dengan lensa yang tajam, dan bisa mengunci fokus dalam jarak dekat.

macro-ring-flash

Gear para fotografer makro :

  • kamera DSLR, resolusi tinggi lebih baik
  • lensa makro, dengan rasio reproduksi 1:1 (misal 60mm, 90mm atau 105mm)
  • lensa lain dengan teknik khusus (reverse lens atau extention tube)
  • close up filter
  • ring type flash (berbentuk bulat melingkari lensa)
  • tripod untuk mencegah blur saat memotret
  • alternatif murah lainnya : lensa zoom yang mengklaim bisa makro (misal 17-70mm) tapi lensa ini tidak bisa 1:1 sehingga belum layak disebut lensa makro

Bila disimpulkan, foto makro memang perlu lensa 1:1 dan akan lebih baik pakai flash khusus yang berjenis ring seperti contoh gambar diatas.

Foto sport/aksi

Ciri utama dari foto sport atau aksi adalah obyeknya bergerak, dan tujuan fotonya adalah membekukan gerakan untuk menangkap ekspresi atau momen yang diharapkan. Dari sini bisa dibayangkan tingkat kesulitan foto sport adalah kecepatan dan timing, sehingga selain pengalaman dibutuhkan juga gear yang mendukung minat fotografi ini. Faktor eksternal seperti cahaya lingkungan juga sangat menentukan tingkat kesulitan foto sport, karena kita tahu foto dengan shutter cepat tentu perlu cahaya banyak.

70-200s

Gear para fotografer sport :

  • kamera DSLR dengan kemampuan continuous shooting yang cepat, modul auto fokus yang akurat dan buffer yang besar
  • lensa tele dengan bukaan besar (misal 70-200mm f/2.8) dan motor fokus yang cepat (SWM untuk Nikon atau USM untuk Canon)
  • alternatif lensa murah : lensa tele dengan motor fokus yang cepat seperti AF-S 70-300mm, resikonya di kamera perlu menaikkan ISO ke angka tinggi untuk dapat shutter cepat
  • monopod untuk menahan bodi dan lensa supaya stabil
  • kartu memori dengan kecepatan tulis yang tinggi (misalnya kelas 10 untuk SD card)

Bila disimpulkan, gear yang cepat menjadi syarat wajib foto aksi (misal kamera dengan 8 fps), plus lensa bukaan besar untuk mendukung kecepatan kamera. Bila lensa bukaan besar terlalu mahal, bisa lensa lain dengan bukaan variabel tapi tetap harus yang punya motor fokus cepat seperti USM atau SWM. Untuk sport, jangan memakai lensa tele murah seperti Canon EF-S 55-250mm atau Nikon AF-S 55-300mm yang auto fokusnya lambat.

Dengan speed tinggi tripod memang tidak dibutuhkan, tapi sebuah monopod akan membantu untuk menahan bobot kamera dan lensa saat kita harus menunggu momen hingga berjam-jam lamanya.

Untuk panduan lengkap memilih gear fotografi, bisa juga cari buku ini di toko buku terdekat di kota anda :)

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Lima alasan mengapa memilih kamera DSLR pemula

Dari pengalaman kami setiap mengisi materi Kupas Tuntas Kamera DSLR (Canon maupun Nikon), banyak ditemui peserta yang kebingungan memakai kamera DSLR miliknya. Padahal kamera yang mereka pakai termasuk yang kelas menengah, fiturnya lengkap dan tentu harganya juga mahal. Ternyata kamera yang lebih canggih malah lebih sulit untuk dipahami, apalagi kalau baru pertama kali pakai DSLR. Sebetulnya kamera DSLR itu ada juga yang dibuat untuk pemula, dengan harga terjangkau. Tapi saat ini justru banyak anggapan ‘miring’ soal kamera pemula, juga ada anggapan bahwa lebih baik sekalian beli kamera yang canggih supaya tidak gonta-ganti lagi di masa mendatang. Betulkah?

nikon-d3200

Kali ini kami akan kupas mengapa tidak selalu anggapan negatif tentang kamera DSLR pemula itu benar, bahkan sebaliknya, kamera DSLR pemula lebih baik dipilih oleh anda yang baru akan membeli kamera DSLR pertama. Kenapa?

1. Hasil foto sama bagusnya

Kamera DSLR pemula, memakai sensor yang sama ukurannya dengan kamera yang kelasnya diatasnya. Contoh Nikon D3100 sensornya APS-C, lalu Nikon D7000 juga APS-C. Secara teori hasil foto keduanya akan sama bagusnya, tinggal bagaimana skill dan setting saat memotret yang akan membedakan hasilnya. Beda seandainya sensor yang dipakai adalah sensor kecil (misal Nikon 1, Pentax Q atau kamera compact) maka hasil fotonya kalah dibanding sensor APS-C.

sensor-size

Jadi jangan merasa minder kalau saat acara hunting bareng, anda pakai DSLR pemula lalu sebelah anda pakai kamera DSLR kelas menengah. It’s man behind the gun guys..

2. Mudah dipahami

Kamera DSLR pemula dibuat dengan seksama oleh produsennya, untuk mudah dipahami dan digunakan oleh orang yang sama sekali belum pernah memakai kamera DSLR sebelumnya. Di Nikon pemula dijumpai Guide Mode yang akan membantu kita mendapatkan foto yang baik. Di Canon pemula ada Creative Auto, yang memandu kita yang belum paham soal eksposur. Di Nikon pemula bahkan banyak disajikan ilustrasi gambar hingga simulasi ukuran bukaan lensa (aperture) sehingga mudah untuk memahami istilah fotografi yang rumit. Bila setting yang kita pilih tidak pas, kamera memberi tahu misalnya : Subject is too dark, use flash.

nikon_d3100_tips_1

Kamera DSLR kelas menengah, ditujukan bagi yang sudah paham fotografi dan setting kamera. Maka itu sering dijumpai kode-kode yang tanpa penjelasan. Perlu waktu belajar lebih lama bagi pemula untuk memahami kamera DSLR menengah.

3. Pemakaian yang simpel

d3xSalah satu alasan kenapa kamera kelas menengah harganya cukup mahal, adalah banyaknya tombol dan kendali eksternal di bodinya (seperti contoh gambar disamping ini). Tapi tanpa pemahaman soal fungsi tombol dan roda serta tuas selektor, maka salah pencet bisa berakibat fatal. Kamera pemula didesain simpel dengan menyimpan akses pengaturan kamera di dalam MENU, sehingga kita hanya menekan tombol yang sifatnya umum seperti tombol Info, Flash, Ev dsb. Resiko salah pencet pun berkurang.

Semakin canggih kamera, makin sedikit mode Auto yang ditawarkan. Di kamera pemula kita bisa memilih berbagai Scene mode yang simpel. Kamera canggih seperti D800 malah hanya ada pilihan mode P/A/S/M saja.

4. Harga terjangkau

Filosofinya begini : pemula belum pengalaman akan karakteristik tiap merk kamera, saat membeli mereka hanya apa kata penjual, kata teman, atau baca tulisan di internet. Saat dia beli kamera yang mahal, lalu baru menyadari kalau dia tidak cocok dengan kamera itu, maka kerugiannya (secara finansial) cukup besar. Dijual lagi pun harga sudah jatuh. Kalau beli kamera DSLR pemula, harga yang dibayarkan cukup murah, mulai dari 4 hingga 6 juta sudah termasuk lensa. Gunakan, pelajari dan putuskan apakah kameranya ‘gue banget’ atau tidak. Kalau tidak, dijual lagi pun kerugiannya tidak terlalu besar kan..

5. Canggih juga kok

Jangan anggap remeh kamera pemula. Ambil satu contoh misalnya EOS 600D. Kamera ini sudah punya sensor 18 MP, 9 titik fokus, ISO hingga 12800, fitur video full HD dengan manual eksposur, pengaturan wireless flash lengkap, custom WB, bermacam Picture Style, bermacam art filter dan retouch image. Layar LCD-nya resolusi sangat tinggi, tajam dan jernih, plus sudah bisa dilipat, live view dengan informasi lengkap termasuk histogram dan face detection. Prosesor kamera DSLR pemula jaman sekarang sudah sangat kencang, mampu mengolah foto yang diambil hingga 4 foto per detik.

picturemodesettings

Kamera juga bisa membuat setiap foto yang diambil jadi lebih optimal dalam hitungan mili detik, seperti Lighting Optimizer (Canon) Active D-Lighting (Nikon) dan Periferal Illumination Correction yang mengkoreksi cacat lensa otomatis. Di Canon bahkan ada fitur tersembunyi untuk menjaga detil di bagian terang dengan mengakses custom menu lalu masuk ke pengaturan Highlight tone priority.

Kesimpulan

Tidak ada yang melarang anda memilih kamera DSLR menengah. Saat anda semakin mahir, kamera anda masih sanggup meladeni skill anda. Tapi masa-masa terberat anda adalah saat beradaptasi dengan kamera anda. Semakin canggih kameranya, waktu yang anda butuhkan untuk mengenal dan memahami kamera anda akan semakin lama. Learning curve anda akan lebih terjal.

nikon lens and flash

Kamera DSLR pemula, di sisi lain lebih mudah untuk dipelajari dan digunakan. Hasil fotonya pun sama, dan dana lebih yang anda punya bisa diinvestasikan untuk membeli lensa (fix, tele, wide) dan aksesori lain (filter, flash, tripod). Okelah kamera pemula memang punya keterbatasan (kecepatan, ketangguhan bodi, grip yang kecil, tombol sedikit) tapi dengan mengenali keterbatasan kamera kita, kita bisa memutuskan apakah mau kompromi atau mau upgrade. Kalau mau future proof, sekalian saja upgrade ke Nikon D600 atau Canon EOS 6D yang bakal jadi kamara idaman penghobi fotografi. Hehehe.. racun..

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Duel seimbang DSLR pemula : Nikon D3100 vs Canon 1100D

Perang antara Canon dan Nikon dalam dunia DSLR seakan tak ada habisnya. Keduanya sama-sama punya produk unggulan di tiap segmen, khususnya di kelas DSLR pemula yang paling besar market share-nya. Kali ini kami akan membahas mengenai pertarungan seimbang dua produk yang amat populer yaitu EOS 1100D dari kubu Canon melawan D3100 dari kubu Nikon. Keduanya meski masuk ke kategori DSLR pemula namun secara esensi sepertinya sudah berevolusi menjadi kamera lengkap nan terjangkau dengan harga jual di kisaran 5 jutaan rupiah. Simak seperti apa keunggulan masing-masing dan temukan kamera mana yang terbaik di kelas pemula dalam artikel kami kali ini.

Nikon D3100

Diantara keduanya, Nikon D3100 lebih dahulu hadir yaitu tepatnya di bulan Agustus 2010 menggantikan D3000 dengan perbedaan utama yaitu beralihnya pemakaian sensor CCD 10 MP di D60/D3000 menjadi sensor CMOS 14 MP. Dengan harga 5,5 juta plus lensa kit AF-S 18-55mm VR, kamera keren ini sudah bisa jadi milik anda. Meski mengusung embel-embel kamera pemula, namun nama itu lebih dimaksudkan bahwa fitur yang dimiliki kamera ini didesain untuk mudah digunakan oleh pemula. Tetapi bila ditinjau spesifikasinya tampak kalau D3100 punya banyak keistimewaan seperti 11 titik auto fokus yang akurat dan kemampuan merekam video High Definition beresolusi 1920 x 1080 dengan auto fokus. Bahkan shutter unit kamera ini sudah lulus uji untuk 100 ribu kali pakai. Wow..

Dalam hal kemampuan ISO, D3100 tampil mengesankan dengan kemampuan ISO 3200 dan bisa ditingkatkan sampai setara dengan ISO 12800. Artinya kamera ini bisa diandalkan untuk dipakai di tempat dengan pencahayaan kurang. Kalaupun ada hal yang membedakan kamera ini dengan DSLR Nikon yang lebih mahal adalah kecepatan burstnya yang cukup mencapai 3 foto per detik dan resolusi layar LCD yang cukup dengan 230 ribu piksel saja. Yang disayangkan adalah Nikon masih belum menyediakan fitur dasar berupa exposure bracketing di D3100. Selain itu D3100 juga tidak menyediakan motor AF sehingga lensa Nikon lama (non AF-S) tidak bisa auto fokus. Tapi apapun itu, D3100 dianggap sebagai DSLR pemula terbaik yang pernah dibuat oleh Nikon.

Canon 1100D

Canon awalnya mengandalkan EOS 1000D sebagai DSLR paling ekonomis yang pernah dibuatnya. Respon pasar ternyata sangat positif akan hadirnya EOS 1000D sehingga Canon bisa menikmati keuntungan dari penjualan kamera seri 4 digit tersebut. Mungkin itulah alasan kenapa Canon perlu waktu 18 bulan untuk membuat penerus dari 1000D, ditambah lagi saat ini semua kamera sudah semakin modern dan dilengkapi dengan fitur HD movie, maka upgrade 1000D ini terasa mendesak untuk dilakukan. Setengah tahun sejak Nikon meluncurkan D3100, tepatnya di bulan Februari 2011 akhirnya Canon meluncurkan EOS 1100D, maka dimulailah perang antara keduanya sebagai DSLR pemula terbaik yang pernah ada.

Beberapa penyempurnaan penting dilakukan Canon dalam membuat penerus 1000D yaitu dipakainya sensor CMOS 12 MP dengan prosesor Digic IV. Kamera seharga 5,2 juta ini bahkan sudah dilengkapi dengan lensa kit EF-S 18-55mm IS yang cukup baik untuk dipakai sehari-hari. Kemampuan merekam video telah dibenamkan di EOS 1100D ini, tepatnya adalah High Definition resolusi 1280 x 720 piksel. Hal mengesankan lainnya yang dijumpai di kamera ini adalah kemampuan ISO 6400 dan metering 63 zone yang peka terhadap fokus, warna dan luminance. Layaknya DSLR pemula lain, kecepatan  burst 1100D hanya mencapai 3 gambar per detik dan resolusi layar LCD-nya memang hanya 230 ribu piksel saja. Sayangnya hingga kini Canon belum mengizinkan EOS empat digitnya untuk memiliki fitur spot metering.

Mana yang lebih baik?

Tidak mudah menilai mana yang lebih baik dari keduanya. Disamping memiliki spesifikasi yang hampir sama, keduanya juga dijual di kisaran harga yang hampir sama juga. Bolehlah dibilang keduanya berimbang terutama dalam hal :

  • kualitas hasil foto (skor sensor di dxomark berbeda sedikit)
  • fitur live view
  • kecepatan burst (3 fps)
  • resolusi layar LCD
  • spesifikasi dan jenis viewfinder
  • ada mode untuk membantu pemula

Namun dalam beberapa hal Nikon D3100 lebih unggul seperti :

  • resolusi dan ukuran sensor sedikit lebih besar (14 MP vs 12 MP)
  • titik AF yang lebih banyak (11 titik vs 9 titik)
  • ada fitur 3D tracking AF
  • resolusi HD video (1080p vs 720p) plus auto fokus saat merekam video
  • ada tuas khusus untuk berganti mode cepat (continuous shooting, self timer dsb)
  • jangkauan lampu kilat lebih besar (12 m vs 9 m)
  • layar LCD sedikit lebih lega (3 inci vs 2.7 inci)

Sedangkan hal yang membuat EOS 1100D lebih baik adalah:

  • dukungan semua lensa Canon EF dan EF-S (bisa autofokus)
  • bisa bracketing (AE dan WB)
  • ISO normal maksimum ISO 6400 (vs ISO 3200)
  • ada tombol langsung untuk mengatur ISO
  • muncul histogram saat live view
  • tersedia aksesori resmi untuk battery grip
  • baterai tahan lebih lama (700 shot vs 550 shot)

Dalam hal ini kesimpulan kami adalah bahwa Nikon D3100 sedikit lebih unggul dari EOS 1100D. Kunci kemenangannya adalah dalam hal sensor, fokus dan HD video. Sedang EOS 1100D bisa dibilang tidak ada fitur yang terlalu menonjol tapi semua kebutuhan dasar fotografi sudah tercukupi ditambah dengan kemampuan bracketing dan dukungan auto fokus pada semua lensa Canon. Jadi pilih yang mana, tentu terserah anda..

Note : Anda juga bisa memesan produk D3100 atau 1100D di toko sponsor melalui kami.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

DSLR buyer’s guide 2010

Tahun 2010 menjadi tahun banjir kamera DSLR baru yang semakin canggih dan sarat fitur. Tren yang berkembang saat ini, DSLR modern sudah dilengkapi dengan fitur movie, ISO yang lebih tinggi dan prosesor kamera yang lebih baik. Semua merk DSLR sudah meluncurkan produk unggulannya di tahun 2010 ini, simak seperti apa kehebatan masing-masing produk dan rekomendasi kami terhadap produk tersebut.

>>> CANON

Canon adalah produsen peralatan foto, audio dan video yang konsisten dalam membuat produk baru dan kuat dalam urusan marketing. Sebagai hasilnya, Canon berhasil membangun ‘brand image’ yang kuat apalagi disaat dunia fotografi semakin berkonvergensi dengan dunia video seperti sekarang. Di dunia DSLR, Canon dengan format EOS masih menjadi merk dengan jajaran produk kamera dan lensa terlengkap saat ini. Di tahun 2010 Canon meluncurkan dua DSLR yang penting yaitu :

EOS 60D : kamera modern untuk kelas menengah

EOS 60D bila dilihat dari namanya merupakan kamera yang seharusnya mewarisi segala kebaikan yang ada di 50D sebagai kamera semi-pro. Namun Canon membuat bingung fansnya saat 60D justru dalam beberapa hal fiturnya justru dibawah 50D. Tapi terlepas dari namanya, EOS 60D adalah kamera yang sangat baik dan dilengkapi berbagai fitur modern, ditujukan bagi mereka yang serius menekuni hobi fotografi. EOS 60D kadang dinobatkan sebagai Super Rebel karena fiturnya diatas 550D namun dibawah 50D apalagi 7D.

60d-depan

Fitur EOS 60D diantaranya :

  • sensor CMOS 18 MP, APS-C
  • 9 titik AF
  • pentaprisma
  • max speed 1/8000 detik
  • burst 5.3 fps
  • HD movie 1080p

Dengan harga jual 10 jutaan body only, EOS 60D kami rekomendasikan untuk anda yang mengejar resolusi tertinggi yang pernah dibuat di keping sensor APS-C sekaligus kinerja tinggi dari sebuah kamera DSLR. Anda yang menyukai kamera dengan layar lipat juga akan menyukai LCD lipat di 60D yang beresolusi 1 juta piksel ini.

EOS 550D : kamera pemula yang semakin baik

EOS 550D adalah kamera Rebel (kelas pemula) yang terbaik dan tercanggih dari Canon, yang sedikit menyempurnakan pendahulunya EOS 500D. Meski seri Rebel terus disempurnakan, generasi ini masih memiliki kesamaan bentuk dan fitur seperti bodi yang kecil berbahan plastik, memakai pentamirror dan kecepatan burst yang terbatas.

canon-eos-550d

Dengan harga 7,5 juta termasuk lensa kit 18-55mm IS, inilah fitur yang akan anda dapatkan :

  • sensor CMOS 18 MP, APS-C
  • 9 titik AF
  • ISO 12800
  • burst 3.7 fps
  • HD movie 1080p

Kami rekomendasikan EOS 550D ini untuk fotografer pemula, atau anda yang perlu kamera dengan sensor resolusi ekstra tinggi namun tidak mengejar kinerja yang serba cepat layaknya EOS 60D. Namun jangan salah, meski kamera ini untuk pemula namun fiturnya sudah hampir menyamai kamera yang kelasnya ada diatasnya.

>>> NIKON

Nikon merupakan legenda fotografi yang terus menghasilkan produk yang berkualitas dan menjadi pesaing dari Canon sejak dulu. Nikon dikenal akan kualitas optik pada semua lensanya, juga mampu membuat kamera dengan bentuk dan ergonomi yang mantap. Di dunia DSLR Nikon juga dikagumi akan kehandalan metering dan auto fokusnya. Mount lensa Nikon F yang tetap dipertahankan sejak 50 tahun lalu membuat semua kamera DSLR Nikon terbaru tetap bisa dipasangi lensa Nikon apa saja (meski belum tentu semuanya bisa auto fokus). Di tahun 2010 Nikon membuat dua gebrakan penting dengan meluncurkan D7000 dan D3100 :

D7000 : DSLR Nikon semi-pro terbaik dalam sejarah

Nikon D7000 boleh dibilang adalah produk DSLR kelas semi-pro terbaik yang pernah dibuat oleh Nikon. Melanjutkan sukses D90, kini Nikon meramu D7000 dengan memadukan sebagian fitur D90 dan sebagian fitur dari D300 yang tergolong kamera profesional. Jadilah D7000 ini kamera yang bakal meraih popularitas seperti D90 di tahun lalu.

d7000_18_105

Beberapa fitur dari kamera seharga 12 juta (body only) atau 15 juta kit 18-105mm VR diantarnya :

  • sensor CMOS 16 MP, APS-C
  • 39 titik AF
  • pentaprisma
  • 2016 titik metering
  • burst 5.3 fps
  • HD movie 1080p
  • wireless flash

Kami merekomendasikan D7000 untuk anda yang awalnya berencana membeli DSLR Nikon kelas menengah D90 atau bahkan kelas pro seperti D300. Anda yang punya koleksi lensa Nikon lama juga akan tetap bisa merasakan kemudahan dengan adanya dukungan lensa lama di D7000 ini.

D3100 : akan mengulang sukses D40 sebagai DSLR pemula populer

Nikon D3100 adalah DSLR pemula paling mengesankan yang pernah dibuat oleh Nikon, dengan merubah banyak hal yang ada pada pendahulunya D3000. Selain merubah sensor dari CCD 10 MP ke CMOS 14 MP, D3100 juga akhirnya membenamkan fitur full HD movie yang mampu auto fokus saat merekam video. Namun sebagaimana layaknya DSLR pemula Nikon lain, D3100 juga tidak dilengkapi dengan motor fokus sehingga terpaksa tidak bisa auto fokus bila dipasangi lensa Nikon lawas.

d3100_tb1

Nikon D3100 memiliki fitur unggulan seperti :

  • sensor CMOS 14 MP, APS-C
  • 11 titik AF
  • ISO 12800
  • burst 3 fps
  • HD movie 1080p

Kami merekomendasikan Nikon D3100 untuk para pemula yang sedang memulai hobi fotografi, atau anda yang belum pernah memiliki lensa Nikon lawas, atau anda yang mencari kamera DSLR yang bisa merekam full HD movie dengan harga terjangkau. D3100 dijual seharga 6,5 juta dengan lensa kit 18-55mm VR.

>>> SONY

Sony adalah nama baru di dunia DSLR yang serius menantang pemain lama dengan modal kehebatan mereka dalam manufaktur mikrochip dan kematangan pengalaman dalam dunia audio video. Dengan modal kuat, Sony terus menekan pasar dan berharap bisa masuk 3 besar di tahun mendatang. Tak heran karena Sony sebetulnya mengakuisisi Konica Minolta yang berpengalaman dalam dunia SLR film. Tak seperti Nikon dan Canon, Sony membenamkan fitur stabilizer di bodi, artinya semua lensa Alpha mount yang dipasang bisa mendapat manfaat dari stabilizer ini. Bahkan Sony menjadi produsen pertama dan  satu-satunya yang mampu membuat sistem stabilizer pada sensor full frame saat tahun lalu meluncurkan A850/A900. Di 2010 Sony seperti biasa meluncurkan produk secara berpasangan, yaitu A55/A33 dan A580/A560 :

Alpha A55/A33 : cepat berkat inovasi cermin semi-transparan

Inilah DSLR modern sesungguhnya yang dengan cerdas mengatasi dilema adanya cermin dalam DSLR. Daripada mengikuti desain konvensional yang cerminnya naik turun, A55/A33 memakai cermin fix yang semi transparan, sehingga auto fokus bisa tetap memakai phase detect saat mode live-view bahkan saat merekam video. Keuntungan lain adalah dimungkinkannya memakai kecepatan burst tinggi tanpa harus mendesain mekanik cermin yang rumit. Sebagai catatan, kamera semacam ini tidak lagi memiliki jendela bidik optik. Sebagai gantinya ada jendela bidik elektronik dengan LCD.

sony-a55v

Berikut fitur dari A55/A33 :

  • Translucent mirror
  • 16 MP (A55) dan 14 MP (A33), APS-C
  • ISO 12800
  • 15 titik AF
  • memakai EVF (ElectronicView Finder) 1.44 juta piksel
  • HD video 1080i 60fps AF
  • layar LCD 3 inci yang bisa dilipat
  • 10 fps

Kami rekomendasikan A55/A33 untuk anda yang suka mencoba hal-hal baru dalam fotografi, atau yang menghendaki kinerja cepat dari kamera yang relatif murah. Kapan lagi ada DSLR seharga kurang dari 8 juta yang bisa memotret burst 10 fps?

Alpha A580/A560 : live-view cepat dengan sensor terpisah

Alpha A580 dan A560 adalah penerus Alpha A550/A500 yang sukses dengan sistem live-view memakai sensor terpisah. Keuntungannya, kita bisa merasakan live-view dengan metoda phase detect yang cepat, cukup dengan menggeser tuas modus live-view. Meski A580/A560 bisa dikategorikan kamera DSLR kelas menengah, namun ditinjau dari segi harga keduanya masih tergolong kelas pemula.

sony_a580

Berikut fitur dari A580/A560 :

  • 16 MP (A580) dan 14 MP (A560), APS-C
  • ISO 12800
  • 15 titik AF
  • live-view dengan sensor terpisah
  • HD video 1080i 60fps
  • layar LCD 3 inci yang bisa dilipat
  • 7 fps

Di tahun lalu Sony sudah meluncurkan berbagai DSLR murah seperti seri A200, A300 hingga A400 namun dengan harga jual A560 yang ada di kisaran 7 jutaan, rasanya A560 sudah menjadi pilihan terbaik untuk pemula hingga menengah. Kami rekomendasikan A580/A560 bagi mereka pecinta Sony yang tidak menyukai jendela bidik elektronik pada A55/A33, atau bagi siapapun yang mencari kamera DSLR Sony terbaik di kelas pemula.

>>> PENTAX

Pentax merupakan pemain lama yang cukup kedodoran dalam mengejar kompetisi di kancah DSLR meski kerap membuat kejutan dengan produknya yang bisa mencuri perhatian para fotografer. Pentax dikenal memiliki jajaran lensa prime yang unik dan berkualitas tinggi. Semua kamera DSLR Pentax memiliki stabilizer di bodi, artinya semua lensa yang dipasang bisa mendapat manfaat dari stabilizer ini.  Satu produk Pentax yang cukup populer di tahun lalu adalah Pentax K-x, kamera DSLR pemula pertama yang dilengkapi dengan fitur video HD. Kini Pentax menjajal peruntungannya bersaing di tengah ketatnya kompetisi DSLR dengan dua produk unggulan yaitu Pentax K-5 dan K-r :

K-5 : kamera flagship dari Pentax

Laksana sebuah tank, Pentax K-5 sebagai DSLR tercanggih dari Pentax, sanggup meladeni pemakainya di segala kondisi. Bodinya kokoh, dilengkapi seal kedap air untuk pemakaian di kala hujan dan lembab. Pentax K-5 merupakan penerus dari K-7 dan kini memiliki kecepatan burst luar biasa dengan 7 fps.

pentax_k5_18-135

Fitur K-5 diantaranya :

  • sensor CMOS 16 MP, APS-C
  • 11 titik AF
  • 77 segmen metering
  • pentaprisma
  • burst 7 fps
  • HD movie 1080p 25fps

Inilah DSLR Pentax dengan resolusi tertinggi yaitu 16 MP dan juga tercepat yaitu 7 fps. Bila anda mencari kamera terbaik yang pernah diproduksi oleh Pentax, jangan ragu memilih K-5 ini. Harga jualnya cukup fantastis dan setara dengan EOS 7D di kisaran 15 juta body only, sepadan dengan bodi kokohnya dan fitur terbaiknya.

K-r : kamera pemula yang semakin cepat

Pentax K-r ditujukan untuk meneruskan sukses Pentax K-x (dan sebelumnya K-m) sebagai DSLR pemula. Meski masih memakai sensor beresolusi yang sama seperti K-x yaitu 12 MP, kini Pentax K-r sudah mengatasi kendala di K-x yang tidak bisa menampilkan lampu indikator titik fokus di jendela bidik. Peningkatan besar yang digaungkan Pentax pada K-r adalah kecepatan burst yang luar biasa, yaitu 6 fps dan menurut catatan kami inilah burst tertinggi di kelas DSLR pemula (yang umumnya hanya 3 fps). Selain itu inilah DSLR pemula yang bisa memotret dengan shutter ekstra cepat 1/6000 detik, mendekati kemampuan DSLR menengah yang bisa 1/8000 detik.

pentax-k-r

Berikut spesifikasi Pentax K-r :

  • sensor CMOS, 12 MP
  • cepat dengan 6 fps
  • HD movie 720p 24 fps
  • 11 titik AF (bisa menyala)
  • 16 segmen metering
  • in camera HDR

Kami rekomendasikan Pentax K-r bagi siapa saja yang mencari kamera lengkap, cepat dan terjangkau. Jangan ragu soal kualitas kamera Pentax dan lensanya, meski di tanah air peminatnya tidak terlalu banyak. Harga jualnya relatif sama seperti DSLR pemula merk Canon maupun Nikon di kisaran 7 jutaan lengkap dengan lensa kit 18-55mm.

>>> OLYMPUS

Olympus adalah produsen yang menggagas konsep DSLR yang murni bukan dari modifikasi kamera SLR film, untuk itu mereka membuat konsep Four Thirds dengan crop factor 2x. Format ini sendiri kini dikabarkan semakin tidak jelas sejak Olympus juga mengurusi format micro Four Thirds. Olympus memiliki jajaran lensa Zuiko yang lengkap namun agak mahal apalagi untuk lensa widenya. Di tahun ini Olympus hanya memproduksi satu DSLR yaitu E-5.

E-5 : kamera profesional yang agak terlambat hadir

Sebagai kamera kelas pro, E-5 masih mempertahankan semua hal baik yang ada di E-3 terutama ketangguhan bodi berbahan magnesium alloy yang kokoh plus weathersealed. Kamera yang shutternya mampu dipakai hingga 150 ribu kali jepret ini diklaim memiliki kecepatan auto fokus tercepat di dunia meski ‘hanya’ didukung oleh modul AF yang memiliki 11 titik (semuanya cross type). Inilah kamera tercanggih dengan sensor Four Thirds (crop factor 2x) yang ditunggu-tunggu pecinta Olympus, sayang kehadirannya agak terlambat karena pesaing sudah lebih dulu memperkenalkan produk mereka.

oly-e-5

Berikut spesifikasi lengkapnya :

  • 12.3 MP Live MOS sensor (4/3 crop factor 2x)
  • Sensor-shift Image Stabilizer (IS)
  • LCD 3 inci yang bisa dilipat
  • pentaprisma
  • 11 titik AF
  • ISO 6400
  • HD movie 720p, 30fps
  • wireless flash

Sebagai pendamping E-5, tersedia lensa Zuiko Digital 12-60mm f/2.8-4.0 SWD.

Itulah daftar DSLR yang dibuat di tahun 2010 ini, berikut rekomendasi kami. Semua kamera sama baiknya, anda tidak perlu menanyakan mana yang lebih bagus. Anda cukup menentukan fitur apa yang anda butuhkan, berapa dana yang anda sediakan dan kebutuhan lensa ke depan akan lebih ke jenis lensa apa.

Berikut tabel perbandingan yang kami susun sebagai rangkuman artikel di atas, kalau hurufnya terlalu kecil tabel dibawah ini bisa diklik untuk melihat dalam ukuran aslinya.

clipboard-1

Bila anda suka artikel ini dan hendak membantu kami dalam operasional pemeliharaan website (biaya internet, hosting, domain dsb) pertimbangkan membeli produk fotografi melalui kami yang telah didukung oleh sponsor situs ini, yaitu Tokocamzone. Dengan membeli melalui kami, anda sudah ikut membantu kami untuk terus membantu pembaca lainnya dengan membuat artikel bermutu.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Mengapa shutter kamera DSLR punya batasan umur?

Pertanyaan ini kerap muncul dalam perbincangan di forum atau diskusi pemula. Kamera digital yang nota bene tak lagi memakai film kerap dibayangkan sebagai sebuah kamera yang bisa dipakai terus menerus tanpa batas. Jepret sesukanya, lihat hasilnya, tidak suka ya tinggal hapus saja. Tanpa sadar jumlah foto yang sudah kita ambil mencapai ribuan hanya dalam waktu sebentar saja. Memang tidak ada salahnya apalagi demi alasan belajar fotografi, namun bila kita hanya memotret iseng saja, maka jangan gunakan kamera DSLR. Mengapa, karena kamera DSLR punya shutter unit yang umurnya terbatas.

Jawaban dari judul diatas jelas, karena shutter pada kamera DSLR bagaimanapun juga adalah masih sama seperti pada kamera SLR film, berupa shutter mekanik yang meski sudah dikendalikan secara elektronik namun bekerja membuka-menutup secara vertikal setiap foto diambil. Gerakan shutter inilah yang menimbulkan suara khas dari kamera DSLR saat memotret. Banyak yang belum tahu kalau shutter itu bila terus menerus dipakai suatu saat akan rusak (macet atau tidak berfungsi). Kisah yang umum terjadi adalah saat seseorang baru membeli kamera DSLR dia begitu kegirangan memotret sesukanya dan tiba-tiba dia terkejut saat mengetahui kalau shutter kamera DSLR itu ada batasnya, lalu terbayang sudah berapa banyak foto yang  dihambur-hamburkannya di masa lalu.

shutterunitUsia shutter (diistilahkan dengan Shutter Count) memang tidak ada yang bisa memastikan. Pabrik hanya mendesain shutter unit dan melakukan pengujian hingga jumlah tertentu dan merilis hasilnya di spesifikasi kamera DSLR. Kamera kelas pemula dinyatakan lolos uji hingga 50.000 kali pemakaian, sementara kamera kelas diatasnya bisa mencapai 100.000 kali bahkan hingga 300.000 kali. Angka ini tidak mengikat, ada kamera pemula yang bisa melampaui angka 50.000 dan ada juga yang baru 25.000 sudah rusak. Untuk melihat sudah berapa kali sebuah kamera DSLR itu dipakai, lihat shutter count di data EXIF-nya.

Yang jadi pertanyaan selanjutnya adalah, mengapa shutter mekanik semacam ini masih diperlukan di kamera DSLR? Padahal kamera digital biasa mulai dari kamera ponsel sampai kamera prosumer memakai shutter elektronik dengan hanya mengandalkan sensor saja. Tak lain jawabannya adalah karena sensor pada kamera DSLR tidak bisa melakukan ‘gating’ atau on-off tanpa bantuan shutter unit ini. Saat shutter masih tertutup, sensor mengalami kondisi ‘gelap’ dan saat kita memotret shutter membuka sejenak (sesuai shutter speed yang diatur oleh kita atau kamera) lalu menutup lagi. Dari gelap pertama menuju gelap kedua itulah trigger bagi sensor untuk bekerja. Di masa depan shutter mekanik bisa saja sudah tidak digunakan, bila produsen berhasil mendesain alternatif lain yang lebih murah namun tetap handal.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..