Aperture, bukaan, f-number, diafragma : apakah sama?

Salah satu komponen penting dalam eksposur yang punya banyak penyebutan adalah aperture, atau bukaan, atau diafragma, dan dinyatakan dalam f number. Berbeda dengan shutter speed dan ISO, aperture ini cukup rumit dan sulit dimengerti, baik arti definitifnya maupun dampaknya dalam terang gelap foto. Bahkan pemula kerap terbalik antara angka f number dengan besarnya bukaan lensa ini. Kami coba susun artikel untuk anda, semoga bisa lebih paham akan fundamental fotografi yang satu ini. Untuk definisi dan penjelasan istilah-istilah fotografi lebih lengkap tersedia buku Kamus Fotografi yang kami buat, tersedia di toko buku terdekat.

Pendahuluan

Fotografi pada dasarnya menangkap cahaya, merubahnya menjadi gambar. Tidak ada cahaya, maka tidak ada foto (hitam total), terlalu banyak cahaya, foto menjadi over (bahkan bisa jadi putih total). Tugas kita, atau kamera (bila pakai mode Auto) adalah mengatur banyaknya cahaya yang masuk supaya didapat eksposur yang tepat, dengan mengatur tiga hal : lamanya shutter dibuka (shutter speed atau kecepatan rana), sensitivitas sensor (atau film) dalam satuan ISO (atau ASA) dan besarnya bukaan di lensa, yaitu aperture.

Jadi, aperture adalah lubang yang menjadi jalan masuknya cahaya dari lensa menuju sensor kamera.

Aperture ini adanya di lensa, maka itu kerap disebut bukaan lensa (lens opening). Jadi setiap lensa kamera punya aperture, bahkan kamera ponsel sekalipun (pada mata manusia biasa disebut pupil). Karena fungsinya untuk mengatur banyaknya cahaya yang masuk maka aperture harus bisa diatur bukaannya (bayangkan seperti membuka keran air, mau dibuka besar atau kecil). Aperture yang dibuka besar, maka foto akan jadi terang. Dibuka kecil, foto jadi gelap. Simpel kan?

aperture

Contoh kiri atas adalah aperture lensa dibuka besar, lalu kanan atas adalah contoh aperture lensa dibuka kecil. Bagaimana aperture bisa dibuat besar atau kecil? Dengan menyusun sejumlah (bisa 5, 7, 9 atau lebih) bilah (blade) diafragma sehingga membentuk lingkaran seperti di bawah ini :

blade

Contoh diatas adalah diafragma yang dibentuk oleh 7 bilah dan sedang dalam posisi membuka cukup kecil. Pada mata manusia, diafragma biasa disebut juga dengan iris.

F-number

Dalam fotografi terang gelap foto selalu diatur dalam kelipatan 1 stop. Menambah 1 stop artinya foto kita akan 2x lipat lebih terang. Pengaturan bukaan lensa mengikuti teori F-number yang baku seperti ini :

aperture-sizes

Perhatikan kalau f/2.8 termasuk bukaan besar, dan pada f/16 bukaan lensa menjadi sangat kecil. Kita bisa merubah/mengganti berapa F-number yang mau kita pakai dengan memutarnya di lensa (untuk lensa-lensa lama) atau memilih melalui kamera. Saat merubah angka-angka ini ingatlah : (asumsi ISO dan shutter speed tetap)

  • dari f/2.8 ke f/4 artinya turun 1 stop, foto akan lebih gelap
  • dari f/8 ke f/4 artinya naik 2 stop, foto akan jauh lebih terang

Deret yang lebih lengkap sebenarnya adalah begini :

f/1.4 – f/2 – f/2.8 – f/4 – f/5.6 – f/8 – f/11 – f/16 – f/22 – f/36

Anda tidak harus menghafal angka-angka diatas, cukuplah mengingat hubungan angka dengan besar kecilnya bukaan supaya tidak tertukar.

Bila anda termasuk yang penasaran dari mana angka-angka F-number diatas berasal, jawabannya ternyata cukup matematis, melibatkan rumus akar dan kuadrat. Rasanya tidak perlu lah dibahas disini..

Kita akan luruskan beberapa hal-hal yang mungkin masih membingungkan :

  • setiap lensa punya bukaan maksimal yang berbeda-beda, misal ada yang f/1.4 dan ada yang cuma f/4
  • walaupun bukaan maksimal tiap lensa itu berbeda, tapi setiap lensa bisa dikecilkan bukaannya sampai bukaan minimum (paling kecil lubangnya)
  • lensa cepat maksudnya lensa yang punya bukaan besar (karena dengan bukaan besar bisa didapatkan shutter speed yang lebih cepat)
  • huruf ‘f’ dalam bukaan lensa ini singkatan dari focal length (alias panjang fokal lensa), misal bila kita pilih f/4 artinya diameter bukaan (lubang) lensanya adalah 1/4 dari panjang fokal lensanya, penjelasan lebih detilnya seperti ini :

Setiap lensa punya panjang fokal tertentu. Kita ambil contoh yang gampang misalnya lensa tele 100mm. Maka, bila kita set bukaan lensa 100mm ini ke f/4, diameter bukaan lensanya adalah 1/4 dari 100mm, atau 25mm (atau 2,5 cm). Inilah mengapa lensa tele punya ‘moncong’ yang besar, apalagi kalau lensa tersebut punya bukaan f/2.8.

lens-f-number-2

Kita coba bandingkan dua lensa yang sama-sama f/2.8 tapi beda fokal lensa :

  • lensa 50mm f/2.8 punya diameter lubang 17.8mm (tidak sampai 2 cm)
  • lensa 200mm f/2.8 punya diameter lubang 71.4mm (7 cm lebih)

Contoh aktual :

tamron-17-50mm
Lensa 17-50mm f/2.8 masih cukup kecil ukurannya
Lensa pro 70-200mm f/2.8 besar, panjang dan diameter lubangnya juga besar
Lensa pro 70-200mm f/2.8 besar, panjang dan diameter lubangnya juga besar

Jadi..

secara fisik, kedua lensa diatas walau sama-sama f/2.8 pasti berbeda ukuran lubangnya TETAPI karena sama-sama f/2.8 maka kedua lensa punya kemampuan yang sama dalam memasukkan cahaya. Dengan kata lain, kedua lensa bila dipakai di f/2.8 dan dites dengan ISO dan shutter speed yang sama maka akan menghasilkan foto yang eksposurnya SAMA. Kok bisa? Waduh ini lebih rumit lagi penjelasannya. Sederhananya begini : semakin tele/panjang fokal lensa, sebetulnya semakin panjang juga bentuk fisik lensanya (jadi seperti tabung) yang menyebabkan kemampuan menangkap cahaya menjadi berkurang, sehingga dibutuhkan diameter lubang yang lebih besar untuk mengimbanginya.

Konsekuensi ini membawa dampak pada besarnya ukuran fisik lensa secara keseluruhan, dan juga diameter filter yang akan dipasang di depan lensa. Maka itu pemakai lensa-lensa tele sudah akrab dengan filter yang diameternya besar (dan mahal) seperti 72mm, 77mm atau 82mm.

Dengan begitu lupakanlah hasrat untuk mencari lensa yang fokalnya bisa panjang, bukaannya juga besar dan mau yang ukuran lensanya kecil, tidak akan pernah ada (kecuali kamera saku karena sensornya juga kecil).

Sigma 200-500mm f/2.8 punya diameter bukaan 17.9 cm, kira-kira lubangnya seukuran piring makan kita
lensa Sigma 200-500mm f/2.8 punya diameter bukaan 17.9 cm, kira-kira lubangnya saja seukuran piring makan kita..
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Review lensa Nikon AF-S 18-300mm VR

Review kali ini akan mengulas lensa sapujagat baru dari Nikon yaitu AF-S 18-300mm f/3.5-5.6 VR. Lensa seharga 10 juta rupiah ini memiliki kode DX yang artinya didesain untuk DSLR Nikon APS-C, bukan full frame. Fokal lensa ini sangat serbaguna, ekivalen mulai dari 27mm hingga 450mm sehingga secara teori cukup bawa satu lensa ini bisa dipakai apa saja. Lensa ini juga melengkapi koleksi lensa sapujagad Nikon lainnya yang lebih dulu populer yaitu AF-S 18-200mm.

Tinjauan fisik

Lensa sepanjang 12cm dan berbobot 830 gram ini termasuk lensa berukuran besar, bila dipadankan dengan kamera DSLR kecil maka tampak kurang proporsional, alias lebih besar lensa daripada kamera. Saat diletakkan di meja pun yang menyentuh meja adalah lensanya, bukan kameranya :)

d510018300

Didalam lensa besar ini ada 3 elemen lensa ED dan 3 elemen lensa aspheris, total berjumlah 19 elemen dalam 14 grup. Lensa berbahan plastik ini memakai diameter filter 77mm, dan memakai 9 bilah diafragma. Teknologi di lensa ini yang paling menarik adalah 4 stop VR dengan mode Active dan Normal. Selain itu ring manual fokus di lensa ini bisa diputar kapan saja, tak perlu harus menggeser tuas mode AF dulu.

switch

Ada juga kunci 18mm untuk mencegah lensa ini melorot kalau mengadap bawah. Terdapat jendela pengukur jarak dengan indikasi fokus minimum adalah 45cm, lumayan untuk kebutuhan close up. Di bagian bawah ada serial dengan tulisan kalau lensa ini dibuat di Thailand. Mount lensa tentu saja terbuat dari logam, namun tidak terdapat gelang karet untuk mencegah air seperti lensa kelas pro.

Rentang Fokal

Lensa ini didesain untuk mereka yang perlu satu lensa untuk segala kebutuhan, dari wideangle hingga telefoto. Seiring lensa di zoom, bagian depannya akan memanjang dari posisi terpendek (12cm) hingga terpanjang (22cm).  Putaran zoom terasa mantap, tidak terlalu longgar maupun berat. Indikator fokal ditandai dengan angka 18mm, 28mm, 50mm, 105mm, 200mm dan 300mm. Dari posisi 105mm ke 300mm putarannya sangat dekat, sepertinya lensa ini tidak ditujukan untuk memilih fokal yang presisi untuk telefotonya, cukuplah memilih 105mm, 200mm dan 300mm. Bukaan maksimal lensa ini adalah f/3.5 di 18mm, lalu menjadi f/4 di 28mm dan sudah mengecil sampai f/5.6 di 70mm.

zoom-18-300mm

Rentang fokal seluas ini menghindarkan kita membawa dua lensa, misal 18-55mm dan 55-300mm, atau 18-70mm dan 70-300mm. Dengan hanya satu lensa maka kita tidak membuang waktu untuk mengganti lensa dan mencegah debu masuk ke sensor. Perbedaan gambar yang dihasilkan antara fokal 200mm dan 300mm tidak terlalu signifikan, kita bisa juga lakukan cropping dari fokal 200mm kalau mau.

200vs300

Perhatikan gambar diatas yang menunjukkan perbedaan fokal 200mm dan 300mm dari lensa yang sama.

Kinerja

Untuk menilai kinerja lensa ini, kami menguji kemampuan VR dan fokusnya. Untuk kecepatan mencari fokus, kami rasakan lensa ini cukup cepat dan akurat, tapi tidak semantap fokusnya lensa Nikon kelas pro. Paling tidak kita bisa memutar ring manual fokus kapan saja, tanpa takut merusak mekanisme fokus didalamnya. Tidak ada elemen lensa yang maju mundur ataupun berputar saat kamera mencari fokus.

Lensa dengan klaim 4 stop VR ini kami uji memang memberi kinerja baik. Dengan VR diaktifkan, kami bisa dapatkan hasil tajam tanpa tripod di kecepatan 1/20 detik pada fokal 300mm.

vr-testing

Kualitas Optik

Bokeh

crop-asli

Lensa dengan fokal tele (diatas 100mm) bisa juga dinikmati bokehnya, meski bukaan maksimalnya hanya f/5.6 saja. Hal ini membuat lensa ini juga bisa menghasilkan bokeh yang lumayan bak lensa fix asal diputar ke posisi 200mm hingga 300mm.

Ketajaman dan kontras

crop-300mm

Lensa Nikon terkenal tajam, demikian juga dengan lensa 18-300mm ini. Pada bukaaan maksimal, lensa ini tajam dari fokal 18mm hingga 300mm, dengan titik terlemah adalah di 300mm (agak soft sedikit seperti crop foto diatas). Pada bukaan f/8 didapat ketajaman optimal. Soal kontras dan tone tidak ada masalah, hasil foto tampak natural dan warnanya akurat. Ditemui sedikit purple fringe di area kontras tinggi dan pada fokal wide.

Sampel foto (resolusi asli)

Sampel 1 :

1/500s, f/9, ISO 800, 300mm

Sampel 2 :

1/1250s, f/5.6, ISO 400, 300mm

Kesimpulan

Lensa yang nyaris ideal ini justru memiliki kelemahan dalam harga dan ukurannya. Harganya yang mahal dan bentuknya yang besar dan berat, membuat lensa 18-200mm masih lebih menarik dan perbedaan antara 200mm hingga 300mm hampir tidak kentara. Untuk mengatasi kekurangan jangkauan lensa, hasil foto 200mm pun bisa dicrop. Tapi bagi anda yang mencari pengganti kombinasi dua lensa, maka lensa 18-300mm ini tidak ada masalah dalam hal optik dan kinerja. Bagi anda yang dananya terbatas, dengan harga 1/3 dari lensa ini, anda juga bisa menjajal lensa tajam yaitu 18-105mm yang pernah kami review sebelumnya.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Lumix TZ30, kamera saku dengan zoom terpanjang saat ini

Suatu hal yang dulu tidak terbayangkan adalah kamera saku yang punya lensa zoom yang amat panjang. Awalnya lensa pada kamera saku hanya bisa zoom dari wide 35mm hingga tele di 105mm alias 3x zoom saja, namun saat ini sudah banyak kamera dengan zoom mulai dari 24mm hingga ratusan mili dalam bentuk yang tetap kecil. Sebuah terobosan dilakukan Panasonic dengan meluncurkan kamera saku Lumix TZ30 (ZS20) dengan lensa Leica 20x zoom yang tercatat sebagai kamera saku dengan lensa zoom terpanjang saat ini.

lumix-tz30

Pertanyaan yang cukup menarik adalah apakah kita memang betul-betul memerlukan kamera saku dengan lensa zoom yang teramat panjang? Mungkin ada beberapa yang suka berkreasi dengan fokal lensa tele sehingga terobsesi untuk mencari kamera dengan lensa yang zoomnya panjang. Untuk mereka yang seperti itu boleh mencoba memiliki kamera mungil dengan fitur lengkap ini, yaitu Lumix TZ30 yang harganya sekitar 3 jutaan. Lensa yang dimilikinya sangat panjang untuk ukuran kamera saku, yaitu bermula dari 24mm dan berakhir di 480mm atau setara dengan 20x zoom optikal.

lumix-tz30top

Sebagai konsekuensi dari fokal lensa yang panjang ini, bukaan diafragma maksimum kamera TZ30 jadi mengecil dengan f/3.3 hingga f/6.4 sehingga untuk memakainya perlu mendapat cukup cahaya atau menaikkan ISO. Kondisi akan semakin rumit saat kita dihadapkan pada kenyataan bahwa menggenggam kamera saku sangat rentan goyang, sedikit saja getaran tangan saat memotret (apalagi pada fokal tele) akan mengacaukan hasil fotonya, walaupun fitur OIS diaktifkan. Tapi paling tidak kemampuan zoom dari lensa Leica ini perlu diapresiasi, terlebih bukan hal yang mudah mendesain lensa berkualitas namun punya zoom panjang dan bentuk cukup kecil.

lumix-tz30b

Fitur lain yang dimiliki kamera TZ30 cukup menarik seperti sensor MOS 14 MP yang disempurnakan untuk menekan noise, Nano lens coating untuk ketajaman dan ketahanan terhadap flare, manual mode P/A/S/M, GPS terintegrasi dan disediakan juga peta dalam bentuk DVD, progressive full HD stereo, dan layar LCD 3 inci yang bisa disentuh untuk mengatur fokus, mengakses peta hingga memotret.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Rekomendasi kamera mirrorless 6 jutaan

Dana 6 jutaan sebenarnya sudah bisa digunakan untuk mendapatkan kamera berkualitas yang cukup mumpuni untuk dipakai sebagai sarana hobi maupun urusan yang lebih serius. Bila menengok di merk Canon atau Nikon, dana sebesar itu memang sudah bisa untuk membeli satu kamera DSLR kelas pemula yang tergolong lengkap seperti EOS 550D kit atau Nikon D5100 bodi only. Tapi siapa tahu anda bosan dengan merk yang itu-itu lagi, kenapa tidak kita coba bandingkan dengan merk lain yang sudah menawarkan format kamera baru bernama kamera mirrorless.

Kamera mirrorless atau kamera tanpa cermin, merupakan salah satu bagian dari format kamera EVIL (Electronic Viewfinder, Interchangeable Lenses). Kamera mirrorless memiliki lensa yang bisa dilepas bak sebuah DSLR, memiliki sensor yang juga sama besarnya dengan sensor DSLR, namun tanpa cermin yang membuat ukuran DSLR menjadi gemuk. Sebagai konsekuensinya, tidak ada jendela bidik optik di kamera mirrorless ini. Membidik gambar bisa dilakukan dari layar LCD dan (bila ada) juga dari viewfinder bertipe elektronik. Urusan auto fokus pada kamera mirrorless terpaksa hanya memakai teknologi deteksi kontras yang agak lambat namun saat ini kinerjanya semakin disempurnakan.

Pada prinsipnya perbedaan mendasar antara merk papan atas seperti Canon/Nikon dengan kompetitor adalah dalam hal kematangan sistem. Kedua merk besar itu sudah matang dalam membuat sebuah system camera (kamera, lensa, lampu kilat dsb), sehingga produk baru yang diluncurkan ya hanya meningkatkan sedikit demi sedikit fiturnya tanpa berinovasi lebih banyak. Bandingkan dengan terus berevolusinya kamera dari Sony, Panasonic, Olympus dan juga Samsung dengan berbagai ‘percobaan’ membuat kamera dan lensa baru. Bila anda tergolong suka pembaruan dan tergoda untuk menjajal sesuatu yang berbeda, namun tidak mau terlalu banyak berinvestasi besar untuk hal yang satu ini, berikut adalah pilihan kamera mirrorless terjangkau yang bisa dimiliki dengan dana 6 jutaan.

Olympus E-PL2 kit 14-42mm

Penerus E-PL1 ini menargetkan diri sebagai kamera mirrorless terjangkau yang bernuansa retro khas seri Pen dari Olympus lawas. Olympus E-PL2 punya desain yang lebih baik dari E-PL1 dengan grip yang lebih nyaman, dengan sensor 4/3 (crop factor 2x) dengan mount micro Four Thirds dan stabilizer pada sensornya. Meski mungil dan tak dilengkapi jendela bidik, kamera 12 MP ini sudah memiliki semua pengaturan manual eksposur dan termasuk untuk urusan merekam video HD 720p. Urusan auto fokus diklaim sudah lebih cepat dari E-PL1 demikian juga dengan kinerjanya secara umum. Sebagai lensa kit tersedia Zuiko 14-42mm (ekivalen 28-84mm) f/3.5-5.6 dengan diameter 37mm saja.

olympus-e-pl2

Direkomendasikan untuk : fotografer yang menyukai bentuk lensa yang kecil (apalagi kalau pakai lensa pancake) dan yang ingin semua lensanya bisa mendapat efek stabilizer.

Lumix GF-2 kit 14-42mm

Sebagai pesaing langsung dari E-PL2, Panasonic yang juga penggagas format Micro Four Thirds menawarkan Lumix GF2 dengan spesifikasi mirip yaitu sensor 4/3 beresolusi 12 MP, namun urusan stabilizer diserahkan pada lensa OIS tertentu. Salah satu keistimewaan kamera ini adalah layar sentuhnya yang modern dan mampu merekam video full HD 1080i stereo. Soal auto fokus tak perlu diragukan karena Lumix dalam setiap seri kamera Micro Four Thirds memiliki kecepatan fokus yang mendekati kamera DSLR.

Sebagai lensa kit tersedia pilihan Lumix G Vario 14-42mm (ekivalen 28-84mm) f/3.5-5.6mm OIS dengan diameter 52mm atau lensa fix Lumix G 14mm (ekivalen 28mm) f/2.5 diameter 46mm non OIS.

lumix-gf2

Direkomendasikan untuk : penyuka gadget canggih, suka layar sentuh, banyak merekam video dan suka telefoto dengan stabilizer di lensa.

Sony NEX-5 kit 18-55mm

Sony memperkenalkan kamera mirrorless mereka setahun silam dengan nama NEX yang memakai sensor DSLR APS-C dengan crop factor 1,5x. Untuk NEX-5 ini bahkan digunakan sensor beresolusi 14 MP dan bodi berbalut magnesium alloy yang ringan namun kuat. Mengusung mount khusus bernama E-mount, Sony NEX ini bisa dipasangi lensa Alpha mount dengan adapter khusus. Fiturnya cukup menjanjikan mulai dari kendali manual eksposur, layar LCD lipat dan full HD movie. Sebagai kompetitor Sony NEX, di lain pihak ada juga Samsung NX series yang sayangnya agak sulit ditemui di pasaran dalam negeri. Untuk lensa kit dari NEX ini tersedia Sony lens 18-55mm OSS f/3.5-5.6 dengan diameter filter 49mm atau pancake 16mm f/2.8 dengan E mount tentunya.

nex-3

Direkomendasikan untuk : fotografer yang suka memotret low light dengan noise rendah (layaknya DSLR) dan yang suka berbagai fitur pengolah gambar di dalam kamera (sweep panorama, auto HDR dsb).

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Samsung WB700, hadirkan lensa zoom 18x dalam kamera saku

Ambisius. Itulah kesan kami terhadap Samsung WB700, kamera saku yang baru saja diperkenalkan Samsung pada tanggal 28 Desember 2010 silam. Meski sepintas tampak mirip seperti kamera saku lainnya, tapi lensa yang dimilikinya memiliki kemampuan zoom optik 18x (24-432mm) yang belum pernah dijumpai di kamera saku lain. Samsung bahkan memaksakan kemampuan sensor melampaui batas fisika dengan memakai sensor  CCD beresolusi 16 MP pada keping seluas 1/2.33″.

wb700

Apapun itu, kami mengapresiasi upaya Samsung dalam memberi pilihan buat konsumen. Bisa jadi ada sebagian dari kita yang memang benar-benar memelukan kamera mungil dengan kemampuan zoom ekstra panjang, atau perlu kamera dengan sensor beresolusi ekstra tinggi. Setidaknya ada upaya Samsung untuk memberikan sebuah produk yang bisa dianggap ‘killer camera’ atau kamera dengan spesifikasi tinggi yang tidak bisa diabaikan seperti :

  • Fitur manual (A/S/M)
  • tombol langsung HD Movie (1080p)
  • mendukung RAW file format
  • port HDMI Type D
  • Flash Manual Adjustment (Timing, Light Quantity)
  • stabilizer optik
  • bisa zoom saat merekam video, bunyi motor zoom tidak terekam
  • beragam filter digital (soft focus, half-tone dot, cinema, fish-eye, miniature dan sketch)
  • layar 3 inci

Bila tertarik, tunggu produk berdesain agak retro ini di tahun 2011 yang rencananya akan dijual di kisaran harga 3 jutaan.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Nikon D3100, DSLR Nikon pertama dengan fitur full-HD movie

Hari ini Nikon resmi meluncurkan produk baru bernama D3100 yang diposisikan untuk mengisi segmen entry level yang sebelumnya ditempati oleh D3000. Hadir dengan bodi yang persis sama seperti D3000, produk anyar ini justru mengejutkan dengan menawarkan fitur movie recording yang sebelumnya hanya ada di DSLR Nikon yang punya harga jual lebih tinggi. Tidak tanggung-tanggung, D3100 justru menjadi DSLR pertama Nikon yang sanggup merekam video dengan resolusi full High Definition atau 1920 x 1080 piksel, bahkan kamera sekelas D3S pun hanya menawarkan resolusi HD 1280 x 720 piksel saja.

Hal ini tentu kabar baik bagi mereka yang menantikan era video recording berkualitas yang terjangkau. Bila sebelumnya fitur movie hanya dijumpai di kamera sekelas Nikon D5000 atau Canon EOS 500D, maka DSLR murah kini juga menyediakn fitur serupa (sebelumnya dipelopori oleh Pentax K-x) dan Nikon D3100 menjadi produk DSLR murah kedua yang membolehkan pemakainya untuk berkreasi dengan merekam video. Hebatnya, fitur movie di D3100 ini sudah mendukung continuous AF sehingga tak perlu lagi mengatur ring manual fokus saat sedang merekam video.

Hadir dengan lensa kit AF-S 18-55mm VR, D3100 yang dijual di kisaran 7 jutaan juga menonjolkan sederet fitur hebat lainnya seperti ISO maksimum 12800 dan EXPEED 2 engine processor. Meski tidak ada perbedaan bentuk fisik (bodi) kamera antara D3000 dengan D3100, namun Nikon kali ini benar-benar melakukan perubahan pada ‘jeroannya’. Sensor di D3100 ini pun sudah memakai sensor CMOS beresolusi 14 MP (sebelumnya sensor CCD beresolusi 10 MP). D3100 masih menawarkan 11 titik AF yang fleksibel, plus dukungan layar LCD 3 inci beresolusi 230 ribu piksel. Bisa dibilang D3100 adalah  DSLR entry-level paling sarat fitur yang pernah dibuat oleh Nikon.

Melihat peningkatan yang pesat pada D3100 ini, ada dugaan Nikon akan menghentikan kelanjutan produk D5000 yang serba tanggung dalam hal fitur dan harga. Bisa jadi kedepannya Nikon hanya akan mengandalkan satu produk saja untuk mengisi segmen pemula (yaitu D3100 ini), sedangkan pada segmen semi-pro diprediksi Nikon juga akan melebur dua kelas yaitu D90 dan D300 (dirumorkan akan bernama D95). Kuat dugaan kebijakan ini diakibatkan oleh kondisi resesi ekonomi global yang memaksa produsen membuat segmentasi produk yang simpel dan jelas.

Sebagaimana layaknya DSLR pemula, Nikon D3100 juga tidak dipersenjatai dengan kendali eksternal yang rumit sehingga tetap tampil simpel dengan jumlah tombol yang seadanya. D3100 juga tidak memiliki motor AF di dalamnya sehingga bila dipasang lensa lama yang tidak memiliki motor, maka pengaturan fokusnya hanya bisa dilakukan secara manual. Soal kinerja juga tentunya dibuat sesuai dengan harganya, dengan kecepatan shutter maksimum 1/4000 detik dan burst 3 frame per detik saja.

Berikut spesifikasi lengkap dari Nikon D3100 :

  • sensor CMOS 14 MP (23.2 x 15.5 mm)
  • live View
  • Continuous AF pada video mode/live view
  • LCD 3 inci  (tidak bisa dilipat-putar/swivel)
  • ISO 100 – 3200, bisa diangkat hingga 12800
  • flash sync 1/200 detik
  • 11 titik AF (multi CAM 1000)
  • Quiet Shutter Release Mode
  • usia shutter 100.000 kali pakai
  • 420-pixel RGB 3D Color Matrix II metering sensor
  • HD Video 1920 x 1080p 24 fps dan 1280 x 720p 30 fps/24 fps
  • AVCHD video codec (H.264), HDMI out
  • EXPEED2 processor
  • pengguna bisa menyimpan picture profiles
  • video editing didalam kamera
  • burst 3 fps saja

974770857_onxnn-m

Selain itu, Nikon juga memperkenalkan beberapa lensa baru seperti :

  • Lensa tele zoom (DX) : Nikkor AF-S DX 55-300 f/4.5-5.6 G ED VR
  • Lensa prime (FX) : Nikkor AF-S 85 f/1.4 G (dengan Nano coating)
  • Lensa all-round (FX) : Nikkor AF-S 24-120 f/4 G ED VR (dengan Nano coating)
  • Lensa super zoom (FX) : Nikkor AF-S 28-300 f/3.5-5.6 G ED VR
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Lensa Tamron 70-300mm baru dengan stabilizer dan motor micro

Lensa 70-300mm tergolong lensa tele-zoom yang populer. Tamron sebagai produsen lensa 3rd party yang sering membuat produk yang sukses di pasaran juga punya produk lensa dengan rentang 70-300mm ini. Namun Tamron yang kala itu bermaksud membuat lensa tele murah meriah, tidak membenamkan fitur stabilizer pada lensanya. Setelah sang kompetitor yaitu Sigma meluncurkan lensa 70-300mm dengan stabilizer (yang baru saja kami review), kini Tamron pun meluncurkan produk sejenis yang dilengkapi dengan stabilizer. Lebih lagi, Tamron juga melengkapi lensa ini dengan motor AF untuk menjamin kompatibilitas dengan DSLR Nikon entry-level. Hebatnya, motor AF di lensa Tamron ini menggunakan sistem ultrasonic (seperti USM milik Canon dan SWM milik Nikon) yang bersuara halus dan bekerja lebih cepat.

tamron-70-300-vc

Nama lensa baru ini adalah Tamron SP 70-300mm f/4-5.6 Di VC USD yang sementara baru tersedia untuk mount Nikon, rencana akan dilepas di kisaran harga 4 jutaan, atau sekitar 1 juta lebih murah dari lensa Nikon AF-S 70-300mm VR. Lensa ini memiliki 17 elemen yang tersusun dalam 12 grup, meski secara optik mungkin lensa Nikon masih lebih superior, namun secara fitur bisa dibilang semua kemampuan lensa Nikon bisa disamai oleh lensa Tamron ini.

Cara kerja VC
Cara kerja VC (credit : Tamron)

Beberapa fitur unggulan lensa ini diantaranya :

  • memakai stabilizer optik (VC-Vibration Compensation) dengan tiga koil yang diklaim sanggup bekerja hingga 4 stop
  • memakai motor fokus bertipe USD (Ultrasonic Silent Drive) yang bukan hanya cepat dan bersuara halus dalam mengunci fokus, namun juga memungkinkan dilakukannya manual fokus langsung dengan memutar ring fokus tanpa memindah tuas AF-MF
  • memakai sistem internal focusing sehingga tidak ada elemen depan lensa yang berputar saat mencari fokus
  • bisa dipakai untuk DSLR APS-C maupun DSLR full frame
  • memakai elemen lensa XLD (Extra Low Dispersion) untuk kontras dan ketajaman yang prima
  • tersedia jendela focusing scale untuk membantu mengukur jarak terhadap obyek yang difoto

Tak dipungkiri satu fitur yang paling mengesankan dari lensa Tamron 70-300mm ini adalah motor USD. Inilah kali pertama Tamron melengkapi lensanya dengan motor ini, dan inilah yang membedakan Tamron 70-300mm dengan pesaingnya Sigma 70-300mm yang hanya dilengkapi dengan motor biasa. Dikutip dari web resmi Tamron, fitur USD bekerja seperti ini :

Tamron’s USD works with high-frequency ultrasonic vibrations which are produced by a ring called a ‘stator’. Energy from the vibrations is used to rotate an attached metallic ring known as a ‘rotor’. Piezoelectric ceramic, an element that produces ultrasonic vibrations when voltage of a specific frequency is applied is arranged in a ring formation on the stator. This electrode configuration of piezoelectric ceramic causes two ultrasonic vibrations to occur in the stator.

By effectively combining these two ultrasonic vibrations, it is possible to convert the energy from the vibrations that produced simple motion into energy known as ‘deflective traveling waves’, which then moves around the circumference (rotation direction) of the ring.

With the USD, the friction between these deflective traveling waves created on the metallic surface of the stator and the surface of the rotor produce force, causing the rotor to rotate. The focusing ring of the lens, which is linked to the rotor, is thus moved, creating a fast and smooth auto-focus drive.

Kami menantikan hadirnya produk ini di pasaran dan penasaran dengan kualitas optiknya dan kinerja fitur USD dan VC-nya. Tapi diatas kertas inilah lensa tele yang paling sarat fitur yang pernah dibuat oleh produsen lensa alternatif.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Review : Lensa Sigma 70-300mm DG OS

Inilah review kami terhadap lensa tele buatan Sigma yang punya nama lengkap Sigma 70-300mm f/4-5.6 DG OS yang kehadirannya diumumkan September tahun silam. Rentang fokal 70-300mm memang identik dengan rentang tele populer yang disukai para pencari lensa tele. Sigma sendiri sudah membuat beberapa versi lensa 70-300mm dan inilah versi terbaru mereka, cocok dipakai oleh pemilik DSLR crop sensor ataupun full-frame.

sigma_70_300_os

Saat ini jajaran lensa tele 70-300mm yang dimiliki Sigma cukup banyak disesuaikan dengan kebutuhan pembelinya, diantaranya :

  • Sigma 70-300mm : paling murah
  • Sigma 70-300mm APO : lebih mahal, dengan ekstra lensa ED
  • Sigma 70-300mm OS : paling mahal, dengan stabilizer

Sigma melakukan langkah yang tepat dengan membenamkan fitur stabilizer OS pada lensa 70-300mm OS ini, meski untuk itu harga jual lensa ini terpaksa naik hampir dua kali lipatnya.  Sayangnya lensa ini tidak lagi memiliki fitur makro seperti lensa non OS sehingga hilanglah kemampuan lensa ini dalam mengunci fokus pada benda yang berada dekat dengan kamera.

Pada produk yang kami coba (Nikon-mount) telah dilengkapi dengan motor fokus untuk menjamin kompatibilitas dengan DSLR Nikon entry level semisal D5000/D3000. Namun motor pada lensa ini bukan motor HSM khas Sigma melainkan motor biasa (seperti pada lensa Canon non USM) yang bersuara keras dan tidak terlalu cepat dalam mencari fokus. Kami mencoba auto fokus lensa ini di kamera Nikon D40 dan tidak ada masalah dengan sistem auto fokus di lensa ini, kamera dan lensa berkomunikasi dengan baik tanpa masalah.

d40-sigma-70-300mm

Kesan pertama

Lensa Sigma 70-300mm memiliki desain yang tergolong standar dengan kualitas rancang bangun yang cukup baik. Terdapat dua putaran di lensa ini yaitu untuk zoom dan untuk manual fokus. Putaran zoom terasa seret dan agak berat, sementara putaran manual fokus lebih terasa ringan. Sayangnya elemen depan lensa ini yang punya diameter filter 62mm ikut berputar saat mencari fokus.  Ada dua tuas di sisi kiri lensa yaitu On-Off sistem stabilizer OS dan tuas AF-M untuk auto fokus – manual fokus. Semua lensa Sigma memakai mount berbahan logam, tak terkecuali lensa ini juga memakai mount logam yang kokoh dan kuat.

Elemen optik dan fokus

Susunan optik Sigma 70-300mm terdiri dari 16 elemen dalam 11 grup, memiliki 9 blades diafragma dengan bukaan maksimal f/4 (di 70mm) dan f/5.6 (di 300mm) dan bukaan minimum f/32. Lensa berbobot 600 gram ini hanya mampu mengunci fokus ke obyek yang berada 1,5 meter di depannya, akibat dihilangkannya fitur makro yang dijumpai di lensa Sigma 70-300mm versi sebelumnya. Dalam paket penjualannya disertakan juga lens hood untuk mencegah flare.

Rentang fokal lensa Sigma ini adalah 70-300mm yang setara dengan 105-450mm pada kamera APS-C. Pada posisi fokal 70mm, lensa ini berada di dimensi terpendeknya yaitu 12 cm dan lensa ini akan semakin memanjang saat dizoom dan terukur panjangnya menjadi 18 cm saat di zoom ke posisi 300mm. Panjang lensa ini masih bisa bertambah sedikit bila ring manual fokus diputar. Ring fokus sendiri berfungsi bila kita ingin memakai manual fokus, dan tuas AF-M dipindah ke posisi M. Putaran manual fokus cukup presisi dan nyaman, sayangnya elemen lensa di depan harus maju mundur dan ikut berputar. Lampu konfirmasi fokus di viewfinder (titik berwarna hijau) akan menyala bila fokus terbaik telah didapat saat proses manual fokus.

Lensa ini memiliki bukaan aperture maksimal f/4 pada posisi 70mm, lalu berturut-turut mengecil menjadi f/4.8 pada posisi 100mm, f/5 pada posisi 135mm, f/5.3 pada posisi 200mm dan f/5.6 pada posisi 300mm. Bukaan terkecil dari lensa ini adalah f/32 dimana pastinya telah terjadi efek difraksi yang nyata bila kita memakai bukaan sangat kecil.

Zoom power

Pengujian pertama yang kami lakukan adalah melihat picture angle pada posisi fokal ekstrim 70mm dan 300mm, inilah hasilnya.

Ketajaman dan Difraksi

Selanjutnya kami menguji ketajaman dan efek difraksi yang terjadi untuk beberapa macam bukaan lensa (fokal lensa 200mm) mulai f/5.3 hingga f/32 dan inilah hasilnya. Seperti yang telah kami duga, ketajaman lensa ini pada fokal 200mm masih sangat baik, dan perbedaan ketajaman antara f/5.3 dan f/8 hampir sulit dibedakan. Mulai f/16 didapat latar yang semakin jelas dan mulai muncul kesan penurunan ketajaman akibat bukaan kecil. Pada f/22 danf/32 obyek yang difoto sudah semakin blur namun latar justru semakin tampak jelas.

Ini gambar aslinya :

Dan ini hasil crop untuk berbagai bukaan diafragma :

crop1

crop2

crop3

crop4

crop5

Optical Stabilizer test

Satu hal yang paling membuat penasaran banyak pihak adalah kemampuan OS dari lensa ini (yang diklaim mampu hingga 4 stop). Pengujian kami lakukan pada posisi fokal 200mm dan kecepatan 1/40 detik dengan mengambil dua gambar (satu OS posisi off, satu posisi on). Dalam kondisi tanpa stabilizer, diperlukan setidaknya kecepatan 1/200 detik bila memakai fokal 200mm. Maka kami anggap menguji kinerja stabilizer lensa ini dengan kecepatan 1/40 detik masih cukup fair, karena sudah 2 stop lebih rendah dari 1/200 detik. Foto sebelah kiri adalah hasil yang didapat dengan OS off, tampak blur akibat getaran tangan. Sedangkan foto sebelah kanan tampak tajam berkat fitur OS on.

os-test

Bokeh test

Lensa tele memiliki keindahan bokeh yang mendekati lensa prime meski tentu untuk itu perlu memakai fokal terjauh dan bukaan terbesar. Kami coba mencari tahu bokeh yang dihasilkan pada fokal 300mm dan f/5.6 dan inilah hasilnya.

bokeh

Fringing test

Purple fringing adalah hal yang umum terjadi saat kamera menangkap obyek dengan perbedaan kontras tinggi terutama pada posisi fokal terpendeknya, dan lensa ini pun tak luput dari masalah serupa. Muncul kesan warna keunguan pada batas tepi daun dan hal ini bisa diminimalisir dengan memakai fokal yang lebih panjang atau bukaan lebih kecil.

fringing

Kesimpulan

Lensa third party seperti lensa Sigma ini merupakan pilihan kedua apabila lensa semerk seperti Canon atau Nikon dirasa diluar dari budget, memang secara optik dan kualitas bodi memang tidak bisa sebaik lensa aslinya. Namun lensa Sigma 70-300mm OS ini punya bandrol harga yang berbeda tipis dengan misalnya Nikon AF-S 70-300mm VR yang membuatnya terasa terlalu mahal. Bila anda memerlukan lensa 70-300mm yang terjangkau, lensa Sigma non OS (seperti Sigma APO) bisa dibeli dengan harga 2 jutaan, adapun kualitas optik antara Sigma non OS dan Sigma OS kami yakin relatif sama.

Lensa Sigma 70-300mm OS ini secara umum memiliki performa optik yang baik, ketajaman yang baik (terutama di fokal 70mm hingga 200mm) dan relatif aman dari masalah lensa seperti flare dan purple fringing. Karakter warna yang dihasilkan cukup natural dengan kontras yang memuaskan. Lensa ini juga memiliki fitur wajib lensa tele yaitu stabilizer optik yang efektif setidaknnya untuk 2 stop. Ada dua hal yang kami sayangkan pada lensa ini, pertama tidak digunakannya motor HSM untuk auto fokus, kedua adalah dihilangkannya fitur makro yang sangat berguna.

Dengan harga 4 jutaan anda bisa memiliki lensa ini, atau anda bisa menabung lagi untuk membeli lensa Canon 75-300mm IS USM/Nikon 70-300mm VR yang lebih baik, atau menunggu hadirnya Tamron 70-300mm dengan VC (stabilizer optik) dan motor USD (Ultrasonic Silent Drive) yang secara umum sekelas dengan Sigma 70-300mm ini.

Utuk contoh hasil foto lainnya bisa dilihat disini (klik untuk resolusi asli 6 MP) :

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..