Lensa wide cepat baru dari Tokina 16-28mm f/2.8

Seperti yang sudah diumumkan pada ajang PMA 2010, Tokina akhirnya meluncurkan satu lensa wide kelas profesional yaitu AT-X 16-28 f/2.8 PRO FX. Lensa seharga 14 juta ini dibuat dengan dua macam mount yaitu untuk Canon dan Nikon, dan tentunya sudah bisa digunakan di DSLR full frame. Lensa bukaan cepat dengan aperture konstan f/2.8 ini berukuran cukup besar, tahan cuaca berkat seal khusus, namun tidak mendukung pemasangan filter apapun.

Tokina 16-28mm f/2.8
Tokina 16-28mm f/2.8

Satu hal yang paling menarik dari kehadiran lensa ini adalah diperkenalkannya teknologi motor fokus di dalam lensa yang diberi nama SD-M (Silent Drive – Module). Artinya, terdapat motor auto fokus pada lensa Tokina ini dan mungkin di lensa Tokina lainnya di masa depan. Pemilik Nikon D40-D5000 tentu antusias akan kabar ini setelah produsen lensa lainnya, Sigma sudah bertahun-tahun lalu memperkenalkan motor fokus berkode HSM (Hyper Sonic Motor) pada beberapa produknya.

Pemilik kamera DSLR sensor crop atau APS-C lebih baik tetap memilih lensa Tokina 11-16mm f/2.8 untuk urusan fotografi wideangle-nya, karena selain dijual dengan harga setengah dari Tokina 16-28mm f/2.8 juga karena lensa 16-28mm ini akan punya fokal yang agak tanggung bila mengalami crop factor sensor APS-C yaitu setara dengan 24-42mm yang meski masih punya rentang fokal yang efektif namun sudah tidak terlalu wide lagi. Tokina 16-28mm f/2.8 ini bagi pemilik DSLR full frame bisa jadi alternatif lebih terjangkau daripada lensa profesional sekelas Nikon 14-24mm f/2.8 misalnya, atau bagi pemilik DSLR APS-C juga bisa jadi alternatif lebih cepat daripada lensa 16-35mm f/4 misalnya.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Sony luncurkan kamera EVIL APS-C

Kamera EVIL : Electronic Viewfinder, Interchangeable Lenses, alias kamera modern dengan sensor DSLR, lensa yang bisa dilepas namun tanpa cermin ini semakin naik daun. Bila di kelompok sensor Four Thirds telah digarap oleh Panasonic dan Olympus dengan format Micro 4/3, maka di kelas APS-C sudah diramaikan oleh Samsung (Samsung NX10) dan kini Sony dengan NEX-3 dan NEX-5. Seperti apa kehebatan Sony EVIL ini?

Pertama, kamera Sony ini memakai sensor  23.4 x 15.6 mm Exmor APS HD CMOS dengan ukuran yang sama seperti kamera DSLR Sony Alpha. Meski demikian, mount yang dipakai kini adalah E mount, sehingga lensa Sony Alpha perlu adapter untuk bisa dipasang di Sony NEX ini (itupun hanya bisa manual fokus). Meski mengusung sensor yang sama, NEX 3 berbeda dengan NEX5 dalam hal material bahan (polycarbonate vs magnesium) dan pula berbeda dalam resolusi HD movie (720 vs 1080) maupun encoder (MP4 vs AVCHD).

nex-3

Meski memiliki ukuran bodi yang kecil, sensor di Sony NEX ini berukuran besar dan sudah dilengkapi sistem anti debu yang memakai low pass filter. Sebagaimana layaknya kamera mirrorless lainnya, tidak ada cermin pada kamera Sony NEX ini. Artinya tidak ada jendela bidik optik dan tidak ada pula auto fokus berbasis deteksi fasa. Sebagai gantinya disediakan fasilitas live view melalui layar LCD nya yang berukuran 3 inci yang bisa dilipat, plus auto fokus berbasis deteksi kontras dengan 25 titik fokus.

nex-5

Pada bodinya yang kecil tampaknya Sony kesulitan menempatkan sebuah lampu kilat sehingga harus memisahkannya menjadi unit tersendiri (dijual jadi satu dengan kamera). Sayangnya tidak disediakan flash hot shoe untuk memasang lampu kilat berdaya besar. Lampu kilat mungil ini punya GN hanya 7 meter dan flash sync 1/160 detik. Untuk urusan ISO mengingat sensor yang dipakai cukup besar maka wajar Sony berani membuat kamera NEX dengan ISO maksimal 12800.

nex-5adaptr

Sebagai paket lensanya, Sony sudah membuat lensa pancake 16mm f/2.8 dan lensa zoom 18-55mm f/3.5-5.6 OSS serta lensa super zoom 18–200mm f/3.5-6.3 OSS.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Panduan memilih lensa DSLR

Ada banyak jenis dan macam lensa kamera DSLR. Selain berbeda jenis atau tipenya, perbedaan harga pun amat mencolok, mulai dari kurang dari satu juta hingga ratusan juta rupiah. Hal ini bisa membuat bingung mereka yang berencana membeli kamera DSLR atau menambah koleksi lensanya. Bila di artikel lalu kami sudah sajika cara menilai kualitas lensa DSLR, kini kami hadirkan panduan dalam memilih lensa DSLR. Selamat membaca..

Panduan yang kami susun kali ini bersifat umum dan simpel, tidak seperti panduan sebelumnya yang khusus membahas lensa Canon dan Nikon saja. Di artikel kali ini kami golongkan lensa DSLR dalam berbagai kelompok utama, yaitu berdasarkan diameternya, berdasarkan jenisnya dan berdasarkan bukaan diafragmanya.

Diameter Lensa

Pertama, berdasarkan diameter lensa, kini dikenal dua golongan umum yaitu :

  • lensa full-frame (35mm)
  • lensa crop sensor

Untuk lensa full-frame, diameter optiknya lebih besar daripada lensa crop sensor. Hal ini karena lensa full-frame didesain untuk bisa dipakai di DSLR full-frame dan SLR film 35mm. Di pasaran, kita perlu mengenali kode yang menunjukkan lensa full-frame, misalnya EF untuk Canon, FX untuk Nikon, DG untuk Sigma dsb.

Sedangkan lensa crop sensor berukuran lebih kecil, didesain untuk DSLR dengan sensor yang lebih kecil dari sensor full-frame, yaitu sensor APS-C (Canon, Nikon, Pentax, Sony) dan sensor Four Thirds (Olympus). Lensa ini memiliki diameter yang lebih kecil dari lensa fll-frame, meski tetap memiliki desain mounting yang sama. Artinya, kita bisa saja memasang lensa crop sensor ini pada DSLR full frame, namun pada hasil fotonya akan terdapat lingkaran di bagian luar foto (vignetting) akibat ukuran sensor yang lebih besar dari diameter lensa. Lensa crop sensor ini dikenali dari kodenya seperti EF-S untuk Canon, DX untuk Nikon, DC untuk Sigma, DA untuk Pentax dsb.

sensor01

Gambar di samping menunjukkan perbedaan ukuran antara sensor APS-C dan sensor full-frame 35mm. Lingkaran merah menunjukkan diameter lensa full-frame dan lingkaran hijau menunjukkan diameter lensa crop. Tampak kalau diameter lensa crop telah didesain untuk menyesuaikan ukuran bidang sensor APS-C yang memang lebih kecil dari sensor 35mm. Adakalanya pemilik kamera APS-C justru memakai lensa full frame. Hal ini disebabkan karena untuk kebutuhan profesional kebanyakan lensa yang tersedia adalah lensa full-frame. Contohnya, untuk kebutuhan profesional, pemakai kamera EOS 7D akan memilih lensa EF 70-200mm.

Jenis fokal lensa

Ditinjau dari jenis lensa, ada dua kelompok utama yaitu lensa fix (prime) dan lensa zoom. Simpel saja, lensa fix artinya hanya memiliki satu nilai panjang fokal, sedang lensa zoom bisa berubah dari fokal terpendek hingga terpanjang. Lensa zoom sendiri terbagi atas beberapa rentang fokal, seperti zoom wide, zoom normal dan zoom tele. Ada juga lensa sapu jagad, alias bisa bermain zoom dari wide hingga tele yang praktis untuk dibawa bepergian. Kali ini kami uraikan untung rugi dari tiap pilihan yang ada :

Lensa prime / fix

fix
Pentax 70mm f/1.4

Lensa prime adalah lensa yang hanya punya satu nilai fokal, misal 35mm, 50mm, 100mm dsb. Lensa jenis ini umumnya punya bukaan maksimal yang besar, misal f/1.4 atau f/1.8 sehingga cocok untuk dipakai saat low light. Meski ada berbagai macam pilihan fokal dari lensa fix di pasaran, namun yang paling populer adalah lensa 50mm karena punya fokal dengan perspektif normal.

Daya tarik dari lensa fix diantaranya :

  • relatif murah
  • ukurannya kecil dan ringan
  • hasil foto sangat tajam
  • karena punya bukaan besar, bisa menghasilkan DOF yang tipis
  • karena punya bukaan besar, bisa diandalkan untuk low light

Adapun hal yang kurang menyenangkan dari lensa fix adalah lensa ini tidak bisa berganti fokal sehingga untuk merubah posisi fokal kita harus maju atau mundur terhadap objek.

Lensa zoom wide

wide
Sony SAL DT 11-18mm f/4.5-5.6

Lensa zoom wide dalah lensa zoom yang memiliki rentang fokal wideangle mulai dari 10mm hingga 30mm, sehingga cocok untuk landscape dan arsitektur meski kurang cocok untuk potret karena adanya distorsi.

Daya tarik lensa zoom wide diantaranya :

  • mampu menghasilkan foto dengan angle dengan kesan luas dan dramatis
  • cocok untuk kebutuhan profesional dan komersil

Namun demikian lensa zoom wide dijual dengan harga yang relatif mahal karena tingginya tingkat kesulitan dalam mendesain lensa tersebut. Di pasaran, lensa semacam ini dijual di kisaran harga 6 juta hingga 12 juta rupiah.

Contoh lensa zoom wide :

  • Canon EF-S 10-22mm f/3.5-4.5
  • Nikon AF-S 10-24mm f/3.5-4.5
  • Pentax DA 12-24mm f/4
  • Sony SAL-DT 11-18mm f/4.5-5.6
  • Olympus Zuiko 9-18mm f/4-5.6
  • Rekomendasi untuk 3rd party : Tokina 11-16mm f/2.8

Lensa zoom normal/standar (general purpose)

normal
Zuiko 14-54mm f/2.8-3.5

Adalah lensa zoom yang memiliki rentang fokal yang dianggap memenuhi kebutuhan wide hingga tele biasa. Lensa semacam ini mampu mengakomodir rentang fokal normal di kisaran 50mm sehingga mampu  menghasilkan foto yang rendah distorsi, dan menghasilkan persepektif yang sama seperti apa yang dilihat oleh mata manusia. Lensa zoom normal akan semakin mahal bila memiliki bukaan besar apalagi bila punya bukaan konstan f/2.8 yang tergolong kelas profesi0nal.

Contoh lensa zoom normal kelas mahal :

  • Lensa 24-70mm f/2.8
  • Lensa 17-55mm f/2.8

Sedangkan lensa zoom normal ekonomis diantaranya :

  • Canon EF-S 17-85mm f/4-5.6
  • Nikon AF-S 16-85 f/3.5-5.6
  • Pentax DA 17-70mm f/4
  • Sony SAL DT 18-70mm f/3.5-5.6
  • Olympus Zuiko 14-54mm f/2.8-3.5
  • Rekomendasi 3rd party : Sigma 17-70mm f/2.8-4

Lensa zoom tele

tele2-8
Nikon AF-S 70-200mm f/2.8 VR

Lensa zoom tele menjadi salah satu lensa yang favorit banyak orang karena kemampuannya untuk dipakai memotret obyek yang jauh, ditambah lagi harganya yang cukup terjangkau. Belum lagi lensa tele mampu menghasilkan foto dengan bokeh yang baik (DOF tipis), bisa dibilang hampir menyamai hasil yang didapat dengan memakai lensa prime.

Namun perlu diingat kalau lensa zoom tele berkisar di fokal tele diatas 100mm, sehingga rentan goyang akibat getaran tangan. Untuk itu para profesional lebih memilih lensa tele bukaan besar dan ditambah fitur stabilizer, sehingga lensa tele masih bisa dipakai di saat kondisi kurang cahaya.

Lensa zoom tele terbagi dua kelompok, yaitu kelompok profesional dan kelompok biasa.

Untuk zoom tele profesional diantaranya :

  • Canon EF 70-200mm f/2.8
  • Nikon AF-S 70-200mm f/2.8  (gambar di atas)
  • Pentax DA 60-250mm f/4
  • Sony SAL 70-200mm f/2.8
  • Olympus Zuiko 90-250mm f/2.8
  • Rekomendasi 3rd party : Sigma 70-200mm f/2.8
tele
Sigma 70-300mm f/4-5.6

Untuk zoom tele biasa, umumnya terdapat pilihan 70-300mm (gambar di atas) yang fokal telenya cukup panjang dan 55-250mm (gambar di bawah) yang lebih ekonomis. Perhatikan kalau lensa tele ekonomis punya variabel aperture (misalnya f/4-5.6), sehingga bukaannya akan semakin mengecil saat lensa di-zoom maksimal. Maka itu lensa tele semacam ini dihindari oleh para profesional karena sulit diandalkan di saat perlu speed tinggi.

tele2
Canon EF-S 55-250mm f/4-5.6

Meski demikian, lensa tele ekonomis seperti ini laris manis karena harganya murah dan hasil fotonya di tempat yang cukup cahaya masih sangat baik. Jadilah lensa semacam ini menjadi lensa favorit untuk kebutuhan harian dan untuk sekedar hobi.

Lensa zoom all-round  / super zoom / sapu jagad

tamron_18-270
Tamron 18-270mm f/3.5-5.6 VC

Adalah istilah untuk lensa zoom dengan kemampuan mencover rentang wide hingga tele yang ekstrim, hingga lensa ini mampu menggantikan beberapa macam lensa sehingga praktis dipakai kemana saja. Umumnya lensa ini memiliki rentang fokal 18-200mm, meski ada juga yang bisa mencapai 18-270mm (lihat gambar di atas). Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum memilih lensa jenis ini :

  • Lensa ini praktis namun tergolong mahal
  • Lensa ini hanya tersedia untuk jenis variable aperture saja
  • Kemampuan optik dari lensa ini tergolong pas-pasan (karena banyaknya elemen optik di dalamnya)
  • Usahakan memilih lensa jenis ini yang dilengkapi dengan fitur stabilizer optik

Itulah panduan memilih lensa DSLR yang kami sajikan. Untuk diskusi dan pertanyaan bisa disampaikan melalui forum yang ada atau lewat komentar di bawah ini.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Canon 15-85mm/Nikon 16-85mm vs Sigma 17-70mm

Lensa idaman banyak orang adalah lensa yang memiliki kualitas optik baik, memiliki rentang fokal efektif (dari wide hingga tele), berfitur lengkap (stabilizer, motor micro) dan harganya terjangkau. Dalam dunia fotografi, lensa zoom yang harganya terjangkau itu identik dengan lensa dengan bukaan variabel, alias lensa lambat. Keuntungannya, lensa lambat memiliki desain yang lebih kecil dan bobot lebih ringan untuk kenyamanan dalam bepergian. Bila anda mencari lensa zoom normal berkualitas baik sebagai pengganti lensa kit, pertimbangkan ketiga pilihan kami kali ini.

Kami pernah mengulas tentang lensa Sigma 17-70mm generasi II alias versi 17-70mm yang telah dilengkapi dengan OS dan HSM. Bukaan diafragma lensa ini mengagumkan dengan f maksimal f/2.8 di posisi 17mm dan f/4.0 di posisi wide. Meski masih tergolong lambat di posisi tele, namun kemampuan memasukkan cahaya dari bukaan f/4.0 ini masih lebih baik dari f/5.6 apalagi f/6.3. Sigma 17-70mm memiliki mount yang kompatibel untuk Canon dan Nikon.

Salah satu lensa zoom normal favorit untuk pengganti lensa kit adalah lensa dengan fokal 16-85mm (untuk Nikon) atau 15-85mm (untuk Canon). Kedua lensa ini tergolong baru, sama-sama lambat (f/3.5-5.6) dan secara umum memiliki optik yang baik dan fitur lengkap. Kedua lensa ini bukan tergolong lensa profesional dan hanya ditujukan untuk dipakai di DSLR sensor APS-C.

Inilah head-to head antara Canon 15-85mm dan Nikon 16-85mm melawan Sigma 17-70mm

battle-of-3-lenses

Nama lengkap :

  • Canon : EF-S 15-85mm f/3.5-5.6 IS USM
  • Nikon : AF-S 16-85mm f/3.5-5.6 DX VR
  • Sigma : 17-70mm f/2.8-4.0 DC OS HSM

Rentang fokal :

  • Canon dan Nikon unggul di rentang fokal dengan rentang setara 24-130mm (5x zoom) yang lebih bermanfaat dalam urusan wide angle.
  • Sigma dengan fokal 17-70mm memang hanya setara dengan 26-105mm alias 4x zoom saja.

Bukaan diaframa :

  • Canon dan Nikon memakai desain aperture yang hanya mampu membuka maksimal di f/3.5 pada posisi wide dan mengecil hingga f/5.6 di posisi tele.
  • Sigma membolehkan kita memakai f/2.8 di posisi wide dan masih membuka dengan cukup besar di f/4 pada posisi tele. Untuk kondisi low light atau untuk mengejar speed tinggi, bukaan f/4 ini masih cukup berguna.
  • Ketiganya memiliki 7 leaf diafragma berjenis bulat.

Desain :

  • Canon berbobot 575 gram, Nikon 486 gram dengan material plastik, mounting logam dan diameter filter 67 mm (Nikon) dan 72 mm (Canon).
  • Sigma berbobot 535 gram, juga dengan material plastik, mounting logam namun memiliki diameter filter 72 mm.

Optik :

  • Canon : 17 elemen, 12 grup, 1 ED, 3 aspherical.
  • Nikon : 17 elemen, 11 grup, 2 ED, 3 aspherical.
  • Sigma : 17 elemen, 13 grup, 1 ED, 3 aspherical.

Fitur :

  • Ketiganya dilengkapi stabilizer optik yaitu IS (Canon), VR (Nikon) atau OS (Sigma)
  • Ketiganya juga dilengkapi motor fokus mikro di dalam lensa yang bernama USM (Canon), SWM (Nikon) atau HSM (Sigma)
  • Canon dan Nikon dilengkapi distance scale yang berada dibalik kaca, sedang Sigma lebih simpel dengan tulisan skala di ujung lensa.

Kompatibilitas :

  • Ketiganya bukan untuk full frame karena berlogo EF-S (Canon), DX (Nikon) dan DC (Sigma)

Makro :

  • Canon : jarak terdekat ke obyek 35 cm
  • Nikon : jarak terdekat ke obyek 38 cm, dengan rasio 1 : 4.6
  • Sigma : jarak terdekat ke obyek 22 cm, dengan rasio 1 : 2.7 (cocok untuk makro)

Harga :

  • Canon EF-S 15-85mm f/3.5-5.6 IS USM : 6,6 juta
  • Nikon AF-S 16-85mm f/3.5-5.6 DX VR : 6,1 juta
  • Sigma 17-70mm f/2.8-4.0 DC OS HSM : 4,3 juta

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Cara menilai kualitas lensa kamera DSLR

Banyak sekali mereka yang ingin tahu bagaimana caranya menilai kualitas lensa dari kamera DSLR. Hal ini memang wajar mengingat lensa yang berkualitas adalah jaminan hasil foto yang maksimal dan akan semakin penting bila foto yang anda hasilkan adalah untuk dikomersilkan. Bila anda memulai dunia DSLR dengan kamera plus lensa kit, bisa jadi anda merasa penasaran untuk mencari lensa lain yang kualitasnya lebih baik. Masalahnya, ternyata bukan hal yang mudah untuk mendapatkan lensa yang kita idamkan. Begitu banyak pilihan, ditambah berbagai istilah yang membingungkan, hingga deviasi harga yang sangat lebar, membuat niat mencari lensa idaman bisa menjadi ciut. Tapi jangan kuatir, kami hadirkan artikel ini untuk membantu anda mengenali cara untuk menilai kualitas lensa.

Teknologi digital dalam fotografi membuahkan generasi kamera baru dengan sensor beresolusi tinggi. Saat ini kamera dengan resolusi sensor 10 juta piksel pun bisa dianggap ketinggalan jaman, bahkan peningkatan resolusi di kamera DSLR khususnya jenis sensor full-frame sudah mendekati resolusi sensor kamera medium format dengan resolusi diatas 20 juta piksel. Dibutuhkan lensa yang mampu mengimbangi tingginya resolusi sensor sehingga syarat utama lensa berkualitas adalah ketajaman lensa. Di atas kertas, di lab pengujian, kita mengenal adanya MTF chart alias grafik kontras dan ketajaman lensa menurut versi si produsen. Penjelasan yang rumit mengenai MTF ini bakal membuat kening kita berkerut sehingga kita sederhanakan saja bahwa grafik MTF dibuat untuk mewakili karakter optik lensa secara umum dan lensa yang tajam semakin diperlukan untuk mengimbangi tingginya resolusi kamera digital masa kini.

Contoh pengujian lensa (credit : bobatkins.com)
Contoh pengujian lensa (credit : bobatkins.com)

Untuk menilai kualitas lensa, kami asumsikan anda sudah mengetahui jenis lensa apa yang akan dinilai, misalnya dari jenis lensa yaitu lensa fix atau lensa zoom, dan dari desain diafragma lensa yaitu lensa cepat (bukaan besar) dan lensa lambat (bukaan kecil). Anda juga kami anggap sudah mengerti akan fokal lensa yang akan dinilai, apakah itu lensa wide, lensa normal, lensa tele, zoom wide, zoom normal, zoom tele atau all-round zoom. Baiklah, kita lanjut saja.

Penilaian dasar lensa secara umum bisa saja disederhanakan pada unsur :

  • bukaan diafragma (semakin besar semakin bagus/cepat)
  • rentang fokal (semakin lebar semakin bagus/useful)
  • banyaknya fitur (stabilizer, motor mikro dsb)
  • elemen optik tambahan (lensa ED, coating khusus dsb)
  • material lensa (plastik/logam, weather sealed atau tidak dsb)

Meskipun untuk menilai lebih jauh mengenai lensa kita perlu meninjau sedikit lebih dalam dari setiap lensa yang kita idamkan, diantaranya :

  • bagaimana kinerja auto fokus (akurasi, kecepatan dan kehalusan)
  • bagaimana rasanya saat lensa zoom diputar
  • bagaimana desain ring manual fokus dan akurasinya
  • bagaimana indikator posisi zoom dan fokus tampak jelas dan mudah dibaca
  • apakah bagian depan lensa ikut berputar saat mencari fokus
  • bagaimana kemampuan makronya, dan jarak fokus terdekatnya

Dan pada akhirnya, kualitas optiklah yang menjadi faktor penentu bagus tidaknya lensa DSLR yang kita nilai. Berikut adalah faktor penting untuk menilai kualitas optik sebuah lensa :

  • lensa yang baik punya ketajaman yang seragam di tengah dan di tepi (sebaliknya lensa jelek akan blur di bagian pojok/corner softness)
  • lensa yang baik juga mampu menjaga ketajaman saat dipakai di posisi fokal berapa pun, dan bukaan diafragma berapa pun (kecuali saat memasuki batas difraksi lensa/bukaan sangat kecil)
  • lensa yang baik juga punya tingkat keterangan yang sama baik di tengah atau di tepi (sebaliknya lensa jelek akan mengalami fall-off yang nyata/pojokan menjadi gelap)
  • lensa yang baik sanggup mengatasi purple fringing dengan baik (chromatic aberration) dan lensa jelek akan kedodoran saat dipakai di area dengan perbedaan kontras tinggi, sehingga muncul penyimpangan warna keunguan
  • lensa yang baik sanggup mengontrol distorsi dengan baik, garis tidak tampak melengkung kedalam atau keluar
  • lensa yang baik punya kontras yang tinggi, hasil foto tidak pucat
  • lensa yang baik bisa mengatasi flare dengan baik, yang terjadi saat lensa diarahkan ke cahaya terang
  • lensa yang baik tidak merubah warna, biasanya lensa jelek punya coating yang menggeser warna ke arah merah atau biru
  • lensa yang baik punya bokeh yang menawan, creamy dan out-of-focus pada background

Nah, ternyata bukan hal mudah untuk mencari lensa idaman apalagi semakin mendekati ideal maka harga lensa akan semakin sangat mahal. Untuk itu diperlukan pembatasan akan kriteria lensa yang akan dibeli, semisal rentang fokal, harga (budget), jenis diafragma lensa dan sebagainya. Tidak ada lensa ideal, semua lensa tentu ada kompromi. Contoh :

  • Lensa 18-55mm f/3.5-5.6 dan 17-55mm f/2.8 punya rentang fokal yang hampir sama tapi harganya bisa berbeda 12 kali lipat. Hal ini karena kemampuan lensa 17-55mm f/2.8 dalam memasukkan cahaya jauh lebih besar dan konstan di seluruh panjang fokal. Komprominya tentu adalah harga dan bobot/ukuran lensa itu sendiri. Contoh serupa terjadi untuk lensa 55-200mm f/4-5.6 dan lensa 70-200mm f/2.8
  • Lensa 18-200mm f/3.5-5.6 tampak sanggup mengakomodir semua kebutuhan fokal fotografi umum dari wide hingga landscape, tapi komprominya adalah tidak mungkin didesain lensa seperti ini dengan bukaan konstan f/2.8 dan kalaupun bisa maka ukurannya bisa sebesar termos :)
  • Lensa prime menawarkan ukuran yang ringkas, sekaligus bukaan diafragma yang besar dengan harga yang relatif murah. Namun bagi yang terbiasa memakai lensa zoom, maka memotret dengan lensa prime akan membuat repot karena fokal lensanya yang fix di posisi tertentu.
  • Lensa wide punya keistimewaan sendiri dalam menampilkan perspektif berkesan luas, namun lensa wide perlu desain lensa yang rumit dengan resiko mengalami fall-off dan purple fringing, belum lagi distrosi yang pasti tidak bisa dihindari sehingga lensa wide tidak cocok untuk potret wajah.
  • Lensa yang didesain khusus untuk sensor APS-C (Nikon DX atau Canon EF-S) punya diameter lebih kecil, ringkas dan kompak. Namun bila lensa ini dipasang di bodi full frame akan muncul vignetting. Membeli lensa full frame untuk bodi APS-C bisa jadi lebih ‘aman’ meski memang jadi menambah biaya dan belum tentu lensanya tersedia.

Itulah sajian kami kali ini. Meski tidak mudah, tapi setidaknya diharapkan kita bisa mengetahui bagaimana menilai bagus tidaknya sebuah lensa. Bila pada akhirnya kita dihadapkan pada lensa yang biasa-biasa saja, kita masih bisa mengupayaakan untuk membuat foto yang luar biasa. Bila ingin tajam, gunakan f/8 dan lensa apapun akan memberi ketajaman maksimal. Pengujian dari pabrik, fitur yang lengkap, spesifikasi tinggi dan kualitas optik yang tinggi juga tidak akan menolong bila dasar fotografi yang kita kuasai belum matang, semisal kendali eksposur, bermain komposisi dan kejelian mencari momen yang tepat.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Lebih jauh dengan lensa tele

Apa yang anda bayangkan saat mendengar istilah lensa tele untuk kamera DSLR? Mungkin anda akan terbayang pada lensa besar dan berat seperti yang biasa dipakai para profesional. Sebenarnya apa bedanya lensa tele di kamera saku dan kamera DSLR? Mengapa kamera saku bisa punya lensa yang demikian panjang namun ukurannya kecil, sementara lensa tele untuk kamera DSLR punya rentang fokal yang tampak biasa saja namun ukurannya (dan harganya) luar biasa? Apa saja kiat-kiat memotret memakai lensa tele? Simak semuanya di tulisan kali ini.

Lensa tele bisa diartikan lensa yang memiliki panjang fokal yang mampu menjangkau bidang gambar yang jauh dari kamera. Manfaatnya tentu  jelas, kita bisa memotret sesuatu tanpa kita harus mendekat, seperti saat memotret konser, satwa liar atau event olah raga. Selain itu, bila lensa wide punya angle-of-view lebar sehingga kita bisa memasukkan objek dan lingkungan sekitarnya, maka lensa tele justru sebaliknya. Dengan lensa tele, berkat kemampuan pembesaran lensanya, kita seakan dimudahkan untuk mengisolasi objek dari lingkungannya. Untuk itu lensa tele juga kadang digunakan sebagai lensa potret yang bisa membuat isolasi objek dengan latar blur. Pada dasarnya lensa tele itu memiliki panjang fokal tertentu (seperti 200mm, 300mm dsb) yang mewakili angle-of-view tertentu juga. Semakin panjang fokal lensanya maka semakin sempit area yang dicover dan semakin tinggi pula kemampuan pembesaran lensa tersebut. Namun kita lebih terbiasa dan lebih menyukai lensa tele masa kini yang mempunyai panjang fokal yang bervariasi, atau biasa disebut lensa tele zoom. Contohnya seperti lensa 70-200mm, 100-300mm atau 200-400mm. Untuk itu, istilah lensa tele yang kami pakai di artikel kali ini adalah lensa tele zoom / variabel fokal.

Kamera saku memiliki lensa zoom yang dianggap mencukupi untuk mengakomodasi kebutuhan wide hingga tele sehari-hari. Sebuah kamera saku 3x zoom optik pun dianggap sudah mewakili tiga kebutuhan : wide (biasanya 28-35mm) untuk landscape dan arsitektur, normal (50mm) untuk potret dan tele (100mm atau lebih) untuk kebutuhan tele-fotografi. Sebuah kamera saku modern bahkan punya kemampuan tele yang tinggi hingga 300mm dalam ukuran yang kompak dan kecil. Hal ini dimungkinkan karena pada kamera saku, sensor yang dipakai berukuran kecil sehingga tidak diperlukan lensa berdiameter besar. Maka itu lensa pada kamera saku bisa dibuat dengan diameter kecil dan otomatis ukurannya pun menjadi kecil. Selain itu lensa berukuran kecil lebih murah dalam proses produksinya sehingga wajar bila ada sebuah kamera saku yang berlensa 28-300mm dijual seharga 4 juta.

Pada kamera DSLR, pilihan lensa tele bervariasi tergantung kebutuhan akan rentang tele-nya. Begitu banyak macam lensa tele di pasaran dengan spesifikasi dan harga yang amat bervariasi, membuat kita terkadang bingung saat ingin menjatuhkan pilihan. Untuk itu kali ini kita akan mengenali lebih jauh mengenai lensa tele dan tips pemakaiannya.

Lensa tele untuk memotret satwa

Lensa tele untuk memotret satwa

Pertama dan utama, kenali dulu tipikal atau gaya memotret anda. Bila anda menyukai memotret sesuatu dari kejauhan, atau senang mengisolasi objek sehingga tiap orang yang melihat foto anda akan langsung tertuju pada objek tersebut, tentu lensa tele adalah pilihan yang tepat. Selanjutnya kenali dulu peralatan lensa yang sudah anda punyai. Adalah kurang tepat bila anda ingin memiliki lensa tele namun saat ini anda belum punya lensa apapun. Lensa tele umumnya dimiliki oleh seseorang yang minimal telah mempunyai sebuah lensa kit. Setelah itu tentukan apakah anda perlu lensa tele yang bukaan konstan atau cukup dengan bukaan variabel (bukaan diafragma yang tidak konstan). Anda tentu masih ingat, lensa zoom bukaan variabel artinya semakin lensa itu di-zoom maka bukaan maksimalnya akan semakin mengecil. Lensa semacam ini memungkinkan desain yang lebih mudah dan ukuran lebih kecil daripada lensa tele zoom bukaan konstan.

Lensa tele untuk konser

Nikkor AF-S 55-200mm VR (1/80s, f/4.5, ISO 800)

Bagaimana kita bisa tahu jenis lensa manakah yang kita butuhkan? Idealnya, setiap lensa zoom itu memiliki bukaan konstan sehingga di posisi fokal berapapun si diafragma lensa akan mampu membuka dengan bukaan yang tetap sama. Ada dua macam lensa tele bukaan konstan yang biasa ditemui yaitu lensa bukaan konstan besar (f/2.8) yang mahal dan lensa bukaan konstan agak kecil (f/4) yang lebih terjangkau. Sebagai contoh adalah lensa Nikon 70-200mm f/2.8 dan lensa Canon 70-200mm f/4. Lensa dengan bukaan maksimum f/2.8 tentu mampu memasukkan cahaya lebih banyak sehingga memungkinkan pemakaian shutter yang lebih cepat dari lensa f/4. Selain itu lensa dengan bukaan lebih besar tentu bisa menghasilkan bokeh yang lebih indah. Namun lensa bukaan konstan punya dimensi yang besar dan bobot yang berat, karena kompleksnya susunan lensa di dalamnya. Untuk itu bagi yang merasa ‘keberatan’ dengan harga dan bobot dari lensa tele bukaan konstan, tersedia lensa bukaan variabel semisal 70-300mm f/4.5-5.6 yang menandakan bukaan maksimum di 70mm adalah f/4.5 dan saat 300mm mengecil ke f/5.6. Lensa jenis ini amat populer karena harganya yang relatif terjangkau dan ukurannya yang lebih kecil dibanding lensa bukaan konstan. Maka itu pilihan tentu lebih diarahkan pada budget yang ada dan seberapa mau kita memakai lensa yang besar dan berat. Ingat kalau pada fokal yang sama, lensa bukaan variabel pun memiliki jangkauan tele yang sama dengan lensa bukaan konstan.

Tentu saja memiliki lensa bukaan variabel punya kompromi yang harus diterima, utamanya dalam hal kemampuan lensa memasukkan cahaya. Harap diingat kalau lensa tele sangat memerlukan shutter cepat untuk mengkompesasi hand-shake supaya hasil foto tidak blur. Teorinya adalah satu per panjang fokal lensa, misal anda memakai lensa tele 300mm maka anda perlu perlu speed setidaknya 1/300 detik untuk mencegah blur. Tidak mudah mendapat situasi ideal yang mampu membuat kamera bisa memakai speed 1/300 detik, kecuali anda berada di luar ruangan di saat siang hari bolong. Dengan bukaan maksimal yang hanya berkisar di f/5.6 misalnya, di saat cahaya sedang kurang mencukupi, shutter kamera akan drop sehingga rentan terjadi blur (padahal bila memakai lensa f/2.8 maka shutter bisa dibuat lebih cepat). Untuk itu kompromi yang harus diterima saat memakai lensa bukaan variabel adalah lensa tersebut kurang cocok dipakai di low-light. Karena saat memakai lensa bukaan variabel, anda harus dapat banyak cahaya untuk bisa mendapat shutter tinggi (biasanya siang hari), atau anda boleh memaksakan memotret dengan cahaya kurang namun dengan resiko blur.

Contoh lensa tele zoom : Nikon 70-300mm

Contoh lensa tele zoom : Nikon AF-S 70-300mm VR

Namun bagi pemilik lensa tele ekonomis dengan bukaan variabel tidak perlu berkecil hati. Setidaknya ada tiga hal yang bisa diupayakan untuk mengatasi dilema tersebut. Bahkan, tiga hal ini tidak ada salahnya juga dilakukan oleh mereka yang memakai lensa bukaan konstan, karena resiko blur karena hand-shake selalu ada meski memakai lensa apapun.

  • Gunakan stabilizer. Inilah teknologi yang mampu mendeteksi getaran tangan dan mengkompensasinya sehingga kita bisa memotret dengan speed yang lebih rendah (hingga 3 stop). Maksudnya 3 stop begini : bila untuk mencegah blur anda sebelumnya perlu speed 1/200 detik tanpa IS, maka dengan IS anda bisa memotret tanpa blur dengan speed 1/100 detik (turun 1 stop) -> 1/50 detik (turun 2 stop)-> 1/25 detik (turun 3 stop). Stabilizer akan terasa manfaatnya terutama saat memakai lensa tele, dimana sebuah lensa 55-200mm tanpa stabilizer akan membuat pemakainya tidak PD saat memotret dengan speed dibawah 1/200 detik. Stabilizer di lensa (IS untuk Canon dan VR untuk Nikon) lebih efektif bila dibanding dengan stabilizer pada bodi (IS di Olympus, AS di Pentax dan Steady Shot di Sony) yang bekerja dengan menggerakkan sensor. Ingat juga kalau stabilizer hanya menolong mencegah blur karena getaran tangan dan bukan blur karena gerakan objek saat speed kurang tinggi.
  • Gunakan ISO tinggi. Kamera DSLR punya kemampuan mengatasi noise yang baik di ISO tinggi, lalu mengapa takut memakai ISO tinggi? Kombinasi antara stabilizer dan ISO tinggi (bila perlu) sangat baik karena bisa didapat speed yang tinggi sehingga resiko blur dapat diminimalisir. Bila lensa tele anda (dan bodi DSLR anda) tidak terdapat sistem stabilizer, pemakaian ISO tinggi dapat diandalkan saat cahaya kurang mencukupi yang beresiko turunnya shutter speed.
  • Gunakan tripod. Asesori satu ini bukan hanya milik pecinta landscape, namun juga pecinta tele-fotografi. Pertama, tripod akan mencegah getaran tangan saat memotret. Kedua, tripod bisa mencegah tangan menjadi pegal saat menopang lensa dengan berat beberapa kilogram. Dua manfaat sekaligus didapat dengan memakaitripod, sehingga hasil foto dengan lensa tele akan tajam dan menawan.

Jadi, memiliki lensa tele ekonomis dengan bukaan variabel bukanlah sesuatu yang menghalangi kreativitas kita selagi tahu kekurangan dan trik menyiasatinya. Apalagi karena harganya yang murah, banyak orang yang sudah punya DSLR dengan lensa kit lantas membeli lensa tele ini sebagai lensa keduanya. Bila anda pemakai Canon / Nikon, hindari membeli lensa tele tanpa stabilizer meski harganya sedikit lebih murah. Namun untuk para profesional yang perlu kinerja lensa tele di segala kondisi pencahayaan, lensa bukaan konstan f/2.8 yang besar, berat dan mahal mutlak perlu karena mereka tidak boleh berkompromi dengan hal-hal diatas. Untuk para enthusiast, hobby fotografi dan semi-pro, bisa memakai lensa tele bukaan konstan f/4 yang lebih ekonomis dan lebih kecil dari lensa bukaan konstan f/2.8.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Sigma 17-70mm f/2.8-4 OS HSM, lensa zoom normal untuk semua

Sigma Corporation baru-baru ini meluncurkan satu lagi lensa barunya yaitu Sigma 17-70mm f/2.8-4 DC OS HSM Macro. Memang lensa ini bukanlah sama sekali jenis lensa baru, justru lebih tepat disebut sebagai penyempurna lensa 17-70mm f/2.8-4.5 yang sudah ada sebelumnya. Dengan fokal lensa yang amat populer dengan rentang 17-70mm (setara 24-105mm di DSLR APS-C) dan bukaan maksimal f/2.8 di posisi wide 17mm, lensa ekonomis yang difavoritkan banyak orang ini kini semakin menarik dan lebih baik secara fitur.

sigma-17-70-f28-4-dc-osSatu hal yang patut diacungi jempol untuk lensa ini adalah ditambahkannya fasilitas stabilizer (OS) di dalam lensa. Bila lensa 17-70mm lama cukup disayangkan karena tidak ada sistem OS, maka lensa 17-70mm baru ini sudah menyediakan fitur penstabil gambar yang akan mengkompensasi getaran tangan saat memotret umumnya di posisi fokal panjang dan speed rendah. Tidak tanggung-tanggng, kemampuan OS di lensa ini diklaim sanggup bekerja hingga 4 stop lebih rendah dibanding lensa lamanya.

Hal kedua yang menjadi berita baiknya adalah semakin membesarnya bukaan maksimal lensa ini di fokal terpanjang. Bila dicermati, lensa 17-70mm lama membuka maksimal  di f/4.5 (masih lebih baik daripada kebanyakan lensa lain di f/5.6) namun lensa 17-70mm baru ini bahkan bisa membuka lebih besar lagi di f/4.0 pada posisi 70mm. Kombinasi bukaan besar f/2.8 di posisi wide, f/4.0 di posisi tele dan tersedianya fitur OS, membuat lensa ini serasa lensa mahal yang bisa diandalkan di situasi low-light.

Rentang lensa 17-70mm tak dipungkiri merupakan rentang idola yang tergolong zoom standar. Rentang ini mampu mengakomodir kebutuhan wideangle dasar hingga fotografi potret. Untuk menjangkau area yang cukup jauh, lensa ini pun punya kemampuan tele yang sedikit lebih baik dari lensa 18-55mm. Berhubung lensa Sigma 17-70mm adalah jenis DC, maka lensa ini tidak cocok dipasang di DSLR full-frame. Namun bila digunakan di DSLR cropped-sensor, rentang fokal efektif akan berkisar di 24-105mm (4x zoom) yang tergolong all-round lens. Sebagai bonus, Sigma masih mempertahankan motor fokus HSM sehingga kompatibel dengan Nikon D40-D60-D300-D5000. Selain itu motor HSM menjamin kecepatan dan kehalusan proses auto fokus. Sigma masih mempertahankan keberadaan 3 lensa aspherical dan satu lensa ED, yang kini berada dalam susunan 17 elemen dalam 13 grup di lensa ini. Sigma pun masih melanjutkan fitur makro pada lensa ini, sehingga lensa 17-70mm inipun bisa berfungsi sebagai lensa makro kecil-kecilan dengan rasio reporduksi 1:2.7 dan bisa mengunci fokus terdekat hanya sedekat 22 cm saja.

Lensa Sigma 17-70mm baru ini nantinya tersedia untuk semua mount DSLR, seperti Canon, Nikon, Pentax dan Sony.  Dengan bukaan sangat baik di f/2.8-4.0 dan masih ditambah fitur lain seperti OS, HSM dan macro, maka tak heran kalau lensa dengan diameter filter 72mm ini bakal jadi lensa favorit semua orang. Kisaran harga jual lensa ini sekitar 6 jutaan, bakal jadi pesaing kuat lensa lain yang fokalnya hampir sama seperti 18-70mm f/3.5-5.6.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Rumor lensa Nikon : AF-S 16-35mm dan AF-S 100-500mm

Rumor akan produk kamera DSLR dan lensa baru memang menarik untuk diikuti, terlepas apakah rumor itu nantinya akan jadi kenyataan atau tidak. Demikian juga rumor yang membahas prediksi lensa DSLR seperti Canon atau Nikon selalu mendapat respon dari banyak fotografer. Adakalanya rumor hanya sekedar rumor, namun sering juga rumor benar-benar menjadi kenyataan karena adanya ‘kebocoran’ informasi dari sumber yang ‘bisa dipercaya’. Apakah rumor dua lensa baru dari Nikon ini akan menjadi kenyataan?

Rumor : lensa wide AF-S 16-35mm f/4G VR

Rumor ini menurut kami amat menarik. Pertama, karena Nikon jarang  punya lensa zoom dengan bukaan konstan f/4. Kedua, inilah versi murah dari lensa wide legendaris AF-S 17-35mm f/2.8 yang diidamkan oleh berjuta fotografer landscape di dunia. Bila lensa ini menjadi kenyataan, pemakai DSLR Nikon FX seperti D700 dan D3 akan merasakan kepuasan memotret dengan fokal ultra wide 16mm dengan bukaan konstan f/4 dan sebaagaai bonus tersedia fitur VR yang tidak umum dijumpai di lensa wide semacam ini. Bila pemilik Nikon DX ingin memiliki lensa ini, maka perlu diingat kalau karena crop factor format DX, maka fokal lensanya akan setara dengan 24-55mm sehingga agak tanggung (untuk wide kurang, untuk tele juga kurang). Meski berjenis lensa G yang terkesan bukan lensa profesional, tapi rumornya lensa 16-35mm ini dilengkapi dengan Nano crystal coating untuk ketajaman tak tertandingi. Berminat?

Rumor : lensa super tele AF-S 100-500mm f/4-5.6G VR III

Rumor kedua ini pun unik dan menarik karena dua hal, pertama karena diperkenalkannya VR generasi ke III (hingga 5.5 stop); dan kedua, gambar lensa ini beserta brosur lengkapnya sudah ada di flickr (tentu saja bukan resmi dari Nikon). Lensa super tele semacam ini terlihat ramping dan kompak karena memakai diafragma kecil, f/4-5.6 atau lensa lambat. Lagi-lagi lensa ini didesain untuk format Nikon FX, meski pemilik Nikon DX tentu lebih tertarik akan hadirnya lensa ini karena lensa 100-500mm ini akan memberikan fokal yang lebih panjang  di format DX, yaitu 150-750mm (wow..!). Bila rumor ini benar, maka tampaknya lensa Nikon yang sekarang ada, AF 80-400mm f/4.5-5.6 VR bakal segera diskontinu. Percaya atau tidak, namanya juga rumor..

Rumor semacam tadi bisa merebak karena adanya bocaoran dari sumber tertentu yang bisa dipercaya, atau hanya kerjaan orang iseng yang mengolah digital lensa yang ada lewat Photoshop. Namun apapun itu, setiap rumor selalu menarik untuk diikuti bukan?

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..