Lumix DMC-GF1, satu lagi kamera saku berformat Micro Four Thirds

Sukses Olympus menghadirkan kamera saku bersensor Four Thirds yang bernama E-P1 (digital pen) rupanya membuat Panasonic juga harus meladeni mitranya dalam konsorsium Micro Four Thirds ini dengan produk sejenis. Bila sebelumnya format Micro Four Thirds diwujudkan oleh Panasonic dalam bentuk SLR-like (seperti G1 dan GH1), kini Panasonic menghadirkan kamera saku bersensor 4/3 dengan nama Lumix GF1. Bayangkan kualitas sensor DSLR yang tertanam pada kamera yang desain bodinya seperti Lumix LX3, dengan dukungan banyak pilihan lensa, kinerja Venus HD engine dan fitur super lengkap, semuanya terpadu di kamera seharga 9 juta ini (plus lensa kit).

Lumix GF1 (credit : stevesdigicams)
Lumix GF1 (credit : stevesdigicams)

Apa yang anda dapat dengan membayar semahal itu untuk sebuah kamera saku? Pertama tentunya adalah kualitas, kedua adalah kinerja, dan ketiga bisa jadi kepraktisan. Kualitas jadi jaminan karena sensor LiveMOS 12 MP yang tertanam di kamera ini membuatnya handal dipakai di ISO tinggi dengan noise rendah. Soal kinerja pun tampaknya tak usah diragukan lagi. Masih ingat kecepatan auto fokus di G1/GH1? Meski cuma mengandalkan prinsip contrast detect, auto fokus hasil inovasi Lumix ini mampu menyamai kecepatan DSLR pemula (yang berbasis phase detect). Selain itu, kepraktisan juga ditawarkan GF1 ini karena bodi dan lensa yang ringkas memudahkan untuk juru foto yang tidak ingin ribet membawa peralatan besar yang menarik perhatian. Apalagi dengan lensa kit 20mm f/1.7 yang disediakan (lihat gambar di atas), ukuran kamera ini sangat luar biasa kompak dan pocketable.

Hal-hal yang membuat Lumix GF1 ini mengagumkan adalah :

  • format interchangeable lenses, dengan mount Four Thirds (2x crop factor)
  • tersedia dua pilihan lensa kit : Lumix fix 20mm f/1.7 atau zoom 14-45mm f/3.5-5.6 OIS
  • lengkap, termasuk sudah ada lampu kilat internal dan AF assist
  • auto fokus yang cepat, mengalahkan auto fokus pada E-P1
  • HD movie 720p dengan kompresi modern AVCHD (E-P1 memakai M-JPEG)
  • flash hot shoe yang bisa dipasang aksesori electronic viewfinder tambahan
  • LCD 3 inci (aspek rasio 3 : 2) dengan resolusi 460 ribu piksel
  • RAW dan JPEG file format
  • bila ingin memasang lensa 4/3, tersedia adapter khusus

Dari poin di atas tampak kalau Lumix GF1 ini mengungguli saingannya Olympus E-P1 utamanya dalam urusan lampu kilat built-in dan kecepatan auto fokus. Sebagaimana yang kita tahu, E-P1 dikritik pedas karena absennya lampu yang penting ini. Meski demikian, Olympus E-P1 juga punya beberapa keunggulan dibanding GF1 seperti kendali dual wheel dan audio stereo saat merekam video. Bila anda suka stabilizer di bodi, maka E-P1 juga boleh dibilang menang karena punya IS di bodi, sementara Lumix memang mengandalkan IS di lensa. Urusan sensor yang langsung terekspos bila lensa dilepas telah diimbangi dengan fitur anti debu sehingga mengurangi resiko menempelnya debu pada sensor.

Selain meluncurkan kamera Lumix GF1 dan lensa Lumix prime ataupun Lumix DC Vario / zoom, Panasonic juga mengumumkan kelahiran lensa Leica pertama di dunia yang berformat Micro 4/3. Sambutlah LEICA DG MACRO-ELMARIT 45mm f/2.8 MEGA O.I.S, sebuah lensa prime macro ekuivalen 90mm yang dijamin punya ketajaman khas Leica, dan pastinya kompatibel dengan sistem auto fokus di kamera Lumix seperti GF1 ataupun G/GH1. Harga lensa ini saja sudah menyamai harga kamera GF1 alias sekitar 9 juta.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Lensa Canon vs Lensa Nikon

Saat kita akan membeli kamera DSLR, sebaiknya pilihan merk DSLR mana yang akan dibeli perlu memperhitungkan pada kemudahan dan ketersediaan pilihan lensa nantinya. Maka itu produsen DSLR papan atas seperti Canon dan Nikon tetap jadi favorit fotografer, karena jajaran lensa yang dimilikinya amat lengkap. Betul kalau Pentax, Olympus, Sony (Minolta) juga punya koleksi lensa yang lengkap, namun kadang-kadang pemiliki DSLR juga tergoda untuk membeli lensa alternatif seperti Sigma/Tamron/Tokina dan nyatanya lensa alternatif seperti ini tidak banyak menyediakan pilihan lensa dengan mounting selain versi Canon atau Nikon. Belum lagi ketersediaan stok lensa di tanah air tampaknya lebih bersahabat untuk merk Canon dan Nikon saja.

Bermacam lensa DSLR
Bermacam lensa DSLR

Lensa kamera DSLR terbagi menjadi beberapa macam. Paling sederhana adalah dari jenisnya, yaitu lensa tetap (fix/prime) dan lensa zoom (variabel rentang fokal). Lensa zoom juga akan terbagi dua, yaitu yang bukaannya konstan (fix f/2.8, fix f/4 dsb) atau yang bukaannya variabel (mengecil saat di zoom). Dari ukuran diameter lensa juga ada dua macam lensa DSLR, yaitu lensa untuk SLR film/DSLR full frame, dan lensa dengan diameter lebih kecil (untuk APS-C). Dari segi teknologi juga lensa terbagi dua, dengan motor fokus (dan mikro-chip) di dalam lensa dan tanpa motor fokus (lensa lama). Dengan banyaknya perbedaan ini, wajar kalau para fotografer pemula (seperti saya) menjadi kebingungan saat melihat lensa yang dijual di pasaran, apalagi harganya pun bisa bervariasi dari satu juta hingga puluhan juta.

Sekedar mengenal jajaran lensa Canon dan Nikon, saya sajikan daftar head-to-head lensa favorit para fotografer beserta sedikit ulasannya. Tapi sebelumnya, saya sajikan dulu terminologi atau istilah dari keduanya supaya tidak bingung :

  • Ukuran diameter lensa : Canon memakai istilah EF dan EF-S, perhatikan kalau kode EF menunjukkan diameter yang besar (untuk SLR film dan DSLR Full Frame) sementara EF-S adalah untuk sensor APS-C yang image circle lebih kecil. Demikian juga lensa Nikon, yang berkode DX artinya hanya untuk kamera Nikon DX saja. Lensa Nikon tanpa kode DX artinya bisa dipakai di SLR Nikon film atau DSLR Nikon full-frame (meski di DSLR Nikon DX pun tetap bisa).
  • Teknologi : Canon memiliki lensa dengan motor fokus USM (Ultra Sonic Motor) di dalamnya, tapi tidak semua lensa Canon terbaru memakai motor USM. Motor USM sendiri terkenal akan kehalusannya, kecepatannya dan akurasinya, dan lensa Canon dengan teknologi USM relatif mahal. Sebaliknya, semua lensa Nikon berteknologi AF-S pasti ada motor fokus SWM (Silent Wave Motor), sementara lensa lama Nikon AF atau AF-D tidak ada motornya. Meski semua lensa AF-S ada motor SWM, tapi kinerja motor itu tidak sama antara lensa mahal dan lensa murah. Motor SWM di lensa murah lebih lambat dalam mengunci fokus.
  • Optical Image Stabilizer : Baik Canon dan Nikon memiliki kesamaan dalam menerapkan sistem stabilizer pada lensa, dimana artinya tidak semua lensa memiliki fitur ini. Cara kerjanya yaitu gyro-sensor di dalam lensa mendeteksi getaran tangan dan melakukan kompensasi dengan menggerakkan elemen lensa khusus sehingga foto yang diambil pada speed rendah (dan/atau posisi tele) terhindar dari resiko blur. Canon menamai sistem ini dengan kode IS (Image Stabilizer), sementara Nikon memakai kode VR (Vibration Reduction). Baik IS dan VR, keduanya dapat menampilkan efek stabilisasi pada viewfinder optik, sebelum foto diambil.
  • Pembagian kasta : Di lensa Canon terdapat dua kasta lensa, yaitu lensa biasa dan lensa Luxury (L series, ditandai gelang merah diujungnya). Nikon tidak membedakan kasta pada lensanya, hanya saja lensa Nikon baru disederhanakan dengan meniadakan ring aperture, ditandai dengan kode G (gelded).

Lensa prime / fix

Lensa fix punya ketajaman tak tertandingi oleh lensa zoom, dengan bukaan yang umumnya besar, sehingga cocok untuk dipakai foto potret dengan bokeh yang menawan. Canon dan Nikon sama-sama punya jajaran lensa fix yang lengkap, dengan fokal mulai dari wide (sekitar 20mm), normal (sekitar 50mm) hingga tele (sekitar 100mm). Perhatikan kalau semua lensa fix Canon adalah berkode EF, dengan beberapa diantaranya memakai kode L dan USM.

Beberapa lensa fix kelas elit dari Canon adalah :

  • EF 24mm f/1.4L USM
  • EF 50mm f/1.2L USM
  • EF 85mm f/1.2L II USM

Sementara Nikon punya jajaran lensa prime yang bukaan maksimal di f/1.4 seperti yang baru saja diluncurkan yaitu AF-S 50mm f/1.4G. Sedangkan lensa fix ekonomis dan favorit dari Canon adalah EF 50mm f/1.8, dan dari Nikon adalah AF 50mm f/1.8D. Selain itu, Nikon juga punya prime yang wide seperti AF 14mm f/2.8D ED dan prime tele seperti AF 85mm f/1.4D IF, dan prime micro seperti AF-S 105mm f/2.8D VR ED. Bicara soal lensa prime tele, baik Canon maupun Nikon punya jajaran lensa tele yang lengkap mulai dari 135mm, 180mm, 200mm, 300mm, 400mm, 500mm dan 600mm (Canon bahkan punya yang 800mm dan 1.200mm), beberapa dilengkapi dengan IS atau VR.

Lensa zoom : wideangle

Bila lensa fix tidak memberi keleluasaan untuk berganti posisi fokal, maka lensa zoom memungkinkan kita untuk merubah fokal dalam rentang tertentu sehingga bisa didapat berbagai variasi komposisi (dan terhindar dari sering maju mundur). Lensa zoom wideangle umumnya bermula dari 14 sampai 24mm, namun perhatikan kalau dipakai di kamera dengan crop factor (1,6x untuk Canon APS-C, 1,3x untuk Canon 1Ds dan 1,5x untuk Nikon), maka panjang fokalnya akan banyak berubah. Untuk itu, produsen lensa harus berusaha ekstra keras untuk mendesain lensa yang amat wide supaya saat terkena crop factor, lensa tersebut masih layak disebut lensa wide.

Untuk kebutuhan fotografi wideangle seperti landscape dan arsitektur, pemakai Canon sensor APS-C hanya bisa menikmati lensa wide EF-S 10-22mm f/3.5-4.5 USM, sementara pemakai Nikon DX bisa menjajal lensa anyar yaitu AF-S DX 10-24mm f/3.5-4.5G IF ED. Untuk pemakai Nikon Full frame, tersedia Nikon AF-S 14-24mm f/2.8G ED. Sayangnya dari pihak Canon belum tersedia lensa EF yang sepadan dengan Nikon 14-24mm f/2.8 ini.

Lensa zoom : standar

Rentang zoom standar merupakan rentang aman, dengan kemampuan wide dan tele yang mencukupi sehingga untuk bepergian cukup dengan membawa satu lensa saja ini saja. Kabar gembira bagi pemakai Nikon DX karena tersedia banyak lensa Nikon DX yang berkualitas dan terjangkau (seperti lensa kit D40 18-55mm), diantaranya :

  • AF-S DX 16-85mm f/3.5-5.6G ED VR
  • AF-S DX 17-55mm f/2.8G IF ED (bukaan konstan)
  • AF-S DX 18-70mm f/3.5-4.5G IF ED (kitnya D70)
  • AF-S DX 18-105mm f/3.5-5.6G VR (kitnya D90)
  • AF-S DX 18-135mm f/3.5-5.6G IF ED (kitnya D80)
  • AF-S DX 18-200mm f/3.5-5.6G VR IF ED (sapu jagad)

Ketersediaan banyak pilihan lensa standar DX yang murah dan berkualitas inilah yang menjadikan banyak fotografer yang non profesional memilih kamera DSLR Nikon, meski banyaknya pilihan ini juga dikritik beberapa pengamat karena banyaknya overlap dalam rentang lensa dan umumnya punya bukaan lensa yang mirip (semestinya Nikon mulai membuat lensa standar bukaan konstan f/4).

Sementara bagi pemakai Canon APS-C yang perlu lensa EF-S tampaknya harus cukup bersabar karena sementara ini hanya tersedia lensa EF-S berikut ini (tidak termasuk 18-55mm) :

  • EF-S 17-55mm f/2.8 IS USM (bukaan konstan)
  • EF-S 17-85mm f/4-5.6 IS USM
  • EF-S 18-200mm f/3.5-5.6 IS (sapu jagad – non USM)

Kondisi menjadi berbalik saat kita melihat jajaran lensa Full frame, dimana Canon punya ciri khas dengan menyediakan dua pilihan lensa untuk seri EF-nya, yaitu lensa bukaan konstan yang cepat (f/2.8 ) dan lensa bukaan konstan yang ekonomis (f/4). Sementara Nikon hanya menyediakan lensa bukaan cepat f/2.8 yang mahal saja.

Lensa Canon EF standar yang favorit (L series) :

  • EF 16-35mm f/2.8L USM
  • EF 17-40mm f/4L USM
  • EF 24-70mm f/2.8L USM
  • EF 24-105mm f/4L IS USM

Sementara sebagai padanannya, di jajaran Nikon juga terdapat dua lensa zoom standar yang menjadi favorit :

  • AF-S 17-35mm f/2.8D IF ED
  • AF-S 24-70mm f/2.8G ED

Sebagai catatan, masih banyak lensa lain dari Canon EF ataupun Nikon non DX untuk rentang standar seperti 28-80mm, 28-105mm, dan 28-200mm, namun karena lensa ini bermula dari 28mm, maka bila terkena crop factor akan menjadi tidak umum (sekitar 43mm) sehingga kurang disukai pemakai DSLR Canon APS-C ataupun Nikon DX.

Lensa zoom : tele

Kita mulai di kelas APS-C atau kelas DX. Nikon  terkenal akan lensa telenya yang ekonomis, AF-S DX 55-200mm f/4-5.6G IF-ED VR sementara Canon menawarkan kemampuan tele lebih panjang dengan EF-S 55-250mm f/4-5.6 IS. Canon sendiri sebenarnya punya lensa lawas dengan rentang 55-200mm tapi bukan EF-S dan sudah diskontinu.

Selanjutnya, di kelas Full-frame, persaingan head-to-head berimbang terjadi di dua kelas, yaitu kelas 70-300mm dan kelas 70-200mm bukaan konstan. Canon punya EF 70-300mm f/4-5.6 IS USM dan Nikon punya AF-S 70-300mm f/4.5-5.6G IF ED VR yang mana keduanya disukai banyak fotografer karena harganya terjangkau dan kemampuan telenya lumayan jauh di 300mm (ekuivalen 450mm). Di kelas lensa bukaan konstan 70-200mm, ketimpangan terjadi saat Nikon yang hanya punya satu produk lensa harus bersaing dengan empat (ya, empat) lensa Canon 70-200mm. Nikon mengandalkan AF-S 70-200mm f/2.8G IF ED VR sementara Canon punya empat pilihan yaitu :

  • EF 70-200mm f/2.8L IS USM (cepat, plus IS)
  • EF 70-200mm f/2.8L USM (cepat,tanpa IS)
  • EF 70-200mm f/4L IS USM (hemat,plus IS)
  • EF 70-200mm f/4L USM (paling hemat, tanpa IS)

Sementara untuk keperluan lensa tele zoom khusus baik Canon maupun Nikon juga punya rentang yang tidak umum seperti :

  • Canon EF 90-300mm f/4.5-5.6 USM
  • Canon EF 100-400mm f/4.5-5.6L IS USM
  • Nikon AF 80-400mm f/4.5-5.6D ED VR
  • Nikon AF-S 200-400mm f/4G IF ED VR

Nah, itulah beberapa daftar line-up lensa dari Canon maupun Nikon yang umum digunakan para fotografer. Pilihan lensa dari keduanya memang tergolong cukup lengkap, sehingga tak heran para profesional banyak yang melirik DSLR dari Canon ataupun Nikon. Hanya saja kita harus mencermati kebutuhan lensa kita (sebelum membeli DSLR), bila sudah perlu satu lensa spesifik maka memilih kamera DSLR tentu tidak jadi masalah. Sekali kita menentukan merk kamera, maka kita akan terikat pada sistem yang semerk, seperti lensa dan lampu kilat.

Sebagai penutup, berikut kesimpulan singkat dari ulasan diatas :

  • istilah yang umum dijumpai di lensa Canon : EF, EF-S, USM, IS, L series
  • istilah yang umum dijumpai di lensa Nikon : AF, AF-S, SWM, VR, DX
  • Canon dan Nikon sama-sama punya lensa fix yang lengkap
  • Di kelas lensa zoom wideangle, Nikon punya koleksi lebih lengkap
  • Di kelas lensa standar zoom, Nikon lebih lengkap di lensa kelas DX, sementara Canon lebih lengkap di kelas lensa full-frame
  • Di kelas lensa tele, Canon dan Nikon sama-sama punya koleksi yang lengkap (catatan Canon 70-200mm punya empat varian)
  • Nikon tidak banyak punya lensa bukaan konstan f/4 (seperti AF-S DX 12-24mm f/4G IF ED)
  • Untuk mendapat kinerja optik tertinggi (plus teknologi USM) dari lensa Canon, bisa didapat dari lensa Canon L series.
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Review : lensa Nikon AF-S 55-200mm VR

Nama lengkap lensa ini cukup panjang : AF-S DX VR Zoom-NIKKOR 55-200mm f/4-5.6G IF-ED, dan jangan tertukar dengan lensa sejenis yang versi lama (non VR) yang harganya lumayan terpaut cukup banyak. Dengan  memiliki paket combo lenses : AF-S 18-55mm dan AF-S 55-200mm, kita bisa mendapat rentang zoom populer 18-200mm (setara 28-300mm) tanpa harus memiliki lensa Nikon AF-S 18-200mm VR yang berat itu (baik dalam bobot dan harganya).

Kebanyakan pembeli DSLR (pemula) yang paket dengan lensa kit memang pada akhirnya akan cenderung untuk membeli satu lensa tele ekonomis. Alasan utamanya adalah karena rentang lensa kit yang hanya ‘mentok’ di 55mm terasa amat kurang dalam menjangkau area yang jauh. Dengan memiliki lensa tele yang punya panjang fokal di 55-200mm (yang setara dengan 85-300mm – atau 3,6x zoom), sudah dapat dipenuhi beberapa kebutuhan fotografi tele seperti isolasi objek dalam foto potret, atau juga foto outdoor seperti satwa dan momen olahraga. Khusus pemakai DSLR Nikon, pilihan lensa tele ekonomis 55-200mm tidak hanya dari lensa buatan Nikon saja, melainkan juga tersedia lensa 55-200mm buatan Sigma dan Tamron. Dengan harga yang cuma terpaut sedikit, kami tidak merekomendasikan lensa 55-200mm selain dari lensa Nikon.

nikon-55-200-mm-vr

Kita mulai dari harga lensanya. Dengan kurs dolar sekarang, lensa buatan tahun 2007 kini dijual sekitar hampir 3 juta rupiah. Apa yang anda harapkan dari lensa seharga 3 juta ini? Melihat harga lensa Nikon 70-200mm yang mencapai belasan juta, dan melihat harga lensa Nikon 70-300mm di atas 5 jutaan, wajar kalau anda bakal meragukan kualitas dari si mungil ini. Tapi jangan salah, dibalik harganya yang murah, lensa ini punya banyak wow-factor yang semestinya dijumpai pada lensa kelas mahal.

Inilah dia headline dari lensa AF-S 55-200mm VR :

  • VR : inilah alasan utama kebanyakan orang memilih lensa ini (daripada versi 55-200mm non VR). Lensa tele tanpa stabilizer (seperti Sigma 55-200mm atau Tamron 55-200mm) tidak akan bisa dipakai secara maksimal.
  • ED : elemen lensa mahal yang berguna untuk menjaga ketajaman (meski hanya ada satu lensa ED, dibanding dengan 2 lensa ED pada lensa AF-S 55-200mm non VR).
  • AF-S : artinya bisa auto fokus di D40, D40x dan D60. Lebih penting lagi, AF-S artinya memakai motor mikro SWM di dalam lensa sehingga kerja auto fokus terasa amat halus, cepat dan akurat. Bandingkan dengan lensa 55-250mm (atau bahkan 18-200mm) dari Canon yang tidak dilengkapi dengan motor USM.
  • IF : proses fokus tidak memutar atau memaju-mundurkan elemen depan lensa, melainkan sepenuhnya proses putaran fokus terjadi di dalam lensa. Mau pasang filter CPL? Bisa..
  • SIC : coating khusus untuk mencegah flare dan ghosting, lumayan lah daripada tidak ada
  • Banyak bonus : lens cap, rear lens cap, soft pouch dan lens-hood (ya, tidak perlu beli lens hood lagi…)

Tentu saja untuk membuat lensa semurah ini ada beberapa ‘penyesuaian’ yang harus dilakukan oleh Nikon, dan inilah hal-hal yang menjadi kompromi guna menekan harga jualnya :

  • bukaan maksimal f/4-f/5.6, jelas bukan tergolong lensa cepat (anda tidak berharap lensa semungil ini punya bukaan konstan f/2.8 kan?)
  • format DX (pemakai kamera format FX tidak mungkin melirik lensa ini…)
  • mounting dan barrel lensa plastik (ringan, sama seperti lensa kit 18-55mm dan lensa 18-135mm)
  • tanpa ring pengatur diafrgama (ditandai dengan kode huruf G)
  • tanpa jendela informasi jarak fokus
  • AF-S tidak bisa instant manual focus override, ditambah dengan jenis motor SWM yang tidak sebagus lensa Nikon yang lebih mahal
  • VR tidak untuk panning (tidak seperti VR generasi II)
  • 7-blades diafrgama (padahal versi non VR punya 9-blades)

Sebelum memulai review, simak dulu spesifikasi dasar dari lensa 55-200mm ini :

  • elemen lensa : 15 lensa dalam 11 grup
  • ukuran filter : 52mm
  • bukaan minimum : f/22 (wide) hingga f/32 (tele)
  • min. focus distance : 1.1 meter (1:4.3 max. reproduction ratio)
  • bobot : hanya 335 gram

Baiklah kita mulai saja review lensa ini, dimulai dari sekilas pandang.

nikon-af-s-55-200-f4-56-vr

Inilah lensa Nikon 55-200mm, pada foto diatas tampak tiga macam posisi lensa. Pada foto sebelah kiri tampak posisi lensa di 55mm (zoom out), tidak tampak ada elemen lensa yang menonjol, artinya lensa berada pada posisi terpendeknya. Pada foto tengah tampak lensa berada di posisi 200mm (zoom in), elemen lensa menonjol keluar dan lensa menjadi tampak jadi lebih panjang. Gambar ketiga foto sebelah kanan menunjukkan lensa yang sudah dilengkapi dengan hood (yang disertakan dalam paket penjualan).

Build quality

Banyak reviewer luar negeri yang mengeluhkan build quality dari lensa ini. Mereka umumnya membandingkan kualitas rancang-bangun lensa ini dengan lensa Nikon lain yang jauh lebih mahal, yang barrel dan mountingnya terbuat dari logam. Sejujurnya kami merasa meski lensa ini berbahan material plastik, namun kesan kokoh dan solid sedikit banyak masih dapat dirasakan.  Putaran zoom terasa ringan namun mantap, sepintas tidak berbeda dengan lensa kit. Namun yang membedakan adalah zoom ring pada lensa ini terasa lebih nyaman berkat grip yang lebih lebar dengan lapisan karet yang lembut. Ring manual fokus seperti halnya pada lensa kit, amat kecil dan berada terlalu ke depan. Lensa ini memang bukan untuk mereka yang menyukai manual fokus, karena ring manual fokus di lensa ini tidak presisi dan memakainya pun repot (karena harus menggeser tuas A-M dahulu). Untungnya saat proses auto fokus, tidak ada elemen lensa yang maju mundur dan berputar (seperti pada lensa kit).

Vibration Reduction/VR

Lensa tele ini memang dilengkapi dengan stabilizer pada lensa yaitu VR, dan terdapat tuas pada lensa untuk mengaktifkan VR ini. Saat kamera berada di tripod,VR disarankan untuk dinonaktifkan. Pada saat tuas VR di posisi on, apabila tombol rana  ditekan setengah, maka sistem VR akan mulai bekerja. Terdengar suara halus dari dalam lensa sebagai tanda bahwa sistem VR mulai bekerja menstabilkan gambar. Karena sistem VR pada lensa bisa langsung di preview di viewfinder, maka kita bisa melihat efek stabilisasi sebelum foto diambil (suatu hal yang tidak bisa dilakukan oleh DSLR dengan sistem stabilizer pada bodi).

vrtest

VR diklaim oleh Nikon efektif bekerja hingga 3 stop, meski dalam kondisi nyata hasilnya bisa bervariasi. Sistem VR di lensa ini adalah VR jenis lama, dimana VR ini tidak cukup cerdas untuk mengenali gerakan panning sehingga disarankan saat panning VR dimatikan saja. Perlu dicatat bahwa mengingat lensa ini punya rentang tele 55-200mm (setara 85-300mm), maka pada nilai shutter rendah fungsi VR pun kadang tidak berhasil. Ingat, di posisi 300mm dibutuhkan shutter 1/300 detik tanpa stabilizer untuk mendapat foto yang bebas blur. Sedikit saja getaran tangan pada lensa tele akan membuat semuanya runyam…

AF-S, SWM dan auto fokus

Kinerja auto fokus  dari motor SWM di lensa ini cukup pas-pasan. Betul kalau suara motor micro ini terdengar halus, namun urusan kecepatan fokus memang bukan andalan utama lensa ini. Motor SWM di lensa ini bukan motor kelas atas seperti lensa AF-S lain yang lebih mahal, sehingga dibutuhkan kesabaran menunggu kamera mendapat fokus yang tepat (dan kadang sesekali kamera harus mengulang proses AF karena kesulitan mengunci fokus). Kami akui soal ini juga tak lepas dari keterbatasan kamera D40 (sebagai kamera untuk melakukan pengujian) yang cuma punya 3 titik AF, namun saat D40 tersebut kami pasangkan dengan lensa 24-70mm, kami rasakan kecepatan fokus lensa full frame itu luar biasa cepat. Maka itu bila ingin lensa yang bisa memotret momen olah raga yang serba cepat, sebaiknya (minimal) gunakan lensa AF-S 70-300mm saja.

Seputar diafragma

Lensa ini punya bukaan maksimal hanya f/4 di posisi 55mm dan mengecil hingga batas kritis f/5.6 di posisi 200mm. Kabar baiknya, dengan posisi zoom-out di 55mm, bukaan maksimum lensa ini yang f/4 ini masih lebih besar daripada posisi zoom-in di 55mm pada lensa kit (yang hanya mampu membuka di f/5.6). Seperti halnya lensa lain, ketajaman maksimal didapat di rentang f/8 hingga f/11, meski pada bukaan maksimal pun ketajaman lensa ini masih amat baik. Lensa inipun tajam pada seluruh panjang fokal, rental motor jogja dengan sedikit adanya penurunan ketajaman di posisi tele maksimal 200mm (masih dalam batas toleransi). Bandingkan dengan lensa Sigma 70-300mm yang pada posisi  200mm keatas sudah mengalami penurunan ketajaman yang amat nyata dan hasil fotonya amat soft. Untuk mengetahui batas difraksi lensa ini gunakan bukaan kecil diatas f/16 dan penurunan ketajaman tampak semakin nyata pada f/22.

Pengujian

Berikut adalah contoh foto yang diambil memakai lensa ini.

Pengujian pertama adalah melihat ketajaman di posisi zoom out 55mm (f/4) dan zoom in 200mm (f/5.6). Dua foto dibawah ini menggambarkan betapa di kedua posisi ini tampak ketajaman yang baik berhasil ditampilkan oleh lensa ini.

Posisi zoom-out 55mm f/4

Posisi zoom-in di 200mm, f/5.6

Pengujian kedua adalah membandingkan efek bukaan terhadap ketajaman, dimana tes pertama menunjukkan lensa pada bukaan f/5.6 dan tes berikutnya mencoba mengenali difraksi pada bukaan f/22.

Foto berikut adalah contoh bukaan f/5.6, tampak background begitu blur karena memakai bukaan besar, sementara dedaunan di depan tampak tajam.

Bukaan besar (f/5.6)

Ini adalah 100% crop dari foto diatas, tampak dedaunan amat tajam sementara background begitu out-of-focus, sehingga isolasi objek berhasil dilakukan.

100% crop (f/5.6)

Foto berikut adalah contoh bukaan f/22, tampak background masih cukup jelas karena memakai bukaan kecil.

Bukaan kecil (f/22)

Ini adalah 100% crop dari foto diatas, tampak dedaunan sudah berkurang ketajamannya karena difraksi lensa,  sementara background tampak masih cukup jelas.

100% crop (f/22)

Dari pengujian di atas dapat disimpulkan bahwa ketajaman optik lensa ini amat baik mulai dari 55mm hingga 200mm, dengan sedikit adanya penurunan ketajaman pada posisi tele maksimum 200mm. Pada bukaan kecil memang nyata dijumpai softness akibat difraksi, dimana hal ini adalah fenomena fisika yang wajar untuk lensa apapun. Setidaknya fotografer diberi pilihan untuk memakai bukaan besar bila perlu isolasi objek, atau bukaan kecil untuk DoF yang lebar.

Kekurangan

Adapun kekurangan optik dari lensa ini tampaknya masih dapat diterima, bahkan beberapa masih dapat diabaikan. Faktor distorsi amat sangat minim, corner softness pun masih dalam batas wajar, bahkan lensa ini mampu menghandel fringing dengan baik (apalagi bila stop down dari bukaan maksimum). Contoh berikut menunjukkan betapa minimnya fringing pada f/4.

Fringing at f/4

Dua hal yang kami akui cukup merepotkan adalah pengujian manual fokus dan pengujian makro. Manual fokus ring pada lensa ini memang tidak presisi dan untuk memotret makro jarak lensa dan objek setidaknya harus ada satu meter (bila kurang dari itu tidak akan didapat fokus yang tepat). Kemampuan reproduksi rasio yang cuma 1:4.3 juga menunjukkan betapa lensa ini memang tidak ditujukan untuk keperluan makro, kami bahkan merasa lebih mudah memotret makro memakai lensa kit 18-55mm daripada memakai lensa ini.

Manual fokus dan bokeh

Macro, 200mm, f/8 crop and resize

Kesimpulan

Nikon memang kami akui berhasil membuat lensa tele murah yang punya kualitas optik yang tidak kalah baiknya dengan lensa yang lebih mahal, meski tentu terdapat kompromi dalam hal material plastik, kecepatan motor SWM dan VRnya. Dengan harga 3 juta anda sudah bisa mendapat lensa tele yang cukup untuk mendukung kegiatan fotografi sehari-hari, dengan bonus sistem VR, lensa ED, motor SWM, lens hood dan grip zoom ring yang nyaman. Lensa ini tentu tidak untuk mereka yang sering memotret di tempat kurang cahaya (gunakan saja AF-S 70-200mm atau AF 80-200mm), tidak juga untuk mereka yang perlu motor AF eksta cepat, atau mereka yang menyukai manual fokus dan/atau pecinta macro. Namun untuk kebutuhan tele sehari-hari, lensa ini sudah lebih dari cukup untuk memuaskan anda.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Alternatif lensa makro ekonomis dari Tamron

Terobosan baru dilakukan oleh produsen lensa Tamron dengan meluncurkan lensa makro dengan bukaan ekstra besar, bernama SP AF60mm f/2 Di II LD (IF) MACRO 1:1 yang punya bobot cukup ringan, 400 gram saja. Lensa 1:1 yang didesain untuk DSLR APS-C ini punya tiga tipe mounting yaitu mounting Canon, Nikon (ada motornya) dan Sony. Keunggulan utama lensa ekonomis ini tentu adalah bukaan maksimalnya yang ekstra besar yaitu f/2.0 atau satu stop lebih besar dari pesaing yang umumnya di f/2.8 sehingga cocok dipakai di saat low light.

tamronmacro2-302x400
Tamron 60mm f/2.0

Berikut fitur lensa Tamron 60mm f/2.0 ini dikutip dari siaran persnya :

  • Medium telephoto 1:1 life-size macro lens featuring a fast maximum aperture of F/2.0 that strikes a fine balance between attractive out-of-focus effects and sharpness
  • Employment of special low-dispersion glass elements
  • Working distance of 100mm, the longest distance among lenses in this class
  • Meticulous countermeasures against ghosting and flare

Adapun sistem mekanik di dalam lensa ini :

  • Lightweight and compact macro lens boasts f/2.0 fast maximum aperture
  • Internal focusing system for enhanced ease of use
  • Full-time manual control mechanism
  • Simple and attractive outer design

Berikut spesifikasi mendasar lensa ini :

  • Focal Length – 60mm
  • Maximum Aperture -f/2.0
  • Angle of View (diagonal) – 26 degrees and 35 minutes (APS-C size equivalent)
  • Optical Construction – 14 elements in 10 groups
  • Minimum Focusing Distance – 0.23m (9.1in.)
  • Max. Magnification Ratio – 1:1
  • Minimum Working Distance – 100mm (3.94in.)
  • Filter Diameter – 55mm
  • Overall Length – 80mm (3.15in.)
  • Maximum Diameter – 73mm (2.9in.)
  • Weight – 400g (14.1oz.)
  • Diaphragm Blade Number – 7
  • Minimum Aperture – F/22
  • Standard Accessory – Lens Hood
  • Compatible Mounts – For Canon, Nikon (with built-in AF motor) and Sony

Dengan memiliki lensa ini, pemakai DSLR APS-C seperti Canon EOS 500D atau 50D, Nikon D5000, D90 hingga D300 atau Sony (selain A900) akan mendapatkan lensa makro kemampuan 1:1 yang ringan dan kecil, dan sekaligus mendapat lensa fix 60mm (equiv. 90mm) yang cocok untuk potret berkat bukaannya f/2.0 dengan bokeh yang tentunya juga baik. Cukup punya satu lensa, bisa buat makro, juga buat potret kan? Bahkan urusan low-light juga lensa ini bakal punya kinerja hampir sama dengan lensa 50mm f/1.8, misalnya.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Lensa Tokina 16.5-135mm f/3.5-5.6 DX

Pemakai DSLR Nikon dan Canon punya satu lagi alternatif lensa all around yang terjangkau. Tokina baru saja mengumumkan kehadiran lensa baru dengan nama Tokina 16.5-135mm f/3.5-5.6 DX yang khusus didesain untuk kamera bersensor APS-C. Pada DSLR Nikon DX, fokal lensa ini akan setara dengan 25-200mm sehingga mencukupi untuk keperluan wideangle hingga medium tele.

Tokina 16.5-135mm DX
Tokina 16.5-135mm DX

Yang unik dari lensa baru ini adalah rentang wide nya yang tidak umum di 16.5mm (seperti lensa Nikon AF-S 16-85mm) yang bisa memberi fokal efektif 25mm di kamera Nikon DX (atau 26.4mm di Canon APS-C). Dengan kemampuan zoom 8x optikal, lensa ini mampu mencapai area medium tele di 135mm (setara dengan 200mm) sehingga cocok menjadi lensa untuk travelling.

Lensa dengan diameter filter 77mm ini tampak kecil bila dibanding dengan kemampuan fokalnya, mungkin karena tidak ada komponen motor fokus ataupun sistem stabilizer di dalam lensa ini. Nyatanya, hingga detik ini belum ada satupun lensa Tokina yang dilengkapi dengan motor fokus ataupun stabilizer, padahal Sigma dan Tamron sudah mulai melakukan hal ini.

Belum ada informasi mengenai kualitas hasil foto dari lensa ini, namun secara optik lensa yang memiliki 15 elemen dalam 9 grup ini cukup menjanjikan dengan 9 blade diafragma, 3 lensa aspherikal dan 2 elemen lensa Super Low Dispersion (SLD). Lensa ini pun diklaim bebas dari zoom creep berkat desain baru dalam desain mekanisnya.

Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..

Tiga DSLR Alpha baru dari Sony

Sony kembali meluncurkan DSLR baru mereka, yang berturut-turut menggantikan produk lama :

  • Alpha A230 ($ 550, 10 MP) – menggantikan A200
  • Alpha A330 ($ 650, 10 MP, live view, tilt LCD) – menggantikan A300
  • Alpha A380 ($ 850, 14 MP, live view, tilt LCD) – menggantikan A350

sony-a380-292x300

Ketiga kamera ini punya desain yang lebih modern dan lebih kecil dari pendahulunya, meski masih mengusung sistem stabilizer pada bodi yang membuat fitur ini berfungsi pada semua lensa yang dipakai. Entah kenapa Sony tidak menerapkan fitur movie pada seri Alpha, meski memang tidak semua fotografer memerlukannya. Live view pada A330 dan A380 masih mengandalkan teknik yang sama seperti sebelumnya dengan sensor khusus terpisah yang membuatnya bekerja secara real time dan cepat. Ketiga kamera Sony baru ini bukan pekerja cepat karena hanya mampu continuous shooting hingga 2,5 fps (bahkan turun jadi 2 fps di mode live view).

Belum ada info apakah beberapa kekurangan pada seri sebelumnya seperti ketiadaan histogram saat live view telah disempurnakan di seri baru ini.

Selain meluncurkan ketiga DSLR diatas, Sony juga meluncurkan empat lensa baru (dengan motor micro SAM di dalam lensa) dan satu lampu kilat eksternal :

  • SAM 18-55mm f/3.5-5.6 standard zoom lens – $200
  • SAM 55-200mm f/4-5.6 telephoto zoom lens – $230
  • SAM 50mm f/1.8 prime – $150
  • SAM DT 30mm F2.8 macro – $ ???
  • HVL-F20AM flash – $130
Suka artikel di atas? Like dan Share yuk..